Anda di halaman 1dari 51

PSIKOLOGI

PERILAKU ABNORMAL

OLEH:

KELOMPOK 12 TINGKAT I.2

1. NI LUH EKA SARI MURNI (P07120016061)


2. AYU SRI DEWI (P07120016062)
3. NI KD. DWI WULANDARI (P07120016065)

KEMENTERIAN KESEHATAN RI

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR

JURUSAN KEPERAWATAN

TAHUN AKADEMIK 2016/2017

1
KATA PENGANTAR
Om Swastyastu,
Puji syukur saya panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi
Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa, karena atas asung kerta wara nugraha-
Nyalah penulisan Perilaku Abnormal ini dapat diselesaikan tepat pada
waktunya.
Makalah ini berisikan tentang berbagai gangguan perilaku yang
dibuat dengan tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi
Makalah ini disusun bukan semata-mata karena petunjuk untuk
mendapatkan nilai, namun di latarbelakangi pula untuk memperluas
wawasan khususnya tentang berbagai gangguan perilaku pada
manusia. Makalah ini tentunya masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu
diharapkan kritik dan saran yang objektif yang bersifat membangun
guna tercapainya kesempurnaan yang diinginkan.
Penulis sepenuhnya menyadari, tanpa bantuan dan kerjasama
dari pihak yang terkait paper ini tidak akan sesuai dengan harapan.
Pada kesempatan yang baik ini tidak lupa kami sampaikan terima kasih
dan penghargaan kepada :
1. Bapak I Gede Widjanegara selaku dosen mata kuliah Psikologi
yang selalu meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan
tuntunan dalam pembuatan makalah perilaku abnormal.
2. Teman-teman yang telah meluangkan waktu untuk bekerjasama
dalam penyelasain makalah ini.
Om Santih, Santih, Santih Om
Denpasar, November 2016

Penulis

2
DAFTAR ISI

Halaman Judul
Kata Pengantar........................................................................................i
Daftar Isi..................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan...............................................................................2
1.4 Manfaat Penulisan.............................................................................3

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Perilaku Abnormal..........................................................4
2.2 Kriteria Abnormalitas.........................................................................4
2.3 Model Perilaku Abnormal..................................................................7
2.4 Penyebab Perilaku Abnormal..........................................................14
2.5 Bentuk Perilaku Abnormal...............................................................20
2.6 Skisofrenia Dan Paranoia................................................................38
2.7 Gangguan Mental Organik Dan Retardasi Mental.........................39
2.8 Gangguan Perilaku Pada Masa Kanak-Kanak Dan Remaja...........40
2.9 Disfungsi Dan Kelainan Seksual.....................................................42

BAB III PENUTUP


3.1 Simpulan..........................................................................................47
3.2 Saran................................................................................................47
DAFTAR PUSTAKA................................................................................4

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ilmu pengetahuan telah berkembang semakin pesat. Terbukti
dengan adanya pembelajaran yang terkait bidang kesehatan yang terus
mengalami suatu pembaharuan. Psikologi adalah suatu cabang ilmu
pengetahuan yang berkaitan dengan bidang kesehatan, dalam hal ini
psikologi mempelajari proses mental dan perilaku organisme sebagai
manifestasi kejiwaan hidup. Organisme mencakup aspek manusia,
hewan, dan tumbuhan, namun kajiannya baru sebatas perilaku manusia
dan hewan.
Pada individu manusia, perilaku psikologis sangat dominan,
sehingga rentan terjadi suatu gangguan perilaku yang berakar dari
psikologis seseorang. Gangguan perilaku tersebut dikenal dengan
istilah perilaku abnormal. Abnormalitas dilihat dari sudut pandang
biologis berawal dari pendapat bahwa patologi otak merupakan faktor
penyebab tingkah laku abnormal. Pandangan ini ditunjang lebih kuat
dengan perkembangan di abad ke-19 khususnya pada bidang anatomi
faal, neurologi, kimia dan kedokteran umum.
Berbagai penyakit neurologis saat ini telah dipahami sebagai
terganggunya fungsi otak akibat pengaruh fisik atau kimiawi dan
seringkali melibatkan segi psikologis atau tingkah laku. Akan tetapi,
tidak harus perhatikan bahwa kerusakan neurologis tidak selalu
memunculkan tingkah laku abnormal, dengan kata lain tidak selalu jelas
bagaimana kerusakan ini dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang.

4
Fungsi otak yang kuat bergantung pada efesiensi sel saraf atau neuron
untuk mentranmisikan suatu pesan melalui synaps ke neuron berikutnya
dengan menggunakan zat kimia yang disebut neurotransmiter. Dengan
ketidakseimbangan bio kimia otak inilah yang mendasari perspektif
biologis munculnya tingkah laku abnormal. Akan tetapi, selain dari
patologi otak sudut pandang biologis juga memandang bahwa beberapa
tingkah laku abnormal ditentukan oleh gen yang diturunkan.
Berdasarkan uraian penjelasan di atas, maka hal tersebut yang
melatarbelakangi penulis untuk menyusun makalah mengenai perilaku
abnormal yang akan menguraikan secara terperinci hal-hal yang
berkaitan dengan perilaku abnormal.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan latar belakang di atas, maka rumusan
masalah yang akan dibahas pada makalah ini sebagai berikut.
1. Apakah pengertian perilaku abnormal?
2. Apa sajakah kriteria abnormalitas?
3. Apa sajakah model perilaku abnormal?
4. Apa sajakah penyebab perilaku abnormal?
5. Bagaimanakah bentuk perilaku abnormal?
6. Apakah pengertian skizofrenia dan paranoia?
7. Apa sajakah gangguan mental organik dan retardasi mental?
8. Apa sajakah gangguan perilaku pada masa kanak-kanak dan
remaja?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan yang hendak dicapai pada pembuatan makalah ini
sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui pengertian perilaku abnormal.

5
2. Untuk mengetahui kriteria abnormalitas.
3. Untuk mengetahui model perilaku abnormal.
4. Untuk mengetahui penyebab perilaku abnormal.
5. Untuk mengetahui bentuk perilaku abnormal.
6. Untuk mengetahui pengertian skizofrenia dan paranoia.
7. Untuk mengetahui gangguan mental organik dan retardasi
mental.
8. Untuk mengetahui gangguan perilaku pada masa kanak-kanak
dan remaja.

1.4 Manfaat Penulisan


Adapun manfaat yang diperoleh dari pembuatan makalah ini sebagai
berikut.
1. Manfaat Praktis
a. Pembaca dapat menambah pengetahuannya mengenai
perilaku abnormal secara menyeluruh.
b. Pembaca khususnya bagi mahasiswa sebagai calon seorang
perawat dapat mengetahui dan memahami perilaku abnormal
sehingga mampu memberikan asuhan keperawatan yang
berhubungan dengan perilaku abnormal dengan baik.
2. Manfaat Teoritis
Bagi ilmu pengetahuan, agar makalah ini dapat digunakan
sebagai bahan acuan dalam menambah referensi pembuatan
makalah, laporan, dan lain-lain yang berkaitan dengan perilaku
abnormal.

6
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Perilaku Abnormal


Menurut Sutadjo (2005) perilaku abnormal atau abnormal
behaviour adalah penampilan (kepribadian seseorang) dan penampilan
perilaku luar atau kedua- duanya. Ramli (2010) mengemukakan
(perilaku abnormal adalah suatu bentuk sikap hidup yang tidak
diharapkan terjadi, pada umumnya perilaku yang abnormal dihinggapi
oleh gangguan metal dan juga kekakuan mental get mental breakdown).
Orang-orang yang berperilaku abnormal, biasanya selalu diliputi oleh
konflik-konflik bathin, jiwa yang miskin, labil, tidak ada perhatian dari
lingkungannya, tersisihkan dari masyarakat, selalu menunjukkan
kecemasa, takut dan gelisah dan sering mengalami gangguan dari
aspek jasmani.
2.2 Kriteria Abnormalitas
Dalam rangka menentukan atau mengukur perilaku abnormal ada
berbagai kriteria yang dapat digunakan baik dengan satu kriteriaatau
beberapa kriteria yang ada secara bersama-sama sesuai dengan
kondisi yang dihadapi. Coleman mengemukakan berbagai kriteria untuk
menentukan abnormalitas adalah penyimpangan dari norma statistic,
penyimpangan dari norma sosial, gejala salah sesuai, tekanan bathin,
dan ketidakmatangan (Winkel, 1991).
1. Penyimpangan dari Norma Statistik
Berdasarkan norma statistic yang disebut abnormal adalah
setiap hal yang luar biasa atau menyimpang dari norma. Hamper

7
setiap perilaku seorang tersebar dalam populasi mengikuti kurve
normal yang bentuknya mirip genta. Dua pertiga dari seluruh
jumlah kasus terletak dalam bidang yang merupakan sepertiga
dari keseluruhan bidang yang mewakili populasi itu. Kriteria ini
tidak bisa diterapkan untuk semua perilaku yang ada mengingat
kesesuaian realitas atas dasar logika sehat. Kriteria ini cocok
diterapkan untuk perilaku tertentu saja seperti perilaku agresif,
makin jauh nilai rata-rata baik kea rah kiri (kurang) maupun ke
arah kanan (lebih), ditemukan orang-orang dengan tingkat
agresifitas ekstrim (rendah atau tinggi), yang ke duanya
berkonotasi negative. Kriteria ini tidak cocok untuk perilaku lain,
seperti inteligensi, karena walaupun sama-sama abnormal
namun kegeniusan (ekstrim tinggi) memiliki makna positif,
sedangkan perilaku idiot (ekstrim rendah) memiliki nilai negative.
2. Penyimpangan dari Norma Sosial
Berdasarkan kriteria penyimpangan dari norma sosial,
perilaku abnormal diartikan sebagai nonkonformitas, yakni tidak
patuh atau tidak sesuai dengan norma sosial. Keadaan inilah
yang disebut relativisme budaya, segala sesuatu yang umum
atau lazim adanya adalah normal, walaupun kita sering tidak
sepakat tetapi pedoman semacam itu sering kali berlaku dalam
masyarakat. Patokan ini didasarkan pada dua pandangan yang
patut diragukan kebenarannya yaitu pertama bahwa sesuatu
yang dinilai tinggi dan dilakukan oleh mayoritas adalah baik dan
benar. Padahal yang banyak atau mayoritas belum tentu benar
tetapi yang benar itu masih banyak. Pandangan yang kedua
adalah bahwa perilaku seseorang sejalan dengan norma-norma

