Anda di halaman 1dari 3

Olivia Mutiara Larasati

15/383452/PN/14283
Perbedaan Implementasi PHT di tingkat Petani dan pada Perusahaan yang bergera di bidang
Agroindustri

PHT merupakan aspek penting dalam pemeliharaan tanaman Kelapa Sawit. Beberapa
kegiatan dalam manajemen PHT Kelapa Sawit menghasilkan (TM):
- Kegiatan pengamatan harian di kebun
- Analisa data hasil pengamatan
- Identifikasi penyebab penyakit dan organisme hama
- Kebutuhan bahan
- Kebutuhan perlatan
- Lokasi operasi pengendalian
- Jadwal operasi pengendalian

Penerapan sistem pengendalian hama terpadu (PHT) terhadap UPDKS menunjukkan


hasil yang baik dan diharapkan dapat mengatasi permasalahn tersebut. Dalam sistem ini,
pengenalan terhadap biologi hama sasaran diperlukan sebagai dasar penyusunan taktik
pengendalian. Tindakan pengendalian hama dilaksanakan sesuai dengan hasil monitoring
populasi, dan hanya dilakukan apabila populasi hama tersebut melampaui padat populasi kritis
yang ditentukan, serta mengutamakan pelestarian dan pemanfaatan musuh alami yang ada di
dalam ekosistem kelapa sawit (Prawirosukarto, 2002).
Monitoring populasi adalah langkah awal di dalam system pengendalian hama terpadu
(PHT) terhadap UPDKS dan merupakan dasar untuk memutuskan perlu atau tidaknya dilakukan
tindakan pengendalian. Pada hakikatnya Pengelolaan Hama (PH) adalah bagaimana
memanipulasi lingkungan untuk menekan populasi hama sampai ke batas garis ambang ekonomi.
Pengendalian hayati adalah salah satu fase atau teknik pengendalian dari Pengelolaan Hama yang
merupakan fase dari ekologi terapan. Bahkan, Pengelelolaan Hama Terpadu sebenarnya mulai
berkembang dari penggunaan gabungan antara pengendalian kimia dan hayati, kemudian
berlanjut dengan memanfaatkan teknik-teknik pengendalian yang lain, seperti teknik-teknik
pengendalian kultural, pengendalian mekanik dan fisik, serta teknik-teknik pengendalian yang
lain (Sembel, 2010).
Dengan semakin meningkatnya kesadaran akan perlunya pelestarian lingkungan,
khususnya perlindungan terhadap musuh alami hama yang ada di dalam ekosistem kelapa sawit,
teknologi pengendalian secara hayati sebagai bagian dari (PHT) harus lebih diperhatikan sebagai
salah satu cara yang paling aman, meskipun untuk membunuh hama cara kerjanya lebih lama
dibandingkan dengan cara kimia yang dapat langsung membunuh hama. Meskipun memakan
waktu yang lama, metode pengendalian hayati untuk mengendalikan hama aman bagi kesehatan
manusia dan lingkungan hidup. Pengendalian hayati juga dapat mengendalikan hama secara
permanen dan dapat membantu menciptakan suatu ekosistem perkebunan yang seimbang dan
perkebunan yang berkelanjutan. Musuh-musuh alami dapat berfungsi untuk mengatur
keseimbangan hayati secara permanen (sembel, 2010).
Penerapan PHT merupakan solusi yang tepat dalam menghadapi berbagai hambatan
dagang atau kompetisi (persaingan) dagang di pasar global.Implementasi PHT memenuhi
tuntutan bagi adanya keharusan dilaksanakannya proses produksi berkualitas tinggi dari hulu
sampai hilir dalam menghasilkan produk-produk perkebunan berkualitas tinggi. Penerapan 13
PHT juga selaras dengan konsep mutakhir yaitu Roundtable on Sustainable Oil (PPKS, 2006).
Untuk memperjelas tentang sistem pengendalian hama terdapu (PHT), maka dapat dilihat pada
gambar berikut.
Contoh implementasi nyata PHT pada tingkat perusahaan yang bergerak pada
Agroindustri adalah PT. Sinar Mas Agro Resources and Technology Corporation (PT. SMART
Corp.) adalah sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang perkebunan. Perusahaan ini
memiliki sebuah lembaga penelitian yang bernama SMART Research Institute (SMARTRI)
dibagian riset Proteksi tanaman yang telah berusaha secara optimal menjalankan pengelolaan
hama dan penyakit secara terpadu. Beberapa Kegiatan Lapangan yang dilakukan SMARTRI:

-Pengelolaan Hama Ulat Api secara terpadu terdiri dari empat komponen: deteksi, sensus,
pengendalian dan evaluasi.

a. Deteksi bertujuan untuk memantau hama ulat api sejak dini. Deteksi yang dilakukan dua
bulan sekali oleh petugas kebun atau mandor panen jika keberadaan ulat api di bawah
ambang ekonomi.
b. Sensus bertujuan untuk mengetahui tingkat populasi hama ulat api yang telah mencapai
ambang ekonomi dan musuh alaminya sebagai dasar keputusan pengendalian, sensus
yang dilakukan terdiri dari sensus populasi hama, sensus mortalitas alami hama dan
sensus selektif areal pengendalian dengan insektisida.
c. Pengendalian bertujuan untuk menekan populasi hama ulat api. Pengendalian yang telah
dilakukan adalah dengan pengendalian musuh alami, pengendalian secara mekanis dan
dengan insektisida
d. Evaluasi bertujuan untuk mengetahui mortalitas ulat api setelah pengendalian sehingga
diketahui tindak lanjut pengendalian bila diperlukan. Evaluasi populasi dilakukan ± 7 hari
untuk mengetahui penekanan musuh alami bila pengendalian dengan insektisida
ditiadakan.

Contoh implementasi nyata PHT pada tingkat Petani dapat dilakukan dalam SLPHT.
Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) merupakan kegiatan pelatihan PHT
bagi petani. Kegiatan SLPHT ini memakai metoda pendekatan guna mewujudkan petani sebagai
“ahli” PHT. Diharapkan, metoda tersebut membantu percepatan tercapainya kelembagaan PHT.
Sekolah Lapangan PHT adalah sekolah khusus bagi petani. Masa belajarnya adalah selama 1
musim tanam yang sesuai dengan fase pertumbuhan tanaman itu sendiri. Durasi pembelajaran
adalah mingguan yang sesuai dengan pertumbuhan tanaman dan perkembangan hama penyakit.
SLPHT merupakan kolaborasi pemerintah, FAO, LSM dan tokoh petani.