Anda di halaman 1dari 5

Tugas Kelompok PKN

Tentang lembaga legislatif dan Permasalan yang Dihadapi


Serta Solusi Negara

Oleh

TANJUNG PATI
KECAMATAN HARAU KABUPATEN 50 KOTA
PROVINSI SUMATERA BARAT

Tugas dan Fungsi Lembaga Legislatif

Lembaga Legislatif di Indonesia ini meliputi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). DPR
merupakan lembaga perwakilan rakyat yang berkedudukan sebagai lembaga negara.
Anggota DPR berasal dari anggota partai politik peserta pemilu yang dipilih
berdasarkan hasil pemilu. DPR berkedudukan di tingkat pusat, sedangkan yang berada
di tingkat provinsi disebut DPRD provinsi dan yang berada di kabupaten/kota disebut
DPRD kabupaten/kota.

Keanggotaan DPR diresmikan dengan keputusan presiden. Anggota DPR berdomisili di


ibu kota negara. Masa jabatan anggota DPR adalah lima tahun dan berakhir pada saat
anggota DPR yang baru mengucapkan sumpah/janji yang dipandu oleh Ketua
Mahkamah Agung dalam sidang paripurna DPR.
Jumlah Anggota DPR/DPRD Berdasarkan UU Pemilu N0. 10 Tahun 2008 ditetapkan
sebagai berikut:
 jumlah anggota DPR sebanyak 560 orang;
 jumlah anggota DPRD provinsi sekurang-kurangnya 35 orang dan sebanyak-
banyak 100 orang;
 jumlah anggota DPRD kabupaten/kota sedikitnya 20 orang dan sebanyak-
banyaknya 50 orang.

Fungsi Lembaga DPR


Lembaga negara DPR yang bertindak sebagai lembaga legislatif mempunyai fungsi
berikut ini :

 Fungsi legislasi, artinya DPR berfungsi sebagai lembaga pembuat undang-


undang.
 Fungsi anggaran, artinya DPR berfungsi sebagai lembaga yang berhak untuk
menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
 Fungsi pengawasan, artinya DPR sebagai lembaga yang melakukan pengawasan
terhadap pemerintahan yang menjalankan undang-undang.

Hak-Hak DPR
DPR sebagai lembaga negara mempunyai hak-hak, antara lain sebagai berikut.

 Hak interpelasi adalah hak DPR untuk meminta keterangan kepada pemerintah
mengenai kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak
luas bagi kehidupan masyarakat.
 Hak angket adalah hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap suatu
kebijakan tertentu pemerintah yang diduga bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan.
 Hak menyatakan pendapat adalah hak DR untuk menyatakan pendapat terhadap
kebijakan pemerintah mengenai kejadian yang luar biasa yang terdapat di dalam
negeri disertai dengan rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut
pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket. Untuk memudahkan tugas anggota
DPR maka dibentuk komisi-komisi yang bekerja sama dengan pemerintah
sebagai mitra kerja.

Dewan Perwakilan Daerah

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) merupakan lembaga perwakilan daerah yang


berkedudukan sebagai lembaga negara. DPD terdiri atas wakil-wakil dari provinsi yang
dipilih melalui pemilihan umum. Jumlah anggota DPD dari setiap provinsi tidak sama,
tetapi ditetapkan sebanyak-banyaknya empat orang. Jumlah seluruh anggota DPD
tidak lebih dari 1/3 jumlah anggota DPR. Masa jabatan anggota DPD adalah lima tahun.

Tugas dan Wewenang DPD

Berdasarkan Pasal 22 D UUD 1945 kewenangan DPD sebagai berikut.

 Dapat mengajukan rancangan undang-undang kepada DPR yang berkaitan


dengan otonomi daerah, hubungan pusat dengan daerah, pembentukan dan
pemekaran, serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan
sumber daya ekonomi lainnya, perimbangan keuangan pusat dan daerah.
 Ikut merancang undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah,
hubungan pusat dengan daerah, pembentukan dan pemekaran, serta
penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya
ekonomi lainnya, perimbangan keuangan pusat dan daerah.
 Memberi pertimbangan kepada DPR yang berkaitan dengan rancangan undang-
undang, RAPBN, pajak, pendidikan, dan agama.
 Melakukan pengawasan yang berkaitan dengan pelaksanaan undang-undang
otonomi daerah, hubungan pusat dengan daerah, pembentukan dan pemekaran
serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya
ekonomi lainnya, perimbangan keuangan pusat dengan daerah, pajak,
pendidikan, dan agama.

Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)


Lembaga MPR terdiri atas anggota DPR dan anggota DPD yang dipilih melalui pemilihan
umum untuk masa jabatan selama lima tahun dan berakhir bersamaan pada saat
anggota MPR yang baru mengucapkan sumpah/janji yang dipandu oleh Ketua
Mahkamah Agung dalam sidang paripurna MPR. Sebelum UUD 1945 diamandemen,
MPR berkedudukan sebagai lembaga tertinggi negara. Namun, setelah UUD 1945
istilah lembaga tertinggi negara tidak ada yang ada hanya lembaga negara.

Tugas dan Wewenang MPR

Berdasarkan Pasal 3 Ayat 1 UUD 1945 , MPR mempunyai tugas dan wewenang sebagai
berikut :

 Mengubah dan menetapkan undang-undang dasar;


 Melantik presiden dan wakil presiden;
 Memberhentikan presiden dan wakil presiden dalam masa jabatannya menurut
undang-undang dasar.
 Anggota MPR mempunyai hak berikut ini dalam menjalankan tugasnya:
 Mengajukan usul perubahan pasal-pasal undang-undang dasar;
 Menentukan sikap dan pilihan dalam pengambilan keputusan;
 Memilih dan dipilih;
 Membela diri;
 Imunitas;
 Protokoler;
 Keuangan dan administratif.

Masalah Bangsa Indonesia dan Solusinya

Pada dasarnya Indonesia adalah negara yang memiliki potensi besar untuk menjadi negara maju
serta berkepribadian luhur. Disamping kekayaan alam yang melimpah, Indonesia juga memiliki sumber
daya manusia yang seharusnya mampu membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik. Namun hingga
berakhirnya tahun 2012 Indonesia masih belum menunjukkan kemajuan yang diinginkan. Hingga saat
ini masih banyak kasus-kasus yang memalukan dan tidak perlu terjadi justru semakin meningkat, mulai
dari kasus kalangan rakyat biasa sampai tokoh-tokoh negara ini. Konflik yang terjadi beragam mulai dari
konflik antar individu hingga konflik antar kelompok atau lembaga yang seharusnya dapat menjadi
panutan masyarakat.

Penyebab utama masalah-masalah yang timbul di masyarakat adalah kurangnya kesadaran akan
pentingnya memahami pandidikan karakter. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang
berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan
yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, pekataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama,
hukum, tata karma, budaya dan adat istiadat. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-
nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan
tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri
sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan.

Pendidikan karakter di Indonesia sudah diberikan sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Namun kebanyakan masyarakat tidak benar-benar peduli pada pandidikan karakter yang diajarkan.
Mereka lebih mementingkan nilai yang baik atau lulus dari sebuah lembaga pendidikan dengan prestasi
yang membanggakan. Sehingga mereka tidak peduli dengan cara apa pencapaian itu diperoleh. Rasa
malu akan lebih dirasakan jika mendapat nilai jelek atau tidak lulus, namun tidak begitu menjadi masalah
ketika ketahuan mencontek selagi mendapat nilai bagus dan lulus.

Kasus hukum yang sedang gencar-gencarnya diberantas dan tidak hilang-hilang adalah
korupsi. Di Indonesia, tindak pidana korupsi seakan menjadi hal yang biasa untuk dilakukan banyak
lapisan masyarakat dan terutama dikalangan pejabat. Penyebab terjadinya korupsi di Indonesia
adalah sistem penyelenggaraan negara yang keliru, kompensasi PNS yang rendah, pejabat yang
serakah, law enforcement tidak berjalan, hukuman yang ringan terhadap koruptor atau tidak adanya
penegakan hukum yang tegas, pengawasan yang tidak efektif, tidak ada keteladanan pemimpin, dan
budaya masyarakat yang kondusif untuk KKN.

Selain korupsi, masalah yang menghawatirkan adalah ‘budaya kekerasan’. Mungkin bisa disebut
demikian karena belakangan ini kebiasaan penyelesaian masalah yang cenderung menggunakan cara-
cara kekerasan tampaknya semakin menguat dan menjadi budaya. Kekerasan dalam bentuk perbuatan
anarkhis atau premanisme di berbagai wilayah di Indonesia telah menjadi warta hampir setiap hari. Tanpa
perlu menyodorkan kembali data dan informasi yang sudah seringkali kita dapatkan melalui berbagai
media massa, catatan yang bernuansa kekerasan itu tidak sulit ditemukan. Kalau keadaan ini terus-
menerus terjadi dan berkembang, dikhawatirkan kerugian material dan nonmaterial kian banyak,
termasuk kerugian psikhologis, seperti ketakutan dan trauma masyarakat akan semakin parah.

Penyebab tindak kekerasan yang pertama adalah masalah penegakan hukum yang masih lemah.
Tanpa penegakan hukum yang tegas dan adil, maka kekecewaan akan tumbuh di dalam masyarakat.

