Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

TUGAS FORMULASI DASAR I SEDIAAN SEMISOLIDA


Untuk memenuhi tugas mata kuliah Formulasi Dasar 1
yang diampu oleh Ibu Ika Ratna Hidayati., S.Farm., M.Sc., Apt.

Disusun oleh :

Silvia Nabila A. W. (007)


Moh. Wahyu Abidin (037)
Juniarti (043)
Intan Nabila (044)
Nur Aisha Diani (048)

Program Studi Farmasi


Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Malang
2016
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
tugas formulasi dasar I sediaan semisolida.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun
menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih


banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan
kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Malang, 14 Maret 2016

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................................................... ii

DAFTAR ISI.............................................................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................................. 1

Latar Belakang..................................................................................................................................... 1

Rumusan Masalah ............................................................................................................................... 2

Tujuan Masalah ................................................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN............................................................................................................................... 3

Derajat/tingkat kekentalan ................................................................................................................. 3

Kemudahan untuk mengalir.............................................................................................................. 12

Kemampuan untuk melekat dikulit................................................................................................... 14

BAB III PENUTUP ................................................................................................................................... 15

Kesimpulan........................................................................................................................................ 15

DAFTAR RUJUKAN ................................................................................................................................. 16

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seiring dengan semakin berkembangnya sains dan tekhnologi, perkembangan didunia
farmasi pun tak ketinggalan. Semakin hari semakin banyak jenis dan
ragam penyakit yang muncul. Perkembangan pengobatan pun terus di kembangkan. Berbagai
macam bentuk sediaan obat, baik itu liquid, solid dan semisolid telah dikembangkan oleh ahli
farmasi dan industri.

Bentuk sediaan semisolid memiliki konsistensi dan wujud antara solid dan liquid,
dapat mengandung zat aktif yang larut atau terdispersi dalam pembawa (basis). Bentuk
sediaan semisolid biasanya digunakan secara topical, yaitu diaplikasikan pada permukaan
kulit atau sleput mukosa.

Yang termasuk sediaan semisolid yaitu salep, krim, gel dan pasta.
1. Salep (ungueta) adalah sediaan semi solid yang ditujukan untuk pemakaian topikal pada
kulit atau selaput lendir (menurut Farmakope Indonesia edisi IV). Tujuan Pembuatan
Salep Pengobatan lokal pada kulit, Melindungi kulit (pada luka agar tidak terinfeksi),
Melembabkan kulit.
2. Krim (cream) adalah sediaan semi solid yang mengandung satu atau lebih bahan obat
terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Istilah ini secara tradisional telah
digunakan untuk sediaan setengah padat yang mempunyai konsistensi relatif cair
diformulasikan sebagai emulsi air dalam minyak atau minyak dalam air. Krim dapat
digunakan untuk pemberian obat, melalui vaginal. (Farmakope Indonesia edisi IV).
Krim berupa emulsi kental mengandung tidak kurang dari 60% air, yang dimaksudkan
untuk pemakaian luar. Tipe krim ada 2 yaitu: krim tipe air/minyak (w/o) dan krim minyak/air
(o/w) umumnya disebut vanishing cream, mengandung air dalam persentase yang besar dan
asam stearat. Rata-rata jenis krim o/w lebih mudah dibersihkan daripada kebanyakan salep.
3. Gel atau jelly merupakan sistem semipadat terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel
anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan
(Farmakope Indonesia edisi IV).

