Anda di halaman 1dari 23

Referat

ERUPSI OBAT

Oleh
Sekarayu Putri Kencana, S.Ked
04054821618036

Pembimbing

dr. Fitriani, SpKK, FINSDV

BAGIAN/DEPARTEMEN DERMATOLOGI DAN VENEREOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
2017
HALAMAN PENGESAHAN

Judul Referat

ERUPSI OBAT

Oleh:
Sekarayu Putri Kencana, S.Ked
04054821618036

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti ujian Kepaniteraan
Klinik Senior di Departemen Dermatologi dan Venereologi Fakultas Kedokteran Universitas
Sriwijaya/Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode 02 Oktober
2017 – 06 November 2017.

Palembang, Oktober 2017

dr. Fitriani, SpKK, FINSDV

ii
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur bagi Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan karunia-Nya, akhirnya
referat yang berjudul “Erupsi Obat” ini dapat diselesaikan dengan baik. Referat ini ditujukan
sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian kepaniteraan klinik senior di bagian Ilmu
Dermatolgi dan Venereologi RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada dr. Fitriani, SpKK, FINSDV selaku
pembimbing dalam referat ini yang telah memberikan bimbingan dalam penyusunan referat
ini.
Penulis menyadari bahwa referat ini masih memiliki banyak kekurangan, untuk itu saran
dan kritik yang membangun sangat diharapkan penulis demi kebaikan di masa yang akan
datang.

Palembang, Oktober 2017

Penulis

iii
ERUPSI OBAT
Sekarayu Putri Kencana, S.Ked
Pembimbing dr. Fitriani, SpKK, FINSDV
Bagian/Departemen Dermatologi dan Venereologi
FK UNSRI/RSUP Moh. Hoesin Palembang
2017

PENDAHULUAN
Erupsi obat adalah perubahan yang tidak diinginkan pada struktur atau fungsi kulit,
apendiks kulit atau membran mukosa dengan atau tanpa melibatkan organ lain, timbul setelah
pemakaian obat pada dosis pencegahan, diagnosis, atau terapi.1 Erupsi obat timbul dua pekan
setelah pemakaian obat atau dalam beberapa hari. Beberapa obat yang menyebabkan reaksi
pada kulit yaitu agen antimikroba, golongan sulfa, Obat Anti Inflamasi Non-Steroid (OAINS),
agen kemoterapi, antikonvulsan, dan obat psikotropika.2 Hal ini di dukung penelitian Lee HY
dkk., tahun 2010 di Singapura menunjukkan golongan obat yang menimbulkan erupsi adalah
antibiotik (50,5%), antikonvulsan (11,3%), alopurinol (8,2%), obat-obat kemoterapi (7,2%),
antiinflamasi nonsteroid (7,2%).3
Erupsi obat terjadi pada pasien rawat inap sekitar 2-5% dan pasien rawat jalan lebih
besar dari 1%.2 Penelitian retrospektif Anggarini dkk., tahun 2015 menunjukkan jumlah
pasien erupsi obat yang dirawat di IRNA Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo
Surabaya, tahun 2009 hingga 2011 adalah 184 pasien (6,5%) dari 2.828 pasien rawat inap. 5
Berbeda dengan hasil data kunjungan Poliklinik Rawat Jalan Alergo-Imunologi bagian
Dermatologi dan Venereologi Rumah Sakit Umum Mohammad Hoesin Palembang tahun
2015 tercatat erupsi obat mencapai 4,15%, yaitu 25 pasien terdiagnosis erupsi obat dari 601
pasien yang datang.6 Insidensi erupsi obat di negara maju sekitar 1-3%, sedangkan di negara
berkembang sekitar 2-5%.2 Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Borch JE
dkk., tahun 2006 bahwa angka kejadian erupsi hanya sebesar 1,38% di Denmark.1
Erupsi obat dapat timbul dalam berbagai derajat, sebagian besar timbul dalam derajat
ringan, berpotensi berulang dengan derajat yang semakin berat sehingga dapat mengancam
jiwa, karena itu pencegahan rekurensi erupsi obat sangat penting. Erupsi obat sering
mendapatkan penanganan terlambat karena gejala tidak spesifik, mirip penyakit lain, dan
waktu timbul juga bervariasi. Edukasi dan pengetahuan pasien tentang obat penyebab erupsi
yang kurang juga menimbulkan rekurensi erupsi obat. Referat ini membahas erupsi obat
dalam hal etiopatiogenesis, gambaran klinis, diagnosis, penatalaksanaan, prognosis, dan
pencegahan sehingga erupsi obat dapat didiagnosis dan ditatalaksana dengan tepat, serta
mencegah rekurensi erupsi obat.
iv
ETIOPATOGENESIS
Erupsi obat dapat timbul setelah pemakaian obat, baik obat dari resep dokter, ataupun
penggunaan obat-obatan tanpa resep dokter, obat-obat herbal dan obat-obat alami lainnya.
Obat yang dikonsumsi selama tiga bulan, terutama pada saat enam minggu awal, dapat
dicurigai sebagai penyebab utama dari erupsi obat (pengecualian terhadap lupus diinduksi
obat, pemfigus diinduksi obat dan pseudolimfoma kutaneus diinduksi obat karena obat
tersebut adalah obat-obatan yang sering dikonsumsi).7,11
Erupsi kulit dipengaruhi oleh faktor konstitusional, antara lain variasi farmakogenetik
dari enzim pemetabolisme obat dan asosiasi Human Leucocyte Antigen (HLA). Fenotipe
asetilator juga berperan dalam erupsi obat. Fenotipe asetilator dapat mengubah kemungkinan
berkembangnya risiko untuk terjadi lupus diinduksi obat yang disebabkan oleh hidralazin,
prokainamid dan isoniazid. HLA-DR4 secara signifikan lebih sering ditemukan pada pasien
lupus diinduksi obat dengan kecurigaan terhadap hidralazin dibandingkan dengan pasien
lupus eritematosus sistemik yang idiopatik. Faktor HLA juga mempengaruhi risiko untuk
terjadinya reaksi yang disebabkan oleh konsumsi nevirapine, abacavir, karbamazepin dan
allopurinol.7,11
Sebagian besar patogenesis erupsi obat masih belum diketahui, namun terdapat
beberapa mekanisme yang menginduksi erupsi obat yaitu melalui metabolisme obat,
pemecahan obat, dan status imun pasien. Beberapa obat, seperti penisilin, cukup aktif untuk
mengikat protein secara langsung, tetapi sebagian besar obat perlu dimetabolisme untuk
menjadi lebih aktif atau lebih imunogenik untuk mengikat protein sehingga menyebabkan
reaksi imunologi. Metabolit obat juga dapat bersifat toksik terhadap sel dan menyebabkan
kerusakan sel secara langsung. Patofisiologi erupsi obat terkait status imun pasien didapatkan
melalui reaksi obat atau metabolit yang mengikat langsung sel T atau sel Langerhans di kulit.
Pengikatan langsung ini dapat mengaktifkan sel T dan sel Langerhans, sehingga menyebabkan
produksi molekul biologis aktif yang terjadi segera setelah terpapar atau dengan paparan
pertama terhadap obat. Hal ini juga menjelaskan mengapa sebagian besar erupsi obat hanya
terjadi pada kulit.9,11
Sel T, khususnya sel Th1, dianggap sebagai penginduksi penting terhadap kejadian
reaksi silang obat. Sel T ini bertindak dalam dua cara dalam menginduksi reaksi. Sel T dapat
langsung mengeluarkan molekul biologis aktif, sehingga menyebabkan efek langsung pada
jaringan (misalnya nekrosis epidermal), atau dapat mengeluarkan kemokin yang merekrut sel
efektor (misalnya eosinofil atau neutrofil).9
v
Pada kejadian erupsi obat dengan eosinofil dan gejala sistemik, terjadi pelepasan IL-5,
eotaksin dan merekrut eosinofil. Sebagai konsekuensi dari aktivasi sel T helper, sel T memori
diproduksi, sehingga menyebabkan erupsi berulang.9
Saat sel T aktif, akan terjadi salah satu dari 4 mekanisme (atau beberapa kombinasi)
untuk menghasilkan pola reaksi spesifik. Mekanisme yang berbeda mungkin akibat
pleomorfisme signifikan dalam pola klinis dan histologis pada erupsi obat. Empat pola
mekanisme tersebut yaitu:9
- sel T merangsang produksi IFN- dan respon Th1, mensimulasi dermatitis kontak. Jenis
reaksi ini bisa berbentuk bulosa tapi tanpa nekrosis epidermal yang luas.
- Sel T dapat diaktivasi dan berfungsi seperti Th2 dan menstimulasi masuknya eosinofil
melalui sitokin Th2 (Morbiliformis dan erupsi obat urtikaria).
- Sel T dapat mengaktifkan sel sitotoksik (CD8) T yang akan mensekresi perforin /
granzim B dan Fas ligand, mengakibatkan apoptosis keratinosit. Erupsi obat mengandung
sel-sel CD8T teraktivasi lebih berbahaya, karena sel CD8 menyerang semua komplek
MHC kelas I (termasuk keratinosit), yang menyebabkan reaksi berat.
- Sel T, melalui granulocyte–macrophage colony-stimulating factor (GM-CSF) dan
produksi lokal IL-8 akan menarik neutrofil, ini merupakan mekanisme yang diduga
merupakan penyebab eksantem berpustul dan Acute Generalized Exanthematous
Pustulosis (AGEP). Sel T regulatori dermal CD4CD25Foxp3 (T-regs) berkurang pada
erupsi obat bulosa berat (NET). Sel-sel ini bersifat imunologi aktif pada awal perjalanan
erupsi, masuk ke kulit, dan secara efektif dapat menekan kekebalan tubuh. Tetapi terjadi
defisiensi fungsional, hal ini mungkin menjelaskan perkembangan fenomena autoimun
diikuti sindrom hipersensitivitas diinduksi obat.

