Anda di halaman 1dari 58

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pembelajaran matematika umumnya didominasi oleh pengenalan rumus-

rumus serta konsep-konsep secara verbal, tanpa ada perhatian yang cukup terhadap

pemahaman siswa. Disamping itu proses belajar mengajar hampir selalu

berlangsung dengan metode “chalk and talk” guru menjadi pusat dari seluruh

kegiatan di kelas. Pembelajaran matematika sering diinterpretasikan sebagai

aktivitas utama yang dilakukan guru, yaitu guru mengenalkan materi, mungkin

mengajukan satu atau dua pertanyaan, dan meminta siswa yang pasif untuk aktif

dengan memulai melengkapi latihan dari buku teks, pelajaran diakhiri dengan

pengorganisasian yang baik dan pembelajaran selanjutnya dilakukan dengan

sekenario yang serupa. Sebagian siswa tidak mengetahui mengapa dan untuk apa

mereka belajar konsep pecahan karena semua yang dipelajari terasa jauh dari

kehidupan mereka sehari-hari. Siswa hanya mengenal dari apa yang digambar oleh

guru di depan papan tulis atau dalam buku paket matematika, dan hampir tidak

pernah mendapat kesempatan untuk memanipulasi objek-objek tersebut. Akibatnya

banyak siswa yang berpendapat bahwa konsep-konsep pecahan sangat sukar

dipelajari.

Pada umumnya, sekelompok siswa beranggapan bahwa mata pelajaran

matematika sulit difahami. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor


2

antara lain: Pertama, siswa kurang memiliki pengetahuan prasyarat serta kurang

mengetahui manfaat pelajaran matematika yang ia pelajari. Kedua, daya abstraksi

siswa kurang dalam memahami konsep-konsep matematika yang bersifat abstrak.

Dalam mengajarkan matematika, sebaiknya diusahakan agar siswa mudah

memahami konsep yang ia pelajari, sehingga siswa lebih berminat untuk

mempelajarinya. Jika sekiranya diperlukan media atau alat peraga yang dapat

membantu siswa dalam memahami konsep matematika, maka seyogyanya guru

menyiapkan media atau alat peraga yang diperlukan. Dari pengalaman peneliti

dalam memberikan pembelajaran matematika kepada siswa selama ini, sebagian

besar siswa sulit memahami materi pecahan. Meskipun peneliti sudah berupaya

membimbing siswa dalam memahami konsep pecahan namun hasil belajar siswa

belum sesuai dengan yang diharapkan, yaitu masih banyak siswa yang nilainya

kurang dari standar ketuntasan belajar minimal.

Karakteristik perkembangan anak sesuai dengan usia mengharuskan

seorang guru untuk mengembangkan strategi dalam upaya pemahaman materi

pelajaran oleh peserta didik. Oleh karena itu guru sebagai salah satu pelaku

pendidikan harus memiliki kemauan dan kemampuan untuk menyampaikan bahan

ajar, menentukan strategi mengajar, memanfaatkan media, menggunakan metode

dan lain-lain. Tugas ini berkaitan dengan peranya sebagai penanggung jawab serta

fasilitator dalam proses pembelajaran.

Selama ini banyak peserta didik yang mempunyai stigma negatif terhadap

pelajaran matematika. Mereka beranggapan bahwa matematika merupakan

pelajaran yang sulit dan membosankan, sehingga nilai pelajaran matematika


3

biasanya menduduki rangking yang paling akhir dibanding nilai pelajaran yang

lain. Hal itu disebabkan dalam penyampaian materi pelajaran kurang menarik

sehingga siswa kurang minat dan bahkan terkadang tidak faham dan tidak

merespon apa yang telah disampaikan oleh guru. Minimnya penggunaan media

pembelajaran dan kurangnya strategi mengakibatkan siswa kurang tertarik untuk

menerima dan mengikuti mata pelajaran tersebut.

Pemilihan metode dan media yang tepat dan sesuai dengan materi ajar

akan berpengaruh terhadap minat yang akhirnya akan menimbulkan sebuah

pemahaman dan berpikir siswa. Kurangnya pemahaman peserta didik dalam

menerima materi tersebut khususnya mata pelajaran matematika dalam materi

bilangan pecahan menjadi permasalahan dalam pelajaran matematika.

Permasalahan tersebut menjadikan dasar dan alasan untuk melakukan penelitian

sehingga hasil dari penelitian tersebut bisa diharapkan dapat menambah dan

memotivasi siswa untuk senang belajar matematika. Penelitian ini diharapkan

dapat menerapkan konsep pemahaman dan meningkatkan motivasi daya pikir

siswa sehingga siswa dapat memahami perhitungan dalam bilangan pecahan

dengan teliti dan dengan hasil yang lebih baik sehingga indikator dapat tercapai

dengan baik.

Memperhatikan dan melihat demonstrasi yang disampaikan oleh guru

sebagai metode pembelajarannya, peserta didik akan terbentuk daya

pemahamannya dan akan terbentuk kecakapan dalam menerima materi pelajaran

tersebut karena adanya pemilihan bahan manipulatif yang tepat dan metode

pembelajaran yang tepat, yang merupakan modal utama dalam matematika.


4

Demonstrasi memberikan inspirasi dan impuls yang mencakup style media

pembelajaran yang efektif baik pada wacana idealis maupun strategi untuk

menghadapai kondisi yang relistis Penggunaan metode demonstasi tersebut, maka

peserta didik sangat mungkin mengembangkan daya pikir dan pemahaman yang

dimiliki sehingga memberikan alternatif pengembangan pemahaman yang baik

dalam pengembangan kecakapan berpikir, berhitung, dalam materi bilangan

pecahan. Tanpa penggunaan strategi guru belum cukup untuk menghantarkan

peserta didik untuk dapat membentuk kecakapan berpikir dalam memahami

materi bilangan pecahan yang memadai.

Mengingat dasar-dasar dalam penyampaian materi bersifat teoristis

tentunya hanya akan memberikan gambaran yang masih abstrak dan sulit untuk

dipahami oleh peserta didik secara menyeluruh. Tentu saja ada penyampaian

materi yang kurang jelas, ada yang tercecer, dan ada yang terlewatkan, sehingga

menimbulkan pemahaman yang kurang terhadap apa dan bagaimana penyampaian

materi tersebut perlu dipahami. Karena proses tersebut tentu hanya akan mampu

mengembangkan kognisi yang terbatas pemahaman perspektif.

Metode demonstrasi penting untuk disampaikan karena dengan adanya

strategi tersebut akan memberikan sumbangan tambahan pemahaman dalam

menerima materi tertentu bagi peserta didik dari tahap demi tahap. Strategi

demonstrasi dapat juga menumbuhkan kemampuan daya pikir anak, dan

menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan. Peserta didik

tidak akan merasa bosan dalam kegiatan belajar materi ini. Berbagai alasan di atas

penulis mengambil judul “Peningkatan Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran


5

Matematika Penjumlahan Bilangan Pecahan Melalui Metode Demonstrasi Siswa

Kelas IV di SDN 101949 Pematang Tatal Perbaungan“ Yang menarik perhatian

penulis sekaligus menjadi alasan terhadap judul tersebut adalah :

1. Siswa kelas IV belum bisa menghitung perkalian dan pembagian dengan

cepat dan lancar, sehingga untuk pemahaman materi bilangan pecahan

kurang dapat memahami bahkan tidak ada respon dari peserta didik.

2. Siswa kelas IV belum paham dengan penjelasan yang disampaikan oleh

guru. Sehingga hal ini menyebabkan kegiatan pembelajaran kurang

komunikatif.

3. Melihat dari segi psikologi peserta didik kelas IV seharusnya sudah

mencapai kriteria ketuntasan minimal setidaknya indikator dalam

penghitungan bilangan pecahan sudah tercapai.

4. Daya dukung yang kurang, baik dari daya dukung lingkungan, orangtua,

sarana dan prasarana yang sangat minim dan kurang menunjang .

5. Media pembelajaran yang kurang menunjang serta kreatifitas guru dalam

memilih strategi dan menggunakan media pembelajaran yang kurang

tepat, sehingga peserta didik kurang minat dan kurang memahami materi

yang disampaikan oleh guru.

Dengan demikian guru harus memiliki kecakapan dan wawasan yang luas,

khususnya tentang ilmu yang diajarkannya, memiliki keterampilan yang tinggi,

mampu menggunakan metode yang tepat artinya mampu menyesuaikan dirinya

dengan kemampuan anak didik yang dihadapinya. Bagi seorang guru atau

pendidik tidak hanya menyampaikan materi saja tetapi tingkah lakunya harus bisa
6

dijadikan contoh bagi anak didik. Disamping itu kecakapan guru, ketrampilan,

dan kreatifitas seorang guru dalam mengajar atau menyampaikan materi juga

menjadi perhatian anak didik. Seorang guru tanpa adanya bekal ketrampilan atau

kreatifitas dalam mengajar maka akan mudah diabaikan anak didik dan mudah

pula menimbulkan rasa bosan dan jenuh sehingga anak didik kurang termotivasi

untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas dapat diambil suatu masalah

yang pokok sehingga penulis melakukan penelitian ini, yaitu :

1. Bagaimana penggunaan metode demonstrasi terhadap hasil belajar

matematika dalam materi Penjumlahan bilangan pecahan pada siswa kelas

IV SDN 101949 Pematang Tatal Perbaungan tahun 2015/2016 ?

2. Bagaimana peningkatan hasil belajar matematika dengan menggunakan

metode demonstrasi pada meteri penjumlahan bilangan pecahan siswa

kelas IV SDN 101949 Pematang Tatal Perbaungan tahun 2015/2016 ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah dan rumusan masalah

tersebut maka penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran materi penjumlahan

bilangan pecahan pada kelas IV SDN 101949 Pematang Tatal

Perbaungan Tahun 2015/2016.


