Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH 1

“ Conceptual Framework For Financial Reporting”

Disusun oleh :

3f Akuntansi

Kelompok 2

Hafizh Faisal (5552122295)

Muhammad Khairurrijal (5552122499)

M. Bary Rafsanjani (5552111903)

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

2013
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini
dengan topik “Conceptual Framework For Financial Reporting” .
Makalah ini berisikan pengertian, tujuan dan konsep dari penyusunan kerangka kerja
konseptual yang mendasari pelaporan keuangan. Diharapkan makalah ini dapat memberikan
informasi kepada pembaca makalah ini. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu
kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta
dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Tuhan-YME senantiasa
meridhai segala usaha kita. Amin.

Serang, September 2013

Penyusun
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ......................................................................................................... ii


Daftar Isi .................................................................................................................. iii
Bab I Pendahuluan
A. Latar belakang ............................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ...................................................................................... 1
C. Tujuan .......................................................................................................... 1
Bab II Pembahasan
A. Kerangka Kerja Konseptual (Conceptual Framework).................................. 2
B. Tingkat Pertama : Tujuan Dasar .......................................................... 3
C. Tingkat Kedua : Konsep Fundamental .................................................. 4
D. Tingkat Ketiga : Konsep Pengakuan, Pengukuran
Dan Pengungkapan ......................................................................... 8
Bab III Penutup
A. Kesimpulan ................................................................................................ 13
B. Saran ........................................................................................................... 13
Daftar Pustaka .......................................................................................................... 14
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Laporan keuangan merupakan suatu ringkasan dari transaksi-transaksi keuangan
yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan. Laporan keuangan ini dibuat oleh
manajemen dengan tujuan untuk mempertanggungjawabkan tugas-tugas yang
dibebankan kepadanya oleh para pemilik perusahaan.
Laporan keuangan yang sering disajikan adalah (1) neraca, (2) laporan laba-rugi, (3)
laporan arus kas, (4) laporan ekuitas pemilik, (5) catatan atas laporan keuangan. Dalam
membuat laporan keuangan terdapat kerangka kerja konseptual yang mendasari
akuntansi keuangan dan laporan keuangan. Kerangka kerja konseptual adalah sebuah
sistem koheren yang terdiri dari tujuan dan konsep fundamental yang saling
berhubungan, yag menjadi landasan bagi penetapan standar yang konsisten dan
penentuan sifat,fungsi sertabatas-batas dari akuntansi keuangan dan laporan keuangan.
Kerangka kerja konseptual akan meningkatkan pemahaman dan keyakinan pemakai
laporan keuangan atas pelaporan keuangan, dan akan menaikan komparabilitas antar
laporan keuangan. Dalam kerangka kerja konseptual akan membahas karakteristik
kualitatif, unsur-unsur dasar, asumsi-asumsi, prinsip-prinsip dan kendala-kendala yang
ditemui dalam penyusunan laporan keuangan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari kerangka kerja konseptual yang mendasari laporan
keuangan ?
2. Apa tujuan dan bagaimana konsepsi kerangka kerja tersebut ?

C. Tujuan
1. Mengidentifikasi kerangka kerja konseptual yang mendasari laporan keuangan
2. Menjelaskan manfaat kerangka kerja konseptual yang mendasari laporan
keuangan.
3. Menjelaskan konsep kerangka kerja tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Kerangka Kerja Konseptual (Conceptual Framework)


kerangka konseptual menetapkan konsep yang mendasari pelaporan keuangan.
kerangka konseptual adalah sistem yang koheren konsep yang terdiri dari tujuan. dengan
tujuan mengidentifikasi pelaporan keuangan, konsep lain memberikan arahan mengenai
identifikasi batas-batas pelaporan keuangan, memilih transaksi, peristiwa lain, dan
keadaan diwakili, bagaimana mereka harus diakui dan diukur, dan bagaimana mereka
harus dirangkum dan dilaporkan. 1

Kebutuhan akan kerangka konseptual


Manfaat membuat kerangka kerja konseptual. Pertama, Agar manfaat, maka
penetapan standar harus berlandaskan dan berhubungan dengan serangkaian konsep serta
tujuan fundamental. Kedua masalah-masalah praktis yang baru akan dapat dipecahkan
secara cepat jika mengacu pada kerangka teori dasar yang telah ada.2