KLASIFIKASI
Erupsi Obat Alergi dibagi menjadi 2 yaitu:11
Ringan
 Urtikaria dengan atau tanpa angioedema
 Erupsi eksantematosa
 Dermatitis medikamentosa
 Erupsi purpurik
 Eksantema fikstum (Fixed Drug Eruption/FDE)
 Eritema nodusum
 Eritema multiforme
 Lupus eritematosus
 Erupsi likenoid
Berat
vi
 Pustular eksantema generalisata akut (PEGA)
 Eritroderma
 Sindrom Steven-Johnson (SSJ)
 Nekrolisis Epidermal Toksik (NET) atau sindrom Lyell
 Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic Symptoms (DRESS)

PENDEKATAN MORFOLOGI ERUPSI OBAT


Erupsi obat meniru penyakit kulit atau penyakit sistemik lainnya dalam berbagai
bentuk, antara lain erupsi eksantematosa, erupsi urtikaria, erupsi pustular, erupsi bulosa,
Fixed Drug Eruption (FDE), erupsi likenoid, vaskulitis, reaksi fotoalergik, lupus diinduksi
obat, pseudolimfoma diinduksi obat, dan nekrosis kulit diinduksi antikoagulan. Setiap bentuk
atau tipe mempunyai lesi bervariasi. Morfologi yang paling sering ditemui terutama pada
orang tua adalah eksantema (makulopapular), dermatitis/eksematosa, urtikaria, pustula,
bullosa, purpura, dan eritrodermik.7,12

Erupsi eksantematosa
Erupsi eksantematosa disebut juga morbiliformis atau makulopapular, adalah bentuk
paling umum erupsi obat. Komorbid yang berefek langsung pada sistem imun, seperti infeksi
HIV (Human Immunodeficiency Virus) atau transplantasi stem cell dapat meningkatkan resiko
terjadinya erupsi eksantematosa.12 Erupsi ini biasanya muncul satu minggu setelah konsumsi
obat penyebab, dan dapat juga terjadi beberapa hari setelah konsumsi obat dihentikan. 7 Erupsi
ini ditandai dengan perubahan eritematosa pada kulit tanpa disertai lepuh atau pus. Lesi
cenderung timbul pertama kali di daerah badan, pangkal paha, ketiak, kemudian menyebar
dan simetris. Makula dan papula eritematosa dijumpai hampir di seluruh trunkus dengan
warna merah terang (Gambar 1).

vii
Erupsi eksantematosa disebabkan
Gambar oleh
1. Erupsi obat berbagai ampisilin.
eksantematosa: macam7 obat, seperti β-laktam
(golongan penisilin), antimikrobial sulfonamida, nonnucleoside reverse transcriptase
inhibitor (nevirapine), dan obat-obatan antiepilepsi.7 Erupsi eksantematosa disertai demam
dan inflamasi organ dalam (hati, ginjal, sistem saraf pusat) memperlihatkan reaksi yang lebih
serius, dikenal sebagai Hypersensitiviy Syndrome Reaction (HSR), Drug-Induced
Hypersensitivity Reaction (DIHS) atau Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic
Symptoms (DRESS) (Tabel 1). Hal ini terjadi pada 1 dari 3000 pasien yang mengonsumsi
agen seperti antikonvulsan aromatik, lamotrigin, sulfonamida, antimikrobial, dapson,
nitrofurantoin, nevirapin, minosiklin, metronidazol dan allopurinol.7
HSR paling sering terjadi pada paparan pertama terhadap obat, dengan gejala inisial
dimulai dari 1-6 minggu setelah paparan pertama. Demam dan malaise adalah gejala paling
sering muncul pada awal perjalanan penyakit. Limfositosis atipikal diikuti eosinofilia terjadi
di fase inisial pada beberapa pasien. Meskipun sebagian besar pasien memiliki manifestasi
berupa erupsi eksantematosa, namun dapat juga terjadi manifestasi kutaneus yang lebih serius.
Keterlibatan organ dalam dapat asimptomatik.7,12

