Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


James Denbow dalam (Sherrow, 2007:8) Afrika adalah salah satu benua
terbesar dan paling beragam di dunia, sehingga tidak heran jika beragam bangsa
berasal dari Afrika. Kisah masa lampau mengenai Afrika dimulai ketika Mesir
Kuno dan Nubia, merupakan peradaban tertua di dunia, hampir 2.000 tahun
sebelum Yunani dan Romawi Kuno.
Afrika sering dikenal sebagai “The Dark Continent”. Istilah yang disebut
oleh zaman Kolonial. Akan tetapi, pada zaman kuno, nama “Afrika” sudah
dikenal dan kemungkinan orang Roma yang pertama kali menggunakannya,
walaupun awalnya hanya untuk menunjukkan suatu wilayah tertentu di Pantai
Afrika Utara yang jadi daerah kekuasaanya (bekas Carthago dan sekitarnya).
Mereka menyebutnya Afri atau A Fricani, yang berasal dari nama salah satu suku
mayoritas penduduk setempat Aouriqha atau Afarica (Riyadi, 2016:1).
Afrika pada masa kuno atau biasa disebut Afrika kuno tidak lepas dari
peradaban yang mulai berkembang pada masa itu. Salah satunya adalah peradaban
Mesir kuno. Peninggalannya banyak terdapat di sepanjang Sungai Nil. Hal ini
menarik untuk dikaji secara mendalam terutama mengenai suatu peradaban yang
mengalami perkembangan dan melahirkan karya-karya besar seperti Mesir kuno.
Peradaban apapun baik Mesir kuno ataupun Mesopotamia, dan sebagainya
tidak lepas dari kondisi geografis yang mempengaruhi munculnya peradaban
tersebut. Pentingnya kondisi geografis misalnya seperti karunia sungai juga turut
berperan dan dipertimbangkan. Peradaban Mesir kuno menarik untuk dikaji untuk
mengetahui rahasia dibalik peradaban tinggi tersebut. Peradaban Mesir kuno salah
satunya adalah dalam hal arsitekturnya contohnya Piramida. Pembangunan
piramida Mesir menarik untuk dibahas sehingga dalam makalah ini kami akan
memaparkan bagaimana proses Mesir sampai memiliki peradaban yang kuat dan
tinggi. Akan tetapi, tidak hanya itu, perdaban Mesir kuno pasti memiliki arti
penting yang mendalam dan dalam hal ini patut untuk diapresiasi sebagai upaya
pelestarian warisan sejarah.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana kondisi geografis Mesir terkait Karunia Limpahan Sungai Nil?
2. Bagaimana kemajuan peradaban Mesir kuno terkait arsitektur piramida?
3. Bagaimana arti penting peradaban Mesir kuno sebagai warisan sejarah?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui kondisi geografis Mesir terkait Karunia Limpahan
Sungai Nil.
2. Untuk menjelaskan kemajuan peradaban Mesir kuno terkait arsitektur
piramida.
4. Untuk menjelaskan arti penting peradaban Mesir kuno sebagai warisan
sejarah.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kondisi Geografis Mesir terkait Karunia Limpahan Sungai Nil


Mesir Kuno memiliki karunia limpahan sungai, salah satunya yakni
Sungai Nil. Bagi Mesir Kuno, Sungai Niil memiliki peranan penting, yakni
bagaikan laut dan membentuk perekonomian bangsa Mesir. Secara keseluruhan,
Sungai Niil mengalir sepanjang 6400 km lebih dan terbentuk oleh dua sungai
besar yang menyatu, yaitu Niil Biru yang mata airnya di Eithopia dan Niil putih
yang bersumber di Uganda. Kedua sungai ini bersatu di Khartoum, kemudian
mengalir melalui lembah yang merupakan celah pada gurun dan menjadi Niil
yang sesungguhnya. Dari sini mengalirlah sungai yang terpadu sejauh 3040 km ke
utara menuju laut tengah. Sungai Niil memberikan kemakmuran kepada mereka
yang tinggal di sepanjang Sungai Nill. Selain itu, terdapat gurun di sekeliling
Sungai Niil yang mendatangkan keamanan bagi pemukiman warga (Casson, 1983:
29).

