Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.

J
DENGAN HARGA DIRI RENDAH DI RUANG KAKAK TUA
RSJ Dr. RADJIMAN WEDIODININGRAT

Disusun oleh:
KELOMPOK 4
1. Charismatul Fadilah (17640689)
2. Gaspar Nammu Kodu (17640700)
3. Hariati (17640701)
4. Ika Wahyu Nurrochmawati (17640706)
5. Lia Vidia Oktaviana (17640712)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITS KADIRI
TAHUN 2018

i
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Asuhan Keperawatan pada Tn. J Dengan Harga Diri Rendah di


Ruang Kakak Tua RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang oleh kelompok 4
telah diperiksa dan disetujui pada :
Hari/Tanggal : Kamis, 22 Februari 2018

Pembimbing Institusi Pembimbing Klinik

Listika Mei Lina.S S.Kep.,Ns Nanang Syah S.Kep.,Ns

Mengetahui,

Kepala Ruangan

Kakak Tua RSJ Lawang

Nanang Syah S.Kep.,Ns

ii
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah penyusun haturkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan


karunia-Nya jualah penyusun dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah
yang berjudul “Harga Diri Rendah (HDR)” guna memenuhi tugas Keperawatan
Jiwa .
Penyusun sangat menyadari, bahwa dalam makalah ini masih banyak
kekurangan maupun kesalahan, untuk itu kepada para pembaca yang budiman
harap memaklumi adanya mengingat keberadaan penyusunlah yang masih banyak
kekurangannya. Dalam kesempatan ini pula penyusun mengharapakan kesediaan
pembaca untuk memberikan saran yang bersifat perbaikan, yang dapat
menyempurakan isi makalah ini dan dapat bermanfaat dimasa yang akan datang.
Ucapan terimakasih sangat perlu penyusun haturkan kepada pembimbing
lahan di ruang kakak tua, sekaligus sebagai pembimbing dalam pembuatan
makalah ini, semoga atas kebesaran hati dan kebaikan beliau mendapat rahmat
dari Allah SWT. Amin
Akhir kata semoga makalah ini dapat membawa wawasan, khususnya bagi
penyusun dan umumnya bagi para pembaca yang budiman.

Malang, 22 Februari 2018

Penyusun

iii
DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................... i


KATA PEGANTAR ..................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................ 1
1.3 Tujuan .................................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian ............................................................................................. 3
2.2 Faktor Predisposisi Dan Presipitasi....................................................... 3
2.3 Tanda Dan Gejala................................................................................ 4
2.4 Proses Terjadinya Penyakit................................................................... 4
2.5 Rentang Respon ................................................................................. 5
2.6 PenentuanDiagnosa ............................................................................. 9
2.7 Pohon Masalah ..................................................................................... 9

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN


I.Identitas Pasien .................................................................................. 10
II. Alasan Pasien Masuk.......................................................................... 10
III.Riwayat Penyakit Sekarang Dan Faktor Presipitasi............................ 10
IV.Faktor Predisposisi.............................................................................. 11
V.Pengkajian Psikososial ....................................................................... 12
VI.Pemeriksaan Fisik .............................................................................. 14
VII.Status Mental ..................................................................................... 14
VIII.Kebutuhan Persiapan Pulang ............................................................. 16
IX.Mekanisme Koping ............................................................................ 18
X.Masalah Individu Dan Lingkungan ................................................... 18
XI.Aspek Pengetahuan.............................................................................19
XII.Aspek Medis .......................................................................................19

iv
XIII.Analisa Data ...................................................................................... 20
XIV. Daftar Diagnosa Keperawatan .......................................................... 21
XV. Prioritas Diagnosa Keperawatan ....................................................... 21
XVI. Intervensi Keperawatan ..................................................................... 22
XVII. Implementasi Dan Evaluasi. ............................................................. 22

BAB IV PENUTUP

Kesimpulan.................................................................................................. 32
Daftar Pustaka............................................................................................ 33

v
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Peristiwa traumatik, seperti kehilangan pekerjaan, harta benda, dan

orang yang dicintai dapat meninggalkan dampak yang serius. Dampak

kehilangan tersebut sangat memengaruhi persepsi individu akan kemampuan

dirinya sehingga mengganggu harga diri seseorang.

Banyak dari individu-individu yang setelah mengalami suatu

kejadian yang buruk dalam hidupnya, lalu akan berlanjut mengalami

kehilangan kepercayaan dirinya. Dia merasa bahwa dirinya tidak dapat

melakukan apa-apa lagi, semua yang telah dikerjakannya salah, merasa

dirinya tidak berguna, dan masih banyak prasangka-prasangka negatif

seorang individu kepada dirinya sendiri. Untuk itu, dibutuhkan bantuan dan

dukungan dari berbagai pihak agar rasa percaya diri dalam individu itu dapat

muncul kembali. Termasuk bantuan dari seorang perawat. Perawat harus

dapat menangani pasien yang mengalami diagnosis keperawatan harga diri

rendah, baik menggunakan pendekatan secara individual maupun kelompok.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, kami dapat mengambil rumusan

masalah sebagai berikut :

1. Apa yang dimaksud dengan harga diri rendah?

2. Apa saja etiologi dari harga diri rendah?

3. Apa manifestasi klinis klien dengan harga diri rendah?

4. Bagaimana proses terjadinya masalah?

5. Bagaimana rentang respon klien dengan harga diri rendah?

1
6. Apa saja masalah keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan
harga diri rendah?
7. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan harga diri rendah

