Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam praktik perpajakan yang tengah hangat didengungkan oleh hampir
seluruh lapisan masyarakat, perbedaan persepsi masyarakat bukanlah hal yang
tidak mungkin. Seringkali suatu aturan pajak mudah dipahami dan diaplikasikan
dengan benar, namun tidak jarang dapat menimbulkan persepsi yang berbeda
apabila terdapat kata atau kalimat yang mempunyai kemiripan namun ternyata
mempunyai perlakuan yang berbeda.
Pajak merupakan salah satu sumber penerimaaan Negara yang digunakan
untuk melaksanakan pembangunan bagi seluruh rakyat Indonesia. Pajak dipungut
dari warga Negara Indonesia dan menjadi salah satu kewajiban yang dapat
dipaksakan penagihannya. Pembangunan nasional Indonesia pada dasarnya
dilakukan oleh masyarakat bersama-sama pemerintah. Pembangunan nasional di
Indonesia memiliki tujuan untuk mensejahterakan masyarakat dari adanya
pembangunan daerah. Biaya pembangunan daerah berasal dari penerimaan daerah
yag berasal dari beberapa sumber, seperti pajak daerah. Oleh karena itu peran
masyarakat dalam pembiayaan pembangunan harus terus ditumbuhkan dengan
meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kewajiban membayar pajak.
Pajak daerah adalah pungutan wajib atas orang pribadi atau badan yang
dilakukan oleh pemerintah daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang
dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang
digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah daerah dan
pembangunan daerah. Oleh sebab itu ppaajk daerah harus dikelola secara
professional dan tranpasaran dalam rangka optimalisasi dan usaha meningkatkan
kontribusinya terhadap anggaran pendapatan dan belanja daerah.
Jenis pajak kabupaten/kota menurut UU No.28 Tahun 2009 tentang pajak
Daerah daRetribusi adalah: (1) pajak hotel, (2) pajak restoran, (3) pajak hibran, (4)
pajak reklame, (5) pajak penerangan jalan, (6) pajak mineral bukan logam dan
batuan, (7) pajak parkir, (8) pajak air tanah, (9) pajak sarang burung walet , (10)
PBB perdesaan dan perkotaan dan (BPHTB). Salah satu pajak daerah yang

1
potensinya semakin berkembang seiring dengan berkembagnya bisnis pariwisata
adalah pajak hotel.
Pajak hotel merupakan pajak daerah dimana penerimaan pajak ini cukup
material untuk menunjang pendapatan asli daerah. Pajak hotel adalah pajak yang
dikenakan atas pelayanan yang disediakan hotel. Hotel secara tidak langsung
memberikan bentuk apresiasi kepada pemerintah daerah dalam menjalankan
pemerintahan, bentuk dari apresiasi tersebut adalah pemenuhan kewajiban
perpajakan daerah. Merupakan suatu mutualisme apabila wajib pajak hotel
memenuhi kewajiban perpajakan, hal ini dikarenakan pajak tersebut nantinya
sebagian akan dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur yang dapat
menunjang peningkatan potensi-potensi penerimaan hotel itu sendiri walaupun
hotel tidak akan menerima kontraprestasi secara langsung dari pembayaran pajak.
Hal tersebut merupakan fungsi bedgetair dari pajak yaitu sebagai sumber dana
pemerintah daerah untuk membiayai pengeluaran-pengeluarannya dalam rangka
mengatisipasi dan dinamika kegiatan masyarakat seirama dengan tuntutan era
globalisasi dan otonomi daerah.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis dapat merumuskan
masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana konsep dasar pajak?
2. Bagaimana konsep dasar pajak hotel?
3. Bagaimana perhitungan untuk pajak hotel?

