Anda di halaman 1dari 6

Penjelasan KTK/NTK

Reaksi tanah potensial ialah banyaknya kadar hidrogen dapat tukar baik yang terjerap oleh kompleks
koloid tanah maupun yang terdapat dalarn larutan.Tanah masam karena kandungan H+ yang tinggi dan
banyak ion AL3+ yang bersifat masam karena dengan air ion tersebut dapat menghasilkan H+.
Kapasitas pertukaran kation (KPK) dalam ilmu tanah diartikan sebagai kemampuan tanah untuk
menjerap dan menukar atau melepaskan kembali ke dalam larutan tanah. Di dalam tanah, komponen
yang mempunyai muatan adalah lempung dan bahan organik tanah (senyawa organik). Muatan negatif
lempung / bahan organik biasanya mengikat kation (ion bermuatan positif) yang ada disekitarnya (dalam
larutan tanah) sehingga terjadi reaksi elektronetralitas yang menghasilkan keseimbangan kimia. Secara
praktikal, pertukaran kation sangat penting dalam fisika tanah, kimia tanah, kesuburan tanah, retensi
hara dalam tanah, serapan hara oleh tanaman, pemupukan dan pengapuran. Secara umum kation yang
terjerap tersedia bagi tanaman melalui pertukaran kation dengan ion H yang dihasilkan oleh respirasi
akar-akar tanaman. Hara yang ditambahakan kedalam tanah dalam bentuk pupuk akan diretensi oleh
permukaan koloid
Besarnya KTK suatu tanah dapat ditentukan dengan menjenuhkan kompleks jerapan atau misel dengan
kation tertentu. Misalnya misel dijenuhkan dengan kation Ba2+ atau NH4+ yang bertujuan agar seluruh
kation yang terjerap dapat digantikan oleh ion Ba2+ atau NH4+. Dengan menghitung jumlah Ba2+ atau
NH4+ yang dapat menggantikan seluruh kation terjerap tadi, maka nilai tersebut adalah KTK tanah yang
ditentukan
Kation adalah ion bermuatan positif seperti Ca++, Mg+, K+, Na+, NH4+, H+, Al3+, dan sebagainya. Di
dalam tanah kation-kation tersebut terlarut di dalam air tanah atau dijerap oleh koloid-koloid tanah.
Banyaknya kation (dalam miliekivalen) yang dapat dijerap oleh tanah per satuan berat tanah (biasanya
per 100 g) dinamakan kapasitas tukar kation (KTK). Kation-kation yang telah dijerap oleh koloid-koloid
tersebut sukar tercuci oleh air gravitasi, tetapi dapat diganti oleh kation lain yang terdapat dalam
larutan tanah. Hal tersebut dinamakan pertukaran kation. Jenis-jenis kation yang telah disebutkan di
atas merupakan kation-kation yang umum ditemukan dalam kompleks jerapan tanah.(Rosmarkam dan
Yuwono, 2002)
Pada kebanyakan tanah ditemukan bahwa pertukaran kation berubah dengan berubahnya pH tanah.
Pada pH rendah, hanya muatan permanen liat, dan sebagian muatan koloid organik memegang ion yang
dapat digantikan melalui pertukaran kation. Dengan demikian KTK relatif rendah.(Harjowigeno, 2002)
Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa koloid organik memiliki luas permukaan jenis lebih besar
ketimbang koloid anorganik, hal ini juga berkaitan dengan jumlah kapasitas tukar kationnya. KTK yang
tinggi pada tanah gambut tidak baik bagi pertumbuhan dan hasil tanaman budidaya dikarenakan kation
yang dipertukarkan adalah asam-asam organik H+ dan ion hidroksil Al3+ dan Fe3+ sehingga akan
menjadi racun bagi tanaman. Lain halnya pada tanah mineral, KTK nya yang tinggi justru sangat
menguntungkan pada budidaya tanaman dikarenakan kation yang dipertukarkan adalah kation-kation
yang memang diperlukan bagi tanaman untuk pertumbuhan dan perkembangannya, seperti Na, Ca, Mg
dan K.

