Anda di halaman 1dari 8

PENGARUH MODEL PROJECT BASED LEARNING (PjBL)

TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH FISIKA


PESERTA DIDIK KELAS X

Noviati Ika Wahyuningtyas(1), Lia Yuliati(2) dan Agus Suyudi(2)


Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Negeri Malang
(1)
email: inoviati@gmail.com

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model


Project Based Learning (PjBL) terhadap kemampuan pemecahan
masalah fisika jika dibandingkan dengan Problem Based Learning
(PBL). Penelitian eksperimen semu ini menggunakan populasi seluruh
kelas X MIA SMA Negeri 4 Malang tahun ajaran 2014-2015. Sampel
penelitian terdiri atas kelas X MIA 5 sebagai kelas eksperimen dan kelas
X MIA 4 sebagai kelas kontrol. Desain yang digunakan yaitu Posttest
Only Control Design. Kemampuan pemecahan masalah diukur dengan
tes yang terdiri 10 butir soal uraian. Hasil analisa data dengan t-test
diperoleh terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah antara
kelas eksperimen yang belajar dengan PjBL dengan kelas control yang
belajar dengan PBL. Melalui rerata dari kedua kelas diperoleh hasil
bahwa kemampuan pemecahan masalah fisika peserta didik kelas
eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol.

Kata kunci: project based learning dan kemampuan pemecahan masalah

Pembelajaran fisika pada kurikulum 2013 diharapkan dapat memotivasi peserta


didik untuk terlibat aktif dalam membangun pengetahuan melalui kegiatan belajar yang
menyenangkan sekaligus bermakna. Proses pembelajaran memasukkan unsur-unsur
hands-on activity dan minds-on activity dengan melibatkan peserta didik dalam
menggali informasi dan bertanya, menemukan, mengumpulkan data dan menganalisis
kesimpulan. Pelaksanaan pembelajaran meliputi pendekatan pembelajaran saintifik yang
mengajak serta memotivasi peserta didik untuk mengamati, menanya, mengumpulkan
informasi, menalar, dan mengomunikasikan.
Berdasarkan data hasil studi pendahuluan yang dilakukan kepada 39 peserta
didik kelas XI di Kota Malang, diperoleh hasil bahwa 49 % peserta didik mengalami
kesulitan baik dalam proses pembelajaran maupun dalam memahami materi fisika.
Gaya mengajar guru yang lebih banyak mengajak peserta didik untuk mengerjakan
latihan soal (60%) dan ceramah (20%). Sebanyak 66 % peserta didik mengerjakan soal
dengan cara mengikuti contoh yang telah diberikan oleh guru. Ketika menyelesaikan
sebuah permasalahan peserta didik dibiasakan untuk mengikuti apa yang telah
dicontohkan dan bukan mengonstruk sendiri dari pengetahuan yang telah didapatkan.
Peserta didik lebih menyukai soal-soal yang berbentuk pilihan ganda. Fakta ini
menunjukkan bahwa motivasi peserta didik dalam memecahkan permasalahan tergolong
kurang. Hanya 3 % peserta didik yang dapat menyelesaian permasalahan fisika yang

1
2

memuat indikator kemampuan pemecahan masalah pada materi optik geometris.