1
Gel dapat digolongkan baik dalam sistem 2 fase atau dalam sistem satu fase. Sistem 2
fase sering disebut juga magma atau susu. Massa gel dapat terdiri dari gumpalan partikel-
partikel kecil dan bukan molekul-molekul besar seperti ditemukan pada gel aluminium
hidroksida, magma bentonit dan magma magnesium.
4. Pasta adalah sediaan semi padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat yang ditujukan
untuk pemakaian topikal. Konsistensi pasta seperti suspensi yang padat karena mengandung
konsentrasi bahan padat yang tinggi sekitar 30-70%. Pasta umumnya dibuat dengan
mencampurkan zat padat langsung ke dalam sistem yang dikentalkan dengan menggerus
sebagai basis untuk membentuk massa seperti pasta. Pasta sebagai sediaan memiliki
perubahan bentuk plastis dengan suatu batas mengalir.
Pasta mengandung lebih banyak bahan padat dan oleh karena itu lebih kental dan kurang
meresap daripada salep. Pasta biasanya digunakan karena kerjanya yang melindungi dan
kemampuannya menyerap kotoran serum dari luka-luka di kulit

B. Rumusan Masalah
• Bagaimana derajat/tingkatan kekentalan sediaan semi solid?

• Bagaimana kemudahan untuk mengalir sediaan semi solid?

• Bagaimana kemampuan melekat dikulit pada sediaan semi solid?

C. Tujuan Masalah
• Mengetahui derajat/tingkatan kekentalan sediaan semi solid.

• Mengetahui kemudahan untuk mengalir sediaan semi solid.

• Mengetahui kemampuan melekat dikulit pada sediaan semi solid.

2
BAB II
PEMBAHASAN

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam membuat sediaan semidolid:

1. Derajat/tingkat kekentalan
Viskositas adalah suatu pernyataan “ tahanan untuk mengalir” dari suatu sistem yang
mendapatkan suatu tekanan. Makin kental suatu cairan, makin besar gaya yang dibutuhkan
untuk membuatnya mengalir pada kecepatan tertentu. Hubungan antara bentuk dan viskositas
merupakan refleksi derajat solvasi dari partikel.( Moechtar,1990). Bila viskositas gas
meningkat dengan naiknya temperatur, maka viskositas cairan justru akan menurun jika
temperatur dinaikan.

Penggolongan bahan menurut tipe aliran dan deformasi adalah sebagai berikut :
system Newton dan system Non-Newton. Pemilihan bergantung pada sifat-sifat alirannya
Viskositas dipengaruhi oleh :

Besar dan bentuk molekul

Viskositas cairan semakin berkurang dengan bertambahnya suhu tapi tak cukup banyak
dipengaruhi oleh perubahan tekanan.

Adanya koloid dapat memperbesar viskositas sedang adanya elektrolit akan sedikit
menurunkan viskositas dari cairan.

Metode yang umum digunakan untuk pengukuran kekentalan meliputi penetapan waktubyang
dibutuhkan oleh sejumlah volume tertentu cairan untuk mengalir melalui kapiler. Banyak
viscometer tabung kapiler telah dirancang, tetapi viskkometer Ostwald dan ubbelohde adalah
yang paling sring digunakan. Dalam mengkalibrasi viscometer tipe kapiler, perlu dihitung
konstanta viscometer k, dengan rumus :

v = kekentalan cairan yang diketahui ( centipoises / cp )

k= v / d.t d = bobot jenis cairan uji ( gram / liter )

t = waktu alir cairan ( detik ), dari batas atas hingga batas

bawah dalam tabung kapiler.

3
Kekentalan dinamik ditetapkan memakai viscometer kapiler, misalnya viscometer
Ostwald. Karena penetapan secara langsung sukar dilakukan, penetapan kekentalan dinamik
pada umumnya dilakukan dengan pertolongan cairan pembanding yang kekentalan
mutlaknya telah diketahui yaitu digunakan air. Kekentalan dinamik suatu cairan dapat
dihitung :

ηx = ηair . tx . ρx

tair . ρair

ηx : Kekentalan cairan x

ηair : Kekentalan air pada suhu tetap (poise)

tair : Waktu alir air (detik)

tair : Waktu alir cairan x (detik)

ρair : Bobot jenis air (g/l)

ρx : Bobot jenis cairan x (g/l)

Catatan pada viskositas :

1. System Newton (ampe aliran dari Newton)

Semakin besar viskositas suatu cairan, akan semakin besar gaya per satuan luas (shearing
stress) yang diperlukan untuk menghasilkan suatu rate of shear tertentu. Oleh karena itu, rate
of share harus berbanding langsung dengan shearing stress.

