Anda di halaman 1dari 47

PERISTIWA GAGAL BERPISAH (NONDISJUNCTION) PADA

PERSILANGAN Drosophilla melanogaster


♀N><♂w dan ♀N><♂m BESERTA RESIPROKNYA

LAPORAN PROYEK
Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Genetika I
yang dibimbing oleh Prof. Dr. Hj. Siti Zubaidah, M.Pd. dan
Andik Wijayanto, S.Si, M.Si.

Oleh:
Kelompok 11 / Offering C
Livia Apriliani (160341606038)
Rizalatul Hasanah (160341606040)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
April 2018

[Type text]
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami pajatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
semua limpahan rahmat-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan
makalah ini meskipun dengan sangat sederhana.

Harapan kami semoga laporan praktikum proyek genetika yang telah tersusun
ini dapat bermanfaat sebagai salah satu rujukan maupun pedoman bagi para pembaca,
menambah wawasan serta pengalaman, Menambah referensi bagi pembaca yang akan
melakukan penelitian lebih lanjut. sehingga nantinya dapat memperbaiki bentuk
ataupun isi laporan proyek ini menjadi lebih baik lagi.

Kami juga tidak lupa untuk mengucapkan banyak terimakasih kepada dosen
beserta Asisten pengampu Mata kuliah Genetika yang selalu membimbing dan
mengajari kami dalam melaksanakan praktikum proyek dan dalam menyusun
laporan ini, serta semua pihak yang membantu saya dalam hal penyusunan laporan
ini.

Sebagai penulis, kami mengakui bahwasanya masih banyak kekurangan yang


terkandung di dalamnya. Oleh sebab itu, dengan penuh kerendahan hati kami
berharap kepada para pembaca untuk memberikan kritik dan saran demi lebih
memperbaiki makalah ini. Terima Kasih.

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman

Kata Pengantar ........................................................................................ ii

Daftar Isi ................................................................................................... iii

Daftar Tabel.............................................................................................. v

Daftar Gambar ........................................................................................ vi

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ........................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah ...................................................................... 2

1.3 Tujuan Penelitian ....................................................................... 2

1.4 Kegunaan Penelitian................................................................... 3

1.5 Asumsi Penelitian ....................................................................... 3

1.6 Batasan Masalah ......................................................................... 4

1.7 Definisi Operasional ................................................................... 4

BAB II KAJIAN PUSTAKA ................................................................... 6

2.1 Kajian Pustaka ............................................................................ 6

2.1.1 Drosophila melanogaster.................................................... 6

2.1.2 Siklus Hidup Drosophila melanogaster ............................ 8

2.1.3 Penentuan Kelamin Drosophila melanogaster ................. 10

2.1.4 Kebakaan Terpaut Kelamin ............................................ 11

2.1.5 Peristiwa Gagal Berpisah ................................................. 12

2.2 Kerangka Konseptual .............................................................. 15

2.3 Hipotesis Penelitian .................................................................. 16

iii
BAB III METODE PENELITIAN ........................................................ 17

3.1 Rancangan Penelitian ................................................................ 17

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian .................................................. 17

3.3 Populasi dan Sampel ................................................................. 17

3.4 Instrumen Penelitian ................................................................. 17

3.5 Prosedur Kerja .......................................................................... 18

3.5.1 Pembuatan Medium ......................................................... 18

3.5.2 Pengamatan Strain Lalat Induk pada Botol Stok ......... 18

3.5.3 Peremajaan Stok ............................................................... 18

3.5.4 Pengampulan Pupa ........................................................... 19

3.5.5 Persilangan F1 ................................................................... 19

3.6 Teknik Pengumpulan Data ....................................................... 20

3.7 Teknik Analisis Data ................................................................. 22

BAB IV ANALISIS DATA ..................................................................... 23

4.1 Data Pengamatan ....................................................................... 23

4.2 Analisis Data .............................................................................. 26

4.3 Hipotesis Data ............................................................................ 34

BAB V PEMBAHASAN ......................................................................... 35

BAB VI PENUTUP ................................................................................. 38

6.1 Kesimpulan ................................................................................. 38

6.2 Saran ........................................................................................... 38

DAFTAR RUJUKAN ............................................................................. 39

LAMPIRAN ............................................................................................. 41

iv
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1.1. Perbedaan morfologi Drosophila melanogaster jantan dan betina

Tabel 2.1.2 Tahap Perkembangan D. melanogaster

Tabel 2.1.3. Indeks kelamin Drosophila melanogaster

Tabel 3.6.1 Hasil Pengamatan F1 persilangan D. melanogaster ♀N >< ♂w

Tabel 3.6.2 Hasil Pengamatan F1 persilangan D. melanogaster ♀w >< ♂N

Tabel 3.6.3 Hasil Pengamatan F1 persilangan D. melanogaster ♂N >< ♀m

Tabel 3.6.4 Hasil Pengamatan F1 persilangan D. melanogaster ♀N >< ♂m

Tabel 4.1.2. Hasil Pengamatan Jumlah F1 dari persilangan ♀N >< ♂w

Tabel 4.1.3 Hasil Pengamatan F1 persilangan D. melanogaster ♀w >< ♂N

Tabel 4.1.4 Hasil Pengamatan F1 persilangan D. melanogaster ♀N >< ♂m

Tabel 3.6.4 Tabel Pengamatan F1 persilangan D. melanogaster ♂N >< ♀m

Tabel 4.2.1 Hitungan Frekuensi NDJ dari persilangan ♀N >< ♂w

Tabel 4.2.2 Hitungan Frekuensi NDJ dari persilangan ♀w >< ♂N

Tabel 4.2.3 Tabel Hitungan Frekuensi NDJ dari persilangan ♀N >< ♂m

Tabel 4.2. Hitungan Frekuensi NDJ dari persilangan ♂N >< ♀m

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1.1 Peristiwa gagal berpisah selama tahap meiosis.

Gambar 2.1.2 Persilangan Drosophila melanogaster antara betina w dan jantan N


yang menunjukkan peristiwa gagal berpisah.

vi
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Persilangan pada Drosophila melanogaster antara individu betina bermata


putih dan jantan berwarna merah menghasilkan turunan jantan berwarna putih dan
betina bermata merah sebagaimana yang pertama kali dilaporkan T.H. Morgan
dan Bridges, dilaporkan pula bahwa salah satu di antara 2000 turunan F1 tersebut
mempunyai warna mata menyimpang, entah betina bermata putih atau jantan
bermata merah. Bridges menduga bahwa penyimpangan itu terjadi karena gagal
berpisah pada kromosom kelamin X. Dalam hal ini kedua kromosom kelamin X
gagal memisah selama meiosis sehingga keduanya menuju ke kutub yang sama,
dan terbentuklah telur yang memiliki dua kromosom kelamin X maupun yang
tidak memiliki kromosom kelamin X (Corebima, 2013).

Peristiwa gagal berpisah pada makhluk hidup dapat menyebabkan perubahan-


perubahan jumlah kromosom yang merupakan salah satu bentuk mutasi
kromosom. Peristiwa gagal berpisah dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor luar
dan faktor dalam. Faktor luar meliputi energi radiasi yang tinggi, karbondioksida,
zat kimia tertentu, dan suhu. Sedangkan faktor dalam meliputi umur, gen mutan,
dan faktor yang berkaitan dengan kelainan-kelainan tingkah laku genetik yang
disebabkan oleh adanya unsur mobile dalam genom (Balqis, 1995).

