Anda di halaman 1dari 10

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Industri pertambangan sangat bergantung kepada kegiatan eksplorasi
yang berhasil. Kegiatan eksplorasi merupakan suatu proses yang berlangsung
lama, kompleks dan melibatkan pengumpulan serta penkajian data yang tidak
selalu berujung (bahkan sebagian besar gagal berujung) pada penemuan dan
pengembangan suatu cebakan mineral menjadi kegiatan tambang.
Kegiatan eksplorasi pertama kali dilakukan setelah ditemukannya intan
pada tahun 1871 di Kimberley, Afrika Selatan. Selanjutnya, pada tahun 1872
terdapat 3600 perusahaan yang melakukan klaim areal eksplorasi. Lalu pada
tahun 1875 hanya didapatkan 98 klaim yang memiliki prospek. Hingga akhirnya
pada tahun 1889 hanya terbukti dua klaim yang bernilai ekonomis untuk
dikembangkan menjadi tambang.
Dalam kegiatan eksplorasi ini terbagi mejadi dua metode yaitu metode
secara langsung dan secara tidak langsung. Dalam eksplorasi langsung dilakukan
melalui kontak visual dan fisik secara langsung dengan kondisi permukaan atau
bawah permukaan pada daerah target yang diidentifikasikan mengandung
endapan yang dicari. Salah satu cara yang dapat dilakukan dalam kegiatan
eksplorasi langsung ini ialah metode pengeboran.

1.2 Maksud dan Tujuan


1.2.1 Maksud
Maksud dari praktikum ini adalah agar praktikan dapat mengetahui dan
memahami mengenai kegiatan eksplorasi dengan cara teknik pengeboran.
1.2.2 Tujuan
1. Dapat mengetahui definisi eksplorasi langsung.
2. Dapat mengetahui definisi pengeboran.
3. Dapat mengetahui penentuan arah kegiatan pengeboran.
4. Dapat mengetahui penentuan pola kegiatan pengeboran.
5. Dapat mengetahui data yang didapat dari pengeboran.

1
2

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Eksplorasi Langsung


Eksplorasi langsung merupakan suatu metode pencarian endapan bahan
galian yang dikerjakan dengan cara berhubungan langsung dengan objek bahan
galian yang dicari yang selanjutnya dapat dihasilkan gambaran dari suatu
pemetaan bahan galian.
Pemetaan bahan galian adalah salah satu tahapan dalam kegiatan
eksplorasi yang dilakukan dipermukaan dengan melakukan proses pengamatan
dan pengukuran data geologi, pencatatan, pengeplotan dan sampling dari
sejumlah singkapan yang ditemukan dilapangan (biasanya didaerah sungai). Data
geologi yang telah diperoleh tersebut selanjutnya diolah, dianalisa dan
diinterpretasikan kemudian dibuat menjadi suatu peta geologi sesuai dengan
perutukan dan tingkat ketelitian yang diperlukan. Hingga pada akhirnya dapat
diketahui gambaran umum mengenai sebaran bahan galian secara lateran lateral
dan vertikal serta dapat diketahui bentuk dari bijih atau endapan bahan galian
tersebut. Dalam pengambilan data di lapangan dapat dilakukan dengan beberapa
metode seperti penjejakan, paritan, sumur uji, pemboran dan adit test.

Sumber : Anonim, 2010


Gambar 2.1
Deskripsi Singkapan
Peningkatan tahapan eksplorasi menuntut tingkat ketelitian dan tingkat
keyakinan yang lebih besar. Hal ini tercermin dari jarak titik data yang semakin
rapat dan skala peta yang digunakan semakin besar. Pada kegiatan eksplorasi
langsung, pemetaan singkapan dan penjejakan kadang hanya bisa memenuhi

2
3

kecukupan data sampai tahapan eksplorasi umum, sedangkan untuk tahapan


selanjutnya memerlukan tambahan data dengan cara lain. Salah satu cara adalah
dengan pembuatan sumur uji (test pit) dan paritan (trenching).

2.2 Pemboran Eksplorasi


Pemboran eksplorasi adalah prosedur dimana beberapa lubang tes di bor
untuk mengevaluasi kandungan tanah dan batuan di daerah tertentu. Evaluasi
yang dilakukan adalah untuk memastikan kehadiran dan menilai kualitas
kandungan bahan galian dalam tanah dan batuan. Disamping itu, pemboran
eksplorasi juga memberikan informasi yang akurat mengenai dimensi vertikal dan
urutan strata batuan.

Sumber : Dani, 2008


Gambar 2.1
Kegiatan Operasi Pengeboran
Keputusan untuk melakukan pemboran merupakan salah satu keputusan
yang penting dalam kegiatan eksplorasi, karena pemboran memerlukan biaya,
waktu dan sumber daya yang relatif besar. Untuk itu, pemboran eksplorasi
dilakukan setelah kehadiran bahan galian berhasil diidentifikasi atau dikonfirmasi
melalui berbagai metode eksplorasi yang telah dilakukan sebelumnya.

