Anda di halaman 1dari 18

PERUMUSAN SASARAN JANGKA PANJANG

DAN STRATEGI INDUK

MAKALAH

Disusun guna memenuhi tugas


Mata Kuliah : Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan
Dosen Pengampu : 1. Prof. Dr. H. Fattah Syukur, M.Ag
2. Prof. Dr. Nur Uhbiyati, M.Pd

oleh :

Muhasir
Nim : 1703038021

PROGRAM MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM


PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2018
A. Pendahuluan

Perumusan manajemen mutu pendidikan yang diterapkan di lingkungan


internal sistem persekolahan/madrasah hanyalah sebagian dari tanggung jawab
kepala sekolah/madrasah sebagai manajer pendidikan. Namun dalam ajaran
agama islam juga sangat memperhatikan dalam hal mutu, agama islam sangat
menginginkan umatnya untuk mengembangkan potensi diri agar menjadi pribadi
yang berkualitas hingga terciptanya umat yang bermutu. dibawah ini penulis
banyak mendapatkan berbagai sumber online tentang dalil yang berkaitan
dengan mutu, sedikit diantara anjuran agama baik hadits maupun ayat al-Qur'an
untuk menjadi umat dan pribadi yang bermutu, yaitu :

ّ
‫إن هللا يأمر بالعدل واإلحسان وإيتائ ذي القربى و ينهى عن الثحشاء والمنكر‬
) 90 :‫والبغي يعظكم لعلكم تذكرون ( النحل‬
Artinya : ”Sesungguhnya Allah menyuruh berbuat keadilan, berbuat
baik dan menolong kaum kerabat dan melarang dari perkara yang keji,
mungkar dan dosa. Allah menasehati kamu moga-moga kamu menjadi ingat".
(Q.S. AN-Nahl; 90)1

Para pengelola pendidikan (kepala sekolah/madrasah, kepala dinas


pendidikan) sebagai eksekutif modern saat ini harus mampu mengamati dan
merespons segenap tantangan yang dimunculkan oleh lingkungan eksternal baik
yang dekat maupun yang jauh. Fatah Syukur menjelaskan bahwa perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat akibat revolusi industri,2

Pada lingkungan internal tiap-tiap lembaga sekolah/madrasah sudah


banyak merumuskan program sasaran dalam bidang pengembangan dunia
pendidikan islam, seperti sasaran nya dalam kegiatan program kerja contohnya
pada bidang personalia, seperti Pimpinan Yayasan, Kepala sekolah, Bendahara,
Wakil Kamad, Kurikulum, Kepegsis, Humas, Sarana, Tata usaha dan
Pustakawam. Pada program internal ini pihak lembaga
1
Ayat tersebut membuktikan bahwa Allah itu suka terhadap orang-orang yang adil, dan kita
adalah umat yang baik yang di lahirkan untuk saling membagi dalam satu sama lainnya dan menyuruh
untuk berbuat baik dan saling tolong menolong, sehingga kualitas atau muta dalam suatu tingkah laku
ini berguna dalam kehidupan sehari-hari., Lihat : Ahmad Kosasi, “Dalil Tentang Mutu”, di akses 16
April 2018. 08.12, http://fadisyah.blogspot.co.id/2011/04/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html.
2
Fatah Syukur, Manajemen Pendidikan Berbasis Pada Madrasah, (Semarang : Pustaka
Rizki Putra, 2011), 125.

1
pendidikan/sekolah/madrasah terus melakukan struktur hubungan yang di
istilahkan adalah hubungan-hubungan madrasah, seperti : Hubungan madrasah
dengan komite madrasah , hubungan madrasah dengan masyarakat/orang tua,
hubungan madrasah dengan dewan guru.

Sedangkan dalam lingkunagn eksternal dekat adalah lingkungan yang


mempunyai pengaruh langsung pada operasional lembaga pendidikan, seperti
berbagai potensi dan keadaan dalam bidang pendidikan yang menjadi
konsentrasi usaha sekolah itu sendiri, situasi persaingan, situasi pelanggan
pendidikan, dan pengguna lulusan. Kesemuanya berpengaruh pada penentuan
strategi yang diperkirakan mendukung sekolah mencapai tujuannya. Lingkungan
eksternal yang jauh adalah berbagai kekuatan dan kondisi yang muncul di luar
lingkungan eksternal yang dekat meliputi keadaan sosial ekonomi, politik,
keamanan nasional, perkembangan teknologi, dan tantangan global. Secara tidak
langsung berpengaruh terhadap penyelenggaraan sistem pendidikan di suatu
sekolah.

