Anda di halaman 1dari 36

ALTERASI DAN KARAKTERISTIK ENDAPAN PORFIRI

BATU HIJAU PT. AMMAN MINERAL NUSA TENGGARA


( PT AMNT )

PROPOSAL PERMOHONAN KERJA PRAKTEK


Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Permohonan Kerja Praktek di PT
Amman mineral Nusa tenggara (PT AMNT ).

Oleh :
MUNAJAD IKHLAS
410014198

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL

YOGYAKARTA

2017
LEMBAR PENGESAHAN

PROPOSAL PERMOHONAN KERJA PRAKTEK

Kepada

PT Amman mineral Nusa tenggara (PT AMNT )


Yang diajukan oleh :
Nama : Muajad Ikhlas
NIM : 410014198
Jurusan : Teknik Geologi
Judul : ALTERASI DAN KARAKTERISTIK
ENDAPAN PORFIRI BATU HIJAU
PT. AMMAN MINERAL NUSA TENGARA
(PT AMNT )

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk melaksanakan Kerja Praktek

pada Jurusan Teknik Geologi, Sekolah Tinggi Teknologi Nasional


Yogyakarta.

Yogyakarta, 30 Agustus 2017

Mengetahui/Menyetujui, Diajukan oleh :

Ketua Jurusan Teknik Geologi STTNAS


Pemohon

Munajad Ikhlas
NIM. 410014198
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Kurikulum yang ada di Jurusan Teknik Geologi STTNAS Yogyakarta


tidak mewajibkan mahasiswa untuk melakukan kerja praktek. Namun, kerja
praktek tersebut berada di salah satu tipe tugas akhir, yaitu tugas akhir tipe II.
Kerja praktek juga merupakan salah satu wadah mahasiswa untuk
mengaplikasikan atau menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan.
Tingkat persaingan dalam dunia usaha yang semakin ketat seiring dengan semakin
pesatnya perkembangan teknologi dewasa ini, menyebabkan dunia kerja menuntut
tersedianya tenaga kerja yang dapat menguasai pekerjaannya dengan baik,
terampil dan professional.

Perguruan tinggi sebagai suatu lembaga pendidikan bertanggung jawab


mempersiapkan calon-calon tenaga kerja yang profesional. Bila perguruan tinggi
hanya memberikan pendidikan sebatas teori saja kepada mahasiswa, akan kurang
memadai dalam prakteknya, maka perguruan tinggi tersebut hanya akan
meluluskan sarjana yang kurang mampu menerapkan ilmu yang diperolehnya
selama di bangku kuliah karena belum mengenal secara langsung dunia kerja
yang akan dimasukinya.
Menyadari akan hal ini, saya selaku mahasiswa jurusan Teknik Geologi
Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta ingin melaksanakan kerja praktek
yang bisa membuat kami mampu bersaing dalam dunia kerja.
Dalam rangka merealisasikan tujuan tersebut diperlukan kerja sama antara
pihak Perguruan Tinggi dengan instansi yang terkait sebagai wadah bagi
mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu dan memberikan gambaran mengenai
realita yang akan dihadapi ketika menyelesaikan studi di perguruan tinggi. Salah
satu instansi yang berkaitan adalah di PT Amman mineral Nusa tenggara (PT
AMNT ), PT Amman mineral Nusa tenggara (PT AMNT )., merupakan salah
satu perusahaan yang bergerak dalam bidang mineral logam.
1.2. MAKSUD DAN TUJUAN

Kami bermaksud melakukan kerja praktek, selaku perusahaan di PT


Amman mineral Nusa tenggara (PT AMNT ).

tujuan yang melakukan penambangan dan pengolahan bijih logam.


Adapun tujuan Kerja Praktek yang akan dilaksanakan adalah :
1. Mahasiswa diharapkan mampu mengetahui berbagai aspek permasalahan
dalam bidang Mineral Bijih logam (emas) dan teknik eksplorasinya.
2. Mahasiswa diharapkan mampu melakukan observasi tentang aspek- aspek
dalam bidang Mineral Bijih (emas) serta ilmu-ilmu lain yang berkaitan
dengan bijih tersebut.
3. Mahasiswa diharapkan mampu mengenal dan mengetahui cara kerja
perangkat-perangkat (software) yang digunakan dalam pengambilan,
pengolahan dan interpretasi data.
4. Mahasiswa diharapkan mampu mengetahui arti penting dan peranan, di PT
Amman mineral Nusa tenggara (PT AMNT ) terhadap masyarakat luas
dengan proses pelayanan jasa dan penentuan kebijakan.

5. Melatih para mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja.

1.3. TINJAUAN PUSTAKA


1.3.1. Geologi Regional
1.3.1.1. Fisiografi dan Morfologi Batu Hijau
Endapan Porfiri Cu-Au Batu Hijau terletak di Pulau Sumbawa bagian
baratdaya. Pulau Sumbawa merupakan bagian dari sebelah timur Paparan Sunda,
di dalam sistem busur kepulauan Sunda-Banda (Sjoekri, 1997). Endapan Porfiri
Batu Hijau merupakan bagian dari busur magmatik berumur Neogen (Carlile dan
Mitchell, 1994 dalam Garwin, 2000).
Secara umum morfologi daerah Batu Hijau memperlihatkan kenampakan satuan
perbukitan volkanik dan satuan perbukitan intrusi. Satuan perbukitan volkanik
tersusun oleh litologi berupa batuan andesit volkaniklastik dan intrusi andesit
porfiri, sedangkan satuan perbukitan intrusi tersusun oleh batuan intrusi berupa
diorit dan tonalit. Satuan perbukitan volkanik memperlihatkan bukit-bukit yang
relatif terjal dengan vegetasi hutan tropis, sedangkan satuan perbukitan intrusi
memperlihatkan morfologi yang sedikit terjal dengan vegetasi yang berupa hutan
tropis (Garwin, 2000).

