Anda di halaman 1dari 22

Selama Orde baru, terjadi pembagian dalam mengurus perumusan politik luar negeri

dimana Deplu mengurus urusan politik sementara kelompok militer mengurus urusan
keamanan. Tetapi hal ini tak membuat perselisihan antar kedua kelompok tak terjadi karena
semakin lama kekuatan militer semakin menguasai urusan perumusan politik luar negeri
Indonesia pada masa Orde Baru. Hal ini terlihat pada Departemen Luar Negeri memiliki
peran yang penting dalam pembuatan politik luar negeri pada era Soekarno, namun peran
Deplu semakin menurun pada era Soeharto dikarenakan masuknya kekuatan militer dalam
Deplu. Hingga pada akhirnya, peran militer dilembagakan dalam Deplu pada tahun 1970
dengan membentuk Direktorat Keamanan dan Penerangan dan Laksus yang sama-sama
diketuai oleh seorang perwira militer.
Kelompok militer yang terlibat dalam perumusan politik luar negeri diantaranya
Hankam (Departemen Pertahanan dan Keamanan), Bakin (Badan Kordinasi Intelejen
Negara), BAIS (Badan Intelejen Strategis), Lemhannas (Lembaga Pertahanan Nasional) dan
Setneg (Sekretaris Negara). Selain itu, lembaga lain yang berperan dalam perumusan politik
luar negeri adalah Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Komisi Satu, dan
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Setiap lembaga berperan aktif dalam
bidang masing-masing, mulai dari penanganan permasalahan luar negeri dan pertahanan,
hingga ranah perekonomian (Suryadinata, 1998: 49-53). Dimana dalam kelompok militer,
anggota militer berperan besar pada tiap kelompok yang juga ikut mempengaruhi dalam
perumusan politik luar negeri. Sementara pada masa Orde Baru, urusan mengenai ekonomi
diurus oleh Bappenas. Bappenas pada masa Soeharto mengalami perkembangan dikarenakan
Soeharto memiliki fokus dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Kelompok Bappenas ini
terdiri oleh orang teknokrat sehingga pada hal ini terlihat bahwa kaum teknokrat juga
diperlukan dalam perumusan politik luar negeri. Sebagai contoh yaitu B.J Habibie yang
dipercaya Soeharto dalam mengurus pembelian kapal perang Jerman untuk Angkatan Laut
Indonesia.
Pada awal kepemimpinan, Soeharto cenderung bersikap pasif dalam hal pembuatan
keputusan luar negeri. Hingga mengakibatkan militer melakukan intervensi ke segala bidang
pada masa Orde baru hingga mengakibatkan sering terjadi perselisihan antara Deplu dengan
kelompok militer. Namun lama-kelamaan terjadi perbedaan pemikiran antara Soeharto
dengan militer (Suryadinata, 1998:59). Hal ini terlihat pada awal tahun 1980, terjadi
perbedaan pemikiran mengenai normalisasi hubungan Indonesia-China. Kelompok militer
yang diwakili oleh Adam Malik ingin adanya normalisasi hubungan namun Soeharto tidak
setuju mengenai pemikiran tersebut. Dengan adanya perbedaan pemikiran ini, terlihat
Seoharto mulai mengambil peran dalam perumusan politik luar negeri dan menjadi figur yang
menentukan serta dibutuhkan persetujuannya dalam setiap kebijakan penting
(Suryadinata,1998:58).
Transisi politik luar negeri Indonesia dari orde Lama ke Orde Baru dapat dilihat dari
kebijakan luar negeri Indonesia yang tidak lagi berlandaskan faham berdikari atau usaha
untuk dapat mandiri dan menutup diri dari bantuan asing, namun perlahan – lahan bergeser ke
arah orientasi ke luar dengan cara membangun hubungan persahabatan dengan pihak asing
terutama negara-negara Barat. Orientasi ke dalam tetap dilakukan oleh Soeharto, hanya saja
dalam implementasinya, kebijakan – kebijakan tersebut dilakukan dengan dukungan dan
hubungan dengan pihak asing yang bertujuan untuk melancarkan pembangunan itu sendiri.
Kebijakan yang digunakan pun kebijakan pintu terbuka, dengan meningkatkan investasi asing
dan mencari bantuan dana untuk merehabilitasi ekonomi Indonesia (Suryadinata, 1998: 44).
Soeharto mengupayakan agar Indonesia mampu berperan dominan dalam permasalahan baik
regional maupun internasional. Konfrontasi yang ada pun dikesampingkan terlebih dahulu
dan mengedepankan perdamaian, karena menurut Soeharto stabilitas regional diperlukan
untuk menjamin keberhasilan rencana pembangunan (Suryadinata, 1998: 45).
Ketertarikan Soeharto terhadap politik luar negeri mulai diperlihatkan ketika fokus
dan perhatian Indonesia pada faktor stabilitas keamanan pelan – pelan meningkat. Hal ini
dapat dilihatn dalam Deklarasi Bangkok dimana Indonesia meminta pangkalan militer asing
di kawasan Asia Tenggara harus bersifat sementara dan juga masalah intervensi Indonesia di
Timor Timur. Pemerintahan Orde Baru ini juga menunjukkan penyimpangan dari arah politik
luar negeri Indonesia yang bebas aktif. Pada era ini terlihat bahwa Indonesia memiliki
kecenderungan untuk mendekati negara-negara Barat dan menjauhi negara-negara komunis
(Suryadinata, 1998: 46). Sikap ini dapat dilihat dari hubungan beku antara Indonesia dengan
RRC.
Keputusan-keputusan Soeharto secara jelas kontras dengan langkah yang diambil
Soekarno dalam politik luar negeri Indonesia. Dalam awal-awal kepemimpinannya, Soeharto
melakukan beberapa upaya demi mengembalikan posisi Indonesia di mata dunia. Salah satu
pernyataan terkenal di era Soekarno adalah semangat perlawanan terhadap Malaysia yang
saat itu dianggap sebagai negara boneka dari Inggris, dan dikenal dengan slogan “Ganyang
Malaysia”. Akan tetapi, Soeharto malah melakukan normalisasi hubungan antara Indonesia
dan Malaysia (Pudjiastuti, 2008 : 150). Ketika era Soekarno pula lah Indonesia keluar dari
PBB dikarenakan kekecewaannya terhadap sikap PBB yang mendukung Malaysia,
dan pada era Soeharto, Indonesia kembali masuk dalam PBB. Selain itu, Soeharto juga
mencanangkan terwujudnya ASEAN sehingga menjadi satu dari beberapa pendiri ASEAN.
Hal yang secara implisit berubah adalah mengenai arah politik luar negeri Indonesia. Pada era
Soekarno, politik luar negeri Indonesia adalah bebas aktif. Pada era Soeharto, kata “bebas
aktif” masih digunakan sebagai penunjuk politik luar negeri Indonesia. Akan tetapi, faktanya,
hubungan dengan negara-negara Barat yang dilakukan Soeharto demi mendapatkan bantuan
justru menjadikan Indonesia menjadi lebih condong ke Barat, bukan lagi ke negara-negara
komunis ketika era Soekarno. Dari penjelasan tersebut, dapat dilihat bahwa salah satu tujuan
dari politik luar negeri Indonesia era Soeharto adalah melakukan hubungan baik dengan
negara asing, tanpa melihat ideologi negara tersebut.
