Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN


DALAM KEGIATAN BISNIS GLOBAL SAAT INI

Oleh:

1. Govindha Zahra (15441118)


2. Suci Jayanti (15441092)
3. Ratna Fitriani (15441126)
4. Risma Suryaningrum (15441105)
5. Elis Dwi (15441099)
6. Frida Naya (15441109)

FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI S-1
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONOROGO
TAHUN 2017/2018
A. Proses Bisnis dan Sistem InformasI
Proses Bisnis
Proses bisnis, pada Bab I yang diperkenalkan kepada kita, mengacu pada cara di mana
pekerjaan diorganisaslkan, djkoordinasikan, dan difokuskan untuk menghasilkan suatu
produk atau jasa yang berharga, Proses bisnis adalah kumpulan kegiatan yang dibutuhkan
untuk menghasilkan suatu produk atau jasa. Kegiatan ini didukung oleh aliran material,
informasi, dan pengetahuan dari berbagai pihak yang terljbat dalam proses bisnis. Proscs
bisnis juga mengacu pada cara yang unik di mana organisasi mengoordinasikan pekerjaan,
informasi, dan pengetahuan, serta cara-cara yang dipilih manajemen dalam
mengoordinasikan pekerjaan.

Secara garis besar, kinerja sebuah perusahaan bisnis bergantung pada seberapa baik proses
bisnis djrancang dan dikoordinaslkan. Proses bisnis sebuah perusahaan dapat menjadi sumber
kekuatan kompetitif; jika mereka memungkinkan perusahaan untuk berinovasi atau
beroperasi lebih baik dari para pesaingnya. Proses bisnis juga dapat menjadi beban jika
mereka didasarkan pada cara kerja yang ketinggalan zaman/tidak sesuai kebutuhan yang
menghambat efisiensi dan respons organisasi. Kasus pembuka dalam bab ini,
menggambarkan perbaikan dalam proses pembelajaran yang dilakukan TELUS kepada
karyawannya secara jelas, seperti halnya banyak kasus lain dalarn teks ini.

Setiap bisnis dapat dilihat sebagai kumpulan proses bisnis, beberapa di antaranya
merupakan bagian dari proses yang mernlliki cakupan yang lebih besar. Misalnya,
menggunakan mentor/pendidik, wiki, blog, dan video adalah bagian dari proses manajemen
pengetahuan secara keseluruhan.

Bagaimana Teknologi Informasi Meningkatkan Proses Bisnis

Sistem informasi mengotomatisasikan banyak langkah dalam proses bisnis yang


sebelumnya dilakukan secara manual, seperti memeriksa kredit klien, atau mencetak tagihan,
dan mengirim pesanan. Namun sekarang, teknologi informasi dapat melakukan lebih banyak
lagi. Teknologi baru dapat betul-betul mengubah arus informasi, sehingga memungkinkan
bagi lebih banyak orang untuk mengakses dan berbagi informasi, mengubah prosedur yang
seharusnya dikerjakan secara berurutan menjadi dapat dilakukan secara bersamaan, serta
menghilangkan hambatan-hambatan dalam pengambilan keputusan. Teknologi informasi
yang baru, sering kali mengubah cara orgamsasi bisnis dalam bekerja dan mendukung model
bisnis yang baru secara menyeluruh. Mengunduh berbagai macam e-book dari amazon,
membeli komputer secara online di Best Buy, dan mengunduh musik dari iTunes adalah
proses bisnis yang sangat baru berdasarkan model bisnis baru, yang tak dapat dibayangkan
tanpa teknologi informasi saat ini.

B. Jenis-jenis Sistem Informasi


SISTEM-SISTEM UNTUK KELOMPOK MANAJAMEN YANG BERBEDA

Sebuah perusahaan bisnis memiliki sistem untuk mendukung kelompok-kelompok yang


berbeda atau tingkatan manajemen, sistem ini meliputi sistem pemrosesan transaksi dan
sistem untuk intelijen bisnis.

Sistem Pemrosesan Transaksi

Manajer operasional menmbutuhkan sistem vanu mampu memantau aktivitas dasar dan
penjualan, penerimaan, penyimpanan uang tunai, penggajian, keputusan kredit dan aliran
material dalam sebuah pabrik. Sistem pemrosesan transaksi (transaction processing system-
TPS) memberikan informasi seperti ini. Sistem pemrosesan transaksi adalah sistem
kumputerisasi vanag mengoperasikan dan mencatat transaksi rutin harian yang diperlukan
untuk seperti entri pesanan penjualan, pemesanan hotel, penggajian, karyawan yang mecatat,
dan pengiriman.

Tujuan utama dari sistem pada tingkat ini adalah untuk menjawab pertanyaan-
pertanyaan rutin dan untuk memantau arus transaksi di seluruh perusahaan. Berapa banyak
barang? Apa yang terjadi dengan pembayaran Tn. Smith? untuk menjawab pertanvaan-
pertanyaan semacam ini, umumnya informasi harus tersedia dengan mudah, terkini dan
akurat. Pada tingkat operasional, tugas, sumber daya, serta tujuan telah ditentukan dan
terstruktu dengan rapi. Sebagai contoh, keputusan untuk menyetujui kredit dari pelanggan,
diambil oleh pada tingkat vana lebih rendah berdasarkan kriteria yang telah ditentukan.