Drug-induced Hipersensitivity Syndrome (DIHS) atau Drug Reaction with Eosinofilia and
Systemic Symptoms (DRESS)
DIHS dan DRESS memiliki gejala yang hampir sama, yaitu rash yang berlangsung
lebih dari 3 pekan, gejala menetap lebih dari 2 pekan setelah penghentian obat penyebab,
demam, keterlibatan multiorgan, absolut eosinofilia (>1500), aktivasi limfosit (limfositosis,
limfositosis atipikal, limfadenopati), dan reaktivasi virus herpes HHV-6, HHV-7, EBV, dan
sitomegalovirus.9 Pada pasien dengan DRESS berat, HHV-6 bisa ditemukan pada hati dan
cairan serebrospinal yang berhubungan dengan hepatitis dan ensefalitis, dan pada kasus fatal
dari DRESS berhubungan dengan reaktivasi HHV-6. Erupsi kulit pada DRESS/DIHS adalah
tipikal morbiliform, sering asentuasi folikular, ringan hingga berat dengan eritroderma
eksfoliatif. Obat penyebab paling sering adalah antikonvulsan (fenobarbital, lamotrigine, dan
fenitoin), sulfonamid kerja lama, allopurinol, nevirapine, abacavir, dapson, dan minosiklin.11

TABEL 1. Manifestasi Klinis dari Beberapa Reaksi Kutaneus terhadap Obat7


Presentasi Erupsi Obat Demam Keterlibatan Artalgia Limfadenopati Obat-obatan
Klinis Organ penyebab
Dalam
Hypersensitivity Eksantema, Ada ada Tidak ada Antikonvulsan
Syndrome dermatitis ada aromatik
viii
Reaction (HSR) eksfoliativa, (fenitoin,
erupsi pustular, fenobarbital,
SSJ/NET karbamazepin),
antibiotik
sulfonamida.
dapson,
minosiklin,
alopurinol,
lamotrigin
Serum Sickness- Eksantema, Ada Tidak ada ada ada Sefaklor,
Like Reaction urtikaria sefprozil,
(SSLR) bupropin,
minosiklin,
infliximab,
rituximab
Lupus diinduksi Biasanya tidak Ada/ Ada/ TIdak Ada Tidak ada Prokainamid,
obat ada Tidak ada ada hidralazin,
isoniazid,
minosiklin,
asebutolol
Subakut Lesi kutaneus Tidak ada Tidak ada Tidak Tidak ada Diuretik
Kutaneus Lupus papuloskuamosa ada thiazid,
Eritematosus atau annuar penghambat
yang diinduksi (fotosensitif) kanal kalsium,
obat Angiotensin
Converting
Enzyme
Inhibitor
(ACEI)
Acute Pustula Ada Tidak ada Tidak Tidak ada β-blocker,
Generalized nonfolikular ada antibiotika
Exanthematous pada dasar makrolid,
Pustulosis edema penghambat
(AGEP) eritematosa kanal kalsium.

Erupsi urtikaria
Erupsi urtikaria memiliki karakteristik sebagai wheal kemerahan gatal dengan ukuran
bervariasi. Jika disertai lapisan dermis bagian dalam dan jaringan subkutan yang mengalami
pembengkakan maka reaksi ini disebut angioedema. Angioedema umumnya terjadi unilateral
dan tidak gatal, berlangsung 1-2 jam, walaupun dapat bertahan 2-5 hari.7 Angioedema terjadi
di bibir, kelopak mata, lidah, genitalia eksterna, tangan, kaki, dan dapat mengancam jiwa bila
mengenai saluran nafas.12 Biasanya timbul mendadak dan hilang perlahan dalam 24 jam.
Obat-obatan menginduksi urtikaria melalui dua mekanisme yaitu imunologi dan non-
imunologi.9 Urtikaria dimediasi IgE paling sering berhubungan dengan penggunaan penisilin.
Tanda dan keluhan reaksi alergi dimediasi IgE antara lain pruritus, urtikaria, eritem, mual,
muntah, diare, nyeri abdominal, kongesti nasal, rinorea, edema laring, bronkospasme dan
hipotensi. Aspirin dan OAINS adalah penyebab tersering dari reaksi urtikaria non-imunologi.
Urtikaria disebabkan OAINS atau asam asetilsalisilat dapat terjadi dalam beberapa menit
hingga hari setelah penggunaan obat.12 Urtikaria dan angioedema yang terjadi tanpa
ix
diperantarai IgE dapat menyebabkan pembebasan histamin dan mediator inflamasi lainnya
secara langsung dan non-spesifik.7

Gambar 2. Urtikaria diinduksi asam asetilsalisilat8 Gambar 3. Angioedema dan Urtikaria9

Erupsi pustular
Patogenesis erupsi pustular atau akneiformis didasari sistem hormon tubuh. Erupsi
akneiform ini berawal dari wajah atau lipatan kulit, atipikal seperti lengan dan kaki yang
sering dalam bentuk monomorfik. Erupsi ini biasanya disertai eritem dan makula yang
menyebar luas bertumpang tindih dengan pustul non folikuler ukuran pinpoint (Gambar 4).
Onset mendadak disertai demam, rasa terbakar dan gatal. Selain itu sering disertai paronikia,
kulit kering, dan fisura pada kulit. Erupsi ini sering berhubungan dengan penggunaan obat β-
laktam, antibiotik makrolid, antikonvulsan, dan penghambat kanal kalsium.7,9
Acute Generalized Exanthematous Pustulosis (AGEP) adalah suatu kondisi erupsi
demam akut sering dihubungkan dengan leukositosis, dan kadang eosinofilia ringan (tabel 1).
Lesi berawal di wajah, atau area fleksor, tetapi sering tersebar seluruh tubuh secara cepat.
AGEP terjadi 1-5 kasus dari satu juta individu per tahun. AGEP sering dihubungkan dengan
penggunakan antibiotik β-laktam, antibiotik makrolid, antikonvulsan dan penghambat kanal
kalsium. Gambar 5 menunjukkan gambaran lesi AGEP berupa pustula non-folikuler steril
pada lengan setelah 3 hari terapi amoksisilin. Penghentian obat adalah salah satu tindakan
yang harus diambil pada pasien AGEP, walaupun beberapa pasien tetap membutuhkan terapi
kortikosteroid. Tes tempel telah menjadi bagian dalam proses penegakkan diagnosis AGEP.7,12

