Anda di halaman 1dari 56

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Praktik Kerja Lapangan merupakan kegiatan yang harus dilakukan
sebagai salah satu prasyarat untuk mendapat Gelar Strata Satu (S1), pada
Program Studi Rekayasa Tekni Sipil pada Universitas Muhammadiyah
Mataram. Selain untuk memenuhi kewajiban akademik, diharapkan
kegiatan tersebut bisa menjadi acuan antara dunia industri dengan dunia
pendidikan serta dapat menambah pengetahuan tentang dunia industri
sehingga mahasiswa mampu mengatasi persaingan di dunia kerja.
Mengingat mutu pendidikan telah menjadi sorotan di mata dunia
pendidikan, baik dari dalam maupun luar negeri demi terciptanya sumber
daya manusia yang berkualitas dan mampu membuat dunia menjadi lebih
maju dan memberikan kehidupan yang lebih baik. Dalam rangka
pengembangan dan peningkatan kegiatan mahasiswa, diperlukan adanya
suatu kegiatan di masyarakat yang bertujuan untuk melatih dan mendidik
mahasiswa, diantaranya kegiatan yang sangat membangun mahasiswa,
yaitu kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL).
PKL merupakan suatu kegiatan kerja mahasiswa yang ditempatkan
pada suatu tempat yang berkaitan dengan bidang ilmu yang ditempuh
dalam jangka dan waktu tertentu. Selain itu, PKL yang dilakukan dapat
membantu mahasiswa agar lebih memahami bidang studi yang
ditekuninya dan mendapatkan gambaran nyata pengimplementasian
ilmunya di dunia nyata. Mahasiswa akan belajar mengatasi kesenjangan
antara teori yang didapatkan di bangku kuliah dengan permasalahan di
lapangan sebenarnya, yang memerlukan teknologi informasi untuk
mendapatkan jalan keluarnya.
PKL dilaksanakan di proyek-proyek pembangunan, salah satu di
proyek Kementrian PPK-02 Praya yaitu pembangunan jalan “Preservasi
Rekonstruksi Jalan Sengkol – Kuta”. Mahasiswa Program Studi Teknik
sipil Universitas Muhammadiyah Mataram melakukan kegiatan PKL di

1
pembangunan jalan “Preservasi Rekonstruksi Jalan Sengkol – Kuta”
dengan tujuan untuk melihat langsung proses penanganan Jalan yang akan
di rekonstruksi.

1.2 Maksud dan Tujuan PKL


Adapun maksud dan tujuan dari pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan ini
yaitu :
1. Dapat mengetahui kondisi pekerjaan di lapangan secara langsung dan
nyata, dan juga lebih mengenal keadaan sesungguhnya.
2. Menambah wawasan mengenai dunia Konstruksi khususnya
Konstruksi Jalan
3. Mengetahu tata cara pengelolaan proyek dan administrasinya.
4. Mendapatkan pengalaman dilapangan yang tidak di dapat di bangku
kuliah.
5. Dapat mengaplikasikan teori yang di peroleh di bangku kuliah dengan
kenyataan yang ada dilapangan.
6. Untuk memenuhi tugas studi sebagai Mahasiswa Program Studi S1
Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Mataram

1.3 Waktu Dan Tempat PKL


Pelaksanaan kegiatan PKL ini dimulai dari 28 September - 25
Desember 2017. Lokasi proyek ini berada di Jalan Sengkol-Kuta,
Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Gmbar 1.3 Lokasi Pembangunan Proyek (Peta Lombok)

2
1.4 Data Umum Proyek
Adapu data umum proyek yaitu sebagai berikut :
a. Nama Pekerjaan :Preservasi Rekonstruksi Jalan Sengkol-Kuta
b. Nama Ruas : Sengkol - Kuta
c. Nomor Kontrak : HK.02.03/PJN WIL 1 NTB
PPK02/260/2017
d. Lokasi Proyek :Lombok Tengah
e. Pemilik Proyek :Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah
I Provinsi NTB Direktorat Jendral Bina
Marga
f. Kontraktor Pelaksana : PT. NIAT KARYA
g. Konsultan Supervisi :PT.MAHA CHARISMA ADIGUNA (Kso)
PT. YODYA KARYA (Persero)
PT.SURYA DANA KONSULTAN
h. Biaya Proyek : Rp 21.212.466.00,00
i. Jangka Waktu : 210 Hari Kalender
j. Sumber Dana : APBN 2017
k. STA Awal Penanganan : STA 1+1000
l. STA Akhir Penanganan : STA 3+700

1.5 Metode
Metode yang digunakan dalam penyusunan laporan ini, terutama dalam
memperoleh data Proyek adalah sebagai berikut :
a. Metode Observasi
Metode Observasi yaitu penyusun terjun langsung daam survei
lapangan untuk mengetahui serta melihat keadaan yang sebenarnya
terjadi dilapangan, sehingga menghasilkan suatu bentuk atau hasil
pengamatan yang lebih cepat.
b. Metode Praktik
Metode Praktik yaitu penulis secara langsung melakukan kegiatan
dilapangan untuk membantu Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan

3
(PPTK), Pengawas lapangan dalam survei kondisi jalan, penentuan
tebl perkerasan serta tugas-tugas penunjang dalam perencanaan proyek
jalan.
c. Metode Wawancara dan Pengumpulan Data
Penulis melakukan dialog dan konsultasi langsung dengan Pejabat
Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), Pengawas lapangan serta orang-
orang yang terlibat langsung dalam pelaksanaan di lapangan dan
bertanggung jawab terhadap pelaksanaan teknis dalam perencanaan
pekerjaan jalan. Dari hasil wawancara maka, penulis dapat
mengumpulkan data-data di lokasi proyek berupa gambara rencana
kerja dan syarat-syarat maupun data lainnya.
d. Dokumentasi
Memperoleh hasl rekaman gambar hasil konstruksi selama kegiatan
pelaksanaan yang dipergunakan dalam bentuk data, sehingga dapat
membantu proses pemahaman yang lebih jelas.

4
BAB II

SISTEM STRUKTUR ORGANISASI

Struktur organisasi pekerjaan yang sesuai dengan perencanaan pada setiap


pekerjaan dalam setiap proyek pekerjan perlu di bentuk suatu susunan organisaasi
yang berfungsi mengatur manajemen kerja , sehingga setiap bagian pekerjaan
dapat terkoordinasi dengan baik. Dengan demikian unsur-unsur yang terlibat
dalam organisasi tersebut akan memiliki rasa tanggung jawab.

Hubungnan antara satu uneur dengan unsure-unsur yang lainnya harus selalu
baik dan tidak melampaui batas wewenang dan kedudukannya sehingga semua
pekerjaan dapat selesai dengan tepat waktu yang telah direncanakan, pengelolaan
manajemen yang baik juga sangat berpengaruh terhadap kelangsungan proyek
yang sedang dilaksanakan.

2.1 Unsur Proyek


Didalam pelaksanaan pekerjaan agar dapat tercapainya sasaran yang
efektif dalam pelaksanaan, diperlukan suatu organisasi yang bertanggung
jawab dalam menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan biaya, waktu dan
standar mutu yang telah ditentukan. Organisasi adalah susunan manusia,
peralatan dan fasilitas dalam suatu wadah pengaturan tertentu untuk
mencapai suatu tujuan atau suatu sasaran ertentu. Kegiatan tersebut
mengatur dan menyusun hubungan kerja organisasi yang melibatkan
unsur-unsur pembangunan yang terdiri dari :
1. Pemberi Pekerjaan
2. Konsultan Pengawas
3. Kontraktor/Penyedia Jasa Pelaksanaan

Keberhasilan suatu proyek tergantung dari kerja sama semua unsur


kegiatan proyek yang terlibat di dalamnya serta adanya pembagian kerja
yang baik dan teratur untuk mencapai kesatuan tindakan dalam mencapai
kegiatan.

5
Hubungan kerja unsur-unsur kegiatan digambarkan suatu diagram
seperti gambar:

Pe
mberi
tugas
2 1

B. K 3 C. Ko
ontrakto nsultan
r
Gambar 2.1 Hubungan Kerja Dan Koordinasi Pelaksana Kegiatan

Keterangan :

: Garis kerja / garis perintah

: Garis koordinasi

Keterangan gambar :

1. Hubungan kerja antara Pemberi Tugas dengan Konsultan


(dalam hal ini Tim Supervisi) adalah hubungan
kontraktual yang dituangkan dalam surat perjanjian kerja.
2. Hubungan kerja antara Pemberi Tugas dengan Kontraktor
adalah ;hubungan kontraktual yang dituangkan dalam
surat perjanjian kerja.
3. Hubungan kerja antara Konsultan dengan Kontraktor
adalah hubungan fungsional dalam menjalankan ketentuan
tugas dan tanggung jawab masing-masing sebagaimana
telah tertuang dalam dokumen pelaksanaan.