Sebanyak 46 % peserta didik menyatakan bahwa cahaya dan optik adalah materi yang
sulit, 48 % peserta didik menyatakan bahwa mereka mengalami kesulitan yang beragam
mulai dari materi gerak parabola, medan magnet, serta gaya dan usaha.
Kemampuan pemecahan masalah perlu dioptimalkan dalam sebuah proses
pembelajaran. Pemecahan masalah dipandang sebagai salah satu keterampilan utama
yang harus dimiliki peserta didik ketika meninggalkan jenjang sekolah dan akan
memasuki dunia nyata (Mabilangan, 2012). Peserta didik diberikan kesempatan untuk
melakukan pemecahan masalah yang mengutamakan permasalahan sesuai dengan
kehidupan dan cara belajarnya. Pemecahan masalah meliputi proses menemukan cara
yang tepat untuk mencapai sebuah tujuan (Santrock, 2011). Indikator kemampuan
pemecahan masalah menurut Costa (1985) terdiri dari: (1) menggunakan proses
berpikir dasar untuk memecahkan kembali (resolve) sebuah permasalahan yang telah
diketahui atau didefinisikan, (2) mengumpulkan fakta tentang permasalahan dan
keterangan tambahan yang diperlukan, (3) mengambil penyelesaian alternatif dan
menguji penyelesaian, (4) mereduksi penjelasan menjadi lebih sederhana dan
mengeliminasi hal-hal yang tidak sesuai dan, (5) memberikan solusi untuk membuat
generalisasi.
Kemampuan pemecahan masalah yang dimiliki akan menjadikan peserta didik
sebagai pembelajar yang mandiri. Untuk mengembangkan kemampuan pemecahan
masalah, diperlukan sebuah model pembelajaran yang mampu mengajak peserta didik
untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran. Untuk mendorong kemampuan peserta didik
untuk menghasilkan karya kontekstual, baik individual maupun kelompok maka sangat
disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis
pemecahan masalah (project based learning). Salah satu model pembelajaran yang
dianggap berpotensi untuk memberdayakan kemampuan pemecahan masalah adalah
PjBL.
PjBL dilatar belakangi oleh teori konstruktivistik yang menyediakan banyak
kesempatan bagi peserta didik untuk menciptakan lingkungan belajar yang aktif (Cakici,
2013). PjBL merupakan sebuah model yang mengatur proses pembelajaran melalui
kegiatan proyek. Proyek adalah tugas kompleks yang didasarkan pada tantangan berupa
pertanyaan maupun masalah, yang melibatkan peserta didik dalam merancang,
memecahkan masalah, membuat keputusan, dan melakukan penelitian; memberi
kesempatan pada peserta didik untuk bekerja pada waktu panjang yang telah ditentukan;
dan menghasilkan sebuah produk atau melakukan presentasi (Thomas, 2000). Peserta
didik dilibatkan untuk menyelesaikan permasalahan serta mengambil keputusan melalui
berbagai kegiatan untuk memudahkan proses penyimpanan memori kognitif secara
lebih permanen (Bagheri, 2013). Dalam PjBL, peserta didik diajak untuk menyelesaikan
permasalahan yang tidak mudah ditemukan jawabannya. Kriteria PjBL menurut Tamim
(2013) adalah proyek harus sesuai dengan kurikulum, fokus pada masalah yang
mengajak peserta didik untuk menghubungkan dengan konsep utama, melibatkan
peserta didik untuk melakukan pengamatan yang kontruktivis, realistis, dan mandiri.
Materi fisika optik geometris merupakan salah satu materi yang dibelajarkan
pada peserta didik kelas X semester 2. Pada materi optik geometris, peserta didik
dituntut untuk dapat menyelesaikan permasalahan dengan merancang sebuah proyek
dengan menerapkan prinsip pemantulan dan pembiasan pada cermin dan lensa. Model
yang cocok diterapkan pada pembelajaran fisika dengan materi optik geometris yang
3

mempunyai karakteristik permasalahan yang bisa dicari langkah penyelesaiannya


dengan merancang dan mengerjakan sebuah proyek adalah PjBL.