Peradaban Mesir terdapat dalam bentangan 1.200 km antara Riam pertama


dan laut ini yang disebut peradaban Mesir tumbuh dengan subur. Mesir terbagi
menjadi dua daerah dengan perbedaan jelas yaitu bagian dekat delta dikenal Mesir
hilir dan di bagian selatan (Mesir hulu). Tanah di Mesir hulu lebih dikenal lebih
gersang dan sungainya diapit oleh tebing suram. Mesir adalah “hadiah pemberian

2
sungai” menurut Herodotus. Tanpa adanya Sungai Nil ini maka, Mesir merupakan
negeri yang tandus. Orang-orang Mesir tidak perlu cemas akan kekurangan air
dikarenakan ketika musim hujan maka, sungai tersebut melimpah dan
menyegarkan kembali (Casson, 1983:30).
Peradaban Mesir Kuno berkembang selama kurang lebih tiga setengah
abad. Dimulai dengan univikasi awal kelompok yang ada di lembah Nil sekitar
3150 SM, peradaban ini secara tradisional dianggap berakhir pada sekitar 31 SM,
sewaktu kekairan Romawi awal menakhlukakan dan menyerap wilayah mesir
Ptolemi sebagai bagian provinsi Romawi. Walaupun hal ini bukanlah pendudukan
asli terhadap Mesir, periode kekuasaan Romawi menimbulkan suatu perubahan
politik dan agama secara bertahap di lembah nil yang secara efektif menandai
berakhirnya perkembangan peradaban independen mesir (Ashadi, 2016:49).
Mesir merupakan salah satu negeri tertua di kalangan negeri kuno yang
telah memiliki peradaban hingga menjadi suatu kebudayaan yang mengesankan.
Alam merupakan hal yang menguntungkan Mesir, seperti halnya peradaban kuno
orang Mesopotamia yang terdapat di dataran terbuka dalam usaha
mempertahankan diri satu sama lain. Akan tetapi, keadaan Mesir berbeda dengan
yang lainnya dikarenakan terdapat penghalang berupa gurun yang membatasi
lembah Nil dan mematahkan semangat para penyerbu. Pada masa Mesir Kuno
rakyat hidup dalam keadaan yang relatif tentram. (Casson, 1983: 11).
Suku-suku tersebar dan menggunakan sungai itu untuk menyatu menjadi
desa dan tidak saling berperang. Namun ada satu bencana tahunan yang harus
dihadapi suku-suku tersebut, yakni banjir tahunan akibat meluapnya sungai Nil.
Jika luapan tahunannya terlalu tinggi, maka aliran sungai yang meluas dapat
menimbulkan bencana, akan tetapi jika luapannya terlalu rendah, maka air
pemberi kehidupan tidak mencapai daerah pinggiran sehingga sedikitnya tanah
yang ditanami dan makanan tidak melimpah lagi yang akan menyebabkan
kelaparan. Desa-desa tersebut mulai bergotong royong untuk mengendalikan
banjir tahunan tersebut. Dari hal diatas, dapat kita ketahui bahwa gejala alam
Sungai Nil dapat menjadi bencana maupun berkah (Casson, 1983: 21).
Pengaruh musim yang tidak menentu kemudian menimbulkan pembagian
musiman (timbulnya organisasi sosial) karena perilaku sungai mempengaruhi