8
masyarakat yang berlaku selalu mendukung kepentingan orang
itu sendiri maupun kepentingan kelompok atau masyarakatnya.
3. Gejala Salah Sesuai
Abnormalitas dopandang ketidakefektifan individu dalam
mengahadapi, menanggapi, atau melaksanakan tuntutan-
tuntutan dari lingkungan fisik dan sosialnya serta yang bersumber
dari berbagai kebutuhannya sendiri. Kriteria ini bertendensi
negative dalam arti tidak memperhitungkan fakta bahwa
seseorang dapat menyesuaikan diri dengan baik tanpa
memanfaatkan dan mengembangkan potensi kemampuan yang
dimiliki. Ada orang yang disebut “berhasil” dalam menjalani
kehidupan secara lazimnya “baik” tetapi sebagai pribadi tidak
merkembang secara maksimal.
4. Tekanan Bathin
Termasuk abnormalitas berwujud perasaan-perasaan
semas, depresi atau sedih, dan rasa bersalah yang mendalam.
Kriteria ini nampaknya bukan merupakan patokan yang baik
dalam membedakan perilaku normal dari yang abnormal atau
sebaliknya. Tekanan bathin yang kronis yang tak berkesudahan
memang merupakan indikasi bahwa ada sesuatu yang
bermasalah, namun normal juga jika seseorang merasa sedih
atau tertekan ketika mengalami musibah, kekecewaan atau
ketidakadilan. Ketabahan memang merupakan suatu indikasi
kematangan dalam menghadapi bencana atau musibah atau
suatu peristiwa yang tidak dikehendaki.

9
5. Ketidakmatangan
Disebut abnormal jika perilakunya tidak sesuai dengan
usianya, tidak selaras dengan situasi yang ada. Masalahnya
sering kesulitan dalam menemukan kepantasan dan
kematangan. Ukuran yang sering digunakan adalah tugas-tugas
perkembangan pada setiap fase kehidupan.
Dari uraian tentang kriteria abnormalitas dapat diketahui
bahwa untuk menentukan batas tegas antara normal dan
abnormalitas tidaklah mudah. Coleman, Butcher, dan Carson
(1980) dengan tetap menyadari kekurangannya, akhirnya ia
hanya menggunakan dua kriteria yaitu abnormalitas sebagai
penyimpangan dari norma masyarakat dan abnormalitas
berdasarkan gejala salah sesuai (maladatif). Diantara ke dua
patokan tadi mereka cenderung menekankan yang ke dua.
Artinya kriteria terbaik untuk menentukan normalitas perilau
bukanlah masyarakat menerima atau menolaknya, tetapi apakah
perilaku itu meningkatkan kesejahteraan masyarakat atau
kemaslahatan masyarakat.

2.3 Model Perilaku Abnormal


Merupakan kerangka berpikir untuk menjelaskan keberadaan
perilaku abnormal. Sebagian besar model perilaku abnormal di
turunkan, satu diantaranya dari teori tentang kepribadian yang
komprehensif menyajkanuraian hakekat gangguan perilaku, asalnya
dan proses perkembangannya. Hall dan Lindzey (1993)
mengemukkakan teori semacam itu juga mentajikan konsepsi tentang
perilaku dapat diubah dan berdasarkan konsepsi ini ditawarkan model

10
psikoterapi yaitu cara menolong seseorang mengubah bentuk- bentuk
perilakunya yang menimbulkan gangguan.
Supratiknya (1995) mengemukakan enam model perilaku
abnormal yang cukup penting.
1. Model Biologis
Perilaku abnormal timbul akibat aneka kondisi organic
yang tidak sehat yang merusak sistem saraf pusat di otak.
Gangguan perilaku dipandang sebagai penyakit, setidaknya
bersumber pada penyakit yang langsunh menyerang otak atau
keadaan tidak ideal pada tubuh yang akhirnya juga berakibat
menganggu atau bahakan dapat melumpuhkan fungsi otak.
Contohnya infeksi sifilis tahap lanjut yang dapat menyerang otak,
keracuan obat, malnutrisi dapat mempengaruhi secara negative
fungsi otak. Mengatasi gangguan demikian adalah dengan
menghilangkan sumber gangguan yang bersifat biologis dengan
obat-obatan. Dalam praktiknya model ini sering disebut juga
sebagai model medis.
2. Model Psikoanalitik
Model ini diturunkan dari teori psikoanalisis yang
dikemukakakn oleh Sigmund Freud (1856-1939). Menurut Freud
aneka situasi yang menekan yang mengancam akan
menimbulkan kecemasan dalam diri seseorang. Kecemasan ini
berfungsi sebagai peringatan bahaya sekaligus merupakan
kondisi yang tak menyenangkan yang perlu diatasi, jika
seseorang mampu mengatasi sumber tekanan (stressor),
kecemasan akan hilang. Sebaliknya jika gagal dan kecemasan
terus mengancam dan dengan intensitas yang meningkat pula

11
maka seseorang akan menggunakan satu atau beberapa bentuk
mekanisme pertahanan diri. Langkah ini secara superfisial dapat
membebaskan seseoran dari kecemasannya namun akibatnya
dapat timbul kesenjangan antara pengalaman individu dengan
realitas. Misalnya seorang pemuda yang cintanya ditolak oleh
gadis pujaannya mengakibatkan sangat kecewa dapat
menghibur diri dengan mengatakan bahwa masih banyak ada
gadis yang lain. Bisa saja kekecewaanya terobati, tetapi
sebenarnya tetap ia tidak bisa menyangkal kenyataan yang ada
bahwa tidak ada yang sama seperti gadis yang didambakannya
diantara gadis-gadis yang lain. Pemuda tadi tidak mampu
menyadari dan menerima hal yang demikian sehingga ia merasa
bahwa semua gadis lain tidak berbeda dari gadis yang pernah
dipujanya. Keadaan demikian menunjukkan bahwa kesenjangan
pengalamn pribadi dengan realitas menjadi sangat ekstrim,
sehingga mengakibatkan perilakunya terganggu. Mengatasi
keadaanya yang demikian sumber gangguan berupa
kekecewaan yang sangat berat yang ditekan ke dalam
ketidaksadarannya itu harus dieksplorasi, di bawa kepermukaan
untuk selanjutnya diterima dan diakui serta diatasi dengan teknik
psikoanalisis.
3. Model Behavioristik
Penyebab gangguan perilaku adalah akibat proses belajar
yang salah. Bentuk kesalahan belajar itu ada dua kemungkinan:
pertama gagal mempelajari bentuk-bentuk perilaku atau
kecakapan adaptif yang diperlukan dalam hidup. Kegagalan itu
dapat bersumber dari tidak adanya kesempatan untuk belajar,

12
misalnya seorang anak laki-laki yang hanya dibesarkan oleh
ibunya, setelahnya mencapai dewasa cenderung feminism,
karena tidak menemukan model dikeluarganya untuk
mempelajari sifat dan peran laki-laki. Keadaan ini berakibat ia
selalu canggung dalam bergaul baik dengan sesame maupun
dengan lawan jenis. Bisa jadi kegagaglan itu merupakan sejenis
akibat tidak diinginkan sari suatu usaha untuk menanamkan
sesuatu yang adptif secara berlebihan. Pada kasus pria yang
feminism tadi sifat feminimnya itu tumbuh akibat pengalaman
dibesarkan dalam keluarga ayah yang memiliki pandangan kaku
mengenai pembagian peran seksual dan bersikap sangat keras
dalam menanamkan dan memberi teladan penting peran lelaki,
sampai-sampai melecehkan peran perempuan. Anak ini menjadi
feminism akibat simpati pada model perempuan ibu yang
tertindas serta penolakannya pada model lelaki ayah yang kasar
dan arogan. Mempelajari perilaku yang maladaptive, misalnya
seorang anak yang menginjak dewasa cenderung agresif dan
asocial karena dibesarkan di tengah keluarga yang retak dengan
ayah pemabuk dan sering memukul istri dan anak.
Menurut model behavioristik perilaku maladaptive yang
terlanjur terbentuk dapat dihilangkan dengan cara yang
bersangkutan dibantu untuk belajar menghilangkannya secara
perlahan dan mempelajari perilaku baru yang menjamin
kebahagiaan bagi dirinya dan dalam hubungannya dengan
orang lain.