METODE
Metode yang digunakan adalah adalah metode eksperimen semu (Quasy
Experimental Design). Desain penelitian yang digunakan adalah Posttest Only Control
Group Design karena peneliti melihat kemampuan awal peserta didik dari data yang
telah ada yaitu ulangan harian sebelumnya pada materi Elastisitas. Populasi yang
digunakan adalah seluruh kelas X MIA SMA Negeri 4 Malang tahun ajaran 2014-2015.
Teknik pengambilan sampel dengan teknik Cluster Random Sampling, dimana seluruh
sampel dianggap homogen dan peneliti mendapat wewenang maupun keterbatasan
mengajar dua kelas yang diperbolehkan untuk penelitian. Sampel penelitian yang
digunakan terdiri dari kelas X MIA 5 dengan jumlah 36 peserta didik sebagai kelas
eksperimen dan kelas X MIA 4 dengan jumlah 36 peserta didik sebagai kelas kontrol.
Instrumen perlakuan yang digunakan yaitu silabus, Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) untuk kelas eksperimen dan kontrol, Lembar Kerja Siswa (LKS)
untuk kelas eksperimen, serta lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran untuk
kelas eksperimen. Instrumen pengukuran berupa posttest digunakan untuk mengukur
kemampuan pemecahan masalah fisika peserta didik.

HASIL PENELITIAN
Berdasarkan hasil analisis data posttest diperoleh bahwa kemampuan pemecahan
masalah fisika peserta didik dengan PjBL lebih tinggi daripada peserta didik dengan
pembelajaran PBL pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1 Hasil Posttest Kemampuan Pemecahan Masalah di Kelas Eksperimen dan Kontrol
Parameter Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
N 36,00 36,00
X 77,84 69,31
Med 78,87 69,05
Modus - 71,43
Sd 7,39 7,03

Kegiatan awal pembelajaran dimulai dengan guru menyiapkan peserta didik


secara psikis dengan berdoa maupun secara fisik dengan melakukan absensi dan
mempersiapkan peralatan pembelajaran.
Kegiatan inti pembelajaran sesuai dengan langkah-langkah Project Based
Learning (PjBL) yang sesuai dengan langkah PjBL menurut Harun (2006), dengan
langkah-langkah meliputi : 1) menentukan pertanyaan mendasar, (2) menyusun
perencanaan proyek, (3) menyusun jadwal, (4) monitoring, (5) menguji hasil, (6)
mengevaluasi pengalaman.
Langkah pertama yaitu Penentuan Pertanyaan Mendasar. Pada langkah ini
peserta didik diajak untuk mengamati video atau demonstrasi. Salah satu kegiatan
peserta didik pada materi optik geometris adalah melakukan demonstrasi untuk
mengetahui perbedaan antara orang yang mempunyai mata normal dan orang yang
menderita cacat mata. Peserta didik diminta untuk mengajukan pertanyaan berdasarkan
demonstrasi yang telah diamati. Langkah kedua yaitu Menyusun Perencanaan Proyek.
Pada langkah ini peserta didik dan guru membicarakan aturan main untuk disepakati
bersama dalam proses penyelesaian proyek. Proyek yang akan dikerjakan oleh peserta
4