1.3 Tujuan
`Berdasarkan rumusan masalah diatas, kami dapat mengambil tujuan

sebagai berikut

1. Menjelaskan definisi dari harga diri rendah.

2. Menjelaskan etiologi dari harga diri rendah

3. Menjelaskan manifestasi klinis klien dengan harga diri rendah

4. Menjelaskan proses terjadinya masalah

5. Menjelaskan rentang respon klien dengan harga diri rendah

6. Menjelaskan masalah keperawatan yang mungkin muncul pada klien

dengan harga diri rendah

7. Menjelaskan asuhan keperawatan klien dengan harga diri rendah.

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 PENGERTIAN
Harga Diri Rendah Kronis adalah evaluasi diri/perasaan tentang diri
atau kemampuan diri yang negative dan dipertahankan dalam waktu yang
lama (NANDA, 2005).
Harga Diri Rendah Kronis adalah dimana individu cenderung untuk
menilai dirinya negatif dan merasa lebih rendah dari orang lain (Depkes
RI, 2000)
Harga diri rendah adalah penilaian tentang pencapaian diri dengan
menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri (Koliat, BA).
Harga diri bisa di artikan sebagai evaluasi diri dan perasaan diri atau
kemampuan diri yang negatif, dapat secara langsung atau tidak langsung di
persiapkan.
Harga Diri Rendah Kronis adalah evaluasi diri dan perasaan tentang
diri atau kemampuan diri yang negative dan dapat secara lansung atau
tidak lansung di ekspresikan (Towsend, 1998)
Harga diri rendah berhubungan dengan koping individu yang tidak
afektif, koping merupakan respon pertahanan individu terhadap suatu
masalah. Jika koping individu tidak efektif maka individu tidak bisa
mencapai harga dirinya dalam mencapai suatu perilaku.

2.2 FAKTOR PREDISPOSISI DAN PRESIPITASI


2.2.1 Faktor Predisposisi
3 Faktor yang mempengaruhi harga diri meliputi tindakan orang
tua, harapan orang tua relatif, kegagalan yang berulang kali,
kurang mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan
pada orang lain dan ideal diri realistis.
4 Transisi perkembangan adalah perubahan normatif yang
berhubungan dengan pertumbuhan, perubahan ini termasuk tahap
perkembangan dalam kehidupan individu atau keluarga, norma-
norma budaya, nilai-nilai tekanan untuk penyesuaian diri.
5 Transisi peran situasi, terjadi dengan bertambah atau
berkurangnya anggota keluarga mulai kelahiran atau kematian.

3
6 Situasional yaitu terjadi trauma tiba-tiba, misalnya harus operasi,
putus hubungan kerja dan lain-lain.
7 Kronik yaitu perasaan negatif terhadap diri sendiri yang
berlangsung lama.
2.2.2 Faktor Presipitasi
Gangguan harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang
negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya harga diri dan
penurunan percaya diri, merasa gagal mencapai keinginan, penurunan
aktivitas, destruktif yang diartikan pada orang lain. Sedangkan pecetus
yang merupakan stresor yang dapat menimbulkan harga diri rendah
dan sumber internal dan eksternal seperti :
- Trauma: penganiayaan seksual dan psikologis atau menyaksikan
kejadian yang mengancam.
- Ketegangan peran berhubungan dengan peran atau posisi yang
diharapkan dimana individu mengalami frustasi.
2.3 TANDA DAN GEJALA
Manifestasi yang biasa muncul pada pasien gangguan jiwa dengan harga
diri rendah, Fitria (2009):
 Mengkritik diri sendiri
 Perasaan tidak mampu
 Pandangan hidup yang pesimistis
 Tidak menerima pujian.
 Penurunan produktifitas.
 Penolakan terhadap kemampuan diri
 Kurang memperhatikan perawatan diri.
 Berpakaian tidak rapi, selera makan kurang, tidak berani menatap
lawan bicara.
 Lebih banyak menunduk
 Bicara lambat dengan nada bicara lemah.
2.4 PROSES TERJADINYA PENYAKIT
Harga diri rendah kronis terjadi merupakan proses kelanjutan dari
harga diri rendah situasional yang tidak diselesaikan. Atau dapat juga
terjadi karena individu tidak pernah mendapat feetback dari lingkungan
tentang perilaku pasien sebelumnya bahkan mungkin kecenderungan

4
lingkungan yang selalu member respon negative mendorong individu
menjadi harga diri rendah.
Harga diri rendah kronis terjadi disebabkan banyak faktor.
Awalnya individu berada pada situasi yang penuh dengan stressor (krisis),
individu berusaha menyelesaikan krisi tetapi tidak tuntas sehingga timbul
pikiran bahwa diri tidak mampu atau merasa gagal menjalankan fungsi dan
peran. Penilaian individu terhadap diri sendiri kegagalan karena
menjalankan fungsi dan peran adalah kondisi harga diri rendah situasional,
jika lingkungan tidak member dukungan positif atau justru menyalahkan
individu dan terjadi secara terus menerus akan mengakibatkan individu
mengalami harga diri rendah kronis.
2.5 RENTANG RESPON

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Aktualisasi Konsep diri Harga Diri Rendah Keracuan Depersonalisasi


Diri Positif Identitas

Harga diri rendah merupakan komponen episode depresi mayor,


dimana aktivitas merupakan bentuk hukuman atau punishment (stuart &
laraia, 2005). Depresi adalah emosi normal manusia, tapi secara klinis
dapat bermakna patologik apabila mengganggu perilaku sehari-hari,
menjadi pervasive dan muncul bersama penyakit lain.
Menurut NANDA (2005) tanda dan gejala yang dimunculkan
sebagai perilaku terlah dipertahankan dalam waktu yang lama atau kronik
yang meliputi mengatakan hal yang negative tentang diri sendiri dalam
waktu lama dan terus menerus, mengekspresikan sikap malu/minder/rasa
bersalah, kontak mata kurang/tidak ada, selalu mengatakan ketidak
mmapuan/ kesulitan untuk mencoba sesuatu, bergantung pada orang lain,
tidak asertif, pasif dan hipoaktif, bimbang dan ragu-ragu serta menolak
umpan balik positif dan membesarkan umpan balik negative mengenai
dirinya.
Mekanisme koping jangka pendek yang biasa dilakukan pasien
harga diri rendah adalah kegiatan yang dilakukan untuk lari sementara dari
krisis, misalnya pemakaian obat-obatan, kerja keras, nonton tv terus-