Sistem untuk Intelejensi Bisnis

Perusahaan juga memiliki sistem intelejensi bisnis yang berfokus pada pengiriman
informasi untuk mendukung manajemen dalam pengambilan keputusan. Intelejensi bisnis
adalah istilah terkini mengenai data dan perangkat lunak untuk mengorganisasi, menganalisis,
dan menyediakan akses kepada data untuk untuk membantu manajer dan pengguna lain
dalam suatu perusahaan dalam membuat keputusan yang lebih berdasarkan informasi.
Intelijen bisnis menunjukkan segala hal yang dibutuhkan dalam pengambilan keputusan ada
setiap tingkat manajemen.

UNTUK MEMBUAT PERUSAHAAN SALING TERHUBUNG

Setelah meninjau ulang berbagai macam sistem yang telah kita bahas, Anda mungkin
akan bertanya-tanya bagaimana organisasi bisnis mampu mengelola semua informasi yang
dihasilkan sistem-sistem yang berbeda tersebut. Anda juga mungkin bertanya-tanya mengenai
berapa biaya yang dikeluarkan untuk memelihara berbagai macam sistem tersebut dan Anda
juga mungkin akan bertanya-tanya bagaimana sistem-sistem yang berbeda ini dapat saling
berbagi informasi, dan bagaimana manajer dan bawahannya dapat mengoordinasikan
pekerjaan mereka. Faktanya, semua ini adalah pertanyaan penting bagi bisnis saat ini.

Aplikasi Perusahaan
Menjalankan secara bersama-sama berbagai macam sistem yang berbeda-beda telah menjadi
tantangan utama bagi suatu perusahaan. Umumnya, perusahaan menggunakan dua cara, yaitu
membiarkan sistem tumbuh secara alami dalam perusahaan atau menggunakan jasa
perusahaan yang lebih kecil. Selama beberapa waktu, perusahaan selalu berakhir dengan
kumpulan sistem yang sebagian besar merupakan sistem lama dan memiliki tantangan dalam
berkomunikasi antar satu sistem dengan sistem lainnya serta bekerja sama sebagai satu
kesatuan sistem perusahaan yang terintegrasi. Ada beberapa solusi untuk masalah ini.

Intranet dan Ekstranet

Aplikasi perusahaan mcnciptakan perubahan yang mendasar bagi organisasi dalam


menjalankan kegiatan bisnisnya, dengan menawarkan banyak peluang dalam
mengintegrasikan data bisnis yang penting ke dalam satu sistern tunggal. Namun, sering kali
aplikasi perusahaan sulit diterapkan dan harganya pun mahal, Oleh karena itu, intranet dan
ekstranet pantas disebut sebagai perangkat alternatif untuk meningkatkan integrasi dan
kclancaran arus informasi antar perusahaan, dengan pelanggannya beserta pemasoknya.

Secara sederhana, intranet adalah situs web internal perusahaan yang hanya dapat
diakses oleh karyawannya saya, Istilah "intranet" mcngacu pada Jaringan internal, yang
berbeda dengan internet yang mcrupakan jaringan umum yang mcnghubungkan tiap
organisasi beserta jaringan eskternal Iainnya. Intranet mcnggunakan teknologi dan teknik
yang sama dengan internet, dan intranet sering kali mcrupakan wilayah akses pribadi/khusus
kalangan karyawan saja pada situs web perusahaan yang lcbih bcsar. Dcmikian juga dengan
ekstranet. Ekstranet adalah situs web perusahaan yang dapat diakses olch vendor dan
pcmasok yang memiliki wewenang dan biasanya digunakan untuk mcngoordinasikan
pengiriman persediaan kc fasilitas produksi perusahaan tersebut.

E-BUSINESS, E-COMMERCE, DAN E-GOVERNMENT

Bisnis elektronik (electronic business atau e-business), mengacu pada penggunaan


teknologi digital dan internet untuk menjalankan proses-proses bisnis utama dalam suatu
perusahaan. E-business meliputi aktivitas pengelolaan internal dalam suatu perusahaan serta
kegiatan koordinasi dengan pemasok dan rekan bisnis lainnya. E-business juga meliputi
perdagangan elektronik(electronic commerce atau e-commerce). E-commerce adalah bagian
dari e-business yang berhubungan dengan kegiatan jual-beli barang/ jasa melalui internet. E-
commerce juga meliputi aktivitas yang mendukung transaksi tersebut, seperti periklanan,
pemasaran, dukungan konsumen, keamanan, pengiriman, dan pembayaran.

Teknologi yang terkait dengan e-business telah menghasilkan perubahan yang mirip
dengan sektor swasta. Pemerintah pada tiap tingkatan, menggunakan internet untuk mengirim
informasi dan layanan kepada masyarakat, karyawan, dan organisasi bisnis yang
berhubungan dengan pekerjaan mereka. E-government mengacu pada penggunaan teknologi
aplikasi jaringan dan internet untuk memungkinkan pemerintah berhubungan dengan
masyarakat, organisasi bisnis, sektor swasta, dan instansi pemerintah terkait lainnya secara
digital.
Sebagai tambahan, untuk meningkatkan kualitas pengiriman jasa pemerintah, e-
government meningkatkan efisiensi kegiatan operasional pemerintah dan memperkuat peran
serta masyarakat dengan cara memberikan akses informasi secara lebih mudah dan
kemampuan saling berhubungan antar-masyarakat lewatjaringan elektronis. Sebagai contoh,
penduduk di suatu negara bagian dapat memperbarui surat izin mengemudi (SIM) mereka
atau mengajukan tunjangan pengangguran secara online. Dan internet telah menjadi
perangkat yang sangat berguna untuk menyuarakan kepentingan kelompok bagi tujuan
politik, serta pengumpulan dana.