1.3.1.2. Stratigrafi Batu hijau


Menurut Garwin (2000), stratigrafi daerah Batu Hijau dimulai dari satuan
batuan yang paling tua ke muda adalah Satuan Batuan Volkanik, Satuan Diorit
dan Satuan Tonalit. Satuan Batuan Volkanik terdiri dari batuan volkanik
berukuran halus (tuf halus), batuan volkanik litik breksi (tuf kristal), dan intrusi
andesit porfir. Intrusi kedua adalah diorit kuarsa porfiritik dan diorit kuarsa
equigranular. Semua seri batuan ini diintrusi oleh batuan tonalit porfir 1
danbatuan tonalit porfir 2 (Gambar 1.1 dan 1.2). Urutan pembentukan batuan
didasarkan pada hubungan potong memotong antara batuan
1.Satuan Batuan Volkanik
Batuan volkanik merupakan tipe batuan yang paling banyak dijumpai di
Batu Hijau. Kelompok batuan ini dapat dilihat pada peta geologi Batu Hijau
(Gambar 2.1). Batuan volkanik ini terdiri atas tuf halus, tuf kristal, dan intrusi
andesit porfiritik (porphyritic andesite intrusive ). Kenampakan batuan secara
umum berwarna abu-abu gelap, struktur masif, kaya akan kristal dan litik berupa
batulempung tufaan, batupasir, breksi, dan konglomerat. Tuf halus dengan tuf
kristal berbatasan secara gradasi. Tuf halus yang berada di bagian bawah tersusun
oleh batu lempung tufaan, batupasir, dan breksi dengan ketebalan 150-200 m
(Gerteisen, 1998). Pada area tambang, tuf halus ini tersusun oleh 10-20% pecahan
plagioklas dan hornblenda serta litik berukuran < 2mm. Tuf kristal pada bagian
atasnya memiliki ketebalan 275-300 mete r. Pecahan kristal pada unit ini
berbentuk rounded sampai angular. Intrusi andesit porfiritik merupakan batuan
masif dengan komposisi fenokris 10-15% hornblenda berukuran 0,5-3 cm, dengan
masa dasar plagioklas berukuran halus-sedang (0,5- 1,5 cm), bertekstur porfiritik.
Andesit porfiritik ini merupakan intrusi pertama yang teridentifikasi di Batu
Hijau (Gerteisen, 1998). Ketebalan unit ini tidak diketahui. Dilihat dari
komposisinya, andesit porfiritik memiliki kesamaan dengan batuan volkanik
(andesitik). Hal ini dapat menunjukkan bahwa kemungkinan andesit porfiritik
merupakan batuan induk dari batuan volkanik tersebut (Gerteisen, 1998).
2 .Satuan Diorit
Intrusi diorit di Batu Hijau dikelompokkan menjadi 2, yaitu:
a. Diorit Kuarsa Porfiritik
Diorit Kuarsa Porfiritik merupakan batuan masif dengan tekstur
porfiritik. Unit ini sudah teralterasi kuat, berb utir halus-sedang, masa dasar
berupa plagioklas, kuarsa, hornblenda, dengan fenokris berupa plagioklas,
hornblenda, dan biotit
b. Diorit Kuarsa Ekuigranular
Diorit Kuarsa Ekuigranular merupakan intrusi pra-mineralisasi terbesar.
Secara regional batuan ini memotong batuan andesit porfiritik dan diorit
kuarsa porfiritik. Batuan ini berbutir halus-sedang, tekstur ekuigranular,
holokristalin. Fenokris berukuran 1-3 mm berupa plagioklas, hornblenda, dan
kuarsa. Masa dasar berupa mikrokristalin kuarsa dan plagioklas.
3.Satuan Tonalit
Batuan tonalit merupakan batuan pembawa mineralisasi di endapan pofiri
Cu-Au Batu Hijau. Pada daerah penelitian, intrusi tonalit ini terbagi menjadi 2
fasa umur, yaitu tonalit tua dan tonalit muda. Kisaran umur ini berdasarkan
hubungan potong-memotong dan perajahan radiometrik (Garwin, 2000) (Gambar
1.2). Kedua tonalit ini menerobos batuan volkanik dan diorit. Intrusi ini
mempunyai kesamaan komposisi dan fenokris, perbedaannya terletak pada umur,
persentase urat kuarsa, kelimpahan dan ukuran fenokris kuarsa, serta kadar Cu dan
Au-nya. Menurut Mitchell, dkk. (1998), tonalit tua dan tonalit muda mempunyai
karakteristik sebagai berikut:
Tonalit Tua
Batuan ini bertekstur porfiritik, berukuran butir ha
lus-sedang, fenokris berupa kuarsa berukuran < 2mm dengan kelimpahan lebih
dari 5%, bentuk kristal umumnya anhedral-subhedral, dengan masa dasar yang
equigranular tersusun oleh kuarsa, hornblenda, dan plagioklas.
Tonalit Muda
Tonalit Muda merupakan satuan intrusi batuan yang termuda di Batu
Hijau. Menurut Mitchell, dkk. (1998), Tonalit muda dicirikan dengan tekstur
porfiritik, fenokris berupa kuarsa (5-10 mm), plagioklas, dan hornblenda (2-10
mm), dengan masa dasar yang ekuigranular, berukuran kasar-sedang.