5
menerus. Kegiatan mengganti identitas sementara, misalnya ikut kelompok
social, keagamaan dan politik. Kegiatan yang memberi dukungan
sementara, seperti mengikuti suatu kompetisi atau kontes popularitas.
Kegiatan mencoba menghilangkan anti identitas sementara, seperti
penyalahgunaan obat-obatan.
Jika mekanisme koping jangka pendek tidak member hasil yang
diharapkan individu akan mengembangkan mekanisme koping jangka
panjang, antara lain adalah menutup identitas yang disenangi dari orang-
orang yang berarti tanpa mengindahkan hasrat, aspirasi atau potensi diri
sendiri. Identitas negative, dimana asumsi yang bertentangan dengan nilai
dan haeapan masyarakat. Sedangkan mekanisme pertahanan ego yang
sering digunakan adalah fantasi, regresi, disasosiasi, isolasi, proyeksi,
mengalihkan marah berbalik pada diri sendiri dan orang lain. Terjadinya
gangguan konsep diri harga diri rendah kronis juga dipengaruhi beberapa
faktor predisposisi seperti faktor biologis, psikologis, dan cultural.
Faktor biologis biasanya karena ada kondisi sakit fisik secara yang
dapat mempengaruhi kerja hormon secara umum, yang dapat pula
berdampak pada keseimbangan neurotransmitter di otak, contoh kadar
serotonin yang menurun dapat mengakibatkan pasien mengalami depresi
dan pada pasien depresi kecenderungan harga diri rendah kronis semakin
besar karena pasien lebih dikuasai oleh pikiran-pikiran negative dan tak
berdaya.
Struktur otak yang mungkin mengalami gangguan pada kasus
harga diri rendah kronis adalah:
 System Limbic yaitu pusat emosi, dilihat dari emosi pada pasien
dengan harga diri rendah yang kadang berubah seperti sedih, dan
terus merasa tidak berguna atau gagal terus menerus.
 Hypothalamus yang juga mengatur mood dan motivasi, karena
melihat kondisi pasien dengan harga diri rendah yang membutuhkan
lebih banyak motivasi dan dukungan dari perawat dalam
melaksanakan tindakan yang sudah dijadwalkan bersama-sama
dengan perawat padahal pasien mengatakan bahwa membutuhkan
latihan yang telah dijadwalkan tersebut.

6
 Thalamus, system pintu gerbang atau menyaring fungsi untuk
mengatur arus informasi sensori yang berhubungan dengan perasaan
untuk mencegah berlebihan di korteks. Kemungkinan pada pasien
harga diri rendah apabila ada kerusakan di thalamus ini maka arus
informasi sensori yang masuk tidak dapat dicegah atau dipilah
sehingga menjadi berlebihan yang mengakibatkan perasaan negative
yang ada selalu mendominasi pikiran dari pasien.
 Amigdala yang berfungsi untuk emosi.
Adapun alat yang dapat mengetahui gangguan struktur otak yang
dapat digunakan adalah:
1. Electroencephalogram (EEG), suatu pemeriksaan yang bertujuan
memberikan informasi penting tentang kerja dan fungsi otak.
2. CT Scan, untuk mendapatkan gambaran otak tiga dimensi.
3. Single Photon Emission Computed Tomography (SPECT), melihat
wilayah otak dan tanda-tanda abnormalitas pada otak dan
menggambarkan perubahan-perubahan aliran darah yang terjadi.
4. Magnetic Resonance Imaging (MRI), suatu teknik radiologi dengan
menggunakan magnet, gelombang radio, dan computer untuk
mendapatkan gambaran struktur tubuh atau otak dan dapat
mendeteksi perubahan yang kecil sekalipun dalam struktur tubuh
atau otak. Beberapa prosedur menggunakan kontras gadolinium
untuk meningkatkan akurasi gambar.
Selain gangguan pada struktur otak, apabila dilakukan
pemeriksaan lebih lanjut dengan alat-alat tertentu kemungkinan akan
ditemukan ketidakseimbangan neurotransmitter di otak seperti:
1. Acetylcholine (ACh), untuk pengaturan atensi dan mood, mengalami
penurunan.
2. Norepinephrine, mengatur fungsi kesiagaan, pusat perhatian dan
orientasi: mengatur “fight-flight” dan proses pembelajaran dan
memori, mengalami penurunan yang mengakibatkan kelemahan dan
depresi.
3. Serotonin, mengatur status mood, mengalami penurunan yang
mengakibatkan pasien lebih dikuasai oleh pikiran-pikiran negative
dan tidak berdaya.

7
4. Glutamat, mengalami penurunan, terlihat dari kondisi pasien yang
kurang energy, selalu terlihat mengantuk. Selain itu berdasarkana
diagnose medis pasien yaitu skizofrenia yang sering
mengindikasikan adanya penurunan glutamate.
Adapun jenis alat untuk pengukuran neurotransmitter yang dapat
digunakan adalah:
1. Positron Emission Tomography (PET), mengukur emisi/pancaran
dari bahan kimia radioaktif yang diberi label dan telah disuntik ke
dalam aliran darah untuk menghasilkan gambaran dua atau tiga
dimensi melalui distribusi dari bahan kimia tersebut di dalam tubuh
dan otak. PET dapat memperlihatkan gambaran aliran darah, oxygen,
metabolism dlukosa dan konsentrasi obat dalam jaringan otak. Yang
merefleksikan aktivitas otak sehingga dapat dipelajari lebih lanjut
tentang fisiologi dan neuri-kimiawi otak.
2. Transcranial Magnetic Stimulations (TMS) dikombinasikan dengan
MRI, para ahli dapat melihat dan mengetahui fungsi spesifik dari
oatak. TMS dapat menggambarkan proses motorik dan visual dan
dapat menghubungkan antara kimiawi dan struktur otak dengan
perilaku manusia dan hubungannya dengan gangguan jiwa.