1.3 Tujuan:
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka makalah memiliki tujuan
sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui dan memahami konsep dasar dari pajak
2. Untuk mengetahui dan memahami konsep dasar pajak hotel
3. Untuk memahami konsep perhitungan pajak hotel

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
Pajak adalah iuran atau pungutan wajib yang dipungut oleh pemerintah
dari masyarakat (wajib pajak) untuk menutupi pengeluaran rutin Negara dan biaya
pembangunan tanpa balas jasa yang dapat ditunjuk secara langsung. Namun
secara logika masyarakat tersebut mempunyai dampak secara langsung terhadap
kesejahteraan masyarakat seperti pembangunan jalan, jembatan, dan tempat-
tempat umum lainnya (Suprianto, 2011).
Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah
dan Retribusi Daerah, Hotel adalah fasilitas penyedia jasa
penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan dipungut bayaran,
yang mencakup juga motel, losmen, gubuk pariwisata, wisma pariwisata,
pesanggrahan, rumah penginapan dan sejenisnya, serta rumah kos dengan jumlah
kamar lebih dari 10 (sepuluh). Pajak hotel adalah pajak atas pelayanan yang
disediakan oleh hotel.
Menurut Peraturan Daerah Kota Depok Nomor 02 Tahun 2002, Hotel
adalah bangunan yang khusus disediakan bagi orang untuk menginap/istirahat,
memperoleh pelayanan dan atau fasilitas lainnya dengan dipungut bayaran
termasuk bangunan lainnya yang menyatu, dikelola dan dimiliki oleh pihak yang
sama, kecuali untuk pertokoan dan perkantoran.

2.2 Fungsi Pajak


Pada umumnya pajak memiliki fungsi tersendiri bagi perekonomian, pajak
memiliki kegunaan dan manfaat untuk kesejahteraan umum.Fungsi pajak menurut
Mardiasmo (2011) dibagi menjadi dua fungsi yaitu:
a. Fungsi Budgetair
Pajak sebagai seumber dana bagi pemerintah untuk membiayai
pengeluaran-pengeluarannya.

3
b. Fungsi Regulered
Pajak sebagai alat untuk mengatur dan melaksanakan kebijaksanaan
pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi (Walakandou, 2013).

2.3 Produk Dan Jasa Hotel


Menurut Kotler, Bowen dan Maken (1999, p. 13) produk hotel dibedakan
menjadi tiga, antara lain:
1. Rooms: single, double, suites, poolsides, cabana;
2. Food and Beverages: minibars, poolside lounges, in-room services,
vending machine, restaurant, cocktail lounge;
3. Special services: executive centre, tour desk, fitness centre.
Selanjutnya, menurut McCleary, Weaver dan Lan (1994, p. 55), atribut-
atribut hotel adalah kriteria- kriteria umum dalam pemilihan sebuah hotel yang
sama pentingnya dengan aspek keamanan dan keselamatan termasuk tersedianya
fasilitas dan pelayanan lainnya yang lebih spesifik. Dapat disimpulkan produk
hotel yang berupa fisik dan jasa atau pelayanan, serta termasuk juga tempat,
orang, organisasi, kegiatan dan ide juga bisa dikatakan sebagai atribut-atribut
yang dimiliki oleh hotel. Atribut hotel dibagi menjadi 12, yaitu:
1. Fasilitas dan layanan bisnis (business services and facilities)
Antara lain terdiri atas: komputer, peralatan audiovisual, layana n
sek retar iat , mesi n photocopy, mesi n fax, konektivitas internet,
concierge floor, kamar suite, layanan kesehatan, prearranged check-in.
2. Fasilitas keamanan (security facilities)
Antara lain terdiri atas: kunci ganda, lubang pengintai, kamera
pengamatan, kunci rantai, penerangan yang baik pada jalan masuk,
penerangan yang baik pada area parkir, sistem penyemprot air, kunci
elektronik.
3. Fasilitas dasar (basic facilities)
Antara lain terdiri atas: matras dan bantal yang nyaman,
pemeliharaan furniture, kualitas handuk yang baik, kebersihan, reputasi
hotel yang baik.

