Anda di halaman 1dari 12

Penyakit Skabies Pada Manusia

Chandra Franata
102011148
Mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana
JL. Arjuna Utara No. 6
Jakarta Barat 11510
E-mail : chandrafranata@rocketmail.com
Abstract

Scabies is a skin disease caused by infestation and sensitization Sarcoptes scabiei var
hominis. The main symptom is itching, especially at night, these symptoms are very supportive
to the diagnosis especially when it occurs in the place of predilection. Predilection of the most
frequently attacked in between - between your fingers, may also be on the extensor elbow,
armpit folds around the stomach area and the central belt, genital area and the buttocks. In babies
because their skin is thin, the disease attacks the whole body including the palms and feet, face
and scalp. Treatment can be given 5% permethrin (NIX) in the form of creams anti scabies drugs
will have the most safe and effective in the future. The disease can be eradicated by observing
the selection and Direction for use the drug, well as treatment requirements and eliminate the
predisposing factors, so it can gives the good prognosis.

Abstrak

Skabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi Sarcoptes
scabiei var, hominis. Gejala utama adalah gatal terutama malam hari, gejala ini sangat
mendukung ke arah diagnosa apalagi bila terjadi di tempat predileksi. Predileksi yang paling
sering diserang pada sela – sela jari tangan, dapat pula di bagian ekstensor siku, lipatan ketiak
daerah pusat dan perut sekitar ikat pinggang, daerah genital dan bokong. Pada oleh karena
kulitnya masih tipis, penyakit ini menyerang seluruh badan termasuk telapak tangan dan kaki,
muka serta kulit kepala. Pengobatannya dapat diberikan permethrin 5% (NIX) dalam bentuk
krim akan karena obat anti skabies yang paling aman dan efektif di masa mendatang. Penyakit
tersebut dapat diberantas dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakaian obat, serta
syarat pengobatan dan menghilangkan faktor predisposisi, dan memberi prognosis yang baik.
Pendahuluan

Penyakit kulit masih mempunyai insidens yang cukup tinggi di Indonesia. Hal ini dinyatakan
bahwa di Indonesia menduduki urutan ketiga setelah penyakit saluran pernapasan dan penyakit
pencernaan. Di antara penyakit – penyakit kulit tersebut ternyata penyakit yang diakibatkan
parasit yaitu skabies merupakan penyakit tersering dijumpai di masyarakat Indonesia dan
merupakan penyakit rakyat yang menyerang daerah pemukiman yang padat dengan keadaan
lingkungan yang kurang baik.

Dari segi epidemiologi perlu pula diperhatikan oleh karena penyakit ini sangat menular
sehingga dapat mengakibatkan epidemi. Penyakit ini, walaupun tidak berbahaya, tetapi
memberikan gejala gatal yang cukup hebat, hal ini dapat menurunkan produktivitas kerja
penderita. Meski sekarang sudah sangat jarang dan sulit ditemukan laporan terbaru tentang kasus
skabies diberbagai media di Indonesia (terlepas dari faktor penyebabnya), namun tak dapat
dipungkiri bahwa penyakit kulit ini masih merupakan salah satu penyakit yang sangat
mengganggu aktivitas hidup dan kerja sehari-hari. Di berbagai belahan dunia, laporan kasus
skabies masih sering ditemukan pada keadaan lingkungan yang padat penduduk, status ekonomi
rendah, tingkat pendidikan yang rendah dan kualitas higienis pribadi yang kurang baik atau
cenderung jelek.1

Pada tahun – tahun terakhir ini scabies dimasukan dalam penyakit yang ditularkan melalui
hubungan seks (Sexually Transmitted Diseases = STD ), karena itu pengetahuan mengenai
penyakit ini perlu didalami, agar dapat segera dikenal dan diobati dengan tepat dan tuntas.2
Pembahasan
A. Anamnesis

Anamnesis adalah pengambilan data yang dilakukan oleh seorang dokter dengan cara
melakukan serangkaian wawancara Anamnesis dapat langsung dilakukan terhadap pasien (auto-
anamanesis) atau terhadap keluarganya atau pengantarnya (alo-anamnesis). Anamnesis dapat
dilakukan dengan wawancara terhadap pasien ataupun kerabat terdekatnya misalnya:

1. Pengumpulan Data
1) Identitas klien
2) Keluhan utama
Mengeluh sangat gatal terutama pada sela jari tangan sejak 1 minggu yang lalu. malam hari
3) Riwayat Penyakit Sekarang
4) Riwayat Penyakit Dahulu
5) Riwayat Penyakit Keluarga
6) Riwayat Sosial dan Ekonomi

B. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan Umum : Tidak tampak sakit
Status Lokalis : disela – sela jari kanan dan kiri, punggung tangan kanan dan kiri,
dada, punggung, sikukanan dan kiri, bokong bagian bawah,
punggung kaki kanan dan kiri, dan sela-sela jari kaki kanan dan
kiri.
Pemeriksaan Khusus : ditemukannya papul atau vesikel jika timbul infeksi sekunder
ruam kulitnya menjadi polimorf (pustul, eksoriasi dan lain-lain)

Gbr. Skabies pada sela jari tangan8


C. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium:

1. Uji Kerokan Kulit


Uji kerokan kulit (yang diambil di bagian yang ada terowongan) diletakkan diatas kaca
benda (object glass) dan ditetesi larutan kalium hidroksida KOH 10% kemudian
panasi sebentar, ditutup kaca tertutup dan akhirnya lihat dibawah mikroskop.
Pemberian KOH 10% digunakan untuk melarutkan kerokan kulit sisa-sisa jaringan
sehingga yang terlihat setelah dipanaskan nantinya tinggal tungau dewasa atau
telurnya yang tidak larut oleh KOH. Jika kerokan kulit tidak dihilangkan akan sulit
membedakannya dengan tungau skabies yang bentuknya hampir mirip.
2. Uji tinta
Terowongan juga dapat dilihat jelas jika permukaan kulit ditetesi dengan tinta hitam dan
sedikit ditekan sehingga cairan tinta masuk ke dalam terowongan. Setelah sisa tinta pada
permukaan kulit dicuci, akan terlihat liku-liku terowongan yang berwarna kehitaman.
3. Dengan membuat biopsi irisan.
Caranya : lesi dijepit dengan 2 jari kemudian dibuat irisan tipis dengan pisau dan diperiksa
denngan mikroskop dengan biopsi eksisional dan diperiksa dengan pewarnaan H. E. 1-5

D. DIFERENSIAL DIAGNOSIS

Ada pendapat yang mengatakan penyakit scabies ini merupakan the great imitator karena
dapat menyerupai banyak penyakit kulit dengan keluhan gatal. Sebagai diagnosis banding
ialah prurigo, pedinkulosis korporis, pitiriasis rosea, pioderna dan dermatitis.1

1. Prurigo
Di antara berbagai bentuk prurigo herba merupakan bentuk yang tersering terdapat
dan memiliki gejala klinis seperti scabies.

Prurigo Herba ialah penyakit kulit kronik dimulai sejak bayi atau anak. Kelainan kulit
terdiri atas papul – papul miliar berbentuk kubah sangat gatal, lebih mudah diraba
daripada dilihat terutama di daerah ekstremitas bagian ekstensor. Penyakit ini sering
terdapat pada keadaan social ekonomi dan hygiene yang rendah. Gejala klinis mulainya
penyakit sering pada anak berumur di atas satu tahun. Kelainan yang khas ialah adanya
papul – papul miliar tidak berwarna, berbentuk kubah, lebih mudah diraba daripada
dilihat. Garukan yang terus – menerus menimbulkan erosi, eksorotasi, krusta,
hiperpigmentasi danlikenifikasi. Sering pula terjadi infeksi sekunder, Jika setelah kronik
tampak kulit yang sakit lebih gelap kecoklatan dan berlikenifikasi. Tempat predileksi di
ekstremitas bagian ekstensor dan simetrik, dapat meluas ke bokong dan perut, muka
dapat pula terkena. Biasanya bagian distal lengan dantungkai lebih parah dibandingkan
bagian proksimal. Demikian pula umumnya tungkai lebih parah daripada lengan.
Keadaan umum penderita biasanya pemurung atau pemarah akibat kurang tidur, kadang –
kadang nafsu makan berkurang sehingga timbul anemia dan malnutrisi. Keluhannya ialah
sangat gatal biasanya pada anak. Pada penyakit tersebut gatal terutama pada malam hari,
orang – orang yang berdekatan juga terkena. Kelainan kulit berupa vesikel dan papul
pada lipatan – lipatan kulit. Pengobatan karena penyebab prurigo belum diketahui maka
tidak ada pengobatan yang tepat. Penatalaksanaannya menghindari hal – hal yang ada
kaitannya seperti prurigo yaitu menghindari gigitan nyamuk atau serangga mencari dan
mengobati infeksi local, memperbaiki hygiene perseorangan dan lingkungan.
Pengobatan simtomatik yaitu dengan mengurangi gatal dengan pemberian sedative. Bila
terdapat infeksi sekunder. Contoh pengobatan topical yang dipakai oleh sekabies juga
adalah dapat digunakan sulfur 5–10% dapat diberikan dalam bedak kocokatau salep.
Biasanya sebagian besar akan sembuh spontan pada usia akil balik.1