didik adalah merancang dan membuat teleskop sederhana. Pembuatan proyek teleskop
sederhana dilaksanakan di luar jam pembelajaran.
Langkah ketiga yaitu Menyusun Jadwal. Pada langkah ini peserta didik dan guru
membuat jadwal aktivitas yang mengacu pada waktu maksimal yang disepakati untuk
menyelesaiakan proyek teleskop sederhana. Waktu pembuatan proyek yang disepakati
adalah selama tiga minggu. Pembuatan proyek teleskop sederhana dilaksanakan di luar
jam pembelajaran. Langkah keempat yaitu Monitoring. Pada langkah ini peserta didik
melakukan monitoring dengan menunjukkan perkembangan proyek teleskop sederhana
yang telah dibuat. Peserta didik melalui lembar monitoring yang diberikan, menuliskan
beberapa pertanyaan yang terkait dengan proyek teleskop yang sedang dibuat,
menuliskan konsep-konsep/prinsip-prinsip fisika berdasarkan pengalaman belajarnya
yang terkait dengan tugas proyek teleskop, melakukan dugaan-dugaan berdasarkan
konsep fisika yang berkaitan dengan penyelesaian proyek, serta menguji dugaan
dengan cara mencoba. Langkah kelima yaitu Menguji Hasil. Pada langkah ini peserta
didik melakukan presentasi proyek teleskop sederhana di depan kelas. Kelompok lain
memberikan tanggapan apabila mempunyai pendapat yang berbeda. Langkah keenam
yaitu Mengevaluasi pengalaman. Pada langkah ini peserta didik melakukan refleksi
terhadap aktivitas dan hasil proyek teleskop sederhana yang sudah dijalankan.
Kegiatan akhir pembelajaran yaitu guru bersama dengan peserta didik
menyimpulkan pembelajaran pada setiap pertemuan. Guru memberikan penugasan
untuk memperdalam materi yang telah dipelajari. Guru menyampaikan rencana
pembelajaran pada pertemuan selanjutnya.
Berdasarkan hasil perhitungan analisa data dengan t-test diperoleh bahwa thitung
sebesar 5,015 > 2 (ttabel; .05) maka Ha diterima yakni terdapat perbedaan kemampuan
pemecahan masalah fisika peserta didik kelas X SMAN 4 Malang tahun 2014-2015
yang belajar dengan PjBL dan peserta didik yang belajar dengan menggunakan PBL.
Berdasarkan nilai rerata dari kedua kelas, diketahui bahwa nilai rerata pada kelas
eksperimen lebih besar dari pada kelas kontrol maka kemampuan pemecahan masalah
fisika peserta didik kelas X SMAN 4 Malang dengan model PjBL lebih tinggi daripada
peserta didik dengan pembelajaran PBL.

PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan,
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah fisika peserta
didik yang belajar dengan PjBL dan peserta didik yang belajar dengan PBL. Perbedaan
kemampuan pemecahan masalah dapat dibuktikan dengan hasil posttest peserta didik
SMA Negeri 4 Malang pada kelas eksperimen sebesar 77,84 dan pada kelas kontrol
sebesar 69,31. Perbedaan kemampuan pemecahan masalah pada kelas ekperimen dan
kelas kontrol juga disebabkan oleh beberapa aktivitas berbeda yang terjadi pada kedua
kelas selama proses pembelajaran berlangsung. Pada pertemuan pertama, baik pada
kelas eksperimen maupun kelas kontrol disajikan permasalahan yang sama dengan
menampilkan video tentang ilusi optik. Pada aktivitas selanjutnya peserta didik pada
kelas eksperimen diberikan sebuah permasalahan yang mengantarkan peserta didik
menuju tugas proyek yang harus dirancang dan dibuat. Peserta didik diajak untuk
merancang tugas proyek dan menentukan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan
tugas proyek yang telah dirancang. Kelas eksperimen dan kelas kontrol mempunyai
kegiatan yang sama ketika melakukan percobaan pemantulan cahaya pada cermin
cekung dan pembiasan cahaya pada lensa cembung. Pada akhir pembelajaran, peserta
5

didik di kelas eksperimen mampu menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan


demonstrasi. Pada kelas kontrol, kegiatan menjawab pertanyaan awal dilakukan pada
pertemuan selanjutnya.
Proses pembelajaran pada pertemuan kedua, peserta didik pada kelas eksperimen
menyampaikan solusi dari permasalahan yang diberikan oleh guru pada pertemuan
sebelumnya. Sedangkan peserta didik pada kelas kontrol menjawab pertanyaan yang
belum terjawab pada pertemuan pertama. Peserta didik pada kelas eksperimen dan kelas
kontrol mendiskusikan tentang lembar kerja alat optik mata, kacamata, dan lup.
Perbedaan yang terjadi yaitu ketika peserta didik pada kelas eksperimen melakukan
monitoring tentang perkembangan proyek teleskop yang dibuat. Peserta didik membawa
alat dan bahan yang digunakan untuk membuat proyek teleskop. Pada kegiatan
monitoring peserta didik dituntut untuk dapat menuliskan konsep dan prinsip fisika
yang berkaitan dengan penyelesian proyek teleskop, serta menguji dugaan dengan
mencoba langsung. Pertanyaan yang diajukan peserta didik kepada guru pada tahap
monitoring ini meliputi: 1) mengapa harus menggunakan dua buah lensa untuk
membuat teleskop 2) diantara lensa okuler dan lensa objektif, manakah yang
mempunyai fokus lebih besar 3) bagaimana menentukan perbesaran bayangan dari
teleskop yang akan dibuat 4) bagaimana menggunakan teleskop dengan mata yang
berakomodasi maupun dengan mata yang tidak berakomodasi. Pertanyaan yang
diajukan oleh peserta didik berkaitan dengan topik yang dibahas pada pertemuan kedua
yaitu tentang alat optik mata, kacamata, dan lup. Jawaban dari pertanyaan yang diajukan
oleh peserta didik juga sangat dibutuhkan untuk memudahkan dalam penyelesaian
proyek teleskop.
Pada pertemuan ketiga peserta didik di kelas eksperimen melakukan demonstrasi
dengan membandingkan bayangan yang terbentuk ketika melihat menggunakan
teropong dan teleskop. Peserta didik pada kelas kontrol melakukan demonstrasi dengan
mengamati bayangan yang dibentuk oleh teleskop. Kegiatan pembelajaran yang sama
pada kelas eksperimen dan kelas kontrol yaitu ketika peserta didik melakukan diskusi
untuk menyelesaikan lembar kerja tentang alat optik tentang mikroskop dan teropong.
Kegiatan peserta didik pada kelas eksperimen diperkuat dengan kegiatan uji hasil yang
dilakukan dengan melakukan presentasi tentang proyek teleskop yang selesai dibuat di
depan kelas. Kegiatan pembelajaran dilanjutkan dengan evaluasi pengalaman dimana
peserta didik dituntut untuk melakukan refleksi meliputi menyampaikan kesulitan yang
dihadapi ketika menyelesaikan tugas proyek serta pengetahuan yang didapatkan selama
menyelesaikan tugas proyek. Peserta didik pada kelas kontrol setelah selesai melakukan
presentasi berusaha menjawab pertanyaan yang diajukan di awal pembelajaran dan
dilanjutkan dengan penguatan yang diberikan oleh guru tentang alat optik mikroskop
dan teropong.
Faktor yang dapat menjadi penyebab adanya perbedaan kemampuan pemecahan
masalah fisika dikarenakan pada kelas eksperimen peserta didik diajak untuk
menyelesaikan permasalahan dengan merencanakan dan mengerjakan sebuah tugas
proyek. Sejalan dengan Thomas (2000) yang menyatakan bahwa proyek difokuskan
pada pertanyaan atau permasalahan yang akan memudahkan peserta didik untuk dapat
memahami suatu prinsip dan konsep. Pengalaman langsung peserta untuk dapat
memahami suatu konsep ditunjukkan pada langkah Monitoring dimana peserta didik
dituntut untuk dapat menuliskan pertanyaan yang terkait dengan proyek yang sedang
dibuat, menuliskan konsep dan prinsip fisika yang berkaitan dengan penyelesaian
proyek, serta menguji dugaan dengan cara mencoba secara langsung. Langkah tersebut
6