Mengenai macam strain Balqis (1995) menyatakan bahwa gen pada strain
juga berperan dalam menyebabkan fenomena gagal berpisah. Selain itu, Sved

1
menyatakan gagal berpisah juga disebabkan oleh adanya fenomena hybrid
dysgenesis yaitu suatu sindrom yang berkaitan dengan penyimpangan genetik
yang terjadi secara spontan pada hybrid (hasil persilangan antara dua individu
yang secara genetik berbeda) hasil persilangan dua strain yang berlainan. Lebih
lanjut sved menyatakan bahwa mekanisme interaksi antara strain yang
disilangkan tersebut belum jelas..
Pada penelitian ini digunakan D. melanogaster strain N ,W dan m. Strain N
(normal) pada D. melanogaster ditandai dengan ukuran sayap yang panjangnya
lebih dari panjang tubuhnya dan strain w (white) ditandai dengan mata yang
warnah putih sedangkan strain m (miniatur) pada D. melanogaster ditandai
dengan panjang sayap hanya tampak dua per tiga dari panjang sayap normal.
Percobaan persilangan yang kami lakukan adalah D. melanogaster ♂ m ><♀ N ,
♂ w >< ♀ N beserta resiproknya.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Adakah fenomena gagal berpisah (nondisjunction) pada persilangan
Drosophila melanogaster strain N♀ >< w♂dan N♀>< m♂ beserta
resiproknya?
1.2.2 Apakah terdapat perbedaan frekuensi peristiwa gagal berpisah pada
persilangan Drosophila melanogaster strain N♀>< w♂ dan N♀><
m♂ beserta resiproknya?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Untuk mengetahui adanya fenomena gagal berpisah (nondisjunction)
pada persilangan Drosophila melanogaster strain N♂ >< w♀ dan
N♂>< m♀ beserta resiproknya.
1.3.2 Untuk mengetahui perbedaan frekuensi peristiwa gagal berpisah pada
persilangan Drosophila melanogastr strain N♂ >< w♀ dan N♂>< m♀
beserta resiproknya.

2
1.4 Kegunaan penelitian
1.4.1 Untuk peneliti
1. Menambah wawasan mengenai genetika, memberikan informasi
dan pemahaman terhadap frekuensi gagal berpisah pada persilangan D.
melanogaster ♀N >< ♂m, ♂ N >< ♀ w beserta resiproknya.
2. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, logis dan ilmiah untuk
dapat menganalisis fenomena-fenomena pewarisan sifat terutama pada
penelitian yang dilakukan.

1.4.2 Untuk pembaca

1. Memberikan informasi dan pengetahuan lebih lanjut tentang


frekuensi gagal berpisah pada persilangan ♀N >< ♂m, ♂ N >< ♀ W
beserta resiproknya

2. Menambah referensi bagi pembaca yang akan melakukan penelitian


lebih lanjut.

1.5 Asumsi penelitian

Anggapan dasar peneliti adalah sebagai berikut:

1.5.1 Seluruh aspek biologis D. melanogaster di anggap sama kecuali warna


mata , sayap, dan bentuk tubuh
1.5.2 Seluruh kondisi medium dalam tiap botol ulangan persilangan dari
awal sampai akhir sama.
1.5.3 Faktor internal D. melanogaster seperti usia dianggap sama.
1.5.4 Faktor eksternal seperti kondisi medium dalam tiap botol pada stok
dianggap sama.

3
1.5.5 Seluruh kondisi yaitu,kondisi lingkungan, seperti suhu, cahaya,
kelembapan dan sirkulasi udara dianggap sama.
1.5.6 Diasumsikan bahwa stok induk D. melanogaster belum mengalami
peristiwa gagal berpisah.

1.6 Batasan masalah


Penelitian yang dilakukan memiliki batasan masalah, antara lain.
1.6.1 Strain D. melanogaster yang digunakan dalam penelitian ini adalah
strain N, strain w dan m yang diperoleh dari Laboratorium Genetika
Jurusan Biologi FMIPA UM.
1.6.2 Pengamatan fenotip yang dilakukan meliputi mrna mata, faset mata,
mrna tubuh, dan bentuk sayap.3
1.6.3 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fenomena Non-Disjunction
yang terjadi pada persilangan♀N >< ♂m, ♂ N >< ♀ w beserta
resiproknya.
1.6.4 Mengetahui pengaruh macam strain terhadap frekuensi nondisjunction
pada persilangan D.melanogaster strain ♀N >< ♂m dan ♂ N >< ♀ w.

1.7 Definisi operasional


1.7.1 Strain merupakan suatu kelompok-kelompok intraspesifik yang
memiliki hanya satu atau sejumlah kecil ciri yang berbeda, biasanya
secara genetik homozigot untuk ciri-ciri tersebut atau galur murni
(Klug dan Cummings, 2000). Strain yang digunakan dalam penelitian
strain N.W dan m
1.7.2 Fenotip: menurut Ayala dalam Corebima (2013) adalah karakter-
kerakter yang dapat diamati pada suatu individu (yang merupakan
hasil interaksi antara genotip dan lingkungan tempat hidup dan
berkembang).
1.7.3 Genotip: menurut Ayala dalam Corebima (2013) adalah keseluruhan
jumlah informasi genetik dari suatu makhluk hidup dalam

4
hubungannya dengan satu atau beberapa lokus gen yang sedang
menjadi perhatian.
1.7.4 Gagal berpisah adalah suatu peristiwa yang terjadi pada kromoson X,
dalam hal ini kedua kromosom X gagal memisah selama meiosis
sehingga keduanya menuju kutub yang sama dan terbentuklah telur
yang memiliki dua kromosom kelamin X maupun yang tidak memiliki
kromosom kelamin X. Gagal berpisah terjadi pada gamet betina)
(Corebima, 2013).

5
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Drosophila melanogaster

Drosophila melanogaster (lalat buah) tergolong dalam filum Arthropoda.


Hewan ini memiliki panjang tubuh sekitar 3 mm dan memiliki siklus hidup yang
singkat, yakni hanya selama 2 minggu. Hewan ini sering dimanfaatkan sebagai hewan
uji dalam memplajari ilmu genetika, karena selain siklus hidupnya yang singkat,
(Wixon dan O’Kane, 2000). D. melanogaster cukup mudah dikembangkan, mampu
menghasilkan ratusan telur yang dibuahi, tidak berbahaya, mudah dibedakan antara
jantan dan betina, terdapat kromosom raksasa pada kelenjar saliva imago, memiliki
variasi mutan yang banyak, serta hanya memiliki 4 pasang kromosom yang terdiri
dari 3 pasang autosom dan 1 pasang gonosom (James, 2001).

Menurut Meigen (1830), D. melanogaster memiliki klasifikasi sebagai


berikut:

Kingdom : Animalia

Fillum : Arthropoda

Kelas : Insecta

Ordo : Diptera

Famili : Drosophilidae

Genus : Drosophila

6
Subgenus : Sopophora

Spesies : Drosophila melanogaster

Drosophila melanogaster wild type memiliki tubuh yang berwarna kuning


kecoklatan dengan cincin- cincin berwarna hitam di sekitar abdomen, memiliki arista
(sungut) berbulu dengan 7-12 percabangan, bermata majemuk berwarna merah
dengan bentuk agak elips dan memiliki mata oceli. Thoraks lalat buah berwarna
putih, abdomen bersegmen lima dan bergaris hitam, serta memiliki crossvein
posterior yang lurus. Sayap D. melanogaster berawal dari bagian thoraks berwarna
transparan dengan panjang melebihi panjang tubuh (Ashburner dan Thompson,
1978).