Politik luar negeri era Soeharto memiliki peranan besar dalam sistem perekonomian
Indonesia. Soeharto membuka jalur perdagangan internasional sehingga banyak investor dari
luar yang masuk dan berinvestasi di Indonesia. Dari tindakan yang dilakukan Soeharto
tersebut, maka terlihat bahwa tujuan politik luar negeri Indonesia di era kepemimpinannya
adalah mencari bantuan asing demi merehabilitasi ekonomi. Akibatnya, rakyat merasakan
dampak positif dari berjalannya politik luar negeri yang dijalankan Soeharto. Rakyat menjadi
makmur tanpa kekurangan sandang pangan. Maka, arah politik luar negeri era Soeharto lebih
menekankan pada perbaikan perekonomian atau ekonomi sebagai panglima dan
pembangunan merupkan mantra pada era kepemimpinannya. Di satu sisi negatif, meskipun
memang perekonomian bersangsur-angsur membaik, akan tetapi justru menyebabkan
kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin terlihat semakin kontras. Tujuan adanya
investor asing adalah untuk menstabilkan perekonomian. Akan tetapi justru hal tersebut
menjadi kerugian bagi Indonesia dikarenakan ketika $1 US masuk, Indonesia sesungguhnya
member investor sebesar $4 US. Akibatnya muncul berbagai pergolakan dalam negeri. Dari
sinilah mulai muncul peranan dari militer dalam era kepemimpinan Soeharto. Militer
digunakan untuk memberantas pergolakan-pergolakan yang ada demi tujuan stabilitas politik
dan keamanan bangsa dan negara Indonesia maupun sebagai perwujudan politik luar negeri
Indonesia.
Kerjasama Regional
1. ASEAN
ASEAN merupakan kerjasama regional yang didirikan oleh lima negara yaitu
Indonesia, Malaysia, Filiphina, Thailand, Singapura berdasarkan kesepakatan bersama
pada 8 agustus 1967 yang dikenal dengan deklarasi Bangkok 1967. Walaupun masing-
masing negara anggota berbeda satu sama lain dalam hal bahasa, budaya, agama, dan
geografi pengalaman sejarah namun lambat laun semakin menumbuhkan rasa
kepercayaan.1
Masa awal pendirian ASEAN lebih diwarnai oleh upaya-upaya membangun rasa
saling percaya di antara anggotanya untuk mengembangkan kerjasama yang lebih baik.
Perkembangan keamanan nasional dan internasional kawasan ASEAN mengalami
perkembangan yang pesat kerjasama ASEAN mulai menyentuh segala aspek tidak hanya
permasalahan ekonomi dan sosial budaya namun ASEAN mulai merambah bidang yang
di anggap sensitif oleh negara ASEAN yaitu bidang politik dan keamanan. Hal ini tidak
lepas dari perkembangan lingkungan domestik dan internasional sehingga membentuk
pola-pola kerjasama antar anggota ASEAN.
Pembentukan ASEAN tidak lepas dari peran Soeharto yang cenderung
mengedepankan politik luar negeri bertetangga baik, masa orde baru berupaya
melakukan pencitraan yang tidak agresif, dimana Indonesia pada pemeritahan orde lama
yang memilih politik konfrontasi dengan Malaysia yang dianggap sebagai negara
perpanjangan tangan kolonial Inggris, setelah lengsernya Soekarno pada tahun 1967.
Seoeharto mengambil alih kekuasan dan melakukan reformasi kebijakan dengan
menghentikan konfrontasi dengan Malaysia. Soeharto yang menginginkan pembangunan
ekonomi nasional dengan mendukung kerjasama regional dan menginginkan kawasan
yang damai dimana tidak ada adanya perang. Sehingga Indonesia dalam pertemuan
dengan negara-negara pendiri Asean, ialah Thailand, Filipina. Malaysia, dan Singapura
di Bangkok Indonesia yang diwakili Adam Malik merencanakan pembentukan organisasi
kawasan agara tercipatanya kawasan yang stabil dan damai.
ASEAN merupakan prioritas utama dalam politik luar negeri Indonesia, karena
negara-negara ASEAN merupakan lingkaran terdalam dari lingkaran-lingkaran
konsentris pelaksanaan politik luar negeri Indonesia. Pendekatan lingkaran-lingkaran
1 Cipto, Bambang. 2006. Hubungan Internasional Asia Tenggara. Yogyakarta. Pustaka Pelajar
konsentris menegaskan besarnya pengaruh lingkungan eksternal terdekat terhadap situasi
domestik Indonesia. Oleh karena itu, terciptanya kawasan Asia Tenggara yang stabil,
aman, damai, dan konddusif, serta terjalinnya hubungan harmonis dengan negara-negara
di Asia Tenggara dirasakan sangat penting dan merupakan modal dasar pembangunan
nasional Indonesia.2
Mengingat Indonesia menempatkan ASEAN sebagai lingkungan utama dari
politik luar negerinya, Indonesia telah memainkan peran penting dalam perkembangan
ASEAN. Indonesia seringkali dianggap oleh negara-negara di luar kawasan ASEAN
sebagai tulang punggung ASEAN. Indonesia dianggap berpengaruh besar terhadap
stabilitas regional Asia Tenggara. Sebagai contoh pernyataan yang dilontarkan Ketua
Komisi Keamanan Parlemen Jepang, Chiken Kakazu pada saat bertemu dengan Ketua
Komisi I DPR RI, Theo Sambuagadi Tokyo, Selasa 11 Desember 2007, Upaya
menciptakan stabilitas kawasan Asia Timur mau tidak mau akan menempatkan Indonesia
sebagai pilar utamanya. Keamanan Asia Timur dipengaruhi stabilitas di kawasan Asia
Tenggara, dan tentu saja ini banyak dipengaruhi Indonesia. Peran Indonesia di ASEAN
sendiri tidak bisa diremehkan. Indonesia telah berkontribusi dalam berbagai bidang demi
kemajuan ASEAN.
Pada masa Soeharto, Indonesia berperan semakin aktif dalam berbagai forum
regional dan internasional, salah satu diantaranya adalah dengan menyumbangkan
inisiatif-inisiatif segar dalam berbagai forum tersebut yang membahas berbagai persoalan
dan isu-isu dunia. Dalam konteks ASEAN, Indonesia sudah mampu memerankan sebagai
pemimpin dari negara-negara di Asia Tenggara, dengan gaya kepemimpinan Soeharto
Indonesia mampu menjalin hubungan dan kerjasama yang baik dengan negara-negara di
kawasan Asia Tenggara.
Selama pemerintahan orde baru pembangunan dalam negeri Indonesia sangat
menekankan pendekatan keamanan komprehensif tersebut dengan melakukan
sekuritisasi terhadap hampir setiap aspek kehidupan politik, ekonomi, maupun sosial
budaya sebagai strategi menciptkan stabilitas dan keamanan. meskipun di dominasi
kekuatan militer, pemerintah orde baru tidak mengedepankan organisasi militer atau
pertahanan militer sebagai strategi pertahanan dan keamanan, baik dalam menghadapi

2 Dadan Nurdiansyah Bagaimana Peran Indonesia dalam ASEAN? diunduh pada 18 Desember
2010 (htt p://www.scribd.com/doc/23430462/Bagaimana-Peran-Indonesia-Dalam-ASEAN)
ancaman dari dalam maupun dari luar negeri. Doktrin yang dikembangkan Indonesia
mengenai ketahanan nasional di adopsi dalam Bali Concord.3
Salah satu butir tujuan dibentuknya Asean adalah mempercepat kerjasama
ekonomi, kemajuan sosial, serta pengembangan kebudayaan di kawasan ini guna
meciptkan masyarakat sejahtra dan damai dan meningkatkan perdamaian dan stabilitas
regional dengan menghormati keadilan dan tertib di dalam hubungan di negara-negara
kawasan ini, serta mematuhi PBB. Indonesia mempertegas tujuan Asean dengan
mengembangkan doktrin ketahanan Nasional, Ketahanan nasional yang dimaksud adalah
menggunakan kemampuan nasional untuk mengatasi dan mempertahankan negara dari
segala bentuk ancaman dari luar dan dalam bahkan berjuang untuk mencapai
kepentingan nasional. Ketahanan nasional merupakan konseptualisasi yang berlandaskan
berdasarkan sejarah Indonesia selama perjuangan kemerdekaan dan pasca kemerdekaan,
dimana setiap gangguan dan ancaman hanya bisa diselesaikan Indonesia sendiri tanpa
intervensi dari pihak lain.4
Berangkat dari pemahaman tersebut, Indonesia berkeinginan untuk membangun
kemampuan bersama di antara masyarakat Asia tenggara untuk mengurus masa depan
intervensi bangsa lain. Melalui mentri luar negeri Adam Malik memperkenalkan doktrin
ketahanan nasional pada petemuan ASEAN ministerial meeting ke 5 di Singapura 1972.
