Anda di halaman 1dari 19

KELOMPOK VII

KETAHANAN PANGAN
( Mata Kuliah : Pangan Dan Gizi )
untuk meningkatkan ketahanan pangan dilakukan diversifikasi pangan dengan memperhatikan
sumberdaya, kelembagaan dan budaya lokal melalui peningkatan teknologi pengolahan dan produk
pangan dan peningkatan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi anekaragam pangan dengan
gizi seimbang.

Disusun oleh :

1. SURYATI NUR AZMI


2. KASMAWATI
3. SURYATI NUR AZMI
4. LELI KHAIRANI
5. ROHAMA LAILA
6. RUHUDIN AZAMI
7. KAMALUDIN
8. MAHYADI WIRAJAYA
9. NOVI HIMAWAN

STIKES PAYUNG NEGERI ACEH DARUSSALAM


KABUPATEN BENER MERIAH
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 2
1.2 Rumusan Masalah 3
1.3 Tujuan 4
1.4 Manfaat 4
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Ketahanan Pangan 5
2.2 Tujuan Pembangunan Ketahanan Pangan 6
2.3 Strategi dalam Upaya Pembangunan Ketahanan Pangan 7
2.4 Sub Sistem Ketahanan Pangan 8
2.5 Aspek-aspek tentang permasalahan dan tantangan yang dihadapi oleh
9
pemerintah dalam mencapai ketahanan pangan
2.6 Program dalam Upaya Ketahanan Pangan 13
BAB III 3.1 Kesimpulan 16
3.2 Saran 17

1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pangan merupakan komoditas penting dan strategis bagi bangsa Indonesia
mengingat pangan adalah kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi oleh pemerintah
dan masyarakat secara bersama-sama seperti diamanatkan oleh Undang Undang Nomor 7
tahun 1996 tentang pangan. Dalam UU tersebut disebutkan Pemerintah menyelenggarakan
pengaturan, pembinaan, pengendalian dan pengawasan, sementara masyarakat
menyelenggarakan proses produksi dan penyediaan, perdagangan, distribusi serta berperan
sebagai konsumen yang berhak memperoleh pangan yang cukup dalam jumlah dan mutu,
aman, bergizi, beragam, merata, dan terjangkau oleh daya beli mereka.
Peraturan Pemerintah No.68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan sebagai
peraturan pelaksanaan UU No.7 tahun 1996 menegaskan bahwa untuk memenuhi
kebutuhan konsumsi yang terus berkembang dari waktu ke waktu, upaya penyediaan
pangan dilakukan dengan mengembangkan sistem produksi pangan yang berbasis pada
sumber daya, kelembagaan, dan budaya lokal, mengembangkan efisiensi sistem usaha
pangan, mengembangkan teknologi produksi pangan, mengembangkan sarana dan
prasarana produksi pangan dan mempertahankan dan mengembangkan lahan produktif. Di
PP tersebut juga disebutkan dalam rangka pemerataan ketersediaan pangan ke seluruh
wilayah dilakukan distribusi pangan melalui upaya pengembangan sistem distribusi pangan
secara efisien, dapat mempertahankan keamanan, mutu dan gizi pangan serta menjamin
keamanan distribusi pangan.
Disamping itu, untuk meningkatkan ketahanan pangan dilakukan diversifikasi pangan
dengan memperhatikan sumberdaya, kelembagaan dan budaya lokal melalui peningkatan
teknologi pengolahan dan produk pangan dan peningkatan kesadaran masyarakat untuk
mengkonsumsi anekaragam pangan dengan gizi seimbang. PP Ketahanan Pangan juga
menggarisbawahi untuk mewujudkan ketahanan pangan dilakukan pengembangan sumber
daya manusia yang meliputi pendidikan dan pelatihan di bidang pangan, penyebarluasan
ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pangan dan penyuluhan di bidang pangan. Di
samping itu, kerjasama internasional juga dilakukan dalam bidang produksi, perdagangan