C. Sistem Untuk Kolaborasi Dan Bisnis Jejaring Sosial


Kolaborasi (collaboration) adalah bekerja bersama-sama orang lain untuk mencapai
tujuan bersama yang jelas. Kolaborasi berfokus pada penyelesaian tugas ataupun misi, dan
biasanya digunakan pada organisasi bisnis, atau organisasi lainnya, atau antara satu bisnis
dengan bisnis lainnya. Kolaborasi dapat berlangsung singkat, selama beberapa menit, atau
dalam jangka waktu yang lebih lama, bergantung dari pekerjaan dan hubungan diantara
partisipan. Kolaborasi dapat bersifat satu orang dengan satu orang atau banyak orang dengan
banyak orang. Karyawan dapat berkolaborasi dalam kelompok-kelompok informal yang
bukan merupakan bagian resmi darl suatu struktur organisasi perusahaan, atau mereka dapat
dibentuk menjadi kelompok-kelompok resmi.

Apa Yang Dimaksud Dengan Bisnis Jejaring Sosial

Saat ini, banyak perusahaan meningkatkan kolaborasi dengan memanfaatkan bisnis


jejaring sosial (social business)—menggunakan platform jejaring sosial, yang meliputi
Facebook, Twitter, dan perangkat sosial yang terdapat dalam perusahaan untuk berhubungan
dengan karyawan, pelanggan, serta pemasok mereka. Perangkat ini memungkinkan pekerja
untuk membuat profil, membentuk kelompok, dan mengikuti perkembangan status anggota
lainya. Tujuan dari bisnis jejaring sosial adalah untuk memperdalam interaksi dengan
kelompok-kelompok dari dalam dan luar perusahaan guna memperlancar dan memperbaiki
pendistribusian Informasi, inovasi, dan pengambilan keputusan.

Manfaat Bisnis Dari Kolaborasi Dan Bisnis Jejaring Sosial

Meskipun banyak artikel dan buku yang ditulis mengenai kolaborasi, hampir sebagian
besar dari penelitian yang dilakukannya bersifat anekdot. Meski demilaan, ada kepercayaan
umum dikalangan pelaku bisnis dan komunitas akademik bahwa semakin kolaboratif suatu
organisasi bisnis, semakin sukses bisnis tersebut, dan kolaborasi antar-perusahaan menjadi
semakin penting dibandingkan dulu. Survei terkini mengenai para pengelola bisnis dan sistem
informasi secara global menemukan bahwa investasi di bidang teknologi kolaborasi
mendatangkan peningkatan kinerja organisasi yang memberikan tingkat pengembalian empat
kali lipat dari nilai investasi yang dikeluarkan, dengan manfaat terbesar dirasakan oleh
penjualan, pemasaran, serta fungsi penelitian dan pengembangan (Frost dan White, 2009).

Membangun Budaya Dan Proses Bisnis Yang Kolaboratif


Di dalam perusahaan bisnis, kolaborasi tidak dapat terjadi secara spontan, terutama jika
tidak ada budaya dan proses bisnis yang mendukung. Perusahaan bisnis, terutama yang
berskala memiliki reputasi pada masa lalu sebagai organisasi yang bersifat "memerintah dan
mengendalikan” di mana semua masalah dan pemikiran penting dibebankan pada petinggi
perusahaan, dan kemudian memerintahkan bawahannya untuk menjalankan rencana dari
manajemen senior. Pekerjaan manajemen tingkat menengah dianggap hanya sebagai penerus
pesan dari hierark tingkat atas ke tingkat bawah.
Organisasi yang bersifat "memerintah dan mengendalikan" memerlukan karyawan tingkat
rendah untuk menjalankan perintah tanpa banyak pertanyaan, tanpa tanggung jawab
meningkatkan kinerja proses, ataupun imbalan atas hasil yang dicapai tim kerja.

STUDI KASUS
1. TELUS MENGADOPSI PEMBELAJARAN SOSIAL

TELUS adalah sebuah perusahaan telekomunikasi Kanada yang telah ada sekitar seabad
yang lalu dan ingin memastikan bahwa setiap orangKanada terhubung ke seluruh dunia, baik
melalui koneksi perangkat nirkabel, internet, televisi, ataupun saluran telepon tradisional.
Perusahaan ini memiliki 12,7 juta rekening nasabah. Memberikan peayanan yang unggul
merupakan tujuan utama perusahaan. Manajemen berkeyakinan bahwa baik kerja sama tim
maupun pembelajaran karyawan merupakan hal yang sangat penting untuk mencapai tujuan
ini. Sampai saat ini, sebagian besar karyawan di TELUS belajar di kelas formal yang
dibentuk di luar perusahaan.banyak dari apa yang dipelajari karyawan bergantung pada
pengetahuan yang dipresentasikan oleh instruktur, dan biaya metode pembelajaran ini cukup
mahal. Menurut kesimpulan manajemen, karyawan lebih baik belajar menurut bidang
keahliannya masing-masing. Apalagi 40 persen tenaga kerja TELUS diharapkan untuk
pensiun dalam 10 tahun ke depan sehingga penting bagi perusahaan untuk menemukan
beberapa cara untuk berbagi dan memelihara pengalaman dan pengetahuan karyawan.