Lalat buah jantan dan betina dapat dibedakan melalui beberapa ciri pembeda.
Cirri pembeda tersebut menurut Ashburner dan Thompson (1978) akan ditunjukkan
melalui tabel 2.1.1

Tabel 2.1.1 Perbedaan morfologi D. mlanogaster jantan dan betina

Ciri Pembeda Lalat Jantan Lalat Betina


Ukuran Tubuh Biasanya lebih kecil Biasanya lebih besar
Jumlah segmen 5 segmen 7 segmen
abdomen
Warna abdomen Ujung abdomen berwana Ujung abdomen berwana
kehitaman putih dan terang
Sexcomb Memiliki sexcomb Tidak memiliki sexcomb
Ukuran sayap Relatif lebih pendek Relatif lebih panjang
Spermateka Tidak Memiliki spermateka

7
2.1.2 Siklus Hidup Drosophila melanogaster

Drosophila melanogaster memiliki siklus hidup sekitar 7 hingga 14 hari.


Perbedaan lama siklus hidup lalat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya
suhu. Pada suhu 28°C, lalat buah hanya memiliki siklus hidup selama 7 hari, pada
suhu 30° selama 11 hari, pada suhu 18°C hingga 24° C panjang siklus lalat buah
adalah sekitar 8-9 hari, pada suhu 12°C hingga 17° memakan waktu 19 hari, dan di
bawah 12°C memerlukan waktu hingga mencapai 50 hari. Suhu optimal yang
mendukung pertumbuhan dan perkembangan lalat adalah sebesar 25°-28° C (suhu
kamar). Apabila berada dalam suhu yang lebih tinggi, D. melanogaster dapat
mengalami stress, steril, bahkan kemudian mati (Ashburner dan Thompson, 1978).

Selain suhu, medium juga memegang peranan penting dalam lamanya siklus
hidup D. mlanogaster. Menurut Ashburner dan Thompson (1978), medium yang baik
adalah medium yang tidak terlalu memenuhi wadah dan steril dari jamur, bakteri,
hingga kutu. Jumlah lalat dalam satuan volume wadah harus diperhitungkan terlebih
dahulu agar medium tidak terlalu sesak dalam wadah (James, 2001). Adanya
mikroba, seperti jamur dan bakteri dapat mengganggu pertumbuhan lalat. Sementara
kutu yang berada dalam medium akan memakan telur lalat buah, sehingga tidak ada
anakan yang dihasilkan.

Lalat buah mendapatkan nutrisi dari buah yang sudah membusuk. Dalam
membuat medium hendaknya digunakan bahan (misalnya pisang) yang
kematangannya pas atau sedikit melebihi tingkat kematangan normal. Selain itu,
kandungan air medium harus diatur agar lalat dapat hidup dengan baik, dan lalat
betina mendapat nutrisi yang ckup sehingga telur yang dihasilkan juga banyak
(Ashburner dan Thompson, 1978). Lalat buah akan mengalami hambatan pertumbhan
apabila mendapat paparan cahaya yang terlalu terang, karena paparan cahaya
matahari langsng dapat menyebabkan D. melanogaster betina terlambat bertelur
(Ashburner dan Thompson, 1978).

8
Telur D. melanogaster memiliki panjang sekitar 0,5 mm. Telur ini dapat
berkembang menjadi larva hanya dalam satu hari. Larva dalam siklus hidup D.
melanogaster dibagi mnjadi 3 tingkatan, yaitu larva instar I, larva instar II, dan larva
instar III. Larva instar I memiliki 3 segmn thoraks dan 8 segmn abdomn, panjang
tubuhnya sekitar 1 mm. Larva instar II berukuran 2-3 mm, smentara larva instar III
berukuran sekitar 3-5 mm (Wixon dan O’Kane, 2000).

Setelah mengalami tahap larva instar III, D. melanogaster akan membentuk


prepupa dan akan berubah warna dari putih menjadi coklat muda hingga sedikit
menghitam atau gelap (pupa). Preupa umumnya ditemukan di tempat yang kering.
Tahap perubahan prepupa menjadi pupa adalah sekitar 24 jam dan 3 hari setelah
menjadi pupa akan mentas imago yang dapat terbang dan bahkan siap untuk
disilangkan (Ashburner dan Thompson, 1978). Perkembangan D. melanogaster
adalah seperti yang tertera pada tabel 2.1.2

Tabel 2.1.2 Tahap Perkembangan D. melanogaster


Sumber: Strickberger (1962).
No. HARI STADIUM
1. 0 Peletakan telur (Bintik - bintik puih
pada medium)
2. 0-1 Fase Embryo
3. 1 Menetas / Instar I
4. 2 Pergantian kulit I (Molting) / Instar II
5. 3 Pergantian kulit III / Instar III
6. 5 Pembentukan pupa
7. 5 Pergantian kulit pre-pupa / Instar IV
8. 5-6 Pupa, penampakan kepala, sayap dan
kaki
9. 7 Pigmentasi mata
10. 9 Imago, keluar dari pupa dengan sayap

9
terlipat
11. 9 Sayap merentang - Dewasa

2.1.3 Penentuan Kelamin Drosophila melanogaster

Pola ekspresi kelamin pada makhluk hidup sangat beragam, salah satunya
adalah ekspresi kelamin kromosomal yang ditentukan oleh gen. Kromosom kelamin
yang dimiliki oleh Drosophila melanogaster adalah kromosom kelamin X dan Y.
Dalam keadaan diploid normal, D. melanogaster memiliki kromosom kelamin XX
atau AXX dan XY atau AAXY. Drosophila melanogaster memmiliki mekanisme
perimbangan antara X (gonosom) dan A (autosom) yang kemudian menentukan
ekspresi kelamin D. melanogaster (Corebima, 2013). Indeks kelamin Drosophila
melanogaster menurut Corebima (2013) tertera pada tabel 2.1.3.1.

Tabel 2.1.3 Indeks kelamin Drosophila melanogaster

Jumlah Jumlah Autosom Rasio X/A Fenotip Kelamin


Kromosom X Pada Tiap Pasang
A
3 2 1,5 Betina super (metafemale)
4 3 1,33 Betina super (metafemale)
4 4 1 Betina normal tetraploid
3 3 1 Betina normal triploid
2 2 1 Betina normal diploid
1 1 1 Betina normal haploid
3 4 0,75 Intersex
2 3 0,67 Intersex
2 4 0,5 Jantan tetraploid
1 2 0,5 Jantan normal
1 3 0,33 Jantan super (metamale)

10
2.1.4. Kebakaan Terpaut Kelamin

Dalam ilmu genetika, dikenal adanya kebakaan terpaut kelamin. Kejadian ini
disebabkan oleh gen-gen yang terpaut dalam kromosom kelamin, tetapi tidak
mempengaruhi ekspresi kelamin (Corebima, 2013). Pada tahun 1910, T. H. Morgan
menemukan adanya pautan kelamin pada Drosophila melanogaster, dimana kejadian
ini terletak pada kromosom kelamin X pada lokus w. Secara umum, gen terpaut
kelamin pada hewan jantan heterogamete terletak pada kromosom X, tetapi pada
hewan-hewan tertentu sebagian kecil gen dapat berada pada kromosom Y yang
kemudian akan menghasilkan efek fenotif (Corebima, 2013). Pewarisan sifat terpaut
kromosom kelamin X terjadi mengikuti pola crisscross pattern of inheritance, atau
pola pewarisan menyilang (Gardner, et al. 1991).

