Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH PERSPEKTIF KEPERAWATAN ANAK

OLEH

Kelompok 2 :

Fifi Lestari

Risdawati

Syahra Ramadhani

Nurma

Umrah

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

2017/2018
Kata pengantar

Puji dan syukur marilah senantiasa kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT,
karena atas berkah limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyusun
makalah ini dengan baik.Dalam makalah ini, kami membahas mengenai “Perspektif
keperawatan anak”.
Kami mengharapkan pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang
bersifat konstruktif. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk
penyempurnaan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat bagi kita semua.

Samata, 03 April 2018

Penyusun
(kelompok 2)
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................

DAFTAR ISI.............................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.............................................................................................
B. Rumusan Masalah........................................................................................
C. Tujuan…......................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi perspektif keperawatan anak..............................................................
B. Pengertian anak menurut undang-undang......................................................
C. Filosofi keperawatan anak...............................................................................
D. Prinsip keperawatan anak................................................................................
E. Peran perawat dalam keperawatan anak.........................................................
F. Lingkup keperawatan anak........................................................................

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ..................................................................................................
B. Saran ...................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang

Anak adalah individu yang unik dan bukan orang dewasa mini. Anak
juga bukan merupakan harta atau kekayaan orang tua yang dapat dinilai
secarasosia ekonomi, melainkan masa depan bangsa yang berhak atas
pelayanan kesehatan secara individual. Anak adalah individu yang masih
bergantung pada orang dewasa dan lingkungannya, artinya membutuhkan
lingkungan yang dapat memfasilitasi dalam memenuhi kebutuhan dasarnya
dan untuk belajar mandiri.

Keluarga merupakan unsur penting dslsm perawatan anak mengingat


anak bagian dari keluarga. kehiduan anak dapat ditentukan oleh lingkungan
keluarga sebagai tempat tinggal atau sebagai konstanta tetap dalam kehidupan
anak. Sebagai perawat, dalam memberikan pelayanan keperawatan anak,
harus mampu memfasilitasi keluarga dalam berbagai bentuk pelayanan
kesehatan baik berupa pemberian tindakan keperawatan langsung maupun
pemberian pendidikan kesehatan pada anak.

Sebagai perawat, dalam memberikan pelayanan keperawatan anak,


harus mampu memfasilitasi keluarga dalam berbagai bentuk pelayanan
kesehatan baik berupa pemberian tindakan keperawatan langsung maupun
pemberian pendidikn kesehatan pada anak-anak.

B. Rumusan masalah
1. Bagaimana definisi dari perspektif keperawatan anak
2. Bagaimana filosofi keperawatan anak
3. Bagaimana prinsip-prinsip keperawatan anak
4. Bagaimana paradigma keperawatan anak
C. Tujuan penulisan
1. Untuk mengetahui definisi dari perspektif keperawatan anak
2. Untuk mengetahui filosofi keperawatan anak
3. Untuk mengetahui prinsip-prinsip keperawatan anak
4. Untuk mengetahui paradigma keperawatan anak
BAB II

PEMBAHASAN

A. Perspektif Keperawatan Anak

Perspektif keperawatan anak merupakan landasan berpikir bagi seorang


perawat anak dalam melaksanakan pelayanan keperawatan terhadap klien anak
maupun dalam melaksanakan pelayanan keperawatan terhadap klien anak
maupun keluarganya. Isi bahasan perspektif keperawatan anak mencakup
perkembangan keperawatan anak, falsafah keperawatan anak, dan peran perawat
anak.

B. Pengertian Anak

a. Undang-undang Negara Republic Indonesia No. 23 tahun 2002 tentang


perlindungan anak, memberikan definisi : “Anak adalah amanah dan karunia
Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat
sebagai manusia seutuhnya.”

b. Undang-undang Negara Republik Indonesia No. 4 Tahun 1979 tentang


kesejahteraan anak memberikan definisi : “Anak adalah potensi serta penerus
cita-cita bangsa yang dasar-dasarnya telah diletakkan oleh generasi
sebelumnya.”

c. Undang-Undang No.39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia memberikan


definisi : “Anak adalah setiap manusia dibawah 18 tahun dan belum menikah,
termasuk anak dalam kandungan.”

C. Filosofi keperawatan anak

1) Perawatan berfokus pada keluarga

Keluarga merupakan unsur penting dalam perawatan anakmengingat


anak bagian dari keluarga. Kehidupan anak dapat ditentukan oleh lingkungan
keluarga, untukitu keperawatan amak harus mengenal keluarga sebagai tempat
tinggal atau sebagai konstanta tetap dalam kehidupan anak. Keperawatan anak
perlu memperhatikan kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi keluarga karena
tingkat sosial, budaya, dan ekonomi dari keluarga dapat menentukan pola
kehidupan anak selanjutnya. Faktor- faktor tersebut sangat menetukan
perkembangan anak dalam kehidupan di masyarakat.

Perawat yang bertindak sebagai penberi pelayanan keperawatan


hendaknya berfokus pada keluarga, dengan memperhatikan kemampuan dala
menentukan kekuatandan kelemahan sebab kekuatan dan kelemahan, dari
keliarga tersebut dapat dijadikan acuan dalam pemberian pelayanan
keperawatan. Kekuatan dan kelemahan keluarga tersebut dapat juga berupa
fasilitas keluarga dalam merawat anak, tingkat penegtahuan, tingkat ekonomi,
peran atau bentuk keluarga itu sendiri.