Faktor lingkungan internal dan eksternal perlu diantisipasi, dipantau,


dinilai, dan disertakan sedemikian rupa ke dalam proses pengambilan keputusan
eksekutif. Para pengambil keputusan, termasuk di dalamnya kepala sekolah
maupun pengelola pendidikan lainnya seringkali terpaksa mengalahkan tuntutan
kegiatan interen dan eksteren lembaga pendidikan demi melayani bermacam
kepentingan seperti urusan rutin, dinas, bekerja harus selalu di bawah petunjuk
atau pedoman kerja yang ditetapkan oleh birokrasi tanpa mempertimbangkan
kebutuhan eksternal organisasi yang terus berubah, sehingga proses pengambilan
keputusan seringkali tidak maksimal dalam menghasilkan keputusan-keputusan
strategis. Akibatnya persoalan aktual lembaga pendidikan yang dihadapi tidak
dapat terselesaikan secara maksimal.

Pengamatan dan penilaian yang dilakukan secara simultan terhadap


lingkungan eksternal dan internal lembaga pendidikan memungkinkan para
pengelola pendidikan mampu mengidentifikasi berbagai jenis peluang yang ada
untuk dapat merumuskan dan mengimplementasikan berbagai rencana

2
pendidikan secara berhasil. Rancangan yang bersifat menyeluruh ini dapat
dilakukan melalui proses tindakan yang dikenal sebagai manajemen strategik.3

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah perumusan sasaran jangka panjang ?


2. Bagaimanakah penentuan strategi induk?

C. Pembahasan
1. Penentuan Sasaran Jangka Panjang

Menurut Syafruddin sagala terdapat lima langkah formulasi strategi, yaitu


(1) perumusan misi (mision determination) yaitu pencitraan bagaimana sekolah
seharusnya bereksitensi, (2) asesmen lingkungan eksternal (environmental
external assessment) yaitu mengakomodasikan kebutuhan lingkungan akan mutu
pendidikan yang dapat disediakan oleh sekolah; (3) asesmen organisasi
(organization assesment) yaitu merumuskan dan mendayagunakan sumber daya
sekolah secara optimal; (4) perumusan tujuan khusus (objective setting) yaitu
penjabaran dari pencapaian misi sekolah yang ditampakkan dalam tujuan
sekolah dan tujuan tiap-tiap mata pelajaran; dan (5) penentuan strategi (strategi
setting) yaitu memilih strategi paling tepat untuk mencapai tujuan yang
ditetapkan dengan menyediakan anggaran, sarana dan prasarana, maupun
fasilitass yang dibutuhkan untuk itu.4

Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan yang diberikan tugas untuk
mewujdkan tujuan pendidikan nasional harus menjalan kan perannya dengan
baik. Dalam menjalankan peran sebagai lembaga pendidikanini, sekolah harus
dikelola dengan baik agar dapat mewujud kan tujuan pendidikan yang telah
dirumuskan dengan optimal. Pengelolaan sekolah yang tidak professional dapat
menghambat proses pendidikan yang sedang berlangsung dan dapat

3
Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia, cetakan II. (Jakarta: PT Toko Gunung
Agung), 1995), 35
4
Syafaruddin. Manajemen Lembaga Pendidikan Islam, Cetakan I. (Jakarta: Ciputat Press,
2005), 122.

3
menghambat langkah sekolah dalam menjalankan fungsi nya sebagai lembaga
pendidian formal.

