Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH FITOKIMIA II

Poliketida

Disusun oleh:
Siska Aprilia (1343050018)
Shomadiyah Ayu (1343050043)
Siska Nurul Fitriani (1343050046)
Diah Farida A (1343050061)
Glory Elisabeth (1343050095)
Yuliana Sumaranita (1343050102)
Hani Mu’Ani (1343050149)

UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA


FAKULTAS FARMASI
2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Metabolit sekunder pada berbagai jenis tumbuhan memiliki banyak manfaat
seperti zat warna, racun, aroma makanan, obat-obatan dan lain sebagainya. Oleh karena
itu penting untuk mempelajari lebih lanjut mengenai senyawa-senyawa metabolit
sekunder seperti steroid, alkaloid, terpenoid, fenolik, flavoinoid, saponin, dan
sebagainya.
Sebagian senyawa organik bahan alam adalah senyawa-senyawa aromatik.
Senyawa aromatik ini mengandung cincin karboaromatik yaitu cincin aromatik yang
hanya terdiri dari atom karbon seperti benzen, naftalen dan antrasen. Cincin karbon
aromatik ini biasanya tersubstitusi oleh satu atau lebih gugus hidroksil atau gugus
lainnya yang ekivalen ditinjau dari segi biogenetiknya. Oleh karena itu, senyawa bahan
alam aromatik ini, sering disebut sebagai senyawa-senyawa fenol, walaupun sebagian
diantaranya bersifat netral karena tidak mengandung gugus fenol dalam keadaan bebas.
Sifat-sifat kimia dari semua senyawa-senyawa fenol adalah sama, akan tetapi dari
segi biogenetik senyawa-senyawa ini dapat dibedakan atas dua jenis utama, yaitu:
1. Senyawa fenolik yang berasal dari asam shikimat atau jalur shikimate yaitu
fenilpropanoid
2. Senyawa fenolik yang berasal dari jalur asetat-malonat yaitu poliketida
3. Kombinasi kedua jalur yaitu flavonoid
Poliketida banyak dihasilkan oleh bakteri, fungi (jamur), kapang dan lumut.
Sebagai contoh senyawa-senyawa yang terdapat dalam fungi dan bakteri adalah asam
orselinat dalam fungi dan linchen, griseofulvin yang terdapat dalam Penicillium
griseofulvin dan kulvularin dalam Culvularis sp.

1.2 Tujuan
a. Mengetahui pengertian Poliketida
b. Mengetahui struktur dasar Poliketida
c. Mengetahui jenis-jenis Poliketida
d. Memahami alur biosintesis poliketida
e. Mengetahui sifat-sifat Poliketida
f. Memahami identifikasi senyawa poliketida
BAB II
ISI

A. Definisi
Poliketida merupakan senyawa yang dalam biosintesisnya melalui jalur asetat
malonat, tanpa proses reduksi pada gugus keton. Bahan alam poliketida membentuk
kelompok besar senyawa yang penting secara terapeutik, yang terdiri atas berbagai
antibiotic (makrolida dan tetrasiklin), asam lemak dan senyawa aromatic (glikosida
purgative antrone dan senyawa anti tumor antrasiklik)
Poliketida sebagaian besar merupakan metabolit turunan asetat (C2) dan
terdapat dalam seluruh organisme (dalam bentuk asam lemak dan gliserida), tapi pada
mikroba, terutama pada bakteri berfilamen dari genus Streptomyces, yang
menghasilkan berbaga jenis poliketida terutama sebagai zat antibiotic.
Poliketida berasal dari kata “poli” yang berarti banyak dan “ketida” yang
menunjukkan adanya ketida (-CH2COCOOH). Hal ini dikarenakan suatu poliketida
ditandai dengan dimilikinya pola berulang suatu ketida –[CH2CO]n dalam rangkaian
strukturnya. Senyawa poliketida mempunyai kerangka dasar aromatik yang disusun
oleh beberapa unit dua atom karbon dan membentuk suatu rantai karbon yang linier
yakni asam poli β-ketokarboksilat yang disebut rantai poliasetil.