13
4. Model Humanistik
Penyebab dari gangguan perilaku adalah karena
terhambat ata terdistorsikannya perkembangan pribadi dari
kecendrungan yang wajar kearah kesehatan fisik dan mental.
Distorsi itu sendiri dapat bersumber pada faktor-faktor berikut:
1. Penggunaan mekanisme pertahanan diri yang berlebihan
sehingga individu semakain kehilangan kontak dengan
realitas,
2. Kondisi-kondisi sosial yang tidak menguntungan dan
proses belajar yang tidak semestinya,
3. Stress yang berlebihan.
Menurut model ini tujuan psikoterapi adalah menolong
individu meninggalkan topeng pertahanan diri dan belajar
menerima pengalaman-pengalaman yang ada, belajar
mengembangkan berbagai kompetensi yang dibutuhkan,
menemukan nilai-nilai hidup. Individu ditolong mengembangkan
kemampuan untk membuat pilihan dan keputusan dengan cepat
dan benar, tumbuh dan mencapai pemenuhan diri.
Untuk mencapai tujuan itu dapat dilakukan berbagai teknik
diantaranya: pertemuan kelompok, berbagai jenis pelatihan
seperti pelatihan memahami dan menemuka diri (awareness
training), pelatihan untuk mengembangkan perilaku asertif, terus
terang, jujur denga tetap mempertahankan hubungan baik
dengan orang lain (assertiveness training) dan berbagai teknik
ekspriensial lain yang bertujuan menolong individu
mengaktualisasikan diri, menjalin hubungan yang lebih

14
memuaskan dengan orang lain, dan menguasai cara-cara yang
lebih efektif dalam menghadapi berbagai situasi hidup.
5. Model Eksistensial
Manusia modern terjebak dalam situasi hidup tidak
menyenangkan yang merupakan dampak negative dari proses
modernisasi. Berupa melemahnya nilai-nilai tradisional, krisis
iman, hilangnya pengakuan atas diri individu sebagai pribadi
akibat berubahnya masyarakat kearah masyarakat birokratis,
dan menghilangnya banyak hal yang dapat menjadi sumber
makna hidup seperti persahabatan, kesetiakawanan. Individu
modern mengalami alienasi atau keterasingan, ia tidak lagi
mengenal Tuhan secara hakiki, tidak mengenal sesamnya,
bahkan tidak lagi mengenal dirinya sendiri. Segalanya telah
berubah menjadi fungsi dan simbul belaka, sehingga membuat
sebagian orang merasa kosong dan hampa dalam hidupnya,
merasa cemas, dan akhirnya terperosok kedalam abnormalitas.
Menurut model eksistensial tjuan psikoterapi adalah menolong
individu menemukan nilai-nilai hidupnya, menemukan cara hidup
yang bermakna. Manusia sebagai makhluk yang diyakini mampu
membuat keputusan dan pilihan secraa rasional dan
bertanggung jawab, maka individu ditolong mengembangkan
gaya hidup yang lebih menjamin terciptanya hubungan yang
konstruktif dengan sesamanya serta tercapainya pemenuhan
kebutuhan diri.
6. Model Interpersonal
Hubungan antar pribasi yang tidak memuaskan
merupakan sumber utama penyebab perilaku maladaptive.

15
Menurut Thibaut dan Kelley (dalam Supratiknya, 1995)
mengemukakan teoti pertukara sosial, pada hakekatnya
manusia saling menjalin hubungan dengan tujuan memuaskan
kebutuhan masing-masing. Setiap orang mengharapkan sesuatu
dari hubungannya denga orang lain sehingga hubunga antar
pribadi tersebut pada dasrnya tidak berbeda dengan hubunga
dagang. Dalam hubungan tersebut jika ada pihak yang merasa
bahwa keuntungan yang diperoleh tidak sepadan denga
pengorbanan yang telah dilakukannya, maka ia merasa rugi dan
menderita, jika ia memiliki cukup kebebasan bisa jadi ia akan
memutuskan hubungan tersebut. Dalam situasi hubungan yang
tidak adil ini jika ia tidak dapat keluar dari situasi penderitaan itu
setelah melewati batas kemampuannya bisa menimbulkan
perilaku abnormal.
Menurut model interpersonal ini tujuan psikoterapi adalah
menolong individu ke luar dari hubungan yang bersifat patogenik
atau bermasalah dengan mengembangkan hubungan-hubungan
baru yang lebih memuaskan.
7. Model Sosiokultural
Sumber penyebab utama perilaku abnormal adalah
keadaan–keadaan obyektif dimasyarakat yang bersifat
merugikan seperti kemiskinan, diskriminasi dan prasangka ras,
serta kekejaman atau kekerasan. Nemtuk stressor atau situasi
yang menekan dapat berbeda-beda tergantung pada konteks
sosiokultural individu berada. Di daerah pedesaan yang
masyarakatnya relative homogeny sumber utama penyebab
gangguan perilaku adalah kemiskinan. Di kota-kota besar denga

16
tipe masyarakat yang heterogen penyebab timbulnya gangguan
perilaku dikalangan minoritas adalah diskriminasi. Pola
gangguan perilaku di masyarakat dapat berubah-ubah sejalan
dengan adanya perubahan peradaban manusia. Contohnya
pada zaman ketika Sigmund Freud hidup gangguan perilaku
yang banyak ditemukan adalah sejenis neurosis yang disebut
hysteria. Di zaman modern sekarang ini gangguan yang popular
di masyarakat khususnya dikota besar adalah “stress”.

2.4 Penyebab Peilaku Abnormal


Sebab perilaku abnormal dapat ditinjau dari berbagi sudut,
diantaranya berdasarkan tahap berfungsinya dan berdasarkan sumber
asalnya.
1. Menurut Tahap Berfungsinya
Coleman, Butcher dan Carson (1980) mengemukakan sebab perilaku
abnormal berdasarkan tahap berfungsinya dibedakan menjadi:
a. Penyebab Primer (Primary Cause)
Suatu kondisi yang tanpa kehadirannya suatu gangguan
tidak akan muncul. Misalnya infeksi sifilis yang menyerang sistem
saraf pada kasus paresis general yaitu sejenis psikosis yang
disertai paralisis atau kelumpuhan yang progresif sampai
akhirnya penderita mengalami kelumpuhan total. Tanpa infeksi
sifilis gangguan ini tidak mungkin terjadi pada seseorang.
b. Penyebab yang menyiapkan (Predisposing Cause)
Penyebab yang menyiapkan adalah kondisi yang
mendahului dan membuka jalan bagi kemungkinan terjadinya
gangguan tertentu dalam kondisi tertentu di masa mendatang.

17
Misalnya anak ditolak oleh orang tuanya bisa menjadi lebih
rentan terhadap tekanan hidup sesudah dewasa dibandingkan
dengan orang-orang yang memiliki dasar rasa aman yang lebih
baik.
c. Penyebab Pencetus (Precipitating Cause)
Penyebab [encetus adalah setiap kondisi yang tidak
tertahankan bagi individu dan mencetuskan adanya gangguan.
Contohnya seorang wanita muda menjadi terganggu perilakunya
setelah mengalami kekecewaan yang berat akibat ditinggalkan
oleh tunangannya.
d. Penyebab yang Menguatkan (Reinforcing Cause)
Merupakan suatu kondisi yang cenderung
mempertahankan atau memperteguh perilaku maladaptive yang
sudah terjadi. Contohnya perhatian yang berlebihan pada
seorang gadis yang sedang “sakit” justru dapat menyebabkan
yang bersangkutan kurang bertanggung jawab atas dirinya dan
cenderung menunda kesembuhannya.
e. Sirkularitas Faktor Penyebab
Dalam praktiknta atau realitas yang ditemukan gangguan
perilaku yang muncul jarang penyebabnya tunggal. Serangkaian
faktor penyebab yang kompleks, yang saling mempengaruhi
sebagai lingkaran setan, bukan hanya sebagai hubungan sebab
akibat sederhana, sering menjadi penyebab berbagai
abnomarlitas. Contohnya sepasang suami istri menjalani
konseling di pusat terapi, untuk mengatasi masalah dalam
hubungan dengan perkawinannya. Suami menuduh istrinya
senang menghambur-hamburkan uang dengan berfoya-foya,

18
sedangkan istrinya menuduh suaminya hanya asik dengan
bisnisnya dan kurang memperhatikannya. Menurut versi istri ia
suka meninggalkan rumah berfoya-foya dengan teman-temannya
karena suaminya kurangmemperhatikannya, sedanglan menurut
suami, ia jengkel dan sengaja mengabaikan istrinya karena
istrinya senang berhura-hura di luar rumah bersama teman-
temannya. Jadi tidak jelas lagi mana sebab mana akibat? Setiap
pihak mempunyai andil memicu dan mengukuhkan perilaku
pasangannya. Inilah yang disebut sirkularitas sebab atai
lingkaran setan.
f. Menurut Sumber Asalnya
Menurut sumber asalnya sebab-sebab gangguan perilaku
atau perilaku abnormal dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu:
a. Faktor Biologis
Berbagai keadaan biologis yang dapat menghambat
perkembangan maupun fungsi pribadi dalam kehidupan sehari-hari
seperti kelainan gen, kurang gizi, penyakit tertentu. Pengaruh faktor
biologis biasanya bersifat menyeluruh yaitu mempengaruhi seluruh
aspek perilaku, mulai dari kecerdasan sampai daya tahan terhadap
stress. Menurut Coleman, Butcher dan Carson (1980) faktor biologis
diantaranya.
1. Cacat Genetik
Keadaan ini biasanya anomaly atau kelainan kromosom berupa
kelainan struktur atau jumlah kromosom yang dapat menimbulkan
gangguan kepribadian. Contoh: Sindrom Down, sejenis
keterbelakangan mentak akibat adanya trisomy dalam struktur
kromosomnya. Sindrom Klinefeller, kelainan berupa tubuhnya pria

19
namun sifatnya wanita, hal ini terjadi akibat kelebihan kromosom X
pada kromosom jenis kelamin XY.
2. Kelemahan Konstitusional
Konstitusi adalah struktur biologis seseorang yang relative
menetap akibat pengaruh-pengaruh genetic atau lingkungan sangat
awal, termasuk lingkungan prenatal. Konstitusi meliputi fisik atau
bangun tubuh dikaitkan dengan sifat kepribadian dan
abnormalitas,cacat fisik meliputi cacat bawaan dan cacat yang
diperoleh sesudah lahir, dan kecendrungan reaksi primer yang
meliputi kepekaan, tempramen, dan cara-cara khas bereaksi
terhadap frustasi.
3. Deprivasi Fisik
Malnutrisi di masa bayi dapat menghambat pertumbuhan fisik,
melemahkan daya tahan terhada penyakit, menghambat
pertumbuhan otak dan berakibat menurunkan tingkat inteligensi.
Saat dewasa akibat diet yang terlalu ketat dapat menurunkan daya
tahan seseorang terhadap stress dan meningkatkan kemungkinan
psikosis atau gangguan mental lainnya.
4. Proses Emosi yang berlebihan
Gelora emosi yang ekstrim yang berlangsung singkat dapat
menganggu kemampuan seseorang dalam bereaksi secara tepat
pada situasi darurat. Korban bencana adalah orang-orang yang
cenderung mudah panic. Gejolak yang ekstrim demikian jika
berlangsung lama dapat berakibat negative terhadap penyesuaian
diri orang itu secara keseluruhan. Dapat muncul gejala penyakit
tertentu yang sulit disembuhkan seperti gangguan pernafasan, gatal-
gatal, sebagai suatu jenis penyakit yang disebut psikosomatik.

