Anda di halaman 1dari 10

TUGAS EKONOMI PANGAN DAN GIZI

“Ciri Pertanian Kekinian Indonesia, Usahatani dan


Strategi Produksi Mosher”

Dosen Pengampu: Ir. Basuki Sigit BP, BSc

Disusun Oleh:

Nama : Fisqiyyatus Shofa


Nim : P17431113019

D III GIZI REG A/ SEM V

POLTEKKES KEMENKES SEMARANG


Jl. Wolter Mongonsidi 115 Pedurungan Semarang 50192
Ciri-Ciri Pertanian di Indonesia
1. Pertanian tropika
Sebagian besar daerah di Indonesia berada di dekat katulistiwa yang berarti merupakan daerah
tropika dengan demikian jenis tanaman, hewan, perikanan,dan hutan sangat dipengaruhi oleh
iklim tropis (pertanian tropika). Di samping itu ada pengaruh lain yang menentukan corak
pertanian kita yaitu bentuk negara berkepulauan dan topografinya yang bergunung-gunung.
Letaknya yang di antara Benua Asia dan Australia serta antara Lautan Hindia dan Pasifik,
memberikan pengaruh pada suhu udara, arah angin yang berakibat adanya perbedaan iklim di
Indonesia, sehingga menimbulkan ciri pertanian Indonesia merupakan kelengkapan ciri-ciri
pertanian yang lain.

2. Pertanian dataran tinggi dan rendah


Indonesia merupakan daerah volkano (memiliki banyak gunung), sehingga memungkinkan
mempunyai daerah yang mempunyai ketinggian dan dataran rendah. Dataran tinggi mempunyai
iklim dingin, sehingga bisa ditanami tanaman beriklim subtropis.

3. Pertanian iklim basah (Indonesia barat) dan pertanian iklim kering (Indonesia timur).
Indonesia bagian barat yang (Sumatra, Kalimantan, Jawa, sebagian Sulawesi)mempunyai
iklim basah : banyak hujan, sedangkan bagian Indonesia lain terutama Indonesia bagian
timur (NTB, NTT, Maluku) iklimnya kering.

4. Adanya hutan tropika dan padang rumput.


Karena iklimnya basah dan berada di daerah tropika maka banyak hujan terbentuk hutan
tropika, sedangkan di daerah kering tumbuh padang rumput.

5. Perikanan darat dan laut.


Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari banyak pulau, sehingga daerahnya terdiri
dari darat dan perairan. Keadaan ini memungkinkan terdapatnya perikanan darat dan laut.

6. Pertanian di Jawa dan Luar Jawa.


Daerah Jawa dan luar Jawa mempunyai spesifikasi yang berbeda. Jawa umumnya tanah
subur, penduduk padat, sedangkan di luar Jawa umumnya tanah kurang subur, penduduk jarang.
mempengaruhi corak pertanian: pertanian di jawa umumnya merupakan tanaman bahan
pangan, berskala kecil, sedangkan pertanian di luar jawa umumnya perupakan perkebunan,
kehutanan, berskala lebih luas

7. Pertanian rawa, pertanian darat/kering, pertanian beririgasi/basah


Daratan Indonesia terbagi menjadi :
 tanah rawa yaitu lahan yang tergenang sepanjang masa,
 lahan kering yaitu lahan yang tidak mendapat air irigasi, dan
 pertanian basah yaitu lahan yang beririgasi.

8. Pertanian / tanah sawah beririgasi, tadah hujan, sawah lebak, sawah pasang surut.
Penggolongan ini adalah penggolongan lahan yang ditanami padi. Sawah yang beririgasi
bersumberkan bendung sungai, dam/waduk, mata air, dll. Berdasarkan fasilitas teknisnya dibagi
menjadi irigasi teknis, setengah teknis, dan sederhana. Lahan/sawah tadah hujan sebenarnya juga
mempunyai saluran irigasi tetapi sumber airnya berasal dari air hujan. Sawah lebak mendapat air
terus menerus sepanjang masa. Sawah pasang surut mendapat air dari air sungai yang pasang
karena air laut yang sedang pasang, sering juga terdapat saluran irigasi.

