Anda di halaman 1dari 10

Hemotoraks adalah adanya darah dalam rongga pleura .

Sumber berasal dari darah yang


berada pada dinding dada , parenkim paru – paru , jantung atau pembuluh darah besar . kondisi
ini biasanya konsekuensi dari trauma tumpul atau tajam . Ini juga merupakan komplikasi dari
beberapa penyakit.17

Mengukur frekuensi hemotoraks pada populasi umum sulit dilakukan. Hemotoraks


yang sangat sedikit dapat dikaitkan dengan fraktur iga single dan dapat tidak terdeteksi atau
tidak membutuhkan pengobatan. Karena kebanyakan hemotoraks berkaitan dengan trauma,
perkiraan kasar kejadiannya dapat diukur dari statistic trauma. Sekitar 150.000 kematian terjadi
karena trauma tiap tahunnya. Sekitar 450.000 individu menjadi cacat permanen karena trauma,
dan sebagian besar dari grup ini adalah korban dari politrauma. Chest injury terjadi sekitar 60%
dari politrauma, karena itu perkiraan kasar dari kejadian hemothorax di Amerika Serikat
mendekati 300.000 kasus tiap tahunnya.1

Hemotoraks dibagi berdasarkan klasifikasi sebagai berikut :

 Hemotoraks Kecil : yang tampak sebagian bayangan kurang dari 15 % pada foto
rontgen, perkusi pekak sampai iga IX. Jumlah darah sampai 300 ml.

 Hemotoraks Sedang : 15 – 35 % tertutup bayangan pada foto rontgen, perkusi pekak


sampai iga VI.jumlah darah sampai 800 ml

 Hemotoraks Besar : lebih 35 % pada foto rontgen, perkusi pekak sampai cranial, iga
IV. Jumlah darah sampai lebih dari 800 ml

Gambar 2.3 Klasifikasi hemotoraks


Berdasarkan penyebab hemotoraks dapat dibagi menjadi :

 Hemotoraks spontan, Oleh karena : primer (ruptur blep , sekunder (infeksikeganasan),


neonatal.

 Hematoraks yang didapat, Oleh karena: iatrogenik, barotrauma, trauma.Penyebab


paling umum dari hemothorax adalah trauma dada.Trauma misalnya :

 Luka tembus paru-paru, jantung, pembuluh darah besar, atau dinding dada

 Trauma tumpul dada kadang-kadang dapat mengakibatkan lecet hemothorax


oleh pembuluh internal.

 Diathesis perdarahan seperti penyakit hemoragik bayi baru lahir atau purpura
Henoch-Schönlein dapat menyebabkan spontan hemotoraks.

 Adenomatoid malformasi kongenital kistik : malformasi ini kadang-kadang


mengalami komplikasi, seperti hemotoraks.

Penyebab dari hemotoraks adalah laserasi paru atau laserasi dari pembuluh darah
intercostal atau arteri mammaria internal yang disebabkan oleh cedera tajam atau cedera
tumpul. Dislokasi fraktur dari vertebrata torakal juga dapat menyebabkan hemotoraks.
Biasanya perdarahan berhenti spontan dan tidak memerlukan intervensi operasi. Hematothorax
dapat juga terjadi pada pasien yang memiliki15:

- Sebuah cacat pembekuan darah

- Trauma tumpul dada

- Kematian jaringan paru-paru (paru-paru infark)

- Kanker paru-paru atau pleura

- Menusuk dada ( ketika senjata seperti pisau atau memotong peluru paru-paru )

- Penempatan dari kateter vena sentral

- Operasi jantung

- Tuberkulosis
Selain itu terdapat pula hematoraks masif adalah terkumpulnya darah dengan cepat
lebih dari 1500 cc dalam rongga pleura.

Hemothoraks adalah adanya darah yang masuk ke areal pleura (antara pleura
viseralisdan pleura parietalis). Biasanya disebabkan oleh trauma tumpul atau trauma tajam
pada dada, yang mengakibatkan robeknya membran serosa pada dinding dada bagian dalam
atau selaput pembungkus paru. Robekan ini akan mengaikibatkan darah mengalir ke dalam
rongga pleura, yang akan menyebabkan penekanan pada paru.22

Sumber perdarahan umumnya berasal dari A. interkostalis atau A. mamaria interna.


Rongga hemitoraks dapat menampung 3 liter cairan, sehingga pasien hematotoraks dapat syok
berat (kegagalan sirkulasi) tanpa terlihat adanya perdarahan yang nyata, oleh karena
perdarahan masif yang terjadi terkumpul di dalam rongga toraks.22

Pendarahan di dalam rongga pleura dapat terjadi dengan hampir semua gangguan dari
jaringan dada di dinding dan pleura atau struktur intrathoracic. Respon fisiologis terhadap
perkembangan hemothorax diwujudkan dalam 2 area utama: hemodinamik dan pernafasan.
Tingkat respon hemodinamik ditentukan oleh jumlah dan kecepatan kehilangan darah.8

