Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dengue adalah penyakit arbovirus endemik yang saat ini telah menjangkiti
lebih dari 100 negara, baik yang terletak di daerah tropis maupun subtropis.
Badan kesehatan dunia WHO memperkirakan sekitar 50-100 juta kasus infeksi
virus dengue terjadi dengan 24.000 kematian setiap tahunnya. Di Indonesia,
demam berdarah dengue pertama kali di la porkan di Jakarta dan Surabaya pada
tahun 1968. Tahun-tahun selanjutnya, kasus demam berdarah dengue
berfluktuasi jumlahnya dan cenderung meningkat dan daerah yang terjangkit
semakin luas. Awal tahun 2004, Indonesia kembali diguncang wabah dengue,
lebih dari 10.000 kasus terjadi di Jakarta dengan angka kematian dilaporkan 603
orang. Kemudian pada tahun 2006, insiden DBD adalah 52,48 per 100.000
penduduk dan meningkat menjadi 71,78 per 100.000 penduduk pada tahun 2007.
Di Sumatera Barat, kasus DBD tahun 2006 adalah 23,9 per 100.000 penduduk
dan meningkat tajam menjadi 48,05 per 100.000 penduduk pada tahun 2007.
Kekhawatiran sekarang adalah apabila virus dengue menjadi semakin
ganas sehingga menyebabkan pandemi penyakit yang lebih mematikan
sementara vaksin yang efektif belum berhasil dikembangkan. Alasan lain adalah
masalah sanitasi lingkungan yang buruk, populasi penduduk padat, dan mobilitas
tinggi. Semua ini merupakan kondisi ideal bagi virus untuk mempertahankan dan
memperluas mata rantai siklusnya melalui perantara vektor (Aedes aegypti dan
Aedes albopictus) sehingga memberikan peluang virus berevolusi menghasilkan
varian-varian baru yang semakin ganas.
Gejala awal infeksi virus dengue sering tidak khas sehingga terjadi
keterlambatan diagnosis. Perjalanan penyakit bisa sangat cepat dalam beberapa
hari, bahkan dalam hitungan jam penderita bisa masuk dalam keadaan kritis.
Untuk menghindari keterlambatan diagnosis, perlu diketahui deteksi dini
terhadap infeksi virus ini. Saat ini, telah dikembangkan suatu pemeriksaan baru
terhadap antigen nonstruktural 1 (NS1) yang dapat mendeteksi atau
mendiagnosis infeksi virus dengue lebih awal, bahkan pada hari pertama onset
demam karena protein NS1 bersirkulasi dalam konsentrasi tinggi dalam darah
pasien selama awal fase akut. Adanya pemeriksaan NS1 ini sangat penting
karena dapat dilakukan terapi suportif dan pemantauan pasien segera dan dapat
mengurangi risiko komplikasi maupun kematian.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas maka di dapat rumusan masalah yaitu :
 Bagamana cara mengetahui ada atau tidaknya virus dengue dalam serum
penderita?
C. MANFAAT
1. Mahasiswa mampu mengetahui cara pemeriksaan NS1
2. Mahasiswa mampu mengetahui adanya virus dengue pada serum penderita
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum
1. Defenisi Demam Berdarah Dengue (DBD)
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot
dan atau nyeri sendi yang disertai dengan leukopenia, ruam, limfadenopati,
trombositopenia dan diatesis hemoragik. Pada DBD terjadi perembesan
plasma yang ditandai oleh adanya hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit)
atau penumpukan cairan di rongga tubuh.Agen penyebab DBD yaitu virus
dengue merupakan virus RNA untai tunggal, genus flavivirus, yang terdiri
dari empat serotipe yaitu D1, D2, D3 dan D4.2 Keempat serotipe virus ini
terdapat di Indonesia dan dilaporkan bahwa serotipe virus DEN-3 yang paling
sering menimbulkan wabah. Struktur antigen dari keempat serotipe ini sangat
mirip satu dengan yang lain, namun antibodi terhadap masing-masing serotipe
tidak dapat memberikan perlindungan silang.
Gambaran klinis penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue ini
sering tidak khas, dapat menyerupai penyakit-penyakit lain, seperti: flu,
demam tifoid, demam chikungunya, leptospirosis, malaria dan berbagai
penyakit lainnya. Manifestasi klinis akibat infeksi virus dengue ini dapat
menyebabkan keadaan yang beraneka ragam, mulai dari tanpa gejala
(asimtomatik), demam ringan yang tidak spesifik (undifferentiated febrile
illness), demam dengue (DD), atau bentuk yang lebih berat yaitu demam
berdarah dengue (DBD) dan sindrom syok dengue (SSD).
2. Penyebaran DBD Dan Transmisi Virus Dengue
DBD tersebar di wilayah Asia Tenggara, Pasifik Barat dan Karibia.
Indonesia merupakan wilayah endemis dengan sebaran di seluruh wilayah
tanah air. Insiden DBD di Indonesia antara 6 hingga 15 per 100.000 penduduk
(1989 hingga 1995), dan pernah meningkat tajam saat kejadian luar biasa
hingga 35 per 100.000 penduduk pada tahun 1998, sedangkan mortalitas DBD
cenderung menurun hingga mencapai 2% pada tahun 1999.
Beberapa faktor diketahui berhubungan dengan peningkatan transmisi
virus dengue yaitu:
a. Vektor: perkembangbiakan, kebiasaan menggigit, kepadatan dalam
lingkungan, jenis serotipe, transportasi dari satu tempat ke tempat lain.
b. Pejamu: terdapat penderita di lingkungan keluarga, paparan terhadap
nyamuk, status gizi, usia (> 12 tahun cenderung untuk DBD) dan jenis
kelamin (perempuan lebih rentan dari pada laki-laki).
c. Lingkungan: curah hujan, suhu, sanitasi, dan kepadatan penduduk.