2
dan distribusi pangan, cadangan pangan, pencegahan dan penanggulangan masalah pangan
serta riset dan teknologi pangan.
Dari uraian di atas terlihat ketahanan pangan berdimensi sangat luas dan melibatkan
banyak sektor pembangunan. Keberhasilan pembangunan ketahanan pangan sangat
ditentukan tidak hanya oleh performa salah satu sektor saja tetapi juga oleh sektor lainnya.
Dengan demikian sinergi antar sektor, sinergi pemerintah dan masyarakat (termasuk dunia
usaha) merupakan kunci keberhasilan pembangunan ketahanan pangan.
Menyadari hal tersebut di atas, Pemerintah pada tahun 2001 telah membentuk Dewan
Ketahanan Pangan ( DKP) diketuai oleh Presiden RI dan Menteri Pertanian sebagai Ketua
Harian DKP. DKP terdiri dari 13 Menteri termasuk Menteri Riset dan Teknologi dan 2 Kepala
LPND. Dalam pelaksanaan sehari-hari, DKP dibantu oleh Badan Bimas Ketahanan Pangan
Deptan, Tim Ahli Eselon I Menteri Terkait (termasuk Staf Ahli Bidang Pangan KRT), Tim
Teknis dan Pokja.
Peraturan Pemerintah No.68 Tahun 2002 tentang ketahanan pangan pasal 9
menyebutkan: (1) penganekaragaman pangan diselenggarakan untuk meningkatkan
ketahanan pangan dengan memperhatikan sumber daya, kelembagaan, dan budaya lokal,
(2) penganekaragaman pangan sebagaimana dimaksudkan dalam ayat1 dilakukan dengan a.
Meningkatkan keragaman pangan, b. Mengembangkan teknologi pengolahan dan produk
pertanian dan c. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi anekaragam
pangan dengan prrinsip gizi berimbang.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat diajukan beberapa rumusan masalah,
antara lain:
1. Apa yang dimaksud dengan ketahanan pangan?
2. Bagaimana tujuan dari pembangunan ketahanan pangan?
3. Bagaimana strategi dalam upaya pembangunan ketahanan pangan?
4. Apa saja sub sistem ketahanan pangan?
5. Aspek-aspek apa saja yang berkaitan dengan permasalahan dan tantangan yang
dihadapi oleh pemerintah dalam mencapai ketahanan pangan?
6. Bagaimana program dalam upaya ketahanan pangan?

3
1.3 Tujuan
Adapun tujuan yang diperoleh dari rumusan masalah tersebut adalah :
1. Untuk mengetahui pengertian dari ketahanan pangan
2. Untuk mengetahui tujuan dari pembangunan ketahanan pangan
3. Untuk mengetahui strategi dalam upaya pembangunan ketahanan pangan
4. Untuk mengetahui sub sistem ketahanan pangan
5. Untuk mengetahui aspek-aspek yang berkaitan dengan permasalahan dan tantangan
yang dihadapi oleh pemerintah dalam mencapai ketahanan pangan
6. Untuk mengetahui program dalam upaya ketahanan pangan.

1.4 Manfaat
Manfaat yang dapat kita petik dari makalah ini adalah kita dapat mengetahui
tentang ketahanan pangan yang ada di Indonesia sehingga dengan adanya ketahanan
pangan ini, masyarakat dapat lebih memahami hal-hal apa yang perlu di perhatikan
dalam ketahanan pangan mereka.

