Anda di halaman 1dari 49

Menghitung Biaya RAB Pekerjaan Rangka

Atap Kayu
Desain Rumah
22 November 2012
rab

Untuk mengingatkan kembali, pada postingan sebelumnya saya telah menyampaikan materi
menghitung biaya pekerjaan Menghitung Pekerjaan Pondasi, Menghitung Pekerjaan dinding,
Menghitung Pekerjaan Beton, dan Menghitung Pekerjaan Kusen, pintu dan jendela. Kali ini
akan saya lanjutkan dengan materi menghitung biaya rangka atap dengan menggunakan
material kayu.

Untuk menghitung biaya pekerjaan rangka atap kayu memerlukan analisa harga satuan kuda-
kuda, analisa gording, kaso dan reng, dan analisa lisplang. Ketiga analisa tersebut bisa Anda
lihat di bawah ini, adalah penggalan dari AHS-SNI Kab. Bogor 2011.
Analisa Harga Satuan Kuda-kuda

Analisa Harga Satuan Gording

Analisa Harga Satuan Kaso-reng


Analisa Harga Satuan Listplang

Dari
keempat analisa di atas Anda sudah dapat melihat harga satuan masing-masing. Untuk
mengetahui RAB masing-masing pekerjaan tersebut pada rumah Anda, maka Anda tinggal
menghitum volume pekerjaan tersebut pada rumah Anda berdasarkan ukuran detail pada
gambar rumah Anda.

Penjelasan Analisa Harga Satuan

Untuk itu Anda perlu mengetahui bagaimana cara menghitung volume tersebut. Pada
pekerjaan rangka atap, sepertinya agak rumit sedikit sebab bagi yang awam konstruksi akan
bingung cara menghitungnya, tidak seperti menghitung volume kusen, pintu atau jendela.
Pada pekerjaan rangka atap ada yang mungkin membingungkan seperti pada analisa kaso-
reng muncul kayu balok borneo, memang tidak salah sebab istilah teknis kaso merupakan
balok, begitu juga reng merupakan balok. Pada analisa kaso-reng disebutkan untuk 1 m2
pasangan kaso-reng genting plentong memerlukan 0.0120 m2 balok borneo, artinya
memerlukan 0.0120 m3 kaso dan reng. Jadi kita harus menghitung volume reng dan volume
kaso berdasarkan gambar rangka atap.

Gambar kuda-kuda kayu :

Yang dimaksud kuda-kuda adalah gambar yang saya beri warna merah, sedangkan yang tidak
diberi nama bukan termasuk kuda-kuda . Cara menghitung volumenya dengan
menjumlahkan panjang (angka berwarna biru) kemudian dikali luas penampang kayu 6 x 12
cm (0.06 x 0.12).
Kuda-kuda (warna merah)

Gambar lengkap rangka atap bisa dilihat pada gambar di bawah ini :

Nah, sekarang kita sudah bisa menghitung volume masing-masing kuda-kuda, gording, kaso-
reng dan lisplang.

Kuda-kuda :

Perhatikan gambar kuda-kuda, jumlahkan panjang kayu : 4,12 + 1,2 + (2 x 0,93) + (2 x 2.1) +
0, 6 (sepatu tiang kuda-kuda) = 4,12 + 18,6 + 4,2 + 0,6 = 27,5 m. Luas penampang kayu =
0,06 x 0,12 = 0,0072 m2. Volume kayu kuda-kuda = 27,5 x 0,072 = 0,198 m3. Jumlah kuda-
kuda ada 4 = 4 x 0,198 = 0,792 m3. Biaya kuda-kuda = volume x harga satuan = 0,792 x Rp.
7.283.000 = Rp. 5.768.130

Gording :

Lihat pada gambar rangka atap, gording saya beri warna ungu, ukuran penampang balok = 6
x 12 cm. Pada analisa hanya ada analisa gording, padahal ada balok tembok (di atas dinding
tembok), ada balok bubung (di atas kuda-kuda), lebih jelasnya lihat pada gambar kuda-kuda.
Jadi ada 5 balok memanjang dengan ukuran panjannya sama yaitu 785 cm. Kelima balok
tersebut kita masukan ke analisa gording.

Panjang gording = 5 x 0, 785 = 39,25 m. Luas penampamg = 0,06 x 0,12 = 0,0072 m3.
Volume gording = 39,25 x 0,072 = 0,282 m3. Jadi biaya gording = volume x harga satuan
(analisa) = 0,282 x Rp. 7.367.000 = Rp. 2.158.200

Kaso – reng

Panjang sisi bidang atap = 785 cm, sedangkan lebar bidang atap = 295 cm. Bidang atap ada 2
(kiri dan kanan dengan ukuran sama).

Luas bidang atap = 2 x (7.85 x 2.95) = 46.315 m2. Jadi biaya kaso reng = luas bidang atap x
harga satuan = 46.315 x Rp. 78.780 = Rp.
3,648,695.

Lisplank :

Panjang lisplang = 4 x lebar bidang + 2 x panjang bidang = (4 x 2,95) + (2 x 7,85) = 27.5 m.


Biaya listplang = panjang lisplang x harga satuan (analisa) = 27.5 x Rp. 62.200 = Rp.
1.710.500.

Total biaya rangka atap tinggal menjyumlahkan.Itulah cara menghitung biaya rangka atap
kayu. Semoga bermanfaat.
Menghitung Volume Satuan Pekerjaan
Dinding Rumah Sederhana
Desain Rumah

16 Oktober 2012

rab

Sebagai lanjutan posting saya sebelumnya “menghitung volume satuan pekerjaan pondasi
rumah sederhana“, pada posting kali inii saya akan sampaikan cara menghitung volume
satuan pekerjaan dinding rumah sederhana. Satuan pekerjaan dinding saya bagi ke dalam
beberapa sub satuan pekerjaan sebagai berikut :

PEKERJAAN DINDING

1. Pasangan dinding bata merah


2. Plesteran dinding tebal 20 mm
3. Acian dinding
4. Pasangan dinding keramik 20 x 20 cm
5. Pasangan batu tempel hitam

Agar kita dapat menghitung volme pekerjaan tersebut di atas, untuk memudahkan Anda agar
cepat memahami materi cara menghitung volume satuan pekerjaan ini, saya akan
menggunakan gambar denah sederhana sama seperti materi sebelumnya yaitu bangunan
tanpa skat ukuran 5 x 5 m. Pada bangunan tersebut ada 1 buah kusen pintu ukuran 1.32 m
(lebar) x 2.16 m (tinggi), dan ada 2 buah kusen jendela dengan ukuran yang sama yaitu 0.86 x
1.26 m. Tinggi dinding pasangan bata merah = 3.00 m. Silahkan simak gambar berikut :
Dari gambar
denah dan keterangan di atas maka diketahui ukuran-ukuran : panjang dinding = 4 x 5.00 m =
20 m; tinggi dinding = 3.00 m

Menghitung volume satuan pekerjaan :

1. Volume pekerjaan Pasangan dinding bata merah :


Volume pekerjaan pasangan bata merah = luas pasangan
Luas = (panjang dinding x tinggi dinding) – (luas kusen) = (4 x 5.00 x 3.00 m) – ((1 x
1.32)+(2 x 0.86 x 1.26)) = 60 m2 – (1.32 + 2.16) = 60 m2 – 3.48 m2 = 56.52 m2
Jadi, Volume pasangan bata merah = 56.52 m2

2. Volume pekerjaan plesteran :


Volume pekerjaan plesteran = 2 x luas pasangan bata merah = 2 x 56.52 m2 = 113.04 m2
Jadi, Volume pekerjaan plesteran tebal 20 mm = 113.04 m2

3. Volume Pekerjaan acian dinding:


Volume acian = volume luas plesteran = 113.04 m2
Jadi, Volume pekerjaan acian dinding = 113.04 m2

