Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Cedera kepala merupakan suatu kegawatan yang paling sering dijumpai di
unit gawat darurat suatu rumah sakit. Cedera kepala adalah suatu trauma mekanik
pada kepala baik secara langsung atau tidak langsung yang menyebabkan
gangguan fungsi neurologis yaitu gangguan fisik, kognitif, fungsi psikososial,
baik temporer maupun permanen. Cedera kepala dapat disebut juga dengan head
injury ataupun traumatic brain injury. Kedua istilah ini sebenarnya memiliki
pengertian yang sedikit berbeda. Head injury merupakan perlukaan pada kulit
kepala, tulang tengkorak, ataupun otak sebagai akibat dari trauma. Sedangkan,
traumatic brain injury merupakan gangguan fungsi otak ataupun patologi pada
otak yang disebabkan oleh kekuatan (force) eksternal yang dapat terjadi di mana
saja.1,2,3
Setiap tahun di Amerika Serikat mencatat 1,7 juta kasus cedera kepala,
52.000 pasien meninggal dan selebihnya di rawat inap. Cedera kepala juga
merupakan penyebab kematian ketiga dari semua jenis cedera yang dikaitkan
dengan kematian. Diperkirakan 80.000-90.000 orang di Amerika Serikat
mengalami kecacatan yang lama akibat cedera otak. Insiden cedera kepala lebih
tinggi di negara berkembang. World Health Organization (WHO) meramalkan
cedera kepala dan kecelakaan lalu lintas akan menjadi penyebab kematian ke-3 di
seluruh dunia pada tahun 2020. Di Indonesia, belum terdapat data nasional
mengenai cedera kepala.4,5,6
Penyebab utama cedera kepala adalah kecelakaan lalu lintas, kekerasan dan
terjatuh. Kecelakaan kendaraan di jalan adalah penyebab terbanyak dari cedera
kepala yaitu 60%, kemudian jatuh (20-25%), dan 10% karena akibat kekerasan.
Kecelakaan kendaraan bermotor didominasi oleh kelompok usia 15-40 tahun.
Angka kejadian cedera kepala pada laki-laki 58% lebih banyak dibandingkan
perempuan. Hal ini disebabkan karena mobilitas yang tinggi di kalangan usia
produktif sedangkan kesadaran untuk menjaga keselamatan di jalan masih rendah
disamping penanganan pertama yang belum benar serta rujukan yang terlambat.7,8
Kejadian cidera kepala di Amerika Serikat setiap tahunnya diperkirakan
mencapai 500.000 kasus. Dari jumlah tersebut, 10 % meninggal sebelum tiba di
rumah sakit. Yang sampai di rumah sakit, 80 % dikelompokkan sebagai cedera
kepala ringan (CKR), 10% termasuk cedera kepala sedang (CKS), dan 10%
sisanya adalah cedera kepala berat (CKB).1
Insiden cedera kepala terutama terjadi pada kelompok usia produktif antara
15-44 tahun. Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab 48%-53% dari insiden
cedera kepala, 20%-28% lainnya karena jatuh dan 3%-9% lainnya disebabkan
tindak kekerasan, kegiatan olahraga dan rekreasi. Jumlah ini merupakan sepertiga
daritotal kematian akibat kejadian cedera.1
Untuk itulah pada refrat ini kami akan membahas cedera kepala terutama
yang berkaitan dengan bidang kedokteran forensik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi
Anatomi daerah kranium termasuk scalp (kulit kepala), tulang tengkorak,
meningen, otak, sistem ventrikuler, dan kompartemen intrakranial.5

Gambar 1. Anatomi Kranium Secara Umum.5

2.1.1 Kulit Kepala (Scalp)


Kulit kepala terdiri dari 5 lapisan yang disebut sebagai SCALP: 5,9,10
a. Skin atau kulit yang banyak mengandung kelenjar sebasea, tebal, dan
berambut.
b. Connective Tissue / subcutaneous tissue (jaringan ikat/subkutan),
merupakan jaringan lemak fibrosa yang terletak di bawah kulit. Septa
fibrosa menghubungkan kulit dengan aponeurosis m. occipitofrontalis.
Lapisan ini merupakan lapisan yang paling kaya akan pembuluh darah
subkutan di tubuh, berasal dari cabang-cabang a. carotis eksterna dan
interna.
c. Aponeurosis atau Galea Aponeurotika, merupakan lembaran tendo yang
tipis, menghubungkan venter ocipitale dan venter frontale m.
occipitofrontalis. Lapisan ini seringkali disebut dengan lapisan
aponeurosis (galea aponeurotika). Ketiga lapisan paling luar dari bagian
kulit kepala ini seringkali longgar pada lapisan di bawahnya yaitu
jaringan ikat longgar (loose connective tissue).
d. Loose areolar tissue atau jaringan penunjang longgar. Jaringan ikat longgar
yang menempati ruang subaponeurotik. Jaringan ikat ini banyak mengandung
arteri kecil dan v.emissaria yang penting.
e. Perikranium atau periosteum merupakan periosteum yang menutupi
permukaan luar tulang tengkorak.

Gambar 2. Struktur Kulit Kepala12

Kulit kepala juga kaya akan vaskularisasi. Struktur pembuluh darah


tersebar di dalam lapisan kedua dari kulit kepala, yaitu lapisan jaringan ikat
(connective tissue) yang terletak subkutan di antara kulit dan aponeurosis
epikranial. Arteri yang memperdarahi kulit kepala berasal dari percabangan arteri
carotis eksterna (a.oksipitalis, a.aurikularis posterior, dan a.temporalis superfisial)
dan arteri karotis interna (a.supraorbital dan a.supratrochlear). Arteri-arteri ini
beranastomosis secara bebas dengan arteri yang berdekatan dan menyeberang ke
bagian tengah untuk bertemu dengan arteri dari sisi kontralateral. Dinding arteri-
arteri ini terlekat erat pada jaringan ikat di sekitarnya. Arteri dari kulit kepala
sangat sedikit sekali mensuplai vaskularisasi ke neurokaranium, sebagian besar
vaskularisasinya berasal dari a.meningea media.11, 12

Gambar 3. Suplai Darah Scalp12

Drainase vena pada kulit kepala berasal dari vena yang berjalan bersama
dengan arteri kulit kepala, yaitu v.supraorbital dan v.supratrokhlear yang
merupakan percabangan dari v.fasialis serta v.temporalis superfisial, v.aurikularis
posterior, dan v.oksipitalis yang merupakan percabangan dari v.jugularis eksterna.
Selain itu, drainase vena kulit kepala pada lapisan yang agak lebih dalam oleh
v.temporalis profunda yang merupakan percabangan dari v.jugularis interna.11,12

Gambar 4. Drainase Vena Scalp12


Trauma yang mungkin terjadi pada kulit kepala adalah abrasi, kontusi dan
laserasi. Pada otopsi, rambut pada bagian kulit kepala yang mengalami trauma
harus dicukur dengan hati-hati untuk melihat adanya abrasi atau memar pada kulit
kepala. Selain itu perdarahan pada kepala juga dapat ditemukan di bawah
perikranium, biasanya berhubungan dengan fraktur tengkorak. Memar yang
berada di bawah kulit kepala dapat terlihat jelas segera setelah kejadian atau
tertunda. Memar akan terlihat semakin jelas dalam beberapajam atau hari setelah
kematian.14