Agar pengelolaan sekolah tersebut dapat berjalan dengan baik, dibutuhkan


rencana strategis sebagai suatu upaya/cara untuk mengendalikan organisasi
(sekolah) secara efektif dan efisien, sampai kepada kepada implementasi garis
terdepan, sedemikian rupa sehingga tujuan dan sasarannya tercapai.
Perencanaan strategis merupakan landasan bagi sekolah dalam menjalankan
proses pendidikan. Komponen dalam perencanaan strategis paling tidak terdiri
dari visi, misi, tujuan, sasaran dan strategi (cara mencapai tujuan dan sasaran).
Perumusan terhadap visi, misi, tujuan, sasaran dan strategi tersebut harus
dilakukan pengelola sekolah, agar sekolah memiliki arah kebijakan yang dapat
menunjang tercapainya tujuan yang diharapkan.5

Berbicara mengenai sasaran berarti membicarakan mengenai tujuan yang


telah ditetapkan dan akan dicapai. Tujuan organisasi menurut Etzioni mencakup
beberapa fungsi di antaranya memberikan pengarahan dengan cara
menggambarkan keadaan masa akan datang yang senantiasa berusaha dikejar
dan diwujudkan oleh organisasi. Etizioni selanjutnya menegaskan bahwa tujuan
organisasi adalah keadaan yang dikehendaki pada masa akan datang yang
senantiasa dikejar organisasi agar direalisasikan.6 Liang Gie menyatakan tujuan
organisasi menentukan bidang kerja, terutama mengenai macam serta volume
pekerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi. Bidang kerja itu selanjutnya
akan menentukan tenaga kerja (SDM) yang diperlukan yaitu mengenai
banyaknya (kuantitas), persyaratannya (kualitas), dan kesehatannya.7 Bidang
kerja juga menentukan jumlah dan jenis fasilitas yang diperlukan dalam
organisasi yang berpangkal pada tujuan sekolah. Tujuan adalah adanya
kesepakatan umum mengenai misi sekolah dan sumber legitiminasi yang
membenarkan setiap kegiatan sekolah, serta eksistensi (keberadaan aktual)
sekolah itu sendiri. Selain tujuan berfungsi sebagai patokan yang dapat
digunakan seluruh personal sekolah maupun kalangan luar untuk manilai

5
Oteng Sutisna, Administrasi Pendidikan, (Bandung: Angkasa, 1985), 65.
6
Syafaruddin. Manajemen Lembaga Pendidikan Islam, 124.
7
Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia, 37-38.

4
keberhasilan sekolah, misalnya mengenai efektifitas mapupun efisiensi. Tujuan
sekoah juga berfungsi sebagai tolok ukur bagi para ilmuwan bidang organisasi
guna mengetahui seberapa suatu organisasi sekolah berjalan secara baik. Tujuan
dalam organisasi sekolah menciptakan sejumlah pedoman bagi landasan
kegiatan sekolah yang menggambarkan keadaan masa datang.8

Berbagai cara teknis penentuan tujuan organisasi, seperti penentuan tujuan


secara formal melalui pemungutan suara, yang mungkin dapat ditetapkan oleh
beberapa pimpinan sekolah, atau ditetapakan sendiri oleh individu yang
memiliki dan mengelola organisasi, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat
disimpulkan bahwa tujuan sekolah dilihat dari sudut manjemen strategis adalah
memberikan pengarahan dengan cara menggambarkan keadaan masa akan
datang yang menghasilkan kesepakatan umum merupakan sumber legitmasi
yang membenarkan setiap kegiatan sekolah mengenai misi dalam menentukan
bidang kerja, macam dan volume pekerjaan yang harus dilakukan dan
menantiasa berusaha dikejar dan diwujudkan oleh sekolah, serta eksistensi
sekolah itu sendiri.9

Adapun arti tujuan jangka panjang adalah sasaran jangka panjang yang
ditentukan sebagai hasil akhir spesifik yang ingin dicapai sebuah organisasi
dengan melakukan misi. Jangka panjang berarti lebih dari satu tahun. Sasaran
perlu untuk keberhasilan organisasi karena menyatakan arah, membantu dalam
evaluasi, menciptakan sinergi, mengungkap kan prioritas, memfokus kan
koordinasi, dan menyediakan dasar untuk perencanaan, pengorganisasian,
penggerakan, dan pengawasan aktivitas secara efektif. Sasaran harus menantang,
dapat diukur, konsisten, pantas, dan jelas.10

8
Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia, 50.
9
Soemanto Wasty dan Soetopo Hendiyat, Pengantar Operasional Administrasi Pendidikan.
(Surabaya: Usaha Nasional, 1982), 47-48.
10
A. Tabrani Rusyan, Manajemen Kependidikan. (Bandung: Media Pustaka, 1992), 89.