Indonesia juga menyampaikan makalah yang bejudul reflection untuk mengajak anggota
lainnya mengadakan evaluasi terhadap kesepakatan ekonomi sebelumnya, program
ekonomi yang sebelumnya terbentuk berkaitan dengan program kerjasama sektoral di
beberapa bidang. Yaitu produksi pangan, komunikasi, penerbangan dan turisme, ASEAN
menetapkan suatu proyek ASEAN, yaitu yang cepat memberikan hasil, yang dapat
dinikmati semua anggota dan yang memerlukan pembiayaan tidak besar, maka proyek
ASEAN merupakan proyek yang kecil. Ini merupakan indikator Indonesia mempunyai
perhatian tidak hanya dalam bidang keamanan namun juga ekonomi, sekaligus ASEAN
dimata Indonesia merupakan kawasan yang dianggap penting untuk mencapai
kepentingan nasional Indonesia.5
Pada KTT ASEAN di Bali sebagai respon terhadap campur tangan negara luar
Indonesia 1976 Indonesia mengusulkan dalam sebuah paper untuk membentuk sebuah
formasi kerjasama keamanan dan melakukan latihan militer bersama negara-negara

3 Luhulima, CPF. dkk. 2008. Masyarakat Asia Tenggara Menuju Komunitas ASEAN 2015. Yogjakarta. Pustaka
Pelajar. hal 88
4 Ibid. hal. 88
5 Ibid. hal. 89
ASEAN, meskipun usulan tersebut menuai penolakan dari beberapa negara ASEAN.
Hasil dari KTT tersebut menghasilkan dua kesepakatan yaitu Ketahanan nasional dan
Ketahanan regional. konsep tersebut merupakan kontribusi Indonesia di ASEAN dalam
melegalkan prinsip non-intevensi, organisasi ini tidak boleh mengganggu kemerdekaan,
kedaulatan, persamaan, keutuhan wilayah, dan kepribadian nasional tiap bangsa di Asia
Tenggara artrinya bahwa tiap negara harus dapat melangsungkan kehidupan nasionalnya,
bebas dari campur tangan, subversi atau tekanan dari luar, bahwa tidak ada campur
tangan mengenai urusan dalam negeri satu sama lain, tiap perselisihan atau
persengketaan harus diselesaikan dengan cara damai, dan setiap pengancaman dengan
kekerasan atau penggunaan kekerasan tidak dapat dibenarkan
Indonesia berperan penting dengan pengadaan program ZOPFAN
(SoutheastAsian Zone of Peace, Freedom, and Neutrality) dan NFZ (southeast asian
nuclear freezone) yang disepakati pada deklarasi Kuala Lumpur pada tahun 1971 dan
disetujui semua negara ASEAN. Dengan adanya PT PINDAD sebuah industri yang
memproduksi senjata dan peralatan perang yang banyak digunakan oleh militer-militer di
negara di ASEAN membuktikan bahwa Indonesia turut membantu dengan ekonomi militer nya
untuk memajukan ASEAN di bidang pertahanan dan keamanan.
2. GNB
Pada masa kepemimpinan Soeharto dalam GNB, Soeharto menganggap bahwa
GNB pasca perang dingin masih relevan, sehingga beliau selaku Ketua GNB telah
memperlihatkan usaha dan niat yang sungguh-sungguh untuk menemukan kembali arah
GNB dan mengembangkan melalui usaha nyata yang dikenal dengan Kerjasama Selatan-
Selatan. Dalam masa kepemimpinan Soeharto, GNB menorehkan bebarapa kemajuan
yang diantaranya adalah sebagai berikut:6
1) Gerakan Non Blok memperjuangkan kemerdekaan Palestina
Presiden Soeharto mendapat dukungan dari Menlu Palestina Farouk
Kaddoomi setelah sidang Komite Palestina GNB di Bali yang dalam hal ini
menurutnya keputusan tersebut menunjukkan dukungan Gerakan Non Blok kepada
rakyat Palestina dalam memperoleh haknya kembali dan akan berusaha membuat
warga Israel mundur dari kawasan yang diduduki. Komite Palestina GNB terdiri dari
Aljazair, India, Bangladesh, Senegal, Gambia, Zimbabwe, Palestina dan Indonesia,
komisi GNB untuk Palestina diketuai oleh Indonesia.

6 Wuryandari, Ganewati. 2008. Politik Luar Negeri Indonesia Di Tengah Pusaran Politik Domestik. Yogyakarta.
Pustaka Pelajar. hal. 91-92
2) Gerakan Non Blok ingin berdialog dengan Peserta KTT G7 di Tokyo
Presiden Soeharto mengadakan kerjasama dengan negara-negara Afrika
mengirimkan petani atau petugas Keluarga Berencana ke Indonesia untuk
melakukan magang. Namun karena Indonesia dan negara Afrika itu tidak memiliki
dana yang cukup untuk membiayai program magang ini, maka akan dicari negara
ketiga terutama negara maju yang bersedia membiayai pengiriman petani Afrika ke
Indonesia. Dialog negara maju dan berkembang disebut sebagai dialog Utara-
Selatan.
Dialog yang diharapkan akan tercapai itu ternyata tidak dapat dicapai
sehubungan dengan tidak diundangnya Presiden Soeharto sebagai ketua GNB dalam
KTT G-7 di Tokyo. Apa yang hendak disampaikan adalah buah pikiran negara
anggota GNB terhadap keadaan dunia saat itu, situasi dunia yang tengah dihadapi
dan usulan terhadap upaya bersama yang dapat dijalin oleh negara maju maupun
negara sedang berkembang.
3) Upaya Penyelesaian Hutang Negara-Negara Selatan
Beban hutang negara-negara anggota GNB adalah masalah penting untuk
dibahas dan dicari penyelesaiannya. Untuk itu, cukup banyak mendapat sorotan dan
diharapkan agar di bawah kepemimpinan Indonesia, masalah hutang yang menjadi
salah satu agenda utama KTT Non Blok ke X bisa diselesaikan dengan terobosan-
terobosan yang cukup berarti. Presiden Soeharto mengundang negara-negara untuk
berbagi pengalaman di mana Indonesia sebagai negara penghutang pada negara
negara lain dinilai oleh Bank Dunia dapat membayar hutangnya sesuai waktu yang
telah ditentukan.
Selanjutnya, Presiden Soeharto juga menekankan pentingnya Kerjasama
Selatan-Selatan, bukan hanya sekedar menyelesaikan masalah sosio-ekonomi tetapi
juga melalui kerjasama konkret antara Selatan-Selatan untuk memberi bobot dalam
dialog dengan Utara. Kepala negara mengingatkan negara maju yang disebut
Kelompok Utara dan negara berkembang yang disebut Negara Selatan untuk saling
membutuhkan.
4) Bantuan untuk Petani Afrika
Secara khusus Presiden Soeharto mengundang Brunei Darussalam untuk
turut serta dalam Kerjasama Selatan-Selatan. Dalam hal ini, Indonesia menawarkan
untuk berbagi pengalaman dalam upaya meningkatkan produk pertanian kepada
negara negara Afrika yang mengalami kelaparan. Indonesia rnengundang para petani
negara-negara Afrika untuk melihat secara langsung model pertanian Indonesia.