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Ketahanan Pangan


Definisi dan paradigma ketahanan pangan terus mengalami perkembangan sejak
adanya Conference of Food and Agriculture tahum 1943 yang mencanangkan konsep
secure, adequate and suitable supply of food for everyone”. Definisi ketahanan pangan
sangat bervariasi, namun umumnya mengacu definisi dari Bank Dunia (1986) dan Maxwell
dan Frankenberger (1992) yakni “akses semua orang setiap saat pada pangan yang cukup
untuk hidup sehat (secure access at all times to sufficient food for a healthy life). Studi
pustaka yang dilakukan oleh IFPRI (1999) diperkirakan terdapat 200 definisi dan 450
indikator tentang ketahanan pangan (Weingärtner, 2000). Berikut disajikan beberapa
definisi ketahanan yang sering diacu :
1. Undang-Undang Pangan No.7 Tahun 1996: kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan
bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan secara cukup, baik dari
jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau.
2. USAID (1992: kondisi ketika semua orang pada setiap saat mempunyai akses secara
fisik dan ekonomi untuk memperoleh kebutuhan konsumsinya untuk hidup sehat dan
produktif.
3. FAO (1997) : situasi dimana semua rumah tangga mempunyai akses baik fisik maupun
ekonomi untuk memperoleh pangan bagi seluruh anggota keluarganya, dimana rumah
tangga tidak beresiko mengalami kehilangan kedua akses tersebut.
4. FIVIMS 2005: kondisi ketika semua orang pada segala waktu secara fisik, social dan
ekonomi memiliki akses pada pangan yang cukup, aman dan bergizi untuk pemenuhan
kebutuhan konsumsi dan sesuai dengan seleranya (food preferences) demi kehidupan
yang aktif dan sehat.
5. Mercy Corps (2007) : keadaan ketika semua orang pada setiap saat mempunyai akses
fisik, sosial, dan ekonomi terhadap terhadap kecukupan pangan, aman dan bergizi
untuk kebutuhan gizi sesuai dengan seleranya untuk hidup produktif dan sehat.

5
Berdasarkan definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa ketahanan pangan
memiliki 5 unsur yang harus dipenuhi :
a. Berorientasi pada rumah tangga dan individu.
b. Dimensi watu setiap saat pangan tersedia dan dapat diakses.
c. Menekankan pada akses pangan rumah tangga dan individu, baik fisik, ekonomi dan
social.
d. Berorientasi pada pemenuhan gizi.
e. Ditujukan untuk hidup sehat dan produktif.
f.
Di Indonesia sesuai dengan Undang-undang No. 7 Tahun 1996, pengertian ketahanan
pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari: (1)
tersedianya pangan secara cukup, baik dalam jumlah maupun mutunya; (2) aman; (3)
merata; dan (4) terjangkau. Dengan pengertian tersebut, mewujudkan ketahanan pangan
dapat lebih dipahami sebagai berikut:
1) Terpenuhinya pangan dengan kondisi ketersediaan yang cukup, diartikan ketersediaan
pangan dalam arti luas, mencakup pangan yang berasal dari tanaman, ternak, dan ikan
untuk memenuhi kebutuhan atas karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral
serta turunannya, yang bermanfaat bagi pertumbuhan kesehatan manusia.
2) Terpenuhinya pangan dengan kondisi yang aman, diartikan bebas dari cemaran
biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan
membahayakan kesehatan manusia, serta aman dari kaidah agama.
3) Terpenuhinya pangan dengan kondisi yang merata, diartikan pangan yang harus
tersedia setiap saat dan merata di seluruh tanah air.
4) Terpenuhinya pangan dengan kondisi terjangkau, diartikan pangan mudah diperoleh
rumah tangga dengan harga yang terjangkau.

2.2 Tujuan Pembangunan Ketahanan Pangan


Tujuan pembangunan ketahanan pangan adalah mencapai ketahanan dalam bidang
pangan dalam kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga dari produksi pangan
nasional yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, jumlah dan mutu, aman,
merata dan terjangkau seperti diamanatkan dalam UU pangan.