Perusahaan memutuskan untuk fokus pada pembentukan pendidikan anggota tim yang
lebih “berkelanjutan, kolaboratif, dan terhubung” melalui pembelajaran informal dan sosial,
menggunakan mentoring, pelatihan, rotasi pekerjaan, video, blog, dan wikis. TELUS
menetapkan anggaran belajar pada tahun 2010 sebesar $21 juta, dimana sebesar 40 persen
dialokasikan untuk pembelajaran informal dan sosial, dan 60 persen dialokasikan untuk
pembelajaran formal (tahun sebelumnya, pembelajaran formal telah menyumbang 90% dari
anggaran belajar perusahaan sebesar $28,5 juta).

Untuk mendukung inisiatif pembelajaranyang baru, TELUS memanfaatkan kemampuan


Mocrosoft SharePoint Server 2010 yang menyediakan akses langsung bagi anggota tim untuk
saling berbagi ilmu pengetahuan di dalam perusahaan dan kemampuan untuk mencari segala
aset pembelajaran yang dibutuhkan perusahaan secara simultan. TELUS menggunakan fitur
SharePoint MySites yang memungkinkan anggota tim menciptakan laman web mereka
sendiri, guna menggambarkan bidang keahlian merekadan keterampilan khusus. Anggota tim
mampu melihat posisi mereka dan orang lain dalam hirarki organisasi, trehubung dengan
rekan kerja, dan membentuk kelompok-kelompok informal dengan orang lain dengan
kemampuan sejenis. Kemampuan sistem pakar menyediakan hasil pencarian berperingkat
yang mengidentifikasi karyawan dengan keahlian di bidang tertentu di perusahaan TELUS.
MySites juga menawarkan perangkat blogging bagi naggota tim untuk membangun blog
mereka sendiri dan berkontribusi untuk orang lain. Melalui blog ini, anggota tim dapat
menemukan seorang ahli, mendiskusikan pengalamannya, berbagi saran, dan menemukan
jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tanpa harus mengambil kelas atau mengganggu rekan.

TELUS menggunakan SharePoint untuk mengembangkan sistem yang disebut My


Communities, dimana tim proyek, departemen, dan kelompok-kelompok lainnya dapat
bekerja sama serta berbagi dokumen dan konten lainnya. TELUSTube memungkinkan
anggota tim untuk mem-posting dan menyaksikan video yang dibuat pengguna yang berisi
cara penyelesaian suatu pekerjaan atau pertanyaan-pertanyaan dari rekan kerja. Lebih dari
1.000 video telah di-posting. Sebuah sistem manajemen pembelajaran baru yang bekerja
sama dengan SharePoint Server 2010 memungkinkan anggota tim untuk menelusuri dan
menampilkan program pembelajaran formal yang telah mereka lakukan serta kursus yang
telah diambil anggota lainnya.

TELUS mengakui bahwa beralih dari pembelajaran formal untuk memperoleh


pengetahuan melalui kolaborasi dan partisipasi pekerja yang memerlukan suatu proses
peralihan dalam budaya perusahaan. Untuk mendorong Apresiasi dan partisipasi dalam
proses pembelajaran sosial yang baru, perusahaan mendirikan sebuah situs internal untuk
menayangkan contoh-contoh nyata dalam penggunaan perangkat kolaborasi baru dan
meluncurkan wiki untuk emmfasilitasi karyawan dalam berdiskusi. Pontefract
mengumpulkan informasi terkait inisiatif pembelajaran yang baru pada blog-nya guna
membantu mempersiapkan anggota tim dalam menghadapi peralihan.

Sistem SharePoint yang baru-baru ini diterapkan, memberikan anggota tim TELUS akses
yang lebih cepat dalam menemukan keterampilan khusus dan bidng pengetahuan yang
mereka butuhkan, tanpa harus menunggu kelas pembelajaran formal berikutnya. Sebagai
gantinya, anggota tim dapat langsung terhubung dengan rekan-rekan yang memiliki keahlian
dalam bidang tertentu, atau mereka dapat membaca wiki dan blog, menonton video, dan
berpartisipasi dalam diskusi untuk menemukan jawaban.

Pengimplementasian SharePoint mengurangi biaya anggaran belajar perusahaan TELUS


hingga $21 juta pada 2010. Perusahaan ini mampu memangkas anggaran belajarnya sebesar
20% untuk tahun berikutnya sembari pembelajaran secara informal dan sosial terus
dilanjutkan. Penghematan biaya lebih lanjut akan terus berlangsung apabila solusi
pembelajaran yang baru tetap ditetapkan. Rencana TELUS 3 tahun kedepan, pembelajaran
formal hanya akan menghabiskan 50% dari total anggaran pembelajaran.