Dalam hal ini Brunei Darussalam diminta memberikan dana guna membiayai
perjalanan para petani Afrika, karena baik negara-negara Afrika itu maupun
Indonesia tidak mampu membiayai program ini.
5) Pidato Soeharto pada KTT Pernbangunan Sosial di Kopenhagen, Denmark
KTT yang diprakarsai oleh PBB di Kopenhagen telah memberikan
kesempatan dan menjadi momentum yang tepat bagi Presiden Soeharto sebagai
pemipinan Gerakan Non Blok dengan rnernberikan pidato pertama yang
menyerukan kerjasama di antara negara maju dan negara berkembang guna
memperbaiki nasib orang miskin.
Masalah yang mendapat perhatian khusus adalah hutang luar negeri, sistem
perdagangan bebas serta pengendalian jumlah penduduk khususnya serta masalah
keamanan pangan di Afrika. GNB telah mencoba meringankan kemiskinan melalui
berbagai cara seperti peningkatan produksi pangan dan dalam hal ini mengharapkan
kerjasarna maksimal dari PBB sebagai badan dunia untuk memainkan peranan yang
lebih penting dengan mencoba mewujudkan tatanan Tata Dunia Baru dalam usaha
memecahkan masalah keterbelakangan dan kemiskinan.
6) Pertemuan Informal Negara Berpenduduk Banyak
Di sela-sela KTT Pembangunan Sosial di Kopenhagen, Presiden Soeharto
sebagai pemimpin GNB mengadakan pertemuan informal dengan 9 negara yang
memiliki penduduk terbanyak di dunia yaitu, Indonesia, Bangladesh, Brazil, Cina,
Mesir, India, Meksiko, Nigeria dan Pakistan. Pertemuan informal ke 9 negara
berkembang tersebut membahas masalah pendidikan bagi semua (Education For All)
yang diselenggarakan oleh Badan-Badan PBB yaitu UNESCO, UNICEF, UNFPA
dan UNDP. Gerakan Non Blok memandang perlu bahwa pendidikan merupakan
landasan penting bagi upaya meningkatkan kemajuan, kemakmuran dan
kesejahteraan. Di Indonesia sendiri, realisasi program ini adalah adanya program
wajib belajar sembilan tahun.
7) Kunjungan Pemimpin Gerakan Non Blok ke Zagreb, Kroasia dan Sarajevo, Bosnia
Pasca KTT Pembangunan Sosial di Kopenhagen, pemimpin GNB telah
mengadakan kunjungan yang dianggap oleh PBB sangat berani dan beresiko tinggi
yaitu ke Kroasia dan Sarajevo yang tengah dilanda peperangan antaretnis. Selaku
pemimpin GNB, Presiden Soeharto telah menyuarakan pandangan GNB terhadap
bekas salah satu negara pendiri GNB yaitu Yugoslavia, dengan menyatakan bahwa
bahwa tidak ada pihak yang dapat menyelesaikan pertikaian etnis di antara mereka
kecuali oleh para pemimpin negara-negara kawasan bekas Yugoslavia sendiri. GNB
mencoba membantu tanpa ikut campur secara langsung melalui jalur diplomatik
yang sesuai dengan prinsip. Secara moril, kunjungan pemimpin GNB dianggap
sebagai dorongan dan perhatian bahwa GNB sangat prihatin akan masalah yang
berkepanjangan.
3. G 77
Kelompok 77 (G-77) dibentuk pada tanggal 15 Juni 1964 melalui pengesahan
Joint Declaration dari 77 anggota negara berkembang pada saat berlangsungnya sidang
Sesi Pertama United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) di
Jenewa. Sampai saat ini, Kelompok 77 dan China telah beranggotakan 133 negara. G-77
saat ini juga memiliki Chapter di 6 kota dunia, yaitu di Jenewa, Paris, Roma, Nairobi,
New York, dan Wina.7
Kelompok 77 dan China pada dasarnya merupakan forum yang bertujuan
mendorong kerja sama internasional di bidang pembangunan, khususnya bagi negara-
negara berkembang. Pada perkembangannya, kegiatan Kelompok 77 dan China
ditujukan tidak saja untuk memberikan dorongan dan arah baru bagi pelaksanaan kerja
sama Utara-Selatan di berbagai bidang pembangunan internasional, tetapi juga
dimaksudkan untuk memperluas kerja sama dalam memantapkan hubungan yang saling
menguntungkan dan saling mengisi antara sesama negara berkembang melalui Kerja
Sama Selatan-Selatan.
Kelompok 77 dan China memiliki kegiatan-kegiatan penting dalam kerangka
PBB, terutama untuk merundingkan berbagai isu dan keputusan/resolusi yang akan
dijadikan pedoman dalam pelaksanaan kegiatan PBB. Kegiatan-kegiatan tersebut antara
lain adalah tindak lanjut pelaksanaan Program Aksi KTT Pembangunan Sosial di
Kopenhagen, KTT Wanita di Beijing, Sidang Khusus SMU PBB mengenai obat-obat
terlarang, modalitas penyelenggaraan Konferensi Internasional mengenai Pendanaan
untuk Pembangunan, Pengkajian Tiga Tahunan Kegiatan Operasional PBB untuk
Pembangunan, Pelaksanaan Dialog di SMU PBB mengenai Globalisasi, Pertemuan
Interim Development Committee IMF/Bank Dunia, ECOSOC, dan usulan reformasi PBB
di bidang ekonomi dan sosial.
Bagi Indonesia, kerja sama dalam wadah Kelompok 77 dan China merupakan
sarana yang baik untuk penguatan Kerja Sama Selatan-Selatan, antara lain melalui
7 http://kemlu.go.id/Pages/IFPDisplay.aspx?Name=MultilateralCooperation&IDP=5&P=Multilateral&l=id
Perez-Guererro Fund. Kelompok 77 dan China juga telah memberikan dukungan bagi
Indonesia dalam bentuk pendekatan dari 133 negara berkembang anggota Kelompok 77
dan China untuk kebijakan-kebijakan pemerintah Indonesia di PBB. Salah satu
contohnya adalah ketika Indonesia menjabat sebagai anggota tidak tetap Dewan
Keamanan PBB, serta dalam kebijakan lainnya di PBB.8
4. OKI
OKI merupakan organisasi Negara-negara Islam dan negara-negara yang
mayoritas penduduknya beragama Islam yang dibentuk sebagai reaksi terhadap
pembakaran mesjid Al Aqsa oleh Israel pada tanggal 21 Agustus 1969 yang merupakan
salah satu tempat suci umat Islam, selain Mekkah dan Madinah serta bentuk penolakan
terhadap pendudukan wilayah-wilayah arab oleh Israel termasuk pula penguasaan atas
Yerussalem semenjak tahun 1967.
Tujuan OKI adalah sebagai berikut:
1) Memelihara dan meningkatkan solidaritas diantara negara-negara anggota dalam
bidang ekonomi, sosial, budaya, ilmu pengetahuan politik dan pertahanan
keamanan.
2) Mengkoordinasikan usaha-usaha untuk melindungi tempat-tempat suci.
3) Membantu dan bekerjasama dalam memperjuangkan kemerdekaan rakyat
Palestina.
4) Berupaya melenyapkan perbedaan rasial, diskriminasi, kolonialisme dalam segala
bentuk.
5) Memperkuat perjuangan umat Islam dalam melindungi martabat umat, dan hak
masing-masing negara Islam.
6) Menciptakan hubungan kerjasama yang harmonis, saling pengertian antar negara
OKI dan Negara-negara lain.