2.1.2 Tulang Tengkorak


Secara umum, tulang tengkorak terdiri dari 3 tulang, yaitu: kranium, tulang
wajah dan mandibula. Kranium terdiri dari dua bagian yaitu neurokranium dan
viserokranium. Neurokranium dibagi lagi menjadi kalvaria (kubah kranium) dan
basis kranium (basis cranii). Kalvaria dibentuk dari tulang pipih (frontal, parietal,
dan oksipital) dan osifikasi intramembranosa mesenkim, sedangkan basis cranium
dibentuk dari tulang ireguler (sfenoid dan temporal). Tulang kranium melindungi
otak, nervus kranialis, meningen, dan pembuluh-pembuluh darah dan cairan
serebrospinal di dalam rongga kranium. Tulang penyusun cranium yaitu 1 os
frontale, 2 os parietale, 1 os occipitale, 2 os temporale, 1 os sphenoidale, dan 1 os
ethmoidal. Viserokranium membentuk tulang wajah dan bagian anterior kranium.
Viserokranium terdiri dari 15 tulang ireguler; 3 tulang singular pada midline
(mandibula, etmoid, dan vomer) dan 6 pasang tulang terletak bilateral (maksila,
konka nasal inferior, dan tulang zigomatikum, palatum, nasal, dan lakrimal).
Tulang tengkorak disusun dari beberapa tulang yang saling bersendi pada sendi
yang tidak bergerak disebut sutura. Jaringan ikat di antara tulang-tulang disebut
ligamentum sutura. Mandibula merupakan pengecualian karena tulang ini
berhubungan dengan cranium melalui articulatio temporomandibularis yang
bergerak.9, 12
Tulang tengkorak merupakan struktur tulang kompleks yang ada di tubuh;
tulang tengkorak pada dewasa muda terdiri dari sekitar 28 tulang, yang sebagian
berpasangan; beberapa tulang pada bagian tengah biasanya tidak memiliki
pasangan, meskipun simetris (saling mirip). Ketebalan frontal dan parietal rata-
rata pada dewasa muda laki-laki adalah antara 6 dan 10 mm. Daerah paling tipis
berada di dalam tulang temporal dengan ketebalan 4 mm, sementara di oksipital
mungkin berkisar antara 15 mm atau bahkan lebih. Sumsum tulang yang ada pada
tengkorak merupakan suatu tempat hemopoeiesis, setidaknya pada dewasa muda.
Tulang-tulang kalvaria ini terbentuk dari suatu osifikasi intramembran dari suatu
jaringan ikat yang sangat kaya akan pembuluh darah.9,14

Gambar 5. Tulang Tengkorak12


Permukaan luar dan dalam calvaria memperlihatkan sutura coronalis,
sagittalis, dan lambdoidea. Titik pertemuan antara sutura coronalis kiri-kanan dan
sutura sagittalis disebut bregma dan titik pertemuan sutura lambdoidea kiri-kanan
dan sutura sagittalis disebut lambda. Calvaria khususnya di bagian temporal
adalah tipis, namun disini dilapisi oleh otot temporal yang tebal.11
Gambar 6. Bagian Dalam Kalvaria.

Dasar tulang tengkorak (basis cranii) berbentuk iregular dan tidak rata,
sehingga dapat melukai otak sebagai akibat proses akselerasi dan deselerasi.
Rongga tengkorak dasar (basis cranii) dibagi atas 3 fossa yaitu : fossa anterior,
fossa media, dan fossa posterior. Fossa anterior berisi lobus frontalis, fossa medial
berisi lobus temporal, dan fossa posterior berisi cerebellum, pons, dan medulla
oblongata.5,10
Basis krani pada bagian fossa anterior berbatasan dengan tulang frontal
pada bagian anterior dan ala minor ossis sphenoidalis pada bagain posterior.
Dasarnya terdiri dari orbital plate (bagian tulang frontal) dan lamina cribriformis
yang tipis menyerupai kerupuk dan juga galli crista dari tulang ethmoid, serta
jugum sphenoidale, dan sulkus prekiasma dari tulang sphenoid. Crista galli
merupakan tempat melekatnya falx cerebri. Terdapat foramen cecum untuk tempat
lewatnya vena kecil dari mukosa hidung menuju sinus sagitalis superior.9,10
Basis krani pada bagian fossa medial terbentuk dari tulang sphenoid dan
temporal yang menyokong lobus temporal otak. Fossa medial dibatasi di bagian
depan oleh bagian posterior sphenoid, di belakang tepi superior bagian petrosa
tulang temporal, dan lateral dibatasi oleh bagian skuamosa dari tulang tempral dan
bagian besar dari sphenoid, serta medial oleh aspek lateral dari tulang sphenoid,
termasuk sulkus karotid, sella turcica dan dorsum sellae.9
Gambar 7. Basis Cranii12

Basis kranii pada bagian fossa posterior terbentuk dari tulang sphenoid,
temporal dan oksipital. Fossa ini berisi serebelum, pons dan medulla oblongata.
Fossa ini dibatasi di bagian depan oleh dorsum sellae, aspek posterior tulang
sphenoid, dan bagian basiler dari tulang oksipital; di belakang bagian skuamosa
dari tulang oksipital; dan berbatasan di lateral dengan bagian petrosa dan mastoid
dari tulang temporal serta bagian condylar tulang oksipital.9
Trauma yang terjadi pada tulang tengkorak yaitu fraktur tulang tengkorak.
60% fraktur tulang tengkorak adalah jenis fraktur linear. Fraktur dapat terjadi
dimana saja, namun paling sering terjadi pada daerah terlemak, yaitu tuang
temporal, frontal, parietal, dan oksipital. Fraktur linear pada dasar tengkorak
melewati dasar fossa media kemudian petrous temporal atau bahkan tulang
sfenoid hingga menuju fossa pituitari. Hal ini menyebabkan tulang tengkorak
terpisah menjadi dua bagian. Fraktur linear dapat membentuk garis horizontal di
sekitar tengkorak, biasanya di sekitar area temporal dan cenderung lebih sering
melewati oksipital dibanding frontal. Fraktur linear pada anak-anak dan dewasa
muda dapat melewati sutura, paling sering terlihat pada sutura sagitalis dan
menyebabkan diastasis.13
2.1.3 Meningen
Meningen merupakan membran yang menutupi permukaan otak dan
terletak pada bagian dalam kranium. Meningen berfungsi untuk melindungi otak,
membentk rangka untuk jalannya arteri, vena, dan sinus venosus, menutup kavitas
yang berisi cairan, ruang subarakhnoid yang penting bagi fungsi normal otak.
Selaput meningen terdiri dari 3 lapisan yaitu: duramater, arakhnoid, dan piamater.
Duramater diperdarahi sebagian besar oleh a.meningea media cabang frontal
(anterior) dan parietal (posterior) yang merupakan percabangan dari a.maksilaris
yang masuk ke fossa media cranium melalui foramen spinosum. Sebagian kecil
vaskularisasi nya juga berasal dari cabang a.ofthalmika, a.occipitalis, dan
a.vertebralis. Drainase vena pada lapisan duramater berjalan beriringan dengan
a.meningea media, yaitu v.meningea media.10,12
Duramater adalah selaput yang keras, terdiri atas jaringan ikat fibrosa
yang melekat erat pada permukaan dalam kranium. Duramater dibagi menjadi dua
lapisan secara konvensional, yaitu lapisan endosteal dan lapisan meningeal.
Lapisan endosteal adalah periosteum yang melapisi bagian dalam dari tulang
tengkorak. Lapisan ini tidak meluas sampai foromen magnum untuk berhubungan
dengan duramater medulla spinalis. Lapisan meningeal adalah membran fibrous
yang padat dan kuat, melapisi otak dan melewati foramen magnum untuk melapisi
medulla spinalis. Karena tidak melekat pada selaput araknoid di bawahnya, maka
terdapat suatu ruang potensial (ruang subdural) yang terletak antara duramater dan
araknoid, dimana sering dijumpai perdarahan subdural.10
Arakhnoid adalah membran impermeabel yang melapisi otak dan
memiliki 2 komponen, yaitu lapisan yang berkontak dengan duramater dan sebuah
sistem trabekel yang menghubungkan lapisan itu dengan piamater. Rongga di
antara trabekel membentuk ruang subarakhnoid, yang terisi cairan serebrospinal
(CSF). Pada beberapa bagian, arakhnoid menerobos dura mater, membentuk
juluran-juluran yang berakhir pada sinus venosus dalam duramater. Juluran ini
(yang dilapisi oleh sel-sel endotel dari vena) disebut vili araknoid, fungsinya ialah
untuk menyerap cairan serebrospinal ke dalam darah dari sinus venosus.10
Piamater adalah membran vaskuler yang melapisi otak dengan menyusuri
girus dan sulkus. Pembuluh darah menembus SSP melalui terowongan yang
dilapisi oleh piamater, disebut ruang perivaskular. Piamater lenyap sebelum
pembuluh darah ditransformasi menjadi kapiler) Pada cedera otak, pembuluh-
pembuluh vena yang berjalan pada permukaan otak menujusinus sagitalis superior
di garis tengah atau disebut Bridging Veins, dapat mengalami robekan dan
menyebabkan perdarahan subdural. Sinus sagitalis superior mengalirkan darah
vena ke sinus transversus dan sinus sigmoideus. Laserasi dari sinus-sinus ini dapat
mengakibatkan perdarahan hebat.10

