Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN HASIL OBSERVASI LAPANGAN DI SMA NEGERI 1 KOTAGAJAH

Untuk Memenuhi Tugas


Matakuliah Belajar dan Pembelajaran
yang diampu oleh :
Prof. Dr. H. Karwono, M.Pd. dan Agil Lepiyanto, M.Pd.

Ismi Azizah
16320033
Biologi “B”

PROGAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO
JUNI 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT dengan berkat dan rahmatnya makalah
ini dapat terselesaikan. Makalah ini disusun berisikan “Laporan Hasil Observasi Lapangan di
SMA N 1 Kotagajah” untuk mempermudah dalam menyelaminya.
Salah satu tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk pengembangan daya penalaran
untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu dalam
makalah ini, pembahasan konsep dibuat semenarik mungkin dan mengedepankan ilustrasi yang
memacu berpikir kritis.
Terimakasih kami ucapkan kepada Bapak Prof. Dr. H. Karwono, M.Pd. dan Agil
Lepiyanto, M.Pd. selaku pengampu mata kuliah Belajar dan Pembelajaran. Rasa sayang
kepada kedua orang tua yang tiada henti memberikan motivasi untuk kami sehingga memiliki
semangat lebih dalam belajar dan berusaha. Oleh karena itu, kami tim penyusun mengharapkan
kritik dan saran demi kemajuan makalah selanjutnya.

Metro, 09 Juni 2017

Tim Penyusun
DAFTAR ISI
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Psikologi kognitif beranggapan bahwa belajar bukan hanya sekedar hubungan
mekanisis antara stimulus dan respons. Tetapi belajar merupakan proses pembentukan
dan perubahan persepsi akibat interaksi yang sustainable antara individu dengan
lingkungan. Menurut teori kognitif, belajar merupakan suatu proses atau akifitas mental
yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Jadi, belajar adalah suatu proses kegiatan yang
melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses
interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk
pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, keterampilan dan sikap yang bersifat relative
dan berbekas.
Kendati pendekatan kognitif sering dipertentangkan dengan pendekatan
behavioristik, namun pandangan-pandangan kaum behavioristik juga ada yang digunakan
dalam pendekatan kognitif. Reinforcement, misalnya, yang menjadi prinsip belajar
behavioristik, juga terdapat dalam pandangan kognitif tentang belajar. Namun bedanya,
behavioristik memandang reinforcement sebagai elemen yang penting untuk menjaga
atau menguatkan perilaku, sedangkan menurut pandangan kognitif reinforcement
merupakan sebuah sumber feedback untuk melihat apakah kemungkinan yang terjadi jika
sebuah perilaku diulang lagi.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana metode pembelajaran yang digunakan guru Biologi di SMA N I
Kotagajah ?
2. Bagaimana respon peserta didik terhadap guru yang mengajar di dalam kelas ?
3. Bagaimana penguasaan materi dan penguasaan kelas yang dimiliki guru ?
4. Apa peran serta peserta didik di dalam kelas ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui metode pembelajaran yang digunakan guru Biologi di SMA N 1
Kotagajah
2. Untuk mengetahui respon peserta didik terhadap guru di dalam kkelals
3. Untuk mengetahui penguasaan materi serta penguasaan kelas yang dimiliki guru
4. Untuk mengetahui peran peserta didik di dalam kelas
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Belajar Menurut Teori Kognitif

Teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajarnya.
Teori ini juga menekankan bahwa bagian-bagian dari suatu situasi saling berhubungan
dengan seluruh konteks situasi tersebut. Membagi-bagi situasi/materi pelajaran menjadi
komponen-komponen kecil dan mempelajarinya secara terpisah akan menghilangkan makna
belajar.
Teori ini juga berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses internal yang
mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi, dan faktor-faktor lain. (Asri, 2005 :
34). Belajar adalah aktifitas yang melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Proses
belajar di sini antara lain mencakup pengaturan stimulus yang diterima (faktor eksternal) dan
menyesuaikan dengan struktur kognitif yang sudah terbentuk di dalam pikiran seseorang
(background knowledge) berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya (faktor internal).
Teori kognitif lebih menekankan pada struktur internal pembelajar dan lebih memberi
perhatian pada bagaimana seseorang menerima, menyimpan, dan mengingat kembali
informasi dari perbendaharaan ingatan. Ada beberapa kelompok penganut teori kognitif,
namun fokus dari penganut teori ini sama yaitu pada soal bekerjanya pikiran manusia
(Mukminan, 1998:53).
Banyak ahli telah memberikan pandangan menganai Teori Kognitif. Berikut ini
beberapa pengertian teori belajar menurut para tokoh aliran kognitif:
1. Teori Belajar menurut Piaget