Penularan infeksi virus dengue terjadi melalui vektor nyamuk genus


Aedes (Aedes aegypti dan Aedes albopictus). Dari kedua nyamuk ini yang
paling dominan sebagai vektor adalah A. aegypti. Setelah mengisap darah,
nyamuk ini akan membawa virus dari penderita dalam kelenjar ludahnya,
sehingga virus dengue dapat dengan mudah ditularkan jika nyamuk tersebut
mengisap darah orang lain. Sebelumnya virus telah bereplikasi dalam kelenjar
ludah nyamuk selama 8-12 hari. Selain itu nyamuk Aedes memiliki waktu
hidup yang cukup panjang yaitu sekitar 15-65 hari sehingga penularan masih
bisa terjadi. Setelah virus masuk dalam tubuh pejamu, virus akan memasuki
periode inkubasi selama 3-14 hari. Selama itu virus akan bereplikasi di dalam
sel target yaitu sel dendritik dan belum menunjukkan serangan. Infeksi pada
sel target seperti sel dendritik, hepatosit, dan sel endotel, mengakibatkan
pembentukan respon imun seluler dan humoral terhadap infeksi virus pertama
dan berikutnya.

3. Virus Dengue
Virus dengue merupakan virus RNA untai tunggal, genus flavivirus,
yang terdiri dari empat serotipe yaitu D1, D2, D3 dan D4.2 Menurut
Soegiyanto, keempat serotipe virus ini terdapat di Indonesia dan dilaporkan
bahwa serotipe virus DEN-3 yang paling sering menimbulkan wabah,
sedangkan di Thailand penyebab wabah yang dominan adalah virus DEN-2.
Dominasi serotipe di Indonesia pada kurun waktu tahun 2003-2005 adalah
DEN-2, diikuti oleh DEN-3, DEN-4 dan DEN-1.3 Struktur antigen dari
keempat serotipe ini sangat mirip satu dengan yang lain, namun antibodi
terhadap masing-masing serotipe tidak dapat memberikan perlindungan
silang. Menurut Yao,virus dengue terdiri dari 10.700 basa di dalam genomnya
dan terdiri dari single-stranded positive sense RNA (ssRNA sense +). Di
dalam genomnya terdapat sebuah single Open Reading Frame (ORF) yang
mengkode dua macam protein yaitu protein struktural dan protein
nonstruktural. Protein struktural terdiri dari protein inti (capsid/core/C),
protein membran, termasuk preMembran (M) dan protein envelope (E).
Protein nonstruktural terdiri dari tujuh jenis, yaitu NS1, NS2A, NS2B, NS3,
NS4A, NS4B dan NS5 yang ditandai oleh sebuah 5’ dan 3’ nontranslated
region (NTR) pada kedua ujungnya.