Gambar 4. Erupsi akneiform.13 Gambar 5. Acute Generalized Exanthematous


Pustulosis (AGEP).8
Erupsi bulosa
Erupsi obat bulosa mencakup banyak reaksi klinis dan patomekanisme berbeda, antara
lain pemfigus diinduksi obat, pemfigoid bulosa diinduksi obat, penyakit linear IgA diinduksi
obat, pseudoporfiria hingga reaksi sangat berat seperti Sindrom Stevens-Johnson (SSJ) dan
Nekrolisis Epidermal Toksik (NET).7

x
Gambar 6. Erupsi bulosa7

Pemfigus diinduksi obat disebabkan tiga kelompok obat yaitu thiol, phenol, dan non-
thiol/non-phenol. Obat-obatan thiol yang umum menyebabkan pemfigus diinduksi obat adalah
penisilamin, piroxicam, dan kaptopril. Thiol dapat menginduksi akantolisis secara langsung
dikenal sebagai pemfigus foliaseus. Onset interval selama 1 tahun dan dihubungkan dengan
antinucler antibodies pada 25% pasien. Obat-obatan phenol yaitu aspirin, rifampisin, dan
levodopa dapat menginduksi akantolisis melalui pelepasan sitokin dari keratinosit. Obat-
obatan non-thiol/non-phenol yaitu OAINS, enalapril, penghambat kanal kalsium sering
menginduksi akantolisis melalui mekanisme imun. Mayoritas pasien pemfigus diinduksi obat
nonthiol memiliki manifestasi klinis, histologi, imunologis menyerupai penyakit pemfigus
vulgaris idiopatik dengan keterlibatan mukosa dan memiliki 15% kemungkinan untuk
mengalami perbaikan setelah penghentian obat dilakukan. Penatalaksanaan pemfigus
diinduksi obat adalah penghentian obat penyebab.7,12

Tabel 2. Mimikri Erupsi Obat7


Manifestasi Klinis Pola dan Distribusi Keterlibatan Obat-obatan Tatalaksana
dari Lesi Kulit Membran Mukosa penyebab
Sindroma Steven Lesi target atipikal, Ada Antikonvulsan Imunoglobulin
Johnson lesi luas aromatik, Intravena (IVIg),
lamotrigin, terapi suportif
antibiotik
sulfonamida,
allopurinol,
piroxicam, dapson
Nekrolisis Nekrosis epidermal Ada Antikonvulsan Imunoglobulin
Epidermal Toksik dengan pelepasan aromatik, Intravena (IVIg),
kulit lamotrigin, terapi suportif
antibiotik
sulfonamida,
allopurinol,
piroxicam, dapson
Pseudoporfiria Kerapuhan kulit, Tidak ada Tetrasiklin, terapi suportif
pembentukan lepuh furosemid,
dan fotodistribusi naproxen
Penyakit Linier IgA Dermatosis bullosa Ada/Tidak ada Vankomisin, litium, terapi suportif
diklofenak,
piroxicam,
amiodaron
Pemfigus Bula kendur, dada Ada/ Tidak ada Penisilamin, terapi suportif
captopril,
piroxicam,
penisilin, rifampin,
propanolol
Pemfigoid Bullosa Bula tegang, lesi Ada/ Tidak ada Furosemid, terapi suportif
luas penisilamin,

xi
sulfasalazin,
captopril

Pemfigoid bulosa diinduksi obat dapat mempunyai variasi dari presentasi penyakit yang
cukup luas, dimulai dari fitur klasik berupa bula berukuran besar dengan permukaan tegang
berasal dari lesi urtikaria eritem dengan keterlibatan ringan-sedang pada kavitas oral, dimulai
lesi ringan terdiri dari beberapa lesi bula hingga plak jaringan parut dan nodul dengan bula.
Obat yang menyebabkan penyakit ini adalah furosemid, amoksisilin dan spironolakton.7,12
Morfologi penyakit linear IgA diinduksi obat menyerupai ertitema multiformis,
pemfigus bulosa, dan dermatitis herpetiformis. Pada penyakit ini jarang ada keterlibatan
mukosa dan konjungtiva, terjadi pada anak-anak muda dan dewasa tua, dan sukar dibedakan
dengan pemfigus bullosa. Obat yang sering menyebabkan penyakit linear IgA diinduksi obat
adalah Vankomisin.7,12
Pseudoporfiria adalah kelainan fototoksik kutaneus yang dapat menyerupai porfiria
kutane tarda pada pasien dewasa atau protoporfira eritropoietik pada anak-anak.
Pseudoporfiria dari porfiria kutanea tarda memiliki karakteristik berupa kerapuhan pada kulit,
pembentukan lepuh dan jaringan parut pada area yang terpapar oleh cahaya. Kejadian ini
terjadi pada kadar porfirin yang normal. Pola manifestasi klinis lainnya yang menyerupai
protoporfiria eritropoietik dapat bermanifestasi sebagai luka bakar, eritema, vesikulasi, atau
jaringan parut menyerupai cacar air dan penebalan dari kulit seperti lilin. Erupsi dapat terjadi
dalam satu hari setelah inisiasi terapi atau dapat terjadi dalam onset lambat hingga 1 tahun
setelah terapi.7,12
SSJ atau NET merupakan erupsi obat bulosa paling berat ditandai dengan erosi
membran mukosa, lesi target, dan nekrosis epidermal. 12 Lesi target biasanya berupa makula
eritematosa dengan target bifasik yang disebut target atipikal (Gambar 7).7 Perbedaan antara
SSJ dan NET ini bergantung kepada lesi kulit dan luas area kulit yang terlibat, yaitu pada SSJ
< 10%, overlap SSJ/NET 10%-30%, dan NET > 30%.14

Gambar 7. Lesi Target Atipikal.8

Keluhan yang biasa ditemukan adalah demam dan gejala flu beberapa hari sebelum
erupsi. Lesi berawal dari wajah dan tubuh lalu menyebar cepat. Gambaran klinis NET,
didapatkan kulit yang menjadi kemerahan, sangat nyeri, dan tanda Nikolsky yang positif. SSJ
merupakan variasi berat dari eritema multiforme yang berhubungan dengan demam dan lesi
xii
membran mukosa. Membran mukosa yang sering terkena adalah mukosa mulut, bibir dan
konjungtiva bulbar.10,11

Gambar 8. “Burn-like appearance” Gambar 9. Sindroma Stevens–Johnson


pada Nekrolisis Epidermal Toksik.10 pada mukosa bibir.10
Fixed drug eruption (FDE)
FDE umumnya soliter, eritematosa, berwarna merah terang atau berupa makula merah
kecoklatan yang berkembang menjadi plak edematosa. Lesi tipe bulosa timbul dan menyebar
luas, sangat sulit dibedakan dengan NET. FDE umumnya ditemukan pada area genitalia dan
perianal, namun penyakit ini dapat terjadi pada semua area kulit. Pasien mengeluhkan rasa
terbakar, nyeri menyengat, demam, malaise dan gejala abdominal. FDE terjadi 30 menit
hingga 8-16 jam setelah mengkonsumsi obat. Setelah fase inisial akut bertahan selama
beberapa hari hingga minggu, akan muncul lesi sisa berupa hiperpigmentasi keabu-abuan
pada kulit. Pada saat pasien diberikan obat yang sama kembali, lesi tidak hanya muncul di
tempat yang sama seperti yang terjadi sebelumnya, melainkan juga tumbuh di tempat yang
baru. Obat penyebab tersering ialah ibuprofen, sulfonamid, naproksen, dan tetrasiklin.
Gambar 10 menunjukkan FDE dengan lesi plak berbatas tegas di lutut, bergabung dengan 3
lesi satelit lain. Plak berukuran besar memperlihatkan gambaran epidermis yang mulai
melonggar, menandakan tanda awal terbentuknya lepuh.

