Anda di halaman 1dari 97

Laporan Praktikum Lapangan Sistematika

Hewan I

Oleh : Kelompok 5 ( lima )


Belianto (H14111021)
Rian Juni Sumito (H14111026)
Adhis Dian Safitri (H24111013)
Lisa Tri Yuniarti (H24111028)
Nisaa Madyan Fadillah (H14111041)
Rabbihattun Masfah (H14111031)
Ulul Maulina Riami (H14111030)
Widya Sri Rahayu (H14111017)

Jurusan Biologi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Tanjungpura
PONTIANAK
2013
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Jenis-jenis hewan invertebrata sangat beranekaragam dari tempat ke tempat.
Setiap filum dari invetebrata memiliki karakteristik yang berbeda dan sangat
bervariasi. Pengelompokkan hewan invertbrata ini bisa di identifikasi dari
persamaan-persamaan ciri ,cara hidup, tempt hidup dan penyebarannya dari suatu
spesies, contohnya saja karakteristik hewan invertebrata yang ada di laut dan di darat
memiliki persamaan dan perbedaan dalam konteks sistematikanya, maka di perlukan
adanya praktek lapangan guna mensinkronisasikan antara teori dengan fakta yang ada
di alam. Sistematika hewan 1 merupakan ilmu yang terfokus pada bagaimana suatu
mahasiswa mampu mengidentifikasi karakteristik dari suatu spesies. Beragamnya
spesies yang ada di alam ini membuat ilmu taksonomi semakin berkembang sehingga
peneliti-penelitian tidak akan terhenti dan terbatas oleh adanya objek kajian karena
sistematika merupakan studi keanekaragaman dalam konteks evolusi.
Oleh karena itu perlu adanya interpretasi secara lapangan dimana praktikan
mampu melihat mengamati dan menganalisis hewan-hewan invertrebrata secara luas
dan alami. Kemampuan mengidentifikasi dapat di peroleh dengan adanya praktikum
lapangan yang akan meningkatkan rasa ketertarikan mahasiswa akan kekayaan dan
keanekaragaman makluk hidup khusus nya invertebrate.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang maka dapat di ambil beberapa rumusan masalah
sebagai berikut :
a. Apa saja jenis-jenis hewan invertebrata di Pantai Batu Burung di Sedau ?
b. Bagaimana cara untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam
mmengidentifikasi hewan-hewan invertebrata di lapangan ?
c. Bagaimana cara untuk meningkatkan kinerja mahasiswa di lapangan ?
1.3 Tujuan
Tujuan dari prakikum lapangan ini adalah :
a. Untuk mengetahui jenis-jenis hewan invertebrate di Pantai Batu Burung di
sedau
b. Untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mmengidentifikasi
hewan-hewan invertebrata di lapangan.
c. Untuk meningkatkan kinerja mahasiswa di lapangan.

1.4 Manfaat
Manfaat dari praktikum ini adalah mahasiswa dapat lebih mudah dalam
mempelajari hewan invertebrata yang beranekaragam serta mampu melihat
hubungan kekerabatan antara makluk hidup yang satu dengan yang lainnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Filum Porifera


Porifera berasal dari kata orous yang berarti pori-pori dan ferre yang berarti
membawa. Ia merupakan hewan bersel banyak yang paling primitif , tidak memiliki
jaringan atau organ yang sejati namun masing-masing sel memperlihatkan
kebebasannya sampai batatas-batas tertentu. Umumnya hewan porifera dijumpai
hidup dilaut , melekat pada substrat dan hanya bergerak sedikit sekali. Hanya famili
spongilidae yang hidup diair tawar pada porifera yang hidup dilaut berkisar 10.000
species. Umumnya pada air dangkal, namun dad pula pada bagian yang dalam (Aslan,
dkk. 2009).
Porifera adalah hewan yang tubuhnya berpori-pori. Hewan ini berfungsi sebagai
tempat untuk masuknya air yang mengandung bahan makanan kedalam tubuh. Hewan
ini merupakan salah satu hewan yang menyusun terumbu karang. Semuanya hidup
melekat (sessile) pada substrat keras. Terdiri dari empat kelas: Hexactinellida
Demospongiae, Calcarea dan Sclerospongiae. Porifera dalam bahasa latin , porus
artinya pori, sedangkan fera artinya membawa. Porifera adalah hewan multiseluler
atau metazoa yang paling sederhana. Karena hewan ini memiliki ciri yaitu tubuhnya
berpori seperti busa atau spons sehingga porifera disebut juga sebagai hewan spons.
Ciri tubuh Porifera meliputi ukuran, bentuk, struktur dan fungsi tubuh. Ukuran
porifera sangat beragam. Beberapa jenis porifera ada yang berukuran sebesar butiran
beras, sedangkan jenis yang lainnya bisa memiliki tinggi dan diameter hingga 2
meter. Tubuh porifera pada umumnya asimetris atau tidak beraturan meskipun ada
yang simetris radial (Lahay, 2007).

Porifera hidup secara heterotrof. Makanannya adalah bakteri dan plankton.


Makanan yang masuk ke tubuhnya dalam bentuk cairan sehingga porifera disebut
juga sebagai pemakan cairan. Habitat porifera umumnya di laut. Porifera melakukan
reproduksi secara aseksual maupun seksual. Reproduksi secara aseksual terjadi
dengan pembentukan tunas dan gemmule. Gemmule disebut juga tunas internal.
Gemmule dihasilkan menjelang musim dingin di dalam tubuh Porifera yang hidup di
air tawar. Secara seksual dengan cara peleburan sel sperma dengan sel ovum,
pembuahan ini terjadi di luar tubuh porifera (Rohana,2003).

2.1.2 Habitat dan Penyebaran


Porifera mempunyai 3000 spesies dan secara umum hidupnya dilaut dangkal
sampai kedalaman 5 km. dari 3000 ribu spesies yang dikenal hanya 150 spesies yang
hidup di air tawar sampai kedalaman 2 meter dan jarang lebihn dari 4 meter yang
biasanya hidup pada air jernih dan tenang. Dilaut jenis calcarea umumnya terbatas
pada daerah pantai dangkal (Suwignyo, 2004).

2.2 Filum Coelenterata


Coelenterata berasal dari kata Yunani: koilos + enteron ; Koilos = rongga ,
enteron = usus, sering disebut hewan berongga. Coelenterata ,merupakan hewan yang
tidak mempunyai usus yang sesungguhnya, tetapi pemberian nama dengan istilah “
Hewan Berongga “ itupun masih belum tepat, mengingat coelentrata adalah hewan
yang tidak mempunyai rongga tubuh yang sebenarnya ( coelom ), yang dimiliki
hanyalah sebuah rongga sentral yang ada di dalam tubuh yang disebut coelenterata.
Dalam kenyataan coelenteron tersebut merupakan alat yang berfungsi ganda, yaitu
sebagai alat pencernan makanan dan sebagai alat pendengar sari-sari makanan
keseluruh bagian tubuh. Coelenterata hidup di air laut, hanya beberapa yang hidup di
air tawar ( jasin, 1992 ).
Coelenterata adalah hewan berongga, disebut juga Cnidaria yaitu binatang
jelatang. Coelenterata hidup bebas secara heterotrof dengan memangsa plankton dan
hewan kecil di air. Coelenterata terdiri dari 3 kelas : Hydrozoa, Scyphozoa Anthozoa.
Phylum Coelenterata : Coelenterata adalah hewan berongga, disebut juga Cnidaria
yaitu binatang jelatang. Coelenterata hidup bebas secara heterotrof dengan memangsa
plankton dan hewan kecil di air.Coelenterata terdiri dari 3 kelas : Hydrozoa,
Scyphozoa Anthozoa. Struktur tubuhnya simetri radial, tanpa kepala dan tanpa
segmentasi, terdiri atas 2 lapis sel, epidermis dan gastrodermis yg antara keduanya
terdapat mesoglea dan pada kedua atau salah satunya terdapat nematosis, Mempunyai
kerangka dari zat kapur, zat tanduk atau tanpa kerangka, Mulut dikelilingi tentakel
yang berhubungan dengan ruang pencernaan yang dapat bercabang-cabang atau
terbagi oleh septa, tanpa dubur, tanpa darah, alat respirasi dan ekskresi, Sistem saraf
tidak terpusat Dua bentuk hidup : Polip, seperti tabung, satu ujung terbuka dan yang
lain melekat, mulut dikelilingi oleh tentakel. Medusa, berenang bebas, bentuk spt
payung, tepi mempunyai tentakel, mulut menonjol di tengah di daerah cekungan
bawah (Aslan, dkk. 2009).

2.2.1. Ciri Umum


Secara umum, tubuh Cnidaria berbentuk seperti kantung yang bolong yang
tersusun dari dua lapisan jaringan. Ektoderm menutupi permukaan luar tubuh,
endoderm menandai permukaan tubuh dalam. Diantara kedua jaringan ini terdapat
massa gelatin dari materi yang tidak terdiferensiasi yang disebut mesoglea. Tampilan
unik Cnidaria adalah bentuk medusa dan polip yang ditunjukkan beberapa kelas
wakil dalam filum ini (Jasin, 1984).

2.2.2 Kelas Coelenterata (Cnidaria)


Coelenterata dibagi dalam beberapa kelas diantaranya (Jasin, 1984):
1. Kelas Hidrozoa
Hidrozoa adalah cnidaria yang paling primitif. Banyak spesies Hidrozoa
bersifat kolonial, dengan anggota sebuah koloni memiliki peran kerja sendiri.
Sebagian hidrozoa melalui pembolak-balikan generasi dimana generasi polip aseksual
bergantian dengan generasi medusa seksual. Dalam kelas cnidaria ini, bentuk polip
dominan. Walau begitu, polip dari beberapa spesies menghasilkan medusa lewat
perkembang biakan aseksual dengan bertunas. Medusa menghasilkan gamet (sel telur
dan sperma) dan kemudian melakukan perkembangbiakan seksual. Spesies yang
termasuk kelas hidrozoa adalah Hydra, Obela, Genionemus dan Portuguese man-of-
war.
Hydra adalah cnidaria air tawar yang mewakili genus yang bernama sama.
Hydra adalah polip dan tidak memiliki bentuk medusa sepanjang sejarahnya.
Panjangnya sekitar 12 milimeter dan memiliki delapan tentakel mengelilingi mulut-
anus (Gambar 4). Hydra bergerak dengan tunggang balik, atas bawah. Pergerakan
hewan ini dimungkinkan oleh sel yang memiliki fungsi gerak dan indera. Reproduksi
Hydra bersifat seksual dan aseksual. Satu organisme menghasilkan sel telur dan
sperma sekaligus, yang dilepaskan di air, dan mengalami fertilisasi. Reproduksi
aseksual terjadi dengan bertunas.
2. Kelas Scyphozoa – Ubur Ubur
Scyphozoa merupakan ubur-ubur sejati. Cnidaria ini merupakan perenang
bebas dan hidup di air laut. Ukurannya bisa hanya berdiameter 2 centimeter atau bisa
sebesar 4 meter dengan tentakel mencapai panjang 10 meter. Seperti ditunjukkan
gambar 1, seekor ubur-ubur memiliki bentuk tubuh medusa. Empat lengan oral
keluar dari rongga mulut. Disekeliling tangan ini terdapat kantung gastrik dimana
pencernaan terjadi. Sebuah saluran yang rumit memancar disepanjang tubuh medusa.
Gonad menempel di selaput saluran dan mengelilingi kantung gastrik.Pada beberapa
spesies ubur-ubur, tahap polip terjadi, namun tidak terlalu penting dan tidak lama
dibandingkan medusa. Reproduksi polip aseksual, dicapai dengan semacam tunas
ujung yang disebut strobilasi. Reproduksi medusa bersifat seksual.
Ubur-ubur menunjukkan spesialisasi sel yang lebih besar dari Hydra atau
Obelia. Dibawah ektoderma terdapat sel otot sejati yang mendorong hewan ini di air
lewat kontraksi beraturan. Syaraf indera terhubung dengan serabut jala syaraf dan
bertindak sebagai pasokan syaraf untuk tentakel, sel otot dan reseptor indera. Untuk
pertama kalinya kita melihat kemunculan organ indera sejati: statocyst dan ocelli.
Statocyst adalah indera yang terspesialisasi untuk menerima dan mengatur informasi
yang memungkinkan organisme ini menentukan arahnya terhadap gravitasi. Statocyst
terletak disekeliling ujung lonceng. Masing-masing statocyst terdiri dari sebuah
lingkaran sel rambut, yang mengelilingi sebuah kristal kalsium karbonat yang
mengeras bernama stataolith. Dalam menanggapi gerakan statolith, sel rambut
mengirim impuls ke serabut syaraf. Organisme ini lalu menyetel posisinya naik atau
turun di air seperti diindikasikan oleh statocyst. Ocelli sendiri adalah sekelompok sel
penerima cahaya yang berada di dasar tentakel.
3. Kelas Anthozoa – Anemon Laut
Kelas Cnidaria ini memuat anemon laut, yang kadang disebut “hewan bunga”
karena ia memiliki tentakel yang berwarna cerah (gambar 5), dan hewan penyusun
koral. Kedua kelompok hewan ini adalah polip tanpa tahap medusa. Mereka sesil,
menempel pada batuan substrat di tepian laut. Anthozoa memiliki sejumlah tentakel
yang mengelilingi sebuah mulut yang terhubung ke sebuah tabung (stomodacum)
yang terus menuju ke rongga gastrovaskuler. Reproduksi dapat bersifat aseksual
dengan pertunasan atau seksual dengan sel telur dan sperma. Sel epitelial cnidaria
pembangun koral mengeluarkan dinding kalsium karbonat dimana polip
menyembunyikan dirinya. Senyawa yang dikeluarkan polip inilah yang menjadi
terumbu karang.

2.3 Filum Platyhelminthes


Platyhelminthes (dalam bahasa yunani, platy=pipih, helminthes=cacing) atau
cacing pipih adalah kelompok hewan yang struktur tubuhnya sedah lebih maju
dibandingkan porifera dan Coelenterata. Tubuh Platyhelminthes memiliki tiga lapisan
sel (triploblastik), yaitu ekstoderm, mesoderm, dan Endoderm.Platyhelminthes
berasal dari bahasa Yunani. Platy berarti pipih dan helmin berarti cacing. Jadi,
Platyhelminthes adalah cacing yang berbentuk pipih. Hewan yang tergolong kedalam
filum Platyhelminthes memiliki ujung posterior (ekor), permukaan ventral, dan
permukaan dorsal. Cacing ini sebagian besar hidup sebagai parasit dan ada pula yang
hidup bebas baik di air tawar maupun di air laut (Kimball,1992).
2.3.1 Morfologi dan Anatomi
Platyhelminthes adalah sebuah filum dalam kerajaan hewan. Filum ini
mencakup semua cacing pipih, sesuai dengan namanya yang berasal dari gabungan
dua kata dalam bahasa Yunani, (platy), yang berarti "datar", dan (helminth), yang
berarti "cacing". Filum Nemertinea (Nemertea) dulu merupakan kelas
Platyhelminthes yang sekarang dipisahkan Platyhelminthes adalah binatang sejenis
cacing pipih dengan simetri tubuh simetris bilateral tanpa peredaran darah dengan
pusat syarah yang berpasangan. Cacing pipih kebanyakan sebagai biang timbulnya
penyakit karena hidup sebagai parasit pada binatang / hewan atau manusia.
Contohnya antara lain seperti planaria, cacing pita, cacing hati, polikladida
(Campbell, 2003).
Platyhelminthes memiliki ukuran tubuh beragam, dari yang berukuran hampir
microskopis hingga yang panjangnya 20 cm. Tubuh Platyhelminthes simetris bilateral
dengan bentuk pipih. Diantara hewan simetris bilateral, Platyhelminthes memiliki
tubuh yang paling sederhana. Platyhelminthes tidak memiliki rongga tubuh (selom)
sehingga disebut hewan aselomata. Sistem pencernaan terdiri dari mulut, faring, dan
usus (tanpa anus). Usus bercabang-cabang ke seluruh tubuhnya. Platyhelminthes
tidak memiliki sistem peredaran darah (sirkulasi). Platyhelminthes juga tidak
memiliki sistem respirasi dan eksresi. Pernapasan dilakukan secara difusi oleh
seluruh sel tubuhnya. Proses ini terjadi karena tubuhnya yang pipih. Sistem eksresi
pada kelompok Platyhelminthes tertentu berfungsi untuk menjaga kadar air dalam
tubuh. Kelompok Platyhelminthes tertentu memiliki sistem saraf tangga tali. Sistem
saraf tangga tali terdiri dari sepasang simpul saraf (ganglia) dengan sepasang tali
saraf yang memanjang dan bercabang-cabang melintang seperti tangga. Organ
reproduksi jantan (testis) dan organ betina (Ovarium). Platyhelminthes terdapat dalam
satu individu sehingga disebut hewan hemafrodit. Alat reproduksi terdapat pada
bagian ventral tubuh. Platyhelminthes ada yang hidup bebas maupun parasit.
Platyhelminthes yang hidup bebas memakan hewan-hewan dan tumbuhan kecil atau
zat organik lainnya seperti sisa organisme. Platyhelminthes parasit hidup pada
jaringan atau cairan tubuh inangnya (Kastawati, dkk ,2005).