4. Volume pasangan keramik dinding :


Dalam gambar tidak ada. Tapi saya akan berikan contoh misalnya pasangan keramik untuk
kamar mandi ukuran 2.00 x 1.50 m, setinggi 2.00 m akan dipasang keramik ukuran 20 x 20
cm, maka volume pasangannya sbb :
Volume pasangan keramik dinding = luas pasangan tembok yang akan dipasang keramik =
(panjang tembok x tinggi pasangan keramik) – (luas pintu kamar mandi) = (((2 x 2) + (2 x
1.5)) x 2) – (0.6*2) = 12.80 m2
Jadi, Volume pasangan keramik dinding = 12.80 m2

5. Volume satuan pekerjaan pasangan batu tempel hitam :


Misalkan dibawah kusen jendela pada denah di atas akan dipasang batu tepel setinggi 1.00 m
sepanjang bangunan sekelilingnya, maka cara menghitung volume pekerjaan = panjang
bangunan (20.00 m) – lebar pintu (1.32 m) x 1.00 m = 18.68 m2
Jadi, Volume pasangan batu tempel hitam = 18.68 m2

Itulah cara menghitung volume pasangan dinding. Setelah mengetahui caranya diharapkan
Anda dapat mengaplikasikannya untuk rumah Anda. Apabila ada kesulitan silahkan kontak
saya di sini. Sampai jumpa dengan materi berikutnya masih materi menghitung volume
satuan pekerjaan. Apabila saya sudah selesai menyampaikan seluruh materi cara menghitung
volume satuan pekerjaan, saya akan bagikan software RAB otomatis untuk menghitung
RAB rumah sederhana. Anda cukup input volume satuan pekerjaan, RAB rumah Anda
langsung jadi. Sampai jumpa dan semoga ada manfaatnya buat Anda yang memerlukan.
Menghitung RAB Kusen, Pintu, dan
Jendela
Desain Rumah
15 November 2012
rab

Pada posting kali ini saya akan berbagi


cara menghitung biaya RAB kusen, pintu dan jendela yang dibuat dari kayu. Walaupun
saat ini sudah banyak kusen, pintu, dan jendela yang terbuat dari bahan non kayu.. tetapi
kebanyakan orang lebih memilih bahan kayu. Kusen, pintu, dan jendela yang terbuat dari
bahan material kayu lebih natural, apalagi kayu jati yang memiliki serat kayu yang unik.

Kusen, pintu dan jendela sebenarnya bisa membeli langsung jadi dengan cara memesan ke
toko kusen kalau kita hanya memerlukan beberapa buah. Tetapi kalau untuk satu rumah,
tentunya kita lebih baik membuat sendiri di lokasi dengan menggunakan tukang kayu yang
berpengalaman. Membuat sendiri tentunya akan lebih murah jika jumlah unitnya banyak.

Untuk menghitung RAB kusen, pintu dan jendela sebuah rumah tentunya kita harus
berdasarkan gambar teknis, dimana type, jumlah, ukuran, spesifikasi, serta penjelasan gambar
sudah lengkap. Dengan gambar yang lengkap kita mulai memilah type dan jumlah
kusen/pintu/jendela yang sama. Setelah diketahui type dan jumlahnya, kemudian kita
kelompokan. Misalnya kusen pintu yang memiliki ukuran yang sama dan type yang sama ada
10, pintu ada 12 bh, daun jendela jendela ada 20 daun, dst. Setelah itu setiap kelompok ambil
satu bh dan kita hitung volumenya, dan setelah diketahui.. maka tinggal mengalikan.

Setelah mengetahui keseluruhan volume kusen, pintu, dan jendela.. selanjutnya untuk
menghitung RAB-nya tinggal mengalikan ke harga satuan pada Analisa Harga Satuan (AHS)
SNI yang berlaku. Untuk keperluan di atas yang kita perlukan adalah AHS kusen, AHS pintu,
dan AHS jendela. Ketiganya bisa anda lihat di bawah ini :

Analisa Harga Satuan Pekerjaan Kusen Pintu dan Jendela :


Analisa Harga Satuan Pekerjaan Daun Pintu Panel Kayu Kamper :

Analisa Harga Satuan Pekerjaan Daun Jendela Kayu Kamper :

Contoh Perhitungan :

Untuk menghitung volume, saya sertakan contoh gambar kusen, daun pintu, dan daun jendela
beserta ukurannya :

Kusen Ruang Tamu :


Cara menghitung volume kusen di atas = panjang kusen x luas penampang kusen

luas penampang kusen = 0.06 x 0.15 m = 0.009 m2

penampang jelusi = 0.02 x 0.10 = 0.002 m2

panjang kusen = (2 x 1.86) + (2 x 2.52) + (2 x 3.44) + (2 x 0.8) = 17.24 m ; maka volume


kusen = 17.24 x 0.09 = 0.1550 m3

panjang jelusi = 3 x 3.44 m = 10.32 m; maka volume jelusi = 10.32 x 0.002 = 0.0206 m3

volume kusen = 0.1550 m3 + 0.0206 m3 = 0.1750 m3 (jumlah kusen seperti itu hanya 1 bh).

Biaya kusen = volume x harga satuan = 0.1750 x Rp. 10.479.000 = Rp. 1,833,825

Untuk menhitung volume kusen yang lain caranya sama.

Kusen Daun Pintu Panel :


Cara menghitung volume (luas) pintu di atas = lebar x tinggi = 0.80 x 2.00 = 1.6 m2; jumlah
pintu yang berukuran sama misalnya ada 10 bh, maka jumlah volume pintu semua tinggal
mengalikan = 10 x 1.6 = 16 m2;

Jadi, biaya (RAB) daun pintu semua = volume x harga satuan (lihat analisa di atas!) = 16 x
Rp. 482.000 = Rp. 7,712,000

Daun Jendela Kayu Kamper :


Cara menghitung volume pekerjaan daun jendela kaca (belum termasuk kaca) =lebar x tinggi
= 0.80 x 1.80 = 1.44 m2; misalkan kebutuhan jendela untuk satu rumah memerlukan 20
jendela, maka tinggal mengalikan saja = 1.44 x 20 = 28.80 m2. Jadi jumlah biaya pembuatan
jendela = 28.80 x Rp. 409.000 (lihat analisa di atas!) = Rp. 11,779,200

Itulah cara menghitung biaya RAB kusen, pintu, dan jendela. Untuk diperhatikan, agar harga
menjadi rill sesuai dengan di tempat Anda.. maka sebelumnya harga satuan metrial dan upah
kerja harus diganti/diedit sesuai harga di tempat Anda. Kalau meu mengubah dengan kayu
yang lebih murah boleh-bleh saja, tetapi upah tetap sesuai dengan harga upah setempat. Ok!
semoga ada manfaatnya.
Cara Menghitung Anggaran Biaya
membuat Plat Lantai Beton Bertulang
Desain Rumah

9 November 2012

rab

Pada posting sebelumnya saya telah sedikit


membahas cara menghitung volume beton bertulang, sloof, kolom, ring balok dan plat lantai
beton. pada posting kali ini saya ingin membahas khusus bagaimana cara menghitung biaya
membuat plat lantai beton bertulang untuk rumah bertingkat, khususnya untuk rumah
sederhana seperti pada perumahan KPR-BTN.

Setelah membaca postingan ini diharapkan Anda dapat mengetahui bagaimana cara
menghitung biaya pembuatan lantai beton bertulang yang yang terdiri dari biayaa material
dan upah kerja. Selain itu, juga Anda akan mengetahui rincian bahan-bahan material yang
diperlukan untuk pekerjaan tersebut seperti, semen, pasir, split, papan cor, dolken, paku,
kawat tali beton, dll. Dengan demikian maka ketika Anda padasuatu saat akan membuat
rumah bertingkat, Anda sudah mengetahui hal tersebut.. sehingga Anda bisa mengevaluasi
harga penawaran jika akan diborongkan pengerjaannya.

