Anda di halaman 1dari 6

II.

TINJAUAN PUSTAKA

1. Abaka (Musa textilis Nee)


Abaka (Musa textilis Nee) merupakan tanaman tahunan, penghasil serat alam. Kekuatan
serat kering abaka di atas rata-rata komoditas serat lainnya (Bledzki et al., 2007). Serat yang
dihasilkan berasal dari pelepah batang yang ramah terhadap lingkungan dan berkelanjutan
(Mwaikambo, 2006). Dasar pertimbangan lain bahwa lahan yang sesuai untuk abaka di tanah air
cukup luas. Abaka tumbuh baik pada tanah subur, volcan atau alluvial, retensi air tinggi, curah
hujan 2.000-3.000 mm/tahun (tidak ada bulan kering, kelembaban udara 78-88%, suhu optimal
20oC - 27oC dan ketinggian tempat sampai 1.000 m di atas permukaan laut (Bande et al., 2012).
Secara alami abaka tumbuh pada hutan tropis campuran dengan tanaman lain. Pada budidaya
abaka diperlukan naungan agar tidak mendapat penetrasi matahari secara langsung. Bande et al.,
(2012) melaporkan pemberian naungan hingga 50% dapat menghasilkan serat abaka yang lebih
tinggi dibandingkan tanpa naungan. Oleh karena itu masuknya tanaman sengon, albasia, akasia
bulat, tanaman kayu berdaun menjari (pinus), jabon dan kayu tegakan lunak pada pola
tumpangsari yang menghasilkan naungan baik bagi abaka.
Abaka termasuk salah satu jenis tanaman pisang yang buahnya tidak dimanfaatkan, tetapi
diambil seratnya dari batang semu. Abaka penghasil lingo-selulosa potensial yang menyebabkan
kekuatan serat sangat tinggi, sehingga memungkinkan untuk menghasilkan pulp dan kertas
berkekuatan tinggi. Selain itu, tanaman abaka mudah dibudidayakan dalam waktu relatif singkat
dibandingkan tanaman kayu. Tanaman abaka dapat tumbuh pada lahan tanpa pengolahan tanah
dan tidak memerlukan persiapan lahan yang intensif. Abaka adalah tanaman naungan yang
tumbuh baik di bawah kanopi pohon hutan, sehingga pengembangan abaka tidak merusak
ekosistem. Perbedaan abaka dengan tanaman pisang dapat dilihat melalui karakteristik morfologi
seperti: daun abaka lebih sempit dengan ujung daun lonjong dan lancip, jantung dan buah
tanaman abaka relatif lebih kecil dibandingkan tanaman pisang dengan warna buah agak kuning
dan tidak dapat dimakan, diameter dan tinggi batang abaka lebih kecil (Lay dan Heliyanto,
2013).

2. Agave (Agave sisalana)


Agave merupakan herba perennial xerophilik yang kokoh dan kuat serta bersifat
monokarpik. Tanaman xerophilik tergolong ke dalam tumbuhan CAM (carssulaceae acid
metabolism). Tanaman seperti ini mampu beradaptasi terhadap kekeringan dengan transpirasi
rendah dan tetap melakukan proses fotosintesis. Pada saat kelembapan rendah, stomata membuka
pada malam hari dan menutup pada siang hari (Gardner et al., 1991). Tinggi tanaman 3–9
mketika berbunga, menghasilkan banyak bulbil dan sucker (anakan). Daunnya bersifat sukulen,
tersusun melingkar spiral dengan ukuran daun 75–185 cm x 10–15 cm x 2–4,5 cm dengan
pinggiran daun berduri tegak berwarna hitam dengan panjang duri hingga 3 cm (Utomo et al.,
2003). Bunga duduk pada ranting pendek, berjejal rapat, tabung tenda bunga berbentuk corong,
lebih kurang 1 cm. Panjang tajuk 2 cm, bagian yang ke dalam sempit. Tangkai sari dan tangkai
putik panjangya lebih kurang 3 cm. Bakal buah bulat silindris, tiap ruang berisi banyak biji.
Kepala putik berbentuk tombol, masing-masing bertajuk 3. Buah kotak lebih kurang panjangnya
4 cm (Santoso 1992).
Agave merupakan herba perennial xerophilik yang kokoh dan kuat serta bersifat
monokarpik. Tanaman xerophilik tergolong ke dalam tumbuhan CAM (carssulaceae acid
metabolism). Tanaman seperti ini mampu beradaptasi terhadap kekeringan dengan transpirasi
rendah dan tetap melakukan proses fotosintesis. Pada saat kelembapan rendah, stomata membuka
pada malam hari dan menutup pada siang hari (Gardner et al., 1991). Tinggi tanaman 3–9 m
ketika berbunga, menghasilkan banyak bulbil dan sucker (anakan). Daunnya bersifat sukulen,
tersusun melingkar spiral dengan ukuran daun 75–185 cm x 10–15 cm x 2–4,5 cm dengan
pinggiran daun berduri tegak berwarna hitam dengan panjang duri hingga 3 cm (Utomo et al.
2003). Bunga duduk pada ranting pendek, berjejal rapat, tabung tenda bunga berbentuk corong,
lebih kurang 1 cm. Panjang tajuk 2 cm, bagian yang ke dalam sempit. Tangkai sari dan tangkai
putik panjangya lebih kurang 3 cm. Bakal buah bulat silindris, tiap ruang berisi banyak biji.
Kepala putik berbentuk tombol, masing-masing bertajuk 3. Buah kotak lebih kurang panjangnya
4 cm (Santoso 1992).
Agave adalah tanaman yang tahan terhadap kondisi lingkungan yang ekstrim dan tidak
memerlukan input produksi yang intensif. Tanaman ini dapat tumbuh baik di lahan kapur atau
lahan kering karena bersifat toleran terhadap kekeringan dan sensitif terhadap genangan air.
Agave menghendaki tanah dengan pH 5,5−7,5 akan tetapi di Indonesia agave masih dapat
tumbuh dengan baik pada pH 4–5 (Utomo et al., 2003). Tumbuhnya memerlukan hamparan yang
terbuka karena memerlukan cahaya matahari dan peka terhadap pengaruh naungan. Tumbuh
optimal pada daerah dengan curah hujan 1.020–1.270 mm/tahun namun dapat juga berproduksi
tinggi di daerah yang memiliki curah hujan 250–380 mm (Kirby dalam Davis et al., 2011),
dengan ketinggian tempat yang ideal bagi agave bervariasi mulai dari 50–300 mdpl (Brown
dalam Tirtosuprobo et al., 1996).