6
2.2 Hubungan Kerja Unsur Unsur Proyek
2.2.1 Pemberi Tugas Atau Yang Mewakili Kerja Atau Owner
Pemberian tugas adalah badan atau pejabat yang memberikan suatu
pekerjaan dan menanggung semua biaya dan pekerjaan tersebut.
Pemberi tugas dapat berupa perorangan maupun instansi baik
pemerintah maupun swasta.
Pada Paket Pembangunan “Proyek Preservasi Rekonstruksi Jalan
Sengkol-Kuta” yang bertindak sebagai pemberi tugas adalah Satker
Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I Provinsi NTB. PPK 02 Praya
Kewajiban pemberi tugas :
a. Bertanggung jawab atas tercapainya seluruh sarana kegiatan yang
dikelolanya.
b. Memimpin seluruh staf kegiatan dan bersama-sama melaksanakan
kegiatan yang tercantum di dalam Surat Penawaran Daftar
Kuantitas dan Harga (SPDKH) sesuai dengan ketentuan, prosedur
dan jadwal yang telah ditetapkan.
c. Bersama bendahara menyediakan, mengelola dan bertanggung
jawab terhadap keuangan sesuai ketentuan yang berlaku.
d. Menyetujui berita acara lain yang dibuat oleh konsultan
pengawas.
e. Menjadwalkan rapat koordinasi berkala dan memberikan
pengarahan terhadap pelaksanaan kegiatan dalam kegiatan sehari-
hari.
f. Menyampaikan informasi mengenai hambatan yang dihadapi
melalui jalur utusan langsung guna mendapatkan petunjuk
penyelesaian masalah.
Wewenang pemberi tugas :
a. Mengambil tindakan-tindakan yang mengakibatkan pengeluaran
sesuai dengan tujuan yang telah ditempatkan untuk masing-
masing tolak ukur dan batas-batas sesuai dengan jenis

7
pengeluaran yang tercantum di dalam Surat Penawaran Daftar
Kuantitas dan Harga dan Pedoman Pelaksanaan.
b. Mengadakan hubungan kerja sama dengan instansi lainnya baik
pusat maupun daerah menurut keperluannya, termasuk pembuatan
kontrak kerja.
c. Mengatur tata kerja kegiatan yang terperinci dalam
memperhatikan petunjuk yang ditetapkan Departemen atau
Lembaga yang berada diatasnya.

2.2.2 Konsultan Atau Tim Suvey


Konsultan adalah badan hukum yang diserahkan tugas oleh
pimpinan pelaksanaan kegiatan untuk melaksanakan pekerjaan
pengawasan maka dibentuk Tim Pengawas atau Tim Supervisi. Dalam
hal ini yang bertindak sebagai konsultan adalah PT. MAHA
CHARISMA ADIGUNA (KSO), PT. YODYA KARYA (Persero), PT.
SURYA PERDANA KONSULTAN
Selama pekerjaan kegiatan konsultan adalah sebagai berikut :
a. Mempersiapkan semua sarana yang ada dalam kontrak konsultan (
Field Team 1 ) guna menunjang tugas dan mobilitas pelaksanaan
pekerjaan supervisi nantinya.
b. Mengkoordinir dan mengkonsolidasi staf/personil konsultan
supervisi yang ada dalam menjalankan masing – masing tugas dan
tanggung jawabnya.
c. Mengikuti Rapat Pra Pelaksanaan / Pre Construction Meeting
(PCM) guna membahas program awal terutama program
mobilisasi dari penyedia jasa serta menyamakan persepsi dan
pengertian dari isi Dokumen Kontrak yang berlaku terhadap
kondisi lapangan dan aturan aturan dari Pemerintah setempat.
d. Mengikuti Rapat Mingguan di PPK setempat guna mengevaluasi
dan memeriksa rencana kerja / program serta realisasi kemajuan
pekerjaan yang telah dilaksanakan oleh kontraktor. Dan Rapat

8
Bulanan di P2JN guna melaporkan kegiatan dan permasalahan
serta solusinya termasuk juga permasalahan design yang ada.
e. Memberi pengarahan serta mengawasi pelaksanaan l Field
Engineering dan terus mengupdate data guna mendapatkan data
terakurat tentang kondisi lapangan untuk mengoptimalkan
penggunaan kuantitas pekerjaan. Serta membuat rekomendasi
persiapan CCO 1 dan Revisi Schedule berdasarkan hasil dari
Rekayasa Lapangan.
f. Melakukan Pengawasan rutin terhadap pelaksanaan pekerjaan yang
dilaksanakan kontraktor agar sesuai persyaratan Spesifikasi.
g. Memeriksa secara visual dan Laboratoris stock material di stock
pile serta qualitas harian hasil Pelaksanaan Pekerjaan yang sedang
dilaksanakan Kontraktor kemudian mengarahkan untuk di uji di
laboratorium.
h. Membuat Sertifikat Bulanan monitoring ( untuk monitoring saja
) dan status penyerapan keuangan sehubungan kontraktor pada
bulan ini tidak melakukan penagihan pembayaran.
i. Melakukan koordinasi dengan Team Leader untuk mendapatkan
informasi actual tentang status pelaksanaan Kontrak konsultan dan
kondisi pekerjaan fisik termasuk diskusi didalam mengatasi
permasalahan yang ada baik teknis maupun non teknis.
j. Membuat Laporan Pendahuluan ( RMK ) dan Laporan
Bulanan Konsultan

2.2.3 Penyedia Jasa


Penyedia Jasa adalah suatu badan hukum yang berbentuk
perusahaan baik umum maupun perorangan yang begerak dalam
bidang pelaksanaan pembangunan fisik dari suatu konstruksi. Dalam
pelaksanaan tugasnya, kontraktor selaku pelaksana fisik harus
mendapatkan persetujuan dari Tim Supervisi atau Konsultan atau
Pengawas dan berkewajiban membuat laporan harian, mingguan,

9
bulanan dan laporan lainnya, guna dapat mengetahui kemajuan fisik
konstruksi dan digunakan sebagai evaluasi oleh Tim Supervisi atau
Konsultan atau Pengawas maupun oleh Pemberi Tugas. Dalam
pelaksanaan Pekerjaan Preservasi Rekonstruksi Jalan Sengkol Kuta
yang bertindak sebagai Kontraktor adalah PT. NIAT KARYA
Kewajiban Kontraktor adalah :
a. Memahami dan mentaati seluruh ketentuan yang tercantum dalam
Surat Perjanjian Kerja (Kontrak) dan Spesifikasi Teknik.
b. Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan gambar-gambar serta
persyaratan teknis yang telah ditentukan.
c. Menyerahkan pekerjaan bila telah selesai dan disetujui oleh
pengawas atau konsultan.
d. Mengadakan pengujian untuk contoh-contoh bahan konstruksi
yang akan dipakai.
e. Melaksanakan seluruh perintah dari pemberi tugas selama tidak
menyimpang dari persyaratan yang telah ditetapkan dalam
dokumen kontrak.
f. Menyusun Project Hand Over ( PHO ) atau bisa disebut proses
serah terima pertama atau sementara dan Final Hand Over (FHO)
atau bisa disebut proses serah terima akhir.

Hak Penyedia Jasa adalah :


a. Mengikuti proses pelelangan setelah mendapatkan undangan dari
Panitia Pembangunan Jalan dan Jembatan Provinsi NTB melalui
pengumuman atau edaran.
b. Berhak mendapatkan imbalan jasa yang besarnya sesuai dengan
bobot atau prestasi pekerjaan yang telah dicapai di lapangan setiap
bulanannya.
c. Mengadakan perhitungan ulang apalagi terjadi penyimpangan atas
gambar kerja dengan pelaksanaan yang dilakukan atas perintah
Pemberi Tugas atau yang mewakili.

10
d. Mendapatkan penambahan biaya berdasarkan harga yang telah
disepakati apabila terjadi penambahan pekerjaan atas perintah
Pemberi Tugas atau yang mewakili (bila ada).

Tanggung Jawab Penyedia Jasa adalah :


a. Bertanggung jawab atas keselamatan kerja staf, pekerja selama
pelaksanaan di lapangan dan pekerjaan yang sedang dilakukan.
b. Bertanggung jawab atas kekeliruan yang terjadi karena kelalaian
pelaksanaan.
c. Bertanggung jawab atas kekuatan dan kekokohan hasil pekerjaan
sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan di dalam RKS (
Rencana Kerja dan Syarat ).
d. Memelihara atas keselamatan bangunan selama masa pemeliharaan
yang telah ditentukan.
e. Menyusun Project Hand Over ( PHO ) atau biasa disebut proses
serah terima pertama atau sementara Final Hand Over ( FHO ) atau
biasa disebut proses serah terima akhir.

Aktivitas Kontraktor adalah sebagai berikut :


a. Mempersiapkan semua peralatan dan mengkoordinir tenaga kerja
yang akan dipergunakan untuk keperluan Rekayasa teknik di
lapangan terutama untuk stationing, pengukuran alignement
memanjang dan propil melintang serta survey kondisi existing dan
perlengkapan serta bangunan yang ada di sepanjang ruas jalan yang
menjadi lingkup pekerjaannya.
b. Melakukan perbaikan terhadap Mesin Pemecah Batu ( stone
Crusher ) dan memulai produksi untuk Stok material yang cukup
untuk dipergunakan pada pekerjaan Lapis Pondasi Agregat Klas
A, Pekerjaan Beton baik Fc10 maupun Fc 20 untuk Dinding
Penahan Tanah maupun Saluran U Ditch Separator serta pekerjaan
aspal AC Base, AC BC dan AC WC.