20
5. Patologi Otak
Merupakan gangguan organic yang langsung melumpuhkan
fungsi otak. Gangguan demikian dapat bersifat sementara seperti
suhu tubuh yang tinggi dan dapat pula permanen seperti infeksi
sifilis. Suhu tubuh yang tinggi dapat menimbulkan delirium atau
kekacauan mental, misalnya mengigau, sedangkan infeksi sifilis
yang menyerang otak akan menimbulkan gangguan psikosis tertentu
yang lebih sulit disembuhkan.
a. Faktor Psikososial
1. Trauma di Masa Kanak-kanak
Merupakan pengalamn yang menghancurkan rasa aman,
rasa mampu, dan harga diri sehingga menimbulkan luka psikis
yang sulit disembuhkan sepenuhnya. Trauma ini cenderung terus
di bwa ke masa dewasa yang dapat menimbulkan maalah
perilaku.

2. Deprivasi Parental
Merupakan tiadanya kesempatan untuk memperoleh
rangsangan emosi dari orang tua, berupa kehangatan, kontak
fisik, rangsangan intelektual, emosional dansosial. Penyebabnya:
a. Dipisahkan orang tua dan dititipkan di panti asuhan.
b. Kurangnya perhatian dari pihak orang tua walaupun tinggal
bersama orang tua di rumah. Kelak besar anak bisa membenci
orang tuanya dan dapat menimbulkan gangguan perilaku.

21
3. Hubungan Orang Tua dengan Anak yang Patogenik
Hubungan yang patogenik adalah hubungan yang tidak
serasi antara orang tua dengan anak yang menimbulkan
gangguan tertentu pada anak. Menurut Coleman, Butcher, dan
Carson (1980) ada tujuh jenis pola hubungan orag tua anak yang
bersifat patogenik yaitu:
a. Penolakan dalam bentuk menelantarkan secara fisik, tidak
menunjukkan cinta dan kasih sayang, tidak perhatian,
menghukum secara kejam, tidak menghargai hak dan
perasaan anak.
b. Overproteksi dan serba mengekang dalam bentuk mengawasi
anak berlebihan, menerapkan aturan yang ketat.
c. Menuntut secara tidak realistis,
d. Terlalu lunak pada anak,
e. Disiplin yang salah,
f. Komunikasi yang tidak memadai,
g. Teladan yang buruk.

4. Struktur Keluarga yang Patogenik


Struktur suatu keluarga sangat menentukan corak komunikasi
yang berlangsung di antara para anggotanya. Ada empat macam
struktur keluarga yang dapat melahirkan gangguan pada para
anggotanya yaitu:
a. Keluarga yang tidak becus,
b. Keluarga yang anti sosial,
c. Keluarga yang tidak akur,

22
d. Keluarga yang tidak utuh.

5. Stres Berat
Merupakan suatu keadaan yang menekan secara psikologis.
Keadaan ini dapat ditimbulkan oleh: frustasi yang menyebabkan
hilangnya harga diri, konflik nilai, dan tekanan kehidupan modern.
a. Faktor Sosiokultural
Faktor sosiokultural meliputi keadaan obyektif dalam masyarakat
yang dapat menimbulkan adanya tekanan pada individu dan
melahirkan berbagai bentuk gangguan seperti:
1. Suasana perang dan suasana kehidupan yang diliputi
kekerasan,
2. Terpaksa menjalankan peran sosial yang berpotensi
menimbulkan gangguan,
3. Menjadi korban prasangka dan diskriminasi suku, agama, ras,
antar golongan,
4. Resesi ekonomi dan kehilangan pekerjaan,
5. Perubahan sosial dan IPTEK yang sangat cepat.

2.5 Bentuk Perilaku Abnormal


Bentuk gangguan prilaku yang disajikan didasarkan pada
penggolongan DSM III tahun 1980, sehingga setiap bentuk gangguan
perilaku mengakibatkan taraf disfungsi psikologis yang berlainan.
Menninger, Mayman dan Pruyser membedakan lima taraf disfungsi
psikologis karena gangguan perilaku.
1. Berupa gejala kehilangan kontrol atau disorganisasi yang sifatnya
masih ringan. Perilaku seseorang masih efektif dan merasa

23
nyaman tetapi menunjukkan tanda-tanda nervous berupa rasa
terhambat, emosi yang meningkat dan butuh upaya sadar untuk
mengendalikan diri.
2. Berupa pemutusan dari realitas dan rasa tidak nyaman pada
tingkat yang masih ringan, dalam bentuk simtom-simtom seperti
pingsan, disosiasi atau berbagai bentuk gejala mkehilangan
kesadaran atau kontrol diri, fobia, konversi histeris, impotensi,
dan adiksi atau kecanduan.
3. Pada taraf ketiga ini ditandai dengan pelampiasan agresi dalam
bentuk tindak kekerasan yang dilakukan secara akut, sesekali
namun intensitasnya tinggi atau secara kronis yaitu secara
episodik dan berulang-ulang namun biasanya tidak dalam
intensitas yang tinggi.
4. Pada tahap ini keadaan disorganisasi atau kekacauan yang
ekstrim berupa penyangkalan realitasdan regresi yang lebih lazim
dikenal sebagai psikosis. Sindrom-sindromnya meliputi
kemurungan, kegembiraan yang tak terkendali, manerisme atau
cara berperilaku tertentu berlebihan, delusi atau waham,
perasaan dikejar-kejar,kekacauan orientasi, hilang ingatan, dan
kebingungan.
5. Taraf kelima berupa disintegrasi kepribadian yang bersifat total,
kemunduran fungsi secara total dan keputusannya yang
mengarah upaya bunuh diri (Mears dan Gatched, 1979).

Berikut adalah aneka bentuk ganggan perilaku yang sering dijumpai


dalam kehidupan sehari-hari dimasyarakat.
1. Reaksi sementara terhadap Stress

24
Menghadapi keadaan yang dapat menumbulkan stress berat,
seseorang yang sebelumnya sehat dapat mengalami gangguan
kepribadian. Keadaan yang dapat menimbulkan stress berat adalah
aneka bentuk bencana atau musibah dan keadaan menekan yang
berlangsung lama, diantaranya.
a. Bencana atau musibah kebakaran,gempa bumi, banjir, tanah
longsor, ancaman perkosaan dapat menimbulkan stres berat dan
memicu korban untuk bereaksi. Coleman, Butcher dan Carson
(1980) mengemukakan reaksi terhadap pengalaman yang
mengguncang meliputi sejjumlah gejala perilaku yang bersama-
sama disebut “sindrom bencana” (disaster syndrome) yang dapat
dibedakan ke dalam dua tahap.
b. Sindrom awal (initial disaster syndrome)
Sindrom awal ini meliputi:
1. Tahap mengalami guncangan (shock stage). Korban biasanya
terpana, bingung, acuh tak acuh, atau pingsan, panik.
2. Tahap mudah dipengaruhi (suggestible stage). Korban pasif,
mudah dipengaruhi dan dan mau mengikuti petunjuk orang lain.
3. Tahap pulih (recovery stage). Masih menunjukkan sisa-sisa
ketegangan dan kecemasan, namun korban secara bertahap
mampu mennguasai diri.
c. Sindrom pascatrauma bencana (post-traumatic disaster
syndrome )
Gejala-gejala yang ada pada korban adalah:
1. Cemas, terutama jika menghadapi keadaan yang
mengingatkannya pada pengalaman traumatiknya dulu.

25
2. Dihinggapi rasa tegang dan mudah marah yang bersifat kronik,
terkadang mengeluh selalu lelah, tidak bisa tidur, mudah
terganggu dengan suara bising
3. Sering mengalami mimpi buruk, mengingatkan kembali
kejadian traumatic yag pernah dialami baik secara langsung
atau dalam wujud gambaran aslinya maupun secara simbolik.
4. Mengeluh sulit konsentrasi dan mengingat
5. Mengalami depresi

1. Reaksi terhadap sumber stres yang sulit di atasi


Sumber stress dapat keadaan mengganggur, berpisah dari orang
yang dicintai, putusnya hubungan perkawinan. Dalam jangka waktu
relatif lama korban bisa menjadi kecewa,terancam, tak mampu.
Simtom maladaptif yang ditemukan dari keadaan demikian biasanya
berjudi, mabuk-mabukan, ketempat pelacur, menolak, mudah marah,
mencari “kambing hitam”, apatis, defresif.