Gambar 1.1 Peta geologi daerah batu hijau ( Tim geologi PT.NNT 2009 )
Gambar 1.2 Kolom Stratigrafi Batu Hijau ( Garwin,2000 )
1.3 Struktur Geologi Batu Hijau
Pola struktur yang ada di Batu Hijau diinterpretasikan berarah barat-
baratlaut (W-NW), utara-timurlaut (N-NE), dan beberapa kemiringan dari sesar
utama (Priowasono dan Maryono, 2002). Zonastruktur merupakan data sesar pada
pemetaan permukaan dan lubang bor (Munajat dan Kusuma, 2000).Struktur sesar
dapat diinterpretasikan dari rekahan batuan, core intersection, dan gouge/clay
alteration(pengamatan inti bor). Pada umumnya, sesar ini menunjukkan
pergeseran kecil dari alterasi hidrotermal dan zona mineralisasi, tercatat kurang
dari 10 m, dan diperkirakan mempunyai perpindahan strike slipyang kecil.

Zona sesar Tongoloka-Puna terletak pada barat daya dari pusat tubuh bijih,
panjang ± 600 m dengan arah barat-barat laut, kemiringan 60° sampai 70°.
Endapan yang terletak pada timurlaut yaitu zona sesar Katala, panjang ± 525 m
dengan arah barat-baratlaut dan kemiringan 67° ke arah timurlaut. Zona sesar
Nono dan bambu terletak pada barat laut dengan arah utara-timurlaut dan
kemiringan 75° ke arah barat-baratlaut. Batas selatan terjadi pada bagian tenggara
dari endapan dengan arah utara-timur laut dan kemiringan 75°-80° ke arah
tenggara (Ali, 1997) (Gambar 1.1). Urat-urat dan dike kecil pada peta permukaan
menunjukkan pola yang sama dengan arah struktur, yaitu struktur timurlaut.

1.4. Alterasi Hidrotermal dan Mineralisasi Batu Hijau


Alterasi dan mineralisasi yang terjadi di daerah Batu Hijau
dikelompokkan berdasarkan mineral-mineral penciri serta tipe uratnya. Tipe-tipe
urat yang dipakai di Batu Hijau mengacu pada klasifikasi yang di lakukan
Gustafson dan Hunt (1975) untuk endapan porfiri tembaga di El-Savador, Chile,
Amerika Selatan,
yaitu sebagai berikut:
1. Urat Tipe A
Urat tipe A merupakan urat yang terbentuk paling awal. Kenampakan
urat dicirikan oleh kuarsa yang berukuran kasar, mengandung k-feldspar,
magnetit, kalkopirit, dan bornit. Urat ini memiliki ketebalan < 2 mm,
bentuknya tidak beraturan dan tidak menerus, berasosiasi dengan alterasi
potasik.
2 Urat Tipe B
Urat tipe B tersusun oleh kuarsa yang berukuran kasar, kalkopirit, dan
sedikit pirit. Kuarsa sering memberikan kenampakan struktur comb dan vuggy
pada pusat urat. Tipe urat ini relatif lebih muda dibandingkan urat A.
3.Urat Tipe D
Urat tipe D mempunyai karakteristik mineral pirit dengan kuarsa
sebagai komponen yang minor. Urat D berukuran besar, lebih teratur dan
menerus dibandingkan dengan urat yang terbentuk paling awal. Urat D
berasosiasi dengan alterasi filik dan propilitik. Tipe urat ini merupakan
kelompok yang termuda diantara tipe urat lainnya. Pengetahuan tentang urat
sangat membantu dalam menginterpretasi asosiasi mineral-mineral bijih,
karena setiap urat akan mencirikan karakteristik mineral bijih tertentu. Alterasi
hidrotermal yang berhubungan erat dengan mineralisasi pada sistem porfiri
Batu Hijau terbagi menjadi beberapa tahap berdasarkan waktu
pembentukannya (Mitchell, dkk., 1998), yaitu :
1. Alterasi tingkat awal (early alteration)
Alterasi tingkat awal terdiri dari proses biotisasi fenokris dan masa
dasar mineral mafik serta pembentukan Shreddy biotit, magnetit,
kuarsa dan anhidrit berasosiasi dengan biotit kuarsa±magnetit stringer,
urat biotit-serisit dan potong-memotong urat tipe A dan AB. Alterasi
awal terjadi pada bagian dalam dan proksimal intrusi tonalit. Pada
tingkat ini terdapat kalkosit, digenit dan digenit-bornit.
2. Alterasi tingkat transisi (transitional alteration)
Alterasi tingkat transisi ditandai dengan terubahnya biotit menjadi
klorit, oligoklas menjadi albit di sepanjang urat dan hadir serisit±kalsit.
