Anda di halaman 1dari 14

BAB II

PEMBAHASAN

LANDASAN HUKUM PENGEMBANGAN DESA SIAGA

1. Undang Undang Dasar tahun 1945, pasal 28 H ayat 1


2. Undang Undang nomor 4 tahun 1984 Tentang wabah penyakit menular
3. Undang Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan
4. Undang Undang Nomor 23 tahun 2003 tentang perlindungan anak
5. Undang Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah
6. Undang Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Pembangunan Keuangan antara Pusat
dan pemerintah Daerah
7. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 574/Menkes/SK/V/2000 Tentang Pembangunan
Kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010
8. KEPMENDAGRI No.9 tahun 2001 tentang Kader Pemberdayaan masyarakat

PENGERTIAN DESA SIAGA

Desa Siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan
serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan secara mandiri dalam
rangka mewujudkan Desa Sehat.

Desa yang dimaksud disini dapat berarti kelurahan atau Nagari atau istilah-istilah lain bagi
kesatuan masyarakat hokum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur
dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat
setempat yang diakui dan dihormati dalam system Pemerintahan Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

Desa Siaga dapat dikatakan merekonstruksi atau membangun kembali berbagai upaya kesehatan
bersumberdaya masyarakat (UKBM). Pengembangan Desa Siaga juga merupakan revitalisasi
Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD) sebagai pendekatan edukatif yang perlu
dihidupkan kembali, dipertahankan dan ditingkatkan.

Pengembangan Desa Siaga sebenernya merupakan gerakan untuk merajut berbagai UKBM dan
membangun kembali kegotong royongan kesehatan yang ada di desa, serta membangun jejaring
(networking) berbagai UKBM yang ada di desa. Desa Siaga juga dapat merupakan
pengembangan dari konsep Siap-Antar-Jaga, sehingga Desa Siap-Antar-Jaga diharapkan pada
gilirannya juga akan menjadi Desa Siaga, dan selanjutnya Desa Sehat. Desa Siap-Antar-Jaga
dapat dilengkapi komponen-komponennya untuk menjadi Desa Siaga. Yaitu dengan
dikembangkannya pelayanan kesehatan dasar dan UKBM, dikembangkannya Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat (PHBS) di kalangan masyarakat, diciptakannya kesiap-siagaan masyarakat
dalam safe community system, dikembangkannya surveilans kesehatan berbasis masyarakat,
serta diciptakannya system pembiayaan kesehatan yang berbasis masyarakat.

TUJUAN DESA SIAGA

1. Tujuan Umum
Terwujudnya masyarakat desa yang sehat, peduli dan tanggap terhadap permasalahan
kesehatan di wilayahnya.
2. Tujuan Khusus
a. Meningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya
kesehatan.
b. Meningkatnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat desa adanya resiko
dan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan pada kesehatan (bencana, wabah
penyakit, kegawatdaruratan dan sebagainya).
c. Meningkatnya keluarga yang sadar gizi dan melaksanakan perilaku hidup bersih
dan sehat.
d. Meningkatnya kemandirian masyarakat desa dalam pembiayaan kesehatan.
e. Meningkatnya dukungan dan peran aktif para pengampu (stakeholders) dalam
mewujudkan kesehatan masyarakat desa.
f. Meningkatnya kemampuan dan kemauan masyarakat desa untuk menolong
dirinya di bidang kesehatan.

SASARAN PENGEMBANGAN DESA SIAGA

Untuk mempermudah strategi intervensi, sasaran pengembangan Desa Siaga dibedakan menjadi :

1. Semua individu dan keluarga di desa, yang diharapkan mampu melaksanakan hidup
sehat, serta peduli dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayah desanya.
2. Pihak-pihak yang mempunyai pengaruh terhadap perubahan perilaku individu dan
keluarga atau dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi perubahan perilaku tersebut,
seperti tokoh masyarakat, termasuk tokoh agama; tokoh perempuan dan pemuda; kader
desa; serta petugas kesehatan.
3. Pihak-pihak yang diharapkan memberikan dukungan kebijakan, peraturan perundang-
undangan, dana, tenaga, sarana, dan lain-lain, seperti Kepala Desa, Camat, para pejabat
terkait, swasta, para donator, dan stakeholders lainnya.

