Anda di halaman 1dari 15

RINGKASAN EKSEKUTIF

Dalam Peraturan Pemerintah mengatur mengenai penyelenggaraan program


Dokter Layanan Primer untuk dilakukan oleh Fakultas Kedokteran dengan
akreditasi tertinggi dan berkoordinasi dengan organisasi profesi tetapi hal ini
dapat membuat calon dokter ataupun dokter umum harus menempuh pendidikan
Dokter Layanan Primer lagi dan DLP tersebut belum mendapat STR dari IDI.
Tujuan kebijakan yaitu terselenggaranya program Dokter Layanan Primer sesuai
dengan peraturan menteri yang ditetapkan kemudian, dengan memperhatikan
fungsi dan penyelenggara program DLP dalam pemberian pendidikan akadmik
dan profesi bagi calon dokter. Tipe pendekatan yang digunakan dalam pasal ini
adalah pendekatan prediktif, dengan diberlakukannya kebijakan ini diharapkan
penyelenggaraan program Dokter Layanan Primer di fakultas kedokteran
meningkatkan kualitas dan kompetensi dokter dalam meningkatkan kualitas
masyarakat yang sehat agar terbentuk sumber daya manusia yang berkualitas.
Substansi pokok kebijakan yaitu penjabaran fungsi dari dokter layanan primer,
syarat fakultas yang dapat menyelenggarakan program dokter layanan primer dan
status dokter layanan primer yang dianggap setara dengan dokter spesialis lainnya.
Masalah yang timbul akibat kebijakan ini yaitu DLP akan bekerja dan
mengabdikan di fasilitas layanan primer serta sepsifikasi kompetensi DLP belum
jelas. Resistensi terhadap kebijakan dapat berupa argumentative, afeksi dan
penyimpangan. Prediksi keberhasilan dari kebijakan ini dapat dilihat dari
gambaran pembangunan kesehatan yang telah dicapai 1-3 tahun terakhir. Dalam
penyelenggaraan dokter layanan primer hanya boleh diselenggarakan oleh
Fakultas Kedokteran yang terakreditasi A dan Fakultas Kedokteran akreditas B
tetapi harus bekerja sama dengan FK akreditas A, penggunaan kata dokter layanan
primer mengandung arti setara dengan dokter spesialis, sehingga hal tersebut
masih menjadi pertanyaan karena belum ada undang-undang yang pasti tentang
makna setara spesialis. Harus ada undang-undang yang mengatur jelas maksud
dari setara dengan dokter spesialis sehingga terdapat kesamaan persepsi yang jelas
dan tidak ada kesalahan dalam pengartian Dokter Layanan Prima.

1
DAFTAR ISI

RINGKASAN EKSEKUTIF .................................................................................. 1

DAFTAR ISI ........................................................................................................... 2

BAB I KAJIAN KEBIJAKAN ............................................................................... 3

1.1 Masalah Dasar (Tertulis dan Tersirat) ...................................................... 3

1.2 Tujuan yang Ingin Dicapai (Tertulis dan Tersirat) ................................... 6

1.3 Substansi Kebijakan (Isi Utama) .............................................................. 6

1.4 Ciri Kebijakan .......................................................................................... 7

BAB II KONSEKUENSI DAN RESISTENSI ....................................................... 9

2.1 Perilaku yang Muncul .............................................................................. 9

2.2 Resistensi ................................................................................................ 10

2.3 Masalah Baru yang Timbul .................................................................... 11

BAB III PREDIKSI .............................................................................................. 13

3.1 Prediksi ‘Trade Off’ ............................................................................... 13

3.2 Prediksi Keberhasilan ............................................................................. 13

BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ............................................... 15