Pada posting sebelumnya, saya juga telah berbagi alat bantu menghitung biaya yang saya beri
nama software RAB, tetapi kemampuan alat hanya untuk mengetahui nilai biaya secara
global serta tidak dapat menampilkan rincian biaya secara detil. Oleh sebab itu untuk
membantu Anda yang ingin mengetahui cara menghitung RAB secara detil, saya harus
membahas satu per satu item pekerjaan.

Alat yang diperlukan untuk menghitung lantai beton yaitu : analisa adukan beton 1 : 2 : 3,
analisa bekisting lantai beton, dan analisa pembesian/penulangan besi beton.
Berikut adalah ketiga analisa harga satuan SNI (saya gunakan AHS SNI Kab. Bogor 2010).
Untuk mendapatkan biaya riil sesuai harga di kota Anda, maka harga satuan bahan dan upah
kerja (kolom 5) harusAnda rubah sesuai harga di kota Anda, dan kemudian rubah juga hasil
perkaliannya (gunakan excel untuk memudahkan pekerjaan).

Analisa harga satuan biaya pembuatan adukan beton 1 pc : 2 : pasir : 3 split

Analisa harga satuan biaya penulangan/pembesian untuk plat lantai beton bertulang

Analisa harga satuan biaya pembuatan bekisting pekerjaan pembuatan lantai beton bertulang.

Cara menghitung biaya lantai beton :

1. menghitung volume lantai beton yang akan dibuat

2. menghitung jumlah besi beton yang diperlukan

3. menghitung luas bekisting lantai yang akan dibuat


Sebagai contoh, misalkan kita akan membuat lantai beton rumah KPR-BTN tahan 60 m2,
akan membuat lantai beton ukuran 6 x 5 m2 dengan ketebalan plat lantai = 12 cm. Besi beton
untuk tulangan kita akan gunakan besi diameter 8 mm. Penulangan dibuat 2 lapis. Lapis
pertama dan lapis ke dua dengan ukuran sama yaitu jarak antar besi = 15 x 15 cm dibuat
silang.

1. Biaya Adukan beton 1 pc : 2 pasir : 3 krikil/split

Dengan data ukuran di atas dapat mengetahui volume lantai beton = 6 x 5 x 0.12 m = 3.60
m3. Setelah mengetahui volume beton, maka biayanya tinggal mengalikan volume beton
dengan harga satuan pada analisa beton = 3.60 x Rp. 858.100 = Rp. 3,089,160. Sedangkan
untuk mengetahui rincian bahan dan upah, Anda tinggal mengalikan volume dengan angka
pada kolom 4. Contoh untuk kebutuhan semen = 3.60 x 6.72 zak = 24.92 zak semen (50
kg/zak), dan untuk menghitung yang lainnya silahkan Anda mencoba sendiri.

1. Biaya pekerjaan penulangan besi beton.

Dari data di atas kita dapat menghitung jumlah besi dengan mudah. Jumlah besi ke arah
panjang 6 m = 5 m dibagi 0.15 x 6 m = 5/0.15 x 6 m = 200 m. Sedangkan besi ke arah 5 m =
6 m : 0.15 x 5 m = 200 m. Total = 400 m untuk lapisan pertama. Lapisan ke dua = lapisan
pertama = 400 m. Jadi kebutuhan besi adalah 800 m. Besi yang kita gunakan adalah besi 8
mm ulir. Selanjutnya jumlah besi yang 800 m kita konversi ke satuan kg dengan
menggunakan tabel besi. Bersasarkan tabel berat besi, untuk besi 8 mm = 0.395 kg/m’. Jadi
total berat besi = 800 x 0.395 = 316 kg. Biaya yandiperlukan = 316 x Rp.20.100 (analisa) =
Rp. 6,351,600.

Untuk menghitung jumlah batang besi = 800 : 12 m (panjang besi per batang) = 66 batang.
Untuk menentukan harga per kg besi = harga besi per batang dibagi 12 x 0.395. Misalkan
harga besi 8 per batang = Rp 50.000 = 50.000 : (12 x 0.395) = 50.000 : 4.74 = Rp. 10,548.50.

3. Biaya pembuatan bekisting/cetakan beton.

Luas pasangan beton = 5 x 6 m = 30 m2. Jadi biaya pembuatan bekisting = 30 x Rp. 386.900
(analisa) = Rp. 11,904,000.00. Untuk menghitung jumlah kebutuhan kayu, paku dll. caranya
sama seperti yang telah saya jelaskan pada penghitungan semen di pekerjaan adukan beton.

Jadi total biaya pembuatan plat beton tinggal menjumlahkan : biaya adukan + biaya
pembesian + biaya bekisting = Rp. 3,089,160 + Rp. 6,351,600 + Rp. 11,904,000 = Rp.
21,344,760. Mahal juga ya ! Anda jangan kaget, itu adalah harga standard Pemda yang biasa
disebut harga Owner Estimate (OE) untuk harga patokan pekerjaan proyek. Pada
kenyataannya para pemborong/kontraktor bisa menawar sampai 80% x harga OE tersebut.
Untuk patokan harga rill Anda bisa ambil harga 80 s/d 90%. Untuk menghemat biaya
bekisting, Anda bisa gunakan bambu dan kayu albasia, maka harga turun jauh dari harga
standard tersebut. Ok! itulah cara menghitung biaya membuat lantai beton bertulang. Semoga
bermanfaat untuk Anda yang memerlukan.
Cara Menghitung Anggaran Biaya
membuat Plat Lantai Beton Bertulang
Desain Rumah

9 November 2012

rab

Pada posting sebelumnya saya telah sedikit


membahas cara menghitung volume beton bertulang, sloof, kolom, ring balok dan plat lantai
beton. pada posting kali ini saya ingin membahas khusus bagaimana cara menghitung biaya
membuat plat lantai beton bertulang untuk rumah bertingkat, khususnya untuk rumah
sederhana seperti pada perumahan KPR-BTN.

Setelah membaca postingan ini diharapkan Anda dapat mengetahui bagaimana cara
menghitung biaya pembuatan lantai beton bertulang yang yang terdiri dari biayaa material
dan upah kerja. Selain itu, juga Anda akan mengetahui rincian bahan-bahan material yang
diperlukan untuk pekerjaan tersebut seperti, semen, pasir, split, papan cor, dolken, paku,
kawat tali beton, dll. Dengan demikian maka ketika Anda padasuatu saat akan membuat
rumah bertingkat, Anda sudah mengetahui hal tersebut.. sehingga Anda bisa mengevaluasi
harga penawaran jika akan diborongkan pengerjaannya.

Pada posting sebelumnya, saya juga telah berbagi alat bantu menghitung biaya yang saya beri
nama software RAB, tetapi kemampuan alat hanya untuk mengetahui nilai biaya secara
global serta tidak dapat menampilkan rincian biaya secara detil. Oleh sebab itu untuk
membantu Anda yang ingin mengetahui cara menghitung RAB secara detil, saya harus
membahas satu per satu item pekerjaan.

Alat yang diperlukan untuk menghitung lantai beton yaitu : analisa adukan beton 1 : 2 : 3,
analisa bekisting lantai beton, dan analisa pembesian/penulangan besi beton.
Berikut adalah ketiga analisa harga satuan SNI (saya gunakan AHS SNI Kab. Bogor 2010).
Untuk mendapatkan biaya riil sesuai harga di kota Anda, maka harga satuan bahan dan upah
kerja (kolom 5) harusAnda rubah sesuai harga di kota Anda, dan kemudian rubah juga hasil
perkaliannya (gunakan excel untuk memudahkan pekerjaan).

