Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mengkonsumsi suplemen sudah menjadi gaya hidup modern tanpa
mengenal batas usia. Suplemen tidak diperlukan selama yang bersangkutan
menerapkan pola gizi seimbang. Suplemen hanya diperlukan oleh orang
berusia lanjut dan orang sakit, kurang gizi, pekerja berat atau yang memiliki
kelianan tertentu, seperti kelainan darah atau dalam metabolisme. (Hidayah,
2012)
Dewasa ini banyak jenis obat yang mengandung zat besi yang
ditawarkan oleh tenaga kesehatan, beberapa contoh seperti sangobion,
etabion, dan farmobion. Akhir-akhir ini banyak sekali suplemen zat besi yang
mengandung bahan bahan kimia berbahaya. (Hidayah, 2012)
Kualitas suplemen dapat diuji dengan metode kolorimetri. Kolorimetri
dikaitkan dengan penetapan konsentrasi suatu zat dengan mengukur
absorbansi relative cahaya sehubungan dengan konsentrasi zat tersebut.
Metode ini memberikan cara sederhana untuk menentukan kuantitas yang
sangat kecil. Maka dari itu untuk mengetahui kandungan besi dalam suplemen
zat besi dilakukan percobaan penentuan besi ( Kwenang, A. D, 2005)

1.2 Tujuan Praktikum


1) Memahami prinsip pengujian kolorimetri pada penentuan besi.
2) Menentukan kandungan besi pada sampel suplemen zat besi.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Suplemen Zat Besi


Zat besi adalah jenis mineral penting dan memiliki berbagai peranan
utama di dalam metabolisme tubuh. Salah satunya,tubuh membutuhkan zat
besi untuk menciptakan sel darah merah atau hemoglobin. Hemoglobin
bertugas menyebarkan oksigen ke seluruh tubuh. (Almatsier, 2002)

2.2 Zat Besi


Zat besi adalah suatu zat dalam tubuh manusia yang erat dengan
ketersediaan jumlah darah yang diperlukan. Dalam tubuh manusia zat besi
memiliki fungsi yang sangat penting, yaitu untuk mengangkut oksigen dari
paru-paru ke jaringan dan mengangkut electron di dalam proses pembentukan
energi di dalam sel. Untuk mengangkut oksigen, zat besi harus bergabung
dengan protein membentuk hemoglobin di dalam sel darah merah dan
myoglobin di dalam serabut otot. Bila bergabung dengan protein di dalam sel
zat besi membentuk enzim yang berperan di dalam pembentukan energi di
dalam sel. (Wirakusumah, 1998)

2.3 Kolorimetri
Kolorimetri adalah suatu teknik analisis kuantitatif untuk sampel
berwarna yang digunakan untuk menentukan konsentrasi suatu zat dengan
cara membandingkan intensitas cahaya dari warna larutan sampel dengan
larutan standar. Prinsip analisis kolorimetri pada penentuan besi yaitu dengan
mereaksikan ion besi (III) dengan reagen tertentu sehingga membentuk
senyawa berwarna dan warna yang terbentuk dibandingkan dengan warna seri
larutan standar Fe3+ dan akan diperoleh konsentrasi besi dalam sampel
tersebut. Besi (III) Fe3+ dapat membentuk larutan berwarna merah darah
dengan ion tiosianat, dimana Fe3+ bertindak sebagai ion pusat sedangkan ion
tiosianat ssebagai ligan.
Reaksi yang terjadi sebagai berikut:
Fe3+ (aq) + SCN- (aq) [FeSCN]2+ (aq)

2
Senyawa berwarna dalam percobaan ini disebut senyawa komplek.
Metode kolorimetri mengukur warna suatu zat sebagai perbandingan. Salah
satu alat yang digunakan untuk mengukur perbandingan warna yang tampak
adalah kolorimeter. Kolorimetri memiliki berbagi macam metode . Diantaranya,
kolorimetri terbagi atas 2 metoda, yaitu kolorimetri visual, menggunakan mata
sebagai detektor. Fotometri, menggunakan fotosel sebagai detektornya.
(Situmorang. 2012)