Beberapa peran aktif Indonesia di OKI yang menonjol adalah ketika pada tahun
1993 Indonesia menerima mandat sebagai ketua Committee of Six, yang bertugas
memfasilitasi perundingan damai antara Moro National Liberation Front (MNLF) dengan
pemerintah Filipina. Kemudian pada tahun 1996, Indonesia menjadi tuan rumah
Konferensi Tingkat Menteri (KTM-OKI) ke-24 di Jakarta.
Selain itu, Indonesia juga memberikan kontribusi untuk mereformasi OKI sebagai
wadah untuk menjawab tantangan umat Islam memasuki abad ke-21. Pada
penyelenggaraan KTT OKI ke-14 di Dakar Senegal, Indonesia mendukung pelaksanaan
8 http://kemlu.go.id/Pages/IFPDisplay.aspx?Name=MultilateralCooperation&IDP=5&P=Multilateral&l=id
OIC's Ten-Year Plan of Action. Dengan diadopsinya piagam ini, Indonesia memiliki
ruang untuk lebih berperan dalam memastikan implementasi reformasi OKI tersebut.
Indonesia berkomitmen dalam menjamin kebebasan, toleransi dan harmonisasi serta
memberikan bukti nyata akan keselarasan Islam, demokrasi dan modernitas.
Bagi Indonesia, OKI merupakan wahana untuk menunjukkan citra Islam yang
santun dan moderat. Sebagaimana yang ditunjukkan Indonesia pada dunia internasional
dalam pelaksanaan reformasi 1998 serta kemampuan Indonesia melewati transisi menuju
negara yang demokratis melalui penyelenggarakan pemilihan umum legislatif ataupun
pemilihan presiden secara langsung yang berjalan dengan relatif baik. Pengalaman
Indonesia tersebut dapat dijadikan rujukan bagi negara-negara anggota OKI lainnya,
khususnya negara-negara di Timur Tengah dan Afrika Utara yang sedang mengalami
proses demokratisasi.
5. AFTA
AFTA yang merupakan singkatan dari ASEAN Free Tread Area memiliki arti
sebagai kawasan perdagangan bebas ASEAN, pertama kali disepakati pada tanggal 28
Januari 1992 waktu Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke IV di Singapura oleh
enam negara yaitu Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan
Thailand. Vietnam kemudian bergabung pada tahun 1995, serta Laos dan Myanmar pada
tahun 1997, dan Kamboja pada tahun 1999.
AFTA di bentuk dengan dengan tujuan agar menjadikan kawasan ASEAN
sebagai tempat produksi yang kompetitif sehingga produk ASEAN memiliki daya saing
kuat di pasar global, dan menarik lebih banyak Foreign Direct Investment (FDI) yaitu
penanaman modal asing yang direpresentasikan di dalam asset riil seperti: tanah,
bangunan, peralatan dan teknologi, serta meningkatkan perdagangan antar negara
anggota ASEAN.
Dalam mewujudkan tujuan-tujuan tersebut, diberlakukanlah penurunan tarif
barang perdagangan dimana tidak ada hambatan tarif (bea masuk 0–5 %) maupun
hambatan non tarif bagi negara-negara anggota ASEAN melalui skema Common
Effective Preferential Tariffs For ASEAN Free Trade Area ( CEPT-AFTA) dimana selain
penurunan tarif juga dimaksudkan untuk penghapusan pembatasan kwantitatif (kuota)
dan hambatan-hambatan non tarif lainnya.
Melihat dari banyaknya kelebihan dari skema dan tujuan-tujuan yang diharapkan
dapat terlaksana dalam AFTA, maka dapat dicermati keuntungan yang akan diperoleh
Indonesia dalam AFTA ini, yaitu dengan tanpa dikenanya tarif, produk-produk Indonesia
dapat di ekspor ke kawasan negara-negara ASEAN dengan lebih murah, tanpa harus
mengeluarkan biaya tambahan yang dulu dikenakan sebelum persetujuan AFTA, kini
produk-produk Indonesia dapat dengan mudah berada di kawasan ASEAN, hal ini tentu
tidak hanya memberikan keuntungan dengan kemudahan perdagangan internasional
dalam regional ASEAN tetapi juga akan memacu kreativitas dalam negeri sebab produk-
produk negara lain di kawasan ASEAN pun akan marak di dalam negeri, sehingga jika
dalam negeri tidak meningkatkan kreativitasnya, maka dengan mudah dilindas oleh
produk-produk impor.
Adapun hal yang mencengangkan dengan adanya AFTA akan membuka peluang
pasar yang besar dan luas bagi produk Indonesia, dimana penduduk yang notabene
adalah konsumen dengan jumlah sebesar ± 500 juta jiwa berada di area ASEAN sehingga
akan lebih memperlancar proses perputaran perdagangan bagi produk-produk Indonesia
dan tingkat pendapatan masyarakat yang beragam akan membantu terdistribusinya
produk-produk Indonesia dengan level yang bervariasi kepada tingkat sosial masyarakat
yang variatif pula.
Selain itu para pengusaha/produsen Indonesia akan lebih rendah mengeluarkan
biaya produksi, dimana diketahui bahwa beberapa produk Indonesia ada juga yang
membutuhkan barang modal dan bahan baku/penolong dari negara anggota ASEAN
lainnya sehingga dengan adanya pembebasan tarif akan lebih meringankan pengeluaran
biaya produksi yang juga akan secara bersamaan mengurangi biaya pemasaran, sehingga
harga produk Indonesia tersebut dapat lebih ditekan yang akhirnya dengan kualitas yang
baik produk Indonesia dapat dipasarkan dengan harga terjangkau yang kemudian akan
memberikan keuntungan sebab para konsumen akan lebih tertarik dengan nilai harga
yang ditawarkan.
Tidak hanya para pebisnis yang akan merasakan keuntungan melalui AFTA ini,
konsumen di Indonesia pun yang merupakan konsumen terbesar dari 9 negara anggota
AFTA akan menerima nilai plus pula, dimana dengan maraknya produk luar di pasar
domestik akan memberikan keragaman produk dengan harga yang variatif yang dapat
disesuaikan dengan kemampuan kantong setiap individu, dan pada bagian awal yang
telah saya sebutkan sebelumnya bahwa dengan maraknya produk luar yang menggrogoti
pasar domestik Indonesia, akan memacu kreativitas produsen lokal untuk bersaing agar
tidak kehilangan konsumennya, serta memacu pula pemanfaatan sumber daya alam dan
manusia pada tingkatan maksimal.
Serta keuntungan lain yang dapat diperoleh Indonesia adalah terbukanya
kerjasama dalam menjalankan bisnis dengan beraliansi bersama pelaku bisnis di negara
anggota ASEAN lainnya. Melalui aliansi ini, para pebisnis Indonesia akan lebih
memperluas jaringannya, yang kelak akan mengamtarkan mereka tidak hanya berbisnis
di area ASEAN saja tetapi juga dapat menjadi batu loncatan ke pasar global, hal ini akan
sangat bermanfaat untuk prosuden-produsen rumahan, yang akan lebih meningkatkan
kesejahteraan para pekerjanya serta memberikan keuntungan bagi negara dimana akan
terbentuk pemahaman di benak konsumen luar negeri bahwa produk-produk yang
dihasilkan oleh pasar domestik Indonesia memiliki kualistas internasional dengan
penanganan yang berstandar tinggi.

6. APEC
Pada tahun 1989, para pemimpin negara – negara yang terletak dilingkar luar
Samudra Pasifik mengadakan pertemuan multilateral dan mendeklarasikan berdirinya
APEC ( Asia Pasific Economic Cooperation). Visi APEC adalah untuk mengurangi tarif
dan hambatan perdagangan lain di wilayah Asia Pasifik, menciptakan ekonomi domestik
yang efisien dan secara dramatis meningkatkan ekspor. Kunci untuk mencapai visi APEC
adalah apa yang disebut dengan ”Deklarasi Bogor” , yaitu bahwa negara yang sudah
pada tingkat industrialisasi (negara – negara maju) akan mencapai sasaran perdagangan
dan investasi yang bebas dan terbuka (liberalisasi) paling lambat tahun 2010, dan
wilayah yang tingkat ekonominya sedang berkembang paling lambat tahun 2020.