8
2.6 PENENTUAN DIAGNOSA

Dx Deskripsi Data Mayor Data Minor


Keperawatan

Gangguan Ide, pikiran Subyektif: Subyektif:


Konsep perasaan yang
 Mengeluh hidup  Mengatakan
Diri:Harga Diri negatif tentang
tidak bermakna malas
Rendah diri
 Tidak memiliki  Putus asa
kelebihan  Ingin mati
apapun Obyektif:
 Merasa jelek
 Tampak
Obyektif:
malas-
 Kontak mata malasan
kurang  Produktivitas
 Tidak menurun
berinisiatif
berinteraksi
dengan orang
lain

2.7 Pohon Masalah

Isolasi Sosial : Menarik Diri

Gangguan Konsep Diri (Harga Diri Rendah)

Gangguan Citra Tubuh

9
BAB III
FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN
KESEHATAN JIWA

Di Ruang Rawat : Kakak Tua


Tanggal MRS : 1 Februari 2018
Tanggal Pengkajian : 12 Februari 2018
Sumber Informasi : Pasien dan Perawat

I. IDENTITAS
Inisial : Tn. J
Umur : 58 tahun
Alamat : Mojokerto
Pendidikan : SMP
Agama : Islam
Status Perkawinan : Kawin
Pekerjaan : Tidak Bekerja
Jenis Kelamin : Laki – Laki
No RM : 117xxx

II. ALASAN MASUK


a. Data Primer
Pasien mengatakan 12 hari yang lalu di ajak oleh anaknya ke RSJ Lawang untuk
kontrol, namun pasien ditinggal karena harus menjalani pengobatan
b. Data Sekunder
Pada tanggal 1 Februari 2018 menurut data sekunder, pasien kambuh lagi dengan
gejala marah-marah dan memukul orang, serta mudah mengantuk, kemungkinan
penyebab karena pasien tidak kontrol dan tidak mau minum obat, alasan lain tidak
ditemukan.
c. Keluhan Utama Saat Pengkajian
Pasien mengatakan tidak ada keluhan saat ditanya apakah ada keluhan yang
dirasakan saat ini

III. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG (FAKTOR PRESIPITASI)


Pada tanggal 1 Februari 2018 menurut data sekunder, pasien kambuh lagi dengan
gejala marah-marah dan memukul orang, serta mudah mengantuk, kemungkinan
penyebab karena pasien tidak kontrol dan tidak mau minum obat, alasan lain tidak
ditemukan. Akhirnya oleh keluarga dibawa kembali ke RSJ. Pasien diterima di IGD RSJ

10
Lawang, setelah kondisi tenang, pasien di pindah ke Ruang Kakak Tua pada tanggal 5
Februari 2018.
IV. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU (FAKTOR PREDISPOSISI)
1) Riwayat Penyakit yang lalu
Pasien mengatakan 3 tahun yang lalu bentrok dengan tetangganya karena
dianggap menipu harta kekayaannya sampai memukul tetangganya. Kemudian
dibawa ke RS oleh anaknya, pasien sempat dipindah ke RSBL di Kras Kediri selama
2 bulan dan kemudian dipulangkan karena sudah sembuh. Setelah 4 bulan di rumah,
pasien mengalami hal yang sama seperti 3 tahun yang lalu, dan MRS lagi sampai
sekarang.
2) Faktor penyebab/pendukung :
a. Riwayat Trauma
- Pasien mengatakan tidak pernah mengalami aniaya fisik sebagai pelaku, saksi
ataupun korban. Namun menurut data sekunder dari rekam medis, pasien
mengalami aniaya fisik sebagai pelaku yaitu memukul tetangganya pada usia
55 tahun.
- Pasien mengatakan tidak pernah mengalami aniaya seksual baik sebagai
pelaku, korban maupun saksi.
- Pasien mengatakan tidak pernah mengalami penolakan baik sebagai pelaku,
korban, maupun saksi
- Pasien mengatakan tidak pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga,
baik sebagai korban, pelaku maupun saksi.
- Pasien mengatakan pernah mengalami tindakan kriminal yaitu ditipu harta
kekayaannya sebagai korban pada usia 55 tahun. Pasien juga mengatakan takut
jika hal ini akan terjadi lagi
Diagnosa Keperawatan :
- Respon Paska Trauma
- Resiko Perilaku Kekerasan
b. Pernah melakukan upaya/percobaan/bunuh diri
Pasien mengatakan tidak pernah melakukan percobaan bunuh diri
Diagnosa Keperawatan : -
c. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan
Pasien mengatakan memiliki pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan
yaitu peritiwa kegagalan, saat keinginannya menjadi anggota kepolisian tidak
tercapai
Diagnosa keperawatan : -
d. Pernah mengalami penyakit fisik
Pasien mengatakan pernah memiliki sakit fisik yaitu darah tinggi
Diagnosa keperawatan : -

11
e. Riwayat penggunaan NAPZA
Pasien mengatakan tidak pernah minum obat-obatan terlarang
Diagnosa keperawatan : -
3) Upaya yang telah di lakukan
- Pasien mengatakan pernah di bawa ke RSJ 3 tahun yang lalu
- Pasien mengatakan tidak pernah berobat ke paranormal sebelumnya
4) Riwayat penyakit keluarga
Pasien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang mengalami sakit seperti ini
V. PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL
1) Genogram
Keterangan :

= laki-laki

= perempuan

= pasien

58 ─ = cerai
8
X = meninggal

= serumah

 Pasien adalah anak pertama dari empat bersaudara.


 Pasien tinggal serumah dengan istri dan anaknya
 Pasien kecil di asuh oleh kedua orang tuanya
 Ibunya, sifat ibu sabar, bapaknya sabar
 Orangtua yaitu ayah pasien meninggal saat pasien lulus SD, usia 13 tahun. Ibu
meninggal saat usia 40 tahun.
 Tidak ada anggota keluarga Pasien yang mengalami gangguan jiwa.
DiagnosaKeperawatan : -

2) Konsep diri
a. Citra diri :
Pasien mengatakan tidak ada bagian tubuh yang tidak di sukai. Bersyukur
dengan bentuk dan kondisi tubuhnya karena memang sudah takdir dari Allah
SWT.