2.3 Tahapan Pemboran Eksplorasi


Sebelum kegiatan pemboran dimulai, diperlukan suatu perencanaan
pemboran yang meliputi penentuan pola pemboran (sebaran titik-titik bor), spasi
pemboran, waktu pemboran, tipe pemboran yang akan digunakan dan pelaksana
(kontraktor) pemboran. Perencaan pemboran dibuat dengan memperhatikan
kondisi geologi dan topografi dilokasi pemboran.

3
4

Pada tahap awal kegiatan pemboran, beberapa titik dibor tanpa pengintian
(open hole) atau dengan pengintian (coring) yang mencakup wilayah yang relatif
luas untuk mengkonfirmasi lebih jelas kehadiran bahan galian. Selanjutnya
pemboran dilakukan pada jarak yang lebih rapat dengan wilayah yang lebih
sempit, sesuai dengan kemajuan tahapan eksplorasi, untuk mendapatkan, bentuk,
sebaran dan kualitas tubuh bijih, serta untuk mengidentifikasi struktur geologi dan
karakteristik bijih dan batuan samping.
Metode pemboran dapat dikelompokan berdasarkan mekanisme
pemboran, sirkulasi fluida bordan jenis fluida bor. Mata bor yang sering digunakan
terdiri atas blade bit dan chisel bit. Sedangkan fluida bor yang digunakan untuk
pendingin mata bor, pelumas, mengangkat sludge dan melindungi dinding bor dari
runtuhan dalam suatu operasi pemboran dapat berupa udara air dan lumpur.
Arah pemboran tergantung pada asumsi letak dan ketebalan target yang
akan di bor berdasarkan informasi atau data permukaan yang diperoleh. Pada
zona mineralisasi yang berbentuk endapan hamburan (disseminated) atau zona
mineralisasi yang diperkirakan memiliki kedalam dangkal yang biasanya dibuat
lubang bor vertikal, sedangkan untuk endapan yang mempunyai kemiringan yang
besar biasanya dibuat lubang bor miring dengan tujuan agar dapat menembus
tegak lurus pada zona mineralisasi.
Pola pemboran yang digunakan tergantung pada akses permukaan. Pada
daerah yang tidak mengalami kendala akses, pola pemboran yang digunakan
dibuat dengan grid yang teratur pada zona mineralisasi. Lubang bor pertama
digunakan untuk proyeksi dip dari anomali bawah permukaan atau interpretasi
pusat anomali geofisika atau geokimia dibawah permukaan.
Spasi lubang bor didasarkan pada antisipasi ukuran target atau
pengarahan sebelumnya terhadap endapan yang sejenis dan dari sejumlah
kegiatan pemboran dilokasi tersebut. Lokasi pemboran dan orientasi titik bor
selanjutnya didasarkan pada sukses pemboran pada lubang pertama. Jika
pemboran pada lubang pertama tidak memberikan keyakinan geologi yang pasti
maka daerah target lain perlu dicoba.
Spasi antar lubang tergantung pada kompleksitas genesa tubuh bijih yang
akan berpengaruh pada sebaran zona dan tipe mineralisasi yang terbentuk.
Umumnya, semakin kompleks proses pembentukan tubuh bijih, maka spasi lubang
bor yang diperlukan akan semakin rapat. Contoh kasus seperti endapan urat

4
5

(vein), lubang bor pertama digunakan untuk mengidentifikasi struktur dan tidak
banyak digunakan untuk penentuan kadar karena hal tersebut biasanya ditaksir
secara akurat dengan sampel bawah permukaan. Spasi lubang bor untuk endapan
urat adalah 25 m – 50 m, sedangkan untuk endapan stratiform 100 m – beberapa
ratus meter.

Sumber : Anonim, 2011


Gambar 2.2
Hasil Pengeboran
Data geologi dan mineralisasi yang diperoleh dari cutting, inti atau logging
geofisika pada setiap titik bor direkam dan diplot pada grafik log sesegera mungkin
setelah data diperoleh. Dengan demikian, setiap titik bor akan memiliki satu
penampang lubang bor. Semua penampang lubang bor kemudian bisa
dikorelasikan membentuk fence diagram. Selain itu, bentuk penyajian data lain
pemboran antara lain adalah peta kontur struktur, peta isopach, kontur kadar, peta
ketebalan dan peta kombinasi antara kadar dan ketebalan. Semua bentuk
penyajan data tersebut digunakan untuk perencanaan tambang dan perhitungan
cadangan. Keputusan untuk mengakhiri kegiatan pemboran diambil jika :
1. Tidak dijumpai adanya konsentrasi bahan galian.
2. Konsentrasi bahan galian dapat dilokalisasi tetapi tidak ekonomis atau
terlalu dalam.
3. Pemboran yang dilakukan menghasilkan beberapa zona konsentrasi
bahan galian yang ekonomis tetapi penyebaran kadarnya terbatas atau
perhitungan cadangan menunjukan bahwa endapan tersebut terlalu kecil
dibandingkan yang diinginkan.
4. Tubuh kadar yang ekonomis sudah diketahui pasti.
5. Biaya pemboran sudah habis.

