Anda di halaman 1dari 22

UJIAN AKHIR SEMESTER

PENATALAKSANAAN PENYAKIT I
OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
Dosen : Prof. Dr. Johanes C. Mose., dr., SpOG-K

DEWI LEGIANAWATI
NPM. 260220170001

MAGISTER FARMASI KLINIK


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG 2017
1. Jelaskan penggunaan bermacam-macam obat yang sering digunakan pada masa
kehamilan
Obat yang sering digunakan pada masa kehamilan :
a. Multivitamin
Multivitamin biasanya diberikan untuk ibu hamil untuk mengatasi meningkatnya
kebutuhan akan vitamin selama masa kehamilan. Multivitamin untuk ibu hamil
biasanya mengandung asam folat dan zat besi yang lebih banyak dibandingkan
dengan multivitamin biasa
b. Mikronutrien dan Vitamin
Pemberian asam folat 0,4 – 0,8 mg per hari, atau 4 mg per hari untuk wanita yang
mempunyai resiko tinggi mempunyai bayi dengan kerusakan tabung saraf.
Asam folat untuk ibu hamil berperan penting dalam membantu tabung saraf bayi
berkembang pada otak dan sumsum tulang belakangnya. Hal ini akan mencegah
terjadinya cacat pada tabung saraf bayi tersebut. Kondisi gangguan tabung saraf
dapat menyebabkan bayi mengalami kelainan pada saraf tulang belakang yang
disebut spina bifida maupun gangguan pertumbuhan otak yang
disebut anenchephal. Selain itu, asam folat juga dipercaya dapat mencegah
terjadinya bibir sumbing dan kelainan jantung pada bayi.
Asam folat juga mungkin dapat membantu mencegah keguguran yang terjadi pada
awal kehamilan. Selain itu, Asam folat juga bisa mengobati anemia akibat
kekurangan asam folat. Konsumsi asam folat yang cukup juga dipercaya dapat
mengurangi risiko preeklamsia.
Untuk mengurangi risiko cacat pada tabung saraf bayi, para ahli merekomendasikan
agar mengonsumsi sekitar 400 mikrogram asam folat setiap harinya. Dimulai
setidaknya sebulan sebelum Anda berencana untuk hamil

c. Hematinik (vitamin Zat besi)


Pemberian Fe 60 -200 mg (besi elemental) per hari untuk mencegah anemia
defisiensi besi. Jika dosis lebih dari 60 mg maka dalam dosis terbagi.
Tablet Fe merupakan mineral yang dibutuhkan untuk membentuk sel darah
merah (hemoglobin). Selain itu, mineral ini juga berperan sebagai komponen untuk
membentuk mioglobin (protein yang membawa oksigen ke otot), kolagen (protein
yang terdapat di tulang, tulang rawan, dan jaringan penyambung), serta enzim.
Tablet Fe juga berfungsi dalam sistim pertahanan tubuh. Tablet Fe sangat penting
bagi kesehatan ibu hamil, diantaranya: mencegah terjadinya anemia defisiensi besi,
mencegah terjadinya perdarahan pada saat persalinan dan dapat meningkatkan
asupan nutrisi bagi janin. Selama hamil ibu hamil harus minum Fe sebanyak 90
tablet. Kebutuhan tablet Fe pada wanita hamil yaitu rata-rata mendekati 800
mg. Kebutuhan ini terdiri dari, sekitar 300 mg diperlukan untuk janin dan plasenta
serta 500 mg lagi digunakan untuk meningkatkan massa haemoglobin
maternal. Kurang lebih 200 mg lebih akan dieksresikan lewat usus, urin dan
kulit. Makanan ibu hamil setiap 100 kalori akan menghasilkan sekitar 8–10 mg
tablet Fe. Perhitungan makan 3 kali dengan 2500 kalori akan menghasilkan sekitar
20–25 mg tablet Fe perhari. Selama kehamilan dengan perhitungan 288 hari, ibu
hamil akan menghasilkan tablet Fe sebanyak 100 mg sehingga kebutuhan tablet Fe
masih kekurangan untuk wanita hamil

d. Imunisasi (Tetanus Toksoid)


Pemberian imunisasi TT atau tetanus toxoid pada ibu hamil bermanfaat untuk
mencegah tetanus bagi ibu dan bayinya. Tetanus adalah penyakit yang disebabkan
oleh toksin dari bakteri Clostridium tetani.
Untuk kehamilan pertama memerlukan dua kali imunisasi TT, sedangkan untuk
kehamilan berikutnya yang kurang dari 2 tahun sejak kehamilan pertama maka
cukup diberikan booster saja satu kali. Waktu pemberiannya untuk kehamilan
pertama dosis pertama dilakukan pada trimester pertama kehamilan dosis
berikutnya diberikan 4 – 8 minggu setelah dosis pertama.

e. Plasentotropik
Plasentotropik, contohnya Allylestrenol merupakan obat yang digunakan untuk
mencegah keguguran dan mencegah persalinan prematur pada wanita yang sedang
hamil. Selain struktur, fungsi obat ini menyerupai hormon progesteron, antara lain
mempersiapkan jaringan rahim untuk kehamilan, mempertahankan kehamilan
setelah sel telur dibuahi, melemaskan otot uterus, serta merangsang pertumbuhan
jaringan alveolar payudara.

Pemberian allylestrenol untuk mencegah keguguran biasanya berlangsung selama


5-7 hari. Sedangkan untuk mencegah abortus habitualis, obat ini bisa digunakan
langsung setelah kehamilan terdeteksi sampai lewat dari sebulan masa periode
kritis.