Sumber:
www./ ganda%20blogs_%20ciri-ciri%20pertanian.html

Resume:
Ciri-ciri pertanian Indonesia yaitu:
1. Pertanian tropika
2. Pertanian dataran tinggi dan rendah
3. Pertanian iklim basah (Indonesia barat) dan pertanian iklim kering (Indonesia timur).
4. Adanya hutan tropika dan padang rumput.
5. Perikanan darat dan laut.
6. Pertanian di Jawa dan Luar Jawa.
7. Pertanian rawa, pertanian darat/kering, pertanian beririgasi/basah
8. Pertanian / tanah sawah beririgasi, tadah hujan, sawah lebak, sawah pasang surut
USAHA TANI
Bachtiar Rivai (1980) usahatani merupakan organisasi dari alam, tenaga kerja dan modal yang
ditujukan kepada produksi dilapangan pertanian, oleh seseorang atau sekelompok orang,
segolongan sosial baik yang terikat genologis, politis, maupun teritorial sebagai pengelolanya.
Usaha tani merupakan agrosistem yang unik yaitu suatu kombinasi sumber daya fisik dan
biologis, seperti bentuk lahan, air, tumbuhan dan hewan. Menurut Febryanti, 2003 sistem usaha
tani adalah unik dan stabil dalam perencanaan yang layak untuk melakukan kegiatan usaha tani
(misalnya budidaya tanaman, peternakan, pengolahan hasil pertanian) yang dikelola berdasarkan
kemampuan lingkungan fisik, biologis, dan sosial ekonomis serta sesuai dengan tujuan,
kemampuan dan sumberdaya yang dimiliki oleh petani.
Usahatani adalah terjemahan dari farm, sehingga dituliskan hanya dalam satu kata usahatani
bukan dalam 2 kata usahatani. A.T Mosher (1966) usahatani merupakan sebagian dari
permukaan bumi, dimana seorang petani, sebuah keluarga tani atau badan usaha lainnya
bercocok tanam atau memelihara ternak, usahatani pada dasarnya adalah sebidang tanah/lahan.
Selain tanah didalamnya usahatani juga mencakup bangun-bangun yang dibuat di atasnya seperti
sumur, saluran irigasi, dll.
Norman (Rademeker, 1990) menjabarkan faktor-faktor yang mempengaruhi sistem usaha tani
yang mampu menekankan berbagai faktor yang bekerja pada sistem pertanian. Manusia dan
teknik pengelolaan pertanian merupakan elemen yang mempengaruhi sistem pertanian. Manusia
dipengaruhi oleh faktor sosial dan budaya setempat, sedangkan teknik penglolaan dipengaruhi
oleh faktor fisik, biologi, kimia dan mekanis alam. Terdapat dua macam pola usahatani, yaitu
lahan basah atau sawah, lahan kering.
Ilmu usahatani adalah ilmu yang mempelajari bagaimana seorang manusia atau petani dapat
mengusahakan dan mengorganisir faktor-faktor produksi yang berupa tanah dan alam sekitar,
modal, dan manusia sehingga memberikan manfaat yang sebaik-baiknya. Usahatani sebagai
science adalah ilmu yang mempelajari cara-cara petani untuk menentukan, mengorganisir, dan
mengkoordinasi penggunaan faktor-faktor produksi selefktif dan seefesien mungkin, sehingga
usaha tersebut dapat menghasilkan pendapatan yang semaksimal mungkin. Sesuai dengan
definisinya penghubung antara ilmu -ilmu teknis pertanian (agronomi, ilmi tanah, ilmu hama
dll.) dengan ilmu-ilmu ekonomi (faktor produksi, biaya penerimaan, pendapatan dll).
Potret Usahatani Di Indonesia menurut Fadholi Hernanto (1989) yaitu:
 Adanya lahan, tanah usahatani, yang diantaranya tumbuh tanaman.
 Ada banguna.
 Ada alat-alat pertanian.
 Ada pencurahan kerja untuk mengolah.
 Ada kegiatan petani yang merencanakan.

