Anda di halaman 1dari 8

BAB II

URAIAN MATERI KETAHANAN NASIONAL INDONESIA


DILIHAT DARI ASPEK PERTAHANAN

2.1. Pengertian ketahanan nasional


Secara antologi ketahanan nasional merupakan kondisi dinamik dari tata kehidupan
nasional yang amat menentukan kemampuan masyarakat bangsa di dalam menangkal atau
menghadapi berbagai ancaman,tantangan,hambatan dan gangguan (Sunardi, 2004 : 17).
Ketahanan merupakan suatu kekuatan yang membuat suatu bangsa dan negara harus bertahan
,kuat menghadapi ancaman,gangguan,hambatan dan tantangan.Secara konseptual ketahanan
nasional suatu bangsa dilatar belakangi oleh : (1).kekuatan apa yang ada pada suatu bangsa
dan negara sehingga negara itu mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya.(2).
Kekuatan apa yang harus dimiliki oleh suatu bangsa dan negara itu mampu mempertahankan
kelangsungan hidupnya meskipun mengalami berbagai gangguan,hambatan,ancaman baik
dari dalam maupun dari luar.(3). Ketahan atau kemampuan bangsa untuk tetap
jaya,mengandung makna keteraturan dan stabilitas,yang didalamnya terkandung potensi
untuk terjadinya perubahan(Usman dalam kaelan 2007;147).Sedangkan pertahanan adalah
kemampuan bangsa untuk membina dan menggunakan kekuatan nasional guna menghadapi
ataupun menagkal rongrongan,gangguan,ancaman maupun tekanan dari luar(Pramono;1995).
Ketahanan yang dimaksud disini adalah sebuah kekuatan yang membuat suatu bangsa
dan negara dapat bertahan,kuat menghadapi ancaman,gangguan serta hambatan dan
tantangan. Suatu ketahanan harus disertai dengan keuletan (usaha yang terus-menerus secara
giat dan berkemauan keras menggunakan segala kemampuan dalam mencapai tujuan
nasional. Tantangan adalah suatu usaha yang bersifat menggugah kemampuan. Ancaman
adalah sesuatu untuk mengubah kebijksanaan atau keadaan secara konsepsional dari sudut
criminal maupun politis, sedangkan Hambatan adalah suatu kendala yang bertujuan untuk
melemahkan yang berasal dari diri sendiri.
Dan apabila hambatan itu dating dari luar diri sendiri maka dapat dikatakan sebagai
gangguan (Kaelan & zubaidi,2007:148)
Sifat-sifat ketahanan nasional adalah :
a. Manunggal
b. Mawas ke dalam
c. Kewibawaan
d. Berubah menurut waktu
e. Tidak membenarkan sikap adu kekuasaan dana adu kekuatan
f. Percaya pada diri sendiri
g. Tidak tergantung pada pihak lain.
(Sumber : syahrial syarbani ; pendidikan Pancasila (implementasi nilai-nilai
karakter bangsa di perguruan tinggi negri) ,2012 : 294)

2.2. Ketahanan nasional jika dilihat dari aspek pertahanan


Ketahanan nasional jika dilihat dari aspek pertahanan adalah terciptanya keuletan dan
ketanggunaan bangsa dalam bela negara. Untuk mewujudkan menjadi tanggung jawab
seluruh rakyat dengan mengerahkan seluruh kekuatan dan potensi (ideology, politik,
ekonomi, dan sosial budaya, TNI dan Kepolisian) secara terpimpin, terintegrasi dan
terkoordinasi demi kesinambungan pembangunan nasional yang menjamin kelangsungan
hidup bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai UUD 1945 dan falsafah
Pancasila.