Penetapan basa-basa tukar (Na+, K+, Ca2+, dan Mg2+) dan Kapasitas Tukar Kation (KTK)

dapat dilakukan secara berurutan. Ekstraksi menggunakan prinsip pencucian unsur-unsur basa

oleh suatu garam dalam suatu kolom tanah (perkolasi). Ekstraksi pertama menggunakan garam

amonium asetat (CH3COO-NH4 atau NH4O Ac.) 1 N pH 7,0 akan mengenstrak semua kation-
kation basa. Simpan ekstrak tersebut untuk penetapan basa-basa tukar (EKSTRAK I).

Setelah ekstraksi pertama misel tanah dijenuhi oleh ion NH4+. Selain berada di misel

tanah, ion amonium juga menjenuhi larutan tanah. Untuk menghilangkan /membersihkan ion

amonium yang berada pada larutan tanah, maka kolom perkolasi harus dibilas dengan alkohol

99%. Ekstrak dengan alkohol, dapat dibuang karena tidak digunakan dalam penetapan
selanjutnya.

Setelah pencucian dengan alkohol dapat diyakini bahwa seluruh ion amonium hanya

berada pada permukaan misel tanah. Prinsip ini yang nantinya digunakan untuk penetapan KTK.

Ekstraksi dengan menggunakan KCL 0,1 N akan menggusur semua ion amonium yang ada pada

permukaan misel. Ion NH4+ digantikan posisinya oleh ion K+. Ekstraksi dengan KCl 0,1 N akan
digunakan dalam penetapan KTK (EKSTRAK II).
Hal yang perlu diperhatikan selama ekstraksi adalah jaga kolom perkolasi jangan sampai

mengering, artinya proses pencucian harus berjalan kontinyu (tanah selalu tergenang) untuk
mencegah terjadinga penguapan amonium.

Penetapan ion Na+ dan K+

Penetapan Na dan K menggunakan alat Flamefotometer dengan acuan deret standar masing-

masing unsur Na dan K. Penentuan kadar Na dan K dihitung berdasarkan pada interpolasi dari
garis hubungan (regesi) antara skala flamefotometer dengan standar Na dan K.

Bahan

Amonium Asetat (NH4OAc.) 1 N pH 7,0

Siapkan gelas beaker yang berisi sekitar 500 mL aquadest, tambahkan 57 mL asam asetat

(CH3COOH) glasial 99,5 % dan 70 mL amoniak bd. 0,90 jadikan volume hingga 1 liter.

Aduk (menggunakan stir magnetik) dan dinginkan. Atur pH larutan menjadi pH 7 dengan
memberikan amoniak (jika pH < 7) atau asam asetat (jika pH > 7)

Larutan Standar Na+ (100 ppm Na)

Timbang 0,1910 g KCl kemudian masukan kedalam labu ukur 1000 mL. Tambahkan aquades
dan tetapkan menjadi 1 L.

Larutan Standar K+ (100 ppm K)

Timbang 0,1910 g KCl kemudian masukan kedalam labu ukur 1000 mL. Tambahkan aquades
dan tetapkan menjadi 1 L.

Kapasitas tukar kation merupakan sifat kimia yang sangat erat hubungannya dengan kesuburan
tanah. Tanah dengan KTK tinggi mampu menjerat dan menyediakan unsur hara lebih baik
daripada tanah dengan KTK rendah. Tanah dengan KTK tinggi bila didominasi oleh kation basa,
Ca, Mg, K, Na (kejenuhan basa tinggi) dapat meningkatkan kesuburan tanah, tetapi bila
didominasi oleh kation asam, Al, H (kejenuhan basa rendah) dapat mengurangi kesuburan tanah.
Karena unsur-unsur hara terdapat dalam kompleks jerapan koloid maka unsur-unsur hara
tersebut tidak mudah hilang tercuci oleh air.KTK pada jenis tanah yang ada berbeda-beda,
dipengaruhi oleh faktor lingkungan setempat. KTK tanah pada umumnya digunakan sebagai
indikator pembeda pada proses klasifikasi tanah.