2.4 Senyawa Kompleks


Senyawa koordinasi/senyawa kompleks adalah senyawa yang
terbentuk melalui ikatan koordinasi, yakni ikatan kovalen koordinasi antara
ion/atom pusat dengan ligan (gugus pelindung). Ikatan kovalen koordinasi
yang terjadi merupakan ikatan kovalen (terdapat pasangan elektron yang
digunakan bersama) di mana pasangan elektron yang digunakan bersama
berasal dari salah satu atom. pemberi pasangan elektron sehingga dapat
disebut sebagai basa Lewis. Senyawa tersebut akan memperlihatkan warna
komplementer. (Chang, 2003)
Warna itu biasanya disebabkan oleh pembentukan suatu senyawa
berwarna senyawa kompleks dengan ditambahkannya reagensia yang tepat
atau warna itu dapat melekat dalam penyusun yang diinginkan itu sendiri.
intensitas warna kemudian dapat dibandingkan dengan yang di peroleh
dengan menangani kuantitas yang di ketahui dari zat itu dengan cara sama.
(Basset, 1994)

3
BAB III
METODOLOGI

3. 1 ALAT
1. Neraca analitik
2. Sendok sungu
3. Pipet ukur 25 mL
4. Pipet ukur 10 mL
5. Pro pipet
6. Gelas beaker 100 mL
7. Labu ukur 1 L
8. Labu ukur 100 mL
9. Labu ukur 25 mL
10. Labu ukur 250 mL
11. Tabung reaksi besar
12. Pengaduk gelas
13. Magnetic stirrer
14. Mortar

3. 2 BAHAN
1. Ammonium besi (III) sulfat NH4Fe(SO4)2.12H2O
2. Asam sulfat pekat
3. Larutan KCNS 10 %
4. Akuades
5. Sampel suplemen zat besi
6. Larutan KMnO4 0,1 M

3. 3 PROSEDUR KERJA
1. Pembuatan Larutan Standar Fe3+
1) Ammonium besi (III) sulfat NH4Fe(SO4)2.12H2O ditimbang sebanyak 0,86
g dengan menggunakan gelas beaker 100 mL.
2) Asam sulfat pekat ditambahkan sebanyak 20 mL dan larutan diaduk
menggunakan pengaduk gelas.

4
3) Larutan dimasukkan ke dalam labu ukur 250 mL dan diencerkan sampai
tanda batas. Maka akan diperoleh larutan Fe3+ dengan konsentrasi 100
ppm.
4) Larutan Fe3+ 100 ppm dipipet 10 mL dan dimasukkan ke dalam labu ukur
100 mL kemudian larutan diencerkan sampai tanda batas. Maka akan
diperoleh larutan standar Fe3+ dengan konsentrasi 10 ppm.
5) Labu ukur 25 mL disiapkan sebanyak 7 buah, kemudian larutan Fe3+
dimasukkan sebanyak 1, 2, 4, 6, 8, 10, dan 12 mL ke dalam masing-
masing labu ukur.
6) Larutan KCNS 10 % ditambahkan sebanyak 5 mL ke masing masing labu
ukur (menggunakan pipet ukur 25 mL) dan diencerkan larutan sampai
tanda batas. Konsentrasi Fe3+ masing- masing labu ukur dihitung (ppm).
7) Larutan standar seri dimasukkan ke dalam tabung reaksi besar dan diberi
label.

2. Preparasi Sampel
1) Kapsul suplemen zat besi diambil isinya kemudian digerus sampai
deperoleh butiran halus.
2) Isi kapsul ditimbang menggunakan gelas beaker dan massanya dicatat
hingga 3 digit dibelakang koma.
3) Asam sulfat 1 M ditambahkan sebanyak 20 mL, dilarutkan menggunkan
magnetic stirrer.
4) Larutan kalium permanganate 0,1 M ditambahkan tetes demi tetes
menggunakan buret sampai timbul warna ungu muda. Pemanasan
dilakukan jika perlu.
5) Larutan tersebut dimasukkan ke dalam labu ukur 250 mL dan diencerkan
sampai tanda batas.
6) Larutan sampel diambil sebanyak 5 mL dan dimasukkan ke dalam labu
ukur 100 mL, larutan diencerkan sampai tanda batas.

5
3. Penentuan Konstanta Besi dalam Sampel.
1) Larutan sampel dipipet sebanyak 10 mL dan dimasukkan ke dalam labu
ukur 25 mL.
2) Larutan KCNS 10 % ditambahkan sebanyak 5 mL dan diencerkan sampai
tanda batas.
3) Warna yang terbentuk dibandingkan dengan warna dari seri larutan
standar.
4) Konsentrasi perkiraan besi dalam sampel ditentukan dalam satuan %.