4. Patogenesis
Patogenesis terjadinya DBD hingga saat ini masih diperdebatkan.
Terdapat bukti yang kuat bahwa mekanisme imunopatologis berperan dalam
terjadinya DBD dan SSD. Respon imun yang diketahui berperan dalam
patogenesis DBD adalah:
a. Respon humoral berupa pembentukan antibodi yang berperan dalam proses
netralisasi virus, sitolisis yang dimediasi komplemen dan sitotoksisitas
yang dimediasi antibodi. Antibodi terhadap virus dengue berperan dalam
mempercepat replikasi virus pada monosit atau makrofag. Hipotesis ini
disebut antibody dependent enhancement (ADE).
b. Limfosit T baik T-helper (CD4) dan T-sitotoksik (CD8) berperan dalam
respon imun seluler terhadap virus dengue. Diferensiasi T-helper yaitu TH
1 akan memproduksi interferon γ, interleukin-2 (IL-2) dan limfokin,
sedangkan TH 2 memproduksi IL-4, IL-5, IL-6, dan IL-10.
c. Monosit dan makrofag berperan dalam fagositosis virus dengan opsonisasi
antibodi, namun proses fagositosis ini menyebabkan peningkatan replikasi
virus dan sekresi sitokin oleh makrofag.
d. Aktivasi komplemen oleh kompleks imun menyebabkan terbentuknya C3a
dan C5a.

Halstead (1973), mengajukan hipotesis secondary heterologous infection


yang menyatakan bahwa DBD terjadi bila seseorang terinfeksi ulang virus
dengue dengan tipe yang berbeda. Re-infeksi menyebabkan reaksi amnestik
antibodi sehingga mengakibatkan konsentrasi kompleks imun yang tinggi.
Kurane dan Ennis pada tahun 1994, merangkum pendapat Halstead dan
peneliti lain, dan menyatakan bahwa infeksi virus dengue menyebabkan
aktivasi makrofag yang memfagositosis kompleks virus-antibodi non
netralisasi sehingga virus bereplikasi di dalam makrofag. Terjadinya infeksi
makrofag oleh virus dengue menyebabkan aktivasi T-helper dan T-sitotoksik
sehingga memproduksi limfokin dan interferon γ.
Selanjutnya interferon γ akan mengaktivasi monosit sehingga
menyekresi berbagai mediator inflamasi seperti TNF-α, IL-1, platelet
activating factor (PAF), IL-6 dan histamin yang mengakibatkan terjadinya
disfungsi sel endotel dan terjadi perembesan plasma. Peningkatan C3a dan
C5a terjadi melalui aktivasi oleh kompleks virus-antibodi yang juga
mengakibatkan terjadinya perembesan plasma.
Pemahaman patogenesis virus dengue ini masih sangatlah kurang
disebabkan tidak adanya model in vitro dan in vivo yang dapat digunakan
untuk pembuktian penyakit akibat infeksi virus dengue ini. Leitmeyer,
membentangkan sekuens genom virus dengue dikaitkan dengan kejadian DD
maupun DBD. Ia mendapatkan perbedaan deter-minan DBD terletak pada
protein E, bagian 5’UTR, 3’UTR , NS4b dan NS5.
Saat ini patogenesis DBD ini tidak berhenti sampai level serotipe,
namun sampai genotip/subtipenya. Telah dikemukakan bahwa serotipe virus
DEN-1 dikategorikan ke dalam 3-5 macam genotip, DEN-2 dikategorikan ke
dalam 5-6 macam genotip, DEN-3 ke dalam 4-5 macam genotip se-dangkan
DEN-4 dikategorikan ke dalam dua macam genotip.