7

2. Untuk mengetahui sejauh mana kendala (problematika) yang dihadapi

SDN 101949 Pematang Tatal Perbaungan dalam kegiatan belajar

mengajar khususnya pelajaran matematika. Apakah ada hubungannya

antara penentuan metode demonstrasi dengan meningkatnya hasil

belajar siswa pada mata pelajaran matematika materi perhitungan

bilangan pecahan?

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah :

1. Informasi yang diperoleh dalam penelitian ini dapat dipergunakan sebagai

bahan masukan bagi guru mata pelajaran matematika dan bagi orang tua

khususnya dalam memberi motivasi kepada peserta didik untuk belajar

aktif dengan suasana yang menarik dan menyenangkan.

2. Dapat memberikan pemecahan masalah dalam pendidikan yang berkaitan

dengan materi pecahan pada mata pelajaran matematika,sehingga dapat

meningkatkan prestasi hasil belajar siswa karena adanya metode

demonstrasi sebagai strategi pembelajaran.


8

BAB II

LANDASAN TEORITIS

A. Landasan Teoritis

1. Landasan Pembelajaran

Belajar pada prinsipnya adalah suatu upaya menemukan hal-hal

tertentu yang dapat meningkatkan kualitas seseorang baik langsung

maupun tidak langsung. Oleh karena itu variabel-variabel yang

berhubungan dengan kegiatan belajar harus terkontrol sehingga

berlangsung dengan menyenangkan. Secara umum dapat dikatakan

bahwa teori pembelajaran adalah preskriptif dan teori belajar adalah

deskriptif. Preskriptif artinya tujuan utama teori pembelajaran adalah

penetapan metode pembelajaran yang optimal, sedangkan deskriptif

artinya tujuan utama belajar adalah menjelaskan proses belajar41. Hakekat

pendidikan dengan kata lain adalah proses interaksi antara peserta didik

dengan lingkunganya, sehingga terjadi perubahan tingkah laku ke arah

yang lebih baik. Dalam interaksi tersebut banyak sekali faktor yang

mempengaruhinya, baik faktor internal yang datang dari individu maupun

faktor eksternal dari lingkungan.

Dalam kegiatan pembelajaran guru berperan penting dalam

mengkondisikan lingkungan belajar agar dapat menunjang terjadinya

perubahan perilaku peserta didik dan guru sebagai fasilitator dan

4
Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran, (Yogyakarta : FIP UNY, 2002)
9

mediator yaitu :

a. Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan murid

bertanggung jawab dalam membuat rancangan, proses, dan

penelitian..

b. Menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan tentang

keingintahuan murid dan membantu mereka mengekspresikan

gagasan-gagasanya dan mengkomunikasikan ide ilmiah mereka..

Umumnya pelaksanaan pembelajaran mencakup tiga hal yaitu

pretest, proses, dan post test5.

2. Pengertian Matematika

a) Pengertian Umum

Matematika dapat didefinisikan sebagai ilmu pasti yang


kesemuanya berkaitan dengan ilmu penalaran6. Secara lebih luas
matematika dapat dijabarkan menjadi tiga bagian yaitu :

1) Aljabar

2) Analisis

3) Geometri

Pembelajaran matematika mempunyai fungsi yang cukup

penting yaitu mengembangkan kemampuan menghitung, mengukur,

dan menggunakan rumus-rumus yang berkaitan dengan kehidupan

sehari-hari meliputi bilangan, pengukuran, geometri, dan pengelolaan

data.
5
Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi (Bandung : Remaja Rosda Karya Offset,
2002)
6
Depag RI, Kurikulum 2004 Standar Kompetensi MI (Jakarta : Depag RI, 2004) hal. 173
10

Konsep dasar matematik merupakan konsep dasar dalam

mengoperasikan matematika. Logika yang berlaku dalam mengatur

atau huruf dan membilang angka berdasar konvensi atau kesepakatan

yang dibuat dan dicapai oleh logika manusia yang bersifat relatif.

Konsep angka atau bilangan yang menjadi ketentuan yang absolute

terdapat dalam Al Qur’an. Sebagaimana dalam firman Allah Surat Al

Hajj ayat 477

Artinya :

Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal

Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya

sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu menurut perhitunganmu.

Dalam kurikulum 2004 disebutkan bahwa tujuan matematika

adalah :

1) Melatih cara berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan.

2) Mengembangkan aktifitas kreatif yang melibatkan imajinasi,

intuisi, dan penemuan.

3) Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.

7
Supiyani, Konsep Dasar Matematika, (Jakarta : Dirjen Pendidikan Islam Depag RI,
2009) hal 3
11

4) Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau


mengkomunikasikan gagasan8.
Secara umum terdapat dua obyek yang dipelajari siswa dalam

pembelajaran matematika yaitu :

1) Obyek Langsung (direet object)

Terdiri dari fakta-fakta matematika, ketrampilan matematika,

konsep matematika, dan prinsip matematika.

2) Obyek Tidak Langsung (indireet object)

Terdiri dari kemampuan berfikir logis, kemampuan memecahkan

masalah, kemampuan berfikir analitis, dan sikap positif siswa.

Penerapan cara kerja matematika diharapkan dapat

membentuk sikap kritis, kreatif, dan jujur pada peserta didik, oleh

karena itu banyak teori yang merupakan hasil penelitian yang dapat

digunakan untuk memaksimalkan pembelajaran matematika.

b) Pecahan

Pecahan dapat didefinisikan sebagai bagian dari keseluruhan

dan dalam pembagianya pecahan terdiri dari pecahan biasa, pecahan

desimal, dan pecahan campuran. Suatu pecahan dikatakan paling

sederhana apabila pembilang dan penyebutnya tidak mempunyai

faktor persekutuan lagi. Dalam pecahan juga berlaku operasi hitung

penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian hanya saja

masing-masing mempunyai aturan yang berbeda. Bentuk pecahan

8
ibid, hal. 173
12

biasa biasanya dituliskan dengan yaitu, a sebagai pembilang dan b

sebagai penyebut.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran matematika pada siswa

kelas IV (empat) SD

Keberhasilan pembelajaran matematika mencakup proses

pembelajaran yang meliputi kemampuan guru dalam menggunakan

media. Guru memiliki pengaruh penting terhadap pembelajaran. Hal ini

sejalan dengan apa yang dikemukakan dalam Accelerated Learning dalam

kegiatan belajar mengajar9 yaitu :

a. Suasana belajar mengajar.

Siswa membutuhkan lingkungan fisik yang teratur dalam

proses pembelajaran diantaranya dengan mengatur bangku,

penggunaan warna, penggunaan media yang mendukung,

penggunaan alat bantu mengajar dan pemutaran musik.

b. Rancangan kegiatan belajar mengajar.

Rancangan kegiatan belajar mengajar meliputi skenario

pembelajaran (RPP), di dalamnya meliputi pemilihan metode,

strategi dan media yang digunakan oleh guru. Oleh karena itulah

9
Suharsimi Arikunto, Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi, (jakarta: Rineka Cipta,
1993) hal 105
13

dalam hal ini kreatifitas seorang guru dan pemahamanya terhadap

sifat dan gaya belajar setiap murid sangat diutamakan.

c. Hal-hal yang mendukung proses belajar mengajar

Guru dan lingkungan merupakan salah satu faktor yang

mendukung proses belajar mengajar. Seorang guru harus mampu

membangun suasana belajar yang kondusif. Sebagian diantaranya

adalah dengan menjalin rasa simpati dan saling memiliki antara guru

dan murid, mengakui setiap usaha siswa, menciptakan suasana yang

riang, menjadi pendengar yang baik dan menghargai setiap usaha

siswa.

Guru merupakan faktor utama dalam proses pendidikan.

walaupun fasilitas pendidikanya lengkap dan canggih bila tidak

ditunjang dengan keberadaan guru yang berkualitas, maka mustahil

akan menimbulkan proses pembelajaran yang maksimal. Ada lima

faktor yang mempengaruhi kualitas seorang guru yaitu :

1) Adanya kewenangan yang benar-benar diserahkan kepada guru.

2) Kualitas atasan yang mengawasi dan mengontrol perilaku guru.

3) Kebebasan yang diberikan kepada guru.

4) Hubungan guru dengan muridnya.

5) Pengetahuan guru bertambah atau berkurang10


Disamping hal-hal di atas guru bertanggung jawab merencanakan

dan mendorong para peserta didik melakukan kegiatan belajar guna

10
Muh. Nurdin, Kiat Menjadi Guru Profesional, (Yogyakarta, Prismasopie, 2004) hal. 60
14

mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang diinginkan. Guru

harus membimbing peserta didik agar mereka memperoleh

ketrampilan-ketrampilan, pemahaman perkembangan berbagai

kemampuan, kebiasaan-kebiasaan yang baik, dan perkembangan

sikap yang serasi. Keberhasilan dalam pembelajaran dapat terwujud

apabila guru melakukan hal-hal sebagai berikut :

1) Mempelajari setiap peserta didik yang ada di kelasnya.

2) Merencanakan, menyediakan dan menilai bahan-bahan yang akan

diberikan.

3) Memilih dan menggunakan metode,strategi dan media yang

sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

4) Memelihara hubungan pribadi seerat mungkin dengan peserta

didik.

5) Menyediakan lingkungan belajar yang serasi.

6) Membantu para peserta didik memecahkan berbagai masalah.

7) Mengatur dan menilai kemajuan belajar peserta didik11.