Faktor kedua adalah yang berkenaan dengan kesenjangan ekonomi. Masalah kesenjangan
ekonomi terjadi di mana-mana di berbagai belahan dunia. Hanya yang berbeda adalah tingkat
kesenjangannya. Semakin besar perbedaan pendapatan anggota masyarakat yang satu dengan yang lain,
semakin potensial untuk mengoyak kestabilan dan keamanan wilayah atau daerah setempat. Kesenjangan
ekonomi dapat dengan pasti menimbulkan kecemburuan sosial.

Faktor ketiga adalah tidak adanya keteladanan dari sang pemimpin. Artinya, pemimpin mulai
tidak satya wacana: apa yang dilakukan berbeda jauh dengan apa yang dikatakan. Pemimpin melakukan
tindakan-tindakan yang tidak terpuji, mementingkan diri sendiri, dan keluar dari rel kewenangannya.

Faktor penyebab berikutnya adalah karena ada provokasi dari pihak-pihak yang berkepentingan
menjadikan bibit-bibit permasalahan yang ada agar menjadi besar. Di balik upaya-upaya mereka itu tentu
ada maksud yang tersembunyi, berkaitan dengan politik, seperti dalam rangka merebut kekuasaan dengan
cara merusak image orang yang sedang berkuasa atau lawan politiknya, dan sebagainya. Bagi sebagian
masyarakat yang kondisinya sudah ‘labil’ karena dihimpit oleh berbagai persoalan hidup, bukanlah tidak
mungkin mereka dengan mudah terprovokasi untuk melakukan tindakan-tindakan destruktif tanpa
menyadari bahwa sebenarnya mereka sedang diperalat.
Selain itu kekerasan juga sering terjadi di kalangan remaja atau pemuda akibat pengaruh
minuman keras maupun penggunaan narkoba. Hal ini yang paling menghawatirkan karena pemuda
berarti penerus bangsa yang nantinya akan memegang peranan terhadap negara.

Masalah korupsi dan budaya kekerasan hanya contoh dari masalah yang dimiliki bangsa ini.
Banyak masalah-masalah lain yang juga menjadi gambaran keterpurukan bangsa seperti masalah
pertahanan negara, perekonomian, bahkan perebutan kekuasaan. Yang paling penting adalah mencari
solusi dari masalah tersebut sehingga fokus bangsa bukan lagi menyelesaikan berbagai masalah dalam
negeri tetapi lebih fokus pada usaha untuk memajukan bangsa.

Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut bisa dimulai dari skala kecil
hingga yang paling besar, diantaranya:

1. Menanamkan rasa cinta tanah air dan bela negara pada setiap individu.
2. Instrospeksi diri dan tidak saling menyalahkan antar pihak dalam negara ini.
3. Menanamkan rasa ‘tahu malu’ pada setiap orang sehingga ada tidaknya pengawasan dan ancaman hukum
tidak menjadi kendala.
4. Penegakan hukum (semua pelaku kejahatan dihukum sesuai tingkat kesalahannya, bukan sesuai tingkat
ekonomi dan kedudukannya).
5. Pemerintah hendaknya memberikan apresiasi kepada masyarakat yang telah ikut serta terlibat dalam
penegakan hukum (memberikan perlindungan pada saksi dan korban kejahatan).
6. Membangun kerjasama antara pihak pemerintah dan rakyat (rakyat seharusnya mematuhi peraturan dan
keputusan pemerintah, begitu juga sebaliknya pemerintah hendaknya mendengarkan keinginan rakyat).
7. Mengimbangi pendidikan kognitif dengan pendidikan karakter.
8. Memberikan pengarahan pada masyarakat agar tidak mudah terprovokasi.
9. Memberikan kesibukan pada generasi muda dengan kegiatan yang bermanfaat sehingga terhindar dari
hal-hal yang bersifat negatif.
10. Menciptakan lingkungan yang kondusif baik untuk kegiatan pendidikan, perekonomian serta politik.
11. Perlu secara berkesimbungan memperkecil kesenjangan ekonomi antar wilayah, antar kelompok, dan
antar anggota masyarakat.
12. Membangun upaya pemolisian masyarakat (community policing) dan penguatan peran aktif masyarakat
dalam menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat.
13. Peningkatan penegakan undang-undang dan peraturan serta mempercepat proses penindakan
pelanggaran hukum.
14. Para pemimpin hendaknya dapat menjadi panutan bagi masyarakat sehingga rasa percaya masyarakat
tidak hilang.
15. Mengutamakan musyawarah dalam menyelesaikan masalah sehingga tidak terjadi tindak kekerasan.
16. Semua persaingan dilakukan secara sehat baik persaingan akademik, ekonomi maupun politik.