Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Penderita gawat darurat adalah penderita yang oleh karena suatu penyebab (penyakit,
trauma, kecelakaan, tindakan anestesi) yang bila tidak segera ditolong akan mengalami
cacat, kehilangan organ tubuh atau meninggal. (Sudjito, 2003).

Berdasarkan Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI), pasal 2, setiap dokter harus
senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standar profesi yang
tertinggi, yaitu sesuai dengan perkembangan IPTEK kedokteran, etika umum, etika
kedokteran, hukum dan agama, sesuai tingkat/jenjang pelayanan kesehatan dan
situasi setempat. (MKEK, 2002).

Berikut ini adalah permasalahan dalam skenario 2:


Korban kecelakaan seorang wanita muda tanpa identitas dibawa penolong ke RS.
Korban dalam keadaan tidak sadar, dimasukkan imstalasi gawat darurat. Dokter
bersama paramedik dengan profesional memberikan pertolongan sesuai standar
profesi. Usaha penyelamatan pasien gagal, setelah dilakukan pertolongan di IGD
selama 10 menit korban meninggal. Korban dibawa ke kamar jenasah untuk dilakukan
otopsi untuk mengetahui sebab kematian.
Autopsi (otopsi) adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat, dengan tujuan
menemukan proses penyakit dan atau adanya cedera, melakukan interpretasi atas
penemuan-penemuan tersebut, menerangkan penyebab kematian serta mencari
hubungan sebab akibat antara kelainan-kelainan yang ditemukan dengan penyebab
kematian. (Mansjoer, 2000).

Dalam laporan ini, penulis mencoba menganalisis penatalaksanaan pasien gawat


darurat dari segala aspek yang terkait. Diharapkan mendatang apabila terdapat
permasalahan yang melibatkan berbagai aspek kehidupan, mahasiswa dapat
menyelesaikan permasalahan berdasarkan pengalaman yang telah diperoleh selama
pembelajaran.

B. RUMUSAN MASALAH
 Bagaimana prosedur penatalaksanaan pasien gawat darurat sesuai standar profesi
kedokteran dan standar prosedur operasional?
 Bagaimana prosedur penatalaksanaan post-mortem pasien tanpa identitas?
C. TUJUAN PENULISAN
 Mengetahui prosedur penatalaksanaan pasien gawat darurat sesuai standar profesi
kedokteran dan standar prosedur operasional.
 Mengetahui prosedur penatalaksanaan post-mortem pasien tanpa identitas.
D. MANFAAT PENULISAN
 Mahasiswa dilatih untuk memecahkan berbagai macam kasus yang memerlukan
pertimbangan dari beberapa aspek terkait sesuai standar profesi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Dokter dalam pelaksanaan praktiknya wajib memberikan pelayanan medis sesuai
dengan standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis
pasien. (UU Pradok, 2004). Berdasarkan KODEKI pasal 13, setiap dokter wajib
melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas perikemanusiaan, kecuali bila ia
yakin ada orang lain yang bersedia dan lebih mampu memberikan. (MKEK, 2002).

Dalam UU No. 29 tahun 2004, pasal 45 ayat 1, setiap tindakan kedokteran atau
kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien harus
mendapat persetujuan. (UU Pradok, 2004). Pasal 11 Peraturan Menteri Kesehatan
tentang Informed Consent menyatakan, dalam hal pasien tidak sadar/pingsan serta
tidak didampingi oleh keluarga terdekat dan secara medik berada dalam keadaan gawat
darurat dan atau darurat yang memerlukan tindakan medik segera untuk
kepentingannya, tidak diperlukan persetujuan dari siapapun. (Per. Menkes, 1989).
Dalam penanganan penderita gawat darurat yang terpenting bagi tenaga kesehatan
adalah mempertahankan jiwa penderita, mengurangi penyulit yang mungkin timbul,
meringankan penderitaan korban, dan melindungi diri dari kemungkinan penularan
penyakit menular dari penderita. (Sudjito, 2003).

Seorang tenaga kesehatan yang melakukan tindakan medik tanpa persetujuan apapun
dapat dianggap melakukan penganiayaan, diatur dalam pasal 351 KUHP. Apabila
mengakibatkan matinya orang, maka yang bersalah dipidana penjara paling lama tujuh
tahun. (KUHP, 2008). Namun, dokter dalam melaksanakan praktik kedokteran juga
memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan
standar profesi dan standar prosedur operasional. (UU Pradok, 2004).

Autopsi forensik/medikolegal dilakukan terhadap mayat seseorang yang diduga


meninggal akibat suatu sebab yang tidak wajar seperti pada kasus kecelakaan,
pembunuhan, maupun bunuh diri. Tujuannya antara lain untuk mengidentifikasi mayat,
menentukan sebab pasti kematian, mekanisme kematian, dan saat kematian.
(Mansjoer, 2000).

Secara yuridis, persetujuan keluarga jenazah tidak diperlukan dalam prosedur autopsi
forensik. Dokter hanya merupakan pelaksana permohonan penyidik (dalam hal ini
Kepolisian) untuk melakukan autopsi, sehingga apabila keluarga keberatan atas
pelaksanaan autopsi, keberatan dapat disampaikan pada penyidik. (Hamdani, 1992).

Menurut Majma Fiqih Islami tahun 1987, tindakan autopsi diperbolehkan, untuk
mengetahui penyebab kematian, kepastian tentang penyebab suatu penyakit, dan
untuk pengajaran kedokteran. (Sarwat, 2008).

BAB III
PEMBAHASAN
Sesuai dengan kaidah dasar bioetik, kewajiban menolong pasien gawat darurat
termasuk dalam konsep beneficence. Dalam penanganan pasien gawat darurat, dokter
harus memperhatikan standar profesi dan standar prosedur operasional. Pelayanan
terhadap pasien gawat darurat harus dilaksanakan sesegera mungkin, mengingat jiwa
pasien mungkin saja gagal diselamatkan apabila penanganan terlambat.
Apabila pasien tidak sadar dan tidak disertai keluarganya, maka dokter berhak untuk
memutuskan tindakan medik yang akan diambil tanpa persetujuan siapapun, dan
didasarkan pada kebutuhan medik pasien.

Apabila setelah dilakukan tindakan medis pasien meninggal, berarti hal ini merupakan
suatu kejadian yang tidak diinginkan (KTD). Perlu analisis lebih lanjut, apakah kejadian
ini akibat dari medical error atau tidak. Mungkin saja KTD terjadi akibat risiko tindakan
medis yang telah dianggap paling aman dan efektif dalam pengobatan pasien. Dalam
hal seperti ini, KTD tidak dapat digolongkan sebagai malpraktik.
Dokter dan tenaga kesehatan lain juga memperoleh perlindungan hukum, sepanjang
tindakan yang diambil sudah didasarkan pada standar profesi dan standar prosedur
operasional yang sesuai. Berbagai macam aspek dapat menjadi dasar pertimbangan
keputusan medis, dari etika, hukum (yuridis─pemerintah dan instansi, maupun
agama), dan disiplin profesi.

Autopsi, baik klinis, forensik, maupun anatomi memerlukan berbagai persyaratan


tertentu. Secara klinis, jenazah tanpa identitas dapat diautopsi jika diduga jenazah
menderita penyakit yang berbahaya bagi masyarakat, dan apabila dalam waktu 2×24
jam tidak ada keluarga yang datang ke rumah sakit. Menurut prosedur autopsi forensik,
dokter dalam mengautopsi harus menerima surat perimtaan autopsi terlebih dahulu
dari penyidik, dalam hal ini Kepolisian.