Gambar 10. Fixed Drug Eruption: Tetrasiklin.7

Erupsi likenoid
xiii
Lesi erupsi obat likenoid tidak dapat dibedakan secara klinis dan histologi dengan lesi
liken planus idiopatik. Obat penyebabnya antara lain hidroklorotiazid, furosemide, OAINS,
aspirin, antihipertensi (ACEi, β-bloker, CCBs), terasozin, quinidine, penghambat pompa
proton, antikonvulsan, antituberkulosis, ketokonazole, dan antimalaria. Seringkali erupsi ini
awalnya muncul sebagai eksema dengan warna keunguan meliputi daerah yang luas pada
tubuh, biasanya membran mukosa dan kuku tidak terlibat. Pada beberapa kasus, lesi berupa
plak (kadang dengan Wickham striae), papul-papul kecil, atau eritema exfoliatif. Erupsi obat
likenoid terjadi dalam beberapa bulan hingga tahun setelah memulai pengobatan dan mungkin
memerlukan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk dapat pulih kembali.7,9

Vaskulitis
Vaskulitis adalah radang pembuluh darah dengan tanda khas purpura palpabel, yang
umumnya pada ekstremitas bawah. Tanda klinis lain dapat berupa bula hemoragik, ulkus,
nodul, penyakit Raynaud dan nekrosis digitalis. Proses vaskulitis dapat mempengaruhi organ
dalam seperti hati, ginjal, usus dan sistem saraf pusat serta dapat mengancam jiwa. Pada
pemeriksaan serologis ditemukan Anti-neutrophil Cytoplasmic Antibodies (ANCA) yaitu
autoantibodi sitoplasmik dengan daerah perinukleus yang dikelilingi oleh antineutrofil
terhadap myeloperoksidase. Eosinofilia jaringan menjadi indikator vaskulitis diinduksi obat.
Obat yang sering berkaitan dengan vaskulitis yaitu propiltiourasil (PTU), hidralazin,
allopurinol, sefaklor, minosiklin, penisilamin, fenitoin, isotretinoin, dan agen anti-TNF seperti
etanercept dan infliximab.7,12

Reaksi fotosensitivitas
Mekanisme reaksi fotosensitivitas diinduksi obat tidak diketahui. Reaksi ini terbagi
menjadi 2 tipe mayor yaitu fototoksisitas dan fotoalergik. Fototoksisitas berhubungan dengan
dosis obat dan sinar UV. Sedangkan reaksi fotoalergik disebabkan hipersensitivitas dimediasi
sel terhadap alergen yang diaktivasi sinar pada obat atau metabolit. Reaksi fotoalergik bersifat
kronis dibanding reaksi fototoksik. Gambaran klinis fototoksisitas dapat berupa gambaran
sunburn berlebihan, predileksinya pada tempat yang terpajan sinar matahari dan diikuti
dengan hiperpigmentasi. Kemudian kelainan dapat meluas ke daerah tidak terpapar matahari.
Obat penyebab reaksi fototoksisitas tersering yaitu tetrasiklin, amiodarone, dan OAINS.
Gambaran klinis reaksi fotoalergik yaitu adanya lesi pruritik menyerupai dermatitis atau liken
planus, terdapat pada daerah yang terpapar sinar matahari, tetapi kemudian dapat menyebar ke
daerah tidak terpapar. Obat penyebab reaksi fotoalergik yaitu diuretik thiazide, antibiotik

xiv
sulfonamide, sulfonilurea, fenotiazin, quinin, quinidin, antidepresan trisiklik, antimalaria, dan
OAINS.9,15

A B

Gambar 11. Pigmentasi oleh penggunaan amiodarone (A) dan fotosensitivitas oleh Piroxicam (B)9
Lupus diinduksi obat
Gejala klinis lupus diinduksi obat adalah keluhan muskuloskeletal, demam, penurunan
berat badan, keterlibatan pleuropulmonar pada sebagian besar penderita, dan pada kasus yang
jarang dapat melibatkan ginjal, saraf, atau vaskular. Banyak pasien tidak memiliki temuan
kutaneus dari lupus eritematosus. Abnormalitas serologis yang sering ditemukan adalah
antinuclear-antibodies (ANA) pola homogen. Obat-obatan yang dikaitkan dengan keadaan
ini terutama hidralazin, prokainamid, isoniazid, metildopa, minosiklin, terbinafin, penghambat
pompa proton dan anti-TNF. Lupus diinduksi minosiklin umumnya terjadi dua tahun setelah
pasien mendapatkan pengobatan. Gejala awal pasien adalah poliartritis simetri. Hepatitis
terdeteksi melalui pemeriksaan laboratorik. Temuan kutaneus termasuk retikularis livedo,
nodul pada kaki terasa sakit, dan erupsi berbatas tidak tegas.7,9

Pseudolimfoma diinduksi obat


Pseudolimfoma adalah suatu proses mirip limfoma namun memiliki karakter jinak dan
tidak memenuhi kriteria limfoma ganas. Penyebab pseudolimfoma umumnya adalah obat-
obatan, namun agen asing seperti gigitan serangga, infeksi HIV juga dapat menyebabkan
pseudolimfoma. Erupsi umumnya memiliki manifestasi klinis berupa lesi tunggal namun
dapat meluas menjadi papula eritematosa, plak dan nodul. Umumnya pasien akan mengalami
demam, limfadenopati, hepatosplenomegali dan eosinofilia. Pseudolimfoma yang diinduksi
obat antikonvulsan umumnya terjadi pada 1-2 minggu setelah terpapar oleh obat. Gejala akan
membaik dalam 7-14 hari setelah penghentian obat.7,11
Nekrosis kulit diinduksi obat antikoagulan
Penyakit ini mulai timbul 3-5 hari setelah penggunaan obat. Mayoritas dari kasus
nekrosis kulit diinduksi antikoagulan disebabkan oleh coumarin congener
(bishydroxycoumarin, phenprocoumon, acenocoumarol, dan warfarin). Plak kemerahan yang
sakit mulai terbentuk pertama kali di area yang banyak jaringan adiposa seperti payudara,
xv
bokong dan pinggul. Plak ini dapat menjadi lepuh, ulkus dan berkembang menjadi area
nekrotik.7,11

Gambar 12. Nekrosis pada kulit yang terjadi 4 hari setelah terapi warfarin.7

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada kasus erupsi obat berat diperlukan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan
penunjang yang dapat dilakukan antara lain:

Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium seperti hitung darah lengkap dapat menunjukkan
leukopenia, trombositopenia, dan eosinofilia pada pasien dengan erupsi obat berat. Penelitian
yang dilakukan Yang dkk., tahun 2013 menunjukkan terdapat hubungan jumlah eosinofil
dengan tingkat keparahan erupsi obat.16 Uji kimia darah juga sangat berguna, keterlibatan hati
hingga kematian dapat terjadi pada penderita sindrom hipersensitivitas. Penderita dengan
reaksi berat seperti SSJ, NET, atau vaskulitis memerlukan perhatian khusus pada
keseimbangan elektrolit, fungsi ginjal, dan hati. Kultur diperlukan untuk menginvestigasi
etiologi infeksi primer atau sekunder. Urinalisis, tes guaiac feses, dan radiografi thorak
penting pada pasien dengan vaskulitis.10

Uji imunoserologis
Uji antibodi atau imunoserologis dapat dianjurkan. Antibodi antihiston dapat dilihat
pada penderita dengan Systemic Lupus Erythematous (SLE) diinduksi obat, sedangkan
antibodi anti-Ro/SS-A paling umum pada penderita Subacute Cutaneous Lupus
Erythematosus (SCLE) diinduksi obat.10

Pemeriksaan histopatologi
Pada sebagian kasus, biopsi kulit dapat membantu menegakkan diagnosis erupsi
obat.10 Gambaran histopatologis tipikal untuk lesi AGEP menunjukkan gambaran spongiform
xvi
subkorneal atau pustula intradermal, edema dari dermis papilaris dan infiltrasi perivaskular
dengan neutrofil dan eksositosis dari beberapa eosinofil (Gambar 13).7 Gambaran
histopatologi erupsi eksantematosa menunjukkan infiltrasi sel inflamasi perivaskuler
superfisialis dan profunda (Gambar 14). Adanya eosinofil pada infiltrat menunjukkan erupsi
obat. Gambaran histopatologi erupsi obat likenoid menunjukkan parakeratosis fokal, badan
sitoid pada lapisan granuler dan lapisan korneum, adanya eosinofilia dan sel plasma pada
infiltrat peradangan, dan terdapat infiltrat di sekitar pembuluh darah dalam yang khas pada
erupsi likenoid diinduksi obat (Gambar 15).17

Gambar 13. Histopatologi AGEP.8 Gambar 14. Histopatologi Erupsi Eksantematosa.8

Gambar 15. Histopatologi Erupsi Obat Likenoid.17

DIAGNOSIS
Penegakkan diagnosis erupsi obat memerlukan anamnesis dan pemeriksaan fisik
secara menyeluruh. Pada anamnesis, hal-hal yang perlu ditanyakan pada pasien sebagai
berikut:11
1. Riwayat menggunakan obat secara sistemik (jumlah dan jenis obat, dosis, cara
pemberian, lama pemberian, runtutan pemberian pengaruh paparan matahari) atau
kontak obat pada kulit yang terbuka (erosi, ekskoriasi, ulkus).
2. Riwayat timbulnya kelainan kulit dengan jarak waktu dengan jarak waktu pemberian
obat, apakah timbul segera, beberapa saat atau jam atau hari. Kelainan kulit: eritema,
papul, skuama, urtikaria, vesikel/ bula, erosi, ekskoriasi sampai ulkus dan nodus.
3. Keluhan sistemik
4. Riwayat atopik diri dan keluarga, alergi terhadap alergen lain, serta alergi obat
sebelumnya.
Diagnosis erupsi obat kutaneus melibatkan pengenalan karakteristik dari tipe reaksi
yang terjadi. Variasi luas erupsi kutaneus terkait obat dapat menjadi peringatan untuk
kemungkinan terjadinya kerusakan organ dalam (Tabel 3). Pada erupsi kutaneus ringan tetap

xvii
harus dilakukan pemeriksaan tubuh secara menyeluruh karena manifestasi ringan pada kulit
tidak mencerminkan keparahan yang terjadi pada organ dalam. Keterlibatan organ hati, ginjal,
sendi, sistem pernafasan, hematologi dan perubahan neurologi harus diperiksa dengan baik.
Gejala atau tanda sistemik seringan apapun harus diperiksa lebih dalam. Demam, malaise,
faringitis, gejala dan tanda sistemik lain harus dievaluasi lebih lanjut. Skrining yang biasa
dilakukan adalah pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan fungsi hati, pemeriksaan fungsi
ginjal dan analisis urin.7,10
Biopsi kulit dilakukan pada beberapa pasien dengan reaksi yang cukup parah, seperti
pasien dengan gejala sistemik yang jelas, eritroderma, lepuh, rasa sakit pada kulit, purpura,
atau pustulasi, dan juga pada kasus yang diagnosisnya masih diragukan. Beberapa reaksi
kutaneus seperti FDE, hampir selalu disebabkan oleh penggunaan obat-obatan, dan tepatnya
sekitar 40%-50% dari SSJ/NET juga disebabkan oleh penggunaan obat-obatan. Erupsi kulit
seperti eksantema atau erupsi urtikaria memiliki penyebab lain selain obat.
Tidak ada standar baku emas dalam menegakkan diagnosis erupsi kulit diinduksi obat.
Penegakkan diagnosis dan penyebab dari penyakit ini umumnya ditegakkan dari kumpulan
manifestasi klinis seperti kapan pertama kali terpapar obat, onset pertama timbulnya reaksi
kutaneus, berkurangnya reaksi ketika penggunaan obat dihentikan atau perjalanan alami dari
erupsi ketika pada pasien dilakukan pemberian obat yang sama lagi. Riwayat adanya respon
serupa ketika pasien mendapatkan obat yang sama dan laporan yang ada terhadap
perkembangan reaksi kutaneus yang sama menjadi hal penting dalam proses penegakkan
diagnosis. Penyelidikan lebih lanjut untuk mencari penyebab lain selain obat juga sangat
berguna dalam proses penegakkan diagnosis ini.7,10
Tabel 3. Tabulasi erupsi obat7
Erupsi kulit Pola dan Predileksi Gejala lain Obat Terkait
Distribusi Lesi
Erupsi Perubahan eritem Dari tubuh menyebar ke Demam, malaise, nyeri Penisilin, sulfonamid,
eksantematosa tanpa pustul perifer secara simetris sendi, gatal antiepileptik
Erupsi urtikaria Urtika merah Bibir, kelopak mata, Gatal, mual, muntah, Penisilin, asam
dan angioedema pruritik genitalia eksterna, diare, nyeri abdominal, asetilsalisilat, OAINS
tangan, kaki kongesti nasal, rinorea,
edema laring,
bronkospasme, hipotensi
Erupsi pustular/ Eritem luas; pustul Wajah, lipatan kulit, Demam, gatal, rasa β-laktam, antibiotik
akneiformis nonfolikuler daerah atipikal seperti terbakar, kulit kering makrolid, antikonvulsan,
pinpoint lengan dan kaki CCB
Erupsi bulosa Bula deskuamasi Dapat mengenai daerah Demam, gejala flu Furosemid, amoksisilin,
tubuh yang luas spironolakton
Fixed drug Lesi soliter; Bibir, telapak tangan dan Rasa panas dan Ibuprofen, sulfonamid,
eruption eritematosa; makula kaki, daerah genitalia menyengat, demam, naproksen, tetrasiklin
merah terang yang dan perianal malaise, gejala
menjadi plak abdominal
edematosa
xviii
Erupsi likenoid Makula; plak ungu Meliputi daerah yang Β-bloker, penisilamin,
eksantematosa luas pada tubuh ACE inhibitor
DIHS/ DRESS Morbiliformis; Seringkali di wajah Rash, demam >38oC, Antikonvulsan,
eritroderma athralgia sulfonamid, allopurinol,
eksfoliatif berat nevirapine, abacavir,
dapson, minosiklin
Vaskulitis Lesi tunggal Ekstremitas bawah dan Demam, mialgia, Hidralazin, PTU,
urtikaria, khas sakrum anoreksia alopurinol, cefaclor,
palpable purpura minosiklin, penisilamin,
fenitoin, isotretinoin,
agen anti-TNF
Reaksi Sunburn berlebih; Daerah terpajan sinar Tetrasiklin, OAINS,
fotosensitivitas hiperpigmentasi matahari fluoroquinolone
Lupus diinduksi Lesi Keluhan Hidralazin,prokainamid,
obat papuloskuamosa muskuloskeletal, demam, isoniazid, minosiklin,
atau anular; penurunan berat badan asebutolol, metildopa
fotosensitif
Pseudolimfoma Lesi tunggal berupa Demam, limfadenopati, Antikonvulsan, diuretik
diinduksi obat papul, plak, nodul hepatosplenomegali thiazid, dapson,
eritematosa nyata antidepresan
menyebar luas
Nekrosis kulit Plak merah, Daerah kaya adiposa nyeri Obat antikoagulan
diinduksi ulserasi, melepuh, (payudara, bokong,
antikoagulan nekrotik pinggang)