Analisa harga satuan biaya pembuatan adukan beton 1 pc : 2 : pasir : 3 split

Analisa harga satuan biaya penulangan/pembesian untuk plat lantai beton bertulang

Analisa harga satuan biaya pembuatan bekisting pekerjaan pembuatan lantai beton bertulang.

Cara menghitung biaya lantai beton :

1. menghitung volume lantai beton yang akan dibuat

2. menghitung jumlah besi beton yang diperlukan

3. menghitung luas bekisting lantai yang akan dibuat


Sebagai contoh, misalkan kita akan membuat lantai beton rumah KPR-BTN tahan 60 m2,
akan membuat lantai beton ukuran 6 x 5 m2 dengan ketebalan plat lantai = 12 cm. Besi beton
untuk tulangan kita akan gunakan besi diameter 8 mm. Penulangan dibuat 2 lapis. Lapis
pertama dan lapis ke dua dengan ukuran sama yaitu jarak antar besi = 15 x 15 cm dibuat
silang.

1. Biaya Adukan beton 1 pc : 2 pasir : 3 krikil/split

Dengan data ukuran di atas dapat mengetahui volume lantai beton = 6 x 5 x 0.12 m = 3.60
m3. Setelah mengetahui volume beton, maka biayanya tinggal mengalikan volume beton
dengan harga satuan pada analisa beton = 3.60 x Rp. 858.100 = Rp. 3,089,160. Sedangkan
untuk mengetahui rincian bahan dan upah, Anda tinggal mengalikan volume dengan angka
pada kolom 4. Contoh untuk kebutuhan semen = 3.60 x 6.72 zak = 24.92 zak semen (50
kg/zak), dan untuk menghitung yang lainnya silahkan Anda mencoba sendiri.

1. Biaya pekerjaan penulangan besi beton.

Dari data di atas kita dapat menghitung jumlah besi dengan mudah. Jumlah besi ke arah
panjang 6 m = 5 m dibagi 0.15 x 6 m = 5/0.15 x 6 m = 200 m. Sedangkan besi ke arah 5 m =
6 m : 0.15 x 5 m = 200 m. Total = 400 m untuk lapisan pertama. Lapisan ke dua = lapisan
pertama = 400 m. Jadi kebutuhan besi adalah 800 m. Besi yang kita gunakan adalah besi 8
mm ulir. Selanjutnya jumlah besi yang 800 m kita konversi ke satuan kg dengan
menggunakan tabel besi. Bersasarkan tabel berat besi, untuk besi 8 mm = 0.395 kg/m’. Jadi
total berat besi = 800 x 0.395 = 316 kg. Biaya yandiperlukan = 316 x Rp.20.100 (analisa) =
Rp. 6,351,600.

Untuk menghitung jumlah batang besi = 800 : 12 m (panjang besi per batang) = 66 batang.
Untuk menentukan harga per kg besi = harga besi per batang dibagi 12 x 0.395. Misalkan
harga besi 8 per batang = Rp 50.000 = 50.000 : (12 x 0.395) = 50.000 : 4.74 = Rp. 10,548.50.

3. Biaya pembuatan bekisting/cetakan beton.

Luas pasangan beton = 5 x 6 m = 30 m2. Jadi biaya pembuatan bekisting = 30 x Rp. 386.900
(analisa) = Rp. 11,904,000.00. Untuk menghitung jumlah kebutuhan kayu, paku dll. caranya
sama seperti yang telah saya jelaskan pada penghitungan semen di pekerjaan adukan beton.

Jadi total biaya pembuatan plat beton tinggal menjumlahkan : biaya adukan + biaya
pembesian + biaya bekisting = Rp. 3,089,160 + Rp. 6,351,600 + Rp. 11,904,000 = Rp.
21,344,760. Mahal juga ya ! Anda jangan kaget, itu adalah harga standard Pemda yang biasa
disebut harga Owner Estimate (OE) untuk harga patokan pekerjaan proyek. Pada
kenyataannya para pemborong/kontraktor bisa menawar sampai 80% x harga OE tersebut.
Untuk patokan harga rill Anda bisa ambil harga 80 s/d 90%. Untuk menghemat biaya
bekisting, Anda bisa gunakan bambu dan kayu albasia, maka harga turun jauh dari harga
standard tersebut. Ok! itulah cara menghitung biaya membuat lantai beton bertulang. Semoga
bermanfaat untuk Anda yang memerlukan.
Cara Menghitung Anggaran Biaya
membuat Plat Lantai Beton Bertulang
Desain Rumah

9 November 2012

rab

Pada posting sebelumnya saya telah sedikit


membahas cara menghitung volume beton bertulang, sloof, kolom, ring balok dan plat lantai
beton. pada posting kali ini saya ingin membahas khusus bagaimana cara menghitung biaya
membuat plat lantai beton bertulang untuk rumah bertingkat, khususnya untuk rumah
sederhana seperti pada perumahan KPR-BTN.

Setelah membaca postingan ini diharapkan Anda dapat mengetahui bagaimana cara
menghitung biaya pembuatan lantai beton bertulang yang yang terdiri dari biayaa material
dan upah kerja. Selain itu, juga Anda akan mengetahui rincian bahan-bahan material yang
diperlukan untuk pekerjaan tersebut seperti, semen, pasir, split, papan cor, dolken, paku,
kawat tali beton, dll. Dengan demikian maka ketika Anda padasuatu saat akan membuat
rumah bertingkat, Anda sudah mengetahui hal tersebut.. sehingga Anda bisa mengevaluasi
harga penawaran jika akan diborongkan pengerjaannya.

Pada posting sebelumnya, saya juga telah berbagi alat bantu menghitung biaya yang saya beri
nama software RAB, tetapi kemampuan alat hanya untuk mengetahui nilai biaya secara
global serta tidak dapat menampilkan rincian biaya secara detil. Oleh sebab itu untuk
membantu Anda yang ingin mengetahui cara menghitung RAB secara detil, saya harus
membahas satu per satu item pekerjaan.
Alat yang diperlukan untuk menghitung lantai beton yaitu : analisa adukan beton 1 : 2 : 3,
analisa bekisting lantai beton, dan analisa pembesian/penulangan besi beton.

Berikut adalah ketiga analisa harga satuan SNI (saya gunakan AHS SNI Kab. Bogor 2010).
Untuk mendapatkan biaya riil sesuai harga di kota Anda, maka harga satuan bahan dan upah
kerja (kolom 5) harusAnda rubah sesuai harga di kota Anda, dan kemudian rubah juga hasil
perkaliannya (gunakan excel untuk memudahkan pekerjaan).

Analisa harga satuan biaya pembuatan adukan beton 1 pc : 2 : pasir : 3 split

Analisa harga satuan biaya penulangan/pembesian untuk plat lantai beton bertulang

Analisa harga satuan biaya pembuatan bekisting pekerjaan pembuatan lantai beton bertulang.

Cara menghitung biaya lantai beton :

1. menghitung volume lantai beton yang akan dibuat

2. menghitung jumlah besi beton yang diperlukan


3. menghitung luas bekisting lantai yang akan dibuat

Sebagai contoh, misalkan kita akan membuat lantai beton rumah KPR-BTN tahan 60 m2,
akan membuat lantai beton ukuran 6 x 5 m2 dengan ketebalan plat lantai = 12 cm. Besi beton
untuk tulangan kita akan gunakan besi diameter 8 mm. Penulangan dibuat 2 lapis. Lapis
pertama dan lapis ke dua dengan ukuran sama yaitu jarak antar besi = 15 x 15 cm dibuat
silang.