.Rate of shear (D) dv/dr untuk menyatakan perbedaan kecepatan (dv) antara dua bidang
cairan yang dipisahkan oleh jarak yang sangat kecil (dr).

Shearing stress (τ atau F ) F’/A untuk menyatakan gaya per satuan luas yang diperlukan
untuk menyebabkan aliran.

F’/A = η dv/dr

η= F’/A = F

dv/dr G

4
Viskositas η merupakan perbandingan antara Shearing stress F’/A dan Rate of
shear dv/dr. Satuan viskositas adalah poise atau dyne detik cm -2

Fluiditas merupakan kebalikan dari viskositas. Satuan fluiditas adalah amperter (cps). 1cps=
0,01poise

f = 1/ η

Viskositas Kinematik adalah viskositas ampert dibagi kerapatan cairan (bobot


jenis).satuannya adalah stokes, s atau centistokes, cs.

Viskositas kinematik = η /r

Grafik rheogram aliran Newtonian diilustrasikan sebagai berikut :

Besarnya Rate of shear sebanding dengan Shearing stress.

Jadi, perbedaan kecepatan antara bidang cairan yang dipisahkan oleh suatu jarak dilalui oleh
gaya yang menyebabkan terjadinya aliran.

Pengaruh Suhu terhadap Viskositas

RUMUS ARRHENIUS :

h = A.eEv/RT

A = konstanta tergantung pada berat molekul dan molar volume cairan

Ev = amper aktivasi yang diperlukan untuk menginisiasi aliran antar molekul

Dibutuhkan lebih banyak amper untuk memecah ikatan dan membuat cairan tersebut
mengalir, karena cairan tersebut tersusun dari molekul-molekul yang dihubungkan dengan
ikatan ampert. Tetapi ikatan ini akan dipecahkan pada amperter yang tinggi oleh perpindahan
panas dan Ev akan menurun dengan nyata. Viskositas cairan akan menurun jika suhu
diturunkan, sedangkan viskositas gas meningkat jika suhu dinaikkan.

2. System Non-Newton

Non-Newtonian bodies adalah zat-zat yang tidak mengikuti persamaan aliran Newton ;
disperse heterogen cairan dan padatan larutan seperti koloid, emulsi, ampert cair, salep, dan

5
produk-produk serupa. Jika bahan-bahan non-Newton dianalisis dalam suatu viscometer putar
dan hasilnya diplot, diperoleh berbagai kurva konsistensi yang menggambarkan adanya tiga
kelas aliran, yakni: plastis, pseudoplastis, dan dilatan.

Ada 3 jenis tipe aliran dalam amper Non-Newtonian, yaitu: Plastis, Pseudoplastis, dan
Dilatan.

ü Aliran Plastis

Kurva aliran plastis tidak melalui titik (0,0) tapi memotong sumbu shearing stress ( atau
akan memotong jika bagian lurus dari kurva tersebut diekstrapolasikan ke sumbu ) pada suatu
titik tertentu yang dikenal dengan sebagaiharga yield. Cairan plastis tidak akan mengalir
sampai shearing stress dicapai sebesar yield value tersebut. Pada harga stress di bawah
harga yield value, zat bertindak sebagi bahan amper ( meregang lalu kembali ke keadaan
semula, tidak mengalir ).

U =( F – f
)

U adalah viskositas plastis, dan f adalah yield value.

Aliran plastis berhubungan dengan adanya partikel-partikel yang tersuspensi dalam ampert
pekat. Adanyayield value disebabkan oleh adanya kontak antara partikel-partikel yang
berdekatan (disebabkan oleh adanya gaya van der Waals), yang harus dipecah sebelum aliran
dapat terjadi. Akibatnya, yield value merupakan indikasi dari kekuatan flokulasi. Makin
banyak ampert yang terflokulasi, makin tinggi yield value-nya. Kekuatan friksi antar partikel
juga berkontribusi dalam yield value. Ketika yield value terlampaui ( shear stress di atas yield
value ), amper plastis akan menyerupai amper newton.

