Anda di halaman 1dari 66

HABITAT & PENYEBARANNYA

Lobster Air Tawar atau Freshwater Crayfish adalah salah satu genus yang termasuk dalam
kelompok udang (Crustacea) air tawar yang secara alami memiliki ukuran tubuh relatif
besar dan memiliki siklus hidup hanya di lingkungan air tawar. Beberapa nama
internasional lobster air tawar ini adalah crayfish, crawfish, dan crawdad.

Berdasarkan penyebarannya, didunia ini ada 3 famili lobster air tawar, yakni famili
Astacidae, Cambaridae, dan Parastacidae. Lobster air tawar Astacidae dan Cambaridae
tersebar dibelahan dunia utara, sedangkan Parastacidae menyebar di dunia bagian selatan,
seperti Australia, Indonesia bagian timur, Selandia Baru, dan Papua Nugini.

Berdasarkan penelitian dan kajian ilmiah diketahui bahwa habitat alam lobster air tawar
adalah danau, rawa, atau sungai yang berlokasi didaerah pegunungan. Disamping itu,
diketahui pula bahwa lobster air tawar bersifat endemik karena terdapat spesifikasi pada
spesies lobster air tawar yang ditemukan di habitat alam tertentu (native).

Anatomi dan Biologi:

Secara morfologi, spesies- spesies lobster air tawar termasuk dalam genus Cherax, famili
parastacidae, ordodecapoda, kelas malacostraca, subfilum crustacea, dan filum arthopoda.

Umumnya lobster air tawar memiliki ciri- ciri morfologi tubuh terbagi menjadi 2 bagian,
yakni kepala (chepalothorax) dan badan (abdomen). Antara kepala bagian depan dan
bagian belakang dikenal dengan nama sub-chepalothorax. Cangkang yang menutupi kepala
disebut karapak (carapace) yang berperan dalam melindungi organ tubuh, seperti otak,
insang, hati, dan lambung. Karapak berbahan zat tanduk atau kitin yang tebal dan
merupakan nitrogen polisakarida yang disekresikan oleh kulit epidermis dan dapat
mengelupas saat terjadi pergantian cangkang tubuh (molting). Tubuh terbagi dua. Bagian
kepala atau clepalothorax dan badan atau abdomen.
Ciri lain yang terdapat pada lobster air tawar adalah rostrumnya hampir berbentuk segitiga
memipih, lebar, dan terdapat duri di sekeliling rostrum tersebut.

Dilihat dari organ tubuh luar, lobster air tawar memiliki beberapa alat pelengkap sebagai
berikut :
 Sepasang antena yanag berperan sebagai perasa dan peraba terhadap pakan dan
kondisi lingkungan.
 Sepasang antanela untuk mencium pakan, 1 mulut, dan sepasang capit (celiped)
yang lebar dengan ukuran lebih panjang dibandingkan dengan ruas dasar capitnya.
 Enam ruas badan ( abdomen) agak memipih dengan lebar badan rata- rata hampir
sama dengan dengan lebar kepala.
 Ekor. Satu ekor tengah ( telson) memipih, sedikit lebar, dan dilengkapi duri- duri
halus yang terletak disemua bagian tepi ekor, serta 2 pasang ekor samping ( uropod)
yang memipih.
 Enam pasang kaki renang ( pleopod) yang berperan dalam melakukan gerakan
renang. Disamping sebagai alat untuk berenang, kaki renang pada induk betina yang
sedang bertelur memiliki karakteristik memberikan gerakan dengan tujuan
meningkatkan kandungan oksigen terlarut disekitarnya, sehingga kebutuhan oksigen
telur dan larva dapat terpenuhi. Kaki renang juga digunakan untuk
membersihkantelur atau larva dari tumpukan kotoran yang terendap.
 Empat pasang kaki untuk berjalan ( walking legs).

Karakteristik Umum.

Dibanding dengan morfologi tubuh udang galah air tawar (Macrobrachum resenbergii),
ciri-ciri khusus yang dimiliki lobster air tawar sebagai berikut:

 Seluruh proses siklus lobster air tawar dilaksanakan di air tawar.


 Memiliki sistem pengeraman telur dari pengembangan hingga telur menetas.
 Pengasuhan benih dilakukan sejak benih masih memiliki kuning telur hingga
berbentuk juvenil dengan ukuran dan umur tertentu.
 Karakteristik lainnya adalah meningkatnya aktivitas kaki renang terutama saat
mengerami telur atau mengasuh benih. Tingginya aktivitas pergerakan kaki renang
untuk meningkatkan kandungan oksigen terlarut karena baik pada saat terjadinya
pembelahan inti sel (mitosis) hingga terbentuknya sigot dalam telur maupun dalam
penetasan telur hingga dilakukan pengasuhan benih, kebutuhan terhadap oksigen
relatif tingga, sedangkan sumber oksigen hanya berasal dari oksigen terlarut
didalam air sekitarnya.

Lobster air tawar merupakan spesies yang tidak memiliki tulang dalam (internal skeleton),
tetapi seluruh permukaan tubuh dan organ luarnya terbungkus cangkang (externalskeleton).
Proses pembentukan cangkang membutuhkan bahan berupa kalsium dan terjadi setelah
proses pergantian semua cangkang berlangsung secara (molting).

Berkaitan dengan pembentukan cangkang, lobster air tawar memunculkan perilaku yang
dikenal dengan istilah gastrolisasi. Gastrolisasi berlangsung saat pergantian cangkang akan
terjadi, yakni kalsium yang berasal dari sumber pakan yang dikonsumsi, air yang diserap,
dan kalsium hasil kanibal akan ditampung, kemudian ditumpuk didalam bagian depan
lambung, sehingga membentuk lempengan bulat berwarna putih susu yang dikenal dengan
nama gastrolith. Setelah proses molting terjadi secara sempurna, gastrolith akan diserap
kembali sejalan dengan pembentukan cangkang baru yang diikuti oleh pengerasan.

Beberapa jenis Lobster Air Tawar Yang telah berhasil dikembangkan dan dibudidayakan di
Indonesia diantaranya:
Cherax destructor merupakan jenis lobster air tawar (LAT) yang paling dikenal
diantara 100 jenis LAT yang hidup di Australia. Mereka bisa dijumpai mulai dari daerah
New South Wales hingga diselurah dataran benua Australia. Sebaran yang luas
menyebabkan mereka mampu beradaptasi mulai dari daerah dingin di danau-danau berair
dingin pegunungan Snowy, hingga daerah beriklim panas.
Cherax destructor boleh dikatakan merupakan makanan orang suku asli Australia
(aborigin). Setidaknya hal tersebut telah dilakukan sejak 28.000 tahun lalu, berdasarkan
temuan-temuan arkeologis setempat.

Pada umumnya C. destructor dijumpai di danau-danau, rawa rawa, billabong, bendungan,


saluran irigasi, dan juga disungai-sungai. Mereka termasuk tahan banting. Pada musim
kering mereka akan bertahan hidup dengan cara membuat luband didalam tanah. Bahkan
mreka mampu membuat lubang hingga kedalaman 5 meter. Paa saat musim penghujan
mereka kemudian keluar untuk mencari makan, memijah dan bermigrasi.

Di habitat asalnya, C destructor kadang-kadang disalahkan sebagai penyebabnya


runtuhnya bendungan. Hal ini biasanya terjadi apabila dinding bendungan tersebut kurang
dari 2 meter, dan sering terjadi perubahan permukaan air, seperti biasa terjadi di sawah.
Meskipun demikian kejadian demikian jarang dijumpai pada dam-dam yang ketebalan
dindingnya lebih dari 6 meter

Crelax Quadricarinatus: dikenal dengan sebutan Redclaw atau biasa juga disebut
sebagai Yabby Queensland Utara. Disebut red claw karena LAT dewasa jenis ini
mempunyai warna merah pada capit bagian luarnya, khususnya pada LAT jantan. Mereka
umumnya dijumpai di sungai-sungai di Dividing Range.

photo: eFishBusiness
LAT dengan warna dasar hijua-coklat ini, di daerah asalnya merupakan makanan penduduk
setempat. Rasanya lezat apabila disajikan dalam bentuk LAT bakar.