Ilustrasi Kerangka Kerja Konseptual untuk Pelaporan Keuangan3

Konsep-konsep Pengakuan dan pengukuran

Asumsi-asumsi Prinsip-prinsip Kendala-kendala

Karakteristik Kualitatif Unsur-unsur laporan


dari informasi akuntansi keuangan

tujuan pelaporan keuangan

1
Kieso dkk. “Intermediate Accounting volume 1 IFRS edition”.2011, p.. 90
2
Kieso dkk, “Akuntansi Intermediate edisi kesepuluh”, 2001, hal 40
3
Ibid hal 42
Ilustrasi diatas merupakan tinjauan atas kerangka kerja konseptual pada level pertama,
tujuan (objectives) mengidentifikasi tujuan dan sasaran dari akuntansi serta merupakan
bagian inti dari kerangka kerja konseptual. Pada tingkat kedua disajikan karakteristik
kualitatif (qualitative characteristic) yang membuat siklus informasi akuntansi berguna dan
unsur-unsur (elements) laporan keuangan. Pada tingkat yang ketiga disajikan konsep-konsep
pengukuran dan pengakuan (measurement and recognition concept) yang akan digunakan
dalam menetapkan dan mengaplikasikan standar-standar akuntansi. Konsep-konsep ini
meliputi asumsi, prinsip, dan kendala yang menjelaskan lingkungan pelaporan berjalan.

Perkembangan Kerangka Kerja Konseptual


Baik IASB (International Accounting Standarts Board) dan FASB (Financial
Accounting Standarts Board) memiliki kerangka konseptual. kerangka konseptual FASB
dijelaskan dalam dokumen, "kerangka kerja untuk persiapan dan Penyajian laporan
keuangan," Kerangka kerja konseptual FASB dikembangkan dalam serangkaian pernyataan
konsep, yang umumnya disebut sebagai kerangka konseptual. IASB dan FASB sekarang
bekerja pada sebuah proyek bersama untuk mengembangkan kerangka konseptual umum baik
yang memberikan dasar yang kuat untuk mengembangkan standar akuntansi di masa depan.
kerangka tersebut sangat penting untuk memenuhi tujuan mengembangkan standar yang
berbasis prinsip, konsisten secara internal, dan terkonvergensi internasional, dan yang
mengarah pada pelaporan keuangan yang menyediakan informasi investor harus membuat
keputusan yang sehat dan efektif.4

B. Tingkat Pertama : Tujuan Dasar

Tujuan pelaporan keuangan (objectives of financial reporting) adalah untuk


menyediakan informasi:
 Berguna bagi mereka yang memiliki pemahaman memadai tentang aktivitas
bisnis dan ekonomi untuk membuat keputusan investasi serta kredit;
 untuk membantu investor yang ada dan potensial, kreditor yang ada dan
potensial, serta pemakai lainnya dalam menilai jumlah, waktu, dan ketidakpastian
arus kas masa depan; dan

4
Op cit hal 41
 tentang sumberdaya ekonomi, klaim terhadap sumberdaya tersebut, dan
perubahan didalamnya;5
Tujuan (objectives) dimulai dengan lebih banyak berfokus pada informasi tentang menilai
prospek arah arus kas yang berguna bagi para investor dan kreditor dalam membuat
keputusan. Hal yang mendasari tujuan ini adalah konsep bahwa pemakai membutuhkan
pengetahuan yang memadai tentang persoalan bisnis dan akuntansi keuangan untuk
memahami informasi tang terkandung dalam laporan keuangan.

C. Tingkat Kedua : Konsep Fundamental


Dalam tingkat kedua, terdapat tiang-tiang konseptual untuk menjelaskan karakteristik
kualitatif dari informasi akuntansi dan mendefinisikan unsur-unsur laporan keuangan. Tiang
konseptual ini akan menjembatani antara mengapa akuntansi (tujuan) dengan bagaimana
akuntansi (pengakuan dan pengukuran).