2.3.3 Habitat
Habitat Platyhelminthes yang hidup bebas adalah di air tawar, laut, dan
tempat-tempat yang lembap. Platyhelminthes yang parasit hidup di dalam tubuh
inangnya (endoparasit) pada siput air, sapi, babi, atau manusia. Reproduksi
Platyhelminthes dilakukan secara seksual dan aseksual. Pada reproduksi seksual akan
menghasilkan gamet. Fertilisasi ovum oleh sperma terjadi di dalam tubuh (internal).
Fertilisasi dapat dilakukan sendiri ataupun dengan pasangan lain. Reproduksi
aseksual tidak dilakukan oleh semua Platyhelminthes (Jasin, 1992).
2.3.2 Kelas Platyhelminthes
Platyhelminthes dibagi dalam beberapa kelas diantaranya (Rohana,2003) :
1. Turbellaria
Turbellaria memiliki ukuran tubuh bersilia dengan ukuran 15 – 18 mm. Silia
digunakan untuk bergerak. Pergerakan juga dapat menggunakan otot dengan gerakan
seperti gelombang. Pada kalas ini akan dibahas mengenai ciri salah satu contoh
Turbellaria, yaitu Dugesia.Bagian anterior tubuh Dugesia berbentuk segitiga dan
memiliki sistem indera berupa sepasang bintik mata serta celah yang disebut aurikel.
Bintik mata untuk membedakan keadaan gelap dan terang, sedangkan aurikel
berfungsi sebagai indera pembau saat Dugesia mencari makanannya. Sistem eksresi
Dugesia terdiri dari saluran bercabang-cabang yang disebut protonefridia, memanjang
dari pori-pori pada permukaan tubuh bagian dorsal sampai ke sel-sel api dalam
tubuhnya. Sel-sel api yang berbentuk seperti bola lampu dan memiliki silia di
dalamnya.Fertilisasi dilakukan secara silang oleh dua individu Dugesia. Reproduksi
aseksual adalah dengan membelah dirinya dan setiap belahan tubuh akan menjadi
individu baru yang dikarenakan oleh daya regenerasinya yang sangat tinggi.
2.Trematoda
Trematoda disebut sebagai cacing isap karena cacing ini memiliki alat
pengisap. Alat pengisap terdapat pada mulut di bagian anterior tubuhnya. Kegunaan
alat isap adalah untuk menempel pada tubuh inangnya. Pada saat menempel cacing
ini mengisap makanan berupa jaringan atau cairan tubuh inangnya. Dengan demikian,
Trematoda merupakan hewan parasit. Trematoda dewasa pada umumnya hidup di
dalam hati, usus, paru-paru, ginjal, dan pembuluh darah vertebrata. Cacing hati
memiliki daur hidup yang kompleks karena melibatkan sedikitnya dua jenis inang,
yaitu inang utama dan inang sebagai perantara. Daur hidup cacing hati terdiri dari
fase seksual dan aseksual. Fase seksual terjadi saat cacing hati dewasa berada di
dalam tubuh inang utama. Fase aseksual dengan membelah diri terjadi saat larva
berada di dalam tubuh inang perantara. Beberapa jenis cacing hati yang dapat
menginfeksi manusia antara lain Opisthorchis sinensis, Schistosoma japonicum,
hupensis, Paragonimus westermani

3. Cestoda
Cestoda juga disebut sebagai cacing pita karena bentuknya pipih panjang
seperti pita. Tubuh Cestoda dilapisi kutikula dan terdiri dari bagian anterior yang
disebut skoleks, leher (strobilus), dan rangkaian proglotid. Pada skoleks terdapat alat
pengisap. Skoleks pada jenis Cestoda tertentu selain memiliki alat pengisap, juga
memiliki kait (rostelum) yang berfungsi untuk melekat pada organ tubuh inangnya.
Dibelakang skoleks pada bagian leher terbentuk proglotid.Setiap proglotid
mengandung organ kelamin jantan (testis) dan organ kelamin betina (ovarium). Tiap
proglotid dapat terjadi fertilisasi sendiri. Proglotid yang dibuahi terdapat di bagian
posterior tubuh cacing. Proglotid dapat melepaskan diri (strobilasi) dan keluar dari
tubuh inang utama bersama dengan tinja. Cestoda bersifat parasit karena menyerap
sari makan dari usus halus inangnya. Sari makanan diserap langsung oleh seluruh
permukaan tubuhnya karena cacing ini tidak memiliki mulut dan pencernaan (usus).
Manusia dapat terinfeksi Cestoda saat memakan daging hewan yang dimasak tidak
sempurna. Inang pernatara Cestoda adalah sapi pada Taenia saginata dan babi pada
taenia solium.

2.4 Filum Nemathelminthes


Nemathelminthes umumnya cacing yg hidupnya parasit dan merugikan manusia,
Pada umumnya merugikan, sebab parasit pada manusia maupun hewan, kecuali
Planaria. Planaria dapat dimanfaatkan untuk makanan ikan. Nemathelminthes (
cacing gilig), contohnya Ascaris lumbricoides. Sering disebut cacing perut atau
cacing usus atau cacing gelang. Parasit pada usus halus manusia, hewan yang
memiliki tubuh simetris bilateral dengan saluran pencernaan yang baik namun tidak
ada sistem peredaran darah. Contoh cacing gilik : cacing askaris, cacing akarm cacing
tambang, cacing filaria. Nemathelminthes hampir seluruhnya mempunyai akibat yg
buruk jika memasuki tubuh mahluk hidup lainnya. Contoh cacing Ascaris
lumbricoides merupakan cacing perut yg menghisap sari makanan dari manusia. Jadi
selain pengurai annelida seringkali malah menjadi parasit pada tubuh manusia atau
hewan Nemathelminthes berasal dari kata Nemathos = benang; Helminthes = cacing.
Jadi pengertian Nemathelminthes adalah cacing yang berbentuk benang atau gilig
(Lahay, 2007).

2.4.1 Ciri dan Struktur Tubuh


Nemathelminthes memiliki ciri dan sifat sebagai berikut (Levine, 1990) :
1. Tubuh berbentuk gilig atau seperti batang dan tidak bersegmen, mempunyai
selom semu (pseudoselomata), tripoblastik. Permukaan tubuh dilapisi kutikula
sehingga tampak mengkilat.
2. Saluran pencernaan sempurna mulai dari mulut sampai anus. Beberapa jenis
diantaranya memiliki kait.
3. Sistem respirasi melalui permukaan tubuh secara difusi.
4. Saluran peredaran darah tidak ada, tetapi cacing ini mempunyai cairan yang
fungsinya menyerupai darah.
5. Sistem reproduksi :Alat kelamin terpisah, cacing betina lebih besar dari cacing
jantan dan yang jantan mempunyai ujung berkait (gambar 1). Gonad
berhubungan dengan saluran alat kelamin, dan telur dilapisi oleh kulit yang
terbuat dari kitin. Hewan ini tidak berkembangbiak secara aseksual
6. .Habitat: Sebagian besar hewan ini hidup bebas dalam air dan tanah, tetapi ada
juga
sebagai parasit dalam tanah, yakni merusak tanaman atau dalam saluran
pencernaan
Nemathelminthes memiliki sruktur tubuh sebagai berikut (Campbell,2003) :
1. Tubuh simetribilateral, bulatpanjang (gilig) disebut cacing gilik
2. Memilikisaluranpencernaan
3. .Dioceous( berumah dua) reproduksi seksual (jantan dan betina)
4. Mempunyai saluran pencernaan
5. Memiliki rongga badan palsu
6. Triploblastik Pseudoselomata
7. Kosmopolitan,ada yang parasit dan ada pula yang hidup bebas

2.4.3 Jenis Cacing Nemathelminthes


Terdapat beberapa Jenis-Jenis Cacing Nemathelminthes antara lain
(Campbell, 2003) :
1. Ascaris lumbricoides
Infeksi cacing ini terutama menyerang ayam usia 3-4 bulan. Spesimen dari parasit
ini kadang-kadang ditemukan dalam telur. Cacing ini berpindah tempat dari usus ke
oviduct dan dapat masuk ke dalam telur pada saat pembentukan telur tersebut. Cacing
dewasa mudah dilihat dengan mata telanjang karena panjang cacing dewasa mencapai
½ hingga 3 inchi.
2. Heterakis gallinae
Parasit ini tidak menimbulkan akibat yang serius pada kesehatan ayam. Minimal
tidak menimbulkan gejala atau patologi yang signifikan. Cara penularan cacing ini
sama dengan Ascaris. Namun telur yang mengandung larva akan infektif dalam 2
minggu. Dalam cuaca yang dingin akan membutuhkan waktu yang lebih panjang.
Parasit ini dapat dibasmi dengan fenbendazole.
3. Capillaria annulata atau Capllaria contorta
Cacing ini sering ditemukan pada esophagus dan tembolok. Parasit ini
menyebabkan penipisan dan inflamasi pada mukosa. Pada system gastrointestinal
bagian bawah, dapat ditemukan beberapa spesies parasit tetapi biasanya adalah
Capillaria obsignata. Berbeda dengan cacing yang lain, pembentukan embryo
memakan waktu 6-8 hari dan akan sangat infeksius untuk peternakan. Kerusakan
terparah akan terjadi pada 2 minggu setelah infeksi. Parasit ini akan menimbulkan
inflamasi berat dan kadang-kadang terjadi perdarahan.

2.5 Filum Annelida


Filum Annelida merupakan cincin kecil bentuk, berarti cacing yang
berbentuk cincin kecil. Cacing-cacing yang termasuk dalam filum ini, tubuhnya
bersegment- segment. Mereka hidup di dalam tanah yang lembab, dalam laut, dan
dalam air tawar. Pada umumnya Annelida hidup bebas, ada yang hidup dalam liang,
beberapa bersifat komensal pada hewan-hewan aquatic, dan ada juuga yang bersifat
parasit pada vertebrata. Annelida di samping tubuhnya bersegment-segment, juga
tertutup oleh kultikula yang merupakan hasil sekresi dari epidermis; sudah
mempunyai sistem nervosum, sistem kardiovaskula tertutup, dan sudah ada rongga
badan atau celom (Radiopoetro, 1996).
Annelida berbeda dengan kelompok-kelompok cacing yang lain dalam hal-hal
berikut: a) Tubuhnya dibagi ke dalam satu deretan memanjang ruas-ruas serupa yang
juga disebut metamer (metamere) atau somit (somites), yang kelihatan dari luar dan
karena adanya cekungan yang mengelilingi tubuh dan kelihatan dari dalam karena
adanya sekat yang dinamakan septa atau sekat, b) Rongga tubuh antara saluran
pencernaan dan dinding tubuh merupakan rongga tubuh yang sebenarnya, c) Hewan
ini mempunyai satu ruas pra-oral yang dinamakan prostomium, d) Sistem saraf terdiri
dari satu pasang ganglia pra-oral dorsal, otak, dan satu pasang benang saraf ventral
khas dengan satu pasang ganglia dalam setiap ruas, dan e) Kutikula bukan dari bahan
kitin (Rohmimohtarto, 2007).
Cacing tanah merupakan salah satu ragam yang istimewa di antara Annelida.
Apendiks-apendiksnya hanya berwujud rambut-rambut kaku yang kecil. Cacing tanah
tidak mempunyai insang, tetapi mengisap oksigen melalui kulitnya yang basah dari
celah-celah di dalam tanah. Cacing tanah tidak mempunyai rahang. Cacing tanah
mengeluarkan lendir yang melicinkan jalannya menembus tanah. Pendek kata, dalam
banyak hal cacing tanah menunjukkan adaptasi terhadap kehidupan di dalam tanah.
Annelida yang istimewa lainnya ialah lintah dan pacet. Keduanya hidup dengan
menghisap darah hewan lain. Lintah dan pacet mempunyai segmentasi seperti
Annelida biasa, tetapi tubuhnya pipih dan tidak mempunyai apendiks-apendiks
(Kimball,1992).
Beberapa hewan Annelida akuatik berenang untuk mencari makan, tetapi
sebagian besar tinggal di dasar dan bersarang di dalam pasir dan endapan lumpur:
cacing tanah, tentunya, merupakan pembentuk sarang dalam lubang. Kelas cacing
bersegmen ini meliputi cacing tanah dan berbagai spesies akuatik. Cacing tanah
memakan tanah untuk membuat lubang jalan melalui tanah, dan mengekstraksi
nutrient sementara tanah dilewatkan melalui saluran pencernaan. Bahan-bahan yang
tidak tercerna, tercampur dengan mucus yang disekresikan ke dalam saluran
pencernaan, dikeluarkan sebagai kotoran melalui anus. Petani menghargai cacing
tanah karena hewan tersebut mengolah tanah, dan kotorannya memperbaiki kotoran
tanah (Campbell, 2003).
Pada siang hari, mereka tidak pernah keluar permukaan tanah, kecuali jika pada
saat itu hujan, yang cukup menggenangi liang itu. Mereka akan keluar terutama pada
pagi hari sesudah hujan. Dalam keadaan normal mereka akan pergi ke permukaan
tanah pada malam hari. Dalam keadaan sangat dingin atau sangat kering mereka
masuk ke dalam liang, dan dalam keadaan ini beberapa cacing seringkali terdapat
melingkar bersama-sama (Radiopoetro, 1996).
2.5.1 Sistem saraf
Saraf pusat ini pejal dan berpasangan, seperti Arthropoda. Sangatlah sukar untuk
menghindari kesan bahwa Annelida dan Arthropoda lebih banyak serupa daripada
Arthropoda dan Chordata. Kebanyakan Annelida hidupnya akuatik. Beberapa spesies
yang hidup di laut mencapai kepanjangan sampai hampir satu meter. Annelida laut
yang berenang-renang pada permukaan laut dapat menyebabkan timbulnya cerita-
cerita tentang ular laut. Tetapi banyak Annelida laut membenamkan dirinya dalam
pasir atau lumpur. Dari tempat persembunyiannya ini Annelida tadi menjulur dan
menangkap hewan-hewan yang lewat dengan rahangnya yang tajam. Beberapa
Annelida yang membenamkan diri, mempunyai insang seperti bulu-bulu yang
warnanya sangat bagus. Insang ini adalah satu-satunya bagian yang tampak oleh
mangsanya yang lewat (Campbell, 2003).

2.5.2 Sistem Sirkulasi


Sistem sirkulasi cacing tanah tertutup terdiri atas suatu jaringan pembuluh
yang mengandung darah dengan hemoglobin pembawa oksigen. Pembuluh dorsal dan
lima pasangan pembuluh yang melingkari esophagus cacing tanah adalah pembuluh
berotot dan memompa darah kecil sangat banyak terdapat pada kulit cacing tanah,
yang berfungsi sebagai organ pernapasannya. Pada masing-masing segmen cacing
tersebut terdapat sepasang tabung ekskretoris yang disebut metanefridia dengan
corong bersilia, yang disebut nefrostom, yang mengeluarkan buangan dari darah dan
cairan selomik. Metanefridia akan bermuara ke pori-pori eksterior, dan buangan
metabolisme dikeluarkan melalui pori-pori tersebut. Sepasang ganglia serebral yang
mirip otak terletak di atas dan di depan faring (Campbell, 2003).
2.6 Filum Molusca
Hewan-hewan yang termasuk phylum Mollusca memilii tubuh lunak tidak
bersegmen, dengan ciri tubuh bagian anterior ialah kepala, sisi fentral berfungsi
sebagai nosculer, dan massa vicera terdapat pad sisi dorsal. Keadaan tubuh yang
lunak itu merupakan dasar pemberian nama phylum ini, Mollusca dari kata Mollis
yang artinya lunak (Radiopoetra, 1986).
Dengan kira -kira 100.000 spesies yang masi hidup, pada waktu ini phylum
Mollusca termasuk hewan yang sangat penting. Terdiri atas hewan bertubuh lunak,
tidak bersegmen (kecuali satu), banyak diantaranya dilindungi oleh satu atau lebih
cangkang yang terbuat dari kapur (kalsium karbonat). Cangkang atau katup ini di buat
oleh sebuah lipatan dinding tubuh yang khusus di sebut mantel. Sebagian besar
Mollusca hidup di air laut, tetapi banyak ditemukan di air tawar dan beberapa di darat
(Kimball, 1992).
Kata Mollusca berasal dari bahasa latin yang berarti mollis yang berati
lunak.oleh sebab itu, mollusca disebut juga hewan bertubuh lunak.Tubuh berbentuk
bulat simetris dan tidan bersegmen. Sebagian besar jenis mollusca mempunyai
cangkang (mantel) , yaitu lapisan jaringan yang menutupi organ-organ viseral dan
membentuk rongga mantel. Cangkang Mollusca tersusun atas zat kapur (CaCO3)
yang berguna untuk melindungi diri, misalnya kerang dang keong.Tubuh kedua
hewan tadi tersimpan di dalam cangkang sehingga tak nampak dari luar. Bila keadaan
aman tubuh dijulurkan keluar dan yang tampak pertama kali adalah kakinya, dqan kai
tersebut untuk berjalan atau berenang. Ada juga jenis hewan molusca yang tidak
memiliki cangkang, misalnya gurita (Lahay, 2007).

2.6.1 Kelas pada Molusca


Berdasarkan bentuk tubuh, Mollusca dibagi menjadi 5 kelas yaitu (Campbell,
2003) :
1. Kelas Amphineura
Hewan ini hidup di laut dan sering ditemukan disekitar pantai, menempel pada
batu-batu menggunakan kaki perutnya. Kelas ini mempunyai anggota ± 700
spesies.Pada rongga mantel terdapat insang. Pada tubuh bagian dorsal ditutupi 8
keping cangkang yang mengandung zat kapur.Contoh : Chiton, Crypto chiton, dan
Chiton tuberculatus.
2. Kelas Gastropoda
Gastropoda merupakan kelas mollusca terbesar. Ada yang hidup di laut, air
tawar, dan di darat. Anggota gastropoda sebagian besar mempunyai cangkang
berbentuk kerucut terpilin. Sehingga bentuk tubuhnya juga menyesuaikan diri dengan
bentuk cangkang. Anggota gastropoda yang tidak memiliki cangkang disebut siput
telanjang.contoh : Achatina fulica dan Pilla ampulacea.
3. Kelas Scaphopoda
Hewan ini hidup di laut, terutama di liang-liang berlumpur. Cangkang
berbentuk taring atau terompet sehingga dikenal dengan kerang terompet. Kedua
ujungnya terbuka, dan panjang cangkang sekitar 3-6 cm. Tubuh anggota scaphopoda
ini dilengkapi dengan tentakel kecil yang dinamakan kaptakula. Contoh : Dentalium
dan Cadulus mayori.
4. Kelas Pelecypoda.
Ciri khas anggota Pelecypoda mempunyai kaki berbentuk pipih seperti kapak.
Fungsi kaki ini untuk membuat lubang. Hewan ini disebut bivalvia karena memiliki
dua buah cangkang. Ditepi cangkang, mantel secara terus menerus membentuk
cangkang baru sehingga cangkang mnkin lama makin besar dan menggelembung.
Contoh : Pecten dan Tridacna maxima.
5. Kelas Cephalopoda.
Cephalopoda merupakan hewan ayng kakinya terletak dikepala. Kaki ini
dikenal dengan tentakel atau lengan. Tempat hidup hewan ini di laut. Tubuh terdiri
atas kepala, badan, dan leher. Kepala dilengkapi dengan 1 pasang mata dan 8 buah
tentakel (pada Octopus) atau 10 buah lengan (8 lengan dan 2 buah termodifikasi
menjdi tentakel) yang mengelilingi mulutnya, contoh cumi-cumi dan sotong.tentakel
ini berfungsi untuk menangkap mangsa. Contoh : Lagilo indica, Octopus, dan Sepia
officinalis.

2.6.2 Ciri-ciri
Adapun ciri-ciri dari flum Mollusca yaitu, (Rohana, 2003) :
1. Simetrik bilateral dengan alat-alat dalam dan cangkok, ada yang mengalami
perputaran
2. Tidak terdapat segmentasi
3. Tubuh ditutupi oleh mantel yang dapat mensekresi bahan-bahan pembentuk
cangkok, tubuhnya lunak
4. Bagian kepala umumnya terletak di bagian depan dengan struktur perototan di
daerah perut sebagai alat gerak
5. Sifat kelamin umumnya diesius
6. Hidup di laut atau hidup di air tawar, ada pula yang hidup di darat.