1. Biaya Adukan beton 1 pc : 2 pasir : 3 krikil/split

Dengan data ukuran di atas dapat mengetahui volume lantai beton = 6 x 5 x 0.12 m = 3.60
m3. Setelah mengetahui volume beton, maka biayanya tinggal mengalikan volume beton
dengan harga satuan pada analisa beton = 3.60 x Rp. 858.100 = Rp. 3,089,160. Sedangkan
untuk mengetahui rincian bahan dan upah, Anda tinggal mengalikan volume dengan angka
pada kolom 4. Contoh untuk kebutuhan semen = 3.60 x 6.72 zak = 24.92 zak semen (50
kg/zak), dan untuk menghitung yang lainnya silahkan Anda mencoba sendiri.

1. Biaya pekerjaan penulangan besi beton.

Dari data di atas kita dapat menghitung jumlah besi dengan mudah. Jumlah besi ke arah
panjang 6 m = 5 m dibagi 0.15 x 6 m = 5/0.15 x 6 m = 200 m. Sedangkan besi ke arah 5 m =
6 m : 0.15 x 5 m = 200 m. Total = 400 m untuk lapisan pertama. Lapisan ke dua = lapisan
pertama = 400 m. Jadi kebutuhan besi adalah 800 m. Besi yang kita gunakan adalah besi 8
mm ulir. Selanjutnya jumlah besi yang 800 m kita konversi ke satuan kg dengan
menggunakan tabel besi. Bersasarkan tabel berat besi, untuk besi 8 mm = 0.395 kg/m’. Jadi
total berat besi = 800 x 0.395 = 316 kg. Biaya yandiperlukan = 316 x Rp.20.100 (analisa) =
Rp. 6,351,600.

Untuk menghitung jumlah batang besi = 800 : 12 m (panjang besi per batang) = 66 batang.
Untuk menentukan harga per kg besi = harga besi per batang dibagi 12 x 0.395. Misalkan
harga besi 8 per batang = Rp 50.000 = 50.000 : (12 x 0.395) = 50.000 : 4.74 = Rp. 10,548.50.

3. Biaya pembuatan bekisting/cetakan beton.

Luas pasangan beton = 5 x 6 m = 30 m2. Jadi biaya pembuatan bekisting = 30 x Rp. 386.900
(analisa) = Rp. 11,904,000.00. Untuk menghitung jumlah kebutuhan kayu, paku dll. caranya
sama seperti yang telah saya jelaskan pada penghitungan semen di pekerjaan adukan beton.

Jadi total biaya pembuatan plat beton tinggal menjumlahkan : biaya adukan + biaya
pembesian + biaya bekisting = Rp. 3,089,160 + Rp. 6,351,600 + Rp. 11,904,000 = Rp.
21,344,760. Mahal juga ya ! Anda jangan kaget, itu adalah harga standard Pemda yang biasa
disebut harga Owner Estimate (OE) untuk harga patokan pekerjaan proyek. Pada
kenyataannya para pemborong/kontraktor bisa menawar sampai 80% x harga OE tersebut.
Untuk patokan harga rill Anda bisa ambil harga 80 s/d 90%. Untuk menghemat biaya
bekisting, Anda bisa gunakan bambu dan kayu albasia, maka harga turun jauh dari harga
standard tersebut. Ok! itulah cara menghitung biaya membuat lantai beton bertulang. Semoga
bermanfaat untuk Anda yang memerlukan.
CARA MENGHITUNG VOLUME ATAP
Panduan Menghitung Volume Pekerjaan
Beton Bertulang

Pekerjaan beton yang telah disetting dalam software rab yang volumenya harus dihitung
adalah sebagai berikut :

1. Sloof Beton Tulang 15/20 (180 kg besi + bekisting) 4dia. 12 ring 8-15
2. Kolom, 15/20 (180 kg besi + bekisting) 4dia.12 , ring 8 -15
3. Ring Balk, sofi-sofi (180 kg besi + bekisting) 4dia. 12mm, ring 8mm -15
4. Tangga Beton (90 kg besi + bekisting), dia 10 & 8 mm
5. Plat Lantai 10 cm ( 90 Kg Besi + Bekisting ) dia 8mm, 2x 15x15

Mari kita bahas satu per-satu cara menghitungnya. Gambar yang diperlukan adalah :

1. Gambar Denah, gunanya untuk melihat ukuran panjang sloof dan jumlah titik kolom
dan penampang kolom, serta ketebalan dan ukuran lantai beton.
2. Gambar Potongan dan Detail Pondasi, untuk melihat ukuran tinggi kolom, penampang
sloof, ring balk.
1. Menghitung Volume Pekerjaan Sloof 15/20 Cm

Rumus : Volume = Luas Penampang x Total Panjang Sloff

Luas Penampang = 0.15 x 0.20 M' = 0.03 M2

Total panjang =jumlah sisi memanjang dan melintang lantai 1 dan lantai 2. Jumlah panjang
sisi pasangan sloof lantai 1 dan 2 = 123 M'. Silahkan Anda cek lagi dengan melihat gambar
denah lantai 1 dan lantai 2.

Jadi volume pasangan beton sloof = 123 x 0.03 = 3.69 M3 .

2. Menghitung Volume Pekerjaan Kolom, 12/20 Cm

Rumus : Volume = Luas Penampang x Total Tinggi kolom

Luas Penampang = 0.12 x 0.20 M' = 0.024 M2

Total tinggi kolom = jumlah titik kolom lantai 1 dan lantai 2 dikali tinggi kolom. Lihat denah
lantai 1 dan lantai 2.

Jumlah titik kolom lantai 1 dan 2 = 35 titik. Silahkan Anda cek kembali

Tinggi kolom = 3 M

Total tinggi kolom = 35 x 3 M = 105 M

Jadi volume pasangan beton kolom = 105 x 0.024 = 2.52 M3 .

3. Menghitung Volume Pekerjaan Ring Balk 12/20 Cm

Rumus : Volume = Luas Penampang x Total Panjang Ring Balk

Luas Penampang = 0.12 x 0.20 M' = 0.024 M2

Total panjang ring bal = panjang sloof = 123 M

Jadi volume pasangan ring balk = 123 x 0.024 = 2.952 M3 .

4. Menghitung Volume Pekerjaan Tangga Beton

Rumus: Volume = luas tangga x tebal tangga

Tebal Tangga = 10 CM
Luas tangga = jumlah anak tangga x panjang x lebar anak tangga

Jumlah anak tangga = 13 bh

lebar = 30 CM; dan panjang = 70 CM

Luas tangga = 13 x 0.3 x 0.7 = 2.73 M2

Jadi volume tangga beton = 2.73 x 0.1 = 0.273 M3

5. Menghitung Volume Pekerjaan Plat Lantai 2 (tebal 12 cm)

Rumus : Luas lantai x tebal lantai beton

Tebal lantai beton = 12 CM

Perhatikan gambar denah lantai 2 dan gambar potongan

Plat lantai 2 = 8.5 x 6 = 51 M2

Plat atap lantai 2 di atas tangga = 3 x 3 = 9 M2

Jumlah luas plat lantai beton = 60 M2

Jadi volume plat lantai beton = 60 x 0.12 = 7.2 M3

Catatan : Apabila Anda ingin membuat pondasi plat beton (cakar ayam) pada setiap titik
kolom, caranya tambahkan volume pondasi plat beton ke volume plat lantai.

Itulah panduan cara menghitung volume pekerjaan beton. Hasil perhitungan Anda lalu
masukan ke kolom volume beton pada software RAB. Semoga panduan ini dapat
memudahkan Anda dalam menggunakan Software RAB.
Konstruksi Atap
1. Pendahuluan
Atap merupakan bagian dari struktur bangunan yang berfungsi sebagai penutup/pelindung
bangunan dari panas terik matahari dan hujan sehingga memberikan kenyamanan bagi
penggunan bangunan. Struktur atap pada umumnya terdiri dari tiga bagian utama yaitu:
struktur penutup atap, gording dan rangka kuda-kuda. Penutup atap akan didukung oleh
struktur rangka atap, yang terdiri dari kuda-kuda, gording, usuk, dan reng. Beban-beban atap
akan diteruskan ke dalam fondasi melalui kolom dan/atau balok. Konstruksi atap
memungkinkan terjadinya sirkulasi udara dengan baik. Lebih detail bagian-bagian atap
seperti gambar.