5. Manifestasi klinik
Manifestasi klinis infeksi virus dengue dapat bersifat asimtomatik, atau
dapat berupa demam yang tidak khas, DD, DBD atau SSD.
Pada umumnya pasien mengalami fase demam selama 2-7 hari, yang
diikuti oleh fase kritis selama 2-3 hari. Pada waktu fase ini pasien sudah tidak
demam, akan tetapi mempunyai risiko untuk terjadi renjatan jika tidak
mendapat pengobatan adekuat.
Manifestasi klinis infeksi virus dengue dapat dilihat pada Gambar 1
6. Diagnosis
Berdasarkan kriteria WHO 1997 diagnosis DBD ditegakkan bila semua
hal di bawah ini dipenuhi:
a. Demam atau riwayat demam akut, antara 2-7 hari, biasanya bifasik.
b. Terdapat minimal satu dari manifestasi perdarahan berikut:
1) uji bendung positif.
2) petekie, ekimosis, atau purpura.
3) perdarahan mukosa (tersering epistaksis atau perdarahan gusi), atau
perdarahan dari tempat lain.
4) hematemesis atau melena.
c. Trombositopenia (jumlah trombosit < 100.000/µL).
d. Terdapat minimal satu atau tanda-tanda perembesan plasma sebagai
berikut:
1) Peningkatan hematokrit > 20% dibandingkan standar sesuai dengan
umur dan jenis kelamin.
2) Penurunan hematokrit > 20% setelah mendapat terapi cairan,
dibandingkan dengan nilai hematokrit sebelumnya.
3) Tanda perembesan plasma seperti efusi pleura, asites atau
hipoproteinemia.