6
2.3 Strategi dalam Upaya Pembangunan Ketahanan Pangan
Strategi yang dikembangkan dalam upaya pembangunan ketahanan pangan
adalah sebagai berikut :
a) Peningkatan kapasitas produksi pangan nasional secara berkelanjutan (minimum
setara dengan laju pertumbuhan penduduk) melalui intensifikasi, ekstensifikasi
dan diversifikasi.
b) Revitalisasi industri hulu produksi pangan (benih, pupuk, pestisida dan alat dan
mesin pertanian) .
c) Revitalisasi Industri Pasca Panen dan Pengolahan Pangan.
d) Revitalisasi dan restrukturisasi kelembagaan pangan yang ada ; koperasi, UKM
dan lumbung desa.
e) Pengembangan kebijakan yang kondusif untuk terciptanya kemandirian pangan
yang melindungi pelaku bisnis pangan dari hulu hingga hilir meliput penerapan
technical barrier for Trade (TBT) pada produk pangan, insentif, alokasi kredit , dan
harmonisasi tarif bea masuk, pajak resmi dan tak resmi.

Ketahanan pangan diwujudkan oleh hasil kerja sistem ekonomi pangan yang
terdiri dari subsistem ketersediaan meliput produksi , pasca panen dan pengolahan,
subsistem distribusi dan subsistem konsumsi yang saling berinteraksi secara
berkesinambungan. Ketiga subsistem tersebut merupakan satu kesatuan yang didukung
oleh adanya berbagai input sumberdaya alam, kelembagaan, budaya, dan teknologi.
Proses ini akan hanya akan berjalan dengan efisien oleh adanya partisipasi masyarakat
dan fasilitasi pemerintah.
Partisipasi masyarakat ( petani, nelayan dll) dimulai dari proses produksi, pengolahan,
distribusi dan pemasaran serta jasa pelayanan di bidang pangan. Fasilitasi pemerintah
diimplementasikan dalam bentuk kebijakan ekonomi makro dan mikro di bidang
perdagangan, pelayanan dan pengaturan serta intervensi untuk mendorong terciptanya
kemandirian pangan. Output dari pengembangan kemandirian pangan adalah

7
terpenuhinya pangan, SDM berkualitas, ketahanan pangan, ketahanan ekonomi dan
ketahanan nasional.

2.4 Sub Sistem Ketahanan Pangan


Sub sistem ketahanan pangan terdiri dari tiga sub sistem utama yaitu
ketersediaan, akses, dan penyerapan pangan, sedangkan status gizi merupakan
outcome dari ketahanan pangan. Ketersediaan, akses, dan penyerapan pangan
merupakan sub sistem yang harus dipenuhi secara utuh. Salah satu subsistem tersebut
tidak dipenuhi maka suatu negara belum dapat dikatakan mempunyai ketahanan
pangan yang baik. Walaupun pangan tersedia cukup di tingkat nasional dan regional,
tetapi jika akses individu untuk memenuhi kebutuhan pangannya tidak merata, maka
ketahanan pangan masih dikatakan rapuh.

1. Sub sistem ketersediaan (food availability)


yaitu ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup aman dan bergizi untuk
semua orang dalam suatu negara baik yang berasal dari produksi sendiri, impor,
cadangan pangan maupun bantuan pangan. Ketersediaan pangan ini harus mampu
mencukupi pangan yang didefinisikan sebagai jumlah kalori yang dibutuhkan untuk
kehidupan yang aktif dan sehat.

2. Akses pangan (food access)


yaitu kemampuan semua rumah tangga dan individu dengan sumberdaya
yang dimilikinya untuk memperoleh pangan yang cukup untuk kebutuhan gizinya
yang dapat diperoleh dari produksi pangannya sendiri, pembelian ataupun melalui
bantuan pangan. Akses rumah tangga dan individu terdiri dari akses ekonomi, fisik
dan sosial. Akses ekonomi tergantung pada pendapatan, kesempatan kerja dan
harga. Akses fisik menyangkut tingkat isolasi daerah (sarana dan prasarana
distribusi), sedangkan akses sosial menyangkut tentang preferensi pangan.