12
b. Identitas diri :
Pasien mengaku bernama JA, umur 58 tahun, Pasien mengatakan dirinya adalah
laki-laki tulen dan berharap segera pulang bertemu istri, anak, cucu.
c. Peran :
Pasien mengatakan tidak bekerja, saat dirumah pasien lebih suka diam dikamar,
menyendiri dikamar, karena pasien sering mengantuk. Pasien berharap bisa
menjadi kepala keluarga yang dapat bertanggung jawab sebagai kepala keluarga
lagi.
d. Ideal diri :
Pasien mengatakan saat ini yang menjadi keinginannya adalah bisa di jemput
pulang agar dapat berkumpul dengan keluarganya, dapat bekerja dan dapat
bertanggungjawab sebagai kepala keluarga lagi.
e. Harga diri :
Pasien mengatakan malu pada orang-orang disekitarnya/tetangganya karena
menderita gangguan jiwa atau masuk RSJ.
Pasien juga mengatakan malu karena tidak mempunyai pekerjaan yang pasti,
karena tidak dapat memenuhi tugas nya sebagai kepala keluarga.
Diagnosa keperawatan : Harga diri rendah
3) Hubungan sosial
a. Orang terdekat
Pasien mengatakan orangyang paling dekat dengannya adalah anaknya.
b. Peran serta dalam kegiatan kelompok / masyarakat
Saat di rumah pasien mengatakan rutin mengikuti acara dikampungnya,
contohnya pengajian.
Saat di ruang kakak tua pasien terlihat sering diam dan menyendiri, namun saat
ada pekerjaan kelompok diruangan pasien nampa ikut berpartisipasi seperti
menyapu dan mengepel ruangan.
c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain
Pasien mengatakan walaupun sering merasa malu dengan orang-orang
disekitarnya tapi dia masih mau bergaul dengan teman-temannya.
Diagnosa keperawatan : Resiko Isolasi Sosial
4) Spiritual
a. Agama
Pasien mengaku beragama islam dan percaya adanya kekuasaan Tuhan, Allah
SWT. Pasien percaya bahwa Tuhan akan membantunya. Pasien mengatakan saat
dirumah rajin sholat di masjid.
b. Pandangan terhadap gangguan jiwa
Pasien mengatakan menurut agamanya, gangguan jiwa adalah otaknya tidak
normal.

13
Diagnosa keperawatan : -
VI. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum : Pasien tampak menyendiri, jarang untuk memulai pembicaraan
dengan teman-teman. Penampilan pasien rapi dan cara berpakaian sesuai.
2. Kesadaran : Composmentis, GCS 4-5-6
3. Tanda vital
TD : 120/80 mmHg
N : 84x/m
S : 36,7’C
P : 20x/m
4. Ukur
BB : 55 Kg
TB : 145 Cm
5. Keluhan Fisik : Pasien mengatakan tidak ada keluhan fisik saat ditanya ada keluhan
fisik atau tidak.
Diagnosa Keperawatan : -
VII. STATUS MENTAL
1) Penampilan
Pasien tampak rapi, baju terpakai tidak terbalik, celana tidak kedodoran, rambut rapi
bersih dan terdapat sedikit ketombe, kuku pendek dan bersih, kulit wajah bersih,
gigi bersih, badan tidak bau.
Diagnosa keperawatan : -
2) Pembicaraan
Pasien enggan berbicara dengan orang lain dalam waktu yang agak lama dan pasien
cenderung tidak bisa memulai pembicaraan dengan orang lain, bicara pasien pelan
dan kadang-kadang kurang jelas, kosakata terbatas, pasien hanya menjawab
pertanyaan perawat seperlunya.
Diagnosa keperawatan :Kerusakan Komunikasi Verbal
3) Aktivitas motorik/psikomotor
Saat diruang kakak tua pasien tampak lemah lesu dan tidak bersemangat, pasien
mau membantu kegiatan teman-temannya tapi harus diarahkan oleh perawat, tetapi
reaksi terhadap lingkungan sangat kurang, gerakan dan aktivitas sangat lambat.
Diagnosa keperawatan : -
4) Emosi dan afek
a. Mood
Depresi : pasien merasa sedih dan bingung, setiap kali ditanya pasein sering
menjawab “saya sehat, tidak sakit, kenapa saya di bawa ke RS, saya ingin
pulang”.

14
b. Afek
Tumpul/dangkal/datar : Afek pasien tumpul terbukti dengan ekspresi wajah
pasien yang datar, ketika diajak bercanda tidak tersenyum sama sekali.
Diagnosa keperawatan :
5) Interaksi selama wawancara
Kontak mata kurang
Selama interaksi pasien kurang kooperatif, kontak mata kurang/minimal sering
memalingkan pandangan dan tidak memperhatikan. Tidak bermusuhan dengan
perawat, pasien duduk dengan sopan. Pasien lebih cenderung diam namun pasien
mampu menjawab pertanyaan yang diberikan.
Diagnosa keperawatan :Kerusakan Interaksi Sosial
6) Persepsi sensorik
Pasien mengatakan tidak pernah mendengar suara-suara / bisikan maupun melihat
sesuatu/bayangan-bayangan yang orang lain tidak dengar/tidak lihat.
Diagnosa keperawatan : -
7) Proses pikir
Pasien mengatakan malu pada orang-orang disekitarnya/tetangganya karena
menderita gangguan jiwa. Klien juga mengatakan malu karena tidak mempunyai
pekerjaan yang pasti, tidak seperti saudara-saudaranya.
a. Arus pikir : blocing dibuktikan dengan saat pasien ditanya oleh perawat,
pasien menjawab namun tiba-tiba diam beberapa saat dan kembali melanjutkan
jawabannya sesuai dengan jawaban awal
b. Isi pikir : Perasaan rendah diri , hal ini dibuktikan dengan ucapan pasien
yang selalu menjawab malu dengan teman-temannya.
c. Bentuk pikir : Dereistik dibuktikan dengan pasien mengatakan bekerja di
kepolisian, namun nyatanya pasien tidak memiliki pekerjaan tetap dan hanya
lulusan SMP.
Diagnosa keperawatan : Perubahan proses pikir ; perasaan rendah diri
8) Kesadaran
a. Orientasi
 Waktu : Baik, dibuktikan dengan saat ditanya. pak sekarang pagi atau
malam? pasien menjawab “siang” , pada kenyataannya memang siang.
 Orang : Baik, dibuktikan dengan saat ditanya. “bapak sekarang
berbicara dengan siapa?” pasien menjawab “ perawat”.
 Tempat : Baik, dibuktikan dengan saat ditanya “bapak sekarang
dimana?” Dan pasien menjawab “di RSJ Lawang”.
Diagosa keperawatan : -