3. Strategi dan Metode Pembelajaran

Proses belajar merupakan interaksi yang dilakukan dengan

peserta didik dalam satu situasi pendidikan dan pengajaran untuk

mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan. Bentuk interaksi menghendaki

adanya pertimbangan yang kuat atas keunikan dan keragaman peserta

11
DEPAG, Dirjen Kelembagaan Agama Islam, Wawasan tugas Guru dan tenaga
Kependidikan,Jakarta, 2005, hal 76-77
15

didik. Hal ini mewujudkan betapa pentingnya ketrampilan guru

menyampaikan pesan, dan ketrampilan menggunakan berbagai metode

mengajar secara bervariasi.

Strategi pembelajaran adalah pola umum perbuatan guru dan

siswa didalam mewujudkan kegiatan pembelajaran. Sifat umum

pembelajaran ini berarti bahwa macam dan urutan perbuatan yang

dimaksudkan tampak digunakan atau diperagakan oleh guru dan siswa

didalam bermacam-macam peristiwa belajar. Pola pembelajaran tersebut

meliputi :

a. Mengidentifikasi serta menetapkan dan kualifikasi perubahan tingkah

lakudan kepribadian peserta didik sebagaimana yang diharapkan.

b. Memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasar aspirasi dan

pandangan hidup masyarakat.

c. Memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik belajar

mengajar yang dianggap paling efektif sehingga dapat dijadikan

pegangan guru dalam menunaikan tugas belajar.

d. Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan atau

kriteria serta standar keberhasilan, sehingga dapat dijadikan oleh guru

dalam melakukan evaluasi

.
16

4. Media pendidikan

a. Pengertian media pendidikan

Kata media berasal dari bahasa latin “Medius” artinya tengah.

Secara umum media adalah bentuk perantara untuk menyebar,

membawa atau menyampaikan sesuatu pesan (message) dan gagasan

pada penerima.

Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disimpulkan

bahwa media pendidikan merupakan segala sesuatu yang dapat

digunakan untuk menyampaikan pesan sehingga dapat merangsang

pikiran, perasaan, perbuatan, minat serta perhatian siswa pada proses

pembelajaran.

Berdasarkan perkembangan teknologi media pendidikan

dikelompokan menjadi empat kelompok yaitu :

1) Media visual atau media hasil teknologi cetak, terutama media

yang dihasilkan melalui proses percetakan atau fotografi seperti

teks, foto, dan grafik.

2) Media hasil teknologi audio visual, merupakan sumber

pengajaran yang dihasilkan dan dapat diputar ulang oleh mesin-

mesin mekanis audio visual, seperti proyektor film dan tape

recorder.

3) Media hasil teknologi berdasarkan komputer, dimana materi

pengajaran dismpaikan menggunakan sumber-sumber yang

berbasis digital atau mikro prosessor (komputer).


17

4) Media hasil teknologi gabungan, yaitu cara menyampaikan materi

menggunakan beberapa bentuk media yang dikendalikan oleh

komputer, misalnya menanyakan materi pelajaran dalam bentuk

klip gambar secara berurutan, dan memutar rekaman audio

maupun audio visual. Tetapi sebelumnya materi pembelajaran

telah disimpan dalam bentuk digital di dalam penyimpanan data

harddisk12.

b. Fungsi dan keunggulan media pendidikan

Penerapan media pendidikan dalam proses belajar di sekolah

akan membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampian isi

pembelajaran. Penggunaan media pendidikan dalam proses belajar

mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat

baru,membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar,

bahkan membawa pengaruh psikologis siswa. Media pembelajaran

juga membantu meningkatkan pemahaman, penyajian data dengan

menarik dan terpercaya memudahkan penafsiran data dan

memadatkan informasi.

Apabila memilih media pembelajaran sudah tepat dan sesuai

dengan karakteristik siswa dan materi pembelajaran, maka media

pembelajaran tersebut akan memberikan beberapa keuntungan

diantaranya13 :

12
Arsyad azhar , Media pengajaran, (Jakarta : Raja Graindo Persada2002)
13
Pringgawidagda, Strategi penguasaan Berbahasa, (Jakarta : Adicita, 2002) hal. 145
18

1) Pembelajaran lebih menarik, sehingga menumbuhkan rasa cinta

peserta didik terhadap materi pembelajaran.

2) Membangkitkan minat belajar siswa, dengan demikian dapat

meningkatkan prestasi belajar.

3) Mempermudah dan memperjelas materi pembelajaran.

4) Merangsang siswa mengembangkan kreatifitas.

5) Mengurangi rasa bosan akibat banyaknya verbalisme dalam

proses pembelajaran.

Sementara itu fungsi media pendidikan dapat dijelaskan

sebagai berikut14 :
1) Menarik perhatian siswa terhadap materi pembelajaran.

2) Mengurangi kesan verbalisme.

3) Mengatasi perbedaan pengalaman belajar yang sulit diperoleh

dengan cara lain.

4) Mengatasi keterbatasan ruang dan waktu.

5) Membantu perkembangan berfikir lebih teratur.

6) Memungkinkan terjadi kontak langsung antara guru dengan siswa.

Dari uraian manfaat dan kegunaan media pembelajaran maka

dapat diambil kesimpulan beberapa manfaat dan penggunaan media

pembelajaran didalam proses belajar mengajar yaitu :

1) Media pembeljaran dapat memperbesar ketertarikan siswa

terhadap materi pembelajaran.

14
Jon D Latuhera, Media Pembelajaran Dalam proses belajar mengajar (jakarta :
Depdikbud, 1988) hal. 23-24
19

2) Menumbuhkan motivasi belajar siswa, dan interaksi langsung

antara siswa dengan lingkungan.

3) Memperjelas penyampaian pesan dan informasi sehingga

meningkatkan kualitas hasil belajar.

4) Memungkinkan siswa belajar dan mengembangkan ketrampilan

dan minatnya masing-masing.

Media pembelajaran mempunyai fungsi sebagai berikut :

1) Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat

verbalistik (dalam bentuk kata-kata tertulis maupun lisan)

2) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indra.

3) Dapat digunakan sebagai variasi dalam pengajaran.

Dalam hal ini media berguna untuk :

1) Menimbulkan gairah belajar.

2) Memungkinkan interaksi langsung antara anak didik dengan

lingkungan dan kenyataan.

3) Memungkinkan anak didik sendiri-sendiri menurut kemampuan

dan minatnya.

4) Dengan sifat yang unik pada tiap siswa ditambah dengan

lingkungan dan pengalaman yang berbeda, sedangkan kurikulum

dan materi pendidikan ditentukan sama untuk siswa, maka guru

akan banyak mengalami kesulitan bilamana semuanya itu harus

diatasi sendiri.
20

5. Metode Demonstrasi

Belajar adalah proses pengembangan pengetahuan, ketrampilan-

ketrampilan, atau pengembangan tingkah laku sebagai interaksi individu,

menyangkut fasilitas-fasilitas fisik, psikologis, metode pembelajaran,

media, dan teknologi yang dilakukan sepanjang waktu oleh individu

manapun. Kegiatan belajar melibatkan proses seleksi, pengaturan, dan

penyampaian pesan yang pantas kepada lingkungan dan bagaimana cara

pebelajar berinteraksi dengan informasi tersebut.

Yang dimaksud dengan metode demonstrasi adalah metode

mengajar dimana guru atau orang lain dengan sengaja memperlihatkan

kepada seluruh peserta didik dalam kelas tentang suatu proses15. adapun

yang harus diperhatikan oleh guru dalam penggunaan metode ini adalah :

a. Lakukan dalam hal-hal yang bersifat praktis dan urgen.

b. Arahkan pendemonstrasian agar peserta didik memperoleh pengertian

yang lebih jelas dan kecakapan praktis.

c. Usahakan agar peserta didik dapat mengikuti demonstrasi.

d. Berikan pengertian sejelas-jelasnya landasan teori dari apa yang

hendak didemonstrasikan.

6. Prestasi Belajar
Prestasi Kata prestasi belajar merupakan gabungan dari dua kata yaitu

prestasi dan belajar. prestasi adalah hasil yang telah dicapai atau belajar yang

terdiri dari unsur-unsur baik intern maupun ekstern yang


15
Mangun Budiyanto, Strategi dan Metode Pembelajaran Dalam Pendidikan Agama
Islam, (Yogyakarta : Griya Santri, 2012) hal 109.
21

mendorong peningkatan belajar seseorang sehingga hasil yang dicapai tersebut

dianggap baik.

7. Hasil Belajar

Keragaman hasil belajar adalah perbedaan kapasitas/kemampuan dan

perilaku individu karena proses belajar16. Belajar dalam konteks pendidikan

formal maupun dalam konteks pengalaman keseharian. Belajar adalah usaha

sadar individu untuk melakukan perubahan perilaku. Perubahan perilaku baik

berkenaan dengan ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor. Proses belajar

membuat individu memiliki atau menguasai kemampuan. Kemampuan yang

diperoleh oleh individu bersifat menetap dan menyeluruh pada diri individu

karena dilakukan secara sadar.

B. Penelitian Yang Relevan

Media pendidikan adalah segala jenis media pendidikan yang

dipergunakan dalm proses pembelajaran. Media pembelajaran dalam hal ini

merupakan bagian dari proses pembelajaran, karena berhubungan langsung

dengan pemberian materi pembelajaran. Media pendidikan dalam proses

pembelajaran diperlukan dalam rangka efektifitas dan efisiensi pengajaran. Ada

beberapa penelitian yang terkait dengan penelitin ini, antara lain : Skripsi dengan

judul “Upaya Meningkatkan Keaktifan Siswa Dengan Menggunakan Metode

Cooperatif Learning Tipe NHT Dalam Pembelajaran Matematika Kelas IV di MI

Alwasliyah”. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana bagaimana

peningkatan motivasi belajar siswa dengan metode cooperatif learning tipe NHT

pada pembelajaran matematika kelas IV MI Alwasliyah 1.