Besarnya KTK suatu tanah dapat ditentukan dengan menjenuhkan kompleks jerapan atau
misel dengan kation tertentu. Misalnya misel dijenuhkan dengan kation Ba2+ atau NH4+ yang
bertujuan agar seluruh kation yang terjerap dapat digantikan oleh ion Ba2+ atau NH4+. Dengan
menghitung jumlah Ba2+ atau NH4+ yang dapat menggantikan seluruh kation terjerap tadi, maka
nilai tersebut adalah KTK tanah yang ditentukan.

Koloid tanah (mineral liat dan humus) bermuatan negatif, sehingga


dapat menyerap kation-kation. Kation-kation dapat ditukar (dd) (Ca2+, Mg2+, K+
dan Na+) dalam kompleks jerapan tanah ditukar dengan kation NH4
+ dari
pengekstrak dan dapat diukur. Untuk penetapan kapasitas tukar kation (KTK)
tanah, kelebihan kation penukar dicuci dengan etanol 96%. NH4
+ yang terjerap
diganti dengan kation Na+ dari larutan NaCl, sehingga dapat diukur sebagai
KTK.
Kation-kation dapat ditukar (Ca2+, Mg2+, K+ dan Na+) ditetapkan
dengan SSA. NH4
+ (KTK) ditetapkan secara kolorimetri dengan metode Biru
Indofenol.

7.1 Dasar penetapan


Fosfat dalam suasana netral/alkalin, dalam tanah akan terikat sebagai
Ca, Mg-PO4. Pengekstrak NaHCO3 akan mengendapkan Ca, Mg-CO3 sehingga
PO4
3-dibebaskan ke dalam larutan. Pengekstrak ini juga dapat digunakan untuk
tanah masam. Fosfat pada tanah masam terikat sebagai Fe, Al-fosfat.
Penambahan pengekstrak NaHCO3 pH 8,5 menyebabkan terbentuknya Fe, Alhidroksida,
sehingga fosfat dibebaskan. Pengekstrak ini biasanya digunakan
untuk tanah ber-pH >5,5.

8.1. Dasar penetapan


Fosfat dalam suasana asam akan diikat sebagai senyawa Fe, Al-fosfat
yang sukar larut. NH4F yang terkandung dalam pengekstrak Bray akan
membentuk senyawa rangkai dengan Fe & Al dan membebaskan ion PO4
3-.
Pengekstrak ini biasanya digunakan pada tanah dengan pH <5,5.

Reaksi pertukaran kation juga melibatkan H+ sehingga istilah “PertukaranKation” le


bih tepat daripada “Pertukaran Basa”. Kation yang terjerap dapat ditukaroleh kation l
ainnya, dan proses ini dinamakan sebagai pertukaran
kation. Reaksipertukaran ini berlangsung secara instant (Anonim, 2011a).
Ca – Tanah + 2NH4+  (NH4)2 - Tanah + Ca2+
Jerapan dan pertukaran kation ini mempunyai arti penting di dalam serapan haraole
h tanaman, kesuburan tanah, retensi hara dan pemupukan. Kation
yang terjerapbiasanya tersedia untuk tanaman dengan menukarkannya dengan ion
H+ hasilrespirasi akar tanaman (Anonim, 2011a).