15
9) Memori
- Memori jangka panjang : “pasien tidak mengalami gangguan daya ingat jangka
panajang dibuktikan dengan pasien mengatakan sekolah SMP di Mojokerto.
- Memori jangka pendek : “pasien tidak mengalami gangguan daya ingat jangka
pendek dibuktikan dengan pasien mengatakan 1 jam yang lalu mandi dan
mencukur kumisnya”.
- Memori saat ini : “pasien tidak mengalami gangguan daya ingat jangka
menengah dibuktikan dengan pasien mengatakan jam 12 siang waktunya
makan siang”.
Diagnosa keperawatan :-
10) Tingkat konsentrasi dan berhitung
Konsentrasi : Baik, pada saat wawancara pasein nampak konsentrasi dan tidak
mudah beralih.
Berhitung : pasien mampu menjawab pertanyaan yang diajukan dengan tepat.
Seperti contoh 5+5 pasien spontan menjawab 10.
Diagnosa keperawatan : -
11) Kemampuan penilaian
Gangguan Ringan
Pasien mampu mengambil keputusan secara sederhana. Contoh saat pasien ditanya
apa yang dilakukan jika melihat ada perkelahian, pasien mengatakan akan
melerainya dan melaporkan kepada pihak yang berwajib.
Diagnosa keperawatan : -
12) Daya tilik diri
Mengingkari penyakit yang diderita
Pasien mengatakan tidak sakit jiwa dan tidak tahu mengapa di bawa ke Rumah Sakit
Jiwa.
Diagnosa keperawatan :Gangguan Proses Pikir
VIII. KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG
1. Kemampuan pasien memenuhi kebutuhan
Pasien mengatakan mampu merawat kesehatannya dibantu dengan anaknya,
Transportasi dan tempat tinggal ada pasien tinggal bersama anaknya siti robana. Untuk
keuangan pasien juga mengatakan ada uang dari hasil jerih payahnya sebelum sakit.
2. Kegiatan hidup sehari - hari
a. Perawatan diri
1) Mandi
Jelaskan : Pasien mandi 2 x sehari menggunakan sabun sikat gigi 2x sehari
menggunakan sikat dan pasta gigi keramas 2 hari sekali.

16
2) Berpakaian, berhias dan berdandan
Jelaskan : pasien mampu menggunakan pakaian tanpa bantuan, tidak terbalik dan
tidak kedodoran cara berpakaian juga rapi.
3) Makan
Jelaskan : pasien makan 3 x sehari, setelah makan pasien langsung mencuci
piringya sendiri dan meletaknnya pada tempatnya tidak tampak belepotan saat
makan.
4) Toileting ( BAK, BAB )
Jelaskan : pasien dapat BAB dan BAK di tempatnya dan menyiramnya dengan
bersih, pasen juga dapat cebok dengan bersih dibuktikan dengan tidak bau
pesing.
b. Nutrisi
Frekuensi makanan dan frekuensi kudapan dalam sehari.
 Pasien mengatakan makan 3 x sehari secara rutin
 Pasien mengatakan selalu menghabiskan porsi makannya, hanya sesekali tidak
dapat menghabiskannya.
 Pasien mengatakan berat badannya tetap dari awal masuk Rumah Sakit sampai
sekarang.
Diagnosa keperawatan :-
c. Tidur :
1. Istrahat tidur
Tidur siang , lama : 11:30 sampai dengan 13:30
Tidur malam, lama : 21:30 sampai dengan 04:30
Aktifitas sesudah/ sebelum tidur :Pasien mengatakan sebelum tidur minum obat
2 butir berwarna merah dan biru, dan sesudah bangun tidur pasien sholat, mandi,
nyapu dan ngepel. Dan minum obat 1 butir berwarna biru.
Jelaskan : pasien tidak mengalami gangguan tidur
2. Gangguan tidur
Pasien mengatakan tidak ada gangguan tidur
Diagnosa keperawatan :-
d. Kemampuan lain lain
 Mengantisipasi kebutuhan hidup
Pasien mengatakan dapat mengantisipasi kebutuhan hidupnya dengan
menggunakan uang hasil jerih payah nya dimasa muda dan juga di dukung atau
di biayai oleh anak nya.
 Membuat keputusan berdasarkan keputusan
Pasien mengatakan dapat membuat keputusan sendiri.
 Mengukur penggunaan obat dan melakukan pemeriksaan kesehatannya sendiri