Pola pewarisan silang lebih mudah dipahami pada sifat-sifat yang diatur oleh
gen-gen resesif. Dalam pola ini, sifat fenotif pada induk betina akan diwariskan dan
diekspresikan oleh turunan jantan, begitu pula sebaliknya. Menurut Corebima (2013),
satu kromosom X dari kromosom XX induk betina akan diwariskan pada keturunan
betina, sementara yang lain diturunkan pada keturunan jantan. Sedangkan kromosom
X pada kromosom XY (induk jantan) akan diwariskan pada keturunan betina,
sementara kromosom Y akan diturunkan pada keturunan jantan. Melalui fenomena
tersebut, terlihat adanya pola crisscross inheritance. Pada Drosophila mlanogaster,
terdapat gen-gen yang terpaut kromosom kelamin X, yaitu mutan yellow, white,
miniature, vermillion, dan rudimentary (Corebima, 2013).

a. Mutan white (w)


Drosophila melanogaster memiliki 4 kromosom, yaitu 3 autosom dan 1
gonosom (James, 2001). Dalam perkembangannya, D. melanogaster dapat
mengalami mutasi pada kromosom 1, tepatnya pada lokus 1,5. Adanya
mutasi pada kromosom ini menyebabkan warna mata lalat berarna putih,
karena tidak mampu membentuk pigmen warna merah seperti mata

11
normal. Viabilitas D. melanogaster mutan w lebih rendah dibanding lalat
wild type (normal), karena adanya gen-gen yang rusak (Amelia, 2016).
b. Mutan miniature (m)
Selain mutasi pada mata, Drosophila melanogastr juga dapat mengalami
kebakaan terpaut kelamin yang menyebabkan kelainan pada bagian sayap.
D. melanogaster mutan miniature (m) memiliki sayap yang berukuran
pendek, sehingga tidak mampu terbang. Mutan m mengalami mutasi pada
kromosom I, tepatnya pada lokus 36.1 (Corebima, 2013).

2.1.5 Peristiwa Gagal Berpisah atau Non-Disjunction (NDJ)

Dalam ilmu biologi, dikenal adanya pemblahan mitosis dan meiosis. Mitosis
adalah proses pembelahan sel membentuk dua anakan sel yang identik dengan
induknya, sementara meiosis menyebabkan pengurangan jumlah kromosom dalam
sel, misalnya dalam pembentukan gamet. Peristiwa mitosis dan meiosis dapat
mengalami penyimpangan, salah satunya adalah persitiwa gagal berpisah (non-
disjunction) (Kadi, 2007).

Kasus gagal berpisah terjadi ketika dalam pembelahan sel (baik mitosis
maupun meiosis) tepatnya pada tahap anaphase, kromosom gagal terpisah secara
sempurna, sehingga satu sel menerima dua kromosom yang sejenis sementara sel
lainnya tidak mendapat kromosom sama sekali. Peristiwa gagal berpisah selama
mitosis terjadi di awal perkembangan embrio, peristiwa ini dapat menyebabkan
terjadinya mosaikisme. Mosaikisme adalah adanya dua atau lebih garis keturunan
pada suatu individu namun berasal dari satu zigot atau berasal dari gen yang sama
(Nawawi, 2009). Pada meiosis I, kegagalan berpisah disebabkan karena kromosom
homolog tidak mampu bergerak memisahkan diri pada tahap anaphase I, sementara
pada meiosis II (anaphase II), peristiwa gagal berpisah terjadi karena kromatid
saudaranya gagal berpisah (sister kromatid) (Kadi, 2007).

12
Gambar 2.1.1 Peristiwa gagal berpisah selama tahap meiosis

Sumber: Campbell, et al. 2000.

Peristiwa gagal berpisah terjadi seccara spontan dan tergolong kelainan


kromosom numeric karena menyebabkan bertambahnya atau berkurangnya satu set
kromosom. Pada pembelahan meiosis, kegagalan berpisah menyebabkan
terbentuknya gamt dengan 22 atau 24 kromosom yang ketika mengalami fertilisasi
dengan gamet normal dapat menghasilkan zigot trisomi atau monosomi (Nawawi,
2009).

13
Peristiwa gagal berpisah dapat terjadi baik pada autosom atau gonosom,
dalam fase mitosis maupun meiosis, serta dapat terjadi pada individu jantan maupun
betina (Herskowitz, 1977). Gagal berpisah pada Drosophila melanogasterdapat
dibedakan menjadi gagal berpisah primer dan gagal berpisah sekunder. Gagal
berpisah terjadi pada induk lalat yang normal, sedangkan gagal berpisah sekunder
terjadi pada keturunan hasil gagal berpisah primer. Peluang terjadinya gagal berpisah
sekunder 100 kali lebih tinggi dibanding kegagalan berpisah primer (Corebima,
2013).

Gambar 2.1.2 Persilangan Drosophila melanogaster antara betina w dan jantan N yang
menunjukkan peristiwa gagal berpisah. Sumber: Corebima, 2013.

Peristiwa gagal berpisah dapat disebabkan oleh faktor eksternal dan faktor
internal. Menurut Abidin (1997), faktor eksternal adalah energy radiasi tinggi,
paparan zat kimia, serta suhu. Suhu dapat mempengaruhi frekuensi gagal berpisah
primer kromosom kelamin X D. melanogaster. Sementara faktor internal yang dapat
mempengaruhi peristiwa gagal berpisah adalah usia induk, peluang terjadinya
peristiwa NDJ akan meningkat seiring pertambahan sia induk. Adanya gen mutan
dalam suatu kromosom menyebabkan sentromer berada dalam keadaan abnormal,

14
karena sentromer sesaudara gagal menutup sehingga pluang NDJ semakin besar
(Suryo, 1996).

2.2 Kerangka Konseptual


Sifat individu ditentukan oleh gen. Gen akan
diturunkan dari induk kepada keturunannya.

Sifat individu terpaut kromosom Sifat individu terpaut kromosom tubuh.


kelamin. Pola pewarisan Pewarisan sifat mengikuti Hukum
sifatnya mengikuti pola Mendel I dan Hukum Mendel II.
pewarisan menyilang.

Terjadi penyimpangan pola pewarisan,


berupa peristiwa non-disjunction atau
gagal berpisah.

Pada sifat terpaut kromosom Pada sifat terpaut kromosom


kelamin, gagal berpisah terjadi tubuh, gagal berpisah terjadi saat
saat meiosis I dan II dalam tahap mitosis dalam tahap anaphase.
anaphase.

Digunakan persilangan ♀N >< ♂w


Terbentuk telur yang memiliki
dan ♀N >< ♂m beserta resiproknya
dua kromosom kelamin X dan
karena lalat strain w dan m
telur tanpa kromosom kelamin
mengalami mutasi pada kromosom
X (0).
kelamin X.

Dihasilkan keturunan (F1) sesuai pola


crisscross inheritance dan yang
menyimpang dari pola crisscross
inheritance (mengalami NDJ).

15
2.3 Hipotesis Penelitian

Hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:


1.5.1 Terjadi fenomena gagal berpisah (nondisjunction) pada persilangan
Drosophila melanogaster strain N♂ >< w♀ dan N♂>< m♀ beserta
resiproknya.
1.5.2 Ada perbedaan frekuensi peristiwa gagal berpisa pada persilangan
Drosophila melanogaster strain N♂ >< w♀ dan N♂>< m♀ beserta
resiproknya.

16
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian


Penelitian yang kami lakukan ini merupakan jenis penelitian eksperimental, karena
penelitian ini dilakukan dengan pengamatan secara langsung pada obyek yaitu pada
hasil F1 berdasarkan persilangan D. melanogaster ♀N >< ♂m dan ♂ N >< ♀ w
beserta resiproknya yang pada masing-masing perlakuan dilakukan enam kali
ulangan.