Piaget adalah tokoh psikologi kognitif yang besar pengaruhnya terhadap


perkembangan pemikiran para pakar kognitif lainnya. Menurut Piaget, perkembangan
kognitif merupakan suatu proses genetik, yaitu proses yang didasarkan atas mekanisme
biologis perkembangan sistem syaraf. Semakin bertambah umur pebelajar, semakin
kompleks susunan sel syarafnya dan makin meningkat kemampuannya (Asri, 2005:35).
Proses peningkatan kemampuan tersebut melalui proses yang disebut adaptasi. Proses
adaptasi mempunyai dua bentuk dan terjadi secara stimulan, yaitu asimilasi dan
akomodasi. Tahap asimilasi adalah proses penerimaan informasi baru dan kemudian
disesuaikan dengan struktur kognitif yang sudah ada dalam diri masing-masing
pebelajar. Proses akomodasi adalah proses memodifikasi struktur kognitif yang sudah
dimiliki dengan informasi yang diterima. Proses asimilasi dan akomodasi akan
menimbulkan ketidakseimbangan antara yang telah diketahui dengan apa yang dilihat
atau dialaminya sekarang. Proses ketidakseimbangan ini harus disesuaikan melalui
proses ekuilibrasi. Proses ekuilibrasi ini merupakan proses yang berkesinambungan
antara proses similasi dan akomodasi. Proses ini akan menjaga stabilitas mental dalam
diri pebelajar dan pebelajar akan dapat terus mengembangkan dan menambah
pengetahuannya.
Perubahan struktur kognitif yang dipengaruhi oleh proses adaptasi tersebut melalui
tahap-tahap perkembangan tertentu sesuai dengan umurnya dan bersifat hirarkhis.
Seseorang harus melalui urutan tertentu dan tidak dapat belajar sesuatu yang berada di
luar tahap kognitifnya. Piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognitif ini menjadi
empat yaitu (Asri, 2005 :37):
a. Tahap sensorimotor (umur 0-2 tahun)

Pertumbuhan kemampuan anak tampak dari kegiatan motorik dan persepsinya


yang sederhana seperti:
- mencari rangsanganmelalui sinar lampu
- suka memperhatikan sesuatu lebih lama
- memperhatikan objek sebagai hal yang tetap, lalu ingin merubah tempatnya.
b. Tahap preoperasional (umur 2-7/8 tahun)

Tahap ini dibagi menjadi dua, yaitu preoperasional dan intuitif. Preoperasional
(umur 2-4 tahun), anak telah mampu menggunakan bahasa dalam mengembangkan
konsepnya, walaupun masih sangat sederhana. Maka sering terjadi kesalahan dalam
memahami obyek. Tahap intuitif (umur 4-7 atau 8 tahun), anak telah dapat
memperoleh pengetahuan berdasarkan pada kesan yang sudah abstrak. Dalam
menarik kesimpulan sering tidak diungkapkan dengan kata-kata. Oleh sebab itu, pada
usia ini anak telah dapat mengungkapkan isi hatinya secara simbolik terutama bagi
mereka yang memiliki pengalaman yang luas.
c. Tahap operasional konkrit (umur 7 atau 8-11 atau 12 tahun)
Anak telah memiliki kecapakan berpikir logis, akan tetapi hanya dengan benda-
benda yang bersifat konkrit. Operation adalah suatu tipe tindakan untuk
memanipulasi obyek atau gambaran yang ada di dalam dirinya. Dalam tahap ini, anak
tidak perlu coba-coba dan membuat kesalahan, karena anak sudah dapat berpikir
dengan menggunakan model “kemungkinan” dalam melakukan kegiatan.
d. Tahap Operasional formal (umur 11/12-18 tahun)

