Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH ILMU PENYAKIT MATA

GANGGUAN PENGLIHATAN AKUT

Maulana Fadhil (2011-11-084)


Michel Christo (2011-11-085)
Monicafurry Nugroh (2011-11-087)
Monika Handayani (2011-11-088)
M. Shahrie Rabbani (2011-11-089)
Nadia Soraya (2011-11-090)
Nadiya (2011-11-091)

UNIVERSITAS PROF.DR.MOESTOPO BERAGAMA


JAKARTA
2014
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

1.2 RUMUSAN MASALAH

1.3 TUJUAN MASALAH

BAB II ISI

2.1 Ablasi Badan Kaca Posterior

2.2 Perdarahan Badan Kaca

2.3 Ablasi Retina

2.4 Sumbatan Arteri

2.5 Sumbatan Vena

2.6 Degenerasi Makula Diskiform

2.7 Neuritis Retrobular

2.8 Migren

2.9 Penyakit Kardiovaskuler

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena kami dapat menyelesaikan
Makalah ini.Penyusunan Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah ilmu penyakit
mata dengan judul Gangguan Penglihatan Akut. Selain itu tujuan dari penyusunan Makalah ini
juga untuk menambah wawasan tentang Gangguan Penglihatan Akut itu sendiri..

Kami menyadari bahwa Makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan.Oleh karena itu, dengan
segala kerendahan hati, kami menerima kritik dan saran agar penyusunan Makalah selanjutnya
menjadi lebih baik.Untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih dan semoga karya tulis ini
bermanfaat bagi para pembaca.

Jakarta, 9 September 2014

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Mata merupakan organ penglihatan yang mendeteksi cahaya. Yang dilakukan mata yang
paling sederhana yaitu untuk mengetahui apakah lingkungan sekitarnya adalah terang atau gelap.
Mata merupakan salah satu organ yang sangat penting.

Mata manusia memiliki cara kerja otomatis yang sempurna, mata dibentuk dengan 40 unsur
utama yang berbeda dan ke semua bagian ini memiliki fungsi penting dalam proses melihat
kerusakan atau ketiadaan salah satu fungsi bagiannya saja akan menjadikan mata mustahil dapat
melihat. Lapisan tembus cahaya di bagian depan mata adalah kornea, tepat di belakangnya
terdapat iris, selain memberi warna pada mata, iris juga dapat mengubah ukurannya secara
otomatis sesuai kekuatan cahaya yang masuk, dengan bantuan otot yang melekat padanya.
Misalnya ketika berada di tempat gelap iris akan membesar untuk memasukkan cahaya sebanyak
mungkin. Ketika kekuatan cahaya bertambah, iris akan mengecil untuk mengurangi cahaya yang
masuk ke mata. Sistem pengaturan otomatis yang bekerja pada mata bekerja sebagaimana
berikut.

Jika fungsi kerja mata terganggu maka akan terjadi gangguan pengelihatan. Salah satu
gangguan pengelihatan itu merupakan gangguan pengelihatan akut. Untuk melakukan kegiatan
sehari-hari, mata merupakan organ penting yang sangat dibutuhkan. Oleh karena itu kami akan
membuat makalah yang akan membahas tentang “Gangguan Pengelihatan Akut”.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1 Apa saja yang termasuk dalam gangguan pengelihatan akut?
2 Apa terapi yang dapat dilakukan?

1.3 TUJUAN MASALAH


1 Mengetahui apa saja yang termasuk dalam gangguan pengelihatan akut
2 Mengetahui apa saja terapi yang dapat dilakukan.
BAB II

