Anda di halaman 1dari 7

3.1.

3 Cara Kerja Ilmu Empiris

a). Pengertian Ilmu Empiris

Ilmu Empiris adalah ilmu yang bertitik tolak pada pengalaman indrawi. Pengalaman

indrawi diartikan sebagai sentuhan, penglihatan, penciuman, pengecapan seseorang terhadap

sesuatu yang diamatinya. Dengan demikian pengalaman indrawi dari seorang ilmuwan berkaitan

dengan objek penelitian yang sifatnya sangat konkret, faktual. Dalam pengamatan atau observasi

terhadap objek tersebut, seorang peneliti atau ilmuwan atau mahasiswa dapat menggunakan

sarana untuk menunjang pengamatannya itu. Sarana itu dapat berupa alat-alat seperti mikroskop,

teleskop, thermometer, neraca ataupun alat-alat pengukur lainnya. Tujuan pengamatan untuk

memperoleh ataupun menangkap semua gejala terhadap semua objek yang diamatinya serta

menjelaskan dengan benar. Hasil dari pengamatan itu berupa data awal yang harus dicatat

dengan cermat, yang kelak akan sangat berguna bagi analisis sebuah penelitian.

b). Objek Ilmu Empiris

Ilmu empiris memiliki objek yang dapat dibedakan dari dua aspek, yaitu objek materi dan

objek formal. Objek materi berupa apa saja yang dapat dimati oleh manusia, seperti alam

semesta, mahluk hidup di dunia ini, dan manusia. Objek forma adalah pokok perhatian seseorang

terhadap sesuatu yang menjadi minatnya yang sangat khusus. Objek forma atau aspek yang

khusus dalam ilmu empiris dapat berupa misalnya minat yang sangat tinggi tentang kesehatan

manusia, tentang pertumbuhan dan perkembangan dari tumbuh-tumbuhan, dari hewan, serta adat

istiadat suatu bangsa/masyarakat tertentu. Dari hasil objek forma yang beraneka ragam itulah

memunculkan ilmu-ilmu tertentu yang sifatnya empiris, misalnya ilmu kedokteran, biologi, ilmu

teknik, botani, zoologi, antropologi, ilmu sosial.

c). Pendekatan atau Metode Ilmu Empiris


Pendekatan atau metode merupakan cara seorang ilmuwan atau peneliti atau mahasiswa

mendapatkan data saat ia sedang melakukan pengamatan. Lazimnya di dalam ilmu empiris

seorang ilmuwan atau mahasiswa menggunakan pendekatan atau metode induktif. Metode

induktif adalah sebuah metode yang digunakan dalam ilmu empiris yang mencoba menarik

kesimpulan dari penalaran yang bersifat khusus untuk sampai pada penalaran yang umum

sifatnya. Pada penalaran yang sifatnya khusus itu, seorang pengamat akan mengamati beberapa

hal atau sesuatu yang memiliki ciri-ciri yang khusus. Sebagai contoh, saat Toby melihat buah

jeruk yang diletakkan di dalam sebuah keranjang, ia melihat bahwa keduapuluh jeruk itu

berwarna kuning dan bentuknya bulat. Atas dasar itulah Toby menyimpulkan bahwa jeruk (yang

berjumlah 20) yang berada di dalam keranjang semuanya berwarna kuning dan bentuknya bulat.

Metode induksi berguna bagi ilmu empiris karena mendasarkan pada pengamatan faktual dan

dipakai sebagai landasan berpijak pada ilmu empiris.

3.1.4 Cara Kerja Ilmu-ilmu Deduktif

a). Pengertian Ilmu Deduktif

Ilmu deduktif adalah ilmu pengetahuan yang membuktikan kebenaran ilmiahnya melalui

penjabaran-penjabaran (=deduksi). Berbeda dengan ilmu empiris yang mendasarkan atas

pengalaman indrawi, maka penjabaran-penjabaran itu melalui penalaran yang berdasarkan

hukum-hukum serta norma- norma yang bersifat logis. Dari hukum-hukum serta norma-norma

logis memunculkan suatu penalaran yang mencoba membuktikan sesuatu atas dasar perhitungan

yang sangat pasti. Dengan demikian dalam ilmu deduktif terdapat suatu penalaran yang

diperoleh dari kesimpulan yang bersifat umum untuk menuju ke penalaran yang bersifat khusus.