7. Metode Diagnostik Laboratorium


a. Identifikasi dan isolasi virus
Pada tahap awal infeksi, identifikasi dan isolasi virus dengue secara
tradisional adalah satu-satunya cara untuk mendiagnosis infeksi dengue
saat ini. Dalam teknik ini, serum dari pasien dipaparkan pada sel nyamuk.
Setelah amplifikasi virus pada sel yang terinfeksi, serotipe tersebut
diidentifikasi dengan menggunakan antibodi monoklonal spesifik untuk
setiap serotipe dengue. Teknik ini hanya sensitif ketika ada partikel
menular yang relatif tinggi di dalam serum. Viremia untuk dengue
berlangsung singkat, biasanya dimulai dua atau tiga hari sebelum serangan
demam dan berlangsung sampai empat atau lima hari waktu sakit. Sebagai
pilihan dalam mendeteksi virus untuk diagnosis rutin adalah sampel serum
penderita, walaupun virus dengue dapat juga dideteksi dalam plasma,
leukosit dan dalam beberapa jaringan yang diperoleh dari otopsi.
Inokulasi intratoraks nyamuk (A. aegypti, A. albopictus,
Toxorhynchites splendens, T. amboinensis) adalah sistem yang paling
sensitif untuk isolasi virus dengue, tetapi karena diperlukan ketram-pilan
teknis tertentu dan fasilitas khusus untuk inokulasi langsung nyamuk, maka
kultur sel lebih baik untuk diagnosis rutin. Baris sel nyamuk C6/36 (klon
diperoleh dari A. albopictus) telah menjadi sel inang pilihan untuk isolasi
rutin virus dengue, meskipun baris sel A. pseudoscutellaris AP61 juga
telah digunakan dengan cukup berhasil.
Sampai saat ini identifikasi virus dengue umumnya dicapai dengan
teknik imunofluoresens yang menggunakan serotipe spesifik monoklonal
antibodi anti dengue di kepala nyamuk yang hancur atau sel yang
terinfeksi. Kenyataannya beberapa strain tidak mudah diidentifikasi karena
konsentrasi yang rendah dari virus. Plaque assay adalah metode standar
emas untuk kuantifikasi virus dengue. Menurut Payne et al, suatu
imunofluoresens tidak langsung telah diusulkan sebagai alternatif untuk
tes ini. Aliran cytometry baru-baru ini dilaporkan sebagai metode yang
berguna untuk identifikasi virus dengue 1 (DEN-1), dan memungkinkan
virus untuk diidentifikasi 10 jam lebih awal daripada dengan uji
imunofluoresens, dengan menggunakan antibodi monoklonal anti-
nonstruktural glikoprotein (NS1).
b. Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) dari serum
atau plasma
RT-PCR dapat dilakukan dengan cara one-step, nested RT-PCR atau
nucleic acid sequence-based amplification (NASBA). Dewasa ini di luar
negeri telah banyak dilakukan pemeriksaan RT-PCR dengan menggunakan
alat real-time PCR, dimana hasil yang didapat lebih cepat dan bersifat
kuantitatif. Keberhasilan PCR juga tergantung dari tahapan pengambilan
serum dan variabilitas yang luas antar laboratorium dimana masih
dibutuhkan standarisasi yang lebih baik. Hasil positif akan didapatkan lebih
banyak pada keadaan viremia.
c. Deteksi antigen
Produk gen NS1 merupakan glikoprotein yang dihasilkan oleh semua
flavivirus dan penting untuk replikasi dan viabilitas virus. Selama replikasi
virus, NS1 terlokalisir dalam organel sel. Protein NS1 disekresikan oleh sel
mamalia, tetapi tidak oleh sel-sel serangga. Bentuk protein sekresi berupa
heksamer, yang terdiri dari subunit dimer. Glikosilasi protein ini diyakini
penting untuk sekresi. Antigen NS1 muncul awal pada hari pertama setelah
serangan demam dan menurun ke tingkat tidak terdeteksi setelah 5-6 hari.
Protein NS1 merupakan antigen yang memperbaiki dan saling melengkapi,
serta juga menghasilkan respon humoral yang sangat kuat. Penelitian telah
banyak didedikasikan untuk kegunaan NS1 sebagai alat diagnosis infeksi
virus dengue, karena disekresikannya protein ini.
Dalam enam tahun terakhir terdapat beberapa studi yang menyikapi
penggunaan antigen NS1 dan antibodi anti-NS1 sebagai alat untuk
diagnosis demam berdarah. Tes antigen-capture ELISA telah dilakukan
dengan sensitivitas berkisar antara 4 sampai 1 ng/mL. Penelitian-penelitian
ini mengidentifikasikan hubungan antara keparahan penyakit dan jumlah
antigen NS1 dalam serum, namun penelitian lain tidak menemukan
hubungan ini dan pada kenyataannya tidak bisa membedakan antara
infeksi primer dan sekunder. Dewasa ini, suatu antibodi monoklonal