Dari segi organisasi, kelompok bernama APEC ini adalah yang terbesar di dunia.
Selain beranggotakan 21 negara, APEC memiliki kekuatan ekstra besar yang tidak
dimiliki organisasi serupa di dunia ini dalam konteks perekonomian. APEC berpenduduk
2,3 miliar jiwa dari 6 miliar jiwa penduduk dunia. Setengah dari perdagangan dunia
terjadi di APEC. Sebesar 18 triliun dollar AS Produc Domestic Bruto (PDB) dunia dari
total 30 triliun dollar lebih PDB dunia ada di APEC.

Anggota APEC merupakan negara yang berada di lingkar luar Samudra Pasifik,
yaitu Amerika Serikat, Australia, Brunei Darussalam, Cile, Cina, Filipina, Hong Kong,
Indonesia, Jepang, Kanada, Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, Papua Nugini, Peru,
Rusia, Selandia Baru, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.
Lima dari sepuluh negara yang memiliki kekuatan perekonomian terbesar di
dunia ada di APEC, yakni Amerika Serikat, Jepang, Cina, Kanada, dan Meksiko. Sejak
digelarnya APEC Economic Leaders Meeting (AELM) di Seattle, AS tahun 1993, setiap
tahun dilahirkan deklarasi atau kesepakatan bersama di antara para pemimpin negara –
negara anggota APEC.
Peran APEC bagi Indonesia setelah Bogor Goals (1994) merupakan sebuah misi
APEC untuk kemajuan liberalisasi perdagangan dan investasi bagi Indonesia. APEC
masih membawa pengaruh positif bagi ekonomi Indonesia. Bagi Indonesia, anggota –
anggota yang tergabung dalam APEC merupakan mitra dagang yang utama. Bogor
Goals juga menjadi pemicu bagi anggota-anggota APEC untuk meningkatkan kerjasama
mereka. Anggota-anggota APEC tidak hanya berbicara tentang isu-isu ekonomi saja,
namun juga implementasi nyata untuk mencapai Bogor Goals dalam bentuk proyek-
proyek. Dapat dikatakan bahwa sejak saat itulah APEC berkembang pesat dan APEC
terus mendapatkan dukungan dari anggota-anggotanya. Salah satu indikator utama
dukungan tersebut adalah diakuinya eksistensi negara-negara penyelenggara pertemuan
APEC. Meskipun penyelenggara pertemuan APEC berganti setiap tahun, prioritas-
prioritas tahunan selalu berkaitan erat dengan bagaimana APEC bekerja. Pertemuan
tahunan APEC bertujuan menghadirkan manfaat bagi semua kawasan sesuai prioritas.
Negara penyelenggara pertemuan APEC harus memastikan prioritas-prioritas yang
diharapkan mampu menghadirkan manfaat bagi semua anggota APEC. Semua anggota
APEC secara bergiliran menjadi penyelenggara pertemuan APEC, sehingga masing-
masing anggota akan dapat memainkan peran pentingnya dalam mengatur prioritas-
prioritas tahunan.
Peran lain APEC bagi Indonesia adalah sebagai komunitas bisnis pengembangan
kebijakan seperti pengembangan kapasitas melalui pemanfaatan proyek-proyek, forum
bertukar pengalaman, forum yang memungkinkan Indonesia untuk memproyeksikan
kepentingan-kepentingannya dan mengamankan posisinya dalam tata hubungan ekonomi
internasional yang bebas dan terbuka
7. OPEC
OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries) adalah
organisasi/himpunan negara-negara pengekspor minyak bumi yang beranggotakan
negara-negara penghasil minyak bumi. OPEC merupakan organisasi permanen antar
pemerintah yang didirikan melaui Konferensi Baghdad pada tanggal 10-14 September
1960 oleh lima negara pemilik sumber minyak raksasa, yaitu Iran, Irak, Kuwait, Arab
Saudi dan Venezuela.
Setahun kemudian mulai muncul negara-negara lain yang ingin bergabung
dengan OPEC. Mereka ada 9 negara. Pertama diawali Qatar yang bergabung pada tahun
1961, kemudian disusul Indonesia pada tahun 1962 (namun Indonesia ditangguhkan
keanggotaannya sejak januari 2009 hingga sekarang), Libya 1962, Uni Emirat Arab
1967, Aljazair 1969, Nigeria 1971, Ekuador 1973 (Ekuador ditangguhkan
keanggotaannya dari desember 1992 sampai oktober 2007), Angola 2007, dan Gabon
1975-1994.
Tujuan OPEC adalah untuk mengkoordinasikan dan menyatukan kebijakan
perminyakan di antara negara-negara anggotanya dan menjamin stabilisasi pasar
perminyakan dalam rangka mengamankan pasokan yang efisien, ekonomis dan pasokan
minyak yang teratur kepada konsumen, penghasilan tetap kepada produsen dan
pengembalian modal yang adil bagi mereka yang berinvestasi dalam industri
perminyakan.
Pada lima tahun pertama keberadaannya, OPEC memiliki kantor pusat di Jenewa,
Swiss. Kemudian pada tanggal 11 september 1965 dipindahkan ke Wina, Austria hingga
sekarang. OPEC memiliki peranan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dunia sejak
didirikan pada tahun 1960 hingga sekarang.
Indonesia sangat berkepentingan dengan organisasi ini sebab minyak dan gas
merupakan sumber devisa terpenting untuk membiayai kelangsungan hidup negara.
Dalam organisasi negara-negara pengekspor minyak ini, Indonesia pernah menempatkan
dua tokoh yang berhasil menjadi Presiden OPEC, yaitu Prof. Dr. Soebroto (1985-1987)
dan Ida Bagus Sudjana pada tahun 1997.
Indonesia keluar dari OPEC pada Mei 2008, dikarenakan mulai tahun 2003
Indonesia telah menjadi importir minyak dan tidak mampu memenuhi Quota yang telah
di tetapkan oleh OPEC.
ZOPFAN dan SEANWFZ

Dengan kecenderungan untuk membendung ancaman yang mungkin datang dari luar,
maka timbulah kesadaran bahwa kemanan dan memeliharaan stabilitas regional merupakan
sebuah kepentingan bersama negara-negara yang terlibat di dalamnya. Kemudian, kesamaan
kepentingan dalam menjaga stabilitas regional ASEAN ini muncul dalam sebuah konsep
Zone of Peace, Freedom, and Neutraly (ZOPFAN) yang muncul berdasarkan deklarasi di
Kuala Lumpur pada tahun 1971 . Deklarasi ZOPFAN terdiri dari dua bagian pokok,
pendahuluan dan dua paragraf pokok. Paragraf pertama menyatakan bahwa negara-negara
ASEAN bertekad menjamin pengakuan dan penghormatan atas Asia Tenggara sebagai
kawasan yang damai, bebas dan netral terlepas dari campur tangan kekuatan luar. Paragraf
kedua menyatakan keinginan negara-negara Asia Tenggara memperluas bidang kejasama
untuk memupuk kekuatan, solidaritas dan hubungan yang lebih erat dengan sesama negara
kawasan.