1. Neurosis
Istilah neurosis diciptakan oleh seeorang pakar dari Inggris
namanya William Cullen pada tahun 1769. Semula ia meengira
bahwa neurosis sekedar gangguan dalam sistem saraf. Dua abad
kemudian Freud berpendapat bahwa sumber neurosis adalah konflik
bathin, sebaliknya kaum behavioristik berpendapat bahwa sumber
neurosis adalah cara belajar yang keliru dalam menghindari
kecemasan. Menurut pandangan behavioristik inti neurosis adalah
gaya hidup maladaptif berupa perilaku yang bersifat desentif dengan
tujuan untuk menghindari dan mengurangi kecemasan. Coleman,

26
Butcher dan Carson (1980) mengemukakan bahwasifat defensif
meliputi dua komponen yaitu:
1. Nukleus neurotik, berupa perilaku menyalahkan realitas dan
cenderung menghindari, bukan mengatasi stress.
2. Paradoks neurotik, kecenderungan untuk mempertahankan gaya
hidup neurotik kendati tahu bahwa hal itu merugikan diri sendiri.
Ada beberapa jenis gangguan neurotik.
a. Gangguan kecemasan umum (generalized anxiety disorder)
pada keadaan ini individu menunjukkan simtom-simtom:
senantiasa tegang, waswas, resah tak menentu, mudah
tersinggung, sering merasa tidak mampu, minder,sedih, sulit
konsentrasi dan mengambil keputusan, lamban, panic, mengeluh
ototnya tegang, berkeringat banyak, berdebar-debar dan tekanan
darahnya meningkat, tiba-tiba cemas tanpa adanya pemicu yang
jelas. Ada berbagai sebab munculnya gangguan kecemasan
yang bersifat neurotik yaitu :
mencontoh orang tua yang memiliki sifat tegang dan pencemas,
tidak mampu mengendalikan dorongan yang membahayakan,
membuat keputusan yang menimbulkan kecemasan, dan karena
munculnya kembali trauma pisikologis yang pernah dialami
dimasa lalu

b. Gangguan obsesif –kompulsif


seseorang merasa terdorong atau terpaksa berpikir tentang
sesuatu dan atau melakukan tindakan tertentu yang tidak
dikehendakinya. Dalam reaksi obsesif pikiran-pikiran yang
menghantui tersebut bersifat persisten( tidak mau hilang), terasa

27
irasional bagi yang bersangkutan dan sangat mengganggu
perilakunya sehari-hari. Pikiran tersebut dapat berupa khawatir
kepada kesehatannya,khawatir melakukan tindakan amoral, bunuh
diri, atau usaha menemukan penyelesaian masalah yang sepertinya
tidak terselesaikan. Dalam reaksi kompulsif seseorang merasa harus
melakukan tindakan tertentu yang baginya sendiri terasa absurd
atau aneh dan sebenarnya ia sendiri tak mampu melakukannya.
Contohnya dari perbuatan sederhan seperti mendehem, sampai
perbuatan yang cukup kompleks seperti mencuci tangan berali-kali
dalam se jam, dengan begitu perasaannya menjadi lega dan puas.

c. Gangguan fobia
Fobia adalah perasaan takut yang bersifat menetap terhadap
obyek atau situasi tertentu yang sesunggguhnya tidak menimbulkan
ancaman nyata bagi yang bersangkutan atau bahan bahannya
terlalu dibesar-besarkan.
Contoh dari berbagai fobia
1. Akrofobia, takut berada di ketinggian
2. Agoraphobia, takut berada ditempat terbuka
3. Hematofobia, takut melihat darah
4. Monophobia, takut berada sendirian disuatu tempat
5. Niktofobia, takut pada kegelapan
6. Pirofobia, takut melihat api
7. Klaustrofobia, takut berada ditempat yang tertutup

28
d. Gangguan somatoform
Merupakan gangguan neurotik, seseorang mengeluh memiliki
simtom-simtom fisik yang menandakan adanya gangguan fungsi
tubuh, namun ternyata tidak memiliki akar atau sumber organik, jenis
gangguannya diantaranya.
1. Hipokondriasis, seseorang mengelukh memiliki simtom-simtom
fisik yang sebenarnya penyebabnya bersumber dari psikisnya.
2. Gangguan sakit Psikogenik, adanya keluhan sakit yang
bersumber pada keadaan psikis yang terganggu, individu
mengeluh menderita sakit berkepanjangan.
3. Gangguan konversi, mula-mula gangguan ini disebut histeria,
yaitu suatu perilaku neurotik yang ditandai dengan simtom
tidakberfungsinya bagian badan tertentu atau hilangnya
kontrolpada bagian badan tertentu tanpa ada dasar patologi
organiknya. Freud menyebut gangguan ini histeria konversi yaitu
adanya konflik psikoseksual secara tidak sadar dikonversikan ke
dalam suatu bentuk gangguan fisik, sehingga yang bersangkutan
tidak menyadari asal atau makna simtom fisiknya tersebut.

e. Gangguan Disosiatif
Disosiatif berarti melarikan diri dari inti kepribadian. Gangguan ini
merupakan cara menghindari stress sekaligus memuasakan
kebutuhan-kebutuhan tertentu dengan melakukan perbuatan
tertentu, sehingga individu dapat terhindar dari tanggung jawab atas
perbuatan atau perilakunya yang tidak dapat diterima tersebut. Ada
beberapa bentuk gangguan disosiatif.
1. Amnesia Psikogenik dan Fungu

29
Amnesia psikogenik adalah simtom berupa tidak mmampu
mengingat, bahan yang harus diingat ada dalam ketidaksadaran,
dan dapat muncul kembali dalam wawancara hypnosis dan narcosis.
Fugu adalah simtom berupa pergi meninggalkan rumah tanpa
tujuan.
2. Kepribadian ganda
Individu menunjukkan dua atau lebih kepribadian. Setiap kepribadian
memiliki proses perasaan dan proses piker masing- masing yang
cukup stabi dan perbedaannya biasanya sangat jelas. Misalnya
kepribadian yang satu bersifat pering dan optimis, sedangkan
kepribadian lainnya bersifat oemurng dan pesimis.
3. Gangguan Depersonalisasi
Individu kehilangan rasa diri dalam bentuk tiba-tiba merasa menjadi
orang lain atau berbeda, merasa dirinya terlepas dari tubuhnya,
gangguan ini sering dialami oleh remaja dan orang muda.
Pencetusnya seringkali adalah stress berat, penyakit, kecelakaan,
atau peristiwa traumatic lainnya.
4. Faktor psikologis dan Penyakit Fisik
Meliputi berbagai jenis gangguan- gangguan psikosomatik, yaitu
gangguan pada fisik oleh arena faktofaktor psikologis. Ada beberapa
untuk simtom psikosomatik klasik.
a. Gastritis
Gastritis atau tukak lambung adalah adanya iritasi atau luka
dilambung yang disebabkan oleh produksi Hel (Asam chlorida) atau
asam lambung yang berlebihan. Hasil penelitian menunjukkan emosi
yang negative seperti kesedihan, agresi,kecemasan, konflik,
kebencian, pada individu tertentu dapat merangsang asam

30
lambung(stomach acids) secara berlebihan yang berakibat adanya
tukak pada lambung.
b. Anorexia Nervosa
Merupakan gangguan makan berupa tidak mau makan atau selalu
muntah setiap kali selesai makan, akibatnya tubuh seseorang
menjadi sangat kurus, dan dalam kasus ekstrim bisa menimbulkan
kematian karena kelaparan atau kegagalan fungsi organ vital.
Gangguan ini lebih sering dialami oleh wanita daripada pria, dengan
perbandingan mencapai angka 20 lawan 1. Artis penyanyi kondang
asal Amerika Serikat Karen Carpenter tewas akibat gangguan ini.
c. Migrain
Migrain adalah gejala kepala pusing atau nyeri yang hebat yang
terjadi secra berulang-ulang secara periodic. Gejala ini kadang-
kadang dirasakan hanya disalah satu belahan kepala atau
otak,kadang-kadang menyerang seluruh kepala, dan kadang-kadang
berpindah-pindah dari belahan kepala yang satu kebelahan lainnya.
Simtom ini lebih sering dialami oleh wanita daripada pria dengan
perbandingan 4 lawan 1. Gangguan ini disebabkan oleh gangguan
pembuluh darah dalam otak akibat ketegangan emosi. Simtom ini
relatif lebih sulit disembuhkan dibandingkan dengan nyeri kepala
lainnya.
d. Hipertensi
Hipertensi terjadi akibat adanya penyempitan pembuluh darah pada
organ dalam yang menyebabkan jantung bekerja lebih keras,
berdetak lebih cepat akibatnya tekanan darah meningkat. Semua
gejala ini akan hilang jika stress yang menjadi penyebabnya dapat
diatasi. Stress yang kronik menimbulkan tekanan darah meningkat

31
menjadi kronik amka muncullah hipertensi. Hipertensi yang muncul
tanpa penyebab addanya gangguann pada fisik disebut hipertensi
esensial.
e. Asthma
Gangguan psikosomatik lainnya yang cukup banyak ditemukan
adalah asthma, berupa sulit bernafas karena penyempitan jalan
nafas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab gangguan ini
adalah adanya gangguan emosi seperti stress, cemas ataupun
depresi.
f. Serangan jantung
Gangguan ini memiliki sejumlah cirri: sering didahului dengan
hipertensi, berkolerasi dengan pengalaman-pengalaman hidup yang
menimbulkan stres, dengan kepribadian tipe A yang agresif, serba
cepat tidak sabar, cepat gusar dan merasa bersalah kalau tidak
mengerjakan sesuatu.

5. Gangguan kepribadian dan kejahatan


Gangguan dalam kategori ini bersumber dari perkembangan
kepribadian yang tidak matang dan menyimpang. Individu ini memiliki
cara pandang, berpikir, dan berhubungan dengan dunia sekelilingnya
bersifat maladaptif. Gangguan ini diantaranya.
a. Kepribadian paranoid,skizoid, dan skizotipe
Individu dengan ketiga ganggguan ini berperilaku eksentrik,
dengan kekhususan.
1. Paranoid memiliki cirri khas serba curiga, hipersensitif, rigid atau
kaku, mudah iri, sangat egois, suka menentang, suka
menyalahan orang lain, dan suka enuduh orang lain jahat.