B. Struktur dan Tata Nama


Secara umum senyawa poliketida memiliki ketida atau poli-β-keto.
Berdasarkan struktur poliketida tersebut, secara trivial poliketida memiliki nama
poliketida atau alkan poli-on. Sedangkan secara IUPAC diberi nama polialkanon.
Struktur dasar poliketida :

O O O O O
H3C C CH2 C CH2 C CH2 C CH2 C SCoA

C. Sifat fisika
- Poliketida ini biasanya tidak larut dalam air dan larut dalam pelarut organic seperti
heksana, dietil eter dan kloroform.
- Umumnya bersifat asam sehingga dapat bereaksi dengan basa.
- Umumnya memiliki rasa pahit
D. Ciri Senyawa Poliketida
- Senyawa fenol yang banyak dihasilkan oleh mikroorganisme (bakteri, kapang, lumut,
jamur)
- Mempunyai pola oksigenasi selang-seling
- Subtituen : -OH, -CH3, -COOH, -isopren, -OCH3 , subtituen ini merupakan hasil
modifikasi (reaksi-reaksi sekunder)
Reaksi-reaksi sekunder biasanya terjadi sebelum stabilisasi terakhir dari senyawa yang
dihasilkan, biasanya terjadi reaski oksidasi, reduksi, alkilasi, metilisasi, dan isoprenilasi.
E. Sumber-sumber di Alam
Poliketida banya dimanfaatkan sebagai obat-obatan karena dapat diisolasi dari
tumbuhan-tumbuhan yang ada di sekitar kita. Poliketida dapat diisolasi dari mikroba, jamur
Aspergillus terreus, tomat, jagung, dan invertebrata yang jumlahnya cukup besar.
Poliketida dari tumbuhan salah satunya terdapat pada sambiloto dan terdapat pada
kulit kayu, daun dari tanaman sirsak yakni asetogenin. Selain itu, pada kelembak dan asam
usnat yakni antrakinon.

F. Klasifikasi
1. Poliketida Aromatik
Poliketida aromatik terdiri dari satu sampai enam cincin aromatik dan digolongkan
menjadi beberapa golongan berdasarkan pada pola-pola struktur tertentu yang
berkaitan dengan jalur biogenesisnya. Secara umum terdapat lima golongan utama
senyawa poliketida aromatik yaitu ;
a. Turunan Asil Floroglusinol

b. Turunan Kromon
Sifat turunan kromon :
1. Memiliki persamaan sifat dengan turunan kumarin (berbeda dalam
electron π)
2. Senyawa aromatis berkonjugasi dengan ikatan rangkap :
 Berpendar dibawah lampu UV
 Spektrum UV : λmaks 225, 245, 270, dan 300 nm
 Spektrum IR : 1665 cm-1
 Spektrum UV : penambahan basa (NaOH) menyebabkan
pergeseran bathkromik
3. Bersifat sebagai basa
4. Memiliki metil yang reaktif

c. Turunan Benzokuinon

Sifat Turunan kuinon :


1. Kebanyakan merupakan zat warna
2. Memiliki gugus karbonil berkonjugasi dengan ikatan rangkap :
 Berpendar dibawah lampu UV
 Spektrum UV : λmaks 273 nm
 Spektrum IR : 1700 cm-1
 Spektrum UV : penambahan basa (NaOH) menyebabkan
pergeseran bathkromik
d. Turunan Antrakuinon

2. Poliketida Kompleks
Poliketida kompleks terdiri dari makrolida dan ansamicin (yang memiliki cincin lakton
atau laktam), poliena (amfoterisin B) dan polieter
G. Reaksi-reaksinya
Reaksi-reaksi yang terjadi pada senyawa poliketida merupakan reaksi pembentukan suatu
metabolit sekunder. Sebagian besar reaksi dari poliketida menunjukkan reaksi
keseluruhan dalam proses biosintesis poliketida. Secara umum, reaksi yang dialami oleh
berbagai senyawa poliketida mencakup:
1. Kondensasi aldol
Kondensasi tipe Kroton (aldol) : kondensasi gugus karbonil dengan gugus metilen
2. Kondensasi Claisen