Gambar 2.4 Skema Patofisiologi Trauma Toraks


Perubahan hemodinamik bervariasi tergantung pada jumlah perdarahan dan kecepatan
kehilangan darah. Kehilangan darah hingga 750 mL pada seorang pria 70-kg seharusnya tidak
menyebabkan perubahan hemodinamik yang signifikan. Hilangnya 750-1500 mL pada
individu yang sama akan menyebabkan gejala awal syok (yaitu, takikardia, takipnea, dan
penurunan tekanandarah).8

Tanda-tanda signifikan dari shock dengan tanda-tanda perfusi yang buruk terjadi
dengan hilangnya volume darah 30% atau lebih (1500-2000 mL). Karena rongga pleura
seorang pria 70-kg dapat menampung 4 atau lebih liter darah, perdarahan exsanguinating dapat
terjadi tanpa bukti eksternal dari kehilangan darah.15

Efek pendesakan dari akumulasi besar darah dalam rongga pleura dapat menghambat
gerakan pernapasan normal. Dalam kasus trauma, kelainan ventilasi dan oksigenasi bisa terjadi,
terutama jika berhubungan dengan luka pada dinding dada. Sebuah kumpulan yang cukup besar
darah menyebabkan pasien mengalami dyspnea dan dapat menghasilkan temuan klinis
takipnea. Volume darah yang diperlukan untuk memproduksi gejala pada individu tertentu
bervariasi tergantung pada sejumlah faktor, termasuk organ cedera, tingkat keparahan cedera,
dan cadangan paru dan jantung yang mendasari.16

Dispnea adalah gejala yang umum dalam kasus-kasus di mana hemothorax berkembang
dengan cara yang membahayakan, seperti yang sekunder untuk penyakit metastasis.
Kehilangan darah dalam kasus tersebut tidak akut untuk menghasilkan respon hemodinamik
terlihat, dan dispnea sering menjadi keluhan utama.17

Darah yang masuk ke rongga pleura terkena gerakan diafragma, paru-paru, dan struktur
intrathoracic lainnya. Hal ini menyebabkan beberapa derajat defibrination darah sehingga
pembekuan tidak lengkap terjadi. Dalam beberapa jam penghentian perdarahan, lisis bekuan
yang sudah ada dengan enzim pleura dimulai.17

Lisis sel darah merah menghasilkan peningkatan konsentrasi protein cairan pleura dan
peningkatan tekanan osmotik dalam rongga pleura. Tekanan osmotik tinggi intrapleural
menghasilkan gradien osmotik antara ruang pleura dan jaringan sekitarnya yang menyebabkan
transudasi cairan ke dalam rongga pleura. Dengan cara ini, sebuah hemothorax kecil dan tanpa
gejala dapat berkembang menjadi besar dan gejala efusi pleura berdarah.17

Dua keadaan patologis yang berhubungan dengan tahap selanjutnya dari hemothorax:
empiema dan fibrothorax. Empiema hasil dari kontaminasi bakteri pada hemothorax. Jika tidak
terdeteksi atau tidak ditangani dengan benar, hal ini dapat mengakibatkan syok bakteremia dan
sepsis.4

Fibrothorax terjadi ketika deposisi fibrin berkembang dalam hemothorax yang


terorganisir dan melingkupi baik parietal dan permukaan pleura viseral. Proses adhesive ini
menyebkan paru-paru tetap pada posisinya dan mencegah dari berkembang sepenuhnya.4

Adapun tanda dan gejala adanya hemotoraks dapat bersifat simptomatik namun dapat
juga asimptomatik. Asimptomatik didapatkan pada pasien dengan hemothoraks yang sangat
minimal sedangkan kebanyakan pasien akan menunjukan symptom, diantaranya15:

 Nyeri dada yang berkaitan dengan trauma dinding dada

 Tanda-tanda shok seperti hipotensi, dan nadi cepat, pucat, akral dingin

 Tachycardia

 Dyspnea

 Hypoxemia

 Anxiety (gelisah)

 Cyanosis

 Anemia

 Deviasi trakea ke sisi yang tidak terkena

 Gerak dan pengembangan rongga dada tidak sama (paradoxical)

 Penurunan suara napas atau menghilang pada sisi yang terkena

 Dullness pada perkusi

 Adanya krepitasi saat palpasi.

Penegakkan diagnosis hemothoraks berdasarkan pada data yang diperoleh dari


anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Dari anamnesa didapatkan penderita
hemothoraks mengeluh nyeri dada dan sesak napas. Pada pemeriksaan fisik dari inspeksi
biasanya tidak tampak kelainan, mungkin didapatkan gerakan napas tertinggal atau adanya
pucat karena perdarahan kecuali hemothoraks akibat trauma. Pada perkusi didapatkan pekak
dengan batas tidak jelas, sedangkan pada auskultasi didapatkan bunyi napas menurun atau
bahkan menghilang.6

Pemeriksaan penunjang untuk diagnostik, diantaranya21:

 Chest x-ray : adanya gambaran hipodense pada rongga pleura di sisi yang terkena
dan adanya mediastinum shift. Chest x-ray sebagi penegak diagnostik yang paling
utama dan lebih sensitif dibandingkan lainnya.