3. Kenaf (Hibiscus cannabinus)


Kenaf termasuk dalam keluarga/family Malvaceae dan genus Hibiscus yang terdiri dari
beberapa spesies, antara lain: okra, rose, kembang sepatu, kenaf, rosela dan Hibiscus
eetveldeanus DeWild and Th. Dur (Ochse et al., 1961). Kenaf merupakan tanaman herba
musiman dengan tipe pertumbuhan berbentuk semak tegak yang juga merupakan tanaman hari
pendek (short day plant) dan cepat berbungan bila panjang sinar matahari kurang dari 12 jam.
Pada keadaan normal pertumbuhan optimal kenaaf berkisar pada umur 60-90 hari dan bias
mencapai tinggi 4 m untuk tanaman yang tumbuh subur, namun tergantung dari macam varietas,
kesuburan tanah serta teknik budidayanya. Tanaman kenaf ada yang bercabang sangat banyak,
banyaj, sedikit dan ada juga yang tidak bercabang. Jenis yang diusahakan untuk produksi serat
dan batang kering adalah yang tidak bercabang. Pertumbuhan fase vegetatif kenaf terus
berlangsung sampai fase generative berakhir. (Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat,
2009).
Kenaf (Hibiscus cannabinus L.) merupakan tanaman yang mudah tumbuh di daerah
tropis seperti Indonesia. Kenaf terdiri dari serat bagian luar yang terdapat pada kulit sebesar 35
% berat kering tangkai dan bagian dalam berupa inti sebesar 65 % berat kering tangkai.
Keunggulan tanaman kenaf adalah pertumbuhan tanaman kenaf lebih cepat dibandingkan dengan
tanaman penghasil serat lainnya, seperti bambu dan rotan, dengan pertumbuhan optimal 60 - 89
hari dalam keadaan normal, mampu beradaptasi di berbagai lingkungan, gangguan hama dan
penyakit sedikit, biaya produksi murah, dan mudah terdegradasi.4 Ditinjau dari sifat morfologi
dan komposisi kimia batang kenaf memiliki kandungan serat meliputi selulosa 76.,47 %, lignin
2.39 %, dan hemiselulosa 9.43 %.
Kenaf dikenal sebagai sumber serat panjang nonkayu sebagai bahan substitusi NUKP
(needle unbleached kraft pulp) dan NBKP (needle bleached kraft pulp) yang merupakan jenis
pulp untuk membuat kertas kraft liner, kantong semen, dan kertas tulis. Tanaman kenaf memiliki
umur produktif relatif pendek, yaitu 3-4 bulan. Pertumbuhan kenaf umumnya dipengaruhi oleh
fotoperiodisitas. Namun beberapa varietas tidak terpengaruh fotoperiodisitas dapat ditanam
sepanjang tahun dan tidak terpengaruh musim asalkan tersedia suplai air (Pranata, 2012).
Pengembangan kenaf dimaksudkan untuk mendampingi sekaligus menggantikan peran
komoditas kerbatanya rosela yang telah lebih dahulu berkembang masuk ke Indonesia.