C. Kerangka Berpikir

Matematika merupakan salah satu ilmu dasar atau ilmu murni yang kini
22

telah berkembang pesat baik materi maupun kegunaannya. Dengan mempelajari

matematika diharapkan siswa dapat mengembangkan pola pikir logis, rasional,

sestimatis dan kritis dapat menggunakan matematika dalam kehidupan sehari –hari

dan dalam mempelajari ilmu pengetahuan. Proses pembelajaran mempunyai

tujuan, yaitu untuk meningkatkan hasil belajar matematika dari yang tidak tau

menjadi tau dan dari yang tidak mengerti menjadi mengerti.

Untuk mencapai tujuan tersebut pada saat pembelajaran berlangsung dalam

memberikan materi matematika sebaiknya digunakan cara mengajar dan

kemampuan lain yang merupakan dasar bagi seorang guru dalam pembelajaran.

D. Hipotesis

Pengajuan hipotesis didasarkan atas jawaban dan praduga peneliti terhadap

suatu kasus tertentu sehingga mendorong untuk mengadakan penelitian. penelitian

yang menggunakan hipotesis memerlukan pembuktian baik kualitatif maupun

kuantitatif.

Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap


permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul17.
Berdasarkan pendapat di atas, penulis memiliki jawaban sementara yang akan
dibuktikan melalui penelitian yaitu dengan metode demonstrasi hasil belajar
matematika pada materi penjumlahan bilangan pecahan kelas IV SDN 101949
Pematang Tatal Perbaungan akan meningkat.

16
Yusi Riska, Perkembangan Peserta Didik, (Depag RI : Dirjen Pendidikan Islam, 2009)
17
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta : Rineka
Cipta, 1991) hal. 64
23
23

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian mengenai penggunaan metode demonstrasi learning merupakan

jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR).

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR) yaitu

penelitian yang dilakukan di kelas dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas atau

teori pendidikan. Dikarenakan ada tiga yang membentuk pengertian tersebut maka

ada tiga pengertian yang dapat dijelaskan.

a. Penelitian, yaitu kegiatan mencermati suatu obyek dengan

menggunakan cara atau aturan metodologi tertentu untuk memperoleh

data dan informasi dalam meningkatkan mutu suatu hal yang menarik

minat dan penting bagi peneliti.

b. Tindakan, yaitu suatu gerak sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu.

Dalam penelitian terbentuk rangkaian siklus kegiatan untuk siswa.

c. Kelas, yaitu sekelompok siswa yang sama menerima pelajaran yang

sama dari guru yang sama pula.

Dalam menggabungkan batasan pengertian tiga kata ini dapat disimpulkan

bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap

kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi

dalam sebuah kelas secara bersama-sama.

Jadi, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan tindakan yang

dilakukan guru di dalam kelas untuk meningkatkan kinerja guru dan hasil belajar

siswa dengan langkah-langkah 4 tahap yaitu merencanakan, melakukan

tindakan, mengamati, dan merefleksi.


24

Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan penelitian

kualitatif, yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa

kata-kata tertulis atau lisan dan orang-orang dan pelaku yang dapat diamati.

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini mengambil lokasi di SDN 101949 Pematang Tatal

Perbaungan. Pemilihan lokasi tersebut karena prestasi belajar siswa dalam

pelajaran matematika khususnya pecahan masih rendah. Penelitian ini

dilaksanakan selama satu bulan dimulai bulan November 2015 sampai dengan

Desember 2015. Kegiatan penelitian ini bertahap mulai dari tahap persiapan,

pelaksanaan, dan penyelesaian

B. Subyek penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan pada siswa kelas IV SDN

101949 Pematang Tatal Perbaungan dengan mengambil seluruh populasi siswa

berdasarkan pendapat Suharsimi Arikunto bahwa apabila subjeknya kurang dari

100 lebih baik diambil semua, sehingga penelitianya menjadi penelitian

populasi18.

1. Desain Penelitian

Penelitian tindakan kelas (PTK) atau Classroom Action Research

(CAR) dilaksanakan dalam empat tahap yaitu : merencanakan, melakukan

tindakan, pengamatan, dan merefleksi.

18
ibid, hal 120
25

Perencanaan merupakan rencana penelitian tindakan yang terstruktur namun tidak

menutup kemungkinan untuk mengalami perubahan. Tindakan yang dimaksud

adalah segala tindakan yang dilakukan secara sadar dan terkendali yang merupakan

variasi praktek yang cermat dan bijaksana. Tindakan yang telah disusun sesuai

dengan permasalahan. Observasi (pengamatan) pada tindakan ini berfungsi

mendokumentasikan hal-hal yang terjadi selama tindakan dan pengaruh tindakan

terkait. Refleksi adalah mengingat dan merenungkan kembali suatu tindakan yang

telah dilakukan sesuai dengan hasil observasi.

Setelah melakukan tindakan refleksi yang mencakup analisis, sintetis, dan

penilaian terhadap hasil pengamatan proses dan hasil tindakan yang dilakukan,

biasanya muncul permasalahan atau pemikiran yang perlu mendapat perhatian,

sehingga pada tahap selanjutnya perlu dilakukan perencanaan ulang. Tahap-tahap

kegiatan ini terus berulang sampai suatu permasalahan dianggap selesai. Adapun

desain (model) sebagaimana dikemukakan oleh taggrat sebagai berikut :

Perencanaan

Refleksi SIKLUS I Pelaksanaanan

Pengamatan aan

Perencanaan

Pelaksanaan
Refleksi SIKLUS II

Pengamatan

?
26

Rencana penelitian ini dapat digambarkan terdiri dari empat komponen atau

tahap yaitu :

a. Perencanaan (planning)

Rencana penelitian tindakan merupakan tindakan yang terstruktur

dan terencana, namun tidak menutup kemungkinan untuk mengalami

perubahan sesuai situasi dan keadaan yang tepat.

b. Tindakan (Action)

Yang dimaksud dengan tindakan adalah tindakan yang dilakukan

secara sadar dan terkendali yang merupakan variasi yang cermat dan

bijaksana. Tindakan yang dilakukan berdasarkan pada pelaksanaan yang telah

disusum dengan permasalahan.

c. Pengamatan (Observasi)

Pengamatan dilakukan selama proses pembelajaran. Yang diamati

adalah proses pembelajaran itu sendiri untuk mengetahui dampak yang

ditimbulkan dari penerapan tindakan tersebut. Observasi ini merekam semua

kejadian dan fakta yang terjadi selama pembelajaran kemudian peneliti

mencatat dalam lembar observasi maupun catatan harian.

d. Refleksi (Reflection)

Refleksi adalah mengingat atau merenungkan kembali suatu

tindakan yang telah dilakukan sesuai dengan hasil observasi. Refleksi

dilakukan guna memperoleh gambaran tentang hasil tindakan di kelas dan

hasil pekerjaan siswa dianalisis. Dari hasil analisis dimungkinkan diadakan

perbaikan ataupun pengembangan lebih lanjut. Dari analisis juga didapatkan

kendala dan kekurangan dari setiap tindakan yang dilakukan sehingga dapat
27

diupayakan perbaikan dan penyempurnaan pada siklus berikutnya.

Hubungan antara keempat komponen tersebut menunjukan

sebuah siklus (putaran) berkelanjutan dan berulang. Siklus inilah yang

sebetulnya menjadi salah satu ciri utama dari penelitian tindakan kelas

yaitu bahwa penelitian tindakan kelas harus dilaksanakan dalam bentuk

siklus, bukan satu kali tindakan saja. Putaran atau siklus tersebut berulang

terus-menerus mampu memecahkan masalah yang dihadapi.

2. Rencana tindakan

Penelitian ini terdiri atas dua siklus, yaitu :

Siklus I

a. Perencanaan

1. Peneliti menyiapkan alat atau media yang akan digunakan dalam

pembelajaran matematika yaitu

2. Peneliti sekaligus bertindak sebagai guru kelas memberi penjelasan

mengenai materi pembelajaran matematika tentang pecahan

b. Tindakan

1. Guru menjelaskan tentang cara menyelesaikan permasalahan yang terkait

dengan pecahan dengan demonstrasi learning menggunakan media buah-

buahan.

2. Siswa mempelajari materi pecahan dengan menggunakan media buah-

buahan yang dipecah menjadi beberapa bagian tertentu..

3. Guru mengoreksi hasil yang diperoleh atau dipahami siswa.


28

c. Observasi

Observasi atau pengamatan yang dilakukan adalah pengamatan

terhadap interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran dalam penerapan

demonstrasi learning dengan media buah yang dipecah menjadi beberapa bagian

tertentu untuk meningkatkan pemahaman pecahan, yaitu dengan

memperhatikan aktifitas prestasi siswa dalam pembelajaran.

d. Refleksi

1. Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan dengan mengumpulkan

hasil observasi dan nilai hasil praktek.

2. Berdasarkan hasil analisis maka penulis dapat menentukan langkah

selanjutnya untuk mengatasi dan mengembangkan berbagai hal yang

dihadapi melalui tindakan siklus kedua.

Siklus II

a. Perencanaan

1. Peneliti menyiapkan alat-alat yang akan digunakan dalam pembelajaran

matematika yaitu

2. Peneliti sekaligus bertindak sebagai guru kelas memberi penjelasan

mengenai materi pembelajaran matematika tentang pecahan.

b. Tindakan

1. Guru menjelaskan tentang cara menyelesaikan yang terkait dengan

pecahan dengan menggunakan buah yang dipecah menjadi beberapa

bagian tertentu.

2. Siswa belajar materi pecahan dengan menggunakan media buah yang


29

dipecah menjadi beberapa bagian tertentu.