4
4. Layanan pribadi (personal services)
Antara lain terdiri atas: layanan valet, layanan laundry, room
service, layanan bell staff, safety box di dalam kamar, layanan wake-up
call.
5. Tambahan cuma-cuma (free extras)
Antara lain terdiri atas: sarapan pagi kontinental, panggilan telepon
lokal, tidak ada tambahan biaya untuk panggilan jarak jauh, koran, bar dan
lounge.
6. Kenyamanan fasilitas makan (convenient eating facilities)
Antara lain terdiri atas: vending machine, snack bar, restoran
keluarga, game room.
7. Program penghargaan hotel (hotel reward program)
Antara lain terdiri atas: program hotel bagi pelanggan yang sering
menginap di hotel.
8. Kekhasan kamar hotel (room special feature)
Antara lain terdiri atas: meja atau area kerja, kamar bebas rokok,
penerangan yang baik, rekomendasi dari biro perjalanan, kenyamanan
untuk bisnis.
9. Fasilitas bandara atau pertemuan (airport or meeting hotel)
Antara lain terdiri atas: kenyamanan perjalanan ke bandara,
fasilitas pertemuan, layanan banquet
10. Harga murah (low price)
Antara lain terdiri atas: harga murah, restoran yang enak.
11. Periklanan dan parkir (advertising and parking)
Antara lain terdiri atas: impressive advertising, onpremises parking
12. Fasilitas fitness (fitness facilities/recreational facilities)
Antara lain terdiri atas : fasilitas kebugaran dan rekreasi. (Ruly
Naftali lesmana, Damian Dionisius, 2007)

5
2.4 Subjek Pajak Hotel
(Prakosa, 2005) Subyek pajak daerah adalah orang pribadi atau badan
yang dapat dikenakan pajak. Berkaitan dengan pajak hotel maka yang dimaksud
dengan subjek pajak hotel adalah orang pribadi atau badan yang melakukan
pembayaran kepada hotel. Sedangkan yang dimaksud dengan Wajib Pajak Daerah
adalah orang pribadi atau badan yang menurut ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan daerah diwajibkan untuk melakukan membayarkan pajak
yang terutang, termasuk pemungut atau pemotong pajak tertentu.
Pajak hotel dipungut atas pelayanan yang disediakan oleh hotel dengan
pembayaran, termasuk jasa penunjang sebagai kelengkapan hotel yang sifatnya
memberikan kemudahan dan kenyamanan, termasuk fasilitas olahraga dan hiburan
(Dinas Pelayanan Pajak Provinsi DKI Jakarta).

2.5 Objek Pajak Hotel


Dalam bukunya (Prakosa, 2005) dijelaskan objek pajak hotel adalah
pelayanan yang disediakan hotel dengan pembayaran, termasuk:
1. Fasilitas penginapan atau fasilitas tinggal jangka pendek
2. Pelayanan penunjang sebagai kelengkapan fasilitas penginapan atau
tinggal jangka pendek yang sifatnya memberikan kemudahan dan
kenyamanan.
3. Fasilitas olah raga dan hiburan yang disediakan khusus untuk tamu hotel,
bukan untuk umum.
4. Jasa persewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan dihotel.

2.6 Bukan Objek Pajak Hotel


Sedangkan yang tidak termasuk objek pajak hotel adalah:
1. Penyewaan rumah atau kamar, apartemen dan/ atau fasilitas tempat tinggal
lainnya yang tidak menyatu denga hotel.
2. Pelayanan tinggal diasrama, dipondok pesantren
3. Fasilitas olahraga dan hiburan yang disediakan dihotel yang dipergunakan
oleh bukan tamu hotel dengan pembayaran