3
penentuan pembagian kerja. Pada musim kering, orang-orang Mesir memungut
panen dan mengambil hasilnya. Jika musim penggenangan maka, ladang-ladang
tergenang banjir sehingga orang-orang Mesir mengangkut batu untuk proyek
bangunan Firaun. Tidak hanya itu, kondisi tersebut kemudian membuat orang-
orang Mesir berpikir dengan mendirikan tanggul agar sungai tidak menggenangi
desa dan untuk keperluan irigasi. Waduk ini kemudian dimanfaatkan sebagai
saluran irigasi dan pembuatan sumur-sumur (Casson, 1983:31).
Sungai Nil merupakan penopang perekonomian Mesir. Sungai ini member
makan rakyat melalui negeri pertanian selain emas di tambang gurun sebelah
timur dan di Nubia. Segala kekayaan Mesir hampir didapatkan dari sungai. Hasil
dari keberlimpahan Mesir adalah gandum. Gandum adalah hasil panen yang
melimpah akibat pengaturan tanah yang baik. Di sisi lain, di delta daratan luas
juga dimanfaatkan untuk berternak. Peranan Sungai Nil sangat berpengaruh dan
penting terlihat juga dari jalur distribusi apapun yang mengandalkan angin untuk
melakukan akses transportasi (Casson, 1983:32-33).
Laporan paling tua mengenai layar adalah gambar pada pasu Mesir dari
zaman sekitar 3.200 tahun sebelum Masehi. Tukang perahu di Nil mepolopori
perkembangan perahu sungai. Orang-orang tersebut memiliki rakit gelagah untuk
memasuki saluran-saluran kecil serta kapal bargas besar sepanjang 60 meter untuk
mengangkut obelisk, selain itu mereka juga memiliki perahu pontoon untuk tugas
penyeberangan sehari-hari dan kapal pesiar megah untuk para pembesar. Hal ini
tidak lepas pula terkait peranan juru mudi awak perahu penyebrang di Sungai Nil
pada zaman Mesir kuno. Lalu lintas penyeberangan sungai ini sangatlah ramai dan
terdapat terusan dimana-mana sehingga diperlukan jasa tukang perahu (Casson,
1983:33).

Berdasarkan pemaparan tersebut, segala orang-orang Mesir mampu


bertahan dan mengelola sungai dan gurun dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan
pertanian, pelayaran, dan berbagai hal yang mampu membangkitkan orang-orang
Mesir dari kondisi geografis yang berat. Peradaban Bangsa Mesir sangat
mendasarkan pada kesuburan Sungai Nil. Bangsa Mesir telah menetap di Lembah
Nil dikarenakan melimpahnya air di sungai ini dan karena masyarakat Mesir

4
Kuno bisa mengolah tanah dengan persediaan air yang telah diberikan oleh sungai
yang tidak tergantung kepada musim hujan.
Ahli sejarah Ernest H Gombrich mengatakan dalam tulisannya bahwa
Afrika sangatlah panas dan terkadang tidak pernah sama sekali turun hujan selama
berbulan-bulan. Inilah sebabnya mengapa banyak daerah di benua yang besar ini
sangat luar biasa keringnya. Bagian-bagian dari benua ini tertutup oleh lautan
pasir yang sangat luas. Di kedua sisi Sungai Nil juga tertutup oleh pasir dan di
Mesir sendiripun jarang terjadi hujan. Namun di negeri ini hujan tidaklah terlalu
dibutuhkan karena Sungai Nil yang mengalir melintas ditengah-tengah seluruh
negara (Syamsudin, 1986:2-3).
Perekonomian juga menjadi titik utama dalam perkembangan peradaban
Mesir kuno. Tidak hanya itu, kepandaian orang-orang Mesir dalam menyesuaikan
kondisi geografis membuat perubahan yang besar pada masa itu. Segala kondisi
geografis dan tantangan alam menjadi kekuatan orang-orang Mesir kuno untuk
bangkit dan memulai segala hal baik dalam pertanian, dan sebagainya. Berbagai
keterampilan dalam mengelola alam telah di terapkan di Mesir kuno.

2.2 Kemajuan Peradaban Mesir Kuno terkait Arsitektur Piramida


Mesir kuno dapat dikatakan telah memiliki peradaban yang telah
berkemajuan. Hal ini terbukti atas seni yang dimiliki oleh Mesir kuno. Seni suatu
bangsa adalah pernyataan tentang apa yang mereka yakini dan mereka junjung
tinggi. Akan tetapi melalui sebuah seni seakan menunjukkan bahwa perjalanan
sejarah nasib sebuah bangsa. Orang-orang Mesir membangun karya besar dengan
peralatan yang sederhana. Catatan yang luar biasa terungkap seperti kuil-kuil
megah maupun karya-karya halus seperti gesper permata yang rumit (Casson,
1983:117).
Orang-orang Mesir kuno juga menganggap bahwa rumah atau tempat
tinggal merupakan sekadar tempat tinggal sementara sehingga, mereka lebih
menganggap makam lebih penting daripada rumah karena orang-orang Mesir
berharap makam adalah tempat menempuh masa abadi. Makam yang dibangun
orang-orang Mesir, hiasan, dan perlengkapannya menyajikan adannya harapan,