Gambar 8. Lapisan meningen12


Jenis trauma yang terjadi pada lapisan meningen adalah perdarahan
intrakranial. Perdarahan intrakranial terdiri dari perdarahan epidural, perdarahan
subdural, dan perdarahan subarakhnoid. Perdarahan epidural sering terjadi di
daerah parietotemporal, disebabkan pecahnya cabang a.meningeal media.
Perdarahan subdural terjadi antara duramater dan arakhnoid, sering terjadi pada
daerah frontal, parietal, dan temporal. Pada temuan otopsi, perdarahan subdural
berangsur berubah warna dari merah tua menjadi kecoklatan. Perdarahan tidak
terlihat jelas sebelum hari kelima sampai 12 hari. Sebuah 'neomembrane' yang
halus, secara histologis tersusun dari kapiler berdinding tipis dan jaringan
granulasi fibroblastik, tumbuh dari pinggiran untuk menutupi permukaan luar
(dural) selama beberapa hari dan minggu berikutnya. Jika tidak terjadi
pembesaran lebih lanjut, kapsul ini menjadi lebih fibrotik. Perdarahan
subarakhnoid melibatkan dasar otak dan meluas hingga ke sisi lateral otak
sehingga serupa dengan perdarahan yang berhubungan dengan aneurisma pada
arteri besar yang terdapat di dasar otak. Sebagian besar kematian yang cepat
menunjukkan pendarahan yang cukup besar dalam basal cistern saat otopsi,
batang otak dan serabut saraf kranial dipenuhi oleh darah yang menggumpal.13

2.1.4 Otak
Otak merupakan bagian susunan saraf pusat yang terletak dalam kavum
kranium dan berlanjut sebagai medulla spinalis setelah melalui foramen magnum.
Otak manusia terdiri dari serebrum, serebelum dan batang otak.5
a. Serebrum
Serebrum terdiri atas hemisfer kanan dan kiri yang dipisahkan oleh
falx serebri yaitu lipatan duramater yang berada di inferior sinus sagitalis
superior. Setiap hemisfer serebral dibagi menjadi empat lobus. Secara
superior serebrum dibagi menjadi empat oleh fisura serebral dan sulcus
central corona. Sulcus central ini membagi lobus frontal dan lobus parietal.
Pada bagian lateral terdapat sulcus lateral yang membagi lobus bagian atas
dan lobus temporal inferior. Pada bagian posterior terdapat lobus
oksipital.12
Pada hemisfer serebri kiri terdapat pusat bicara manusia yang
bekerja dengan tangan kanan, namun juga pada 85% orang yang kidal.
Hemisfer otak yang mengandung pusat bicara sering disebut sebagai
hemisfer dominan. Lobus frontalis berkaitan dengan fungsi emosi, fungsi
motorik dan pada sisi dominan mengandung pusat ekspresi bicara (area
bicara motorik). Lobus parietalis berhubungan dengan fungsi sensorik dan
orientasi ruang. Lobus temporalis mengatur fungsi memori tertentu. Pada
semua orang yang bekerja dengan tangan kanan dan sebagian besar orang
kidal, lobus temporalis kiri tetap merupakan lobus yang dominan karena
bertanggung jawab dalam kemampuan berbicara. Lobus temporalis yang
non-dominan relatif tidak banyak berfungsi aktif. Lobus oksipitalis
berukuran lebih kecil dan berfungsi dalam penglihatan.
b. Serebelum
Serebelum bertanggung jawab dalam fungsi koordinasi dan
keseimbangan dan terletak dalam fossa posterior, berhubungan dengan
medula spinalis batang otak dan kedua hemisfer serebri.

c. Batang Otak
Batang otak terdiri dari mesensefalon (midbran), pons dan medula
oblongata. Mesensefalon dan pons bagian atas berisi sistim aktivasi
retikulasi yang berfungsi dalam kesadaran dan kewaspadaan. Pada medula
oblongata berada pusat vital kardiorespiratorik yang terus memanjang
sampai medula spinalis di bawahnya. Lesi yang kecil saja pada batang
otak sudah dapat menyebabkan defisit neurologis yang berat. Namun
demikian lesi-lesi di batang otak sering tidak tampak jelas pada CT Scan
kepala.
Gambar 8. Otak12

Otak disuplai oleh dua a.carotis interna (80%) dan dua a.vertebralis (20%).
Keempat arteri ini beranastomosis pada permukaan inferior otak dan membentuk
circulus Willisi (circulus arteriosus). Dua arteri carotis interna masing-masing
bercabang menjadi a.cerebri media (cabang terbesar yang mensuplai darah untuk
lobus temporalis, parietalis, dan frontalis korteks serebri), a.cerebri anterior
(memberi suplai darah pada struktur-struktur seperti nucleus kaudatus dan
putamen basal ganglia, kapsula interna, korpus kalosum dan bagian-bagian medial
lobus frontalis dan parietalis serebri, termasuk korteks somastetik dan korteks
motorik), a.communicans posterior, a.ophtalmica, dan a.choroidea. Sedangkan dua
arteri vertebralis akan bergabung pada pinggir bawah pons dan membentuk
a.basilaris yang memasuki tengkorak melalui foramen magnum. Arteri basilaris
akan bercabang menjadi dua cabang besar, yaitu a.cerebri posterior (kanan-kiri).
Cabang-cabang sistem vertebrobasilaris ini memperdarahi medula oblongata,
pons, serebelum,otak tengah dan sebagian diensefalon.12

Gambar 9. Suplai Darah Otak12

2.2 Fisiologi
2.2.1 Tekanan Intrakranial (TIK)
Berbagai proses patologis yang mengenai otak dapat mengakibatkan
kenaikan tekanan intrakranial yang selanjutnya akan mengganggu fungsi otak
yang akhirnya berdampak buruk terhadap kesudahan penderita. Dan tekanan
intrakranial yang tinggi dapat menimbulkan konsekuensi yang mengganggu
fungsi otak dan tentunya mempengaruhi pula kesembuhan penderita.Jadi, TIK
tidak hanya merupakan indikasi adanya masalah serius dalam otak tetapi justru
sering merupakan masalah utamanya. TIK normal pada saat istirahat kira-kira 10
mmHg (136 mmH20), TIK lebih tinggi dari 20 mmHg dianggap tidak normal dan
TIK lebih dari 40 mmHg termasuk dalam kenaikan TIK berat. Semakin tinggi
TIK setelah cedera kepala, semakin buruk prognosisnya.5,9