Dengan memperhatikan dua pokok tersebut, ASEAN telah melakukan sebuah langkah
dalam rangka menjaga stabilitas regional dari campur tangan pihak luar terhadap
keberlangsungan hidup negara-negara regional. Sehingga perebutan pengaruh negara-negara
pemegang kekuatan nuklir di dunia diharapkan bisa dibendung dengan adanya ZOPFAN dan
tidak perlu terjadinya gangguan keamanan yang terjadi di regional hanya karena perebutan
pengaruh yang terjadi dari luar. Ancaman nuklir dari negara-negara yang berebut pengaruh
juga bisa diredam dengan adanya ZOPFAN ini.
Namun, meskipun ZOPFAN telah ditandatangani, masih ada beberapa negara di
ASEAN yang masih bergantung dan menganggap bahwa kekuatan luar juga penting untuk
dilibatkan dalam kegiatan regional ASEAN. Negara-negara tersebut diantaranya adalah
Thailand dan Singapura.
Dalam pertemuan Menlu ASEAN ke-16 pada bulan Juni 1983, Indonesia melalui
MENLU RI Mochtar Kusumaatmadja, mengusulkan konsep Nucleur Weapon Free Zone
(SEANWFZ) sebagai elemen yang melengkapi konsep ZOPFAN. SEANWFZ sendiri
merupakan sebuah pernjanjian yang mengukuhkan ASEAN sebagai kawasan yang bebas dari
senjata nuklir. Maka pada tahun 1983, ASEAN mengembangkan konsep Southeast Asia
Nuclear Weapon Free Zone (SEANWFZ) yang dihasilkan di Bangkok Thailand sebagai
komponen dari ZOPFAN. SEANWFZ merupakan sebuah sumbangan ASEAN melalui
kerjasama regional bagi dunia internasional untuk mengurangi senjata nuklir. Selain itu
SEANWFZ ini merupakan tahap awal menuju zona damai yang lebih luas seperti yang
dikehendaki oleh ZOPFAN. Adapun kewajiban kewajiban negara negara ASEAN adalam
SEANWFZ adalah Negara-negara anggota berkewajiban untuk tidak mengembangkan,
memproduksi, atapun membeli, mempunyai atau menguasai senjata nuklir, pangkalan senjata
nuklir, ataupun melakukan uji coba atau menggunakan senjata nuklir dimanapun juga baik di
dalam maupun diluar kawasan Asia Tenggara; tidak meminta ataupun menerima bantuan
berkenan dengan nuklir; tidak melakukan segala suatu kegiatan pemberian bantuan ataupun
menyokong pembuatan ataupun pengambil alihan peralatan nuklir apapun juga oleh negara
manapun juga; tidak menyediakan sumber daya atau material khusus ataupun perlengkapan
kepada negara persenjataan non nuklir dimanapun juga, atapun negara persenjataan nuklir
terkecuali negara tersebut telah memenuhi perjanjian keselamatan dengan the International
Atomic Energy Agency; untuk mencegah operasi atau penggelaran senjata nuklir di wilayah-
wilayah anggotanya dan mencegah pula dilakukannya uji coba nuklir; serta mencegah
wilayah laut kawasan Asia Tenggara dari pembuangan sampah radioaktif dan ataupun bahan-
bahan radioaktif lainnya oleh siapapun juga.
Pihak Pihak yang Dapat Berkontribusi Dalam Pengimplementasian ZOPFAN dan
SEANWFZ Negara-negara anggota ASEAN tentunya menjadi subjek utama dalam kategori
pihak yang bisa mengimplementasikan ZOPFAN dan SEANWFZ. Hal ini tentunya karena
stabilitas regional bisa terjaga terutama karena komitmnen anggota regional tersebut dalam
melaksanakan kesepakatan yang ada. Dalam hal ini adalah kawasan bebas nuklir ASEAN.
Karena tanpa adanya komitmen yang bulat dari setiap anggota ASEAN, SEANWFZ tidak
akan bisa tercipta. Sehingga, SEANWFZ membutuhkan kerjasama dalam berbagai hal yang
tidak hanya menyangkut kemanan, tapi segala hal yang bsia membangun kekompakan negara
negara ASEAN dalam menghadapi pengruh pengaruh dari luar.
Selain negara-negara anggota ASEAN, negara-negara dewan kemanan selaku pemilik
resmi senjata nuklir di dunia juga memiliki peranan penting dalam terciptanya SEANWFZ.
Dalam berita yang dimuat di Antara, negara-negara dewan kemanan sudah memberikan
komitmennya untuk tidak menyentuh kawasan ASEAN dengan senjata nuklir tanpa alasan
yang mengancam.
Keikutsertaan negara-negara pemilik senjata nuklir dalam SEANWFZ memiliki
peranan yang sangat penting dalam terlaksananya sebuah regional yang bebas senjata nuklir.
Karena bagaiamanapun, negara-negara tersebut merupakan negara-negara yang paling
mungkin untuk menggunakan senjata nuklirnya secara legal dalam melakukan perebutan
pengaruh di wilayah ASEAN.

Reaksi Indonesia terhadap Masalah Kamboja

Sebagai bentuk pelaksanaan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif, maka
atas inisiatif Indonesia pada tanggal 9 Januari 1979 di Jakarta, Menteri Luar Negeri
Indonesia Mochtar Kusumaatmadja yang berperan sebagaiKetua ASEAN Standing
Committee mengeluarkan suatu pernyataan yang menyesalkan peningkatan dan
perluasan konflik antara kedua negara di Indocina, yang akan mempengaruhi
“perdamaian, keamanan, dan stabilitas di Asia Tenggara”.
Walaupun dalam pidatonya tersebut tidak disebutkan secara eksplisit tentang
masalah Indocina(Indonesia meminta agar nama Indocina tidak disebut agar pernyataan
itu dapat bersifat umum dandapat digunakan untuk kesempatan lain seperti misalnya
dalam Piagam PBB dan Dasasila Bandung),namun sebenarnya pernyataan itu
dikeluarkan sebagai reaksi atas invasi Vietnam pada Kamboja.Pidato ini kemudian
menjadi dasar bagi pertemuan khusus para Menteri Luar Negeri yangdiselenggarakan di
Bangkok tiga hari kemudian (12 Januari 1979). Dalam pertemuan itu, para MenteriLuar
Negeri meminta agar semua tentara asing segera ditarik kembali dari wilayah Kamboja.
Namun permintaan itu tidak digubris oleh Vietnam.
Setelah diselenggarakannya pertemuan khusus para Menteri Luar Negeri di
Bangkok, yang ternyatahasilnya tidak digubris oleh Vietnam, Indonesia kemudian
mengadakan pertemuan dengan Malaysiadi Kuantan, Pantai Timur Jasirah Malaya untuk
membicarakan peredaan ketegangan antar negaraIndocina. Namun karena pertemuan di
Kuantan ini tidak dilakukan dalam payung besar ASEAN,pertemuan ini tidak dibahas
lebih lanjut dalam makalah ini.Usaha pemerintah Indonesia untuk menyelesaikan
masalah Kamboja tidak terhenti sampai di situ saja.Pemerintah Indonesia tetap berusaha
untuk memprakarsai berbagai upaya penyelesaian konflik Kamboja. Hal ini dikarenakan
hubungan Indonesia yang terbilang dekat dengan Vietnam danKamboja, dua negara
utama yang bertikai dalam konflik Kamboja. Itulah sebabnya mengapa MenteriLuar
Negeri RI pada Sidang Khusus Menteri Luar Negeri ASEAN di Jakarta pada bulan Mei
1984 ditunjuk sebagai rekan bicara (interlocuter) ASEAN dengan Vietnam, hal ini
dilakukan pada Pertemuan Tahunan ASEAN Tingkat Menteri di Jakarta, yang tujuan
pokoknya adalah rekonsiliasinasional dan penyelesaian konflik Kamboja melalui jalan
damai.