TITIK AWAL PENGEMBANGAN DESA SIAGA

Pengembangan Desa siaga dilakukan dengan memperhatikan dan mempertimbangkan keadaan desa
yang akan dikembangkan. Desa-desa yang pernah dikembangkan dengan pendekatan-pendekatan
tertentu (misalnya Siap-Antar-Jaga atau pengembangan UKBM seperti Posyandu atau pengembangan
Usaha Kecil dan Menengah) tinggal dikembangkan lebih lanjut menjadi Desa Siaga.

Pengembangan Desa Siaga juga dapat dimulai dengan merevitalisasi UKBM yang telah ada (misalnya
merevitalisasi Posyandu), untuk mewujudkan pemerataan pelayanan kesehatan dasar kepada
masyarakat.

Dengan demikian, terdapat berbagai alternatif titik awal (starting point) untuk mengembangkan desa-
desa menjad Desa Siaga, misalnya:

1. Desa Siap Antar-Jaga.

2. Desa dengan Polindes.

3. Desa dengan Posyandu.

4. Desa Binaan Program-program Kesehatan lainnya.

5. Desa Binaan Sektor-sektor Non-Kesehatan.

KRITERIA DESA SIAGA

Kriteria dari Desa Siaga adalah sebagai berikut :

1. Memiliki saranpelayanan kesehatan dasar (bagi yang tidak memiliki akses ke Puskesmas/Pustu,
dikembangkan Pos Kesehatan Desa).

2. Memiliki berbagai UKBM sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (misalnya Posyandu,
Pos/Warung Obat Desa dan lain-lain).

3. Memiliki sistem pembiayaan kesehatan berbasis masyarakat.

4. Memiliki sistem pengamatan (surveilans) penyakit dan faktor-faktor resiko yang berbasis
masyarakat.
5. Memiliki sistem kesiapsiagaan dan penanggulangan kegawatdaruratan dan bencana berbasis
masyarakat.

6. Masyarakanya berprilaku hidup bersih dan sehat.

Berkaitan dengan kriteria tersebut diatas, maka ada tiga tingkatan Desa Siaga, yaitu:

1. Desa Siaga Pratama, yaitu desa yang telah memenuhi kriteria 1,2 san 3, serta sedang dalam
upaya untuk mencapai kriteria 4,5,dan 6.

2. Desa siaga Madya, yaitu desa yang telah memenuhi kriteria 1,2,3,dan 4 atau 5, serta sedang
dalam upaya untuk mencapai kriteria 4 atau 5 dan 6.

3. Desa Siaga Mandiri, yaitu desa yang telah memenuhi seluruh kriteria (1 s/d 6)

Dalam Desa Siaga dibentuk beberapa jenis UKBM yang merupakan pemberdayaan masyarakat yang
dikelola oleh, dari, untuk dan bersama masyarakat dengan bimbingan dari petugas Puskesmas, lintas
sektor seperti : (Posyandu terpadu, pos yandu lansia, pondok bersalin Desa (polindes), Pos Obat Desa
(POD) atau Warung Obat Desa (WOD), Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren), Saka Bakti Husada (SBH),
Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK), Kelompok Masyarakat Pemakai Air (POKMAIR).

SURVAILENS BERBASIS MASYARAKAT

Pengertian

Survailans adalah pemantauan yang dilakukan masyarakat terhadap masalah kesehatan, gizi dan
kesehatan lingkungan yang mempengaruhi atau menyebabkan masalah kesehatan dimasyarakat
selanjutnya dilaporkan kepada petugas kesehatan atau unit yang bertanggung jawab untuk pengambilan
tindakan penanggulangan.