8
3. Penyerapan pangan (food utilization)
yaitu penggunaan pangan untuk kebutuhan hidup sehat yang meliputi
kebutuhan energi dan gizi, air dan kesehatan lingkungan. Efektifitas dari penyerapan
pangan tergantung pada pengetahuan rumahtangga/individu, sanitasi dan
ketersediaan air, fasilitas dan layanan kesehatan, serta penyuluhan gisi dan
pemeliharaan balita. (Riely et.al , 1999).

Sistem ketahanan pangan di Indonesia secara komprehensif meliputi empat sub-


sistem, yaitu:
(i) ketersediaan pangan dalam jumlah dan jenis yang cukup untuk seluruh penduduk,
(ii) distribusi pangan yang lancar dan merata,
(iii) konsumsi pangan setiap individu yang memenuhi kecukupan gizi seimbang, yang
berdampak pada
(iv) status gizi masyarakat. Dengan demikian, sistem ketahanan pangan dan gizi tidak
hanya menyangkut soal produksi, distribusi, dan penyediaan pangan ditingkat
makro (nasional dan regional), tetapi juga menyangkut aspek mikro, yaitu akses
pangan di tingkat rumah tangga dan individu serta status gizi anggota rumah tangga,
terutama anak dan ibu hamil dari rumah tangga miskin.

Meskipun secara konseptual pengertian ketahanan pangan meliputi aspek mikro, namun
dalam pelaksanaan sehari-hari masih sering ditekankan pada aspek makro yaitu
ketersediaan pangan. Agar aspek mikro tidak terabaikan, maka dalam dokumen ini
digunakan istilah ketahanan pangan dan gizi

2.5 Aspek-aspek tentang permasalahan dan tantangan yang dihadapi oleh


pemerintah dalam mencapai ketahanan pangan

a. Aspek Ketersediaan Pangan


Dalam aspek ketersediaan pangan, masalah pokok adalah semakin terbatas dan
menurunnya kapasitas produksi dan daya saing pangan nasional. Hal ini disebabkan
oleh faktor faktor teknis dan sosial - ekonomi;

9
1) Teknis
a) Berkurangnya areal lahan pertanian karena derasnya alih lahan pertanian ke
non pertanian seperti industri dan perumahan (laju 1%/tahun).
b) Produktifitas pertanian yang relatif rendah dan tidak meningkat.
c) Teknologi produksi yang belum efektif dan efisien.
d) Infrastruktur pertanian (irigasi) yang tidak bertambah selama krisis dan
kemampuannya semakin menurun.
e) Masih tingginya proporsi kehilangan hasil pada penanganan pasca panen (10-
15%).
f) Kegagalan produksi karena faktor iklim seperti El-Nino yang berdampak pada
musim kering yang panjang di wilayah Indonesia dan banjir .
2) Sosial- ekonomi
a) Penyediaan sarana produksi yang belum sepenuhnya terjamin oleh
pemerintah.
b) Sulitnya mencapai tingkat efisiensi yang tinggi dalam produksi pangan karena
besarnya jumlah petani (21 juta rumah tangga petani) dengan lahan produksi
yang semakin sempit dan terfragmentasi (laju 0,5%/tahun).
c) Tidak adanya jaminan dan pengaturan harga produk pangan yang wajar dari
pemerintah kecuali beras.
d) Tata niaga produk pangan yang belum pro petani termasuk kebijakan tarif
impor yang melindungi kepentingan petani.
e) Terbatasnya devisa untuk impor pangan sebagai alternatif terakhir bagi
penyediaan pangan.

b. Aspek Distribusi Pangan


1) Teknis
a) Belum memadainya infrastruktur, prasarana distribusi darat dan antar pulau
yang dapat menjangkau seluruh wilayah konsumen.
b) Belum merata dan memadainya infrastruktur pengumpulan, penyimpanan
dan distribusi pangan , kecuali beras.
c) Sistem distribusi pangan yang belum efisien.

10
d) Bervariasinya kemampuan produksi pangan antar wilayah dan antar musim
menuntut kecermatan dalam mengelola sistem distribusi pangan agar pangan
tersedia sepanjang waktu diseluruh wilayah konsumen.