5
cita-cita, serta kesenian. Contohnya adalah tempat penguburan Fir’aun yang
menjadi tantangan bagi para arsitek Mesir (Casson, 1983:117).
Kuburan prasejarah ditutup dengan gundukan pasir atau tumpukan batu
agar jenazah tidak tampak dan sebagai petunjuk letak kuburan. Akan tetapi, angin
gurun yang kuat meniup pasir dan terdapat ancaman serigala. Hal ini kemudian,
pada zaman wangsa-wangsa orang Mesir belajar membuat mastaba, yaitu makam
yang bagian atasnya datar namun, sisinya miring, dan terbuat dari bata. Kata
“mastaba” dalam Bahasa Arab modern adalah bangku. Makam tersebut disebut
mastaba yang bentuknya menyerupai bangku di luar rumah orang-orang Mesir
(Casson, 1983:117).
Pada perkembangannya mastaba (lihat foto 2.1) menjadi menjadi sedikit
kompleks mulai dari menghias mastaba dengan pola geometrik dan juga di
dalamnya (di bawah tanah) terdapat kamar yang satu untuk jenazah dan yang satu
lagi untuk menyimpan barang-barang yang ditinggalkan orang yang meninggal
tersebut. Akan tetapi, lama kelamaan mustaba ini semakin besar ada beberapa
yang tingginya lima meter dan penataannya lebih berbeli-belit hingga ada
mastaba yang memiliki kamar sebanyak 30 buah. Pada wangsa ketiga, mulailah
pembangunan apapun dengan menggunakan batu secara keseluruhan. Piramida
tangga adalah sebutan dari piramida yang dibuat oleh Imhotep. Piramida tangga
(lihat foto 2.2) ini merupakan tumpukan enam mastaba dan batu yang
digunakannya berupa balok-balok kecil yang diletakkan menjadi satu seperti bata.

Foto 2.1 Mastaba


(sumber: http://looklex.com/egypt/photos/saqqara_faraoun01.jpg) diakses pada
tanggal 6 Februari 2018.

6
Foto 2.2 Piramida Tangga ciptaan Imhotep
(sumber: http://3.bp.blogspot.com/-
wW6lBMJn1V8/VTiDJJeLXYI/AAAAAAAAAB8/I_v-
twkoKrQ/s1600/Saqqara_pyramid%2Bof%2BDjoser.jpg) diakses pada tanggal 6 Februari
2018.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, Piramida didefinisikan


sebagai bangunan dari batu yang berbentuk limas (Poerwadarminta, 2006).
Piramid tangga ciptaan Imhotep ini merupakan monumen raksasa yang membuat
semua mastaba menjadi kecil. Ukuran kakinya adalah 124 kali 103 meter dan
tingginya 60 meter. Piramid ini memiliki kamar bawah tanah, pekarangan, dan
kuil kecil di luarnya. Semua hal dihias secara cermat, tiang batu gampingnya
diukir dengan pola tumbuh-tumbuhan, langit-langitnya diukir hingga menyerupai
atap dari balok kayu, dan dindingnya diukir hingga menyerupai tikar gelagah yang
biasanya digunakan menutupi dinding rumah orang Mesir (Casson, 1983:117-
118).
Pada perkembangannya, kemudian timbul beberapa gagasan dan kurang
dari dua abad kemudian penerus Imhotep telah mendirikan piramid-piramid.
Piramid ini berupa bangunan massif dari balok-balok batu besar yang ditata
menjulang menuju satu titik dengan kemiringan sebanding. Yan paling terkenal
adalah piramid-piramid di Gizeh sekarang. Piramid ini dahulu didirikan untuk
mengabadikan Khufu, Khafre, dan Menkaure (atau Cheops, Chephren, dan
Mycerinus) (lihat foto 2.3) yang memerintah sebagai Firaun Mesir pada masa
wangsa keempat (Casson, 1983:118).