Menurut agama Islam, autopsi dalam kasus ini diperbolehkan, karena untuk
mengetahui penyebab kematian. Namun menurut hukum, prosedur autopsi diatas
masih memerlukan beberapa syarat tertentu agar sesuai dengan hukum yang berlaku.

BAB IV
KESIMPULAN
Sesuai dengan sesuai standar profesi dan standar prosedur operasional kedokteran,
penatalaksanaan pasien gawat darurat dapat dilaksanakan tanpa persetujuan tindakan
medik (informed consent) dari siapapun. Tenaga kesehatan harus mengusahakan
seoptimal mungkin agar pasien dapat bertahan hidup dan pulih dari keadaan gawat
darurat. Dalam KTD, sepanjang dokter dan paramedis telah berpegang pada konsep
standar profesi dan prosedur operasional, tindakan medis yang dilakukan tidak dapat
disebut malpraktik, dan tenaga kesehatan terlindung dari sanksi hukum oleh peraturan
kesehatan yang berlaku.
Pelaksanaan autopsi untuk kasus diatas selanjutnya dapat dilakukan apabila : 1) ada
surat permintaan dari Kepolisian, 2) dalam waktu 2×24 jam tidak ada keluarga korban
yang datang ke rumah sakit, dan 3) diduga jenazah menderita penyakit yang
berbahaya bagi masyarakat.
BAB V
DAFTAR PUSTAKA
Dorland, W.A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Jakarta : EGC.
Sudjito, M.H. 2003. Dasar-dasar Pengelolaan Penderita Gawat Darurat. Surakarta : UNS
Press.
Hamdani, Njowito. 1992. Ilmu Kedokteran Kehakiman Edisi Kedua. Jakarta : Gramedia
Pustaka Utama.
Majelis Kehormatan Etika Kedokteran. 2002. Kode Etik Kedokteran Indonesia. Jakarta :
Majelis Kehormatan Etika Kedokteran.
Mansjoer, Arif. Suprohaita. Wardhani, Wahyu Ika. Setiowulan, Wiwiek. 2000. Kapita
Selekta Kedokteran Edisi Ketiga. Jakarta : Media Aesculapius.
Menteri Kesehatan RI. 1989. Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
585/MENKES1PER/IX/1989 Tentang Persetujuan Tindakan Medik.
Presiden RI. 2004. UU no. 29 tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran.
Sarwat, Ahmad. 2008. Hukum Mengotopsi
Mayat. http://ustsarwat.eramuslim.com/search.php, akses tanggal 20 Oktober 2008,
19:45.
Wujoso, Hari. 2008. Kaidah Dasar Bioetik.
Wujoso, Hari. 2008. KUHP.
Wujoso, Hari. 2008. Medical Error.

STANDAR PROFESI DOKTER DI BIDANG


KEDOKTERAN FORENSIK
BAB I

PENDAHULUAN

Peranan dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat sering


dihadapkan pada kenyataan bahwa bantuan mereka juga diperlukan oleh kalangan
penegak hukum dalam memeriksa korban maupun memberikan keterangan untuk
kepentingan hukum dan peradilan. Diperlukan bantuan dokter untuk memastikan
sebab, cara, dan waktu kematian pada peristiwa kematian tidak wajar karena
pembunuhan, bunuh diri, kecelakaan atau kematian yang mencurigakan. Pada korban
yang tidak dikenal diperlukan pemeriksaan untuk mengetahui identitasnya. Begitu pula
pada korban penganiayaan, pemerkosaan, pengguguran kandungan dan peracunan
diperlukan pemeriksaan oleh dokter untuk menjelaskan peristiwa yang terjadi secara
medis. Hasil pemeriksaan dan laporan tertulis akan digunakan sebagai petunjuk atau
pedoman dan alat bukti dalam menyidik, menuntut dan mengadili perkara pidana
maupun perdata. Pada tahap penyidikan dipergunakan sebagai alat bukti dan petunjuk
oleh para penyidik dan di sidang pengadilan dipergunakan oleh jaksa, hakim dan
pembela sebagai alat bukti yang sah.1

Praktik kedokteran bukanlah suatu pekerjaan yang dapat dilakukan oleh siapa saja,
melainkan hanya boleh dilakukan oleh kelompok profesional kedokteran tertentu yang
memiliki kompetensi yang memenuhi standar tertentu, diberi kewenangan oleh institusi
yang berwenang di bidang itu dan bekerja sesuai dengan standar dan profesionalisme
yang ditetapkan oleh organisasi profesinya. Secara teoritis-konseptual, antara
masyarakat profesi dengan masyarakat umum terjadi suatu kontrak (mengacu kepada
doktrin social-contract), yang memberi masyarakat profesi hak untuk melakukan self-
regulating (otonomi profesi) dengan kewajiban memberikan jaminan bahwa profesional
yang berpraktek hanyalah profesional yang kompeten dan yang melaksanakan praktek
profesinya sesuai dengan standar. Sikap profesionalisme adalah sikap yang
bertanggungjawab, dalam arti sikap dan perilaku yang akuntabel kepada masyarakat,
baik masyarakat profesi maupun masyarakat luas (termasuk klien). Beberapa ciri
profesionalisme tersebut merupakan ciri profesi itu sendiri, seperti kompetensi dan
kewenangan yang selalu “sesuai dengan tempat dan waktu”, sikap yang etis sesuai
dengan etika profesinya, bekerja sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh
profesinya, dan khusus untuk profesi kesehatan ditambah dengan sikap altruis (rela
berkorban). Uraian dari ciri-ciri tersebutlah yang kiranya harus dapat dihayati dan
diamalkan agar profesionalisme tersebut dapat terwujud.2

Profesi dokter mempunyai tugas lain yang tidak kalah penting dari sekedar memberikan
pelayanan medis klinis kepada masyarakat, yaitu memberikan bantuan terhadap
penegakan hukum dan keadilan (medical for law). Seperti juga hak kehidupan,
kesehatan, kesembuhan maka keadilan dan perlindungan hukum merupakan hak asasi
manusia yang wajib dipenuhi dan dilindungi oleh negara. Salah satu cabang ilmu
kedokteran yang begitu akrab dengan permasalahan penegakan hukum dan keadilan
adalah ilmu kedokteran forensik. Penegakan hukum di Indonesia tidak bisa dilepaskan
dari peran kedokteran forensik. Hal ini tampak dari berbagai macam bantuan yang
dapat diberikan oleh kedokteran forensik dalam mengungkap suatu tindak pelanggaran
hukum. Kata ”Forensik” berasal dari ”Forum” yang berarti pasar. Pada zaman Romawi
kuno pasar digunakan sebagai tempat pengadilan. Dari istilah ini kemudian
berkembang pengertian bahwa ilmu kedokteran forensik merupakan cabang ilmu
kedokteran yang mempergunakan ilmu pengetahuan dan teknologinya untuk
membantu penegakan hukum dan keadilan.3
Di negara yang berlandaskan hukum, maka sudah selayaknya jika hukum di jadikan
supremasi, dimana setiap orang di harapkan tunduk dan patuh terhadap hukum
tersebut. Hal ini terjadi bila tersedia perangkat hukum yang mengatur seluruh sektor
kehidupan, diantaranya adalah sektor kesejahteraan rakyat. Salah satu dari bagian
sektor kesejahteraan yaitu kesehatan, maka di sini di perlukan perangkat hukum
kesehatan guna mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Dalam upaya mewujudkan
masyarakat sejahtera khususnya melalui hukum kesehatan, dokter merupakan salah
satu faktor penting yang harus di soroti bersama. Karena dalam praktik kedokteran
kesalahan dokter dalam menjalankan tugas dapat mengakibatkan sesuatu yang fatal.4