2) Sosial-ekonomi
a) Belum berperannya kelembagaan pemasaran hasil pangan secara baik dalam
menyangga kestabilan distribusi dan harga pangan.
b) Masalah keamanan jalur distribusi dan pungutan resmi pemerintah pusat dan
daerah serta berbagai pungutan lainnya sepanjang jalur distribusi dan
pemasaran telah menghasilkan biaya distribusi yang mahal dan meningkatkan
harga produk pangan.

c. Aspek Konsumsi Pangan


1) Teknis
a) Belum berkembangnya teknologi dan industri pangan berbasis sumber daya
pangan local.
b) Belum berkembangnya produk pangan alternatif berbasis sumber daya
pangan lokal.
2) Sosial-ekonomi
a) Tingginya konsumsi beras per kapita per tahun (tertinggi di dunia > 100 kg,
Thailand 60 kg, Jepang 50 kg).
b) Kendala budaya dan kebiasaan makan pada sebagian daerah dan etnis
sehingga tidak mendukung terciptanya pola konsumsi pangan dan gizi
seimbang serta pemerataan konsumsi pangan yang bergizi bagi anggota
rumah tangga.
c) Rendahnya kesadaran masyarakat, konsumen maupun produsen atas
perlunya pangan yang sehat dan aman.
d) Ketidakmampuan bagi penduduk miskin untuk mencukupi pangan dalam
jumlah yang memadai sehingga aspek gizi dan keamanan pangan belum
menjadi perhatian utama.

11
d. Aspek Pemberdayaan Masyarakat
1. Keterbatasan prasarana dan belum adanya mekanisme kerja yang efektif di
masyarakat dalam merespon adanya kerawanan pangan, terutama dalam
penyaluran pangan kepada masyarakat yang membutuhkan.
2. Keterbatasan keterampilan dan akses masyarakat miskin terhadap sumber
daya usaha seperti permodalan, teknologi, informasi pasar dan sarana
pemasaran meyebabkan mereka kesulitan untuk memasuki lapangan kerja
dan menumbuhkan usaha.
3. Kurang efektifnya program pemberdayaan masyarkat yang selama ini bersifat
top-down karena tidak memperhatikan aspirasi, kebutuhan dan kemampuan
masyarakat yang bersangkutan.
4. Belum berkembangnya sistem pemantauan kewaspadaan pangan dan gizi
secara dini dan akurat dalam mendeteksi kerawanan panagan dan gizi pada
tingkat masyarakat.

e. Aspek Manajemen
Keberhasilan pembangunan ketahanan dan kemandirian pangan dipengaruhi
oleh efektifitas penyelenggaraan fungsi-fungsi manajemen pembangunan yang
meliputi aspek perencanan, pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian serta
koordinasi berbagai kebijakan dan program. Masalah yang dihadapi dalam aspek
manajemen adalah:
1) Terbatasnya ketersediaan data yang akurat, konsisten , dipercaya dan mudah
diakses yang diperlukan untuk perencanaan pengembangan kemandirian dan
ketahanan pangan.
2) Belum adanya jaminan perlindungan bagi pelaku usaha dan konsumen kecil di
bidang pangan.
3) Lemahnya koordinasi dan masih adanya iklim egosentris dalam lingkup instansi
dan antar instansi, subsektor, sektor, lembaga pemerintah dan non
pemerintah, pusat dan daerah dan antar daerah.