6
4. Pertokoan, perkantoran, perbankan salon yang dipergunakan oleh umum di
hotel
5. Pelayanan perjalanan wisata yang diselenggarakan oleh hotel dan dapat
dimanfaatkan oleh umum.
Sehubungan dengan objek pajak yang telah diuraikan diatas dimana
semuanya diatur dalam pasal 2, maka pada pasal 3 dinyatakan bahwa yang
menjadi Subjek Pajak Hotel adalah orang pribadi atau badan yang melakukan
pembayaran di hotel. Wajib Pajak Hotel adalah pengusaha hotel yang dalam hal
ini menerima sejumlah pembayaran. Sehingga dapat disimpulkan yang dimaksud
wajib pajak untuk pajak hotel adalah orang atau badan yang membayar atas
pelayanan hotel dan pengusaha hotel. Dimana pembayar hotel merupakan wajib
pajak tidak langsung, sedangkan bagi pengusaha hotel merupakan wajib pajak
langsung karena merupakan wajib pungut. Pengusaha hotel itu berkewajiban
menyetorkan Pajak Hotel ini ke kas daerah.
Dasar Pengenaan Pajak adalah Nilai berupa uang yang dijadikan Dasar
untuk menghitung Pajak yang terutang. Dasar Pengenaan Pajak dalam Pajak
Hotel ini adalah jumlah pembayaran yang dilakukan penyewa ataupun pengguna
kepada hotel.
Berdasarkan Pasal 35 UU No 28 Tahun 2009 mengenai Pajak Daerah dan
Resribusi Daerah, disebutkan bahwa Tarif Pajak Hotel ditetapkan paling tinggi
adalah sebesar 10 % (sepuluh persen) dan selanjutnya tarif tersebut akan
ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Pokok pajak terutang dihitung dengan cara
mengalikan tarif pajak (10%) terhadap dasar pengenaan pajaknya. Dalam tata cara
pemungutan Pajak, Pengusaha Hotel harus menambahkan Pajak Hotel atas
pembayaran pelayanan di Hotel dengan mengenakan tarif pajak. Apabila dalam
pembayaran pelayanan di Hotel, pengusaha tidak menambahkan pajak atas
pembayaran pelayanan maka dalam jumlah pembayaran dianggap telah termasuk
Pajak Hotel (Widuri, 2008).

7
2.6 Jatuh Tempo dan Tata Cara Pembayaran
Dalam pelaksanaannya, saat jatuh tempo pembayaran pajak ditetapkan
oleh Kepala Daerah.Pembayaran pajak dilakukan di Kas Daerah atau tempat lain
yang ditunjuk oleh Kepala Daerah sesuai
Waktu yang ditentukan dalamSKPD, SKPDKB, SKPDKBT dan STPD
;Pembayaran pajak dilakukan dengan menggunakan Surat Setoran Pajak Daerah
(SSPD) dimana bentuk, jenis, isi dan ukuran Surat Setoran Pajak Daerah(SSPD)
ditetapkan oleh Kepala Daerah Pembayaran pajak harus dilakukan sekaligus atau
lunas namun dalam kasus tertentu, Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan
untuk mengangsur pajak terutang dalam jangka waktu tertentu, setelah Wajib
Pajak memenuhi persyaratan yang ditentukan ; Angsuran pembayaran pajak harus
dilakukan secara teratur dan berurutan sesuai ketentuan yang berlaku, dengan
dikenakan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dari jumlah pajak yang belum
atau kurang dibayar; Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan kepada Wajib
Pajak untuk menunda pembayaran pajak sampai batas waktu yang ditentukan
setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan dengan dikenakan bunga 2% (dua
persen) sebulan dari jumlah pajak yang belum atau kurang dibayar ; Persyaratan
untuk dapat mengangsur dan menunda pembayaran pajak serta tata cara
pembayaran angsuran dan ditetapkan oleh Kepala Daerah.

2.7 Tata Cara Pemungutan Pajak


Tata cara pemungutan pajak menurut Mardiasmo (2011:6) terdiri dari:
1. Stelsel nyata (riel stelsel)
Pengenaan pajak didasarkan pada objek (penghasilan yang nyata
sehingga pemungutannya baru dapatdilakukan pada akhir tahun pajak,
yakni setelah penghasilan yang sesungguhnya diketahui.Stelsel
nyatamempunyai kelebihan atau kebaikan dan kekurangan.Kebaikan
stelsel ini adalah pajak yang dikenakan lebihrealistis.Sedangkan
kelemahannya adalah pajak baru dapat dikenakan pada akhir periode
(setelahpenghasilan riil diketahui).