Pembinaan pertahanan dan keamanan didasari beberapa prinsip yang diyakini sebagai
kebenaran dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yaitu:

1. Pandangan bangsa Indonesia tentang perang dan damai. Bangsa Indonesia cinta damai
tetapi lebih cinta kemerdekaan. Cintai damai, berarti bangsa Indonesia ingin bersahabat
dengan seluruh bangsa dan negara, dan tidak menghendaki adanya sengketa bersenjata.
Bangsa Indonesia selalu berupaya menyelesaikan pertikaian nasional maupun
internasional dengan cara-cara damai. Namun demikian bangsa Indonesia lebih cinta
kemerdekaan dan kedaulatan negara kesatuan republik Indonesia. Perang adalah jalan
terakhir yang terpaksa di tempuh untuk mempertahankan ideology dan dasar negara
Pancasila, kemerdekaan dan kedaulatan negara Kesatuan Republik Indonesia serta
keutuhan bangsa.
2. Landasan ideal nilai-nilai Pancasila, landasan konstutisional UUD 1945, dan landasan
visional Wawasan Nusantara.
3. Keterpaduan, yang berarti segenap potensi dan kekuatan nasional. Dimana dalam hal
ketahanan dan keamanan bangsa dan negara setiap warga negara berhak dan wajib ikut
dalam usaha pembelaan negara yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran, tanggung
jawab kerelaan berkorban bagi bangsa dan negara serta semangat pantang menyerah.
Upaya pertahanan dan keamanan negara yang melibatkan segenap potensi dan kekuatan
nasional tersebut dirumuskan dalam Doktrin pertahanan dan keamanan negara.
4. Diselenggarakan dengan system pertahanan dan keamanan rakyat semesta
(Sishamkanrata). Dengan demikian penyelenggaraan pertahanan dan keamanan Negara
Kesatuan Republik Indonesia bersifat total, kerakyatan, dan kewilayahan. Pendayagunaan

2
potensi nasional dalam pertahanan dan keamanan negara dilakukan secara optimal dan
terkoordinasi untuk mewujudkan kekuatan dan kemampuan pertahanan dan keamanan
negara yang menyeimbangkan dan menyelerasikan kesehjahteraan dengan keamanan.
5. Segenap kekuatan dan kemampuan pertahanan dan keamanan rakyat semesta
diorganisasikan dalam satu wadah tunggal yang dinamakan Tentara Nasional Indonesia
(TNI) dan Kepolisian Republik Indonesia (POLRI). Pembangunan Angkatan Perang
Republik Indonesia (APRI) yang dimiliki jati diri sebagai tentara rakyat, tentara pejuang
dan tentara nasional tetap mengabdi kepada kepentingan bangsa dan Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
(Kaelan & Zubaidi,2007: 196-197)

Secara umum kekuatan pertahanan mencakup struktur kekuatan, tingkat


kemampuan dan gelar kekuatan. Berkenaan dengan kekuatan pertahanan di Indonesia
pembagian tugas dan fungsi TNI dan POLRI di atur secara jelas dan tegas. Pertahanan yang
difokuskan untuk menghadapi ancaman dari luar negri menjadi tanggung jawab TNI.
Sedangkan keamanan yang difokuskan untuk menghadapi ancaman dan gangguan dari dalam
negri menjadi tanggung jawab POLRI. Namun demikian kekuatan TNI dapat diminta untuk
menangani masalah keamanan dimana POLRI sudah tidak mampu lagi menangani ancaman.

Membangun kekuatan pertahan memerlukan pendekatan-pendekatan dan


strategi yang realistis. Bagi Indonesia pendekatan yang realistis pembangunan pertahanan
disesuaikan dengan konsep wawasan nusantara. Dalam konsepsi Wawasan Nusantara
pertahanan mengarah pada seluruh wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik
Indonesia(NKRI) meliputi daratan (termasuk pulau-pulau besar dan kecil), laut dan udara di
atasnya. Kekuatan pertahanan harus mampu mengantisipasi ancaman dari luar, yang
semangkin sulit di prediksi sebagai akibat perkembangan IPTEK di bidang persenjataan
militer.

2.3. Asas-asas dalam Ketahanan Nasional


Asas-asas ketahanan nasional Indonesia adalah tata laku yang didasari nilai-nilai yang
tersusun berlandaskan Pancasila, UUD 1945 dan Wawasan Nasional yang terdiri dari :
a. Asas Kesejahteraan dan Keamanan Kesejahteraan dan keamanan dapat dibedakan tetapi
tidak dapat dipisahkan dan merupakan kebutuhan manusia yang mendasar dan esensial,
baik sebagai perorangan maupun kelompok dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara.