Ilmu-ilmu deduktif dikenal sebagai ilmu matematik. Penalaran yang deduktif diperoleh

dari penjabaran dalil-dalil, atau rumus-rumus yang tidak dibuktikan kebenarannya melalui
penyelidikan empiris, melainkan melalui penjabaran dalil-dalil yang telah ada sebelumnya. Suatu

dalil atau rumus mate-matika dibuktikan kebenarannya berdasarkan dalil-dalil yang telah ada

atau dalil lain, berdasarkan suatu perhitungan/hitung-menghitung, ukur-mengukur, timbang-

menimbang, bukan atas dasar observasi. Dalam membuktikan kebenaran itulah kita mengenal

adanya, pada awalnya aritmatika, matematika, goniometri, ilmu ukur dan sebagainya. Asas

matematika hanya mengenal “logika dua nilai” (“two value logic”) yaitu benar dan tidak benar

(salah). Contoh yang sederhana adal dua ditambah dua adalah empat. Itu berarti penjumlahan

tersebut memiliki nilai benar. Apabila kita mengatakan bahwa tiga dikalikan empat hasilnya lima

belas, maka hasil itu dikatakan tidak benar (salah).

b). Objek Ilmu Deduktif

Objek pada ilmu deduktif adalah angka atau bilangan yang mungkin jumlahnya satu atau

lebih dari satu, yang kemudian dikenal dengan himpunan atau semacam deret. Objek tersebut

sebenarnya sebagai sebuah lambang atau simbol yang digunakan sebagai relasi antar objek. Kita

mengenal angka romawi (I, II, IV dan seterusnya) atau angka-angka yang lazim dikenal sebagai :

1, 2, 3, dan seterusnya, dan semuanya itu merupakan sebuah simbol atau lambang yang telah

dikenal dan diakrabi oleh kita semua. Selain itu dikenal juga simbol dalam bentuk lain seperti: +,

-, >, <, , % dan sebagainya. Pemakaian simbol-simbol dalam ilmu deduktif berguna agar

validitas atau keabsahan dari pembuktian penjabaran-penjabaran dalil atau axioma atau rumus

terbukti tidak salah dan dianggap benar.

3.1.5 Cara Kerja Ilmu-ilmu Empiris Yang Lebih Khusus: Ilmu Alam, Ilmu Hayat dan

Ilmu-Ilmu Tentang Manusia

a). Cara Kerja Ilmu Alam

1) Pengertian Tentang Ilmu Alam


Ilmu alam adalah ilmu yang membahas tentang gejala-gejala alam (gejala alam yang

tidak hidup). Sifat ilmu alam adalah empiris, artinya gejala alam itu dianggap sebagai fenomena

yang dapat dibuktikan secara indrawi, dan konkret. Contoh Ilmu-ilmu alam adalah geologi,

astronomi, hidrologi, ilmu kimia, fisika, meteorologi, geodesi.

2) Sifat Ilmu Alam

Adanya praanggapan bahwa ada hukum alam, yang dapat dikenakan pada seluruh gejala

alam. Sifat hukum alam memiliki ciri kuantitatif, suatu ciri yang melekat pada gejala alam yang

muncul di masa lalu maupun di masa yang akan datang. Ciri kuantitatif merujuk pada kenyataan

bahwa gejala alam memiliki besaran tertentu dan karenanya dapat dihitung, diukur secara

matematis. Selain itu hukum alam memiliki sifat mekanistis, yaitu sifat keteraturan yang melekat

pada gejala alam dan sifat keteraturan itu berjalan secara berkala serta memiliki siklus tertentu.

3) Pendekatan atau Metode Ilmu-ilmu Alam

Pertama, melalui metode observasi atau pengamatan melalui panca indra manusia serta

didukung oleh alat tertentu, alat yang dioperasionalkan untuk menunjang pengamatan tersebut.

Kedua, metode deskripsi yang bertujuan untuk melukiskan, menggambarkan tentang gejala alam

serta interaksi di antara gejala-gejala alam tersebut. Ketiga, metode erklaeren atau metode

eksplanasi, adalah metode untuk menerangkan tentang berbagai hubungan gejala alam itu satu

dengan yang lainnya. Keempat, metode kausalitas, yaitu metode yang mencoba menjelaskan

gejala alam atas dasar hubungan sebab akibat.

b). Cara Kerja Ilmu Hayat

1) Pengertian Ilmu Hayat

Ilmu hayat adalah ilmu pengetahuan yang membahas gejala alam yang bersifat hidup,

atau memiliki sifat kehidupan. Sifat ilmu hayat adalah empiris, artinya gejala alam yang
dianggap hidup dapat diamati secara indrawi atau faktual, nyata. Contoh pada ilmu hayat adalah

ilmu tumbuh-tumbuhan, ilmu hewan (zoologi)

2) Sifat Ilmu Hayat

Ilmu hayat memiliki organ-organ yang dapat tumbuh, mati, berkembang biak. Setiap

organ dapat memiliki sel, jaringan yang membentuk suatu sistem yang memiliki nama, fungsi,

peran/tugas, kegunaan serta tujuan tertentu. Sebagai suatu sistem yang baik, maka setiap organ

itu memiliki daya-daya hidup saling melengkapi, saling menunjang sehingga sistem itu berjalan

dengan sempurna.