2. Pedinkulosis korporis
Sinonim dikenal Vagabond’s disease merupakan penyakit kutu badan. Etiologi
Pedinculus humarus var capitis. Simtomatologi gigitan menyebabkan bintik merah di
dada dan perut bahu dan punggung. Terdapat papel yang dapat menyebabkan urtika dan
rasa gatal yang hebat pada tempat predileksi. Likenifikasi dan hiperpigmentasi kronis,
kering, pada orang tua dan akibat kebiasaan menggaruk. Diagnosis terdapat rasa gatal
yang hebat, lesi – lesi di tempat predileksi, kultur dan telur yang positif terdapat pada
pakaian. Pengobatannya ialah dengan krim gameksan 1% yang dioleskan tipis diseluruh
tubuh didiamkan selama24 jam, setelah itu penderita disuruh mandi, obat laianya dapat
menggunakan emulsi benzyl benzoate 25% dan bubuk malathion 2%. Pakaian agar
direbus atau disetrika maksudnya untuk membunuh kutu dan telur. Jika ada infeksi
sekunder diobati dengan antibiotic secara sistemik dan topical.

3. Dermatitis
Dermatitis atau eksem adalah peradangan epidermis dan dermis sebagai repons
terhadap pengaruh factor eksogen dan factor endogen yang menimbulkan kelainan klinis
berupa efloresensi polimorfik (eritema, edema, papul,vesikel, skuama, likenifikasi) dan
gatal. Dermatitis cenderung residif dan menjadi kronis.1

 Dermatits Kontak Alergi


Akibat terjadinya kontak dengan zat yang dianggap asing oleh tubuh dimana ada
proses hipersensitivitas (alergi) yang berperan didalamnya. Contoh : pewarna rambut
Gejalanya gatal, lokasi bisa terjadi pada tangan, lengan, wajah, telinga, leher, dan
badan lebih sering pada DKA yang tidak bekerja. Pengobatan dapat dilakukan dengan
pemeberian kortikosteroid atau makrolaktam dan dapat di juga di kompres dengan
larutan garam faal atau larutan air salisil 1:1000.

E. Working Diagosis ( Skabies )

Skabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi Sarcoptes
scabiei var, hominis dan produknya. Sinonim dari penyakit ini ialah the itch, gudik, budukan,
gatal agogo. Hal yang paling disukai kutu betina adalah bagian kulit yang tipis dan lembab, yaitu
daerah sekitar sela jari longlegs dan tangan, siku, pergelangan tangan, bahu, dan daerah
kemaluan. Pada bayi yang memiliki kulit serba tipis, telapak tangan, kaki, muka, dan kulit kepala
sering diserang kutu tersebut.2

F. Gejala Klinik Skabies

Gejala utama adalah gatal terutama malam hari, gejala ini sangat mendukung ke arah
diagnosa apalagi bila terjadi di tempat predileksi. Predileksi yang paling sering diserangg
pada sela – sela jari tangan, dapat pula di bagian ekstensor siku, lipatan ketiak daerah pusat
dan perut sekitar ikat pinggang, daerah genital dan bokong. Pada bayi – bayi oleh karena
kulitnya masih tipis, penyakit ini menyerang seluruh badan termasuk telapak tangan dan
kaki, muka serta kulit kepala.