32
2. Skizoid memiliki cirri khas tidak mampu dan menghindari jalinan
hubungan sosial, terkesan dingin dan tidak akrab, tidak trampil
betgaul dan suka menyendiri.
3. Skizotipe memiliki cirri khas suka menyendiri, suka menghindari
orang lain, egosentrik, dihantui oleh pikiran-pikiran autistic
(pikiran yang tidak dimengerti oleh orang lain selain dirinya
sendiri), dan takhayul-takhayul serta amat perasa.

b. Gangguan kepribadian histrionic,narsistik, dan antisocial


Individu yang nmengalami gangguan ini memiliki ciri umum
berprilaku dramatic atau penuh aksi serba menonjolkan diri,
emosional, dan anehaneh, disamping memiliki ciri khusus.
1. Histrionik adalah kepribadian yang tidak matang, emosinya labil,
haus akan hal-hal yang serba menggairahkan (excitement),
senang mendramatisasi diri secara berlebihan untuk mencari
perhatian, penyesuaian seksual dan hubungan priadinya kacau,
tergantung tak berdaya, mudah ditipu, egois, congkak, sangat
reaktif,dangkal atau picik dan tidak lulus.
2. Narsistik (narkisisme) adalah kepribadian dengan cirri merasa diri
penting dan haus akan perhatian dari orang lain, selalu
menuntut perhatian dan perlakuan istimewa dari orang lain,
harga dirinya rapuh, eksploitatif, memikirkan kepentingan
sendiri, mengabaikan hak dan perasaan orang lain.
3. Antisosial memiliki ciri selalu melanggar hak orang lain melalui
perilaku agresif tanpa menyesalinya. Tidak sedikit diantaranya
cukup cerdas dan pandai menampilkan diri secara meyakinkan
untuk menjadi penipu tulang.

33
c. Psikopatik
Seseorang yang psikopat memiliki cirri perkembangan moral
terhambat, mereka tidak mampu meneladani perbuatan-perbuatan
yang diterima masyarakat (socially desirable behaviors), kurang
dapat begaul, kurang tersosialisasikan sehingga mereka sering
bentrok dengan masyarakat. Gangguan ini sering pula disebut
kepribadian sosiopatik.
d. Perilaku criminal.
Perilaku criminal termasuk kategori gangguan kepribadian. Istilah
criminal atau kejahatan merupakan istilah hukum dan tindak
kejahatan merupakan pelanggaran hukum. Kejahatan dipandang
melanggar hukum atau tidak tergantung pada hukum dan
masyarakat. Tindak keahatan atau perilaku criminal di golongkan ke
dalam gangguan kepribadian karena merupakan bentuk perilau yang
melawan kepentingan individu lain maupun masyarakat secara
keseluruhan. Jenis jenis kejahatan yang utama adalah pembunuhan,
perkosaan , perampokan, dan pencurian.
e. Gangguan kecanduan
Ada dua istilah penting yaitu ketergantungan obat, kecanduan
dan penyalahgunaan obat. Istilah ketergantungan obat atau zat
adalah untuk menunjukkan ketergantungan psikologis pada jenis
obat atau zat tertentu, sedangkan istilah kecanduan(addiction)
digunakan untuk menunjukkan ketergantungan fisiologisnya. Kini
istilah kertergantungan pada obat( drug dependence) biasa dipakai
untuk menunjukkan baik ketergantungan psiklogis maupun fisiologis.
Istilah penyalahgunaan obat digunakan untuk menunjukkan
pengguanaan obat atau zat tertentu secara eksesif atau diluar batas,

34
tanpa memperdulikan orang tersebut telah mencapai titik menjadi
tergantung pada obat tersebut.
Ada berbagai bentuk gangguan yang lazim dibicarakan di masyarakat,
diantaranya.
1. Penyalahgunaan dan Ketergantungan Alkohol
Alkoholik adalah orang yang bermasalah berupa biasa minum-
minuman beralkohol sehingga kebiasaannya itu merugikan atau
mengganggu penyesuaian dirinya dari segi kesehatan, hubungna
dengan orang lain dan terganggunya tugas pekerjaan sehari-hari.
Alkohol merupakan jenis depresan atau penenang yang menyerang
dan menumpulkan pusat-pusat vital dalam otak sehingga penilaian
dan proses rasional lainnya dalam diri seorang alkoholik menjadi
terganggu disamping kontrol dirinyapun menjadi lemah. Dengan
kendali perilaku menurun maka muncullah respon-respon emosional
primitif dan si alkoholikpun dapat memuaskan dorongan-dorongan
yang dalam keadaan normal akan terkendalikan atau ditahannya.
Alkoholik sering dijuluki katalisator bagi tindak kekerasan, termasuk
pembunuhan, penyerangan, dan perkosaan. Menentukan
kecenderungan perilaku yang terjadi bagi alkoholik adalah dengan
menilai kandungan alkohol dalam darahnya. Kandungan alkohol
dalam darah yang mencapai 0,1 persen maka seorang alkoholik
akan mengalami keracunan, sehingga koordinasi otot, fungsi bicara,
dan penglihatannya akan terganggu dan proses berpikirnya menjadi
kacaua. Kandungan alkohol dalam darah yang mencapai 0,5 persen
mengakibatkan kesimbangan saraf si alkoholik akan terganggu
secara keseluruhan dan ia akan kehilangan kesadaran. Keadaan
hilang kesadaran ini sesungguhnya merupakan katup pengaman,

35
sebab jika konsentrasi alkohol dalm darahnya melampaui 0,5 persen
akbatnya bisa fatal yaitu bisa menyebabkan si alkoholik meninggal.
Akibat fisiologis yang menonjol dari mengonsumsi kendati unjuk
kerjanya justru menurun, mengalami blackouts yaitu hilangnya
kesadaran atau menjadi pelupa dan mengalami hangover yaitu
keadaan menarik diri disertai sakit kepala, mual-mual dan rasa lelah.
2. Penyalahgunaan dan Ketergantungan Obat
Obat-obat psikoaktif yang lazim disalahgunakan dan
menimbulkan problem ketergantungan meliputi: narkotika, seperti
opium dan derivasinya, sedatif atau penenang, stimulan, atau obat
perangsang seperti kokain dan amfetamin, obat anti kecemasan
seperti meprobamat dan halusinogen seperti LSD (Lysergic acid
Diethylamide).
a. Opium dan derivatnya
Opium adalah campuran dari bahan-bahan yang dosebut
alkaloid, satu diantaranya adalah morfin yaitu sejenis serbuk yang
pahit rasanya namun punya daya sedatif atau menengangkan dan
menghilangkan rasa sakit yang luar biasa. Morfin dicampur lagi
dengan zat lain menjadi heroin yang memiliki daya analgesik lebih
hebat lagi. Morfin dan heroin lazim dimasukkan ke dalam tubuh
dengan cara dirokok, dihisap melalui hidung, dimakan, disuntikkan
ke jaringan bawah kulit (skin popping), atau disuntikkan ke pembuluh
darah (mainlining). Efeknya adalah: mula-mula individu mengalami
ledkan eforik yakni rasa nikmat nahagia serupa dengan pengalaman
orgasme seksual yang berlangsung selama kira-kira 60 detik,
kemudian diikuti dengan keadaan “high” atau “fly” atau teller,
keaddaan menarik diri serba pasif dan berbagai jenis lebutuhan

36
tubuh menurun drastis. Individu dipenuhi perasaan serba rileks,
euforia (kegembiraan yang luar biasa) yang berlangsung 4-6 jam lalu
tumbuh hasrat kuat untuk mengonsumsi obat lagi dalam dosis yang
lebih tinggi.
b. Barbitarut atau obat tidur
Barbiturate lazim digunakan oleh dokter untuk sedative
(menenangkan) pasien dan atau membuatnya tertidur. Fungsinya
depresan yaitu memperlambat kinerja sistem saraf pusat. Sesudah
mengonsumsi obat ini individu mengalami rasa rileks, ketegangan
menghilang, lelah secara fisik dan intelektual, cenderung mengantuk
dan kemudian tertidur.
c. Amfetamin dan Kokain
Amfetamin dan kokain bersifat stimulant, kerjanya berlawanan
dengan barbiturat, karena berfungsi merangsang atau mempercepat
kerja sistem saraf pusat. Amfetamin adalah sejenis preparat atau
obat buatan yang berfungsi menolong seseorang tetap siaga-terjaga
dan bekerja di atas taraf normal. Obat ini kini di negara-negara maju
banyak dikonsumsi oleh para pekerja malam, para sopir truk dan bis
jarak jauh, pasa siswa-mahasiswa tertentu yang begadang untuk
ujian, dan para atlet untuk meningkatkan prestasinya. Obat ini
cenderung menghilangkan selera makan, sehingga populer
digunakan oleh individu khususnya wanita yang ingin menguruskan
badan. Beberapa jenis yang terkenal Benzedrine, Dexedrine, dan
Methedrine. Kokain adalah sejenis tumbuhan dan dikonsumsi
dengan cara dihisap, ditelan, atau disuntikkan, seperti opium ,
efeknya menimbulkan euforia 4-6 jam, biasanyan didahului oleh
pusing-pusing, limbung dan resah.