Tujuan

a. Tujuan Umum

Terselenggaranya surveilans penyakit dan faktor resiko yang berbasis masyarakat sebagai
kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan terjadinya masalah kesehatan.

b. Tujuan Khusus

 Masyarakat mengetahui tanda-tanda masalah kesehatan dan faktor resiko secara dini

 Masyarakat melaporkan tanda-tanda masalah kesehatan dan faktor resiko secara dini

 Masyarakat mengetahui masalah gizi dan cara penanggulangannya

 Masyarakat mengetahui gambaran perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada
masyarakat desa.

Kegiatan Dalam Survailans


Pelaksanaan kegiatan survailans berbasis masyarakat dilakukan melalui kegiatan sebagai berikut:

1. Sosialisasi kepda masyarakat

2. Advokasi kepada pengambilan kebijakan

3. Identifikasi kasus laporan dari masyarakat

4. Pengelolaan, analisis dan interprestasi data

5. Penyebaran informasi kedpada masyarakat dan unit terkait.

6. Rekomendasi dan penyalahgunaan alternatif tindak lanjut.

7. Tindak lanjut.

KESIGAPAN DAN PENANGGULANGAN KEGAWATDARURATAN DAN BENCANA

Pengertian

Kesiapsiagaan masyarakat adalah upaya yang dilakukan oleh masyarakat untuk mengantisipasi terjadinya
kegawatdaruratan sehari- hari maupun bencana, melalui lankah-langkah yang tepat guna dan berdaya
guna bagi masyarakat di desa.

Tujuan

Masyarakat mampu mengenali, mengurangi dan mencegah faktor-faktor yang dapat menimbulkan
masalah kesehatan dan kegawatdaruratan sehari-hari.

Kegiatan yang dapat dilaksanakan masyarakat adalah :

1. Mengenal kondisi lingkungan desa


2. Mengenal kondisi yang dapat menimbulkan masalah kesehatan
3. Melakukan kegiatan pencegahan dan promosi kesehatan
4. Meningkatkan kemampuan penanganan kegawatdaruratan
5. Melaporkan masalah kesehatan kepada petugas kesehatan

PEMBIAYAAN BERBASIS MASYARAKAT

Sumber dana yang dapat digunakan dalam pelaksanaan kesehatan berbasis masyarakat yatu
dana masyarakat yang bersifat aktif dan dana masyarakat yang bersifat pasif.
Dana masyarakat yang bersifat aktif adalah dana secara khusus digali atau dikumpulkan oleh
masyarakat yang digunakan untuk membiayai upaya kesehatan yang disebut dana sehat. Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat pada pembahasan dana sehat.

Dan masyarakat yang bersifat pasif adalah pemanfaatan dana yang sudah ada di mayarakat yang
digumakan untuk upaya kesehatan. Salah satu bentuk dana pasif adalah dana sosial keagamaan
seperti dana yang berasal dari infaq, zakat, shodaqoh, wasiat, hibah, waris, dana persembahan,
dana diakonia.

Sebagai ujut dari dari desa siaga di perkotaan dikenal dengan rukun warga (RW) siaga.
Selanjutnya dibahas tentang pelaksanaan RW siaga di provinsi DKI Jakarta.

B. RW SIAGA

Pengertian

RW siaga adalah RW yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta
kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan
kegawatdaruratan / kejadian luar biasa (KLB) secara mandiri.

Tujuan

1. Tujuan umum
Terwujudnya RW siaga disetiap kelurahan dengan masyarakat yang sehat, peduli dan
tanggap terhadap permasalahan kesehatan termasuk kejadian luar biasa (KLB) di
wilayahnya.
2. Tujuan khusus
a. Meningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat RW tentang pentingnya
kesehatan.
b. Meningkatnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan RW terhadap resiko dan bahaya yang
dapat menimbulkan gangguan kesehatan (bencana, wabah, kegawatdaruratan, dll).
c. Meningkatnya keluarga yang sadar gizi dan melaksanakan hidup bersih dan sehat.
d. Meningkatnya kesehatan lingkungan di RW.
e. Meningkatnya kemandirian masyarakat RW dan pembiayaan kesehatan.
f. Meningkatnya kemampuan dan kemauan msyarakat RW untuk menolong diri sendiri
di bidang kesehatan.
g. Meningkatnya dukungan dan peran aktif para pemangku kepentingan dalam
mewujudkan kesehatan masyarakat RW.