Efloresensi gambaran polimorfkecuali infeksi sekunder papulo, erosidan ekskoriasi


ditambah krustae. Yang khas kunikulus terowongan di lapisan korneum. Lesi mula - mula
terlihat sebagai papel, papulo vesikulae disertai tanda – tanda bekas garukan seperti erosi dan
eksoriasi, jadi terdapat wujud kelainan kulit yang polimorfi. Yang dapat dikatakan gejala
khas ialah adanya terowongan – terowongan yang terlihat pada permukaan kulit, dimana
tungau sarkoptes dapat ditemukan pada ujung buntu terowongtan tersebut, tetapi keadaan ini
sulit terjadi bila terowongan – terowongan sudah rusak akibat infeksi sekunder atau garukan.6

G. Epidemiologi

Banyak faktor yang menunjang dalam perkembangan penyakit tersebut yaitu higiene yang
buruk, sosial ekonomi yang rendah, kesalahan diagnosis, hubungan seksual yang sifatnya
promiskuitas, dan perkembangan demografik serta ekologik. Penyakit ini juga dapat dimasukkan
ke dalam P.H.S ( Penyakit akibat hubungan seksual ). Penularan penyakit skabies inidapat terjadi
scara langsung maupun tidak langsung, karenanya tak heran jika penyakit gudik (skabies) dapat
dijumpai di sebuah keluarga, di kelas sekolah, di asrama, di pesantren.2

Cara Penularan (transmisi)

1. Kontak langsung (kulit dengan kulit), misalnya berjabat tangan, tidur bersama, dan
hubungan seksual.
2. Kontak tak langsung (melalui benda), misalnya pakaian, handuk, sprei, bantal, dll.

H. Etiologi

Sarcoptes scabiei termasuk filum Arthropoda, kelas Arachnida, ordo Ackarima, super famili
Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var.hominis, ada juga S.scabiei yang lain
misalnya pada kambing dan babi.
Morfologiknya merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya cembung dan bagian
perutnya rata. Ukuran yang betina lebih besar daripada yang jantan berkisar antara 330-450
mikron x 250-350 mikron sedangkan yang jantan yakni 200-240 mikron x 150-200 mikron.

Siklus hidupnya setelah kopulasi ( perkawinan ) yang terjadi di atas kulit, yang jantan akan
mati, kadang masih dapat hidup dalam beberapa hari dalam terowongan yang digali oleh yang
betina. Betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum, dengan
kecepatan 2-3 mm dalam waktu sehari dan meletakkan telurnya 2-4 butir sehari sampai
mencapai 40/50 butir. Telur tersebut akan menetas dalama waktu 3-5 hari menjadi larva, larva ini
bisa tinggal diterowongan tetapi dapat juga keluar, setelaha 2-3 hari larva aka menjadi nimfa
yang mempunyai 2 bentuk yaitu jantan dan betina. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur
sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8-12 hari.1,2

I. Patogenesis

Kelainan kulit ini tidak hanya disebabkan oleh tungau skabies, tetapi dapat juga diakibatkan
garukan. Gtaal yang disebebkan oleh sensitisasi terhadap sekreta dan eksreta tungau yang
memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Kelainan kulit pada saat itu menyerupai
dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel, urtikari dan lain-lain, dengan garukan dapat
menimbulkan erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder.2

J. Penatalaksanaan

A. Non Medika Mentosa


Secara umum harus perhatikan kebersihan lingkungan, mandi yang bersih dengan
sabun, merebus pakaian dan alat – alat yang dipakai penderita, demikian pula mengobati
partner seks dan semua penderita dalam keluarga atau komunitasnya. Yang harus sangat
diperhatikan kebersihan perorangan, kebersihan lingkungan dan obati keluarga dan
kontak personal.1,5

B. Medika Mentosa
Obat – obat anti scabies
 Belerang (sulfur) dalam bentuk sulfur presipitatum kadar 4 – 10% dengan vaselin
berbentuk salep, yaitu 2 – 4 zalf (salep 2 – 4) yang telah lama dikenal. Salap 2 -4
murah dan aman, tidak membunuh telur, bau belerang kurang lebih iritasinya.
Digunakan minimal 3 hari bertturut – turut. Preparat ini relative murah dan aman
untuk bayi dan anak kecil sehingga banyak dipakai di puskesmas – puskesmas.
Karena tidak membunuh telur pemakaian harus minimal tiga hari berturut, dengan
cara menggosok dengan agak kuat pada badan dan ekstremitas terutama ditempat
predileksi tiap malam selama tiga malam. Obat ini member bau belerang dan
dapat mengotori pakaian. Kadang menimbulkan iritasi.