37
d. LSD dan Obat-obat sejenisnya
Bersifat halusinogen berarti obat yang menimbulkan halusinasi
pada pemakainnya. Terpenting dari jenis ini adalah LSD (Lysergic
acid Diethylamide). Sesudah mengonsumsi LSD individu mengalami
perubahan pada fungsi inderanya, emosinya labil, dihinggapi rasa
depersonalisasi, rasa terasing dari orang lain, detak jantung, tekanan
darah, tegangan otot, dan pernafasan meningkat. Pengindraan
individu menjadi sangat tajam: obyek-obyek menjadi lebih jelas dan
lebih tajam. Individu mengalami “humanity identification” suatu
peraaan dirinya larut bersama seluruh bangsa manusia dalam emosi
seperti cinta, kesepian atau kesedihan yang bersifat universal.
e. Mariyuana
Berasal dari daun dan pucuk bunga tumbuhan yang disebut
cannabis sativa. Biasanya diperjualbelikan dalam bentuk daun
kering, sehingga dikalangan pemakai kaum muda di Negara maju
dijuluki “grass” atau rumput. Biasanya dikonsumsi dengan cara
dihisap dalam sigaret, dihisap dengan pipa cangklong, bisa juga
dicampur dalam kue dan panganan lain dan dimakan. Di Indonesia
dikenal engan sebutan ganja. Individu yang mengonsumsi
mariyuana mengalami “teler”, mengalami euforia ringan yang
ditandai dengan perasaan sejahtera, pengindraan yang lebih tajam
dan perasaan rileks yang menyenangkan, sering juga disertai
perasaan hanyut atau terbang. Musik terdengar lebih keras, warna
tampak lebih cerah, bau bauan terasa lebih tajam, makanan terasa
lebih nikmat, hubungan seksual terasa lebih nikmat. Sebaliknya, jika
saat mengonsumsinya individu sedang sedih, marah, curiga, atau
takut maka perasaan-perassaan negatif tersebut juga dirasakan

38
lebih tajam. Berbagai alasan yang sering mendorong anak muda
mengonsumsi mariyuana: (a) rasa ingin tahu, (b) bujukan dan
desakan teman, (c) mengatasi stres, konflik, kecemasan, (d)
memperoleh rangsangan untuk merealisasikan potensinya. Dalam
rangka merealisasikan potensinya ada pendapat bahwa jenis obat
halusinogen seperti mariyuana dapat meningkatkan kreativitas
pengonsumsinya, oleh karena itu obat ini pernah populer dikalangan
seniman.
f. Judi
Judi adalah bertaruh dalam permainan atau kejadian yang
hasilnya pada dasarnya ditentukan oleh faktor kebetulan. Jenis judi
bermacam-macam seperti kasino, bertaruh dalam pacuan kuda, adu
ayam, lotre, main dadu, main kartu. Sigmund Freud pernah
menyimpulkan bahwa penjudi adalah masokhis yang diliputi rasa
bersalah dan ingin menghukum dirinya. Hasil penelitian yang lebih
mutakhir menunjukkan bahwa para penjudi pathologis memiliki cir-
ciri kepribadian seperti kurang matang, berjiwa pemberontak,
pemburu petualangan, percaya pada takhayul. Dan pada dasarnya
bersifat psikopatik.
g. Gangguan Afektif
Merupakan gangguan mood yaitu tingkat emosi yang ekstrim dan
tidak sesuai yang meliputi kegembiran (elation) dan kesedihan
(depression) yang ekstrim. Ada berbagai jenis gangguan afektif.
1. Gangguan afektif ringan
Satu diantaranya gangguan penting yang termasuk dalam
gangguan afektif ringan adalah depresi normal, yaitu duka cita (grief)
atau kepedihan. Gangguan ini merupakan proses psikologis

39
mengikuti pengalaman kehilangan (los) sesuatu yang berharga,
seperti kematian seorang kekasih, putus cinta, perceraian,
kehilangan pekerjaan. Individu yang mengalami depresi normal
menunjukkan tanda tidak bereaksi terhadap peristiwa lain yang
secara normal akan membangkitkan respon yang kuat yaitu
tenggelam dalam fantasi tentang situasi yang menimbulkan
kepuasan, kemudian secara perlahan kembali mampu memberikan
respon terhadap dunia luar, kesedihan berkurang, gairah bangkit
kembali, serta kembali melibatkan diri dalam aktivitas sehari-hari.
Depresi melibatkan tiga variabel penting yaitu (a) ketergantungan,
dalam hal ini individu membutuhkan bantuan atau dukungan dari
orang lain, (b) kritik diri, individu membesar0besarkan kesalahan
atau kekurangan yang ada pada dirinya, dan (c) “inefficacy”
perasaan tidak berdaya.
2. Gangguan afektif neurotik
Merupakan gangguan emosi atau mood yang mengakibatkan
fungsi dan aktivitas individu sangat terhambat namun tidak sampai
mengalami putus hubungan dengan realitas. Satu diantaranya
jenisnya adalah depresi neurotik. Individu berekasi terhadap situasi
yang menekan dengan kesedihan dan kepatah hatian yang luar
biasa. Cirinya adalah putus asa, sedih, tidak bersemangat, tingkat
kecemasan tinggi, aktivitas diri berkurang, selera dan gairah
menghilang, inisiatif menghilang, sulit berkonsentrasi, susah tidur
dan suka terjaga ditengah malam dan tidak dapat tidur kembali,
senang memandang dengan tatapan kosong, tegang, gelisah dan
bermusuhan dengan lingkungan sosial.

40
3. Psikosis Afektif
Gangguan ini mempengaruhi keseluruhan kepribadian individu
dan individu kehilangan kontak dengan realitas. Jenisnya adalah
gangguan depresi mayor dan gangguan afektif bipolar.

2.6 Skizofrenia dan Paranoia


a. Skizofrenia
Merupakan gangguan psikotik berat yang ditandai dengan
adanya distorsi berat atau realitas, menarik diri dari interaksi sosial,
diorganisasi dan fragmentasi persepsi, pikiran dan emosi. Mula-mula
gangguan ini disebut demence precoce atau dementia praecox atau
gangguan mental dini, karena dapat terjadi pada anak muda.
Psikiater Swiss Bleuler menyebutknya skizofrenia atau jiwa yang
terbelah, karena gangguan ini ditandai oleh disorganisasi proses
berpikir, rusaknya koherensi antara pikiran dan perasaan, serta
berorientasi diri ke dalam dan menjauh dari realitas. Terjadi
perpecahan antara intelek dan emosi. Gejalanya mengalami
halusinasi, delusi, adanyan keyakinan bahwa pikiran, perasaan, dan
perbuatannya dikontrol oleh pihak luar, gangguan konsep diri,
gangguan hubungan dengan dunia luar, hiperaktivitas atau hilangya
aktivitas motorik, posisi tubuh yang kaku.
b. Paranoia
Ciri umum gangguan ini adalah: mengalami delusi persekusi,
yakni merasa diperalat, diperlakukan dengan buruk, diancam,
diawasi, dan dilecehkan oleh musuh. Biasanya dalam satu tema
tertentu, seperti soal pekerjaan, hubungan suami istri. Terkadang
mengalami delusi grandeur atau kebesaran: merasa diri punya

41
kemampuan istimewa dan terpanggil dalam misi penyelamatan,
pembaruan sosial politik, diutus oleh Tuhan. Di luar itu individu bisa
tampak normal dalam berbicara, beremosi, dan berperilaku lainnya,
serta terkesan meyakinkan.

2.7 Gangguan Mental Organik dan Retardasi Mental


a. Gangguan Mental Organik
Merupakan jenis gangguan mental yang timbul karena terjadi
kerusakan pada otak yang semula normal, dapat bersifat akut maupun
kronik. Gangguan otak akut penyebabnya kerusakan yang luas pada
fungsi otak karena demam tinggi, kurang gizi natau keracunan obat.
Simtomnya dapat mulai dari perubahan suasana hati ringan sampai
delirium atau kekacauan mental yang akut.
b. Gangguan Otak Kronik
Penyebabnya cedera, penyakit, obat-obatan, dan kerusakannya
bersifat menetap. Simtomnya adalah: gangguan orientasi waktu,
tempat, dan orang, gangguan ingatan khususnya tentang kejadian yang
baru lalu, dan disertai melakukan konfabulasi yaitu mengarang cerita
untuk mengisi celah-celah dalam pembicaraan akibat lupa, gangguan
dalam mempelajari hal yang baru, memahami, membuat penilaian,
berpikir konseptual, dan membut rencana, gangguan emosi yaitu
kecenderungan mudah tertawa atau menangis atau sebaliknya
emosinya menjadi tumpul.

42
2.8 Gangguan Perilaku pada Masa Kanak-kanak dan Remaja
Ada berbagi jenis gangguan perilaku pada masa kanak-kanak dan
remaja, diantaranya.
a. Sindrom Hiperaktif
Gangguan ini lazim dialami sebelum anak mencapai usia 8 tahun,
dengan ciri-ciri: menunjukan aktivitas motorik yang berlebihan seperti
berlari-lari, memukul, dan merusak barang-barang. Ciri lainnya susah
berkonsentrasi, perhatian sangat mudah dialihkan, susah mengikuti
perintah, perilakunya impulsif, mudah frustasi, senang berbicara dan
kurang terkendali, serta prestasi belajar di sekolah buruk. Penyebabnya
kompleks satu diantaranya akbat lahir prematur.
b. Autisme
Gangguan ini memiliki ciri individu senang menyendiri, dan bersikap
dingin sejak kecil, misalnya tidak memberikan respon jika diberi
stimulus: tidak tersenyum, tidak mau bicara atau sedikit bicara hanya
mengatakan ya atau tidak atau ucapan lain yang tidak jelas.
Mengembangkan ikatan yang sangat kuat pada objek-objek yang tak
lazim, seperti batu-batuan, anak kunci, sehingga jika barang-barang
tersebut tersingkirkan atau lingkungan yang lain sudah biasa diubah, ia
akan meraung-raung sampai situasi semula dikembalikan.
Penyebabnya dapat berupa faktor bwaab tertentu, atau pengalaman
yang kurang mendukung, misalnya dibesarkan oleh ibu yang dingin dan
tidak responsif atau pernah mengalami trauma dengan longkungan
sosialnya.

43
c. Gagap
Individu harus mengulang-ulang untuk mengeluarkan suatu ucapan.
Gnagguan ini lazim muncul pada usia 6 tahun atau kurang. Gagap akan
meningkat dalam situasi individu merasa inferior atau cemas. Individu
dapat lancar ucapannya bila menyanyi, berbisik, berbicara keras
seorang diri, atau berbicara dengan binatang. Penyebabnya dapat
berupa keturunan, ganggaun neurologis, hasil belajar yang salah,
pengaruh stres, atau sebagai perilaku peran dan bagian dari konsep
diri, artinya individu memandang atau merasa dirinya gagap, sehingga
sungguh-sungguh berbicara gagap.
d. Gigit kuku
Gangguan ini biasanya ditemukan dikalangan penggagap atau
dikalangan anak-anak normal yang sedang mengalami stres. Pada usia
yang lebih tua gangguan ini lebih banyak ditemukan pada pria
dibandingkan perempuan. Gangguan ini mudah muncul dalam situasi
mencemaskan, sebagai suatu usaha yang ditempuh oleh individu untuk
mengurangi kecemasannya itu.
e. Ties
Individu yang mengalami gangguan ini suka meregangkan otot pada
bagian tubuh secara berselang namun terus-terusan. Misalnya
mengedipkan mata, mengguncangkan bahu, menggelengkan leher,
membersihkan tenggorokan dengan mendehem. Individu menyadari
perbuatannya namun biasanya tidak berusaha menahannya atau tidak
lagi menghiaraukannya. Penyebabnya adalah perasaan tegang
menghadapi situasi tertentu, atau karena kelelahan fisik maupun psikis.