KONSEP OPERASIONAL RW SIAGA SEBAGAI DASAR KELURAHAN SEHAT

a. Setiap RW memiliki 1 (satu) buah pos (bisa pos RW) yang dapat dimanfaatkan untuk
pusat informasi kegiatan siaga di tingkat RW di kelurahan. Bisa diakaitkan dengan PIK
keluarga.
b. Memiliki satu orang tenaga kesehatan /bidan /perawat berperan mengelola kegiatan
promotif dan preventif serta mengkoordinir pengelolaan informasi.
c. Memiliki minimal 2 (dua) orang kader yang membantu kegiatan di pos RW sebagai RW
siaga.

KRITERIA RW SIAGA

1. Memiliki pelayanan kesehatan dasar di RW yang telah memiliki akses ke puskesmas/pustu,


dikembangkan pos kesehatan Desa atau Poskesdes

2. Memiliki berbagai UKBM sesuai kebutuhan masyarakat setempat (Posyandu,dll)

3. Memiliki sistem survailas (penyakit dan faktor-faktor resiko) berbasis masyarakat.

4. Memiliki sistem kesiapsiagaan penanggulangan kegawartdaruratan dan bencana berbasis


masyarakat

5. Memiliki sistem pembiataan kesehatan berbasis masyarakat

6. Memiliki lingkungan yang sehat

7. Masyarakatnya sadar gizi, berperilaku hidup bersih san sehat.

KEGIATAN RW SIAGA

1. Pos RW/PIK Keluarga sebagai tempat sarana informasi pemberdayaan dan peningkatan
kesejahtraan keluarga yang berada di tengah tengah masyarakat dan secara mudah dapat
dijangkau oleh keluarga keluarga yang membutuhkan, dalam operasionalnya dapat dilakukan
dengan kegiatan PIK Keluarga (Pusat Informasi dan Konsultasi Keluarga)

2. UKBM sebagai embrio RW Siaga berupa :

 Posyandu

 Donor darah siaga


 Transportai siaga

 GSI

3. Sistem surveilans penyakit dan faktor faktor resiko yang berbasis masyarakat, diharapkan dapat
mengetahui dan melaporkan tanda tanda penyakit, faktor resiko dan tanggap terhadap masalah
yang dihadapinya.

4. Sistem kesiapsiagaan dan penanggulangan kegawatdaruratan dan bencana berbasis masyarakat,


masyarakat diharapkan dapat mengenal kondisi lingkungan RW, kondisi yang dapat menimbulkan
masalah kesehatan meningkatkan kemampuan penanganan kegawatdaruratan dan mlaporkan
masalah masalah kesehatan kepada petugas kesehatan terkait

5. Sistem pembiayaan berbasis masyarakat. Setiap keluarga diharapkan sudah dapat


mempersiapkan dirinya terhadap ancaman penyakit, diharaokan setiap anggota keluarga sudah
mempunyai jaminan pelayanan keaehatan (JPKM), antara lain dapat berupa: kartu sehat, askes
dan asuransi swasra serta dana sehat.