Berikut ini dosis pemberian allylestrenol yang disarankan oleh dokter.


Maksimal 40 mg per hari (dosis
Mencegah persalinan prematur disesuaikan dengan kondisi pasien)

Mencegah keguguran 5 mg tiga kali dalam sehari

Mencegah abortus
habitualis/keguguran berulang 5-10 mg per hari.

Selain allylestrenol bisa juga menggunakan Isoksuprina-HCI 20 mg/tablet, 5


mg/ml obat suntik

f. Antiemetik
Antiemetik adalah obat yang digunakan untuk mencegah atau mengurangi
mual/muntah. Obat Antiemetik yang digunakan pada Masa Kehamilan, yaitu:
1) Promethazine
Promethazin merupakan derivate phenothiazine dengan efek anti
dopaminergic, merupakan blocker reseptor dopamine di mesolimbic dan
reseptor α adrenergic.
Dosis yang digunakan : 12.5 – 25 mg setiap 4 – 6 jam sekali tergantung
kebutuhan.
Efek samping : mengantuk, bingung, disorientasi, sindrom ekstrapiramidal

2) Metoclopramide
Dosis yang digunakan : 5 - 15 mg per oral setiap 6 jam, 30 menit sebelum
makan dan pada saat akan tidur.
Cara kerja metoklopramid adalah dengan memblok reseptor dopamine dan
reseptor serotonin di trigger zone yang ada pada susunan saraf pusat,
mensensitisasi jaringan terhadap asetilkolin, meningkatkan motilitas saluran
cerna, dan meningkatkan tekanan katup esophagus.
Efek samping : sindrom ekstrapiramidal

3) Ondansetron
Merupakan antagonis reseptor 5-HT3 dengan efek utama di saluran
pencernaan. Tidak mempunyai efek terhadap reseptor dopamine dan tidak
menimbulkan efek ekstrapiramidal.
Dosis : 4 – 8 mg setiap 8 jam
Efek samping : sakit kepala, lemas, konstipasi, ngantuk, hipoksia
4) Doksilamin
Diberikan 12,5 mg per oral 4 kali sehari
5) Piridoksin
Diberikan 25 mg per oral 3 kali sehari
6) Domperidone
Domperidone bekerja dengan cara mempercepat proses pencernaan makanan
di dalam lambung agar lanjut ke usus. Dengan begitu, rasa mual dapat
dihentikan.
Dosis :Dewasa dan anak-anak di atas 12 tahun atau di atas 35 kg: 10 mg tiga
kali sehari. Dosis maksimum adalah 30 mg per hari

2. Jelaskan penggunaan bermacam-macam obat yang sering digunakan pada gangguan


kehamilan.
Gangguan kehamilan bisa terjadi pada dua tahap kehamilan yaitu berupa perdarahan
pada awal kehamilan, atau pada kehamilan lanjut. Obat yang digunakan pada:
a. Perdarahan kehamilan muda
 Plasentotropik

Plasentotropik, contohnya Allylestrenol merupakan obat yang digunakan untuk


mencegah keguguran dan mencegah persalinan prematur pada wanita yang
sedang hamil. Selain struktur, fungsi obat ini menyerupai hormon progesteron,
antara lain mempersiapkan jaringan rahim untuk kehamilan, mempertahankan
kehamilan setelah sel telur dibuahi, melemaskan otot uterus, serta merangsang
pertumbuhan jaringan alveolar payudara.

Pemberian allylestrenol untuk mencegah keguguran biasanya berlangsung


selama 5-7 hari. Sedangkan untuk mencegah abortus habitualis, obat ini bisa
digunakan langsung setelah kehamilan terdeteksi sampai lewat dari sebulan
masa periode kritis.
Berikut ini dosis pemberian allylestrenol yang disarankan oleh dokter.

Maksimal 40 mg per
hari (dosis
Mencegah persalinan disesuaikan dengan
prematur kondisi pasien)

5 mg tiga kali dalam


Mencegah keguguran sehari

Mencegah abortus
habitualis/keguguran
berulang 5-10 mg per hari.

Selain allylestrenol bisa juga menggunakan Isoksuprina-HCI 20 mg/tablet, 5


mg/ml obat suntik

 Progesteron
Progesteron digunakan untuk mencegah persalinan premature untuk wanita yang
mempunyai riwayat persalinan premature. Hormon ini berfungsi mempersiapkan
sel telur untuk menerima serta memelihara sel telur yang dibuahi. Pada tubuh
wanita yang tidak dalam keadaan hamil maka kadar dari hormon progesteron serta
hormon estrogen akan mengalami penurunan.