Anak mampu berpikir abstrak dan logis dengan menggunakan pola berpikir
“kemungkinan”. Model berpikir ilmiah dengan tipe hipothetico-deductive dan
inductive sudah mulai dimiliki anak, dengan kemampuan menarik kesimpulan,
menafsirkan dan mengembangkan hipotesa. Semakin tinggi tahap perkembangan
kognitif seseorang, akan semakin teratur dan semakin abstrak cara berpikirnya. Guru
seharusnya memahami tahap-tahap perkembangan kognitif murid-muridnya agar
dapat merancang dan melaksanakan proses pembelajaran yang sesuai.

2. Teori Belajar menurut Bruner

Dalam memandang proses belajar, Bruner menekankan adanya pengaruh


kebudayaan terhadap tingkah laku seseorang. Dengan teorinya yang di sebut free
discovery learning, ia mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik
dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu
konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam
kehidupannya. Bruner berpendapat bahwa perkembangan bahasa seseorang besar
pengaruhnya terhadap perkembangan kognitif. Pandangan Bruner ini berbeda dengan
pendapat Piaget yang menyatakan bahwa perkembangan bahasa dipengaruhi oleh
perkembangan kognitif.
Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap
yang ditentukan oleh caranya melihat lingkungan, yaitu:
a. Tahap enaktif, yaitu seseorang melakukan aktivitas dalam upaya untuk
memahami lingkungan.
b. Tahap ikonik, seseorang memahami objek melalui gambar dan visualisasi verbal.
c. Tahap simbolik, seseorang mampu memiliki ide-ide atau gagasan abstrak yang
dipengaruhi oleh kemampuan dalam berbahasa dan logika.

Gagasan yang terkenal dari Bruner adalah spiral curriculum, yaitu cara
mengorganisasikan materi pelajaran dari tingkat makro (secara umum) kemudian
mulai mengajarkan materi yang sama dengan cakupan yang lebih rinci. Selain itu
juga, Bruner menjelaskan bahwa pembentukan konsep dan pemahaman konsep
merupakan dua kegiatan yang berbeda. Dalam pemahaman konsep, konsep-konsep
sudah ada sebelumnya. Sedangkan dalam pembentukan konsep tindakan dilakukan
untuk membentuk kategori-kategori baru. Bruner memandang bahwa suatu konsep
memiliki lima unsur, dan seseorang dikatakan memahami suatu konsep apabila ia
mengetahui semua unsur dari konsep itu, meliputi :
a. Nama
b. Contoh-contoh baik yang positif maupun yang negatif
c. Karakteristik, baik yang pokok maupun tidak
d. Rentangan karakteristik
e. Kaidah

Menurut Bruner, pembelajaran yang selama ini diberikan di sekolah lebih


banyak menekankan pada perkembangan kemampuan analisis, kurang
mengembangkan kemampuan berpikir intuitif. Padahal berpikir intuitif sangat
penting bagi mereka yang menggeluti bidang matematika, biologi, fisika, dan
sebagainya, sebab setiap disiplin mempunyai konsep-konsep, prinsip, dan prosedur
yang harus dipahami sebelum seseorang dapat belajar. Cara yang baik untuk belajar
adalah memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya
sampai kepada suatu kesimpulan (discovery learning).