3
b. Asas Komprehensif integral atau menyeluruh terpadu Ketahanan nasional
mencakupketahanan segenap aspek kehidupan bangsa secara utuh, menyeluruh dan
terpadu.
c. Asas mawas ke dalam dan mawas ke luar Sistem kehidupan nasionalmerupakan
perpaduan segenap aspek kehidupan bangsa yang saling berinteraksi. Mawas ke dalam
bertujuan menumbuhkan hakikat, sifat dan kondisi kehidupan nasional itu sendiri.
Mawasw ke luar bertujuan untuk dapat mengantisipasi dan ikut berperan serta
menghadapi dan mengatasi dampak lingkungan strategis luar negeri.
d. Asas kekeluargaan Mengandung keadilan, kearifan, kebersamaan, kesamaan, gotong
rotong, tenggang rasa dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara.

2.4. Sifat Ketahanan Nasional Indonesia :


a. Mandiri merupakan Ketahanan nasional bersifat percaya pada kemampuan dan
kekuatan sendiri dengan keuletan dan ketangguhan yang mengandung prinsip tidak
mudah menyerah serta bertumpu pada identitas, integritas dan kepribadian bangsa.
b. Dinamis adalah Ketahanan nasional tidaklah tetap melainkan dapat meningkat dan
atau menurun tergantung pada situasi dan kondisi bangsa dan negara serta kondisi
lingkungan strategisnya.
c. Wibawa Makin tinggi tingkat ketahanan nasional Indonesia makin tinggi pula nilai
kewibawaan nasional yang berarti makin tinggi tingkat daya tangkal yang dimiliki
bangsa dan negara Indonesia.
d. Konsultasi dan kerjasama Konsepsi ketahanan nasional Indonesia tidak
mengutamakan sikap konfrontatif dan antagonis, tidak mengandalkan kekuasaan dan
kekuatan fisik semata tetapi lebih pada sikap konsultatif dan kerjasama serta saling
menghargai dengan mengandalkan pada kekuatan moral dan kepribadian bangsa.

(http://chubhichubhi.blogspot.com/2011/04/pengertian-ketahanan-nasional-
indonesia.html)

2.5. Faktor yang mempengaruhi ketahanan nasional di bidang pertahanan


ialah :
a. Doktrin
b. Wawasan nasional
c. System hankam
d. Geografi
e. Manusia
f. Integrasi Angkatan Bersenjata dan Rakyat

4
g. Pendidikan Kewiraan
h. Materiil
i. Iptek
j. Manajemen
k. Pengaruh luar negeri
l. Kepimpinan

(http://riechihuhu.wordpress.com/2010/04/20/ketahanan-nasional/)

2.6. Keikutsertaan warga negara dalam bela negara


Dalam upaya bela negara terdapat dua bentuk bela negara yaitu bela negara
secara fisik yang berarti bahwa memanggul senjata dalam menghadapi musuh (secara militer)
dan bela negera secara nonfisik yang memiliki pengertian lebih sempit di banding bela negara
secara fisik.

A. Bela negara secara fisik


Menurut undang-undang No.3 Tahun 2002 tentang pertahanan negara, keikutsertaaan
warga negara dalam bela negara secara fisik dapat dilakukan dengan menjadi anggota Tentara
Nasional Indonesia (TNI) dan pelatihan dasar kemiliteran. Sekarang ini kepelatihan dasar
kemiliteran diselenggarakan melalui program rakyat terlatih (RATIH). Rakyat terlatih (Ratih)
terdiri dari beberapa unsur yaitu seperti Resimen Mahasiswa (Menwa), perlawanan rakyat
(Wanra), pertahanan sipil (Hansip), Mitra Babinsa, dan organisasi kemasyarakatan pemuda
(OKP) yang telah mengikuti pendidikan dasar militer dan lainnya. Rakyat terlatih memiliki
empat fungsi yaitu :
1. Ketertiban umum
2. Perlindungan masyarakat
3. Keamanan rakyat dan
4. Perlawanan rakyat
Tiga fungsi yang disebut pertama umumnya dilakukan pada masa damai atau pada
masa terjadinya bencana alam atau darurat sipil, dimana unsur-unsur rakyat terlatih
membantu pemerintah daerah dalam menangani keamanan dan ketertiban masyarakat,
sementara fungsi perlawanan rakyat dilakukan dalam keadaan darurat perang dimana rakyat
terlatih merupakan unsur bantuan tempur bagi pasukan reguler TNI dan terlibat langsung
dimedan perang.

