Anda di halaman 1dari 31

ASUHAN KEPERAWATAN PENYAKIT PARU OBSTRUKSI

KRONIK

Dosen Pembimbing : Anja Hernia.S.kep.,Ns.M.Kes

Disusun Oleh Kelompok 3 :

1. Aan Anisya KU (151001001)


2. Ayu Lu’lu’ul Jannah (151001005)
3. Benny Wibowo (151001006)
4. Desi Anjarsari (151001008)
5. Dia Fitriana (151001009)
6. Faradellah Sendi (151001013)
7. Mitha Febriyantrisna (151001024)
8. Mufarikha Tri Wahyuni (151001026)
9. Nelam Anggraini (151001029)
10. Widya Pangestu A (151001045)
11. Wiwik Aryunani (151001046)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

PEMERINTAH KABUPATEN JOMBANG

S1 KEPERAWATAN/3A

TAHUN AJARAN 2017/2018

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala Rahmat dan
hidayah-Nya yang telah dilimpahkan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan
makalahyang berjudul “ Asuhan Keperawatan PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kronis)“.
Adapun tujuan dan maksud penyusunan Asuhan Keperawatan ini untuk memenuhi tugas
mata ajar “ Komunitas”

Segala kemampuan dan daya upaya telah diusahakan semaksimal mungkin namun
penulis menyadari masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan
kritik dan saran yang sifatnya membangun demi menyempurnakan makalah ini. Penulis
berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca khususnya di dunia
keperawatan.

Jombang, 28 November 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI
Cover .......................................................................................................................... i

Kata Pengantar ........................................................................................................... ii

Daftar Pustaka ............................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ............................................................................................................. 1


1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................................... 2
1.3 Tujuan ............................................................................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Definisi PPOK .................................................................................................... 3


2.2 Etiologi PPOK ..................................................................................................... .3
2.3 Patofisiologi ........................................................................................................ .4
2.4 WOC ................................................................................................................... .5
2.5 Manifestasi Klinnis PPOK ................................................................................... .5
2.6 Klasifikasi ............................................................................................................ .7
2.7 Faktor Predisposisi .............................................................................................. .8
2.8 Pemeriksaan Penunjang ...................................................................................... .8
2.9 Komplikasi .......................................................................................................... .11

2.10 Penatalaksanaan ................................................................................................ .13

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN KASUS

3.1 KASUS ............................................................................................................... 13


3.2 Pemeriksaan Persistem ....................................................................................... 15
3.3 Analisa Data ....................................................................................................... 20
3.4 Intervensi Keperawatan ...................................................................................... 23

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan .......................................................................................................... 26


4.2 Saran .............................................................................................................................. 26

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 27

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah penyakit paru kronik yang
progresif, artinya penyakit ini berlangsung seumur hidup dan semakin memburuk
secara lambat dari tahun ke tahun. Dalam perjalanan penyakit ini terdapat fase-fase
eksaserbasi akut. Berbagai faktor berperan pada perjalanan penyakit ini, antara lain
faktor resiko yaitu faktor yang menimbulkan atau memperburuk penyakit seperti
kebiasaan merokok, polusi udara, polusi lingkungan, infeksi, genetik dan perubahan
cuaca.
Pada lanjut usia biasanya terjadi perubahan anatomi-fisiologi dan dapat timbul
pula penyakit-penyakit salah satunya pada sistem pernafasan. Usia harapan hidup
lansia di Indonesia semakin meningkat karena pengaruh status kesehatan, status gizi,
tingkat pendidikan, ilmu pengetahuan dan sosial ekonomi yang semakin meningkat
sehingga populasi lansia meningkat. Menurut ilmu demografi Indonesia dalam masa
transisi demografi yaitu perubahan pola penduduk berusia muda ke usia tua. Infeksi
saluran nafas bagian bawah akut dan tuberkulosis paru menduduki 5 penyakit
terbanyak yang diderita oleh masyarakat. Belum banyak dijumpai laporan para ahli
tentang insidens PPOK orang tua usia lanjut.
Derajat obtruksi saluran nafas yang terjadi, dan identifikasi komponen yang
memugkinkan adanya reversibilitas. Tahap perjalanan penyakit dan penyakit lain
diluar paru seperti sinusitis dan faringitis kronik. Yang pada akhirnya faktor-faktor
tersebut membuat perburukan makin lebih cepat terjadi. Untuk melakukan
penatalaksanaan PPOK perlu diperhatikan faktor-faktor tersebut, sehingga pengobatan
PPOK menjadi lebih baik.
Penyakit paru obstruksi kronik adalah klasifikasi luas dari gangguan yang
mencakup bronkitis kronik, bronkiektasis, emfisema dan asma, yang merupakan
kondisi ireversibel yang berkaitan dengan dispnea saat aktivitas dan penurunan aliran
masuk dan keluar udara paru-paru.