juga merupakan cara bagi peserta didik untuk mengembangkan serta memperkuat
kemampuan pemecahan masalah melalui permasalahan yang kontekstual.
Kelebihan dari PjBL adalah peserta didik dilibatkan untuk melakukan
investigasi kontruktivis, dimana investigasi merupakan suatu proses mencapai tujuan
yang meliputi proses bertanya, merencanakan, membuat keputusan, serta menyelesaikan
masalah. Pengetahuan yang berkaitan dengan konsep dapat dibangun oleh peserta didik
selama menyelesaikan tugas proyek. Aktivitas utama dalam mengerjakan tugas proyek
meliputi proses transformasi dan pembentukan pengetahuan. Menurut Bagheri (2013)
kunci dari PjBL bukanlah mempelajari sesuatu, akan tetapi fokus dalam menghasilkan
sesuatu. PjBL dapat memotivasi peserta didik untuk melakukan penelitian yang akan
mengantarkan mereka menuju penyelesaian masalah dan pembelajaran yang bermakna,
mengajarkan mereka untuk belajar secara mandiri, menambah pengetahuan, serta
mempelajari berbagai macam situasi di kehidupan nyata. PjBL juga mengajak peserta
didik dari pembelajar pasif menjadi pembelajar aktif yang mampu meningkatkan
kemampuan dalam menerapkan pengetahuan yang diperlukan untuk menyelesaikan
tugas proyek.
Kelas eksperimen mempunyai nilai rerata yang lebih besar dibandingkan dnegan
kelas kontrol sehingga diperoleh bahwa kemampuan pemecahan masalah fisika peserta
didik kelas X SMA Negeri 4 Malang tahun ajaran 2014-2015 dengan PjBL lebih tinggi
daripada peserta didik dengan PBL. Jonassen (2010) menyatakan bahwa pengetahuan
yang terbentuk melalui proses pemecahan masalah akan lebih mudah dipahami dan
dikuasai. Ketika menyelesaikan suatu permasalahan, peserta didik akan berfikir dengan
lebih kritis. Pembelajaran juga diposisikan sebagai permasalahan yang kontekstual
sehingga dapat menciptakan situasi pembelajaran yang lebih bermakna. Menurut
Silaban (2014) dalam memecahkan masalah prosesnya terutama terletak dalam diri
peserta didik sehingga kreativitas peserta didik banyak berperan dalam menemukan
jawaban masalah berdasarkan data atau informasi yang ada. Peserta didik yang kreatif
akan mampu untuk membuat kombinasi-kombinasi baru berdasarkan data, informasi
atau undur-unsur yang ada, kemudian digunakan sebagai dasar pemecahan masalah.
Kemampuan pemecahan masalah tidak hanya digunakan dalam menyelesaikan
permasalahan yang bersifat matematis, namun juga untuk menyelesaikan masalah
terhadap fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan pemecahan
masalah peserta didik pada kelas eksperimen dapat dilihat dalam proses menyelesaikan
tugas proyek dimana peserta didik dituntut untuk dapat mengaplikasikan pengetahuan
yang dimiliki untuk menentukan solusi yang paling tepat dari permasalahan yang
dihadapi. Sebagaimana dinyatakan oleh Arimbawa (2013) bahwa masalah-masalah
sains merupakan gagasan yang berperan penting dalam membangun kapasitas
pemecahan masalah peserta didik dan membuat pelajaran menjadi lebih menyenangkan
sehingga dapat memotivasi peserta didik untuk lebih berprestasi.

PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan, maka
didapatkan kesimpulan sebagai berikut.Terdapat perbedaan kemampuan pemecahan
masalah fisika peserta didik kelas X SMA Negeri 4 Malang yang dengan PjBL dan
peserta didik yang belajar dengan PBL. Kemampuan pemecahan masalah pada PjBL
dioptimalkan dengan melibatkan peserta didik dalam perencanaan dan penyusunan
kegiatan proyek sedangkan pada model PBL peserta didik menyelesaikan permasalahan
7