2.7 Filum Arthropoda


Arthropoda berasal dari bahasa Yunani, yaitu arthro yang berarti ruas dan
podos yang berarti kaki. Jadi, Arthropoda berarti hewan yang kakinya beruas-ruas.
Organisme yang tergolong filum arthropoda memiliki kaki yang berbuku-buku.
Hewan ini memiliki jumlah spesies yang saat ini telah diketahui sekitar 900.000
spesies. Hewan yang tergolong arthropoda hidup di darat sampai ketinggian 6.000 m,
sedangkan yang hidup di air dapat ditemukan sampai kedalaman 10.000
meter. (Kastawati,dkk, 2007).

2.7.1 Ciri-ciri
Ciri-ciri umum dari Arthropoda ialah mempunyai appendage yang beruas,
tubuhnya bilateral simetris terdiri atas sejumlah ruas-ruas, tubuh dibungkus oleh zat
chtine, sehingga merupakan exoskleton (rangka luar), biasanya ruas-ruas terdapat
bagian-bagian yang tidak berchitine, sehingga ruas-ruas tersebut mudah digerakkan,
sistem syaraf tangga tali, Coelom pada hewan dewasa adalah kecil dan merupakan
suatu rongga berisi darah dan disebut haemocoel (Kimball ,1992).
2.7.2 Morfologi dan Anatomi
Ukuran tubuh Arthropoda sangat beragam, beberapa diantaranya memiliki
panjang lebih dari 60 cm., namun kebanyakan berukuran kecil. Begitu pula dengan
bentuk Arthropoda pun beragam. Hewan arthropoda memiliki bentuk tubuh simetri
bilateral, triploblastik selomata, dan tubuhnya bersegmen. Tubuh ditutupi lapisan
kutikula yang merupakan rangka luar (eksosketelon). Ketebalan kutikula sangan
bervariasi, tergantung dari spesies hewannya. Kutikula dihasilkan oleh epidermis
yang terdiri atas protein dan lapisan kitin. Pada waktu serangga mengadakan
pertumbuhan, kutikula akan mengalami pengelupasan (Karmana,2007). Kutikula
berfungsi melindungi tubuh bagian dalam, memberi bentuk pada tubuh serangga dan
dapat menjadi tempat melekatnya otot, terutama yang berhubungan dengan alat
gerak. Otot serangga merupakan otot serat lintang yang susunannya sangat kompleks.
Otot ini diperlukan untuk melakukan gerakan yang cepat (Jatje, 2006).
Tubuh Arthropoda terdiri atas caput (kepala), toraks(dada), dan abdomen
(perut) yang bersegmen-segmen. Pada laba-laba dan udang, kepala dan dadanya
bersatu membentuk sefalotoraks, tetapi ada juga spesies yang sulit dibedakan antara
kepala, toraks, dan abdomennya, seperti pada lipan. Pada tiap-tiap segmen tubuh ada
yang dilengkapi alat gerak dan ada juga yang tidak dilengkapi alat gerak. Hewan
arthropoda memiliki organ sensoris yang sudan berkembang, seperti mata,
penciuman, serta antena yang berfungsi sebagai alat peraba dan pencium. Tingkat
perkembangannya sesuai dengan kondisi lingkungan tempat hidupnya.
Sitem peredaran darah terdiri atas jantung di bagian dorsal. Sistem peredaran
darahnya merupakan sistem peredaran darah terbuka yang tidak memiliki kapiler
darah. Jantung berfungsi untuk memompa darah keseluruh tubuh (Oemarjati,1990).

2.7.3 Kelas Arthropoda


Filum arthropoda dibagi menjadi empat kelas, yaitu (Campbell, 2003) :
1. Crustacea
Crustacea (dalam bahasa latinnya, crusta= kulit) memiliki kulit yang
keras.Udang, lobster, dan kepiting adalah contoh kelompok ini. Umumnya hewan
Crustacea merupakan hewan akuatik, meskipun ada yang hidup di darat. Crustacea
dibedakan menjadi dua subkelas berdasarkan ukuran tubuhnya, yaitu Entomostraca
dan Malacostraca.Entomostraca adalah crustacea yang berukuran mikroskopik, hidup
sebagai zooplankton atau bentos di perairan, dan juga ada yang sebagai parasit.
Contoh hewan ini adalah Daphnia, Cypris virens, dan Cyclops sp.
2. Arachnoidea
Arachnoidea (dalam bahasa yunani, arachno = laba-laba) disebut juga
kelompok laba-laba, meskipun anggotanya bukan laba-laba saja. Kalajengking adalah
salah satu contoh kelas Arachnoidea yang jumlahnya sekitar 32 spesies. Ukuran
tubuh Arachnoidea bervariasi, ada yang panjangnya lebih kecil dari 0,5 mm sampai 9
cm. Berikut adalah ciri-ciri dari salah satu hewan Arachnoidea yang sering kita
jumpai, yaitu laba-laba. Tubuhnya terdiri dari dua bagian, yaitu sefalotoraks (kepala-
dada) pada bagian anterior dan abdomen pada bagian posterior. Sefalotoraks adalah
penyatuan tubuh bagian sefal atau kaput (kepala) dan bagian toraks (dada). Pada
sefalotoraks terdapat sepasang kalisera (alat sengat), sepasang pedipalpus (capit), dan
enam pasang kaki untuk berjalan. Kalisera dan pedipalpus merupakan alat tambahan
pada mulut. Pada bagian abdomen (opistosoma) laba-laba terdiri dari mesosoma dan
metasoma. Pada bagian posterior abdomen terdapat spineret yang merupakan organ
berbentuk kerucut dan dapat berputar bebas. Didalam spineret terdapat banyak spigot
yang merupakan lubang pengeluaran kelenjar benang halus atau kelenjar benang
abdomen. Kelenjar benang halus mensekresikan cairan yang mengandung protein
elastik. Protein elastik tersebut akan mengeras di udara membentuk benang halus
yang digunakan untuk menjebak mangsa.
3. Myriapoda
Myriapoda (dalam bahasa yunani, myria = banyak, podos = kaki) merupakan
hewan berkaki banyak. Hewan kaki seribu adalah salah satunya yang terkadang kita
lihat di lingkungan sekitar kita. Myriapoda hidup di darat pada tempat lembap,
misalnya di bawah daun, batu, atau tumpukan kayu. Bagian tubuh Myriapoda sulit
dibedakan antara toraks dan abdomen. Tubuhnya memanjang seperti cacing. Pada
kaput terdapat antena, mulut, dan satu pasang mandibula (rahang bawah), dua pasang
maksila (rahang atas), dan mata yang berbentuk oseli (mata tunggal). Tubuhnya
bersegmen dengan satu hingga dua pasang anggota badan pada tiap segmennya.
Setiap segmen terdapat lubang respirasi yang disebut spirakel yang menuju ke trakea.
Ekskresinya dengan tubula malpighi. Myriapoda bersifat dioseus dan melakukan
repsroduksi seksual secara internal. Myriapoda dibedakan menjadi dua ordo, yaitu
Chilopoda dan Diplopoda.
4. Insecta
Insecta atau serangga merupakan hewan anggota dari Ordo Arthopoda yang
sangat benyak anggota spesiesnya. Serangga merupakan hewan beruas dengan tingkat
adaptasi yang sangat tinggi. Fosil-fosilnya dapat dirunut hingga ke masa fosil raksasa
primitif telah ditemukan. Sejumlah anggota Dipteraseperti lalat dan nyamuk yang
terperangkap pada getah juga ditemukan. Serangga mampu hidupdimanapun, bahkan
ada serangga yang mampu hidup tanpa oksigen seklaipun. Hal ini
dikarenakanserangga mampu beradaptasi dengan segala kondisi yang membuat
variasi morfologi sesuai dengan caraadaptasi mereka dengan lingkungannya. Ada
serangga yang mampu terbang, serangga yang hidup di airdan banyak yang hidup di
terestrial atau diatas permukaan tanah (Radiopoetra. 1984).
Kelas Insekta dikenal sebagai hama tanaman, namun ada beberapa yang
bertindak sebagai musuhalami hama (parasitoid dan predator) serta sebagai serangga
penyerbuk.Secara umum morfologi anggota kelas Insekta ini adalah (Levine, 1990):
1. Tubuh terdiri dari ruas-ruas (segmen) dan terbagi kedalam tiga daerah, yaitu
caput, thoraks, dan abdomen.
2. Kaki berjumlah 3 pasang pada thoraks.
3. Antene satu pasang.
Berdasarkan sayap, Insecta dibedakan menjadi dua sub-kelas :
4. Apterigota (tidak bersayap), tubuh apterigota berukuran kecil sekitar 0.5 cm
dan memiliki antenapanjang. Umumnya berkembang secara ametabola.
Contoh hewan kelas ini adalah kutu buku.
5. Pterigota (bersayap), merupakan kelompok Insecta yang sayapnya berasal dari
tonjolam luardinding tubuh yang disebut Eksopterigota.
Eksopterigota dibedakan menjadi beberapa ordo berdasarkan tipe sayap,
mulut, danmetamorfosisnya :
1. Orthoptera memiliki dua pasang sayap dengan sayap depan yang sempit.
Misalnya kecoa, jangkrik, dan gansir.
2. Hemiptera memiliki dua pasang sayap yang tidak sama panjang. Contohnya
walang sangit(Leptocorisa acuta), dan kutu busuk (Cymex rotundus).
3. Homoptera memiliki dua pasang sayap yang sama panjang. Contohnya
wereng coklat(Nilaprvata lugens), kutu daun (Aphis), dan kutu kepala
(Pediculus humanus).
4. Odonata memiliki dua pasang sayap seperti jala. Contohnya adalah capung
(Pantala)
Endoptrogota dibedakan menjadi:
1. Coleptera memiliki dua pasang sayap dengan sayap depan yang keras dan
tebal, misalnya kumbang tanduk (Orycies rhinoceros) dan kutu gabah
(Rhyzoptera diminica).
2. Hymenoptera memiliki dua pasang sayap yang seperti selaput, dengan sayap
depan lebih besardaripada sayap belakang. Misalnya semut rangrang
(Oecophylla saragillina), semut hitam (Monomorium sp.), lebah madu (Apis
indica), dan tawon ( Xylocopa latipes).
3. Diptera hanya memiliki satu pasang sayap. Misalnya nyamuk (Culex sp.),
nyamuk malaria( Anopheles sp.), nyamuk demam beradarah (Aedes aegypti),
lalat rumah (Musca domestica), lalatbuah (Drosophila melanogaster), dan
lalat tse-tse (Glossina palpalis).
4. Lepidoptera memiliki dua pasang sayap yang bersisik halus dan tipe mulut
penghisap, misalnya kupu-kupu sutera (Bombyx mori), dan kupu-kupu elang
(Acherontia atropos).Biasanya bersayap dua pasang, namun ada yang hanya
memiliki satu pasang atau bahkan tidak punya sayap sama sekali

Insecta memiliki sistem pencernaan yang lengkap dan organ yang jelas untuk
perombakan makanan dan penyerapan zat-zat makanan. Insecta bernafas dengan
sistem trakea yang berupa tabung bercabang yang dilapisi dengan kitin.Oksigen
masuk secara langsung dari trakea ke sel-sel tubuh. Sistem trakea membuka bagian
luar tubuhmelalui spirakel, yaitu pori-pori yang dapat membuka dan menutup untuk
mengatur aliran udara danmembatasi hilangnya air. (Lahay, 2007).
Sistem sirkulasi insecta berupa sistem sirkulasi terbuka dengan organ sebuah
jantung pembuluh yangberfungsi memompa hemolimfa melalui sinus homosol
(rongga tubuh).Sistem pengeluaran (ekskresi) pada insect. Sistem pengeluaran insecta
berupa tubulus malphigi yang melekat pada bagian posterior saluranpencernaan.
Sistem saraf insecta terdiri dari pasangan tali saraf ventral dengan beberapa ganglia
segmental.Beberapa segmen ganglia anterior menyatu membentuk otak yang terletak
dekat antena, mata, danorgan indera lain yang terpusat dikepala. (Jasin, 1987).

2.7.4 Manfaat dan Kerugian Jenis Arthropoda


Berbagai jenis Arthropoda memberikan keuntungan dan kerugian bagi
manusia. Peran arthropoda yang menguntungkan manusia misalnya dibidang pangan
dan sandang yaitu sebagai berikut (Kimball, 1992) :
1. Sumber makanan yang mengandung protein hewani tinggi. Misalnya Udang
windu (Panaeus monodon), rajingan (portunus pelagicus), kepiting (scylla
serrata), dan udang karang (panulirus versicolor.
2. Penghasil madu, yaitu lebah madu (Apis indica)
3. Bahan industri kain sutera, yaitu pupa kupu-kupu sutera (Bombyx mori)
Sementara yang merugikan manusia anatara lain :
1. Vektor perantara penyakit bagi manusia.Misalnya nyamuk malaria, nyamuk
demam berdarah, lalat tsetse sebagai vektor penyakit tidur, dan lalat rumah
sebagai vektor penyakit tifus.
2. Menimbulkan gangguan pada manusia.Misalnya caplak penyebab kudis, kutu
kepala, dan kutu busuk
3. Hama tanaman pangan dan industri.Contohnya wereng coklat dan kumbang
tanduk
4. Perusak makanan.Contohnya kutu gabah.

2.8 Filum Echinodermata


Echinos = duri dan derma = kulit. Jadi Echinodermata hewan berkulit duri.
.simetri bilateral pada saat larva dan dewasanya simetri radial. Alat gerak berupa
kaki ambulakral, tidak bersegmen, seluruh tubuh tertutup rangka kapur dan berduri serta
pentamer. alat pencernaan berkembang sempurna dari mulut sampai anus kecuali
kelas Ophiuroidea yang tidak memiliki anus Ekskresi menggunakan sel-sel amoeboid
Alat pernapasan berupa dermal branchiata, kaki tabung atau tentakel, kaki insang
Sistem syaraf berpusat di cincin syaraf , dihubungkan dengan tali-tali syaraf radial,
Hermaprodit pada kelas Holothuroidea, berkelamin terpisah (berumah dua). Secara
umum pada Echinodermata tubuh terdiri atas bagian oral dan aboral, memiliki
sistem vaskuler (sistem Ambulakral), umumnya lengan berjumlah 5, Asterias
tubuhnya dilindungi oleh duri-duri.Hewan ini mempunyai bentuk yang khas dan
panjangnya bisa mencapai 1 mm (Oemarjati, 1990).

2.8.1 Morfologi dan Anatomi


Seluruh hewan Echinodermata adalah simetri radial dan sebagian
besar memiliki penguat tubuh dari zat kapur dengan tonjolan-tonjolan duri. Hewan ini
hidup di pantai dan didalam laut sampai kedalaman kurang lebih 366 m, sebagian
hidup bebas, hanya gerakannnya lamban, tidak ada yang parasit. Merupakan hewan
pemakan sampah-sampah laut, sehingga laut menjadi bersih. Phylum Echinodermata
ditempatkan pada akhir deretan phylum dalam Invertebrata karena tidak
Nampak memiliki hubungan kekerabatan dengan Invertebrata lainnya. Beberapa
species vivipar, beberapa berkembang biak dengan aseksual yaitu dengan
pembelahan sel; memilki daya regenerasi yang besar sekali, bila terdapat bagian yang
rusakatau terlepas. Pada sekitar dasar duri terdapat bentuk jepitan pada ujungnya dan
disebut Pedicellaria. Pada salah satu bagian antara dua bagian tubuh radial atau
lengan terdapat lempeng saringan madreporit sebagai tempat masuknya air dalam
sistem vaskular air atau ambulakral. Pada tiap alur ambulacral terdapat 2 deret atau 4
deret kaki-kaki. Saluran pencernaan sederhana, biasanya lengkap (beberapa jenis
tidak memiliki anus). Memiliki sistem sirkulasi radial yang mengalami reduksi;
coelom dilapisi oleh peritonium bersilia; rongga coelom biasanya luas dan berisi
amoebocyt-amoebocyt bebas. Respirasi dilakukan dengan insang kecil atau papulae
yang tersembul dari coelom; beberapa jenis Echinodermata bernafas dengan kaki
ambulakral. Sistem syaraf dengan batang cincin yang bercabang-cabang ke arah
radial (Radiopoetra. 1984).

2.8.2 Ciri-ciri Echinodermata


Ciri-ciri Echinodermata secara rinci adalah (Brotowidjoyo. 1995):
1. Simetri radial pada hewan yang telah dewasa, memiliki 5 bagian, sedang
larvanya simetri bilateral; memiliki 3 jaringan dasar, sebagian besar alatnya
bersilia, tidak memiliki kepala dan otak, tidak bersegmen.
2. Permukaan tubuh yang umumnya simetri radia, memiliki kaki buluh atau kaki
ambulakral.
3. Tubuh terbungkus oleh epidermis yang halus dengan disokong oleh penguat
berupa kepingan kapur yang disebut laminae atau ossicula yang mudah
digerakkan atau tidak mudah digerakkan, dengan pola yang tetap, sering
memiliki duri-duri kapur yang halus.
4. Saluran pencernaan sederhana, biasanya lengkap (beberapa jenis tidak memliki
anus).
5. Memiliki sistem sirkulasi radial yang mengalami reduksi; coelom dilapisi oleh
peritonium bersilia ; rongga coelom biasanya luas dan berisi amoebocyt-
amoebocyt bebas.
6. Respirasi dilakukan dengan insang kecil atau papulae yang tersembul dari
coelom dan beberapa jenis Echinodermata bernapas dengan menggunakan kaki
ambulakral, sedang pada Holoturoidea menggunakan batang-batang seperti
pohon yang terdapat dalam cloaca.
7. Sistem syaraf dengan batang cincin yang bercabang-cabang kearah radial. Seks
terpisah dengan beberapa perkecualian.

