Anda di halaman 1dari 17

1.

Pengertian
Diare adalah kondisi dimana terjadi frekuensi defekasi yang abnormal
(lebih dari 3 kali/hari). Serta perubahan dalam isi (lebih dari 200 g/hari) dan
konsistensi fases cair (Smeltzer & Bare, 2002). Diare merupakan suatu keadaan
pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti biasanya, ditandai
dengan peningkatan volume, keenceran, serta frekuensi lebih dari 3 kali sehari
dan pada neonatus lebih dari 4 kali sehari dengan atau tanpa lendir darah
(Hidayat, 2006). Diare adalah penyakit yang ditandai dengan terjadinya
perubahan bentuk konsentrasi tinja yang melembek sampai dengan cair dengan
frekuensi lebih dari 3 kali sehari. Diare merupakan penyakit yang sangat akut
dan berbahaya karena sering mengakibatkan kematian bila terlambat
penanganannya (Pudiastuti, 2011).
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa diare adalah
suatu kondisi dimana terjadi peningkatan frekuensi BAB lebih dari 3 kali yang
ditandai dengan konsistensi tinja yang encer dapat disertai atau tanpa disertai
darah atau lendir.

2. Etiologi
Diare dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor. Menurut Mansjoer dkk
(2000) penyebab diare pada anak adalah
a. Faktor infeksi
1) Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan
penyebab utama diare pada anak. Infeksi interal ini meliputi: infeksi
bakteri (Vibrio, E. Coli, Salmonella, Shigela, Campylobacter, Yersina,
Aeromonas), virus (Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus),
dan parasit yang terdiri dari cacing (Ascaris, Trichiuris, Oxyuris,
Strongyloides), Protozoa (Entamoeba histolytica, Giardia lamblia,
Trichomonas hominis), jamur (Candida albicans).
2) Infeksi parenteral yaitu infeksi di bagian tubuh lain di luar alat
pencernaan, seperti Otitis Media Akut (OMA), Tonsilofaringitis,
Bronchopenemonia, Ensefalitis dan sebagainya. Keadaan ini terutama
terdapat pada bayi dan anak berumur di bawah 2 tahun.
b. Faktor malabsorbsi
1) Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa, maltosa,
sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa, galaktosa).
Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering adalah intoleransi
laktosa.
2) Malabsorbsi lemak.
3) Malabsorbsi protein.
c. Faktor makanan, makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.
d. Faktor psikologis
Faktor psikologis meliputi rasa takut dan cemas. Walaupun jarang dapat
menimbulkan diare terutama pada anak yang lebih besar (Ngastiyah,
2005).
Menurut Panduan Sosialisasi Tatalaksana Diare Balita Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia tahun 2011 banyak faktor risiko yang
mempengaruhi terjadinya diare pada bayi dan balita. Cara penularan diare
pada umumnya melalui cara fekal-oral yaitu melalui makanan atau minuman
yang tercemar oleh enteropatogen, atau kontak langsung dengan tangan
penderita atau barang-barang yang telah tercemar tinja penderita atau tidak
langsung melalui lalat. Di dalam istilah bahasa Inggris disebut 5 F yaitu feces
atau tinja, files atau lalat, food atau makanan, finger atau tangan (jari tangan),
fomites atau peralatan makanan. Adapun faktor risiko terjadinya diare:

a. Faktor anak
Bayi dan anak balita merupakan kelompok usia yang paling banyak
menderita diare, kerentanan kelompok usia ini juga banyak dipengaruhi
oleh beberapa fackor yaitu umur anak, pemberian ASI, status gizi dan
status imunisasi campak.
1) Faktor umur
Sebagai besar diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan, insiden
tertinggi terjadi pada pada kelompok umur 6 sampai 11 bulan, pada
saat diberikan makanan pendamping ASI. Hal ini dikarenakan belum
terbentuknya kekebalan alami dari anak usia dibawah satu tahun. Pola
ini menggambarkan kombinasi efek penurunan kadar antibodi ibu,
kuranganya kekebalan aktif bayi, pengenalan makanan yang mungkin
terkontaminasi bakteri tinja dan kontak langsung dengan tinja manusia
atau binatang pada saat bayi mulai dapat merangkak (Depkes RI,
1999).
2) Status gizi
Status gizi pada anak sangat berpengaruh terhadap kejadian penyakit
diare. Pada anak yang menderita kurang gizi dan gizi buruk yang
mendapatkan asupan makan yang kurang mengakibatkan episode
diare akutnya menjadi lebih berat dan mengakibatkan diare yang lebih
lama dan sering. Risiko meninggal akibat diare persisten atau disentri
sangat meningkat bila anak sudah mengalami kurang gizi. Beratnya
penyakit, lamanya dan risiko kematian karena diare meningkat pada
anak-anak dengan kurang gizi, apabila pada yang menderita gizi
buruk.
3) Status imunisasi
Menurut Suraatmaja (2007), pada balita, 1-7% kejadian diare
berhubungan dengan campak, dan diare yang terjadi pada campak
umumnya lebih berat dan lebih lama karena adanya kelainan pada
epitel usus. Diare dan disentri lebih sering terjadi atau berakibat berat
pada anak-anak dengan campak atau menderita campak dalam 4
minggu terakhir. Hal ini disebabkan karena penurunan kekebalan pada
penderita (Depkes RI, 1999).
b. Faktor orang tua
Peranan orang tua dalam pencegahan dan perawatan anak dengan diare
sangatlah penting. Faktor yang mepengaruhi yaitu umur ibu, tingkat
pendidikan, pengetahuan ibu mengenai hidup sehat dan pecegahan
terhadap penyakit. Rendahnya tingkat pendidikan ibu dan kurangnya
pengetahuan ibu tentang pencegahan diare dan perawatan anak dengan
diare merupakan penyebab anak terlambat ditangani dan terlambat
mendapatkan pertolongan sehingga berisiko mengalami dehidrasi.
c. Faktor sosial ekonomi
Status ekonomi yang rendah akan mempengaruhi status gizi anggota
keluarga. Hal ini nampak dari ketidakmampuan ekonomi keluarga untuk
memenuhi kebutuhan gizi keluarga khususnya anak balita sehingga
mereka cendrung memiliki status gizi kurang bahkan gizi buruk yang
memudahkan balita mengalami diare. Keluarga dengan status ekonomi
rendah biasanya tinggal di daerah yang tidak memenuhi syarat kesehatan
sehingga mudah terserang diare.

3. Klasifikasi
Menurut Simadibrata (2006), diare dapat diklasifikasikan berdasarkan :
a. Lama waktu diare
1) Diare akut, yaitu diare yang berlangsung kurang dari 15 hari. Sedangkan
menurut World Gastroenterology Organization Global Guidelines (2005)
diare akut didefinisikan sebagai pasase tinja yang cair atau lembek
dengan jumlah lebih banyak dari normal, berlangsung kurang dari 14
hari.
2) Diare kronik adalah diare yang berlangsung lebih dari 15 hari.
Berdasarkan mekanisme patofisiologik, diare kronik yaitu diare yang
osmolalitas intraluminal yang meninggi, disebut diare sekretorik. Sekresi
cairan dan elektrolit meninggi. Malabsorbsi asam empedu. Defek sisitem
pertukaran anion atau transport elektrolit aktif di enterosit. Motilitas dan
waktu transport usus abnormal. Gangguan permeabilitas usus. Inflamasi
dinding usus, disebut diare inflamatorik. Infeksi dinding usus, disebut
diare infeksi.