Karakteristik Kualitatif Dari Informasi Akuntansi


Pemilihan metode akuntansi yang tepat, jumlah dan jenis informasi yang harus
diungkapkan, serta format penyajiannya melibatkan penentuan alternatif mana yang
menyediakan informasi yang paling bermanfaat untuk tujuan pengambilan keputusan. IASB
(international accounting Standars Board) mengidentifikasi karakteristik kualitatif dari
informasi akuntansi membedakan informasi yang lebih baik dengan informasi yang inferior
(kurang berguna) bagi tujuan pelaporan keuangan, selain itu, IASB juga telah
mengidentifikasi kendala-kendala (biaya-manfaat dan materialitas) sebagai bagian dari
kerangka kinerja konseptual.6

Kualitas Fundamental : Relevansi


Relevansi adalah salahsatu kualitas fundamental untuk membuat informasi akuntansi
berguna untuk pengambilan keputusan. Agar menjadi relevan, informasi akuntansi harus
mampu membuat perbedaan dalam sebuah keputusan. Jika tidak mempengaruhi keputusan,
maka informasi tersebut dikatakan tidak relevan terhadap keputusan yang diambil.

5
Op cit hal 43
6
Op cit hal 43
Hirarki Kualitas Akuntansi7
Pemakai Informasi
Pengambil Keputusan dan Karakteristiknya
akuntansi

Kendala
Biaya< manfaat Materialitas

Kriteria pervasif Kegunaan Keputusan

Kualitas fundamental Relevansi Ketepatan

Kandungan Predictive Feed-back Netralitas Bebas dari


Kelengkapan
Kualitas value value kesalahan
fundamental

Komparabilitas Daya- Uji Ketepatan Waktu Kemampuan


kualitas peningkat
pemahaman

Informasi yang relevan akan membantu pemakai membuat prediksi tentang hasil akhir
dari nilai masa lalu, sekarang dan masa depan; yaitu, memiliki nilai prediktif. Informasi yang
relevan juga membantu pemakai menjastifikasi atau mengkoreksi ekspektasi atau harapan
masa lalu; yaitu, memiliki nilai umpan balik. Agar relevan, informasi harus memiliki nilai
prediktif atau nilai umpan-balik, dan harus disajikan tepat waktu.8

Kualitas fundamental : Ketepatan Penyajian


Ketepatan penyajian (representational faithfulness) berarti bahwa angka-angka dan
penjelasan dalam laporan keuangan mewakili apa yang betul-betul ada dan terjadi. Yaitu,
angka-angka dan penjelasan akuntansi sesuai dengan sumber daya atau kejadian yang diklaim
oleh angka-angka serta penjelasan tersebut. Jika laba-rugi General Motor melaporkan
penjualan sebesar $ 150 miliar sementara penjualan sebenarnya hanya $ 138,3 miliar, maka
laporan laba-rugi tersebut dikatakan tidak disajikan secara tepat.

7
ibid hal 44
8
Op cit hal 45
Kelengkapan (completness). Agar dapat diandalkan, informasi dalam laporan
keuangan harus lengkap dalam batasan materialitas dan biaya. Kesengajaan untuk tidak
mengungkapkan mengakibatkan informasi tidak benar atau menyesatkan dan karena itu tidak
dapat diandalkan dan tidak sempurna ditinjau dari segi relevansi. (Zaki Baridwan, 2004 : 7)
Netralitas (Neutrality). Netralitas berarti bahwa informasi tidak dapat dipilih untuk
kepentingan sekelompok pemakai tertentu. Informasi yang disajikan harus faktual, benar dan
tidak bias. Informasi harus diarahkan pada kebutuhan umum pemakai.9
Free from Error. Sebuah informasi harus bebas dari kesalahan. Informasi yang akurat
sangat diperlukan untuk penyajian informasi. Bagaimanapun ketepatan penyajian informasi
tidak bebas dari kesalahan, karena dalam laporan keuangan melibatkan banyak jenis estmasi
keputusan manajemen.10