2. DAPATKAH PERUSAHAAN PENERBANGAN MENYELESAIKAN


MASALAH KAPASITAS BAGASI MEREKA?
Menghadapi Masalah Kapasitas Bagasi dalam Perusahaan Penerbangan
Dalam kegiatan penerbangan, barang biaanya disebut dengan bagasi. Bagasi berdasarkan
terminologi pada pengangkutan udara ada dua macam, yaitu bagasi tercatat dan bagasi kabin.
Bagasi tercatat adalah barang peumpang yang diserahkan oleh penumpang kepada
pengangkut untuk diangkut dengan pesawat udara yang sama.
Bagasi kabin adalah barang yang dibawa oleh penumpang dan berada dalam pengawasan
penumpang sendiri.
Pada 2007, hampir setiap perusahaan penerbangan mengenakan biaya atas barang
bawaan guna meningkatkan pendapatan. Penumpang merasa tidak senang atas pelayanan
bagasi yang buruk, membayar untuk barang bawaan yang kecil dan penanganan bagasi yang
tak dapat dipercaya adalah salah satu sumber terbesar ketidakpuasaan pelanggan. Pada tahun
2008 sekitar 2,5 juta barang bawaan penumpang hilang atau terlambat.
Beberapa penyebab menurunnya angka kehilangan dan keterlambatan barang bawaan
disebabkan oleh penumpang yang membawa barang yang lebih sedikit untuk menghindari
biaya bagasi. Namun, pembaruan dalam sistem penanganan sebagai salah satu alasan utama
dari menurunnya angkat tersebut. Sistem penanganan bagasi harus melakukan beberapa peran
penting: sistem harus memindahkan barang bawaan dari area Check-in ke gerbang
keberangkatan, memindahkan barang bawaan dari gerbang kedatangan sampai tempat
pengambilan barang bawaan. Sistem tersebut harus cepat dan akurat, dan barang bawaan
tersebut harus dipindahkan lebih cepat daripada kedatangan penumpang dari satu lokasi ke
tujuan lainnya.
Beberapa teknologi yang telah dimutakhirkan pada sistem penanganan bagasi
diantaranya, Destination Coded Vehicle ( DCVs), scanner barcode otomatis, radio frequency
identification (RFID), serta alat pembawa barang berteknologi tinggi yang dilengkapi dengan
mesin penyortir.
Pada saat Check-in barang bawaan penumpang akan ditandai dengan barcode yang dapat
dibaca oleh komputer, ketika barcode dipindai oleh komputer pada sistem, sistem akan
memproses dan menentukan kemana barang bawaan tersebut harus dikirim. Setelah di Scan,
sistem akan menegtahui dimanapun barang bawaan berada.
Barang bawaan disimpan di DCVs untuk diantar ke gerbang dengan cepat. DVCs adalah
kendaraan tanpa manusia yang mampu membongkar dan memuat barang tanpa mengehntikan
gerakannya. Komputer pada sistem terus memantaui lokasi tiap barang bawaan, tujuannya,
dan waktu yang diperlukan untuk sampai ketujuan sehingga barang bawaan yang dibutuhkan
dapat sampai lewat rute tercepat. Lebih maju lagi, para penyedia sistem beralih dari
penggunaan tanpa barcode mengunkan RFID untuk melekatkan tanda pada setap barang
bawaan. Penanda RFID adalah perangkat nirkabel yang berfungsi memberikan informasi
keberadaan dan lokasi barang bawaan, yang jauh lebih mudah dalam memantau barang
bawaan ketimbang barcode. Namun RFID jauh lebih mahal ketimbang menggunakan barcode
Sistem penanganan bagasi luar biasa mahalnya, namun apabila berhasil
diimplementasikan, semua pengeluaran itu akan terbayar. Kehilangan dan kegagalan
penanganan bagasi adalah pengeluaran utama peusahaan penerbangan, dan mengurangi
tingkat kehilangan dan kegagalan tersebut akan menciptakan penghematan yang signifikan
setiap tahunnya.
Di dalam hukum pengangkutan ada tiga prinsip tanggung jawab, yaitu tnggung jawab
karena kesalahn (fault liability), tanggung jawab karena praduga (presumption liability) dan
tanggung jawab mutlak (absolute liability).
Di bandara itu semua tergantung pekerja lapangannya dan iu semua menjadi tanggung
jawab airlines. Apabila ada penumpang yang komplain dengan barangnya yang rusak,maka
pihak maskapai menginformasikan kepadanya apabila barang yang rusak tersebut koper
dilihat juga keusakannya bagaimana apakah itu patah /lepas tali/rodanya/koyak, dilayani
dengan cara perbaikan. Apabila barang atauagai tesebut tidak apat diperbaiki sama sekali,
maka dilakukan penggantian, contoh koper yang pecah tidak dapat diperbaiki lagi, maka akan
diganti dengan yang baru yang ama dengan menyertakan buki laporan juga.
Apabila pada bagian agasi hilang, prosedurnya terlebih dahulu membuat laporan
kepada penumpang apa yang hilang, bentuk,ukuran, jenis, warna, isi barang, dan berat
barang. Kemudian pihak maskapai mencatat dan kmudian diberitahukan kepada penumpang
bhwa pencarian dilakukan selama 14hari.
Sistem bagasi juga penangannya bukan tanpa cacat. Pada juli 2010, kesalahan pada
perangkatlunak menyebabkan tertutupnya sistem penanganan bagasi di terminal penerbangan
Ameican Airlines di bandara JFK. Kegagalan perangkat lunak pada perangkat pemindai
barcode, memaksa petugas penerbangan memeriksa barang bawaan secara manual yang
menyebabkan penumpukan barang.
Dan sampai saat ini perusahaan penerbangan stela dikeluarkanna peraturan Menteri
Perhubungan yang baru ini, jadi lebih konsisten dalam menjalankan tugasnya apabila terjadi
kerugian terhadap bagasi penumpang. Dan mereka tetap menggunakan peraturan tersebut
sebagai pedoman tersebut dalam menghadapi permasalahan terhdap penumpang. Walaupun
saat ini penumpang masih merasa kurang puas dan masih merasa dirugikan terhadap ganti
rugi yang diberikan pengangkut, meskipun pengangkut sudah mengikuti peraturan yang
berlaku. Karena menurut mereka tidak sesuai ganti rugi yang di dapat dengan kerugian yang
terjadi kepa mereka khususnyaterhadap kehilangan bagasi.
Penerapan E-business pada kenyataannya sendiri terdiri dari 95% business 5%
technology. Halini menjelaskan bahwa pertimbangan utama yng harus dipergunkanoleh para
praktisi perusahaan penerbangan. Disini pihak maskapai penerbangan juga melirik
munculnya E-business ini dn mulai menerapkan dalam lingkungan bisnis mereka sat ii.
Contoh saja AS, sebagai perintis perapan model ini. Yang kemudian sampai saat kita lihat
hampir semua maskapai di Indonesia mulai mengikutinya. Dengan penerapan E-business ini,
pihak maskapai hampir telah menerapkan semua sisi dari Enterprice Aplication Architecture.
Dalam penerapan E-commerce transportasi udaradengan cpat,tepat, konsisten dan
mudah selalu teredia setiap saat.guna mewujudkan sistem tersebut, pada saat ini hal tersebut
sangat mungkin dengan semaki pesatnya pekembangan teknologi informasi yang didukung
pula oleh perkembanagn sumber daya manusia di Indonesia dalam penguasaan teknologi
informasi.