Menurut Kliegman, Marcdante dan Jenson (2006), dinyatakan bahwa


berdasarkan banyaknya kehilangan cairan dan elektrolit dari tubuh, diare dapat
dibagi menjadi :
a. Diare tanpa dehidrasi
Pada tingkat diare ini penderita tidak mengalami dehidrasi karena
frekuensi diare masih dalam batas toleransi dan belum ada tanda-tanda
dehidrasi.
b. Diare dengan dehidrasi ringan (3%-5%)
Pada tingkat diare ini penderita mengalami diare 3 kali atau lebih, kadang-
kadang muntah, terasa haus, kencing sudah mulai berkurang, nafsu makan
menurun, aktifitas sudah mulai menurun, tekanan nadi masih normal atau
takikardia yang minimum dan pemeriksaan fisik dalam batas normal.
c. Diare dengan dehidrasi sedang (5%-10%)
Pada keadaan ini, penderita akan mengalami takikardi, kencing yang
kurang atau langsung tidak ada, irritabilitas atau lesu, mata dan ubun-ubun
besar menjadi cekung, turgor kulit berkurang, selaput lendir bibir dan
mulut serta kulit tampak kering, air mata berkurang dan masa pengisian
kapiler memanjang (≥ 2 detik) dengan kulit yang dingin yang dingin dan
pucat.
d. Diare dengan dehidrasi berat (10%-15%)
Pada keadaan ini, penderita sudah banyak kehilangan cairan dari tubuh dan
biasanya pada keadaan ini penderita mengalami takikardi dengan pulsasi
yang melemah, hipotensi dan tekanan nadi yang menyebar, tidak ada
penghasilan urin, mata dan ubun-ubun besar menjadi sangat cekung, tidak
ada produksi air mata, tidak mampu minum dan keadaannya mulai apatis,
kesadarannya menurun dan juga masa pengisian kapiler sangat memanjang
(≥ 3 detik) dengan kulit yang dingin dan pucat.

4. Manifestasi Klinis
Tanda-tanda awal dari penyakit diare adalah bayi dan anak menjadi
gelisah dan cengeng, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan berkurang
atau tidak ada, kemudian timbul diare. Frekuensi bab (buang air besar) pada
bayi lebih dari 3x/hari dan pada neonatus lebih dari 4x/har. Tinja akan
menjadi cair dan mungkin disertai dengan lendir ataupun darah. Warna tinja
bisa lama-kelamaan berubah menjadi kehijau-hijauan karena tercampur
dengan empedu. Anus dan daerah sekitarnya lecet karena seringnya defekasi
dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat banyaknya asam laktat yang
berasal darl laktosa yang tidak dapat diabsorbsi oleh usus selama diare.
Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare dan dapat disebabkan
oleh lambung yang turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan
asam-basa dan elektrolit terdapat tanda dehidrasi (Kliegman, 2006).