4.1 Kesimpulan ............................................................................................. 15

4.2 Rekomendasi .......................................................................................... 15

2
BAB I

KAJIAN KEBIJAKAN

1.1 Masalah Dasar (Tertulis dan Tersirat)


Pasal 22 dan 21 Peraturan Pemerintah Nomor 52 tentang Peraturan
Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2013 Tentang Pendidikan
Kedokteran mengatur tentang penyelenggara program Dokter Layanan
Primer, mencakup Fakultas Kedokteran yang memiliki program studi
kedokteran dengan peringkat akreditasi tertinggi yang boleh
menyelenggrakan program Dokter Layanan Primer dan berkoordinasi dengan
organisasi profesi. Program DLP setara dengan program dokter spesialis
dalam hal standar pendidikan, pengakuan, dan penghargaan terhadap lulusan.
Pembahasan mengenai penyelenggaraan Dokter Layanan Primer
penting untuk dijadikan sebagai peraturan tentang Peraturan Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2013 Tentang Pendidikan Kedokteran
mengatur tentang penyelenggara program Dokter Layanan Primer karena
sebagaimana pengertian Dokter Layanan Primer yakni dokter yang
mendapatkan pendidikan setara spesialis yang menerapkan prinsip ilmu
kedokteran keluarga, ditunjang dengan ilmu kedokteran komunitas, dan ilmu
kesehatan masyarakat, serta mampu memimpin dan menyelenggarakan
pelayanan kesehatan tingkat primer yang berkualitas.
Secara tersirat, hal yang mendasari munculnya peraturan tentang
penyelenggaraan DLP adalah semakin disadarinya akan pentingnya
penyelenggaraan Dokter Layanan Primer bahwa konsumen atau pasien sudah
semakin kritis, dan menuntut akan pelayanan kesehatan kedokteran yang
berbasis keluarga, dan anggapan bahwa dokter keluarga yang menangani
pasien, selain menggnakan pendekatan kuratif dan rehabilitative kini dapat
melakukan pendekatan promotif dan preventif terhadap pasien sehingga dapat
menjadi salah satu solusi.
Pasal 21 ayat (1) mengatur bahwa DLP memiliki fungsi, memberikan
pelayanan kesehatan di pelayanan primer yang berpusat pada individu,

3
berfokus pada keluarga, dan berorientasi pada komunitas yang sesuai dengan
latar belakang budaya, menyediakan pelayanan holistik yang
mengintegrasikan faktor biologis, psikologis, sosial, budaya, dan spiritual
dengan membina hubungan dokter-pasien yang erat dan setara, menyediakan
pelayanan komprehensif meliputi promosi kesehatan, pencegahan penyakit,
pengobatan, rehabilitasi dan pelayanan paliatif, yang berkeianjutan pada
semua kelompok usia dan penyakit serta memberikan pelayanan sesuai etik
dan bertanggung jawab secara profesional berbasis bukti ilmiah. Masalah
dasar yang dapat muncul adalah banyak calon dokter yang ada, sehingga
memungkinkan terdapat kerugian ataupun kesulitan dan menambah masa
studi pendidikan dokter yang mahal serta dapat merebut tupoksi program dari
kesehatan masyarakat.
1. Macam
Masalah kebijakan (policy problem) adalah nilai kebutuhan, atau
kesempatan yang belum terpenuhi, yang dapat dididentifikasi, untuk
kemudian diprediksi atau dicapai melalui tindakan publik. Adapun
masalah dalam upaya penyelenggaraan program Dokter Layanan Primer di
Indonesia adalah aturan PP mengenai Pendidikan Kedokteran yang
menyelenggarakan program Dokter Layanan Primer yang kemudian
memunculkan adanya perbedaan pendidikan antara Pendidikan Dokter
Spesialis dan Pendidikan Dokter Layanan Primer. Lebih lanjut pula
dibahas kebijakan mengenai program Dokter Layanan Primer.
2. Nilai
Setiap kebijakan mengandung nilai tertentu dan juga bertujuan untuk
menciptakan norma baru dalam organisasi. Nilai yang ada di masyarakat
atau anggota organisasi berbeda dengan nilai yang ada di pemerintah. Oleh
karena itu perlu partisipasi dan komunikasi yang intens pada saat
merumuskan kebijakan.
a. Nilai Kompetisi: Upaya penyelenggaraan program Dokter Layanan
Primer sebagaimana yang tercantum dalam pasal ini bahwa Program
DLP hanya dapat diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran yang