 Tokolisis
Digunakan untuk mencegah persalinan preterm. Sifat dari tokolitik ini adalah
mengurangi gejala bukan mengobati, jadi hanya untuk menunda persalinan
preterm agar ada waktu untuk proses pematangan paru janin. Tokolisis berguna
untuk usia kehamilan sebelum 32 minggu. Contoh obat Tokolisis:
1) Antagonis Ca Chanel : Nifedipin
Diberikan 30 mg per oral pada pemberian pertama, selanjutnya diberikan 10-
20mg setiap 4-6 jam selama 48 jam. Mekanisme kerjanya adalah melalui
blockade pada chanel kalsium sehingga kalsium dari reticulum sarkoplasma
dihambat pengeluarannya dan meningkatkan refluks kalsium dari dalam sel.
Sehingga terjadi penurunan kalsium bebas intraseluler yang mengakibatkan
inhibisi fosforilase MLCK sehingga myometrium relaksasi.
2) MgSO4
Diberikan 4-6g IV bolus selama 20 menit, kemudian 2-3g per jam IV drip.
MgSO4 berfungsi menurunkan frekuensi depolarisasi sel otot polos,
berkompetisi dengan kalsium untuk masuk dalam sel melalui chanel kalsium.
Kontraindikasi untuk pasien dengan miastenia gravis.
3) Beta Agonis : terbutalin, ritodrin
Beta agonis mengikat diri pada reseptor di membrane, dan kompleks ini akan
mengaktivasi adenilat siklase sehingga terjadi peningkatan cyclic AMP yang
menurunkan kalsium intraseluler dan menghambat MLCK secara langsung.
Pada umumnya beta agonis efektif menghentikan kontraksi untuk 48 jam
pada 80-90% wanita.
4) Inhibitor prostaglandin sintetase : indometasin, Movicox
Indometasin diberikan 50-100mg per oral, kemudian 25-50 mg setiap 6 jam.
Merupakan inhibitor siklooksigenase ireversibel, sehingga menurunkan kadar
prostaglandin dan menghilangnya kontraktilitas myometrium.
5) Antagonis Oksitosin : Atosiban
Mengakibatkan menurunnya kalsium bebas intraseluler yang mengakibatkan
menurunnya kontraktilitas myometrium.

 Oksitosin
Diberikan 10 unit IM atau 5 unit IV. Digunakan untuk merangsang kotraksi
uterus setelah kuretase, dan mencegah pendarahan postpartum agar darah yang
tersisa pada rahim segera keluar.
 Metergin, Ergometrin
Untuk meningkatkan kontraksi uterus dengan nyata. Efeknya sebanding dengan
besarnya dosis yang diberikan. Dosis kecil menyebabkan peninggian amplitudo dan
frekuensi, kemudian diikuti relaksasi. Dosis besar menimbulkan kontraksi tetanik, dan
peninggian tonus otot dalam keadaan istirahat. Dosis yang sangat besar menimbulkan
kontraksi yang berlangsung lama. Kepekaaan uterus terhadap alkaloid Ergot sangat
bervariasi, tergantung maturitas dan umur kehamilan. Biasa digunakan setelah
prosedur kuretase.
 Misoprostol
Untuk merangsang kontraksi uterus agar darah yang ada pada uterus segera
keluar (setelah dilakukan proses kuretase)
 Antibiotika
Untuk mengobati infeksi setelah dilakukan kuretase

b. Perdarahan kehamilan lanjut


 Antibiotika
Antibiotika profilaksis diberikan sampai bayi lahir. Pilihan antibiotika yang rutin
diberikan untuk persalinan preterm (untuk mencegah infeksi streptokokus grup
B) adalah:
1) Ampisilin: 2 g IV setiap 6 jam, atau
2) Penisilin G 2 juta unit IV setiap 6 jam, atau
3) Klindamisin: 3 x 300 mg PO (jika alergi terhadap penisilin)

Antibiotika yang diberikan jika persalinan preterm disertai dengan ketuban


pecah dini adalah eritromisin 4×400 mg per oral

 NSAID
Biasanya digunakan ketorolac. Ketorolac menghambat kerja enzim ini sehingga
produksi prostaglandin akan menurun, kadar kalsium sel menurun dan kontraksi
dihambat. Mekanisme penghambatan sistem COX-2 ketorolac lebih selektif
sehingga diharapkan efek samping ke janin minimal.

 Misoprostol
Untuk melembutkan serviks, mencegah perdarahan postpartum dan induksi
persalinan. Untuk melembutkan serviks dan menginduksi persalinan dosis yang
diberikan 25 mcg (1/4 tablet 100mcg) intra vaginal setiap 3 – 6 jam. Untuk
menanggulangi pendarahan postpartum dosis yang diberikan 400-800 mcg per
oral.

 Tokolitik
Digunakan untuk mencegah persalinan preterm. Sifat dari tokolitik ini adalah
mengurangi gejala bukan mengobati, jadi hanya untuk menunda persalinan
preterm agar ada waktu untuk proses pematangan paru janin. Tokolisis berguna
untuk usia kehamilan sebelum 32 minggu. Contoh obat Tokolisis:
1) Antagonis Ca Chanel : Nifedipin
Dosis yang diberikan 30mg pada pemberian awal dan 10-20 mg setiap 4-6 jam
selama 24 jam. Mekanisme kerjanya adalah melalui blockade pada chanel
kalsium sehingga kalsium dari reticulum sarkoplasma dihambat
pengeluarannya dan meningkatkan refluks kalsium dari dalam sel. Sehingga
terjadi penurunan kalsium bebas intraseluler yang mengakibatkan inhibisi
fosforilase MLCK sehingga myometrium relaksasi.
2) MgSO4
Dosis yang diberikan 4-6g IV bolus selama 20 menit, kemudian 2-3g setiap
jam IV drip. Berfungsi menurunkan frekuensi depolarisasi sel otot polos,
berkompetisi dengan kalsium untuk masuk dalam sel melalui chanel kalsium.
3) Beta Agonis : terbutalin, ritodrin
Beta agonis mengikat diri pada reseptor di membrane, dan kompleks ini akan
mengaktivasi adenilat siklase sehingga terjadi peningkatan cyclic AMP yang
menurunkan kalsium intraseluler dan menghambat MLCK secara langsung.
Pada umumnya beta agonis efektif menghentikan kontraksi untuk 48 jam pada
80-90% wanita.
4) Inhibitor prostaglandin sintetase : indometasin, Movicox
Dosis awal yang diberikan 50-100mg per oral, kemudian 25-50 mg setiap 6
jam selama 48 jam.
Indometasin merupakan inhibitor siklooksigenase ireversibel, sehingga
menurunkan kadar prostaglandin dan menghilangnya kontraktilitas
myometrium.
5) Antagonis Oksitosin : Atosiban
Mengakibatkan menurunnya kalsium bebas intraseluler yang mengakibatkan
menurunnya kontraktilitas myometrium.