3.2 Waktu dan tempat Penelitian

Proyek penelitian ini dilakukan sejak Bulan Februari 2018 hingga April
2018. Kegiatan ini dilakukan di Laboratorium Genetika gedung O5 Biologi ruang 310
FMIPA Universitas Negeri Malang.

3.3 Populasi Dan Sampel

Populasi yang digunakan adalah D. melanogaster yang telah disediakan di


laboratorium Genetika Universitas Negeri Malang dan sampel yang digunakan adalah
D. melanogaster strain N (Normal), strain m (miniatur) dan strain W(white).
3.4 Instrumen Penelitian
Pada penelitian ini digunakan pisau, blender, panic, selang ampul, selang
sedotan, kompor gas, botol selai, timbangan, sendok, kuas, kain kassa, pengaduk
kayu, tisu, gunting, plastic, karet, kertas pupasi, spons, spidol permanen, kertas label,
serta mikroskop stereo. Smentara, bahan yang diperlukan antara lain pisang raja mala,
gula merah, tape singkong, yeast, kardus, dan D. melanogaster strain N, m, serta w.

17
3.5 Prosedur Kerja
3.5.1 Pembuatan Medium
1. Ditimbang bahan pembuatan medium, berupa pisang rajamala (700 gram),
tape singkong (200 gram) dan gula merah (100 gram) dalam satu resep
(perbandingan 7 : 2 : 1).
2. Dipotong pisang dan tape agar mudah diblender sementara gula merah diserut.
3. Dihaluskan pisang dan tape yang sudah dipotong-potong.
4. Dicairkan gula merah yang sudah diserut dengan menambahkan sedikit air
dan dipanaskan di atas api kecil sambil terus diaduk.
5. Dimasukkan bahan yang telah dihaluskan ke dalam panci berisi gula merah
cair dan diaduk kedua bahan di atas api sedang.
6. Dimasak dan diaduk adonan hingga 45 menit di atas api sedang.
7. Dimatikan kompor dan adonan dimasukkan ke dalam botol selai steril sekitar
2/3 bagian botol.
8. Ditutup botol menggunakan spons yang sudah dipotong sesuai ukuran mulut
botol.
9. Didinginkan medium dalam botol dengan direndam air dingin ata dibiarkan
sejenak.
3.5.2 Pengamatan Strain Lalat Induk pada Botol Stok
1. Diambil D. melanogaster dari botol stok dan dimasukkan ke dalam plastik
bening.
2. Dilipat plastic dan D. melanogaster diamati dibawah mikroskop stereo.
3. Diamati bagian sayap, mata dan warna tubuh pada masing - masing strain D.
melaogaster untuk mlihat perbedaan cirri morfologi strain D. melanogaster.
4. Digambar hasil amatan di buku jurnal beserta ciri dari masing - masing strain
yang diamati.
3.5.3 Peremajaan Stok
1. Disiapkan medium dalam botol selai dan ditunggu hingga dingin.
2. Dimasukkan 3-5 yeast dan kertas pupasi ke dalam botol selai lalu botol
ditutup menggunakan spons.

18
3. Dimasukkan 3-5 pasang D. melanogaster dari strain yang ingin diremajakan.
4. Dilabeli botol peremajaan menggunakan kertas label yang berisi nama strain
dan tanggal peremajaan.
3.5.4 Pengampulan Pupa
1. Disiapkan selang panjang 5 - 7 cm dan berdiamter 0,5 cm.
2. Dipotong pisang dan dimasukkan ke bagian tengah selang tepat.
3. Dimasukkan 2 pupa D. melanogaster yang sudah menghitam masing-masing
di kedua sisi pisang dalam selang menggunakan kuas yang sudah dibasahi
dengan sedikit air.
4. Ditutup kedua sisi selang menggunakan potongan spons.
5. Dilabeli masing - masing selang ampul dengan nama strain dan tanggal
pengampulan.
6. Ditunggu ampulan sampai menetas menjadi lalat dan lalat siap untuk
disilangkan, umur lalat hasil pengampulan yang akan digunakan dalam
persilangan maksimal 3 hari.
3.5.5 Persilangan F1

1. Disiapkan botol selai berisi medium, kertas pupasi dan yeast.


2. Dimasukkan imago D. melanogaster ♀N >< ♂m dan ♂ N >< ♀ w beserta
resiproknya hasil ampulan ke dalam botol selai yang berbeda.
5. Diberi label pada botol sesuai perlakuan disertai dengan catatan ulangan dan
tanggal persilangan.
6. Dilepas induk jantan D. melanogaster setelah 2 hari persilangan.
7. Dipindahkan induk betina ke botol B dan seterusnya ketika telah muncul larva
pada botol persilangan sebelumnya. Cara ini dilakukan hinggan induk betina
tidak lagi menghasilkan anakan.
8. Dihitung dan diamati fenotip hasil persilangan F1 selama 7 hari berturut –
turut, dihitung sejak imago muncul pertama kali.
9. Dimasukkan data ke dalam tabel pengamatan.
10. Diulang masing-masing persilangan beserta resiproknya sebanyak 6 kali.

19
3.6 Teknik Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan pada penelitian ini terambil dari jumlah anakan (F1)
yang muncul dari persilangan Drosophila melanogaster strain ♀N >< ♂m dan ♂ N
>< ♀ w beserta resiproknya selama 7 hari berturut-turut.

Tabel 3.6.1 Hasil Pengamatan F1 persilangan D. melanogaster ♀N >< ♂w

Persilangan Fenotip Ulangan Jumlah


(strain) 1 2 3 4 5 6
♀N

♂N

♀N >< ♂w
♀w

♂w

Jumlah

Tabel 3.6.2 Hasil Pengamatan F1 persilangan D. melanogaster ♀w >< ♂N

Persilangan Fenotip Ulangan Jumlah


(strain) 1 2 3 4 5 6
♀N

♂N

♀w >< ♂N ♀w

♂w

20
Jumlah

Tabel 3.6.3 Hasil Pengamatan F1 persilangan D. melanogaster ♂N >< ♀m

Persilangan Fenotip Ulangan Jumlah


(strain) 1 2 3 4 5 6
♀N

♂N

♀N >< ♂m
♀m

♂m

Jumlah

Tabel 3.6.4 Hasil Pengamatan F1 persilangan D. melanogaster ♀N >< ♂m

Persilangan Fenotip Ulangan Jumlah


(strain) 1 2 3 4 5 6
♀N

♂N

♀ m >< ♂
♀m
N
♂m

Jumlah

21
3.7 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan untuk melihat fenotip (F1) D.


melanogaster strain ♀N >< ♂m dan ♂ N >< ♀ w beserta resiproknya adalah
dengan membuat rekonstruksi kromosom kelamin yang mengalami peristiwa gagal
berpisah (NDJ), sementara frkuensi terjadinya NDJ dihitung dengan rumus:

∑ 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛 𝑁𝐷𝐽
Frekuensi NDJ: ∑ 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛
× 100%

22
BAB IV

ANALISIS DATA

4.1 Data Pengamatan


Melalui penelitian yang telah dilakukan, didapatkan hasil sebagai berikut:

Tabel 4.1.1 Hasil Pengamatan Fenotipe pada D. melanogaster


No. Strain Deskripsi
1. a. Warna mata : merah
b. Faset mata : halus
c. Warna tubuh : kuning
kecoklatan
d. Sayap : panjang sayap
lebih panjang dari
panjang tubuh
Strain N
Sumber: dokumen pribadi
Perbesaran: 40X10