Berasosiasi dengan urat AB dan B. Magnetit terubah menjadi hematit.
Mineralisasi berupa bornit dan kalkopirit.
3. Alterasi tingkat akhir(late alteration)
Alterasi tingkat akhirdicirikan oleh kehancuran feldspar (feldspar
destruction), alterasi serisit dan pembentukan urat sulfida tipe D. Urat
terisi oleh pirit dan kuarsa±kalkopirit.
4. Alterasi tingkat sangat akhir (very late alteration)
Alterasi tingkat sangat akhir juga dicirikan oleh kehancuran
feldspar, tetapi berbeda dengan late alteration, feldpar digantikan oleh
smektit berasosiasi dengan serisit dan klorit. Mineral sulfida berupa
sfalerit, galena, tennantit, pirit, kalkopirit dan sedikit bornit.
5. Alterasi zeolit (zeolit alteration)
Alterasi zeolit dicirikan oleh kehadiran mineral zeolit (stilbit dan
laumonit) yang terbentuk pada temperatur rendah. Kehadiran mineral
penciri ini bersamaan dengan munculnya kalsit, kuarsa, dan kristobalit
yang mengisi rekahan/rongga.
Mitchell dkk.(1998)mengklasifikasikan alterasi yang berkembang pada
daerah Batu Hijau berdasarkan karakter istik alterasi dan asosiasi mineral
ubahannya menjadi 5 zona alterasi, yaitu:
Partial Biotit
Zona alterasi ini merupakan zona alterasi awal yang terbentuk pada batuan
tonalit. Alterasi ini dicirikan mineral hornblenda yang sebagian terubah menjadi
biotit, disamping masih ditemukannya mineral hornblenda primer yang utuh.
Alterasi ini
dapat dibedakan dengan alterasi biotit sekunder dengan masih ditemukannya
kristal hornblenda yang berbentuk prismatik. Penyebaran Zona Alterasi Partial
Biotit mengikuti pola penyebaran intrusi tonalit muda.
Biotit Sekunder
Zona ini merupakan alterasi tingkat awal yang dicirikan dengan hadirnya
biotit sekunder dan magnetit serta umumnya berasosiasi dengan urat kuarsa, dan
hornblenda yang teralterasi menjadi biotit. Mineral plagioklas bersifat relatif stabil
namun dapat teralterasi menjadi biotit, kalsit, anhidrit, K-feldspar pada bagian
pinggir atau bidang belahan. Alterasi ini juga biasanya ditandai dengan asosiasi
mineral porfiri tingkat tinggi seperti bornit, digenit, magnetit, serta secara
bergradasi keluar menjadi kalkopirit dan pirit.
Pale Green Mica(PGM)
Zona ini merupakan alterasi tingkat transisi yang dicirikan dengan
kehadiran mika hijau yang mengandung klorit dan serisit, klorit Overprint dengan
biotit sekunder, berasosiasi dengan kalkopirit dan urat tipe B.
Klorit-Epidot
Klorit-epidot merupakan alterasi tingkat awal yang dicirikan dengan
hadirnya klorit dan epidot, serta pirit, magnetit, kalsit. Plagioklas teralterasi
menjadi epidot dan kalsit serta mineral-mineral mafik menjadi klorit.
Hancuran feldspar (Feldspar destructive)
Zona alterasi yang terbentuk paling akhir, dicirikan dengan clay, serisit,
andalusit, dan piropilit. Zona ini dicirikan dengan biotit, magnetit yang rusak, dan
berasosiasi dengan urat yang terisi mineral pirit. Mineralisasi Cu-Au di Batu Hijau
terdapat pada zona di sekitar pusat intrusi, yang terletak pada kontak batu an
volkanik dan diorit kuarsa. Tonalit tua mempunyai kadar mineralisasi yang cukup
tinggi (0,6% - 0,8% Cu) dan tembaga emas terdistribusi pada intrusi yang lain
(Mitchell dkk., 1998). Tonalit Tua juga memberikan kontribusi yang seimbang
antara tembaga dan emas. Tonalit muda merupakan intrusi paling terakhir yang
sedikit berasosiasi dengan urat kuarsa, alterasi hidrotermal lemah dan kadar
tembaga-emas yang rendah (< 0,3% Cu dan < 0,5 g/t Au). Mineral sulfida
tembaga terbentuk pada rekahan yang berasosiasi dengan alterasi tingkat awal,
urat kuarsa, dan tersebar secara acakdalam masa dasar. Sulfida tembaga primer
tersebut adalah kalkosit, kovelit, bornit, digenit, dan kalkopirit. Kalkosit dan
kovelit serta tembaga murni terdapat pada bagian zona supergen