3) Pendekatan atau Metode Ilmu-ilmu Hayat

Pertama, metode kausal yang berguna untuk melihat hubungan sebab akibat yang berasal

dari hubungan atau interaksi antar organ. Di dalam hubungan kausalitas itu sebenarnya terdapat

semacam “informasi” di antara masing-masing organ, sehingga memungkinkan organ itu

berproses swakendali atau disebut sebagai proses sibernetik. Proses sibernatik merupakan proses

yang dikendalikan oleh adanya informasi umpan balik dari organ-organ yang berjalan secara

teratur (mekanistis). Proses umpan balik tersebut diartikan sebagai hubungan timbal balik di

antara organisme. Sebagai contoh, daun mangga ketika masih tunas (kecil) berwarna hijau muda,

ketika tumbuh menjadi lebih besar berwarna hijau tua, dan ketika daun itu mati berwarna

kekuningan dan setelah mengering, maka daun itu gugur. Selama pohon mangga itu masih hidup,

maka terulang proses pertumbuhan daun itu. dari tunas daun hingga daun berwarna hijau tua

kemudian kekuningan dan proses tersebut disebut sebagai proses sibernetik (proses swakendali),

Sementara itu karena adanya asupan informasi masing-masing organisme melalui sel fotografik

maka proses itu dapat berjalan dan berlangsung secara teratur dan berkala.
Kedua, metode mekanistis, yaitu metode yang memunculkan adanya keteraturan tentang

sistem yang berlaku pada gejala atau daya-daya hidup dari organisme. Metode mekanistis

memiliki tujuan tertentu yang disebut sebagai tujuan finalis (tujuan akhir) agar sistem organisme

berjalan dengan sempurna.

Ketiga, metode genetik, yaitu metode yang mengkaji tentang penelusuran secara historis

bagaimana terjadinya sebuah organ, sel ataupun jaringan tertentu.

Keempat, metode fungsional, yaitu metode yang melihat bahwa masing-masing

organisme itu memiliki fungsi tertentu yang memungkinkan sistem organ itu berjalan dengan

teratur dan baik.

c). Cara Kerja Ilmu-ilmu Kemanusian

1) Pengertian Ilmu-ilmu Kemanusiaan

Ilmu-ilmu kemanusiaan adalah ilmu yang mengkaji masalah kemanusiaan seperti

masalah: budaya, sosial, politik, ekonomi, yang terdapat pada masyarakat. Ilmu-ilmu

kemanusiaan memiliki objek kajian yang diamati secara empiris dan objek itu dianggap kongkret

karena masalah kemanusiaan itu memiliki objek yang khusus yaitu manusia atau masyarakat

tertentu. Contoh ilmu-ilmu kemanusiaan adalah antropologi, ilmu susastra, ilmu arkeologi, ilmu

sejarah, ilmu sosial, ilmu ekonomi.

2) Sifat Ilmu-ilmu Kemanusiaan

Sifat yang paling menonjol pada ilmu-ilmu kemanusiaan adalah objeknya berkaitan

dengan manusia yang memiliki tindakan bermakna (meaningfull action). Di dalam tindakan

(perilaku) bermakna manusia atau seseorang manghasilkan karya-karya tertantu misalnya karya

sastra seperti Romeo dan Juliet karya William Shakespeare dari Inggris, karya seni seperti tari

Pendet, lukisan yang termashur yaitu Monalisa karya Michelangelo. Untuk itulah apabila ingin
mengkaji ilmu-ilmu kemanusiaan dengan lebih mendalam haruslah digunakan metode yang

tepat, agar objektivitas dan kebenaran ilmiahnya dapat terungkap dengan benar dan sahih.

3) Pendekatan atau Metode Ilmu-ilmu Kemanusiaan

Metode yang sangat mendasar pada ilmu-ilmu kemanusiaan adalah metode pemahaman

(methode verstehen). Metode pemahaman digunakan untuk memahami, meyakini tindakan-

tindakan manusia ketika ia melakukan suatu karya seni ataupun terlibat dalam peristiwa sejarah,

misalnya jatuhnya pemerintahan Orde Baru di Indonesia pada tahun 1998. Di dalam metode

pemahaman digunakan metode wawancara mendalam (depth intervieuw), yang bertujuan untuk

memahami dengan lebih baik dan mendalam tentang para pelaku budaya yang terlibat, misalnya

pada peristiwa sejarah ataupun saat membuat karya seni. Metode yang lain adalah metode

deskripsi, yaitu metode yang digunakan oleh para peneliti untuk mencatat, melukiskan dan

menggambarkan tentang seluruh sifat dan karakteristik dari objek penelitiannya.

Pada awalnya ilmu-ilmu kemanusiaan hanya menggunakan metode kualitatif, yaitu metode yang

bertitik tolak pada nilai-nilai (value) kemanusiaan (nilai moral, nilai budaya, nilai agama, nilai

estetis/keindahan, dan sebagainya) dalam menganalisis data penelitiannya. Tetapi dengan

perkembangan dan demi kemajuan ilmu itu, maka ilmu-ilmu kemanusiaan di awal abad XX dan

sampai saat ini telah menggabungkan metode statistik ke dalam penelitiannya. Sebagai contoh, di

dalam penelitian pada psikologi, ilmu sosial, serta ilmu ekonomi, mereka telah menggunakan

metode statistik dalam mengolah data penelitiannya.