2.2.2 Doktrin Monro-Kellie


Doktrin Monro-Kellie adalah suatu konsep sederhana yang dapat
menerangkan pengertian dinamika TIK. Konsep utamanya adalah bahwa volume
intrakranial selalu konstan, karena rongga craniumpada dasarnya merupakan
rongga yang tidak mungkin mekar. TIK yang normal tidak berarti tidak adanya
lesi massa intrakranial, karena TIK umumnya tetap dalam batas normal sampai
kondisi penderita mencapai titik dekompensasi dan memasuki fase ekspansional
kurva tekanan-volume. Bila terdapat penambahan massa seperti adanya
hematoma akan menyebabkan tergesernya CSF dan darah vena keluar dari ruang
intracranial dengan volume yang sama, TIK akan tetap normal. Namun bila
mekanisme kompensasi ini terlampaui maka kenaikan jumlah massa yang sedikit
saja akan menyebabkan kenaikan TIK yang tajam.5,9

Gambar 10.Doktrin Monro-Kellie5

2.2.3 Tekanan Perfusi Otak (TPO)


Tekanan Perfusi Otak (TPO) mempertahankan tekanan darah yang
adekuat pada penderita cedera kepala adalah sangat penting, dan ternyata dalam
observasi selanjutnya Tekanan Perfusi Otak (TPO) adalah indikator yang sama
pentingnya dengan TIK.5,9
TPO mempunyai formula sebagai berikut:

TPO = TAR – TIK


(TAR = Tekanan Arteri Rata-rata; Mean arterial pressure)

TPO kurang dari 70 mmHg umumnya berkaitan dengan kesudahan yang


buruk pada penderita cedera kepala. Pada keadaan TIK yang tinggi ternyata
sangat penting untuk tetap mempertahankan tekanan darah yang normal.
Beberapa penderita tertentu bahkan membutuhkan tekanan darah yang di atas
normal untuk mempertahankan TPO yang adekuat. Mempertahankan TPO adalah
prioritas yang sangat penting dalam penatalaksanaan penderita cedera kepala
berat.5,9
2.2.4 Aliran Darah Otak (ADO)
ADO normal ke dalam otak kira-kira 50 mL/100 gr jaringan otak per
menit. Bila ADO menurun sampai 20-25mL/100gr/menit maka aktivitas EEG
akan hilang dan pada ADO 5 ml/100gr/menit sel-sel otak mengalami kematian
dan terjadi kerusakan menetap. Pada penderita non-trauma, fenomena
autoregulasi mempertahankan ADO pada tingkat yang konstan apabila tekanan
arteri rata-rata 50-160 mmHg. Bila tekanan arteri rata-rata di bawah 50 mmHg,
ADO menurun curam dan bila tekanan arteri rata- rata di atas 160 mmHg terjadi
dilatasi pasif pembuluh darah otak dan ADO meningkat. Mekanisme autoregulasi
sering mengalami gangguan pada penderita cedera kepala. Akibatnya, penderita-
penderita tersebut sangat rentan terhadap cedera otak sekunder karena iskemia
sebagai akibat hipotensi yang tiba-tiba.Sekali mekanisme kompensasi tidak
bekerja dan terjadi kenaikan eksponensial TIK, perfusi otak sangat berkurang,
terutama pada penderita yang mengalami hipotensi. Karenanya bila terdapat
hematoma intra cranial, haruslah dikeluarkan sedini mungkin dan tekanan darah
yang adekuat tetap harus dipertahankan.5,9
2.3 Fungsi Luhur
Otak memiliki kurang lebih 15 miliar neuron yang membangun substansia
alba dan substansia grisea. Otak merupakan organ yang sangat kompleks dan
sensitif. Fungsinya sebagai pengendali dan pengatur seluruh aktivitas, seperti :
gerakan motorik, sensasi, berpikir, dan emosi. Sel-sel otak bekerja bersama- sama
dan berkomunikasi melalui signal-signal listrik. Kadang- kadang dapat terjadi
cetusan listrik yang berlebihan dan tidak teratur dari sekelompok sel yang
menghasilkan serangan.
Darah merupakan sarana transportasi oksigen, nutrisi, dan bahan-bahan
lain yang sangat diperlukan untuk mempertahankan fungsi penting jaringan otak
danmengangkat sisa metabolit. Kehilangan kesadaran terjadi bila aliran darah ke
otak berhenti 10 detik atau kurang. Kerusakan jaringan otak yang permanen
terjadi bila aliran darah ke otak berhenti dalam waktu 5 menit.
Fungsi luhur merupakan sifat khas manusia. Fungsi luhur dalam keadaan
normal merupakan fungsi integritas tertinggi otak berupa kemampuan berpikir
dan memberikan rasional. Yang termasuk di dalam fungsi luhur adalah fungsi
bahasa, persepsi, memori dan emosi. Gangguan kognitif erat kaitannya dengan
fungsi otak, karena kemampuan pasienuntuk berpikir akan dipengaruhi oleh
keadaan otak.

Gambar 1. Lobus otak


Gambar 2. Brodmann’s area

2.3.1 Lobus Frontal


Lobus frontal hemisfer serebri, terutama area prefrontal, merupakan area
yang penting untuk fungsi eksekutif normal, sementara lobus ventromedial frontal
memiliki peran yang penting dalam kognisi social, kepribadian, dan perilaku.
Lobus frontal berfungsi sebagai bagian “eksekutif” dari korteks. Lobus tersebut
berperan serta dalam fungsi luhur korteks yang meliputi penalaran dan abstraksi;
perencanaan dan inisiasi gerakan; pengawasan dan pembentukan perilaku untuk
memastikan perilaku adaptif; menghambat perilaku maladaptif; memprioritaskan
dan mengurutkan gerakan; pemecahan masalah; mengkoordinasikan fungsi
motorik dan sensorik ke dalam urutan perilaku yang koheren dan memiliki tujuan.
Kerusakan pada lobus frontal (seperti dapat terjadi pada tumor otak atau
trauma kepala) dapat menghasilkan perubahan perilaku yang besar. Beberapa
gejala yang umum: Karena kerusakan pada bagian dorsolateral lobus frontal,
pasien cenderung acuh tak acuh, abulia, atau apatis (mutisme dan diam pada
beberapa kasus). Karena kerusakan pada area orbitofrontal pada korteks, ada
gejala disinhibisi, di mana pasien terlihat labil dan cepat marah. Pasien ini kurang
memperhatikan dan mudah teralihkan, dengan gangguan penilaian dan kehilangan
inhibisi dan gerakan halus pada umumnya. Kerusakan pada bagian medial dari
lobus frontal dapat menimbulkan gejala akinesia (kekurangan gerakan spontan)
dan apatis. Cedera pada bagian basal dari lobus frontal juga dapat menimbulkan
gangguan memori. Sindrom lobus frontal ini sering terlihat pada pasien dengan
lesi bilateral.

a. Bahasa dan Kemampuan Bicara


Bahasa adalah komprehensi dan komunikasi dari pemikiran abstrak.
Fungsi kortikal ini terpisah dari mekanisme saraf yang berhubungan dengan
fungsi visual, auditorik, dan motorik primer.
Kemampuan untuk berpikir kata-kata yang tepat, merencanakan dan
mengkoordinasikan urutan kontraksi otot yang diperlukan untuk menghasilkan
suara yang dapat dimengerti, dan merangkai kata-kata menjadi kalimat yang
bermakna tergantung pada area Broca (area 44 dan 45) dalam girus frontal
inferior, yang terletak di anterior korteks motorik yang mengontrol bibir dan lidah.
Kemampuan untuk mengkomprehensikan bahasa, termasuk kemampuan
bicara, tergantung dari area Wernicke. Area ini terletak di bagian posterior dari
girus temporal superior dalam korteks asosiasi auditorik (area 22).
Fasikulus arcuata memberikan jalur penghubung yang penting dalam
substansia alba hemisfer, yang menghubungkan area Wernicke dan area Broca
(Gbr 21-1). Karena fasikulus arcuata menghubungkan area komprehensi
kemampuan bicara (area Wernicke) dengan area yang bertanggung jawab untuk
menghasilkan kemampuan bicara (area Broca), kerusakan pada jalur substansia
alba ini membuat penurunan pengulangan.