C. quadricarinatus sangat mudah dibedakan dari jenis cherax lainnya. Hal ini dicirikan
dalam nama latinnya yaitu quadricarinatus yang artinya mempunyai empat buah lunas
(quadri=empat, carinatus = carinae, bentukan menyerupai lunas), seperti terlihat pada

gambar berikut:

Procambarus calrkii :berbeda dengan genus cherax yang telah disebutkan diatas,
genus procambarus bukan merupakan LAT asal Australia. Keluarga Cambaridae
merupakan keluarga LAT yang hidup di bagian lintang utara. Procambarus calrkii sendiri
berasal dari daerah Amerika Utara, di Louisiana dan di Delta Missisippi.

P. clarkii mempunyai warna tubuh dominan merah. Oleh karena itu mereka sering disebut
sebagai red swamp crayfish. P. clarkii dewasa berwarna merah gelap, sedangkan P. clarkii
muda berwarna merah kekelabuan. P. clarkii dewasa bisa tumbuh hingga mencapai
panjang 20cm.
Red swap crayfish diketahui mempunyai toleransi lebar terhadap salinitas air, oleh karena
itu mereka bisa dijumpai baik di air tawar maupun air payau. Mereka kerap membuat
lubang pada tepi sungai, rawa, dan tanggul saluran irigasi.

Jenis crayfish ini di daerah asalnya dijadikan sebagai menu santapan Cajun dan
merupakan basis akuakultur di daerah Louisina yang menguntungkan. Mereka juga telah
diperkenalkan keluar daerah asalnya untuk dibudidayakan.

Red swamp crayfish bersifat sangat agresif, teritorial, dan rakus, sehingga mereka bisa
menjadi ancaman bagi hewan lain yang memanfaatkan sumberdaya yang sama. Mereka
bahkan mampu bersaing dengan jenis-jenis crayfish lokal. Sebuah penelitian di Spanyol
menunjukkan bahwa mereka mampu mengubah komunitas tumbuhan pada suatu lahan
basah disana. Oleh karena itu introduksi mereka ke daerah baru perlu diperhatikan dengan
seksama. Sebuah peringatan bahkan pernah dikeluarkan agar Red swamp crayfish, jangan
sampai masuk ke Australia, karena akan dapat menyaingi jenis crayfish aseli yang ada di
negara tersbut. Bagaimana dengan di Indonesia??
TINGKAH LAKU LOBSTER AIR TAWAR

Mengonsumsi Pangan:

Dihabitat aslinya, lobster air tawar aktif mencari pakan pada malam hari (nocturnal). Pakan
lobster air tawar biasanya berupa biji-bijian, ubi-ubian, dan bangkai hewan. Cara memakan
pakan menggunakan tahapan kerja antena panjang mendeteksi bahan pakan terlebih dahulu.
Jika bahan pakan tersebut sesuai dengan keinginannya, lobster akan menangkapnya
menggunakan capit, selanjutnya menyerahkan kepada kaki jalan pertama sebagai tangan
pemegang pakan yang akan dikonsumsi. Lobster air tawar memiliki gigi gigi halus yang
terletak dipermukaan mulut, sehingga cara memakan pakannya sedikit demi sedikit.

Dihabitat alaminya, lobster air tawar biasa mengonsumsi pakan berupa biji- bijian, ubi-
ubian, tumbuhan, hewan yang mati (scavenger), sekaligus memangsa hewan hidup lain dari
kelompok udang. Karena itu lobster air tawar termasuk hewan omnifora. Kebiasaan nyata
yang sering dilakukan adalah mengonsunsi udang- udang kecil yang hidup di habitatnya
atau memangsa hewa anggota cherax itu sendiri, sehingga lobster aur tawar memiliki sifat
kanibal. Jenis pakan yang dapat dikonsumsi induk lobster air tawar diantaranya daging
udang kecil, ubi jalar, dan pelet.

Kebiasaan Reproduksi:

Perilaku lobster air tawar yang cukup menarik untuk diamati adalah aktivitasnya saat
perkawinan hingga muncul juvenil. Tahap awal yang dilaksanakan oleh setiap induk
sebagai berikut.
 Mencari pasangan
 Melakukan percumbuan antar pasangan
 Melakukan perkawinan
 Induk betina mengerami telur
 Induk betina mengasuh benih hingga waktu tertentu

Habitat Alami Lobster Air Tawar:

Secara umum, habitat asli lobster air tawar adalah danau, rawa, atau sungai air tawar yang
hanya terletak di kawasan perairan Papua, Papua Nugini, dan negara- negara bagian
Australia. Habitat berupa danau, rawa, atau sungai yang biasa ditempati dalam
melaksanakan siklus hidup lobster air tawar adalah yang memiliki ciri-ciri khusus, seperti
tepi relatif dangkal dilengkapi dasar yang terdiri dari campuran lumpur, pasir,dan batuan.
Disamping itu habitat alam yang selalu ditempati lobster air tawar juga harus dilengkapi
tumbuhan air atau tumbuhan darat yang memiliki akar atau batang terendam air dan
daunnya berada diatas permukaan air.
Berkaitan dengan kondisi lingkungan habitat alami, beberapa spesies lobster air tawar
hidup dengan suhu air minimum 8°C. Meskipun demikian, banyak pula spesies lobster air
tawar yang hidup dilingkungan dengan suhu air 26-30°C, seperti habitat yang terletak
didaerah dataran rendah.digunakan.

Pengukuran kualitas air yang telah dilakukan menunjukan bahwa didaerah- daerah yang
ditempati populasi lobster air tawar di Indonesia, seperti Danau Klarisifet dan Sungai
Ayamoro di Kabupaten Wamena, Papua, memiliki kandungan oksigen terlarut (02) berkisar
3-5 ppm, karbondioksida (CO2) 30-44 ppm, keasaman (pH) 6,7-7,8, suhu air 18-22°C,
alkalinitas atau kesadahan 82-112 ppm CaCO3, dan amonia kurang dari 1,2 ppm.
Sementara itu beberapa referensi menunjukan bahwa danau, rawa, atau sungai di Australia
memiliki kandungan oksigen terlarut berkisar 3-5 ppm, CO2 50-60 ppm, pH 6,5-8,5, suhu
air 24-30°C, alkalinitas 100-120 ppm CaCO3, dan amonia 0,2-
SYARAT HIDUP LAT

Lobster air tawar (LAT) pada umumnya dapat hidup pada selang parameter air yang
lebar. Mereka diketahui toleran terhadap kandungan oksigen terlarut sangat rendah. Akan
tetapi untuk tumbuh dan berkembang dengan baik tentu tidak akan dapat dilakukan pada
kondisi demikian. Untuk tumbuh dan berkembang dengan baik mereka memerlukan kadar
oksigen terlarut lebih dari 4 ppm.
Untuk kehidupannya, LAT tidak perlu harus terendam air. Selama insangnya dapat tetap
terjaga selalu lembab; mereka dapat menyerap oksigen langsung dari udara dan dapat hidup
dalam keadaan demikian hingga beberapa bulan. Udara yang lembab biasanya sudah
cukup untuk mempertahankan insang mereka tetap lembab. Meskipun demikian untuk
berpijah mereka memerlukan dan harus ada didalam air.
LAT telah bervolusi untuk dapat hidup dalam cuaca kering. Apabila lahan tempat tinggal
mereka kering, LAT akan menggali lubang selaras dengan penurunan permukaan air tanah
yang terjadi , kemudian menutup lubanyang dengan tumpukan tanah bekas galiannya.
Selanjutnya mereka akan tampak berada dalam keadaan dorman. Keadaan ini disebut
sebagai aestivation. Mereka bisa dalam keadaan demikian dalam jangka waktu sangat
lama, hingga air kembali datang ke daerah mereka.

LAT biasa hidup di air keruh, hal ini sangat menguntungkan bagi mereka agar dapat
terhindar dari musuh alaminya. Biasanya mereka hidup pada perairan dengan dasar
berlumpur dengan beberapa bebatuan dan potongan cabang tanaman. Dilaporkan bahwa
LAT yang dipelihara pada lingkungan dengan substrat berbatu dan belumpur memiliki
pertumbuhan lebih cepat dibandingkan dengan mereka yang dipelihara pada substrat
buatan seperti plastik.