11
c. Mempersiapkan dan menyelesaikan bangunan Direksi Keet di
lokasi kegiatan agar secepatnya berfungsi sbagai pusat koordinasi
dan administrasi teknik kegiatan ini
d. Melakukan land clearing pada lokasi rencana dasar timbunan guna
membersihkan rumput dan tanaman perdu / semak2 yang telah
tumbuh kemudian memadatkannya serta mengujinya dengan CBR
Lapangan guna memastikan bahwa tanah dasar timbunan cukup
kuat (CBR 6 % ) sebelum melaksanankan pekerjaan timbunan baik
dijalur cepat kiri maupun di jalur lambat kiri dan kanan.
e. Melakukan sampling material terutama bahan timbunan pada
beberapa quarry dibawah pengawasan konsultan supervise untuk
diuji di laboratorium guna untuk dapatnya dibuat JMD maupun
JMF sebagai Acuan bersdama dalam pelaksanaan maupun
pengawasan.
f. Membuat catatan lengkap setiap hari tentang hasil pekerjaan,
material dan perlatan yang digunakan, cuaca serta personil yang
terlibat dalam kegiatan tersebut, permasalahan dlsb, serta
menghimpunnya menjadi laporan mingguan dan bulanan untuk
diperiksakan ke konsultan supervise sebelum mendapat persetujuan
dari pihak Direksi Pekerjaan

2.3 Susunan Organisasi


2.3.1 Pemberi Tugas
a. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)
Tugas :
- Melaksanakan rencana kerja sebagaimana telah ditetapkan
dalam DIPA sesuai kegiatannya masing-masing
berdasarkan persetujuan Kepala Satuan Kerja.
- Penandatanganan Surat Keputusan yang mengakibatkan
pengeluaran (gaji, honor, vakasi, dan perjalanan dinas).

12
- Penyusunan dokumen pengadaan barang/jasa sesuai dengan
kegiatan yang tercantum dalam DIPA untuk pekerjaan yang
dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa maupun rencana
kerja kegiatan yang akan dilaksanakan secara swakelola.
- Penyusunan jadwal pelaksanaan barang dan jasa.
- Penandatanganan Surat Perintah Kerja ( SPK ) Kontrak
dengan persetujuan Kepala Satuan Kerja.
- Pengawasan atau Penilaian atas pelaksanaan dan hasil
penyelesaian pekerjaan, pemeriksaan barang sesuai
spesifikasi teknis yang telah ditetapkan.
- Penandatanganan Berita Acara penyelesaian pekerjaan,
Berita Acara Pemeriksaan Barang, Berita Acara Serah
Terima Pekerjaan yang harus memuat secara lengkap
identitas pekerjaan.
- Penandatanganan bukti-bukti dokumen pengeluaran
anggaran Satuan Kerja, baik yang dilakukan secara
kontraktual untuk jasa konstruksi sekunder.
- Penyiapan dan penandatanganan Surat Permintaan
Pembayaran ( SPP ) serta dokumen pendukungnya dan
menyampaikan kepada Kepala Satuan Kerja untuk
mendapatkan persetujuan.
- Pengajuan dokumen atau bukti tambah SPP uang
persediaan kepada Bendahara Pengeluaran melalui Kepala
Satuan Kerja untuk pembayaran yang membebani Uang
Persediaan.
- Menyusun laporan seluruh kegiatan yang dilakukannya
sesuai DIPA dan menyampaikannya kepada Kepala Satuan
Kerja selaku atasannya langsung.
- Menyusun usulan rencana kegiatan Satuan Kerja Sementara
tahunan yang merupakan bagian dari rencana kerja dan

13
anggaran kementrian/lembaga ( RKAKL ) untuk tahun
berikutnya.

Tanggung Jawab :
- Bertanggung jawab atas kebenaran material SK SPK atau
kontrak yang ditandatanganinya dan akibat yang timbul
dari SK atau SPK Kontrak tersebut.
- Bertanggung jawab atas kerugian keuangan Negara yang
timbul akibat tindakan yang ditimbulkan.
- Bertanggung jawab kepada Kepala Satuan Kerja atas
realisasi keuangan dan hasil atau output kegiatan yang
dilaksanakan sesuai rencana kerja yang ditetapkan dalam
DIPA serta mutu hasil/output sesuai yang direncanakan.

b. Kepala Urusan Administrasi Keuangan


Tugas dan Tanggung Jawab :
- Tugas pokok Kepala Urusan Administrasi Keuangan adalah
membantu Bendaharawan Kepala Satuan Non Vertikal
Tertentu ( SNVT ) untuk mengelola uang Persediaan
Bagian Pelaksanaan Kegiatan.

Uraian Tugas Pokok Kepala Urusan Administrasi Keuangan


Antara Lain:
- Membantu Bendaharawan Satuan Non Vertikal Tertentu (
SNV) untuk menyelenggarakan pembukaan mengenai
pengurusan kas yang menjadi tanggung jawabnya.
- Menyiapkan Surat Permintaan Pembayaran Uang Persediaan
(SPP – UP) dalam rangka pembayaran keperluan sehari-hari
bagian pelaksanaan kegiatan dan menyampaikan kepada
Bendaharawan Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu atau

14
Kepala Bagian Pelaksana Kegiatan atau Pejabat Pembuat
Komitmen.
- Membantu BendaharawanSatuan Kerja Non Vertical Tertentu
(SNVT) melakukan pembayaran uang persediaan atas
persetujuan Kepala Bagian Pelaksanaan Kegiatan atau
Pejabat Pembuatan Komitmen.
- Menyelenggarakan tata kearsipan yang bersangkutan dengan
bukti-bukti pembukuan

c. Kepala Urusan Tatat Usaha


Tugas dan Tanggung jawab :
- Tugas pokok Kepala Urusan Tata Usaha adalah membantu
sebagaimana tugas Kepala Bagian Pelaksana Kegiatan atau
Pejabat Pembuat Komitmen dibidang tata usaha kantor
sehari-hari sehingga kegiatan kantor dapat terselanggara
dengan lancar, aman dan tertib.
Kepala Urusan Tata Usaha :
- Membina dan mengarahkan pelaksanaan agar staf
dibawahnya menurut tugas pokok dan fungsinya.
- Menyusun rencana kebutuhan bahan atau barang bulanan
atautriwulan atautahunan kedalam fotmat yang telah
ditetapkan.
- Membuat belangko nota bon dan menandatangani nota bon
bahan atau barang atau fotocopy, berdasarkan permintaan dan
unsur pembantu pemimpin dan unsur pelaksanaan.
- Melaksanakan pengadaan barang atau bahan kebutuhan
kantor sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan
- Membuat dan melaksanakan pembukuan penerimaan dan
pengeluran bahan atau barang kebutuhan kantor berdasarkan
nota bon pengambilan barang atau bahan.

15
- Membuat data kepegawaian Bagian Pelaksana Kegiatan
berdasarkan status jabatan dan kepangkatannya.
- Membuat dokumen bukti pertanggung jawaban hasil
pengadaan barang atau bahan sesuai dengan cara bentuk dan
bahan batas waktu yang telah ditetapkan.
- Mempersiapkan tempat atau ruangan, daftar hadir,
akomodasi, bahan atau peralatan yang diperlukan dalam rapat
proyek.
- Membuat laporan hasil evaluasi aktivitas atau kehadiran
pegawai menurut Kepala Bagian Pelaksana Kegiatan atau
Pejabat Pembuat Komitmen.
- Melaporkan pelaksanaan tugas dan hasil kerjanya kepada
Kepala Bagian Pelaksana atau Pejabat Pembuatan Komitmen.
- Melaksanakan tugas lain yang masih dalam lingkup kerja atas
perintah Kepala Bagian Pelaksana Kegiatan atau Penjabat
Pembuatan Komitmen

d. Pengawas Utama
Tugas dan Tanggung Jawab Pengawas Utama :
- Tugas pokok Pengawas Utama adalah membantu sebagai
tugas Kepala Bagian Pelaksana Kegiatan atau Pejabat
Pembuat Komitmen dibidang pengawas, baik kualitas
maupun kuantitas.
- Pelaksanaan kontrak paket pekerjaan berdasarkan spesifikasi
teknik kontrak
Rincian Tugas Pokok Pengawas Utama
- Menghimpun dan mempelajari gambar rencana, jadwal waktu
pelaksana, metode kerja dan spesifikasi teknis pelaksanaan
kontrak paket pekerjaan yang diawasi.
- Membina dan mengkoordinasikan tugas pengawas yang
dilakukan petugas dilapangan.

16
- Mempelajari dan menginformasikan atau mengklarifikasikan
temuan petugas Pengawas Lapangan kepada pihak kontraktor
pelaksana atau konsultan pengawas yang bersangktan.
- Bersama – sama dengan atau tanpa disertai konsultan
pengawas, melaksanakan tugas pengawasan terhadap
kontrak-kontrak paket pekerjaan yang dilaksanakan oleh
kontraktor.
- Mencatat hasil pengawasannya ke dalam buku lapangan
menurut bentuk yang ditetapkan.
- Membuat catatan dan teguran atas hasil pelaksanaan yang
belum selesai sesuai dengan spesifikasi pekerjaan yang telah
ditetapkan dalam kontrak.
- Segera melaporkan kepada Kepala Pelaksana Kegiatan atau
Pejabat Pembuat Komitmen, jika dijumpai fakta pelaksanaan
dilapangan yang diduga keras akan dapat menimbulkan
terjadinya kerugian keuangan negara.
- Melaporkan hasil pengawasan dan pendukungnya kepada
Kepala Bagian Pelaksana Kegiatan atau Pejabat Pembuat
Komitmen sebagai bahan tindak untuk turun tangan.
- Menyusun dan membuat laporan mingguan menurut bentuk,
cara dan dalam batas waktu yang telah ditentukan.
- Menyelenggarakan pengawasan atas aktivitas dan kinerja
pengawas lapangan yang berada dalam koordinasinya.
- Menyampaikan usulan saran atau pendapat dalam rangka
perbaikan atau peningkatan kinerjanya.
- Melaksanakan tugas lain dari dan atas perintah Kepala
Bagian Pelaksana Kegiatan atau Pejabat Pembuat
Komitmen