7
Foto 2.3 Piramida di Gizeh (Khufu, Khafre, dan Menkaure)
(sumber: https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTGrbTkmZVwvF-
P8j5fwDFurmbS_mH_7BDNiJ8TO6WHo3fnCmiV6g diakses pada tanggal 9 Februari
2018)

Merancang bangunan piramid bagi orang Mesir merupakan suatu prestasi


daya imajinasi tinggi dan melaksanakannya merupakan suatu tindakan
kepahlawanan karena harus memotong batu karang dengan alat-alat sederhana
yang terbuat dari tembaga dan batu. Usaha orang-orang Mesir ini harus
memindahkan batu-batu yang kasar ke tempat tujuan dengan kekuatan otot karena
tidak memiliki alat (katrol). Keterampilan untuk membuat piramid adalah hal
yang luar biasa. Bangunan pertama di Gizeh yaitu piramid yang didirikan bagi
Khufu dan yang terbesar diantara ketiga piramid lainnya. Piramida ini menjulang
tinggi sekitar 135 meter, akan tetapi, puncak atau penutup luarnya masih ada.
Puncak dan penutupnya kemudian dikelupas oleh orang Mesir untuk dipasang
pada bangunan lain (Casson, 1983:118).
Perancangan atau pembangunan piramid pada zaman kerajaan lama,
piramid adalah rancangan makam seorang Firaun (penguasa). Hal ini menjadi
menarik ketika, para pembangun (arsitek) dikerahkan dengan cara setiap desa
mengirimkan sejumla pekerja ke penggalian, ke tempat pembangunan, dan
gudang kerajaan untuk mengeluarkan peralatan dan pakaian. Hal ini menjadi tugas
besar dan piramid besar ini dibangun untuk Khufu di Gizeh. Pembangunan ini
menggunakan lebih dari dua juta balok batu dengan berat sekitar 2,5 ton. Piramida
Khufu diselesaikan selama berlangsung 23 tahun sekitar tahun 2.600 sebelum
Masehi, padahal peralatan yang digunakan sangat sederhana, tanpa binatang
penghela, dan roda (Casson, 1983:129).
Piramida selain Khufu adalah Piramida Khafre. Piramid ini ukurannya
relatif sedikit lebih kecil. Piramid Khafre merupakan piramida terbesar kedua
setelah Khufu. Piramida ini merupakan makam Pharaoh Khafre, yang merupakan
putra dari Pharaoh Khufu. Tradisi dan budaya yang berkembang di Mesir adalah
penghormatan terhadap leluhur atau generasi sebelumnya harus dijalankan maka,
keturunan dari Firaun selanjutnya membuat piramida atau makam yang lebih kecil
dari orang tua atau leluhurnya. Mereka tidak boleh membuat bangunan yang lebih
besar dikarenakan akan dianggap tidak menghormati leluhur atau tradisi yang

8
berlaku. Piramida lain selain Khufu dan Khafre adalah Menkaure. Piramida
Menkaure merupakan piramida dengan ukuran terkecil yang merupakan makam
putra dari Pharaoh Khafre (Wijaya, 2011:758).
Piramid besar di Gizeh ini dibangun dengan menggunakan batu kapur.
Akan tetapi, beberapa balok batunya adalah Granit, dan hal ini tidak sembarang
untuk dipahat dan digergaji. Balok-balok tersebut juga diberi tanda atau semacam
dilukis. Kelompok pekerja dalam pembangunan piramid dibagi atas beberapa,
yaitu kelompok penggali (bawah) yang tugasnya mengukur dan merimbas bagian
yang kasar serta mengeraskan alat-alat tembagannya. Sekelompok pekerja galian
di atas berusaha memiringkan batu dan menurunkannya perlahan pada alat bantu
gelindingan kayu, sedangkan di ujung jalur landai, para pekerja menaikkan balok
batu ke eretan kayu kemudian kelompok pekerja menarik balok granit yang
beratnya 15 ton dari tempat penggalian ke perahu yang menunggu di Sungai Nil
ratusan meter jauhnya (Casson, 1983:131).
Membangun piramida pasti harus mempertimbangkan pijakan untuk
bangunan dasar makam. Kelompok pekerja kemudian memilih bukit karang kecil
yang menonjol di gurun sekelilingnya. Setelah itu, arsitek kemudian mengatur
kelompok pekerja untuk membuat jenjang-jenjang mirip tangga pada sisi bukit
yang tidak teratur. Teras berfungsi sebagai pondamen tempat semua balok batu
akan diletakkan sehingga permukaannya harus benar-benar datar agar seluruh
bangunan tidak ikut miring. Hal ini untuk menjamin pondasi datar maka,
pedoman yang digunakan adalah sistem parit yang berisi air untuk melihat sifat
datar (Casson, 1983:132).
Ahli sejarah Yunani, Herodotus tertipu dengan cerita yang dilebih-lebihkan
bahwa terdapat 10.000 orang untuk membangun piramid besar. Akan tetapi,
sebenarnya setiap saat hanya terdiri dari 4.000 pekerja. Pekerja ini memang
melakukan tugas yang sangat berat. Akan tetapi, beberapa kelompok merasa
senang memeras keringat bagi Raja, sehingga seperti apa yang dikatakan mandor,
mereka membanting tulang tanpa seorangpun keletihan dan kehausan. Pada
akhirnya mereka pulang dengan semangat, membawa roti, mabuk karena bir,
seolah-olah hari tersebut adalah perayaan indah bagi seorang dewa.
(Casson, 1983:136) menjelaskan piramida besar yang dibuat menerapkan
prinsip jalur menanjak yang bertingkat-tingkat sepanjang keempat lereng piramid,
yang tiga untuk naik, dan satu untuk turun. Rancangan bagian dalam piramid