44
2.9 Disfungsi dan Kelainan Seksual
a. Disfungsi Seksual
Merupakan gangguan baik dalam hal hasrat untuk mendapatkan
kepuasan seksual maupun dalam hal kemampuan untuk mencapai
kepuasan seksual. Gangguan ini terjadi tanpa addanya patologi
anatomis atau fisiologis serta bersumber pada kesalahan dalam
penyesuaian psikoseksual dan proses belajar. Pada laki-laki bisa terjadi
insufisiensi erektil: keadaan ketidakmampuan mencapai atau
mempertahankan ereksi sehingga gagal melakukan hubungan seksual.
Dulu disebut impotensi, ejakulasi lmaban (inkompetensi berejakulasi)
adalaha gangguan orgasmic pada lelaki berupa gagal mencapai
orgasme dalam hubungan seksual. Ejakulasi prematur adalah jeda yang
terlalu pendek antara mulai dirasakannya stimulasi seksual dan terjadi
ejakulasi, dengan akibat pihak perempuan gagal mencapai kepuasan
dalam hubungan seksual.
Ada yang memberi batasan yang menyatakan ejakulasi prematur
adalah ketidakmampuan menahan stimulasi selama empat menit tanpa
mengalami ejakulai merupakan indikator bahwa seorang lelaki
membutuhkan terapi seks. Pada perempuan bisa terjadi insufisiensi
rangsangan yaitu frigiditas yang merupakan padanan dari insufisiensi
erektil pada laki-laki. Biasanya juga disertai keluhan berupa tidak
adanya perasaan-perasaan seksual serta kebal terhadap sebagian
besar atau bahkan semua bentuk stimulasi erotik. Tanda fisik yang
terpenting adalah ketidakmampuan melakukan lubrikasi pada vulva dan
jaringan-jaringan vagina lainnya selama berhubungan seksual dan
hubungan seksual menimbulkan rassa sakit. Disfungsi orgasmic adalah
seorang perempuan mampu mengalami rangsangan seksual, namun

45
sulit mencapai orgasme. Vaginismus merupakan keadaan kejang yang
tiba-tiba pada oto-otot disekitar liang vagina sehingga menghalangi
penetrasi dan hubungan seksual. Gangguan yang terakhir pada wanita
adalah dispareunia beruta coitus penuh rasa ssakit yang disebabkan
oleh infeksi atau kelainan struktural pada organ kelamin bisa juga
karena takut berhubungan seksual.
b. Kelainan Seksual Tanpa Korban
Merupakan perilaku seksual yang pemuasannya ditentukan oleh
sesuatu yang lain, bukan lewat hubungan seksual dengan pasangan
beda jenis yang sudah dewasa. Kelainan seksual tanpa korban aalah:
perilaku homoseksual yang merupakan perilaku seksual yang ditujukan
dengan pasangan sejenis laki lainnya, jika terjadi pada perempuan
sering disebut lesbianisme. Transseksualisme adalah gejala mengalami
rangsangan seksual dengan berpakaian/berdandan seperti lawan jenis.
Individu memperoleh kesenangan-kenikmatan dengan memainkan
peran lawan jenisnya. Prostitusi atau pelacuran adalah memberikan
layanan hubungan seksual demi imbalan uang. Fethisisme yaitu minat
seksual seseorang ditujukan pada bagian tubu tertentu atau pada benda
mati tertentu, misalnya pakaian dalam.
c. Kelainan Seksual disertai Pemeriksaan atau Penyerangan
Terdapat unsur cedera atau risiko cedera, baik fisik maupun
psikologis pada satu atau kedua pihak yang terlibat dalam hubungan
seksual tersebut. Kelainan seksual yang disertai pemaksaan atau
oenyerangan.
1. Voyeurisme
Voyeurisme atau skotofilia atau inspeksionalisme adalah
mencapai kepuassan seksual dengan mengintip secara sembunyi.

46
Lazim ditemukan pada remaja laki dan yang sering dijadikan
sasaran adalah perempuan yang sedang melepas pakaian atau
pasangan lelaki-perempuan yang sedang berhubungan seksual.
Seringkali juga mereka melakukan masturbasi selama mengintip.
2. Ekshibisionisme
Secara sengaja mempertontonkan alat kelaminnya pada lawan
jenis tidak pada tempatnya, terkadang disertai dengan gerakan-
gerakan lain yang tidak senonoh atau sambil bermasturbasi,
pelakunya biasanya lelaki muda. Sasarannya adalah perempuan
muda yang tidak dikenal oleh pelaku. Tempatnya bisa tempat yang
sepi, pusat-pusat keramaian atau di dalam mobil. Menurut Maramis
(2005) untuk mencapai rangsangan dan pemuasan seksual seorang
exhibisionist harus memperlihatkan genitalnya di depan umum.
3. Sadisme
Istilah sadisme berasal dari nama Marquis de Sade (1740-1814),
seorang bangsawan dan tentara Prancis yang suka berlaku kejam
terhadap korban-korbannya untuk mendapatkan kepuasan seksual.
Sadisme adalah mencapai stimulasi dan pemuasan seksual dengan
menimbulkan penderitaan fisik atau psikis pada pasangan
seksualnya. Penderita atau rasa sakit itu bisa ditimbulkan dengan
cara mencambuki, menggigit, mencakar, dan dengan menusuk
dengan benda tajam. Intensitas perbuatan menyakiti tersebut
bervariasi, mulai dari sekedar mengangan-angankannya sampai
melakukan pemotongan bagian tubuh, bahkan sampai
membunuhnya. Pada kasus tertentu tindakan sadistik ini dilanjutkan
dan diakhiri dengan hubungan seksual yang sesungguhnya, dan

47
pada kasus lain kepuasan seksual sepenuhnya sudah diperoleh
melalui tindakan sadistik itu sendiri tanpa hubungan seksual.
4. Masokhisme
Istilah masokhisme berasal dari nama seorang novelis Austria
Leopold V.Scher-Masoch (1836-1895), yang senang menampilkan
tokoh-tokoh yang menikmati kepuasan seksual dalam rasa sakit.
Ciri-ciri masokhisme sama seperti sadisme, hanya kimi rasa sakit itu
ditujukan pada diri sendiri, bukan pada orang lain. Biasanya
penyebabnya adalah pengalaman belajar mengasosiasikan rasa
sakit dengan kenikmatan seksual.
5. Pedofilia
Dalam pedoflia yang dijadikan objek seks adalah anak-anak di
bawah umur. Aktivitasnya biasanya berkisar pada memain-mainkan
alat kelamin anak, atau bila korbannya anak perempuan bisa sampai
terjadi penetrasi vagina baik parsial atau secara penuh. Terkadang
anak dipaksa memain-mainkan organ kelamin pedofilik baik dengan
tangan atau dengan mulut. Umumnya so pedofilik dan korbannya
saling mengenal termasuk tinggal berdekatan, dan hubungan
tersebut telah berlangsung lama. Penyebab pedofilia bisa faktor
ketidakmatangan, pengalaman belajar, atau psikopatologi.
6. Perkosaan
Dalam perkosaan perilaku seksual ditujukan pada objek seks
yang secara kultural diterima namun dilakukan dalam kondisi yang
berisfat antisosial. Perkosaan cenderung merupakan aktivitas yang
berulang, bukan perbuatan sekali dan berkahir, dan biasanya
direncanakan. Berdasarkan penyebabnya perkosaan dapat
dibedakan kedalam tipe unjuk kekuasaan, meneguhkan kekuasaan,

48
marah, balas dendam, dan haus rangsangan atau sering juga
disebut tipe sadis patologis.

49
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Perilaku abnormal atau abnormal behavior adalah suatu
bentuk sikap hidup yang tidak diharapkan terjadi. Sumber
penyebab utama perilaku abnormal adalah keadaan–keadaan
obyektif dimasyarakat yang bersifat merugikan seperti
kemiskinan, diskriminasi dan prasangka ras, serta kekejaman
atau kekerasan. Dalam hal ini, perilaku yang abnormal dihinggapi
oleh gangguan mental dan juga kekakuan mental, sehingga
sangat perlu sedari dini memperhatikan perilaku anak agar tidak
mengalami suatu gangguan perilaku yang akan mengganggu
perkembangan psikologisnya.

3.2 Saran
Dalam menilai seseorang apakah mengalami suatu perilaku
abnormal atau tidak perlunya pemahaman yang mendalam
mengenai perilaku yang abnormal sehingga dalam menangani
seseorang dengan kasus abnormal behavior, sebagai seorang
perawat mampu memberikan penanganan yang tepat dan dapat
memberikan asuhan keperawatan dengan baik.

50
DAFTAR PUSTAKA

Ajzen, L. 1988. Attitudes, Personality, and Behavior. Milton Keynes:


Open University Pres.

Branca, A. 1965. Psychology: The Science of Behavior. Boston: Allyn


and Bacon Inc.

Candra, I Wayan. 2016. Psikologi: Landasan Keilmuan Praktik


Keperawatan Jiwa. Denpasar: Politeknik Kesehatan Denpasar
Jurusan Keperawatan.

Coleman, J.C, dkk. Abnormal Psychology and Modern Life. Glenview,


III: Scott, Foresman and Company.

Mears, F. Gatchel, R.J. 1979. Fundamentals of Abnormal Psychology.


Chicaago: Rand Mcnally.

Supratiknya, A. 2001. Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta:


Kanisius.

51

Anda mungkin juga menyukai