17
e. Pengawas Lapangan
Tugas dan Tanggung Jawab :
- Tugas pokok Pengawas Lapangan adalah membantu sebagian
tugas Pengawas Utama dalam melaksanakan tugas
pengawasan di lapangan.
- Melarang menggunakan bahan-bahan yang menurut
penelitiannya tidak memenuhi syarat.
Rincian Tugas Pokok Pengawas Lapangan :
- Mempelajari spesifikasi teknis, gambar rencana dan metode
kerja atas pelaksanaan kontrak paket pekerjaan yang
diawasinya.
- Melaksanakan pengawasan kualitas dan kuantitas atas
pelaksanaan kontrak pekerjaan yang berada dalam wilayah
pengawasannya.
- Mencatat hasil pengawasannya kedalam buku laporan.
- Dalam hal-hal tertentu atas penetapan Kepala Bagian
Pelaksanaan Kegiatan atau Pejabat Pembuat Komitmen
melaksanaan tugas dan fungsi juru jalan.
- Melaporkan hasil temuannya kepada Pengawas Utama.
- Menyampaikan usulan saran atau pendapat dalam rangka
perbaikan atau peningkatan kinerjanya.
- Melaksanakan tugas lain dari dan atas perintah Pengawas
Utama.

f. Pengawas Lapangan (Quality Control)


Tugas adan Tanggung Jawab :
Pengawas lapangan bertugas membantu pemimpin Bagian Proyek
dibidang pengawasan pekerjaan terkontrakan meliputi :
- Melaksanakan pengawasan terhadap mutu dan kualitas
pekerjaan konstruksi yang dilaksanakan mitra kerja
(kontraktor).

18
- Memonitor kualitas seluruh material atau bahan konstruksi
yang akan digunakan.
- Melaporkan kepada pejabat yang diatasnya apabila mutu dan
kualitasnya pekerjaan yang tidak sesuai dengan yang
disyaratkan.
- Mengecek dan menolak material konstruksi yang dianggap
tidak memenuhi syarat.
- Mengkoordinasi seluruh kegiatan dilapangan yang berkaitan
dengan mutu pekerjaan dan melakukan pengetesan
dilapangan bersama-sama kontraktor.
- Mengawasi kualitas, kuantitas, dan pengendalian waktu yang
dilaksanakan oleh kontraktor, agar sesuai dengan RKS,
gambar rencana.
- Menjalankan tugas dan kewajibannya bertanggung jawab
kepada Pemimpin Bagian Proyek.

19
STRUKTUR ORGANISASI PENGAWAS KONTRAKTUAL PPK 02

PRESERVASI REKONSTRUKSI JALAN SENGKOL – KUTA

PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN 02

BAYU IDIAJIR, ST

KORWASLAP

ANWAR, ST

PENGAWAS LAPANGAN

L. BAMBANG RASYIDI, ST

SAHRAN

Gambar 2.3 Struktur Organisasi PPK 02 Praya

20
2.3.2 Konsultan Atau Tim Survey
a. Site Engineer
Tugas :
- Mengawas pelaksanaan lapangan yang dilakukan oleh
Kontraktor dalam melaksanakan pekerjaan fisik proyek
agar dapat memenuhi standard konstruksi dan standar
perencanaan yang telah ditetapkan. Hasil pekerjaan tersebut
(campuran aspal yang efektif, tingkat pemadatan yang
didapat dalam pondasi atau agregat) diperlukan oleh direksi
untuk menentukan pekerjaan tersebut diterima atau ditolak.
- Memberikan pengarahan kepada pelaksana lapangan
kontraktor, mengenai hal-hal yang structural pada pekerjaan
fisik proyek jika terdapat keraguan mengenai ketentuan
dalam dokumen kontrak.
b. Quantity atauquality engineering
Tugas :
- Melakukan pengujian mutu baik lapangan, mutu beban,
maupun mutu konstruksi, dalam hal ini bekerja sama
dengan pengendalian mutu lapangan untuk mengetahui
hasil pengujian menurut spesifikasi atau menurut keperluan
Direksi.
c. Lab Technician (Teknisi Laboraturium)
Tugas :
- Mengawasi teknisi kontraktor dalam melaksanakan
pengujian yang telah ditetapkan.
- Memberi petunjuk kepada kontraktor dimana contoh yang
cocok harus diambil dan menentukan bahwa frekuensi
pengambilan contoh dan pengujian telah mencukupi dan
memenuhi persyaratan frekuensi yang telah ditetapkan.
- Menentukan semua pengujian pada semua material dan
pekerjaan lapangan telah dicatat oleh teknisi kontraktor.

21
- Memastikan bahwa tehnisi kontraktor melaporkan hasil
pengujian dengan menggunakan formulir laboratorium
yang standard.
- Menyerahkan ringkasan laporan untuk semua hasil
pengujian pada tim supervise atau direksi pengawasan
lapangan, berikut saran-saran mengenai diterima atau
ditolaknya materian dan pekerjaankontraktor berdasarkan
hasil pengujian dan pengamatan prosedur yang telah
dilaksanakan tehnisi kontraktor.
d. Inspector
Tugas :
- Bagian yang bertugas dalam melakukan pengawasan atau
inspeksi terhadap kegiatan pelaksanaan pekerjaan di
lapangan.

e. Surveyor
Tugas :
- Bagian yang bertugas melakukan survey dan kegiatan
kegiatan pengukuran terhadap setiap jenis pekerjaan yang
telah di lakukan di lapangan.

22
STRUKTUR ORGANISASI KONSULTAN

PRESERVASI REKONSTRUKSI JALAN SENGKOL-KUTA

SITE ENGINEER
-
PARHAN, ST
-

INSPECTOR -

H.LALU MAKBUL WIRAJATI

-
JURU JALAN
-
CHAIRUL ANWAR

M.ROJALI

Gambar 2.4 Struktur Organisasi Konsultan

23
2.3.3 Kontraktor
a. General Superintendent
Tugas dan Tanggung Jawab :
- Mengadakan pengecekan transaksi-transaksi pelaksanaan
proyek, mengkompilasikan dan membandingkan dengan
rencana semula.
- Melaksanakan pekerjaan sesuai mutu yang direncanakan.
- Menghentikan pelaksanaan pekerjaan yang tidak memenuhi
standard mutu yang ditetapkan.
- Mengkoordinasikan para pelaksanaan pekerjaan dan
melakukan pengecekan terhadap pengukuran-pengukuran
prestasi mandor, tenaga kerja harian dan lain-lain.
- Membina dan melatih keterampilan tukang dan mandor dan
menilai kemampuannya sesuai standard yang ditetapkan.
- Mengadaan koordinasi yang baik dengan petugas-petugas
lainnya yang berhubungan dengan tugas dan tanggung
jawab yang diberikan.
- Mempelajari seluruh gambar awal (shop drawing) sebagai
dasar pelaksanaan MC 0%.
- Selalu berkoordinasi dengan pihak direksi yang
berhubungan dengan pelaksanaan dan kelancaran proyek.

b. Technical Administration
Tugas dan Tanggung Jawab :
- Mempelajari seluruh gambar awal (shop drawing) sebagai
dasar persiapan MC 0%.
- Melaksanakan survey bersama antar direksi, konsultan, dan
project Manager dengan persiapan MC 0%.
- Menyiapkan gambar pelaksanaan (asbuild drawing) dan
perhitungan volume sebagai dasar pelaksanaan setelah
mendapatkan persetujuan direksi.

24
- Melayani pengawasan elevasi sebelum pelaksanaan
konstruksi dan pengecekan bersama elevasi atau opname
pekerjaan yang telah selesai dikerjaan.
- Menghimpun dan membuat laporan-laporan (hasil Lab.
Opname pekerjaan, laporan bulanan, laporan mingguan,
laporan harian, foto).
- Membuat laporan fisik proyek.
- Selalu berkoordinasi dengan pihak Direksi demi kelancaran
bersama.

c. Pengadaan (Logistik atau Peralatan)


Tugas dan Tanggung Jawab :
- Menghitung dan mempersiapkan kebutuhan berdasarkan
cashflow keuangan.
- Melakukan pengecekan bersama terhadap opname
pekerjaan yang telah diselesaikan sebagai dasar penegihan.
- Membuat penagihan sesuai dengan fisik yang dicapai.
- Mengurus pencairan termyn ke Pemilik Proyek setelah ada
prestasi yang diakui.
- Membuat laporan keuangan tiap dua minggu sekali apabila
ada droping keuangan dari kantor ke lapangan.
- Membayar gaji semua karyawan dan membayar overhead
lapangan.
- Membayar upah borongan dan levaransir setelah ada
persetujuan dari Project Manager.
- Membuat laporan keuangan baik harian maupun bulanan.
- Mempersiapkan dan mengevaluasi setiap kebutuhan
material yang dibutuhkan lapangan.
- Mempertanggungjawabkan pemakaian keuangan kepada
direktur perusahaan.