 Kortikosteroid
Kortikosteroid digunakan untuk pematangan paru janin. Diberikan sekitar 2 minggu
jika kehamilan < 32 minggu dan ibu terlihat akan segera melahirkan. Obat
pilihannya adalah:
1) Deksametason 6 mg IM setiap 12 jam sebanyak 4 kali, atau
2) Betametason 12 mg IM setiap 24 jam sebanyak 2 kali

 Furosemid
Diberikan untuk ibu mengurangi udema pada ibu hamil dengan preeklamsi berat

 Asam Traneksamat
Untuk menghentikan pendarahan setelah partus dengan cara menghambat proses
fibrinolysis. Dosis yang diberikan 10-15 mg/kg BB selama 20 menit.

 Hematinik
Hematinik digunakan untuk mengatasi anemia akibat kehilangan darah selama
persalinan, karena setelah persalinan, baik persalinan preterm maupun aterm ibu
banyak kehilangan darah.

3. Jelaskan pelbagai cara untuk mendiagnosis keadaan patologi/keganasan serviks


Cara untuk mendiagnosis keganasan serviks:
a. Pap Smear
Pemeriksaan pap smear adalah prosedur pengambilan sampel sel dari leher rahim
untuk memastikan ada atau tidak adanya ketidaknormalan yang dapat mengarah
kepada kanker serviks pada wanita.
Pemeriksaan pap smear sebaiknya diambil tiap dua tahun sekali dimulai dari usia
21 tahun. Setelah usia 30, tes ini dapat diambil tiap tiga tahun sekali. Di Indonesia,
pemeriksaan pap smear umumnya perlu dijalani oleh wanita usia subur yang sudah
menikah atau aktif secara seksual. Wanita usia subur adalah wanita yang berusia
15-49 tahun. Pada beberapa kasus, pemeriksaan pap smear dapat dikombinasikan
dengan tes untuk mendeteksi human papillomavirus (HPV), terutama pada wanita
30 tahun ke atas.
Bila ditemukan sel abnormal pemeriksaan diulang 4-6 bulan kemudian tergantung
kepada jenis sel yang ditemukan. Sel abnormal yang ditemukan belum tentu
mengarah kepada kanker.
b. Colposcopy
Colposcopy biasanya dilakukan ketika sel-sel yang abnormal telah ditemukan
selama tes Pap Smear. Hal ini biasanya berarti bahwa perubahan kecil ada di sel-
sel pada leher rahim dan dalam banyak kasus perubahan kecil ini kembali normal
sendiri. Kadang-kadang perubahan menjadi lebih buruk dan mungkin bisa
menyebabkan kanker di masa depan.
Colposcopy dianjurkan jika:
1) Sebuah diidentifikasi kelainan pada serviks
2) Pendarahan setelah hubungan seksual
3) Pendarahan antara periode
4) Persistent keputihan
Colposcopy adalah mirip dengan tes Pap Smear, spekulum dimasukkan ke dalam
vagina sehingga pembukaan leher rahim dapat dilihat, dan kemudian dilihat
menggunakan colposcope (seperti mikroskop) untuk melihat kondisi permukaan
mukosa secara tiga dimensi.

c. VIA/IVA test
IVA ( Inspeksi Visual Asam asetat ) adalah pemeriksaan leher rahim ( serviks )
dengan cara melihat langsung ( dengan mata telanjang ) leher rahim setelah
memulas leher rahim dengan larutan asam asetat 3 sapai dengan 5%. Dengan cara
ini kita dapat mendeteksi kanker rahim sedini mungkin.
Pemeriksaan IVA merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk untuk mendeteksi
kanker leher rahim dan juga skrining alternatif dari pap smear karena biasanya lebih
murah, praktis, sangat mudah untuk dilaksanakan dan peralatan sederhana serta
dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan selain dokter ginekologi. Pada pemeriksaan
ini, pemeriksaan dilakukan dengan cara melihat serviks yang telah diberi asam
asetat 3-5% secara inspekulo. Setelah serviks diulas dengan asam asetat, akan
terjadi perubahan warna pada serviks yang dapat diamati secara langsung dan dapat
dibaca sebagai normal atau abnormal. Serviks yang diberi larutan asam asetat 5%
akan merespon lebih cepat daripada larutan 3%. Efek akan menghilang sekitar 50-
60 detik sehingga dengan pemberian asam asetat akan didapat hasil gambaran
serviks yang normal (merah homogen) dan bercak putih (displasia). Pemeriksaan
IVA tes hanya membutuhkan waktu sekitar 2 menit.
d. Schiler Test
Tes Schiller adalah aplikasi larutan yodium di leher rahim. Yodium diambil oleh
glikogen dalam epitel vagina normal, memberikan warna cokelat. Daerah yang
kurang glikogen akan berwarna putih atau kuning keputihan, dan mungkin
menunjukkan leukoplakia (lesi putih) atau jaringan kanker. Meskipun tes ini tidak
mendiagnostik kanker tetapi dapat membantu dalam memilih lokasi yang tepat
untuk biopsi.