Kemudian kehidupan anak juga sangat ditentukan keberadaanya


bentuk dari dukungan keluarga, hal ini dapat terlihat bila dukungan keluarga
yang sangat baik maka pertumbuhan dan perkembangan anak relatif stabil,
tetapi apabila dukungan keluarga pada anak kurang baik, maka anak
mengalami hambatan pada dirinya yang dapat menganggu psikologis anak.

Elemen penting berpusat keluarga yaitu ::

a. Hubungan anak dan orangtua adalah unik, berbeda antara yang satu
dengan yang lainnya. Setiap anak mempunyai karakteristik yang /berbeda
dan berespons terhadap sakit dan perawatan di rumah sakit secara berbeda
pula. Demikian pula orangtua mempunyai latar belakang individu yang
berbeda dalam berespon terhadap kondisi anak dan perawatan di rumah
sakit.
b. Orangtua dapat memberikan asuhan yang efektif selama hospitalisasi
anaknya.
c. Kerjasama dalam model asuhan adalah fleksibel dan menggunakan konsep
dasar asuhan keperawatan anak.
d. Keberhasilan dari pendekatan ini tergantung pada kesepakatan tim
kesehatan untuk mendukung kerjasama yang aktif dari orangtua.
Kesepakatan untuk menggunakan pendekatan family centered tidak cukup
hanya dari perawat tetapi juga seluruh petugas yang ada.
Manfaat penerapan family centered care adalah sebagai berikut:
a. Hubungan tenaga kesehatan dengan keluarga semakin menguat dalam
meningkatkan kesehatan dan perkembangan setiap anak.
b. Meningkatkan pengambilan keputusan klinis berdasarkan informasi yang
lebih baik dan proses kolaborasi.
c. Membuat dan mengembangkan tindak lanjut rencana perawatan
berkolaborasi dengan keluarga.
d. Meningkatkan pemahaman tentang kekuatan yang dimiliki keluarga dan
kapasitas pemberi pelayanan.
e. Penggunaan sumber-sumber pelayanan kesehatan dan waktu tenaga
profesional lebih efisien dan efektif (mengoptimalkan manajemen
perawatan di rumah, mengurangi kunjungan ke unit gawat darurat atau
rumah sakit jika tidak perlu, lebih efektif dalam menggunakan cara
pencegahan).
f. Mengembangkan komunikasi antara anggota tim kesehatan.
g. Persaingan pemasaran pelayanan kesehatan kompetitif. Meningkatkan
lingkungan pembelajaran untuk spesialis anak dan tenaga profesi lainnya
dalam pelatihan-pelatihan.
Beberapa prinsip Family Centered Care meliputi:
a. Menghormati setiap anak dan keluarganya. Perawat dalam melaksanakan
asuhan keperawatan pada anak menghormati anak dan keluarga sebagai
subjek perawatan. Perawat menghormati anak dan keluarga memiliki
pilihan yang terbaik bagi perawatan mereka.
b. Menghargai perbedaan suku, budaya, sosial, ekonomi, agama, dan
pengalaman tentang sehat sakit yang ada pada anak dan keluarga. Perawat
menghargai perbedaan suku, budaya, sosial ekonomi, agama dan
pengalaman tentang sehat sakit anak dan keluarga dalam memberikan
asuhan keperawatan. Pelayanan yang diberikan mengacu kepada standar
asuhan keperawatan dan diperlakukan sama pada semua pasien dan
keluarga.
c. Mengenali dan memperkuat kelebihan yang ada pada anak dan keluarga.
Mengkaji kelebihan keluarga dan membantu mengembangkan kelebihan
keluarga dalam proses asuhan keperawatan pada klien.
d. Mendukung dan memfasilitasi pilihan anak dan keluarga dalam memilih
pelayanan kesehatannya. Memberikan kesempatan kepada keluarga dan
anak untuk memilih fasilitas kesehatan yang sesuai untuk mereka,
menghargai pilihan dan mendukung keluarga.
e. Menjamin pelayanan yang diperoleh anak dan keluarga sesuai dengan
kebutuhan, keyakinan, nilai, dan budaya mereka. Memonitor pelayanan
keperawatan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan, nilai, keyakinan
dan budaya pasien dan keluarga.
f. Berbagi informasi secara jujur dan tidak bias dengan anak dan keluarga
sebagai cara untuk memperkuat dan mendayagunakan anak dan keluarga
dalam meningkatkan derajat kesehatan. Petugas kesehatan memberikan
informasi yang berguna bagi pasien dan keluarga, dengan benar dan tidak
memihak. Informasi yang diberikan harus lengkap, benar dan akurat.
g. Memberikan dan menjamin dukungan formal dan informal untuk anak dan
keluarga. Memfasilitasi pembentukan support grup untuk anak dan
keluarga, melakukan pendampingan kepada keluarga, menyediakan akses
informasi support grup yang tersedia dimasyarakat.
h. Berkolaborasi dengan anak dan keluarga dalam penyusunan dan
pengembangan program perawatan anak di berbagai tingkat pelayanan
kesehatan. Melibatkankeluarga dalam perencanaan program perawatan
anak, meminta pendapat dan ide keluarga untuk pengembangan program
yang akan dilakukan.
i. Mendorong anak dan keluarga untuk menemukan kelebihan dan kekuatan
yang dimiliki, membangun rasa percaya diri, dan membuat pilihan dalam
menentukan pelayanan kesehatan anak. Petugas kesehatan berupaya
meningkatkan rasa percaya diri keluarga dengan memberikan pengetahuan
yang keluarga butuhkan dalam perawatan anak