25
d. Quality Control
Tugas dan Tanggung Jawab :
- Bertanggung jawab terhadap mutu pekerjaan yang telah
ditentukan sesuai spesifikasi yang dsyaratkan.
- Memiliki wewenang untuk berkoordinasi dengan pihak
pengawas pekerjaan untuk menentukan spesifikasi yang
belum tercantum dalam kontrak.
- Berhak untuk menghentikan pekerjaan yang tidak sesuai
dengan syarat mutu yang telah ditetapkan.
- Memeriksakan setiap material yang dipakai agar sesuai
dengan persyaratan yang ada.
- Mengevaluasi kemampuan tenaga kerja baik secara kualitas
maupun kuantitas sehingga mutu pekerjaan selalu terjaga
dengan baik dari segi kualitas maupun waktu penyelesaian
yang telah ditetapkan.
- Melaksanakan pengujian-pengujian laboratorium yang
dilakukan guna menyakinkan bahwa pekerjaan yang sudah
dilakukan sesuai dengan standard mutu yang telah
ditetapkan.

e. Quality Surveyor
Tugas dan Tnaggung Jawab :
- Melaksanakan perhitungan volume setiap pekerjaan
berdasarkan gambar kerja maupun hasil pengukuran yang
telah dilakukan.
- Menghimpun dan membuat laporan volume pekerjaan
sebagai dasar perhitungan MC 0%.
- Mengawasi pelaksanaan pekerjaan terutama mengenai
volume yang berlebihan.
- Melaporkan kepada Quality Control jika terjadi
penyimpangan atau perubahan volume pekerjaan.

26
- Membuat back-up volume pekerjaan yang berkaitan dengan
pembayaran volume laporan pihak pekerjaan dan
kebutuhan pembayaran opname tenaga kerja.
- Bertanggung jawab terhadap Quality Control.

f. Pelaksana
Tugas dan Tanggung Jawab :
- Mempelajari gambar kerja dengan baik dan teliti.
- Mengkoordinasikan pekerja-pekerja yang ada pada
bagiannya dengan baik dan benar.
- Bertanggung jawab kepada General Superintendent.

27
STRUKTUR ORGANISASI PELAKSANA PEKERJAAN
PT. NIAT KARYAPRESERVASI REKONSTRUKSI
JALAN SENGKOL-KUTA

-
GENERAL SUPERINTENDENT

ERFAN ISLAMY RAYES, ST

Quantity Engineer QUALITY CONTROL

SUTOMO, ST SUMADI, ST

-
TRESNO WIBOWO, ST

APRI NOVIANTO, ST

PETUGAS K3

BQ. DIAH NUR INDAH SARI, ST

Gambar 2.5 Struktur Organisasi Kontraktor

28
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA LANDASAN TEORI

2.4 Tinjauan Pustaka


2.4.1 Dinding Penahan Tanah
Dinding penahan tanah merupakan komponen struktur bangunan
penting untuk jalan raya, penting juga untuk bangunan lingkungan
lainnya yang berhubungan dengan tanah berkontur atau tanah yang
memiliki elevasi berbeda. Dinding penahan tanah adalah suatu
kontruksi yang berfungsi untuk menahan tanah lepas atau alami, dan
dapat mencegah keruntuhan tanah yang miring atau lereng yang
kemantapannya tidak dapat dijamin oleh lereng tanah itu sendiri. Di
lapangan, dinding penahan tanah dapat ditemui pada saluran air di
samping jalan yaitu pada pinggir sungai agar tebing sungai tidak
longsor.
Dinding penahan adalah suatu bangunan yang dibangun untuk
mencegah keruntuhan tanah yang curam atau lereng yang dibangun di
tempat dimana kemantapannya tidak dapat dijamin oleh lereng tanah
itu sendiri, dipengaruhi oleh kondisi gambaran topografi tempat itu,
bila dilakukan pekerjaan tanah seperti penanggulangan atau
pemotongan tanah. (Sudarmanto, 1996).
Adapun bahan konstruksi untuk dinding penahan tanah yaitu :
1. Dari kayu
2. Dari beton
3. Psangan btu
4. Dari baja
Adapun bentuk dinding penahan tanah yaitu :
1. Profil persegi
2. Profil trapesium siku
3. Profil trapesium
4. Profil segitiga

29
5. Profil jajaran genjang
Untuk merencanakaan sebuah dinding penahan tanah perlu
diperhatikan syarat kesetabilan dinding :
1. Dinding tidak terjungkal
2. Dinding tidak tergeser
3. Dinding tidak amblas

2.4.2 Aspal
Aspal atau bitumen merupakan material yang berwarna hitam
kecoklatan yang bersifat viskoelastic sehingga akan melunak dan
mencair bila mendapat cukup pemanasan dan sebaliknya. Sifat
viskoelastis inilah yang membuat aspal dapat menyelimuti dan menahan
agregat tetap pada tempatnya selama proses produksi dan masa
pelayanannya. Pada dasarnya aspal terbuat dari suatu rantai hidrokarbon
yang disebut bitumen, oleh sebab itu aspal sering disebut material
berbituminous. (Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum, 2010).
Fungsi aspal adalah sebagai bahan pengikat aspal dan agregat atau
antara aspal itu sendiri, juga sebagai pengisi rongga pada agregat. Daya
tahannya (durability) berupa kemampuan aspal mempertahankan sifat
aspal akibat pengaruh cuaca dan tergantung pada sifat campuran aspal
dan agregat. Sedangkan sifat adhesi dan kohesi yaitu kemampuan aspal
mempertahankan ikatan yang baik. Sifat kepekaan terhadap
temperaturnya aspal adalah material termoplastik yang bersifat lunak /
cair apabila temperaturnya bertambah. (Silvia Sukirman, 1999).
Berdasarkan bentuk asphalt dapat dibedakan menjadi 3 jenis :
1. Aspal Keras (Asphalt Cement)
Aspal keras adalah Aspal keras pada suhu ruang (250 – 300 C)
berbentuk padat. AC dibedakan berdasarkan nilai penetrasi (tingkat
kekerasannya). Untuk Aspal dengan penetrasi rendah digunakan di
daerah bercuaca panas, volume lalu lintas tinggi. Sedangkan aspal

30
dengan penetrasi tinggi digunakan untuk daerah bercuaca dingin,
lalu lintas rendah. Aspal keras yang biasa digunakan yaitu:
a. AC Pen 40/50
b. 2) AC Pen 60/70
c. 3) AC Pen 80/100
d. 4) AC Pen 120/150
e. 5) AC pen 200/300
2. Aspal Cair (Cut Back Asphalt)
Aspal cair adalah campuran antara aspal keras dengan
bahan pencair dari hasil penyulingan minyak bumi. Maka cut back
asphalt berbentuk cair dalam temperatur ruang. Aspal cair
digunakan untuk keperluan lapis resap pengikat (prime coat).
3. Aspal Emulsi
Aspal emulsi adalah suatu campuran aspal dengan air dan
bahan pengemulsi. Pada proses ini partikel-partikel aspal padat
dipisahkan dan didispersikan dalam air.

2.4.3 Laston / AC (Asphalt Concrete)


Lapis aspal beton adalah salah satu jenis campuran beraspal yang
digunakan sebagai lapis permukaan pada perkerasan lentur. Lapisan
penutup konstruksi jalan ini mempunyai nilai struktural yang pertama
kali dikembangkan di Amerika oleh Asphalt Institute dengan nama AC
(Asphalt Concrete). Campuran beraspal ini terdiri dari agregat menerus
dengan aspal keras, dicampur, dihamparkan dan dipadatkan dalam
keadaan panas pada suhu tertentu. Suhu pencampuran ditentukan
berdasarkan jenis aspal yang akan digunakan. (Bina Marga Departemen
Pekerjaan Umum 2010)
Laston merupakan suatu lapisan pada kontruksi jalan yang terdiri
dari campuran aspal keras dan agregat yang mempunyai gradasi
menerus, dicampur, dihampar dan dipadatkan pada suhu tertentu.
Adapun fungsi Lston/AC adalah sebagai berikut :

31
1. Sebagai pelindung konstruksi di bawahnya
2. Sebagai lapisan aus
3. Menyediakan permukaan jalan yang rata dan tidak licin.

Adapun sifat-sifat Laston/AC adalah sebagai berikut :

1. Kedap air
2. Tahan terhadap keausan terhadap lalu lintas
3. Mempunyai nilai struktural
4. Mempunyai stabilitas yang tinggi
5. Peka terhadap penyimpangan perencanaan dan pelaksanaan.

Laston terdiri dari tiga macam campuran, yaitu Laston Lapis Aus
AC-WC (Asphalt Concrete Wearing Coarse), Laston Lapis Antara AC-
BC (Asphalt Concrete Binder Coarse) dan Laston Lapis Pondasi AC-
Base (Asphalt Concrete Base). (Spesifikasi campuran beraspal
Kementerian Pekerjaan Umum 2010).
a. Beton Aspal (AC-WC)
Beton Aspal (AC-WC) merupakan salah satu jenis dari lapis
perkerasan konstruksi perkerasan lentur. Jenis perkerasan ini
merupakan campuran merata antara agregat dan aspal sebagai bahan
pengikat pada suhu tertentu. Konstruksi perkerasan lentur terdiri dari
lapisan-lapisan yang diletakkan diatas tanah dasar yang telah
dipadatkan. Lapisan-lapisan tersebut berfungsi untuk menerima
beban lalu lintas dan menyebarkannya ke lapisan dibawahnya.
Adapun susunan lapis konstruksi perkerasan lentur terdiri dari :
(Silvia Sukirman, 1999) :
1. Lapis permukaan (surface course)
2. Lapis pondasi atas (base course)
3. Lapis pondasi bawah (subbase course)
4. Lapisan tanah dasar (subgrade)
Susunan konstruksi perkerasan jalan dapat dilihat pada gambar :

32
Gambar 3.1 Susunan Konstruksi Perkerasan Jalan

b. Lapis antara (AC-BC)


Lapis Antara AC-BC (binder course) merupakan bagian dari
lapis permukaan yang terletak di antara lapis pondasi atas (base
course) dengan lapis aus (wearing course). Fungsi dari lapis antara
adalah (Nono, 2007):
1. Mengurangi tegangan
2. Menahan beban paling tinggi akibat beban lalu lintas sehingga
harus mempunyai kekuatan yang cukup.

c. Lapis Apal Beton


Lapis aspal beton (Laston) sebagai lapisan pondasi,
dikenal dengan nama AC-Base(Asphalt Concrete-Base) dengan tebal
minimum AC-Base adalah 6 cm. Lapisan ini tidak berhubungan
langsung dengan cuaca tetapi memerlukan stabilitas untuk memikul
beban lalu lintas yang dilimpahkan melalui roda kendaraan.