Temperatur:

LAT juga toleran terhadap suhu sangat dingin mendekati beku hingga suhu diatas 35 °C.
Meskipun demikian untuk LAT-LAT daerah tropis hendaknya dipelihara pada selang suhu
24 - 30° C Pertumbuhan optimum akan dapat dicapai apabila mereka dipelihara pada
selang suhu 25-29 °C.

pH dan Kesadahan:
.
LAT hidup pada perairan dengan kisarn pH sedikit alkalin yaitu antara 7-9. Mereka jarang
dijumpai berada diperiaran dengan pH kurang dari 7. Sedangkan kesadahan air yang
diperlukan adalah sedang hingga tinggi. Hal ini diperlukan untuk menjaga kandungan
kalsium terlarut cukup tinggi untuk menjamin pembentukan cangkang mereka dengan
baik.
Kualitas air lainnya:
.
Berbagai laporan menunjukkan bahwa LAT muda sensitif terhadap kadar klorin tinggi.
Oleh karena itu sering dianjurkan untuk menuakan air terlebih dahulu sebelum digunakan
untuk LAT.
LAT diketahui pula dapat mengakumulasikan merkuri (Hg) dalam tubuhnya sehingga
mereka sering dijadikan sebagai indikator pencemaran lingkungan. LAT sensitif terhadap
pestidida, terutama dari golongan organoklorin, begitu pula residu-residu minyak. Hal ini
hendaknya menjadi perhatikan bagi mereka yang ingin membudidayakan LAT secara
terbuka, agar terlebih dahulu memeriksa dengan seksama sumber air yang akan digunakan.
PERALATAN YANG HARUS DISIAPKAN

Guna melakukan usaha budidaya lobster air tawa ini ada beberapa perlengkapan dan juga
beberapa peralatan yang harus kita siapkan diantaranya:
Aquarium:
Aquarium yang dibutuhkan untuk pemeliharaan 1 set indukan ( 5 betina dan 3 Jantan )
membutuhkan 3 Aquarium, dimana aquarium pertama untuk penempatan calon indukan,
aquarium kedua guna pengeraman, dan aquarium ketiga guna pemijahan anakan. Gambar
dapat kita lihat sbb:

Airator:
Airator adalah alat untuk mensupply oksigen kedalam aquarium, tapi apabila di kolam
ataupun di tempat pemeliharaan terdapat air mengalir maka airator tidaklah dibutuhkan:

Tempat Sembunyian:
Lobster memiliki sifat sangat pemalu dan tidak menyukai adanya sinar, oleh karenannnya
dibutuhkan tempat sembunyian berupa paralon, roster ataupun bekas tempat terulr untuk
sembunyian lobster:
Filter Air:
Filter air tidaklah wajib, tetapi akan lebih baik apa bila dalam tiap aquarium di tempatkan
filter air agar kondisi air tetap jernih:
CALON INDUKAN

Seleksi Berdasarkan Jenis Kelamin:


Lobster air tawar merupakan spesies dimorfis, yakni terdiri dari jenis kelamin jantan dan
betina. Jenis kelamin jantan dan betina dapat dibedakan secara pasti jika telah mencapai 2
bulan dengan panjang total rata- rata 5 s/d 7cm. Ciri- ciri primer pembeda jenis kelamin
calon induk lobster air tawar adalah bentuk tertentu yang terlletak ditangkai kaki jalan dan
ukuran capit. Sementara itu ciri-ciri sekunder yang dapat dilihat secara visual adalah
kecerahan warna tubuhnya.
Calon induk jantan memiliki tonjolan didasar tangkai kaki jalan ke-5 jika penghitungan
dimulai dari kaki jalan dibawah mulut. Ciri lobster air tawar betina adalah adanya lubang
bulat yang terletak didasar kaki ke-3. Berdasarkan capitnya, calon induk jantan memiliki
ukuran capit 2-3 kali lebar buku pertama (tangkai capit) dan calon induk betina memiliki
ukuran capit yang sama atau 1,5 kali buku pertama.

Perbedaan Jenis Kelamin - Jantan (kiri) dan betina (kanan)

Dilihat dari ciri-ciri sekunder, warna tubuh calon induk jantan lebih cerah dibandingkan
dengan warna dasar tubuh calon induk betina, jika wadah dan perlakuan yang diberikan
dalam pemeliharaannnya sama. Jika perbandingan ini dilakukan dalam lingkungan
pemeliharaan yang berbeda, kecerahan dan tingkat ketajaman dari warna dasar itu akan
berbeda pula. Warnam pigmen dalam cangkang tubuh sangat dipengaruhi oleh warna air,
jenis pakan, dan kandungan dasar pigmen yang dimiliki oleh setiap spesies ikan

Seleksi Ukuran Berdasarkan Umur:

Umumnya lobster air tawar mencapai ukuran rata- rata 100gr setelah berumur 7-8 bulan.
Meskipun demikian ukuran rata2 tersebut sangat tergantung pada berbagai faktor, yakni
jenis dan kandungan protein yang diberikan selama pemeliharaan, kondisi lingkungan;
seperti suhu, oksigen terlarut, pH, alkalinitas, padat tebar, pengunaan arus deras dalam
kolam, ketinggian air, dan keberadaan jantan dan betina dalam satu wadah pemeliharaan.
Untuk menghasilkan calon induk yang baik diperlukan seleksi ukuran panjang total yang
didasarkan pada umur da;lam wadah pemeliharaan. Kriteria seleksi yang harus dilakukan
baik untuk memperoleh calon induk jantan maupun betina adalah dengan mengambil
patokan 25% dari individu dalam populasisebanyak 3 kali. Contohnya, jika diperoleh 100
ekor yang berasal dari pasar atau toko ikan hiasperlu ditanyakan umur danhasil tangkapan
atau hasil produksi sendiri. Jika lobster yang diperoleh merupakan hasil produksi sendiri
dan berumur 2-3 bulan, lakukan pengukuran panjang total dari setiap ekor hingga diperoleh
nilai rata- rata, kemudian dari patokan nilai rata2 itu, ambil 25% yang memiliki ukuran
panjang total tertinggi (yang memiliki ukuran diatas nilai rata- rata). Kegiatan ini dilakukan
berulang sebanyak 3 kali.
Salah satu contoh konkret yang bisa dikaji dalam memperoleh calon indukyang baik adalah
pengalaman dari Australia sebagai berikut:
Sebanyak 10.000 ekor benih lobster air tawar usia 15 hari ditebarkan kedalam kolam tanah
dengan luas 1.000m2 dan kedalaman air 50cm.

Setelah dipelihara selama 2 bulan dan diberi pakan berupa pelet komersial dilakukan
permanen.
Jumlah rata2 hasil panen sekitar 60% atau 6.000 ekor dengan ukuran rata- rata 9,2 gram.
Lima puluh persen dari individu yang berukuran diatas 9,2 gr ditebarkan kembali ke kolam
yang sama. Nilai rata2 yang ditebarkan berkisar 10,8 gr dengan jumlah 3000 ekor.
Setelah pemeliharan kedua dilaksanakan lobster dipanen kembali dan dilakukan
pengukuran nilai rata2nya.Jumlah yang diperoleh dari hasil panen sekitar 2000 ekor dengan
nilai rata- rata 16,8 gr. Seleksi kembali dilakukan hingga diperoleh 25% lobster yang
memiliki nilai rata2 subpopulasi 18,1 gr dan ditebarkan ke kolam yang sama dengan jumlah
500 ekor.

Setelah pemeliharaan mencapai 2 bulan atau 6 bulan dari kegiatan awal, dilakukan
pemanenan, seleksi kelamin dan pengukuran panjang total. Jumlah benih yang diperoleh
dari hasil panen sebanyak 162 ekor jantan dan 122 ekor betina kemudian ditebarkan
kedalam kolam yang terpisah untuk dijadikan calon induk. Nilai rata2 populasi adalah 22,4
gram
TEKNIK PEMBENIHAN:

Teknik Pengelolaan Indukan:

Standar induk lobster air tawar unggulan dapat dicapai dengan baik jika dilaksanakan
seleksi secara individual dari populasi calon induk jantan dan betina yang telah
dipeliharasecara terpisah serta dilakukan pengelolaan. Cormack (1994) menyatakan bahwa
lobster air tawar yang dapat diunggulkan sebagai induk harus berumur 6-7 bulan, belum
mengalami reproduksi, dan memiliki panjang total lebih dari 20 cm. Hal ini disebabkan ada
korelasi positif antara jumlah telur dalam satu individu dan ukuran panjang total, yakni
semakin panjang semakin banyak telur tang diperoleh dalam kondisi lingkungan yang
sama. Sementara itu, dalam kegiatan domestikasi lobster air tawar alam, Balai Budidaya
Air Tawar telah memberikan standar ukuran panjang total calon induk jantan dan betina
lebih dari 18 cm walaupun umur setiap individu lobster belum diketahui secara pasti.