4. Jelaskan mengenai etiopatogenesis dan cara penanganan mioma uteri


a. Etiopatogenesis mioma uteri:
Etiologi pasti mioma uteri tidak diketahui secara pasti, tetapi terdapat korelasi antara
pertumbuhan tumor dengan peningkatan reseptor estrogen-progesteron pada jaringan
mioma uteri, serta ditemukan adanya faktor predisposisi yang bersifat herediter dan
faktor dari hormon pertumbuhan dan Human Placental Lactogen. Para ilmuwan telah
mengidentifikasi kromosom yang membawa 145 gen yang diduga berpengaruh pada
pertumbuhan jaringan fibroid. Beberapa ahli mengatakan bahwa mioma uteri
diwariskan dari gen sisi paternal. Mioma membesar sangat cepat pada saat kehamilan
dan mengecil pada saat menopause, sehingga diduga mioma dipengaruhi juga oleh
hormon-hormon reproduksi seperti estrogen dan progesteron.

Mioma uteri berasal dari miometrium dan klasifikasinya dibuat berdasarkan lokasinya
yaitu diantaranya Mioma Submukosa yaitu mioma yang menempati lapisan dibawah
endometrium dan menonjol ke dalam (cavum uteri). Pengaruhnya pada vaskularisasi
dan luas permukaan endometrium menyebabkan perdarahan irregular. Mioma jenis ini
dapat bertangkai panjang sehingga dapat keluar melalui ostium cervix. Yang harus
diperhatikan dalam menangani mioma bertangkai adalah kemungkinan terjadinya
torsio dan timbulnya nekrosis sehingga risiko infeksi sangat tinggi.

Sedangkan, Mioma Intramural (Interstisial) adalah jenis mioma yang berkembang di


antara miometrium. Jenis yang terakhir adalah Mioma Subserosa yaitu merupakan
mioma yang tumbuh di bawah lapisan serosa uterus dan dapat bertumbuh ke arah luar
dan juga bertangkai. Mioma subserosa juga dapat menjadi parasit pada omentum atau
usus untuk vaskularisasi tambahan bagi pertumbuhannya.
Manifestasi klinis hanya terdapat pada 35% - 50% penderita mioma. Hampir sebagian
besar penderita tidak mengetahui bahwa terdapat abnormalitas didalam uterusnya,
terutama sekali pada penderita dengan obesitas. Keluhan penderita sangat bervariasi
tergantung juga dari lokasi atau jenis mioma yang diderita. Berbagai keluhan penderita
dapat berupa perdarahan yang biasanya menjadi manifestasi klinis utama pada mioma
dan terjadi 30% pada penderita. Perdarahan pada mioma submukosa seringkali
disebabkan oleh terhambatnya pasokan darah ke endometrium, tekanan dan bendungan
pembuluh darah di area tumor (terutama vena) atau ulserasi ensometrium di atas tumor.

Mioma tidak menyebabkan nyeri dalam uterus kecuali apabila kemudian terjadi
gangguan vaskular. Nyeri lebih banyak terkait dengan proses degenerasi akibat oklusi
pembuluh darah, Gejala abdomen akut dapat terjadi bila torsio berlanjut dengan
terjadinya infark atau degenerasi merah yang mengiritasi selaput peritoneum (seperti
peritonitis). Mioma yang besar dapat menekan rektum sehingga menimbulkan sensasi
untuk mengedan. Nyeri pada pinggang dapat terjadi pada penderita karena mioma yang
menekan persyarafan yang berjalan di atas permukaan tulang pelvis.
Walaupun mioma dihubungkan dengan adanya desakan yang mengakibatkan adanya
tekanan, tetapi tidaklah mudah untuk menghubungkan adanya penekanan organ oleh
mioma. Mioma intramural sering dikaitkan dengan terjadinya penekanan terhadap
organ sekitar. Parasitik mioma dapat menyebabkan obstruksi saluran cerna
perlekatannya dengan omentum menyebabkan strangulasi usus. Mioma servix dapat
menyebabkan timbulnya sekret serosanguinea pada vagina, perdarahan, dispareunia,
dan infertilitas. Bila ukuran tumor lebih besar lagi, akan terjadi penekanan ureter,
kandung kemih dan rektum.

b. Cara penanganan mioma uteri:


Penanganan mioma uteri akan sangat tergantung pada gejala yang timbul dan
dikeluhkan pasien, lokasi tumbuhnya tumor, umur pasien, masih mau atau tidaknya
untuk hamil lagi, dan kesehatan pasien secara umum.
Bila sudah ditentukan suatu mioma uteri yang normal, sementara tidak ada keluhan apa
pun serta pasien sudah tidak ingin untuk punya anak lagi, maka yang akan selalu
dilakukan dokter adalah mengobservasi. Observasi 6 bulan sekali untuk melihat ukuran
dan pertumbuhan dari mioma uteri-nya. Selama tidak terjadi suatu keganasan, maka
tidak akan dilakukan tindakan apa-apa.
Bila harus diberikan obat minum, biasa diberikan obat penghilang nyeri untuk nyerinya,
obat kontrasepsi untuk mengatur siklus mens, GnRH (Gonadotropin releasing hormone
agonist) untuk mengurangi produksi estrogen. Dengan GnRH ukuran mioma uteri bisa
berkurang 50%, tapi akan tumbuh lagi saat therapi dihentikan. Serta obat-obatan
hormonal lainnya sesuai kebutuhan.
Ada obat yang disebut sebagai progesterone receptor modulator. Merupakan obat
kontrasepsi emergency, tapi belakangan dikatakan dapat mengecilkan ukuran mioma
uteri dan mengurangi perdarahan karena tumor tersebut.