b. Memori dan Belajar


Tiga tipe memori yaitu ingatan segera, memori jangka pendek, dan
memori jangka panjang (jauh).
Ingatan segera adalah fenomena yang membiarkan orang mengingat dan
mengulang sedikit informasi secara singkat setelah membaca atau mendengarnya.
Pada pemeriksaan, kebanyakan orang dapat mengulang, seperti mem-beo,
rangkaian kata atau nomor yang pendek sampai 10 menit. Substrat anatomi
diperkirakan pada korteks asosiasi auditorik.
Memori jangka pendek dapat berlangsung sampai satu jam. Pemeriksaan
biasanya melibatkan daftar pendek nomor yang lebih rumit (contoh, nomor
telepon) atau kalimat selama jangka waktu satu jam atau kurang. Tipe memori ini
dihubungkan dengan keutuhan dari lobus temporal dalam. Jika lobus temporal
pasien terstimulasi selama pembedahan atau teriritasi oleh lesi, dia bisa
mengalami deja vu, dengan ciri-ciri kilasan tiba-tiba dari peristiwa masa lalu atau
perasaan bahwa sensasi baru tersebut lama dan dikenal. (Kadang-kadang,
perasaan deja vu terjadi secara spontan pada orang normal, sehat).
Memori jangka panjang membiarkan orang untuk mengingat kata-kata,
nomor, orang lain, peristiwa, dan seterusnya selama bertahun-tahun. Susunan
memori muncul untuk terlibat dalam peningkatan sinapsis tertentu. Long-term
potentiation (LTP), proses yang dicetuskan oleh akumulasi kalsium pada neuron
postsinaps diikuti aktivitas frekuensi tinggi, muncul untuk berperan serta dalam
proses yang mendasari memori. Observasi eksperimental dan klinik menyatakan
bahwa pengkodean memori jangka panjang melibatkan hipoccampus dan korteks
yang berdekatan pada lobus temporal medial. Thalamus medial dan area targetnya
dalam lobus frontal juga terlibat, bersama-sama dengan nukleus otak depan basal
Meynert
Gambar 14. Area pada otak yang mengkode daya ingat jangka panjang
- Daya ingat segera
Durasi : segera setelah mendengar informasi
Anatomi : korteks asosiasi auditorius
- Daya ingat jangka pendek
Durasi : sampai dengan 1 jam setelah informasi
Anatomi : lobus temporal bagian dalam
- Daya ingat jangka panjang
Durasi : beberapa tahun
Anatomi : hipokampus

2.4 Trauma Kapitis


2.4.1 Definisi Trauma Kapitis
Trauma kepala atau trauma kapitis adalah suatu ruda paksa (trauma) yang
menimpa struktur kepala sehingga dapat menimbulkan kelainan struktural dan
atau gangguan fungsional jaringan otak.1,2
Menurut Brain Injury Association of America, cedera kepala adalah suatu
kerusakan pada kepala, bukan bersifat kongenital ataupun degeneratif, tetapi
disebabkan oleh serangan atau benturan fisik dari luar, yang dapat mengurangi
atau mengubah kesadaran yang mana menimbulkan kerusakan kemampuan
kognitif dan fungsi fisik.3

2.4.2 Gejala Klinis Trauma Kapitis


Menurut Reissner (2009), gejala klinis trauma yang dapat membantu
mendiagnosa kepala adalah sebagai berikut:
a. Battle sign (warna biru atau ekhimosis dibelakang telinga di atas os mastoid)
b. Hemotipanum (perdarahan di daerah menbran timpani telinga)
c. Periorbital ecchymosis (mata warna hitam tanpa trauma langsung)
d. Rhinorrhoe (cairan serobrospinal keluar dari hidung)
e. Otorrhoe (cairan serobrospinal keluar dari telinga)3

Tanda-tanda atau gejala klinis untuk yang trauma kepala ringan;


a. Pasien tertidur atau kesadaran yang menurun selama beberapa saat kemudian
sembuh.
b. Sakit kepala yang menetap atau berkepanjangan.
c. Mual atau dan muntah.
d. Gangguan tidur dan nafsu makan yang menurun.
e. Perubahan keperibadian diri.
f. Letargik.3

Tanda-tanda atau gejala klinis untuk yang trauma kepala berat;


a. Simptom atau tanda-tanda cardinal yang menunjukkan peningkatan di otak
menurun atau meningkat.
b. Perubahan ukuran pupil (anisokoria).
c. Triad Cushing (denyut jantung menurun, hipertensi, depresi pernafasan).
d. Apabila meningkatnya tekanan intrakranial, terdapat pergerakan atau posisi
abnormal ekstremitas.3

2.4.3 Patofisiologi Trauma Kapitis


Pada cedera kepala, kerusakan otak dapat terjadi dalam dua tahap yaitu
cedera primer dan cedera sekunder. Cedera primer merupakan cedera pada kepala
sebagai akibat langsung dari suatu ruda paksa, dapat disebabkan benturan
langsung kepala dengan suatu benda keras maupun oleh proses akselarasi-
deselarasi gerakan kepala.3,4
Dalam mekanisme cedera kepala dapat terjadi peristiwa coup dan
contrecoup. Cedera primer yang diakibatkan oleh adanya benturan pada tulang
tengkorak dan daerah sekitarnya disebut lesi coup. Pada daerah yang berlawanan
dengan tempat benturan akan terjadi lesi yang disebut contrecoup.4,5
Akselarasi-deselarasi terjadi karena kepala bergerak dan berhenti secara
mendadak dan kasar saat terjadi trauma. Perbedaan densitas antara tulang
tengkorak (substansi solid) dan otak (substansi semisolid) menyebabkan
tengkorak bergerak lebih cepat dari muatan intrakranialnya. Bergeraknya isi
dalam tengkorak memaksa otak membentur permukaan dalam tengkorak pada
tempat yang berlawanan dari benturan (contrecoup).4,6
Cedera sekunder merupakan cedera yang terjadi akibat berbagai proses
patologis yang timbul sebagai tahap lanjutan dari kerusakan otak primer, berupa
perdarahan, edema otak, kerusakan neuron berkelanjutan, iskemia, peningkatan
tekanan intrakranial dan perubahan neurokimiawi.6

2.4.4 Patologi cedera kepala


a. Fraktur Tengkorak
Fraktur tengkorak dapat terjadi pada kalvaria atau basis. Pada fraktur
kalvaria ditentukan apakah terbuka atau tertutup, linear atau stelata, depressed
atau nondepressed. Fraktur tengkorak basal sulit tampak pada foto sinar-x polos
dan biasanya perlu CT scan dengan setelan jendela-tulang untuk memperlihatkan
lokasinya. Sebagai pegangan umum, depressed fragmen lebih dari ketebalan
tengkorak (> 1 tabula) memerlukan operasi elevasi. Fraktura tengkorak terbuka
atau compound berakibat hubungan langsung antara laserasi scalp dan
permukaan serebral karena duranya robek, dan fraktura ini memerlukan operasi
perbaikan segera.7
Frekuensi fraktura tengkorak bervariasi, lebih banyak fraktura ditemukan
bila penelitian dilakukan pada populasi yang lebih banyak mempunyai
cedera berat. Fraktura kalvaria linear mempertinggi risiko hematoma
intrakranial sebesar 400 kali pada pasien yang sadar dan 20 kali pada pasien
yang tidak sadar. Fraktura kalvaria linear mempertinggi risiko hematoma
intrakranial sebesar 400 kali pada pasien yang sadar dan 20 kali pada
pasien yang tidak sadar. Untuk alasan ini, adanya fraktura tengkorak
mengharuskan pasien untuk dirawat dirumah sakit untuk pengamatan, tidak
peduli bagaimana baiknya tampak pasien tersebut.8
b. Lesi Intrakranial
Lesi intrakranial dapat diklasifikasikan sebagai fokal atau difusa, walau
kedua bentuk cedera ini sering terjadi bersamaan. Lesi fokal termasuk hematoma
epidural, hematoma subdural, dan kontusi (atau hematoma intraserebral).
Pasien pada kelompok cedera otak difusa, secara umum, menunjukkan CT scan
normal namun menunjukkan perubahan sensorium atau bahkan koma dalam.
Basis selular cedera otak difusa menjadi lebih jelas pada tahun-tahun terakhir
ini.8