2.8.3 Kelas dari Echinodermata


Echinodermata dibagi dalam beberapa kelas diantaranya (Hegner,dkk, 1968):
1. Asteroidea
Asteroidea merupakan spesies Echinodermata yang paling banyak jumlahnya,
yaitu sekitar 1.600 spesies. Asteroidea juga sering disebut bintang laut.
Bintang laut umumnya memiliki lima lengan, tetapi kadang-kadang lebih
yang memanjang dari suatu cakram pusat. Permukaan bagian bawah lengan
itu memiliki kaki tabung yang dapat bertindak seperti cakram untuk
menyedot. Bintang laut mengkoordinasi kaki tabung tersebut untuk melekat di
batuan dan merangkak secara perlahan-lahan sementara kaki tabung tersebut
memanjang, mencengkeram, berkontraksi, melemas, memajang, kemudian
mencengkeram lagi. Bintang laut menggunakan kaki tabungnya untuk
menjerat mangsanya seperti remis dan tiram. Lengan bintang laut mengapit
bipalpia yang menutup, kemudian mengeluarkan lambungnya melalui mulut
dan memasukkannya ke dalam celah sempit bivalvia kemudian
mengekresikan getah pencernaan dan mencerna bivalvia di dalam
cangkangnya (Hegner,dkk, 1968).
2. Ophiuroidea (bintang mengular) memiliki cakram tengah yang jelas terlihat
dari tangannya panjang sehingga memudahkannya bergerak. Kaki tabung
(kaki ambulakral) tidak memiliki alat isap dan bintang mengular bergerak
dengan mencambukkan lengannya. Hidup di perairan dangkal dan dalam,
bersembunyi di bawah batuan atau rumput laut, mengubur diri di pasir, aktif
di malam hari. Ophiuroidea terdiri dari 2.000 spesies, contohnya adalah
bintang ular (Ophiothrix). Ophiuroidea (dalam bahasa yunani, ophio = ular)
berbentuk seperti asteroidea, namun lengannya lebih langsing dan fleksibel.
Cakram pusatnya kecil dan pipih dengan permukaan aboral (dorsal) yang
halus atau berduri tumpul. Ophiuroidea tidak memiliki pediselaria. Cakram
pusat berbatasan dengan lengan-lengannya. Bintang ular merupakan
echinodermata yang paling aktif dan paling cepat gerakannya. Jenis kelamin
terpisah, fertilisasi eksternal, mengalami tahap larva yang disebut pluteus.
Hewan ini pun juga dapat beregenerasi. Beberapa spesies ophiuroidea
merupakan hewan pemakan suspensi, dan yang lain adalah predator atau
pemakan bangkai.
3. Echinoidea berbentuk bola atau pipih, tanpa lengan. Echinoidea yang
berbentuk bola misalnya bulu babi (Diadema saxatile) dan landak laut
(Arabcia punctulata). Hidup pada batuan atau lumpur di tepi pantai atau dasar
perairan. Makanannya adalah rumput laut, hewan yang telah mati, biasanya
nocturnal. Permukaan tubuh hewan ini berduri panjang. Echinoidea memilki
alat pencernaan khas, yaitu tembolok kompleks yang disebut lentera
aristoteles. Fungsi dari tembolok tersebut adalah untuk menggiling
makanannya yang berupa ganggang atau sisa-sisa organisme. Echinoidea yang
bertubuh pipih misalnya dolar pasir (Echinarachnius parma). Permukaan sisi
oral tubuhnya pipih, sedangkan sisi aboralnya agak cembung. Tubuhnya
tertutupi oleh duri yang halus dan rapat. Durinya berfungsi untuk bergerak,
menggali, dan melindungi permukaan tubuhnya dari kotoran. Kaki ambulakral
hanya terdapat di sisi oral yang berfungsi utuk mengangkut makanan.
Reproduksi Echinoidea dengan fertilisasi eksternal dan bersifat hermafrodit.
Telur echinoidea yang menetas akan berkembang menjadi larva yang disebut
larva echinoploteus. Melimpahnya jumlah landak laur menandakan kondisi air
yang tidak bagus.
4. Crinoidea berbentuk seperti tumbuhan. Habitatnya pada garis pantai sampai
kedalaman 12000 kaki. Crinoidea terdiri dari kelompok yang tubuhnya
bertangkai dan tidak bertangkai. Kelompok yang bertangkai dikenal sebagai
lili laut, sedangkan yang tidak bertangkai dikenal sebagai bintang laut
berbulu. Contoh lili laut adalah Metacrinus rotundus dan untuk bintang laut
berbulu adalah Oxycomanthus benneffit dan Ptilometra australis. Beberapa
crinodea ada yang sesil dan ada yang berenang bebas. Sampai saat ini di
perkirakan terdapat 630 spesies crinoidea yang telah diketahui. Sebagian
Crinoidea bersifat dioecious, tetapi ada yang monoecious. Crinoidea
mengeluarkan larva yang disebut doliolaria. Crinoidea dapat beregenerasi.
Tangannya di namakan pinula yang di tutupi oleh zat yang lengket untuk
membantu menangkap makanan. Jumlah tangnan (pinula) antara 5-200.
5. Holothuroidea apabila dilihat secara sepintas, timun laut yang merupakan
salah satu anggota filum Echinodermata tidak terlihat mirip dengan hewan
Echinodermata lainnya. Anggota kelas ini umumnya tidak memiliki duri dan
endoskeleton yang keras sangat tereduksi. Tubuh ketimun laut memanjang
sepanjang sumbu oral-aboral sehingga memberikan bentuk ketimun seperti
namanya. Namun demikian, setelah diteliti lebih lanjut ternyata di tubuhnya
terdapat lima baris kaki tabung (kaki ambulakral) yang merupakan sistem
pembuluh yang hanya terdapat pada hewan Echinodermata. Kaki tabung (kaki
ambulakral) yang terdapat di sekitar mulut kemudian dikembangkan menjadi
tentakel untuk makan.
BAB III
METODE KERJA

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum lapangan ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 1 Juni 2013. Praktikum
dilaksanakan di pantai Batu Burung dan daerah bukit, Kecamatan Singkawang Selatan,
Kelurahan Sedau, Kalimantan Barat.

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu alat tulis, botol hisap, botol fial,
botol selai, ember 20 L, jaring penangkap serangga, jarum pentul, kamera, kardus, kertas
hitam ukuran A4 dilaminating, kertas papilot, killing bottle, label, pahat, palu, penjepit
gorengan, pinset, plastik wayang 2 kg, sekop bunga , selotip, serokan, spuid, termometer,
dan toples.

3.2.2 Bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu alkohol, aquades, formalin,
dan spiritus.

3.3 Deskripsi Lokasi

Lokasi dari pelaksanaan praktikum lapangan ini yaitu di pantai Batu Burung dan
daerah bukit Kecamatan Singkawang Selatan, Kelurahan Sedau, Kalimantan Barat. Daerah
pantai memiliki berbagai jenis Mollusca yang terdampar di tepian pantai, dan terdapat
bebatuan besar pada sisi kiri lokasi pengambilan sampel. Daerah bukit merupakan
hutan sekunder, ditempat tersebut terdapat pemukinan warga sekitar bukit. Jalan
untuk menelusuri bukit ada jalan setapak, sehingga memudahkan saat pendakian serta
pengambilan sampel. Batas lokasi akhir pada pengambilan sampel merupakan tempat
yang memiliki daerah genangan dan aliran air yang berbatu.

3.4 Cara kerja


3.4.1 Filum Porifera

Pengambilan spesies dari filum porifera dilakukan dengan cara pengambilan secara
langsung di dasar laut. Kemudian sampel yang didapat, dimasukkan ke dalam plastik wayang
yang berisi air laut. Selanjutnya, dilakukan preparasi yang diawali dengan mengeluarkan
sampel. Lalu sampel tersebut difoto, dimasukkan dalam botol selai yang berisi alkohol.
Setelah itu, dilakukan identifikasi, diberi keterangan dan deskripsinya.

3.4.2 Filum Coelenterata


Pengambilan spesies dari filum ini dilakukan secara langsung (manual) di dasar laut.
Kemudian sampel yang didapat , dimasukkan ke dalam plastik wayang yang berisi air laut.
Selanjutnya, dilakukan preparasi yang diawali dengan mengeluarkan sampel. Lalu sampel
tersebut difoto, dimasukkan dalam botol selai yang berisi alkohol. Setelah itu, dilakukan
identifikasi, diberi keterangan dan deskripsinya.
3.4.3 Filum Platyhelminthes

Pengambilan spesies dari filum ini dilakukan secara langsung (manual) di dasar laut.
Kemudian sampel yang didapat , dimasukkan ke dalam plastik wayang yang berisi air laut.
Selanjutnya, dilakukan preparasi yang diawali dengan mengeluarkan sampel. Lalu sampel
tersebut difoto, dimasukkan dalam botol selai yang berisi alkohol. Setelah itu, dilakukan
identifikasi, diberi keterangan dan deskripsinya.

3.4.4 Filum Annelida

Pengambilan spesies dari filum ini dilakukan secara langsung maupun dengan
bantuan alat, seperti parang dan sekop bunga. Kemudian sampel yang didapat , dimasukkan
ke dalam plastik wayang. Lalu sampel tersebut difoto, dimasukkan dalam botol selai yang
berisi alkohol. Setelah itu, dilakukan identifikasi, diberi keterangan dan deskripsinya.

3.4.5 Filum Mollusca


Pengambilan spesies dari filum Mollusca dilakukan secara langsung dan tidak
langsung. Pengambilan secara tidak langsung dibutuhkan alat berupa palu dan pahat untuk
mengambil spesies yang menempel dibatu. Lalu, dilakukan preparasi yang diawali dengan
membuang isi (bagian-bagian dalam) dari spesies tersebut menggunakan pinset, dan
dibersihkan. Kemudian cangkang dari Mollusca dijemur di bawah terik matahari.
3.4.6 Filum Arthropoda

Secara umum pengambilan sampel (spesies) dapat dilakukan secara langsung dan
tidak langsung. Secara langsung dilakukan untuk mengambil spesies yang ada dikayu lapuk
dan di tanah, dan dimasukkan dalam plastik wayang. Setelah itu, disuntikkan dengan
formalin untuk hewan yang berukuran besar (kecuali insecta). Pencarian kelas insecta
dilakukan secara tidak langsung dengan botol hisap, jaring penangkap serangga, dan sekop
bunga. Khusus untuk ordo Lepidoptera dan Odonata, dimasukkan dalam kertas papilot dan
ditekan bagian thorax dari spesies tersebut. Sedangkan untuk belalang, dimasukkan dalam
killing bottle.
Pengawetan untuk membuat insectarium dilakukan dengan cara disuntikkan dengan
alkohol dibagian thorax dari insecta tersebut. Setelah itu, dilakukan identifikasi, diberi
keterangan dan deskripsinya.

3.4.7 Filum Echinodermata

Pengambilan spesies dari filum ini dilakukan secara langsung maupun tidak
langsung, yaitu dengan bantuan alat yaitu menggunakan serokan. Kemudian sampel yang
didapat, dimasukkan ke dalam plastik wayang yang berisi air laut. Selanjutnya, dilakukan
preparasi yang diawali dengan mengeluarkan sampel. Lalu sampel tersebut difoto,
dimasukkan dalam botol selai yang berisi alkohol. Setelah itu, dilakukan identifikasi, diberi
keterangan dan deskripsinya.
4.2 Pembahasan
4.2.1 Filum Porifera
Porifera berasal dari kata orous yang berarti pori-pori dan ferre yang berarti
membawa. Ia merupakan hewan bersel banyak yang paling primitif , tidak memiliki
jaringan atau organ yang sejati namun masing-masing sel memperlihatkan
kebebasannya sampai batatas-batas tertentu. Umumnya hewan porifera dijumpai
hidup dilaut , melekat pada substrat dan hanya bergerak sedikit sekali. Berdasarkan
praktikum lapangantersebut di peroleh spesies dari filum arthopoda sebagai berikut
yaitu :

1. Acanthella sp.

Klasifikasi

Kingdom : Animalia
Phyllum : Porifera
Class : Demospongiae
Ordo : Halichindrida
Family : Axinellidae
Genus : Acanthella
Spesies : Acanthella sp.
Deskripsi :
Warnanya coklat , letak oskulum tidak ada , karakter permukaannya lunak , rangka
tidak ada , tipe saluran tidak ada dan panjangnya 10 cm.secara eksternal diselimuti
membrane dermal transparan dan konsistensinya seperti berkatilago , sehingga
permukaan tubuhnya tampak berkilau.Permukaan konulosa (berkonula),
konsistensinya keras namun kompresibel.Spons menempel pada substrat dengan
pangkal yang kecil (berupa stalk). Spikula menembus lapisan permukaan tubuh ,
bertipe style (ramping atau sedikit bengkok) dan strongyle ( Thomas 1973 : 47-
48;Soest dkk ,2002:774).
Spikula oxea merupakan tipe spikula monakson (tunggal , tidak bercabang)
yang runcing pada kedua ujungnya. Spikula oxea terdiri dari bermacam-macam tipe
yang dapat dibedakan dari bentuk dan morfologi ujungnya. Spikula style meripakan
tipe spikula monakson yang runcing pada salah ujungnya dan ujung lainnya. Hewan
ini hidup di stasiun 3 suhu udara 320 C , suhu air 350 C , kecerahan 25 , dan Rona
lingkungan Dasar pantai yang berlumpur, batu ditemukan sekitar 30 m dari tepi pantai

2. Amphimedon trindanea

Klasifikasi
Kingdom :Animalia
Filum :Porifera
Kelas :Demospongiae
Ordo :Haplosclerida
Famili :Niphatidae
Genus :Amphimedon
Spesies :Amphimedon trindanea
Deskripsi :
Warnanya hitam , letak oskulum di atas , karakter permukaannya lembut berdaging ,
rangka spongin , tipe salurannya syconoid , panjangnya 30 cm. Hewan ini hidup di
stasiun 3 suhu udara 320 C , suhu air 350 C , kecerahan 25 , dan Rona lingkungan Dasar
pantai yang berlumpur, batu ditemukan sekitar 30 m dari tepi pantai

3. Mycale sp.

Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Porifera
Kelas : Demospongiae
Ordo : Poecilosclerida
Family : Mycalidae
Genus : Mycale
Spesies : Mycale sp.
Deskripsi :
Warnanya coklat , letak oskulum di atas , karakter permukaannya lembut berdaging ,
rangka spongin , tipe saluran syconoid dan panjangnya 7 cm. Hewan ini hidup di
stasiun 3 suhu udara 320 C , suhu air 350 C , kecerahan 25 , dan Rona lingkungan Dasar
pantai yang berlumpur, batu ditemukan sekitar 30 m dari tepi pantai
4. Spongia sp.

Kingdom : Animalia
Phyllum : Porifera
Classis : Demospongia
Ordo : Keratosa
Genus : Spongia
Species : Spongia sp
Deskripsi :
Warnanya hitam ,letak oskulum diatas , karakter permukaannya kasar , rangka
spongin , tipe saluran syconoid , panjangnya 6 cm dan tingginya 4 cm.Spongia sp
memiliki tinggi 10 cm dan diameter 1 cm dengan bentuk bulat masif menyerupai
mangkuk. Serta mempunyai tipe sel Leuconoid/Rhagon yang rumit dan kompleks.
Warna tubuhnya putih keruh coklat dan ada juga yang berwarna kuning atau orange.
Pada ujung cabangnya terdapat oskulum ( tunggal : oskula ) sebagai tempat
keluarnya air dari dalam tubuh spons dan di daerah badannya terdapat ostium (
tunggal : ostia ) sebagai tempat masuknya air.Kerangkanya terdiri dari serabut
spongin, zat yang secara kimia bersekutu dengan sutera. Spongin adalah zat mirip
dengan keratin rambut dan bulu serta berbentuk kolagen. Ia dikeluarkan oleh sel
berbentuk staples yang dinamakan spongoblast ( sel penghasil spongin ) ( Kasijan, R
dan Sri, J,. 2009 ).
Pada spons mandi ( Spongia sp ) tidak mempunyai spikula maupun mengandung
silika.Serabut-serabut spongin (keras = tanduk) tersebut menyediakan dukungan untuk
menjaga pori-pori terbuk. Hewan ini hidup di stasiun 4 suhu udara 320 C , suhu air 320 C ,
kecerahan 39 , dan Rona lingkungan Dasar pantai yang berlumpur, batu ditemukan sekitar 30
m dari tepi pantai ( Harris, 1992 ).

5. Aaptos sp.

Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Porifera
Kelas : Demospongiae
Ordo : Hadromerida
Family : Tethyidae
Genus : Aaptos
Spesies : Aaptos sp.
Deskripsi :
Warnanya hitam , letak oskulum di atas , karakter permukaannya lembut ,
rangka spongin , tipe saluran syconoid , panjang 15 cm dan tinggi 14 cm. Spons
Aaptos sp. dilaporkan menghasilkan senyawa alkaloid yaitu aaptamine, aaptosine,
demethylaaptamine, dan dehydroaaptamine (Nakamura et al., 1987) Senyawa
aaptamine diketahui mempunyai aktivitas pharmakologis untuk mencegah
penyempitan pembuluh darah (Nakamura et al., 1987) dan mempunyai aktivitas
sitotoksik bagi sel leukimia serta pada sel tumor manusia. Hewan ini hidup di stasiun
4 suhu udara 320 C , suhu air 320 C , kecerahan 39 , dan Rona lingkungan Dasar pantai yang
berlumpur, batu ditemukan sekitar 30 m dari tepi pantai (Shen et al., 1999).
6. Sinularia sp.

Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Porifera
Class : Demospongiae
Ordo : Keratosa
Family :
Genus : Sinularia
Spesies : Sinularia sp.
Deskripsi :
Warnanya putih ,letak oskulum di atas , karakter permukaannya kasar , rangka
spongin , tipe saluran syconoid , panjangnya 4,3 cm dan tingginya 8 cm. Sinularia sp
merupakan spesies dari kelas Demospongiae, tidak berspekula kerangka tubuhnya
tersusun khusus dari bahan spongin dan tidak membentuk terumbu karang yang
penuh dengan mineral kalsium. Tubuh berwarna coklat dan bagian basalnya melekat
pada substrat. Struktur tubuh Sinularia kecuali berpori dengan macam-macam bentuk,
dibagi atas tiga tipe yaitu Ascon, Sycon dan Rhagon. Dalam tubuhnya ditemukan
sistem saluran air yang dimulai dari pori-pori atau porosofil dan diakhiri pada lubang
keluar utama yang disebut osxculum. Saluran masuknya air yang kemudian dialirkan
menuju spongocoel, sedangkan zat makanan yang terkandung di dalamnya dicerna
oleh amoebosit dan selanjutnya diedarkan diseluruh tubuh yang disebut ostium.
Aliran air tersebut berfungsi sebagai alat transportasi zat makanan dan zat-zat sisa
metabolisme. Bagian yang berada di bawah tubuh sebagai tempat perlekatan pada
benda dibawahnya ( substrat ) adalah basal. Sinularia sp tidak memiliki alat
pencernaan makanan, karena makanan yang masuk bersama air melalui pori
ditangkap oleh sel-sel koanosit berlangsung pencernaan makanan secara intraseluler.
Sinularia juga belum mempunyai alat atau organ pernafasan khusus, walaupun
demikian mereka dalam hal pernafasan bersifat aerobik. Dalam hal ini sinularia sp
belum mempunyai alat khusus yang digunakan untuk mengeluarkan zat-zat sisa
metabolisme. Reproduksi dilakukan dengan cara seksual dan aseksual. Reproduksi
seksualnya dengan melepaskan telur dan sperma dalam air selama spawning massal.
Setelah sel telur dibuahi terbentuk larva “planula “ yang akan berkembang menjadi
polip dewasa. Sedangkan reproduksi aseksualnya yaitu dengan pembentukan
kuncup.Habitat Sinularia sp tumbuh dan berkembang di laut tropis pada tempat yang
relatif dangkal, umumnya dekat dengan pantai. Pada daerah yang cukup jernih
dengan temperatur air laut antara 15 -30o C. Hewan ini hidup di stasiun 4 suhu udara
320 C , suhu air 320 C , kecerahan 39 , dan Rona lingkungan Dasar pantai yang
berlumpur, batu ditemukan sekitar 30 m dari tepi pantai.