4
memiliki program studi kedokteran dengan peringkat akreditasi
tertinggi.
b. Nilai ekonomis dalam upaya penyelenggaraan program Dokter Layanan
Primer sebagaimana yang tercantum dalam pasal ini dilakukan untuk
melayani semua orang yang perlu layanan kesehatan tanpa batas usia,
jenis penyakit, ras, dan tingkatan sosial. DLP biasanya adalah dokter
yang pertama dihubungi oleh pasien, karena faktor-faktor kemudahan
komunikasi, lokasi yang dapat diakses, keakraban, biaya, persyaratan
perawatan.
c. Nilai manfaat: pemerintah menjamin upaya pendidikan kedokteran
yang berkualitas sebagaimana yang tercantum dalam pasal ini berpihak
pada masyarakat/calon dokter dan upaya tersebut dalam rangka untuk
melindungi dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
3. Karakteristik
Kriteria kebijakan dalam pasal 20 adalah kompetisi dengan
menekankan pada aspek penyelenggaraan Fakultas dengan akreditasi
tertinggi baik itu fakultas kedokteran negeri maupun swasta. Ketentuan
mengenai penyelenggaraan program Dokter Layanan Primer ditetapkan
dengan Peraturan Pemerintah.
Tipe pendekatan yang digunakan dalam pasal ini adalah pendekatan
prediktif, dengan diberlakukannya kebijakan ini diharapkan
penyelenggaraan program Dokter Layanan Primer di fakultas kedokteran
meningkatkan kualitas dan kompetensi dokter dalam meningkatkan
kualitas masyarakat yang sehat agar terbentuk sumber daya manusia yang
berkualitas.
4. Aktor
Dalam upaya penyelenggaraan program Dokter Layanan Primer,
mereka yang merupakan penentu kebijakan di tingkat pusat dan daerah;
pemangku kepentingan baik ditingkat pusat dan daerah; instansi
pendidikan sebagai pemberi pelayanan pendidikan kedokteran, masyarakat
sebagai pengguna layanan adalah aktor atau advokat yang termasuk dalam

5
kebijakan ini. Oleh karena itu, kerjasama baik dari pemerintah, tenaga
kesehatan dan masyarakat mengenai masalah kesehatan tersebut harus
ditanamkan dan menjadi tanggung jawab bersama untuk mencapai manfaat
dari kebijakan tersebut.
5. Isu Publik
Dalam PP juga mengatur mengenai penyelenggaraan program
Dokter Layanan Primer untuk dilakukan oleh Fakultas Kedokteran dengan
akreditasi tertinggi dan berkoordinasi dengan organisasi profesi tetapi hal
ini dapat membuat calon dokter ataupun dokter umum harus menempuh
pendidikan Dokter Layanan Primer lagi dan DLP tersebut belum mendapat
STR dari IDI.
1.2 Tujuan yang Ingin Dicapai (Tertulis dan Tersirat)
Tujuan yang ingin dicapai oleh pasal 20 adalah terselenggaranya
program Dokter Layanan Primer sesuai dengan peraturan menteri yang
ditetapkan kemudian, dengan memperhatikan fungsi dan penyelenggara
program DLP dalam pemberian pendidikan akadmik dan profesi bagi calon
dokter.
Tujuan yang ingin dicapai pada pasal 21 adalah pemenuhan ataupun
terpenuhinya fungsi dari DLP yaitu untuk pelayanan primer yang berpusat
pada individu, berfokus pada keluarga, dan berorientasi pada komunitas yang
sesuai dengan latar belakang budaya, menyediakan pelayanan holistik yang
mengintegrasikan faktor biologis, psikologis, sosial, budaya, dan spiritual
dengan membina hubungan dokter-pasien yang erat dan setara, menyediakan
pelayanan komprehensif meliputi promosi kesehatan, pencegahan penyakit,
pengobatan, rehabilitasi dan pelayanan paliatif, yang berkelanjutan pada
semua kelompok usia dan penyakit serta memberikan pelayanan sesuai etik
dan bertanggung jawab secara profesional berbasis bukti ilmiah.
1.3 Substansi Kebijakan (Isi Utama)
Substansi kebijakan pasal 20 ialah penyelenggara program Dokter
Layanan Primer di fakultas kedokteran yang harus memenuhi persyaratan
kategori akreditasi tertinggi sebagaimana diatur oleh peraturan menteri.