6. Lingkungan sehat.

7. Kadarzi dan PHBS. (dibahas lebih jelas dalam pembahasan PHBS).

STRATA RW SIAGA

1. RW Siaga Pratama, bila memiliki kriteria yaitu:

a. Memiliki sarana Pos RW/PIK keluarga sebagai pusat informasi kegiatan siaga ditingkat
RW

b. Memiliki berbagai UKBM sesuai denan kebutuhan masyarakatsetempat (Posyandu,


donor darah, transportasi dan GSI)

c. Memiliki sistem.penamatan (surveilans) penyakit dan faktor-faktor resiko yang berbasis


masyarakat

2. RW Siaga Madya, bila telah memiliki 4 kriteria, yaitu :

a. Memiliki sarana Pos RW/PIK Keluarga sebagai pusat informasi kegiatan siaga di tingkat
RW

b. Memiliki berbagai UKBM sesuai denn kebutuhan masyarakat setempat (posyandu, donor
darah, transportasi, dan GSI)

c. Memiliki sistem.pengamatan (surveilans) penyakit dan faktor-faktor yang berbasis


masyarakat.

d. Memiliki sistemkesiapsiagaan penanggulangan kegawatdaruratab dan bencana berbasis


masyarakat.

3. RW Suga Purnama, bila telah memenuhi 5 kriteria yaitu :


a. Memiliki sarana Pos RW/PIK Keluarga sebagai pusat informasi keiatan siaga di tingkat RW

b. Memiliki berbai UKBM sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (Posyandu, donor
darah, transportasi dan GSI).

c. Memiliki sistem penmatan (surveilans) penyakit dan faktor-faktor resiko yang berbasis
masyarakat

d. Memiliki sistem kesiapsiagaan dan penanggulangan kegawatdaruratan dan bencana


berbasis masyarakat

e. Memiliki sistem pembiayaan kesehatan berbasis masyarakat

4. RW Siaga Mandiri, bila telah memenuhi 7 kriteria, yaitu:

a. Memiliki sarana Pos Rw/PIK Keluarga sebagai pusat informasi kegiatan siaga di tingkat RW
b. Memiliki berbagai UKBM sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (Posyandu, donor
darah, transportasi dan GSI).
c. Memiliki sistem pengamatan (surveilans) penyakit dan faktor-faktor resiko yang berbasis
masyarakat
d. Memiliki sistem kesiapsiagaan dan penanggulangan kegawatdaruratan dan bencana berbasis
masyarakat.
e. Memiliki sistem pembiayaan kesehatan berbasis masyarakat
f. Memiliki lingkungan yang sehat
g. Masyarakatnya sadar gizi serta berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)

SASARAN RW SIAGA

1. Sasaran Pemberdayaan
Seluruh individu dan keluarga di desa, diharapkan mampu melaksanakan hidup sehat, serta
peduli dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayah desanya.
2. Sasaran Bina Suasana
Pihak-pihak yang mempunyai pengaruh terhadap perubahan perilaku individu dan keluarga atau
dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi perubahan perilaku tersebut, seperti tokoh
masyarakat, termasuk tokoh agama; tokoh perempuan dan pemuda; kader desa; serta petugas
kesehatan.
3. Sasaran Advokasi
Pihak-pihak yang diharapkan memberikan dukungan kebijakan, peraturan perundang-undangan,
dana, tenaga, sarana, dan lain-lain, seperti Kepala Desa, Camat, para pejabat terkait, swasta,
para donatur, dan stakeholders lainnya.

LANGKAH - LANGKAH PEMBWNTUKAN RW SIAGA

1. Di Tingkat Kecemasan

a. Tim tingkat kecemasan, dengan keanggotaan yang melibatkan: Camat, Sekcam, seksi-seksi
terkait di tingkat kecamatan, kepala puskesmas, koordinator promkes dan PSM di tingkat
kecamatan, kepala penilik pendidikan, tokoh masyarakat, pengurus ormas/sosial PKK kecamatan,
pimpinan perusahaan yang ada di wilayah tersebut.
b. Tim tingkat kecamatan menetapkan 2 kelurahan sebagai uji coba kelurahan sehat, dimana
seluruh RW di setiap kelurahan tersebut adalah RW Siaga.
c. Tim tingkat kecamatan menyusun rencana kerja pelaksanaan Rw Siaga.
d. Tim tingkat kecematan mengadakan pertemuan untuk menentunkan langkah-langkah berikutnya
dalam membentuk RW Siaga.
e. Tim tingkat kecamatan melaksanakan lokakarya dengan tujuan untuk menyamakan presepsi
tentang RW Siaga, membahas penyakit-penyakit dan masalah ikutan lainnya yang terjadi di
kecamatan.