5. Patofisiologi
Berdasarkan gangguan fungsi fisiologis saluran cerna dan macam
penyebab dari diare, maka patofisiologi diare dapat dibagi dalam 3 macam
kelainan pokok yang berupa :
Kelainan gerakan transmukosal air dan elektrolit (karena toksin)
Gangguan reabsorpsi pada sebagian kecil usus halus sudah dapat
menyebabkan diare, misalnya pada kejadian infeksi. Faktor lain yang juga
cukup penting dalam diare adalah empedu. Ada 4 macam garam empedu yang
terdapat di dalam cairan empedu yang keluar dari kandung empedu.
Dehidroksilasi asam dioksikholik akan menyebabkan sekresi cairan di
jejunum dan kolon, serta akan menghambat absorpsi cairan di dalam kolon.
Ini terjadi karena adanya sentuhan asam dioksikholik secara langsung pada
permukaan mukosa usus. Diduga bakteri mikroflora usus turut memegang
peranan dalam pembentukan asam dioksi kholik tersebut. Hormon-hormon
saluran cerna diduga juga dapat mempengaruhi absorpsi air pada mukosa.
usus manusia, antara lain adalah: gastrin, sekretin, kholesistokinin dan
glukogen. Suatu perubahan PH cairan usus juga. dapat menyebabkan
terjadinya diare, seperti terjadi pada Sindroma Zollinger Ellison atau pada
Jejunitis.
Kelainan cepat laju bolus makanan didalam lumen usus (invasive
diarrhea) Suatu proses absorpsi dapat berlangsung sempurna dan normal bila
bolus makanan tercampur baik dengan enzim-enzim saluran cerna dan.
berada dalam keadaan yang cukup tercerna. Juga. waktu sentuhan yang
adekuat antara khim dan permukaan mukosa usus halus diperlukan untuk
absorpsi yang normal. Permukaan mukosa usus halus kemampuannya
berfungsi sangat kompensatif, ini terbukti pada penderita yang masih dapat
hidup setelah reseksi usus, walaupun waktu lintas menjadi sangat singkat.
Motilitas usus merupakan faktor yang berperanan penting dalam ketahanan
local mukosa usus. Hipomotilitas dan stasis dapat menyebabkan mikro
organisme berkembang biak secara berlebihan (tumbuh lampau atau
overgrowth) yang kemudian dapat merusak mukosa usus, menimbulkan
gangguan digesti dan absorpsi, yang kemudian menimbulkan diare.
Hipermotilitas dapat terjadi karena rangsangan hormon prostaglandin, gastrin,
pankreosimin; dalam hal ini dapat memberikan efek langsung sebagai diare.
Selain itu hipermotilitas juga dapat terjadi karena pengaruh enterotoksin
staphilococcus maupun kholera atau karena ulkus mikro yang invasif o1eh
Shigella atau Salmonella.Selain uraian di atas haruslah diingat bahwa
hubungan antara aktivitas otot polos usus,gerakan isi lumen usus dan absorpsi
mukosa usus merupakan suatu mekanisme yang sangat kompleks.
Kelainan tekanan osmotik dalam lumen usus (virus). Dalam beberapa
keadaan tertentu setiap pembebanan usus yang melebihi kapasitas dari
pencernaan dan absorpsinya akan menimbulkan diare. Adanya malabsorpsi
dari hidrat arang, lemak dan zat putih telur akan menimbulkan kenaikan daya
tekanan osmotik intra luminal, sehingga akan dapat menimbulkan gangguan
absorpsi air. Malabsorpsi hidrat arang pada umumnya sebagai malabsorpsi
laktosa yang terjadi karena defesiensi enzim laktase. Dalam hal ini laktosa
yang terdapat dalam susu tidak sempurna mengalami hidrolisis dan kurang di
absorpsi oleh usus halus. Kemudian bakteri-bakteri dalam usus besar
memecah laktosa menjadi monosakharida dan fermentasi seterusnya menjadi
gugusan asam organik dengan rantai atom karbon yang lebih pendek yang
terdiri atas 2-4 atom karbon. Molekul-molekul inilah yang secara aktif dapat
menahan air dalam lumen kolon hingga terjadi diare. Defisiensi laktase
sekunder atau dalam pengertian yang lebih luas sebagai defisiensi
disakharidase (meliputi sukrase, maltase, isomaltase dan trehalase) dapat
terjadi pada setiap kelainan pada mukosa usus halus. Hal tersebut dapat
terjadi karena enzim-enzim tadi terdapat pada brush border epitel mukosa
usus. Asam-asam lemak berantai panjang tidak dapat menyebabkan tingginya
tekanan osmotik dalam lumen usus karena asam ini tidak larut dalam air
Diare akut karena infeksi dapat disertai keadaan muntah-muntah dan/atau
demam, tenesmus, hematochezia, nyeri perut atau kejang perut. Diare yang
berlangsung beberapa waktu tanpa penanggulangan medis yang adekuat dapat
menyebabkan kematian karena kekurangan cairan di badan yang
mengakibatkan renjatan hipovolemik atau karena gangguan biokimiawi
berupa asidosis metabolik yang lanjut. Karena kehilangan cairan seseorang
merasa haus, berat badan berkurang, mata menjadi cekung, lidah kering,
tulang pipi menonjol, turgor kulit menurun serta suara menjadi serak.
Keluhan dan gejala ini disebabkan deplesi air yang isotonik.
Karena kehilangan bikarbonas, perbandingan bikarbonas berkurang, yang
mengakibatkan penurunan pH darah. Penurunan ini akan merangsang pusat
pernapasan sehingga frekwensi nafas lebih cepat dan lebih dalam (kussmaul).
Reaksi ini adalah usaha tubuh untuk mengeluarkan asam karbonas agar pH
dapat naik kembali normal. Pada keadaan asidosis metabolik yang tidak
dikompensasi, bikarbonat standard juga rendah, pCO2 normal dan base
excess sangat negatif.
Gangguan kardiovaskular pada hipovolemik yang berat dapat berupa
renjatan dengan tanda-tanda denyut nadi yang cepat, tekanan darah menurun
sampai tidak terukur. Pasien mulai gelisah, muka pucat, ujung-ujung
ekstremitas dingin dan kadang sianosis. Karena kehilangan kalium pada diare
akut juga dapat timbul aritmia jantung.
Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun dan
akan timbul anuria. Bila keadaan ini tidak segera diatasi akan timbul penyulit
berupa nekrosis tubulus ginjal akut, yang berarti pada saat tersebut kita
menghadapi gagal ginjal akut. Bila keadaan asidosis metabolik menjadi lebih
berat, akan terjadi kepincangan pembagian darah dengan pemusatan yang
lebih banyak dalam sirkulasi paru-paru. Observasi ini penting karena dapat
menyebabkan edema paru pada pasien yang menerima rehidrasi cairan
intravena tanpa alkali.

6. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan tinja: makroskopis dan mikroskopis, pH dan kadar gula jika
diduga ada intoleransi gula (sugar intolerance), biakan kuman untuk
mencari kuman penyebab dan uji resistensi terhadap berbagai antibiotika
(pada diare persisten).
b. Pemeriksaan darah: darah perifer lengkap, analisis gas darah dan elektrolit
(terutama natrium, kalium, kalsium dan phospor serum pada diare yang
disertai kejang). Pada diare inflamasi ditemukan lekositosis, LED yang
meningkat dan hipoproteinemia. Albumin dan globulin rendah akan
mengesankansuatu protein losing enteropathy akibat inflamasi intestinal.
Skrining awal CBC,protrombin time, kalsium dan karotin akan
menunjukkan abnormalitas absorbsi. Fe,VitB12, asam folat dan vitamin
yang larut dalam lemak (ADK). Pemeriksaan darah tepi menjadi penunjuk
defak absorbsi lemak pada stadium luminal, apakah pada mukosa, atau hasil
dari obstruksi limfatik postmukosa. Protombin time,karotin dan kolesterol
mungkin turun tetapi Fe,folat dan albumin mengkin sekali rendaah jika
penyakit adalah mukosa primer dan normal jika malabsorbsi akibat penyakit
mukosa atau obstruksi limfatik.
c. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin darah untuk mengetahui faal ginjal.
Duodenal intubation untuk mengetahui kuman penyebab secara kuantitatif
dan kualitatif terutama pada diare kronik

7. Komplikasi
a. Dehidrasi (ringan sedang, berat, hipotnik, isotonik atau hipertonik)
sebagai akibat dari kehilangan air dan elektrolit.
b. Renjatan hipovolemik.
c. Hipokalemia (dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah,
bradikardia, perubahan elektokardiogram).
d. Hipoglikemia.
e. Intoleransi skunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defisiensi
enzim laktase.
f. Kejang, terjadi pada dehidrasi hipertonik.
g. Malnutrisi energi protein, akibat muntah dan diare, jika lama atau
kronik (Ngastiyah, 2005).

8. Pencegahan
Ada beberapa cara pencegahan diare menurut Kementrian Kesehatan RI
(2011), yaitu sebagai berikut:
a. Cuci tangan dengan sabun dan bilas dengan air sampai bersih:
1) Sebelum makan.
2) Sebelum menyusui.
3) Setelah Buang Air Besar (BAB).
4) Setelah membuang tinja/kotoran anak.
5) Sebelum menyiapkan makan anak dan menyuapi makan anak.
b. Gunakan air bersih.
c. Cuci peralatan makan dan minum dengan baik dan benar.
d. Semua anggota keluarga Buang Air Besar (BAB) di jamban yang
sehat.
e. Buang tinja anak dijamban.
f. Berikan imunisasi campak untuk meningkatkan kekebalan tubuh agar
tidak mudah terkena diare.