6
Substansi kebijakan pasal 10 adalah penjabaran mengenai fungsi apa
saja yang harus dimiliki oleh Dokter Layanan Primer, dalam hal ini pelayanan
primer yang berpusat pada individu, berfokus pada keluarga, dan berorientasi
pada komunitas yang sesuai dengan latar belakang budaya; menyediakan
pelayanan holistik yang mengintegrasikan faktor biologis, psikologis, sosial,
budaya, dan spiritual dengan membina hubungan dokter-pasien yang erat dan
setara; menyediakan pelayanan komprehensif meliputi promosi kesehatan,
pencegahan penyakit, pengobatan, rehabilitasi dan pelayanan paliatif, yang
berkeianjutan pada semua kelompok usia dan penyakit serta memberikan
pelayanan sesuai etik dan bertanggung jawab secara profesional berbasis
bukti ilmiah.
1.4 Ciri Kebijakan
Pada pasal 20 PP No 52 Tahun 2017, ciri yang terlihat adalah pasal ini
bersifat mendukung, memperjelas, dan menguatkan kebijakan pada pasal
sebelumnya, yakni pasal 2. Pasal ini juga berupaya untuk mewadahi
kepentingan publik, khususnya Fakultas Kedokteran dalam pemenuhan
kebutuhan akan penambahan program Dokter Layanan Primer.
Pasal 21 bersifat mendukung dan menegaskan pasal-pasal sebelumnya
yang mengatur tujuan pendidikan kedokteran, yakni menghasilkan Dokter
dan Dokter Gigi yang berbudi luhur, bermartabat, bermutu, berkompeten,
berbudaya menolong, beretika, berdedikasi tinggi, profesional, berorientasi
pada keselamatan pasien, bertanggung jawab, bermoral, humanistis, sesuai
dengan kebutuhan masyarakat, mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial,
dan berjiwa sosial tinggi; memenuhi kebutuhan Dokter dan Dokter Gigi di
seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia secara berkeadilan; dan
meningkatkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang
kedokteran dan kedokteran gigi.
Pendekatan yang multidisipliner, dengan kerangka pemikiran yang
lebih mendalam baik dari sisi substansi maupun dari sisi cakupan pengaturan
kebijakan baik itu pasal 20 maupun pasal 21 yang lebih merespon tuntutan

7
pelayanan kesehatan untuk menjawab perkembangan dunia kesehatan di masa
depan.