Beberapa penelitian in vitro dapat membantu mengonfirmasi penyebab pada kasus


individual, namun sensitivitas dan spesifisitas dari penelitian ini masih belum jelas.
Investigasi dilakukan pada tingkat toksisitas limfosit dan pengujian kadar transformasi
limfosit. Tes aktivasi basofil dilaporkan telah memberikan manfaat dalam mengevaluasi
pasien yang memiliki kemungkinan untuk mengalami alergi obat terhadap antibiotik β-
laktam, NSAID dan relaksan otot. Uji kulit terhadap penisilin dengan determinan mayor dan
minor sangat berguna untuk mengonfirmasi reaksi hipersensitivitas diperantarai IgE terhadap
penisilin. Tes tempel juga digunakan pada pasien erupsi eksantematosa diinduksi ampisilin,
reaksi AGEP, hipersensitivitas diinduksi abacavir, dan sebagai penunjang diagnosis untuk
FDE. Tes tempel memiliki sensitivitas yang lebih besar jika dilakukan pada area yang terlibat
dalam proses perjalanan erupsi kulit sebelumnya.7,10

PENATALAKSANAAN
Erupsi kutaneus yang disebabkan penggunaan obat tidak selalu dipengaruhi dosis obat
yang diberikan. Pada erupsi kulit yang mengancam jiwa, penggunaan obat yang diduga
sebagai penyebab harus dihentikan secepatnya, diikuti penghentian obat yang dapat
memperlambat elimininasi dari obat tersebut di dalam tubuh. Walaupun penggunaan
kortikosteroid pada reaksi kutaneus yang cukup serius masih terbilang kontroversial,
mayoritas klinis memutuskan untuk memberikan prednison dengan dosis 1-2 mg/kgBB/hari

xix
ketika gejala cukup parah. Antihistamin, kortikosteroid topikal atau penggunaan keduanya
dapat mengurangi gejala penyakit. 7,11
Resolusi dari reaksi terjadi sesuai dengan waktunya pada saat penggunaan obat
penyebab dihentikan. Desensitisasi terhadap obat-obatan penyebab dapat menginduksi
toleransi obat, dan cara ini menjadi pilihan utama untuk mengatasi reaksi yang diperantarai
IgE seperti reaksi obat yang disebabkan penisilin atau sekarang ini, disebabkan oleh antibodi
monoklonal seperti rituximab dan infliximab. Tidak dianjurkan untuk melakukan pemberian
obat kembali ataupun desensitisasi kepada pasien yang berpotensi mengalami reaksi serius.7,11
Tujuan utama penanganan erupsi obat adalah untuk menghentikan obat penyebab.
Setelah obat penyebab teridentifikasi maka obat tersebut harus segera dihentikan.
Pengetahuan mengenai erupsi diinduksi obat tertentu dapat membantu dalam mengidentifikasi
obat penyebab. Pasien diberikan edukasi tentang obat yang diduga menyebabkan erupsi.
Pasien diberikan kartu khusus yang terdapat catatan obat penyebab. Pendekatan terapi erupsi
obat jelas tergantung pada beratnya reaksi. Pada erupsi ringan, terapi simptomatik dengan
emolien, kortikosteroid topikal dan antihistamin sistemik. Pada reaksi berat, seperti NET,
tatalaksana harus dilakukan di unit perawatan intensif. Intervensi suportif meliputi koreksi
elektrolit, nutrisi tinggi kalori, dan pencegahan sepsis.7,11

Bagan 1. Bagan alur diagnosis dan tatalaksana erupsi obat11

Riwayat menggunakan obat secara sistemik atau kontak obat pada kulit
yang terbuka (erosi, ekskoriasi, ulkus)

Riwayat timbul kelainan kulit dengan jarak waktu pemberian


obat, apakah timbul segera, beberapa saat atau jam atau hari.
Kelainan kulit: eritema, papul, skuama, urtikaria, vesikel/ bula,
Ringan: erosi, ekskoriasi sampai ulkus dan nodusBerat:
Pruritus
Urtikaria dengan/tanpa angioedema Pustular eksantema generalisata akut (AGEP)
Erupsi eksantematosa Eritroderma
Dermatitis medikamentosa Sindrom Stevens-Johnson
Purpura Nekrolisis epidermal toksik (NET) atau
Eksantema fikstum (fixed drug eruption) sindrom Lyell
Eritema nodosum
Eritema multiforme