serotipe spesifik berbasis antigen-capture enzyme-linked immunosorbent
assay (ELISA) NS1 yang menunjukkan spesifisitas serotipe yang baik
telah dikembangkan. Shu et al, memiliki sebuah standar IgG NS1 serotipe
spesifik ELISA tidak langsung untuk membedakan infeksi virus dengue
primer dan sekunder dan menunjukkan korelasi yang baik antara anti IgG
NS1 serotipe spesifik (ditentukan oleh ELISA) dan hasil dari plaque
reduction and neutralization test (PRNT). Protein NS1 serotipe spesifik
IgG ELISA bekerja handal untuk serotipe virus dengue dalam serum fase
konvalesen dari pasien dengan infeksi primer dan dalam serum fase akut
dari pasien dengan infeksi sekunder (yang akan mendeteksi serotipe yang
menyebab-kan infeksi pertama), tapi tidak demikian dengan serum pasien
pada fase penyem-buhan dengan infeksi sekunder. Hasil studi yang
bervariasi berhubungan dengan hasil tes IgM dan IgG, serta keparahan
penyakit dan prediktor viremia. Oleh karena itu evaluasi lanjut dari tes ini
harus dilakukan untuk menentukan perbedaan utama antara studi masing-
masing.
Menurut Mackenzie, antigen NS1 merupakan glikoprotein tersekresi
48 kDa yang tidak terdapat pada partikel virus yang terinfeksi namun
terakumulasi di dalam supernatan dan membran plasma sel selama proses
infeksi. Protein NS1 merupakan gen esensial di dalam sel yang terinfeksi
dimana fungsinya sebagai ko-faktor untuk replikasi virus, yang terdapat
bersama di dalam bentuk replikasi RNA double-stranded. Immune
recognition dari permukaan sel NS1 pada sel endotel dihipotesiskan
berperan dalam mekanisme perembesan plasma yang terjadi selama infeksi
virus dengue yang berat. Sampai saat ini, bagaimana NS1 berhubungan
dengan membran plasma, yang tidak berisi motif sekuens membrane-
spanning masih belum jelas.
Protein NS1 terikat secara langsung pada permukaan berbagai tipe sel
epitel dan sel mesensim, juga menempel secara kurang lekat pada berbagai
sel darah tepi. Lebih lanjut, NS1 juga terikat pada biakan sel endotel
mikrovaskuler manusia lebih baik daripada sel endotel aorta atau umbilical
cord. Spesifisitas ikatan ini sudah dibuktikan terdapat pada ikatan NS1
pada endotel paru dan hati, namun tidak pada usus atau otak tikus.
Menurut Dussart, protein NS1 merupakan glikoprotein yang highly
conserved tampaknya merupakan regio penting dalam viabilitas virus
namun tidak memiliki aktivitas biologis. Tidak seperti glikoprotein virus
yang lain, NS1 diproduksi baik dalam bentuk yang berhubungan dengan
membran maupun dalam bentuk yang disekresikan.
Alcon, mengemukakan bahwa antigen NS1 terdapat baik pada infeksi
primer maupun sekunder dan dapat dideteksi dalam sembilan hari pertama
demam, baik pada serotip DEN-1 (terbanyak), DEN-2, DEN-3 dan DEN-4.
Kumarasamy, meneliti sensitivitas dan spesifisitas NS1 pada 554 donor
sehat dan 297 pasien terinfeksi virus dengue, dimana 157 pasien dengan
PCR positif diperiksa juga IgM dan IgG antidengue. Ia mendapatkan
spesifisitas 100% dan sensitivitas 91,0 % dari 157 sampel tersebut dengan
perbedaan yang tidak bermakna untuk ke empat serotip. Blacksell,
meneliti NS1 dan mendapatkan sensitivitas NS1 63% dan spesifisitas 100%
dengan mem-perhatikan adanya perbedaan sekresi yang bervariasi antar
serotipe. Kit komersial untuk mendeteksi anti-gen NS1 dalam sampel
serum telah tersedia. Pengujian ini tidak membedakan antar serotipe.
Antigen NS1 muncul di awal infeksi dan sebelum munculnya antibodi. Tes
tersebut berguna untuk deteksi dini kasus dan untuk investigasi wabah.
Evaluasi dari pemeriksaan-pemeriksaan ini seharusnya dilakukan untuk
menilai kegunaan dan efektivitas biaya.
Terdapat dua macam kit pemeriksaan antigen NS1 di Indonesia, yaitu
dari Panbio dan BioRad, keduanya memakai prinsip metode ELISA. Saat
ini juga sudah terdapat reagen NS1 dalam bentuk rapid test yang
menggunakan metode Immuno chromato-graphy (ICT).
B. Prinsip percobaan
Dengue NS1 Ag pada serum, plasma, atau whole blood sebagai antigen
akan bergerak di sepanjang membrane kromatografi untuk bereaksi dengan anti
dengue NS1 Ag yang dilapisi koloidal emas pada strip sebagai antibody menuju
wilayah test akan membentuk garis warna sebagai kompleks partikel emas
antibody antigen.
BAB III
METODE PERCOBAAN