Kualitas Peningkatan
Komparabilitas. Informasi dari berbagai perusahaan dipandang memiliki
komparabilitas jika telah diukur dan dilaporkan dengan cara yang sama. Komparabilitas akan
memungkinkan pemakai mengidentifikasi persamaan dan perbedaan rill dalam fenomena
ekonomi karena perbedaan rill dan persamaan tersebut tidak dikaburkan oleh pemakaian
metode akuntansi yang tidak dapat diperbandingkan. Selain itu konsistensi, apabila sebuah
entitas mengaplikasikan perlakuan akuntansi yang sama untuk kejadian-kejadian yang serupa,
dari periode ke periode, maka entitas tersebut dianggap konsisten dalam menggunakan
standar akuntansi. perusahaan dapat mengganti satu metode dengan metode lainnya, tetapi
penggantian tersebut dibatasi oleh situasi dimana perusahaan harus dapat menunjukan bahwa
metode yang baru lebih baik daripada metode sebelumnya. Kesimpulannya, laporan
akuntansi untuk tahun tertentu akan lebih berguna jika dapat diperbandingkan dengan laporan
perusahaan lain dari tahun yang sama dan dengan laporan keuangan periode sebelumnya dari
perusahaan sebelumnya.
Daya uji (verifiability) ditunjukkan ketika pengukur independen,dengan menggunakan
metode pengukuran yang sama,mendapatkan hasil yang serupa. Informasi harus dapat diuji
kebenarannya. Dapat diujinya kebenaran informasi akuntansi berdasar pada keobyektifan dan
konsensus. Contoh, keandalan informasi harga perolehan fixed assets harus diuji berdasar
data masa lalu yang terekam pada faktur (keobyektifan). Tetapi keandalan informasi tentang

9
Op cit hal 46
10
Loc cit hal 45
depresiasi aktiva tetap itu adalah berdasarkan konsensusa mengenai metode depresiasi yang
digunakan, taksiran nilai residu, dan taksiran umur ekonomis.
Ketepatan waktu (timeliness) adalah ketepatan waktu berarti memiliki informasi yang
tersedia kepada pengambil keputusan sebelum kehilangan kapasitasnya untuk mempengaruhi
keputusan.11 memiliki informasi yang relevan tersedia lebih cepat dapat meningkatkan
kapasitasnya untuk mempengaruhi keputusan, dan kurangnya ketepatan waktu dapat
menghambat penggunaan informasi. Dapat dipahami (understandability). Informasi yang
berkualitas adalah informasi yang dengan mudah dan segera dapat dipahami oleh
pemakainya. Pemakai informasi di asumsikan mempunyai pengetahuan yang memadai
mengenai aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi, serta kemauan untuk mempelajari
informasi dengan ketekunan wajar. (Zaki Baridwan, 2004: 7)

Unsur-unsur dasar Laporan keuangan.


Unsur pembentuk laporan keuangan yaitu,
1) Aktiva
2) Kewajiban
3) Ekuitas
4) Pendapatan
5) Beban

Keterangan :
1. Aktiva
Manfaat ekonomi yang mungkin terjadi di masa depan, yang diperoleh atau dikendalikan
oleh sebuah entitas sebagai hasil dari transaksi-transaksi atau kejadian-kejadian masa lalu.
2. Kewajiban
Pengorbanan ekonomi yang mungkin terjadi di masa depan, yang timbul dari kewajiban
berjalan sebuah entitas tertentu-kewajiban yang ditimbulkan oleh transaksi atau kejadian
masa lalu untuk mentransfer aktiva atau menyediakan jasa kepada entitas-entitas lain di
masa depan.
3. Ekuitas
Kepentingan residu dalam aktiva sebuah entitas, setelah dikurangi dengan kewajibannya.
Dalam sebuah entitas bisnis, ekuitas merupakan kepentingan kepemilikan.

11
Ibid hal 47
4. Pendapatan
Arus masuk atau peningkatan lainnya atas aktiva sebuah entitas atau pelunasan kewajiban
(atau kombinasi dari keduanya) selama suatu periode dari pengiriman atau produksi
barang, penyediaan jasa atau aktivitas-aktivitas lain yang merupakan operasi utama
perusahaan.
5. Beban
Arus keluar atau penggunaan lainnya atas aktiva sebuah entitas atau terjadinya kewajiban
(atau kombinasi dari keduanya) selama suatu periode dari pengiriman atau produksi
barang, penyediaan jasa atau aktivitas-aktivitas lain yang merupakan operasi utama
perusahaan.