2. a. Warna mata : putih


b. Faset mata : halus
c. Warna tubuh : kuning
kecoklatan
d. Sayap : panjang sayap
lebih panjang dari
panjang tubuh
Strain w
Sumber: dokumen pribadi

23
Perbesaran: 40x10
3. a. Warna mata : merah
b. Faset mata : halus
c. Warna tubuh : coklat
kehitaman
d. Sayap : panjang sayap
2
panjang tubuhnya .
3

Strain m
Sumber: dokumen pribadi
Perbesaran: 40X10

a. Tabel 4.1.2. Hasil Pengamatan Jumlah F1 dari persilangan ♀N >< ♂w


Persilangan Fenotip Ulangan Jumlah
(strain) 1 2 3 4 5 6
♀N 95 9 12 35 41 192

♂N 46 10 4 27 27 114

♀N >< ♂w
♀w - - 14 - - 14

♂w - 7 14 - - 21

Jumlah 141 26 44 62 68 341

24
b. Tabel 4.1.3 Hasil Pengamatan F1 persilangan D. melanogaster ♀w >< ♂N
Persilangan Fenotip Ulangan Jumlah
(strain) 1 2 3 4 5 6
♀N 67 26 6 99

♂N 14 3 10 27

♀w >< ♂N
♀w 14 1 - 15

♂w 58 25 - 83

Jumlah 153 55 16 224

c. Tabel 4.1.4 Hasil Pengamatan F1 persilangan D. melanogaster ♀N >< ♂m


Persilangan Fenotip Ulangan Jumlah
(strain) 1 2 3 4 5 6
♀N 63 43 39 145

♂N 21 16 37 74

♀N >< ♂m
♀m 13 4 5 22

♂m 14 10 8 32

Jumlah 111 73 89 273

25
d. Tabel 3.6.4 Tabel Pengamatan F1 persilangan D. melanogaster ♂N ><
♀m
Persilangan Fenotip Ulangan Jumlah
(strain) 1 2 3 4 5 6
♀N 2 17 19

♂N - - -

♀ m >< ♂
♀m 6 - 6
N

♂m 10 2 12

Jumlah 18 19 37

4.2 Analisis Data


4.2.1 Rekonstruksi Kromosom Kelamin
1. Persilangan ♀N >< ♂w
 Rekonstruksi persilangan yang tidak mengalami
nondisjunction

P1 : N♀ x w♂

𝑤+ 𝑤
Genotip : 𝑤+ >< ⇁

Gamet : w +, w, ⇁


♂ w+

w+ 𝑤+
N♀
𝑤+

⇁ 𝑤+
N♂

26
 Rekonstruksi yang mengalami nondisjunction

P1 : N♀ >< w♂

𝑤+ 𝑤
Genotip : 𝑤+ >< ⇁

𝑤
Gamet : w +; , w, ⇁,0


♂ w+

𝑤
, w+w

⇁ 𝑤+

W 𝑤+
𝑤

0 w+
0

2. Persilangan w♀ >< N♂
 Rekonstruksi persilangan yang tidak mengalami
nondisjunction
P1 : w♀ >< N♂
𝑤 w+
Genotip : 𝑤 >< ⇁

Gamet : w, w +, ⇁

♂ W

w+ 𝑤+
N♀
𝑤

27
⇁ 𝑤
w♂

 Rekonstruksi yang mengalami nondisjunction


P1 : w♀ >< N♂
𝑤 w+
Genotip : 𝑤 >< ⇁

𝑤
Gamet :; , 0, w; w+, ⇁
𝑤

♂ 𝑤 W 0
𝑤
w+ 𝑤+ 𝑤 𝑤+ w+
𝑤 𝑤 0

⇁ 𝑤 𝑤 𝑤 w+
⇁ ⇁ 0

3. Persilangan N♀ >< m♂
 Rekonstruksi persilangan yang tidak mengalami
nondisjunction
P1 : N♀ >< m♂
𝑚+ 𝑚
Genotip : 𝑚+ >< ⇁
+
Gamet : m ; m, ⇁

♂ m+ m+

m 𝑚+ 𝑚+
N♀ N♀
𝑚 𝑚

28
⇁ 𝑚+ 𝑚+
N♂ N♂
⇁ ⇁

 Rekonstruksi yang mengalami nondisjunction


P1 : N♀ >< m♂
𝑚+ 𝑚
Genotip : 𝑚+ >< ⇁

𝑚
Gamet : m+ ; , m, ⇁, 0


♂ m+

𝑚 𝑚+ 𝑚
⇁ ⇁

⇁ 𝑚+

m 𝑚+
𝑚

0 𝑚+
0

4. Persilangan m♀ >< N♂
 Rekonstruksi persilangan yang tidak mengalami
nondisjunction
P1 : m♀ >< N♂
𝑚 𝑚+
Genotip : 𝑚 >< ⇁
+
Gamet : m, m , ⇁

29

♂ m

m+ 𝑚∓
N♀
𝑚

⇁ 𝑚
m♂

 Rekonstruksi yang mengalami nondisjunction


P1 : m♀ >< N♂
𝑚 𝑚+
Genotip : 𝑚 >< ⇁

𝑚
Gamet : 𝑚 , m , 0; m+, ⇁

♂ 𝑚 M 0
♀ 𝑚

m+ 𝑚+ 𝑚 𝑚+ m+
𝑚 𝑚 0

𝑚 0
⇁ 𝑚 𝑚 m♂

⇁ ⇁

4.2.2 Perhitungan Frekuensi NDJ berdasarkan hasil anakan F1


a. Tabel 4.2.1 Hitungan Frekuensi NDJ dari persilangan ♀N >< ♂w

 U1  U4
∑ 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛 𝑁𝐷𝐽
Frekuensi NDJ=∑ 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛 × 100%
♀N+♂𝑤
Frekuensi NDJ=∑ 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛 × 100%

30
12+14
Frekuensi NDJ= 44
× 100% = 59.09%

 U2  U5
∑ 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛 𝑁𝐷𝐽 ∑ 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛 𝑁𝐷𝐽
Frekuensi NDJ= ∑ 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛
× Frekuensi NDJ= ∑ 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛
×

100% 100%
♀N+♂𝑤 ♀N+♂𝑤
Frekuensi NDJ= ∑ × Frekuensi NDJ= ∑ ×
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛

100% 100%
95+0 35
Frekuensi NDJ= 141
× 100% = 67.38% Frekuensi NDJ= × 100% = 56.45%
62

 U3  U6
∑ 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛 𝑁𝐷𝐽 ∑ 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛 𝑁𝐷𝐽
Frekuensi NDJ= ∑ 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛 × Frekuensi NDJ= ×
∑ 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛

100% 100%
♀N+♂𝑤 ♀N+♂𝑤
Frekuensi NDJ= ∑ × Frekuensi NDJ= ∑ ×
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛

100% 100%
9+7 41
Frekuensi NDJ= 26
× 100% = 61.54% Frekuensi NDJ= × 100% = 60.29%
68

b. Tabel 4.2.2 Hitungan Frekuensi NDJ dari persilangan ♀w >< ♂N

 U1  U4
∑ 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛 𝑁𝐷𝐽 ∑ 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛 𝑁𝐷𝐽
Frekuensi NDJ= ∑ 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛
× Frekuensi NDJ=∑ 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛 × 100%

100% ♀w+♂𝑁
Frekuensi NDJ=∑ 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛 × 100%
♀w+♂𝑁
Frekuensi NDJ= ∑ 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛 × 10
Frekuensi NDJ= × 100% = 62.50%
16
100%
14+14
Frekuensi NDJ= 153
× 100% = 18.30%