ISI

2.1 Ablasi Badan Kaca Posterior

2.2 Perdarahan Badan Kaca

Perdarahan dalam badan kaca adalah suatu keadaan yang cukup gawat karena dapat memberikan
penyulit yang mengakibatkan kebutaan pada mata.
Etiologi
 Dapat terjadi secara spontan pada diabetes mellitus, rupture retina, ablasi badan kaca
posterior,oklusi vena retina dan pecahnya pembuluh darah neovaskular.
 Dapat disebabkan oleh trauma, setiap keadaan yang menaikkan tekanan darah arteri dan
vena,robekan ablasi retina, bedah intraokuler dan trauma intraokulerGejalaPerdarahan
badan kaca akan menyebabkan turunnya penglihatan mendadak, lapang pandangan
ditutupoleh sesuatu sehingga mengganggu penglihatan tanpa rasa sakit. Perdarahan dalam
badan kacabiasanya cepat sekali menggumpal. Keadaan ini disebabkan susunan badan
kaca disertai terdapatnyabahan seperti tromboplastin di dalam badan kaca.Pada
pemeriksaan fundus tidak terlihat adanya refleks fundus yang berwarna merah dan
seringmemberikan bayangan hitam yang menutup retina. Perdarahan dalam badan kaca
akan menyebarsesudah beberapa minggu, di mana kemudian sel darah merah di fagosit
oleh sel leukosit dan selplasma.Perdarahan badan kaca diabetes melitus dapat timbul tiba-
tiba, yang biasanya akan jernih dandiabsorpsi setelah beberapa minggu atau bulan,
walaupun demikian keadaan ini merupakan ancamanuntuk terjadinya perdarahan ulang.
Tatalaksana
Pengobatan berupa istrahat dengan kepala sakit lebih tinggi paling sedikit selama 3 hari. Bila
sedang minum obat maka hentikan obat seperti aspirin, NSAID, kecuali bila sangat dibutuhkan.
Darah dikeluarkan dari badan kaca bila terdapat bersama dengan ablasi retina atau perdarahan
yang lebih lama dari 6 bulan, dan bila terjadi glaucoma hemolitik.Penyulit dapat terjadi bila
terjadi reaksi proliferasi jaringan (retinitis proliferans) yang akan mengancam penglihatan. Bila
terbentuk jaringan parut akan terjadi perubahan bentuk badan kaca yang dapat mengakibatkan
terjadi ablasi retinitis. Retinitis proliferans bersifat ireversibel walaupun perkembangan
pembuluh darah berhenti.

2.3 Ablasi Retina

DEFINISI

Lepasnya retina sensorik, yakni lapisan fotoreseptor dan jaringan bagian dalam, dari epitel
pigmen retina dibawahnya.

PATOFISIOLOGI

Terdapat dua jenis pembagian utama:

1. Non Rhegmatogenous Ablasio Retina


Terjadi karena adanya penimbunan cairan di bawah lapisan retina sensorik. Misalnya pada:

- Inflamasi okuler : Voght Koyanagi Harada Disease, choroiditis


- Penyakit vaskuler okuler: Coat’s disease
- Penyakit vaskuler sistemik: Malignant hipertensi
- Tumor intra okuler: melanoma koroid, hemangioma.
2. Rhegmatogenous Ablasio Retina
Merupakan bentuk tersering ablasio retina. Ditandai dengan adanya tear/hole yang
menyebabkan masuknya cairan vitreus melalui robekan tadi ke dalam ruang subretina,
sehingga retina terdorong lepas dari epitel pigmen. Misalnya pada: trauma mata, kelainan
vitreo-retina, miopia, afakia, dan diabetik retinopati.

GEJALA KLINIS

- Visus menurun mendadak tanpa disertai rasa sakit

- Gangguan lapang pandang

- Floaters : tampaknya bayangan – bayangan bergerak di lapangan pandang akibat


kekeruhan pada vitreus.

- Fotopsia : munculnya percikan atau kilatan cahaya di dalam mata akibat iritasi
retina.

- Melihat seperti tirai

- Pada pemeriksaan fundus okuli tampak retina yang terlepas berwarna pucat dengan
pembuluh darah retina yang berkelok – kelok disertai/tanpa adanya robekan retina.

DIAGNOSIS / CARA PEMERIKSAAN

Pemeriksaan fundus okuli dengan cara:

1. Dilatasi pupil dengan pemberian tetes mata:

- Tropicamide 0,5% ditetesi 3kali tiap 5menit, kemudian ditunggu 20-30 menit

- Phenylephrine 10%

2. Setelah pupil midriasis, fundus okuli dapat diperiksa dengan:

a. Oftalmoskop Direk

b. Oftalmoskop Indirek Binokular

c. Slit Lamp dengan Lensa Kontak Goldman-3-Mirror

d. USG
3. Ditentukan lokalisasi ablasi retina ( 75% temporal atas)

4. Dicari dan ditentukan lokalisasi dari semua robekan retina

Kedua mata HARUS diperiksa karena ablasio retina merupakan penyakit mata yang cenderung
bilateral.

DIAGNOSIS BANDING

1. Retinoskisis Senil : terlihat lebih transparan

2. Separasi koroid : terlihat lebih gelap, dapat melewati ora serata

3. Tumor Koroid ( Melanoma Maligna ) : perlu pemeriksaan USG

PENATALAKSANAAN

1. Penderita tirah baring sempurna.

2. Mata yang sakit ditutup dengan bebat mata.

3. Prinsip terapi adalah melekatkan kembali lapisan retina pada posisinya, memperbaiki
semua robekan retina.

a. Pada Ablasi Retina non – Regmatogen

- Obati penyakit primer

- Operasi Cerclage jika masih terdapat ablasi retina

b. Pada Ablasi Retina Regmatogen

- Fotokoagulasi Retina: bila terdapat robekan retina dan belum terjadi separasi
retina.