1
Penyakit paru obstruksi kronik adalah kelainan paru yang ditandai dengan
gangguan fungsi paru berupa memanjangnya periode ekspirasi yang disebabkan oleh
adanya penyempitan saluran napas dan tidak banyak mengalami perubahan dalam
masa observasi beberapa waktu.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa definisi dari PPOK ?
2. Apa Etiologi dari PPOK ?
3. Bagaimana Patofisiologi dari PPOK ?
4. Bagimana WOC dari PPOK ?
5. Apa Manifestasi Klinis dari PPOK ?
6. Apa Klasifikasi dari PPOK ?
7. Apa Faktor Predisposisi dari PPOK ?
8. Bagimana Pemeriksaan Penunjang dari PPOK ?
9. Apa komplikasi dari PPOK ?
10. Bagaimana penatalaksanaan dari PPOK ?
11. Bagaimana asuhan keperawatan PPOK pada lansia ?

1.3 Tujuan
1 Untuk mengetahui definisi dari PPOK
2 Untuk mengetahui etiologi dari PPOK
3 Untuk mengetahui PatofisiologiPPOK
4 Untuk mengetahui manifestasi klinis dari PPOK
5 Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang PPOK
6 Untuk mengetahui komplikasi dari PPOK
7 Untuk mengetahui penatalaksanaan medis PPOK
8 Untuk mengetahui pencegahan dan pengendalian peyakitPPOK
9 Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan Teori PPOK
10 Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan kasus PPOK

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Penyakit paru-paru obstrutif kronis/PPOK (COPD) merupakan suatu istilah
yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru-paru yang berlangsung lama
dan ditandai olehpeningkatan resistensi terhadap aliran udara sebagai gambaran
patofisiologi utamanya(Irman, 2008).
Eksaserbasi akut pada PPOK berarti timbulnya perburukan dibandingkan
dengan kondisi sebelumnya. Definisi eksaserbasi akut pada PPOK adalah kejadian
akut dalam perjalananalami penyakit dengan karakteristik adanya perubahan basal
sesak napas, batuk, dan/ atausputum yang diluar batas normal dalam variasi hari ke
hari (GOLD, 2009).
Penyakit Paru Obstruksi Kronik merupakan sejumlah gangguan yang
mempengaruhipergerakan udara dari dan keluar paru. Gangguan yang penting adalah
bronkhitis obstruktif,emfisema,dan asma bronkhial.( Arif Muttaqin, 2008: 156 )

2.2 Etiologi
Menurut Arif Muttaqin, (2008: 156 ) penyebab dari Penyakit Paru Obstruksi
Kronikadalah :
a. Kebiasaan merokok yang lama, merupakan penyebab utama pada bronkhitis
kronik dan emfisema.
b. Adanya infeksi : Haemophilus influenzae stafilokokus, pneumokokus dan
streptococcus pneumonia.
c. Rangsangan : misalnya asap pabrik, mobil, rokok.
d. Faktor sosial- ekonomi : keadaan lingkungan dan ekonomi yang memburuk.
e. Polusi udara
f. Infeksi paru berulang
g. Umur
h. Jenis kelamin