 Emulsi benzil benzoas kadar 15 – 25 % obat ini efektif terhadap semua stadium,
biasanya dioleskan pada kulit tiap malam selama tiga malam. Tidak diberikan
pada anak – anak dibawah enam tahun, sering menimbulkan iritasi sehingga
menambah rasa gatal. Efektif untuk semua stadium. Iritasinya gatal yang
berlebihan. Jangan diberikan kepada anak dibawah 6 tahun.Digunakan selama 3
malam.

 benzene heksaklorida atau Gameksan ½ - 1% dalam bentuk krim atau lotio


merupakan obat pilihan yang efektif pada semua stadium. Obat ini member efek
toksisk pada susunan saraf pusat sehingga tidak diberikan pada anak – anak dan
wanita hamil. Pemakaian cukup dioleskan tipis pada kulit dibiarkan 8 – 12 jam
kemudian mandi yang bersih bila perlu dapat diulang seminggu kemudian.

 Krotamiton 10 % (Crotaderm) dalam bentuk krim merupakan obat pilihan dengan


khasiat anti skabies dan anti gatal, dapat member iritasi bila mengenai selaput
lendir, cara pemakaian seperti gameksan.

 Permethrin 5% (NIX) dalam bentuk krim akan merupakan obat anti skabies yang
paling aman dan efektif di masa mendatang.
C. Obat Antibiotika
Diberikan untuk mengatasi infeksi sekundernya, demikian pula bila terjadi dermatitis kontak
maka lebih diobati dermatitisnya kemudian diberi obat – obat anti skabies.
Terapi : Obat anti skabies, Obat keratolitik, Methotrexate.5

K. PENCEGAHAN

Pencegahan skabies dapat dilakukan dengan berbagai cara:

 Mencuci bersih, bahkan sebagian ahli menganjurkan dengan cara direbus, handuk, seprai
maupun baju penderita skabies, kemudian menjemurnya hingga kering.
 Menghindari pemakaian baju, handuk, seprai secara bersama-sama.
 Mengobati seluruh anggota keluarga, atau masyarakat yang terinfeksi untuk memutuskan
rantai penularan.1,2-5

L. KOMPLIKASI

Akibat garukan dapat terjadi infeksi sekunder berupa pustel, folikulitis, furunkulosis dan
pengobatan sendiri pada dermatitis kontak. Disamping itu sering dijumpai dermatitis kontak
akibat pemakaian obat topical untuk menghilangkan rasa gatal misalnya kapur sirih, daun –
daunan yang ditumbuk, salep penisilin, salep sulfa dan lain – lain hal ini biasanya
menyulitkan diagnosis.

M. PROGNOSIS

Dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakaian obat, serta syarat pengobatan dan
menghilangkan faktor predisposisi, penyakit ini dapat diberantas dan memberi prognosis yang
baik. Dengan terapi yang adekuat memberikan prognosis yang baik kecuali ada kelainan
imunologik.1,2
Kesimpulan

 Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap
Sarcoptes scabiei var. hominis dan produknya.
 Penularannya dengan 2 cara kontak langsung dan kontak tak langsung.
 Pada penyakit skabies ditemukan 4 tanda cardinal yaitu pruritus nocturna, menyerang
manusia secara berkelompok, adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat
predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan dan menemukan tungau.
 Wujud kelainan kulit pada penyakit skabies yaitu ditemukannya papul, vesikel, erosi,
ekskoriasi, krusta dan lain-lain.
Daftar Pustaka :

1. Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin edisi V.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2008.
2. Hermawan Danny. A. Liman Harro. H. Mengenal Penyakit Skabies Di Indonesia. Fakultas
Kedokteran UKRIDA. Jakarta.
3. Natadisastra D, Agoes R. Parasitologi Kedokteran: Ditinjau Dari Organ Tubuh Yang
Diserang edisi I. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2009.
4. Harahap Marwali. Ilmu Penyakit Kulit edisi III. Jakarta: Penerbit Hipokrates; 2007.
5. Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI. Farmakologi dan Terapi edisi V. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI; 2008.
6. Mandal Birhat K. Wilkins Edmund G. Dunbar Edward M. Mayon White Rchard T. Penyakit
Infeksi.edisi VI. Jakarta: Erlangga. 2004.