Anda di halaman 1dari 5

Nama : Lisma Dianita

Jurusan : Bimbingan dan Konseling


Mata Kuliah : Teknik Konseling I
Nama Dosen : Dr. Syahniar, M. Pd,. Kons.
Drs. H. Azrul Said, M. Pd,. Kons.
Indah Sukmawati, S. Pd,. M. Pd., Kons.

Linda Putri, S. Pd,. M. Pd,. Kons.

Pertanyaan Terbuka, Sambung Menyambung Pembicaraan, Keruntutan dalam


Konseling

A. Pertanyaan Terbuka
Guna menggali (eksplorasi) masalah yang dialami klien dalam konseling adalah dengan
cara bertanya.
Menurut Yeni (1999: 63) fungsi utama dari penggunaan pertanyaan terbuka adalah agar
klien dapat berbicara secara lebih bebas dan terbuka. Sebaliknya penggunaan pertanyaan
tertutup akan mendapatkan respon-respon pendek dan informasi tidak lengkap.
Dan fungsi lain dari pertanyaan terbuka yaitu:
1. Melalaui pertanyaan terbuka, konselor dapar membawa proses konseling ke arah
pembicaraan hal-hal yang lebih khusus berkenaan dengan apa yang dialami ,
dirasakan, dipikirkan dan yang diyakini klien.
2. Melalui penggunaan pertanyaan terbuka dapat diungkapkan hal-hal yang
menjadipusat perhatian dan isu-isu tentang klien.
3. Menemukan bagian-bagian penting tentang topik yang disampaikan klien.
4. Kemampuan untuk membuka atau menutup pembicaraan mengenai kebutuhan
individu dan pewawancara (konselor)
Adapun beberapa alasan pentingnya digunakna pertanyaan terbuka dalam konseling,
yaitu:
1. Agar klien dapat mengungkapkan permasalahan yang dialaminya secara panjang
lebar.
2. Agar konselor dapat mendalami masalah yang sedang dialami oleh kien
3. Konselor akan lebih mengetahui secara mendalam siapa kliennya
4. Agar arah pembicaraan lebih terpusat pada masalah klien.
Beberapa keuntungan dari penggunaan pertanyaan terbuka, sebagai berikut:
1. Membantu konselor untuk memulai atau membuka wawancara konseling
2. Pertanyaan terbuka membantu memperluas dan memperkaya isis wawancara
3. Pertanyaan yang diajukan konselor dapat membantu membuka hal-hal yang bersifat
umum ke ha-hal yang bersifat khusus dan konkrit.
4. Pertanyaan diperlukan konseor dalam upaya mendiagnosis dan memberkan penilaian
tentang masalah.
Menurut Winkel (1991) apabila konselor menggunakan pertanyaan terbuka berarti
konselor memberikan kesempatan kepada klien untuk menanggapi secara luas dan
memberikan ulasan yang lebih panjang dan terurai, sehingga jawaban klien tidak hanya
satu atau dua karta saja.
B. Sambung Menyambung Pembicaraan
Pebicaraan konselor dan klien harus salin menyambung karena untuk dapat melakukan
konseling dengan baik diperlukan pertanyaan yang menyambung gutan berentasnya
masalah yang dihadapi klien dan proses konseling akan berjalan dengan efisien. Jika
dalam konseling tidak terjadi sambung menyambung pembicaraan maka pembicaraan
antara konselor dengan klien tidak akan menyambung, pembicaraanpun akan kaku dan
masalah yang dihadapi klien tidak akan terentasnya dengan baik, sehingga konseling
tidak berjalan dengan efisien (Abimanyu dan Marinhu: 1996).
Bertanya dengan menggunakan pertanyaan terbuka secara sambung menyambung, kunci
apa? Mengapa? Kapan? Bagaimana? (http://penyiarsangkafm.blogspot.co.id/).
C. Keruntutan dalam Konseling
Menurut Yeni (1999: 63) keruntutan mengandung makna adanya kaitan antara satu pokok
pembicaraan terdahulu dengan pokok pembicaraan berikutnya. Ini berarti adanya
sambung menyambung antara apa yang dibahas dengan pertanyaan konselorlanjutan.
Lawan dari dari keruntutan ini adalah melompat, yaitu pindah dari satu pokok
pembicaraan ke satu pokok pembicaraan lain tanpa ada ketuntasannya.
Konselor harus dapat menangkap inti respon klien sebelum konselor mengajukan
pertanyaan terbuka berikutnya guna mendalami pernyataan klien tersebut lebih lanjut.
Pembicaraan yang runtut akan dapat membawa konselor pada penemuan sumber dan inti
permasalahan yang dialami oleh klien.
Untuk dapat melakukan keruntutan, konselor dapat memperhatikan tiga hal, yaitu:
1. Konselor mengikuti pernyataan klien,
2. Konselor manangkap dari hal-hal penting dari pernyataan klien tersebut,
3. Hal penting tersebut ditanyakan konselor guna mendalami persoalan itu lebih lanjut.
Agar konselor dapat mengajukan pertanyaan yang runtut diupayakan dalam bentuk:
1. Melatih diri secara terus menerus,
2. Mampu berpikir secara baik, dan tentu saja memerlukan kecerdasan, dan
3. Adanya rasa percaya diri.
Kepustakaan

Abimanyu, S., & Manrihu, M. (1996). Tehnik dan Laboratorium Konseling. Jakarta.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Yeni Karneli 1999, Tehnik dan Laborotarium (Diktat), DIP Universitas Negeri Padang .