2. Di Tingkat Kelurahan

a. Membentuk tim tingkat kelurahan, dengan keanggotaan melibatkan: Lurah, Dewan Kelurahan,
Pemuka masyarakat Puskesmas, Kecamatan, Usahawan yang berdomisili di wilayah kelurahan TP-
PKK, Kelurahan , wakil ormas keagamaan dan ormas sosial yang ada di kelurahan, guru-guru
sekolah/madrasah, pengurus organisasi kepemudaan dan kader posyandu.
b. Melakukan sosialisasi RW Siaga
c. Melakukan identifikasi kegiatan yang mendukung RW Siaga
d. Melakukan Survei Mawas Diri (SDM) atau Community Self Survey (CSS)
Tujuan SDM adalah:
=> Mencari informasi masalah kesehatan dan hal-hal yang berkaitan dengan masalah tersebut.
=> Memberi kesempatan kepada tokoh masyarakat untuk mencari, mengemukakan dan
mengenal masalah kesehatan setempat.
=> Meyakinkan tokoh masyarakat pentingnya masalah itu karena mereka sendiri yang menyusun
dan mencari sendiri data yang menggambarkan masalah.
=> menyakinkan tokoh masyarakat untuk menetapkan pemahaman masalah yang diselesaikan.

e. Lokakarya/Musyawarah Masyarakat Desa (MMD)

Tujuan penyelenggaraan MMD adalah untuk mencari alternatif penyelesaian masalah kesehatan dari
hasil SMD dikaitkan dengan potensi yang dimiliki di RW, disamping itu juga untuk menyusun rencana
jangka panjang pengembangan RW Siaga.

Hasil yang diharapkan adalah:

=> Membahas masalah penyakit yang sering muncul di RW dan penyebabnya.

=> Mendengarkan hasil temuan SMD yang telah dilakukan oleh tokoh masyarakat dan membahas
kemungkinan prioritas pemecahan masalahnya.

=> Membahas tentang konsep dan rencana pengembangan RW Siaga

=> Membahas kegiatan-kegiatan di RW yang masih berlangsung dan bisa masuk dalam indikator RW
Siaga

=> Membahas rencana dan langkah-langkah untuk memantapkan RW Siaga termasuk memilih tenaga
masing-masing bidang, rencana melatih, menggali pembiayaan dan lain-lain.

Yang diundang dalam MMD/Lokakarya adalah: Lurah, Dewan Kelurahan, Ketua RW, BPD dan badan lain
yang ada di kelurahan Pemuka masyarakat usahawan yang berdomisili di wilayah kelurahan.
3. Di Tingkat RW

a. Membentuk tim RW Siaga tingkat RW , dengan susunan keanggotaan; Pembina:ketua


RW, tokoh masyarakat, Dewan Kelurahan, tokoh agama dll; Penanggung jawab wilayah:
petugas Puskesmas, kader RW Siaga, kader posyandu.

b. Melakukan pendataan :

 Pelayanan Kesehatan Dasar di Posyandu. Melakukan pendataan jumlah


bayi,balita, ibu hamil, cakupan imunisasi, KB , penimbangan balita, distribusi
Vitamin A dan distribusi tablet Fe.

 UKBM. Melakukan pendataan :

1. Posyandu (jumlah posyandu, alamat posyandu, jadwal posyandu , alamat


posyandu , struktur organisasi posyandu)

2. Donor darah siaga meliputi: daftar nama pendonor darah, golongan darah
pendonor , alamat pendonor.

3. Transportasi siaga, daftar nama pemilik kendaraan yang dapat digunakan


untuk transportasi siaga di RW, jadwal penggunaan kendaraan sebagai
transportasi siaga.