ü Aliran Pseudoplastis

Aliran pseudoplastis ditunjukkan oleh beberapa bahan farmasi yaitu gom alam dan sisntesis
seperti ampert cair dari tragacanth, natrium ampert, metil selulosa, dan natrium karboksimetil
selulosa. Aliran pseudoplastis diperlihatkan oleh polimer-polimer dalam larutan, hal ini
berkebalikan dengan amper plastis, yang tersusun dari partikel-partikel tersuspensi dalam

6
emulsi. Kurva untuk aliran pseudoplastis dimulai dari (0,0) , tidak ada yield value, dan bukan
suatu harga tunggal.

Viskositas aliran pseudoplastis berkurang dengan meningkatnya rate of shear. Rheogram


lengkung untuk bahan-bahan pseudoplastis ini disebabkan adanya aksi shearing terhadap
molekul-molekul polimer ( atau suatu bahan berantai panjang ). Dengan meningkatnya
shearing stress, molekul-molekul yang secara normal tidak beraturan, mulai menyusun sumbu
yang panjang dalam arah aliran. Pengarahan ini mengurangi tahanan dari dalam bahan
tersebut dan mengakibatkan rate of shear yang lebih besar pada tiap shearing stress
berikutnya :

FN = η’ G

Eksponen N meningkat pada saat aliran meningkat hingga seperti aliran newton. Jika N=1
aliran tersebut sama dengan aliran newton.

ü Aliran Dilatan

Aliran dilatan terjadi pada ampert yang memiliki presentase zat padat terdispersi dengan
konsentrasi tinggi. Terjadi peningkatan daya hambat untuk mengalir (viskositas) dengan
meningkatnya rate of shear. Jika stress dihilangkan, suatu amper dilatan akan kembali ke
keadaan fluiditas aslinya.

Pada keadaaan istirahat, partikel-partikel tersebuat tersususn rapat dengan volume antar
partikel pada keadaan minimum. Tetapi jumlah pembawa dalam ampert ini cukup untuk
mengisi volume ini dan membentuk ikatan lalu memudahkan partikel-partikel bergerak dari
suatu tempat ke tempat lainnya pada rate of shear yang rendah. Pada saat shear
stress meningkat, bulk dari system itu mengembang atau memuai ( dilate ). Hal itu
menyebabkan volume antar partikel menjadi meningkat dan jumlah pembawa yang ada tidak
cukup memenuhi ruang kosong tersebut. Oleh karena itu hambatan aliran meningkat karena
partikel-partikel tersebut tidak dibasahi atau dilumasi dengan sempurna lagi oleh pembawa.
Akhirnya suspense menjadi pasta yang kaku.

2.2. Konsep Viskositas

Fluida, baik zat cair maupun zat gas yang jenisnya berbeda memiliki tingkat kekentalan yang
berbeda. Viskositas alias kekentalan sebenarnya merupakan gaya gesekan antara molekul-
molekul yang menyusun suatu fluida. Jadi molekul-molekul yang membentuk suatu fluida

7
saling gesek-menggesek ketika fluida fluida tersebut mengalir. Pada zat cair, viskositas
disebabkan karena adanya gaya kohesi (gaya tarik menarik antara molekul sejenis).
Sedangkan dalam zat gas, viskositas disebabkan oleh tumbukan antara molekul (Bird, 1993).

Fluida yang lebih cair biasanya lebih mudah mengalir, contohnya air. Sebaliknya, fluida yang
lebih kental biasanya lebih sulit mengalir, contohnya minyak goreng, oli, madu, dan lain-lain.
Hal ini bias dibuktikan dengan menuangkan air dan minyak goreng diatas lanyai yang
permukaannya miring. Pasti hasilnya air lebih cepat mengalir dari pada minya goreng atau
oli. Tingkat kekentalan suatu fluida juga bergantung pada suhu. Semakin tinggi suhu zat cair,
semakin kurang kental zat cair tersebut. Misalnya ketika ibu menggoreng ikan di dapur,
minyak goreng yang awalnya kental, berubah menjadi lebih cair ketika dipanaskan.
Sebaliknya, semakin tinggi suhu suatu zat gas, semakin kental zat gas tersebut.