31
 U2  U5
∑ 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛 𝑁𝐷𝐽
Frekuensi NDJ= ∑ 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛
×

100%
♀w+♂𝑁
Frekuensi NDJ= ∑ 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛 ×

100%
3+1
Frekuensi NDJ= 55
× 100% = 7.27%

 U3  U6

c. Tabel 4.2.3 Tabel Hitungan Frekuensi NDJ dari persilangan


♀N >< ♂m

 U1  U4
∑ 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛 𝑁𝐷𝐽 ∑ 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛 𝑁𝐷𝐽
Frekuensi NDJ= ∑ 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛
× Frekuensi NDJ=∑ 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛 × 100%

100% ♀N+♂𝑚
Frekuensi NDJ=∑ 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛 × 100%
♀N+♂𝑚
Frekuensi NDJ= ∑ × 39+8
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛 Frekuensi NDJ= 89
× 100% = 52.81%
100%
63+14
Frekuensi NDJ= 111
× 100% = 69,37%

 U2  U5
∑ 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛 𝑁𝐷𝐽
Frekuensi NDJ= ∑ 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛
×

100%
♀N+♂𝑚
Frekuensi NDJ= ∑ ×
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛

100%

32
43+10
Frekuensi NDJ= 73
× 100% = 72.60%

 U3  U6

d. Tabel 4.2. Hitungan Frekuensi NDJ dari persilangan ♂N >< ♀m

U1  U4
∑ 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛 𝑁𝐷𝐽
Frekuensi NDJ=∑ × 100%
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛
♀N+♂𝑚
Frekuensi NDJ=∑ × 100%
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛
0
Frekuensi NDJ= 19 × 100% = 00.00%

 U2  U5
∑ 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛 𝑁𝐷𝐽
Frekuensi NDJ= ∑ 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛
×

100%
♀N+♂𝑚
Frekuensi NDJ= ∑ × 100%
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛
6
Frekuensi NDJ= 18
× 100% = 33.33%

 U3  U6

Rata-rata Frekuensi NDJ= (67.38%+ 61.54%+ 59,09%+ 56.45% + 60.29%+


18.30% + 7.27% +62.50% + 69.37% + 72.60%
+52.81% + 69.37%+ 72.60%+ 52.81%+ 33.33%+
0%) / 16

= 47.76%

33
4.3 Hipotesis Data

Pengamatan peristiwa gagal berpisah dilakukan di Laboratorium Genetika


Gedung O5 FMIPA UM. Dalam penelitian ini, digunakan D. melanogaster
strain N, w, dan m. Strain N kemudian disilangkan dengan kedua strain lain
yang sebenarnya adalah mutan D. melanogaster.

Dari hasil rekonstruksi dan hasil pengamatan F1 persilangan ♀N >< ♂w


pada U2,U3,U4,U5, dan U6 diperoleh anakan dengan fenotip ♂w, ♀w, ♂N, ♀N.
Dari hasil F1 yang muncul, dapat diketahui bahwa dalam persilangan tersebut
terjadi peristiwa gagal berpisah yang ditunjukkan dengan munculnya anakan
dengan fenotip ♀N dan ♂w. Frekuensi terjadinya peristiwa gagal berpisah
pada persilangan ♀N >< ♂kemudian dihitung pada masing-masing ulangan,
dan didapatkan hasil U2 sebesar 67.38% ; U3 sebesar 61.54%, U4 sebesar
59.09%; U5 sebesar 56.45% dan U6 sebesar 60.29%.

Analisis yang sama juga dilakukan pada reiproknya, yaitu persilangan ♀w


>< ♂N. Dari persilangan ini, juga muncul F1 yang mengalami peristiwa
gagal berpisah dengan fenotip ♀w dan ♂N. Melalui perhitungan yang telah
dilakukan, didapatkan frekuensi terjadinya gagal berpisah pada U1 adalah
sebesar 18.30%; U2 sebesar 7.27%; U3 sebesar 62.50%.

Pada persilangan ♀N >< ♂m, diperoleh anakan (F1) dengan fenotip ♀N,
♂m, ♂N, dan ♀m. Munculnya anakan yang memiliki fenotip sama dengan
induknya (♀N dan ♂m) menunjukkan bahwa anakan tersebut mengalami
gagal berpisah. Frekuensi kemunculan anakan yang gagal berpisah kemudian
dihitung dan didapatkan hasil U1 sebesar 69.37%; U2 sebesar 72.60, dan U3
sebesar 52.81%. Pada resiproknya, yaitu persilangan ♂N >< ♀m, diperoleh
anakan dengan fenotip ♂N, ♀m, ♂m, dan ♀ N. Melalui hasil tersebut, terlihat
adanya individu yang mengalami peristiwa gagal berpisah, yaitu ♂N dan ♀m.
Frekuensi kemunculan ♂N dan ♀m pada U2 adalah 33.33% sementara pada
U4 adalah 00.00%. Artinya, pada U4 tidak terjadi peristiwa gagal berpisah.

34
BAB V

PEMBAHASAN

Praktikum proyek ini dilakukan untuk membuktikan terjadinya peristiwa


gagal berpisah yang diungkap oleh L.V. Morgan pada tahun 1924. Pada
praktikum ini digunakan Drosophila melanogaster yang memiliki strain N
dan dua mutan Drosophila melanogaster, yaitu strain m dan w. D.
melanogaster strain w (white) adalah lalat buah yang mengalami mutasi pada
kromosom I lokus 1.5, sehingga pada mata gagal terbentuk pigmen berwarna
merah dan menghasilkan warna berwarna putih. Sementara, pada D.
melanogaster strain m terjadi mutasi pada kromosom I lokus 36.1 yang
menyebabkan lalat ini hanya memiliki sayap sepanjang 2/3 panjang tubuhnya
sehingga sulit untuk terbang. Kedua mutasi tersebut adalah mutasi terpaut
kelamin(Corebima, 2013).

Peristiwa gagal berpisah adalah peristiwa yang menyebabkan


terbentuknya telur yang memiliki dua kromosom yang saling berlekatan (XX)
dan tidak memiliki kromosom sama sekali (0) (Morgan, 1924). Peristiwa ini
terjadi pada pembelahan meiosis I dan II pada tahap anaphase. Pada meiosis I,
kegagalan berpisah disebabkan karena kromosom homolog tidak mampu
bergerak memisahkan diri pada tahap anaphase I, sementara pada meiosis II
(anaphase II), peristiwa gagal berpisah terjadi karena kromatid saudaranya
gagal berpisah (sister kromatid) (Kadi, 2007).

Dalam kromosom kelamin, pada betina terdapat kromosom XX,


sementara pada jantan terdapat kromosom XY, akan tetapi pada D.
melanogaster genotip Y dituliskan sebagai ¬ (penanda jantan). Dari hasil
rekonstruksi yang dilakukan, peristiwa pewarisan sifat terjadi melalui proses

35
pembelahan sel. Sifat-sifat ini dibawa oleh gen yang berada dalam kromosom.
Pada rekonstruksi normal (tanpa NDJ), anakan (F1) yang dihasilkan
seharusnya mengikuti prinsip crisscross inheritance dan memiliki fenotip
yang berkebalikan dengan induknya. Akan tetapi, pada peristiwa gagal
berpisah, dihasilkan pula anakan yang menyimpang dari prinsip crisscross
inheritance, yaitu anakan yang memiliki fenotip sama dengan induk akibat
kegagalan pemisahan kromosom induk saat tahap meiosis (Corebima, 2013).