3. Guru mengoreksi hasil yang diperoleh siswa.

c. Observasi

Observasi atau pengamatan yang dilakukan adalah pengamatan

terhadap interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran dalam penerapan

metode demonstrasi untuk meningkatkan membaca dan menulis, yaitu dengan

memperhatikan aktifitas prestasi siswa dalam pembelajaran.

d. Refleksi

1) Peneliti mencatat dan melakukan analisa terhadap hasil pengamatan

untuk mengetahui hal-hal apa saja yang perlu diperbaiki dan

dikembangkan.

2) Berdasarkan hasil analisis maka peneliti dapat menentukan apakah

perlu dilakukan tindakan lagi atau tidak karena angka peningkatan

siswa dalam menyelesaikan materi pecahan sudah baik.

3. Instrumen Pendidikan

a. Lembar observasi yang meliputi lembar observasi kegiatan guru dan siswa

dalam pembelajaran matematika materi pecahan dengan metode

demonstrasi learning menggunakan media buah yang dipecah menjadi

beberapa bagian tertentu.

b. Lembar soal pretest dan post test untuk mengetahui hasil kemampuan

sebelum dan sesudah diberi tindakan dengan menerapkan demonstrasi

learning dalam pembelajaran di kelas.

c. Catatan harian untuk merekam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.


30

C. Teknik Pengumpulan data

Adapun teknik pengumpulan data yang akan peneliti gunakan

adalah sebagai berikut :

a. Metode Wawancara

Metode ini merupakan cara untuk memperdalam data yang diperoleh

melalui pengamatan dengan menggunakan metode interview bebas terpimpin

didalam proses interaksinya yaitu sejumlah pertanyaan yang telah disiapkan,

namun dalam pelaksnaanya oleh peneliti dilakukan secara bebas.

Dalam hal ini menjadi informan atau interview diantaranya adalah

Kepala SDN 101949 Pematang Tatal Perbaungan dan guru matematika kelas

IV. Data yang dihimpun meliputi gambaran umum SDN 101949 Pematang

Tatal Perbaungan serta strategi pembelajaranya.

b. Metode Observasi

Yaitu metode pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan dan

pencatatan yang sistematik mengenai fenomena-fenomena yang diselidiki. Hal

ini dilakukan untuk memperoleh informasi tentang yang terjadi dalam

kenyataan. Penulis mengamati langsung ke lapangan untuk memperoleh data

yang diperlukan. Dalam hal ini peneliti mengamati proses belajar mengajar

yang berlangsung di kelas, materi, metode, strategi yang digunakan dalam

pembelajaran serta mengamati lokasi penelitian dan lingkungan untuk

memperoleh data tentang gambaran umum lokasi.


31

c. Metode dokumentasi

Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel

yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen

rapat, leger, agenda dan sebagainya. Data yang diambil berupa

dokumentasi. Arsip-arsip yang merupakan data sekunder yang sewaktu-

waktu diubah sesuai dengan situasi dan kondisi yang sekarang terjadi.

Metode ini digunakan untuk menghimpun data yang berkaitan dengan

gambaran umum SDN 101949 Pematang Tatal Perbaungan mengenai

sejarah berdirinya, letak geografis, keadaan guru, keadaan siswa,

kurikulum matematika serta kondisi fasilitas atau sarana dan prasarana

yang dimiliki madrasah.

d. Tes

Tes digunakan untuk mengukur kemampuan siswa sebelum implementasi

tindakan , berupa pre test dan post test.

D. Analisis Data

Metode analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah

deskriptif analitik, yaitu metode analisis data non statistik. Mendeskripsikan data

melalui kata-kata secara sistematis untuk mendeskripsikan segala hal yang

terkait dengan rumusan masalah, selanjutnya data yang terkumpul diproses dan

disusun dengan memberikan penjelasan berdasarkan realitas dan membentuk

kesimpulan. Dalam hal ini peneliti menggunakan metode atau pola pikir induktif

pembahasan yang berangkat dari peristiwa atau keadaan khusus kemudian

ditarik kesimpulan yang bersifat umum.


32

Pengumpulan data merupakan hal yang paling penting dalam penelitian

tindakan kelas. Selanjutnya hasil-hasil pengumpulan data tersebut diolah dengan

analisis data. Data yang dikumpulkan adalah data kuantitatif dari hasil

pengamatan selanjutnya dianalisis. Tujuan analisis data dalam penelitian

tindakan kelas menurut Fx Sudarsono adalah untuk memperoleh bukti kepastian

apakah terjadi perbaikan, peningkatan atau perubahan yang diharapkan.

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan

prosentase skor. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui pengamatan dan test

untuk mengetahui kemampuan pemahaman siswa kelas IV (empat) materi

pecahan SDN 101949 Pematang Tatal Perbaungan. Pengamatan dilakukan setiap

kegiatan berlangsung dalam bentuk test yang dilakukan pada awal tindakan dan

test yang dilakukan pada akhir atau sesudah dilakukan tindakan (post test)

sehingga prosedur test yang dilakukan dalam penelitian ini adalah tes awal,

tindakan pada siklus (pra tindakan), dan test tertulis (setiap akhir tindakan).

Pre test dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam

menyelesaikan masalah pecahan.. Analisis deskriptif digunakan untuk

menggambarkan bahwa tindakan yang dilakukan dapat menimbulkan adanya

perbaikan, peningkatan, dan perubahan lebih baik daripada sebelumnya. Setelah

diperoleh data maka langkah penelitian selanjutnya adalah menganalisis data.

Analisis data dilakukan dengan refleksi, yaitu pemikiran yang timbul pada saat

mengamati dan merupakan hasil proses membandingkan, mengaitkan, dan

menghubungkan data yang ditampilkan dengan data sebelumnya.

Data kualitatif terdiri atas hasil observasi, tingkah laku, dan keadaan atau

jalanya proses berlajar mengajar dan bukanya angka-angka. Refleksi yang


33

dilaksanakan oleh peneliti akan memberikan wawasan yang akan membantu

dalam menafsirkan datanya.


34

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Hasil Penelitian Siklus I

Dari hasil ulangan harian sebelum kegiatan perbaikan pembelajaran

dapat diketahui hasilnya sebagai berikut : Dari 23 siswa yang mengikuti

pembelajaran matematika dapat diketahui nilai tertinggi yang diraih siswa

adalah 70 dan yang terendah adalah 50, dengan rata – rata hasil ulangan

harian adalah 58,18. Adapun data lengkap peroleh nilai oleh siswa pada

siklus I dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1 Rekapitulasi Hasil Belajar Sebelum Siklus I

No Nilai Frekuensi Prosentase


1 50 10 43.3 %
2 60 8 34 %
3 70 5 21.73 %
4 80 - -
Jumlah 23 100 %

Dari data tabel rekapitulasi hasil belajar diatas dapat dilihat secara terperinci

pada tabel dibawah ini :

Tabel 2 Data Hasil Belajar Sebelum Siklus I

No Nama Siswa Nilai Keterangan


Tuntas Tidak
tuntas
1 Agustiawan 50 √
2 Andre sopianto 60 √
3 Asri 50 √
4 Bunga 60 √
5 Fahri 70 √
35

6 Fitra 50 √
7 Juliandra 50 √
8 Karina 50 √
9 Keysa 50 √
10 Khairunnisa 60 √
11 Lusi 50 √
12 M. Amin 60 √
13 M.Ramadhan 50 √
14 Rafly 70 √
15 Rahel 70 √
16 Risqi 50 √
17 Selviana 60 √
18 Nabila 70 √
19 Sindi 60 √
20 Soleha 70 √
21 Rony setiawan 50 √
22 Tasya 60 √
23 Agustiawan 60 √

Dari data dalam tabel 2 di atas bila dibuat dalam bentuk diagram sebagai

berikut:

Gambar 1. Histogram Hasil Belajar Matematika Sebelum Siklus I

NILAI

10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
50 8 70 80
36

a. Perencanaan Pembelajaran Tindakan Pertama (siklus I)

Perencanaan atau persiapan tindakan adalah berupa pembelajaran

matematika dengan metode demonstrasi. Dengan menerapkan metoda ini

diharapkan akan terjadi peningkatan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran

matematika sebagai upaya perbaikan pembelajaran yang biasa dilakukan oleh

guru dengan metoda ceramah atau pemberian tugas.

Tahapan perencanaan tindakan yang dilakukan peneliti secara kongkret

antara lain adalah sebagai berikut :

1. Menyusun rencana atau persiapan pengajaran untuk siklus I dan

Siklus II dengan metode demonstrasi.

2. Menyusun dan menyiapkan Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk

masing-masing rencana pengajaran yang digunakan pada siklus I, dan

siklus II dibahas dan diselesaikan oleh masing-masing kelompok

belajar siswa.

3. Menyusun dan menyiapkan instrumen Observasi Belajar Siswa untuk

mengamati aktivitas belajar siswa selama metode demonstrasi dalam

mata pelajaran matematika.

4. Menyusun dan menyiapkan Lembar Evaluasi (tes) untuk masing-

masing rencana pengajaran yang digunakan untuk mengetahui dan

mengukur hasil belajar siswa dari setiap tindakan yang telah

dilakukan

5. Menyusun dan menyiapkan daftar cek sebagai refleksi dari kegiatan

belajar mengajar matematika untuk masing-masing tindakan yang


37

digunakan pada setiap akhir pelaksanaan tindakan didasarkan atas

pendapat dan pandangan siswa tentang pelaksanaan kegiatan belajar

mengajar matematika dengan metode demonstrasi.

b. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan penelitian merupakan pelaksanaan dari

perencanaan tindakan yang telah dinunuskan sebelumnya. Pada pelaksanaan

tindakan ini memungkinkan guru untuk melakukan intervensi terhadap

rencana yang telah dibuat.