5
Menurut R.A. Johnson Sasaran jangka panjang ini juga dapat berfungsi sebagai
tolok ukur keberhasilan sekolah, adapun kriteria yang digunakan sebagai
pengukur keberhasilan adalah sebagai berikut:11

a. Akseptabilitas

Manajemen yang bertanggungjawab akan berupaya mengelola perusahaan yang


dipimpinnya berdasarkan norma-norma moralitas dan etika yang berlaku. Berarti
sasaran jangka panjang yang ditetapkan dapat diterima oleh berbagai pihak
karena didasarkan pada norma-norma yang dimaksud.

b. Fleksibilitas

Kenyataandan pengalaman menunjuk kan bahwa selalu terjadi perubahan dalam


lingkungan suatu perusahaan. Betapapun cermatnya para pengambil keputusan
stratejik melakukan estimasi dan prakiraan tentang factor-fakto reksternal yang
akan berpengaruh terhadap jalannya roda organisasi, kemungkinan untuk
timbulnya faktor-faktor yang tidak dapat atau bahkan tidak mungkin
diperhitungkan sebelum nya selalu saja ada.

c. Dapat diukur

Sasaran yang ingin dicapai hendaknya dinyatakan dengan jelas dan konkret.
Kejelasan yang dimaksud tidak hanya dalam arti jumlah sasaran tersebut yang
sedapat mungkin dinyatakan secara kuantitatif, akan tetapi juga batas kurun
waktu dalam mana sasaran diharapkan tercapai dan dengan pemenuhan standar
mutu yang bagaimana. Bagi para pelaksana kegiatan operasional kejelasan
tersebut sangat penting bukan hanya dalam arti menghilangkan keragu-raguan
tentang apa yang harus dicapai dalam kurun waktu tertentu di masa depan, akan
tetapi juga mencegah timbulnya salah pengertian dalam mengukur kinerja para
pelaksana kegiatan operasional tersebut.

d. Kriteriakesesuaian

11
R.A. Johnson, The Theory and Management of System. Tokyo: McGraw Hill
Kogakusha,1973), 101-102.

6
Yang dimaksud dengan kesesuaian adalah bahwa sasaran jangka panjang harus
digali dan merupakan rincian misi perusahaan dan misi merupakan rincian dari
kegiatan-kegiatan utama yang harus diselenggarakan dalam rangka pencapaian
tujuan akhir. Dengan menggunakan pendekatan demikian, maka berbagai pihak
dalam menjalankan fungsinya bekerja atas dasar pemikiran relevansi yang
berarti bahwa apapun yang terjadi dalam organisasi selalu relevan dengan misi
yang harus diemban dan relevan tujuan yang harus dicapai.

Sasaran jangka panjang ini juga bertujuan untuk meciptakan sekolah ungulan
atau sekolah yang kompetitif, adapun syarat-syarat menjadi sekolah kompetitif
adalah sebagai berikut:

1) KepemimpinanKepalaSekolah yang Profesional.

Kepala Sekolah seharus nya memiliki kemampuan pemahaman dan pemahaman


yang menonjol. Dari beberapa penelitian, tidak didapati sekolah yang maju
namun dengan kepala sekolah yang bermutu rendah.

2) Guru-guru yang tangguhdan professional

Guru merupakan ujung tombak kegiatan sekolah karena berhadapan langsung


dengan siswa. Guru yang professional mampu mewujudkan harapan-harapan
orang tua dan kepala sekolah dalam kegiatan sehari-hari di dalam kelas.

3) Memiliki tujuan pencapaian filosofis yang jelas

Tujuan filosofis diwujudkan dalam bentuk Visi dan Misi seluruh kegiatan
sekolah. Tidak hanya itu, visi dan misi dapat dicerna dan dilaksanakan secara
bersama oleh setiap elemen sekolah.

4) Lingkungan yang kondusifuntukpembelajaran

Lingkungan yang kondusif bukanlah hanya ruang kelas dengan berbagai


fasilitasmewah, lingkungan tersebut bias berada di tengah sawah, di bawah
pohon atau di dalam gerbong kereta api. Yang jelas lingkungan yang kondusif

7
adalah yang lingkungan yang dapat memberikan dimensi pemahaman secara
menyeluruh bagi siswa.