2) Atraumatic care
Atraumatic care yang dimaksud disini adalah perawatan yang tidak
menimbulkan adanya trauma pada anak dan keluarga.erawatan tersebut
difokuskan dalam pencegahan terhadap trauma yang merupakan bagian dalam
keperawatan anak.perhatian khusus kepada anak sebagai individu yang masih
dalam usiatumbuh kembang, sangat penting karena masa anak merupakan
proses menuju kematangan.
Beberapa kasus yang sering dijumpai di masyarakat seperti peristiwa
yang dapat menimbulkan trauma pada anak adalah cemas, marah, nyeri, dan
lain-lain. Apabila hal tersebut dibiarkan dapat menyebabkan dampak
psikologis pada anak dan tentunya akan mengganggu perkembangan anak.
Dengan demikian atraumatic care sebagai bentuk perawatan terapeutik dapat
diberikan kepada anak dan keluarga dengan mengurangi dampak psikologis
dari tindakan keperawatan yang diberikan, seperti memperhatikan dampak
tindakan yang diberikan dengan melihat prosedur tindakan atau aspek lain
yang kemungkinan berdampak adanya trauma.untuk mencapai perawatan
tersebut beberapaprinsip yang dapat dilakukan oeh perawatan antara lain :
a) Menurunkan atau mencegah dampak perpisahan dari keluarga
Dampak perpisahan dari keluarga, anak mengalami gangguan
psikologis seperti kecemasan, ketakutan, kurangnya kasih sayang gangguan
ini akan menghambat proses penyembuhan anak dan dapat menganggu
pertumbuhan dan perkembangan anak.
b) Meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan pada anak
Melaui peningkatan kontrol orang tua pada diri anak diharapkan anak
mampu mandiri dalam kehidupannya. Anak akan selalu berhati-hati dalam
melakukan aktifitas sehari-hari, selalu bersikap waspada dalam segala hal.
Serta pendidikan terhadap kemampuan dan keterampilan orang tua dalam
mengawasi perawatananak.
c) Mencegah atau mengurangi cedera (injury) dan nyeri (dampak psikologis)
Mengurangi nyeri merupakan tindakan yang harus dilakukan dalam
tindakan keperawatananak. Proses pengurangan rasa nyeri sering tidak bisa
dihilangkan secara cepat akan tetapi dapat dikurangi melalui berbagai tehnik
misalnya distraksi, relaksasi, imaginary.

d) Tidak melakukan kekerasan pada anak


Kekerasan pada anak akan menimbulkan gangguan psikologis yang
sangta berarti dalam kehidupan anak. Apabila ini terjadi padasaat anak dalam
proses tumbuh kembang maka kemungkinan pencapaian kematangan akan
terhambat, dengan demikian tindakan kekerasan pada anak sangta tidak
dianjurkan karena akan memperberat kondisi anak.
e) Modifikasi lingkungan fisik
Melalu modifikasi lingkungan fisik yang bernuansa anak dapat menigkatkan
keceriaan, perasaan aman, dan nyaman bagi lingkungan anak sehingga anak
selalu berkembang dan merasa nyaman di lingkungannya. (Aziz Alimul
Hidayat, 2009)

Asuhan terapeutik mencakup pencegahan, diagnosis, penanganan atau


penyembuhan kondidi akut dan kronis. Tujuan utama dalam perawatan atraumatik
adalah tidak melukai. 3 prinsip yang memberikan kerangka kerja untuk mencapai
tujuan ini adalah :
a. mencegah atau meminimalkan perpisahan anak dari keluarganya
b. meningkatkan rasa kendali
c. mencegah atau meminimalkan nyeri dan cedera pada tubuh
hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan ini yakni :
a. mengembangkan hubungan anak orang tua selama dirawat di rumah sakit
b. menyiapkan anak sebelum pelaksanaan terapi dan prosedur yang tidak
dikenalnya
c. mengendalikan perasaan sakit
d. memberikan privasi pada anak
e. memberikan aktivitas bermain untuk mengungkapkan ketakutan dan
permusuhan
f. menyediakan pilihan untuk anak-anak dan menghormati perbedaan budaya

3). Manajemen Kasus


Pengelolaan kasus secara komprehensif adalah bagian utama dalam
pemberian asuhan keperawatan secara utuh, melalui upaya pengkajian, penentuan
diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dari berbagai kasus baik yang akut
maupun kronis. Pendekatan psikologis yang dilakukan dengan mempersiapkan secara
fisik, memberi kesempatan orang tua dan dan menciptakan lungkungan yang nyaman
bagi anak dan orang tua dan berprinsip pada upaya pencegahan, penungkatan
kesehatan yang merupakan tanggung jawab perawat.

Kemampuan perawat dalam mengelola kasus secara baik tentu berdampak


dalam proses penyembuhan pada anak mengingat anak memiliki kebutuhan yang
spesifik dan berbeda satu dengan yang lain. Keterlibatan orang tua dalam pengelolaan
kasus juga dibutuhkan, karena proses perawatan di rumah adalah bagian tanggung
jawabnya dengan meneruskan program perawatan di rumah saki. Pendidikan dan
keterampilan mengelola kasus pada anak selama di rumah sakit, akan mampu
memberikan keterlibatan secara penuh bagi keluarga.