3
2.3 Patofisiologi
Fungsi paru mengalami kemunduran sejalan dengan adanya proses penuaan.
Elastisitas jaringan paru dan dinding dada makin berkurang sejalan dengan
bertambahnya usia, disertai dengan penurunan kekuatan kontraksi otot pernapasan
sehingga menyebabkan kesulitan saat bernapas. Fungsi paru-paru menentukan
konsumsi oksigen seseorang, yakni jumlah oksigen yang diikat oleh darah dalam
paru-paru untuk digunakan tubuh. Konsumsi oksigen sangat erat hubungannya dengan
arus darah ke paru-paru. Berkurangnya fungsi paru-paru juga disebabkan oleh
berkurangnya fungsi sistem respirasi seperti fungsi ventilasi paru. Faktor risiko
merokok dan polusi udara menyebabkan proses inflamasi bronkus dan juga
menimbulkan kerusakan pada dinding bronkiolus terminalis. Akibat dari kerusakan
akan terjadi obstruksi pada bronkiolus terminalis, yang mengalami penutupan atau
obstruksi awal fase ekspirasi. Udara yang mudah masuk ke alveoli pada saat inspirasi,
pada saat ekspirasi banyak terjebak dalam alveolus dan terjadilah penumpukan udara
(air trapping). Hal inilah yang menyebabkan adanya keluhan sesak napas dengan
segala akibatnya. Adanya obstruksi pada awal ekspirasi akan menimbulkan kesulitan
ekspirasi dan menimbulkan pemanjangan fase ekspirasi (Price & Wilson, 2003).
Perubahan anatomis yang terjadi pada usia lanjut seperti penurunan komplians
paru dan dinding dada turut berperan dalam peningkatan kerja pernapasan, atrofi otot-
otot pernapasan pada lansia turut berperan dalam penurunan konsumsi oksigen
maksimum. Perubahan-perubahan pada intertisium parenkim dan penurunan pada
daerah permukaan alveolar dapat menghasilkan penurunan difusi oksigen (Stanley, &
Beare, 2007). Perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh penyakit PPOK
menyebabkan menurunnya fungsi pernafasan. Kesulitan saat bernafas pada pasien
PPOK dapat menyebabkan ketakutan akan kematian. Sehingga selain komplikasi fisik
yang ditimbulkan, seperti hipoxemia, asidosis respiratori, infeksi saluran nafas, gagal
jantung, gangguan irama jantung, dan status asmatikus (Smeltzer & Bare, 2002).
Pasien PPOK juga dapat mengalami respon psikologis akibat penyakitnya. Studi
kepustakaan yang dilakukan oleh Brenes (2003) menemukan bahwa berdasarkan
hasil-hasil penelitian sejak tahun 1966 sampai 2002, terkait PPOK telah menemukan
bahwa ansietas dan gangguan panik merupakan masalah yang sering dialami oleh
pasien PPOK.

4
2.4 Partway / WOC

5
2.5 Manifestasi Klinis

Gejala-gejala awal dari PPOK yang bisa muncul setelah 5-10 tahun merokok adalah
batuk dan adanya lendir. Pada umur sekitar 60 tahun sering timbul sesak nafas ketika
bekerja, mengalami penurunan berat badan, dan pembengkakan pada kaki. Manifestasi
klinis pada pasien dengan PPOK

diantaranya:

a. Batuk
b. Sianosis
c. Kelemahan badan
d. Ekspirasi memanjang
e. Mengi/wheezing
f. Penggunaan otot bantu pernafasan

6
Gejala klinis yang biasa ditemukan pada penderita PPOK adalah sebagai

berikut:

a. Batuk kronik
Batuk kronik adalah batuk hilang timbul selama 3 bulan dalam 2 tahun terakhir
yang tidak hilang dengan pengobatan yang diberikan. Batuk dapat terjadi
sepanjang hari atau intermiten. Batuk kadang terjadi pada malam hari.
b. Berdahak kronik
Hal ini disebabkan karena peningkatan produksi sputum. Kadang-kadang pasien
menyatakan hanya berdahak terus menerus tanpa disertai batuk. Karakterisktik
batuk dan dahak kronik ini terjadi pada pagi hari ketika bangun tidur.
c. Sesak napas
Terutama pada saat melakukan aktivitas. Seringkali pasien sudah mengalami
adaptasi dengan sesak nafas yang bersifat progressif lambat sehingga sesak ini
tidak dikeluhkan.

2.6 Klasifikasi
Termasuk dalam kelompok PPOK adalah bronkhitis kronik, emfisema paru, dan asma

a. Bronkitis kronik
Bronkitis merupakan definisi klinis batuk-batuk hampir setiap hari disertai
pengeluaran dahak, sekurang-kuranganya 3 bulan dalam satu tahun dan terjadi
paling sedikit selama 2 tahun berturut-turut.
b. Emfisema paru
Emfisema paru merupakan yaitu suatu perubahan anatomik paru yang ditandai
dengan melebarnya secara abnormal saluran udara bagian distal bronkus
terminalis, yang disertai kerusakan dinding alveolus
c. Asma
Asma merupakan suatu penyakit yang dicirikan oleh hipersensitivitas cabang-
cabang trakeobronkial terhadap berbagai jenis rangsangan. Keadaan ini
bermanifestasi sebagai penyempitan saluran-saluran napas secara periodic dan
reversible akibat bronkospasme.

7
2.7 Faktor Prediposisi
PPOK disebabkan oleh factor lingkungan dan gaya hidup, yang sebagian besar
bisa dicegah. Merokok diperkirakan menjadi penyebab timbulnya 80-90% kasus
PPOK. Faktor resiko lainnya termasuk keadaan social-ekonomi dan status pekerjaaan
yang rendah, kondisi lingkungsn yang buruk karena dekat lokasi pertambangan,
perokok pasif, atau terkena polusi udara dan konsumsi alcohol yang berlebihan. Laki-
laki dengan usia antara 30 hingga 40 tahun paling banyak menderita PPOK.