5) Jaringan organisasi yang baik

Jelas, organisasi yang baikdan solid baik itu organisasi guru, orang tua akan
menambah wawasan dan kemampuan tiap anggota nya untuk belajar dan terus
berkembang. Serta perlu pula dialog antar organisasi tersebut, misalnya forum
Orang Tua Murid dengan forum guru dalam menjelaskan harapan dari guru dan
kenyataan yang dialami guru di kelas.

6) Kurikulum yang jelas

Permasalahan di Indonesia adalah kurikulum yang sentralistik dimana Diknas


membuat kurikulum dan dilaksanakan secara nasional. Dengan hanya memuat
20% muatan local menjadi kan potensi daerah dan kemampuan mengajar guru
dan belajar siswa terpasung. Selain itu pola evaluasi yang juga sentralistik
menjadi kan daerah semakin tenggelam dalam kekayaan potensi dan budayanya.

7) Evaluasi belajar yang baik berdasarkan acuan patokan untuk mengetahui apakah
tujuan pembelajaran dari kurikulum sudah tercapai

Bila kurikulum sudah tertata rapi dan jelas, akan dapat teridentivikasi dan dapat
terukur target pencapaian pembelajaran sehingga evaluasi belajar yang diadakan
mampu mempetakan kemampuan siswa.

8) Partisipasi orang tua murid yang aktif dalam kegiatan sekolah.

Di sekolah unggulan dimanapun, selalu melibatkan orang tua dalam


kegiatannya. Kontribusi yang paling minimal sekali adalah memberikan
pengawasan secara sukarela kepada siswa pada saat istirahat. Pada proses yang
intensif, orang tua dilibatkan dalam proses penyusunan kurikulum sekolah
sehingga orang tua memiliki tanggungjawab yang sama di rumah dalam
mendidik anak sesuai pada tujuan yang telah dirumuskan. Sehingga terjalin

8
sinkronisasi antara pola pendidikan di sekolah dengan pola pendidikan di
rumah.12

2. Contoh Rumusan Jangka Panjang yang diterapkan oleh sekolah

a. Bidang Kelembagaan dan Sarana


1) Pengembangan dan penyempurnaan administrasi siswa, keuangan, dan
inventaris dengan menggunakan sistem informasi terpadu.
2) Mengembangkan dan melengkapi fasilitas gedung dan sarana belajar.
3) Memberdayakan ruang Laboratorium IPA, Bhs, dan Komputer serta
tertata dengan baik.
4) Mengembangkan ruang Laboratorium IPA, Bhs, dan Komputer dan
pengadaan ruang laboratorium untuk IPS, Matematika dan Agama.
5) Penambahan dan pemeliharaan slogan dan kata-kata hikmah yang
bernuansa Islami di semua ruang.
6) Menjaga dan memelihara semua ruangan yang ada.
7) Menata keindahan,kerindangan,kebersihan dan kenyamanan lingkungan
sekolah.
8) Memelihara pagar dan benteng
9) Memelihara tempat parkir motor.
10) Memelihara dapur sekolah.
11) Memelihara ruangan WC guru dan WC siswa.

b. Ketenagaan

1) Implementasi nilai-nilai Agama dalam pelaksanaan tugas kedinasan dan


kemasyarakatan.
2) Optimalisasi peranan guru dalam pengembangan sekolah.
3) Menjadikan Multimedia sebagai media pembelajaran untuk seluruh mata
pelajaran.

12
S.P. Malayu hasibuan, Manajemen, Dasar, Pengertian dan Masalah, Cetakan I. (Jakarta:
Toko Gunung Agung, 1996), 71-72.

9
4) Mengadakan studi banding ke sekolah lain yang dekat yang dianggap
sudah lebih maju dan berkualitas.
5) Pengawasan dan evaluasi terhadap kinerja guru melalui supervisi dan
kunjungan kelas.
c. Kurikulum

1) Mengoptimalkan 98% kehadiran guru dalam PBM.


