Anda di halaman 1dari 5

BUDGET HARA

Grace Sondang Yunika1, Ina Yulianingtiyas Budi1, Jehan Noor Auda1


1
Sekolah Ilmu Lingkungan, Universitas Indonesia
Email: grace.sondang81@ui.ac.id, ina.yulianingtiyas@ui.ac.id, jehan.auda@ui.ac.id

Pendahuluan
Siklus hara adalah suatu proses suplai dan penyerapan dari senyawa kimia yang dibutuhkan
untuk pertumbuhan dan metabolism (Mengel et al., 1987). Hara esensial yang dibutuhkan oleh
tumbuhan tinggi adalah unsur bahan organik alam. Kebutuhan akan bahan anorganik bagi
tumbuhan tinggi (pohon) membedakannya dengan organisme lainnya seperti manusia, hewan
dan beberapa mikroorganisme yang membutuhkan bahan makanan organik (Mengel et al.,
1987)

Dalam suatu siklus hara diperlukan perhitungan untuk menghitung neraca dari pertukaran
materi yang masuk atau keluar. Perhitungan itu dinamakan Budget Hara.Mempersiapkan
budget unsur hara bermanfaat untuk membandingkan input dan output unsur hara dalam suatu
ekosistem. Dari hasil neraca ini dapat diambil kesimpulan mengenai stabilitas ekosistem yang
bersangkutan.

Pengertian Budget Hara.

Budget hara adalah suatu informasi anggaran yang berbentuk nilai kuantitaif mengenai laju
pertukaran materi dan penyimpanannya dalam beberapa lokasi komponen ekosistem. Melalui
studi kuantitatif dapat diketahui budget hara dalam suatu ekosistem dan bagaimana
pengaruhnya apabila terjadi suatu aktifitas tertentu oleh manusia dalam ekosistem tertentu.
Dengan studi kuantitatif dapat diketahui budget hara dalam suatu ekosistem dan bagaimana
pengaruhnya apabila terjadi suatu aktivitas tertentu oleh manusia dalam ekosistem tersebut.

Sebagai contoh bila kita ingin melakukan penangkapan ikan di laut secara berlebihan maka
dapat diperhitungkan berapa banyak bibit ikan yang ada di laut mampu mengganti sejumlah
ikan yang ditangkap pada kurun waktu tertentu dengan tanpa dampak negatif terhadap
kelestarian sumberdaya ikan di laut.
Manfaat Budget Hara

Perhitungan budget hara perlu dilakukan untuk melihat jumlah hara yang masuk dan jumlah
hara yang keluar. Tujuan dari perhitungan budget hara adalah untuk mencapai keseimbangan
hara. Budget hara sangat berguna untuk pertanian. Melalui perhitungan budget hara dapat
diketahui tanaman tersebut kekurangan atau kelebihan hara. Jika tanaman kekurangan hara
maka dapat menjadi pertimbangan untuk menambahkan unsur pupuk tertentu agar
keseimbangan haranya dapat tercapai. Budget hara juga mempunyai arti penting dalam
melakukan perkiraan terhadap fenomena alam, seperti perubahan iklim, perkiraan terhadap
perubahan ekosistem dan habitat.

Konsep
Analisa carbon budget sangat penting dalam membuat kebijakan dalam mengatur strategi
mitigasi yang terkait dengan ekstensifikasi perkebunan. Analisis ini dapat juga merupakan
dasar perhitungan dalam pengurangan emisi. Konsep utama dalam mitigasi emisi CH4 dari
lahan sawah adalah dengan meningkatkan konsentrasi oksigen pada lapisan anaerobic tanah
(rizosfir) dan mengurangi suplai karbon yang mudah terurai. Dengan bertambahnya
konsentrasi oksigen proses produksi CH4 dapat berkurang karena CH4 teroksidasi secara
biologi oleh bakteri metanotropik (Reay et al., 2010 dalam Supriyanto, 2011).