Dalam praktikum ini, didapatkan hasil anakan F1 yang menyimpang dari


rekonstruksi normal. Anakan dengan fenotip yang sama dengan fenotip induk
adalah hasil peristiwa gagal berpisah akibat terbentuknya gamet abnormal
pada Parental yang mengalami mutasi. Pada persilangan ♂N >< ♀w gamet
𝑤
abnormal yang dimaksud adalah gamet dan 0, sedangkan pada persilangan
𝑤
𝑚 𝑤 𝑚
♂N >< ♀m adalah gamet dan 0. Gamet dan adalah gamet yang
𝑚 𝑤 𝑚

membawa dua kromosom sekaligus, sementara gamet 0 tidak memiliki


kromosom sama sekali (Corebima, 2013).

Menurut Corebima (2013), penentuan kelamin pada D. melanogaster


ditentukan melalui rasio gonosom dan autosom yang dibawa olel lalat
tersebut. Pada persilangan w♀>< N♂ dan m♀>< N♂, anakan F1 yang
membawa fenotip m♀, w♀, dan N♂ sebenarnya memiliki perbedaan
dibanding m♀, w♀, dan N♂ pada umumnya. Hal ini dibuktikan melalui
perbandingan rasio autosom dan gonosom bahwa N♂ yang dihasilkan dalam
persilangan tersebut bersifat steril. Sementara m♀ dan w♀ yang dihasilkan
adalah betina super hasil pembuahan 2 kromosom X yang dibuahi oleh
kromosom X sperma. Lalat yang membawa 3 kromosom X ini biasanya lethal
karena akan mengalami kelainan dan kemunduran dalam perkembangan
hidupnya (Morgan, 1924).

36
𝑤 𝑤
Pada persilangan ♂N >< ♀w dan ♂N >< ♀m, didapati genotip ⇁

𝑚 𝑚
dan yang merupakan individu betina white dan miniature. Individu ini

merupakan individu betina walaupun memiliki penanda jantan (⇁), karena


dalam penentuan kelaminnya, individu ini mengikuti mekanisme penentuan
klamin berdasarkan mekanisme perimbangan (X/A). Betina ini bersifat steril
(Corebima, 2013).

m+ w+
Penentuan jenis kelamin pada individu dengan fenotip ,dan juga
0 0

didasarkan pada mekanisme perimbangan (X/A). Dari hasil perimbangan,


menunjukkan bahwa fenotip yang dimiliki individu ini adalah jantan. Namun,
karena tidak memiliki penanda jantan (⇁), maka individu jantan ini bersifat

steril. Dari hasil persilangan juga diperoleh genotip . Individu ini tidak
0

memiliki kromosom X dari induk betina dan tidak mendapat kromosom X


dari induk jantan. Individu ini bersifat lethal (Corebima, 2013).
Peristiwa gagal berpisah tidak hanya dialami olh individu betina, tetapi
juga dialami oleh individu jantan karena kedua individu membentuk gamet
melalui pembelahan meiosis. Hasil sperma yang terbentuk akibat gagal
berpisah memiliki 3 variasi kromosom, yaitu kromosom X atau kromosom Y,
kromosom XY, dan sperma tanpa kromosom (Morgan, 1942).
Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya gagal berpisah
yang dibedakan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor eksternal
tersebut antara lain suhu, radiasi tinggi, dan zat-zat kimia lain. Sementara
faktor internal yang mempengaruhi gagal berpisah terkait dengan usia dan gen
mutan yang dibawa induk. Selain itu, bila gen-gen yang mengatur pmbelahan
tersisipi oleh elemen transposable dan mengalami mutasi, maka ada
kemungkinan terjadinya peristiwa gagal berpisah (Gardner,1991).

37
BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan analisis data dan pembahasan yang telah di uraikan dapat


diambil kesimpulan sebagai berikut :

6.1.1 Terjadi fenomena gagal berpisah (nondisjuction) pada


persilangan D. melanogaster strain ♀N><♂w dan ♀N><♂m
beserta resiproknya dibuktikan dengan munculnya strain
anakan yang menyimpang dari prinsip crisscross
inheritance dan memiliki fenotip sama dengan fenotip
induk.
6.1.2 Terdapat perbedaan frekuensi gagal berpisah pada
persilangan Drosophila melanogaster strain ♀N><♂w dan
♀N><♂m beserta resiproknya.

6.2 Saran

1. Pada saat melakukan penelitian diharapkan praktikan lebih rajin , dan


telaten dalam mengerjakan proyek.
2. Peneliti sebaiknya menjaga kebersihan baik dalam pembuatan medium
maupun dalam membersihkan botol, kertas pupasi, dan spons.
3. Peneliti sebaiknya lebih memahami dan mengeksplorasi mengenai
fenomena Nondisjunction dengan cara mencari lebih banyak sumber
literatur yang terkait.

38
DAFTAR RUJUKAN

Abidin, Khoirul. 1997. Pengaruh Solium Siklamat Terhadap Frekuensi


Nondisjunction Kromosom Kelamin X D. melanogaster. Skripsi tidak
diterbitkan. Malang: IKIP.

Ashburner, M. dan Thompson, J.N. 1978. The laboratory culture of Drosophila: The
genetics and biology of Drosophila. 2A. Academic Press.
Balqis. 1995. Pengaruh Suhu terhadap Frekuensi Gagal Berpisah Sekunder
Kromosom Kelamin X antara D. Melanogaster. Skripsi tidak diterbitkan.
Malang: IKIP Malang

Campbell, N.A.; J.B. Recee And L.G Mitchell 2000. Biology. Edisi V (terjemahan).
Jakarta: Penerbit Erlangga, IKAPI.
Corebima, A. D. 2013. Genetika Kelamin. Surabaya: Airlangga University Press.
Gardner, E. J., Dkk.1991. Principle Of Genetics. New York : John Willey And Sons,
INC.
Herskowitz, J. H.1977. Genetics. Canada : Little, Brown And Company.
James, H.S. 2001. Drosophila melanogaster: The Fruit Fly. USA: Fitzroy Dearborn
Publishers.
Klug, William dan Cummings, M. R. 2000. Concept of Genetics. New Jersey:
Prentice Hall Inc.
Kadi, Achmad. 2007. Manipulasi Poliploidi untuk Memperoleh Jenis Baru yang
Unggul. Oseana XXXII (4): 1-11. ISSN 0216-1877.
Meigen, J.W. 1830. Systematische Beschreibung der bekannten europäischen
zweiflügeligen Insekten. Volume 6. Schulz-Wundermann.
Morgan, L.V. 1924. Poliploidy in Drosophila melanogaster with Two Attachd X
Kromosom. New York: Columbia University.

39
Nawawi, Yusuf Saeful. 2009. Karakteristik Dismorfologi pada Pasien dengan
Kelainan Kromosom Seks. SKRIPSI. Semarang: Universitas Diponegoro.
Strickberger, Monroe, W. 1962. Experiments in Genetics with Drosophila. London:
John Wiley and Sons, inc.
Suryo. 1996. Genetika Strata 1 .Yogyakarta : UGM Press.
Wixon, Jo dan O’Kane, Cahir. 2000. Featured Organism: Drosophila melanogaster.
Yeast 17(1): 146-153.

40
LAMPIRAN

D. melanogaster Strain N D. melanogaster Strain w


Sumber: dokumen pribadi Sumber: dokumen pribadi
Perbesaran: 40X10 Perbesaran: 40x10

D. melanogaster Strain m
Sumber: dokumen pribadi
Perbesaran: 40X10

41

Anda mungkin juga menyukai