2.5 Dasar Teori


2.5.1 Pekerjaan Dinding Penahan Tanah
Dinding penahan tanah (DPT) adalah suatu bangunan yang
dibangun untuk mencegah keruntuhan tanah yang curam atau lereng

33
yang dibangun di tempat di mana kemantapannya tidak dapat dijamin
oleh lereng tanah itu sendiri, dipengaruhi oleh kondisi gambaran
topografi tempat itu, bila dilakukan pekerjaan tanah seperti
penanggulangan atau pemotongan tanah.
Secara umum fungsi DPT (Dinding Penahan Tanah) adalah untuk
menahan besarnya tekanan tanah akibat parameter tanah yang buruk
sehingga longsor bisa dicegah, serta untuk melindungi kemiringan
tanah dan melengkapi kemiringan pondasi yang kokoh.
DPT (Dinding Penahan Tanah) terbuat dari 2 (dua) jenis bahan, antara
lain :
1. Beton (Cantilever Walls)
2. Batu kali (Gravity Walls)
Macam-macam dinding penahan di golongkan menurut bahan-
bahan yang digunakan bentuk bangunannya :
a. Dinding penahan tembok batu dan yang berupa balok
Dinding penahan jenis ini digunakan terutama untuk pencegahan
terhadap keruntuhan tanah, dan lebih lanjut lagi digunakan apabila
tanah asli di belakang tembok itu cukup baik dan tekanan tanah
dianggap kecil.

Gambar 3.2 Dinding Penahan Tembok Batu

34
b. Dinding penahan beton tipe gravitasi (Tipe semi gravitasi)
Dinding penahan jenis gravitasi bertujua untuk memperoleh
ketahanan terhadapt tekanan tanah dengan beratnya sendiri. Karean
bentuknya yang sederhana dan juga pelaksanaannya yang mudah,
jenis ini sering digunakan apabila dibutuhkan konstruksi penahan
yang tidak terlalu tinggi atu bla tanah pondasinya cukup baik.

Gambar 3.3 Dinding Penahan Beton Tipe Gravitasi

c. Dinding penahan beton dengan sandaran (Lean againts type)


Dinding penahan dengan balok kantilever tersusun dari suatu
tembok memanjang dan suatu pelat lantai. Masing-masing berlaku
sebagai balok kantilever dan kemantapan dari tembok didapatan
dengan berat sendiri atau berat tanah di atas tumit pelat lantai.

Gambar 3.4 Dinding Penahan Beton Dengan Sandaran

35
d. Dinding penahan beton bertulang dengan balok kantilever
Dinding penahan dengan balok kantilever tersusun dari suatu
tembok memanjang dan suatu pelat lantai. Masing-masing berlaku
sebagai balok kantilever dan kemantapan dari tembok didapatan
dengan berat sendiri atau berat tanah di atas tumit pelat lantai.

Gambar 3.5 Dinding Penahan Beton Bertulang Dengan Kantilever

e. Dinding penahan beton bertulang dengan penahan (Buttress)


Dinding penahan ini dibangun pada sisi tembok di bawah tanah
tertekan untuk memperkecil gaya irisan pada tembok memanjang
dan pelat lantai. Pada umumnya jenis ini hanya membutuhkan
bahan yang sedikit. Jenis ini digunakan untuk dinding penahan yang
cukup tinggi. Kelemahan dari jenis ini adalah pelaksanaannya yang
lebih sulit dapi pada jenis lainnya

Gambar 3.6 Dinding Penahan Beton Bertulang


Dengan Penahan

36
f. Dinding penahan beton bertulang dengan tembok penyokong
Dinding jenis ini berfungsi sama seperti dinding penahan
secara umumnya, tetapi tembok penyokong yang berhubungan
dengan penahan di tempatkan pada sisi yang berlawanan dengan sisi
di mana tekanan tanah bekerja.

Gambar 3.7 Tembok penahan tipe topangan

g. Dinding penahan khusus


Jenis ini adalah dinding khusus yang tidak termasuk dalam
dinding penahan sebelumnya. Jenis ini dibagi menjadi dinding
penahan macam rak, dinding penahan tipe kotak, dinding penahan
terbuat di pabrik, dinding penahan yang menggunakan jangkar,
tembok penahan dengan cara penguatan tanah dan tembo penahan
berbentuk Y terbalik.

Gambar 3.8 Dinding Penahan

37
2.5.2 Pekerjaan Aspal
Aspal pada lapis perkerasan jalan berfungsi sebagai bahan ikat antar
agregat untuk membentuk suatu campuran yang kompak, sehingga akan
memberikan kekuatan yang lebih besar dari kekuatan masing-masing
agregat. Aspal yang digunakan pada penelitian ini merupakan hasil
penyulingan minyak mentah produksi Shell.
Aspal merupakan material yang bersifat viscoelastis dan memiliki ciri-
ciri beragam, yaitu :
1. Aspal mempunyai sifat Thixotropy, yaitu jika dibiarkan tanpa
mengalami tegangan-tegangan akan berakibat aspal menjadi
mengeras sesuai dengan jalannya waktu.
2. Aspal adalah bahan yang Thermoplastis, yaitu viskositasnya akan
berubah sesuai dengan perubahan temperatur yang terjadi. Semakin
tinggi temperatur aspal, maka viskositasnya akan semakin rendah,
demikian pula sebalikya.
3. Aspal mempunyai sifat Rheologic, yaitu hubungan tegangan (stress)
dan regangan (strain) dipengaruhi oleh waktu. Apabila mengalami
pembebanan dengan jangka waktu pembebanan yang sangat cepat,
maka aspal akan bersifat elastis, namun jika lama pembebanan yang
terjadi cukup lama, sifat aspal menjadi plastis.
Jenis-jenis aspal buatan hasil penyulingan minyak bumi teridri dari :
1. Aspal keras Aspal keras merupakan aspal hasil destilasi yang
bersifat viskoelastis sehingga akan melunak dan mencair bila
mendapat cukup pemanasan dan sebaliknya.
2. Aspal cair Aspal cair merupakan aspal hasil dari pelarutan aspal
keras dengan bahan pelarut berbasis minyak.
3. Aspal emulsi Aspal emulsi dihasilkan melalui proses pengemulsian
aspal keras. Pada proses ini partikel-partikel aspal padat dipisahkan
dan didispersikan dalam air.

38
2.5.3 Lapis Aspal Beton (LASTON)
Laston atau aspal beton adalah jenis perkerasan jalan yang terdiri dari
campuran agregat dengan aspal, dengan atau tanpa bahan tambahan,
yang dicampur, dihamparkan dan dipadatkan pada suhu tertentu.
Karakteristik aspal beton sebagai berikut:
1. Stabilitas, adalah kemampuan perkerasan aspal menerima baban
lalu lintas tanpa terjadi perubahan bentuk tetap, seperti gelombang,
alur dan bleeding. Faktor yang mempengaruhi nilai stabilitas beton
aspal:
a. Gesekan internal, yang berasal dari kekasaran permukaann
butiran agregat, luas bidang kontak, bentuk butiran, gradasi
agregat, kepadatan campuran dan tebal film aspal
b. Kohesi, adalah gaya iktan aspal yang berasal dari daya lekat
aspal terhadap agregat. Daya kohesi terutama ditentukan oleh
penetrasi aspal, perubahan viskositas akibat temperatur, tingkat
pembebanan, komposisi kimiawi aspal, efek dari waktu dan
umur aspal.
2. Keawetan/durabilitas, adalah kemampuan beton aspal menerima
repetisi beban lalu lintas seperti berat kendaraan dan gesekan
3. Kelenturan/fleksibilitas, adalah kemampuan beton aspal untuk
menyesuaikan diri akibat penurunan dan pergerakan dari pondasi
atau tanah dasar, tanpa terjadinya retak.
4. Ketahanan terhadap kelelahan/Fatique resistance, adalah
kemampuan beton aspal menerima lendutan berulang akibat repetisi
beban, tanpa terjadinya kelelahan berupa alur dan retak.
5. Kekesatan/tahanan geser/Skid resistance, adalah kemampuan
permukaan beton aspal terutama kondisi basah, memberikan gaya
gesek pada roda kendaraan sehingga kendaraan tidak tergelincir
atau slip.
6. Kedap air/impermeabilitas, adalah kemapuan beton aspal untuk
tidak dapat dimasuki air ataupun udara kedalam lapisan beton aspal.

39
7. Mudah dilaksanakan/Workability, adalah kemampuan campuran
beton aspal untuk mudah dihamparkan dan dipadatkan. Tingkat
workability menentukan tingkat efisiensi pekerjaan.
3.2.2.1 Asphalt Concrete-WearingCourse (AC-WC).
Sebagai lapis permukaan (lapis aus) yang tahan terhadap cuaca,
gaya geser, dan tekanan roda serta memberikan lapis kedap air yang
dapat melindungi lapis di bawahnya dari rembesan air dikenal
dengan nama Asphalt Concrete-WearingCourse (AC-WC).