2) Mengikutsertakan siswa pada lomba (Olimpiade) mata pelajaran tingkat
propinsi.
3) Mengadakan Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMK) untuk semua
mata pelajaran.
4) Mengupayakan peningkatan rata- rata nilai ujian nasional (UN) 8,25 dan
nilai rata-rata ujian sekolah 8,05.
5) Mempertahankan dan meningkatkan kualitas kelulusan 100% siswa kelas
III.
6) Meningkatkan kuantitas lulusan yang diterima di SMU/SMK/MA
mendekati 100%
7) 98% siswa lancar membaca Al-Quran
8) 75% siswa hafal juz Amma.
9) 100% siswa melaksanakan shalat berjamaah.

d. Bidang Kesiswaan

1) Menjaga konstanitas jumlah rombel dan siswa.


2) Memiliki tim cabang olah raga bola voli, basket dan futsal untuk
kejuaraan tingkat provinsi dan nasional.
3) Memiliki tim kesenian daerah dan nasionaluntuk kejuaraan tingkat
provinsi dan nasional.
4) Memiliki kelompok ilmiah remaja untuk kejuaraan tingkat provinsi dan
nasional.
5) Memiliki peserta didik ahli berpidato bahasa daerah, bahasa Indonesia
dan bahasa Inggris untuk kejuaraan tingkat provinsi dan nasional.

10
6) Memiliki peserta didik yang ahli dalam berceritera (story telling) baik
dalam bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris.
7) Memiliki regu paskibraka yang selalu siap untuk segala keperluan
upacara.
8) Memiliki tim P3K dan dokter sekolah yang selalu siap.
9) Memiliki pangkalan kepramukaan yang aktif.
10) Memiliki tim pencinta alam yang aktif.
e. Bidang Humas
1) Mensosialisasikan Sekolah secara nasional.
2) Menjalin kerjasama dengan pihak luar dalam kerangka pengembangan
sekolah.
3) Mengoptimalkan pemanfaatan pusat informasi dan pengolahan data
(PUSINLAHTA) dan internet.
4) Mempertahankan kelangsungan unit-unit usaha dalam kerangka
menggali sumber dana untuk pengembangan sekolah.13
5)
3. Penentuan Strategi Induk

Dalam bukunya Fatah Syukur cara membuat strategi yang dilakukan oleh
yang sifatnya makro, dalam arti kebijakn yang harus ditetapkan dalam
mengantisipasi situasi dan kondisi diluar organisasinya.14 Untuk cara lain dalam
membuat penenentuan Strategi induk Strategi adalah sebuah rencana yang
komprehensif mengintegrasikan segala resources dan capabilities yang
mempunyai tujuan jangka panjang untuk memenangkan
kompetisi. Menurut Gaffar strategi adalah rencana yang mengandung cara
komprehensif dan integratif yang dapat dijadikan pegangan untuk bekerja,
berjuang dan berbuat guna memenangkan kompetisi. Secara historis konsep
strategi memang berasal dari militer, seperti yang diungkap Von Noumon dan
Mogernstern dalam tulisannya “The Theory of Games” yang mengandung teori
dan konsep strategi. Dari sinilah konsep tersebut diaplikasikan ke dalam dunia
bisnis dan dunia kehidupan lannya seperti politik. Thomas Schelling

13
R.Fred David, Konsep Manajemen Strategis, Edisi VII (terjemahan), (Jakarta, Indeks,
2004), 79-80.
14
Fatah Syukur, Manajemen....129

11
mengembangkan studi dengan judul “The Strategi of Conflict” yang
mengungkapkan berbagai unsur strategi yang umum ditemui dalam berbagai
aspek kehidupan dalam situasi competitive. Unsur-unsur umum ini adalah
prinsip-prinsip dalam bargaining, threats, mutual distrust, dan balance antara
kerjasama danconflict. Dalam perkembangan selanjutnya terutama dalam era
globalisasi. Strategi merupakan instrumen manajemen yang ampuh dan tidak
dapat dihindari, tidak hanya untuk survival dan memenangkan persaingan tetapi
juga untuk tumbuh dan berkembang.15

Oleh karena strategi merupakan instrumen manajemen yang ampuh dan


tidak dapat dihindari termasuk dalam managemen sekolah. Strategi sekolah
menjelaskan metode dan pendekatan yang digunakan untuk mencapai tujuan
strategiknya. Langkah ini dalam proses manajemen strategik sekolah mencakup
identitas piliha-pilihan strategik yang mungkin dapat dilakukan untuk mencapai
tujuan sekolah.16