9
(lihat gambar 2.1), meliputi dua kamar makam (1 dan 2), kamar terakhir (3) yang
dicapai lewat gang besar (4), dan diberi dua saluran angin (5 dan 6), setelah
lorong menanjak (7) disegel dengan sumbat batu, maka para pekerja di gang luar
turun lewat terowongan (8), lalu naik lewat lorong menurun (9).

Gambar 2.1 Rancangan Bagian Dalam Piramid


(sumber: buku Abad Besar Manusia Mesir Kuno (Casson, 1983:136)

Pada bagian dalam makam menunjukkan hal yang rumit dari segi
arsitekturnya. Orang Mesir telah menunjukkan arsitektur dan rancangan struktur
yang luar biasa. Contohnya pada gang besar, dibangun dengan langit-langit
berlapis yang diberi penguat, ruang raja dibangun dengan enam atap. Semula
Khufu merencanakan piramid yang agak kecil dengan kamar makam terletak jauh
dalam karang di dasar piramid. Akan tetapi, setelah pandangannya berkembang,
Khufu memperbesar dua kali dari rancangan pembangunannya dan tiap kali
meminta agar kamar makam diletakkan lebih tinggi di dalam piramid.

2.3 Arti Penting Peradaban Mesir Kuno sebagai Warisan Sejarah


Peradaban Afrika kuno tepatnya Mesir kuno memiliki arti yang sangat
penting. Arti penting tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
1. Bangsa Mesir memanfaatkan kesuburan Sungai Nil atau melimpahnya
air sungai Nil dengan baik, selain itu mampu mengelola gurun dengan
baik. Tantangan alam membuat orang-orang Mesir terus bertahan.
2. Masyarakat Mesir kuno bisa mengolah tanah dengan persediaan air
yang telah diberikan oleh sungai yang tidak tergantung kepada musim
hujan, mendirikan tanggul, dan keperluan irigasi.

10
3. Sungai Nil sebagai penopang perekonomian di Mesir, dikarenakan
lahan pertanian (Gandum), kemungkinan ekspor Gandum telah ada.
Tidak hanya dalam segi pertanian namun juga peternakan.
4. Orang-orang Mesir telah mengenal angkutan perairan dengan perahu
layar sehingga lalu lintas penyebrangan sungai sangat ramai.
5. Orang-orang Mesir kuno telah mengenal jala dengan alat yang
sederhana dan untuk memenuhi kebutuhan dengan mencari ikan
(profesi sebagai nelayan).
6. Peradaban Mesir kuno semakin berkembang pesat dengan adannya
teknik seni yang agung yaitu pembangunan piramida. Rancangan
membuat piramid tidak mudah dan tenaga rakyat untuk membangun
sebuah piramida besar sangat berat. Akan tetapi, seni yang agung
tersebut seakan membuktikan bahwa bangsa Mesir adalah bangsa yang
telah memiliki peradaban yang tinggi. Bahan pembuatan piramid yaitu
dengan memanfaatkan balok batu dan memanfaatkan berbagai endapan
dari Sungai Nil sehingga, rakyat semakin dipermudah dalam
pembangunan piramid untuk Raja.