melalui kegiatan eksperimen dan diskusi. Model PjBL terdiri dari 6 tahapan yaitu
menentukan pertanyaan mendasar, menyusun perencanaan proyek, menyusun jadwal,
monitoring, menguji hasil, dan evaluasi pengalaman.
Kemampuan pemecahan masalah fisika peserta didik kelas X SMA Negeri 4
Malang dengan PjBL lebih tinggi daripada peserta didik yang belajar dengan PBL.
Kemampuan pemecahan masalah fisika dengan PjBL dapat dilihat dari kegiatan peserta
didik yang dituntut untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang diberikan dengan
merencanakan dan menyusun proyek. Peserta didik menyesaikan kegiatan proyek yang
didasarkan pada tantangan berupa pertanyaan maupun masalah, yang melibatkan peserta
didik dalam merancang, memecahkan masalah, membuat keputusan, dan melakukan
penelitian.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, agar
penelitian selanjutnya diperoleh hasil yang lebih baik maka terdapat beberapa hal yang
perlu diperbaiki sebagai berikut. (1) Untuk guru mata pelajaran fisika, dalam
pelaksanaan PjBL peserta didik perlu diperkenalkan mengenai tugas proyek dengan
lebih mendalam sebelum memulai kegiatan merencanakan dan menyusun proyek.
Dengan pengetahuan yang mendalam peserta didik akan lebih mudah untuk
menjalankan setiap langkah dalam menyelesaikan tugas proyek. (2) Untuk peneliti lain,
perlu dilakukan penelitian pada pokok bahasan selain optik geometris dan sebaiknya
pelaksanaan PjBL dilakukan dalam jangka waktu yang cukup lama agar kemampuan
pemecahan masalah peserta didik dapat teramati dengan lebih maksimal. (3) Untuk
sekolah, perlu melaksanakan PjBL pada materi lain yang memungkinkan peserta didik
untuk mengerjakan tugas proyek. Sesuai dengan penemuan bahwa peserta didik yang
belajar dengan PjBL mempunyai kemampuan pemecahan masalah yang lebih tinggi.
Diharapkan dengan PjBL dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah peserta
didik secara menyeluruh.

DAFTAR RUJUKAN
Arimbawa, P. 2013. Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Proyek (MPBP) Terhadap
Kemampuan Pemecahan Masalah IPA Sehari-hari Ditinjau dari Motivasi
Berprestasi Siswa. E-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan
Ganesha, (Online), (http://pasca.undiksha.ac.id/e-
journal/index.php/jurnal_ipa/article/viewFile/852/607), diakses 21 Oktober
2014.
Bagheri, M. 2013. Effects of Project-based Learning Strategy on Self-directed Learning
Skills of Educational Technology Students. Contemporary Educational
Technology, 4 (1): 15-29.
Cakici, Y. 2013 An Investigation of the Effect of Project-based Learning Approach on
Children’s Achievement and Attitude in Science. The Online Journal of Science
and Technology, 3 (1): 9-17.
Costa, A. L. 1985. Developing Minds. Alexandria, Virginia : ASCD.
Harun, Y. 2006. Project-Based Learning Handbook: Educating the Millennial Learner.
Educational Technology Division Ministry of Education: Malaysia.
Jonassen, D. H. Research Issues in Problem Solving. New Educational Paradigm for
Learning and Instruction,
8

(http://www.aect.org/publications/whitepapers/2010/JonassenICER.pdf), diakses
19 April 2015.
Mabilangan, R.A. 2012. Problem Solving Strategies of High School Students on Non-
Routine Problems: A Case Study,
(http://journals.upd.edu.ph/index.php/ali/article/viewFile/2759/2580), diakses 19
Oktober 2014.
Santrock, J. W. 2011. Educational Psychology Fifth Edition. New York: McGraw-Hill.
Silaban, B. Hubungan antara Penguasaan Konsep Fisika dan Kreativitas dengan
Kemampuan Memecahkan Masalah pada Materi Pokok Listrik Statis. Jurnal
Penelitian Bidang Pendidikan, 20 (1): 65-75.
Tamim & Michael M. G. Definitions and Uses: Case Study of Teachers Implementing
Project-based Learning. Interdisciplinary Journal of Problem-based Learning, 7
(2): 72-101.
Thomas, J. W. 2000. A Review of Research on Project-based Learning, (Online),
(http://www.bobpearlman.org/BestPractices/PBL_Research.pdf), diakses 9
September 2014.
Yam. 2010. Implementing a Project-Based Learning Approach in an Introductory
Property Course, (Online),
(http://www.prres.net/papers/Yam_Implementing_a_Project-
Based_Learning_Approach_in_an_Introductory_Property_Course.pdf) diakses
19 April 2015.