8
2. Stelsel anggapan (fictieve stelsel)
Pengenaan pajak didasarkan pada suatu anggapan yang diatur oleh
undang-undang. Misalnya, penghasilansuatu tahun di anggap sama dengan
tahun sebelumnya, sehingga pada awal tahun pajak sudah dapatditetapkan
besarnya pajak yang terutang untuk tahun pajak yang berjalan. Kebaikan
stelsel ini adalah pajakdapat dibayar selama tahun berjalan, tanpa harus
menunggu pada akhir tahun.Sedangkan kelemahannyaadalah pajak yang
dibayar tidak berdasarkan pada keadaan yang sesungguhnya.
3. Stelsel campuran
Stelsel ini merupakan kombinasi antara stelsel nyata dan stelsel
anggapan.Pada awal tahun, besarnya pajakdihitung berdasarkan suatu
anggapan kemudian pada akhir tahun besarnya pajak disesuaikan dengan
keadaanyang sebenarnya.Bila besarnya pajak menurut kenyataan lebih
besar dari pada pajak menurut anggapan,maka wajib pajak harus
menambah.Sabaliknya, jika lebih kecil kelebihannya dapat diminta
kembali.
2.8 Tarif Pajak
Untuk menghitung besarnya pajak yang terutang diperlukan dua unsur,
yaitu tarif pajak dan dasar pengenaan pajak. Tarif pajak dapat berupa angka atau
presentase tertentu. Tarif pajak dibedakan menjadi:
1. Tarif Tetap: tarif berupa jumlah atau angka yang tetap, berapun jumlah
pengenaan pajak.
2. Tarif Proposional / Sebanding: tarif berupa presentase tertentu yang sifatnya
tetap terhadap berapa pun dasar pengenaan pajaknya. Semakin besar dasar
pengenaan pajak maka semakin besar pula jumlah pajak yang terutang dengan
kenaikan secsara proposional atau sebanding.
3. Tarif Progresif / Meningkat: tarif berupa presentase tertentu yang semakin
meningkat dengan semakin meningkatnya dasar pengenaan pajak.
4. Tarif Degresif / Menurun: tarif berupa presentase tertentu yang semakin
menurun dengan semakin meningkatnya dasar pengenaan pajak. (SevRitni
Pasulu, Heince R.N Wokas, 2015)

9
2.9 Tata Cara Perhitungan Pajak Hotel
Besarnya pokok pajak hotel yang terutang dihitung dengan cara
mengalikan tarif pajak dengan dasar pengenaan pajak. Secara umum perhitungan
pajak hotel adalah sesuai dengan rumus. (Pawiloi, 2014)
Pajak Terutang=Tarif Pajak x Dasar Pengenaan Pajak
Contoh perhitungan pajak Hotel adalah pajak di hitung sendiri oleh wajib
pajak ( selft assessment), misalnya:
Hotel x mendapat omset dalam satu bulan sebesar Rp. 80.000.000,-
Jadi pendapatan Hotel x sebesar Rp.80.000.000,-
Dan tarif pajak Hotel yang ditetapkan pemerintah daerah sebesar 10%
maka besaran pajak terutang yang harusdibayar oleh pengusaha Hotel ke kas
daerah adalah sebagai berikut:
Masa pajak tanggal 1 s/d 30 januari
Dasar pengenaan pajak (jumlah pembayaran Rp.80.000.000,- yang di terima)
Tarif pajak (perda No 1 tahun 2013)10%
Rp.80.000.000,-x10%=Rp.8.000.000,-
Besarnya pajak yang harus dibayar oleh Hotel x adalah sebesar Rp.8.000.000,-
2.10Kriteria Jasa Perhotelan Yang Tidak Dikenakan Pajak Pertambahan Nilai
Selama ini jasa perhotelan masuk salam objek pajak pembangunan yang
dipungut ileh pemerintah daerah. Pada prakteknya sering terdapat
kesalahpahaman mengenai pemungutan pajak jasa perhotelan. Dengan demikian,
PMK No. 43/2015 ini diterbitkan selain untuk mempertegas kelompok jasa yang
dikenai PPN, juga untuk menghindari tumpang tindih pemungutan pajak pada
bidang usaha jasa perhotelan
Kelompok jasa perhotelan yang tidak dikenai PPN meliputi jasa
penyewaan kamar, termasuk tambahannya di hotel, rumah penginapan, motel,
losmen, dan hostel, serta fasilitas yang terkait dengan kegiatan perhotelan untuk
tamu yang menginap, dan jasa penyewaan ruangan untuk kegiatan acara atau
pertemuan di hotel, rumah penginapan, motel, losmen, dan hotel. Yang dimaksud
dengan tambahannya pada jasa penyewaan kamar adalah semua fasilitas
penunjang yang terkait secara langsung dengan jasa penyewaan kamar, antara lain
pelayanan kamar (room service), air conditioning, binatu (laundry and dry