1.5. Alterasi dan Mineralisasi


Alterasi dan mineralisasi adalah suatu bentuk perubahan komposisi pada
batuan baik itu kimia, fisika ataupun mineralogi sebagai akibat pengaruh cairan
hidrotermal pada batuan, perubahan yang terjadi dapat berupa rekristalisasi,
penambahan mineral baru, larutnya mineral yang telah ada, penyusunan kembali
komponen kimia-nya atau perubahan sifat fisik seperti permeabilitas dan porositas
batuan ( Pirajno,1992).
1.5.1. Alterasi Hidrothermal
Alterasi sistem hidrothermal merupakan ubahan pada batuan yang
disebabkan oleh pengaruh-pengaruh larutan hidrothermal pada kedalaman,
tempertatur, dan tekanan tertentu. Pada proses ini terjadi penggantian unsur
tertentu dari mineral penyusun batuan dinding yang digantikan oleh unsur lain
dari larutan hidrothermal sehingga menjadi lebih stabil.
Larutan hidrotermal adalah cairan bertemperatur tinggi (100 –500°C) sisa
pendinginan magma yang mampu merubah mineral yang telah ada sebelumnya
dan membentuk mineral-mineral tertentu. Secara umum cairan sisa kristalisasi
magma tersebut bersifat silika yang kaya alumina, alkali dan alkali tanah yang
mengandung air dan unsur-unsur volatil (Bateman, 1981). Larutan hidrotermal
terbentuk pada bagian akhir dari siklus pembekuan magma dan umumnya
terakumulasi pada litologi dengan permeabilitas tinggi atau pada zona lemah.
Interaksi antara larutan hidrotermal dengan batuan yang dilaluinya (wall rocks)
akan menyebabkan terubahnya mineral primer menjadi mineral sekunder
(alteration minerals).
Proses hidrotermal pada kondisi tertentu akan menghasilkan kumpulan
mineral tertentu yang dikenal sebagai himpunan mineral atau mineral assemblage
(Guilbert dan Park, 1986).( Gambar II.1 dan Tabel II.1). Secara umum kehadiran
himpunan mineral tertentu dalam suatu ubahan batuan akan mencerminkan tipe
alterasi tertentu.
Alterasi hidrotermal merupakan proses yang komplek karena melibatkan
perubahan mineralogi, kimiawi dan tekstur yang kesemuanya adalah hasil dari
interaksi larutan hidrotermal dengan batuan yang dilaluinya. Perubahan tersebut
tergantung pada karakteristik batuan samping, sifat larutan, kondisi tekanan dan
temperatur pada saat reaksi berlangsung, konsentrasi dan lama aktivitas
hidrotermal. Faktor-faktor tersebut saling terkait, tetapi dalam alterasi hidrotermal
pada sistem epitermal kelulusan batuan, temperatur, dan kimia larutan memegang
peranan penting (Corbett dan Leach, 1996). Berdasarkan kandungan mineralnya,
pada alterasi hidrothermal, dapat dibagi menjadi 6 (enam) tipe alterasi,
diantaranya yaitu:
1. Alterasi Potasik
Menurut Corbett dan Leach, 1996 (dalam Agus Harjanto, 2008), mineral
utama dalam alterasi ini berupa potash feldspar sekunder dan biotit sekunder.
2. Alterasi Silisik
Menurut Corbett dan Leach (1996), zona alterasi ini dicirikan oleh
kehadiran mineral dan kelompok silika yang stabil pada pH < 2 (Dalam Agus
Harjanto). Kuarsa akan terbentuk pada suhu tinggi sedangkan pada suhu rendah
(<100oC) akan terbentuk opal silika, kristobalit, tridimit, dan pada suhu menengah
(100o - 200o C) akan terbentuk kalsedon.
3. Alterasi Filik
Dicirikan oleh seritisasi, kecuali kuarsa, plagioklas feldspar tergantikan
oleh serisit dan kuarsa K-Feldspar magmatik juga mengalami seritisasi tapi lebih
kecil dibandingkan dengan plagioklas.
4. Alterasi Argilik Lanjut (Advance Argilic)
Alterasi ini terbentuk dari hasil pencucian alkali dan kalsium seperti
feldspar dan mika, tetapi hanya hadir jika aluminium tidak bersifat mobile, apalagi
aluminium bergerak lagi diikuti dengan bertambahnya serisit dan terjadi alterasi
serisit. Alterasi advance argilic ini dicirikan oleh hadirnya mineral yang terbentuk
pada kondisi asam terutama kaolinit, piropilit, diaspor, alunit, jarosit, dan zunyit.
Perlu dibedakan antara alterasi hipogen dan supergen. Alterasi advance argilic
hipogen terbentuk dari hasil kondensasi gas alam (terutama gas HCl) dan
kesetimbangan SO2 dalam membentuk asam sulfur dan hidrogen sulfida. Alterasi
advance argilic supergen dapat terbentuk dalam dua macam, pertama terbentuk
dalam kondensasi gas hasil pendidihan fluida hidrothermal yang membentuk
airtanah yang teroksidasi. Oksidasi oleh atmosfer merubah H2S membentuk asam
sulfur yang akan merombak silikat dan akan membentuk kaolinit dan alunit.
5. Alterasi Argilik
Menurut Corbett dan Leach, 1996 (dalam Agus Harjanto, 2008), alterasi
ini dicirikan dengan kehadiran anggota dari kaolin (kaolinit&dickit) dan illit
(smektit, illit smektit, illit), serta asosiasi mineral transisi yang terbentuk pada pH
menengah dan suhu rendah. Kelompok dari mineral temperatur rendah-transisi
yaitu kelompok klorit-illit juga hadir pada alterasi ini.
6. Alterasi Propilitik
Jenis alterasi ini umumnya dicirikan oleh kehadiran mineral klorit–
epidotaktilonit (Corbett&Leach, 1996). Menurut White (1996), alterasi ini
mempunyai penyebaran yang terluas dan kaitannya secara langsung dengan
mineralisasi sangat kecil. Kristal plagioklas mengalami argilisasi dengan
intensitas kecil, biotit mengalami perubahan menjadi klorit.
Tabel I.1. Tipe Alterasi Berdasarkan himpunan Mineral (Corbett&Leach, 1996
dalam Agus Harjanto 2008)
Tabel I.2. Tipe Alterasi Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Proses dan
Kondisi Pembentukannya (White dan Hedenquist, 1990).

Corbett dan Leach (1998) menggambarkan himpunan mineral yang


terbentuk pada kondisi pH dan temperatur tertentu serta tipe endapannya dalam
suatu sistem hidrotermal. Setiap mineral hanya akan terbentuk jika berada dalam
kondisi yang stabil. Oleh karena itu, beberapa mineral tertentu hanya akan
terbentuk pada kondisi pH dan temperatur tertentu (Tabel I.3).
Tabel I.3. Himpunan mineral berdasarkan pH dan temperatur pembentukannya
(Corbett dan Leach, 1998)
1.5.2. Mineralisasi

Menurut Bateman (1981) secara umum proses mineralisasi dipengaruhi

oleh beberapa faktor pengontrol, meliputi :