8
BAB II

KONSEKUENSI DAN RESISTENSI

2.1 Perilaku yang Muncul


Dengan adanya Peraturan Pemerintah No. 52 Tahun 2017 Padal 20 dan
21 mengenai program Dokter Layanan Primer menunjukkan akan
diselenggarakannya program kedokteran yang baru, setara dengan program
kedokteran spesialis. Dengan adanya peraturan pemerintah tersebut
memberikan kesempatan terhadap Fakultas Kedokteran dalam
menyelenggarakan program Dokter Layanan Primer dalam memberikan
pelayanan kuratif, rehabilitative, preventif, promotif. Ini memberikan indikasi
bahwa dengan adanya program Dokter Layanan Primer akan membuat calon
dokter harus memilih Dokter Spesilis atau Dokter Layanan Primer.
Ada 2 perilaku berlawanan yang diperkirakan akan muncul sebagai
konsekuensi bila PP No. 52 ini diberlakukan.
1. Perilaku Positif
Dengan berlakunya kebijakan ini, tentu memberikan peluang pada
Dokter Layanan Primer untuk masuk ke Indonesia. Program Dokter
Layanan Primer dapat memberikan pelayanan pendekatan keluarga, dan
pelayanan tingkat primer. Selain itu, institusi perguruan tinggi baik
Fakultas Kedokteran negeri maupun swasta akan lebih dituntut
eksistensinya terhadap upaya peningkatan akreditasi sehingga dalam
menjalankan kebijakan tersebut dilakukan secara berkesinambungan dan
termanfaatkan sesuai dengan ketentuan dalam kebijakan yang telah
ditetapkan.
2. Perilaku Negatif
Kebijakan tidak hanya memberikan dampak positif tetapi juga
mempunyai dampak negatif. Dampak negatif yang bisa terjadi misalnya
pada Fakultas Kedokteran swasta yang selalu berorientasi efisien, maka
perilaku negatif dapat muncul akibat anggapan bahwa mengikuti
persyaratan-persyaratan tersebut memberatkan dan merupakan suatu

9
pemborosan. Dengan berlakunya kebijakan ini maka Dokter Layanan
Primer dapat leluasa mengambil lingkup kerja atau wilayah kerja dari
kesmas maupun kedokteran umum lainnya karena ranah pelayanan yang
luas dan berada pada tingkat primer.
2.2 Resistensi
1. Bentuk
Resistensi terhadap kebijakan program Dokter Layanan Primer ditunjukan
dengan:
1) Argumentatif: berupa pernyataan yang berlawanan dengan kebijakan
yang diterapkan dengan pelaksana kewenangan.
2) Afeksi: berupa ketidak setujuan terhadap peraturan yang ada, sehingga
ada keinginan untuk merestrukturisasi kebijakan.
3) Penyimpangan: ditunjukkan dengan adanya segilintir orang yang
berencana untuk menghapuskan kebijakan tersebut.
2. Aktor
Penentu kebijakan di tingkat pusat dan daerah, pemangku kepentingan
baik di tingkat pusat dan daerah serta instansi pendidikan.
3. Sumber
Lobi politik, debat, dialog, negosiasi, petisi/resolusi, dan mobilisasi.
4. Intensitas
Per 31 Desember 2015, dokter yang mendapat STR dari Konsil
Kedokteran Indonesia adalah 109.597. Terbanyak dari Jawa Barat (15,51
persen); DKI Jakarta (15,28 persen); Jawa Timur (12,25 persen). Daerah
dengan jumlah dokter paling sedikit adalah Sulawesi Barat (0,11 persen);
Maluku Utara (0,18 persen); dan Kalimantan Utara (0,19 persen).
Secara umum, tahun 2015, jumlah dokter Indonesia sudah memenuhi
rasio, yaitu 40,5 dokter per 100 ribu. Tetapi, jika dilihat per provinsi,
hanya 12 provinsi yang mencapai rasio dan 22 provinsi lainnya lebih
rendah dari target Kemenkes. Bayangkan, di Sulawesi Barat saja pada
2013, seorang dokter harus melayani 11.400 orang.