7. Stylotella sp.

Klaisfikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Porifera
Kelas : Demospongiae
Ordo : Halichondrida
Family : Axenelidae
Genus : Stylotella
Spesies : Stylotella sp.
Deskripsi :
Warna cokelat muda. Oskulum terletak di atas dan di samping. Karakter
permukaan halus. Rangka berupa sponging. Tipe saluran syconoid. Panjang tubuh 21
cm. Stylotella sp. yang bentukny seperti rumah tawon atau Acanthella Klethra yang
mirip rumah rayap yang berwarna kuning.Di balik keindahan sosok makhluk laut
tidak sedikit yang beracun, adakalanya mengakibatkan luka fisik, bahkan bisa juga
mematikan. Karang api contohnya, Karang ini bisa melepuhkan kulit jika tersentuh.
Tidak hanya itu, ikan yang bentuknya aneh pun bisa jadi beracun. Misalnya Ikan
Lepu yang menyamar di bawah karang yang keras, ia akan mengeluarkan racun yang
berbahaya bila siripnya yang berumbai-rumbai tersentuh. Hewan ini hidup di stasiun
1 suhu udara 320 C , suhu air 320 C , kecerahan 34,5 , dan Rona lingkungan Dasar pantai
yang berlumpur, batu ditemukan sekitar 30 m dari tepi pantai.

13. Oscarella lobularis

Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Porifera
Kelas : Homoscleromorpha
Ordo : Homosclerophorida
Family : Plakinidae
Genus : Oscarella
Spesies : Oscarella lobularis
Deskripsi :
Tidak mempunyai rangka atau mempunyai rangka dari serabut spongin (zat
tanduk), dan ada juga yang tersusun dari serabut spongin dan zat silikat. Hewan ini
hidup di stasiun 5 suhu udara 320 C , suhu air 330 C , kecerahan 32,5 , dan Rona Terdapat
batu-batu granit besar dan di bagian dasar terdapat batu-batu karang kecil.

4.2.2 Filum Coeloenterata


Secara umum, tubuh Cnidaria berbentuk seperti kantung yang bolong yang
tersusun dari dua lapisan jaringan. Ektoderm menutupi permukaan luar tubuh,
endoderm menandai permukaan tubuh dalam. Diantara kedua jaringan ini terdapat
massa gelatin dari materi yang tidak terdiferensiasi yang disebut mesoglea. Tampilan
unik Cnidaria adalah bentuk medusa dan polip yang ditunjukkan beberapa kelas wakil
dalam filum ini (Edwards). Berdasarkan praktikum lapangan tersebut di peroleh
spesies dari filum Coeloenterata sebagai berikut yaitu :

1. Sinularia polydactyla

Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Coelentrata
Kelas : Anthozoa
Sub kelas : Octocorallia
Ordo : Alcyonaceae
Sub ordo : Alcyoniina
Family : Alcyoniidae
Genus : Sinularia
Spesies : Sinularia polydactyla
Deskripsi :
Warna tubuh cokelat. Tidak memiliki oskulum. Karakter permukaan kasap.
Rangka berupa sponging. Tipe saluran asconoid. Panjang 9 cm, dan lebar 5 cm. Ciri
khas Sinularia polydactyla adalah bila terjadi retraksi (tertarik masuk) dari polip dan
koloni berkerut maka tampak seperti jari tangan orang mati seperti saat setelah
dilakukan pemotongan (terlepas dari subtstrat), memiliki warna kuning kecoklatan,
krem atau abu-abu, melekat pada subtrat yang keras sehingga sangat sulit terlebas
dari subtratnya, bentuk pertumbuhannya tanpa tangkai dan merambat (encrusting).
Pada bagian interior tangkai spikula berbentuk kumparan, ada yang bercabang pada
salah satu ujungnya (Manuputty, 2002). Hewan ini hidup di stasiun 1 suhu udara 320
C , suhu air 320 C , kecerahan 34,5 , dan Rona lingkungan Dasar pantai yang berlumpur, batu
ditemukan sekitar 30 m dari tepi pantai.

2.Acroporasp.

Klasifikasi :
Phyllum : Coelenterata
Kelas : Anthozoa
Ordo : Scleractinia
Famili : Acroporidae
Genus : Acropora
Spesies : Acropora sp.
Deskripsi :
Bentuk tubuh bercabang , warna permukaan coklat kehijauan , teksturnya
keras , letak osculumnya posterior , tipe salurannya skinosoid dan panjangnya 6,5
cm.karang Acropora koloni individu yang dikenal sebagai polip, yang sekitar 2 mm
dan jaringan berbagi dan jaring saraf. Polip dapat menarik kembali ke karang sebagai
respon terhadap gerakan atau gangguan oleh predator mungkin, tapi ketika mereka
terganggu sedikit menonjol. Polip biasanya memperpanjang lebih lanjut di malam
hari untuk membantu menangkap plankton dengan cahaya terang dan moderat dengan
gerakan air yang tinggi. Banyak ikan karang kecil yang tinggal di dekat koloni
Acropora dan mundur ke semak cabang jika terancam.
Hewan ini hidup di stasiun 2 suhu udara 320 C , suhu udara 330 C , kecerahan
27,5 , dan Rona lingkungan Dasar pantai yang berlumpur, batu ditemukan sekitar 30
m dari tepi pantai.

3. Favites sp.

Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Coelenterata
Class : Anthozoa
Ordo : Sclerectina
Family : Favidae
Genus : Favites
Species : Favites sp
Deskripsi :
Spesies ini memiliki bentuk pertumbuhan massive,bewarna coklat muda dan
memiliki tekstur tubuh yang keras dan kasar.Bentuk corralite cerrioid.jenis corralite
radial.antara corralitenya tidak ada pemisah,jenis rangka kapur yang membentuk
batu.Hidup berkoloni dan tipe hidup polip. Bentuk tubuh /badannya bulat, setengah
bulat. Skeleton terdiri atas 10 pasang baris laminae meridionales yang tersusun deret-
deret rapat dari satu ujung ke sisi ujung yang lain. Pada ossiculum ada suatu tuber
culum dengan spina bersendi yang dapat digerakkan. Pada hewan ihi dia berwarna
hitam dengan duri yang hampir sama dengan warna tubuhnya (Jasin, 1992).
Anatomi pada hewan ini terdapat pembuluh sirkular, tabung telapak dengan
ampula. Gerakannya tidak begitu aktif mencakup dengan gerakan duri-duri dan
tabung-tabung telapak sisi oral, selain itu juga terdapat mulut yang dilengkapi dengan
5 buah gigi dari mulut diteruskan ke esophagus dan berlanjut ke lambung yang
berlobus. Lalu ususs berbalik arah dan berakhir sebagai rectum dari esophagus mulai
dari sebuah siphon ytang berada dalam dinding lambung dan terus ke posterior
(Radiopoetro, 1989).Habitat hewan ini hidup dalam air laut, dari laut yang dangkal
sampai yang dalam. Biasanya bersembunyi dalam batu-batu, tetapi ada juga yang
bersembunyi di dalam batuan karang (Jasin, 1992).
Hewan ini hidup di stasiun 4 suhu udara 320 C , suhu air 320 C , kecerahan 39 ,
dan Rona lingkungan Dasar pantai yang berlumpur, batu ditemukan sekitar 30 m dari tepi
pantai.
4. Favia sp.

Klasifikasi :
Kingdom : Animalia
Phylum : Coelenterata
Classis : Anthozoa
Ordo : Madreporaria
Familia : Faviadae
Genus : Favia
Spesies : Favia sp
Deskripsi :
Bentuk pertumbuhan massive/padat , warnanya coklat muda , tekstur
permukaannya kasar , bentuk corralite placoid , tidak ada pemisah atau corrolite ,
jenis rangkanya kapur , tipe hidup polip. Bentuk koloni umumnya masif, flat atau
dome-shaped. Koralit sebagian besar monocentric (satu columella dalam satu
corallite) dan plocoid. Memperbanyak koralit melalui pembelahan intratentacular.
Tentakel umumnya keluar hanya pada malam hari. Struktur rangka kapur genus Favia
mirip dengan genus Favites tapi dapat dibedakan dengan perbedaan tipe koralit
karang.Tipe koralit Favites tergolong ceroid, sedangkan tipe koralit Favia tergolong
plocoid.Favia Ini adalah karang soliter umumnya ditemukan di daerah di mana tidak
banyak bentuk kehidupan lainnya tumbuh. Hal ini menarik untuk pemberitahuan.
Memang mereka ditemukan di air keruh nyata dan kualitas rendah yang membuat
mereka ideal untuk akuarium tentu saja. Bahkan, air di akuarium Anda sering
mungkin lebih baik daripada kualitas air karang ini ditemukan. Berbentuk agak
bundar dalam bentuk dan tampak seperti setengah bola (sebagian besar dari mereka),
mereka mudah untuk mengenali (kecuali mungkin untuk spesies Favites erat terkait)
yang terlihat sangat banyak yang sama tetapi diklasifikasikan sebagai karang yang
berbeda. Hewan ini hidup di stasiun 4 suhu udara 320 C , suhu air 320 C , kecerahan 39 ,
dan Rona lingkungan Dasar pantai yang berlumpur, batu ditemukan sekitar 30 m dari tepi
pantai.

5. Porites sp.

Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Cnidaria
Class : Anthozoa
Order : Scleractinia
Suborder : Fungiina
Family : Poritidae
Genus : Porites
Spesies : Porites sp.
Deskripsi :
Warnanya coklat muda , tekstur permukaan kasar , Bentuk koloni ada yang
flat (foliaceous atau encrusting), masif atau bercabang. Koloni yang masif berbentuk
bulat ataupun setengah bulat.Koloni massif yang kecil akan terlihat berbentuk seperti
helm atau dome-shaped, dengan diameter dapat mencapai lebih dari 5 m.Koralit
berukuran kecil, cekung ke dalam (terbenam) pada badan koloni dengan lebar Calice
kurang dari 2 mm. Tentakel umumnya keluar pada malam hari. Porites ini mirip
dengan genus Montipora dan Stylaraea, namun memiliki beberapa perbedaan.
Perbedaan antara Porites dengan Montipora ialah bahwa Porites memiliki bentuk
pertumbuhan yang lebih beragam, koralit pada Porites lebih besar, kokoh dan tidak
ada elaborate thecal (perpanjangan dinding koralit). Genus Montipora mempunyai
dua tipe coenosteum, yaitu reticulum papillae dan tuberculae. Selain itu, Porites
memiliki koralit yang umumnya selalu terlihat septanya, sementara Montipora hanya
memiliki perpanjangan gigi septa yang menonjol keluar sehingga terasa runcing dan
kasar bila tersentuh. Hewan ini hidup di stasiun 4 suhu udara 320 C , suhu air 320 C ,
kecerahan 39 , dan Rona lingkungan Dasar pantai yang berlumpur, batu ditemukan sekitar 30
m dari tepi pantai.

6. Fungia sp.

Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Coelenterata
Class : Anthozoa
Ordo : Madreporaria
Family :
Genus : Fungia
Spesies : Fungia sp
Deskripsi :
Bentuk pertumbuhan seperti jamur , warna tubuh abu-abu tua , tekstur
permukaan kasar beraturan , bentuk coralite meandroid , ada tidaknya pemisah antar
coralite , jenis rangka berupa kapur (CaCO3) , tipe hidup polip , hidup soliter.
Tubuhnya terdapat skeleton yang dibuat oleh epidermis (ektoderm) dari CaCO3 dan
bentuknya seperti mangkuk. Bagian oral agak melebar seperti corong yang dihiasi
dengan rangkaian tentakel-tentakel yang membentuk seperti daun bunga, panjang
tubuh sekitar 7 – 10 cm, tetapi ada juga yang berukuran raksasa hingga 1 meter.
Tubuh radial simetris dengan warna tubuh putih kekuningan. Tubuh terbagi menjadi
3 bagian utama, yaitu bagian cakram pedal atau bagian kaki, bagian kolumna atau
skapus atau bagian batang tubuh dan bagian cakram oral atau kapikulum. Antara
bagian cakram pedal dengan bagian skapus dihubungkan oleh bagian yang disebut
limbus. Sedang antara skapus dengan bagian cakram oral dihubungkan oleh bagian
yang disebut collar. Gastrovaseculer dimulai dengan mulut, mulut di hubungkan
dengan colenteron oleh suatu saluran yang berbentuk seperti tabung yang disebut
stomodeum. Saluran stomodeum itu disepanjang sisanya dilengkapi alur cincin yang
bersilia disebut siphonoglyph. Rongga coelenteron dibagi menjadi bersekat-sekat
oleh enam buah septa atau mesentris sehingga terbentuklah enam ruang. Epitelium
yang melapisi stomodeum berasal dari ektoderm. Infundibulum serta saluran-saluran
lain dilapisi oleh gastrodermis. Batas antara ektoderm dan endoderm ialah pada batas
stomodeum dan infundibulum.Habitat hewan ini terdapat pada air laut yang hangat
dengan kedalaman sekitar 50 meter. Hewan ini hidup di stasiun 1 suhu udara 320 C ,
suhu air 320 C , kecerahan 34,5 , dan Rona lingkungan Dasar pantai yang berlumpur,
batu ditemukan sekitar 30 m dari tepi pantai.

4.2.3 Filum Annelida


Filum Annelida merupakan cincin kecil bentuk, berarti cacing yang
berbentuk cincin kecil. Cacing-cacing yang termasuk dalam filum ini, tubuhnya
bersegment- segment. Mereka hidup di dalam tanah yang lembab, dalam laut, dan
dalam air tawar. Pada umumnya Annelida hidup bebas, ada yang hidup dalam liang,
beberapa bersifat komensal pada hewan-hewan aquatic, dan ada juuga yang bersifat
parasit pada vertebrata. Berdasarkan praktikum lapangan tersebut di peroleh spesies
dari filum annelida sebagai berikut yaitu :
1. Phyllodocidae sp.
Spesies ini juga termasuk dalam filum annelida, karena tubuhnya yang
memiliki segmen-segmen atau cincin-cincin. Filum Annelida merupakan cacing
selomata berbentuk gelang yang memiliki tubuh memanjang, simeffi bilatiral,
bersegmen, dan permukaannya dilapisi kutikula. Dinding tubuh dilengkapi otot.
Memiliki prostomium dan sistem sirkulasi. Saluran pencernaan lengkap. Sistem
ekskresi sepasang nephridia di setiap segmen. Sistem syaraf tangga tali. Sistam
respirasi terdapat pada epidermis. Reproduksi monoesis atau diesis dan larvanya
trokofor/veliger. Filum Annelida dibagi menjadi kelas Polychaeta, Oligochaeta, dan
Hirudinea. pembagian ke dalam kelas terutama didasarkan pada segmentasi tubuh.
seta, parapodium, sistem sirkulasi, ada tidaknya batil isap, dan sistem reproduksi.
Klasifikasinya adalah:

Kingdom : Animalia
Filum : Annelida
Kelas : Polychaeta
Ordo : Aqiquidata
Famili : Phyllodocidae
Genus : Phyllodocidae
Spesies : Phyllodocidae sp.
Spesies ini termasuk dalam kelas polychaeta. Nama kelas polichaeta berasal
dari kata poly = banyak, chaeta= rambut atau seta. Jadi polychaeta berarti cacing
yang memiliki banyak rambut. Cacing ini terdapat di tanah yang lembab, dengan
suhu udara 320 tepatnya pada stasiun satu (1). Hewan ini lebih suka berada pada tanah
yang lembab karena hewan ini bernafas dengan menggunakan kulit sehingga keadaan
kulitnya harus tetap lembab supaya proses respirasinya bisa berjalan dengan baik.
Hewan ini memiliki kulit yang tipis, dikarenakan bernafas dengan kulit. Memiliki
warna yang gelap. Tubuhnya terdiri dari segmen-segmen . Pada setiap segmen
terdapat seta dan sepasang parapodia (kaki berdaging) yang berfungsi sebagai alat
gerak. Pada bagian prostomiunterdapan 2 atau 3 antena dan palp yang sama. Tidak
mamiliki rahang. Di bagian peristomiumnya terdapa bibir.

4.2.4 Filum Molusca


Mollusca merupakan filum hewan avertebrata, hewan dalam filum ini
merupakan hewan bertubuh lunak, dan ditutupi cangkang yang keras untuk
melindungi tubuhnya, serta berfungsi sebagai rumah. Filum ini terdiri dari 5 kelas
yaitu gastropoda, bivalvia, amphineura, schapopoda, dan amphineura. Berdasarkan
praktikum lapangan tersebut di peroleh spesies dari filum Mollusca sebagai berikut
yaitu:
1. Conus sp.

Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Gastropoda
Order : Neogastropoda
Family : Conidae
Genus : Conus
Species : Conus sp.
Conus sp. merupakan organisme yang hidup di daerah pasang surut beriklim
tropis, pada batu karang yang bertemperatur panas, laut lepas pantai, laut dangkal
dan laut yang berlumpur. Spesies ini ditemukan di stasiun 1 yang daerahnya berupa
pantai dengan dasar yang berlumpur yang merupakan zona pasang surut, serta
terdapat batu-batuan. Panjang cangkang spesies ini sekitar 6 cm. Cangkangnya tipis,
berbentuk elongate dan terkadang berbenruk silindris, bagian aperture menyempit
sepanjang cangkang. Berwarna cokelat diselingi cokelat muda.

2. Achatina fulica

Kingdom :Animalia
Phylum :Mollusca
Class :Gastropoda
Order :Pulmonata
Family :Achatinidae
Genus :Achatina
Species : Achatina fulica
Achatina fulica merupakan spesies filum Mollusca yang memiliki cangkang
yang berfungsi melindungi diri juga untuk sebagai rumah, sehingga termasuk dalam
kelas gastropoda. Umumnya merupakan hewan herbivora. Cangkang dari spesies ini
panjangnya ±6 cm dan berbentuk seperti terompet. Cangkangnya berwarna merah
kecokelatan, dan berputar kearah kanan atau di sebut dexter, tetapi ada pula yang
berputar ke kiri atau sinister. Bergerak menggunakan otot perut sebagai alat
geraknya. Spesies ini di temukan di stasiun 1, 2, 5, 6, dan 7 dan mudah ditemukan di
daerah yang beriklim tropis, dengan suhu ydan kelembaban yang tinggi.

3. Klasifikasi Anadara sp.


Kingdom :Animalia
Phylum :Mollusca
Class :Bivalvia
Order :Filibranchia
Family :Arcidae
Genus : Anadara
Spesies : Anadara sp.
Anadara sp. merupakan kerang yang ditemukan di daerah pantai yang
dasarnya lumpur berpasir. Ditemukan di stasiun 1, 2, 5, 6, 7. Termasuk dalam kelas
Bivalvia, karena memiliki dua cangkang dan dua katup. Warna cangkangnya putih,
berbentuk crossbar, dengan garis pertumbuhan radial dan terdapat granul yang
memanjang secara vertikal.