a. Larutan hidrotermal yang berfungsi sebagai larutan pembawa mineral.
b. Zona lemah yang berfungsi sebagai saluran untuk lewat larutan
hidrotermal.
c. Tersedianya ruang untuk pengendapan larutan hidrotermal.
d. Terjadinya reaksi kimia dari batuan induk/host rock dengan larutan
hidrotermal yang memungkinkan terjadinya pengendapan mineral bijih
(ore).
e. Adanya konsentrasi larutan yang cukup tinggi untuk mengendapkan
mineral bijih (ore).
Menurut Lindgren (1933) faktor yang mengontrol terkonsentrasinya
mineral-mineral logam (khususnya emas) pada suatu proses mineralisasi
dipengaruhi oleh adanya :
a. Proses diferensiasi, Pada proses ini terjadi kristalisasi secara fraksional
(fractional crystalization), yaitu pemisahan mineral-mineral berat pertama
kali dan mengakibatkan terjadinya pengendapan kristal-kristal magnetit,
kromit dan ilmenit. Pengendapan kromit sering berasosiasi dengan
pengendapan intan dan platinum. Larutan sulfida akan terpisah dari
magma panas dengan membawa mineral Ni, Cu, Au, Ag, Pt, dan Pd.
b. Aliran gas yang membawa mineral-mineral logam hasil pangkayaan dari
magma. Pada proses ini, unsur silika mempunyai peranan untuk
membawa air dan unsur-unsur volatil dari magma. Air yang bersifat asam
akan naik membawa CO2, N, senyawa S, fluorida, klorida, fosfat,
arsenik, senyawa antimon, selenida dan telurida. Pada saat yang
bersamaan mineral logam seperti Au, Ag, Fe, Cu, Pb, Zn, Bi, Sn, tungten,
Hg, Mn, Ni, Co, Rd dan U akan naik terbawa larutan. Komponen-
komponen yang terbawa dalam aliran gas tersebut berupa sublimat pada
erupsi vulkanik dekat permukaan dan membentuk urat hidrotermal atau
terendapkan sebagai hasil penggantian (replacement deposits) di atas
atau di dekat intrusi batuan beku.
1.5.3 Endapan Hidrothermal

Selain alterasi atau ubahan yang terbentuk dalam suatu sistem hidroterrmal,
Lindgreen (1933; dalam Bateman dan Jensen, 1991) membagi endapan
hidrotermal menjadi 3 tipe endapan berbeda berdasarkan hubungan temperatur,
tekanan, dan kondisi geologi yang tercermin dari mineral-mineral yang terbentuk.
Tipe endapan tersebut, adalah:

1. Endapan hipotermal, terbentuk pada daerah dekat dengan intrusi pada


temperatur berkisar antara 500-600°C dan tekanan sangat tinggi.
2. Endapan mesotermal, terbentuk pada jarak tertentu dari intrusi pada
temperatur berkisar antara 200-500°C dan tekanan tinggi.
3. Endapan epitermal, terbentuk jauh dari intrusi pada temperatur berkisar
antara 50-200°C dan tekanan sedang atau medium.
1.5.4 Endapan Porfiri
Endapan tembaga-emas porfiri adalah endapan mineral hidrotermal
dimana di dalamnya terdapat hubungan yang sangat erat antara intrusi porfiritik
sub-vulkanik kompleks dengan alterasi dan mineralisasi magmatik-hidrotermal.
Alterasi hidrotermal menyebabkan adanya perubahan pada mineralogi dan
komposisi batuan karena berubahnya unsur- unsur kimia pada batuan akibat
berinteraksi dengan fluida hidrotermal. Adanya kumpulan mineral ubahan dapat
menjadi petunjuk dalam menentukan zona mineralisasi pada endapan porfiri.

Gambar I.3 sabuk tektonik (USGS, 2012)


Istilah endapan porfiri digunakan untuk endapan mineral bijih yang
memiliki sebaran pada batuan beku plutonik yang memiliki tekstur porfiritik
seperti monzonit, granodiorit, dan tonalit (Robert dan Sheahan). Jenis endapan ini
telah menjadi salah satu sumber endapan ekonomis penting di dunia karena
geometrinya yang luas serta kandungannya yang cukup tinggi. Dengan
mineralisasi yang terbentuk kaya akan tembaga, emas, timah dan molibdenum.
Pada beberapa tipe endapan porfiri juga dapat ditemukan asosiasi dengan tipe
endapan lainnya seperti skarn. Hal ini disebabkan keterdapatan tubuh batuan
karbonat di dekat intrusi utama porfiri yang kemudian mengalami mineralisasi
(Einaudi et al, 1981; dalam Berger et al, 2008).
Mineralisasi tembaga dan emas pada endapan porfiri tidak hanya terjadi secara
tersebar pada batuan, tetapi juga dapat terjadi pada urat kuarsa maupun urat
sulfida. Larutan hidrotermal pembawa mineralisasi tersebut melewati rekahan
pada batuan sehingga meninggalkan jaringan urat- urat yang saling memotong
(stockwork).
1.5.4.1. Lingkungan Pembentukan Endapan Porfiri
Endapan porfiri tembaga terbentuk di sepanjang busur magmatik pada
batas plate-margin konvergen atau busur kepulauan, pembentukan deposit ini
berasosiasi dengan zona subduksi dan aktivitas vulkanik postmagmatik (Hindle
dan Kley, 2002; dalam Berger et al, 2008). Dengan kedalaman terbentuknya
berkisar 1-4 km, dan sebagian besar endapan porfiri yang ditemukan berumur
Mesozoikum-Kenozoikum bahkan ada yang berumur lebih tua (Singer et al, 2008;
dalam Berger et al, 2008). Dalam tahapan pembentukannya terdapat pengaruh
struktur tetapi tidak dominan (Tosdal dan Richards, 2001; Sillitoe dan Perelló,
2005). Menurut Berger dan Drew (1998) serta Drew (2006) fungsi struktur
sebagai pengatur adanya permeabilitas pada batuan yang akan mengalami
mineralisasi dan membentuk mineral-mineral ekonomis. Seperti endapan porfiri di
Grasberg yang merupakan area pembentukan mineralisasi porfiri berasosiasi
dengan zona-zona sesar utama (Sapiie dan Cloos, 2004).
Endapan porfiri tembaga dihasilkan dari kondensasi fluida yang terbentuk
pada saat proses kristalisasi magma sumber yang terletak pada pertengahan kerak
benua/samudera dengan kedalaman 8-10 km. fluida tersebut akan bergerak naik
ke permukaan menuju lingkungan intrusi subvulkanik dangkal pada kedalaman 1-
4 km (Klemm et al, 2008).
Pada lingkungan subvulkanik dangkal ini kemudian terjadi intrusi berkali-
kali dengan komposisi yang berbeda-beda. Dengan fluida
pembawa mineral bijih berkembang dari intrusi yang bersifat calc-alkaline, alkali-
calcic, atau alkaline (Seedorff et al, 2005). Batuan induk umumnya berupa
kelompok granitoid seperti granit, granodiorit sampai tonalit, monzodiorit kuarsa
dan diorit.