5
6

Sumber : M. Dahlan, 2015


Gambar 2.3
Lay out Pemboran Berdasarkan Anomali Permukaan
Berdasarkan Lay out diatas dapat diketahui :
1. Asumsi interpretasi data awal tubuh bijih miring ke arah selatan.
2. Titik bor 1 dan 2 untuk membuktikan zona mineralisasi pada pusat
anomali.
3. Titik bor 3 untuk memastikan kemenerusan ke arah dip.
4. Titik bor 4 dan 5 untuk melihat kemenerusan seara jurus pemboran pada
titik bor 1 dan 2.
5. Titik bor 6 dan 7 untuk melihat kemenerusan searah jurus pemboran pada
titik 1 dan 2.
6. Titik bor 8 dan 9 melihat kemenerusan titik bor selanjutnya.

6
7

BAB III
KESIMPULAN

Dari hasil pembuatan laporan awal ini dapat disimpulkan bahwa :


1. Eksplorasi langsung merupakan suatu metode pencarian endapan bahan
galian yang dikerjakan dengan cara berhubungan langsung dengan objek
bahan galian yang dicari yang selanjutnya dapat dihasilkan gambaran dari
suatu pemetaan bahan galian. Pemetaan bahan galian adalah salah satu
tahapan dalam kegiatan eksplorasi yang dilakukan dipermukaan dengan
melakukan proses pengamatan dan pengukuran data geologi, pencatatan,
pengeplotan dan sampling dari sejumlah singkapan yang ditemukan
dilapangan (biasanya didaerah sungai).
2. Pemboran eksplorasi adalah prosedur dimana beberapa lubang tes di bor
untuk mengevaluasi kandungan tanah dan batuan di daerah tertentu.
Evaluasi yang dilakukan adalah untuk memastikan kehadiran dan menilai
kualitas kandungan bahan galian dalam tanah dan batuan. Disamping itu,
pemboran eksplorasi juga memberikan informasi yang akurat mengenai
dimensi vertikal dan urutan strata batuan.
3. Arah pemboran tergantung pada asumsi letak dan ketebalan target yang
akan di bor berdasarkan informasi atau data permukaan yang diperoleh.
Pada zona mineralisasi yang berbentuk endapan hamburan
(disseminated) atau zona mineralisasi yang diperkirakan memiliki kedalam
dangkal yang biasanya dibuat lubang bor vertikal, sedangkan untuk
endapan yang mempunyai kemiringan yang besar biasanya dibuat lubang
bor miring dengan tujuan agar dapat menembus tegak lurus pada zona
mineralisasi.
4. Pola pemboran yang digunakan tergantung pada akses permukaan. Pada
daerah yang tidak mengalami kendala akses, pola pemboran yang
digunakan dibuat dengan grid yang teratur pada zona mineralisasi. Lubang
bor pertama digunakan untuk proyeksi dip dari anomali bawah permukaan
atau interpretasi pusat anomali geofisika atau geokimia dibawah
permukaan.

7
8

5. Data geologi dan mineralisasi yang diperoleh dari cutting, inti atau logging
geofisika pada setiap titik bor direkam dan diplot pada grafik log sesegera
mungkin setelah data diperoleh. Dengan demikian, setiap titik bor akan
memiliki satu penampang lubang bor. Semua penampang lubang bor
kemudian bisa dikorelasikan membentuk fence diagram. Selain itu, bentuk
penyajian data lain pemboran antara lain adalah peta kontur struktur, peta
isopach, kontur kadar, peta ketebalan dan peta kombinasi antara kadar dan
ketebalan. Semua bentuk penyajan data tersebut digunakan untuk
perencanaan tambang dan perhitungan cadangan.

8
9

DAFTAR PUSTAKA

1. Erfan, 2011 “ Bentuk Lahan Dipermukaan Bumi”, https://erfan1977.wordpr


Ess.com. Diakses tanggal 15 April 2018. Pukul 18.00 WIB.

2. M. Dahlan, 2014 “Geologi Untuk Pertambangan Umum”, Penerbit: Graha


Ilmu. Dibaca pada tanggal 15 April 2018. Pukul 16.00 WIB.

3. Rozali, 2014. “Pemetaan Geologi/Alterasi”, http://geonviron.blogspot.com


Diakses pada tanggal 15 April 2018. Pukul 09.00 WIB.

9
10

LAMPIRAN
TUGAS PENDAHULUAN
(Studi Kasus Kegiatan Pengeboran,
Tata Cara Deskripsi Core Box dan
Penentuan Titik Pengeboran)

10