- Plombage Lokal / Scleral Buckling untuk mempertahankan retina di posisinya


sementara adhesi korioretinanya terbentuk. Dengan silicone sponge
dijahitkan pada episklera pada daerah robekan retina.

- Cryotherapy atau Diathermi, untuk membuat radang steril pada koroid dan
epitel pigmen pada daerah robekan retina.

- Operasi Cerclage untuk mengurangi tarikan badan kaca.

- Vitrektomi Posterior, bila terdapat Proliferative Vitreo-Retinopathy (PVR).


2.4 Sumbatan Arteri

DEFINISI
Arteri retinal pusat, saluran utama yang menyuplai darah untuk retina, bisa menjadi betul-betul
mampet karena penyakit atherosclerosis atau partikel, seperti gumpalan darah, yang masuk
peredaran darah dan menghalangi saluran (emboli). Radang pembuluh darah adalah juga
mungkin menyebabkan retinal arteri tersekat. Pada orang dengan glaukoma, penyakit gula,
atau tekanan darah tinggi, berbagai proses mungkin terjadi, yang bisa menyebabkan
tersekatnya vena.

Jika arteri pusat retinal tersumbat, mata yang terkena mengalami kehilangan pandangan
mendadak tetapi tanpa rasa sakit. Tersekatnya vena retinal pusat menyebabkan vena yang
penuh dan mengembang di depan saraf optik. Kehilangan jarak pandang dari yang ringan
hingga hebat karena arteri retinal pusat tersekat. Kekambuhan sering terjadi.

Selain kehilangan pandangan yang parah, komplikasi dari arteri atau vena retinal pusat tersekat
termasuk pendarahan ke dalam mata dan glaukoma disebabkan oleh pertumbuhan pembuluh
darah abnormal di selaput pelangi dan sudut, di mana cairan dialirkan dari mata.

DIAGNOSA
Menggunakan ophthalmoscope, seorang dokter bisa melihat perubahani di pembuluh darah
dan tanda lain berkurangnya suplai darah ke retina, seperti kepucatan retina pada kasus arterial
yang tersekta atau vena yang penuh dan pembengkakan di depan saraf optic pada kasus vena
tersekat. Tindakan Fluorescein angiography dimana seorang dokter menyuntikkan pewarna ke
dalam urat darah dan lalu memotret retina membantu menentukan banyak sedikitnya
kerusakan pada retina dan membantu rencana pengobatan oleh dokter. Doppler ultrasound
memindai kadang-kadang mungkin dipergunakan untuk memeriksa darah mengalir di saluran
darah.

PENGOBATAN
Pengobatan sesegera sering diberikan dalam percobaan menghilangkan penghalangan arteri
retinal. Tetapi, pengobatan jarang efektif. Tekanan di dalam mata bisa dikurangi dengan
memijat kelopak mata tertutup sebentar-sebentar dengan jari. Alternatif lain, satu prosedur
yang disebut paracentesis chamber anterior mungkin membantu menurangi tekanan di dalam
mata. Pada prosedur ini, tetes mata diteteskan di mata untuk membuat mata mati rasa, lalu
jarum dimasukkan ke dalam bilik anterior mata untuk meyedot sedikit cairan, sehingga secara
cepat mengurangi tekanan di mata.

Mengurangi tekanan di dalam mata dengan pijatan atau paracentesis chamber anterior dapat
mengeluarkan gumpalan darah atau penyumbat lain dan dapat memasuki cabang bilik yang
lebih kecil, sehingga mengurangi area kerusakan pada retina. Umumnya tidak ada terapi obat
yang disetujui. Pengobatan laser mungkin digunakan untuk menghancurkan pembuluh darah
abnormal jika mereka berkembang ke selaput pelangi atau sudut.

2.5 Sumbatan Vena

Branch Retinal Vein Occlusion (BRVO) atau sumbatan cabang vena sentralis retina adalah
penyakit yang menyerang pembuluh darah retina. Retina adalah selaput syaraf yang melapisi
dinding dalam bola mata. Fungsi retina dapat disamakan dengan film dalam kamera, yaitu
untuk menangkap gambaran bayangan yang di pancarkan melalui lensa mata.

Pada BRVO, terjadi sumbatan cabang vena (pembuluh darah balik) di tempat dimana vena
tersebut di silang oleh arteri (pembuluh darah nadi). Sumbatan ini umumnya terjadi pada
penderita hipertensi (tekanan darah tinggi), mungkin karena arteri penderita hipertensi
mengalami arteriosklerosis, dengan akibat pembuluh darah tersebut menjadi lebih kaku dan
menekan vena dibawahnya sampai aliran vena tersebut terganggu.