Gambar. Struktur Atap Sederhana

2. Bentuk-Bentuk Atap

a. Atap Limasan/Perisai

(a) (b)
Gambar. Tampak Muka (a) dan Tampak Samping (b)
(i-i) (ii-ii)
Gambar. Potongan Bujur (i-i); Potongan Melintang (ii-ii)

Gambar. Tampak Muka

b. Atap Pelana

Gambar. Tampak Muka (a) dan Tampak Samping (b)

(i-i) (ii-ii)
Gambar. Potongan Bujur (i-i); Potongan Melintang (ii-ii)

c. Atap Gerigi (Gergaji)/ Sawteeth


Gambar. Atap Gerigi atau Gergaji

d. Atap Joglo

Gambar. Joglo Tanpa Soko Guru (a) dan Joglo dengan Soko Guru (b)

3. Bagian-Bagian Atap

Bagian-bagian atap terdiri atas: gording, jurai, usuk, reng, penutup atap dan bubungan:
Gambar. Konstruksi Atap 3D

a. Gording
Gording membagi bentangan atap dalam jarak-jarak yang lebih kecil pada proyeksi
horizontal. Gording meneruskan beban dari penutup atap, reng, usuk, orang, beban angin,
beban air hujan pada titik-titik buhul kuda-kuda. Gording berada di atas kuda-kuda, biasanya
tegak lurus dengan arah kuda-kuda. Gording menjadi tempat ikatan bagi usuk, dan posisi
gording harus disesuaikan dengan panjang usuk yang tersedia. Gording harus berada di atas
titik buhul kuda-kuda, sehingga bentuk kuda-kuda sebaiknya disesuaikan dengan panjang
usuk yang tersedia. Gording kayu memiliki dimensi; panjang maksimal 4 m, tinggi 12 cm dan
lebar 10 cm. Jarak antar gording kayu sekitar 1,5 sampai dengan 2,5 m.

b. Usuk/Kaso
Usuk berfungsi menerima beban dari penutup atap dan reng dan meneruskannya ke gording.
Usuk terbuat dari kayu dengan ukuran 5/7 cm dan panjang maksimal 4 m. Usuk dipasang
dengan jarak 40 sampai dengan 50 cm antara satu dengan lainnya pada arah tegak lurus
gording. Usuk akan terhubung dengan gording dengan menggunakan paku. Pada kondisi
tertentu usuk harus dibor dahulu sebelum dipaku untuk menghindari pecah pada ujung-ujung
usuk.
c. Reng
Reng berupa batang kayu berukuran 2/3 cm atau 3/5 cm dengan panjang sekitar 3 m. Reng
menjadi tumpuan langsung penutup atap dan meneruskannya ke usuk/kaso. Pada atap dengan
penutup dari asbes, seng atau sirap reng tidak digunakan. Reng akan digunakan pada atap
dengan penutup dari genteng. Reng akan dipasang pada arah tegak lurus usuk dengan jarak
menyesuaikan dengan panjang dari penutup atapnya (genteng).

d. Jurai
Pada pertemuan sudut atap terdapat batang baja atau kayu atau frame-work yang
disebut jurai. Pengertian lain dari jurai adalah garis sambungan antara bidang atap yang satu
dengan bidang atap yang lainnya. Menutut bentuknya jurai dibedakan menjadi jurai dalam
dan jurai luar. Jurai dalam merupakan balok kayu yang diletakan miring menghadap
kedalam. Jurai dalam ini berfungsi sebagai pertemuan dan tumpuan antara balok gording
dengan balok gording lainnya serta dudukan papan talang. Kayu yang diguakan sebagai jurai
dalam berukuran 8 cm x 12 cm atau 8 cm x 15 cm. Jurai luar adalah sambungan yang
menonjol kearah luar.

e. Penutup Atap
Penutup atap adalah elemen paling luar dari struktur atap. Penutup atap harus mempunyai
sifat kedap air, bisa mencegah terjadinya rembesan air selama kejadian hujan. Sifat tidak
rembes ini diuji dengan pengujian serapan air dan rembesan. Struktur penutup atap
merupakan struktur yang langsung berhubungan dengan beban-beban kerja (cuaca) sehingga
harus dipilih dari bahan-bahan yang kedap air, tahan terhadap perubahan cuaca. Struktur
penutup yang sering digunakan antara lain; genteng, asbes, kayu (sirap), seng, polycarbonat,
plat beton, dan lain-lain.

1) Genteng dan Bubungan


Menurut bahan material terdapat genteng beton dan genteng tanah liat (keramik). Sedangkan
menurut bentuknya, genteng terdiri atas genteng biasa (genteng S), genteng kodok, genteng
pres silang. Sedangkan untuk bentuk genteng karpus terdiri atas genteng setengah lingkaran,
genteng segitiga, dan genteng sudut patah.

Gambar. Genteng Biasa (Genteng S) Gambar. Genteng Kodok

Gambar. Genteng Pres Silang


(a) (b) (c)
Gambar. Bubungan Setengah Lingkaran (a); Bubungan Segitiga (b); Bubungan Sudut Patah
(c)

2) Penutup Atap Kayu (Sirap)


Bahan yang banyak digunakan pada rumah tradisional Indonesia berbahan dasar kayu. Sirap
yang terbentuk dari potongan-potongan kayu tipis yang disusun 3 atau 4. Potongan kayu ini
kemudian dipaku ke multiplek yang melapisi rangka atap. Atap genteng sirap berbahan baku
kayu ulin, kayu jati dan sebagainya. Bentuknya berupa lembaran tipis dengan panjang 40-60
cm, lebar 7-20 cm, dan tebal3-5 mm. Genteng sirap dipasang dengan susunan berlapis
sehingga tidak terdapat celah yang memungkinkan air meresap ke bawah. Pemasangan atap
sirap dengan sudut kemiringan 25-40

Gambar. Penutup Atap Kayu (Sirap)

Keunggulan genteng sirap jika dibandingkan dengan genteng jenis lain antara lain bobotnya
ringan, kuat, dan kokoh menahan beban yang berat; tidak menyerap panas sehingga ruangan
dibawahnya terasa sejuk dan dingin; serta setelah disusun maka mempunyai nilai keindahan
yang tinggi setelah disusun atau digunakan dirumah tinggal. Namun, pemasangan atap
genteng sirap membutuhkan waktu yang lama. Apabila bocor, sulit untuk ditentukan letak
atau posisi kebocorannya. Selain itu,karena berasal dari bahan kayu yang jarang didapatkan
dipasaran, harganya pun menjadi relatif mahal.

3) Penutup Atap Seng


Seng adalah salah satu sekian banyak bangunan yang sering digunakan sebagai penutup atap.
Ukuran seng datar yang digalvanisir ( disepuh ) berkisar 915 mm x 1830 mm dengan
beberapa macam tebal yang kurang dari 1mm. Jika seng terkena air hujan yang banyak
mengandung garam akan mudah berkarat, lagipula oleh jatuhnya air hujan akan menimbulkan
suara yang gaduh, serta tidak bersifat isolasi panas maupun dingin artinya bila udara di luar
panas / dingin maka dalam ruangan akan terasa lebih panas / dingin. Kelebihannya bobotnya
rendah, harganya murah, pemasangannya mudah sekaligus dapat menghemat biaya
Gambar. Penutup Atap Seng

4) Penutup Atap Asbes


Atap asbes berasal dari campuran semen dan bahan serat yangdipadatkan. Bentuk dan
ukurannya beragam dengan tipe gelombang, antara laingelombang 5½, gelombang 6½, dan
gelombang 14. Harga genteng asbes cukup murah dipasaran dan menghemat biaya dalam
pemasangan karena penggunaan kayu untuk rangka atap lebih sedikit (tidak memerlukan
usuk dan reng) serta keunggulan: pemasangannya mudah dan cepat.