D. Tingkat Ketiga : Konsep Pengakuan, Pengukuran dan Pengungkapan


Tingkat ketiga dari kerangka kerja konseptual terdiri dari konsep-konsep yang dipakai
untuk mengimplementasikan tujuan dasar dari tingkat pertama. Konsep ini menjelaskan apa,
kapan, dan bagaimana unsur-unsur serta kejadian keuangan harus diakui, diukur, dan
dilaporkan oleh sistem akuntansi.12
Asumsi-Asumsi Dasar
- Asumsi Entitas Ekonomi
Asumsi entitas ekonomi (economic entity assumption) berarti aktivitas ekonomi dapat
diidentifikasi dengan unit pertanggungjawaban tertentu. Dengan kata lain, aktivitas
entitas bisnis dapat dipisahkan dan dibedakan dengan aktivitas pemiliknya dan dengan
setiap unit bisnis lainnya. Konsep entitas tidak selalu mengacu pada entitas legal.
Perusahaan induk dan anak perusahaannya merupakan entitas legal yang terpisah,
tetapi penggabungan aktivitas-aktivitas maerka untuk tujuan akuntansi dan pelaporan
tidak melanggar asumsi entitas ekonomi.
- Asumsi Kelangsungan Hidup
Sebagian besar metode akuntansi didasarkan atas asumsi kelangsungan hidup (going
concern assumption) yaitu perusahaan bisnis akan memiliki umur yang panjang.
- Asumsi Unit Moneter
Mengandung arti bahwa uang adalah denominator umum dari aktivitas ekonomi dan
merupakan dasar yang tepat bagi pengukuran dan analisis akuntansi. Asumsi ini

12
Op cit hal 49
menyiratkan bahwa unit moneter adalah cara yang paling efektif untuk menunjukan
kepada pihak-pihak yang berkepentingan tentang peubahan modal serta pertukaran
barang dan jasa. Unit moneter adalah unit yang relevan, sederhana, tersedia secara
universal, dapat dipahami, dan berguna.
- Asumsi Periodisitas
Menyiratkan bahwa aktivitas ekonomi sebuah perusahaan dapat dipisahkan ke dalam
periode waktu artifisial. Periode waktu ini bervariasi, tetapi yang paling umum adalah
secara bulanan, kuartalan, dan tahunan.
- Asumsi Pencatatan Akrual
Perusahaan menyusun laporan keuangan dengan menggunakan akuntansi berbasis
akrual. Akrual akuntansi dasar berarti bahwa transaksi yang mengubah laporan
keuangan perusahaan dicatat pada periode di mana acara tersebut terjadi. Misalnya,
dengan menggunakan basis akrual berarti bahwa perusahaan mengakui pendapatan
apabila kemungkinan bahwa manfaat ekonomi masa depan akan mengalir ke
perusahaan dan pengukuran yang dapat diandalkan adalah mungkin (prinsip
pengakuan pendapatan). Hal ini dipertegas bentuknya pengakuan berdasarkan
penerimaan kas. Seperti-bijaksana, dengan dasar akrual, perusahaan mengakui beban
pada saat terjadinya (prinsip pengakuan beban) bukan saat dibayar. Sebuah alternatif
untuk basis akrual adalah basis kas. Dalam kas akuntansi dasar, perusahaan mencatat
pendapatan hanya ketika kas diterima. Mereka mencatat pengeluaran hanya ketika kas
dibayarkan.
(sumber : (Kieso dkk,”, 2001:50) dan (Kieso et al,2011: 50) )

Prinsip-prinsip Dasar Akuntansi13


Prinsip Pengukuran
saat ini memiliki sistem campuran-atribut di mana salah satu dari dua prinsip
pengukuran yang digunakan. kedua prinsip adalah prinsip-prinsip biaya dan prinsip-prinsip
nilai wajar. pemilihan prinsip umumnya mencerminkan trade-off antara relevansi dan
ketepatan.
Prinsip biaya. IFRS (international financial reporting standard) mewajibkan sebagian
besar aktiva dan kewajiban diperlakukan dan dilaporkan berdasarkan harga akuisisi. Hal ini
disebut dengan prinsip biaya historis . biaya memiliki keunggulan yang penting dibandingkan

13
Ibid hal 52
penilaian yang lainnya : yaitu, dapat diandalkan. Dewasa ini kita memiliki sistem “ atribut-
campuran” yang membolehkan biaya historis, nilai wajar, yang terendah antara biaya atau
harga pasar, dan dasar penilaian lainnya.
Prinsip nilai wajar. Nilai wajar didefinisikan sebagai "jumlah dimana suatu aset dapat
dipertukarkan, kewajiban diselesaikan, atau instrumen ekuitas yang diberikan dapat
dipertukarkan, antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk transaksi lengan
panjang". Oleh karena itu nilai wajar adalah ukuran berbasis pasar. IFRS telah semakin
menyerukan penggunaan pengukuran nilai wajar dalam laporan keuangan. ini sering disebut
sebagai prinsip-prinsip nilai wajar. Informasi nilai wajar mungkin lebih berguna daripada
biaya historis untuk beberapa jenis aktiva dan kewajiban di industri tertentu.