CH3 CH3
COOH COOH COOH
O
4 X C2
O O
O O HO OH
ASAM ORSELINAT
Kondensasi tipe Claisen : kondensasi hidroksil dari gugus karboksilat dengan metilen

O O O O
H2 H2 H2
H3C C C C C C C C 0H TETRA - ASETIL

O OH

O O

HO
H3C OH O H3C O O

 - PIRON
3. Laktonisasi
Kondensasi tipe laktonisasi : gugus hidroksil dari karboksilat membentuk jembatan
dengan gugus hidroksi

O O O O
H2 H2 H2
H3C C C C C C C C 0H TETRA - ASETIL

O OH

O O

HO
H3C OH O H3C O O

 - PIRON

4. Eterifikasi
Kondensasi tipe eterifikasi : jembatan antara gugus karbonil dengan gugus karbonil

O O O O
H2 H2 H2
H3C C C C C C C C 0H TETRA - ASETIL

O O

O O

HO
H3C OH CH3 HO O CH3

 - PIRON

H. Biosintesis
Penelitian bidang biosintesis dimulai pada tahun 1953, ketika Birch dan Donovan
menyarankan jalur biosintesis baru untuk poliketida yang menunjukkan
mekanismenya mirip dengan mekanisme biosintesis asam lemak. Hipotesis ini dikenal
sebagai hipotesis poliasetat yang menyatakan bahwa, "Poliketida dibentuk oleh
hubungan kepala-ke-ekor unit asetat, diikuti oleh siklisasi dengan reaksi aldol atau
dengan asilasi fenol" (Birch & Donovan, 1953). Pembentukan rantai poli-β-keto dapat
digambarkan sebagai sederet reaksi Claisen.
Tahap biosintesis poliketida dibagi menjadi dua tahap umum yakni :
1. Kondensasi intramolekular
2. Siklisasi intramolekular (menghasilkan jembatan oksigen)
o Laktonisasi
o Eterifikasi.
Biosintesis senyawa ini diawali dengan kondensasi intramolecular yakni
kondensasi satu molekul malonil-KoA dengan 1 molekul asetil-KoA unyuk
membentuk poliketida sederhana asetoasetil-KoA. Pada reaksi ini disebut dengan
reaksi Claisen, 1 molekul CO2 dan 1 molekul HSKoA terbentuk. Reaksi ini terjadi
karena karbon diantara kedua gugus karbonil malonil KoA (karbon yang bersifat
asam) merupakan nukleofilik dan dapat menyerang pusat elektropositif (kekurangan
electron) (misalnya karbon pada gugus karbonil).
Reaksi kondensasi selanjutnya antara molekul malonil KoA lain dan poliketida yang
sedang terbentuk menyebabkan perpanjangan rantai sehingga diantara 2 karbon dalam
rantai tersebut terdapat gugus karbonil. Rantai ini disebut ester poli-β-keto dan merupakan
senyawa antara reaktif yang membentuk poliketida. Dengan menggunakan ester ini, rantai
besar seperti asam lemak dapat dibuat dengan sebenernya reduksi gugus karbonil dan
hidrolisis tioester –SkoA menghasilkan golongan senyawa asam lemak. Rantai poliketida
yang membesar ini dapat menempel sebagai suatu tioester pada KoA atau pada protein
yang disebut protein pembawa-asil.
Reaksi Claisen multiple dengan tambahan molekul malonil KoA dapat membentuk
asam lemak berantai pajang seperti asam stearate dan asam miristat. Ester poli-β-keto juga
dapat membentuk siklik menjadi bahan alam aromatic dan pola pelipatan ester poli-β-keto
akan menentukan tipe bahan alam yang dihasilkan jika ester poli-β-keto melipat sebagai
A1 kemudian kehilangan 1 proton, diikuti oleh rekasi Claisen intramolecular pada
senyawa antara A2 (melalui penyerangan karbon asam pada karbonil), akan mdihasilkan
pembentukan enolat poliketida siklik A3 yang akan menyusun ulang menjadi senyawa
keto dengan pelepasan anion SKoA, menghasilkan keton A4. Keton ini akan segera
mengalami tautomerisme ketoenol menjadi trifenol aromatic A5 (floroasetofenon) yang
lebih disukai.
Jika ester poli-β-keto melipat sebagai B1, reaksi aldol pada senyawa antara B2 dengan
cara menyerang karbonil oleh karbon asam akan terjadi dan dengan tambahan 1 proton
akan terbentuk alcohol menghasilkan senyawa antara B3. Alcohol ini kemudian dapat di
dehidrasi menjadi alkena terkonjungasi B4 yang juga dapat mengalami tautomerasi, dan
melalui hidrolisis tioester –SkoA terbentuk asam fenolat aromatic asam orselinat (B5).
Sifat reaktif ester poli-β-keto berguna dalam banyak obat dan karena merupakan
prekursor awal kaya oksigen, bahan alam yang dihasilkan biasanya kaya akan gugus kimia
fungsional. Gugus keton seringkali masih ada, tetapi mengalami reduksi menjadi alcohol
dan pembentukan eter lazim terjadi dan banyak poliketida terutama senyawa antibiotika
dan anti tumor tertentu juga terdapat sebagai glikosida.