Peranan dari kedokteran forensik dalam penyelesaian perkara pidana di Pengadilan


adalah membantu hakim dalam menemukan dan membuktikan unsur-unsur yang di
dakwakan dalam pasal yang diajukan oleh penuntut. Serta memberikan gambaran bagi
hakim mengenai hubungan kausalitas antara korban dan pelaku kejahatan dengan
mengetahui laporan dalam visum et repertum. Disamping itu, diperoleh hasil bahwa
dalam setiap praktek persidangan yang memerlukan keterangan dari kedokteran
forensik, tidak pernah menghadirkan ahli dalam bidang ini untuk diajukan di sidang
pengadilan sebagai alat bukti saksi. Implikasi teoritis persoalan ini adalah bahwa hakim
dalam menjatuhkan putusan suatu perkara yang memerlukan keterangan dokter
forensik, hanya memerlukan keterangan yang berupa visum et repertum tanpa perlu
menghadirkan dokter yang bersangkutan di sidang pengadilan. Sedangkan implikasi
praktisnya bahwa hal ini dapat dijadikan pertimbangan bagi hakim dalam menangani
perkara yang memerlukan peran dari kedokteran forensik.5

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Definisi
Ada beberapa pengertiaan yang dikemukakan oleh ahli kedokteran forensik,
diantaranya Sidney Smith mendefinisikan ”Forensic medicine may be defined as the
body of medical and paramedical scientific knowledge which may services in the
adminitration of the law”, yang maksudnya ilmu kedokteran forensik merupakan
kumpulan ilmu pengetahuan medis yang menunjang pelaksanaan penegakan hukum.
Prof.Dr.Amri Amir,Sp.F (2007) mendefinisikan Ilmu Kedokteran Forensik sebagai
penggunaan pengetahuan dan keterampilan di bidang kedokteran untuk kepentingan
hukum dan peradilan.1
Prof.Dr.Budi Sampurna,Sp.F (2009) mendefinisikan Ilmu Kedokteran Forensik adalah
salah satu cabang spesialistik ilmu kedokteran yang memanfaatkan ilmu kedokteran
untuk membantu penegakan hukum, keadilan dan memecahkan masalah-masalah di
bidang hukum.6

Dokter adalah dokter lulusan pendidikan kedokteran baik di dalam maupun di luar
negeri yang diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan peraturan
perundang-undangan. Institusi Pendidikan (Profesi Dokter) adalah institusi yang
melaksanakan pendidikan profesi dokter baik dalam bentuk fakultas, jurusan atau
program studi yang merupakan pendidikan universitas (academic entity).

Profesi Kedokteran adalah suatu pekerjaan kedokteran yang dilaksanakan berdasarkan


suatu keilmuan dan kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan yang berjenjang,
serta kode etik yang bersifat melayani masyarakat sesuai UU No. 29 Tahun 2004
tentang Praktik Kedokteran.7

Standar Profesi Dokter adalah standar keilmuan dan keterampilan minimal yang harus
dikuasai dokter dalam menjalankan praktek kedokteran.7

Standar Kompetensi adalah kualifikasi yang mencakup sikap, pengetahuan, dan


keterampilan (PP 19/2005).7

Berdasarkan definisi-definisi diatas standar profesi dokter di bidang kedokteran


forensik dapat kita definisikan sebagai standar keilmuan dan keterampilan minimal
yang harus dikuasai seorang dokter dalam mengunakan ilmu pengetahuan dan
teknologi kedokteran untuk membantu penegakan hukum, keadilan, dan memecahkan
masalah-masalah hukum.

2.2 Lingkup Pelayanan


Pelayanan di bidang Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal dalam beberapa kasus
masih diperlukan disiplin ilmu lain. Di bidang kesehatan bantuan tersebut dapat
mencakup Patologi Forensik, Psikiatri Forensik, Toksikologi Forensik, Antopologi
Forensik, Odontologi Forensik dan Radiologi Forensik yaitu. Jurusan Biologi yang dekat
dengan ilmu kedokteran yaiu Entomologi Forensik yang dalam dua decade ini
menunjukkan peranan yang meningkat. Patologi forensik adalah pengetahuan tentang
pemeriksaan kelainan pada jaringan tubuh oleh karena kekerasan atau mati tiba-tiba
untuk kepentingan pengadilan. Psikiatri Forensik tentang pembuktian adanya kelainan
jiwa pada tersangka. Toksikologi Forensik adalah peristiwa keracunan yang
berhubungan dengan peristiwa pidana. Radiologi Forensik yang sudah lama berperan
adalah cabang ilmu kedokteran yang sudah banyak membantu dalam pemeriksaan
korban dan jaringan tubuh menggunakan pengetahuan dan teknologi radiologi.
Odontologi forensik penggunaan pengetahuan ilmu kedokteran gigi untuk kepentingan
hukum dan peradilan terutama dalam identifikasi. Entomologi Forensik adalah
pengetahuan tentang serangga yang berguna untuk masalah forensik. 1

Peranan ahli (expert) termasuk dokter dalam bidang Kedokteran Forensik adalah dalam
rangka membuka tabir suatu peristiwa yang dapat menjawab 7 pertanyaan :

1. Apa yang terjadi (what)


2. Siapa yang terlibat (who)
3. Di mana terjadi (where)
4. Kapan terjadi (when)
5. Bagaimana terjadinya (how)
6. Dengan apa melakukannya (with what)
7. Kenapa terjadi peristiwa tersebut (why)

Makin banyak tabir yang dibuka oleh ahli, makin terang peristiwa yang terjadi,
sehingga akan memudahkan para penyidik dan yudex facti memutuskan perkara secara
adil dan diterima mereka yang berperkara.1

Kedokteran forensik sebenarnya suatu ilmu yang dimiliki oleh setiap dokter karena
tanpa terkecuali semua dokter pernah mendapatkan pengetahuan ilmu kedokteran
forensik diwaktu perkuliahan. Jadi sebenarnya tidak ada alasan bagi dokter untuk tidak
memberikan bantuan dalam penegakan hukum dan keadilan. Satu lagi yang harus
diingat bahwa dokter juga dapat menerima sanksi bila tidak memberikan bantuan
tersebut seperti tercantum dalam pasal 224 Kitab Undang-undang Hukum Pidana
(KUHP): Barang siapa yang dipanggil menurut undang-undang menjadi saksi ahli atau
juru bahasa dengan sengaja atau tidak menjalankan suatu kewajiban menurut undang-
undang yang harus dijalankannya dalam kedudukan tersebut di atas, dalam perkara
pidana dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 bulan dan untuk perkara
lain dihukum dengan hukuman selama-lamanya 6 bulan.3

Menurut Prof.Dr.Budi Permana,Sp.F pelayanan di bidang forensik mencakup


kriminalistik yaitu pusat laboratorium Polri dan laboratorium lain, kedokteran forensik
cs yaitu termasuk pelayanan di rumah sakit, fakultas kedokteran negeri, Ladokpol,
Polri, Patologi forensik, Forensik klinik yang mencakup penganiayaan fisik, kekerasan
seksual, peracunanan, fitness to: be derained, be interviewed, stand trial, competence.
Prinsip kerja kedokteran forensik berdasarkan sumpah dokter, etika, dan standar
kebebasan profesi yang mempertimbangkan aspek obyektifitas ilmiah, impartial,
komprehensif, menyeluruh dan sesuai prosedural.6

Tugas pokok seorang dokter dalam bidang forensik adalah membantu pembuktian
melalui pembuktian ilmiah termasuk dokumentasi informasi/prosedur, dokumentasi
fakta, dokumentasi temuan, analisis dan kesimpulan, presentasi (sertifikasi).