PERTANYAAN STUDI KASUS

1. Transaksi seperti apa yang dilayani sistem penanganan bagasi?

Sistem penanganan bagasi melayani transaksi mengenai bagasi penumpang, mulai dari
barang masuk pada saat check in hingga barang sampai di belt dan siap untuk diambil
kembali oleh penumpang.

2. Komponen manajemen, organisasi, dan teknologi apa saja yang terlibat dalam sistem
penanganan bagasi?

Komponen manajemen :

- Sistem administrasi dan operasional : pegawai bandara penerima barang bawaan.

- Sistem pelaporan manajemen : data yang dimasukkan ke dalam sistem, yang


mencantumkan tentang semua hal/transaksi barang yang ada pada bagian check in bandara

- Sistem database : kumpulan dari data transaksi barang

- Sistem pencarian : data bagasi yang telah dicatat dan masuk ke dalam sistem, maka
akan dapat dicari dan ditelusuri informasi mengenai barang tersebut

Komponen teknologi :

Pada sistem penanganan bagasi, banyak teknologi yang terlibat diantaranya, berbagai jenis
sensor, actuator (alat pemindah barang dengan menggunakan daya listrik), perangkat
mekanik dan komputer. Sistem tersebut menggunakan 3 juta baris bahasa pemrograman. Dan
melibatkan beberapa teknologi yang telah dimutakhirkan, DCVs, scanner barcode otomatis,
radio frequency identification, seta alat pembawa barang berteknologi tinggi yang dilengkapi
dengan meja penyortir.

3. Maalah apa yang coba dipecahkan oleh sistem penanganan bagasi? Diskusikan
dampak bisnis dari masalah ini. Apakah sistem penanganan bagasi yang dikembangkan saat
ini adalah jawaban atas persoalan tersebut?

Selama ini, masalah besar yang menjadi pengeluaran utama perusahaan penerbangan
adalah kehilangan dan kegagalan penanganan bagasi. Untuk meningkatkan kepuasan
pelanggan sekaligus menekan biaya, perusahaan penerbangkan mengembangkan sistem
penanganan bagasi yang diharapkan mengurangi semua angka keterlambatan dan kehilangan
barang. Sistem baru ini memiliki dampak apabila diterapkan akan menimbulkan biaya yang
cukup besar. Selain itu ada beberapa kejadian yangsempat terjadi yaitu menyebabkan
tertutupnya sistem penanganan bagasi di terminal penerbangan American Airlines di Bandara
JFK. Namun, menurut kami sistem ini merupakan jawaban tepat bagi masalah yang dihadapi
perusahaan penerbangan. Karena setelah menggunakan sistem ini, kehilangan dan kegagalan
penjagaan barang menurun yang menyebabkan biaya penggantian barang penumpang juga
menurun. Untuk masalah kesalahan teknis, hal tersebut tidak bisa dihindari karena teknologi
tentu tidak selalu berjalan dengan baik. Namun hal tersebut dapat dihindari dan diselesaikan
dengan menempatkan teknisi ahli untuk menjaga teknologi baru tersebut.

4. Laporan manajemen seperti apa yang dapat dihasilkan dari sistem penanganan bagasi
ini?

Dari sistem penanganan bagasi ini, manajemen dapat melaporkan tentang indeks kepuasan
pelanggan. Perbandingan antara indeks sebelum dan sesudah penerapan sistem diberlakukan.