Topikal Sesuai PPM masing-masing


Ikuti prinsip dermatoterapi
Pada purpura dan eritema nodosum tidak perlu
Sistemik
Atas keadaan umum terutama kondisi vital
Ringan: prednison 30 mg/ hari
Antihistamin: merupakan lini pertama pada urtikaria
dan pruritus, atau erupsi obat alergi (EOA) yang disertai xx
rasa gatal. Dapat digunakan antihistamin sedatif atau
nonsedatif.
PENCEGAHAN
Ketika reaksi kutaneus terjadi, penting untuk mencegah rekurensi erupsi obat di masa
akan datang atau reaksi silang dari pengobatan. Pasien yang mengalami reaksi erupsi obat
berat, mereka diharuskan menggunakan gelang medis (MedicAlert). Faktor inang berperan
penting dalam reaksi kutaneus. Beberapa dari faktor ini dapat diturunkan, sehingga edukasi
terhadap saudara satu generasi penting untuk dilakukan karena mereka memiliki
kemungkinan untuk mengalami reaksi yang sama. Hal ini penting pada penderita SSJ, NET
dan sindroma hipersensitivitas obat.7,10

PROGNOSIS
Prognosis tergantung pada bentuk manifestasi erupsi obat, varian lesi, usia, penyakit
sistemik yang mendasari, dan respon terhadap terapi.11 Pada dasarnya erupsi kulit karena obat
umumnya ringan, self-limited, dan sembuh bila obat penyebabnya dapat diketahui dan segera
disingkirkan.10 Meskipun setelah obat penyebab dihentikan, erupsi obat akan hilang secara
perlahan-lahan. Eosinofilia memprediksi tingkat keparahan erupsi obat.16 Waktu yang
dibutuhkan untuk hilang total antara 1-2 minggu atau lebih. Pada erupsi obat berat dan
mengancam jiwa terjadi kira-kira 1 dari 1.000 pasien di Rumah Sakit. Angka mortalitas untuk
Sindrom Steven Johnson < 5%, sedangkan angka mortalitas Nekrolisis Epidermal Toksik
mendekati 20-30%; kebanyakan pasien meninggal akibat sepsis.10

KESIMPULAN
Erupsi obat terjadi setelah pemakaian obat, baik obat melalui resep dokter, atau tanpa
resep dokter. Saat ini kejadian erupsi obat di negara maju sekitar 1-3%, sedangkan di negara
berkembang sekitar 2-5%. Erupsi obat meniru penyakit kulit atau penyakit sistemik lain
dalam berbagai bentuk, antara lain erupsi eksantematosa, erupsi urtikaria, erupsi pustular,
erupsi bulosa, Fixed Drug Eruption (FDE), erupsi likenoid, vaskulitis, reaksi fotoalergik,

xxi
lupus diinduksi obat, pseudolimfoma diinduksi obat, dan nekrosis kulit diinduksi
antikoagulan. Erupsi eksantematosa adalah bentuk paling umum dari erupsi obat. Pada
penegakkan diagnosis erupsi obat harus dilakukan pengumpulan riwayat pengobatan terakhir
yang digunakan dan alergi sebelumnya dengan teliti. Penatalaksanaan erupsi obat diutamakan
pada penghentian obat penyebab, diperlukan terapi tambahan bergantung pada berat
ringannya reaksi tersebut. Diagnosis dan penatalaksanaan yang tepat sangat diperlukan untuk
meningkatkan angka harapan hidup pasien. Pencegahan rekurensi erupsi obat dilakukan
dengan memberikan edukasi mengenai obat penyebab erupsi obat kepada pasien dan meminta
pasien untuk menghentikan pemakaian obat tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

1. Borch JE, Andersen KE, Bindslev-Jensen C. Cutaneous Adverse drug reactions seen at
a university hospital department of dermatology. Acta Derm Venereol 2006; 86: 523-7.

2. American Osteopathic College of Dermatology (AOCD). 2017. A Drug Eruption


dalam http://www.aocd.org/page/DrugEruptions diakses tanggal 12 Oktober 2017.

3. Lee HY, Tay LK, Thirumoorthy T, Pang SM. Cutaneous adverse drug reactions in
hospitalised patients. Singapore Med J 2010; 51(10): 767-74.

4. Nandha R, Gupta A, Hashmi A. Cutaneous adverse drug reactions in a tertiary care


teaching hospital: a North Indian perspective. Intl J Appl Med Res 2011; 1(1): 50-3.

5. Anggarini DR, dan Prakoeswa CR. Penatalaksanaan Pasien Erupsi Obat di Instalasi
Rawat Inap (IRNA) Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya:
Studi Retrospektif. Periodical of Dermatology and Venereology 2015; 27 (1):1-8.

xxii
6. Data kunjungan pasien Poliklinik Dermatologi Alergo-Imunologi Ilmu Kesehatan
Kulit dan Kelamin RSUP Mohammad Hoesin Palembang periode Januari 2015-
Desember 2015.

7. Shear NH, Knowles SR. Cutaneous reactions to drug. In: Wolff K, Goldsmith LA,
Katzs SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, editors. Fitzpatrick’s Dermatology in
General Medicine, 8th ed. New York: McGraw-Hill. 2012. p.449-57.

8. Breathnach SM. Drug Reactions. In: Burns T, Breathnach S, Cox S, Griffiths C,


editors. Rook’s Textbook of Dermatology. 8th ed. West Sussex: Wiley-Blackwell. 2010.
p.75.1-8.

9. James WD, Burger TD, Elston DM. Drug reactions. Andrew’s Disease of The Skin
Clinical Dermatology. 12th ed. Philadelphia: Saunders Elsevier; 2016. p.110-35.

10. Blume JE, Elston DM, Ali L, Erlich M, Helm TN. Drug eruptions. 2017. Diakses
dari:https://emedicine.medscape.com/article/1049474-workup, tanggal 18 Oktober
2017.

11. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin di Indonesia. 2017.
Jakarta: Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI).

12. Young JW, Shear, NH. Cutaneous drug reactions in the elderly. Drugs & Aging, 2017;
p. 1-18.

13. Kuflik JH, Schwartz RA. Acneiform Eruptions. 2017. Diakses dari:
https://emedicine.medscape.com/article/1072536-overview, tanggal 18 Oktober 2017.

14. Hazin, Ribhi., Ibrahimi OA., Hazin MI. Stevens‐Johnson syndrome: Pathogenesis,
diagnosis, and management. Annals of medicine, 2008; 40(2): 129-38.
15. Lim HW, Hawk JLM. Drug Eruptions Clinical Features. In: Bolognia JL, Jorizzo JL,
Schaffer J, Callen, Cerroni L, Heymann WR, et al, editors. Dermatology. 3 rd ed. New
York: Elsevier Saunders. 2012; p.335-55.

16. Yang J., Yang X., Li M. Peripheral Blood Eosinophil Counts Predict the Prognosis of
Drug Eruptions. Journal Investigation Allergol Clinical Immunology 2013; 23(4): p.
248-55.

17. Taylor G, Heilman ER. Lichenoid drug eruption. In: Grant-Kels, Jane M, editors.
Color Atlas of Dermatopathology. USA: Informa Health Care. 2007. p.24-31.

xxiii

Anda mungkin juga menyukai