Dinilai menurut waktu penyelidikan hingga persidangan dokter mempunyai peran


sebagai berikut:

 Masa Penyelidikan

Pemeriksaan di TKP dan analisis data yang ditemukan

 Masa Penyidikan

Pembuatan visum et repertum dan BAP saksi ahli

 Masa Persidangan

Dokter berperan dalam memberikan keterangan ahli, sebagai saksi ahli pemeriksa ,
menjelaskan visum et repertum, menjelaskan kaitan temuan VeR dengan temuan
ilmiah alat bukti sah lainnya. Dokter juga berperan menjelaskan segala sesuatu yang
belum jelas dari sisi ilmiah.

2.3 Peran Profesional Kedokteran Forensik

Peran profesi kedokteran forensik berkaitan dengan kepentingan peradilan dengan


melibatkan pengetahuan patologi forensik dan patologi klinik. Profesi kedokteran
forensik bisa juga mencakup ruang lingkup bukan peradilan yaitu berperan dalam
identifikasi, keterangan medis, uji keayahan, dan pemeriksaan barang bukti lainnya.6

Pendekatan kedokteran forensik selain menjadi ahli klinik medikalisasi dan terapi, ilmu
forensik juga berperan dalam hal non-terapi , yaitu pembuktian. Ilmu forensik sangat
komprehensif mencakup psikososial, yuridis. Akan tetapi forensik juga tidak bisa
dikatakan hukum karena forensik tidak menentukan suata peristiwa disebut
pembunuhan, perkosaan atau mengatakan siapa pelaku. Forensik hanya memberi
petunjuk cara kematian atau pidana atau petunjuk siapa pelaku.6
Ilmu kedokteran forensik mengutamakan prinsip dasar etika kedokteran meliputi:
prinsip tidak merugikan (non maleficence), prinsip berbuat baik (beneficence), prinsip
menghormati otonomi pasien(autonomy), dan prinsip keadilan (justice). Prinsip tidak
merugikan (non maleficence), merupakan prinsip dasar menurut tradisi Hipocrates,
primum non nocere. Jika kita tidak bisa berbuat baik kepadaseseorang, paling tidak kita
tidak merugikan orang itu. Dalam bidang medis, seringkali kita menghadapi situasi
dimana tindakan medis yang dilakukan, baik untuk diagnosis atau terapi, menimbulkan
efek yang tidak menyenangkan.7

Prinsip berbuat baik (beneficence), merupakan segi positif dari prinsip non maleficence.
Prinsip menghormati otonomi pasien (autonomy), merupakan suatu kebebasan
bertindak dimana seseorang mengambil keputusan sesuai dengan rencana yang
ditentukannya sendiri. Di sini terdapat 2 unsur yaitu : kemampuan untuk mengambil
keputusan tentang suatu rencana tertentu dan kemampuan mewujudkan rencananya
menjadi kenyataan. Dalam hubungan dokter-pasien ada otonomi klinik atau kebebasan
professional dari dokter dan kebebasan terapetik yang merupakan hak pasien untuk
menentukan yang terbaik bagi dirinya, setelah mendapatkan informasi selengkap-
lengkapnya. Prinsip keadilan (justice), berupa perlakuan yang sama untuk orang-orang
dalam situasi yang sama, artinya menekankan persamaan dan kebutuhan, bukannya
kekayaan dan kedudukan sosial.7

2.4 Prosedur Medikolegal

Prosedur medikolegal adalah tata cara atau prosedur penatalaksanaan dan berbagai
aspek yang berkaitan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum. Secara garis
besar prosedur medikolegal mengacu kepada peraturan perundang-undangan yang
berlaku di Indonesia, dan pada beberapa bidang juga mengacu kepada sumpah dokter
dan etika kedokteran.2

Ruang lingkup prosedur medikolegal adalah pengadaan visum et repertum, pemberian


keterangan ahli pada masa sebelum persidangan dan pemberian keterangan ahli di
dalam persidangan, kaitan visum et repertum dengan rahasia kedokteran, penerbitan
surat kematian dan surat keterangan medik, pemeriksaan kedokteran terhadap
tersangka (psikiatri forensik), dan kompetensi pasien untuk menghadapi pemeriksaan
penyidik.2

Dasar Pengadaan Visum et Repertum1,2,6

Pasal 133 KUHAP


1. 1. Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban
baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang
merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan
ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
2. 2. Permintaan keterangan ahli sebagai mana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk
pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
3. 3. Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada
rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan
terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak
dengan diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain
badan mayat.

Menurut pasal 133 KUHAP permintaan visum et repertum merupakan wewenang


penyidik, resmi dan harus tertulis, visum et repertum dilakukan terhadap korban bukan
tersangka dan ada indikasi dugaan akibat peristiwa pidana. Bila pemeriksaan terhadap
mayat maka permintaan visum disertai identitas label pada bagian badan mayat, harus
jelas pemeriksaan yang diminta, dan visum tersebut ditujukan kepada ahli kedokteran
forensik atau kepada dokter di rumah sakit.

Sanksi Hukum bila Menolak1,2

Pasal 216 KUHP

Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan
menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh
pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yag diberi kuasa untuk mengusut atau
memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah,
menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan,
diancam dengan pidana penjara selama empat bulan dua minggu atau denda paling
banyak Sembilan Ribu Rupiah.

Pemeriksaan Mayat untuk Peradilan1,2

Pasal 222 KUHP

Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan


pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara palling lama
Sembilan bulan atau pidana denda paling banyak Empat Ribu Lima Ratus Rupiah.
Permintaan Sebagai Saksi Ahli1,2

Pasal 179 (1) KUHAP

Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter
atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.

Pasal 224 KUHP

Barangsiapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa menurut undang-undang
dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban berdasarkan undang-undang yang harus
dipenuhinya, diancam dalam perkara pidana dengan penjara paling lama Sembilan
Bulan.

Pembuatan Visum et Repertum bagi tersangka ( VeR Psikiatris)2

Pasal 120 KUHAP

(1) Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat minta pendapat orang ahli atau
orang yang memiliki keahlian khusus.

Pasal 180 KUHAP

(1) Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di
sidang pengadilan, hakim ketua sidang dapat minta keterangan saksi ahli dan dapat
pula minta agar diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan.

Pasal 53 UU Kesehatan

(3) Tenaga kesehatan untuk kepentingan pembuktian dapat melakukan tindakan medis
terhadap seseorang dengan memperhatikan kesehatan dan keselamatan yang
bersangkutan.

Keterangan Ahli1,2

Pasal 1 Butir 28 KUHAP

 Keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan seorang yang memiliki


keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu
perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan. (pengertian keterangan ahli
saecara umum)
Agar dapat diajukan ke sidang pengadilan sebagai upaya pembuktian, keterangan ahli
harus “dikemas” dalam betuk alat bukti sah.

Alat Bukti Sah1

Pasal 183 KUHAP

 Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan
sekurang-kurangnya dua alat bukti sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu
tindakan pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah
melakukannya.

Pasal 184 KUHAP

 Alat bukti yang sah adalah:

(a) keterangan saksi, (b) keterangan ahli, (c) Surat, (d) petunjuk,

(e) keterangan terdakwa

Keterangan ahli diberikan secara lisan2

Pasal 186

 keterangan ahli adalah apa yang ahli nyatakan di sidang pengadilan.

Penjelasan Pasal 186

Keterangan ahli dapat juga sudah diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik
atau penuntut umum yang dituangkan dalam suatu bentuk laporan dan dibuat dengan
mengingat sumpah di waktu menerima jabatan atau pekerjaan (BAP saksi ahli).