Dalam pengelolaan induk lobster air tawar, kriteria yang harus diperhatikan meliputi
bentuk dan ukuran wadah, tingkat kepadatan awal saat penebaran, standar kualitas air
dalam dalam wadah, serta pengendalian hama dan penyakit.
Dalam pengelolaan induk lobster air tawar spesies Cherax destructor dan Cherax
quadricarinatus, Balai Budidaya Air Tawar menggunakan wadah fibreglass berdiameter 1
m dam akuarium berukuran 40x30x30 cm yang dilengkapi aerator dan PVC 0,5 inci
sebagai alat pemasukan dan pengeluaran air.
Kandungan oksigen terlarut dalam air diupayakan hingga lebih dari 3 ppm CaCO3,
kandungan amonia kurang dari 1 ppm. Sementara itu Balai Budidaya Air Tawar
menggunakan wadah berupa bak besar berukuran 6x2x1 m, bak kecil berukuran 2x1x1 m,
dan fibreglass berdiameter 1 m untuk mengadaptasikan induk lobster air tawar spesies
Cherax sp. alam yang berasal dari Wamena. Standar kualitas air yang digunakan sama
dengan standar kualitas air pada spesies asal Australia.
Cormack (1994) dan Jones ( 1994) menyatakan bahwa pakan yang diberikan kepada induk
lobster air tawar adalah pakan yang memiliki kandungan protein berkisar 40% dan
karbohidrat 10-15%. Alasannya komposisi protein dan karbohidrat didalam pakan tersebut
dapat memberikan peluang tinggi dalam memperoleh jumlah lobster yang banyak dengan
kualitas telur tinggi. Dalam pengelolaan induk lobster air tawar, Balai Budidaya Air Tawar
telah memberikan pakan berupa udang yang dicincang ditambah hancuran pelet komersial
udang laut secara adlibitum dengan frekuensi pemberian pakan 2 kali perhari. Untuk
menghindari tingginya kematian induk akibat tingkah laku kanibal, presentasi pakan yang
diberikan lebih banyak pada malam hari dibanding dengan pagi hari.

Teknik Pemijahan Alami:

Hingga saat ini pemijahan lobster ini masih dilakukan secara alami. Artinya, bahan dan alat
yang digunakan dalam kegiatan pemijahan dipersiapkan oleh manusia, tetapi terjadinya
perkawinan antara induk jantan dan betina tergantung pada daya dukung lingkungan serta
keinginan dan perilaku setiap pasangan untuk melaksanakan reproduksi, sehingga
waktunya tidak dapat ditentukan secara pasti.
Ada 2 teknik yang dapat digunakan untuk melakukan pemijahan alami lobster air tawar,
yakni pemijahan secara masal dan pemijahan secara individu. Dalam pemijahan masal,
persiapan yang perlu dilakukan adalah menyediakan wadah perkawinan berupa bak atau
fibreglass yang dilengkapi dengan instalasi, seperti plastik hitam, aerator, PVC untuk
pemasukan dan pengeluaran air, dan PVC pelindung. Sementara itu, wadah yang digunakan
untuk pemijahan individu adalah Aquarium ukuran 100 x 50 x 40 cm, sebanyak 3 buah, untuk
pemijahan .

Setelah semua persiapan telah dilakukan, tahap kedua adalah pengisian air jernih kedalam
wadah dengan ketinggian permukaan air tertentu, pemasukan udara yang berasal dari
aerator dan penyeleksian induk. Standar ukuran induk jantan dan betina terseleksi yang
digunakan dalam pemijahan masal antara 20-22 cm dengan perbandingan jantan dan betina
3:1 per m2 bak.
Sementara itu, induk jantan dan betina yang digunakan dalam pemijahan alami secara
individu berukuran 16-18cm dengan perbandingan jantan dan betina 1:1 per akuarium.

Dalam mempersiapkan peralatan untuk pemijahan dan pembesaran burayak, perlu


diperhatikan bahwa aquarium tidak boleh kena sinar matahari langsung, usahakan berada
dalam suasana yang teduh dan tenang. Hal ini penting untuk merangsang lobster
melakukan perkawinan, dan lobster mengerami telurnya. Sedangkan bak semen lebih baik
kalau berada di luar ruangan dan dapat sinar matahari, agar tumbuh lumut dan plankton
yang sangat berguna untuk pertumbuhan burayak yang dibesarkan.

Pemijahan lobster air tawar masih dilakukan secara alami, artinya kita siapkan aquarium
perkawinan antara induk betina dan jantan. Dalam aquarium ukuran 100 x 50 x 40 cm, bisa
kita tempatkan lobster sebanyak 4 betina + 2 jantan atau 3 betina + 2 jantan. Aquarium
senantiasa dilengkapi dengan aerator untuk memberi oxygen yang cukup. Atau aquarium
yang dilengkapi dengan sirkulasi filter. Perkawinan biasanya dilakukan pada malam hari,
dan 3 hari kemudian induk betina akan bertelur, ditandai dengan induk betina melipat erat
ekornya guna melindungi telur yang menempel di sirip renangnya.
Hindari ruangan yang terlalu terang dan bising, karena lobster lebih mudah kawin di tempat
yang tenang dan cenderung gelap. Letakkan pralon pvc ukuran 2,5 inci, panjang 12 cm,
untuk tempat berlindung.

Teknik Pengeraman & Pemijahan:

Teknik pengeraman dan penetasan telur lobster air tawar itu tidak terlepas dari karakteristik
biologi reproduksi. Karenanya dalam persiapan wadah dan melaksanakan pengelolaannya
dibutuhkan pengetahuan dan ketrampilan personal yang tinggi.
Dalam perkembangan telur hingga terbentuknya juvenil, ada 3 tahapan kejadian alamiah,

 yakni perkembangan embrio dalam telur (pre-larva)


 perkembangan larva saat diasuh (larva),
 dan saat juvenil lepas dari abdomen (post-larva).

Disamping itu kejadian alam lain yang perlu diketahui adalah tidak banyaknya aktifitas
induk betina, terutama dalam mengonsumsi pakan saat mengerami telur. Berkaitan
dengan fakta alam, strategi yang perlu dilaksanakan sebagai berikut. Induk yang sedang
bertelur harus dipelihara secara terpisah dengan induk yang mengandung telur dan
induk jantan. Pakan yang diberikan relatif sedikit Kualitas air, terutama oksigen
terlarut lebih dari 5 ppm dan fluktuasi suhu air harus rendah.Wadah harus diberi
pelindung yang sesuai dengan jumlah individu. Alasan keempat hal tersebut perlu
dilakukan sebagai berikut:

 Untuk menghindari terjadinya gangguan atau serangan dari luar yang menyebabkan
gangguan fisik
 Menghindari peluang terjadinya kanibal
 Sejak embrio hingga berbentuk juvenil, lobster air tawar membutuhkan oksigen
terlarut yang tinggi
 Agar lingkungan lebih nyaman karena pada fase embrio, nauplius, dan protozoa,
juvenil memiliki karakteristik sensitivitas yang tinggi terhadap perubahan suhu air
 Menghindari terjadinya saling ganggu jika pelaksanaan pengeraman hingga
penetasan telur dilakukan secara masal dalam satu wadah.

Perlakuan Terhadap Lat Yang Sedang Bertelur:

Lat yang sedang bertelurl dapat dijadikan satu dengan Lat betina lain yang sedang
bertelur dalam satu aquarium. Apabila Lat anda perhatikan telurnya sudah berbentuk
seperti juventil ( lat muda ) maka indukan yang sedang bertelur lainnya segera dipindahkan
ke aquarium baru yang lain.
Selama pengeraman ekor lat akan lebih cenderung sering menutup dan melengkung
menutupi telurnnya, kecuali apa bila telur sudah berbentuk juventil maka induk mulai
sering membuka ekornnya.