Operasi
Tindakan operasi pasti ada resiko dan benefitnya. Akan dilakukan bila memang
benefitnya diharapkan lebih besar. Jenis-jenis operasinya sebagai berikut:
1) Myomectomy.
Operasi yang mengangkat hanya jaringan mioma-nya saja. Dapat dilakukan dengan
hysteroscopy, laparoscopy, dan walau pun jarang dengan laparatomy. Pasca operasi
pasien masih bisa untuk hamil.
2) Hysterectomy.
Operasi yang mengangkat seluruh bagian rahim. Merupakan terapi pasti untuk
menghilangkan mioma uteri. Dengan diangkatnya rahim, maka pasien tidak bisa untuk
hamil lagi. Pada sebagian besar kasus hysterectomy karena mioma uteri, tuba fallopian
dan ovarium tidak diangkat; yang berarti tubuh pasien akan tetap memproduksi
estrogen. Pengangkatan rahim termasuk tuba dan ovarium disebut salpingo-
oophorectomy dilakukan bila dikhawatirkan ada keganasan pada ovarium.
3) Uterine artery embolization.
Merupakan prosedur baru dengan menyetop suplai darah ke bagian tumor. Caranya
dengan memasukkan kateter melalui arteri femoralis di paha, didorong sampai ke rahim
(dengan bantuan video x-ray). Setelah sampai arteri yang memberi makan tumor
disumbat menggunakan partikel seukuran pasir terbuat dari plastik atau gelatin. Karena
suplai darah terhenti, maka tumor mioma uteri-nya pun menyusut dan mati
5. Jelaskan mengenai etiopatogenesis dari kelainan menstruasi!
Etiopatogenesis kelainan menstruasi:
1) Amenorhea
Amenore merupakan ketiadaan haid selama dua bulan berturut-turut.PAmenorhea
ada dua macam , yaitu amenorrhea primer dan amenorrhea sekunder. Penyebab
amenorrhea sekunder yaitu adanya supresi pad hipotalamus (33%) anovulasi
kronik (28% ), hiperprolaktinemia (14%), kerusakan ovarium (12%) dan gangguan
pada Rahim (7%). Hal ini dibedakan menjadi amenorea primer dan amenorea
sekunder. Amenorea primer terjadi pada perempuan usia 18 tahun ke atas yang
tidak pernah mendapatkan haid sama sekali. Sedangkan amenorea sekunder yakni
keadaan dimana perempuan pernah mendapati haid tapi kemudian berhenti.
Amenorhea primer bisa terjadi karena tertutupnya saluran hymen.
2) Dismenorhea
Etiologi dan patofisiologi dismenore belum sepenuhnya dijelaskan.
Meskipun demikian,berikut ini beberapa poin yang mungkin terlibat.
Dysmenorrhea Primer
Bukti saat ini menunjukkan bahwa patogenesis dismenorea primer adalah karena
prostaglandin F2alpha (PGF2alpha), suatu stimulan miometrium yang kuat dan
vasokonstriktor, di endometrium sekretori. Respon terhadap inhibitor
prostaglandin pada pasien dengan dismenorea mendukung pernyataan bahwa
dismenorea diperantarai prostaglandin. Bukti substansial atribut dismenore dengan
kontraksi uterus yang berkepanjangan dan penurunan aliran darah ke miometrium.
Peningkatan tingkat prostaglandin ditemukan dalam cairan endometrium wanita
dengan dismenorea dan berhubungan baik dengan derajat nyeri. Sebuah
peningkatan 3 kali lipat dalam prostaglandin endometrium terjadi dari fase
folikuler ke fase luteal, dengan peningkatan lebih lanjut yang terjadi selama
menstruasi. Peningkatan prostaglandin di endometrium yang mengikuti penurunan
progesterone pada akhir fase luteal hasil nada miometrium dan kontraksi uterus
yang meningkat secara berlebihan.
Leukotrien meningkatkan sensitivitas dari serat nyeri di rahim. Jumlah signifikan
leukotrien telah ditunjukkan dalam endometrium wanita dengan dismenorea
primer yang tidak merespon pengobatan dengan antagonis prostaglandin.
Hormon vasopressin hipofisis posterior mungkin terlibat dalam hipersensitivitas
miometrium, berkurangnya aliran darah uterus, dan nyeri pada dismenore primer.
Vasopresin dalam endometrium mungkin terkait dengan sintesis prostaglandin dan
pelepasannya.
Sebuah hipotesis neuronal juga telah direkomendasikan untuk patogenesis
dismenorea primer. Tipe C pain neuron dirangsang oleh metabolit anaerob yang
dihasilkan oleh endometrium iskemik.
Dismenore primer juga telah dikaitkan dengan faktor perilaku dan
psikologis. Meskipun faktor-faktor tersebut belum terbukti secara pasti sebagai
penyebab, namun faktor-faktor tersebut harus dipertimbangkan jika pengobatan
gagal.
Penyebab dismenore yaitu:
Endometriosis

Penyakit radang panggul

Kista ovarium dan tumor

Stenosis atau oklusi serviks

Adenomyosis

Fibroid

Polip uterus

Adhesi intrauterine

Malformasi kongenital (misalnya, rahim bicornate, rahim subseptate

Kontrasepsi intrauterine perangkat

Transverse septum vagina

Panggul kemacetan sindrom

Allen-Masterssyndrome

3) Hipermenorhea

Pendarahan haid yang lebih banyak dari normal yang ditandai dengan waktu lebih
lama dari biasanya, yaitu lebih dari 14 hari. Penyebabnya adalah karena adanya
mioma uteri, polip endometrius, gangguan pelepasan endometrium, disfungsional
uteri hingga gangguan hormonal.
4) Hipomenorhea
Pendarahan haid yang lebih pendek atau kurang dari normal. Biasanya sering
terjadi kurang dari 2 hari. Penyebabnya bisa karena kesuburan endometrium atau
adanya penyakit menahun.
5) Polimenorhea
Pada kelainan ini, siklus mentruasi memendek. Siklus mentruasi yang biasanya
terjadi sekitar 28 hari, pada kasus polimenorea akan terjadi kurang dari 28 hari.
Yaitu sekitar 21 hari dan darah yang keluar bisa sama atau lebih banyak dari pada
biasanya. Kelainan ini biasanya terjadi karena adanya gangguan hormonal atau
adanya endometriosis (terdapat jaringan serupa sel rahim di luar rahim) atau
adanya peradangan.