Pelaksanaan tindakan penelitian ini menekankan pada penerapan

metode demonstrasi dalam upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa

dalam mata pelajaran matematika. Pelaksanaan tindakan penelitian dilakukan

tanpa memberitahukan kepada siswa.

a) Tindakan Pertama (siklus I)

Pelaksanaan tindakan pertama merupakan aktualisasi dari rencana

pengajaran yang telah dirumuskan dan disiapkan sebelumnya. Pelaksanaan

pada siklus pertama ini mengambil materi ajar tentang "Penjumlahan

Bilangan Pecahan". Pada pelaksanaan tindakan pertama langkah-langkah

yang ditempuh disesuaikan dengan apa yang tercantum dalam rencana

pengajaran yang telah dibuat sebelumnya.

Pelaksanaan tindakan pertama dengan metode demonstrasi untuk

meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran matematika di Kelas

IV SDN 101949 Pematang Tatal Perbaungan secara umum dapat

disimpulkan sebagai berikut :


38

 Siswa berdo'a dan memberi salam kepada guru, guru mengabsen siswa,

dari 23 siswa, dan seluruh siswa hadir semua.

 Guru memberikan arahan dan penjelasan kepada siswa untuk membentuk

kelompok yang setiap kelompoknya tidak lebih dari 3 orang siswa.

Dalam pengarahan tersebut siswa diberi kebebasan untuk memilih teman

kelompoknya.

 Dalam memilih dan menentukan teman untuk belajar secara kelompok,

kebanyakan siswa memilih berdasarkan tempat duduk yang berdekatan

dengan dirinya, sehingga teman sebangkunya menjadi teman

kelompoknya.

 Setelah seluruh siswa yang hadir dengan jumlah 23 orang siswa tersebut,

maka terbentuklah 4 kelompok. Mereka terlihat senang dengan raut muka

yang berseri-seri karena mendapatkan teman untuk belajar secara

berkelompok.

 Karena tak seperti biasa, mereka tampak antusias dan bersemangat untuk

memulai pelajaran ketika guru memberi penjelasan tentang materi

matematika yakni KPK yang akan dipelajari.

 Dalam menyelesaikan dan menjawab LKS, mereka betul-betul bekerja

sama dan serius dalam kelompoknya. Dan tidak mau ketinggalan dengan

kelompok lainnya.

 Guru berkeliling kekelompok-kelompok, sambil membimbing,

mengarahkan dan membantu siswa (kelompok) yang kesulitan

menyelesaikan LKS-nya.
39

 Guru mengumpulkan LKS dari setiap kelompok. Kemudian membagikan

lembar evaluasi (tes) kepada setiap siswa untuk mengukur sejauh mana

siswa dapat memahami materi yang telah dipelajari secara berkelompok.

 Setelah setiap kelompok selesai mengerjakan lembar evaluasi (tes), guru

mengumpulkannya, kemudian membagikan daftar cek kepada siswa

untuk melihal persepsi siswa tentang kegiatan belajar mengajar yang

telah mereka alami.

b) Analisis dan Refleksi Tindakan Pertama (Siklus I)

Setelah guru melakukan tindakan penerapan metoda belajar secara

bersama untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran

matematika di Kelas IV SDN 101949 Pematang Tatal Perbaungan, guru

melakukan analisis dan refleksi terhadap pelaksanaan tindakan petama

tersebut berdasarkan data dan informasi yang berhasil dihimpun selama

kegiatan belajar mengajar melalui pengamatan. Data dan informasi yang

diperoleh kelompok belajar siswa dalam mengerjakan LKS pada tindakan

pertama adalah sebagai berikut:

c) Prosentasi Hasil Kerja Kelompok Dalam Mengerjakan LKS

Setelah selesainya siklus I maka siswa dites secara individu dengan

mengerjakan soal pada LKS dengan hasil test sebagai berikut : Dari 11 siswa

yang mengikuti pembelajaran matematika dapat diketahui nilai tertinggi

yang diraih siswa adalah 80 dan yang terendah adaalah 50, dengan rata – rata

hasil ulangan mengerjakan LKS adalah 67. Adapun data lengkap peroleh

nilai oleh siswa pada siklus I dapat dilihat pada tabel berikut :
40

Tabel 3 Rekapitulasi Hasil Belajar Pada Siklus I

No Nilai Frekuensi Prosentase


1 50 2 8.6%
2 60 4 17.39%
3 70 8 34.78
4 80 9 39.13%
Jumlah 23 100 %

Dari data tabel rekapitulasi hasil belajar diatas dapat dilihat secara terperinci

pada tabel dibawah ini :

Tabel 4 Data Hasil Belajar Siklus I

No Nama Siswa Nilai Keterangan


Tuntas Tidak
tuntas
1 Agustiawan 50 √
2 Andre sopianto 60 √
3 Asri 50 √
4 Bunga 60 √
5 Fahri 70 √
6 Fitra 60 √
7 Juliandra 60 √
8 Karina 70 √
9 Keysa 70 √
10 Khairunnisa 70 √
11 Lusi 70 √
12 M. Amin 70 √
13 M.Ramadhan 70 √
14 Rafly 70 √
15 Rahel 80 √
16 Risqi 80 √
17 Selviana 80 √
18 Nabila 80 √
19 Sindi 80 √
20 Soleha 80 √
21 Rony setiawan 80 √
22 Tasya 80 √
23 Agustiawan 80 √
41

Gambar 2. Histogram Prestasi Belajar Matematika Pada Siklus I

8
6
4
2
0
50
60
70
80

Sedangkan prosentasi hasil kelompok belajar siswa dalam

mengerjakan LKS dapat dilihal pada tabel 2 di bawah ini.

Tabel 5
Prosentasi Hasil Kerja Kelompok dalam Mengerjakan LKS Pada Tindakan I

Jawaban Soal LKS


Kelompok
Benar % Salah % Tidak tepat %
1 2 40,00% 0 0,00% 3 60,00%
2 2 40,00% 2 40,00% 1 20,00%
3 3 60,00% 2 40,00% 0 0,00%
4 4 80,00% 0 0,00% 1 20,00%
Prosentasi 55,00% 20,00% 20,00%

Berdasarkan hasil pekerjaan kelompok dalam mengerjakan LKS pada

pelaksanaan tindakan pertama ini ternyata bahwa prosentasi kelompok yang

dapat mengerjakan LKS dengan benar adalah 55,0%. Sementara kelompok

yang belum dapat mengerjakan LKS dengan benar adalah 20,00%.

Sedangkan kelompok yang kurang tepat dalam mengisi LKS adalah 20,00%.

Bila menunjuk pada tabel 2 di atas penerapan metode demonstrasi juga dapat

mencapai tujuan pembelajaran tanpa didominasi guru dalam kegiatan belajar

mengajamya.
42

Data yang diperoleh melalui instrumen observasi aktivitas belajar

siswa yang telah disiapkan dalam upaya untuk mengungkap dan mengetahui

hasil belajar siswa selama mengikuti kegiatan belajar mengaja rmatematika

yang menerapkan belajar secara berkelompok pada pelaksanaan tindakan I.

2. Hasil Penelitian Siklus II

a. Perencanaan Pembelajaran Tindakan Kedua

Pelaksanaan tindakan kedua juga merupakan aktualisasi dari rencana

pengajaran yang telah dirumuskan dan disiapkan sebelumnya berdasarkan

hasil analisis dan refleksi dari pelaksanaan tindakan pertama. Pelaksanaan

tindakan kedua ini materi ajarnya adalah tentang "Penjumlahan Bilangan

Pecahan". Pada pelaksanaan tindakan kedua kegiatan yang dilakukan

berdasarkan dengan apa yang telah tercantum dalam pengajaran yang telah

dibuat sebelumnya untuk tindakan kedua ini adalah sebagai berikut :

 Siswa berdo'a dan memberi salam kepada guru, kemudian guru

mengabsen, dari 23 jumlah siswa, yang hadir 23, sama halnya dengan

tindakan pertama

 Guru memberikan pengarahan untuk setiap kelompok tidak lebih dari 3

orang. Pemilihan teman untuk kelompok diserahkan sepenuhnya kepada

siswa, dan apabila memungkinkan dalam kelompok itu ada teman dari

jenis kelamin yang berbeda. Namun nampaknya dalam memilih teman

kelompok dengan jenis kelamin yang berbeda para siswa belum siap.

 Seperti halnya pada tindakan pertama, para siswa memilih teman

kelompok berdasarkan tempat duduk yang berdekatan. Dengan bantuan


43

guru akhirnya seluruh siswa dapat tertampung di dalam kelompok belajar

walaupun tidak ada satu kelompok pun yang anggotanya berlainan jenis

kelamin.

 Dari 23 siswa yang hadir, terbentuk 4 kelompok. Kemudian guru

memberikan LKS yang berupa soal menggunakan faktor prima untuk

menentukan KPK untuk pelaksanaan tindakan kedua ini. Setiap

kelompok ditugasi untuk membahas dan menyelesaikan LKS berkenaan

dengan sub pokok bahasan tentang menentukan Penjumlahan Bilangan

Pecahan.

 Dalam menyelesaikan dan menjawab LKS, siswa dalam kelompok betul-

betul bekerja satu sama lain bahu membahu dan serius untuk bisa

menjawab dan mengisi LKS.

 Seperti halnya pada tindakan pertama, guru berkeliling sambil

membimbing, mengarahkan dan membantu siswa yang mengalami

kesulitan dalam mengerjakan dan meyelesaikan LKS.

 Selesai mengerjakan LKS guru mengumpulkannya, guru membagikan

lembar evaluasi kepada siswa untuk mengetes kemampuan siswa dalam

memahami pelajaran yang sudah dipelajari. Guru membagikan daftar cek

kepada setiap siswa untuk melihat persepsi siswa tentang kegiatan belajar

secara berkelompok yang telah dilaksanakan.

b. Analisis dan Refleksi Tindakan kedua

Setelah guru melakukan tindakan kedua dengan menerapkan

metoda tentang belajar secara berkelompok dalam mata pelajaran

matematika dengan sub pokok bahasan tentang Penjumlahan Bilangan


44

Pecahan, guru melakukan analisis dan refleksi terhadap pelaksanaan

tindakan kedua berdasarkan data dan informasi yang berhasil dihimpun.