Perlu diketahui bahwa viskositas atau kekentalan hanya ada pada fluida rill (rill = nyata).
Fluida rill / nyata adalah fluida yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, seperti air
sirup, oli, asap knalpot, dan lainnya. Fluida rill berbeda dengan fluida ideal. Fluida ideal
sebenarnya tidak ada dalam kehidupan sehari-hari. Fluida ideal hanya model yang digunakan
untuk membantu kita dalam menganalisis aliran fluida (fluida ideal ini yang kita pakai dalam
pokok bahasan fluida dinamis) (Bird, 1993).

Satuan system internasional (SI) untuk koifisien viskositas adalah Ns/m2 = Pa.S (pascal
sekon). Satuan CGS (centimeter gram sekon) untuk SI koifisien viskositas adalah
dyn.s/cm2 = poise (p). Viskositas juga sering dinyatakan dalam sentipolse (cp). 1 cp = 1/1000
p. satuan poise digunakan untuk mengenang seorang Ilmuwan Prancis, almarhum Jean Louis
Marie Poiseuille.

1 poise = 1 dyn. s/cm2 = 10-1 N.s/m2

Fluida adalah gugusan molukel yang jarak pisahnya besar, dan kecil untuk zat cair. Jarak
antar molukelnya itu besar jika dibandingkan dengan garis tengah molukel itu. Molekul-
molekul itu tidak terikat pada suatu kisi, melainkan saling bergerak bebas terhadap satu sama
lain. Jadi kecepatan fluida atau massanya kecapatan volume tidak mempunyai makna yang
tepat sebab jumlah molekul yang menempati volume tertentu terus menerus berubah (while,
1988).

Fluida dapat digolongkan kedalam cairan atau gas. Perbedaan-perbedaan utama antara cair
dan gas adalah :

8
a. Cairan praktis tidak kompersible, sedangkan gas kompersible dan seringkali harus
diperlakukan demikian.

b. Cairan mengisi volume tertentu dan mempunyai permukaan-permukaan bebas,


sedangkan agar dengan massa tertentu mengembang sampai mengisi seluruh bagian wadah
tempatnya (While, 1988).

2.3. Pengukuran Viskositas

Peralatan untuk mengukur viskositas disebut viscometer. Terdapat berbagai jenis viscometer
yang berbeda, tetapi, karena sasaran makalah ini adalah untuk membuktikan prinsip-prinsip
tertentu dari hidrolika, bukan untuk menjelaskan permesinan hidrolik dan peralatannya,
makahal ini dapat dicari pada sumber lain. Untuk mempermudah, disebutkan tiga cara untuk
menentukan µ, yaitu:

a. Dengan viscometer torsi

Rumus R = µA dipakai pada silinder konsentris.

b. Dengan viscometer Ostwald

Pada viscometer Ostwald yang diukur adalah waktu yang dibutuhkan oleh sejumlah tertentu
cairan untuk mengalir melalui pipa kapiler dengan gaya yang disebabkan oleh berat cairan itu
sendiri. Pada percobaan sebenarnya, sejumlah tertentu cairan (misalnya 10 cm3, bergantung
pada ukuran viscometer) dipipet kedalam viscometer. Cairan kemudian dihisap melalui labu
pengukur dari viscometer sampai permukaan cairan lebih tinggi daripada batas a. cairan
kemudian dibiarkan turun ketika permukaan cairan turun melewati batas a, stopwatch mulai
dinyalakan dan ketika cairan melewati tanda batas b, stopwatch dimatikan. Jadi waktu yang
dibutuhkan cairan untuk melalui jarak antara a dan b dapat ditentukan. Tekanan ρ merupakan
perbedaan antara kedua ujung pipa U dan besarnya disesuaikan sebanding dengan berat jenis
cairan (Respati,1981).