Para pakar menggunakan berbagai istilah untuk strategi induk


seperti“grand strategy” atau “master strategi” atau “business strategy” dalam
bahasa inggris pada dasarnya yang dimaksud ialah suatu pendekatan umum yang
bersifat komprehensif atau menyeluruh yang berperan sebagai penuntun
kegiatan umum suatu organisasi dalam rangka pencapaian tujuan dan berbagai
sasarannya.17

4. Fungsi Strategi Induk

Dalam kaitan ini kiranya menarik dan relevan untuk menekankan bahwa
perumusan strategi induk sesungguhnya merupakan salah satu bentuk
pengambilan keputusan sebagai suatu metode untuk memecahkan
permasalahaan yang dihadapi oleh suatu organisasi, dalam hal ini suatu
perusahaan. Dalam teori pengambilan keputusan sebagai pemecahan masalah
terdapat tujuh langkah yang biasa nya diambil yaitu :

15
R.Fred David, Konsep Manajemen Strategis, 85.
16
Soemanto Wasty dan Soetopo, Hendiyat Pengantar Operasional Administrasi Pendidikan.
(Surabaya: Usaha Nasional, 1982), 90-91.
17
M. Yusanto Ismail, Pengantar Manajemen Syariat, Cetakan II. Jakarta, Khairul
Bayan,2003), 88-89.

12
a. Mengidefinisikan hakikat permasalahan yang dihadapi dan mengundang
pemecahan
b. Mengumpulkan data yang relevan
c. Menganalisis data
d. Menentukan berbagai alternative yang mungkin ditempuh
e. Menganalisis berbagai altenatif
f. Memilih salah satua lternatif
g. Pelaksanaan keputusan
h. Evaluasi hasil pelaksanaan

Definisi Permasalahan yang Dihadapi (Definition of Problems Faced).


Ditinjau dari segi strategi perusahaan, yang dimaksud dengan “permasalahan”
ialah menentukan posisi perusahaan di masa kini dan di masa akan datang dalam
memproduksi barang atau jasa sehingga perusahaan yang bersangkutan mampu
bersaing dengan pesaing lain yang memasarkan produk sekaligus mampu
bertumbuh dan berkembang dalam kondisi lingkungan eksternal.

Pengumpulan Data (Data Collection). Teori pengambilan keputusan


menekankan bahwa proses pengambilan keputusan memerlukan “bahan
pendukung” yang disebut data. Berbagai data yang diperlukan dalam
pengambilan keputusan menyangkut jenis-jenis proses yang terjadi dalam
perusahaan, seperti proses manajerial, proses fungsional, proses teknis dan
bahkan proses operasional.

Analisis Data (Data analysis). Data hanya merupakan bahan baku yang
masih harus diolah sehingga berubah sifatnya menjadi informasi karena
informasilah yang memiliki nilai intrinsik dimaksud. Informasi yang bermutu
tinggi dan bermanfaat sebagai pendukung pengambilan keputusan harus
memiliki berbagai ciri seperti :18
1) Kemutakhiran
2) Relevansi
3) Kelengkapan

18
R.A. Johnson, The Theory and Management of System. (Tokyo: McGraw Hill Kogakusha,
1973), 61-64.

13
4) Dapat dipercaya
Disimpan sedemikian rupa sehingga mudah ditelusuri apabila tiba waktunya
untuk digunakan.

Penentuan Berbagai Alternatif. Untuk menentukan beberapa jumlah alternatif


yang sebaiknya dipilih dan dianalisis, para pakar mengetengahkan pendekatan
sebagai berikut :

 Jika permasalahan yang dihadapi bersifat repetitif

 Jika permasalahan yang dihadapi menyangkut segi-segi teknis dan


operasional

 Sebaliknya, jika permasalahan yang dihadapi merupakan permasalahan yang


baru pertama kali timbul dan belum pernah dialami sebelumnya

Jika permasalahan yang dihadapi bukan merupakan akibat goncangan yang


terjadi pada lingkungan.

D. Analisis

Analisis Berbagai Alternatif. Pemilihan berbagai alternatif yang mungkin


ditempuh dilaksanakan, dapat dinyatakan bahwa setiap alternatif terpilih memiliki
“kekuatan” dan “kelemahan” sendiri yang juga perlu dikenali secara benar.