12
2.6 Program dalam Upaya Ketahanan Pangan
Dengan memperhatikan pedoman dan ketentuan hukum, serta tujuan dan strategi
untuk mewujudkan ketahanan pangan, maka kebijakan dan program yang akan ditempuh
dikelompokkan dalam:

a) Program jangka pendek (sampai dengan 5 tahun)


Program jangka pendek ditujukan untuk peningkatan kapasitas produksi pangan
nasional dengan menggunakan sumberdaya yang telah ada dan teknologi yang telah teruji.
Komponen utama program ini adalah:
1. Ekstensifikasi atau perluasan lahan pertanian (140.000 Ha/tahun)
Ekstensifikasi lahan pertanian ditujukan untuk memperluas lahan produksi
pertanian, sehingga produksi pangan secara nasional yang sekarang dapat ditingkatkan.
Ekstensifikasi dilakukan terutama untuk kedelai, gula dan garam karena rasio impor
terhadap produksi besar (30-70%). Lahan yang diperluas diperuntukkan bagi petani
miskin dan tunakisma (< 0.1 Ha), tetapi memiliki keahlian/pengalaman bertani. Lahan
kering yang potensial seluas 31 juta Ha dapat dimanfaatkan menjadi lahan usahatani.
2. Intensifikasi
Program ini diarahkan untuk peningkatan produksi melalui peningkatan produktifitas
pertanian. Intensifikasi ditujukan pada lahan-lahan pertanian subur dan produktif yang
sudah merupakan daerah lumbung pangan seperti Kerawang, Subang dan daerah
pantura lainya di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan propinsi lainnya.
3. Diversifikasi
Kegiatan diversifikasi ditujukan untuk meningkatkan produksi pangan pokok
alternatif selain beras, penurunan konsumsi beras dan peningkatan konsumsi pangan
pokok alternatif yang berimbang dan bergizi serta berbasis pada pangan lokal.
Diversifikasi dilakukan dengan mempercepat implementasi teknologi pasca panen dan
pengolahan pangan lokal yang telah diteliti ke dalam industri.

13
4. Revitalisasi Industri Pasca Panen dan Pengolahan Pangan
Revitalisasi/restrukturisasi industri pasca panen dan pengolahan pangan diarahkan
pada 1) penekanan kehilangan hasil dan penurunan mutu karena teknologi penanganan
pasca panen yang kurang baik, 2) pencegahan bahan baku dari kerusakan dan 3)
pengolahan bahan baku menjadi bahan setengah jadi dan produk pangan.
5. Revitalisasi dan Restrukturisasi Kelembagaan Pangan
Keberadaan, peran dan fungsi lembaga pangan seperti kelompok tani, UKM,
Koperasi perlu direvitalisasi dan restrukturisasi untuk mendukung pembangunan
kemandirian pangan. Kemitraan antara lembaga perlu didorong untuk tumbuhnya usaha
dalam bidang pangan. Koordinator kegiatan ini adalah Meneg Koperasi dan UKM dan
Deptan dibantu oleh Depperindag. Alokasi dana untuk kegiatan ini berupa koordinasi
antar departemen dan instansi untuk melahirkan kebijakan baru untuk kelembagaan
pangan. Kebutuhan dana dibebankan pada anggaran masing-masing departemen.

6. Kebijakan Makro
Kebijakan dalam bidang pangan perlu ditelaah dan dikaji kembali khususnya yang
mendorong tercapainya ketahanan pangan dalam waktu 1-5 tahun. Beberapa hal yang
perlu dikaji seperti pajak produk pangan, retribusi, tarif bea masuk, iklim investasi, dan
penggunaan produksi dalam negeri serta kredit usaha.

b) Program jangka menengah (5-10 tahun)


Program jangka menengah ditujukan pada pemantapan pembangunan ketahanan
pangan yang lebih efisien dan efektip dan berdaya saing tinggi. Beberapa program yang
relevan untuk dilakukan adalah:
1. Perbaikan undang-undang tanah pertanian termasuk didalamnya pengaturan
luasan lahan pertanian yang dimiliki petani, pemilikan lahan pertanian oleh bukan
petani. Sistem bawon atau pembagian keuntungan pemilik dan penggarap, dsb.
2. Modernisasi pertanian dengan lebih mendekatkan pada pada peningkatan efisiensi
dan produktivitas lahan pertanian, penggunaan bibit unggul, alat dan mesin
pertanian dan pengendalian hama terpadu dan pasca panen dan pengolahan
pangan.