Prinsip Pengakuan Pendapatan (Revenue Recognition Principle )


Pendapatan adalah aliran masuk aktiva yang timbul dari penyerahan barang atau jasa
yang dilakukan oleh suatu unit usaha selama suatu periode tertentu. Dasar yang digunakan
untuk mengukur besarnya pendapatan adalah jumlah kas atau ekiuvalennya yang diterima
dari transaksi penjualan dengan pihak yang bebas. Istilah pendapatan dalam prinsip ini
merupakan istilah yang luas, di mana di dalam pendapatan termasuk juga pendapatan bunga,
sewa, laba penjualan aktiva dan lain-lain.
Pendapatan diakui pada saat terjadinya penjualan barang atau jasa, yaitu pada saat ada
kepastian mengenai besarnya pendapatan yang diukur dengan aktiva yang diterima. Tetapi
ketentuan umum ini tidak selalu dapat diterapkan sehingga timbul beberapa ketentuan lain
mengenai saat untuk mengakui pendapatan. Pengecualian itu adalah pengakuan pendapatan
pada saat produksi selesai, selama masa produksi dan pada saat produksi dan pada saat kas
diterima.

Prinsip Pengakuan Beban (expense recognition principle)


Biaya didefinisikan sebagai arus keluar atau lainnya aset atau menimbulkan kewajiban
selama periode sebagai akibat dari penyerahan atau produksi barang dan / atau jasa yang
diberikan. itu kemudian bahwa pengakuan beban yang berkaitan dengan perubahan bersih
aktiva dan pendapatan produktif. dalam prakteknya, pendekatan untuk mengakui biaya
tersebut "biarkan biaya mengikuti pendapatan." pendekatan ini adalah prinsip pengakuan
beban. Untuk menggambarkan, perusahaan mengakui beban bukan ketika mereka membayar
upah atau membuat produk tapi ketika pekerjaan (layanan) atau produk benar-benar
memberikan kontribusi untuk pendapatan.
Prinsip Pengungkapan Penuh (full Disclosure Principle)
Dalam memutuskan informasi apa yang akan dilaporkan, praktek yang umum adalah
menyediakan informasi yang mencukupi untuk mempengaruhi penilaian dan keputusan
pemakai. Prinsip ini sering disebut prinsip pengungkapan penuh, mengakui bahwa sifat dan
jumlah informasi yang dimasukan dalam laporan keuangan mencerminkan serangkaian trade-
off penilaian. Trade-off ini terjadi antara 1) kebutuhan untuk mengungkapkan secara cukup
terinci hal-hal yang akan mempengaruhi keputusan pemakai, dengan 2) kebutuhan untuk
memadatkan penyajian agar informasi dapat dipahami. Disamping itu, penyusunan laporan
keuangan juga memperhitungkan biaya pembuatan dan penggunaan laporan keuangan.
Informasi tentang posisi keuangan, laba, arus kas, dan investasi dapat ditemui dalam salah
satu tempat berikut: 1) dalam bagian utama laporan keuangan, 2) catatan atas laporan
keuangan, atau 3) informasi suplementer.

Kendala (Constraints)
Dalam menyediakan informasi yang mengandung karakteristik kualitatif agar
membuatnya menjadi berguna, dua kendala yang dominan harus diperhitungkan biaya dan
materialitas.