Sumber:
www. AGRIBISNIS%20_%20USAHATANI.html
www. KLASIFIKASI%20USAHATANI.html

Resume:
Usahatani merupakan suatu kombinasi sumber daya fisik dan biologis seperti alam, tenaga
kerja dan modal yang ditujukan kepada produksi dilapangan pertanian, oleh seseorang atau
sekelompok orang, segolongan sosial baik yang terikat genologis, politis, maupun teritorial
sebagai pengelolanya yang dikelola berdasarkan kemampuan lingkungan fisik, biologis, dan
sosial ekonomis serta sesuai dengan tujuan. Menurut A.T Mosher (1966) usahatani merupakan
sebagian dari permukaan bumi, dimana seorang petani, sebuah keluarga tani atau badan usaha
lainnya bercocok tanam atau memelihara ternak, usahatani pada dasarnya adalah sebidang
tanah/lahan. Selain tanah didalamnya usahatani juga mencakup bangun-bangun yang dibuat di
atasnya seperti sumur, saluran irigasi, dll.
Ilmu usahatani adalah ilmu yang mempelajari bagaimana seorang petani dapat mengusahakan,
mengkoordinasi, menentukan dan mengorganisir faktor-faktor produksi yang berupa tanah dan
alam sekitar, modal, dan manusia sehingga memberikan manfaat yang sebaik-baiknya.
Terdapat dua macam pola usahatani, yaitu lahan basah atau sawah dan lahan kering. Dan
untuk potret Usahatani Di Indonesia menurut Fadholi Hernanto (1989) yaitu, aanya lahan, tanah
usahatani, yang diantaranya tumbuh tanaman, ada bangunan, ada alat-alat pertanian, ada
pencurahan kerja untuk mengolah dan ada kegiatan petani yang merencanakan.
Strategi Produksi Mosher
A.T Mosher (1968;19) mengartikan, pertanian adalah sejenis proses produksi khas yang
didasarkan atas proses pertumbuhan tanaman dan hewan. Kegiatan-kegiatan produksi didalam
setiap usaha tani merupakan suatu bagian usaha, dimana biaya dan penerimaan adalah penting.
Tumbuhan merupakan pabrik pertanian yang primer.
Peningkatan produktivitas usahatani berkaitan erat dengan berkembangnya ilmu pengetahuan
dan teknologi, hal ini merupakan salah satu ciri dalam usahatani modern. Seperti yang
dirumuskan Mosher (1987) bahwa diantara syarat yang harus dipenuhi untuk dapat hidup dan
berkembangnya usahatani modern itu adalah ilmu pengetahuan dan teknologi yang cocok dengan
kondisi setempat. Untuk itu alih teknologi diperlukan melalui penyuluhan yang efektif dan
efisien oleh para penyuluh kepada kelompoktani/petani. Oleh sebab itu peranan penyuluh dan
kelompoktani dalam merespon alih teknologi pertanian untuk meningkatkan produktivitas
usahataani perlu mendapat perhatian dalam rangka menjamin kemandirian pangan.
Mosher berpendapat bahwa perangsang yang sangat efektif untuk mendorong petani
meningkatkan hasil produksinya adalah factor harga dari komoditi yang bersangkutan. Menurut
mosher (1987) bahwa dalam hubungannya dengan harga,setiap terjadi perubahan harga, petani
akan memberikan respon. Harga yang menguntungkan akan merupakan insentif untuk
meningkatkan produksi.peningkatan produksi dapat di lakukan melalui peningkatan luas tanam
atau peningkatan produktifitas. Contohnya. Luas tanam kedelai di musim tanam berikutnya di
mana sifat perubahannya adalah searah (hubunganya positif ).
Tenaga kerja manusia tediri tenaga kerja pria, wanita dan anak-anak. Tenaga kerja hewan
digunakan untuk pengolahan tanah dan angkutan. Sedangkan tenaga kerja mekanik digunakan
untuk pengolahan tanah, pemupukan, pengobatan, penanaman serta panen. Tenaga kerja
mekanik bersifat substitusi sebagai pengganti tenaga kerja manusia atau tenaga kerja ternak.
Banyak dari penduduk Indonesia merupakan tenaga kerja pada sektor pertanian. Oleh karena itu
petani sebagai sumber daya manusia, memegang peranan inti di dalam pembangunan pertanian.
Peranan petani adalah memelihara tanaman dan hewan guna mendapatkan hasil-hasilnya yang
bermanfaat serta mempelajari dan menerapkan metode baru yang diperlukan agar usaha taninya
lebih produktif (A.T. Mosher, 1968;34).
Pengaruh harga hasil usaha tani dan harga input terhadap kuatnya daya dorong petani untuk
menaikkan produksi (A.T Mosher, 1965;131-132) dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Petani hanya akan menaikkan komoditi tertentu yang akan dijualnya, apabila harga
komoditi itu cukup menarik baginya.
2. Petani akan memberikan respons terhadap perubahan harga relatif dari tanaman-tanaman
yang sedang diusahakan dengan jalan menaikkan produksi tanaman yang harganya di
pasar lebih tinggi, kecuali hal tersebut akan membahayakan persediaan makanan
keluarganya sendiri.
3. Petani akan memberikan respons terhadap kenaikan harga hasil tanaman tertentu dengan
menggunakan teknologi yang lebih maju untuk menaikkan produksi tanaman tersebut,
jika (1) barang-barang input yang disediakan tersedia secara lokal, (2) mengetahui
bagaimana menggunakan input secara selektif, (3) jika harga input tidak terlalu tinggi
dibandingkan dengan harga yang diharapkan dari hasilnya.
4. Meningkatkan efisiensi tata niaga untuk menurunkan biaya berbagai mata rantai tataniaga
seperti pengumpulan, pengangkutan dan pengolahan hasil-hasil usata tani, dapat
menaikkan harga setempat yang sampai ke tangan petani atau menurunkan harga bagi
konsumen terakhir atau kedua-duanya.