4. Klasifikasi Calliostoma sp.

Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Gastropoda
Order : Archaeogastropoda
Family : Trochidae
Genus : Calliostoma
Species : Calliostoma sp.

Calliostoma sp. merupakan spesies yang termasuk dalam kelas gastropoda,


cangkangnya keras dengan apex yang runcing. Berwarna abu-abu dan suturenya
tidak jelas, dan kolumellanya melangkung. Spesies ini berukuran kira-kira 2,5 cm.
Spesies ini hanya ditemukan di stasiun 1, yang merupakan pantai yang dasarnya
berlumpur, serta ditemukan batu-batuan yang berjarak 30 m dari tepi pantai.

5. Klasifikasi Angiola sp.

Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Gastropoda
Order : Sorbeoconcha
Family : Planaxidae
Genus : Angiola
Species : Angiola sp.
Angiola sp. merupakan spesies termasuk dalam kelas gastropoda, apex
cangkangnya runcing, dengan arah putarannya ke arah kanan (dexter), berwarna
abu-abu kehitaman. Dengan permukaan cangkang yang kasar, dengan garis
pertumbuhan yang terlihar jelas. Spesies ini ditemukan di stasiun 1, 2, dan 6, yaitu
daerah-daerah yang terdapat dibatu-batuan.

6. Klasifikasi Donax variabilis

Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Bivalvia
Order : Veneroida
Family : Donacidae
Genus : Donax
Species : Donax variabilis
Donax variabilis merupakan spesies yang memiliki dua cangkang sehingga
termasuk dalam kelas Bivalvia. Cangkangnya berbentuk kipas, dengan permukaan
yang halus, dan berwarna putih kekuningan. Panjang cangkangnya kira-kira 2-3 cm.
Spepies ini hanya ditemukan di stasiun 1, yang wilayahnya berupa pantai dengan
dasar laut lumpur berpasir serta ditemukan batu-batuan yang berjarak 30 m dari tepi
pantai.

7. Klasifikasi Littorina sp.

Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Gastropoda
Order : Mesogastropoda
Family : Littorinidae
Genus : Littorina
Species : Littorina sp.
Family Littorinidae umumnya memiliki cangkang yang berukuran
kecil. Littorina sp. memiliki cangkang dengan warna yang cokelat
kekuningan bahkan mendekati warna hitam, bagian apex cangkangnya
tumpul, arah putaran cangkang nya ke kanan atau disebut dexter,
cangkangnya berbentuk bulat spiral. Mempunyai operculum yang tipis dan
bening, serta tidak memiliki umbilicus, dan spesies ini termasuk herbivorous.
Spesies ini termasuk dalam kelas gastropoda karena memiliki cangkang yang
berfungsi sebagai rumah. Spesies ini di temukan di stasiun 1, 5 dan 6 karena pada
umumnya di terdapat batu-batuan besar di daerah pantainya.
8. Klasifikasi Buccinum sp.

Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Gastropoda
Order : Neogastropoda
Family : Buccinidae
Genus : Buccinum
Species : Buccinum sp.
Buccinum sp. merupakan spesies yang termasuk dalam kelas Gastropoda, dan
family Bucinidae. Spesies ini memiliki cangkang yang berbentuk solid, berwarna
cokelat keabuan, dan ujung apex yang meruncing. Panjang cangkangnya kira-kira 3
cm. Spesies ini ditemukan di stasiun 1, 6,7, yang merupakan daerah pantai berdasar
lumpur berpasir.

9. Klasifikasi Arianta sp.

Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Gastropoda
Order : Stylommatophora
Family : Helicidae
Genus : Arianta
Species : Arianta sp.
Arianta sp. merupakan spesies yang termasuk dalam kelas Gastropoda, yang
memiliki cangkang untuk melindungi diri dan berfungsi untuk rumah. Spesies ini
pada cangkangnya terdapat tonjolan-tonjolan seperti duri sehingga menyebabkan
permukaannya kasar, dan cangkang berwarna abu-abu. Arah perputaran
cangkangnya dexter, dengan apeks yang runcing dengan panjang cangkang sekitar 2
cm. Terdapat 5 whorl dan suturenya terlihat jelas. Spesies ini ditemukan di stasiun
1, 3, dan 5 yang daerahnya terdapat batu-batuan.

10. Klasifikasi Rissoina sp.

Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Gastropoda
Order : Littorinimorpha
Family : Rissoidae
Genus : Rissoina
Species : Rissoina sp.
Rissoina sp. merupakan spesies yang termasuk dalam kelas Gastropoda.
Spesies ini memiliki cangkang yang panjang sekitar 1 hingga 1,5 cm, memiliki ±10
whorl, apeks cangkangnya runcing, dengan aperture yang kecil pula, permukaan
cangkangnya kasar, berwarna cokelat diselingi kuning. Spesies ini ditemukan pada
stasiun 1, 3, dan 5, dan kebanyakan ditemukan di batu-batuan.

11. Klasifikasi Strombus sp.


Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Gastropoda
Order : Mesogastropoda
Family : Strombidae
Genus : Strombus
Species : Strombus sp.
Strombus sp. merupakan spesies yang termasuk kelas Gastropoda. Cangkang
spesies ini memiliki panjang 5-8 cm, berwarna cokelat tua, dan bentuk apex
cangkangnya runcing. Arah perputaran cangkangnya dexter yaitu ke arah kanan.
Spesies ini ditemukan di stasiun 2 dan 7, biasanya ditemukan di batu-batuan.

12. Klasifikasi Umbonium sp.


Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Gastropoda
Order : Trochida
Family : Trochidae
Genus : Umbonium
Species : Umbonium sp.
Umbonium sp. merupakan spesies yang termasuk kelas Gastropoda. Cangkang
spesies ini memiliki panjang 4 cm, berbentuk kerucut, dengan warna cangkang
cokelat. Arah putaran cangkangnya dexter yaitu ke arah kanan. Struktur cangkangnya
agak tipis. Spesies ini di temukan di hanya stasiun 2, yang wilayahnya berupa pantai
dengan zona pasang surut yang dasarnya berlumpur.

13. Klasifikasi Polymesoda sp.


Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Bivalvia
Order : Veneroida
Family : Colaicuiidae
Genus : Polymesoda
Species : Polymesoda sp.

Polymesoda sp. merupakan kerang laut yang termasuk dalam kelas Bivalvia,
yang memiliki dua cangkang berbentuk kipas dan berwarna putih dengan
permukaan yang halus, dengan bentuk garis pertumbuhan consentris. Panjang
cangkangnya kira-kira 2-6 cm. Spesies ini ditemukan di stasiun 2, 5, dan 7 yang
umumnya di temukan di pasir-pasir dengan kedalaman tertentu.

14. Klasifikasi Lottia sp.


Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Gastropoda
Order : Arhaegastropoda
Family : Patellidae
Genus : Lottia
Species : Lottia sp.
Spesies ini merupakan spesies yang termasuk dalam kelas Gastropoda. Spesies ini
memiliki panjang sekitar 2-3 cm, bentuknya bulat pipih, memiliki elevasi yang
tumpul, cangkang memiliki garis pertumbuhan hitam putih yang melingkar, dengan
apex cangkangnya tumpul. Spesies ini ditemukan hanya di stasiun 1, yang pantainya
merupakan zona pasang surut, dasarnya berlumpur.

15. Neritina sp
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Gastropoda
Ordo : Archeogastropoda
Familia : Neritidae
Genus : Neretina
Spesies : Neritina sp
Moluska adalah salah satu kelompok makroinvertebrata yang paling
banyak diketahui berasosiasi dengan lamun di Indonesia, dan mungkin yang
paling banyakdieksploitasi. Sejumlah studi tentang moluska di daerah
subtropik telah menunjukkan bahwa moluska merupakan komponen yang
paling penting bagi ekosistem lamun, baik pada hubungannya dengan biomasa
dan perannya pada aliran energi pada sistem lamun (Watson et al. 1984).
Neritina sp berbentuk bulat dengan motif cangkang bergaris-garis menuju
apex.
Tipe aperture nya adalah dextral.Spesies ini termasuk dalam class gastropoda.
Gastropoda memiliki tubuh yang simetris bilateral dan kepala dilengkapi
dengan tentakel. Mata ada yang terletak pada ujung tentakel. Cangkang
berwarna hitam dengan garis-garis berwarna kuning, dan panjangnya 2 cm.
Bentuk cangkang membulat. Jumlah suture 22(sangat banyak).Neretina ini di
temukan pada stasiun enam di mana memiliki kecerahan yang paling rendah
yaitu 22,5cm di mana hewan ini lebih memilih berada pada salinitas cahaya
yang rendah.Hal ini di lakukan untuk menghindari musuh.Spesies ini jarang di
temukan masih berada dalam cangkang biasanya jika kita temukan di pantai
spesies ini hanya tinggal cangkang saja.Cangkangnya ini dari kalsium
karbonat dan biasanya di manfaatkan untuk perhisan dan hiasan.Spesies ini
termasuk gastropod di mana berjalan dengan kaki perut.
16. Anadara granosa

Klasifikasi:
Philum : Mollusca
Class :Bivalvia
Ordo: Arcoida
Family : Arcidae
Genus : Anadara
Spesies :Anadara granosa
Spesies ini termasuk dalam filum mollusca di mana termasuk dalam hewan
bertubuh lunak. Tubuhnya lunak dilindungi oleh cangkang, meskipun ada juga yang
tidak bercangkang. Hewan ini tergolong triploblastik selomata. Ukuran dan bentuk
mollusca sangat bervariasi. Ciri umum yang dimiliki Mollusca adalah, tubuhnya
bersimetris bilateral, tidak bersegmen, kecuali Monoplacopora, memiliki kepala yang
jelas dengan organ reseptor kepala yang bersifat khusus. Pada permukaan ventral
dinding tubuh terdapat kaki berotot yang secara umum digunakan untuk begerak,
dinding tubuh sebelah dorsal meluas menjadisatu pasang atau sepasang lipatan yaitu
mantel atau pallium. Fungsi mantel adalah mensekresikan cangkang dan melingkupi
rongga mantel yang di dalamnya berisi insang.(yusminah,2007)
Kerang darah (Anadara granosa) merupakan salah satu komoditas yang banyak
terdapat di muara Sungai Ketingan.Kerang dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan
antara lain sebagai bahan makanan sumber protein (Dharma, 1988).Kerang dapat
mengakumulasi logam lebih besar daripada hewan air lainnya karena sifatnya yang
menetap dan menyaring makanannya (filter feeder) serta lambat untuk dapat
menghindarkan dari menghindarkan diri dari pengaruh evolusi lambat untuk dapat
Oleh karena itu, jenis kerang merupakan indikator yang sangat baik untuk memonitor
suatu pencemaran logam dalam lingkungan perairan (Darmono, 2001).Ukuran kerang
dapat mempengaruhi konsentrasi logam berat dalam tubuhnya. Menurut Aunurohim
dkk. (2009), ukuran cangkang yang besar berkorelasi positif dengan meningkatnya
umur dan meningkatnya umur juga berkorelasi positif dengan meningkatnya
konsentrasi logam berat pada tubuh.
Anadara granulosa ini di temukan di stasiun tujuh di mana mayoritas tempatnya
berpasir.Cangkang dari spesies ini memang banyak di pasir-pasiran putih tepi
pantai.Spesies ini di daerah pantai cukup mudah untuk di temukan di pantai tentu saja
bagian cangkangnya karena spesies ini memiliki jumlah yang cukup banyak.Spesies
ini memiliki kaki yang berotot berfungsi untuk lokomosi dan bersembunyi dalam
substrat karena fungsi kaki otot inilah dia dapat menempel di substrat berupa batuan
granit sesuai dengan beberapa zona lingkungan dari stasiun-stasiun yang tersusun dari
batu granit salah satunya di temukan di stasiun tujuh.

17. Trochus maculates

Phylum : Mollusca
Class : Gastropoda
Ordo : Acheogastropoda
Famili : Acheogastropodidae
Genus : Trochus
Spesies : Trochus maculatus
Secara umum kekerangan merupakan kelompok hewan tidak bertulang
belakang (invertebrata) dan bentuknya mudah untuk dikenali. Sebagian besar
dicirikan dengan adanya cangkang yang melindungi tubuhnya dan hanya sebagian
kecil jenis yang tidak bercangkang. Cangkang merupakan alat pelindung diri, terdiri
atas lapisan karbonat(crystalline calcium carbonate), dipisahkanoleh lapisan tipis
(lembaran) protein di antaracangkang dan bagian tubuh (otot dan daging)(Hughes,
1986)
Kekerangan ada yang hidup di air tawar,darat, maupun di perairan pesisir dan
laut.Namun demikian, mayoritas kekerangan hidup di perairan laut, baik di perairan
pantai (dangkal) maupun di laut dalam.Jika di hubungkan dengan tempat praktikum
lapangan kita pantai sedau merupakan pantai yang dangkal dan spesies ini kita
temukan di habitatnya.Spesies ini termasuk dalam kelas gastropoda yaitu berjalan
dengan menggunakan kaki perut jadi tidaklah heran jika kita melihatnya sperti
melekat di batuan pantai tapi cukup jarang di temukan ada dengan individunya
biasanya di tepi pantai di temukan hanya cangkangnya saja.Cangkang yang di
temukan memiliki arah putaran dexter (kanan). Ciri umum ordo archeogastropoda ini
termasuk gastropoda akuatik sehingg sistem sirkulasi dengan insang dan merupakan
siput primitif punya 2 insang, 2 ventrikel, 2 nephridia gonad menyatu dengan
nephridia.

18. Theodoxus
Filum: Mollusca
Kelas : Gastropoda
Order: Neritaemorphi
Famili : Neritidae
Genus: Theodoxus
Genus: Theodoxus
Spesies: Theodoxus sp
Spesies ini termasuk dalam filum mollusca yaitu kelompok hewan berbadan
lunak. Mollusca memiliki rumah secara umum berbetuk spesial. Kaki untuk merayap.
Bentuk kepala jelas, dengan tentakel dan mata. Dalam ruang bukal (pipi) terdapat
radula (pita bergigi).Pernapasan dengan insang, paru-paru atau keduanya. Hidup di
laut, air tawar, dan darat. Memiliki kelamin terpisah, atau hermafrodit, ovipar atau
ovovivipar.(Suwignyo dan Sugiarto,2006).
Spesies ini di temukan di stasiun 5 dan 7 di mana zona lingkungannya sama
sama terdapat batuan granit besar dan dari segi suhu udara dan airnya tidak memiliki
perbedaan yang sangat jauh habitat dari spesies ini di laut dan pantai dangkal seperti
di pantai sedau misalnya. Pergerakan dari spesies ini menggelincir diatas lapisa lendir
yg dihasilkan oleh kelenjar lendir dengan mengerutkan serabut otot longitudinal
kaki. Selain itu spesies ini memiliki cangkang berdinding tebal panjang, lebar 6,1 mm
dan 4,6 mm mm tinggi dan 9,3. Beberapa whorls larut dalam proses pertumbuhan
dari dalam. Tutup agak tebal (operkulum) berbentuk bulan sabit dan halus dipahat
spiral dengan nucleolus eksentrik rusuk meruncing, di mana otot untuk menutup
pembukaan perumahan menempel pada bagian dalam operculum.

19. Sanguinolaria sp.


Kingdom : Animalia
Filum : Mollusca
Kelas : Bivalvia
Ordo : Veneroida
Famili : Psammobiidae
Genus : Sanguinolaria
Spesies : Sanguinolaria sp.

Mollusca yang satu ini berasal dari famili Psammobiidae, dengan


bentuk cangkang yang oval, dapat berwarna putih, kuning, coklat hingga
kehitaman sesuai dengan jenisnya masing-masing. Biasanya Sanguinolaria
sp. ditemukan didasar perairan laut.

20. Truncatella sp.

Kingdom : Animalia
Filum : Mollusca
Kelas : Gastropoda
Famili : Truncatellidae
Genus : Truncatella
Spesies : Truncatella sp.
Truncatella adalah genus dari siput tanah yan sangat kecil dengan operkulum,
moluska terestrial dalam keluarga Truncatellidae ini termasuk siput kecil siput kecil
yang hidup dipinggiran pantai(darat), sangat jarang di air air laut. Mollusca yang
berukuran kecil seperti ini juga biasa disebut micromollusc.
21. Kingdom : Animalia
Filum : Mollusca
Kelas : Gastropoda
Ordo : Archaeogastropoda
Famili : Trochidae
Genus : Trochus
Spesies : Trochus sp.

Siput Trochus atauTrochus sp., Pembersih yang luar biasa yang ditemukan
pada sejumlah terumbu tersebar di seluruh wilayah Indo-Pasifik. Ini siput berbentuk
kerucut sangat ingin makan beberapa jenis ganggang mikro umumnya ditemukan di
akuarium rumah. The radula, atau lidah, siput memiliki serak seperti tekstur.

22. Kingdom : Animalia


Filum : Mollusca
Kelas : Gastropoda
Ordo : Mesogastropoda
Famili : Marginellidae
Genus : Prunum
Spesies : Prunum sp.

 Merupakan jenis mollusca yang berasal dari keularga Marginellidae yang


banyak ditemukan dipasir, maupun dasar perairan laut.

23. Kingdom : Animalia


Filum : Mollusca
Kelas : Gastropoda
Ordo : Orthogastropoda
Famili : Turritellidae
Genus :Turitella
Spesies : Turitella sp.

Nama Turritella berasal dari kata dalam bahasa latin yang berarti
turritus "turreted" atau "menjulang". Turritella adalah genus dari siput laut
yang berukuran sedang dengan operkulum, gastropoda laut dari keluarga
Turritellidae ini memiliki cangkang yang melingkar,dengan bentuknya secara
keseluruhan adalah kerucut memanjang.

24. Kingdom : Animalia


Filum : Mollusca
Kelas : Bivalvia
Ordo : Veneroida
Famili : Tellinidae
Genus : Tellina
Spesies : Tellina sp.

Tellina sp. Memiliki sel yang rapuh, agak pipih, dan sedikit
inequivalve, katup kanan sedikit lebih cembung daripada kiri. Kedua sisinya
tidak sama, paruh tepat di belakang garis tengah, ke dalam diarahkan dan
mundur, hampir menyentuh. Sekitar daerah posterior agak melengkung ke
kanan. Memiliki tahap pertumbuhan yang jelas. Katup kedua gigi kardinal
posterior, salah satunya satu pendek dan menonjol ke arah anterior lateral.
25. Kingdom : Animalia
Filum : Mollusca
Kelas : Gastropoda
Ordo : Orthogastropoda
Famili : Chromodorididae
Genus : Cadlina
Spesies : Cadlina sp.
Cadlina adalah genus dari siput laut, moluska laut historis ini
diklasifikasikan dalam keluarga Chromodorididae. Mollusca jenis ini biasanya
ditemukan didasar laut, baik pada bebatuan, maupun di pasir. Biasanya juga
terdapat dipinggiran pantai, namun dalam keadaan mati dan sisa cangkanya
saja.