2.8 Pemeriksaan penunjang


1. Pemeriksaan rutin
a. Faal paru
1) Spirometri (VEP1, VEP1prediksi, KVP, VEP1/KVP
Obstruksi ditentukan oleh nilai VEP1 prediksi ( % ) dan atau VEP1/KVP ( % ).
Obstruksi : % VEP1(VEP1/VEP1 pred) < 80% VEP1% (VEP1/KVP) < 75 %
2) VEP1 merupakan parameter yang paling umum dipakai untuk menilai beratnya
PPOK dan memantau perjalanan penyakit. Apabila spirometri tidak tersedia atau
tidak mungkin dilakukan, APE meter walaupunkurang tepat, dapat dipakai
sebagai alternatif dengan memantau variabiliti harian pagi dan sore, tidak lebih
dari 20%
b. Uji bronkodilator
1) Dilakukan dengan menggunakan spirometri, bila tidak ada gunakan APE meter.
2) Setelah pemberian bronkodilator inhalasi sebanyak 8 hisapan, 15 - 20 menit
kemudian dilihat perubahan nilai VEP1 atau APE, perubahan VEP1 atau APE <
20% nilai awal dan < 200 ml
3) Uji bronkodilator dilakukan pada PPOK stabil
c. Darah rutin
Hb, Ht, leukosit
d. Radiologi
Foto toraks PA dan lateral berguna untuk menyingkirkan penyakit paru lain
1. Pemeriksaan khusus (tidak rutin)
a. Faal paru
1) Volume Residu (VR), Kapasiti Residu Fungsional (KRF), Kapasiti Paru Total
(KPT), VR/KRF,VR/KPT meningkat

8
2) DLCO menurun pada emfisema
3) Raw meningkat pada bronkitis kronik
4) Sgaw meningkat
5) Variabiliti Harian APE kurang dari 20 %
6) Uji latih kardiopulmoner
7) Sepeda statis (ergocycle)
8) Jentera (treadmill)
9) Jalan 6 menit, lebih rendah dari normal

b. Uji provokasi bronkus


Untuk menilai derajat hipereaktiviti bronkus, pada sebagian kecil PPOK terdapat
hipereaktiviti bronkus derajat ringan
c. Uji coba kortikosteroid
Menilai perbaikan faal paru setelah pemberian kortikosteroid oral (prednison atau
metilprednisolon) sebanyak 30 - 50 mg per hari selama 2minggu yaitu peningkatan
VEP1 pascabronkodilator > 20 % dan minimal 250 ml. Pada PPOK umumnya tidak
terdapat kenaikan faal paru setelah pemberian kortikosteroid
d. Analisis gas darah
Terutama untuk menilai :
1) Gagal napas kronik stabil
2) Gagal napas akut pada gagal napas kronik
e. Radiologi
1) CT - Scan resolusi tinggi
2) Mendeteksi emfisema dini dan menilai jenis serta derajat emfisema atau bula
yang tidak terdeteksi oleh foto toraks polos
3) Scan ventilasi perfusi
4) Mengetahui fungsi respirasi paru
f. Elektrokardiografi
Mengetahui komplikasi pada jantung yang ditandai oleh Pulmonal dan hipertrofi
ventrikel kanan.
g. Ekokardiografi
Menilai funfsi jantung kanan
h. Bakteriologi

9
Pemerikasaan bakteriologi sputum pewarnaan Gram dan kultur resistensi diperlukan
untuk mengetahui pola kuman dan untuk memilih antibiotik yang tepat. Infeksi
saluran napas berulng merupakan penyebab utama eksaserbasi akut pada penderita
PPOK di Indonesia.
i. Kadar alfa-1 antitripsin
Kadar antitripsin alfa-1 rendah pada emfisema herediter (emfisema pada usia muda),
defisiensi antitripsin alfa-1 jarang ditemukan di Indonesia.

2.9 Komplikasi PPOK

1. Hipoxemia
Hipoxemia didefinisikan sebagai penurunan nilai PaO2 kurang dari 55 mmHg,
dengan nilai saturasi Oksigen <85%. Pada awalnya klien akan mengalami perubahan
mood, penurunan konsentrasi dan pelupa. Pada tahap lanjut timbul cyanosis.