6) Oligomenorhea
 Oligomenorea merupakan suatu kondisi dimana siklus haid lebih panjang, lebih
dari 35 hari (nomal: 25-35 hari). Apabila panjangnya siklus lebih dari tiga bulan,
hal itu sudah dinamakan amenorea. Perdarahan pada oligomenorea biasanya
berkurang.
 Oligomenorea dan amenorea sering kali mempunyai dasar yang sama,
perbedaannya terletak dalam tingkat. Pada kebanyakan kasus oligomenorea
kesehatan wanita tidak terganggu, dan fertilitas cukup baik. Siklus haid biasanya
juga ovulator dengan masa proliferasi lebih panjang dari biasanya.
 Oligomenore yang terjadi pada remaja, seringkali disebabkan karena kurangnya
sinkronisasi antara hipotalamus, kelenjar pituari dan indung telur. Hipotalamus
merupakan bagian otak yang mengatur suhu tubuh, metabolisme sel dan fungsi
dasar seperti makan, tidur dan reproduksi. Hipotalamus mengatur pengeluaran
hormon yang mengatur kelenjar pituari. Kemudian kelenjar pituari akan
merangsang produksi hormon yang mempengaruhi pertumbuhan dan reproduksi.
Pada awal dan akhir masa reproduksi wanita, beberapa hormon tersebut dapat
menjadi kurang tersinkronisasi, sehingga akan menyebabkan terjadinya haid yang
tidak teratur.
 Oligomenorea yang menetap dapat terjadi akibat dari:
1. Perpanjangan stadium follikuler.
2. Perpanjangan stadium luteal.
3. Kedua stadium diatas menjadi panjang.
 Pada PCOS (polycystic ovary syndrome), oligomenore dapat disebabkan oleh
kadar hormon wanita & hormon pria yang tidak sesuai. Hormon pria diproduksi
dalam jumlah yang kecil oleh setiap wanita, tetapi pada wanita yang mengalami
PCOS, kadar hormon pria tersebut (androgen) lebih tinggi dibandingkan pada
wanita lain. Pada atlet wanita, model, artis, penari, oligomenore terjadi karena rasio
antara lemak tubuh dengan berat badan turun sangat jauh.
PENYEBAB OLIGOMENOREA
 Oligomenorea biasanya berhubungan dengan anovulasi atau dapat juga
disebabkan kelainan endoktrin seperti kehamilan, gangguan hipofise-hipotalamus,
dan menopouse atau sebab sistematik seperti kehilangan berat badan berlebih.
Dapat juga terjadi pada wanita dengan sindrom ovarium polikistik dimana pada
keadaan ini dihasilkan androgen yang lebih tinggi dari kadar pada wanita normal.
Oligomenore dapat juga terjadi pada stress fisik dan emosional, penyakit kronis,
tumor yang mensekresikan estrogen dan nutrisi buruk. Oligomenorrhe dapat juga
disebabkan ketidak seimbangan hormonal seperti pada awal pubertas.Oligomenore
yang menetap dapat terjadi akibat perpanjangan stadium folikular, perpanjangan
stadium luteal, ataupun perpanjang kedua stadium tersebut. Bila siklus tiba-tiba
memanjang maka dapat disebabkan oleh pengaruh psikis atau pengaruh penyakit.

GEJALA-GEJALA DARI OLIGOMENOREA MELIPUTI :


1. Periode siklus menstruasi yang lebih dari 35 hari sekali, dimana hanya
didapatkan 4-9 periode dalam 1 tahun.
2. Haid yang tidak teratur dengan jumlah yang tidak tentu.
3. Pada beberapa wanita yang mengalami oligomenore terkadang juga mengalami
kesulitan untuk hamil.
 Bila kadar estrogen yang menjadi penyebab, wanita tersebut mungkin
mengalami osteoporosis dan penyakit kardiovaskular. Wanita tersebut juga
memiliki resiko besar untuk mengalami kanker uterus.