Setelah juventil sering turun & bermain di sekitar induk, maka juventil harus segera
dirontokkan dari induknnya. Untuk kemudian induk digabungkan kembali dengan yang
jantan. Selama pengeraman telur jantan dan betina jangan dicampur. Setelah perontokkan
selesai, biarkan juventil pada aqurium penetasan. Pemberian makan pada juventil dapat
dilakukan 2 hari sekali, makanan yang diberikan dapat berupa kutu air, plangtonnis,
artemia, cacing sutra & tepung ikan atau pelet yang dihaluskan. Perhatikan kebersihan air
pada juventil, agar juventil tidak mati karena amoniac yang dihasillkan oleh sisa makanan
yang mengendap.
Proses terbentuknya juventil sbb:
1. Pada minggu pertama s/d minggu keduaterlur akan berwarna orange.
2. Pada minggu ketiga warna telur akan berubah menjadi lebih muda & terlihat agak
transparan dibagian tertentu. Disekitar telur muncul 2 titik hitam yang merupakan
bakal mata juventil.
3. Pada minggu keempat juventil muda terbentuk, namun masih sangat lemah
sehingga butuh waktu 2-3hari untuk melakukan perontokkan setelah anda
perhatikan juventil sering bermain diluar perut induk pertama kali

Teknik Pemeliharaan Benih:

Setelah berumur 8-15 hari, rata2 juvenil memiliki bentuk yang sama dengan induknya,

aktif dalam mencari pelindung diri dari gangguan luar, aktif mencari pakan yang berasal
dari luar, dan mulai mengalami molting dalam pertumbuhannya. Teknik pemeliharaan
juvenil dimulai dengan memisahkan induknya. Teknik ini dapat dilakukan dengan
memindahkan induk dari tempat pengeraman dan penetasan telur atau mengembalikan
induk ke bak pemijahan agar melakukan perkawinan kembali. Sementara itu, benih yang
dihasilkan juga dipindahkan ke tempat lain untuk dibesarkan. Burayak umur 7 - 15 hari
sebaiknya dipindahkan ke bak semen ukuran 100 x 100 x 50 cm dengan kedalaman air 25 -
30 cm dan tetap memberikan aerasi yang cukup. Letakkan juga pralon pvc ukuran 5/8 inci
panjang 4 cm sebanyak 100 buah untuk tempat berlindung burayak.
Pakan yang diberikan bisa berupa cacing sutera, pelet udang ukuran D nol, dapnia beku.
Disarankan untuk memberi tambahan calcium/kapur, atau menaruh batu kapur beberapa
buah di aquarium atau bak pembesaran untuk menyediakan calcium yang cukup, karena
sangat dibutuhkan dalam proses moulting. Dalam waktu 14 hari burayak sudah mencapai
ukuran 3 cm (1 inci).
Faktor- faktor yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan benih adalah kedalaman air,
tingkat kepadatan, jenis dan ukuran pakan, kondisi lingkungan, dan pencegahan serangan
penyakit. Secara ilmiah semakin tinggi ukuran organisme yang dipelihara dalam wadah,
akan semakiin rendah kepadatan penebaran dan semakin tinggi kedalaman air dalam bak
pemeliharaan akan semakin tinggi pula tekanan yang diberikan. Karenanya, untuk
menghindari kompetisi ruang dan tingginya tekanan air, jenis wadah pemeliharaanyang
dianjurkan adalah akuarium, fibreglass, atau bak permanen dengan padat penebaran juvenil
yang ideal 20-30 ekor/m2 dan kedalaman air 25 cm.

Untuk memberikan sumber energi yang dapat digunakan dalam pemeliharaan serta
penggantian dan penambahan sel tubuh benih lobster air tawar, jenis pakan yang digunakan
adalah cacahan udang segar, hancuran pelet udang komersial, cacing sutra segar, daphnia
beku, tepung kacang- kacangan, dan sisikan ubi jalar.
Secara ilmiah, pakan berupa cacahan udang segar, cacing sutera segar dan daphnia beku
merupakan sumber protein dan lemak hewani. Sementara itu, tepung kacang- kacangan dan
sisikan ubi jalar merupakan sumber protein dan karbohidrat yang berasal dari sumber
nabati. Kalsium digunakan dalam pembentukan cangkang, sehingga dibutuhkan bahan
pakan mengandung mineral (tepung mineral). Disamping itu, bisa juga dengan memasang
batu kapur didalam wadah pemeliharaan.
PEMANENAN

Teknik Pemanenan Indukan Pemijahan:

Pemanenan induk pemijah meliputi kegiatan penangkapan, penampungan, pemeriksaan,


dan pengadaptasian. Peralatan yang digunakan dalam persiapan pemanenan adalah
scoopnet halus berukuran 20x30 cm dan ember plastik berdiameter 50 cm.
Pemanenan dimulai dengan mengisi ember dengan air jernih hingga kedalaman mencapai
20 cm dan menurunkan air didalam bak atau akuarium hingga permukaannya menjadi 15-
20 cm. Selanjutnya menangkap lobster secara langsung, terutama induk lobster air tawar
yang terdapat didalam PVC dengan cara menutup lubang bagian kiri dan kanan, kemudian
mengangkatnya secara perlahan. Induk yang telah tertangkap dimasukkan kedalam wadah
dengan cara membuka salah satu lubang PVC didalam air. Induk2 lobster yang ada diluar
PVC ditangkap menggunakan scoopnet dibantu tangan. Penangkapan dilakukan dengan
meletakkan scoopnet dibagian ekor dan mengiringnya menggunakan tangan dibagian
kepala.Setelah jumlah induk jantan dan betina yang ditangkap dan ditampung didalam
ember sesuai dengan keinginan, dilakukan seleksi berdasarkan ukuran dan kondisi gonad
dengan jumlah jantan dan betina 1:2 untuk dipindahkan kedalam wadah pemijahan.
Pemanenan harus dilakukan dengan hati- hati. Penangkapan induk harus dilakukan secara
perlahan, sehingga kerusakan fisik, terutama capait atau kaki jalan dapat dihindari. Agar
tidak stres, kepadatan ideal induk jantan dan betina adalah 5-6 ekor per-wadah. Disamping
itu, wadah harus dilengkapi dengan lubang sirkulasi udara, terutama jika lobster berada
didalam penampungan lebih dari 0,5 jam.

Teknik Pemanenan Indukan Yang Sedang Bertelur:

Salah satu akibat perubahan lingkungan yang mendadak adalah membuat induk lobster
yang sedang bertelur terkejut. Karena terkejut, gerakan lobster menjadi tidak beraturan dan
telur yang ada diantara kaki- kaki renang akan berhamburan keluar. Untuk menghindari
lobster terkejut, penangkapan induk yang sedang bertelur tidak boleh menggunakan alat
tangkap, tetapi hanya menggunakan alat tangan.

Gambar: Telur LAT

Tidak disarankan menangkap induk yang berada didalam PVC. Disarankan menangkap
dengan hati- hati dan memanen secara individu. Cara menangkap induk2 yang sedang
bertelur dimulai dengan mengeluarkan induk- induk dari pelindung secara perlahan- lahan,
kemudian menangkapnya secara langsung dengan posisi tangan kiri ada didepan kepala dan
tangan kanan dibagian ekor. Selanjutnya, tangan kanan memegang bagian antara kepala
dan badan.

Setelah Induk ditangkap, kemudian rontokkan juvenil LAT tersebut dengan membiarkan
Lat mengibas-ngibaskan ekornya pada permukaan air Aquarium.

Biarkan LAT tersebut terlepas sendirinya atau dapat juga menggunakan bantuan jari untuk
membantu proses perontokan. Setelah proses perontokan selesai, pisahkan induk LAT
dengan juvenil yang baru dihasilkan tersebut. Kembalikan Indukan kedalam bak atau
aquarium pemijahan, sehingga LAT dapat cepat melakukan perkawinan kembali.