6
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Penentuan Kandungan Besi


Percobaan ini dilakukan dengan metode kolorimetri, yaitu dengan
mengamati perubahan warna pada larutan standar Fe3+ dan membandingkan
larutan tersebut dengan menggunakan media mata. Langkahnya adalah
dengan cara mereaksikan ion besi (III) dengan ion tiosianat. Reaksi yang terjadi
sebagai berikut :
Fe3+ (aq) + SCN- (aq) [FeSCN]2+ (aq)
Sedangkan reaksi oksidasi Fe2+ menjadi 3+ dengan kalium permanganat
sebagai oksidator :
Oksidasi : Fe2+ (aq) Fe3+ (aq) + e
Reduksi : MnO4- (aq) + 8H+ + 5e Mn2+ (aq) + 4H2O (l)
5Fe2+ (aq) + MnO4- (aq) + 8H+ (aq) 5Fe3+ (aq) + Mn2+ (aq) + 4H2O (l)
Hasil yang kami dapatkan saat mengamati dan menghitung konsentrasi
larutan standar seri Fe3+ dapat dilihat dalam gambar 4.1 dan tabel 4.1

.
Gambar 4.1 Hasil Uji Kualitatif

7
Tabel 4.1 Hasil Uji Kuantitatif Konsentrasi Larutan Standar Seri Fe3+
Volume Volume Volume Konsentrasi
Larutan Fe3+ Larutan KCNS Akuades Larutan Standar Warna
10 ppm (mL) 10 % (mL) (mL) Seri Fe3+ (ppm)
1 5 19 0,4 Orange seulas
2 5 18 0,8 Orange seulas
pekat
4 5 16 1,6 Merah bata
terang
6 5 14 2,4 Merah gelap
8 5 12 3,2 Merah bata
sedikit pekat
10 5 10 4,0 Merah bata
semakin pekat
12 5 8 4,8 Merah bata
sangat pekat

Berdasarkan data pengamatan yang kami peroleh, dapat dihitung kadar besi dalam
sampel suplemen yang kami gunakan sebagai berikut:
1. Pembuatan Larutan Induk Fe3+ 100 ppm dari (NH4Fe(SO4)2.12H2O)
Konsentrasi larutan induk Fe3+ = 100 ppm = 100 mg/L
Massa Fe3+ yang dibutuhkan/L = 100 mg
Massa NH4Fe(SO4)2.12H2O yang harus ditimbang/L:
BM NH4 Fe(SO4 )2 .12H2 O x 100 mg
=
1 x Ar Fe
482,19 mg/mmol x 100 mg
=
1 x 56 mg/mmol
= 861,05 mg
Massa NH4Fe(SO4)2.12H2O yang harus ditimbang/250 mL = 215,2625 mg

8
2. Pembuatan Larutan Standar Seri
Pembuatan larutan standar 10 ppm dari larutan induk 100 ppm sebanyak 100 mL
(pengenceran)
V1 x C1 = V2 x C2
1 mL Fe3+ 10 ppm 25 mL
V1 x C1 = V2 x C2
1 mL x 10 ppm = 25 mL x C2
10 ppm
C2 =
25
C2 = 0,4 ppm

3. Konsentrasi larutan standar seri Fe3+ (ppm) dihitung dengan menggunakan


rumus pengenceran.
Preparasi sampel
Pengamatan saat oksidasi sampel dengan
Massa Tablet (mg)
larutan KMnO4 0,1 M
407,3 Larutan berwarna merah muda cepat hilang

4. Penentuan Konsentrasi Besi dalam Sampel


C1 = 1,6 ppm = 1,6 mg/L
C1 = konsentrasi besi dalam sampel (dilihat dari kesesuaian warna antara
sampel dengan standar)
C1 x FP x Vtotal
Kadar besi dalam sampel (%) = x 100%
w
1,6 mg/L x 50 x 0,25L
= x 100%
407,3 mg
20
= x 100%
407,3
= 4,91 %
Kadar besi dalam sampel (mg) = C1 x FP x Vtotal
= 1,6 mg/L x 50 x 0,25 L
= 20 mg

9
Larutan sampel sebanyak 10 mL yang ketika tambahkan 5 mL KCNS 10 % dan
akuades hingga tanda batas berwarna merah bata terang sama dengan larutan Fe3+
10 ppm sebanyak 4 mL dengan kadar konsentrasi larutan standar seri Fe3+ sebesar
1,6 ppm. Kadar besi yang terkandung dalam larutan sampel yang digunakan
sebesar 20 mg. Sedangkan kadar besi yang tertera dalam komposisi suplemen zat
besi adalah 31,239 mg. Hal ini dapat disebabkan karena volume larutan kurang
tepat, pembacaan tidak teliti, ukuran labu ukur tidak rata dan seimbang, kesalahan
bahan (sampel zat besi di laboratorium sudah lama dan kadaluarsa) dan masih
terdapat ion pengotor.