6. Jelaskan penggunaan obat-obatan yang sering digunakan untuk mengatasi gangguan


menstruasi
Obat-obatan yang sering digunakan untuk mengatasi gangguan menstruasi:
a. Amenorhea
Amenorhea primer dan sekunder : Estrogen 0,625 – 1,25 mcg setiap hari, etinil
estradiol 50-100mcg setiap hari,
Amenorhea sekunder : 10mg setiap hari
Amenorhea karena hiperprolaktinemia : bromokriptin 2.5 mg 2-3 kali sehari
b. Dismenorhea
1) Analgetik :
Asam mefenamat 500 mg pada dosis awal, selanjutnya 250mg empat kali
sehari ,
Ibuprofen 800mg 3 kali sehari,
Diclofenac sodium 50mg 3 kali sehari
2) Sedative : Diazepam 2 mg 3 x sehari atau sesuai kondisi pasien
3) Antispasmodik: atropin sulfat, disikloverin hidroklorida, propantelin
bromida dan hiosin butilbromida.
4) Kontrasepsi oral : diberikan pil KB dosis rendah yang mengandung estrogen
dan progestreron atau diberikan medroksiprogesteron asetat 150mg setiap 12
minggu.
5) Tokolitik : Nipedipin, terbutalin, indometasin, atosiban
c. Disfungsional Uterus Bleeding (DUB)
Dengan memberikan terapi hormone kombinasi estrogen dan progesterone
d. Pseudomenorhea/Kriptomenorhea
Tidak menggunakan terapi obat, cukup dengan insisi selaput dara (hymen)
e. Menorhagie
Dengan kontrasepsi oral kombinasi , dengan kontrasepsi oral (tunggal) dengan
dosis 35mcg atau lebih estradiol, medroksiprogesteron asetat per oral selama fase
luteal 5-10 mg , asam traneksamat 1300 mg dalam dosis terbagi
f. Polymenorhea
Terapi dengan estrogen atau kombinasi estrogen dan progesterone

7. Jelaskan mekanisme kerja obat-obatan hormonal sebagai metode kontrasepsi


Mekanisme Kerja obat-obat hormonal sebagai metode kontrasepsi :
a. Estrogen
1) Menekan ovulasi dengan membuat kadar estrogen tetap rendah sepanjang siklus
menstruasi, jadi tidak terjadi lonjakan kadar FSH dan LH pada pertengahan
siklus menstruasi
2) Menekan perkembangan folikel
3) Mencegah implantasi dengan cara mengganggu keeimbangan estrogen dan
progesterone yang menyebabkan pola endometrium abnormal sehingga
endometrium menjadi tidak baik untuk implantasi
b. Progesteron
1) Menghambat ovulasi dengan cara membuat kadar progesteron tetap rendah
sepanjang siklus menstruasi, jadi tidak terjadi lonjakan kadar FSH dan LH
pada pertengahan siklus menstruasi
2) Mengentalkan lender serviks sehingga menghambat pergerakan dan daya
penetrasi sperma
3) Memperlambat transportasi telur

8. Jelaskan keuntungan dan kerugian antara metode kontrasepsi hormonal pil dan injeksi
Keuntungan dan kerugian metode kontrasepsi hormonal pil:
a. Keuntungan :
 Efektifitas tinggi : mencapai 99,9%
 Risiko kesehatan kecil
 Tidak dilakukan pemeriksaan dalam
 Tidak mengganggu hubungan seksual
 Mudah digunakan
 Dapat mengurangi resiko kanker endometrium dan kanker ovarium
 Menstruasi lebih teratur
 Mempunyai efek proteksi terhadap PID

b. Kerugian :
 Mahal
 Harus diminum setiap hari, jika lupa maka kontrasepsi gagal
 Kadang-kadang terjadi Spotting/breakthrough bleeding
 Interaksi dengan obat lain yang menurunkan kadar hormone kontrasepsi
sehingga menyebabkan kontrasepsi gagal, misalnya dengan antikonvulsan
seperti karbamazepin, fenitoin, dan topiramat
 Tidak dapat mencegah PMS(Penyakit Menular Seksual)
 Ada efek samping hipertensi

Keuntungan dan kerugian metode kontrasepsi injeksi :


a. Keuntungan :
 Kadar relatif tetap
 Kadar dalam darah / jaringan relatif rendah sehingga tidak menganggu fungsi
reproduksi ditingkat pusat
 Campur tangan medis & kunjungan ulang berkurang
 Dapat diterima dgn baik dan efektif
b. Kerugian :
 Sering ditemukan gangguan haid, seperti siklus haid memendek atau
memanjang, perdarahan terlalu banyak atau sedikit, perdarahan tidak teratur
atau ada spotting, tidak haid samasekali.
 Pasien sangat bergantung pada sarana pelayanan kesehatan(tidak bisa
digunakan secara mandiri)
 Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum periode penyuntikan
berikutnya
 Tidak menjamin perlindungan terhadap PMS
 Terlambatnya kembalinya kesuburan setelah menghentikan pemakaian (karena
belum habisnya pelepasan obat dari deponya)
 Peningkatan berat badan
 Menimbulkan kekeringan pada vagina, menurunkan libido, sakit kepala,
jerawat

9. Jelaskan mekanisme kerja Norplant sebagai metode kontrasepsi


Mekanisme Kerja Norplant:
 Mencegah ovulasi
 Mengentalkan lender serviks sehhingga menyulitkan sperma untuk melakukan
penetrasi
 Menimbulkan perubahan-perubahan pada endometrium yang mengakibatkan
endometrium menjadi hypoplasia sehingga tidak cocok untuk implantasi zigot
 Produksi “progesteron alami” dari ovarium menurun (selama pasca ovulasi /
selama fase luteal)

10. Jelaskan keuntungan dan kerugian metode injeksi dan implant


a. Keuntungan Metode injeksi dan implan
 Perlindungan efektif (mencapai > 99%)
 Kadar relatif tetap
 Kadar dalam darah / jaringan relatif rendah sehingga tidak menganggu fungsi
reproduksi ditingkat pusat
 Campur tangan medis & kunjungan ulang berkurang (suntik 1 atau 3 bln sekali
, Implan 5 tahun sekali)
b. Kerugian Metode injeksi dan implan:
 Sering ditemukan gangguan haid, seperti siklus haid memendek atau
memanjang, perdarahan terlalu banyak atau sedikit, perdarahan tidak teratur
atau ada spotting, atau tidak haid samasekali.
 Pasien sangat bergantung pada sarana pelayanan kesehatan (tidak bisa
digunakan secara mandiri)