Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam suatu struktur, batang atau kolom akan mengalami gaya lateral
dan aksial. Tekuk terjadi apabila suatu batang menerima gaya aksial
meskipun belum dapat mencapai tegangan leleh (Daniel L. Schodek, 1999).
Fenomena tekuk berkaitan dengan kekakuan elemen struktur. Suatu elemen
yang mempunyai kekakuan kecil lebih mudah mengalami tekuk dibandingkan
dengan elemen yang mempunyai kekakuan besar.
Sebagian besar struktur yang memiliki dimensi langsing atau tipis dan
mengalami tegangan tekan akan mengalami masalah instabiltas tekuk atau
buckling. Buckling merupakan suatu proses dimana suatu struktur tidak
mampu mempertahankan bentuk aslinya, sedemikian rupa berubah bentuk
dalam rangka menemukan keseimbangan baru.

B. Tujuan
1. Mengetahui / menunjukan peristiwa buckling dan kebenaran rumus euler.
2. Memahami alat, bahan dan cara pengukuran dengan baik dan benar
3. Dapat mengelola hasil pengujian buckling dan menghitung gaya kritis
setiap bahan uji dengan benar

BAB II
PEMBAHASAAAN

A. TEORI DASAR PENGUJIAN BUCKLING

1. Beban Kritis dalam Kolom

1
Beban kritis suatu balok langsing yang dikenai tekanan aksial adalah
nilai gaya aksial yang hanya cukup mempertahankan batang dalam kondisi
sedikit terdefleksi dinotasikan dengan Fcr.
2. Rasio Kerampingan Kolom
Rasio panjang kolom terhadap jari-jari (radius of gyration) minimum
penampang kolom disebut dengan rasio kerampingan suatu kolom. Seperti

P
diketahui =K 2 sehingga persamaan diatas dapat ditulis:
EI

d2 2 y
2
K =0
dx

Dari kenampakan grafis dapat dilihat bahwa karakter tekukan mengandung

fungsi sin kx atau cos kx, kombinasi keduanya dalam bentuk:

3. Rasio tidak berdimensi


Apabilas suatu kolom adalah bebas berputar pada ujung-ujungnya,
maka tekukan akan terjadi pada sumbu dimana jari-jari (radius of gyration)
adalah minimum.
4. Beban kritis kolom ramping panjang
Jika suatu kolom panjang yang mempunyai luas penampang tetap di-
pin pada kedua ujungnya dan dikenai tekanan aksial, beban Fcr yang akan
menyebabkan terjadinya tekukan dinyatakan dengan:

π 2 EI
FCR = 2
L

Dimana E menyatakan modulus elastisitas, I adalah momen minimum


penampang melintang terhadap sumbu yang melalui titik berat dan L adalah
panjang kolom.

5. Rancang Bangun Kolom dengan beban Eksentris


Derivasi pernyataan yang menghasilkan model pembebanan tekuk
Euler mengasumsikan bahwa beban adalah konsentris. Jika suatu gaya
aksial P dikenakan dengan tingkat eksentrisitas E, puncak tegangan pada
batang terjadi pada serat-serat yang lebih luar pada bagian tengah panjang
batang dan dinyatakan dengan:

2
σmax =
P
A[ ( √ )]
ec L
1+ 2
r 2
P
AE

Dimana C adalahjarak dari sumbu netral keserat luar, r adalah jari-jari putar
(radius of gyration), L adalah panjang kolom, dan A adalah luas potongan
melintang ini disebut pula formula scan dari kolom.

6. Tekukan kolom inelastic


Pernyataan pembebanan tekukan Euler dapat diperluas untuk selang
inelastic dari aksi dengan menggantikan Modulus Young E dengan

Modulus Tangen Et. Dengan demikian formula tekukan kolom (tangen-


modulus formula) dapat dinyatakan sebagai:

π 2 Etl
FCR = 2
L

Kolom balok (beam-colomns)

Suatu barang yang dikenai beberapa gaya bersamaan dengan tekanan aksial
dan pembebanan lateral disebut sebagai beam-colomns.