3. MENGENDALIKAN PROCTER & GAMBLE MELALUI DECISION


COCKPITS
Procter & Gamble (P&G) adalah perusahaan penyedia barang kebutuhan konsumsi
terbesar di dunia, dengan 127.000 karyawan di 180 negara, 300 merek, dan pendapatan
sebesar $82 miliar pada 2011. Kelebihan perusahaan P&G ini yaitu memiliki teknologi
informasi yang kuat dan terus membuat inovasi teknologi informasi yang baru untuk
memelihara keunggulan kompetitif dibidang industrinya.
Salah satu inovasi yang baru dikeluarkan pada divisi pelayanan bisnis globalnya yaitu
membangun sistem pakar analisis dan mengerjakan solusi analisis baru seperti Business
Suciffiency, Business Sphere dan Decision Cockpit.
 Business Suciffiency diluncurkan untuk memfasilitasi eksekutif dengan
teknologi mengenai ramalan/perkiraan pangsa pasar P&G serta matriks lainnya
dalam 6 bulan sampai 1 tahun ke depan. Program ini dikembangkan
berdasarkan serangkaian model analisis yang menunjukkan apa yang terjadi
dengan organisasi bisnis saat ini (pengiriman, penjualan, pangsa pasar),
mengapa hal-hal tersebut terjadi, serta tindakan apa yang perlu diambil oleh
P&G.
 Business Sphere P&G adalah sistem interaktif yang dirancang untuk mengulas
wawasan, tren, dan peluang bagi pimpinan P&G, serta meminta mereka untuk
menanyakan pertanyaan yang terfokus pada bisnis yang dapat diatasi
menggunakan data pada lokasi. Para manajer dikelilingi oleh berbagai layar
yang menampilkan data penjualan, pangsa pasar, serta biaya tambahan yang
diperlukan untuk mewujudkan hasil keputusan dalam bentuk tindakan. Program
ini menganalisis 200 terabyte data yang setara dengan 200.000 salinan
ensiklopedia inggris dan menampilkan informasi secara cepat dan jelas.
 Decisison Cockpit adalah untuk menghilangkan pemborosan waktu akibat
perdebatan antar karawan mengenai validitas dan perbedaan jenis data yang
terdapat pada surel, lembar kerja sama, serta laporan laporan. Program ini
berupa layar penampil digital yang menampilkan diagram mengenai status dan
tren pada bisnis yang mudah dibaca.

PERTANYAAN STUDI KASUS

1. Dengan mengimplementasi Business Sufficiency, Business Sphere, dan Decision


Cockpit masalah-masalah manajemen ,organisasi, dan teknologi apa saja yang harus
dipecahkan?
Masalah-masalah yang harus dipecahkan atara lain yaitu dibutuhkannya manajemen
yang ahli, yang memiliki kemampuan untuk dapat mengikuti keadaan pasar saat ini. Seperti
pada Business Suficiency, manajemen dituntut untuk menggunakan teknologi untuk meramal
pangsa pasar P&G serta matriks kinerja penting dengan serangkaian model analisis sehingga
untuk melakukannya tentu dibutuhkan seseorang yang ahli serta teknologi dan program
terbaru. Pada Business Sphere, manajer dituntut untuk selalu mengawasi layar yang
menampilkan data penjualan, pangsa pasar, serta algoritma dan analisis keseluruhan data dari
seluruh wilayah yang ada di dunia juga mmebutuhkan tenaga ahli dan teknologi terbaru.
Sedangkan untuk Decision Cockpit karyawan juga dituntut untuk mengetahui dan memahami
sistem tersebut agar dapat mengetahui tentang keadaan pasar masyarakat.
2. Bagaimana perangkat pendukung pengambilan keputusan mengubah cara perusahaan
menjalankan bisnis? Seberapa efektif perangkat tersebut? Mengapa atau mengapa tidak?
Perangkat pendukung pengambilan keputusan ini merupakan sistem pendukung yang
membantu pengambilan keputusan manajemen dengan menggabungkan data, model-model
dan alat-alat analisis yang komplek, serta perangkat lunak yang akrab dengan tampilan
pengguna ke dalam satu sistem yang memiliki kekuatan besar (powerful) yang dapat
mendukung pengambilan keputusan yang semi atau tidak terstruktur. Dengan DSS (Decision
Support System/Perangkat Pendukung Pengambilan Keputusan) maka manajer akan
mengetahui keputusan apa yang tepat untuk diambil setelah dihitung dan dianalisa
menggunakan perangkat lunak yang berupa aplikasi sistem informasi berbasis komputer, atau
dengan kata lain dapat meramalkan kejadian yang akan terjadi pada perusahaan dengan
dilandasi perhitungan yang tepat. Sehingga setelah diketahui hasil dari DSS tersebut, manajer
dan pimpinan perusahaan dapat memutuskan keputusan apa yang tepat untuk diambil. Hasil
tersebut bisa saja sesuai yang direncanakan pihak manajer atau juga malah berbanding
terbalik. Yang tentu saja akan mengubah keputusan manajer.
Perangkat tersebut menurut kami efektif, karena dengan perangkat tersebut kejadian di
masa mendatang dapat diketahui melalui sebuah penghitungan.
3. Bagaimana hubungan sistem-sistem ini dengan strategi bisnis yang dijalankan P&G?
P&G dalam menjalankan bisnisnya telah menerapkan DSS ini. Berupa peluncuran
program-program bisnis seperti Business Suficiency, Business Sphere, dan Decision Cockpit.
Dimana ketiganya sama sama digunakan sebagai alat untuk meramal, baik meramal pangsa
pasar, tren dan peluang pemimpin P&G