D. Prinsip-prinsip keperawatan anak

Terdapat prinsip atau dasar dalam keperawatan anak yang dijadikan sebagai
pedoman dalam memahami filosofi keperawatan anak. Perawat harus memahaminya,
mengingat ada beberpa prinsip yang berbeda dalam penerapan asuhan. Diantara
prinsip dalam asuhan keperawatan anak tersebut adalah :

1. Anak bukan miniatur orang dewasa tetapi individu yang unik. Prinsip dan
pandangan ini mengandung arti bahwa tidak boleh memandang anak dari
ukuran fisik saja sebagaimana orang dewasa melainkan anak sebagai individu
yang unik yang mempunyai pola pertumbuhan dan perkembangan menuju
proses kematangan. Pola-pola inilah yang harus dijadikan ukuran, bukan
hanya bentuk fisiknya saja tetapi kemampuan dan kematangannya.
2. Anak adalah sebagai individu yang unik dan mempunyai kebutuhan yang
sesuai dengan tahap perkembangan sebagai individu yang unik anak memiliki
berbagai kebutuhan yang berbeda satu dengan yang lain sesuai dengan usia
tumbuh kembang. Kebutuhan tersebut dapat meliputi kebutuhan fisiologis
seperti kebutuhan nutrisi dan cairan, aktifitas, eliminasi, istirahat, tidur dan
lain-lain. Selain kebutuhan fisiologis tersebut, anak juga sebagai individu
yang juga membutuhkan kebutuhan psikologis, sosoal dan spiritual. Hal
tersebut dapat terlihat pada tahap usia tumbuh kembang anak.
3. Pelayanan keperawatan anak berorientasi pada upaya pencegahan penyakit
dan peningkatan derajat kesehatan, bukan hanya mengobati anak yang sakit.
Upaya pencegahan penyakit dan peningkatan derajat kesehatan bertujuan
untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian anak, mengingat anak
adalah generasi penerus bangsa.
4. Keperawatan anak merupakan disiplin ilmu kesehatan yang berfokus pada
kesejahteraan anak sehingga perawat bertanggung jawab komprehensip dalam
memberikan asuhan keperawatan anak. Untu mensejahterahkan anak,
keperawatan selalu mengutamakan kepentingan anak. Anak dikatakan
sejahtera berarti anak tidak merasakan gangguan psikologis, seperti rasa
cemas, takut maupun sejenisnya.
5. Praktik keperawatan anak mencakup kontrak anak dan keluarga untuk
mencegah, mengkaji, menginterpensi dan meningkatkan kesejahteraan hidup,
dengan menggunakan proses keperawatan yang sesuai dengan aspek moral
(etik) dan aspek hukum (legal).
6. Tujuan keperawatan anak dan remaja adalah untuk menignkatkan maturasi
dan kematangan yang sehat bagi anak dan remaja sebagai makhluk
biopsikososial dan spiritual dalam konteks keluarga. Uapaya kematangan pada
adalah selau memperhatikan lingkungan baik secara internal maupun
eksternal karena kematangan anak samgta ditentukan oleh lingkungan yang
ada, baik anak sebagai individu maupun anak sebagai bagian dari masyarakat.
7. Pada masa yang akan datang kecenderungan keperawatan berfokus pada ilmu
tumbuh kembang sebab ilmu tumbuh kembang ini yang akan mempelajari
aspek kehidupan anak.
E. Paradigma keperawatan anak

1. Manusia (anak)

Manusia sebagai klien dalam keperawatan anak adalah individu yang berusia
antara 0-18 tahun, yang sedang dalam proses tumbuh kembang, mempunyai
kebutuhan yang spesifik (fisik, psikologis, social dan spiritual) yang berbeda
dengan orang dewasa. Kebutuhan fisik/biologis anak mencangkup makan,
minum, udara, eliminasi, tempat berteduh dan kehangatan. Secara psikologis anak
membutuhkan cinta dan kasih saying, rasa aman atau bebas dari ancaman. Anak
membutuhkan disiplin dan autoritas untuk menghindari bahaya, mengembangkan
kemampuan berpikir, dan bertindak mandiri. Anak juga membutuhkan
kesempatan untuk belajar berpikir dan membuat keputusan secara mandiri. Untuk
pengembangan harga diri, akan membutuhkan penghargaan pribadi terutama pada
usia 1-3 tahun (toddler), penghargaan merupakan pengalaman positif dalam
membentuk harga diri. Untuk itu diperlukan penerimaan dan pengakuan dari
orang tua dan lingkungannya. Ecara social anak membutuhkan lingkungan uang
dapat memfasilitasinya, untuk berinteraksi dan mengekspresikan ide/pikiran dan
perasaannnya, sedangkan secara spiritual anak membuthkan penanaman nilai
agama dan moral serta nilai budaya sebagai anggota masyarakat timur.

2. Sehat

Sehat dalam keperawatan anak adalah sehat dalam rentang sehat-sakit. Sehat
adalah keadaan kesejahteraan optimal antara fisik, mental, dan social yang harus
dicapai sepanjang kehidupan anak dalam rangka mencapai tingkat pertumbuhan
dan perkembangan yang optimal sesuai dengan usianya. Dengan demikian,
apabila anak sakit, hal ini akan memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
fisik, psikologis, intelektual, social, dan spiritual.

3. Lingkungan

Lingkungan terdiri atas lingkungan internal dan lingkungan eksternal, dan


dapat memengaruhi kesehatan anak. Lingkungan internal, yatu genetic
(keturunan), kematangan biologis, enis kelamin, intelektual, emosi, dan adanya
predismposisi atau resistensi terhadap penyakit. Lingkungan eksternal, yaitu
status nutrisi, orang tua, saudara kandung, masyarakat/kelompok sekolah,
kelompok/geng, disiplin yang ditanamkan orang tua, agama, budaya, status social
ekonomi, iklim, cuaa sekitar dan lingkungan fisik atau biologis baik di rumah
maupun sanitasi di sekelilingnya.