Gambar 1.1 Dinamika produksi dan emisi gas CH4 dari lahan sawah
(Setyanto, 2009 dalam Supriyanto, 2011)
Carbon budget diukur berdasarkan data C yang masuk (melalui penambahan pemupukan dan
fotosintesis), C yang tersimpan (dalam tanah), dan C yang keluar (melalui emisi CH4 dan
CO2). Model persamaan carbon budget adalah :
Carbon budget = C masuk + C tersimpan – C keluar
Indikator kemampuan lahan dalam menjaga emisi CO2 dan CH4 menggunakan angka rasio
perbandingan C tersimpan : C emisi. Semakin tinggi nilai rasio perbandingan C tersimpan : C
emisi. Semakin tinggi nilai rasio berarti tanah semakin baik dalam menjaga simpanan C tanah
atau menurunkan emisi CO2 dan CH4.

Studi Kasus
Budidaya padi pada lahan tergenang dapat mengakibatkan tanah kehilangan C sebagai emisi
CO2 dan CH4 yang merupakan salah satu gas rumah kaca yang dapat menyebabkan perubahan
iklim global, sehingga perlu adanya rekomendasi mengenai masukan bahan organik dan
pengelolaan budidaya padi secara organik melalui carbon budget.
Pada sistem budidaya padi secara organik yang dimulai pada tahun 1995 merupakan tanah yang
paling subur karena C organik dan bahan organik pada tanah tersebut adalah tertinggi.
Penambahan bahan organik dalam tanah dapat meningkatkan kadar C tanah dan meningkatkan
kadar bahan organik dalam tanah (Winarso, 2005)
Peningkatan kadar bahan organik dalam tanah maka akan menyebabkan aerasi dan drainase
menjadi seimbang yaitu dimana air dapat tertahan di dalam tanah dan tidak segera mengalami
infiltrasi. Tertahannya air tersebut menyebabkan air tersedia oleh tanaman dan berlangsungnya
reaksi oksidasi dan reduksi dari unsur hara (Han, 2003 dalam Supriyanto, 2011).
Pada Tabel 1.1 berikut ini terdapat hasil dari perhitungan Carbon Budget dengan indikator
tanah dan hasil tanaman padi yang diambil dari studi kasus budidaya padi di Kecamatan
Sambirejo, Kabupaten Sragen.
Tabel 1.1 Carbon Budget indikator tanah dan hasil tanaman padi

Berdasarkan Tabel 1.1 dapat diketahui bahwa pertanian organik menunjukan kemampuan
tanah dalam menjaga kehilangan C adalah cara terbaik. Hal ini karena akumulasi dari pupuk
organik yang telah terdekomposisi sempurna dan terbentuk humus. Tingginya nilai budget
carbon berbanding lurus dengan banyaknya jumlah padi yang dihasilkan

Solusi Permasalahan
1. Perlu adanya penerapan budidaya padi secara organik, karena semakin besar dosis
pupuk kandang yang diaplikasikan, dan semakin tinggi kadar bahan organik tanah dan
C-organik tanah maka semakin besar carbon budget yang dihasilkan
2. Tingginya nilai carbon budget maka akan berimplikasi pada meningkatnya hasil
tanaman padi
Daftar Pustaka: Mengel, K. and Kirkby, E.A. (1987) Principles of Plant Nutrition. International
Potash Institute, Worblaufen-Bern, Switzerland.

Utomo, Suyud Winarno dan Reda Rizal (2006) Ekologi, Universitas Terbuka, Jakarta.

https://titalama.wordpress.com/2010/04/18/siklus-hara/

Supriyanto, Ibnu (2011) Hasil Produksi Padi dan Nilai Karbon Budget pada Beberapa Macam
Praktik Budidaya Padi di Kecamatan Sambirejo Kabupaten Sragen, Universitas Sebelas Maret,
Surakarta.

Winarso, S.2005. Kesuburan Tanah:Dasar Kesehatan dan Kualitas Tanah. Gava

media. Jogjakarta.