17
Pasien mengatakan di rumah yang mengatur pemberian obat adalah anaknya
siti robana. Pasien saat akan kontrol ke Rumah Sakit selalu ditemani oleh
anaknya siti robana dan pasien juga mengatakan dapat memeriksakan/control
sendiri ke puskesmas.
Diagnosa keperawatan :-
e. Sistem pendukung
Pasien mengatakan mendapat dukungan dari anaknya, petugas kesehatan, serta
teman-teman di Ruang Kakak Tua. Terutama Tn.Supriyadi.
Diagnosa keperawatan : -
IX. MEKANISME KOPING
Jelaskan :Pasien mengatakan jika memiliki masalah dia bercerita pada anak dan teman
dekatnya namun hanya sesekali karena pasien mengatakan malu untuk nercerita.
Diagnosa keperawatan : koping individu inefektif
X. MASALAH INDIVIDU DAN LINGKUNGAN
 Masalah dengan kelompok, spesifiknya
Jelaskan :Pasien mendapatkan dukungan dari keluarga terutama anaknya,
perawat dan dokter demi kesembuhan.
 Masalah berhubungan dengan lingkungan, spesifiknya :
Jelaskan :Pasien mengatakan bosan berada di RSJ.Lawang dan ingin segera
pulang ke rumah.
 Masalah dengan pendidikan, spesifiknya :
Jelaskan :Menurut pasien, pasien lulus sekolah SMP
 Masalah dengan pekerjaan, spesifiknya
Jelaskan : Pasien mengatakan menjadi kepala keluarga yang tidak
bertanggungjawab karena tidak memiliki pekerjaan.
 Masalah dengan perumahan, spesifiknya
Jelsakan : Pasien mengatakan tidak ada masalah dalam perumahaan karena
pasein tinggal bersama dengan anaknya.
 Masalah dengan ekonomi, spesifiknya
Jelaskan : Pasien mengatakan masih memiliki tabungan sewaktu muda.
 Masalah dengan kesehatan, spesifiknya
Jelaskan : Pasien mengatakan kalau sakit biasanya pasien dibawa berobat ke
puskesmas terdekat.
 Masalah lainnya
Jelaskan : Pasien mengatakan tidak memiliki masalah lainnya yang bermakna
Diagnosa Keperawatan : -

18
XI. ASPEK PENGETAHUAN
Pasien tidak mengakui bahwa dirinya sakit, namun pasien menyadari bahwa harus
minum obat secara teratur dan jika tidak akan kambuh. Pada saat obat habis, pasien
berinisiatif untuk kontrol kembali.
Diagnosa keperawatan :Defisit Pengetahuan
XII. ASPEK MEDIS
1. Diagnosa Multi Axis
Axis 1 : F.20.1 (skizofrenia hebefrenik)
Axis 2 :
Axis III :
Axis IV :
Axis V :
2. Terapi medis :
 Haloperidol 5 mg (1-0-1)
 CPZ 100 mg (0-0-1)

19
XIII. ANALISA DATA

NO DATA DIAGNOSA KEPERAWATAN

1 DS : Pasien mengatakan malu pada Harga Diri Rendah

tetangga / orang-orang

sekitarnya karena masuk RSJ

DO :

- Pasien tampak
seringmenyendiri, melamun,
tidakbersemangat
- Pasien tidak pernah menatap
lawan bicara
- Bicara lambat dan seperlunya,
nada suara lemah

2 DS : Pasien mengatakan walaupun Resiko Isolasi Sosial

sering merasa malu dengan

orang-orang disekitarnya namun

masih mau bergaul

DO :

- Pasien lebih sering terlihat


menyendiri dan diam
- Pasien aktif mengikuti kegiatan
di ruangan seperti menyapu,
mengepel, dll.

XIV. DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Gangguan Konsep diri : Harga diri rendah
2. Resiko Isolasi sosial : Menarik diri
3. Respon pasca trauma
4. Resiko Perilaku Kekerasan
5. Koping Individu inefektif
6. Kerusakan Komunikasi Verbal
7. Defisit Pengetahuan
8. Kerusakan Interaksi Sosial
20
XV. POHON MASALAH

Resiko Isolasi Sosial

Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah

- Koping individu
inefektif
- Respon pasca trauma

XVI. PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah
2. Resiko Isolasi Sosial : Menarik Diri

21
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN HARGA DIRI RENDAH
Nama Klien : Mr.J DX Medis : F.20.1

No.CM : 117xxx Ruangan : Kakak Tua

Perencanaan
No DX Keperawatan
Tujuan Kriteria Hasil Intervensi

1 Gangguan konsep diri : TUM : Setelah … x pertemuan TUK 1 :


Harga diri rendah pasien mampu :
Pasien dapat melakukan 1. BHSP
hubungan sosial secara - Membina hubungan a. Sapa pasien dengan ramah, baik seara
bertahap saling percaya verbal dan nonverbal
- Mengidentifikasi b. Perkenalkan diri dengan sopan
kemampuan dan aspek c. Tanya nama lengkap dan nama
TUK : positif yang dimiliki pangilan yang disukai pasien
- Menilai kemampuan d. Tunjukkan sikap empati
1. Pasien dapat membina
yang dapat digunakan 2. Beri kesempatan untuk
hubungan saling peraya
- Menetapkan dan mengungkapkan perasaannya tentang
2. Pasien dapat
memilih kegiatan sesuai penyakit yang dideritanya
mengidentifikasi tanda
dengan kemampuan 3. Katakan pada pasien bahwa ia adalah
gejala, penyebab dan
- Melatih kegiatan yang

22
akibat harga diri rendah sudah dipilih sesuai seseorang yang berharga
3. Pasien dapat kemampuan
TUK 2 :
mengidentifikasi - Merenanakan kegiatan
kemampuan dan aspek yang sudah dipilih 1. Diskusikan kemampuan dan aspek
positif yang dimiliki positif yang dimiliki pasien dan beri
4. Pasien dapat menilai pujian atas kemampuan
kemampuan yang dapat mengungkapkan perasaanyan
digunakan 2. Saat bertemu dengan pasien, hindarkan
5. Pasien dapat menetapkan memberi penilaian negative, utamakan
dan memilih kegiatan memberi pujian yang realistik
sesuai dengan
TUK 3 :
kemampuan
6. Pasien dapat melatih 1. Diskusikan kemampuan pasien yang
kegiatan yang sudah masih dapat digunakan selama sakit
dipilih sesuai 2. Diskusikan juga kemampuan yang
kemampuan dapat dilanjutkan penggunaan d rS dan
7. Pasien dapat rumah nanti
merenanakan kegiatan
yang sudah dipilih

23
TUK 4 :

1. Renanakan bersama pasien aktivitas


yang masih dapat dilakukan setiap hari
sesuai kemampuan kegiatan mandiri,
kegiatan dengan bantuan minimal
2. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan
toleransi kondisi pasien
3. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan
yang boileh pasien lakukan

TUK 5 :