A.T Mosher juga telah menganalisa syarat-syarat pembangunan pertanian di banyak negara
dan menggolong-golongkannya menjadi syarat-syarat mutlak dan syarat-syarat pelancar.
Terdapat lima syarat yang tidak boleh tidak harus ada untuk adanya pembangunan pertanian.
Kalau satu saja syarat-syarat tersebut tidak ada, maka terhentilah pembangunan pertanian,
pertanian dapat berjalan terus tetapi sifatnya statis. Syarat-syarat mutlak yang harus ada dalam
pembangunan pertanian (A.T Mosher, 1965;77) adalah :
1. Adanya pasar untuk hasil-hasil usaha tani.
Pembangunan pertanian meningkatkan produksi hasil pertanian. Untuk hasil-hasil itu
perlu ada pasaran serta harga yang cukup tinggi guna membayar kembali biaya-biaya tunai
dan daya upaya yang telah dikeluarkan petani sewaktu memproduksikannya. Diperlukan
tiga hal dalam pasaran untuk hasil usaha tani (A.T Mosher, 1965;78), yaitu :
 Seseorang di suatu tempat yang membeli hasil usaha tani, perlu ada permintaan
(demand) terhadap hasil usaha tani ini.
 Seseorang yang menjadi penyalur dalam penjualan hasil usaha tani, sistem
tataniaga.
 Kepercayaan petani pada kelancaran sistem tataniaga itu
2. Teknologi yang senantiasa berkembang.
Kemajuan dan pembangunan dalam bidang apapun tidak dapat dilepaskan dari kemajuan
teknologi. Revolusi pertanian didorong oleh penemuan mesin-mesin dan cara-cara baru
dalam bidang pertanian. A.T Mosher (Mubyarto, 1989;235) menganggap teknologi yang
senantiasa berubah itu sebagai syarat mutlak adanya pembangunan pertanian. Teknologi
sering diartikan sebagai ilmu yang berhubungan dengan keterampilan di bidang industri.
Tetapi A.T Mosher (1965;93) mengartikan teknologi pertanian sebagai cara-cara untuk
melakukan pekerjaan usaha tani. Didalamnya termasuk cara-cara bagaimana petani
menyebarkan benih, memelihara tanaman dan memungut hasil serta memelihara ternak.
Termasuk pula didalamnya benih, pupuk, pestisida, obat-obatan serta makanan ternak yang
dipergunakan, perkakas, alat dan sumber tenaga. Termasuk juga didalamnya berbagai
kombinasi cabang usaha, agar tenaga petani dan tanahnya dapat digunakan sebaik mungkin.
3. Tesedianya bahan-bahan dan alat-alat produksi secara lokal.
Kebanyakan metode baru yang dapat meningkatkan produksi pertanian, memerlukan
penggunaan bahan-bahan dan alat-alat produksi khusus oleh petani. Diantaranya termasuk
bibit, pupuk, pestisida, makanan dan obat ternak serta perkakas. Pembangunan pertanian
menghendaki kesemuanya itu tersedia di atau dekat pedesaan (lokasi usaha tani), dalam
jumlah yang cukup banyak untuk memenuhi keperluan tiap petani yang membutuhkan dan
menggunakannya dalam usaha taninya.
4. Adanya perangsang produksi bagi petani
Pemerintah menciptakan kebijaksanaan-kebijaksanaan khusus yang dapat merangsang
pembangunan pertanian. Misalnya kebijaksanaan harga beras minimum, subsidi harga
pupuk, kegiatan-kegiatan penyuluhan pertanian yang intensif, perlombaan-perlombaan
dengan hadiah menarik pada petani-petani teladan dan lain-lain. Pendidikan pembangunan
pada petani-petani di desa, baik mengenai teknik-teknik baru dalam pertanian maupun
mengenai keterampilan-keterampilan lainnya juga sangat membantu menciptakan iklim
yang menggiatkan usaha pembangunan. Jadi perangsang yang dapat secara efektif
mendorong petani untuk menaikkan produksinya adalah terutama bersifat ekonomis (A.T
Mosher, 1965;124), yaitu :
 Perbandingan harga yang menguntungkan.
 Bagi hasil yang wajar.Tersedianya barang dan jasa yang ingin dibeli oleh petani
untuk keluarganya.
5. Tersedianya perangkutan yang lancar dan kontinyu.
Dalam pembangunan pertanian terdapat unsur perangkutan. Tanpa perangkutan yang
efisien dan murah maka pembangunan pertanian tidak dapat diadakan secara efektif.
Pentingnya perangkutan adalah bahwa produksi pertanian harus tersebar meluas, sehingga
diperlukan jaringan perangkutan yang menyebar luas, untuk membawa sarana dan alat
produksi ke tiap usaha tani dan membawa hasil usaha tani ke pasaran konsumen baik di kota
besar dan/atau kota kecil.