26. Kingdom : Animalia


Filum : Mollusca
Kelas : Gastropoda
Ordo : Archaegastropoda
Famili : Pleyrotomariidae
Genus : Perotrochus
Spesies : Perotrochus sp.

27. Kingdom : Animalia


Filum : Mollusca
Kelas : Gastropoda
Famili : Thiarinae
Genus Pachymelania
Spesies : Pachymelania sp.
Pachymelania berdinding tebal yang tumbuh hingga 60 mm.
Cangkang berbentuk kerucut,spiral dengan ujung runcing. Dan terdapat begia
yang menonjol serta tenggelam (tidak rata).Memiliki operkulum dengan basal
eksentrik. Warnanya bervariasi antara kuning dan coklat. Warna pda setiap
mollusca tergantung dari habitat dan jenis masing-masing mollusca.

28. Kingdom : Animalia


Filum : Mollusca
Kelas : Gastropoda
Ordo : Archeogastropoda
Famili : Trichidae
Genus : Tegula
Spesies : Tegula sp.

Tegula sp. merupakan jenis mollusca dari famili Trichidae dengan


warna yang pada umumnya adalah hitam dan sedikit corak putih atau kuning
pada bagian ujung cangkangnya. Molusca jenis ini biasanya ditemukan di
bebatuan, gampang terlihat karena bentuk cangkangnya yang menonjol sepeti
kerucut.
4.2.5 Filum Arthopoda
Arthropoda (dalam bahasa latin, Arthra = ruas , buku, segmen ; podos = kaki)
merupakan hewan yang memiliki ciri kaki beruas, berbuku, atau bersegmen.Segmen
tersebut juga terdapat pada tubuhnya.Tubuh Arthropoda merupakan simeri bilateral
dan tergolong tripoblastik selomata. Berdasarkan praktikum lapangan tersebut di
peroleh spesies dari filum arthopoda sebagai berikut yaitu :
1. Balanus balanus
Spesies ini termasuk dalam anggota filum Atrhopoda. Arthropoda berasal dari
bahasa Yunani, arthos yang artinya segmen/ruas dan poda yang artinya kaki. Jadi,
Arthropoda adalah hewan berkaki ruas. Semua jenis hewan yang termasuk filum
arthropoda memiliki tubuh dan kaki yang berruas-ruas. Tubuhnya tertutup dengan
kitin sebagai rangka luarnya. Filum Arthropoda adalah filum yang paling besar dalam
dunia hewan dan mencakup serangga, laba-laba, udang, lipan dan hewan mirip
lainnya. Arthropoda adalah nama lain hewan berbuku-buku.
Klasifikasi:

kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda,
Kelas : Crustacea,
Ordo : Thoricica,
Famili : Balanidiae,
Genus : Balanus
Spesies :Balanus balanus
Ordo Thorocica bersifat sesil pada karang atau benda keras lainnya. Kerangka
luar (Carapace) dibungkus oleh pelat Calcareu, terdapat enam pasang kaki di sekitar
kepala datar untuk menempel, tubuh dibungkus oleh dinding simetris yang terdiri dari
enam pelat. Balanus adalah teritip yang tidak mempunyai tangkai (peduncle), karena
itu disebut juga acorn barnacle. Selain itu, teritip juga dikenal sebagai rock barnacle
karena hidup menempel pada batu-batu atau bangunan di pantai.
Hewan ini hidupnya menempel di bebatuan di dasar laut dan di di batu-batu
tepi pantai. Hewan ini terdpat di pantai pada stasiun 5 dan 6 yang mempunyai
kecerahan air masing-masing 32,5 cm dan 22,5 cm dari permukaan air, dengan suhu
air masing-masing 330C dan suhu udara 320C. Wehan ii ebih suka hidup pada suhu
yang panas.

2. Pagurus bernhardus

Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Malacostraca
Order : Decapoda
Family : Paguridae
Genus : Pagurus
Species: Pagurus bernhardus
Spesies ini termasuk filum atrhropoda yang berbentuk endostum segi empat, panjang
tubuh 3 cm, terdapat 5 pasang kaki dan berwarna coklat kemerahan. Hewan ini
terdapat di pantai pada stasiun 5 yang memiliki tingkat kecerahan air 32,5 cm, suhu
airnya 330C, dan suhu udara 320C

3. Polydesmus sp.
Klasifikasi:

Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Class : Diplopoda
Ordo : Polymesmida
Family : Polydesmidae
Genus : Polydesmus
Spesies : Polydesmus sp.
Arthropoda berasal dari bahasa Yunani, arthos yang artinya segmen/ruas dan
poda yang artinya kaki. Jadi, Arthropoda adalah hewan berkaki ruas. Semua jenis
hewan yang termasuk filum arthropoda memiliki tubuh dan kaki yang berruas-ruas.
Tubuhnya tertutup dengan kitin sebagai rangka luarnya. Tubuhnya berbentuk silindris
dan beruas-ruas (25 – 100 segmen) terdiri atas kepala dan bahan. Setiap segmen
(ruas) mempunyai dua pasang kaki, dan tidak mempunyai “taring bisa” (maksiliped).
Pada ruas ke tujuh, satu atau kadua kaki mengalami modifikasi sebagai oragan
kopulasi. Hewan ini terdapat pada daerah terestris, khususnya di tempat-tempat yang
lembab atau tanah yang lembab.
4. Penaeus sp.

- Kingdom : Animalia
- Filum : Arthropoda
- Kelas : Crustacea
- Ordo : Decapoda
- Family : Penaidae
- Genus : Penaeus
- Spesies : Penaeus sp.

Badan udang dibagi menjadi dua yaitu cephalothorax (gabungan kepala, dada,
dan perut), bagian kepala beratnya kurang lebih 36 – 49 %, bagian daging antara 24 –
41 %, dan kulit 17 – 23 % total berat badan. Bagian tubuh udang yang lain disebut
abdomen (bagian belakang yang biasa disebut ekor). Kelopak kepala ke arah depan
membentuk tonjolan runcing yang bergerigi yang disebut cucuk kepala (rostrum).
Seluruh tubuhnya terdiri dari ruas-ruas atau segmen yang terbungkus kerangka luar
terbuat dari bahan semacam zat tanduk atau kitin yang diperkeras oleh bahan kapur
atau kasium karbonat (CaCO3). Udang mempunyai bagian-bagian tubuh dimana tiap
bagian tubuh tersebut memiliki nama yang spesifik (Purwaningsih, 1995).Habitat di
daerah pesisir atau bisa di tambak, memiliki kaki renang 5 pasang (pleopod), dan 6-7
pasang kaki renang (peripod), letak kaki pada setiap segmen, mata majemuk
bertangkai.

5. Liocarcinus sp.
- Kingdom : Animalia
- Filum : Arthropoda
- Kelas : Decapoda
- Ordo : Portunoidea
- Family : Portunidae
- Genus : Liocarcinus
- Spesies : Liocarcinus sp.
Liocarcinus adalah spesies selatan yang ditemukan di selatan dan barat dari
Inggris dan Irlandia dan di barat Skotlandia. Hal serupa juga terjadi di Orkney.
Spesies ini ditemukan di pasir-pasir. Cangkang Liocarcinus ini mencapai hingga 43
mm dan luas 41 mm. Warna cangkang ini adalah cokelat kemerahan dalam warna,
kadang-kadang dengan bercak merah atau kuning. Cangkang memiliki penampilan
yang khas yaitu bergelombang.

6. Macrobrachium sp.

- Kingdom : Animalia
- Filum : Arthropoda
- Kelas : Crustacea
- Ordo : Decapoda
- Family : Palaemonidae
- Genus : Macrobrachium
- Spesies : Macrobrachium sp.

Macrobrachium adalah genus udang air tawar atau udang ditandai dengan
pembesaran ekstrem dari pasangan kedua pereiopods, setidaknya pada jantan.
7. Sesarma sp.

- Kingdom : Animalia
- Filum : Arthropoda
- Kelas : Crustacea
- Ordo : Decapoda
- Family : Sesarmidae
- Genus : Sesarmae
- Spesies : Sesarmae sp.
Sesarmaesp merupakan genus dari kepiting darat. Spesies ini hidup di hutan .
Spesies ini telah berevolusi menjadi sepenuhnya terestrial, yang berarti mereka tidak
harus kembali ke laut bahkan untuk bertelur. Beberapa spesies awalnya ditempatkan
di sini sekarang ditempatkan dalam genera lain dari Sesarmidae , dan dalam beberapa
kasus bahkan di tempat lain di Grapsoidea .

8. Pseudograpsus sp.

- Kingdom : Animalia
- Filum : Arthropoda
- Kelas : Crustacea
- Ordo : Decapoda
- Family :Grapsoidea
- Genus : Pseudograpsus
- Spesies : Pseudograpsus sp.
9. Zophobas sp.
- Kingdom : Animalia
- Filum : Arthropoda
- Kelas : Insecta
- Ordo : Coleoptera
- Family : Tenebrionidae
- Genus : Zophobas
- Spesies : Zophobas sp.

10. Sipyloidea sp.

- Kingdom : Animalia
- Filum : Arthropoda
- Kelas : Insecta
- Ordo : Phasmatodea
- Family : Heteronemiidae
- Genus : Sipyloidea
- Spesies : Sipyloidea sp.
11. Formica sp.
- Kingdom : Animalia
- Filum : Arthropoda
- Kelas : Insecta
- Ordo : Hymenoptera
- Family : Formicidae
- Genus : Formica
- Spesies : Formica sp.
Formica sp. Termasuk ke dalam familia formicidae (semut-semut) adalah
sekelompok yang sangat umum dan menyebar luas. Mereka hidup di habitat dimana-
mana, di habitat darat jumlahnya sangat besar. Satu dari sifat struktural yang jelas
adalah bentuk tungkai (pedicel) metasoma, satu atau dua ruas dan mengandung
sebuah gelambir yang mengarah ke atas. Sungutnya biasanya menyiku ( yang jantan
sungutnya berbentuk rambut) dan ruas pertama sangat panjang.

12. Uca sp.

- Kingdom : Animalia
- Filum : Arthropoda
- Kelas : Malacostraca
- Ordo : Decapoda
- Family : Ocypodidae
- Genus : Uca
- Spesies : Uca sp.
Kepting biola Uca sp adalah salah satu golongan crustacea yang ditemukan
melimpah dengan kepadatan populasi dapat mencapai 50 individu per M bujur
sangkar. Kepiting Uca sp memiliki ciri khas yaitu salah capitnya lebih besar dari
pasangan capit sebelahnya, mempunyai warna yang menyolok yaitu merah, hijau, dan
biru metalik. Sampai sekarang ini kepiting Uca sp belum dianggap sebagai hewan
ekonomis penting. Pewarnaan pada organisme ini dikarenakan adanya pewarna alami
yaitu pigmen karotenoid yang biasa terdapat pada Crustacea. Pigmen karotenoid
diperoleh dari makanan yang masuk kedalam jaringan tubuh melalui proses
metabolisme. Pigmen karotenoid selain berguna untuk organisasi itu sendiri, seperti
perkembangan dan pertahanan juga dapat dijadikan bahan makanan dan bahan
sediaan Farmasitika untuk keperluan manusia misalnya vitamin A. Bagian karapak
dan organ dalam kepiting biola Uca sp. jantan yang diambil dari lokasi yang berbeda
dipisahkan kemudian diekstrak dengan larutan aseton dan petrolium eter. Untuk
mengetahui kandungan pigmen karotenoid digunakan spektrofotometer. Untuk
melihat perbedaan konsentrasi dan kepadatan pigmen karotenoid pada tiap-tiap lokasi
digunakan uji statistik lewat sidik ragam. Hasil penelitian menunjukkan kosentrasi
dan kepadatan pigmen karotenoid yang terdapat pada kerapas dan organ dalam
kepiting biola Uca sp. jantan pada tiga lokasi tidak berbeda nyata. Jenis-jenis pigmen
yang teridentifikasi adalah Beta-karoten, tipe hidroksi-ekinenon, tipe astaxanthin, tipe
zeaxathin bebas atau lutein bebas.Habitat ini ada di sungai, memiliki 5 pasang kaki
satu pasang termodifikasi menjadi chelliped, 3 pasang untuk jalan, sepasang sebagai
penopang tubuh, letak kaki pada abdomen, mata majemuk bertangkai.

13. Hyas sp.

- Kingdom : Animalia
- Filum : Arthropoda
- Kelas : Malacostraca
- Ordo : Decapoda
- Family : Oregoniidae
- Genus : Hyas
- Spesies : Hyas sp.

14. Heterometrus sp.


- Kingdom : Animalia
- Filum : Arthropoda
- Kelas : Arachnida
- Ordo : Scorpiones
- Family : Scorpionidae
- Genus : Heterometrus
- Spesies : Heterometrus sp.
Heterometrus merupakan salah satu contoh jenis kalajengking yang banyak
ditemukan di Asia termasuk Indonesia.Spesies ini merupakan artropoda beracun,
kerabat labah-labah, tungau, caplak dan lain-lain. Kini diketahui 1400 jenis di seluruh
dunia. Heterometrus sp. punya tubuh yang panjang dan ekor beruas yang berujung
sebagai penyengat beracun. Kakinya terdiri atas empat pasang dan sepasang pedipalpi
dengan bentuk seperi pinset di ujung, yang digunakan untuk menangkap mangsa.

15. Chiton sp.

- Kingdom : Animalia
- Filum : Mollusca
- Kelas : Amphineura
- Ordo : Polyplacophora
- Family : Chitonidae
- Genus : Chiton
- Spesies : Chiton sp.
Chiton sp termasuk dalam kelas polyplacophora. Chiton sp memiliki struktur
yang sesuai dengan kebiasaan melekat pada batu karang dan cangkang mirip hewan
lainnya. Apabila disentuh, akan melekat erat pada batu karang. Hewan ini merayap
perlahan-lahan pada dasar laut di batu-batuan yang lunak. Sendi-sendi yang
dimilikinya dapat dibengkokkan sehingga tubuhnya dapat dibulatkan seperti
bola.Habitat Chiton sp ini adalah di laut, di daerah pantai sampai kedalaman sedang,
dan memakan rumput laut dan mikro organisme dari batu karang.

16. Myriapoda

Klasifikasi Myriapoda
Adapun taksonomoi dari Myriapoda yaitu sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Sub phylum : Myriapoda
Tubuh terdiri atas caput yang terdapat sepasang antena, mata dan 2 atau 3
pasang rahang. Badan tersusun atas sejumlah segmen yang sama. Tiap segmen
terdapat sepasang kaki. Pada bagian lateral dari setiap segmen terdapat spiraculum.
Myriapoda di bagi kedalam dua ordo yaitu Diplopoda dan Hilipoda.
17. Diptera
Klasifikasi Ordo Diptera
Kindom : Animalia
Filum : Arthopoda
Kelas : Insecta
Ordo : Diptera
Ciri-ciri ordo diptera adalah Memiliki satu pasang sayap depan dan sayap
belakang mengalami redukasi membentuk halter (alat keseimbangan).Mengalami
metamorfosis sempurna. Tipe mulut menusuk dan menghisap serta menjilat.Dan
memiliki tubuh ramping. Diptera ditemukan di daerah-daerah yang bnyak terdapat
bahan-bahan yang busuk, karena Diptera mengambil makanan dari sisa-sisa makanan
yang busuk. Diptera memiliki tiga pasang kaki pada satu segmen tubuhnya.

18. Odonata.

Klasifikasi Odonata
Kindom : Animalia
Filum : Arthopoda
Kelas : Insecta
Ordo : Odonata
Tubuh terdiri dari kepala, badan dan abdomen. Sayap ada dua pasang, sayap
depan dan belakang berbeda, sayap depan lebih panjang dan keras di bandingkan
sayap belakang. Sayap transparan. Di bagian kepala terdapat mata majemuk tubuhnya
panjang dan ramping, dan terdapat sepasang antena kecil. Jumlah kaki ada tiga
pasang.

19. Arachnida

Klasifikasi Arachnida
Kindom : Animalia
Filum : Arthopoda
Kelas : Insecta
Ordo : Arachnida

20. Coleoptera

Klasifikasi coleoptera
Kindom : Animalia
Filum : Arthopoda
Kelas : Insecta
Ordo : Coleoptera
Ciri ordo Coleoptera adalah Memiliki dua pasang sayap, yaitu sayap depan dan
sayap belakang. Sayap depan tebal dan permukaan luarnya halus yang mengandung
zat tanduk sehingga disebut elytra, sedangkan sayap belakang tipis seperti selaput.
Mengalami metamorfosis sempurna. Tipe mulut menggigit.

21. Orthoptera

Klasifikasi Orthoptera
Kerajaan : Animalia
Filum : Arthopoda
Kelas : Insecta
Upaordo : Caelifera
Ordo : Orthopera
Orthoptera berasal dari bahasa Latin orthop = lurus, pteron = sayap yang berarti
Insekta bersayap lurus. Ciri-ciri lain yang dimiliki oleh ordo orthoptera adalah
Memiliki dua pasang sayap, yaitu sayap depan dan sayap belakang. Sayap bagian
depan lurus, lebih tebal, dan kaku (perkamen), sedangkan sayap belakang tipis seperti
selaput. Mengalami metamorfosis tidak sempurna. Tipe mulut menggigit. Kaki paling
belakang (kaki ketiga membesar).

22. Araneae
Klasifikasi Araneae
Kerajaan : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Arachnida
Ordo : Araneae
Laba-laba atau labah-labah adalah sejenis hewan berkuku-kuku(arthropoda)
dengan dua segmen tubuh, empat pasang kaki, tek bersayap dan tidak memiliki mulut
pengunyah. Ilmu yang mempelajari laba-laba disebut arachnology. Laba-laba
merupakan hewan pemangsa(karnivora), bahkan kadang-kadang kanibal. Mangsa
utamanya adalah serangga. Laba-laba tidak memiliki mulut atau gigi untuk
mengunyah. Sebagai gantinya, mulut laba-laba berupa alat pengisap untuk menyedot
cairan tubuh mangsanya. Ordo laba-laba terbagi atas tiga golongan besar pada
subordo, yaitu Mesothelae, Mygalomorphae atau Orthognatha, dan Araneomorphae.