A. Alat dan bahan


1. Alat
a. Pipet disposable
b. Cassete test (SD Bioline Dengue NS1 Ag)
c. Sentrifus
d. Rak tabung
e. Tabung
2. Bahan
a. Serum
b. Buffer

B. Prosedur kerja
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Diteteskan sampel serum sebanyak 2 tetes (sekitar 60 ul) pada sumur sampel
(S)
3. Diteteskan larutan buffer sebanyak 1 tetes (sekitar 40 ul) pada sumur sampel
(S)
4. Ditunggu sampai garis berwarna muncul dan dibaca hasilnya dalam waktu 15
menit dan tidak boleh dibaca hasilnya setelah 20 menit.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil pengamatan
Nama pasien Sampel Hasil Keterangan
Timbul 1 garis merah pada
area control (C) dan tidak ada
MR.F Plasma/serum Negative (-)
garis merah pada area test (T)

B. Pembahasan
Demam berdarah atau breakbone fever atau demam dengue adalah
penyakit akut yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk
aedes aegpty. Penyakit demam berdarah memiliki gejala yang tidak sama atau
beraneka ragam, mulai dari tanpa gejala, demam ringan yang tidak spesifik,
demam dengue atau demam berdarah dengue sampai sindrom syok dengue.
NS1 merupakan suatu glikoprotein yang muncul dengan konsentrasi tinggi
pada pasien, ketika terinfeksi virus dengue pada tahap awal penyakit. NS1
merupakan gen esensial didalam sel yang terinfeksi dan berfungsi sebagai ko-
faktor untuk replikasi virus. NS1 diperlukan untuk kelangsungan hidup virus
namun tidak diketahui dengan pasti aktivitas biologisnya. Dari bukti yang sudah
ada menunjukan bahwa NS1 terlibat dalam proses replikasi virus. NS1 dengue
diekskresikan kedalam system darah pada individu-individu yang terinfeksi
dengan virus dengue. Antigen NS1 dapat ditemukan pada hari pertama sampai
hari ke Sembilan sejak awal demam pada pasien dengue primer atau dengue
sekunder.
Untuk mempertahankan hidup, virus dengue memerlukan dukungan dari
protein yang mempertahankan tubuhnya, terutama untuk membantu masuk dalam
sel inang. Protein ini disebut sebagai protein structural yang berfungsi sebagai
enzim dan katalis dalam upaya virus mempertahankan hidupnya.
Pemeriksaan NS1 Ag yang berarti nonstructural 1 antigen adalah
pemeriksaan yang mendeteksi bagian tubuh virus dengue itu sendiri. Karena
mendeteksi bagian tubuh virus dan tidak menunggu respon tubuh terhadap
infeksi maka pemeriksaan ini dilakukan paling baik saat panas hari ke 0 hingga
hari ke 4, karena itulah pemeriksaan ini dapat mendeteksi infeksi virus dengue
bahkan sebelum terjadi penurunan trombosit. Angka sensitivitas dan
spesifitasnya pun juga tinggi. Bila ada hasil NS1 yang positif menunjukan kalau
seseorang “hamper pasti” terkena infeksi virus dengue. Sedangkan kalau hasil
NS1 Ag dengue menunjukan hasil negative tidak menghilangkan kemungkinan
infeksi virus dengue dan masih perlu dilakukan observasi serta pemeriksaan
lanjutan. Ini terjadi karena untuk mendeteksi virus dengue diperlukan kadar yang
cukup dari jumlah virus dengue yang beredar, sedangkan pada fase awal
mungkin belum terbentuk cukup banyak virus dengue tetapi apabila pengambilan
dilakukan setelah munculnya antibody maka kadar virus dengue juga akan turun.
Sebagian besar antigen secara teori seharusnya ada pada sel darah namun
pada pengujian NS1 digunakan sampel serum atau plasma karena NS1
merupakan glikoprotein yang terekskresi 48 k Dalton yang tidak ada pada
partikel virus yang terinfeksi tetapi terakumulasi di dalam membrane plasma
selama proses infeksi dengue. NS1 sendiri merupakan antigen nonstructural dari
virus dengue yang terakumulasi pada serum dan plasma selama infeksi dengue
berlangsung.
Pada praktikum kali ini dilakukan pengujian kualitatif NS1 dengan
menggunakan pengujian immunokromatografi rapid test dengan strip test SD
BIOLINE Dengue NS1 Ag rapid test. SD BIOLINE Dengue NS1 Ag rapid test
adalah immunokromatografi in vitro, salah satu uji yang dirancang untuk
penentuan kualitatif virus dengue antigen NS1 dalam serum, plasma, atau whole
blood manusia untuk diagnosis awal infeksi demam berdarah akut. Perangkat test
ini berisi strip membrane, yang sudah dilapisi dengan lapisan antibody spesifik
terhadap NS1 pada daerah uji pita. Lapisan antibody ini akan mendeteksi dan
mengikat antigen NS1 yang ada pada sampel. Sampel yang berupa serum atau
plasma akan bergerak sepanjang membrane chromatographically (secara
kapilaris) kedaerah tes (T) dan control (C) membentuk garis merah sebagai
indicator terbentuknya ikatan antibody-antigen partikel emas membentuk
kompleks (tanda positif).
Dengan prinsip, SD BIOLINE Dengue NS1 Ag menghasilkan perangkat
tes jendela yang memiliki 2 jalur pra-dilapisi, “T” (garis test) dan “C” (garis
control) kedua garis uji dan garis control dalam hasil jendela tidak terlihat
sebelum ditambahkan sampel. Garis control digunakan untuk control procedural
dan harus selalu muncul jika prosedur tes dilakukan dengan benar. Dengue NS1
Ag dapat mengidentifikasi virus dengue NS1 antigen dalam serum, plasma atau
seluruh specimen darah dengan tingkat tinggi sensitivitas dan spesifisitas.
Pada praktikum pemeriksaan NS1 digunakan sampel serum inisial MR F,
sebelum melakukan praktikum mula-mula dipastikan tanggal kadaluwarsa dari
strip test, bila reagen telah kadaluarsa maka tidak dapat digunakan sebab
sensivitas reagen telah berkurang sehingga ditakutkan adanya positif maupun
negative palsu. pada strip test yang digunakan memiliki tanggal kadaluwarsa
tahun 2019, sehingga aman digunakan. Kemudian barulah strip test dikeluarkan
dan sampel ditambahkan sebanyak 2 tetes pada sumur sampel stript test
menggunakan pipet tetes disposable. Uantuk sampel yang berbeda maka
digunakan pipet tetes disposable yang berbeda pula untuk menghindari
keracunan hasil uji, lalu hasil dibaca setelah 15 menit dan tidak boleh lebih dari
20 menit sebab dapat memberi hasil positif palsu. berdasarkan hasil uji pada
sampel serum inisial MR F diperoleh hasil negative yang ditandai dengan
munculnya garis berwarna merah pada area control (C) saja tidak ada garis
merah pada area test (T) yang menunjukan tidak adanya ikatan antige NS1 dan
antibody pada membrane.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan NS1 Ag yaitu :
1. Antikoagulan (EDTA, Heparin, citrate) tidak mempengaruhi hasil test
2. Digunakan pipet tetes dan tip mikropipet dispossible yang berbeda
untuk setiap sampel untuk menghindari kontaminasu silang.
3. Sampel yang ikterik, hemolysis dapat memberikan hasil uji yang tidak
sesuai
4. Sampel serum dan strip uji harus pada kondisi suhu ruang sebelum
digunakan untuk pengujian
5. Sampel yang mengandung rhemathoid factor dapat memberi hasil
positif palsu
6. Sampel dibaca tidak boleh lebih atau kurang dari 15-20 menit. Jika
dibaca kurang dari 15 menit dapat menyebabkan hasil negative palsu
dan apabila dibaca lebih dari 20 menit maka akan dapat menyebabkan
hasil positif palsu.
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan
bahwa sampel yang digunakan pada saat pemeriksaan didapat hasil negative
yang ditandai dengan terbentuknya 1 garis merah pada area control (C)
sedangkan pada area test (T) tidak terbentuk garis merah.