Gambar. Penutup Atap Asbes

Akan tetapi, atap dari asbes memiliki kekurangan pertama yaitu menyerap panas sehingga
ruangan dibawahnya terasa panas. Agar tidak mudah ditumbuhi lumut dan tahan lama,
sebaiknya atap genteng asbes dicat dengan cat khusus genteng. Sudut kemiringan dalam
pemasangan konstruksinya adalah 15-25. Kekurangan kedua, asbes dapat membahayakan
tubuh. Jika ada bagian yang rusak, sehingga serat – seratnya bisa lepas, ini menjadi
bebabahaya karena sulit untuk mendeteksi bagai manakah yang dikatakan rusak. Kondis lain
yang sangat beresiko adalah saat asbes dipotong atau diperbaiki. Ketika di potong akan
mengeluarkan serpihan-serpihan yang berupa serbuk, yang sangat berbahaya bagi paru-paru.

Beberapa Penyakit Akibat Asbes:


1. Asbestosis yaitu luka pada paru-paru hingga menyebabkan kesulitan bernapas dan dapat
mengakibatkan kematian.
2. Mesothelioma adalah sejenis kanker yang menyerang selaput pada perut dan dada,
mesothelioma baru muncul gejalanya setelah 20 – 30 tahun sejak pertama kali menghirup
serat asbes.
3. Kanker paru-paru, di negara-negara maju, asbes putih digolongkan sebagai karsinogen (
bahan penyebab kanker).

Cara Mengurangi Efek Negatif Asbes


1. Jika atap menggunkan asbes, gunakanlah plafon untuk mecegah debu dan serat asbes jatuh
kedalam rumah.
2. Ganti asbes setiap 5 tahun sekali, walaupun tidak ada tanda-tanda rusak.
3. Saat mengerjakan asbes, gunakan alat penutup hidung.
4. Buatlah ventilasi yang baik, ventilasi yang baik akan mengurangi efek gas radon yang
terkandung di dalam asbes.
5. Mengecat asbes bukan solusi untuk mencegahnya asbes terhirup oleh tubuh, asbes yang
rusak walaupun dicat tetapakan menimbulkan dampak yang sama.
Menghitung Volume Besi per-m3 beton
bertulang
1/16/2012 RAB, sipil

Dalam Sebuah kegiatan pembangunan perumahan salah satu hal yang paling sulit dilakukan oleh
mereka yang awam adalah cara menghitung volume material yang dibutuhkan secara tepat dan
efisien.

Pada kesempatan kali ini saya mencoba membahas mengenai perhitungan volume besi tulangan
pada tiap m3 beton ( satuan yang biasa digunakan untuk volume beton bertulang adalah m3 ).

Contoh kasus.

Dimensi beton 15/20 cm dengan rincian penulangan :

 tulangan 4 diameter 12 ( tulangan utama )


 tulangan diameter 6 jarak 20 cm ( tulangan beugel )

Secara prinsip kita harus bisa menterjemahkan volume 1 m3 beton dengan ukuran 15/20 cm.

 1 m3 beton = 1/(0.15x0.2) m ( panjang beton 1 m3, dimensi 15/20 ) = 33 ,33 m dibulatkan 34


m
 Asumsi yang digunakan panjang 1 lonjor besi = 12 m

panjang besi tulangan yang dibutuhkan :


Besi tulangan Utama

panjang Besi diameter 12 = 4 bh x ( 34 m - 0,02 m ( selimut beton )) = 4 x 33,98 = 135,92 m


panjang besi dalam lonjor = 135,92/12 = 11,33 ljr
berat besi 12 per-lonjor = 0,074x12x12 = 10,66 kg/ljr( bisa dengan menggunakan tabel besi tulangan )
(reff. perhitungan praktis berat besi per-lonjor = analisa harga satuan dan rencana anggaran biaya )
jumlah berat besi 12 dalam 1 m3 ukuran 15/20 = 10,66 kg/ljr x 11,33 ljr = 120,74 kg
Besi tulangan beugel

jumlah beugel dengan jarak 20 cm sepanjang 34 m beton bertulang = 34 m / 0.2 m = 170 bh beugel
Perhitungan panjang beugel pada beton dimensi 15/20.
selimut beton = 1,5 cm ( satu sisi ) = 3 cm ( dua sisi )
panjang 1 beugel [ (15-1,5x2)x2 sisi + (20-1,5x2)x2 sisi ] = 12x2 + 17x2 = 24 + 34 = 58 cm
panjang pembengkokan tulangan 5 cm x 2 = 10 cm
Panjang total 1 beugel = 58 + 10 = 68 cm = 0,68 m
berat besi 6 per-lonjor = 0,074x6x6 = 2,66 kg/ljr ( bisa dengan menggunakan tabel besi tulangan )
jumlah panjang total = 0,68 m x 170 bh = 115,6 m/12 = 9,63 ljr
jumlah berat beugel total = 9,63 ljr x 2,66 kg/ljr = 25,63 kg

Jumlah berat besi total dalam 1 m3 beton ukuran 15/20 = 120,74 + 25,63 = 146,37 kg/m3

Ini adalah contoh kasus sederhana yang mungkin bisa digunakan untuk memahami perhitungan kg
besi dalam 1 m3 beton bertulang.

Cara Menghitung Volume Besi Beton Bertulang

Perumpamaan saya mempunyai balok dengan ukuran 30/50cm dengan


panjang 5 meter, dengan tulangan yang saya rencanakan adalah 3D16
(tulangan atas) dan 2D16 (tulangan bawah), serta beugel/sengkangnya adalah
Ø8 jarak 15 cm (Ø8-150), penutup beton direncanakan 5 cm.
Pertanyaannya adalah :

1. Hitunglah kebutuhan tulangan utama ?


2. Hitunglah kebutuhan tulangan sengkang/beugel ?
3. Hitunglah Berat besi per meter3 beton ?

Tabel Berat Jenis tulangan besi beton

Jawab :

1. Kebutuhan tulangan utama :


 Tulangan utama = 3D16 + 2D16 = 5D16 ( D16 dengan jumlah 5 buah
), karena panjang baloknya adalah 5m, maka volume besi tulangan D16
adalah 5D16 x 5m’ = 25 m’.
 Besi yang dipakai adalah besi KS (krakatau Steel), jadi panjang yang
didapat adalah betul-betul panjang yang standard yaitu = 12 m,
sehingga kebutuhan besinya adalah 25/12 = 2.083 lonjor
 Berat per meter’ besi D16 = 0.006165 x 162 x 1 = 1.574 kg
 Total berat besi = 1.574 kg x 25 = 39.36 kg
 Jadi kebutuhan tulangan utama adalah 2.083 lonjor ( berat = 39.36
kg)

2. Kebutuhan tulangan sengkang/beugel :

 Panjang sengkang sisi horizontal = 30 cm – lebar penutup beton kiri –


lebar penutup beton kanan = 30 cm – 5 cm – 5 cm = 20 cm
 Panjang sengkang sisi vertikal = 50 cm – lebar penutup beton atas –
lebar penutup beton bawah = 50 cm – 5 cm – 5 cm = 40 cm
 Bengkokan sengkang = 5 cm + 5 cm = 10 cm
 Panjang satu buah sengkang adalah = 40 cm + 20 cm + 40 cm + 20
cm + 10 cm = 130 cm = 1.3 m
 kebutuhan besi sengkang per 5m panjang balok dengan jarak tiap
sengkang = 15 cm = 0.15 m adalah = (5m / 0.15m) = 33.33 buah
 Kebutuhan total besi sengkang per 5m panjang balok = 33.33 x 1.3 m
= 43.33 m’
 Besi yang dipakai adalah besi full ( panjang dipasaran biasanya =
11.7 m), jadi kebutuhannya adalah = 43.33 m / 11.7 m = 3.7
lonjor………….. ( 4 lonjor)
 Berat 1 lonjor dari besi Ø8 = 0.006165 x 82 x 11.7 = 4.616 kg, maka
jika yang dibutuhkan 4 lonjor, maka beratnya = 4.614 kg x 4 = 18.46 kg
 Jadi kebutuhan tulangan sengkangnya adalah 4 lonjor ( berat =
18.46 kg )