Bila keadaan ekonomi memungkinkan dapat pula dipertimbangkan


kemungkinan untuk mengadakan wajib militer bagi warga negara yang memenuhi syarat
seperti yang dilakukan di banyak negara maju di barat. Mereka yang mengikuti pendidikan

5
dasar militer akan dijadikan cadangan Tentara Nasional Indonesia selama waktu tertentu.
Dalam keadaan darurat perang mereka dapat dimobilisasi dalam waktu singkat untuk tugas-
tugas tempur maupun tugas-tugas teritorial. Rekrutmen dalam bela negara secara fisik
dilakukan secara selektif,teratur dan berkesinambungan,penempatan tugas disesuaikan
dengan latar belakang pendidikan atau profesi mereka dalam kehidupan sipil misal ( dokter
ditempatkan di rumah sakit tentara,pengacara di dinas hukum dan sebagainya). Gagasan ini
bukanlah dimaksudkan sebagai upaya dalam militerisasi masyarakat sipil, tetapi
memperkenalkan “Dwifungsi sipil”. Maksudnya sebagai upaya sosialisasi “konsep bela
negara” dimana tugas keamanan negara bukanlah semata-mata tanggung jawab TNI , tetapi
adalah hak dan kewajiban seluruh warga negara Republik Indonesia.

(Sumber : Dwi Winarto; paradigma baru pendidikan kewarganegaraan,2006 : 151)

B. Bela Negara secara nonfisik


Bela negara tidak harus selalu memanggul senjata menghadapi musuh atau bela
secara militer. Menurut Undang-Undang No.3 Tahun 2002 keikutsertaan warga negara dalam
bela negara secara nonfisik dapat diselenggarakan melalui pendidikan kewarganegaraan dan
pengabdian sesuai profesi. Berdasarkan hal itu keterlibatan warga negara dalam bela negara
secara nonfisik dapat dilakukan dengan berbagai bentuk,sepanjang masa dan dalam segala
situasi,misalnya dengan cara :

a. Meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara,termasuk menghayati arti


demokrasi dengan menghargai perbedaan pendapat dan tidak memaksakan kehendak.
b. Menanamkan kecintaan terhadap tanah air, melalui pengabdian yang tulus kepada
masyarakat.
c. Berperan aktif dalam memejukan bangsa dan negara dengan berkarya nyata (bukan
retorika).
d. Meningkatkan kesadaran dan kepatuhan terhadap hukum/Undang-undang dan
menjunjung tinggi hak asasi manusia.
e. Pembekalan mental spiritual di kalangan masyarakat agar dapat menangkal pengaruh-
pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan norma-norma kehidupan bangsa
Indonesia dengan lebih bertaqwa kepada Allah SWT, melalui ibadah sesuai
agama/kepercayaan masing-masing.

Namun sampai saat ini belum ada undang-undang tersendiri yang mengatur mengenai
pendidikan kewarganegaraan,kepelatihan dasar kemiliteran secara wajib, dan pengabdian
sesuai dengan profesi sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang No.3 Tahun 2002,

6
apabila nantinya telah keluar undang-undang mengenai pendidikan kewarganegaraan,
kepelatihan dasar kemiliteran secara wajib, pengabdian sesuai dengan profesi maka akan
semangkin jelas bentuk keikut sertaan warga negara dalam upaya pembelaan negara.

(Sumber : Dwi Winarto; paradigma baru pendidikan kewarganegaraan,2006 : 152)

7
8