Contoh 1:

Jabarkan beban kritis untuk batang ramping panjang yang di-pin dan
dibebani dengan tekanan aksial dikedua ujungnya. Garis aksi gaya-gaya
melewati pusat panjang melintang seperti pada gambar berikut ini

Y X Y

P P

3
Persamaan diferensial dari kurva defleksi dinyatakan dengan:

2
d y
EL =M
d x2

Momen tekuk pada titik A dengan koordinat (x,y) menghasilkan momen


dengan gaya P dan jarak y. Sesuai dengan perjanjian pemberian tanda maka
momen tersebut adalah negative. Dengan demikian M =-Py. Selanjutnya
kita akan mempunyai persamaan diferential :

d2 y
EL 2 =−Py
dx

P
Seperi diketahui =K 2 sehingga persamaan diatas dapat ditulis:
EI

2
d
=0
d x2

Dari kenampakan grafis dapat dilihat bahwa karakter tekukan mengandung


fungsi sin kx atau cos kx, kombinasi keduanya dalam bentuk:

y=Csin kx+ D cos kx

Dapat merupakan solusi dari persamaan differensial diatas. Yang diperlukan


selanjutnya adalah menentukan nilai C dan D pada ujung kiri batang y=0
ketika x=0 dengan mensubtitusikan nilai ini kepersamaan diatas, diperoleh:

0 = 0+D atau D = 0

Pada ujung kanan batang y=0 ketika X=L, sehingga

0 = C sin KL

Kenyataan baik C=0 atau sin KL=0. Tetapi jika C=0 maka nilai y
dimanapun akan sama dengan 0, dan kita tidak memerlukan ini. Maka kita
pakai:

Sin KL=0

4
Untuk menjadi benar, kita harus mempunyai kh=nπ radian (n =1,2,3,… ….).

2 P
Dengan subtitusi k = ,diperoleh:
EI

n2 n2
√ P
EI
L=nπ atau P=
L2

7. Jenis-Jenis Tumpuan

a. Tumpuan Engsel – Jepit

Dari gambar diatas terlihat bahwa pada ujung yang ditumpu dengan
tumpuan jepit bekerja 3 buah gaya sehingga daerah defleksi lebih
mendekati tumpuan engsel yang cuma mendapat gaya. Beban kritis (Pcr)
pada tumpuan engsel – jepit dapat di hitung dengan :

2
π EI
PCR = 2
0.7 L

b. Tumpuan Engsel – Engsel

5
Pada tumpuan engsel – engsel kedua ujung spesimen ditumpu oleh engsel.
Pada tumpuan ini spesimen / material sangat mudah patah. Karena
tegangan kritisnya kecil. Hal ini disebabkan karena pada tumpuan ini,
yaitu pada ujung bagian spesimen / pada tumpuan hanya bekerja gaya
yang sejajar dengan sumbu batang dan gaya horisontal. Beban kritis (Pcr)
pada tumpuan engsel – engsel dapat di hitung dengan :

π 2 EI
PCR = 2
L

c. Tumpuan Jepit – Jepit

6
Pada tumpuan ini spesimen memiliki tegangan kritis yang besar
(kemampuan terima beban yang besar) dibandingkan dengan tumpuan
engsel – engsel / engsel – jepit. Karena pada kedua ujung spesimen bekerja
tiga gaya yaitu gaya yang sejajar dengan sumbu batang, gaya horisontal,
dan momen gaya. Beban kritis (Pcr) pada tumpuan jepit – jepit dapat di
hitung dengan :

π 2 EI
PCR =
0.5 L2

B. ALAT DAN BAHAN

7
Gambar 2: Alat Uji Buckling

1. Alat:
a. Alat uji buckling
b. Sorong
c. Meteran
d. Adaptor engsel dan jepit
e. Kunci pas 10 mm
2. Bahan :
a. Batang aluminium
b. Batang besi
c. Batang stainless steel
C. LANGKAH KERJA
A. Siapkan ketiga bahan logam yang akan diuji
B. Ukur dimensi panjang dan lebar ketiga bahan tersebut
C. Siapkan alat uji bukling pada tempat yang aman

D. Pengujian engsel-engsel
1. Pasang adaptor engsel pada ujung atas alat uji buckling dan pada ujung
dongkrak.
2. Kencangkan baut pengikat kedua adaptor engsel agar tidak meleset saat
ditekan.
3. Pasang satu batang yang akan diujikan pada kedua adaptor engsel,
misalkan adalah batang besi.
4. Pastikan posisi batang benar-benar duduk pada alur yang ada pada engsel
agar tidak meleset saat ditekan.

8
5. Setelah benar-benar aman, naikkan dongkrak dengan cara mengungkit
pada tuasnya secara perlahan-lahan.
6. Perhatikan jarum pada skala timbangan. Ketika gaya kritis dicapai, jarum
tidak akan bergerak lagi kearah tekanan yang lebih besar, saat jarum
berhenti itulah titik kritis didapat. Tulis pada tabel.
7. Lakukan lagi langkah 3 sampai 6 pada batang lainnya yang berbeda

E. Pengujian engsel-jepit
1. Pasang adaptor engsel diatas dongkrak dan pasang adaptor jepit dibagian
atas alat, kencangkan baut pengikat.
2. Lakukan pengujian seperti yang dilakukan pada langkah 3 smapai 6
(Langkah pengujian engsel-engsel) pada ketiga baang yang akan diuji.
3. Catat hasil pengujian pada tabel.