10
2.3 Masalah Baru yang Timbul
Pendidikan DLP harus diselenggarakan di Fakultas Kedokteran (FK)
yang berakreditasi A. Boleh akeditasi B, tetapi tetap bekerja sama dengan FK
berakreditasi A. Dari 75 fakultas kedokteran yang ada saat ini, hanya 17
fakultas yang berakreditasi A (22,67 persen). Dengan beban berat FK
menerima mahasiswa S1 rata-rata sebanyak 100-200 orang dan peserta
pendidikan dokter spesialis per bidang ilmu, rata-rata 10-20 orang (terdapat
34 bidang spesialis saat ini), beban yang ditanggung akan bertambah.
Apalagi, jika diharuskan menerima dokter pendidikan DLP (jumlah pengajar,
sarana, prasarana, dan dana).
Istilah ‘setara spesialis’ masih menjadi pertanyaan karena berbagai
undang-undang dan peraturan menteri belum mengenal istilah setara spesialis.
Dalam UU No 29 Tahun 2004 tentang praktik Kedokteran hanya dikenal
istilah dokter, dokter spesialis, dokter gigi dan dokter gigi spesialis.
Pertanyaannya adalah kedudukan ‘setara spesialis’ ini dalam Kerangka
Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Apakah dalam deskripsi KKNI,
DLP berarti terletak di level 8? Jika tidak, implikasinya akan berdampak
pada golongan dan pangkat serta penggajian.
Sampai saat ini, belum ada standar kompetensi dan standar pendidikan
bagi DLP. Bagaimana kita akan mencapai tujuan pembelajaran jika standar
kompetensi DLP saja belum ada. Bagaimana perbedaan kompetensi DLP
dengan dokter umum dan dokter keluarga? Semua itu masih belum jelas.
Bagaimana cara mengetahui bahwa DLP yang diluluskan sudah
kompeten, jika uji kompetensi yang seyogianya mengacu pada standar
kompetensi, ternyata masih belum disepakati. Apakah dosen yang mendidik
peserta program DLP sudah terkualifikasi? Sampai saat ini, belum diketahui
kurikulum pendidikan program DLP yang akan diterapkan. Satu hal lagi yang
dibutuhkan adalah standar kompetensi DLP, yang disahkan oleh Konsil
Kedokteran Indonesia (UU Praktik Kedokteran no 29 – 2004).
Selanjutnya, lulusan program DLP harus menjalani uji kompetensi,
yang diselenggarakan oleh Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran

11
Indonesia (AIPKI) bekerja sama dengan IDI/Kolegium Dokter Indonesia. Jika
IDI dan Kolegium Dokter Indonesia tidak mengakui pendidikan DLP, ada
konsekuensi tidak dapat diterbitkannya sertifikat kompetensi oleh IDI. DLP
pun tidak memenuhi syarat untuk mengajukan surat tanda registrasi ke KKI.
DLP akan bekerja dan mengabdikan di fasilitas layanan primer. Saat ini
dokter yang bekerja di puskesmas adalah dokter yang secara reguler harus
mendapatkan Surat Tanda Registrasi setiap lima tahun. Mereka telah teruji
keandalannya dalam bekerja di puskesmas. Jika DLP juga akan melakukan
pelayanan di puskesmas, hal ini akan berpotensi memicu terjadinya konflik
dengan dokter umum, terutama dalam pembagian kewenangan.