3. Teori Belajar menurut Ausubel

Teori-teori belajar yang ada selama ini masih banyak menekankan pada belajar
asosiatif atau belajar menghafal. Belajar demikian tidak banyak bermakna bagi siswa.
Belajar seharusnya merupakan asimilasi yang bermakna bagi siswa. Materi yang
dipelajari diasimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa
dalam bentuk struktur kognitif.
Advance organizers yang oleh Ausubel merupakan penerapan konsepsi tentang
struktur kognitif di dalam merancang pembelajaran. Penggunaan advance organizers
sebagai kerangka isi akan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mempelajari
informasi baru, maka advance organizers akan memudahkan siswa mempelajari materi
pelajaran yang baru, serta hubungannya dengan materi yang telah dipelajarinya.
BAB III
LEMBAR OBSERVASI LAPANGAN
MATAKULIAH BELAJAR PEMBELAJARAN

A. Identitas
1. Nama Sekolah : SMA N 1 KOTAGAJAH
2. Mata Pelajaran : Biologi
3. Kelas / Semester : Bio X / II
4. Waktu : Rabu
5. Nama Guru : Dawam Sugito, S.Si.
6. Jumlah Peserta Didik : 30

B. Deskripsi Kegiatan
No. Deskripsi Kegiatan Pembelajaran Analisis
1. Kegiatan Pra – Pembelajaran* Menanyakan materi sebelumnya dan
memberikan kesempatan pada siswa untuk
bertanya berkaitan dengan materi
sebelumnya.
Kemudian menjelaskan singkat berkaitan
dengan pertanyaan materi sebelumnya agar
siswa dapat mengingat kembali materi
tersebut sebelum memulai materi berikutnya.
2. Penyaji Informasi Sebelum masuk ke materi berikutnya, guru
memperihatkan media tentang materi yang
akan di pelajari berupa kompetensi dasar,
tujuan pembelajaran, serta materi
pembelajaran.
Untuk mengawali pembelajaran, guru
memperlihatkan video tentang materi yang
akan di pelajari.
Kemudian guru menjelaskan dari tayangan
video yang telah diberikan.
Kemudian guru membagi siswa kedalam
beberapa kelompok.
Kemudian guru membagi materi kepada
siswa untuk didiskusikan di dalam kelompok.
3. Peran Peserta Didik dan Guru Peran peserta didik yaitu untuk memahami
pelajaran, siswa harus berdiskusi dengan
teman sekelompoknya.
Setelah itu siswa mempresentasikan hasil
diskusi di depan kelas secara bergilir setiap
kelompok agar setiap siswa dapat memahami
materi yang di sampaikan oleh temannnya.
Peran serta guru yaitu guru mennjelasskan
materi yang akan di sampaikan malalui
tayangan video.
Kemudian guru membagi siswa ke dalam
beberapa kelompok. Setelah itu guru
membagi materi kepada setiap kelompok
untuk didiskusikan kepada teman
sekelompoknya.
Kemudian guru memberikan waktu kepada
siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi
di depan kelas.
Kemudian guru memantau jalannya diskusi
dan menanyakan kesulitan yang diihadapi
siswa.
4. Pengetesan / evaluasi Guru memberiikan tugas mandiri untuk
materi selanjutnya.
5. Kegiatan Tindak Lanjut Guru memberikan kesimpulan yang di dapat
dari hasil presentasi.