Keterangan ahli diberikan secara tertulis2

Pasal 187 KUHAP

 Surat sebagaimana tersebut pada pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas
sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, adalah: (c) surat keterangan
dari seorang ahli yang memuat pendapat bedasarkan keahliannya mengenai
sesuatu hal atau suatu keadaan yang diminta secara resmi daripadanya.
2.5 Pengertian Standar Kompetensi Dokter 8

Menurut SK Mendiknas No. 045/U/2002 kompetensi adalah ‘seperangkat tindakan


cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk
dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang
pekerjaan tertentu’.

Elemen-elemen kompetensi terdiri dari :

a. Landasan kepribadian

b. Penguasaan ilmu dan keterampilan

c. Kemampuan berkarya

d. Sikap dan perilaku dalam berkarya menurut tingkat keahlian berdasarkan ilmu
dan keterampilan yang dikuasai

e. Pemahaman kaidah berkehidupan masyarakat sesuai dengan keahlian dalam


berkarya.

Epstein and Hundert (2002) memberikan definisi sebagai berikut :“Professional


competence is the habitual and judicious use of communication, knowledge, technical
skills, clinical reasoning, emotions, values, and reflection in daily practice to improve
the health of the individual patient and community”.

Carraccio, et.al. (2002) menyimpulkan bahwa : “Competency is a complex set of


behaviorsbehaviours built on the components of knowledge, skills, attitude and
competence as personal ability”.

Dari beberapa pengertian di atas, tampak bahwa pengertian kompetensi dokter lebih
luas dari tujuan instruksional yang dibagi menjadi tiga ranah pendidikan, yaitu
pengetahuan, psikomotor dan afektif.

Dengan dikuasainya standar kompetensi oleh seorang profesi dokter, maka

yang bersangkutan akan mampu :

 mengerjakan tugas atau pekerjaan profesinya


 mengorganisasikan tugasnya agar pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan
 Segera tanggap dan tahu apa yang harus dilakukan bilamana terjadi sesuatu
yang berbeda dengan rencana semula
 Menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk memecahkan masalah di bidang
profesinya
 Melaksanakan tugas dengan kondisi berbeda

Dengan telah ditetapkannya keluaran dari program dokter di Indonesia berupa standar
kompetensi, maka kurikulum program studi pendidikan dokter perlu disesuaikan. Model
kurikulum yang sesuai adalah kurikulum berbasis kompetensi. Artinya pengembangan
kurikulum berangkat dari kompetensi yang harus dicapai mahasiswa.

2.6 Penjabaran Kompetensi Dokter di bidang Kedokteran Forensik

1. 1. Area Komunikasi efektif 8

Kompetensi Inti

Seorang dokter dituntut mampu menggali dan bertukar informasi secara verbal dan non
verbal dengan pasien (korban hidup) pada semua usia, anggota keluarga (pada korban
meninggal), masyarakat, kolega dan profesi lain.

Komunikasi antara dokter dan korban/pasien atau dengan keluarganya harus dilakukan
seefektif mungkin oleh dokter agar pasien atau keluarga pasien bersedia dilakukan
pemeriksaan walaupun secara hukum untuk pemeriksaan forensik dokter tidak perlu
izin keluarga melainkan kewajiban penyidik untuk memberitahu korban atau keluarga
korban (meninggal). Hal ini sesuai pasal 134 KUHAP. 1

Pasal 134 KUHAP

1. 1. Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah


mayat tidak mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih
dahulu kepada keluarga korban.
2. 2. Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menjelaskan dengan sejelas-
jelasnya tentang maksud dan tujuan dilakukan pembedahan tersebut.
3. 3. Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau
pihak yang perlu diberi tahu tidak ditemukan, penyidik segera melaksanakan
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) undang-undang.

Ditinjau dari area komunikasi efektif di bidang kedokteran forensik,seorang lulusan


dokter harus mampu:
1. Berkomunikasi efektif dengan Korban atau dengan keluarga korban

 Berkomunikasi dengan korban serta anggota keluarganya, dengan cara memberi


penjelasan apa tujuan dilakukan pemeriksaan, cara dan prosedur pemeriksaan,
kemungkinan timbulnya rasa tidak nyaman saat dokter melakukan pemeriksaan,
dan informasi lainnya sesuai etika klinis.
 Bersambung rasa dengan korban dan keluarganya, seorang dokter saat
melakukan pemeriksaan forensik harus menunjukkan rasa simpati dengan
kejadian yang meninpa korban, menunjukkan rasa empati dan dapat dipercaya.
 Memberikan situasi yang nyaman bagi korban dengan menjaga privasi pasien,
 Aktif dan mendengarkan dengan penuh perhatian dan memberi waktu yang
cukup pada pasien untuk menyampaikan keluhannya dan menggali
permasalahan pasien serta kronologis kejadiaan.

2. Berkomunikasi dengan sejawat

 Memberi informasi yang tepat kepada sejawat tentang kondisi pasien baik secara
lisan, tertulis, atau elektronik pada saat yang diperlukan demi kepentingan
pasien maupun ilmu kedokteran.
 Menulis surat rujukan dan laporan penanganan pasien dengan benar, demi
kepentingan pasien maupun ilmu kedokteran. Seorang dokter umum harus
merujuk korban apabila apa yang dimintakan penyidik bukan kompetensi dokter
umum. Misalnya, identifikasi tulang, identifikasi gigi (odontologi), pemeriksaan
DNA, dan lain-lain.
 Melakukan presentasi laporan kasus secara efektif dan jelas, demi kepentingan
pasien maupun ilmu kedokteran.

3. Berkomunikasi dengan masyarakat

 Menggunakan bahasa yang dipahami oleh masyarakat, menggali masalah


kronologis kejadian menurut persepsi masyarakat.
 Menggunakan teknik komunikasi langsung yang efektif agar masyarakat
memahami bahwa pemeriksaan forensik demi penegakan keadilan sebagai hak
asasi manusia.
 Melibatkan tokoh masyarakat dalam mempromosikan kesehatan secara
professional.

4. Berkomunikasi dengan profesi lain


 Mendengarkan dengan penuh perhatian, dan memberi waktu cukup kepada
profesi lain untuk menyampaikan pendapatnya. Memberi informasi yang tepat
waktu dan sesuai kondisi yang sebenarnya ke perusahaan jasa asuransi
kesehatan untuk pemprosesan klaim demi kepentingan hukum.
 Memberikan informasi yang relevan kepada penegak hukum atau sebagai saksi
ahli di pengadilan (jika diperlukan), termasuk pembuatan visum et repertum
atas permintaan penyidik, pemeriksaan korban mati mendadak, tanda-tanda
kematiaan dan lain sebagainya.
 Melakukan negosiasi dengan pihak terkait dalam rangka pemecahan masalah
yang harus dipecahkan secara hukum.