1. Diskusikan dengan pasien untuk


melatih kemampuan yang sudah dipilih
2. Bersama pasien memperagakan
kegiatan yang akan ditetapkan
3. Berikan dukungan dan pujian pada
setiap kegiatan yang dapat dilakuakn
pasien

24
TUK 6 :

1. Diskusikan dengan pasien untuk


merenanakan kegiatan yang sudah
dipilih
2. Tentukan jadwal kapan dan dimana
kegiatan yang sudah dipilih akan
dilaksanakan
3. Bantu memasukkan ke dalan jadwal
harian

25
DOKUMENTASI HASIL ASUHAN KEPERWATAN

TINDAKAN KEPERAWATAN EVALUASI

Senin, 12 Februari 2018 S:

SP 1 “ Siang mbak, nama saya pak J “

1. Membina hubungan saling “Alhamdulillah sehat “


percaya
“ Bisa Tidur “
- Memberi kesempatan untuk
mengungkapkan perasaannya “ Baru 15 hari “
- Mengatakan pada pasien
Iya, tidak apa-apa”
bahwa ia adalah orang yang
berguna “iya mbak”
2. Mengidentifikasi tanda gejala,
“Disisni saja mbak”
penyebab dan akiabat harga diri
rendah “Saya mengantuk, jadi saya mojok”
3. Mengidentifikasi kemampuan
“pingin pulang”
dan aspek positif yang dimiliki
pasien “iya bisa”
- Mendiskusikan kemampuan
“iya saya mau bererita”
dan aspek positif yang
dimiliki “iya, saya senang ngibrol sama mbak “

- Memberikan pujian yang


“mbak.. lupa mbak”
realistik
“ iya”

“jam 9”

“tetap disini aja”

O:

- Pasien seringmenyendiri,
melamun
- Tidak bersemangat
- Tidak menatap lawan biara saat

26
diajak biara
- Biara lambat dan seperlunya
- Nada suara lemah

A:

- Pasien belum mampu


bekenalan
- Pasien belum mampu
melakuakn BHSP dengan benar
- Pasien belum terbuka saat
ditanya

P : Ulangi SP 1

27
DOKUMENTASI HASIL ASUHAN KEPERWATAN

TINDAKAN KEPERAWATAN EVALUASI

Selasa, 13 Februari 2018 S:

SP 1 “ Siang mbak, nama saya pak J “

1. Membina hubungan saling “Alhamdulillah sehat “


percaya
“ Bisa Tidur “
- Memberi kesempatan untuk
mengungkapkan perasaannya “ Baru 15 hari “
- Mengatakan pada pasien
Iya, tidak apa-apa”
bahwa ia adalah orang yang
berguna “iya mbak”
2. Mengidentifikasi tanda gejala,
“Disisni saja mbak”
penyebab dan akiabat harga diri
rendah “Saya mengantuk, jadi saya mojok”
3. Mengidentifikasi kemampuan
“pingin pulang”
dan aspek positif yang dimiliki
pasien “iya bisa”
- Mendiskusikan kemampuan
“iya saya mau bererita”
dan aspek positif yang
dimiliki “iya, saya senang ngibrol sama mbak “

- Memberikan pujian yang


“mbak.. lupa mbak”
realistik
“ iya”

“jam 9”

“tetap disini aja”

O:

- Pasien seringmenyendiri,
melamun
- Tidak bersemangat
- Tidak menatap lawan biara saat

28
diajak biara
- Biara lambat dan seperlunya
- Nada suara lemah

A:

- Pasien mampu bekenalan


- Pasien mampu melakuakn
BHSP dengan benar
- Pasien mampu mengungkapkan
perasaan

P : Lanjutkan SP 1 Poin 2

29
DOKUMENTASI HASIL ASUHAN KEPERAWTAN

TINDAKAN KEPERAWATAN EVALUASI

Rabu, 14 Februari 2018 S:

SP 1 “ Selamat pagi mbak”

1. Membina hubungan saling “mbak charisma ya?”


percaya
“perasaaan saya hari ini senang “
2. Mendiskusikan kem ampuan
dan aspek positif yang dimiliki “iya mbak”
a. Memberikan pujian atas
“menyapu, mengepel, mencuci piring,
kemampuan
mencuci kain pel, membersihkan
mengungkapkan
tempat tidur dan melipat selimut”
perasaannya
b. Memberikan penilaian “tidak tahu”
yang realistik
“setuju”

“perasaannya lebih baik”

Iya mbak”

“baik mbak”

O:

- Pasien sering menyendiri


namuan mau berbaur saat ada
aktivitas kelompok yang ada di
ruangan
- Kontak mata cukup
- Pasien Nampak tidak
bersemangat
- Bicara lambat dan seperlunya
- Nada suara lemah

30
A:

- Pasien mampu mendiskusikan


tentang kempuan dan aspek
positif yang dimilikinya
- Pasien mampu
mengidentifikasikan
kemampuan dan aspek positif
tersebut

P : Lanjutkan SP 2

31
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan
rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi negative terhadap diri sendiri
dan kemampuan diri. Berikut ini adalah tanda dan gejala harga diri rendah :
a. Mengkritik diri sendiri
b. Perasaan tidak mampu
c. Pandangan hidup yang pesimis
d. Penurunan produktivitas
e. Penolakan terhadap kemampuan diri
Selain tanda dan gejala tersebut, kita dapat juga mengamati penampilan
seseorang dengan harga diri rendah yang tampak kurang memerhatikan
perawatan diri, berpakaian tidak rapi, selera makan menurun, tidak berani
menatap lawan bicara, lebih banyak menunduk, dan bicara lambat dengan nada
suara lemah.

32
DAFTAR PUSTAKA

Direja, Ade Herman Surya. 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa.
Yogyakarta : Nuha Medika.

Keliat, Budi Anna dan Akemat. 2010. Model Praktik Keperawatan Profesional
Jiwa.Jakarta : EGC

http://aanborneo.blogspot.com/2013/04/harga-diri-rendah.html

http://adheayucandra.blogspot.com/2012/02/asuhan-keperawatan-pada-klien-
dengan.html

33