Anda di halaman 1dari 7

Management of hip joint dislocation

Reduksi segera caput femoralis kedalam acetabulum adalah penangan pertama dari dislokasi
panggul. Reduksi yang terlambat dapat menyebabkan penurunan aliran darah ke caput femoralis.

A. Closed Reduction
Closed reduction dilakukan karena adanya pelepasan caput femoralis dari acetabulum os
pelvis dan bertujuan untuk pengembalian kembali posisi caput femur dengan cara inline
traction.

1. Bigelow maneuver
Manuver Bigelow pertama kali dikenalkan pada tahun 1870. Langkah yang dilakukan
antara lain:
a. Pasien diposisikan dalam keadaan supine (bebaring terlentang)
b. Penolong pertama melakukan tekanan distraksi sejajar aksial dan disaat bersaman
penolong kedua melakukan tekanan yang berlawan pada pelvis.
c. Kemudian panggil di adduksi, dilakukan rotasi kedalam dan di fleksikan sampai sudut
900.
d. Traksi tersebut dipertahankan, kemudian panggul di rotasi keluar, diabduksikan dan
ditarik sampai caput femur kembali pada acetabulum.

Gambar 1. Bigelow Maneuver

2. Allis Maneuver
Allis maneuver diperkenalkan pertama kali pada tahun 1896. Dilakukan dengan langkah-
langkah:
a. Pasien diposisikan berbaring terlentang dan penolong berada di depan pasien
b. Traksi dilakukan secara sejajar dan penolong kedua bertugas untuk menahan pelvis
pasien
c. Kaki pasien difleksikan sampai 900, kemudian traksi femur secara vertikal keatas
sembari asisten menahan pelvis
d. Kemudian dilakukan rotasi interna dan rotasi eksterna ketika caput femoralis sampai
caput femur sudah masuk kedalam acetabulum

Gambar 2. Allis maneuver

3. Stimson Gravity Technique


Teknik ini dikenalkan pertama kali pada tahun 1883. Langkah yang dilakukan antara lain:
a. Pasien diposisikan berbaring tengkurap dengan bagian kaki yang mengalami trauma
tergantung di samping tempat tidur
b. Panggul dan lutut difleksikan 900
c. Kemudian dokter melakukan dorongan dari arah anterior ke posterior.
d. Meskipun cara ini efektif, namun teknik ini mempunyai kekurangan. Karena pasien
diposisikan dalam posisi pronasi, manajemen airway akan sulit dilakukan dan teknik
ini juga sulit dilakukan pada pasien multi trauma.
Gambar 3. Stimson Gravity Method

4. Skoff Method
Skoff diperkenalkan pertama kali pada tahun 1986.
a. Pasien diposisikan decubitus lateral dan panggul difleksikan sampai 1000
b. Bagian yang deformitas dilebihkan dengan cara rotasi interna sebanyak 450 dan
diadduksi sebanyak 450

gambar 4. Skoff Method

5. Howard Technique
Teknik Howard juga disebuty dengan 3-person technique:
a. Pasien diposisikan berbaring terlentang
b. Asisten penolong pertama meletakkan kedua tangan diatas puncak os iliaca pada sisi
yang trauma.
c. Asisten penolong kedua memfleksikan paha pasien sampai 900, memindahkan caput
femur dari posisi posterosuperior sampai pada posterior dari acetabulum
d. Penolong memegang bagian proksimal paha pasien dan mendorong paha kearah
lateral sehingga caput femur dapat kembali kedalam acetabulum
e. Asisten kedua kemudian melakukan traksi secara longitudinal
Gambar 5. Howard Technique

6. East Baltimore Maneuver


a. Pasien diposisikan supinasi dengan sendi panggul dan lutut difleksikan 900
b. Penolong berdiri pada sisi tubuh pasien yang mengalami trauma, sedangkan asisten
berdiri berhadapan dengan penolong pertama di sisi yang bersebrangan.
c. Lengan bagian proksimal penolong diposisikan dibawa betis pasien (bagian proksimal
dari betis pasien)
d. Lengan penolong kemudian diletakkan diatas bahu dari asisten yang berada di
sebrang penolong
e. tangan penolong yang lain digunakan untuk melakukan rotasi sendi panggul

Gambar 6. East Baltimore Lift Method

7. Lefkowitz Technique
Teknik ini mulai dikenalkan pada tahun 1993. Teknik ini memiliki kelebihan karena dapat
mengurangi risiko trauma pada tulang belakang dan penolong tidak perlu berdiri diatas
bed pasien.
a. Pasien diposisikan dalam posisi supinasi
b. Lutut penolong difleksikan kemudian diletakkan dibawah fossa poplitea kaki pasien
yang mengalami trauma.
c. Penolong kemudian memegang paha anterior pasien dan ankle pasien sementara
asisten mempertahankan posisi pasien
d. Penolong kemudian melakukan dorongan kebawah pada tungkai bawah pasien
dengan menggunakan lututnya sebagai tumpuan untuk elevasi panggul pasien
Gambar 7. Lefkowitz Technique

8. Captain Morgan Technique


Teknik ini adalah modifikasi dari teknik lefkowitz dan telah dikenalkan sejak tahun 2011.
Perbedaan dari lefkowitz teknik adalah pemakaian papan yang diletakkan dibawah pasien
untuk stabilisasi posisi pasien. Selain itu pula penolong lebih berfokus dalam elevasi lutut
pasien dibandingkan dengan pemberian tekanan kebawah pada ankle. Dengan metode
ini penolong akan melakukan plantarfleksi pada ankel pasien dan mengangkat tangan
yang memegang kaki pasien untuk melakukan reduksi.

Gambar 8. Captain morgan technique

B. Open Reduction
Indikasi dilakukan reduksi terbuka pada dislokai sendi panggul antara lain:
1. Irreducible
2. Persistent Instability setelah dilakukan reduksi (speerti contoh: dislokasi karena
fraktur pada acetabulum posterior)
3. Fraktur pada caput femur atau collum femur
4. Adanya defisit neurovascular setelah dilakukan reduksi

1. Kocher-Langenbeck Approache
Dislokasi posterior diperbaiki dengan metode Kocher-Langenbeck. Nervus Sciatic harus
terlindungi. Acetabulum sebelumnya harus diperikas apakah terdapat jaringan ikat
longgar disekitarnya. Caput femur juga dievaluasi pakah ada kerusakan kartilago sebelum
dilakukan reduksi. Jika terdapat fraktur dinding posterior acetabulum, tes stabilitas perlu
dilakukan dengan cara fiksasi fragmen yang dibutuhkan.
a. Persiapan pasien:
 Posisi pasien bisa diposisikan lateral decubitus atau posisi pronasi
 Jika digunakan posisi lateral, kaki yang mengalami trauma sebaiknya
dibiarkan menggantung untuk menilai stabilitas panggul sebelum dilakukan
reduksi
 Jika digunakan posisi pronasi, panggul diekstensikan dan lutut difleksikan
kurang dari 900
2. Smith-Peterson Approach
Prosedur ini dapat digunakan untuk mengksposur sendi panggul dan os ilium. Indikasi dari
dilakukannya prosedur ini adalah :

a. open reduction of congenital hip dislocations


b. synovial biopsies
c. intra-articular fusions
d. excision of pelvic tumors
e. pelvic osteotomies
f. irrigation and debridement of infected, native hip