Anda di halaman 1dari 6

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Remaja adalah masa peralihan antara tahap anak dan dewasa yang jangka

waktunya berbeda-beda tergantung faktor sosial dan budaya. Cirinya adalah alat

reproduksi mulai berfungsi, libido mulai muncul, intelegensi mencapai puncak

perkembangannya, emosi sangat labil, kesetiakawanan yang kuat terhadap teman

sebaya dan belum menikah. Kondisi yang belum menikah menyebabkan remaja

secara sosial budaya termasuk agama dianggap belum berhak atas informasi dan

edukasi apalagi pelayanan medis untuk kesehatan reproduksi. Dengan masuknya

remaja ke dalam dunia hubungan sosial yang luas maka mereka tidak saja harus

mulai adaptasi dengan norma perilaku sosial tetapi juga sekaligus dihadapkan dengan

munculnya perasaan dan keinginan seksual (Hartono, 2008).

Dengan terbukanya arus komunikasi dan informasi serta munculnya dorongan

seksual maka remaja juga dihadapkan pada hal-hal yang mendorong

keingintahuannya akan pengalaman seksual. Perubahan-perubahan kondisi sosial

yang diperkirakan berdampak pada prilaku seksual dikalangan remaja meliputi

adanya percepatan arus urbanisasi, masa awal pubertas yang lebih cepat dan

melintasi batas-batas budaya. Perubahan sosial tersebut menyebabkan semakin

banyaknya remaja yang melakukan hubungan seks pranikah pada usia dini (WHO,

2003).

Perilaku seksual yang tidak sehat di kalangan remaja khususnya remaja yang

belum menikah cenderung meningkat. Hal ini terbukti dari beberapa hasil penelitian

1
2

bahwa yang menunjukkan usia remaja ketika pertama kali mengadakan hubungan

seksual aktif bervariasi antara usia 14-23 tahun dan usia terbanyak adalah antara 17-

18 tahun (Fuad, et al. 2003).

Menurut World Health Organization (WHO) setengah dari infeksi Human

Immunodeficiency Virus (HIV) di seluruh dunia terjadi pada orang muda yang

berusia di bawah 25 tahun. Di seluruh dunia anak-anak remaja baik laki-laki maupun

perempuan mengalami berbagai masalah kesehatan reproduksi seperti kehamilan

yang tidak diinginkan, Penyakit Menular Seksual (PMS) termasuk HIV/AIDS dan

masalah kesehatan reproduksi serius lainnya. Survey di 24 negara di Amerika dan

Eropa menunjukkan bahwa perilaku seks bebas remaja sudah dimulai sejak usia 15

tahun. Survey yang dilakukan Service Medical du Rectorat de Toulouse kepada

33.943 remaja tersebut menunjukkan, sebanyak 13,2% remaja yang berperilaku seks

aktif sejak usia 15 tahun tersebut tidak menggunakan alat kontrasepsi, sedangkan 825

lainnya menggunakan alat kontrasepsi (WHO, 2009).

Hasil penelitian pada 1038 remaja berumur 13-17 tahun tentang hubungan

seksual menunjukkan 16% remaja menyatakan setuju dengan hubungan seksual,

43% menyatakan tidak setuju dengan hubungan seksual, dan 41% menyatakan boleh-

boleh saja melakukan hubungan seksual (Planned Parenthood Federation of

America Inc, 2004).

Berdasarkan needs assessment yang dilakukan diperoleh data mengenai sumber

informasi remaja tentang kesehatan reproduksi tergambar 23,29% dari teman,

36,40% memperoleh informasi dari media cetak dan elektronik, 15,85% dari guru,

13,31% dari orang tua, 7,63% dari saudara dan 3,52% dari lembaga/instansi.

2
3

Frekuensi melakukan hubungan seks tampak variatif, 53,85% dilakukan sebulan 1

kali atau 2 kali, 20,51% pernah melakukan 1 kali, seminggu 1 kali atau 2 kali

17,95%, hampir setiap hari 7,69%.

Data Depkes RI (2009), menunjukkan jumlah remaja umur 10-19 tahun di

Indonesia sekitar 43 juta (19,61%) dari jumlah penduduk. Sekitar satu juta remaja

pria (5%) dan 200 ribu remaja wanita (1%) secara terbuka menyatakan bahwa

mereka pernah melakukan hubungan seksual. Penelitian yang dilakukan oleh

berbagai institusi di Indonesia selama kurun waktu tahun 1993-2002, menemukan

bahwa 5-10% wanita dan 18-38% pria muda berusia 16-24 tahun telah melakukan

hubungan seksual pranikah dengan pasangan yang seusia mereka 3-5 kali

(Suryoputro, et al. 2002).