Gambar 2.5 Chest xray Hemotoraks Kanan

 CT Scan : diindikasikan untuk pasien dengan hemothoraks yang untuk evaluasi


lokasi clotting (bekuan darah) dan untuk menentukan kuantitas atau jumlah bekuan
darah di rongga pleura.

Gambar 2.6 CT-scan Hemotoraks

 USG : USG yang digunakan adalah jenis FAST dan diindikasikan untuk pasien
yang tidak stabil dengan hemothoraks minimal.
Gambar 2.7 USG toraks pada pasien Hemotoraks

 Nilai BGA : Hipoksemia mungkin disertai hiperkarbia yang menyebabkan asidosis


respiratori. Saturasi O2 arterial mungkin menurun pada awalnya tetapi biasanya
kembali ke normal dalam waktu 24 jam.

 Cek darah lengkap : menurunnya Hb menunjukan jumlah darah yang hilang pada
hemothoraks.

Tujuan utama terapi dari hemothoraks adalah untuk menstabilkan hemodinamik pasien,
menghentikan perdarahan dan mengeluarkan darah serta udara dari rongga pleura. Langkah
pertama untuk menstabilkan hemodinamik adalah dengan resusitasi seperti diberikan
oksigenasi, cairan infus, transfusi darah, dilanjutkan pemberian analgetik dan antibiotik.8

Langkah selanjutnya untuk penatalaksanaan pasien dengan hemothoraks adalah


mengeluarkan darah dari rongga pleura yang dapat dilakukan dengan cara11:

 Chest tube (Tube thoracostomy drainage) : tube thoracostomy drainage merupakan


terapi utama untuk pasien dengan hemothoraks. Insersi chest tube melalui dinding
dada untuk drainase darah dan udara. Pemasangannya selama beberapa hari untuk
mengembangkan paru ke ukuran normal.

 Indikasi untuk pemasangan thoraks tube antara lain:

 Adanya udara pada rongga dada (pneumothorax)

 Perdarahan di rongga dada (hemothorax)

 Post operasi atau trauma pada rongga dada (pneumothorax or


hemothorax)

 abses paru atau pus di rongga dada (empyema).


 Adapun langkah-langkah dalam pemasangan chest tube thoracostomy
adalah sebagai berikut:

 Memposisikan pasien pada posisi trandelenberg

 Disinfeksi daerah yang akan dipasang chest tube dengan menggunakan


alkohol atau povidin iodine pada ICS VI atau ICS VII posterior Axillary
Line

 Kemudian dilakukan anastesi local dengan menggunakn lidokain

 Selanjutnya insisi sekitar 3-4cm pada Mid Axillary Line

 Pasang curved hemostat diikuti pemasangan tube dan selanjutnya


dihubungkan dengan WSD (Water Sealed Drainage)

 Lakukan jahitan pada tempat pemasangan tube

Gambar pemasangan chest tube

 Thoracotomy : merupakan prosedur pilihan untuk operasi eksplorasi rongga dada ketika
hemothoraks massif atau terjadi perdarahan persisten. Thoracotomy juga dilakukan
ketika hemothoraks parah dan chest tube sendiri tidak dapat mengontrol perdarahan
sehingga operasi (thoracotomy) diperlukan untuk menghentikan perdarahan.
Perdarahan persisten atau berkelanjutan yang segera memerlukan tindakan operasi
untuk menghentikan sumber perdarahan di antaranya seperti ruptur aorta pada trauma
berat. Operasi (Thoracotomy) diindikasikan apabila:

 1 liter atau lebih dievakuasi segera dengan chest tube


 Perdarahan persisten, sebanyak 150-200cc/jam selama 2-4 jam

 Diperlukan transfusi berulang untuk mempertahankan stabilitas hemodinamik

 Adanya sisa clot sebanyak 500cc atau lebih

Gambar prodsedur torakotomi

 Trombolitik agen :trombolitik agen digunakan untuk memecahkan bekuan darah pada
chest tube atau ketika bekuan telah membentuk massa di rongga pleura, tetapi hal ini
sangat berisiko karena dapat memicu terjadinya perdarahan dan perlu tindakan operasi
segera.

Kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi meliputi:

 Paru-paru kolaps sehingga terjadi gagal napas dan meninggal

 Fibrosis atau skar pada membrane pleura

 Ateletaksis

 Shok

 Pneumothorax

 Pneumonia

 Septisemia

Untuk lebih amannya dalam menghindari komplikasi, pencegahan dini terjadinya


hemothoraks dapat dicegah dengan segera pergi ke IGD atau telepon ambulan apabila
didapatkan cedera berat pada thoraks, adanya nyeri dada ataupun sesak napas.
Prognosis berdasarkan pada penyebab dari hemothoraks dan seberapa cepat
penanganan diberikan. Apabila penanganan tidak dilakukan segera maka kondisi pasien dapat
bertambah buruk karena akan terjadi akumulasi darah di rongga thoraks yang menyebabkan
paru-paru kolaps dan mendorong mediastinum serta trakea ke sisi yang sehat.