Kejenuhan basa adalah perbandingan antara kation basa dengan jumlah kation yang dapat
dipertukarkan pada koloid tanah. Kejenuhan basa mencerminkan perbandingan kation basa
dengan kation hidrogen dan alumunium. Berarti semakin kecil kejenuhan basa semakin masam
pulalah reaksi tanah atau pH-nya makin rendah. Kejenuhan basa 100% mencerminkan pH
tanah yang netral, kurang dari itu mengarah ke pH tanah masam, Sedangkan lebih dari itu
mengarah ke basa (Anonim, 2011b).
Kejenuhan basa adalah perbandingan dari jumlah kation basa yang ditukarkan dengan
kapasitas tukar kation yang dinyatakan dalam persen. Kejenuhan basa rendah berarti tanah
kemasaman tinggi dan kejenuhan basa mendekati 100% tanah bersifal alkalis. Tampaknya
terdapat hubungan yang positif antara kejenuhan basa dan pH. Akan tetapi hubungan tersebut
dapat dipengaruhi oleh sifat koloid dalam tanah dan kation-kation yang diserap. Tanah dengan
kejenuhan basa sama dan komposisi koloid berlainan, akan memberikan nilai pH tanah yang
berbeda. Hal ini disebabkan oleh perbedaan derajat disosiasi ion H+ yang diserap pada
permukaan koloid (Anonim, 2011b).
Basa-basa yang dapat dipertukarkan meliputi Ca, Mg, K, dan Na. Persentase
penjenuhan basa adalah persentase kapasitas pertukaran kation-kation itu (Anonim, 2011b).
Secara umum jika pH tinggi, kejenuhan basa akan tinggi. Kejenuhan basa yang rendah
berarti kandungan ion H yang tinggi. Kejenuhan basa biasanya dapat digunakan sebagai
indikasi kesuburan tanah. Tanah sangat subur àdalah derajat kejenuhan basa lebih dari 80%.
Tanah kesuburan sedang àdalah derajat kejenuhan basanya antara 50%-80%, tanah tidak
subur àdalah derajat kejenuhan basa kurang dari 50%. Pengapuran meningkatkan kejenuhan
basa (Anonim, 2011b).
Tanah dengan fraksi pasir tinggi, pencucian basa – basa terjadi lebih intensif
dibandingkna tanah bertekstur halus. Sebagai akibat hubungan tidak langsung, maka C
organik, kation dapat ditukar, Kapasitas Pertukaran Kation tanah yang mempunyai korelasi
positif sangat nyata dengan fraksi liat, juga berkorelasi positif sangat nyata dengan K potensial.
Kandungan basa – basa dapat ditukar yang renda, menunjukkan bahwa tanah telah mengalami
pencuciann lanjut dan bahan induk tanah tergolong miskin basa – basa dan unsur hara
(Anonim, 2011b).
Kejenuhan basa berhubungan erat dengan KPK tanah yaitu % Kejenuhanbasa =
[Jumlah Kation Tertukar (dlm me %) / KPK] x 100

Kapasitas pertukaran kation (KPK) dalam ilmu tanah diartikan sebagai kemampuan tanah
untuk menjerap dan menukar atau melepaskan kembali ke dalam larutan tanah. Di dalam
tanah, komponen yang mempunyai muatan adalah lempung dan bahan organik tanah (senyawa
organik). Muatan negatif lempung / bahan organik biasanya mengikat kation (ion bermuatan
positif) yang ada disekitarnya (dalam larutan tanah) sehingga terjadi reaksi elektronetralitas
yang menghasilkan keseimbangan kimia. Secara praktikal, pertukaran kation sangat penting
dalam fisika tanah, kimia tanah, kesuburan tanah, retensi hara dalam tanah, serapan hara
oleh tanaman, pemupukan dan pengapuran. Secara umum kation yang terjerap tersedia bagi
tanaman melalui pertukaran kation dengan ion H yang dihasilkan oleh respirasi akar-akar
tanaman. Hara yang ditambahakan kedalam tanah dalam bentuk pupuk akan diretensi oleh
permukaan koloid
Kation adalah ion bermuatan positif seperti Ca++, Mg+, K+, Na+, NH4+, H+, Al3+, dan
sebagainya. Di dalam tanah kation-kation tersebut terlarut di dalam air tanah atau dijerap
oleh koloid-koloid tanah. Banyaknya kation (dalam miliekivalen) yang dapat dijerap oleh
tanah per satuan berat tanah (biasanya per 100 g) dinamakan kapasitas tukar kation (KTK).
Kation-kation yang telah dijerap oleh koloid-koloid tersebut sukar tercuci oleh air gravitasi,
tetapi dapat diganti oleh kation lain yang terdapat dalam larutan tanah. Hal tersebut
dinamakan pertukaran kation. Jenis-jenis kation yang telah disebutkan di atas merupakan
kation-kation yang umum ditemukan dalam kompleks jerapan tanah.(Rosmarkam dan Yuwono,
2002)