4. HARUSKAH PERUSAHAAN MERANGKUL PELAKU BISNIS JEJARING


SOSIAL?
Saat ini jejaring sosial merupakasn sesuatu yang sangat penting di masyarakat. Hampir
semua orang saat ini bergantung pada jejaring sosial. Namun ketika sebuah perusahaan
mencoba memanfaatkan teknologi serupa dalam perusahaan, mereka mendapat hasil yang
beragam. Hasilnya hanya 28% saja pekerja yang menggunakan segala jenis perangkat lunak
sosial sekurang-kurangnya dalam 1 bulan bekerja. Mayoritas kalangan profesionalitas di
bidang bisnis menganggap kinerja jejaring sosial internal perusahaan dibawah rata-rata.
Minat pekerja untuk mempeajari jejaring sosial internal perusahaan juga urang dikarenakan
minat belajar yang rendah.selain itu ditemukan juga fakta jika karyawannya terbiasa
menjalankan kegiatan bisnis dengan cara konvensional dan beresiko menghadapi kelambanan
dalam kinerja organisasi yang akan menimbulkan kesulitan. Karyawan yang terbiasa
berkolaborasi dan menjalankan bisnis secara tradisional membutuhkan insentif/dorongan
untuk menggunakan aplikasi sosial. Dan kebanyakan perusahaan tidak menyediakan itu.
Organisasi IT perlu bertanggung jawab dalam memastikan upaya jejaring sosial internal
dan eksternal perusahaan memberikan nilai baik bagi bisnis. Banyak perusahaan yang
meluncurkan jejaring sosial internal menemukan jika ada beberapa fitur yang jarang diakses
oleh karyawan, seperti wiki, forum, dan blog. Selain itu, perusahaan juga kurang memiliki
kemampuan dalam menganalisis kinerja dan nilai yang diciptakan oleh jejaring sosial
mereka.
Walaupun itu sulit, tetapi ada perusahaan yang dapat mengaplikasikannya dan berhasil.
Dengan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan proyek TI lainnya.
CSC, perusahaan konsultasi dan teknologi informasi bernilai $16 miliar, memiliki
harapan untuk beralih ke teknologi jejaring sosial untuk menanamkan budaya yang
kolaboratif pada organisasi besarnya.CSC meluncurkan inisiatiif yang disebut C3,
(Coonect,Communicate, Collaborate). Jive tertarik dengan CSC karena terus berinovasi,
sedangkan CSC berpikir bahwa Jive dapat bersaing dengan pasar pada umumnya. CSC
meluncurkan uji coba perdana selama 6 bulan pada perusahaan Jive, tingkat pembelajaran
yang cepat, didukung oleh testimoni pengguna, membantu meyakinkan manajemen untuk
membuat CSC sebuat platform kolaborasi permanen.
Agaknya CSC harus memutuskan untuk mempromosikan teknologi tersebut secara aktif
atau teknologi tersebut akan ketinggalan zaman. C3 berdampak langsung pada proses
peningkatan pendapatan perusahaan. Daya serap karyawan sekarang telah mencapai 100%
dengan jumlah yang signifikan dari frekuensi pencarian kekayaan intelektual yang dihasilkan
dalam jaringan komunitas dan kelompok.
PERTANYAAN STUDI KASUS

Soal :

1. Identifikasi faktor-faktor di bidang teknologi, manajemen, dan organisasi yang


bertanggung jawab terhadap lambatnya tingkat penyerapan pengetahuan di bidang
jejaring social internal perusahaan.
2. Mengapa perusahaan yang dijelaskan dalam kasus kali ini berhasil menerapkan teknologi
jejaring social internal pada perusahaan mereka? Jelaskan jawaban Anda.
3. Apakah setiap perusahaan perlu menerapkan jejaring social perusahaan? Mengapa atau
mengapa tidak?

Jawab :
1. Faktor yang memperlambat tingkat penyerapan pengetahuan di bidang jejaring social
internal perusahaan :
a. Teknologi : para pemimpiun teknologi informasi di perusahaan mencoba beralih ke
arah social, tetapi budaya kolaboratif dikantor sebagian besar karyawan lebih suka
menggunakan surel.
b. Manajemen : kurangnya dorongan untuk karyawan yang terbiasa berkolaborasi secara
tradisional untuk menggunakan aplikasi social sehingga daya serap atau daya belajar
karyawan mengenai jejaring social sangatlah rendah.
c. Organisasi yang bertanggung jawab

2. Karena perusahaan tersebut memiliki presentase pekerja di bidang ilmu pengetahuan lebih
tinggi daripada kebanyakan dan menangkap pengetahuan dengan cara terpusat, dapat
diakses merupakan sumber nilai yang penting. Selain itu perusahaan juga mampu
berinovasi terus menerus untuk meningkatkan dan memperbarui perangkat lunak jejaring
sosialnya., dan juga mempromosikan teknologi tersebut secara aktif dan melakukan uji
coba. Dengan hal itu perusahaan mampu meningkatkan pendapatan. Mereka juga
melakukan kerja sama secara global di zona waktu yang bebeda dalam mempersiapkan
penawaran dan proposal dari cari klien untuk karyawan yang berda di Amerika Serikat dan
menggunakan C3 untuk meminta informasi berhubungan dengan proposal, mereka
mendapat 11 balasan secara global dan jawaban benar akan diterima dalam 30 menit.
Perusahaan juga mampu membuat daya serap dan daya belajar karyawan sampai 100%.

3. Menurut kami perusahaan perlu menggunakan jejaring social karena saat ini sesuai dengan
perkembangan zaman yang diiringi dengan pesatnya teknologi. Selain itu untuk saat ini
hampir semua orang menggunakan jejaring social. Perusahaan juga bisa memanfaatkan
penggunaan jejaring social sebagai media publikasi secara resmi karena bisa meningkatkan
efektifitas dan efisiensi kerja pada perusahaan.

Anda mungkin juga menyukai