Gambar I.4 Grafik pertumbuhan endapan porfiri berupa perkembangan intrusi,


pembentukan urat dan mineralisasi (Corbett, 1998).

Selain batuan beku endapan porfiri juga mungkin ditemukan berasosiasi


dengan batuan sedimen. Contohnya seperti batuan yang bersifat karbonat jika
berasosiasi dengan endapan porfiri akan membentuk endapan skarn. Pada
pembentukan endapan porfiri juga mungkin ditemukan adanya asosiasi alterasi
yang terjadi pada tubuh batuan, adapun jenis-jenis alterasi yang terbentuk yaitu:
1. Zona alterasi propilitik: merupakan zona alterasi terluar yang memiliki luas
antara 300m-10 km. pada zona ini dapat dijumpai mineral-mineral klorit, epidot,
karbonat, dan pirit. Dengan mineral alterasi dominan berupa klorit dan epidot.
Zona ini tumbuh bergradasi menuju tubuh batuan yang tidak teralterasi mencapai
beberapa ratus meter.
2. Zona alterasi argilik: area ini merupakan area yang tersusun oleh mineral-
mineral lempung yang terbentuk secara intensif pada batuan yang kaya akan
kandungan feldspar seperti plagioklas. Dengan mineral dominan yaitu kaolinit dan
montmorillonit yang menggantikan mineral-mineral plagioclase. Pirit umumnya
hadir.

3. Zona alterasi serisitik atau fillik: tersusun secara dominan oleh mineral sericit,
kuarsa, dan pirit yang dapat berasosiasi secara minor dengan mineral rutil, klorit,
dan ilmenit. Secara dominan mineral-mineral bijih yang dapat terbentuk pada
zona ini yaitu kalkopirit dengan atau tanpa molibdenit dan emas.

4. Zona alterasi potasik: zona ini terbentuk paad bagian dalam inti yang dicirikan
oleh kehdiran potasium feldspar atau biotit dengan atau tanpa kehadiran mineral
magnetit, amfibol, anhidrit dan fluorit. Berasosiasi dengan mineral-mineral bijih
berupa mineral kalkopirit, bornit, kalkosit, molibdenit dan emas.

Gambar I.5 Grafik pertumbuhan endapan porfiri berupa perkembangan intrusi,


alterasi, pembentukan urat dan mineralisasi (Corbett, 1998).
Tabel 1.4. Komparasi model endapan porfiri antara Lowell Guilbert dan Diorit
(Evans, 1993)

Karakteritik Endapan Porfiri


Menurut Berger et al, (2008) terdapat beberapa komponen yang harus
diperhatikan dalam mempelajari endapan porfiri yaitu:
1. Batuan Induk
Batuan induk/pembawa mineral bijih umumnya berupa batuan beku intrusif
dengan sifat intermediet-asam dan bertekstur porfiritik. Banyak dijumpai rekahan-
rekahan pada tubuh batuan serta alterasi yang terjadi pada dinding batuan
cenderung bersifat pervasif dan memiliki urat-urat yang intensif. Dan terkadang
berasosiasi dengan batuan vulkanik dan sedimen.
2. Mineral-mineral Bijih
Mineral-mineral bijih yang mungkin dijumpai merupakan mineral-mineral
hasil reaksi hypogen. Dengan kandungan utama berupa sulfida-sulfida pembawa
tembaga-emas, tembaga-molibdenum dan tembaga-molibdenum-emas. Seperti
mineral kalkopirit, bornit, enargit, dan kalkosit. Terkadang terdapat mineral
molibdenum dan emas native. Serta mineral lainnya seperti sfalerit, tetrahedrit,
galena, dan emas telluride.

Sulfidation mineral di porfiri

High state (Tinggi – Sangat Tinggi) Intermediate (Menengah)


Cv : Covellite (CuS) Cp : Chalcopyrite (CuFeS2)
Dg : Digenite (Cu9S5)
Bn : Bornite (Cu5FeS4)

Low (Rendah) Transisi : Oxidation to Sulfidation


Py : Pyrite (FeS2) Po : Pyrrhotite (FeS)
Asp : Arsenopyrite (FeAsS) Iron: (Hematit-Fe2O3, Magnetite-Fe3O4)

Gambar I.6 Tingkatan sulfidasi (EinaudiHedenquist, 2003


BAB II
RUANG LINGKUP KERJA PRAKTEK

3.1 MAHASISWA KERJA PRAKTEK


a. Nama Lengkap : Munajad Ikhlas
b. NIM : 410014198
c. Program Studi : Teknik Geologi STTNAS Yogyakarta.
d. Alamat : Dsn Ramolong , Dsa Berora , Kec Lopok ,Kab sumbawa
Besar,Prov. Nusa Tenggara Barat
e. E-mail : munajadikhlas.sttnas@gmail.com
f. Nomor HP : 081226026396

3.2. Lokasi Kerja Praktek


Lokasi kerja praktek dilaksanakan lingkup kerja PT Amman mineral
Nusa tenggara (PT AMNT ).
3.3. Bidang Pembahasan yang di amati
Pada usulan pembahasan, penulis mengajukan
sebuah topik usulan:

“ALTERASI DAN KARAKTERISTIK ENDAPAN PORFIRI BATU


HIJAU, PT. AMMAN MINERAL NUSA TENGARA (PT AMNT ) ”

*Nb: Tema/Judul kegiatan dapat disesuaikan dengan pertimbangan


efektifitas dan efisiensi dari PT Amman mineral Nusa tenggara (PT AMNT ).