LEMBAR DATA
PRAKTIKUM FENOMENA DASAR MESIN
BUKCLING

A. DIMENSI BAHAN

PANJANG LEBAR TEBAL


BAHAN UJI
(mm) (mm) (mm)
Baja Karbon
Baja Stenlis
Alumunium
Kuningan

9
B. HASIL ANALISA
Dari pengujian yang dilakukan pada kegiatan praktikum diatas,
diperoleh hasil pengukuran dimensi bahan dan beban penekanan (gaya kritis)
sebagai berikut :
1. Tabel pengukuran dimensi bahan

Hasil pengukuran
Bahan uji
Panjang (L) Lebar (b) Tebal (h)
Baja Karbon
Baja stenlis
Alumunium
Kuningan

2. Tabel pengukuran beban penekanan

Hasil pengujian
Bahan uji
Engsel-engsel Engsel-jepit Jepit-jepit
Baja Karbon 80 N 102 N 126 N
Baja stenlis 90 N 105 N 125 N
Alumunium 64 N 90 N 108 N
Kuningan 68 N 95 N 115 N

Momen inersia

Dari hasil pengukuran dimensi bahan uji diatas, dapat kita hitung momen
inersia setiap bahan dengan menggunakan rumus :

3
bh
I=
12

Berikut adalah hasil perhitungan momen inersia bahan uji :

a. Baja Karbon
b h3
I= =?
12
b. Stainless steel
b h3
I= =?
12
c. Alumunium

10
3
bh
I= =?
12
d. Kuningan
b h3
I= =?
12

Tabel hasil perhitungan momen inersia :

Bahan uji Modulus young (E) Momen inersia


9 2
Baja 207 x 10 N / m ?
9 2
Stainless steel 200 x 10 N /m ?
9 2
Alumunium 70 x 10 N /m ?
9 2
Kuningan 90 x 10 N /m ?

Beban penekanan (gaya kritis)


Secara teoritis, besarnya gaya kritis suatu bahan dapat kita hitung
menggunakan rumus-rumus berikut :
π 2 EI
 P CR =
L2
untuk engsel-engsel
2
π EI
 PCR = 2 untuk engsel-jepit
0.7 L
π 2 EI
 PCR = untuk jepit-jepit
0.5 L2

Berikut ini adalah hasil perhitungan gaya kritis teoritis menggunakan rumus
diatas:

1. Engsel-engsel
a. Baja Carbon
2
π EI
PCR = 2 =?
L
b. Stainless steel
π 2 EI
PCR = 2 =?
L
c. Alumunium
π 2 EI
PCR = 2 =?
L
d. Kuningan

11
2
π EI
PCR = 2 =?
L

2. Engsel-jepit
a. Baja Carbon
2
π EI
PCR = 2 =?
L
b. Stainless steel
2
π EI
PCR = 2 =?
L
c. Alumunium
π 2 EI
PCR = 2 =?
L
d. Kuningan
π 2 EI
PCR = 2 =?
L
3. Jepit-jepit
a. Baja Carbon
π 2 EI
PCR = 2 =?
L
b. Stainless steel
π 2 EI
PCR = 2 =?
L
c. Alumunium
π 2 EI
PCR = 2 =?
L
d. Kuningan
π 2 EI
PCR = 2 =?
L

Tabel dan diagram blok hasil perhitungan gaya kritis berdasarkan rumus (teoritis):

Gaya Kritis Teoritis


Bahan Uji
Engsel-engsel Engsel-jepit Jepit-jepit
Baja
Stainless steel
Alumunium
Kuningan

12
G. KESIMPULAN PENGUJIAN BUCKLING
1. Pengujian buckling pada suatu logam dapat memberikan informasi kepada
kita tentang perbedaan nilai antara pengujian engsel-engsel, pengujian
engsel-jepit dan pengujian jepit-jepit
2. Pengujian ini ditujukan untuk mengetahui Modulus Elastisitas(Modulus
Young), momen inersia dan gaya kritis suatu batang logam yang dijadikan
bahan uji buckling
3. Sifat dan jenis logam pengujian dapat mempengaruhi beban yang dapat
diberikan dan jarak kelengkungan logam tersebut
4. Hasil perhitungan secara teoritis berbeda dengan hasil pengukuran pada
pengujian buckling tetapi masing-masing memberikan hasil yang akurat

13