c. Lesi Fokal
- Hematoma Epidural
Epidural hematom (EDH) adalah perdarahan yang terbentuk di ruang
potensial antara tabula interna dan duramater. Paling sering terletak diregio
temporal atau temporal parietal dan sering akibat robeknya pembuluh meningeal
media. Perdarahan biasanya dianggap berasal arterial, namun mungkin sekunder
dari perdarahan vena pada sepertiga kasus. Kadang-kadang, hematoma epidural
mungkin akibat robeknya sinus vena, terutama diregio parietal-oksipital atau
fossa posterior. Walau hematoma epidural relatif tidak terlalu sering (0.5% dari
keseluruhan atau 9% dari pasien koma cedera kepala), harus selalu diingat saat
menegakkan diagnosis dan ditindak segera. Bila ditindak segera, prognosis
biasanya baik karena cedera otak disekitarnya biasanya masih terbatas. Outcome
langsung bergantung pada status pasien sebelum operasi. Mortalitas dari
hematoma epidural sekitar 0% pada pasien tidak koma, 9% pada pasien
obtundan, dan 20% pada pasien koma dalam.6,7

- Hematoma Subdural
Hematoma subdural (SDH) adalah perdarahan yang terjadi di antara
duramater dan arakhnoid. SDH lebih sering terjadi dibandingkan EDH,
ditemukan sekitar 30% penderita dengan cedera kepala berat. Terjadi paling
sering akibat robeknya vena bridging antara korteks serebral dan sinus draining.
Namun ia juga dapat berkaitan dengan laserasi permukaan atau substansi otak.
Fraktura tengkorak mungkin ada atau tidak. Selain itu, kerusakan otak yang
mendasari hematoma subdural akuta biasanya sangat lebih berat dan prognosisnya
lebih buruk dari hematoma epidural. Mortalitas umumnya 60%, namun mungkin
diperkecil oleh tindakan operasi yang sangat segera dan pengelolaan medis
agresif.7

- Kontusi dan hematoma intraserebral


Kontusi serebral sejati terjadi cukup sering. Selanjutnya, kontusi otak
hampir selalu berkaitan dengan hematoma subdural. Majoritas terbesar kontusi
terjadi dilobus frontal dan temporal, walau dapat terjadi pada setiap tempat
termasuk serebelum dan batang otak. Perbedaan antara kontusi dan hematoma
intraserebral traumatika tidak jelas batasannya. Bagaimanapun, terdapat zona
peralihan, dan kontusi dapat secara lambat laun menjadi hematoma intraserebral
dalam beberapa hari.7
Hematoma intraserebri adalah perdarahan yang terjadi dalam jaringan
(parenkim) otak. Perdarahan terjadi akibat adanya laserasi atau kontusio jaringan
otak yang menyebabkan pecahnya pula pembuluh darah yang ada di dalam
jaringan otak tersebut. Lokasi yang paling sering adalah lobus frontalis dan
temporalis. Lesi perdarahan dapat terjadi pada sisi benturan (coup) atau pada sisi
lainnya (countrecoup). Defisit neurologi yang didapatkan sangat bervariasi dan
tergantung pada lokasi dan luas perdarahan.9

2.4.5 Diagnosis Cedera Kepala


a. Anamnesis
Anamnesis yang terperinci mengenai cedera meliputi penyebab trauma,
gejala yang dialami korban, mekanisme trauma perlu dilakukan sehingga
dapatdiketahui lokalisasi dan cara terjadinya cedera kepala. Sementara pada bayi
serta balita yang belum bisa berkomunikasi dengan lancar, gejala-gejala cedera
kepala dapat dikenali melalui perubahan kebiasaan tidur, sering menangis atau
terlihat depresi, serta kehilangan minat pada mainan favorit.10,11,12,13
b. Pemeriksaan umum
Beberapa hal yang perlu diobservasi, adalah:
- Fungsi vital
Tekanan darah yang meninggi disertai dengan bradikardi danpernapasan yang
tidak teratur (trias Cushing) menandakan adanyatekanan tinggi intrakranial.
Nadi yang cepat disertai hipotensi danpernapasan yang ireguler mungkin
disebabkan gangguan fungsibatang otak misalnya pada fraktur oksipital.
- Mata
Perlu diperiksa besar dan refleks dari pupil. Perdarahan retina seringterlihat
pada perdarahan subarakhnoid atau perdarahan subdural.
- Kepala
Diperiksa apakah terdapat luka, hematoma, fraktur. Bila terdapatnyeri atau
kekakuan pada leher atau perdarahan subarakhnoid.
- Telinga dan hidung
Diperiksa apakah terdapat perdarahan atau keluar cairan serebrospinaldari
hidung/telinga. Perdarahan telinga disertai ekimosis di daerahmastoid
(Battle’s sign) mungkin akibat fraktur basis kranii.
- Abdomen
Abdomen juga harus diperiksa terhadap kemungkinan adanyaperdarahan intra
abdominal. 10,11,12,13

c. Pemeriksaan neurologik
Derajat kesadaran merupakan indikator beratnya kerusakan otak.
Derajatkesadaran harus dinyatakan dalam bentuk respons mata, verbal dan
motorik.Pada anak dipergunakan dalam Pediatric Glasgow Coma Scale.10