14
3. Pengembangan jaringan dan sistem informasi antar instansi, lembaga yang terkait
dalam bidang pangan serta pola kemitraan bisnis pangan yang berkeadilan.
4. Pengembangan prasarana dan sarana jalan di pertanian agar aktivitas kegiatan
pertanian lebih dinamis.

c) Program jangka panjang (> 10 tahun)


1. Konsolidasi lahan agar lahan pertanian dapat dikelola lebih efisien dan efektip,
karena masuknya peralatan dan mesin dan menggiatkan aktivitas ekonomi dan
pedesaan.
2. Perluasan pemilikan lahan pertanian oleh petani.

15
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Istilah ketahanan pangan dalam kebijaksanaan dunia, pertama kali digunakan pada
tahun 1971 oleh PBB, tetapi Inodonesia secara formal baru mengadopsi ketahanan pangan
dalam kebijakan dan program pada tahun 1992, yang kemudian definisi ketahanan pangan
pada undang-undang pangan no:7 ada pada tahun 1996.
Ketahanan pangan merupakan basis utama dalam mewujudkan ketahanan ekonomi,
ketahanan nasional yang berkelanjutan. Ketahanan pangan merupakan sinergi dan interaksi
utama dari subsistem ketersediaan, distribusi dan konsumsi, dimana dalam mencapai
ketahanan pangan dapat dilakukan alternatif pilihan apakah swasembada atau kecukupan.
Dalam pencapaian swasembada perlu difokuskan pada terwujudnya ketahanan pangan
Dalam pengembangannya, teknologi pangan diharapkan mampu memfasilitasi
program pasca panen dan pengolahan hasil pertanian, serta dapat secara efektif
mendukung kebijakan strategi ketahanan pangan.
Mengacu pada permasalahan dan program pengolahan dan pemasaran hasil
pertanian serta kebijakan strategi ketahanan pangan (ketersediaan, distribusi dan
konsumsi), dan keberhasilan swasta (kasus Garudafood) dan daerah (kasus Pemerintah
Daerah Gorontalo) dalam pengembangan agribisnis jagung dapat dirumuskan kebijakan
strategis pengembangan teknologi pangan. Kebijakan strategis tersebut mencakup aspek
pengembangan kualifikasi teknologi; keterpaduan pengolahan dan pemasaran; relevansi
dan efektivitas teknologi; pemberian otonomi luas kepada daerah; pelibatan
swasta/pemilihan komoditas prospektif berbasis pemberdayaan/dan pengembangan
jaringan kerja secara luas; pengembangan program kemitraan berawal/berbasis pemasaran;
dan pengembangan program Primatani berbasis industri pengolahan.

16
3.2 Saran
Adapun saran yang bisa di berikan adalah sebaiknya pemerintah lebih
memperhatikan masalah ketahanan pangan yang ada di Indonesia. Karena masih banyak
masyarakat yang belum memahami bagaimana cara atau strategi yang baik guna menjaga
ketahanan pangan mereka.

17
DAFTAR PUSTAKA

Achmad Suryana, 2001. Kebijakan Nasional Pemantapan Ketahanan Pangan. Makalah pada
Seminar Nasional Teknologi Pangan, Semarang , 9-10 Oktober 2001

Anonim, 1996. Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1996 tentang
Pangan. Kantor Menteri Negara Pangan RI.

Anonim , 2000. Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2000 tentang
Program Pembangunan Nasional.

Siswono Yudo Husodo. 2001.Kemandirian di Bidang Pangan, Kebutuhan Negara Kita.


Makalah Kunci pada Seminar Nasional Teknologi Pangan, Semarang , 9-10 Oktober 2001

Dewan Ketahanan Pangan. 2006. kebijakan Umum Ketahanan Pangan 2006-2009.


Departemen Pertanian, Jakarta.

Nainggolan, K. 2006. Kebijakan Ketahanan Pangan. Badan Ketahanan Pangan, Departemen


Pertanian, Jakarta.

18