10
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum dan analisis data didapat kesimpulan, yaitu :
prinsip pengujian kolorimetri adalah dengan mereaksikan ion besi (III) dengan
reagen tertentu sehingga membentuk senyawa berwarna dan warna yang
terbentuk dibandingkan dengan warna seri larutan standar Fe3+ dan sampel
suplemen zat besi yang kami gunakan mengandung zat besi sebesar 20 mg.

5.2 Saran
Praktikum ini diharapkan lebih berhati–hati dalam menggunakan
peralatan gelas, pembacaan volume larutan harus teliti, pembacaan massa
sampel tiga angka di belakang koma, dan harus mengutamakan keselamatan
kerja dalam melakukan praktikum di laboratorium.

11
DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S. 2002. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama

Istiningrum, Reni Banowati., S.Si. 2013. Panduan Praktikum Kimia Anorganik II.
Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia

Basset, J, Denney, R. C., Jeffrey, G. H., dan Mendham, J. 1994. Kimia Analisis
Kuantitatif Anorganik. Kedokteran EGC, Jakarta

Chang Raymond. 2003. Kimia Dasar Edisi ketiga. Jakarta: Erlangga

Hidayah, Wiwit dan Tri Anasari. 2012. Jurnal Ilmiah Kebidanan Vol. 3. Akademi
Kebidanan YLPP Purwokerto

Kwenang, A. D. 2005. “Penuntun / Laporan Biokomia Ners B”. Bagian Biokimia, FK-
UNHAS. Makassar.

Svehla G. 1985. VOGEL. Jakarta : PT Kalman Media Pustaka

Situmorang, M., Silitonga, F.M., Nurwahyuni, I., Siregar, L.S., dan Purba, R. 2012.
Pengembangan Metode Analisis Spektrofotometri Untuk Penentuan Kolest

12
LAMPIRAN

Gambar 1. Larutan Seri Standar

Gambar 2. Perbandingan Warna Larutan Sampel dengan Larutan Seri Standar

13
Gambar 2. Larutan Sampel

14
PROSEDUR KERJA

1. Pembuatan Larutan Standar Fe3+

0,86 gram Ammonium besi (III) sulfat

- Ditimbang
- Ditambahkan 20 mL asam sulfat pekat dan
diaduk
- Dipindahkan larutan ke labu ukur 1 L dan
diencerkan sampai tanda batas

Larutan Fe3+ konsentrasi 100 ppm

- Diambil 10 mL larutan
- Dimasukkan ke labu ukur 100 mL dan
diencerkan sampai tanda batas.

Larutan Fe3+ konsentrasi 10 ppm

- Diambil 1, 2, 4, 6, 8, 10, dan 12 mL larutan


- Dimasukkan ke dalam 7 labu ukur
berukuran 25 mL
- Ditambahkan 5 mL larutan KCNS 10 % ke
masing-masing labu ukur
- Diencerkan sampai tanda batas
- Dihitung konsentrasi Fe3+ masing-masing
labu ukur

Larutan standar Fe3+

2. Preparasi Sampel

15
Kapsul suplemen zat besi

- Diambil isinya dan digerus


- Ditimbang
- Ditambahkan 20 mL H2SO4 dan dilarutkan
dengan magnetic strirrer
- Ditambahkan tetes demi tetes larutan
KMnO4 0,1 M menggunakan buret sampai
timbul warna ungu muda
- Dimasukkan larutan ke dalam labu ukur 250
mL
- Diencerkan sampai tanda batas

Larutan sampel

- Diambil 5 mL larutan
- Dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL
- Diencerkan sampai tanda batas.

Larutan sampel

3. Penentuan Konsentrasi Besi dalam Sampel

16
Larutan sampel

- Dipipet 10 mL
- Dimasukkan dalam labu ukur 25 mL
- Ditambahkan 5 mL larutan KCNS 10 %
- Ditambahkan akuades sampai tanda batas
- Dibandingkan warna yang terbentuk
dengan warna seri larutan standar
- Ditentukan konsentrasi perkiraan besi
dalam sampel (satuan %)

Konsentrasi besi dalam sampel

17