9. Penatalaksanaan
a. Berikan Oralit
Untuk mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah
tangga dengan memberikan oralit osmolaritas rendah, dan bila tidak
tersedia berikan cairan rumah tangga seperti air tajin, kuah sayur, air
matang. Oralit merupakan cairan yang terbaik bagi penderita diare
untuk menggantikan cairan yang hilang.
b. Berikan obat Zinc
Zinc merupakan salah satu mikronutrien yang penting dalam tubuh.
Zinc dapat menghambat enzim INOS (Inducible Nitric Oxide
Synthase), dimana ekskresi enzim ini meningkat selama diare dan
mengakibatkan hipersekresi epitel usus. Zinc juga berperan dalam
epitelisasi dinding usus yang mengalami kerusakan morfologi dan
fungsi selama kejadian diare.
c. Pemberian ASI/makanan
Pemberian ASI/makanan selama diare bertujuan untuk memberikan gizi
pada penderita terutama pada anak agar tetap kuat dan tumbuh serta
mencegah berkurangnya berat badan. Anak yang masih minum ASI
harus lebih sering diberi ASI. Anak yang minum susu formula juga
diberikan lebih sering dari biasanya. Anak usia 6 bulan atau lebih
termasuk bayi yang telah mendapatkan makanan padat harus diberikan
makanan yang mudah dicerna dan diberikan sedikit demi sedikit dan
lebih sering. Setelah diare berhenti, pemberian makanan ekstra
diteruskan selama 2 minggu untuk membantu pemulihan berat badan.
d. Pemberian antibiotik hanya atas indikasi
Antibiotik tidak boleh digunakan secara rutin karena kecilnya kejadian
diare pada balita yang disebabkan oleh bakteri. Antibiotika hanya
bermanfaat pada penderita diare dengan darah (sebagian besar karena
shigellosis), suspek kolera. Obat-obatan Anti diare juga tidak boleh
diberikan pada anak yang menderita diare karena terbukti tidak
bermanfaat. Obat anti muntah tidak di anjurkan kecuali muntah berat.
Obat-obatan ini tidak mencegah dehidrasi ataupun meningkatkan status
gizi anak, bahkan sebagian besar menimbulkan efek samping yang
bebahaya dan bisa berakibat fatal. Obat anti protozoa digunakan bila
terbukti diare disebabkan oleh parasit (amuba, giardia).
e. Pemberian nasehat
Ibu atau pengasuh yang berhubungan erat dengan balita harus diberi
nasehat tentang:
1) Cara memberikan cairan dan obat di rumah
2) Kapan harus membawa kembali anak ke petugas kesehatan, bila:
a) Diare lebih sering;
b) Muntah berulang;
c) Sangat haus;
d) Makan/minum sedikit;
e) Timbul demam;
f) Tinja berdarah;
g) Tidak membaik dalam 3 hari.
C. Konsep Asuhan keperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas pasien
Identitas pasien, meliputi nama, usia, jenis kelamin, pendidikan, alamat,
pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam masuk rumah sakit,
No. RM, dan lain sebagainya. Episode diare terjadi pada 2 tahun
pertama kehidupan. Insiden paling tinggi adalah golongan umur 6-11
bulan. Status ekonomi juga berpengaruh terutama dilihat dari pola
makan dan perawatannya,
b. Keluhan utama : BAB lebih dari 3 kali
c. Riwayat penyakit sekarang
BAB warna kuning kehijauan, bercamour lendir dan darah atau lendir
saja. Konsistensi encer, frekuensi lebih dari 3 kali, waktu pengeluaran :
3-5 hari (diare akut), lebih dari 7 hari ( diare berkepanjangan), lebih dari
14 hari (diare kronis).
d. Riwayat penyakit dahulu
Pernah mengalami diare sebelumnya, pemakian antibiotik atau
kortikosteroid jangka panjang (perubahan candida albicans dari saprofit
menjadi parasit), alergi makanan, ISPA, ISK, OMA campak.
e. Riwayat penyakit keluarga
Identifikasi penyakit yang pernah dialami dalam keluarga, riwayat
penyakit diare.
f. Riwayat Kesehatan Lingkungan
Penyimpanan makanan pada suhu kamar, kurang menjaga kebersihan,
lingkungan tempat tinggal.
g. Pemeriksaan fisik
1) B1 (Breathing)
Pada pasien dengan diare dehidrasi berat biasanya akan mengalami
dispnea, pernafasan cepat > 40 x/menit karena asidosis metabolic
(kontraksi otot pernafasan).