2. Asidosis Respiratory
Timbul akibat dari peningkatan nilai PaCO2 (hiperkapnia). Tanda yang muncul
antara lain : nyeri kepala, fatique, lethargi, dizzines, tachipnea.
3. Infeksi Respiratory
Infeksi pernafasan akut disebabkan karena peningkatan produksi mukus,
peningkatan rangsangan otot polos bronchial dan edema mukosa. Terbatasnya aliran
udara akan meningkatkan kerja nafas dan timbulnya dyspnea
4. Gagal jantung
Terutama kor-pulmonal (gagal jantung kanan akibat penyakit paru), harus
diobservasi terutama pada klien dengan dyspnea berat. Komplikasi ini sering kali
berhubungan dengan bronchitis kronis, tetapi klien dengan emfisema berat juga
dapat mengalami masalah ini.
5. Cardiac Disritmia
Timbul akibat dari hipoxemia, penyakit jantung lain, efek obat atau asidosis respiratory.
6. Status Asmatikus
Merupakan komplikasi mayor yang berhubungan dengan asthma bronchial. Penyakit
ini sangat berat, potensial mengancam kehidupan dan seringkali tidak berespon

10
terhadap therapi yang biasa diberikan. Penggunaan otot bantu pernafasan dan
distensi vena leher seringkali terlihat

2.10.Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada pasien dengan Penyakit Paru Obstruksi Kronis menurut
Mansjoer (2000) adalah :
1. Pencegahan yaitu mencegah kebiasaan merokok, infeksi, polusi udara.
2. Terapi eksasebrasi akut dilakukan dengan :
a. Antibiotik, karena eksasebrasi akut biasanya disertai infeksi. Infeksi ini
umumnya disebabkan oleh H. Influenzae dan S. Pneumonia, maka digunakan
ampisillin 4 x 0,25-0,5 g/hari atau eritromisin 4 x 0,5 g/hari.
b. Augmentin (amoksisilin dan asam kluvanat) dapat diberikan jika kuman
penyebab infeksinya adalah H. Influenzae dan B. Catarhalis yang
memproduksi beta laktamase.
c. Pemberian antibiotik seperti kotrimoksasol, amoksisilin, atau doksisilin pada
pasien yang mengalami eksasebrasi akut terbukti mempercepat penyembuhan
dam membantu mempercepat kenaikan peak flow rate. Namun hanya dalam 7-
10 hari selama periode eksasebrasi. Bila terdapat infeksi sekunder atau tanda-
tanda pneumonia, maka dianjurkan antibiotic yang lebih kuat.
d. Terapi oksigen diberikan dengan aliran lambat : 1-2 liter/menit, diberikan jika
terdapat kegagalan pernafasan karena hiperkapnia dan berkurangnya
sensitivitas terhadap CO2.
e. Fisioterapi membantu pasien untuk mengeluarkan sputum dengan baik.
f. Bronkodilator untuk mengatasi, termasuk didalamnya golongan adrenergik.
Pada pasien dapat diberikan salbutamol 5 mg dan atau ipratorium bromide 250
mikrogram diberikan tiap 6 jam dengan nebulizer atau aminofilin 0,25-0,5 g iv
secara perlahan.
3. Terapi jangka panjang dilakukan dengan :
a. Antibiotik untuk kemoterapi preventif jangka panjang, ampisillin 4 x 0,25-
0,5/hari dapat menurunkan kejadian eksasebrasi akut.
b. Bronkodilator, tergantung tingkat reversibilitas obstruksi saluran nafas tiap
pasien maka sebelum pemberian obat ini dibutuhkan pemeriksaan obyektif
dari fungsi faal paru.

11
c. Fisioterapi.
d. Latihan fisik untuk meningkatkan toleransi aktivitas fisik.
e. Mukolitik dan ekspektoran.
f. Terapi jangka penjang bagi pasien yang mengalami gagal nafas tipe II dengan
PaO2<7,3kPa (55 mmHg).
g. Rehabilitasi, pasien cenderung menemui kesulitan bekerja, merasa sendiri dan
terisolasi, untuk itu perlu kegiatan sosialisasi agar terhindar dari depresi.
Rehabilitasi pada pasien dengan penyakit paru obstruksi kronis adalah
fisioterapi, rehabilitasi psikis dan rehabilitasi pekerjaan.

12
BAB III
ASKEP KASUS

3.1 Kasus

Tn. H berusia 60 tahun, datang ke RSUD Jombang pada tanggal 05 Oktober 2017
dengan keluhan batuk berdahak berwarna putih kental sejak 2 minggu yang lalu, sesak
napas,tidak nafsu makan dan mudah lelah saat beraktivitas.Tn H merupakan perokok aktif,
Berat badan menurun dan klien nampak gelisah . Dari hasil observasi didapatkan TD 120/70
mmHg,Nadi 110x/menit, RR 27/menit, suhu 36,50..tampilan fisiknya wajah dan bibir pucat,
Tn. H mengatakan punya penyakit asma dan pernah didiagnosa dokter menderita bronkitis
kronis lebih kurang satu tahun yang lalu.