3.2.2.2 Asphalt Concrete-Binder Course (AC-BC).


Sebagai lapis pengikat dikenal dengan nama Asphalt Concrete-
Binder Course (AC-BC).

3.2.2.3 Asphalt Concrete-Base (AC-Base).


Sebagai lapis pondasi, jika dipergunakan pada pekerjaan
peningkatan atau pemeliharaan jalan, dikenal dengan nama Asphalt
Concrete-Base (AC-Base).

40
BAB IV

SISTEM PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

4.1 Umum
Tahap pelaksanaan merupakan tahap yang sangat penting sebagai
kelanjutan dari tahap perencanaan dimana pada tahap ini merupakan aplikasi
dan penerapan langsung di lapangan sesuai dengan apa yang telah
direncanakan sebelumnya dengan pengawasan dari tim supervise. Dalam
pelaksanaan ini ada kalanya diperlukan satu perubahan desain maupun jenis
pekerjaan karena kondisi lapangan yang jauh berbeda dari apa yang
direncanakan sebelumnya. Hal ini dapat terjadi karena disebabkan oleh faktor
salah satunya yaitu waktu perencanaan dan waktu pelaksanaan yang
mempunyai masa tenggang yang cukup lama. Perwujudan suatu pekerjaan
dilapangan akan dapat berjalan sesuai rencana, dengan apabila didukung oleh
keterampilan, produktifitas, dan efektifitas yang tinggi dari atau instansi yang
mengelola pekerjaan tersebut.
Pada tahap ini yang memegang peranan penting adalah kontraktor.
Kontraktor dalam pelaksanaan pekerjaan terkait oleh perjanjian-perjanjian
yang disetujui bersama dalam proses penunjukannya sebagai pelaksana
pekerjaan. Masa atau waktu pelaksanaan ini adalah 225 (dua ratus dua puluh
lima) hari kalender, dimulai sejak 21 Mei 2015 sampai dengan tanggal 30
Desember 2015.

1. Pekerjaan Yang Dilaksanakan


Adapun jenis pekerjaan yang dilakukan selama proyek Preservasi
Rekonstruksi Jalan Sengkol-Kuta adalah sebagai berikut :
a. Mobilisasi
Semua yang tercangkup dalam ketentuan mobilisasi untuk proyek
ini dipenuhi paling lama 60 hari kalender setelah mendapatkan Surat
Perintah Mulai Kerja (SPMK), kecuali penyediaan fasilitas dan
pengendalian mutu harus diselesaikan dalam waktu 45 hari, dalam waktu 7

41
hari setelah penandatanganan kontrak kontraktor melaksanakan rapat pra
pelaksanaan (Pre Contruction Meetimg) yang dihadiri pengguna jasa,
Direksi Pekerjaan, Direksi Teknis (bila ada), dan Penyedia Jasa untuk
membahas semua hal baik yang teknis maupun yang non teknis dalam
kegiatan ini, dan dalam waktu 14 hari setelah rapat pra pelaksanaan,
penyedia jasa harus menyerahkan Program Mobilisasi dan Jadwal
Kemajuan Pelaksana kepada Direksi Pekerjaan untuk dimintakan
persetujuannya.
Adapun hal-hal yang mencakup dilakukan dalam program
mobilisasi yaitu:
- Mendatangkan personil-personil kontraktor dan supervise.
- Melaksanakan survey lapangan dan uji material yang
digunakan, pada tahapan pelaksanaan ini mula-mula
kontraktormelakukan survey dilapangan untuk mengetahui
kondisi lapangan yang sebenarnya. Data-data asli di
lapangan dicatat sebagai acuan bagi kontraktor untuk
melakukan perkerjaan berikutnya.
- Membuat soft drawing dan MC NOL (Monthly Certificate).
Dari hasil survey, kontraktor membuat soft drawing yang
menggambarkan kondisi di lapangan disertai dengan
pengambilan dokumentasi eksis awal jalan sebelumnya
dilakukan pekerjaan fisik proyek. Selanjutnya, diajukan
kepada pemimpin proyek untuk ditandatangani oleh pihak
konsultan dan Dinas Pekerja Umum. Kemudian, kontraktor
membuat rencana kuantitas volume-volume pekerjaan yang
akan dikerjakan dilapangan.
- Mempersiapkan fasilitas lapangan atau fasilitas kontraktor
sesuai dengan kebutuhan barupa base camp yang
merupakan tempat bagi para pengelola proyek melakukan
berbagai aktifitas yang berkaitan dengan kegiatan proyek
yang dilaksanakan misalnya pertemuan antara kepala

42
proyek dengan pemimpin pelaksana kegiatan, kegiatan
pengelola data, tempat beristrirahat dan lain-lain.
- Mendatangkan peralatan-peralatan berat dan kendaraan-
kendaraan yang akan diperlukan dalam pelaksanaan proyek.
- Mengambil contoh-contoh material serta mengadakan
pengetesan terhadap jenis-jenis material yang diperlukan
dalam pelaksanaan pekerjaan.
- Penyiapan rambu-rambu lalu lintas agar kelancaran arus
lalu lintas tetap terjaga.

b. Pembersihan Lokasi Proyek


Adapun pekerjaan pembersihan proyek antara lain :
1. Penyiapan badan jalan
Pekerjaan ini dilakukan untuk memberikan akses yang lebih mudah
untuk alat-alat beroperasi dilapangan.Karena proyek ini berada dekat
dengan pemukiman warga setempat dan merupakan jalur utama.

2. Pemberian Rambu-rambu
Pemberian rambu-rambu di maksudkan agar kendaraan yang
melintas di sepanjang lokasi proyek dapat lebih berhati-hati karena
banyak pengangkutan material proyek. Selain itu banyak alat berat
beroprasi sehingga dapat mengganggu arus lalu lintas.

3. Pembersihan
Pembersihan lokasi dari sampah-sampah yang berada disekitar
lapangan, pemotongan pohon pilihan yang berdiameter 15-30 cm,
pengerukan lumpur-lumpur yang berada di sekitar lapangan dan
pengerukan atau perbaikan Hotmix yang akan di rekonstruksi kembali

43
c. Pemasangan Dinding Penahan Tanah (DPT)
1. Penggalian
Penggalian dilakukan guna mendapatkan tanah dasar yang baik dan
sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan. Proses penggalian
dengan cara manual dapat kita lihata pada gambar di bawah ini.

Gambar 4.1 Penggalian penyiapan Pemasangan DPT

2. Pemasangan Batu untuk DPT


Pemasangan batu DPT dilakukan oleh tukang batu yang telah
diberikan kontrak pekerjaan oleh mandor. Untuk pemasangan DPT
dapat kita lihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 4.2 Pemasangan Batu DPT

44
3. Pengerjaan Bahu Jalan
Pengerjaan bahu jalan (rabat beton) menggunakan mutu beton
K175 dengan lebar variasi dan ketebalan 20 cm. Proses pengerjaan
rabat bahu jalan dapat kita lihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 4.3 Pekerjaan Rabat Bahu Jalan

d. Pekerjaan Tanah
Hal-hal yangdilakukan dalam pengerjaan tanah antara lain :
1. Galian
Pelaksanaan pekerjaan ini menggunakan alat (cara mekanik) yaitu
menggunakan alat Exavator untuk menggali dan Dump Truck untuk
mengangkut atau membuang material hasil galian tersebut.
Pelaksanaan pekerjaan galian tanah biasa ,dilakukan dengan cara
manual atau tenaga kerja yang dilaksanakan pada lokasi badan jalan
dan penurunan jalan/Down Grade
2. Timbunan
Timbunan yang diklasifikasikan sebagai timbunan biasa harus
terdiri dari bahan galian tanah atau bahan galian batu yang memenuhi
syarat untuk digunakan dalam pekerjaan permanen.Bahan yang dipilih
sebaiknya tidak termasuk tanah yang berplastisitas tinggi..Timbunan
pilihan merupakan lapisan perkerasan jalan yang terletak dibawah
lapisan pondasi atas.

45
Material timbunan tanah pilihan berasal dari Borrow area, dimana
sebelum memulai pekerjaan, lokasi borrow area untuk timbunan tanah
pilihan sudah diperiksa oleh direksi teknik dan bagian pengujian dan
dapat disepakati untuk dapat dipakai sebagai material timbunan tanah
pilihan.

Gambar 4.4 Timbunan Biasa

e. Pemasangan Geomembran
Sebelum pemasangan Geomembran dilakukan, terlebih dahulu
dilakukan penyambungan geomembran untuk menyesuaikan dengan lebar
badan jalan. Pada tahap penyambungan geomembran ini dilakukan dengan
alat penyambung geomembran. Setelah penyambungan geomembran
dilakukan, tahap selanjutnya yaitu pemasangan geomembran sebelum LPA
dihamparkan. Pemasangan geomembran dilakukan pada tengah malam
untuk menghindari macetnya Lalu lintas, karena merupakan jalan utama
Pariwisata.