B. Saran
Sebagai seorang laboran saya menyarankan bahwa pada saat pemeriksaan
NS1 sampel yang digunakan tidak boleh ikterik dan hemolysis karena karena
dapat memberikan hasil uji yang tidak sesuai, dan usahakan gunakan pipet
kapiler yang berbeda untuk setiap sampel untuk menghindari kontaminasi silang.
DAFTAR PUSTAKA

Dussart P, Labeau B, Lagathu G . Evaluation of an enzyme immunoassay for


detection of dengue virus NS1 antigen in human serum. Clin Vaccine
Immunol 2006;13:1185–9.

World Health Organization . Dengue haemorrhagic fever : Diagnosis, treatment,


prevention and control. Edisi ke-2. Geneva:WHO;1997.h.1-84.

Nimmannitya S. Dengue haemorrhagic fever: A scourge of South-East Asian Region.


Global innovation to fight dengue. 2nd International Conference on Dengue
and Dengue Haemorrhagic Fever. Phuket: Thailand;2008.h.22.

Suroso T, Umar AI. Epidemiologi dan penenggulangan penyakit demam berdarah


dengue (DBD) di Indonesia. Dalam: Hadinegoro SR, Satari HI,
penyunting. Tata laksana kasus DBD. Naskah lengkap pelatihan bagi
dokter spesialis anak dan dokter spesialis penyakit dalam. Jakarta : Balai
Penerbit FKUI; 2004.h.14-31.

Suwandono A, Kosasish H, Nurhayati. Four dengue virus serotypes found circulating


during an outbreak of dengue fever ang dengue haemorrhagic fever in
Jakarta, Indonesia, during 2004. Trans R Soc Trop Med 2006;100:855-62.
LAPORAN LENGKAP IMUN SEROLOGI II (P)
Pemeriksaan Antigen Non Struktural 1(NS1) Untuk

Deteksi Dini Infeksi Virus Dengue

Di susun oleh :

Nama : Didin Muhammad Hasyir

Nim : 15 3145 453 006

Kelas : 15 A

Kelompok : 1 (satu)

PROGRAM STUDI DIII ANALIS KESEHATAN


STIkes MEGA REZKY
MAKASSAR
2017
LAMPIRAN

Gambar pemeriksaan virus dengue menggunakan metode NS1.