IDENTITAS KLIEN
Nama : Tn.H

Umur : 60 Tahun

Jenis Kelamin : laki laki

Suku/Bangsa : jawa

Agama : Islam

Pekerjaan : kuli bangunan

Pendidikan : SMU

Alamat : Jl. Bunaken No. 40 A Makassar

No. Reg : 100023


Tgl. MRS : 05 Oktober 2017 (08.00 WIB)

Diagnosis medis : paru obstruksif kronis

13
RIWAYAT KEPERAWATAN

1. Keluhan Utama

Pasien mengeluh batuk berdahak dan sesak napas.

2. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke RSU pada tanggal 05 Oktober 2017 dengan keluhan sesak
napas, dan batuk berdahak berwarna putih kental , TD : 120/70 mmHg, S: 36,50 C,
RR : 27x/menit. Nadi 110x/menit

3. Riwayat Penyakit Terdahulu

Pasien mengatakan punya penyakit asma dan pernah didiagnosa dokter menderita
bronkitis kronis kurang lebih satu tahun yang lalu.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
Pasien mengatakan jika dikeluarganya belum pernah ada yang menderita
penyakit PPOK
5. Riwayat Kesehatan Lingkungan
Pasien tinggal bersamakeluarga. keluarga pasien mengatakan lingkungan
rumahnya dekat dengan pabrik.

Pemeriksaan Fisik

TD : 120/70 mmHg
RR : 27x/menit
Suhu : 36,50C
Nadi : 110x/menit
BB : 48 kg
TB : 165 cm

14
3.2 Pemeriksaan Per Sistem
1. Pemeriksaan per sistem
a. Sistem pernapasan
Anamnesa :
Pasien mengatakan sesak napas dan dirasakan semakin memberat ketika
melakukan aktivitas, batuk berdahak serta kelelahan.
Hidung
Inspeksi : tidak terdapat pernapasan cuping hidung
Palpasi : tidak nyeri tekan
Mulut
Inspeksi : pucat

Sinus paranasalis
Inspeksi : sinus paranasalis normal
Palpasi : tidak nyeri tekan
Leher
Inspeksi : tidak terdapat trakheostomi
Palpasi : tidak nyeri tekan dan tidak terdapat pembesaran
kelenjar limfe
Faring
Inspeksi : tidak terdapat tanda-tanda infeksi pada faring
Area dada
Inspeksi : tidak terdapat kelainan
Palpasi : tidak terdapat vokal premitus
Perkusi : hipersonor
Auskultasi : ronkhii pada lapang paru

b. Sistem cardiovaskuler dan limfe


Anamnesa :
Pasien mengatakan mengalami kelelahan.
15
Wajah
Inspeksi : pucat
Leher
Inspeksi : tidak terdapat adanya bendungan vena jugularis
Palpasi : arteri carotis communis normal
Dada
Inspeksi : tidak terdapat kelainan
Palpasi : tidak terdapat vokal premitus
Perkusi : hipersonor
Auskultasi : ronkhii pada lapang paru

Ekstrimitas atas
Inspeksi : tidak terdapat kelainan
Palpasi : keringat dingin
Ekstrimitas bawah
Inspeksi : tidak terdapat kelainan
Palpasi : keringat dingin
c. Sistem persyarafan
Anamnesis :
Pasien mengatakan tidak mengalami kelainan pada sistem persyarafan seperti
nyeri kepala berputar-putar dan hilang keseimbangan.
Tingkat kesadaran (kualitas) : compos mentis
Tingkat kesadaran (kuantitas) : GCS 456
d. Sistem perkemihan-eliminasi urin
Anamnesa :
Pasien mengatakan tidak mengalami gangguan pada perkemihan seperti nyeri
saat BAK.
Genetalia eksterna
Laki-laki
Genetalia eksterna
Inspeksi : tidak terdapat kelainan
Palpasi : tidak nyeri tekan
Kandung kemih

16
Inspeksi : tidak terdapat kelainan
Palpasi : tidak adanya nyeri tekan
Ginjal
Inspeksi : tidak terdapat kelainan
Palpasi : tidak terdapat kelainan
Perkusi : tidak terdapat kelainan
e. Sistem pencernaan-eliminasi alvi
Anamnesa :
Pasien mengatakan mengalami penurunan nafsu makan.
Mulut
Inspeksi : pucat
Palpasi : tidak nyeri tekan pada rongga mulut
Lidah
Inspeksi : tidak terdapat kelainan
Palpasi : tidak terdapat kelainan
Faring – esofagus
Inspeksi : tidak terdapat tanda-tanda infeksi
Palpasi : tidak terdapat pembesaran kelenjar
Abdomen (dibagi menjadi 4 kuadran)
Inspeksi : tidak terdapat kelainan
Auskultasi : peristaltik usus
Perkusi : tymphani
Palpasi:
Kuadran I : hepar  tidak nyeri tekan
Kuadran II : gaster  tidak nyeri tekan
Lien  tidak nyeri tekan
Kuadran III : tidak nyeri tekan
Kuadran IV : tidak nyeri tekan
f. Sistem muskuloskeletal & integumen
Anamnesa:
Pasien mengatakan tidak mengalami gangguan seperti gatal dan ruam kulit.
Warna kulit : tidak terdapat kelainan
kekuatan otot : 4 4