2) B2 (Blood)
Pada pasien dengan diare dehidrasi berat biasanya nadi cepat > 120
x/mnt dan lemah, tensi menurun pada diare sedang . Hal ini akibat
dari manifestasi pola pernafasan . warna kulit pucat, turgor menurun
> 2 dt, suhu meningkat > 375 0 c, akral hangat, akral dingin
(waspada syok), capillary refill time memajang > 2 dt, kemerahan
pada daerah perianal..
3) B3 (Brain)
Pada pasien dengan diare dehidrasi berat dapat menyebabkan
penurunnya kesadaran akibat adanya syok hipovelemik
4) B4 (Bladder)
Pada pasien dengan diare dehidrasi berat urin produksi oliguria
sampai anuria (200-400 ml/ 24 jam ), frekuensi berkurang dari
sebelum sakit.
5) B5 (Bowel)
Secara umum, paien megalami defisit kebutuhan nutrisi dan
dehidrasi. Feses berbentuk encer, terdapat darah, lendir, lemak serta
berbuih/berbusa. Perut terasa sakit, mukosa mulut kering, distensi
abdomen, peristaltic meningkat > 35 x/mnt, nafsu makan menurun,
mual muntah, minum normal atau tidak haus, minum lahap dan
kelihatan haus, minum sedikit atau kelihatan bisa minum
6) B6 (Bone)
Lemah karena pasien merasa lemas saat diare yang mengakibatkan
terbatasnya aktivitas yang ingin dan akan di lakukuan