Kendala biaya
Seringkali, pemakai mengasumsikan bahwa informasi adalah komoditas bebas biaya.
Namun para pembuat dan penyedia informasi akuntansi mengetahui bahwa hal itu salah.
Karena itu, ada hubungan biaya-manfaat yang harus diperhitungkan: biaya penyediaan
informasi harus ditimbang terhadap manfaat yang dapat diperoleh dari pemakaian informasi
itu.
Analisis biaya-manfaat sulit dilakukan karena biaya dan terutama manfaatnya tidak
selalu nyata dan dapat diukur. Manfaat yang diperoleh oleh pembuat laporan keuangan
(dalam hal pengendalian manajemen dan akses terhadap modal yang besar) dan pemakai
laporan keuangan (dalam hal alokasi sumber daya, penilaian pajak, dan regulasi tarif pajak).
Namun manfaat secara umum lebih sulit dikuantifikasi dibandingkan biaya.
Biaya penyediaan informasi harus ditimbang terhadap manfaat yang bisa diperoleh dari
pemakaian informasi itu. Badan-badan pembuat standar dan badan-badan pemerintah kini
menggunakan analisis biaya-manfaat sebelum menetapkan persyaratan informasional. Dalam
rangka menjustifikasi penerbitan suatu standar pengukuran dan pengungkapan tertentu,
manfaat yang bisa didapat dari standar harus melampaui biaya yang dibutuhkan untuk
memenuhi persyaratan.14

Kendala Materialitas
Berhubungan dengan dampak suatu item terhadap operasi keuangan perusahaan secara
keseluruhan. Suatu item akan dianggap material jika pencantuman atau pengabaian item
tersebut mempengaruhi atau mengubah penilaian seorang pemakai laporan keuangan.
Singkatnya, suatu item harus membuat perbedaan atau, jika tidak, tidak perlu diungkapkan.
Jadi aspek yang terlibat di sini adalah ukuran dan kepentingan relatif. (dikutip dari http://tri-
bowop.blogspot.com/2012/01/kerangka-konseptual-fasb.html diakses tgl 19-9-2013 jam 10.29 )

14
Op cit hal 56
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
kerangka konseptual adalah sistem yang koheren konsep yang terdiri dari tujuan.
dengan tujuan mengidentifikasi pelaporan keuangan, konsep lain memberikan arahan
mengenai identifikasi batas-batas pelaporan keuangan, memilih transaksi, peristiwa lain, dan
keadaan diwakili, bagaimana mereka harus diakui dan diukur, dan bagaimana mereka harus
dirangkum dan dilaporkan.
Tujuan membuat kerangka kerja konseptual. Pertama, Agar manfaat, maka penetapan
standar harus berlandaskan dan berhubungan dengan serangkaian konsep serta tujuan
fundamental. Kedua masalah-masalah praktis yang baru akan dapat dipecahkan secara cepat
jika mengacu pada kerangka teori dasar yang telah ada.
Tinjauan atas kerangka kerja konseptual pada level pertama, tujuan (objectives)
mengidentifikasi tujuan dan sasaran dari akuntansi serta merupakan bagian inti dari kerangka
kerja konseptual. Pada tingkat kedua disajikan karakteristik kualitatif (qualitative
characteristic) yang membuat siklus informasi akuntansi berguna dan unsur-unsur (elements)
laporan keuangan. Pada tingkat yang ketiga disajikan konsep-konsep pengukuran dan
pengakuan (measurement and recognition concept) yang akan digunakan dalam menetapkan
dan mengaplikasikan standar-standar akuntansi. Konsep-konsep ini meliputi asumsi, prinsip,
dan kendala yang menjelaskan lingkungan pelaporan berjalan.

B. Saran
Sebaiknya makalah ini dapat dikupas lebih lanjut mengenai adakah pengaruh
lingkungan eksternal yang mempengaruhi pelaporan keuangan dan ditambahkan contoh
kasus. Buku referensi yang dipakai harus lebih beragam.
DAFTAR PUSTAKA

Kieso, Donald. E, dkk. 2001.Intermediate Accounting Volume 1 IFRS Edition.Hoboken:


Jhon Wiley & Sons
Kieso, Donald. E., dkk. 2002. Akuntansi Intermediate edisi sepuluh jilid . Jakarta : Erlangga
Baridwan, Zaki. 2008. Intermediate Accounting edisi kedelapan. Yogyakarta: BPFE
Yogyakarta
http://dindaituchdindhoet.wordpress.com/2010/10/19/kerangka-konseptual-fasb/ diakses
tanggal 19-09-2013 jam 10.27
http://tri-bowop.blogspot.com/2012/01/kerangka-konseptual-fasb.html
diakses tgl 19-9-2013 jam 10.29
http://rzmapuspita.blogspot.com/2012/10/kerangka-kerja-konseptual-yang.html diakses
tanggal 19-09-2013 jam 10.33