17
4 4
Fraktur
Look : tidak terdapat fraktur
Feel : tidak mengalami nyeri
Move : tidak mengalami kekakuan dan kontraktur sendi
g. Sistem endokrin dan eksokrin
Anamnesa :
Pasien mengatakan tidak mengalami kejang atau kram, pandangan tidak
kabur, tidak tremor dan tidak sulit menelan.
Kepala
Inspeksi : tidak terdapat kelainan
Leher
Inspeksi : tidak terdapat pembesaran kelenjar thyroid
Palpasi : tidak terdapat pembesaran kelenjar thyroid dan
parathyroid
Payudara
Inspeksi : tidak terdapat kelainan
Genetalia
Inspeksi : tidak terdapat kelainan
Palpasi : tidak terdapat kelainan
Ekstremitas bawah
Palpasi : keringat dingin
h. Sistem reproduksi
Anamnesa :
Pasien mengatakan tidak mengalami gangguan pada sistem reproduksi.
Payudara
Inspeksi : tidak terdapat kelainan
Palpasi : tidak terdapat kelainan
Axilla
Inspeksi : tidak adanya benjolan abnormal
Palpasi : tidak adanya benjolan abnormal
Abdomen
Inspeksi : tidak terdapat pembesaran abdomen

18
Palpasi : tidak terdapat kelainan
Genetalia
Inspeksi : tidak terdapat kelainan
Palpasi : tidak terdapat kelainan

i. Persepsi sensori :
Anamnesa :
Pasien mengatakan tidak mengalami gangguan seperti pandangan kabur atau
ganda.
Mata
Inspeksi : tidak terdapat kelainan
Kornea : tidak terdapat kelainan
Iris dan pupil : tidak terdapat kelainan
Lensa : tidak terdapat kelainan
Sclera : warna putih
Palpasi : normal
Penciuman (hidung)
Palpasi : tidak mengalami nyeri tekan
Perkusi : tidak terdapat kelainan

19
3.2 Analisa data

Ketidakefektifan bersihan jalan napas (00031)


NS. DIAGNOSIS
: Domain : Keamanan atau Perlindungan

(NANDA-I) Kelas 2 : Cidera Fisik

Ketidakmampuan membersihankan sekresi atau obstruksi dari saluran


DEFINITION: napas untuk mempertahankan kebersihan jalan napas.

 Batuk yang tidak efektif


 Dispnea
 Gelisah
 Kesulitan verbalisasi
 Mata terbuka lebar
DEFINING  Ortopnea
CHARACTERIS  Penurunan bunyi napas
TICS  Perubahan frekuensi napas
 Perubahan pola napas
 Sianosis
 Sputum dalam jumlah yang berlebihan
 Suara napas tambahan
 Tidak ada batuk

Lingkungan

 Perokok
 Perokok pasif
RELATED  Terpajan asap
FACTORS:
Obstruksi jalan napas

 Adanya jalan napas buatan


 Benda asing dalam jalan napas

20
 Eksudat dalam alveoli
 Hiperplasia pada dinding bronkus
 Mukus berlebihan
 Penyakit paru obstruksi kronis
 Sekresi yang tertahan
 Spasme jalan napas

Fisiologis

 Asma
 Disfungsi neuromuskular
 Infeksi
 Jalan napas alergik

Subjective data entry Objective data entry


Pasien mengeluh batuk berdahak - TTV :
berwarna putih kental, sesak napas, TD : 120/70 mmHg
tidak nafsu makan, mudah lelah saat RR : 27 x/menit
beraktivitas. Sesak napas yang N : 110 x/menit
dirasakan semakin memberat saat S : 36,5o C
melakukan aktivitas.
- BB : 46 kg
- TB : 163 cm
- Dispnea
- Wajah dan bibir pucat
- Ronkhi pada lapang paru
ASSESSMENT

- Kelemahan
SESSMENT

- Keringat dingin
- Riwayat asma (+)

Ns. Diagnosis (Specify):


Client
DIAGNOSIS

Ketidakefektifan bersihan jalan napas


Diagnostic
Related to:
Statement:
Penyakit paru obstruktif kronis

21
Diagnosa keperawatan :

Ketidak efektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan penyakit paru obstruktif kronis
yang dimanifestasikan dengan batuk berdahak dan sesak nafas.