4. GSI kegiatan meliputi : melakukan pendataan, ibu hamil, pasangan usia subur
(PSU) ibu bersalin, ibu nifas, ibu meneteki.

 System Pembiayaan. Melakukan pendataan warga RW yang mempunyai : kartu


sehat, askes, asuransi swasta, dana sehat.

 Surveilans. Masyarakat diharapkan:

a. mengetahui secara dini tanda-tanda akan timbulnya penyakit atau masalah


kesehatan yang lainnya dan elaporkan kepada petugas kesehatan.

b. Mengetahui secara dini tanda-tanda akan timbulnya masalah kesehatan


lingkungan yang ada di wilayah serta faktor resiko, mengetahui secara dini
tanda-tanda akan timbulnya masalah gizi sebagai faktor resiko.
 Gadar Bencana. Masyarakat mengenal : kondisi lingkungan di RW, kondisi yang
dapat menimbulkan masalah kesehatan di RW , melakukan kegiatan yang bersifat
pencegahan ( misalnya pembuatan jembatan keluarga,pembersihan
lingkungan,dll), melakukan kegiatan yang bersifat promosi terhadap kesehatan
(misalnya penyuluhan kebersihan).

 Lingkungan . melakukan pendataan rumah sehat, air bersih, jamban keluarga,


pembuangan limbah.

 Kadarzi dan PHBS. Melakukan pendataan keluarga kadarzi dan keluarga PHBS.

INDIKATOR KEBERHASILAN

Keberhasilan upaya pengembangan RW siaga dapat dilihat dari empat kelompok


indikatornya,yaitu : indicator masukan ,indicator proses, indicator keluaran, dan indicator
dampak.

1. Indicator Masukan

Indicator masukan adalah indicator untuk mengukur seberapa besar masukan telah
diberikan dalam rangka pengembangan RW Siaga. Indicator masukan terdiri dari:

a. Ada/tidaknya forum masyarakat RW

b. Ada/tidaknya sarana pelayanan kesehatan dasar

c. Ada/tidaknya UKBM yang dibutuhkan masyarakat

d. Ada/tidaknya tenaga kader

e. Ada/tidaknya dana untuk kesehatan masyarakat RW

2. Indicator Proses

Indicator proses adalah indicator untuk mengukur keberhasilan seberapa aktif upaya yang
dilaksanakan di suatu RW dalam rangka pengembangan RW Siaga. Indicator proses
terdiri dari :
a. Frekuensi pertemuan Forum Masyarakat RW

b. Berfungsi/tidaknya pelayanan kesehatan dasar

c. Berfungsi/tidaknya UKBM yang ada

d. Berfungsi/tidaknya system kegawatdaruratan dan penanggulangan kegawatdaruratan


dan bencana

e. Berfungsi/tidaknya system surveilans berbasis masyarakat

f. Berfungsi/tidaknya kegiatan promosi kesehatan untuk kadarzi dan PHBS

3. Indicator Keluaran

Indicator keluaran adalah indicator untuk mengukur seberapa besar hasil kegiatan yang
dicapai di suatu RW dalam rangka pengembangan RW Siaga. Indicator keluaran terdiri
dari :

a. Cakupan pelayanan kesehatan dasar

b. Cakupan pelayanan UKBM

c. Jumlah kasus kegawatdaruratan dalam KLB yang dilaporkan

d. Cakupan rumah tangga yang memperoleh penyuluhan kadarzi dan PHBS

4. Indicator Dampak

Indicator dampak adalah indicator untuk mengukur seberapa besar dampak dari hasil
kegiatan di RW dalam rangka pengembangan RW Siaga. Indicator dampak terdiri dari :

a. Jumlah penduduk yang menderita sakit

b. Jumlah penduduk yang menderita gangguan jiwa

c. Jumlah ibu melahirkan yang meninggal dunia

d. Jumlah bayi dan balita yang meninggal dunia

e. Jumlah balita dengan gizi buruk