2.5 Aspek Medikolegal Trauma Kapitis


Secara medikolegal, orientasi yang digunakan dalam merinci kecederaan
adalah untuk dapat membantu merekonstruksi peristiwa penyebab terjadinya
trauma atau luka dan memperkirakan derajat keparahan trauma atau luka (severity
of injury). Pada umumnya trauma kepala terjadi akibat kecelakaan lalu lintas,
jatuh/tertimpa benda berat (benda tumpul), serangan/kejahatan (benda tajam),
pukulan (kekerasan), akibat tembakan, dan pergerakan mendadak sewaktu
berolahraga.1
Dengan demikian pada pemeriksaan suatu luka, bisa saja ada beberapa hal
yang dianggap penting dari segi medikolegal, tidak dianggap perlu untuk tujuan
pengobatan, seperti misalnya lokasi luka, tepi luka, ukuran, akibat dari luka
sebagainya.2 Oleh karena itu, dikeluarkan Visum et Repertum yang berfungsi
sebagai bukti yang sah yang dikeluarkan oleh dokter terhadap hasil pemeriksaan
pada korban dengan cedera/ trauma. Konsep hukum VeR meliputi bukti factual
(factual evidence) yang harus dibuktikan terlebih dahulu baru kemudian diikuti
oleh bukti hokum (legal evidence):
1. Factual Evidence
Diperoleh dari hasil pemeriksaan medis kepada korban melalui observasi yang
sistematis dan menggunakan penalaran implicit yaitu meliputi ilmu kedokteran,
komitmen teori dan tujuan tertentu.3
2. Legal Evidence
Diperoleh dari hasil opini dari seorang ahli yang kompeten dan interpretasi dari
Factual Evidence. Bersifat tidak mutlak namun dapat member sugesti kepada
hakim untuk membuat keputusan. Dan harus dibuat berdasarkan pemikiran
kritis, penalaran medis yang pasti (reasonable medicalcertainty) dan penalaran
hukum yang pasti (beyond reasonable doubt).3
2.5.1 VeR Dalam KUHP
Sebagai seorang dokter, hendaknya dapat membantu pihak penegak
hukum dalam melakukan pemeriksaan terhadap pasien atau korban perlukaan.
Dokter sebaiknya dapat menyelesaikan permasalahan mengenai :
- Jenis luka apa yang ditemui
- Jenis kekerasan/senjata apakah yang menyebabkan luka dan
- Bagaimana kualifikasi dari luka itu
Sebagai seorang dokter, ia tidak mengenal istilah penganiayaan. Jadi
istilah penganiayaan tidak boleh dimunculkan dalam Visum et Repertum. Akan
tetapi sebaiknya dokter tidak boleh mengabaikan luka sekecil apapun. Sebagai
misalnya luka lecet yang satu-dua hari akan sembuh sendiri secara sempurna dan
tidak mempunyai arti medis, tetapi sebaliknya dari kaca mata hukum.
Dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana tidak dijumpai istilah
Visum et Repertum. Pasal 133 KUHAP memakai istilah “surat keterangan ahli”
yang dibuat oleh spesialis kedokteran forensik atau “surat keterangan” bila dibuat
oleh dokter umum atau dokter spesialis lainnya, adalah identik dengan Visum et
Repertum.
Profesionalisme seorang dokter dapat dimunculkan pada kesimpulan
Visum et Repertum yang dapat menjadi pertimbangan pihak penegak hukum.
Ada empat kualifikasi (derajat) yang dapat dipilih dokter :
1. Orang yang bersangkutan tidak menjadi saksi atau mendapat halangan dalam
melakukan pekerjaan atau jabatan.
2. Orang yang bersangkutan menjadi sakit tetapi tidak ada halangan untuk
melakukan pekerjaan atau jabatan.
3. Orang yang bersangkutan menjadi sakit dan berhalangan untuk melakukan
pekerjaan atau jabatannya.
4. Orang yang bersangkutan mengalami :
a. Penyakit atau luka yang tidak dapat diharapkan akan sembuh.
b. Dapat mendatangkan bahaya maut.
c. Tidak dapat menjalankan pekerjaan.
d. Tidak dapat memakai salah satu panca indera.
e. Terganggu pikiran lebih dari empat minggu.

Orang yang mengalami cedera kepala tentu akan menghadapi masalah


hukum akibat cedera tersebut. Sifat dari cedera dengan pengobatan yang
dihasilkannya, serta penyebab cedera (terbanyak kecelakaan kendaraan
bermotor), mengarah ke keterlibatan dalam sistem hukum. Hak hukum dan
tanggung jawab penyedia layanan kesehatan terhadap cedera kepala yang terjadi
menempati peran penting dalam pengobatan cedera pada pasien dari tahap akut
melalui tahap rehabilitasi subakut dan tahap rehabilitasi posthospital. Perawatan
medis dini untuk cedera kepala melibatkan perawatan darurat dari orang yang
akan dapat memberikan persetujuan untuk pengobatan; perawatan medis lainnya
adalah jarak jauh, mengangkat isu-isu hukum asuransi. Kebanyakan cedera
kepala adalah akibat dari kecelakaan kendaraan bermotor, cedera olahraga, atau
trauma yang disebabkan oleh pihak ketiga bertanggung jawab. Pihak yang
bertanggung jawab digugat dengan cara apa yang dikenal sebagai litigasi cedera
pribadi. Masing-masing instansi seperti medis, asuransi, dan pihak yang terkait
dengan kejadian cedera kepala secara pribadi dipengaruhi dan diikat oleh hukum
yang berlaku.3
Hukum di Indonesia yang mengikat setiap tindakan pidana yang
menyebabkan cedera dan perlukaan terhadap korban diatur dalam Kitab Undang
Hukum Pidana. Cedera kepala digolongkan kepada luka derajat 3/ derajat berat
apabila cedera tersebut tidak bisa diharapkan akan sembuh lagi dengan sempurna
atau yang dapat mendatangkan bahaya maut, terusmenerus tidak cakap lagi dalam
memakai salah satu panca indera, lumpuh, berubah pikiran atau akal lebih dari
empat minggu lamanya, menggugurkan atau membunuh anak dari kandungan
ibu , dan hal ini dimuat dalam KUHP pasal 90.3,4

2.5.2 Luka Dalam Kitab Undang Undang Hukum Pidana


Dalam KUHP dikenal luka akibat kelalaian atau karena yang disengaja.
Luka yang terjadi ini disebut Kejahatan Terhadap Tubuh atau Misdrijven Tegen
Het Lijf. Kejahatan terhadap jiwa ini diperinci menjadi dua yaitu kejahatan
doleuse (yang dilakukan dengan sengaja) dan kejahatan culpose (yang dilakukan
karena kelalaian atau kejahatan). Jenis kejahatan yang dilakukan dengan sengaja
diatur dalam Bab XX, pasal 351 sampai dengan 358. Jenis kejahatan yang
disebabkan karena kelalaina diatur dalam pasal 359, 360, dan 361 KUHP. Dalam
pasal-pasal tersebut dijumpai kata-kata “mati, menjadi sakit sementar, atau tidak
dapat menjalankan pekerjaan sementara” yang tidak disebabkan secara langsung
oleh terdakwa, akan tetapi karena ‘salahnya’ diartikan sebagai kurang hati-hati,
lalai, lupa, dan amat kurang perhatian.
Pasal 361 KUHP menambah hukuman nya sepertiga lagi jika kejahatan ini
dilakukan dalam suatu jabatan atau pekerjaan. Pasal ini dapat dikenakan pada
dokter, bidan, apoteker, supir, masinis kereta api dan lain-lain. Dalam pasal-pasal
tersebut tercantum istilah penganiayaan dan merampas dengan sengaja jiwa orang
lain, suatu istilah hukum semata-mata dan tidak dikenal dalam istilah medis.
Luka berat pada tubuh pada pasal 90 KUHP adalah penyakit atau luka
yang tidak bisa diharapkan akan sembuh lagi dengan sempurna atau yang dapat
mendatangkan bahaya maut, terus-menerus tidak cakap lagi dalam memakai salah
satu panca indera, lumpuh, berubah pikiran atau akal lebih dari empat minggu
lamanya, menggugurkan atau memnbunuh anak dari kandungan ibu.
Disinilah dokter berperan bear sebagai saksi ahli di depan pengadilan.
Hakim akan mendengarkan keterangan spesialis kedokteran forensik maupun ahli
lain nya (setiap dokter) dalam tiap kejadian secara kasus demi kasus.

a. Kekerasan termasuk penganiayaan yang menyebabkan trauma kepala


Pasal 351 KUHP
1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun
delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus
rupiah,
2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam
dengan pidana penjara paling lama lima tahun.

3) Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama


tujuh tahun.

4) Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan.

5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.