22
3.3 Intervensi Keperawatan

Inisial nama : Tn.H

Tanggal : 05 Oktober 2017

Dx.Kep : Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan penyakit paru obstruktif kronis.

Definisi : Ketidakmampuan membersihankan sekresi atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan

kebersihan jalan napas.

NIC NOC

Intervensi Aktivitas Rasional Outcome Indikator

23
Penghisapan Observasi : Observasi : Status pernapasan : 1) Frekuensi
lendir pada jalan kepatenan jalan napas pernapasan
 Monitor jalan  Untuk memastikan ada
napas (3160) (0410) (ditingkatkan
napas pasien. atau tidaknya sekret pada
dari 3 ke 4)
Definisi : jalan napas. Definisi :
2) Kemampuan
 Monitor suara  Suara napas tambahan
Membuang sekret Saluran trakeobronkial untuk
napas seperti ronkhii
dengan yang terbuka dan lancar mengeluarkan
tambahan pada mengindikasikan adanya
memasukkan untuk pertukaran udara. sekret
lapang paru. sekret pada jalan napas.
kateter suction ke (ditingkatkan
Aksi : Aksi :
dalam mulut, dari 3 ke 4)
nasofaring, atau  Berikan  Untuk membantu Setelah dilakukan 3) Suara napas
trakea pasien. minum hangat mengencerkan dahak. tindakan keperawatan tambahan
pada pasien. selama 5x24 jam, (ditingkatkan
 Berikan posisi masalah keperawatan dari 3 ke 4)
 Untuk mengurangi sesak
semi fowler. ketidakefektifan bersihan 4) Batuk
napas dan meningkatkan
Edukasi : jalan napas diharapkan (ditingkatkan
rasa nyaman.
dapat teratasi. dari 3 ke 4)
 Ajarkan cara Edukasi :
5) Akumulasi
melakukan Kriteria hasil :
 Untuk mempermudah sputum
batuk efektif.  RR dalam batas
dalam mengeluarkan (ditingkatkan
Kolaborasi : normal
sekret. dari 3 ke 4)

24
 Kolaborasi Kolaborasi :  Tidak ada
pemberian hambatan dalam
 Membantu memenuhi
oksigen jalan napas
kebutuhan oksigen
melalui nasal  Pasien mampu
pasien.
kanul. melakukan batuk
 Kolaborasi efektif.
pemberian
 Untuk melonggarkan
inhalasi.
jalan napas.

25
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) adalah suatu penyakit yang
dikarakteristikkan oleh adanya hambatan aliran udara secara kronis dan perubahan-
perubahan patologi pada paru. PPOK adalah penyakit yang diderita seumur hidup dan
disebabkan oleh infeksi virus dan rokok.
PPOK adalah kelainan paru yang ditandai dengan gangguan fungsi paru
berupa memanjangnya periode ekspirasi yang disebabkan oleh adanya penyempitan
saluran nafas dan tidak banyak mengalami perubahan dalam masa observasi beberapa
waktu.PPOK terdiri dari kumpulan tiga penyakit yaitu Bronkitis kronik, Emfisema
paru dan Asma. Manifestasi klinik PPOK adalah pada Lansia, antara lain : Batuk yang
sangat produktif, purulent, dan mudah memburuk oleh iritan-iritan inhalen, Sesak
nafas, Hipoksia dan hiperkapnea, Takipnea, Dispnea yang menetap. Penatalaksanaan
pada penderita PPOK : Meniadakan faktor etiologi dan presipitasi, membersihkan
sekresi sputum, memberantas infeksi, mengatasi bronkospasme, pengobatan
simtomatik, penanganan terhadap komplikasi yang timbul, pengobatan oksigen,
tindakan rehabilitasi.

4.2 Saran
Sebaiknya untuk mencegah terjadinya PPOK harus terhindar dari merokok
untuk mencapai hidup yang sehat, dan paru-paru dapat bekerja dengan baik.

26
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito. Lynda juall (1999), Rencana Asuhan dan Dokumentasi keperawatan edisi 6: EGC,
Jakarta

Suddarth dan Brunner. 2002. Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8. Jakarta : EGC.

Novianto, Sahril. 2015. Asuhan Keperawatan pada Tn.S dengan Gangguan Sistem Pernapasan :
PPOK. http://mantrimuda09.blogspot.co.id/2015/09/asuhan-keperawatan-pada-tns-dengan.html.
Diakses pada 27 Novemver 2017 pukul 14.25 WIB.

Marilyn E dongoes (1999), Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien, EGC, Jakarta

27
28