12
BAB III

PREDIKSI

3.1 Prediksi ‘Trade Off’


Pemerintah, masyarakat, swasta harus menjadi pelaksana kebijakan
yang berperan dalam penentuan status kemajuan dan kegunaan kebijakan
terhadap kesehatan yang ditujukan untuk penyelenggaraan program Dokter
Layanan Primer di fakultas kedokteran, terutama bagi fakultas kedokteran
yang harus menanggung jumlah mahasiswa kedokteran yang sangat banyak
seperti dokter umum, dokter gigi, maupun dokter spesialis dan sub-spesialis.
Dengan dijalankan secara benar sesuai dengan PP, maka akan meningkatkan
kualitas pelayanan dan fasilitas kesehatan yang berdampak pada peningkatan
kesehatan masyarakat.
Pada kebijakan mengenai penyelenggaraan program Dokter Layanan
Primer, prediksi keberhasilan penyelenggaraan yang hanya dilakukan pada
fakultas kedokteran dengan kategori akreditasi tertinggi. Hal ini dapat
memberikan peluang terjadinya persaingan dan kompetisi bagi fakultas
kedokteran negeri maupun swasta. Namun, disisi lain dapat memberikan
upaya ataupun kesempatan kepada dokter yang lainnya untuk memilih antara
dokter spesialis ataupun dokter layanan primer.
3.2 Prediksi Keberhasilan
Prediksi Kebijakan merupakan upaya untuk memperkirakan berhasil
tidaknya kebijakan yang telah dibuat oleh Pemerintah RI dalam bidang
kesehatan pada saat/dimulai sekarang sampai 3-5 tahun kedepan. Prediksi
keberhasilan kebijakan ini dapat dilihat dari gambaran pembangunan
kesehatan yang telah dicapai 1-3 tahun terakhir. Gambaran pembangunan
kesehatan dapat dilihat dari beberapa kategori status kelangsungan hidup,
status kesehatan dan status pelayanan kesehatan.
Dengan adanya kebijakan mengenai upaya penyelenggaraan program
Dokter Layanan Primer akan berdampak pada peningkatan akreditasi fakultas
kedokteran yang ingin menyelenggarakannya. Untuk mengukur keberhasilan

13
dapat dilihat adanya: Peraturan Perundangan, Surat Keputusan, Edaran,
Instruksi, himbauan dan dukungan termasuk sarana dan tenaga; adanya
anggaran dari APBD atau sumber lain; adanya jadwal koordinasi dan
pemantauan kegiatan; kemampuan pengambilan keputusan dalam
menjelaskan setiap kegiatan; serta terbentuknya dan berfungsinya forum
dokter layanan primer.

14
BAB IV

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

4.1 Kesimpulan
Pasal 22 dan 21 Peraturan Pemerintah Nomor 52 tentang Peraturan
Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan
Kedokteran yang mengatur penyelenggara program Dokter Layanan Primer,
dimana dalam penyelenggaraan dokter layanan primer hanya boleh
diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran yang terakreditasi A dan Fakultas
Kedokteran akreditas B tetapi harus bekerja sama dengan FK akreditas A,
sehingga ini akan menambah beban tanggungan bagi FK akreditas tinggi,
dimana saat ini ada 75 fakultas kedokteran yang bekerjasama dengan FK
akreditas A dengan jumlah FK 17 fakultas yang berakreditasi A (22,67
persen), selain itu penggunaan kata dokter layanan primer mengandung arti
setara dengan dokter spesialis, sehingga hal tersebut masih menjadi
pertanyaan karena belum ada undang-undang yang pasti tentang makna setara
spesialis. Prediksi keberhasilan merupakan upaya untuk menentukan berhasil
atau tidaknya kebijakan tersebut diterapkan, dalam menentukan keberhasilan
penerapan kebijakan Dokter Layanan Primer dapat dilihat dengan adanya
Peraturan Perundangan, Surat Keputusan, Edaran, Instruksi, himbauan dan
dukungan termasuk sarana dan tenaga dalam penerapan kebijakan ini. Ada
pihak yang resistensi terhadap kedua pasal tersebut misalnya ada pihak yang
tidak setuju dengan kebijakan ini sehingga mereka berencana untuk
menghapuskan kebijakan tersebut.
4.2 Rekomendasi
Rekomendasi untuk penggunaan arti Dokter Layanan Primer yang
memiliki makna setara dengan dokter spesialis yaitu harus ada undang-
undang yang mengatur jelas maksud dari setara dengan dokter spesialis
sehingga terdapat kesamaan persepsi yang jelas dan tidak ada kesalahan
dalam pengartian Dokter Layanan Prima.

15