Berdasarkan hokum Heagen Poisuille :

Dimana :

p= tekanan hidrostatis

r = jari-jari kapiler

9
t = waktu aliran zat cair sebanyak volume V dengan beda tinggi h

L= panjang kapiler

Untuk air :

Ŋair = πρr4 . ta . pa.g.h / ( 8VL)

Secara umum berlaku :

Ŋx = πρr4 . tx . px.g.h / ( 8VL)

Jika air digunakan sebagai pembanding, maka :

Ŋx / ŋair = tx.ρx / taρa

c. Dengan hokum stokes untuk bola jatuh.

Ff = 6πrη Rumus Stokes:

Dimana F adalah hambatan yang dialami oleh bola sangat kecil dengan jari-jari r yang jatuh
bebas melalui cairan yang viskositasnya µ dengan keceptan v. Rumus Stokes hanya berlaku
bila Reynolds untuk aliran kurang dari (sekitar) 1, bilangan Reynolds didefinisikan sebagai :

Dimana d adalah diameter dari bola. Dengan kata lain, rumus Stokes hanya berlaku pada
kecepatan sangat kecil, tetapi bagaimana kecilnya juga tergantung pada v dan d.

Arti dari bilangan Reynolds kritis Re = 1 , adalah bahwa Re 1 aliran melalui bola adalah
viskos dan hambatan pada gerakan adalah hambatan viskos, dimana pada Re 1 aliran melalui
bola adalah turbulen dan hambatan pada gerakan adalah campuran dari gesekan dan
hambatan bentuk akibat aliran turbulen.

d. Viscometer cup dan Bob

Prinsip kerjanya sampel digeser dalam ruangan antara dinding luar Bob dan dinding dalam
dari cup dimana bob masuk persis ditengan-tengah. Kelemahan viscometer ini adalah
terjadinya aliran sumbat yang disebabkan gesekan yang tinggi disepanjang keliling bagian
tube sehingga menyebabkan penemuan konsentrasi. Penurunan konsentrasi ini menyebebkan
bagian tengah zat yang ditekan keluar memadat. Hal ini disebut aliran sumbat (Bird, 1993).

e. Viscometer Cone dan Plate

10
Cara pemakaiannya adalah sampek yang ditempatkan di tengah-tengah papan, kemudian
dinaikkan hingga posisi dibawah kerucut. Kerucut digerakkan oleh motor dengan bermacam
kecepatan dan sampelnya digeser didalam ruang sempit antara papan yang diam dan
kemudian kerucut yang berputar (Bird, 1993).

f. Viscometer hoppler

Pada viscometer ini yang diukur adalah waktu yang dibutuhkan oleh sebuah bola logam
untuk melewati cairan setinggi tertentu. Suatu benda karena adanya gravitasi akan jatuh
melalui medium yang berviskositas (seperti cairan misalnya), dengan kecepatan yang
semakin besar sampai mencapai kecepatan maksimum. Kecepatan maksimum akan tercapai
bila gravitasi sama dengan fictional resistance medium (Bird,1993).

Berdasarkan hokum stokes pada kecepatan bola maksimum, terjadi keseimbangan sehingga :
gaya gesek = gaya berat, gaya Archimedes :

6πrVmax = 4/3 r3 (ρbola – ρcair) g

Ŋ = { 2/g r3 (ρbola – ρcair) g } / Vmax

Vmax = h / t

Dimana :

t = waktu jatuh bola pada ketinggian h

Dalam percobaan ini dipakai cara relative terhadap air, harganya :

Ŋa = [ 2/g r2 (ρa – ρ1) g ta ] / h

Ŋx = [ 2/g r2 (ρx– ρ1) g tx ] / h

Ŋx/ Ŋa = [ (ρx – ρ1) g tx ] / [ (ρa – ρ1) g ta ]

2.4. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI VISKOSITAS

Faktor-faktor yang mempengaruhi viskositas :

Suhu

11
Viskositas berbanding terbalik dengan suhu. Jika suhu naik maka viskositas akan turun, dan
begitu sebaliknya. Hal ini disebabkan karena adanya gerakan partikel-partikel cairan yang
semakin cepat apabila suhu ditingkatkan dan menurun kekentalannya.