h. Pengkajian tumbuh kembang pada anak dengan Diare dehidrasi berat


Diare yang berlangsung lama menyebabkan penurunan berat badan
yang sangat berarti pada anak sehingga dapat menimbulkan resiko
gangguan tumbuh kembang. Anak dengan umur 1 –3 tahun akan
mengalami kenaikan BB berkisar antara 1,5-2,5 kg (rata-rata 2 kg), PB
6-10 cm (rata-rata 8 cm) pertahun. Jika Anak mengalami diare yang
berkepanjangan maka Anak tidak akan mengalami peningkatan BB
sebagaimana mestinya sehingga dapat mengganggu masa pertumbuhan
anak.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang dapat diangkat sesuai dengan pathway adalah
sebagai berikut (NANDA, 2015).
a. Diare berhubungan dengan factor fisiologis yaitu inflamasi,
malabsorbsi, proses infeksi dan iritas
b. Hipertermi berhubungan dengan dehidrasi atau proses infeksi
c. Ketidakseimbangan volume cairan :kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif akibat diare
d. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan mual muntah
e. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan dehidrasi
f. Ansieta orang tua berhubungan dengan proses penyakit anaknya
3. Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
No Diagnosa Intervensi (NIC) Rasional
(NOC)
1 Diare berhubungan dengan NOC : Eliminasi Bowel NIC : Manajemen diare
proses infeksi Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji frekuensi dan konsistensi 1. Untuk mengetahui frekuensi
keperawatan selama 3 x 24 BAB setiap harinya dan konsistensi dan frekuensi
jam, pasien tidak diare dengan BAB
kriteria hasil: 2. Ukur TTV pasien setiap 8 jam 2. kehilangan cairan yang aktif
a. Frekuensi BAB kurang dari sekali secar terus menerus akan
3x dalam 24 jam 3. Jelaskan pada pasien tentang mempengaruhi TTV
b. Konsistensi BAB lembek, penyebab dari diare 3. keluarga dapat mengetahui
tidak ada lendir dan darah 4. Kolaborasi dengan tim gizi untuk penyebab diare
c. Peristaltik usus dalam batas memberikan diit sesuai 4. Memenuhi kebutuhan makanan
normal (5-35x/menit) kebutuhan dan kalori yang dibutuhkan
d. TTV dalam batas normal 5. Laksanakan hasil kolaborasi 5. Untuk
 Suhu tubuh (36,5-37,5 terkait pemberian Antibiotik 6. Untuk mengetahui adanya
O
C) 6. Timbang BB pasien 2hari sekali penurunan BB akibat diare
 Nadi (60-120x/menit)
 RR dalam rentang
normal 30-60 x/menit)
2 Hipertermi berhubungan NOC NIC
dengan proses peradangan Thermoregulasi Perawatan Demam
atau infeksi 1. Ukur tanda-tanda vital setiap 8 1. Suhu 38,9-41,1oC menunjukkan
Setelah dilakukan asuhan jam proses penyakit infeksius akut.
keperawatan selama 1 x24 2. Mempercepat proses penguapan
jam, suhu menjadi normal . 2. Anjurkan kaluarga utuk melalui urine dan keringat,
dengan kriteria hasil memberikan minum yang banyak selain itu dimaksudkan untuk
1. Suhu tubuh dalam rentang pada pasien mengganti cairan tubuh yang
normal (36,5-37,5 OC) hilang.
2. Nadi dalam rentang normal 3. Berikan kompres hangat pada 3. Memberikan efek vasodilatasi
Tujuan dan Kriteria Hasil
No Diagnosa Intervensi (NIC) Rasional
(NOC)
(60-120x/menit) pasien pembululuh darah.
3. RR dalam rentang normal 4. Ajarkan keluarga cara kompres 4. Meningkatkan tingkat
30-60 x/menit) yang baik dan benar pengetahuan keluarga
4. Kulit tidak teraba 5. Anjurkan keluarga untuk 5. Untuk mengurangi panas pada
hangat/panas memberikan kompres setiap pasien
5. Tidak menggigil pasien panas. 6. Untuk memudahkan dalam
6. Anjurkan keluarga untuk tidak proses penguapan.
memakai selimut dari pakaian 7. untuk mengganti cairan yang
yang tebal. hilang
7. Berikan terapi cairan intravena 8. obat-obatan sebagai preparat
8. Laksanakan hasil kolaborasi obat- yang di formulasikan untuk
obatan sesuai dengan hasil penurunan panas.
kolaborasi.
3. Ketidakseimbangan volume Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji adanya tanda-tanda dehidrasi 1. Menentukan intervensi
cairan : kurang dari keperawatan selama 1 x24 setiap 8 jam selanjutnya
kebutuhan tubuh jam, kebutuhan cairan adekuat 2. Ukur TTV setiap 8 jam 2. Kekurangan cairan akan
berhubungan dengan diare dengan kriteria hasil: 3. Observasi intake dan output mempengaruhi TTV pasien
1. TTVdalam batas normal cairan setiap 8 jam 3. Mengetahui keseimbangan
- Suhu tubuh (36,5-37,5 4. Anjurkan keluarga untuk cairan
O
C) memberi pasien banyak minum 4. Mengurangi cairan yang hilang
- Nadi (60-120x/menit) 5. Jelaskan pada keluarga tanda- dan mengganti cairan yang
- RR dalam rentang tanda kekurangan cairan hilang
normal 30-60 x/menit) 6. Berikan terapi cairan sesuai hasil 5. Meningkatkan pengetahuan
2. Mukosa lembab kolaborasi orang tua
3. Turgor kulit elastis 6. mengganti cairan yang hilang
4. Kelopak mata tidak cekung
DAFTAR PUSTAKA

Ardiansyah M. 2012. Medikal Bedah Untuk Mahasiswa, DIVA Press, Jogjakarta.


Bets C dan Linda A.S, 2009, Buku Saku Keperawatan Pediatri. Buku Kedokteran
EGC, Jakarta.
Doenges, moorhouse & Burley, 2001, Penerapan Proses Keperawatan dan
Diagnosa Keperawatan, Edisi 2, EGC, Jakarta.
Hidayat Alimul A. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak Buku 2. Selemba
Medika, Jakarta.
Ngastiyah, 2005, Perawatan Anak Sakit Edisi 2, ECG, Jakarta.
Puji Esse, dkk, 2014, Panduan Penulisan Skripsi Edisi 10 Makassar, Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Makassar, Makassar.
Pudiastuti Dewi R, 2011, Waspada Penyakit Pada Anak, PT Indeks, Jakarta.Mc
Closkey, C.J., Iet all, 2012, Nursing Interventions Classification
(NIC) second Edition, IOWA Intervention Project, Mosby.
Moorhead, Sue, et al. 2012. Nursing Ooutcomes Classification (NOC):
Measurement of Health Outcomes Fifth Edition. Elsivier Mosby.
NANDA. 2015. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2015-2017.
Jakarta: EGC.