I. Identifikasi
1. Organoleptis ; umumnya rasa pahit
2. Skrining :
o umumnya unuk poliketida yang memiliki gugus fenol akan bereaksi dengan
larutan besi (III) klorida terbentuk warna hijau, biru atau hitam.
o Untuk poliketida golongan poliketida aromatic turunan kuinon:
Simplisia + 10 mL air, didihkan 5 menit, dinginkan saring. Filtrate + NaOH 1
N , terbentuk warna merah
J. Kegunaan
Kegunaan senyawa-senyawa poliketida yaitu:
1. Sebagai antibiotik. Golongan yang sering dimanfaatkan di antaranya golongan
makrolida (eritromisin, azitromisin, klaritromisin, roksitromisin), golongan
ketolida (telitromisin), golongan tetrasiklin (doksisiklin, oksitetrasiklin,
klortetrasiklin).
2. Sebagai obat kolesterol (anti kolesterol), misalnya senyawa lovastatin.
3. Sebagai anti jamur, misalnya senyawa amfoterisin.
4. Sebagai anti kanker, misalnya senyawa epotilon.
BAB III
KESIMPULAN

1. Poliketida merupakan senyawa yang dalam biosintesisnya melalui jalur asetat


malonat, tanpa proses reduksi pada gugus keton.
2. Struktur dasar poliketida :

O O O O O
H3C C CH2 C CH2 C CH2 C CH2 C SCoA

3. Klasifikasi poliketida adalah poliketida aromatic dan poliketida kompleks.


4. Tahap biosintesis poliketida dibagi menjadi dua tahap umum yakni :
o Kondensasi intramolekular
o Siklisasi intramolekular (menghasilkan jembatan oksigen)
 Laktonisasi
 Eterifikasi.
Daftar Pustaka
Dewick, P.M. 2009. Medicinal Natural Products. United Kingdom: John Willey & Sons,
Ltd.

Harborne, J.B., (1987), Metode Fitokimia, Penerbit ITB, Bandung.

Hanson, J.R. Tanpa Tahun. Natural Products, The Secondary Metabolites. United
Kingdom: Royal Society of Chemistry, University of Sussex.

Heldt, H.W. 2004. Plant Biochemistry: Third Edition. United Kingdom: Elsevier
Academic Press.

Mangrina, A. 2001. Kimia Produk Alam Poliketida Lainnya. Yogyakarta: Fakultas


Farmasi Universitas Gajah Mada.

Rahmawati, F. 2011. Poliketida Aromatik, Asam Usnat. Yogyakarta: Fakultas Farmasi


Universitas Gajah Mada.