Konsentrasi larutan

Viskositas berbanding lurus dengan konsentrasi larutan. Suatu larutan dengan konsentrasi
tinggi akan memiliki viskositas yang tinggi pula, karena konsentrasi larutan menyatakan
banyaknya partikel zat yang terlarut tiap satuan volume. Semakin banyak partikel yang
terlarut, gesekan antar partikrl semakin tinggi dan viskositasnya semakin tinggi pula.

Berat molekul solute

Viskositas berbanding lurus dengan berat molekul solute. Karena dengan adanya solute yang
berat akan menghambat atau member beban yang berat pada cairan sehingga manaikkan
viskositas.

Tekanan

Semakin tinggi tekanan maka semakin besar viskositas suatu cairan.

2.5 Viskositas dalam kehidupan sehari-hari

Mengalirnya darah dalam pembuluh darah vena.

Proses penggorengan ikan (semakin tinggi suhunya, maka semakin kecil viskositas minyak
goreng).

Mengalirnya air dalam pompa PDAM yang mengalir kerumah-rumah kita.

2. Kemudahan untuk mengalir

Rheologi berasal dari bahasa yunani mengalir (rheo) dan logos (ilmu). Digunakan istilah ini
untuk pertama kali oleh Bingham dan Croeford untuk menggunakan aliran cairan dan
deformasi daripadatan.
Rheologi erat kaitannya dengan viskositas. Viskositas merupakan suatu pernyataan tahanan
dari suatu cairan untuk mengalir; semakin tinggi viskositas, semakin besar tahanannya untuk
mengalir. Viskositas dinyatakan dalam simbol η.
12
Prinsip dasar rheologi telah digunakan dalam penyelidikan zat,tinta,berbagai adonan,bahan-
bahan untuk pembuat jalan,kosmetik,produk hasil peternakan,serta sediaan-sediaan farmasi.

Rheologi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan aliran cairan dan deformasi
dari padatan. Rheologi mempelajari hubungan antara tekanan gesek (shearing stress) dengan
kecepatan geser (shearing rate) pada cairan, atau hubungan antara strain dan stress pada
benda padat. Rheologi erat kaitannya dengan viskositas.
Rheologi sangat penting dalam farmasi karena penerapannya dalam formulasi dan analisis
dari produk-produk farmasi seperti: emulsi, pasta, krim, suspensi, losion, suppositoria, dan
penyalutan tablet yang menyangkut stabilitas, keseragaman dosis, dan keajekan hasil
produksi. Misalnya, pabrik pembuat krim kosmetik, pasta, dan lotion harus mampu
menghasilkan suatu produk yang mempunyai konsistensi dan kelembutan yang dapat
diterima oleh konsumen. Selain itu, prinsip rheologi digunakan juga untuk karakterisasi
produk sediaan farmasi (dosage form) sebagai penjaminan kualitas yang sama untuk setiap
batch.
Rheologi juga meliputi pencampuran aliran dari bahan,pemasukan ke dalam
wadah,pemindahan sebelum digunakan,penuangan, pengeluaran dari tube, atau pelewatan
dari jarum suntik. Rheologi dari suatu zat tertentu dapat mempengaruhi penerimaan obat bagi
pasien, stabilitas fisika obat, bahkan ketersediaan hayati dalam tubuh (bioavailability).
Sehingga viskositas telah terbukti dapat mempengaruhi laju absorbsi obat dalam tubuh.
Sifat-sifat rheologi dari sistem farmaseutika dapat mempengaruhi pemilihan alat yang akan
digunakan untuk memproses produk tersebut dalam pabriknya. Lebih-lebih lagi tidak adanya
perhatian terhadap pemilihan alat ini akan berakibat diperolehnya hasil yang tidak diinginkan.
Paling tidak dalam karakteristik alirannya. Aspek ini dan banyak lagi aspek-aspek rheologi
yang diterapkan dibidang farmasi.
Ada beberapa istilah dalam rheologi ini :
• Rate of shear (D) dv/dr untuk menyatakan perbedaan kecepatan (dv) antara dua bidang
cairan yang dipisahkan oleh jarak yang sangat kecil (dr).
• Shearing stress (τ atau F ) F’/A untuk menyatakan gaya per satuan luas yang diperlukan
untuk menyebabkan aliran
F’/A = η dv/dr
η = (F’/A) / (dv/dr)= F / G