4. Keperawatan

Focus utama dalam pelaksanaan pelayanan keperawatan adalah peningkatan


kesehatan dan pencegahan penyakit, dengan falsafah yang utama, yaitu asuhan
keperawatan yang berpusat pada keluarga dan perawatan yang terapeutik. Selama
proses asuhan keperawatan dijalankan, keluarga dianggap sebagai mitra bagi
perawat dala rangka mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak. Dua
konsep yang mendasari dalam kerja sama orang tua perawat ini adalah
memfasilitasi keluarga untuk aktif terlibat dalam asuhan keperawatan anaknya di
rumah sakit dan memberdayakan kemampuan baik dari askpek pengetahuan,
keterampilan, maupun sikap dalam melaksanakan perawatan anaknya di rumah
sakit, melalui interaksi yang terapeutik dengan keluarga.

F. Peran perawat anak

Beberapa peran penting seorang perawat anak yaitu sebagai berikut :

1. Membina hubungan terapeutik


Hubungan terapeutk merupakan pondasi penting dalam meberikan asuhan
keperawatan yang berkualitas. Hal yang penting bagi perawat dalam membina
hubungan ini yakni perawat harus dapat memisahkan anatara perasaan dan
kebutuhan mereka.

2. Advokasi keluarga

Bersama keluarga perawat mengidentifikasi kebutuhan anak, tujuan dan


merencanakan intervensi keperwatan yang cocok untuk memenuhi kebuthan
anak dan menelesaikan masalah yang berkaitan dengan pertubuhan dan
perkembangan anak. Perawat bertanggung jawab untik memastikan bahwa
keluarga mengetahui semua pelayanan kesehatan tersedia, menjelaskan
prosedur dan pengobatan, mengikut sertakan dalam perawatan anak dan
menganjurkan perubahan.

3. Promosi kesehatan

Tren pelayanan kesehatan masa depan adalah kearah pencegahan penyakit dan
pemeliharaan kesehatan, bukan perawatan penyakit atau ketidakmampuan.
Keperawatan telah menyesuaikan perubahan ini, terutama dalam lingkup
kesehatan anak.

4. Penyuluhan kesehatan

Penyuluhan kesehatan merupakan suatu bidang yang harus disiapkan oleh


perawat dan model peran kompeten, karena penyuluhan ini melibatkan
transmisi informasi pada tingkat emahaman anak dan keluarga dan kebutuhan
mereka terhadap informasi. Sebagari pendidik yang efektif, perawat berfokus
pada pemberian penyuluhan kesehatan yang tepat dengan umpan balik dan
evaluasi yang tulus untuk meningkatkan pembelajaran.

5. Konselor
Konseling melibatkan dukungan, penyuluhan, tekhnik untuk mendorong
ekspresi, perasaan dan pikiran, dan pendekatan untuk membantu keluarga
membatasi stress. Secara optimal, konselig tidak hanya membantu krisis atau
masalah tetapi juga memampukan keluarga untuk mendapatkan tingkat fungsi
lebih tinggi, harga diri, dan hubungan yang lebih dekat.

6. Restorative

Aspek penting dari restorasi kesehatan adalah pengkajian dan evaluasi status
fisik yang berkesinambungan. Focus utamanya adalah pengkajian fisik,
patofisiologi, dan rasional ilmiah atas terapi yang diberikan. Perawat harus
mengetahui temuan normal untuk mengidentifikasi dan mendokumentasikan
penyimpangan. Hal yang penting diperhatikan oleh perawat pediatric yakni
mengenali kebutuhan emosi dan perkembangan individu anak, yang dapat
sangat mempengaruhi perjalanan proses penyakit.

7. Koordinasi/kolaborasi

Perawat, sebagai anggota tim kesehatan berkolaborasi dan mengkoordinasi


pelayanan keperawatan dengan aktivitas professional lain. Bekerja sendirian
tidak memberikan hal yang terbaik bagi anak. Konsep “asuhan holistic” hanya
dapat direalisasi melalui penyatuan pendekatan interdisipin.

8. Pengambil keputusan etik

Dilemma etis muncul ketika pertentangan dari pertimbangan moral mendasari


berbagai alternative. Orang tua, dokter, perawat, dan anggota tim pelayanan
kesehatan dapat memperoleh keputusan berbeda tetapi dapat dibenarkan
secara moral menempatkan pertimbangan berbeda pada nilai oral yang
menetangnya. Pertentangan nilai moral meliputi autonomi, nonmalaficience,
beneficience, nan justice.
9. Peneliti

Perawat pelaksana harus berperan pada riset karena mereka adalah individu
yang mengamati respon manusia terhadap kesehatan dan kesakitan.
Penekanan saat ini pada hasil yang dapat diukur untuk menentukan efektifitas
intervensi, menuntut perawat mengetahui apakah intervensi klinis
menimbulkan hasil positif untuk klien mereka. Tuntutan ini telah
mempengaruhi tren kea rah praktik berdasarkan penelitian.