BAB IV
PEMBAHASAN
Sebelum guru menyampaikan materi berikutnya, guru memberikan suatu stimulus yang
relevan dengan materi pembelajaran untuk mengaktifkan pengetahuan sebelumnya dengan cara
mengaktifkan skema dengan organisator awal. Cara ini digunakan untuk mengarahkan peserta
didik pada materi yang akan dipelajari dan membantu mengingat informasi terkait, yang dapat
membantu menyatukan informasi tersebut, dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan pengait.
Kemudian guru menyampaikan metode yang akan digunakan, dengan memberikan
penjelasan singkat mengenai materi yang akan di pelajari melalui media berupa video maupun
gambar. Tujuan guru menggunakan metode ini, agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya.
Sesuai dengan teori kognitif, belajar dipandang sebagai suatu usaha untuk mengerti
tentang sesuatu. Usaha untuk mengerti tentang sesuatu tersebut, dilakukan secara aktif oleh si-
belajar. Keaktifan tersebut dapat berupa mencari pengalaman, mencari informasi, memecahkan
masalah, mencermati lingkungan, mengolah stimulus yang bermakna dan mengabaikan yang
tidak bermakna unuk mencapai tujuan belajar. Salah satu teori belajar yang berasal dari psikologi
kognitif adalah teori pemrosesan informasi. Menurut teori ini, belajar dipandang sebagai proses
pengolahan informasi dalam otak manusia. Menurut teori ini suatu informasi atau stimulus yang
beerasal dari lingkungan, pada awalnya diterima oleh reseptor. Reseptor-reseptor tersebut
memberikan simbol-simbol informasi yang diterima, dan kemudian diteruskan ke registor
penginderaan telah mengalami transformasi.
Setelah guru menyampaikan materi yang akan dipelajari, kemudian guru melihat respon
peserta didiknya dengan memantau setiap proses pembelajaran serta menanyakan kesulitan yang
dihadapi siswa. Apabila respon peserta didik terhadap guru yang mengajar di dalam kelas positif,
maka metode yang digunakan oleh guru tersebut berhasil. Karena guru menerapkan
pembelajaran berupa membagi siswa ke dalam beberapa kelompok serta membagi materi sesuai
jumlah kelompok, setelah itu guru memberikan waktu kepada siswa untuk berdiskusi dengan
teman sekelompoknya sebelum di presentasikan di depan kelas. Tujuan guru menerapkan
pembelajaran tersebut supaya peserta didik merasa tercukupi dari segi pembelajaran maupun
pemahaman.
Menurut Lev Vigotsky dalam Zona Perkembangan Proksimal (Zona of Proksimal – ZPD)
ZPD adalah suatu area dimana seorang anak merasa sulit menerjakan tugas secara sendirian,
tetapi akan menjadi mudah bila dikerjakan dengan bantuan serta bimbingan orang dewasa atau
anak yang lebih terampil. Jadi batas bawah ZPD adalah tingkat keterampian yang dapat diraih
oleh anak yang dilakukan secara mandiri. Batas atas ZPD adalah tingkat tanggung jawab
tambahan yang dapat diterima anak dengan bantuan orang lain yang lebih berkompeten seperti
guru, orang tua, atau teman. Pembelajaran dalam zona ini mencerminkan konsep pembelajaran
yang memanfaatkan perkembangan kognitif dengan mengambil keuntungan dari kecakapan
mereka. Artinya, pembelajaran untuk mempersiapkan perkembangan anak tidak hanya
menunggu untuk menjadi siap.
Dalam menerapkan pembelajaran yang sesuai dengan metode yang digunakan oleh guru,
guru hendaknya mempersiapkan segala sesuatunya agar pembelajaran tersampaikan dengan
maksimal. Guru hendaknya mempersiapkan materi yang akan disampaikan secara tersusun dan
terarah supaya peserta didik dapat memahami dan menangkap metode pembelajaran yang
diterapkan oleh guru di dalam kelas.
Dalam konteks berpikir yang demikian, Bruner berpendapat bahwa pembelajaran dapat
dilakukan kapan saja tanpa harus menunggu seorang anak sampai mencapai tahap perkembangan
tertentu. Apabila bahan atau materi pembelajaran di desain secara baik, maka individu dapat
belajar meskipun usahanya belum memadai. Dengan logika lain, perkembangan kognitif
seseorang dapat ditingkatkan melalui materi yang dirancang sesuai dengan karakteristik kultural
peserta didik.
Serta penguasaan kelas harus dimiliki oleh guru, karena disitulah guru dapat melihat
setiap kemampuan yang dimiliki oleh setiap siswa. Teori belajar Bruner disebut dengan
discovery learning, yaitu dimana peserta didik mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan
suatu bentuk akhir. Prosedur ini berbeda dengan reception liming atau expository teaching,