23. Blattodea

Klasifikasi blattodea
Kindom : Animalia
Filum : Arthopoda
Kelas : Insecta
Ordo : Blattodea
Memiliki 2 pasang sayap, kedua pasang sayap tidak sama strukturnya, sayap
depan tidak tereduksi, alat mulut pengunyah, badan berbentuk oval dan pipih.
24. Ephimeroptera
Klasufikasi Ephimeroptera
Kindom : Animalia
Filum : Arthopoda
Kelas : Insecta
Ordo : Ephimeroptera
Jumlah segmen ada 4, jumlah kaki dalam 1 segmen 6 kaki pada bagian
toraks.Warna tubuh hijau pada bagian dorsal dan pentral. Panjang badan 9 cm.
Bentuk sayap seperti layar. Cara menutup sayap melipat

25. Hemiptera

Klasifikasi Heminoptera
Kindom : Animalia
Filum : Arthopoda
Kelas : Insecta
Ordo : Hemiptera
Ciri-ciri lain yang dimiliki oleh ordo hemiptera adalah Memiliki dua pasang
sayap, yaitu sayap depan satu pasang seperti berkulit dan sayap belakang transparan.
Mengalami metamorfosis tidak sempurna. Tipe mulut menusuk dan menghisap.
Semut adalah serangga eusosial yang berasal dari keluarga formisidae dan termasuk
dalam ordo Himenoptera. Jenis semut dibagi menjadi semut pekerja, semut pejantan,
dan ratu semut. Semut memiliki antena yang berungsi sebagai sensor jarak
jauh(mendeteksi suara, rasa, dan bau).
26. Julus sp.

Kindom : Animalia
Filum : Insecta
Kelas : Myriapoda
Ordo : diplopoda
Famili :
Genus : julus
Spesies : julus sp
Jumlah segmen ada 53,dan mempunyai 2 pasang kaki dalam satu segmen.
Warna dorsal/ventral yaitu merah/merah. Panjang badannya 3,4 cm, dan jumlah
kakinya ada 106 pasang. Panjang badan :5 cm
Warna dorsal/ventral: merah kecoklata. Terdapat 2 pasang kaki pada 1 segmen tubuhnya.
Struktur tubuh keras dan memiliki antena.

27. Scorpiones sp
Kindom : Animalia
Filum :
Kelas :
Ordo :
Famili :
Genus : scorpiones
Spesies : scorpiones sp
Jumlah kaki ada enam pasang dengan kaki depan terdiferensiasi menjadi capit. Memiliki
12 segmen. Tubuh bagian dorsal berwarna hitam kebiruan.

28. Scylla sp

Klasifikasi Kepiting (Scylla serrata)


Kingdom : Arthropoda
Kelas : crustacea
Ordo : dekapoda
Filum : Scyllidae
Genus : Scylla
Spesies : Scylla sp
Tempat tinggal sungai tepatnya di batu padas, membuat rumah didalam batu
padas. dapat juga dijumpai pada tempat – tempat lembab. Scylla serrata atau kepiting
mempunyai kaki yang berbuku – buku. Tubuhnya bersegmen – segmen. Seluruh
tubuhnya tertutup oleh eksoskeleton yang terbuat dari zat kitin. Kepala kepiting
terbentuk sebagai persatuan segmen dan kadang – kadang bersatu dengan dada
membentuk chephalotorax. Bentuk tubuhnya simetris bilateral. Mempunyai sepasang
kaki capit yang besar di bagian anterior yang berfungsi unuk menangkap mangsanya
dan untuk melindungi diri dari bahaya musuh. Alat respirasinya berupa insang.

29. Scolopedra sp.


Kingdom : Animalia
Sub Kingdom : Invertebrata
Phylum : Arthropoda
Classis : Chilopoda
Ordo : Centipedes
Familia : Scolopendridae
Genus : Scolopendra
Species : Scolopendra sp.

Nama daerah dari spesies ini adalah Kelabang , yang termasuk dalam kelas
Chilopoda yang dapat bergerak dengan cepat dan gesit. Biasanya disebut dengan
sebutan centipoda. Tubuh hewan ini pipih dan dan segmen terlihat dengan jelas,
memiliki antena yang panjang pada kepalanya, Alat kelaminnya terpisah, alat
kelamin terdapat pada bagian akhir segmen. Hewan ini sangat berbahaya karena
memiliki racun yang berguna untuk meracuni mangsanya.
4.2.6 Filum Echinodermata

Echinos = duri dan derma = kulit. Jadi Echinodermata hewan berkulit duri.
.simetri bilateral pada saat larva dan dewasanya simetri radial. Alat gerak berupa
kaki ambulakral, tidak bersegmen, seluruh tubuh tertutup rangka kapur dan berduri serta
pentamer. alat pencernaan berkembang sempurna dari mulut sampai anus kecuali
kelas Ophiuroidea yang tidak memiliki anus Ekskresi menggunakan sel-sel amoeboid
Alat pernapasan berupa dermal branchiata, kaki tabung atau tentakel, kaki insang Sistem
syaraf berpusat di cincin syaraf , dihubungkan dengan tali-tali syaraf radial, Hermaprodit
pada kelas Holothuroidea, berkelamin terpisah (berumah dua). Berdasarkan praktikum
lapangan tersebut di peroleh spesies dari filum Echinodermata sebagai berikut yaitu
1. Holothuria sp.
Spesies ini termasuk dalam filum Echinodermata. Echinodermata berasal dari
kata Yunani, echinos artinya duri dan derma artinya kulit. Jadi Echinodermata dapat
diartikan sebagai hewan berkulit duri. Memang jika kita meraba kulit hewan ini akan
terasa kasar, karena kulitnya mempunyai lempeng-lempeng zat kapur dengan duri-
duri kecil. Hewan ini biasanya hidup di pantai dan di dalam laut sampai kedalaman
sekitar 366 m. Sebagian hidup bebas, hanya gerakannya sedikit lamban.
Ciri-ciri dari filum ini adalah Semua echinodermata hidup di air laut, Simetri
radial atau pentaradial (selalu terbagi 5 bagian), tidak ada kepala, tidak bersegmen,
tubuh memiliki banyak kaki tabung yang befungsi untuk bergerak dan menangkap
makanan, Tubuh ditutupi oleh epidermis yang di sokong oleh skeleton yang tetap dan
spina, Sistem pencernaan sederhana (beberapa di antaranya dilengkapi dengan anus),
rongga tubuh bersilia, biasanya luas, di isi dengan/mengandung sel bebas
(amoebosit), respirasi dengan papulae (kaki tabung atau dengan pohon respirasi),
Jenis kelamin terpisah, gonat besar, fertilisasi eksternal, telur banyak, larva
mikroskopik, bersilia, biasanya berenang bebas, mengalami metamorfosis, Semua
echinodermata hidup di laut, Sebagian besar spesies mampu bergerak dengan
merangkak dan sangat lambat, Tampilan khusus anggota filum ini seluruhnya
memiliki duri.
Tubuhnya berkembang dalam bidang lima antimere yang memancar dari sebuah
cakram pusat dimana mulutnya berada di tengah. Beikut ini adalah klasifikasi dari
Holothuria sp. :

Kingdom : Animalia
Filum : Echinodermata
Kelas : Holothuroidea
Ordo : Aspidochirota
Famili : Aspidochirotidae
Genus : Holothuria
Spesies : Holothuria sp.
Hewan ini memiliki nama daerah yaitu Timun Laut. Timun laut adalah
anggota Echinodermata dari kelas Holothuroidea, dengan tubuh memanjang dan kulit
seperti jaket, yang ditemukan di dasar laut. Spesies ini dinamakan timun laut karena
bentuknya yang mirip seperti timun. Seperti halnya Echinodermata lain, timun laut
memiliki sebuah endoskeleton hanya di bawah kulitnya. Timun laut umumnya
pemakan bangkai, mencari makanan puing-puing pada lapisan benthic (bentos).
Makanan mereka terdiri dari plankton dan materi organik lainnya yang ditemukan di
laut.
Hewan ini dapat dijumpai di dasar laut menempel di pasir. Dengan tekstur
tubuh yang lunak, berwarna coklat, dan tidak memiliki lengan, serta bentuk badan
seperti tabung. Hewan ini terdapat pada kecerahan air 25 cm, dengan suhu air yang
cukup panas yaitu cukup panas 350 serta suhu udara 320. Hewan ini tidak
membutuhkan cahaya dalam hidupnya sehingga dia berada pada dasar laut. Timun
laut mengambil oksigen terlarut dari air melalui alat respirasi yang bercabang dari
kloaka di sebelah dalam anus. Hewan ini bereproduksi dengan melepaskan sperma
dan sel telur ke perairan. Satu individu dapat menghasilkan beribu gamet tergantung
pada kondisi perairan. Memiliki bentuk adaptasi yang khas dengan mengeluarkan
cairan yang lengket yang memungkinkan sebagai pertahanan terhadap predator, dan
sebagai organ internal yang dikeluarkan ketika berada disekitar hewan lain yang
berpotensi sebagai predator. Organ ini dapat berfungsi sebagai organ pertumbuhan.

2. Ophioderma superba
Jenis spesies ini ternasuk dalam filum Echinodermata. Nama Echinodermata
berasal dari kata echinos yang berarti duri dan derma yang berarti kulit. Jadi,
Echinodermata berarti hewan berkulit duri. Semua anggota Echinodermata ini hidup
di laut, seperti bintang laut, bulu babi, dan mentimun laut. Bentuk tubuh
Echinodermata bermacam-macam seperti bintang, tumbuhan, bunga, ular, sosis, dan
bola. Jika dipegang kulitnya keras karena terbuat dari zat kapur/kitin sebagai rangka
luar dan pada permukaan insang kulitnya terdapat duri-duri. Jika dipotong radial akan
membagi tubuh secara simetris atau simetri radial (lima bagian). Echinodermata
termasuk hewan triplobastik selomata. Mulutnya terletak di bawah dan anus berada di
atas. Hewan ini memiliki sistem amburakal, yaitu gerakannya terjadi dengan
mengubah tekanan air yang diatur oleh sistem pembuluh air yang berkembang dari
selom. Sistem tersebut digunakan untuk bergerak, bernapas, dan membuka
mangsanya. Klasifikasinya adalah:
Kingdom : Animalia
Phylum : Echinodermata
Classis : Ophiuroidea
Ordo : Oegophiurida
Familia : Ophiuridae
Genus : Ophioderma
Species : Ophioderma superba (Jasin, 1987: 154)
Hewan ini merupakan bintang ular yang berwarna hitam , memiliki anggota
yang banyak, mamiliki cakram tengah, memiliki lengan yang yang panjang dan pipih
serta psina (duri ) terdapat pada sisi laterar. Pada mulut terdapat rahang yang bergigi,
dan termasuk dalam kelas Ophiuroidea. Ciri khas dari Ophiuroidea adalah
madreporit yang terletak di daerah bawah, yaitu daerah mulut dan tidak mempunyai
anus, jadi sisa makanan dimuntahkan melalui mulut. Pada siang hari, hewan ini
bersembunyi di balik bebatuan, lumpur, atau tempat terlindung dan malam hari
melakukan aktivitas. Makanannya berupa Mollusca, udang-udangan, dan sisa
organisme.
Terdapat di pantai di stasiun 5 yang menempel pada pasir dan alga di dalam laut.
Yang memiliki kecerahan air 32,5 cm dari permukaan air, suhu udara dan suhu airnya
sama yaitu 320.
3. Ophioutrix sp.
Hewan ini juga termasuk dalam filum Echinodermata. Ciri-Ciri Umum
Echinodermata. Bentuk tubuh Echinodermata bermacam-macam seperti bintang,
tumbuhan, bunga, ular, sosis, dan bola. Jika dipegang kulitnya keras karena terbuat
dari zat kapur/kitin sebagai rangka luar dan pada permukaan insang kulitnya terdapat
duri-duri. Jika dipotong radial akan membagi tubuh secara simetris atau simetri radial
(lima bagian). Echinodermata termasuk hewan triplobastik selomata.
Echinodermata berasal dari kata Yunani, echinos artinya duri dan derma
artinya kulit. Jadi Echinodermata dapat diartikan sebagai hewan berkulit duri.
Memang jika kita meraba kulit hewan ini akan terasa kasar, karena kulitnya
mempunyai lempeng-lempeng zat kapur dengan duri-duri kecil. Keistimewaan
Echinodermata adalah memiliki tubuh (organ tubuh) lima atau kelipatannya. Di
samping itu hewan ini memiliki saluran air yang sering disebut sistem ambulakral.
Sistem ini digunakan untuk bergerak, bernafas, atau untuk membuka mangsanya yang
memiliki cangkok. Ciri umum lainnya adalah pada waktu masih larva tubuhnya
berbentuk bilateral simetri. Sedangkan setelah dewasa bentuk tubuhnya menjadi
radial simetri.
Klasifikasi:

Kingdom : Animalia
Phylum : Echinodermata
Class : Ophiuroidea
Ordo : Ophiurae
Family : Ophiothridae
Genus : Ophiothrix
Species : Ophiothrix sp.
` Tubuh kecil membulat dengan lima lengan yang panjang, kecil beruas-ruas
dan mudah patah, ruas jumlahnya banyak masing-masing terdiri dari osicle yang
menyatu ditengah Yang dilindungi oleh empat lembaran, lateral, dorsal dan ventral
dengan spineless, kaki ambulakral kecil tanpa penghisap, mulut berada ditengah,
tidak punya anus, organ ekskresi dengan mulut, ada lima pasang bursa seperti
kantung disekitar mulut untuk pernapasan dan menerima saluran gonad, madreporit
dipermukaan oral.
Hewan ini ditemukan di dalam laut yaitu menempel pada pasir-pasir dan alga.
Bahan makanannya berupa alga. Hewan ini ditemukan di pantai pada stasiun 6
dengan kecerahan air 22,5 cm, suhu air 330 dan suhu udara 320. Tubuhnya berwarna
abu-abu, memiliki lima lengan yang panjang dan pipih, hidupnya bersembunyi di
dalam karang dan balik batu.

4. Ophiolepsis sp.
Hewan jenis ini termasuk dalam kelas Echinodermata. Hewan ini biasanya
hidup di pantai dan di dalam laut sampai kedalaman sekitar 366 m. Sebagian hidup
bebas, hanya gerakannya lamban. Keistimewaan Echinodermata adalah memiliki
tubuh (organ tubuh) lima atau kelipatannya. Di samping itu hewan ini memiliki
saluran air yang sering disebut sistem ambulakral. Sistem ini digunakan untuk
bergerak, bernafas, atau untuk membuka mangsanya yang memiliki cangkok. Ciri
umum lainnya adalah pada waktu masih larva tubuhnya berbentuk bilateral simetri.
Sedangkan setelah dewasa bentuk tubuhnya menjadi radial simetri.
Hewan ini sudah mempunyai sistem pencernaan yang sempurna, tetapi ada
beberapa jenis yang tidak mempunyai anus, yaitu bintang ular. Pada mulut terdapat
gigi paruh, bergerak ke atas menuju kerongkongan, lambung, dan anus. Pada bintang
laut, lambung bercabang lima yang masing-masing menuju ke arah lengan, dan setiap
lengan bercabang dua dan ujungnya buntu. Sistem saraf pada hewan ini berupa cincin
saraf mengelilingi mulut yang keluar lima batang saraf radial pada masing-masing
lengannya. Respirasinya menggunakan kulit berupa tonjolan dinding rongga tubuh
(selom) tipis yang dilindungi oleh silia.
Klasifikasi:

Kingdom : Animalia
Phylum : Echinodermata
Class : Ophiuroidea
Ordo : Ophiurae
Family : Ophiothridae
Genus : Ophiolepsis
Species : Ophiolepsis sp.
Spesies ini terdapat di dalam laut, khususnya di bebatuan karang dan pasir
yang terdapat di stasiun 3. Hewan ini banyak ditemukan karena predator yang
memengsanya sedikit. Tingkaat kecerahan air di stasiun 3 yaitu 25 cm, dengan suhu
air yang cukup panas yaitu 350C dan suhu udaranya yaitu 320C. Hal inilah yang
menyebabkan hewan ini bisa hidup dengan bebas. Hewan ini bergerak dengan suatu
lubang yang disebut madreporit, dilengkapi dengan saringan (pori). Air masuk
melalui madreporit menuju ke bawah kemudian bermuara pada saluran cincin
(melingkar mengelilingi kerongkongan). Dari saluran ini terdapat 5 cabang saluran ke
tiap-tiap lengan dan dari saluran inilah terdapat deretan kaki-kaki tabung (kaki
amburakal) yang berpasangan. Kaki ini dapat dijulurkan keluar ke arah bawah. Ujung
kakinya membesar dan mengandung otot yang disebut ampula. Jadi, bila ada air akan
dipompakan ke dalam kaki amburakal, mengakibatkan kaki terjulur ke luar sehingga
ampula dapat menyentuh benda. Jika kaki mengkerut maka volume air dikurangi.
Apabila tubuh bintang berpindah tempat, maka ampula melekat dan kaki
berkontraksi.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum ini adalah :
a. Filum yang dapat di temukan di Pantai Batu Burung adalah Porifera,
Coeloenterata, Annelida, Arthropoda , dan Echinodermata.
b. Identifikasi terhadap hewan avetebrata yang paling banyak adalah
arthropoda dan molusca
c. Kinerja dalam praktikum ini di butuhkan adanya kerja sama antar
kelompok.

5.2 saran
Di harapkan untuk lokasi praktikum lapangan sistematika hewan 1 di
tempat yang berbeda-beda dengan tahun sebelumnya, dan untuk kedepannya
kerja sama antar tim di tingkatkan
DAFTAR PUSTAKA

Aslan, dkk. 2009. Penuntun Praktikum Avertebrata Air. Universitas Haluoelo.


Kendari
Brotowidjoyo. 1995. Zoologi Dasar. Erlangga. Jakarta.
Campbell, N.A. 2003. Biologi. Edisi Kelima Jilid II. Erlangga. Jakarta.
clinical applications. Journal of Medicine 3(3): 295-309.
Hegner, Robert.W. & Joseph G.Engemann. 1968. Invertebrates Zoologi. London:
The Macmillan Company Collier-Macmilllan Limited.
Jasin, Maskoeri. 1992. Zoologi Invertebrata. Surabaya : Sinar Wijaya.
Jasin. M.,1984. Zoologi Invertebrata. Sinar Wijaya. Surabaya.
Junghans JUAH, Muller RH. 2008. Nanocrystal technology, drug delivery and
Jutje S Lahay.2006. Zoologi Invetebrata. Makassar: Universitas Negeri Makassar
Kastawi Y,dkk.2005.zoologi avertebrata.UM Press : Malang
Kimball. 1992. Biologi. Erlangga. Jakarta.
Lahay, Jutje dkk. 2007. Zoologi Invertebrata. Makassar : FMIPA Universitas Negeri
Makassar.
Levine, N. D. 1990. Parasitologi Veteriner. Terjemahan gatut Ashadi. UGM Press:
Surabaya.
Mahrudin dan Dharmono. 2013. Penuntun Praktikum Zoologi Invertebrata. PMIPA
FKIP UNLAM. Banjarmasin.
Oemarjati, B. S. 1990. Taksonomi Avertebrata.. UI-Prees. Jakarta.
Radiopoetra. 1984. Zoologi invertebrata. Erlangga. Jakarta.
Rohana, 2003. Biologi Umum. Yushis Tira. Jakarta.
Romimoharto, Kasijan dan Juwana, Sri. 2001. Biologi Laut. Djambatan. Jakarta.
Suwignyo, S. 2004. Avertebrata Air. Penebar Swadaya. Jakarta.