4. Rosela (Hibiscus sabdariffa var. sabdariffa)


Tanaman rosela (Hibiscus sabdariffa var. sabdariffa) termasuk family Malvaceae. H.
sabdariffa memiliki 2 varietas yang dikenal sebagai var. altissima dan var. sabdariffa. Tanaman
rosela berasal dari Afrika Barat dan dibudidayakan secara komersial di Indonessia sebagai
penghasil serat dan bahan baku minum sehat. H. sabdariffa var altissima dibudidayakan untuk
diambil seratnya, sedang H. sabdariffa var sabdariffa merupakan jenis rosela yang diambil
kelopak bunganya sebagai bahan minuman dan makanan karena memiliki aroma harum,
mengandung vitamin C, A, dan asam amino (Mungole dan Chaturvedi, 2011) cit Tukimin dan
Budi (2012).
Rosela merupakan anggota famili Malvaceae. Rosella dapat tumbuh baik di daerah
beriklim tropis dan subtropis. Tanaman ini mempunyai habitat asli di daerah yang terbentang
dari India hingga Malaysia. Sekarang, tanaman ini tersebar luas di daerah tropis dan subtropis di
seluruh dunia dan mempunyai nama umum yang berbeda-beda di berbagai negara (Maryani dan
Kristiana, 2008). Tanaman rosella hidup berupa semak yang berdiri tegak dengan tinggi 0,5-5
meter, memiliki batang yang berbentuk silindris dan berkayu, serta memiliki banyak
percabangan. Ketika masih muda, batangnya berwarna hijau. Dan ketika beranjak dewasa dan
sudah berbunga, batang rosella berwarna cokelat kemerahan. Pada batang rosella melekat daun-
daun yang tersusun, berwarna hijau, berbentuk bulat telur dengan pertulangan menjari dan tepi
beringgit. Ujung daun rosella ada yang meruncing dan tulang daunnya berwarna merah. Panjang
daun rosella dapat mencapai 6-15 cm dan lebar 5-8 cm. Akar yang menopang batangnya berupa
akar tunggang. Mahkota bunganya berbentuk corong yang tersusun dari 5 helai daun mahkota
(Widyanto dan Nelistya, 2009).

5. Identifikasi
Identifikasi merupakan salah satu tugas seorang ahli sistematika untuk mengetahui
taksonomi serangga. Identifikasi serangga diperlukan untuk menentukan jenis serangga apa pada
spesimen yang dipelajari itu. Alasan-alasan untuk mengetahui spesies serangga tergantung pada
keperluan seseorang. Bagi ahli sistematika, identifikasi digunakan untuk memperoleh informasi
pustaka suatu penyimpanan data dan meyakinkan bahwa organisme itu sebelumnya belum
dideskripsikan. (Husaeni et al., 2006)
Menurut Borror et al. (1996), terdapat lima cara dalam mengidentifikasi serangga, yaitu :
1. Serangga diidentifikasi oleh seorang ahli untuk keperluannya.

2. Membandingkan serangga dengan spesimen yang berlabel dalam suatu koleksi.

3. Membandingkan serangga dengan gambar-gambar.

4. Membandingkan serangga dengan uraian-uraian atau deskripsi singkat.

5. Menggunakan sebuah kunci analitik atau dengan satu kombinasi dari dua atau lebih prosedur-
prosedur.
Terdapat empat kesulitan dalam mengidentifikasi serangga, yaitu (1) terlalu banyak jenis
yang berbeda-beda dari serangga, (2) kebanyakan jenis serangga berukuran kecil dan ciri-ciri
identifikasinya seringkali sulit dilihat, (3) banyak serangga yang kurang sekali dikenal sehingga
sedikit informasi biologinya, dan (4) banyak serangga yang mengalami tahapan-tahapan yang
sangat berbeda dalam siklus hidupnya dan seseorang mungkin hanya mengetahui serangga dalam
satu tahapan dari siklus hidup mereka. (Borror et al., 1996).

6. Keanekaragaman Hayati

Keanekaragaman hayati (biodiversity) menyatakan keseluruhan sumberdaya alam hayati


mencakup gen, spesies, dan ekosistem yang terdapat pada suatu tempat tertentu. Fungsi hutan
dalam menghasilkan barang dan jasa untuk penyangga kehidupan di muka bumi sangat
tergantung pada keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya. (Suhendang, 2002).
Menurut Soil Water and Conservation Society (SWCS, 1996) dalam Hardini (1999),
Keanekaragaman hayati jika dilihat dari kekayaan jenis merupakan suatu indikator kemantapan
suatu komunitas khusus atau ekosistem. Keanekaragaman hayati dapat dirumuskan sebagai
fungsi dari banyaknya spesies di dalam suatu ruang tertentu dan diferensiasi relung ekologi di
dalam suatu ekosistem. Keanekaragaman hayati dalam suatu bentang lahan dapat diamati dari
banyaknya spesies satwa, kehadiran fauna tanah berukuran mikro, meso, atau makro, dan
kehadiran spesies di suatu jaringan makanan.
Menurut Suin (1997), keanekaragaman hayati merupakan asosiasi antara faktor abiotik dan
biotik. Faktor abiotik terdiri dari suhu, kadar air, porositas, tekstur tanah, salinitas, pH, kadar organik
tanah, dan unsur mineral. Faktor biotik bagi fauna tanah adalah organisme lain yang terdapat di
habitatnya. Selain itu, fauna tanah juga bergantung pada keadaan tegakan atau pohon di areal
tersebut. Faktor-faktor tersebut sangat menentukan bagi struktur komunitas fauna yang terdapat
dalam suatu habitat.