G. Lingkup Keperawatan Anak

1. Kebutuhan emosi/kasih sayang (Asih)

Cinta dan kasih sayang merupakan salah satu kenutuhan psikis yang harus
terpenuhi dalam rangka anak tumbuh dan berkembang secara normal. Tujuan
cinta dan kasih saying adalah mendapatkan anak yang sehat baik fisik maupun
mental dan membina ikatan emosional antara orang tua dan anak. Sentuhan fisik
pada anak sejak kecil (bayi) meliputi : tingkah laku, pelukan, belaian, ciuman.
Lingkungan rasa cinta dan kasih saying dapat berupa : anak dapat diterima
sebagai mana adanya, kebutuhan cinta kasih saying sama besarnya dengan
kebutuhan fisik dan makanan, harus dipenuhi sejak kecil sehingga anak dapat
memberi cinta dan kasih saying terhadap sesamanya, cinta dan kasih saying ibarat
fundamen pendidikan secara keseluruhan, cara ungkapan cinta harus terbuka, cara
lain memperlihatkan contoh yang baik pada orang tua dan hubungan cinta kasih
antara ibu dan anak.

Pemenuhan kebutuhan emosi dan kasih saying dapat dimulai sedini mungkin.
Bahkan sejak anak berada dalam kandungan, perlu diupayakan kontak psikologis
antara ibu dan anak, misalnya dengan mengajak berbicara/mengelusnya. Setelah
lahir upya tersebut dapat dilakukan dengan mendekapkan bayi ke dada ibu segera
setelah lahir. Ikatan emosi dan kasih sayang yang erat antara ibu/orang tua
sangatlah penting, karena berguna untuk menentukan perilaku anak di kemudian
hari, merangsang perkembangan otak anak, serta merangsang perhatian anak
terhadap dunia luar. Kebutuhan asih meliputi :

1) Kasih sayang orang tua

Orang tua yang harmonis akan mendidik dan membimbing anak denga penuh
kasih sayang. Kasih saying tidak berarti memanjakan atau tidak pernah
memarahi, tetapi bagaimana orang tua menciptakan hubungan yang hangat
dengan anak, sehingga anak merasa aman dan senang.

2) Rasa aman

Adanya interaksi yang harmonis antara orang tua dan anak akan memberikan
rasa aman bagi anak untuk melakukan aktivitas sehari-harinya.

3) Harga diri

Setiap anak ingin diakui keberadaan dan keinginannya. Apabila anak


diacuhkan, maka hal ini dapat menyebabkan frustasi.

4) Dukungan dan dorongan

Dalam melakukan aktivitas, anak perlu memperoleh dukungan dari


linkungannya. Apabila orang tua sering melarang aktivitas yang akan
dilakukan, maka hal tersebut dapat menyebabkan anak ragu-ragu dalam
melakukan setiap aktivitasnya. Selain itu, orang tua perlu memberikan
dukungan agar anak dapat mengatasi stressor atau masalah yang dihadapi.

5) Mandiri

Agar anak menjadi pribadi yang mandiri, maka sejak awal anak harus dilatih
untuk tidak selalu tergantung pada lingkungannya. Melatih anak untuk
mandiri tentunya harus menyesuaikan dengan kemampuan dan perkembangan
anak.

6) Rasa memiliki

Anak perlu dilatih untuk mempunyai rasa memiliki terhadap barang-barang


yang dimilikinya, sehingga anak tersebut akan mempunyai rasa
tanggungjawab unuk memelihara barangnya.

7) Kebutuhan akan sukses, mendapatkan kesempatan, dan pengalaman

Anak perlu diberikan kesempatan untuk berkembang sesuai dengan


kemampuan dan sifat-sifat bawaannya. Sebaiknya orang tua tidak
memaksakan kemauannya untuk dilakukan oleh anak tanpa memperhatikan
kemauan anak.

2. Kebutuhan stimulasi mental (Asah)

Kebutuhan akan stimulasi mental merupakan salah satu kebutuhan dasar anak.
Stimulasi mental (asah) bermanfaat untuk meningkatkan perkembangan
psikososial meliputi : kecerdasan, keterampilan, kemandirian, kreatifitas, agama,
moral-etika, produktivitas dan sebagainya. Kebutuhan ini merupakan dasar dalam
proses belajar yang dapat dipenuhi melalui pendidikan dan pelatihan pada anak.

Pendidikan bukan hanya dapat diberikan pada tingkat taman kanak-kanak atau
sekolah dasar. Namun pendidikan dapat diberikan secara sejak dini pada masa
pra-sekolah untuk menstimulasi tumbuh kembang anak melalui pendidikan anak
usia dini (PAUD) atau tempat penitipan anak (TPA).

Selain pendidikan formal, pelatihan yang dapat diberikan orang tua pada anak
berupa :
1) Melatih kedisiplinan anak

Disiplin adalah mengajar atau mengikuti ajaran dari seorang pemimpin,


mendidik anak membuat seoptimal mungkin sesuai potensi yang dimiliki. Tujuan
melatih kedisiplinan anak yaitu :

a. Jangka pendek : membuat anak terlatih dan terkontrol melalui ajaran yang
pantas dan tidak pantas.

b. Jangka panjang : untuk perkembangan pengendalian diri sendiri dan


pengarahan diri sendiri (self control and self direction)

Upaya yang dapat dilakukan untuk mendisiplinkan anak diantaranya :

a. Tegas dan tetap ramah

b. Membiarkan masuk ke dalam air dan bermain-main disana, menjerit dan


berteriak

c. Memberi kesempatan pada anak bahwa rasa marah itu normal

d. Jangan selalu mengatakan (apakah kamu ingin…!)

e. Jangan terlalu sering memberi alasan (usia 1-3 tahun)

Hukuman bukan satu-satunya cara untuk menegakkan disiplin pada anak.