Pasal 352
1) Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka penganiayaan yang
tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan
jabatan atau pencarian, diancam, sebagai penganiayaan ringan, dengan
pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak
empat ribu lima ratus rupiah. Pidana dapat ditambah sepertiga bagi orang
yang melakukan kejahatan itu terhadap orang yang bekerja padanya, atau
menjadi bawahannya.
2) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.4

Pasal 353
1) Penganiayaan dengan rencana lebih dahulu, diancam dengan pidana
penjara paling lama empat tahun.
2) Jika perbuatan itu mengakibatka luka-luka berat, yang bersalah dikenakan
pidana penjara paling lama tujuh tahun.
3) Jika perbuatan itu mengkibatkan kematian yang bersalah diancam dengan
pidana penjara paling lama sembilan tahun

b. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang menyebabkan trauma


kepala
Diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Kekerasan
Dalam Rumah
Pasal 44
1) Setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup
rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a dipidana
dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak
Rp15.000.000,00 (lima belas juta rupiah).
2) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan
korban mendapat jatuh sakit atau luka berat, dipidana dengan pidana
penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau denda paling banyak
Rp30.000.000,00 (tiga puluh juta rupiah).
3) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mengakibatkan
matinya korban, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima
belas) tahun atau denda paling banyak Rp45.000.000,00 (empat puluh lima
juta rupiah).
4) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh
suami terhadap isteri atau sebaliknya yang tidak menimbulkan penyakit
atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian
atau kegiatan sehari-hari, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4
(empat) bulan atau denda paling banyak Rp5.000.000,00 (lima juta
rupiah).3

c. Kekerasan pada anak yang menyebabkan trauma kepala


Diatur dalam Pasal 80 dan 90, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002
Tentang Perlindungan Anak.
Pasal 80
1) Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman
kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana
penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling
banyak Rp 72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah).
2) Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) luka berat, maka
pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun
dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
3) Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) mati, maka pelaku
dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau
denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
4) Pidana ditambah sepertiga dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) apabila yang melakukan penganiayaan
tersebut orang tuanya.3

Pelaku yang melakukan tindak kekerasan sehingga menyebabkan trauma


kepala pada korban yang masih dibawah umur/anak-anak, maka pelaku diancam
pidana penjara paling lama tiga tahun enam bulan dan/atau denda paling banyak
tujuh puluh dua juta rupiah. Bila terjadi luka berat akibat trauma kepala, seperti
lumpuh, kecacatan, gegar otak, penurunan kesadaran, kehilangan fungsi salah satu
panca indera akibat pukulan, hilangnya ingatan, jatuh sakit/mendapat luka yang
tidak memberi harapan sembuh sama sekali maka ancaman pidana penjara
menjadi paling lama lima tahun dan/atau denda paling banyakseratus juta rupiah.
Bila trauma kepala menyebabkan kematian pada anak maka pelaku dipidana
dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun dan/atau denda paling banyak
dua ratus juta rupiah. Sesuai dengan pasal 80 ayat (4) hukuman pidana akan
ditambah sepertiga dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 80 ayat (1),
ayat (2), dan ayat (3) apabila yang melakukan tindak kekerasan tersebut orang
tuanya.3
Sesuai pasal 90 ayat (1) KUHP bila tindak kekerasan pada anak dilakukan
oleh korporasi, maka pidana dapat dijatuhkan kepada pengurus dan/atau
korporasinya. Pidana yang dijatuhkan kepada korporasi hanya pidana denda
dengan ketentuan pidana denda yang dijatuhkan ditambah sepertiga pidana denda
masing-masing sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal 90.3
d. Trauma kepala yang disebabkan karena kekerasan oleh anak/anak nakal
Diatur dalam Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 3 Tahun
1997 TentangPengadilan Anak
Pasal 5
1) Dalam hal anak belum mencapai umur 8 (delapan) tahun melakukan atau
diduga melakukan tindak pidana, maka terhadap anak tersebut dapat
dilakukan pemeriksaan oleh Penyidik.
2) Apabila menurut hasil pemeriksaan, Penyidik berpendapat bahwa anak
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) masih dapat dibina oleh orang tua,
wali,atau orang tua asuhnya, Penyidik menyerahkan kembali anak tersebut
kepada orang tua, wali, atau orang tua asuhnya.
3) Apabila menurut hasil pemeriksaan, Penyidik berpendapat bahwa anak
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak dapat dibina lagi oleh orang
tua, wali, atau orang tua asuhnya, Penyidik menyerahkan anak tersebut
kepada Departemen Sosial setelah mendengar pertimbangan dari
Pembimbing Kemasyarakatan.3

Pasal 26
1) Pidana penjara yang dapat dijatuhkan kepada Anak Nakal sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 huruf a, paling lama 1/2 (satu per dua)
dari maksimum ancaman pidana penjara bagi orang dewasa.
2) Apabila Anak Nakal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 huruf a,
melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau pidana
penjara seumur hidup, maka pidana penjara yang dapat dijatuhkan kepada
anak tersebut paling lama 10 (sepuluh) tahun.
3) Apabila Anak Nakal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 huruf a,
belum mencapai umur 12 (dua belas) tahun melakukan tindak pidana yang
diancam pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, maka terhadap
Anak Nakal tersebut hanya dapat dijatuhkan tindakan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1) huruf b.
4) Apabila Anak Nakal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 huruf a,
belum mencapai umur 12 (dua belas) tahun melakukan tindak pidana yang
tidak diancam pidana mati atau tidak diancam pidana penjara seumur
hidup, maka terhadap Anak Nakal tersebut dijatuhkan salah satu tindakan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24.3
BAB III
RINGKASAN

Cidera kepala atau trauma kapitis adalah cidera mekanik yang secara
langsung atau tidak langsung mengenai kepala yang mengakibatkan luka di kulit
kepala, fraktur tulang tengkorak, robekan selaput otak dan kerusakan jaringan
otak itu sendiri, serta mengakibatkan gangguan neurologis. Cidera kepala dapat
terjadi dalam berbagai aspek, seperti kekerasan dalam rumah tangga, bullying, dan
kekerasan pada anak.
UU Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga No. 23 Tahun 2004
Pasal 1 angka 1 (UU PKDRT) memberikan pengertian bahwa “Kekerasan dalam
rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan,
yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual,
psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk
melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan
hukum dalam lingkup rumah tangga.”
Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi
anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi
secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi (Pasal 1 butir 2 Undang-undang No.
23 tahun 2003). Perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-
hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara
optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia
yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera (pasal 3).
Secara medikolegal, orientasi yang digunakan dalam merinci kecederaan
adalah untuk dapat membantu merekonstruksi peristiwa penyebab terjadinya
trauma atau luka dan memperkirakan derajat keparahan trauma atau luka (severity
of injury). Pada umumnya trauma kepala terjadi akibat kecelakaan lalu lintas,
jatuh/tertimpa benda berat (benda tumpul), serangan/kejahatan (benda tajam),
pukulan (kekerasan), akibat tembakan, dan pergerakan mendadak sewaktu
berolahraga.
Orang yang mengalami cedera kepala tentu akan menghadapi masalah
hukum akibat cedera tersebut. Sifat dari cedera dengan pengobatan yang
dihasilkannya, serta penyebab cedera (terbanyak kecelakaan kendaraan
bermotor), mengarah ke keterlibatan dalam sistem hukum. Hak hukum dan
tanggung jawab penyedia layanan kesehatan terhadap cedera kepala yang terjadi
menempati peran penting dalam pengobatan cedera pada pasien dari tahap akut
melalui tahap rehabilitasi subakut dan tahap rehabilitasi posthospital. Perawatan
medis dini untuk cedera kepala melibatkan perawatan darurat dari orang yang
akan dapat memberikan persetujuan untuk pengobatan; perawatan medis lainnya
adalah jarak jauh, mengangkat isu-isu hukum asuransi. Kebanyakan cedera
kepala adalah akibat dari kecelakaan kendaraan bermotor, cedera olahraga, atau
trauma yang disebabkan oleh pihak ketiga bertanggung jawab. Pihak yang
bertanggung jawab digugat dengan cara apa yang dikenal sebagai litigasi cedera
pribadi. Masing-masing instansi seperti medis, asuransi, dan pihak yang terkait
dengan kejadian cedera kepala secara pribadi dipengaruhi dan diikat oleh hukum
yang berlaku.