Pemanenan Benih:

Dalam pemanenan benih berukuran 1-2 cm, alat yang digunakan adalah ember plastik 20
liter, scoopnet berukuran 20x10 cm, dan daun pisang atau cabikan plastik ikan, terutama
jika jarak antara wadah pemanenan dan wadah penampungan relatif jauh. Sementara itu,
saat yang baik untuk pemanenan adalah sebelum jam 9 pagi, berda dilingkungan terbuka,
dan hasil panen ditempatkan dalam wadah dengan jumlah maksimum 20 ekor/ wadah.
Cara memanen dimulai dengan menurunkan air didalam wadah kedalaman air tinggal 15-
20 cm. Jika wadah yang digunakan berupa akuarium, cara mengeluarkan air dengan
sifoning dan jika berupa bak atau kolam tanah, tinggal membuka lubang pengeluran.
Setelah itu benih lobster ditangkap menggunakan scoopnet secara perlahan dan hasil
tangkapan dimasukan kedalam ember yang telah dilengkapi air jernih dan alat lain.
Perlu diketahui, tingkat sensitivitas benih berukuran 20 hari terhadap perubahan lingkungan
drastis lebih tinggi dibandingkan dengan ukuran lebih besar. Tingkat sensitivitas juga akan
tinggi pada semua ukuran benih lobster air tawar saat pergantian cangkang (molting)
terjadi.

Proses Molting:

Molting adalah suatu proses pertumbuhan pada LAT yangt dilakukan dengan cara
ganti kulit sesuai dengan badannya yang tumbuh membesar. Moulting merupakan suatu
proses yang rumit, dimana tingkat kematian LAT pada fase ini tidak dapat dihindari.
Kebanyakan kematian pada LAT salah satunya disebabkan oleh kegagalan dalam proses
molting. Dalam proses molting ini banyak melaluiproses-proses bersifat hormonal.
Setidaknya dua jenis hormon diketahui bertanggung jawab terhadap proses molting.
Hormon tersebut adalah hormon Ecdysis dan Molt Inhibiting Hormone ( MIH). Ecdysis
berperan dalam memicu proses molting, sedangkan HIM berfungsi sebaliknnya yaitu
menghambat proses molting itu sendiri.
Dalam proses molting dijumpai pula fenomena khas, yaitu berupa proses
penyerapan kalsium dari kerangka yang disimpan dalam organ khusus dalam perut LAT
yang disebut sebagai Gastrolith. Ciri-ciri LAT yang akan molting adalah sebagai berikut:
 LAT cendrung senang berdiam diri dalam persembunyiannya & kurang aktif.
Kalaupun bergerak mereka tampak lamban dan seperti akan mati.

 Warna kulit lebih cenderung keruh ataupun gelap.


 Terbukanya rostrum, atau rostrum terlihat membengkang.
Sedangkan prosesan Molting itu sendiri secara ringkas terbagi dalam empat tahapan yaitu:
Proecdysis, Ecdysis, Metecdysis dan Intramolting.
 Proecdysis:
Tahapan ini merupakan tahapan persiapan dalam proses molting, dimana sel-sel
epidermis LAT memisahkan diri dari kutikel tua dan mulai menyiapkan diri
membentik kerangka luar baru. Kalsium diserap dari kerangka lama dan disimpan
dalam gastrolith. Pada tahapan ini LAT akan berhenti makan, kebutuhan energinya
selanjutnya diambil alih oleh hepatopancreas yang akan mensuplai energi selama
proses tersebut berlangsung.

 Ecdysis:
Tahapan ini merupakan tahapan dimana LAT melakukan pelepasan dari kerangka
lama. Saat baru keluar kutikel LAT dalam keadaan masih lembut.

 Metecdysis:
Pada tahap ini LAT melakukan pemindahan mineral kalsium dari gastrolith ke
kutikel barunya sebagai bahan kerangka luar. Endokutikel juga terbentuk pada fase
ini.
 Intermolt:
Merupakan fase antar molting. Saat ini kerangka dan pertumbuhan jaringan nyaris
selesai.
Proses molting itu sendiri dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

1 2 3 4

5
Proses moulting pada Lobster dewasa dapat dilihat sbb:
Seperti kita ketahui pada saat proses moulting terjadi biasanya LAT akan menjadi
lemah dan kemungkinan LAT yang sedang moulting dimangsa oleh LAT yang lain
semakin besar. Oleh karenanya di negara Australia dikembangkan sebuah sistem EDU
dimana lobster di tempatkan dalam 1 buah botol. Hal ini dimaksudkan untuk mempertinggi
kemungkinan hidup dari pada lat itu sendiri. Model dari pada alat itu sendiri adalah sbb:
Namun mengingat alat ini harganyapun sangat mahal maka di indonesia dicoba
pengembangan edu dengan sistem botol atau mika plastik. Edu botol ataupun mika
plastik ini adalah dengan menempatkan satu ekor lobster pada satu buat botol bekas aqua
ataupun mika plastik yang sebelumnnya sudah dibolongi sebagai berikut:

Gambar : EDU BOTOL Gambar: EDU MIKA

Disini kami juga mengembangkan salah satu system edu talang yang mungkin dapat
digambarkan sebagai berikut:
Metode Baru Budidaya Lobster
Edu System Model Talang Hujan

Gambar 1 Model Edu Talang Samping 1


Keterangan:
1. Coklat : Rak kayu
2. Biru : Pipa paralon tempat lewat air yang silubangi
3. Abu-abu : Pipa talang kotak ( 15cm x 15 cm x 15 cm ) yang disekat dan
sekat dilubangi
4. Putih : Pompa air
5. Merah : Kran air
Gambar 2 Model Edu Talang Atas

Keterangan :
1. Abu-abu : Pipa Talang Kotak
2. Biru : Pipa paralon tempat lewat air yang silubangi
3. Hijau Muda : Kawat ( mencegah lobster keluar yang dipasang memanjang
sejajar sepanjang talang )
Gambar 2 Model Edu Talang Dengan Fillter

Syestem edu lama yang kita kenal dengan menggunakan botol memang banyak
diterapkan oleh beberapa peternak namun kita menghadapi beberapa kendala diantaranya
kurangnnya airasi, kesulitan dalam pemberian pakan, dan kesulitan dalam membersihkan
tempat pemeliharaannya Metode ini dapat menggunakan 1 mesin pompa diluar apa bila
dalam suatu ruangan kita tempatkan lebih dari 1 rak yang kita susun berjajar kesamping.
Pompa ini saya gunakan selain sebagai penggerak ataupun pendorong air ke atas guna
kemudian dialirkan kembali ke bawah sebagai air pancuran guna memberikan airasi.
Setiap Talang atasnnya saya tutupi dengan kawat yang memanjang agar lobster
tidak dapat melarikan diri atau keluar dari wadah pemeliharaan. Dalam satu talang air yang
panjangnnya 400cm ini mungkin dapat kita bagi menjadi 12 sampai 16 bagian, sehingga 1
bagian nantinya kita isi 1 ekor anakan ukuran 2 inchi dan akan kita biarkan disana terus
hingga ukurannya mencapai 5 inchi. Pemberian pakanpun lebih mudah karena kita cukup
memasukkan lewat jari-jari kawat yang memanjang diatas talang tersebut,. Metode ini juga
saya rasa lebih meminimalisasi penggantian air karena pada gambar 2 model edu talang ini
kita menggunakan filter yang berfungsi menjaga agar air tetap bersih dan kita tidak perlu
membersihkannya terus menerus. Ruang gerak yang terbatas sengaja saya buat agar lobster
tidak terlalu banyak gerak dan hanya mampu maju atau mundur, ide ini saya dapatkan dari
peternakan sapi yang juga menggunakan metode ruang terbatas dalam kandangnnya. Hasil
yang diperolehnnyapun sapi menjadi lebih gemuk karenanya. Metode ini juga dapat
diterapkan diatas kolam sehingga pemanfaatan tanah akan semakin efektif & efesien.
Berbagai Jenis makanan LAT:
1. Kacang tanah, kacang kedelai, kacang merah atau kacang-kacangan yang lain:
2. Cacing tanah, cacing lubrikus & cacing sutra.
3. Umbi-umbian seperti ubi jalar, kentang, wortel dsb.
4. Usus ayam, cincangan bekicot, ikan mati, ikan wader, Yuyu dsb.
5. Selada air, kangkung, kecambah.
6. Pelet sebaiknnya digunakan sebagai selingan saja.
7. Gedebok pisang yang di polong atau dibiarkan membusuk dalam kolam.
Usahakan dalam pemberian makan diselang seling, karena lat memiliki sifat yang mudah
bosan pada satu jenis makanan.
MODEL KOLAM:

Untuk melakukan budidaya lobster air tawar ini sendiri sebenernnya dapat digunakan
berbagai media, diantaranya aquarium, bak fiber, kolam tanah, kolam semen ataupun
tambak. Tingkat kepadatanpun diatur sesuai dengan luas dari pada media yang digunakan.
Disini kita akan membahas beberapa media budidaya lobster air tawar yang ada sbb:
Model Aquarium:
Dalam budidaya lobster air tawar kita dapat menggunakan aquarium dengan ukuran
panjang 80cm X lebar 40cm X tinggi 30cm. Dimana setiap aquarium ditempatkan 1 set
indukan dengan ukuran 4 atau 5 inchi. Aquarium dapat ditempatkan menggunakan rak-rak
yang terbuat dari besi siku. Setiap aquarium ditempatkan 1 titik airrator sebagai supply
oksigen dalam aquarium.
Disetiap ujung atas aquarium sebaiknnya diberikan penjepit untuk menjepit slang airator,
agar lobster tidak dapat merayap naik seperti digambar dibawah ini:

Sebaiknnya lobster yang sedang mengerami telurnnya ditempatkan pada aquarium


tersendiri yang dapat disekat sebagaimana berikut:
Dengan begitu lobster akan merasa aman dan tidak terganggu dari indukan lain yang juga
sedang mengerami telurnnya. Ketika anakan mulai turun dari induknnya barulah anakan
bersenta induknnya di pindahkan dalam aquarium tersendiri, sambil menunggu untuk 2
minngu kemudian anakan dirontokkan dari unduknnya.

Model Bak Fiber:


Bak fiber dapat juga digunakan sebagai media budidaya lobster air tawar, kita juga dapat
mengganti bak fiber dengan drum-drum bekas bahan kimia untuk menekan biaya fibber
yang tentunya sangat mahal.
Model Kolam Tanah Atau Tambak:
Kolam tanah juga dapat digunakan sebagai media budidaya yang murah meriah, dengan
memperhatikan beberapa hal tentunya. Diantaranya ada air mengalir kedalam kolam,
adanya tempat sembunyian, penempatan atau pemasangan karpet plastik di setiap pinggir
kolam agar lobster tidak dapat merayap naik ke luar kolam. Pasokan air haruslah tetap
terjaga masuk dan keluar dari kolam agar, lobster mendapatkan pasokan udara yang baik di
dalam air sehingga memacu lobster untuk makan.

Didalam kolam juga harus ditempatkan tanaman air agar lobster mudah untuk bersembunyi
dan terhindar dari matahari, karena pada dasarnnya lobster kurang menyukai terkena
matahari langsung dan dia lebih cenderung bersembunyi apabila siang hari.
Model Kolam Semen:
Untuk model kolam semen ini tidak ada ketentuan baku tentang ukuran dari pada kolam,
tapi untuk ketinggian kolam mungkin kita cukup menggunakan ketinggian 30cm atau
50cm. Biasanya kolam yang pada umumnnya digunakan adalah dengan ukuran panjang
1m x tinggi 50cm x lebar 1m, panjang 2m x tinggi 50cm x lebar 1m atau panjang 7m x
tinggi 50cm x lebar 5m.
Pada setiap kolam sebaiknnya dibuatkan 1 lubang buangan yang otomatis akan mengurangi
jumlah debit air apabila kolam penuh, kran air guna mengalirkan air masuk dan satu buah
titik airator disetiap m2nya.
Bagian dalam kolam sebaiknnya dipelur halus agar lobster tidak dapat merayap naik
melalui dinding kolam, atau kita dapat menempelkan keramik pada bibir dalam kolam guna
menghindari lobster merayap keluar kolam.
Dalam kolam ataupun bak tempat pemeliharaan anakan sebaiknnya umur 1 minggu sampai
dengan 2 bulan sebaiknnya ditempatkan tanaman air, serabut kelapa ataupun ijuk guna
tempat sembunyian. Hal ini ditujukan agar kemungkinan hidup dari pada lobster akan
semakin tinggi dengan tersediannya tempat sembunyian yang cukup seperti gambar di
bawah ini:
Media ijuk, tanaman air ataupun sabut kelapa dapat juga digantikan dengan media batu
karang yang dibiarkan berserakan di tempat pemeliharaan lobster kita sbb:
Untuk bentuk dari pada kolam sendiri mungkin anda dapat membaut seperti sketsa di
bawah ini:
CARA PACKING DAN PENGIRIMAN LOBSTER AIR TAWAR

cara packing sebenernya banyak, tapi disini saya coba mengangkat sedikit cara packing
yang biasa saya gunakan ataupun umum digunakan oleh beberapa peternak.
Adapun bahan yang harus disediakan adalah:

1. Styrofoam bekas buah


2. Styrofoam kotak
3. Mika kotak
4. Plastik
5. Tissue Reffile
6. Tisu Makan
7. Kapas Filter
8. Isolasi Kertas
9. Lakban
10. Steples
11. Gunting
12. Solder
Cara Packing I Pengemasan Dengan Plastik:

Pada cara packing pertama ini pada dasarnya sama halnya dengan mengemas ikan hias,
dimana kita menggunakan plastic rangkap dua yang didalamnnya diisi air dan ditambahkan
beberapa lembar daun papaya didalamnnya atau campurkan getah pohon atau buah pepaya
muda dalam larutan airnnya . Penggunaan daun papaya ataupun getahnnya ini digunakan
agar lobster tidak mabuk selama perjalanan akibat guncangan. Selain daun papaya perlu
juga ditambahkan sedikit kapas filter agar lobster dapat memanjat keatas permukaan air
untuk mengambil udara, dikarenakan sebenarnnya dalam pengiriman ini lobster hanyalah
membutuhkan kelembaban pada ingsangnya. Pengemasan seperti ini biasanya digunakan
guna mengirim benih lobster keluar kota. Apabila lobster yang akan dikirim sudah cukup
dewasa, sebaiknnya ketinggian air dalam plastic sebaiknnya cukup ½ tinggi lobsternnya
saja.

Plastik yang sudah dimasukkan air dan daun papaya kemudian diisikan oksigen
Ikatlah ujung plastic dengan karet gelang dan masukkan Plastik berisi bibit ataupun lobster
yang akan dikirim kedalam Styrofoam, selanjutnya kemasan tersebut sudah siap diangkut.

Cara Packing II Pengemasan Dengan Styrofoam:

Pengemasan metode kedua ini menurut literature Cara Budi Daya Lobster Air Tawar oleh
R Hondo Wiyanto yang sempet saya baca merupakan cara pengemasan untuk lobster
dewasa ataupun calon indukan, bahan yang digunakanpun cukup sederhana yaitu
Styrofoam dan Kapas Filter. Adapun cara pengemasannya adalah sebagai berikut:

Masukkan kapas filter seukuran dengan besarnnya Styrofoam yang digunakan, kemudian
isikan air setinggi kurang lebih setengah badan lobster atau cukup lembab untuk
membasahi ingsang lobster yang akan dikirimkan. Tambahkan beberapa helai daun papaya
diatasnnya guna mencegah lat mabuk selama perjalanan. Setelah itu Styrofoam siap
ditutup diberi lakban pada samping-sampingnnya untuk kemudian kita dapat
mengirimkannya.

Cara Packing III Pengemasan Dengan Mika Plastik:

Pada cara ketiga ini memang sangat banyak perlengkapan dan bahan yang digunakan untuk
melakukan suatu proses pengiriman, tapi teknik ini juga memiliki beberapa kelebihan
diantaranya:
1. Kondisi lobster yang dikirimkan fisiknnya tidak ada yang patah ataupun rusak
akibat saling capit. Karena saya pernah dan dulunya bahkan sering sekali di protes
oleh beberapa buyer yang memesan dari saya akibat saat mereka terima bagian
badan lobster banyak yang patah akibat saling capit. Karena perlu kita ingat buyer
sangat menyukai fisik lobster yang lebih lengkap lho.
2. Kita dapat mengurangi bobot paket yang kita kirim, dikarenakan pada cara packing
ini air yang digunakan jauh lebih sedikit. Hal ini digunakan karena ada beberapa
cargo yang memang melihat barang ataupun paket yang kita kirimkan berdasarkan
bobotnya.
3. Kita dapat menggunakan Styrofoam bekas buah guna menekan biaya pengiriman,
berapa biaya yang harus kita keluarkan untuk membeli Styrofoam kotak dan
tentunya sangat mahal bukan.