Sumber utama menegakkan disiplin pada lingkungan keluarga berada pada
tiga akawasan disiplin :

a. Daerah hijau : mencakup tingkah laku yang diperbolehkan atau diinginkan

b. Daerah kuning : tingkah laku tidak ideal tapi alasan tertentu kita tolerir

c. Daerah merah : tingkah laku yang tidak diijinkan.


Latihan kedisiplinan pada bayi secara umum tidak ada hasil nyata. Namun,
sebaiknya sejak usia bayi mulai ditanamkan pada bayi berupa memenuhi
kebutuhan bayi sebagai latihan membentuk perilaku.

Tindakan disiplin pada toddler harus konsisten, segera setelah kesalahan


dilakukan, direncanakan terlebih dahulu, berorientasi pada perilaku bukan anak,
dan tidak dilakukan di depan umum yang dapat menyebabkan anak merasa malu.
Latiha disiplin pada anak usia prasekolah harus diterapkan oleh figure yang
berwenang seperti ayah. Anak memerlukan penjelasan sederhana mengenai alasan
mengapa tindakan tertentu tidak diperbolehkan.

2) Melatih bahasa

Alat komunikasi pertama bayiadalah menangis. Pada usia 1 dan 2 bulan anak
mulai bergumam. Pada bayi usia 6 bulan dapat meniru suara. Pada usia 8 bulan
bayi melafalkan suku kata kombinasi (mama) pada usia 9 bulan bayi dapat
mengerti “kata tidak”. Bayi mengatakan dan mengerti “mama” dan “dada”.
Dalam konteks yang benar pada usia 10 bulan. Selanjutnya bayi akan dapat
mengatakan antara 4 dan sepuluh kata dalam konteks yang benar pada usia 12
bulan.

Toddler menggunakan bahasan ungkapan khusus pada usia 15 bulan. Anak


mengatakan sekitar 300 kata, menggunakan 2 atau 3 frase dan menggunakan kata
ganti pada usia 2 tahun.

Anak usia 3 tahun rata-rata mampu mengucapkan 900 kata, berbicara kalimat
dengan 3 atau 4 kata, dan berbicara terus menerus. Anak usia 4 tahun mampu
mengucapkan 1500 kata, mengatakan cerita yang dilebih-lebihkan, dan bernyanyi
lagu yang sederhana. Anak usia 5 tahun dapat mengucpkan 2100 kata mengetahui
4 warna atau lebih dan dapat menamakan hari-hari dalam satu minggu dan bulan.

3. Kebutuhan fisik-biomedis (Asuh)


Nutrisi

Kebutuhan nutrisi atau kebutuhan pangan/gizi merupakan salah satu


kebutuhan penting ada anak.

Jenis kebutuhan nutrisi disesuaikan degan usia anak yaitu :

a. Kebutuhan nutrisi baru lahir sampai usia 1 tahun

Jenis makanan yang dibutuhkan bayi 0-1 tahun berupa ASI, susu formula,
dan makanan padat.

1) Sumber makanan awal

ASI merupakan sumber makanan lengkap yang paling penting selama 6


bulan pertama.

2) Kebutuhan cairan

Susu dan makanan saring merupakan sumber utama bagi bayi.

3) Makanan padat tidak dianjurkan sebelum usia 4-6 bulan karena


penonjolan atau reflex mengisap dan imaturitas saluran gastrointestinal
dan system imun belum sempurna.

Jenis-jenis makanan padat yang dapat diberikan pada bayi berupa : 1. Bubur
susu atau nasi tim saring. 2. Makanan tambahan biasanya mencakup jenis bubur
lain, kemudian buah-buahan, sayuran, dan daging. 3. Makanan yang dapat
dipegang seperti crackers atau buah segar dapat diperkenalkan pada usia 8/9
bulan.

b. Kebutuhan nutrisi anak usia toddler

Hal-hal yang harus diperhatikan terkait pemilihan dan pola makan pada
usia toddler berupa :
1. Anak toddler sukar atau kurang suka makan, dimana nafsu makan
sering berubah.

2. Anak biasanya menyukai makanan tertentu atau memilih makanan


sendiri, menyukai makanan dalam porsi kecil.

3. Anak lebih menyukai satu jenis makanan dalam piring daripada


makanan yang dicampur.

4. Anak cepat bosa dan tidak tahan makan makanan sambil duduk dalam
selang waktu yang lama.

c. Kebutuhan nutrisi pada anak usia prasekolah

Hal-hal yang harus diperhtikan terkait pemenuhan kebutuhan nutrisi pada


anak usia prasekolah berupa :

1. Nafsu makan berkurang, anak mungkin menolak sayuran, makanan


kombinasi dan hati.

2. Anak lebih tetarik pada aktivitas bermain dengan teman atau


lingkungannya daripada makan

3. Anak mulai senang mencoba jenis makanan baru

4. Anak cenderung focus pada aspek social pada saat makan berupa
percakapan di meja makan, keinginan mencoba makanan yang baru
serta membantu menyiapkan dan membersihkan makanan.

d. Kebutuhan nutrisi anak usia sekolah

Hal-hal yang harus diperhatikan terkait karakteristik pemenuhan


kebutuhan nutrisi anak usia sekolah yaitu :

1. Anak usia sekolah dapat mengatur pola makannya sendiri


2. Reklame, iklan makanan di televise dan pengaruh teman atau jajanan
di sekolah dapat mempengaruhi pola makan atau keinginan anak

3. Kebiasaan menyukai satu makanan tertentu berangsur-angsur hilang

4. Aktivitas bermain dapat menyebabkan keinginan anak untuk makan


berkurang

e. Kebutuhan nutrisi usia remaja

Hal-hal yang perlu diperhatikan terkait karakteristik remaja dalam


pemenuhan kebutuhan nutrisi yaitu :

1. Kelompok atau grup akan mempengaruhi pola akan anak

2. Anak sering tidak sempat makan di rumah karena banyak aktivitas di


luar rumah, baik di sekolah, di kelompok, di clup olahraga maupun
kegiatan lainnya.