3.4. Lingkup Waktu dan Kegiatan


Waktu pelaksanaan Kerja Praktek direncanakan dari tanggal 1 maret 2018
sampai dengan 31 mei 2018 (Tabel 2.1).

Tabel 2.1. Rencana kegiatan

NO Bentuk Kegiatan Maret April Mei


I II III IV I II III IV I II III IV
1 Pengenalan Wilayah Kerja FTPI
2 Observasi & Pengumpulan Data
3 Konsultasi & Bimbingan
4 Penyelesaian Laporan
Rencana kegiatan tersebut dapat berubah dengan menyesuaikan tugas yang
diberikan oleh PT. Amman mineral Nusa tenggara (PT AMNT )
. Pada dasarnya, rencana tersebut merupakan suatu gambaran kasar
pencapaian target Kerja Praktek yang akan dilaksanakan sehingga pelaksanaan
Kerja Praktek diharapkan dapat berlangsung secara optimal dan efisien dalam
skala ruang dan waktu.
Kami juga sangat berharap kepada PT. Amman mineral Nusa tenggara
(PT AMNT ) apabila jawaban dari proposal yang kami ajukan dijawab selambat-
lambatnya 1-2 bulan sebelum tanggal pelaksanaan.
3.5. Hasil Kerja Praktek
Hasil kerja praktek diwujudkan dalam bentuk laporan Kerja Praktek.
Laporan Kerja Praktek disetujui oleh dosen pembimbing dan pembimbing kerja
praktek di PT. Amman mineral Nusa tenggara (PT AMNT )
PENUTUP

Pelaksanaan Kerja Praktek ini diharapkan menjadi jalinan kerjasama yang


baik antara lembaga pendidikan dan pihak perusahaan, yaitu antara Sekolah
Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta khususnya Jurusan Teknik Geologi dan
PT. Amman mineral Nusa tenggara (PT AMNT ).Merupakan suatu kesempatan
yang berharga apabila kami (mahasiswa) dapat melakukan Kerja Praktek yang
didukung oleh PT. Amman mineral Nusa tenggara (PT AMNT ), sehingga dapat
membuka wawasan dan pengalaman mahasiswa pada bidang eksplorasi maupun
eksploitasi dalam dunia Pertambangan.
Hasil dari Kerja Praktek ini akan disusun dalam bentuk laporan hasil
penelitian dan akan dipresentasikan di lingkungan Jurusan Teknik Geologi,
Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta. Besar harapan atas terkabulnya
permohonan Kerja Praktek ini. Atas perhatian dan bantuannya, kami
mengucapkan banyak terima kasih.

Yogyakarta, 30 Agustus 2017

Penulis/Pemohon,

Munajad Ikhlas
LAMPIRAN

Sebagai bahan pertimbangan bagi perusahaan, kami lampirkan beberapa


dokumen, antara lain :
- Curriculum Vitae
- Kartu Tnda penduduk ( KTP )
- Surat pengantar kerja praktek dari Sekolah Tinggi Teknologi Nasional
Yogyakarta
- Transkrip Nilai
- Surat Keterangan Catatan Kepolisian ( SKCK )
- Surat Keterangan Sehat
CURRICULUM VITAE

Data Pribadi

Nama : Munajad Ikhlas


Tempat, Tanggal lahir : Berora 12 Oktober 1995
Agama : Islam
Alamat rumah : Dsn Ramolong , Dsa Berora , Kec
Lopok ,Kab sumbawa Besar
,Prov. Nusa Tenggara Barat
Nomor telepon : 081226026396
Email : munajadikhlas.sttnas@gmail.com

Riwayat Pendidikan

Pendidikan Formal:
2000 - 2001 : TK BERORA
2001 - 2007 : SD N BERORA
2007 - 2010 : MTS N 01 TALIWANG
2010 - 2013 : SMA N 03 SUMBAWA BESAR
2014 - sekarang : Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta

Pendidikan Non Formal:

2017 : Training mineskipe

Riwayat Organisasi

2014-sekarang : Anggota HMTG “BUMI” STTNAS Yk (Himpunan


Mahasiswa Teknik Geologi “BUMI” Sekolah Tinggi
Teknogi Nasional Yogyakarta )
2015 : Anggota BUMI EXSPEDISI diesnatalis ke 21 HMTG
“BUMI”
2016 : Kordinator Dentatib peserta GladiBUMI ( diklat ) HMTG
“BUMI”
2017 : Staff Div. BUMI RISERT , Sub Div. BUMI
ADVENTURE TEAM HMTG “BUMI” Dan Ketua
Panitia Seminar SKARN DEPOSITS RECOGNITION
OF ALTRATION TOWARDS THE MINERALITON
ZONE
2017-2018 : Anggota DEWAN MAHASISWA Sekolah Tinggi
Teknologi Nasional Yogyakarta
: Anggota BaktiBUMI diesnatalies ke-23 HMTG “BUMI”

Pengalaman Akademik

2017 : Identifikasi mineralisasi logam


berharga pada diatrem G.batur
Pengalaman Di Lapangan

20 Februari - 1 Maret 2015 : Kuliah Lapangan 1 di Kulonprogo


13-28 Agustus 2016 : Kuliah Lapangan 2 di Bayat

Keahlian Komputer

Microsoft Office (MS. Word, MS. Excel, MS. PowerPoint), dan Internet.

Demikian Daftar curriculum vitae ini saya buat dengan sebenar-benarnya, semoga
dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

Hormat saya,

Munajad Ikhlas