Jika dilihat dan dikritisi secara mendalam, membangun piramid dengan


ketinggian yang luar biasa dapat dikatakan hebat. Orang-orang Mesir telah
memiliki teknik yang cerdik, sebagai salah satu contoh yaitu membuat pondasi
dasar makam dengan mengenal teknik sifat datar, kemiringan piramid yang sesuai
dan simetris, serta bagian dalam yang menunjukkan seni yang tinggi. Hal yang
menarik adalah rakyat pembangun piramid tidak pernah lelah dan kehausan
dikarenakan sikap senang dalam membangun piramid untuk raja serta sebagai hari
perayaan indah bagi seorang dewa.
Afrika sebagai harta karun yang terancam. Pernyataan ini sebagai tonggak
pentingnya pelestarian budaya afrika dan mungkin masih banyak peninggalan
sejarah yang belum terungkap. Selama beberapa dekade, sebagian pekerjaan
arkeologis di Afrika dilakukan oleh orang-orang Eropa atau Amerika. Akan tetapi,
kini juga banyak arkeolog Afrika yang belajar untuk menguak sejarah dan
melindungi warisan budaya mereka. Arkeolog Roderick McIntosh menambahkan
“Walaupun sedang mengalami krisis keuangan, beberapa negara Afrika memiliki

11
generasi kedua dari kalangan arkeolog yang sudah terlatih dengan baik” (Sherrow,
2007:58).

BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Peradaban Mesir kuno berlangsung berawal dari karunia Sungai Nil.
Orang-orang Mesir mampu bertahan dan mengelola sungai dan gurun dengan
baik. Teknik mengelola sungai membuat orang-orang Mesir mampu mengelola
pertanian dan memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Tidak hanya hal itu, Sungai
Nil juga dimanfaatkan sebagai lalu lintas pelayaran sungai untuk distribusi hasil
panen.
Kemajuan Mesir kuno juga terlihat dari seni yang agung. Salah satunya
adalah perancangan pembuatan piramid sebagai makam untuk raja (penguasa).
Piramida yang paling besar diantara lainnya yaitu Khufu. Seni yang dimiliki oleh
bangsa Mesir ini memang unik dikarenakan teknik yang digunakan untuk
membangun masih menggunakan alat yang sederhana. Tenaga rakyat juga
dikerahkan untuk membangun proyek seni yang besar ini. Hal ini menunjukkan
bahwa Mesir kuno telah memiliki peradaban yang tinggi.
Peradaban Mesir kuno pasti memiliki arti penting sebagai warisan sejarah.
Arti penting dari peradaban Mesir kuno ini sangat kompleks mulai dari kekuatan
orang-orang Mesir yang mampu bertahan dalam kondisi geografis yang sulit
sampai dengan kemampuan memanfaatkan alam yaitu Sungai Nil. Berdasarkan
kondisi alam sungai lahir peradaban dan seni yang agung sehingga karya besar
Mesir kuno patut untuk diapresiasi tinggi.

3.2 Saran
Makalah ini dapat dijadikan penambah pengetahuan tentang Arti Penting
Peradaban Mesir Kuno sebagai Warisan Sejarah. Harapannya, segala aset berharga
dari Mesir Kuno terus dijaga, dipertahankan dan terus dilestarikan agar sejarah
bangsa yang penting tidak akan terlupakan dalam sepanjang sejarah.

12
DAFTAR RUJUKAN

Ashadi. 2016. Peradaban dan Arsitektur Dunia Kuno: Sumeria-Mesir-India.


Jakarta: Arsitektur UMJ Press.
Casson, Lionel. 1983. Abad Besar Manusia Mesir Kuno. Jakarta: PT Tira Pustaka.
Helius, Syamsudin. 1986. Buku Materi Pokok Sejarah Dunia. Jakarta: Universitas
Terbuka.
Poerwadarminta, W.J.S. 2006. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai
Pustaka.
Riyadi. 2016. Sejarah Afrika Dari Masa Kuno sampai Modern. Surabaya:
UNESA PRESS.
Sherrow, Victoria. 2007. Arkeologi Menguak Rahasia Masa Lampau Afrika Kuno.
Washington D.C: National Geographic.
Wijaya, Hanny. 2011. Humaniora, (Online), 2 (1): 754-763. (http://research-
dashboard.binus.ac.id) diakses pada tanggal 9 Februari 2018.

13