Di samping syarat-syarat mutlak di atas, terdapat lima syarat lagi yang adanya tidak mutlak
tetapi kalau ada benar-benar akan memperlancar pembangunan pertanian. Yang termasuk dalam
syarat-syarat pelancar (A.T Mosher, 1965;149) adalah :
1. Pendidikan pembangunan
2. Kredit produksi
3. Kegiatan gotong-royong petani
4. Perbaikan dan perluasan tanah pertanianPerencanaan Nasional pembangunan pertanian.

Sumber:
http://www.pusatmakalah.com/2015/02/makalah-strategi-produksi-untuk.html

Resume:
Menurut A.T Mosher (1968;19) pertanian adalah sejenis proses produksi khas yang
didasarkan atas proses pertumbuhan tanaman dan hewan. A.T Mosher menganalisa syarat-syarat
pembangunan pertanian dan menggolong-golongkannya menjadi syarat-syarat mutlak dan
syarat-syarat pelancar. Menurut Mosher strategi produksi yang harus dilakukan untuk
mengembangkan dan meningkatkan produktivitas usaha tani adalah dengan Melakukan syarat-
syarat mutlak dan pelancar dalam usahatani, berikut syarat-syarat tersebut.:
Syarat-syarat mutlak dalam pembangunan pertanian (A.T Mosher, 1965;77) adalah :
1. Adanya pasar untuk hasil-hasil usaha tani.
2. Teknologi yang senantiasa berkembang.
3. Tesedianya bahan-bahan dan alat-alat produksi secara lokal.
4. Adanya perangsang produksi bagi petani
5. Tersedianya perangkutan yang lancar dan kontinyu.
Lima syarat lagi yang termasuk dalam syarat-syarat pelancar (A.T Mosher, 1965;149) adalah :
1. Pendidikan pembangunan
2. Kredit produksi
3. Kegiatan gotong-royong petani
4. Perbaikan dan perluasan tanah pertanianPerencanaan Nasional pembangunan pertanian.