Setelah selesainya analisis dan refleksi tindakan kedua pada

siklus II maka siswa dites dengan soal formatif dengan hasil test sebagai

berikut : Dari 11 siswa yang mengikuti pembelajaran matematika dapat

diketahui nilai tertinggi yang diraih siswa adalah 90 dan yang terendah

adaalah 60, dengan rata – rata hasil ulangan test formatif adalah 76.

Adapun data lengkap peroleh nilai oleh siswa pada siklus II dapat dilihat

pada tabel berikut :

Tabel 6 Rekapitulasi Hasil Belajar Pada Siklus II

No Nilai Frekuensi Prosentase


1 60 1 4.3%
2 70 3 13.04%
3 80 5 21.73%
4 90 14 60.86
Jumlah 23 100 %

Dari data dalam table 4 di atas bila dibuat dalam bentuk diagram

sebagai berikut:

Tabel 7. Hasil Belajar Pada Siklus II

No Nama Siswa Nilai Keterangan


Tuntas Tidak
tuntas
1 Agustiawan 60 √
2 Andre sopianto 70 √
3 Asri 80 √
4 Bunga 80 √
5 Fahri 80 √
6 Fitra 80 √
7 Juliandra 70 √
8 Karina 90 √
9 Keysa 90 √
45

10 Khairunnisa 90 √
11 Lusi 90 √
12 M. Amin 90 √
13 M.Ramadhan 90 √
14 Rafly 90 √
15 Rahel 90 √
16 Risqi 90 √
18 Nabila 70 √
17 Selviana 90 √
19 Sindi 90 √
20 Soleha 90 √
21 Sony setiawan 90 √
22 Tasya 90 √
23 Agustiawan 80 √

Gambar 3. Histogram Hasil Belajar Matematika pada Siklus II

100%
80%
60%
40%
20%
0%
60 70 80 90

Sedangkan untuk batas tuntas pelajaran matematika (KKM) siswa Kelas IV

SDN 101949 Pematang Tatal Perbaungan adalah 65 siswa sehingga siswa yang

dinyatakan tuntas belajar matematika setelah siklus II adalah 10 siswa dari 23 siswa

(90,00 %), karena Prosentase ketuntasan kelas 90,00 % sehingga dapat dikatakan

siswa di Kelas IV SDN 101949 Pematang Tatal Perbaungan menperoleh ketuntasan

kelas secara klasikal.

Pada pembelajaran siklus II permasalahan yang muncul tidak begitu berarti

artinya hampir semua anak telah mengikuti pembelajaran dengan baik perihal

keaktifan dalam proses belajar mengajar serta keaktifan bertanya pada guru sudah
46

mulai tumbuh dengan baik. Perihal kemampuan anak memahami materi

Penjumlahan Bilangan Pecahan sudah membaik karena dalam pengerjaan LKS

dilakukan dengan cara belajar secara berkelompok.

Karena permasalahan dalam siklus II kurang begitu berarti maka tidak perlu

adanya langkah-langkah penyelesaian masalah. Dalam hal ini perlu disampaikan

adanya saran kepada peneliti lain bahwa untuk meningkatkan hasil belajar siswa

pada pelajaran matematika pada pokok bahasan Penjumlahan Bilangan Pecahan

dapat dilakukan dengan penerapan metode demonstrasi. Dari pembahasan diatas

dapat dibuat suatu perbandingan antara sebelum Siklus I, Siklus I dan Siklus II pada

tabel sebagai berikut:

Tabel 8 Perbandingan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IV


SDN 101949 Pematang Tatal Perbaungan
Frekuensi
No Uraian
Sebelum Siklus Siklus I Siklus II
1 Nilai 50 10 siswa 2 siswa -
2 Nilai 60 8 siswa 4 siswa 1 siswa
3 Nilai 70 5 siswa 8 siswa 3 siswa
4 Nilai 80 - 9 siswa 5 siswa
5 Nilai 90 - - 14 siswa
6 Nilai rata-rata 58 64,54 84.54
7 Siswa tuntas 5 siswa 17 siswa 100%
8 Prosentase siswa tuntas 22 % 45,45 % 90,90%
9 Siswa tak tuntas 17 siswa 6 siswa -
10 Prosentase siswa tak tuntas 73.91% 26.08% -

Dari tabel 8 di atas dapat dibuat diagram sebagai berikut :


47

Gambar 4. Histogram Perbandingan Prestasi Belajar Matematika pada Kelas IV


SDN 101949 Pematang Tatal Perbaungan

3 Sebelum Siklus
2 Siklus I

1 Siklus II
Siklus II
0 Siklus I
50 Sebelum Siklus
60
70
80

Data dan informasi yang diperoleh kelompok belajar siswa dalam

mengerjakan LKS pada tindakan kedua adalah sebagai berikut :

c. Prosentasi Hasil Kelompok dalam Mengerjakan LKS

Prosentasi hasil kelompok dalam mengerjakan LKS dapat

dilihat pada tabel 3 dengan didasarkan atas standar penilaian bahwa

kelompok yang benar dalam menyelesaikan LKS diberi bobot 100%.

Sementara yang masih belum dapat menyelesaikan dengan benar diberi

bobot sesuai dengan tingkat kebenarannya, misalnya 50% apabila

pengisiannya dianggap setengah (½) benar, 75% apabila pengisiannya

dianggap tiga per empat (¾) benar.


48

Tabel 9
Prosentasi Hasil Kerja Kelompok dalam Mengerjakan LKS
Pada Tindakan Kedua (Siklus II)

Jawaban Soal LKS


Kelompok
Benar % Salah % Tidak tepat %

1 2 66,67% 0 0,00% 1 33,33%


2 2 66,67% 0 0,00% 1 33,33%
3 2 66,67% 1 33,33% 0 0,00%
4 2 66,67% 1 33,33% 0 0,00%
Prosentasi 66,67% 16,66% 16,66%

d. Hasil Perolehan Nilai Siswa pada Tindakan Kedua (Siklus II)

Data pembaharuan siswa terhadap materi ajar tentang KPK dengan

metode demonstrasi diperoleh dari hasil evaluasi belajar yang berupa tes

uraian setelah pelaksanaan tindakannya.

Penilaian hasil belajar siswa didasarkan atas standar penilaian

jawaban terhadap soal tes yang berjumlah 3 butir. Setiap butir soal apabila

dijawab dengan benar diberi nilai 2 (dua). Sedangkan jawaban yang kurang

tepat diberi nilai 1 (satu), dan jawaban yang salah diberi nilai 0 (nol).

Bahwa penerapan metode demonstrasi dapat dikatakan cukup efektif

untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan belajar mengajar

matematika di Kelas IV SDN 101949 Pematang Tatal Perbaungan. Terbukti

dengan hasil tes yang telah dicapai siswa. Prosentasi daya serap siswa dalam

sub pokok bahasan tentang "Penjumlahan Bilangan Pecahan”.


49

B. Pembahasan Hasil Penelitian

1. Pembahasan dari Setiap Siklus

a. Pembahasan dari Sebelum Siklus

1) Rata – rata yang diperoleh siswa sebesar 58,18.

2) Siswa yang mendapatkan nilai antara 60 sampai 70 sebanyak 6 orang

3) Siswa yang mendapatkan nilai kurang dari 60 sebanyak 5 orang

4) Siswa yang telah dinyatakan memiliki ketuntasan belajar (dengan nilai

65 ke atas ) sebanyak 3 orang dari jumlah 11 siswa atau 27,27 %,

sedangkan anak yang belum tuntas sebanyak 8 orang dari jumlah 11

siswa atau 72,72 %.

b. Pembahasan dari Siklus I

1) Rata – rata yang diperoleh siswa sebesar 64,54.

2) Siswa yang mendapatkan nilai 75 ke atas sebanyak 2 orang

3) Siswa yang mendapatkan nilai antara 60 sampai 70 sebanyak 7 orang

4) Siswa yang mendapatkan nilai kurang dari 60 sebanyak 2 orang

5) Siswa yang telah dinyatakan memiliki ketuntasan belajar (dengan nilai

65 ke atas ) sebanyak 5 orang dari jumlah 11 siswa atau 45,45 %,

sedangkan anak yang belum tuntas sebanyak 6 orang dari jumlah 1

siswa atau 54,54 %.

c. Pembahasan dari Siklus II

1) Rata – rata yang diperoleh siswa sebesar 77,27.

2) Siswa yang mendapatkan nilai 75 ke atas sebanyak 7 orang

3) Siswa yang mendapatkan nilai antara 60 sampai 70 sebanyak 4 orang


50

4) Siswa yang mendapatkan nilai kurang dari 60 sebanyak 0 orang

5) Siswa yang telah dinyatakan memiliki ketuntasan belajar (dengan nilai

65 ke atas ) sebanyak 10 orang dari jumlah 11 siswa atau 90,90 %,

sedangkan anak yang belum tuntas sebanyak 1 orang dari jumlah 11

siswa atau 9,09 %.

Dari hasil penelitian tindakan kelas tentang penerapan metode demonstrasi

dalam mata pelajaran matematika di Kelas IV SDN 101949 Pematang Tatal

Perbaungan diperoleh hasil temuan sebagai berikut :

Sebagaimana terungkap pada pelaksanaan tindakan I dan Tindakan II, guru

sebelum memulai kegiatan belajar mengajar matematika dengan metode demonstrasi

memberikan arahan dan penjelasan kepada siswa untuk membentuk kelompok

belajar yang setiap kelompoknya tidak lebih dari 3 orang. Dalam pengarahan yang

diberikan guru, siswa diberi kebebasan dan keleluasaan untuk memilih dan

menentukan teman kelompoknya sendiri sesuai dengannya.