3. Berat besi per meter2 beton adalah :


 Berat besi D16 = 39.36 kg
 Berat besi sengkang = 18.46 kg
 Volume beton = (0.3 x 0.5) x 5 m = 0.75 m3
 Berat besi D16 per m3 = 39.36 / 0.75 = 52.48 kg/m3
 Berat besi sengkang Ø8 per m3 = 18.46 / 0.75 = 24.61 kg/m3
 Total berat besi secara keseluruhan = 52.48 kg/m3 + 24.61 kg/m3 =
77.09 kg/m3
 Berat besi per m3 beton (dalam prosentase) adalah = (77.09 kg /
7850 kg/m3) x 100% = 0.98 %……….(catatan : 7850 kg/m3 = berat
jenis besi)

sigmat
Besi Beton

Catatan :

 Dalam perdagangan di toko-toko bahan bangunan atau material,


terdapat bermacam-macam istilah besi untuk pembesian (tulangan
beton), diantaranya adalah besi KS (Krakatau Steel), Besi full, besi
banci, dan sebagainya.
 Besi KS adalah besi dengan diameter utuh dan panjang standard.
Misalnya besi KS diameter 22 mm, bila diukur dengan menggunakan
alat ukur sigmat (mistar sorong yang merupakan alat ukur ketebalan
dengan ketelitian hingga 0.01 mm) maka akan diperoleh diameter 22
mm dan panjang 12 m (panjang standard) sehingga tidak berkurang
atau sama dengan yang disebutkan.
 Besi full adalah besi dengan diameter penuh sesuai diameter besi yang
disebutkan. Misalnya, besi 16 mm tetap memiliki ketebalan dengan
dengan diameter 16 mm, tetapi panjangnya terkadang ada yang kurang
dari standard 12 m (umumnya hanya 11.7 m)
 Besi banci adalah besi yang tidak sesuai dengan ukuran dan diameter
dan panjangnya itu sendiri, misalnya, besi diameter 12 mm yang bila
diukur dengan mistar sorong, hanya diperoleh 10.5 mm, dan
panjangnya pun hanya 11 m.
Cara Menghitung Volume Besi Beton Bertulang

Perumpamaan saya mempunyai balok dengan ukuran 30/50cm dengan


panjang 5 meter, dengan tulangan yang saya rencanakan adalah 3D16
(tulangan atas) dan 2D16 (tulangan bawah), serta beugel/sengkangnya adalah
Ø8 jarak 15 cm (Ø8-150), penutup beton direncanakan 5 cm.

Pertanyaannya adalah :

1. Hitunglah kebutuhan tulangan utama ?


2. Hitunglah kebutuhan tulangan sengkang/beugel ?
3. Hitunglah Berat besi per meter3 beton ?

Tabel Berat Jenis tulangan besi beton


Jawab :

1. Kebutuhan tulangan utama :

 Tulangan utama = 3D16 + 2D16 = 5D16 ( D16 dengan jumlah 5 buah


), karena panjang baloknya adalah 5m, maka volume besi tulangan D16
adalah 5D16 x 5m’ = 25 m’.
 Besi yang dipakai adalah besi KS (krakatau Steel), jadi panjang yang
didapat adalah betul-betul panjang yang standard yaitu = 12 m,
sehingga kebutuhan besinya adalah 25/12 = 2.083 lonjor
 Berat per meter’ besi D16 = 0.006165 x 162 x 1 = 1.574 kg
 Total berat besi = 1.574 kg x 25 = 39.36 kg
 Jadi kebutuhan tulangan utama adalah 2.083 lonjor ( berat = 39.36
kg)

2. Kebutuhan tulangan sengkang/beugel :

 Panjang sengkang sisi horizontal = 30 cm – lebar penutup beton kiri –


lebar penutup beton kanan = 30 cm – 5 cm – 5 cm = 20 cm
 Panjang sengkang sisi vertikal = 50 cm – lebar penutup beton atas –
lebar penutup beton bawah = 50 cm – 5 cm – 5 cm = 40 cm
 Bengkokan sengkang = 5 cm + 5 cm = 10 cm
 Panjang satu buah sengkang adalah = 40 cm + 20 cm + 40 cm + 20
cm + 10 cm = 130 cm = 1.3 m
 kebutuhan besi sengkang per 5m panjang balok dengan jarak tiap
sengkang = 15 cm = 0.15 m adalah = (5m / 0.15m) = 33.33 buah
 Kebutuhan total besi sengkang per 5m panjang balok = 33.33 x 1.3 m
= 43.33 m’
 Besi yang dipakai adalah besi full ( panjang dipasaran biasanya =
11.7 m), jadi kebutuhannya adalah = 43.33 m / 11.7 m = 3.7
lonjor………….. ( 4 lonjor)
 Berat 1 lonjor dari besi Ø8 = 0.006165 x 82 x 11.7 = 4.616 kg, maka
jika yang dibutuhkan 4 lonjor, maka beratnya = 4.614 kg x 4 = 18.46 kg
 Jadi kebutuhan tulangan sengkangnya adalah 4 lonjor ( berat =
18.46 kg )

3. Berat besi per meter2 beton adalah :

 Berat besi D16 = 39.36 kg


 Berat besi sengkang = 18.46 kg
 Volume beton = (0.3 x 0.5) x 5 m = 0.75 m3
 Berat besi D16 per m3 = 39.36 / 0.75 = 52.48 kg/m3
 Berat besi sengkang Ø8 per m3 = 18.46 / 0.75 = 24.61 kg/m3
 Total berat besi secara keseluruhan = 52.48 kg/m3 + 24.61 kg/m3 =
77.09 kg/m3
 Berat besi per m3 beton (dalam prosentase) adalah = (77.09 kg /
7850 kg/m3) x 100% = 0.98 %……….(catatan : 7850 kg/m3 = berat
jenis besi)
sigmat

Besi Beton

Catatan :
 Dalam perdagangan di toko-toko bahan bangunan atau material,
terdapat bermacam-macam istilah besi untuk pembesian (tulangan
beton), diantaranya adalah besi KS (Krakatau Steel), Besi full, besi
banci, dan sebagainya.
 Besi KS adalah besi dengan diameter utuh dan panjang standard.
Misalnya besi KS diameter 22 mm, bila diukur dengan menggunakan
alat ukur sigmat (mistar sorong yang merupakan alat ukur ketebalan
dengan ketelitian hingga 0.01 mm) maka akan diperoleh diameter 22
mm dan panjang 12 m (panjang standard) sehingga tidak berkurang
atau sama dengan yang disebutkan.
 Besi full adalah besi dengan diameter penuh sesuai diameter besi yang
disebutkan. Misalnya, besi 16 mm tetap memiliki ketebalan dengan
dengan diameter 16 mm, tetapi panjangnya terkadang ada yang kurang
dari standard 12 m (umumnya hanya 11.7 m)
 Besi banci adalah besi yang tidak sesuai dengan ukuran dan diameter
dan panjangnya itu sendiri, misalnya, besi diameter 12 mm yang bila
diukur dengan mistar sorong, hanya diperoleh 10.5 mm, dan
panjangnya pun hanya 11 m.