Di kota Palembang sendiri jumlah remaja usia 10-14 tahun sebanyak 185.010

jiwa, jumlah remaja usia 15-19 tahun sebanyak 189.993 jiwa, dan jumlah remaja

usia 19-24 tahun 148.824 jiwa (BPS Palembang, 2009).

Centra Remaja Sriwijaya (CreSy) dan Perkumpulan Keluarga Berencana

Indonesia (PKBI) Sumatera Selatan, pada tahun 2005 mengadakan needs assessment

terhadap remaja-remaja Kota Palembang, tentang perilaku remaja yang berkaitan

dengan kesehatan reproduksi, dari hasil needs assessment tersebut diperoleh

gambaran bahwa pengetahuan remaja tentang kematangan seksual cukup tinggi yaitu

72,92 %. Seorang remaja mengetahui bahwa seorang perempuan dikatakan matang

pada saat mulai haid 38,78 % sedangkan remaja yang mengetahui bahwa laki-laki

dikatakan matang secara seksual pada saat mengalami mimpi basah sebanyak 34,14

3
4

% dan 7,41 % remaja yang tidak tahu. Remaja yang menyatakan kematangan

seksual seseorang adalah pernah melakukan hubungan seks sebanyak 9,28 %.

Globalisasi informasi melalui media telah menyebabkan perubahan perilaku

seksual remaja dan pemuda pada umumnya. Eksploitasi seksual dalam televisi,

majalah, video klip, media online dan film-film banyak mempengaruhi kaum muda

melakukan aktivitas seks secara bebas. Pengumbaran adegan seks melalui tayangan

media tersebut mendorong para remaja/pemuda menganggap kegiatan seks bebas

dilakukan oleh siapapun dan dimanapun tanpa memandang sisi etika. Remaja dan

pemuda zaman sekarang rentan melakukan seks bebas akibat perkembangan

teknologi informasi yang menyebar secara bebas (Yanti, 2010).

Penetrasi media terhadap perubahan perilaku seksual remaja dan pemuda

akibat tidak dibarengi oleh pendidikan seks yang memadai di rumah oleh orang tua.

Akibatnya media menjadi tempat bagi anak-anak remaja untuk memahami seks yang

distortif. Media online dan film utamanya, melakukan distorsi informasi seks sebagai

kegiatan menyenangkan dan bebas dari resiko seperti resiko tertular penyakit

kelamin (Yanti, 2010).

Selain pendidikan seks di sekolah, peran orangtua juga penting sebagai agen

sosialisasi pendidikan seks di dalam keluarga. Sebelum anak-anak mendapatkan

informasi tentang seksual melalui media massa dan saluran media online yang

cenderung distorsif, maka semestinya pihak keluargalah yang pertama melakukan

sosialisasi pendidikan seksual dengan cara-cara yang tepat (Muzayyanah, 2008).

4
5

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian tersebut maka rumusan permasalahan penelitian ini adalah

untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan perilaku

seksual remaja di MAN 2 Palembang Tahun 2012.

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku

seksual remaja di MAN 2 Palembang Tahun 2012.

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Diketahuinya hubungan antara lingkungan sosial dengan perilaku

seksual remaja di MAN 2 Palembang Tahun 2012.

b. Diketahuinya hubungan antara pengetahuan dengan perilaku seksual

remaja di MAN 2 Palembang Tahun 2012.

c. Diketahuinya hubungan antara media massa elektronik dengan perilaku

seksual remaja di MAN 2 Palembang Tahun 2012.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Peneliti

Untuk lebih memperdalam dan memperluas pengetahuan peneliti tentang

perilaku seks pada remaja dan sebagai salah satu syarat menyelesaikan

pendidikan akhir program D III Kebidanan.

5
6

1.4.2 Bagi Pendidikan

Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan referensi

(kepustakaan) dan dapat digunakan sebagai bahan dalam proses belajar di

Akademi Kebidanan Budi Mulia Palembang.

1.4.3 Bagi Remaja

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang faktor

yang mempengaruhi perilaku seks pranikah pada remaja MAN 2 Palembang.

1.5 Ruang Lingkup

Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada faktor-faktor yang berhubungan

dengan perilaku seksual remaja dari faktor lingkungan sosial, pengetahuan dan media

massa elektronik. Penelitian ini akan dilakukan di di MAN 2 Palembang Tahun 2012

dan akan dilaksanakan pada bulan Maret-April Tahun 2012. Jenis penelitian ini

adalah observasional menggunakan data sekunder dengan pendekatan potong lintang

(cross sectional).

Beri Nilai