2. Area Keterampilan Klinis

2.1. Kompetensi Inti

Seorang dokter umum harus mampu melakukan prosedur pemeriksaan forensik klinis
sesuai masalah, kebutuhan korban dan sesuai kewenangannya,.Kaitannya dengan
kedokteran forensik adalah seorang dokter umum harus mampu:

 Memeriksa dan membuat Visum et Repertum korban luka karena kecelakaan lalu
lintas.
 Memeriksa dan membuat Visum et Repertum luka karena penganiayaan.
 Memeriksa dan membuat Visum et Repertum Kekerasan dalam rumah tangga
(KDRT).
 Melakukan pemeriksaan luar korban meninggal. Pemeriksaan luar meliputi
pemeriksaan label, benda di samping mayat, pakaian, ciri identitas fisik, ciri
tanatologis, perlukaan dan patah tulang.
 Dokter berperan dalam memberikan keterangan ahli, sebagai saksi ahli
pemeriksa , menjelaskan visum et repertum, menjelaskan kaitan temuan VeR
dengan temuan ilmiah alat bukti sah lainnya. Dokter juga berperan menjelaskan
segala sesuatu yang belum jelas dari sisi ilmiah. (Pasal 224 KUHP)

Hukum dengan tegas memberikan wewenang “utama” pemeriksaan forensik kepada


dokter forensik. Namum, karena ketidaktersediaan dokter forensik hukum memberi
peluang kepada dokter (umum dan spesialis apasaja) sebagai pemeriksa, hal ini
merujuk pada pasal 133 KUHAP.
Kurikulum pendidikan profesi dokter mengharuskan seorang dokter umum pada waktu
pendidikan harus mempelajari patologi forensik dan forensik klinik, maka dokter umum
berwenang melakukan pemeriksaan forensik.3,7

2.2 Keterampilan Dokter di Bidang Forensik

Menurut Standar Kompetensi Dokter keterampilan adalah kegiatan mental dan atau
fisik yang terorganisasi serta memiliki bagian-bagian kegiatan yang saling bergantung
dari awal hingga akhir. Dalam melaksanakan praktik dokter di bidang forensik, lulusan
dokter perlu menguasai keterampilan klinis yang akan digunakan dalam mendiagnosis,
menjawab permintaan Visum et Repertum, maupun menjelaskan suatu perkara hukum
menurut keahliannya di bidang kedokteran. Keterampilan ini perlu dilatihkan sejak awal
pendidikan dokter secara berkesinambungan hingga akhir pendidikan dokter.

Berikut ini pembagian tingkat kemampuan menurut Piramid Miller8 :

 Tingkat kemampuan 1

Mengetahui dan Menjelaskan

Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ini, sehingga


dapat menjelaskan kepada teman sejawat, pasien maupun klien tentang konsep, teori,
prinsip maupun indikasi, serta cara melakukan, komplikasi yang timbul, dan
sebagainya. Contoh keterampilan ini adalah Pemeriksaan DNA untuk identifikasi.

 Tingkat kemampuan 2

Pernah Melihat atau pernah didemonstrasikan

Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ini (baik konsep,
teori, prinsip maupun indikasi, cara melakukan, komplikasi, dan sebagainya). Selain itu,
selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan keterampilan ini.
Contohnya autopsi, exhumasi, identifikasi tulang dan gigi.

 Tingkat kemampuan 3

Pernah melakukan atau pernah menerapkan di bawah supervisi

Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ini (baik konsep,
teori, prinsip maupun indikasi, cara melakukan, komplikasi, dan sebagainya). Selama
pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan keterampilan ini, dan pernah
menerapkan keterampilan ini beberapa kali di bawah supervisi. Contohnya:
Pemeriksaan luar Jenazah, termasuk label mayat, sebab-sebab kematian,
tanatologi,menentukan lama kematian dan lain sebgainya.

 Tingkat kemampuan 4

Mampu melakukan secara mandiri

Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ini (baik konsep,
teori, prinsip maupun indikasi, cara melakukan, komplikasi, dan sebagainya). Selama
pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan ketrampilan ini, dan pernah
menerapkan keterampilan ini beberapa kali di bawah supervisi serta memiliki
pengalaman untuk menggunakan dan menerapkan keterampilan ini dalam konteks
praktik dokter secara mandiri. Contohnya dokter harus mampu memeriksa korban
hidup dan membuat Visum et Repertum korban kecelakaan lalu lintas penganiyaan,
kekerasan dalam rumah tangga, dan lain sebagainya.

3. Area Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran

3.1 Kompetensi Inti

Dokter umum harus mampu mengidentifikasi, menjelaskan dan merancang


penyelesaian masalah kesehatan dan hukum secara ilmiah menurut ilmu kedokteran
kesehatan mutakhir untuk mendapat hasil yang optimum dan dalam upaya maksimal
menghadirkan keadilan seobyektif mungkin.

3.2 Kemampuan lulusan dokter

Ditinjau dari segi landasan ilmiah seorang dokter dituntut mampu:

1. Menerapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip ilmu biomedik, klinik, perilaku,


dan ilmu kesehatan masyarakat sesuai dengan pelayanan kesehatan tingkat
primer ·prinsip-prinsip ilmu kedokteran dasar yang berhubungan dengan
terjadinya masalah hukum sesuai pandangan ilmu kesehatan, beserta
patogenesis dan patofisiologinya.
2. Menjelaskan kaitan masalah hukum dan temuan pemeriksaan forensik baik
secara molecular maupun selular melalui pemahaman mekanisme normal dalam
tubuh.
3. Menjelaskan faktor-faktor non biologis yang berpengaruh terhadap masalah
hukum dan kesehatan.
4. Menjelaskan berbagai pilihan yang mungkin dilakukan dalam jenis pemeriksaan
forensik.
5. Menjelaskan secara rasional dan ilmiah dalam menentukan kaitan temuan
pemeriksaan forensik dengan kasus yang diusut penyidik baik peran dokter
sebagai ahli, atau melakukan pemeriksaan dan memberi keterangan tertulis.

4. Area Pengelolaan Masalah Kedokteran dan Hukum

Kompetensi Inti

Dokter harus mampu mengelola masalah-masalah yang sering ditemukan dalam ilmu
kedokteran forensik secara komprehensif, holistik, berkesinambungan, koordinatif, dan
kolaboratif dalam konteks memberikan pelayanan bantuan hukum terbaik kepada
masyarakat.

Dilihat dari segi pengelolaan masalah kedokteran dan hukum maka lulusan dokter
diharapkan mampu:

1. Menginterpretasi data klinis dan temuan hasil pemeriksaan forensik untuk


merumuskannya menjadi bukti sah penegakan hukum.
2. Menjelaskan penyebab, patogenesis, patofisiologi, dan perubahan-perubahan
klinis yang didapatkan dari korban suatu pelanggaran hukum.
3. Mengidentifikasi berbagai pilihan pengelolaan korban sesuai kondisi korban atau
penanganan lanjutan terhadap korban.
4. Melakukan konsultasi mengenai korban bila diperlukan, contohnya pada
pemeriksaan korban pemerkosaan bisa meminta konsultasi dokter ahli
kandungan.
5. Merujuk ke sejawat lain sesuai dengan Standar Pelayanan Medis yang berlaku,
tanpa atau sesudah pemeriksaan.
6. Mengidentifikasi keluarga, lingkungan sosial sebagai faktor yang berpengaruh
terhadap terjadinya penyakit serta sebagai faktor yang mungkin berpengaruh
terhadap perubahan kondisi korban.
7. Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran
hukum dan memotivasi masyarakat agar tidak keberatan dilakukan pemeriksaan
forensik pada diri maupun keluarganya demi penegakan hukum dan keadilan.
8. Mengenali keterkaitan yang kompleks antara faktor psikologis, kultur, sosial,
ekonomi, kebijakan, dan faktor lingkungan yang berpengaruh pada suatu
masalah kesehatan yang melibatkan korban dalam masalah hukum.
9. Mengelola sumber daya manusia dan sarana – prasarana secara efektif dan
efisien dalam pelayanan kesehatan primer dengan pendekatan kedokteran
forensik.

10. Menjalankan fungsi managerial (berperan sebagai pemimpin, pemberi informasi,


dan pengambil keputusan) dalam upaya memberikan pelayanan terbaik dalam masalah
hukum.

5. Area Pengelolaan Informasi

Kompetensi Inti

Dokter harus mampu mengakses, mengelola, menilai secara kritis kesahihan dan
kemamputerapan informasi untuk menjelaskan dan menyelesaikan masalah, atau
mengambil keputusan dalam kaitan dengan pelayanan kesehatan di bidang kedokteran
forensik di tingkat primer.