Pemilihan Salah Satu Alternatif. Dalam kaitan ini harus ditekankan bahwa
pilihan dijatuhkan pada alternatif yang kelihatannya terbaik. Penekanan ini sangat
penting dalam proses pengambilan keputusan.

Pelaksanaan Keputusan. Tepat tidaknya keputusan yang diambil “diuji”


pada waktu dilaksanakan. Kriteria dasarnya harus dikaitkan dengan maksud dan
tujuan diambilnya keputusan tersebut.

14
Evaluasi hasil pelaksanan. Setiap keputusan yang diambil pada hakikatnya
bersifat tentatif, artinya manajemen perlun melakukan penilaian apakah keputusan
yang diambil merupakan keputusan yang tepat atau tidak. Pengambilan keputusan
perlu melakukan peninjauan ulang yang terbagi atas 2 faktor, yaitu:

1. Faktor Psikologis, dalam arti “takut kehilangan muka” jika harus meninjau
kembali sesuatu keputusan yang pernah diambilnya,
2. Ketakutan bahwa tindakan seperti itu akan diinterpretasikan oleh berbagai pihak
sebagai cermin ketidakmampuan manajer yang bersangkutan.19

E. Kesimpulan

Tujuan jangka panjang adalah sasaran jangka panjang yang ditentukan


sebagai hasil akhir spesifik yang ingin dicapai sebuah organisasi dengan
melakukan misi. Jangka panjang berarti lebih dari satu tahun. Sasaran perlu
untuk keberhasilan organisasi karena menyatakan arah, membantu dalam
evaluasi, menciptakan sinergi, mengungkapkan prioritas, memfokuskan
koordinasi, dan menyediakan dasar untuk perencanaan, pengorganisasian,
penggerakan, dan pengawasan aktivitas secara efektif. Sasaran harus
menantang, dapatdiukur, konsisten, pantas, danjelas.
Strategi adalah sebuah rencana yang komprehensif mengintegrasikan
segala resources dan capabilities yang mempunyai tujuan jangka panjang untuk
memenangkan kompetisi.

F. Daftar Pustaka

Sumber Buku

19
Kadarman, Pengantar Ilmu Manajemen. (Jakarta: Gramedia, 1996), 65.

15
David, R. Fred. Konsep Manajemen Strategis, Edisi VII (terjemahan). Jakarta,
PT Indeks, 2004

Syukur ,Fatah, Manajemen Pendidikan Berbasis Pada Madrasah, Semarang :


Pustaka Rizki Putra, 2011

Hasibuan, S.P. Malayu. Manajemen Sumber Daya Manusia, cetakan II. Jakarta,
PT Toko Gunung Agung, 1995

__________________. Manajemen, Dasar, Pengertian dan Masalah, Cetakan I.


Jakarta, PT Toko Gunung Agung, 1996

Ismail, M. Yusanto. Pengantar Manajemen Syariat, Cetakan II. Jakarta, Khairul


Bayan, 2003

Johnson, R.A. The Theory and Management of System. Tokyo: McGraw Hill
Kogakusha, 1973

Kadarman, A.M. et.al. Pengantar Ilmu Manajemen. Jakarta, Gramedia, 1996

Mondy, R.W.and Premeaux, S.H. Management: Concepts, Practices and Skills.


New Jersey, Prentice Hall Inc Englewood Cliffs, 1995

Oxford, Learner’s Pocket Dictionary. Newyork, Oxford University Press, 2005

Rusyan, A. Tabrani. Manajemen Kependidikan. Bandung: Media Pustaka, 1992

Soetopo, Hendiyat dan Soemanto, Wasty. Pengantar Operasional Administrasi


Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional, 1982

Sutisna, Oteng. Administrasi Pendidikan. Bandung: Angkasa, 1985

Syafaruddin. Manajemen Lembaga Pendidikan Islam, Cetakan I. Jakarta:


Ciputat Press, 2005

Sumber Jurnal

16
Sumber Lain

Kosasi ,Ahmad, “Dalil Tentang Mutu”, di akses 16 April 2018,


http://fadisyah.blogspot.co.id/2011/04/normal-0-false-false-false-in-x-none-
x.html.

17

Anda mungkin juga menyukai