Pada siklus I, dari siswa 23 yang hadir terbentuk 4 kelompok belajar. Siswa

yang sudah mendapatkan teman kelompok belajar tampak raut muka yang berseri-

seri, gembira dan senang, sedangkan mereka yang belum mendapatkan teman

kelompoknya tampak bingung untuk memilih teman kelompoknya.

Pada siklus II, dari siswa 23 yang hadir, juga terbentuk 4 kelompok belajar.

Walaupun guru memberikan pejelasan dan pengarahan bahwa dalam pemilihan dan

pembentukan kelompok belajar, siswa disarankan boleh untuk membentuk

kelompok yang anggotanya berlainan jenis kelamin. Akan tetapi siswa nampaknya

tidak mau memilih atau menentukan anggota kelompok yang berlainan jenis

kelamin, sehingga tak satupun kelompok yang anggotanya berlainan jenis kelamin.
51

Dari pelaksanaan penelitian tindakan I dan tindakan II terungkap pendapat

dan sikap siswa dari daftar cek yang dibagikan dan diisi oleh seluruh siswa yang

hadir, aspek-aspek yang berkenaan dengan keterampilan-keterampilan yang dapat

dikembangkan siswa ketika belajar bersama dalam kelompok.

Setelah melakukan dan menyelesaikan pembelajaran dengan memanfaat

kerja kelompok nampak bahwa hasil klasikal dari nilai pre tes sebelum pembelajaran

dengan kerja kelompok jika dilihat dari nilai rata-rata kelas memang kurang baik

yaitu dapat dilihat bahwa rata-rata nilainya 58,18 dan rata-rata nilai harian setelah

mendapatkan pembelajaran dengan memanfaat kerja kelompok mencapai 64,04.

Jika dicermati lebih mendalam pada hitungan di atas nampak bahwa ada sebanyak

22 siswa dari 23 siswa atau sebanyak 90,90 % siswa pada seklus II yang

mendapatkan nilai prost tes lebih dari 77,27.

Hal ini berarti bahwa dari segi ketuntasan belajar (disini digunakan kriteria

tuntas belajar jika siswa mendapatkan nilai 65 atau lebih). Disisi lain dapat dilihat

bahwa melalui pemanfaatan kerja kelompok pada pembelajaran matematika dengan

pokok bahasan Penjumlahan Bilangan Pecahan pada Kelas IV SDN 101949

Pematang Tatal Perbaungan ternyata telah memacu siswa untuk lebih giat belajar,

sehingga dampaknya pada hasil ulangan harian hanya ada 1 siswa atau 9,09 % siswa

yang mendapatkan nilai kurang dari 65.

Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan

memanfaatkan kerja kelompok pada pembelajaran matematika di Kelas IV SDN

101949 Pematang Tatal Perbaungan tahun 2016/2017 dapat meningkat hasil

belajarnya.
52

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab terakhir karya tulis ilmiah ini akan dicoba ditarik kesimpulan dari

rangkaian kegiatan penelitian yang telah dilakukan terutama yang menyangkut hasil-

hasil yang diperoleh selama melakukan penelitian. Pada bab ini kesimpulan yang

akan disainpaikan berupaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan atau

problematika penelitian yang diajukan.

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh selama melakukan

penelitian tindakan kelas menggunakan metode demonstrasi untuk

meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran matematika Kelas IV

SDN 101949 Pematang Tatal Perbaungan, maka dapat diambil kesimpulan:

1. Nilai rata prestasi belajar Matematika siswa Kelas IV pada siklus I

sebesar 64,04, pada siklus II sebesar 77,27 sehingga terdapat kenaikan

nilai rata – rata dari siklus I ke siklus II. Prosentase ketuntasan belajar

siswa pada siklus I menunjukkan angka sebesar 45,45 % ( 5 siswa

tuntas dalam belajarnya dari seluruh peserta 11 siswa), pada siklus II

sebesar 90,90 % (10 siswa tuntas dalam belajarnya dari seluruh peserta

23 siswa).

2. Perolehan hasil belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar

matematika yang memanfaatan belajar secara bersama dalam kelompok

menunjukan peningkatan yang signifikan berdasarkan hasil tes yang


53

dilakukan pada siswa setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar,

seperti ditunjukkan oleh tabel.

Dengan demikian terdapat peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I ke

siklus II. Berdasarkan keterangan di atas maka dapat dibuat suatu kesimpulan

sebagai berikut: Penggunaan metode demonstrasi dapat meningkatan hasil belajar

matematika pada siswa Kelas IV SDN 101949 Pematang Tatal Perbaungan tahun

pelajaran 2015 / 2016.

B. Saran-saran

Dari kesimpulan hasil penelitian di atas, maka dapat diajukan beberapa saran

sebagai berikut :

Kepada Siswa

Apabila memiliki problem mintalah bantuan kepada siapa saja yang

dapat dipercaya, jangan biarkan problem itu dipendam karena akibatnya

tidak baik bagi diri sendiri. Hadapilah setiap masalah yang timbul dengan

tabah dan jangan lekas putus asa serta cepatlah minta bantuan kepada guru

wali kelas di sekolah. Belajar atau membaca jangan dirasakan suatu beban

tetapi hendaknya merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi.

Ikutilah pelajaran dengan senang hati dan sungguh-sungguh jangan

malu dan takut untuk bertanya, agar prestasimu menjadi meningkat lebih

baik. Hendaknya siswa mengadakan peningkatan efektivitas belajar, karena

dengan meningkatkan efektivitas belajar berarti meningkatkan prestasi

belajar siswa.
54

Kepada Guru

Untuk memperbaiki kegiatan belajar mengajar dalam mata pelajaran

matematika Kelas IV SDN 101949 Pematang Tatal Perbaungan seyogyanya guru

selalu menerapkan metoda belajar mengajar yang bervariasi terutama metoda belajar

mengajar yang menekankan kegiatan belajar mengajar siswa aktif. Metoda belajar

secara bersama dalam kelompok menipakan salah satu metoda belajar mengajar

yang dapat melibatkan siswa dengan kegiatan belajar mengajar karena dengan

metoda ini siswa terlibat aktif dengan sesama teman untuk saling membantu dan

bahu membahu dalam menyelesaikan tugas yang dibebankan kepada mereka dari

gurunya.
55

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta:


Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsini. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:


Rineka Cipta.

Arsyad, Azhar, 1997. Media pengajaran, Jakarta : Raja Graindo Persada.

Budiningsih, 2002. Belajar dan Pembelajaran, Yogyakarta : FIP UNY.

Budiyanto Mangun, 2012 .Strategi dan Metode Pembelajaran Dalam Pendidikan


Agama Islam, Yogyakarta : Griya Santri.

Depag RI, 2004. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi MI Jakarta : Depag RI.

DEPAG, Dirjen Kelembagaan Agama Islam, 2005. Wawasan tugas Guru dan
tenaga Kependidikan,Jakarta.

Depdikbud, 1996. Kamus Besar bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka.

Dimyati dan Mujiyono, 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Djamarah, 2001. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta.

Ekawarna, 2009. Penelitian Tindakan Kelas. FKIP UNJA.

Elliot, 1978. Educational Psychology Effective Teaching, Effective Learning.


Singapura: Mc Graw Hill Book.

Faturohman dan Sutikno. 2009. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Refika


Aditama.

Gagne dan Briggs, 1979. Model Belajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Hadi Sutrisno, 1984. Statistik 2, Yogyakarta : UGM.

Hamalik, Oemar. 2008. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara

Jumali, M, dkk. 2008. Landasan Pendidikan. Surakarta: Muhammadiyah University


Press.

Knirk dan Gustafon, 1986. Instructional Technology. A Systematic Approach to


Education. New York: Rinehart and Winston.
56

Lauheru, D John, 2004. Media Pembelajaran Dalam Proses Belajar Mengajar,


jakarta :Depdikbud.

Lie. A 1994. Cooperative Learning. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Makmun, 2003. Prinsip Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Moleong, Lexy J. 2008. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja


Rosdakarya.

Mulyasa, 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi Bandung : PT Remaja Rosda


Karya Offset,

Nurdin Muh, 2004. Kiat Menjadi Guru Profesional, Yogyakarta: Prismasopie,

Paul D Dierich, 2001. Aktif Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Pringgowidagdo, suwarno, 2002 Strategi Penguasaan Berbahasa, Jakarta:


Adicita.

Purwanto, M. Ngalim. 2007. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya

Riska, Yusi, 2009. Perkembangan Peserta Didik, Depag RI : Dirjen Pendidikan


Islam,

Sagala, 2003. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor – Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:


Rineka Cipta

Slavin, dalam Lies Aryati, 2012. Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa
Model TAI.

Sudirman. 2007. Cerdas Aktif Matematika. Jakarta: Ganeca Exact

Sudjana, Nana. 2010. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja
Rosdakarya

Sumiati dan Asrori, 2008. Strategi Pembelajaran. Bandung: Refika Aditama.

Supiyani, 2009. Konsep Dasar Matematika, Jakarta : Dirjen Pendidikan Islam


Depag RI.

Sutama. 2010. Penelitian Tindakan Teori dan Praktek dalam PTK, PTS, dan PTBK.
Semarang: Surya Offset
57

Uno, Hamzah B. 2007. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar


yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara.

Winkel, dalam Lies Aryati, 2012. Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa
Model TAI.

Yamin dan Ansari, 2009. Taktik Mengembangkan Kemampuan Individual Siswa.