10
cleaning), kasur tambahan (extrabed), funiture dan perlengkapan tetap, telepon,
brankas (safety box), internet, televisi satelit/kabel, dan juga minibar.
Pembebasan pengenaan PPN juga ditetapkan pada fasilitas yang
berhubungan langsung dengan kegiatan jasa penyewaan kamar dan semata-mata
diperuntungkan bagi tamu yang menginap, antara lain fasilitas olahraga dan
hiburan, fotokopi, teleks, faksimili, dan transportasi hotel yang semata-mata
diperuntungkan bagi tamu yang menginap.
Jasa perhotelan yang tidak termasuk dalam kelompok yang dikenai PPN
adalah sebagai berikut:
1. Jasa penyewaan ruangan untuk selain kegiatan acara atau pertemuan di
hotel, rumah penginapan, motel, losmen, dan hostel, di antaranya adalah
penyewaan ruangan untuk Anjungan Tunai Mandiri (ATM), kantor,
perbankan, restoran, tempat hiburan, karaoke, apotek, toko retail, dan
klinik,
2. Jasa penyewaan unit dan/atau ruangan, termasuk tambahannya
diapartemen, kondominium, dan sejenisnya, serta fasilitas penunjang
terkait lainnya, dan
Jasa biro perjalanan atau perjalanan wisata yang diselenggarakan oleh
pengelola jasa perhotelan.

11
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pajak adalah iuran atau pungutan wajib yang dipungut oleh pemerintah
dari masyarakat (wajib pajak) untuk menutupi pengeluaran rutin Negara dan biaya
pembangunan tanpa balas jasa yang dapat ditunjuk secara langsung. Namun
secara logika masyarakat tersebut mempunyai dampak secara langsung terhadap
kesejahteraan masyarakat seperti pembangunan jalan, jembatan, dan tempat-
tempat umum lainnya.
Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah
dan Retribusi Daerah, Hotel adalah fasilitas penyedia jasa
penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan dipungut bayaran,
yang mencakup juga motel, losmen, gubuk pariwisata, wisma pariwisata,
pesanggrahan, rumah penginapan dan sejenisnya, serta rumah kos dengan jumlah
kamar lebih dari 10 (sepuluh). Pajak hotel adalah pajak atas pelayanan yang
disediakan oleh hotel.
Pada umumnya pajak memiliki fungsi tersendiri bagi perekonomian, pajak
memiliki kegunaan dan manfaat untuk kesejahteraan umum.Fungsi pajak menurut
Mardiasmo (2011) dibagi menjadi dua fungsi yaitu: fungsi budgetair dan fungsi
regulered.
Pajak sebagai alat untuk mengatur dan melaksanakan kebijaksanaan
pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi. Dasar pengenaan pajak adalah
jumlah pembayaran yang dilakukan kepada hotel termasuk didalamnya tempat
Kos, Wisma, Pondok wisata dan Gedung pertemuan. Tarif pajak ditetapkan
sebesar 10% (sepuluh persen) dari dasar pengenaan. Tariff pajak dikenakan atas
pembayaran yang dilakukan di hotel termasuk didalamnya Tempat Kos,
apartemen, wisma, Pondok Wisata dan gedung Pertemuan. Dasar pengenaan pajak
hotel adalah jumlah pembayaran yang dilakukan kepada hotel. Pembayaran adalah
jumlah yang diterima atau seharusnya diterima sebagai imbalan atas penyerahan
barang dan/atau jasa sebagai pembayaran kepada pemilik hotel.

12
DAFTAR PUSTAKA

13