Adapun beberapa alat yang digunakan dalam cara packing ini adalah: Styrofoam bekas
buah, mika kotak makanan, tissue refile, tissue makan, kapas filter, solder, isolasi kertas,
lakban, steples dan gunting.
Langkah awal yang perlu kita lakukan adalah dengan melubangi bagian atas mika dan juga
bagian samping atas mika dengan solder.

Lapisi bagian bawah, samping kiri & kanan bawah serta bagian atas kiri & kanan mika
dengan tissue refiile sehingga membentuk seperti gambar diatas. Media tissue refille dapat
juga digantikan dengan media yang lain seperti tissue makan ataupun kapas filter.
Ketebalan dari pada tissue yang digunakanpun tergantung pada seberapa lama jarak yang
akan ditempuh saat pengiriman. Biasanya saya menggunakan dua helai tissue yang dilipat
sebanyak tiga kali untuk bagian samping atas mika, dua belas helai tissue reffile untuk
bagian bawah dasar mika dan empat helai tissue yang dilipat dua untuk bagian samping
bawah mika. Jangan lupa untuk mensteples tissue yang ditempelkan pada bagian atas kiri
dan kanan serta bagian bawah samping kiri dan kanan agar tissue tidak jatuh ataupun
berubah.
Langkah selanjutnya adalah menyiapkan lobster yang akan dikirim, yaitu dengan
memberikan isolasi kertas pada kedua sisi capitnya. Hal ini tentunya untuk mencegah
saling capit selama perjalanan & sempitnnya mika yang kita gunakan. Memang sangat
lucu jadinya seperti orang yang sedang kita beri sarung tinju bahkan ketika ditaruh didalam
mika maka akan tampak seperti petinju yang siap bertarung didalam ringnya. Tapi walau
tampaknnya menjadi lucu namun lobster dapat sampai di tujuan dengan badan utuh lho
hua…ha…ha….
Cara lain juga dapat digunakan untuk menjaga agar saat pengiriman capit dan badan
lobster tetap utuh, yaitu dengan pemberian gelang pada capit dengan menggunakan slang
airator yang telah kita potong-potong dengan langkah sbb:

Potonglah selang dengan ukuran 1/4cm dimana ukuran slang yang digunakan disesuaikan
dengan besarnnya capit lobster. Setelah itu untuk memasang selang pada lobster, injaklah
lobster dengan ibu jari kaki dan pasangkan gelang pada capitnnya.
Pemasangan slang ini sebenarnnya tidak hanya untuk saat pengiriman, tetapi juga dapat
digunakan pada saat pemeliharaan diaquarium, kolam ataupun tempat lainnya. Tujuannya
adalah agar lobster tidak saling merusak ataupun melukai lobster lainnya.

Pemasangan slang ini dapat dilakukan semenjak lobster berukuran 2,5 inchi, tampa akan
memngganggu kegiatan makan si lobster ataupun ketika lobster berganti kulit.
Basahi tisu dibagian atas mika, dasar dan juga samping secukupnnya sehingga permukaan
tissue menjasi lembab dan becek. Setelah itu masukkan lobster kedalamnnya. Dan staples
bagian samping mika agar lobster tidak keluar selama perjalanan. Satu buah mika biasanya
mampu memuat lobster ukuran 2 inchi sebanyak 25 ekor, 3 inchi sebanyak 20 ekor, 4 inchi
1 set dan 5 inchi 4 sampai dengan 5 ekor.
Untuk media lain sebagai pelembab kita juga dapat menggunakan pembalut wanita dengan
penempatan sebagai berikut:

Susunlah pembalut pada mika yang telah dibolongi bagian atas dan sampingnnya seperti
berikut ini:
Penggunaan pembalit ini lebih menguntungkan dikarenakan ada perekat pada pembalut,
sehingga media pelembab tersebut tidak mudah bergeser ataupun menindihi lobster ketika
packing terbalik dan setelah itu basahi pembalut secukupnnya agar kelembaban selama
pengiriman dapat kita jaga dan lobster dapat bertahan hidup. Penggunaan mika dalam
packing sangat tergantung jumlah susunan yang akan di buat, apabila kita akan membuat
mika menjadi 3 susun maka mika paling bawah usahakan dirangkap 2 sampai dengan 3
mika. Hal tersebut dilakukan agar lobster tidak terhimpit akibat mika tertekan.
Langkah terakhir adalah lapisi Styrofoam bekas buah anggur atau buah pier dengan Koran
untuk kemudian buatlah lobster yang telah kita masukkan dalam mika untuk selanjutnya
kita tutup kemudian di beri plester ataupun lakban dan akhirnya lobster siap kita kirimkan.
Satu Styrofoam bekas buah anggur biasanya mampu memuat 6 kotak mika. Untuk lebih
aman apabila pengiriman diatas 3 jam maka sebaiknnya si samping bagian dalam sterofom
diberi es batu yang dibungkus koran agak tebal agar tidak mudah mencair, tujuan
pemberian es batu adalah untuk menjaga kelembaban selama pengiriman.

Cara Packing IV Pengemasan Indukan Yang Sedang Bertelur:

Pada dasarnya untuk pengemasan ataupun pengiriman indukan yang sedang bertelur
hampir sama dengan metode pertama hanya saja bedanya, pada lapisan bagian dalam yang
dirangkap dua diberi koran sebagai penutup agar lat tidak mudah stress akibat perubahan
cahaya.
Selain itu dalam memasukkan ke dalam plastic sebaiknnya paralon tempat sembunyian lat
tetap di masukkan dalam plastic pengiriman dan pengangkatan sebaiknnya dilakukan
secara perlahan tentunya setelah plastic diisi dengan air, sehingga lat merasa aman dengan
tetap berada di dalam paralonnya. Penggunaan air dalam pengirimanpun sebaiknnya ½
atau ¾ dari badan lobster indukan yang akan kita kirimkan. Gunakanlah Plastik yang
lebarnnya seukuran dengan panjang paralon agar goncangan saat pengiriman dapat
dikurangi.

Untuk langkah selanjutnya hampir sama dengan metode sebelumnnya yaitu pemberian
oksigen, pengikatan ujung plastic dan pengemasan dalam Styrofoam.
USAHA ANALYSA USAHA

KAPASITAS 10 INDUKAN

A. PERALATAN 2.250.000,-

1. Aquarium ukuran 100 x 50 x 40 cm 3 bh 100.000,- 300.000,-


2. Aquarium ukuran 50 x 50 x 40 cm 6 bh 50.000,- 300.000,-
3. Rak besi 3 m: 2 susun 1 bh 400.000,- 400.000,-
4. Bak semen ukuran 100 x 100 x 40 cm 5 bh 200.000,- 1.000.000,-
5. Peralatan: aerator, dll. 1 st 250.000,- 250.000,-

B. INDUKAN LOBSTER 2 Set 5” EKOR 3.000.000,-

C. PAKAN 1 TAHUN (12 BULAN) 420.000,-

(Pakan per bulan)


1. Pelet udang windu D 3 1 kg 10.000,- 10.000,-
2. Pelet udang windu D 0 1 kg 12.500,- 12.500,-
3. Cacing sutera 1 kg 10.000,- 10.000,-
4. Ubi jalar 1 kg 2.500,- 2.500,-

TOTAL BIAYA 5.670.000,-

PENDAPATAN USAHA PER TAHUN Dengan masa panen 16.000.000,-

Lobster bertelur setahun 4 kali; rata-rata anakan yang dihasilkan 200 ekor
setiap indukan. Total anakan umur 45 hari yang dihasilkan 10 indukan x 200
ekor anakan x Rp. 2.000 = Rp. 4.000.000 x 4 = 16.000.000/tahun