dimana guru harus menerangkan informasi dan murid harus mempelajari semua bahan /
informasi itu. Dengan seperti itu, guru dapat memantau setiap tindakan yang di lakukan oleh
setiap siswanya serta dapat mengetahui setiap kemampuan anak dalam memahami materi
pembelajaran yang telah dierikan. Secara logika, guru tersebut sudah dapat menguasai kelas
dengan baik tanpa perlu menerangkan setiap materi / informasi kepada peserta didik. Peserta
didik cukup dijelaskan maksud dari pembelajaran serta materi yang akan disampaikan setelah itu
peserta didiklah yang mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir.
Kemudian guru memantau setiap tindakan yang di lakukan oleh setiap siswanya dan
menanyakan kesulitan yang dihadapi siswa dengan menjelaskan kembali diakhir pembelajaran.
Setelah metode yang digunakan guru dalam menyampaikan materi pembelajaran di
dalam kelas tersampaikan, kemudian hendaknya guru memperhatikan peran serta peseta didik
dam memahami materi yang diberikan di dalam kelas. Guru mengutamakan peran peserta didik
dalam berinteraksi aktif sendiri dan keterlibatan aktif dalam kegiatan belajar. Dalam kelas, Piaget
malenekankan bahwa pengajaran pengetahuan jadi (ready made knowledge), anak di dorong
menentukan sendiri pengetahuan itu melalui interaksi spontan dengan lingkungan. Kemudian
mengutamakan peran peserta didik dalam berinteraksi, pertukaran gagasan-gagasan tidak dapat
dihindari untuk perkembangan penalaran. Walaupun penalaran tidak dapat mereka sajikan secara
lansung, perkembangannya dapat disimulasi.
Untuk mengetahui peran serta pesserta didik di dalam kelas, dapat dilihat melalui tiga
tahap berikut, yaitu :
a. Tahap inaktif, yaitu tahap dimana individu melakukan berbagai aktivitas yang berhubungan
dengan usahanya memahami lingkungan.
Contoh : peserta didik harus belajar untuk menghadapi ujian yang sudah diumumkan oleh
gurunya.
b. Tahap ikonok, yaitu tahap individu memahami lingkungannya melalui gambar-gambar dan
visualisasi verbal.
Contoh : peserta didik berusaha untuk memahami materi pembelajaran yang disampaikan
guru.
c. Tahap simbolik, yaitu tahap dimana individu memiliki gagasan-gagasan abstrak yang
banyak dipengaruhi oleh bahasa dan logika.
Contoh : peserta didik mampu menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru dengan
menggunakan bahasa yang jelas dan rasional.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Guru menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan teori belajar menurut
pandangan kognitif. Karena teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar
daripada hasil belajarnya. Teori ini juga menekankan bahwa bagian-bagian dari suatu
situasi saling berhubungan dengan seluruh konteks situasi tersebut. Membagi-bagi
situasi/materi pelajaran menjadi komponen-komponen kecil dan mempelajarinya secara
terpisah akan menghilangkan makna belajar.
Teori ini juga berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses internal yang
mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi, dan faktor-faktor lain. Belajar
adalah aktifitas yang melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Proses belajar di
sini antara lain mencakup pengaturan stimulus yang diterima (faktor eksternal) dan
menyesuaikan dengan struktur kognitif yang sudah terbentuk di dalam pikiran seseorang
(background knowledge) berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya (faktor
internal).
Teori kognitif lebih menekankan pada struktur internal pembelajar dan lebih
memberi perhatian pada bagaimana seseorang menerima, menyimpan, dan mengingat
kembali informasi dari perbendaharaan ingatan. Ada beberapa kelompok penganut teori
kognitif, namun fokus dari penganut teori ini sama yaitu pada soal bekerjanya pikiran
manusia.

DAFTAR PUSTAKA

Asri Budiningsih. 2007. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.


Karwono dan Heni Mularsih. 2010. Belajar Dan Pembelajaran Serta Pemanfaatan Sumber
Belajar. Ciputat: Cerdas Jaya.
Mukminan, dkk. 1998. Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Institut Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Yogyakarta.

LAMPIRAN DAN DOKUMNTASI

A. Dokumentasi
Foto saat kegiatan belajar mengajar berlangsung
Foto saat kegiatan belajar mengajar berlangsung

Foto siswa kelas Bio X / II


Foto siswa kelas Bio X / II

Foto bersama guru Biologi kelas Bio X / II


B. Surat Izin
C. Surat Balasan