Berdasarkan tinjauan pengelolaan informasi maka lulusan dokter harus mampu:

1. Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu penegakan


diagnosis, sebab perubahan kondisi tubuh korban, sebab-seban kematian,
tindakan pencegahan dan promosi hukum kesehatan, serta penjagaan, dan
pemantauan status korban.
2. Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (internet) dengan baik.
3. Menggunakan data dan bukti pengkajian ilmiah untuk menilai relevansi dan
validitas data-data forensik dengan masalah hukum.
4. Menerapkan metode riset dan statistik untuk menilai kesahihan informasi ilmiah.
5. Menerapkan keterampilan dasar pengelolaan informasi untuk menghimpun data
relevan menjadi arsip pribadi.
6. Menerapkan keterampilan dasar dalam menilai data untuk melakukan validasi
informasi ilmiah secara sistematik.
7. Meningkatkan kemampuan secara terus menerus dalam merangkum dan
menyimpan arsip .
8. Memahami manfaat dan keterbatasan teknologi informasi.
9. Menerapkan prinsip teori teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu
penggunaannya, dengan memperhatikan secara khusus potensi untuk
berkembang dan keterbatasannya.

10. Memanfaatkan informasi kesehatan dan menemukan database dalam praktik


kedokteran secara efisien.

11. Menjawab pertanyaan yang terkait dengan praktik kedokteran dan peranannya
dalam penegakan hukum dengan menganalisis arsipnya dan rekam medis untuk
meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di bidang kedokteran forensik.

6. Area Mawas Diri dan Pengembangan Diri

Kompetensi Inti

Dokter harus melakukan praktik kedokteran dengan penuh kesadaran atas kemampuan
dan keterbatasannya, mengatasi masalah emosional, personal, kesehatan, dan
kesejahteraan yang dapat mempengaruhi kemampuan profesinya. Dokter harus belajar
sepanjang hayat dan mampu merencanakan, menerapkan dan memantau
perkembangan profesi secara berkesinambungan.

Berdasarkan kompetensi area mawas diri dan pengembangan diri, maka lulusan dokter
harus mampu:

1. Menerapkan prinsip mawas diri, menilai kemampuan dan keterbatasan diri


berkaitan dengan praktik kedokterannya dan berkonsultasi bila diperlukan.
2. Mengenali dan mengatasi masalah emosional, personal dan masalah yang
berkaitan dengan kesehatannya yang dapat mempengaruhi kemampuan
profesinya
3. Menyesuaikan diri dengan tekanan yang dialami selama pendidikan dan praktik
kedokteran.
4. Menyadari peran hubungan interpersonal dalam lingkungan profesi dan pribadi.
5. Mendengarkan secara akurat dan bereaksi sewajarnya atas kritik yang
membangun dari pasien/korban, keluarga korban, sejawat, instruktur, dan
masyarakat.
6. Mengenali nilai dan keyakinan diri yang sesuai dengan praktik kedokteran.
7. Mempraktikkan belajar sepanjang hayat.
8. Mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan yang baru.
9. Berperan aktif dalam Program Pendidikan dan Pelatihan Kedokteran
Berkelanjutan (PPPKB) dan pengalaman belajar lainnya.
10. Menunjukkan sikap kritis terhadap praktik kedokteran berbasis bukti (Evidence-
Based Medicine).

11. Mengambil keputusan apakah akan memanfaatkan informasi atau evidence untuk
penanganan korban dan justifikasi alasan keputusan yang diambil secara literatur
kedokteran.

12. Menyadari kinerja professionalitas diri dan mengidentifikasi kebutuhan belajarnya.

13. Mengidentifikasi kesenjangan dari ilmu pengetahuan yang sudah ada dan
mengembangkannya menjadi pertanyaan penelitian yang tepat,

14. Merancang, mengimplementasikan penelitian untuk menemukan jawaban dari


pertanyaan penelitian.

15. Menuliskan hasil penelitian sesuai dengan kaidah artikel ilmiah.

16. Membuat presentasi ilmiah dari hasil penelitiannya.

7. Area Etika, Moral, Medikolegal dan Profesionalisme serta Keselamatan


Pasien

Kompetensi Inti

Di dalam praktik kedokteran seorang dokter mempunyai kewajiban antara lain:

 Berperilaku professional dan mendukung kebijakan kesehatan.


 Bermoral dan beretika serta memahami isu-isu etik maupun aspek medikolegal
dalam praktik kedokteran.
 Menerapkan program keselamatan pasien/korban.

Ditinjau dari segi etika, moral, medikolegal, dan Professionalisme serta keselamatan
pasien/korban seorang lulusan Dokter diharapkan mampu:

1. Memiliki Sikap profesional

 Menunjukkan sikap yang sesuai dengan Kode Etik Dokter Indonesia.


 Menjaga kerahasiaan dan kepercayaan pasien.
 Menunjukkan kepercayaan dan saling menghormati dalam hubungan dokter
pasien.
 Menunjukkan rasa empati dengan pendekatan yang menyeluruh.
 Mempertimbangkan masalah pembiayaan dan hambatan lain dalam memberikan
pelayanan kesehatan serta dampaknya.
 Mempertimbangkan aspek etis dalam penanganan pasien sesuai standar profesi.
 Mengenal alternatif dalam menghadapi pilihan etik yang sulit.
 Menganalisis secara sistematik dan mempertahankan pilihan etik dalam
pemeriksaan/pengobatan setiap individu pasien/korban.

1. Berperilaku profesional dalam bekerja sama

 Menghormati setiap orang tanpa membedakan status social.


 Menunjukkan pengakuan bahwa tiap individu mempunyai kontribusi dan peran
yang berharga, tanpa memandang status sosial.
 Berperan serta dalam kegiatan yang memerlukan kerja sama dengan para
petugas kesehatan lainnya.
 Mengenali dan berusaha menjadi penengah ketika terjadi konflik.
 Memberikan tanggapan secara konstruktif terhadap masukan dari orang lain.
 Mempertimbangkan aspek etis dan moral dalam hubungan dengan petugas
kesehatan lain, serta bertindak secara professional.
 Mengenali dan bertindak sewajarnya saat kolega melakukan suatu tindakan yang
tidak professional.

1. Berperan sebagai anggota Tim Pelayanan Kesehatan yang Profesional dalam


masalah pasien dan menerapkan nilai-nilai profesionalisme

1. Bekerja dalam berbagai tim pelayanan kesehatan secara efektif

 Menghargai peran dan pendapat berbagai profesi kesehatan


 Berperan sebagai manager baik dalam praktik pribadi maupun dalam sistem
pelayanan kesehatan.
 Menyadari profesi medis yang mempunyai peran di masyarakat dan dapat
melakukan suatu perubahan.
 Mampu mengatasi perilaku yang tidak profesional dari anggota tim pelayanan
kesehatan lain.
 Melakukan praktik kedokteran dalam masyarakat multikultural di Indonesia.
 Menghargai perbedaan karakter individu, gaya hidup, dan budaya dari pasien
dan sejawat.
 Memahami heterogenitas persepsi yang berkaitan dengan usia, gender, orientasi
seksual, etnis, kecacatan dan status sosial ekonomi.
1. Aspek Medikolegal dalam praktik kedokteran Forensik

Dokter diwajibkan memahami dan menerima tanggung jawab hukum berkaitan dengan
:

# Hak asasi manusia

# Penyalahgunaan tindakan fisik dan seksual

# Kode Etik Kedokteran Indonesia

# Pembuatan surat keterangan sehat, sakit, Visum et Repertum atau surat kematian.

# Proses di pengadilan, dokter berperan memberikan keterangan ahli, sebagai saksi


ahli pemeriksa, menjelaskan visum et repertum, menjelaskan kaitan temuan VeR
dengan temuan ilmiah alat bukti sah lainnya. Dokter juga berperan menjelaskan segala
sesuatu yang belum jelas dari sisi ilmiah.