Gambar 4.5 Proses Penyambungan PVC-Geomembran

46
Gambar 4.6 Penggelaran PVC-Geomembran
f. Lapis Pondasi
Item pekerjaan ini termasuk dalam pekerjaan perkerasan berbutir,
merupakan produk dari material yang sebelumnya telah dilakukan
pengujian laboratorium.
Pelaksanaan item pekerjaan ini merupakan pekerjaan Lapisan Pondasi
Bawah (LPB) dan Lapisan Pondasai Atas (LPA) untuk badan jalan.
Adapun rincian pekerjaan dalam lapis pondasi antara lain :
1. Lapis Pondasi Agregat Kelas A
Agregat LPA diangkut menggunakan Dump Truck dari quary ke
lokasi proyek yang telah disiapkan kemudian LPA dipasang di atas
timbunan urugan pilihan yang telah disiapkan.

Gambar 4.7 Agregat LPA

47
2. Penghamparan Material Agregat
Setiap lapis akan dihampar pada suatu operasi dengan takaran yang
merata agar menghasilkan tebal padat yang diperlukan dalam toleransi
yang disyaratkan. Lapis pondasi agregat akan dihampar dan dibentuk
sedemikian rupa sehingga tidak menyebabkan segresi pada partikel
agregat kasar dan halus.
Tebal yang direncanakan pada Preservasi Rekonstruksi Jalan
Sengkol-Kuta adalah 20 cm, dengan menggunakan alat Motor Grader.

Gambar 4.8 Penghamparan Agregat

3. Pemadatan Material Agregat


Pemadatan hanya dilakukan bila kadar air dari bahan berada dalam
rentang 3% di bawah kadar air optimum sampai 1% di atas kadar
optimum. Operasi penggilasan dimulai dari sepanjang tepi bergerak
sedikit demi sedikit kearah sumbu jalan, dalam arah memanjang. Pada
bagian yang bersuperelevasi, penggilasan harus dimulai dari bagian
yang rendah dan bergerak sedikit demi sedikit kebagian yang lebih
tinggi.
Bila kepadatan yang diinginkan kurang dari harapan, maka agregat
A bisa disiram air dengan menggunakan Water Tank, setelah itu baru
dipadatkan lagi sampai dengan kepadatan yang diinginkan, pemadatan
material menggunakan Raoad Roller.

48
Gambar 4.9 Penyiraman Dan Pemadatan Agregat

4. Pengujian Kepadatan (sand cone)


Pengujian kepadatan ini menggunakan metode Sand Cone.
Pengujian mutu pengendalian bahan bahan harus dilaksanakan untuk
mengendalikan ketidak seragaman bahan yang dibawa kelokasi
pekerjaan. Setiap 1000 meter kubik bahan yang diproduksi paling
sedikit harus meliputi tidak kurang dari lima pengujian indeks
plastisitas, lima pengujian gradasi partikel, dan satu penentuan
kepadatan kering maksimum.

Gambar 4.10 Uji Sand Cone

49
g. Pengerjaan Pemasangan U-Ditch
Pemasangan U-Ditch pada Proyek Preservasi Rekonstruksi Jalan
Sengkol-Kuta ini tidah seluruhnya dipasang. Pemasangan U-Ditch hanya
dipasang jika elevasi hotmik sejajar dengan bahu jalan atau sama tinggi.
Pemasangna U-Ditch dilakukan untuk menghindari genangan air atau
sebagai drainase jalan.

Gambar 4.11 Pemasangan U-Ditch

h. Pengerjaan Hotmix
1. Pembersihan Permukaaan Agregat Kelas A
Pembersihan lahan dilakukan sebelum pelapisan Prime Coat , hal
ini dilakukan untuk membersihkan lahan dari kotoran dan material
lepas yang ada di lahan yang akan dikerjakan. Pembersihan lahan
permukaan agregat dari debu atau material lepas dengan menggunakan
semprotan Compressor agar pada saat penyemprotan Prime Coat dapat
mengikat antara agregat dengan aspal yang akan di hampar pada
pelaksanaan pengaspalan.

Gambar 4.12 Pembersihan Permukaan Agregat

50
2. Penyemprotan Aspal Resap Pengikat (Prime Coat)
Penyemprotan lapis resap pengikat (Prime Coat) disemprotkan di
atas permukaan LPA dengan menggunakan alat Hand Sprayer dan
memastikan lapisan ini disemprotkan secara merata kepermukaan
badan jalan.

Gambar 4.13 Penyemprotan Crime Coat

3. Penghamparan dan Pemadatan Hotmix (AC-BC)


Penghamparan Aspal dialakukan dengan proses yang sama, aspal
di bawa dari AMP yang berada di Peringgabaya, Lombok Timur
dengan lama waktu diperjalan selama 2 jam, setelah aspal tiba di lokasi
tempat akan di hampar, mulailah aspal di hampar dengan
menggunakan alat berat Asphalt Finisher yang bersandingan dengan
Dump Truck.

51
Gambar 4.14 Pengerjaan Penghamparan AC-BC

Setelah dilakukan proses penghamparan, maka dilakukan


pengukuran suhu aspal yg dihampar, apakah masih memenuhi standar
suhu ataukah tidak. Dimana standar suhu aspal yang harus dihampar
adalah 120⁰c-124⁰c atau dengan duhu minimum yaitu 110⁰c. Apabila
suhu Hotmix sudah sesuai, maka langkah selanjutnya yaitu meratakan
hotmix yang telah di hampar menggunakan Tendem Roller dengan 6-8
kali passing.

Gambar 4.15 Perataan Hotmix

52
Setelah proses perataan aspal selesai, lalu dilakukan pemadatan
aspal, dimana dalam proses pemadatan aspal digunakan 2 buah Tire
Roler, dengan hitungan passing sebanyak 18-20 pasing. Pemadatan
akhir pada AC-BC harus sesuai dengan ketebalan perencanaan yaitu
ketebelan perencanaan pada Rekonstruksi Jalan Sengkol-Kuta untuk
AC-BC adalah 6cm.

Gambar 4.16 Proses Pemadataan Hotmix

4. Penghamparan dan Pemadatan Hotmix (AC-WC)


Pengerjaan penghamparan hotmix AC-WC memiliki prosedur yang
sam dengan pengerjaan AC-BC, akan tetpai untuk ketebalan lapis AC-
WC yang direncanakan yaitu 4cm

Gambar 4.17 Pengerjaan AC-WC

53
i. Tahap Finishing
1. Pengambilan Sample Core Drill
Core Drill ini dikerjakan untuk mengetahui susunan ketebalan pada
hotmix, apakah sudah sesuai dengan perencanaan yang telah
ditentukan dan apakah perkerasan tersebut layak digunakan atau tidak.

Gambar 4.18 Pengambilan Sample Core Drill

2. Pemberian Marka Jalan


Marka jalan merupakan suatu tanda yang berada dipermukaan jalan
atau di atas permukaan jalan yang meliputi peralataan atau tanda yang
membentuk garis membujur, garis melintang, garis serong serta
lambang lainnya yang berfungsi untuk mengarahkan arus lalu lintas
dan membatasi daerah kepentingan lalu lintas. Pemberian marka jalan
sangat penting pada jalan raya.

3. Pemasangan Rambu-Rambu Jalan


Rambu lalu lintas merupakan bagian dari perlengkapan jalan yang
memuat lambang, huruf, angka yang digunakan untuk memberikan
peringatan, larangan, perintah dan petunjuk bagi pemakai jalan. Agar
rambu terlihat baik siang atau malam ataupun pada waktu hujan, maka
bahan terbuat dari material retro reflektif pada rambu konvensional.

54
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari Praktik Kerja Lapangan (PKL), ada beberapa
kesimpulan yang dapat di ambil yaitu :
1. Penggunaan PVC Geomembran pada Preservasi Rekonstruksi Jalan
Sengkol-Kuta berpengaruh besar terhadap pembangunan jalan ini.
Penggunaan PVC Geomembran merupakan yang pertama dipakai di
wilayah Lombok, yaitu di Proyek Sengkol-Kuta ini.
2. Asphalt Concrete Binder Course (AC – BC) dengan tebal 6 cm sebanyak
1 lapis. Direncanakan lapis pondasi AC-BC dengan kadar aspal efektif
sebesar 4,5 %.
3. Asphalt Concrete Wearing Course (AC – WC) dengan tebal 4 cm
sebanyak 1 lapis. Direncanakan lapis pondasi AC-WC dengan kadar aspal
efektif sebesar 5,4 %.
4. Penggunaan bahu jalan atau rabat menggunakan lebar yang bervariasi
sesuai dengan kondisi dilapangan, dengan ketebalan rata-rata adalah 20
cm.
5. U-Ditch yang digunakan dalan Preservasi Rekonstruksi Jalan Sengkol-
Kuta ini menggunakan U-Ditch dengan ukuran DS.2 80/100 dan DS.2
70/100.
6.
5.2 Saran
Dari hasil pengamatan di lokasi pekerjaan proyek diperoleh beberapa saran
dalam pelaksanaan pekerjaan proyek :
1. Dalam proses pemasangan DPT yang menggunakan batu sebaiknya di
awasi dengan benar, karena banyak pemasangan DPT yang terlepas.
2. Memastikan truk yang digunakan untuk mengangkut material aspal di
tutup dengan baik agar material aspal tersebut tidak jatuh dan mengotori
jalan, dan tidak menggamggu pengguna lalu lintas yang lainnya.

55
3. Waktu Pemasangan U-Ditch sebiknya di sesuaikan dengan waktu
pengaspalan atau hotmix, ubtuk menghindari kekotoran lahan pada badan
jalan.
4. Sebaiknya menggunakan pengawalan waktu pengerjaan Pengaspalan,
dikarenakan masyarakat setempat sering menghentikan waktu jam kerja
secara tiba tiba dengan alasan menggangu pemukiman warga setempat.
5.

56