13
Penggolongan sistem cair menurut tipe aliran dan deformasinya ada dua yaitu:
a) Sistem Newton
b) Sistem Non Newton

3. Kemampuan untuk melekat dikulit

Sediaan Setengah Padat Sediaan farmasi semi padat meliputi salep, pasta, emulsi
krim, gel, dan busa yang kaku. Sifat umum sediaan ini adalah mampu melekat pada
permukaan tempat pemakaian dalam waktu yang cukup lama sebelum sediaan ini
dicuci atau dihilangkan. Pelekatan ini disebabkan oleh sifat rheologis plastik sediaan
ini, yang memungkinkan sediaan semi padat tersebut tetap bentuknya dan melekat
sebagai lapisan tipis sampai ada suatu tindakan, yaitu dengan sesuatu kekuatan dari
luar, yang mengakibatkan bentuk sediaan semi padat ini akan rusak bentuknya dan
mengalir (Lachman, 2008).

Sediaan semi padat digunakan pada kulit, dimana umumnya sediaan tersebut
berfungsi sebagai pembawa pada obat-obat topikal, sebagai pelunak kulit, atau
sebagai pembalut pelindung atau pembalut penyumbat (okulsif). Sejumlah kecil
bentuk sediaan semipadat topikal ini digunakan pada membran mukosa, seperti
jaringan rektal, jaringan buccal (di bawah lidah), mukosa vagina, membran uretra,
saluran telinga luar, mukosa hidung, kornea (Lachman, 2008).

14
BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan

Berdasarkan beberapa ulasan pada pembahasan maka dapat disimpulkan :

Semisolid adalah sediaan setengah padat yang pada umumnya di gunakan untuk
pemakaian luar dan selaput lendir. Sediaan padat dibagi menjadi beberapa macam bentuk
sediaan, di antaranya : salep, pasta, gel, krim, dan lain lain. Salep merupakan salah satu
bentuk sediaan farmasi yang digunakan pada kulit sehat, sakit atau terluka dimaksudkan
untuk efek topical

Viskositas adalah suatu pernyataan “ tahanan untuk mengalir” dari suatu sistem yang
mendapatkan suatu tekanan. Makin kental suatu cairan, makin besar gaya yang
dibutuhkan untuk membuatnya mengalir pada kecepatan tertentu. Hubungan antara
bentuk dan viskositas merupakan refleksi derajat solvasi dari partikel.( Moechtar,1990).
Bila viskositas gas meningkat dengan naiknya temperatur, maka viskositas cairan justru
akan menurun jika temperatur dinaikan.

Rheologi berasal dari bahasa yunani mengalir (rheo) dan logos (ilmu). Digunakan istilah
ini untuk pertama kali oleh Bingham dan Croeford untuk menggunakan aliran cairan dan
deformasi dari padatan.

15
DAFTAR RUJUKAN

https://mayadwi83.wordpress.com/2013/10/31/makalah-viskositas/

http://defiandhayani.blogspot.co.id/2012/10/rheologi_6.html

http://documents.tips/documents/sediaan-farmasi-semi-padat-5633865ff00b7.html

16