# Memahami UU RI No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.

# Memahami peran Konsil Kedokteran Indonesia sebagai badan yang mengatur


praktik kedokteran.

# Menentukan, menyatakan dan menganalisis segi etika dalam kebijakan kesehatan.

Kompetensi Dokter Spesialis Forensik9

Sebagai tambahan, seorang dokter umum juga perlu mengetahui kompetensi dokter
spesialis forensik. Hal ini dimaksudkan agar sistem rujukan dalam bidang forensik
berjalan sesuai standar profesi.

Menurut Buku Panduan Pelaksanaan Program P2KB untuk Dokter Spesialis Forensik,
seorang Dokter Spesialis Forensik setelah menyelesaikan pendidikan diharapkan
memiliki kompetensi sebagai berikut :

Kompetensi I Menerapkan etika profesi Dokter Spesialis Forensik dan mematuhi


prosedur medikolegal dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai Dokter
Spesialis Forensik.

Kompetensi II Menegakkan diagnosis kedokteran Forensik dan medi-kolegal


pada korban hidup maupun mati, menatalak-sana kasus sesuai dengan aspek sosio-
yuridis dan medikolegal, serta mengkomunikasikan ekspertise yang dihasilkan kepada
pihak yang berwenang, termasuk membuat sertifikasi forensik sesuai ketentuan
perundang-undangan yang berlaku

Kompetensi III Merancang, mengelola, dan mengawasi kegiatan unit kedokteran


forensik dan perawatan jenasah di sebuah institusi pelayanan kesehatan.

Kompetensi IV Berperan aktif dalam tim kerja penanganan kasus forensik dan
dalam tim etikomedikolegal RS.

Kompetensi V Berperan sebagai pengajar dan pembimbing dalam bidang


Forensik, etik dan medikolegal sesuai dengan ketentuan perundang2an yang berlaku.

Kompetensi VI Berperan aktif dalam mengembangkan ilmu kedokteran


khususnya dalam bidang Forensik, etika dan medikolegal melalui penulisan karya ilmiah
yang dipresentasikan atau dipublikasikan dari hasil penelitian.

Ditinjau dari standar profesi, seorang dokter Spesialis Forensik mempunyai kompetensi
yaitu sebagai berikut:

 Mampu melakukan pemeriksaan jenazah atau bagian dari jenazah dan


menginterpretasikannya untuk kepentingan identifikasi.
 Mampu melakukan penggalian kuburan tunggal dan melakukan pemeriksaan
jenazah di dalamnya untuk kepentingan peradilan.
 Mampu melakukan pemeriksaan kasus medikolegal.
 Mampu melakukan pemeriksaan korban jenazah di tempat kejadian perkara dan
membuat laporannya.
 Mampu melakukan penilaian tentang perkiraan saat kematian berdasarkan tanda
tanatologis pada jenazah.
 Mampu melakukan penggalian kuburan korban pelanggaran HAM.
 Mampu melakukan pengawetan jenazah.
 Mampu melakukan pemeriksaan laboratorium forensic rutin dan trace evidances.
 Mampu melakukan pemeriksaan jenazah korban kekerasan secara lengkap serta
menyimpulkan penyebab kematiannya.
 Mampu melakukan pemeriksaan jenazah mati mendadak secara lengkap serta
menyimpulkan penyebab kematiannya.
 Mampu melakukan pemeriksaan korban hidup yang mengalami kekerasan fisik
dan kekerasan seksual.
 Mampu melakukan pemeriksaan laboratorium forensik untuk membuktikan
adanya persetubuhan dan atau kekerasan.
 Mampu membuat laporan hasil pemeriksaan jenazah dan korban hidup dalam
bentuk visum et repertum jenazah.
 Mampu melakukan pemeriksaan terhadap tersangka pelaku kejahatan dalam
rangka penentuan kelayakannya untuk diperiksa atau ditahan.

BAB III

PENUTUP

Ilmu Kedokteran forensik adalah suatu cabang ilmu kedokteran yang mempergunakan
ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran untuk kepentingan penegakan hukum dan
keadilan. Sasarannya adalah Korban luka, keracunan atau mati karena tindak pidana
(Pasal 133 KUHAP).

Medikolegal adalah suatu cabang ilmu kedokteran yang mempelajari aspek-aspek


hukum tindakan kedokteran untuk kepentingan pelayanan kesehatan. Medikolegal
adalah kejadian, masalah, kasus medis atau non medis yang dapat berpotensi menjadi
masalah hukum, dalam bentuk kasus pidana atau perdata.

Standar profesi dokter di bidang kedokteran forensik dapat kita definisikan sebagai
standar keilmuan dan keterampilan minimal yang harus dikuasai seorang dokter dalam
mengunakan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran untuk membantu penegakan
hukum, keadilan, dan memecahkan masalah-masalah hukum.

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal harus dipelajari dan diketahui dengan baik
oleh semua dokter karena hal ini diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan di
Indonesia, antara lain Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Pasal 133
ayat 1 KUHAP dinyatakan bahwa: Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan
menangani korban baik luka, keracunan ataupun mati karena tindak pidana, ia
berwenang mengajukan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter
atau ahli lainnya. Selain itu, dokter juga harus mengingat bahwa ia dapat menerima
sanksi bila tidak memberikan bantuan tersebut seperti tercantum dalam pasal 224
Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP): Barang siapa yang dipanggil menurut
undang-undang menjadi saksi ahli atau juru bahasa dengan sengaja atau tidak
menjalankan suatu kewajiban menurut undang-undang yang harus dijalankannya
dalam kedudukan tersebut di atas, dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman
penjara selama-lamanya 9 bulan dan untuk perkara lain dihukum dengan hukuman
selama-lamanya 6 bulan.

Pelayanan kesehatan di rumah sakit terhadap publik bukan hanya menyembuhkan


namun mencakup pelayanan untuk kepentingan hukum (Kedokteran Forensik,
Medikolegal, Bio-Etik, Human Right). Dengan adanya Profesi kedokteran forensik dan
medikolegal dapat mensosialisasi aspek-aspek hukum dalam pelayanan kesehatan
sehingga pelayanan buruk, malpraktik dan tuntutan pasien dapat dihindari.

Peran dokter umum dalam pelayanan kedokteran forensik diberi wewenang oleh
undang-undang yaitu tercantum dalam pasal 133 KUHAP. Sesuai standar pendidikan
profesi dokter, dokter umum selama pendidikan sudah mempelajari forensik klinik dan
patologi forensik, maka dokter umum berwenang memberikan pelayanan forensik
berupa pemeriksaan korban hidup karena kecelakaan lalu lintas, kekerasan dalam
rumah tangga (KDRT), kasus penganiayaan, dan pemeriksaan luar korban meninggal
meliputi pemeriksaan label, benda di samping mayat, pakaian, ciri identitas fisik, ciri
tanatologis, perlukaan dan patah tulang.

Peranan dokter forensik adalah pengemban tugas criminal justicia system, pemberi
keterangan ahli dan akta medikolegal, manajer SMF Kedokteran forensik dan
pemulasaraan jenazah, konsultan medikolegal, health law.

Apapun masalah hukum dan keadilan yang dihadapi masyarakat sepanjang


menyangkut kedokteran adalah koridor pelayanan kedokteran forensik dan
medikolegal.