Sehubungan dengan tugasnya sebagai interlocutor ASEAN, ada tiga upaya yang
dilakukan Indonesia,melalui wakilnya Menteri Mochtar Kusumaatmadja.Upaya yang
pertama adalah upaya yang dilakukan untuk menormalisasi hubungan Vietnam
denganAmerika Serikat. Normalisasi ini dilakukan oleh Menteri Mochtar dengan
mengembalikan kerangka jenasah tentara Amerika Serikat yang hilang dalam Perang
Vietnam. Langkah Menteri Mochtar iniberhasil melunakkan sikap garang Amerika
Serikat terhadap Vietnam.Upaya kedua yang dilakukan indonesia adalah dengan
mengumumkan “Usul 12 Pasal” melalui pertemuan untuk memperingati tiga puluh tahun
Konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan pada April 1985 di Bandung. “Usul 12
Pasal” ini kemudian menjadi landasan penyelesaian politik masalah Kamboja.Usul-usul
itu secara garis besar berisikan:
1. Kerangka pikir strategis. Di dalam butir ini, Amerika Serikat ditempatkan setingkat
dengan Uni Soviet dan RRC untuk menyelesaikan masalah Kamboja.
2. Sasaran strategis. Butir ini mengandung pengertian terbentuknya suatu Kamboja yang
merdeka, bebas, netral, dan non-aligned. “Bebas” di sini berarti terciptanya Kamboja
yang nonkomunis.“Netral” berarti penyelesaian masalah Kamboja memerlukan jaminan
dari ketiga negara besar, yaitu Amerika Serikat, Uni Soviet, dan RRC.
3. Kurun waktu. Penarikan pasukan Vietnam dari seluruh wilayah Kamboja perlu
ditentukan dengan jelas dan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
4. Format konferensi terbatas. Hanya beberapa negara lah yang akan menghadiri
konferensi, seperti
5 negara ASEAN, Vietnam, Laos, Dewan Keamanan PBB (Amerika Serikat, RRC, Uni
Soviet, Inggris, dan Perancis), serta Australia, India, dan Swedia.
6. Pembicaraan Antar-Pelaku Utama. Pelaku utama yang dimaksud di sini adalah
Vietnam dan CGDK (Coalition Government of Democratis Kampuchea, bentuk
pemerintahan yang merupakan gabungan dari kelompok-kelompok pelawan Vietnam di
Kamboja).
7. Kerujukan nasional. Butir ini mengatakan agar semua faksi di Kamboja melakukan
pembicaraan langsung demi mewujudkan suatu kerujukan. Pembicaraan selanjutnya
akan dikelola oleh Pangeran Sihanouk.
8. Penarikan pasukan Vietnam. Ada dua konsep berbeda mengenai penarikan pasukan
Vietnam ini. Konsep pertama datang dari ASEAN yaitu supaya penarikan pasukan
Vietnam dilakukan secara bertahap mulai dari Muangthai sampai Kamboja. Konsep
kedua datang dari Vietnam yang tidak setuju penarikan dilakukan secara bertahap karena
menurutnya penarikan secara bertahap malah akan memungkinkan Khmer Merah masuk
kembali ke Kamboja, seiring dengan penarikan tersebut.
9. Zona keamanan. Vietnam menghendaki agar zona keamanan berada di Kamboja,
sementara Indonesia menghendaki zona keamanan berada di perbatasan Muangthai-
Kamboja.
Usul ini sebenarnya merupakan gabungan usaha penyelesaian yang diajukan berbagai
pihak, peran Menteri Mochtar adalah menata semua usul tersebut sehingga semua
pemikiran ke arah penyelesaian konflik terwakili di dalamnya.

Normalisasi Hubungan Indonesia Tiongkok

dalam bukunya Rizal Sukma (1994) membagi usaha melakukan normalisasi menjadi
dua periode yaitu, pada tahun 1970-1977 dan periode kedua, yaitu dari tahun 1977-1989.
Pada periode yang pertama situasi masih belum memungkinkan untuk melakukan normalisasi
karena Indonesia masih membutuhkan waktu untuk membenahi kondisi politik dalam
negerinya sendiri serta melakukan usaha penanaman nasionalisme kepada para etnis Cina
keturunan yang tinggal di Indonesia, karena berkaca pada pengalaman di masa lalu dimana
Cina memanfaatka orang-orang keturunan Cina dalam turut campurnya dalam urusan dalam
negeri negara lain. Sehingga muncul kekhawatiran terhadap penduduk etnis Cina sebagai
sarana Cina melakukan usaha subversi. Di satu sisi, Indonesia juga masih menunggu
kejelasan status warga negara Cina keturunan.
Selain itu pertimbangan keamanan Nasional pasca pemberontakan komunis di masa
lalu juga masih hangat dan menjadi pertimbangan signifikan, sehingga Indonesia dirasa
belum perlu utnuk melakukan normalisasi hubungannya dengan Cina. Meskipun Cina sendiri
sudah menunjukkan tanda-tanda ingin ‘rujuk’ dengan Indonesia yang terimplementasi dari

empat sikap bersahabat yang ditunjukkan oleh Cina, yaitu pertama, dukungan Cina
terhadap Indonesia dalam kasus Selat Malaka, kedua, dukungan Cina terhadap pembentukan
ASEAN, ketiga, izin yang diberikan oleh Cina, terhadap pengapalan beras melalui
Hongkong, dan yang keempat adalah undangan terhadap olahragawan Indonesia ke Cina
dalam sebuah turnamen (Sukma, 1994: 57). Akan tetapi kemuadian Soeharto pun melihat
upaya yang dilakukan oleh Cina, dan mengajukan tiga syarat kepada China dalam
melakukan normalisasi dengan Indonesia, pertama, China harus mengakui pemerintahan
berdaulat Indonesia di bwah pimpinan Orde Baru, kedua, China harus mengakui integritas
nasional Indonesia, ketiga, China tidak diperbolehkan mencampuri urusan dalam negeri
Indonesia (Sukma, 1994: 58). Akan tetapi persyaratan yang diajukan oleh Indonesia
mengalami kebuntuan, karena Menteri Luar Negeri Cina masih memberikan pidatonya
mengenai dukungannya terhadap Cina untuk dapat kembali ke negara asalnya. Hal ini
membuat Indonesia merasa tidak nyaman sehingga normalisasi hubungan pun belum bisa
dilakukan, ditambah lagi kecaman yang datang dari dalam negeri sendiri.
Pada periode kedua tahap normalisasi, terdapat pergeseran pandangan Indonesia
setelah Mao Zedong meninggal dan digantikan oleh Den Xiao Ping, yang dikenal lebih
moderat dan tidak terlalu mementingkan ekspansi ideologi. Selain itu Cina mulai
menunjukkan tanda-tanda akan menjadi raksasa ekonomi dunia, dan peranan dominannya di
kawasan. Negara-negara di kawasan ASEAN pun mulai banyak yang sudah mengakui
kedaulatan Cina. Amerika Serikat pun juga sudah mulai menormalisasi hubungan dengan
Cina. Sehingga Indonesia mulai merasa terdesak dan tidak bisa berdiam diri dan menjadi
kurang pergaulan dengan negara-negara besar. Selain itu Indonesia melalui peraturan
Presiden mengeluarkan Undang-Undang yang menaturalisasi kewarganegaraan etnis Cina
yang ada di Indonesia yang menandai berakhirnya dua kewarganegaraan etnis Cina. Selain
itu Indonesia dihadapkan pada kondisi dimana menurunnya harga minyak Dunia pada kisaran
tahun 1980-an (Sukma, 1994: 68). Indonesia saat itu masih mengdandalkan ekspor minyak
sebagai komoditas utama, mulai mengganti dan mengekspor produk lain, dan saat itu
Indonesia memandang Cina merupakan sebuah pasar yang strategis. Sehingga hubungan
dagang pun mulai terjadi kembali.

Anda mungkin juga menyukai