3. Kemungkinan anak akan meninggalkan satu waktu makan karena


kesibukan melakukan aktivitas

4. Anak lebih menyukai makanan ringan

5. Beberapa anak perempuan telah memperhatikan betuk badannya


sehingga pola makannya akan diatur dan dibatasi

Kebutuhan tidur

a. Kebutuhan tidur bayi

Kebanyakan bayi akan tidur saat tidak sedang makan selama bulan
pertama. Pada bayi uisa antara 3 dan 4 bulan, kebanyakan tidur 9-11 jam.
Pada bayi usia 1 bulan kebanyakan akan tidur pada pagi dan sore hari.
b. Kebutuhan tidur anak toddler

Pola anak menurun selama tahun kedua yaiutu sekitar 12 jam perhari.

c. Kebutuhan tidur anak usia sekolah

Rat-ata lama tidur anak usia prasekolah sekitar 11-13 jam sehari.

d. Kebutuhan tiudr anak usia sekolah

Kebutuhan tidur anak usia sekolah bervariasi, tetapi biasanya memiliki


rentang dari 8-9,5 jam tiap malam.

e. Kebutuhan tidur anak usia remaja

Karakteristik usia remaja dengan pertumbuhan cepat, pengerahan tenaga


yang berlebihan, dan kecenderungan untuk tetap terjaga pada malam hari
umumnya mempengaruhi kebutuhan tidur dan istirahat.

Eliminasi

a. Pola eliminasi pada bayi usia 0-12 bulan biasanya berkembang pada usia
minggu kedua kehidupan dan dikaitkan dengan frekuensi dan jumlah
pemberian makan.

b. Pada anak usia toddler, rat-rata pengeluaran urine rata-rata pengeluaran


urine 500-1000 ml perhari

c. Pada anak usia sekolah sekitar 85% memiliki kendali penuh terhadap
kandung kemih dan defekasi. Rat-rata volume urine pada anak-anak
500-1000 ml perhari

d. Pola eliminasi pada anak remaja sama dengan dewasa. Volume urine
rata-rata pada anak remaja adalah 700-1400 ml perhari.
Kebutuhan keamanan

Tindakan yang dapat dilakukan orang tua untuk mencegah terjadinya resiko
cedera pada anak berupa :

1. Orang tua memasang pengaman tempat tidur anak

2. Orang tua memasang pagar pengaman sepanjang anak tangga di rumah

3. Orang tua memasang tirai pengaman pada semua jendela yang terbuka

4. Orang tua mengawasi anak pada saat bermain

5. Orang tua menyimpan dan mengunci semua tempat penyimpanan zat-zat


beracun dan alat-alat tajam

6. Pada anak usia prasekolah, mulai diajarkan dan diberi contoh cara
pencegahan terjadinya resiko cedera

7. Pada anak usia sekolah belajar untuk bertanggung jawab terhadap perawatan
kesehatan pribadi dan pencegahan cedera

8. Pada remaja, rentan terhadap kecelakaan diakibatkan aktivitas seper


menggunakan kendaraan. Orang tua berperan untuk selalu mengingatkan
dan membeimbing anak untuk menjaga keamanan selama melakukan
aktivitas

Perawatan kesehatan dasar

1. Imunisasi

2. Kebersihan diri

3. Kesehatan gigi
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Perspektif keperawatan anak merupakan landasan berpikir bagi


seorang perawat anak dalam melaksanakan pelayanan keperawatan terhadap
klien anak maupun dalam melaksanakan pelayanan keperawatan terhadap
klien anak maupun keluarganya. Isi bahasan perspektif keperawatan anak
mencakup perkembangan keperawatan anak, falsafah keperawatan anak, dan
peran perawat anak.

a. Undang-undang Negara Republic Indonesia No. 23 tahun 2002 tentang


perlindungan anak, memberikan definisi : “Anak adalah amanah dan karunia
Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat
sebagai manusia seutuhnya.”

b. Undang-undang Negara Republik Indonesia No. 4 Tahun 1979 tentang


kesejahteraan anak memberikan definisi : “Anak adalah potensi serta penerus
cita-cita bangsa yang dasar-dasarnya telah diletakkan oleh generasi
sebelumnya.”

c. Undang-Undang No.39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia memberikan


definisi : “Anak adalah setiap manusia dibawah 18 tahun dan belum menikah,
termasuk anak dalam kandungan.”

B. Saran

Diharapkan dengan adanya makalah ini, kita dapat memahami tentang


perspektif keperawatan anak serta peran perawat dalam keperawatan anak.
DAFTAR PUSTAKA

Arbianingsih. 2011. Keperawatan anak konsep dan dasar tindakan.


Samata-Gowa : Alauddin press

Hidayat, Aziz Alimul. (2009). pengantar ilmu keperawatan anak 1.


Jakarta : Salemba Medika

Hidayah, Nur dkk. 2015. Perawatan holistic pada anak dalam


perspektif islam. Makassar : Andira publisher

Mansur, Herawati. 2009. Psikologi ibu dan anak untuk kebidanan.


Jakarta : Salemba Medika

Supartini, Yupi. 2014. Konsep dasar keperawatan anak. Jakarta : buku


kedokteran EGC