Akibat dari sumbatan vena ini, retina mengalami perdarahan dan oedem (pembengkakkan).
Apabila efek dari sumbatan ini mempengaruhi makula, maka akan terjadi gangguan tajam
penglihatan yang serius dari penderita. Makula adalah bagian retina yang digunakan untuk
fungsi penglihatan yang halus, seperti membaca dan sebagainya.

sumbatan cabang vena retina


Sebelumnya, pengobatan BRVO hanya terbatas pada usaha untuk mencegah komplikasi yang
lebih parah lagi, yaitu dengan terapi fotokoagulasi laser. Fotokoagulasi laser, walaupun
memang bermanfaat, tidak dapat mengembalikan aliran darah vena yang tersumbat.

Pada tahun 1999, di Amerika Serikat, dilaporkan mengenai operasi Dekompresi Vena untuk
mengatasi BRVO. Pada operasi ini, selaput antara arteri dan vena disayat, dan arteri diangkat
dari vena sehingga aliran darah kedalam vena dapat dikembalikan seperti semula.

Sampai dengan sat ini, penulis telah melakukan Operasi Dekompresi Vena pada enam penderita
BRVO di Jakarta Eye Center. Pada semua penderita ini, aliran darah dalam vena yang tersumbat
dapat dikembalikan lagi. Lima diantara penderita BRVO yang menjalani operasi dekompresi
vena mengalami perbaikan tajam penglihatan sedangkan satu penderita tidak mengalami
perubahan tajam penglihatan.

Tentunya harus diingat bahwa Operasi Dekompresi Vena, juga memiliki resiko, sama seperti
operasi vitreoretinal lainnya. Perbandingan antara resiko dan manfaat operasi ini dibicakan
dengan semua calon pasien sebelum dilakukan operasi.

2.6 Degenerasi Makula Diskiform

Degenerasi makula adalah kerusakan sel-sel khusus dalam makula retina yang biasanya
mendeteksi cahaya dan warna untuk memberi kita fokus penglihatan yang tajam. Degenerasi
makula semakin umum dengan penuaan, yang menyebabkan kehilangan penglihatan berat dan
bahkan kebutaan setelah sekitar usia 65 tahun.
Degenerasi makula belum sepenuhnya dipahami, namun tampaknya berhubungan dengan usia
lanjut, merokok, faktor keturunan, tekanan darah tinggi, obesitas, tidak aktif, dan beberapa obat.
Juga disebut Age-Related Macular Degeneration (ARMD).

Degenerasi Makula

definisi:
Degenerasi Makula adalah suatu keadaan dimana makula mengalami kemunduran sehingga
terjadi penurunan ketajaman penglihatan dan kemungkinan akan menyebabkan hilangnya fungsi
penglihatan sentral. Makula adalah pusat dari retina dan merupakan bagian yang paling vital dari
retina. Makula merupakan bagian dari retina yang memungkinkan mata melihat detil-detil halus
pada pusat lapang pandang.

Etiologi :
Degenerasi terjadi sebagai akibat dari kerusakan pada epitel pigmen retina. Epitel pigmen retina
adalah lapisan pemisah antara retina dan koroid (lapisan pembuluh darah di belakang retina).
Fungsi dari epitel pigmen retina adalah sebagai penyaring yang menentukan zat gizi dari koroid
yang sampai ke retina. Bagian dari darah yang berbahaya bagi retina dibuang/dijauhkan dari
retina oleh epitel pigmen retina. Kerusakan pada epitel pigmen retina mempengaruhi
metabolisme pada retina, Terjadi penipisan retina sehingga memungkinkan masuknya bahan
yang berbahaya dari darah ke dalam retina dan menyebabkan kerusakan serta pembentukan
jaringan parut. Dengenerasi makula terjadi pada usia lanjut, cenderung diturunkan, lebih banyak
ditemukan pada orang kulit putih dan tampaknya lebih sering ditemukan pada perokok.

Cirri-ciri dan Gejala

Secara tiba-tiba ataupun secara perlahan akan terjadi kehilangan fungsi penglihatan tanpa rasa
nyeri. Kadang gejala awalnya berupa gangguan penglihatan pada salah satu mata, dimana garis
yang sesungguhnya lurus terlihat bergelombang. Degenerasi makula menyebabkan kerusakan
penglihatan yang berat (misalnya kehilangan kemampuan untuk membaca atau mengemudi),
tetapi jarang menyebabkan kebutaan total. Penglihatan pada tepi luar dari lapang pandang dan
kemampuan untuk melihat warna biasanya tidak terpengaruh, yang terkena hanya penglihatan
pada pusat lapang pandang.
Diagnosa :

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan mata.


Beberapa pemeriksaan yang dilakukan untuk menilai retina:

Ketajaman penglihatan
Tesa refraksi
Respon refleks pupil
Pemeriksaan slit lamp
Fotografi retina
Angiobrafi fluoresensi.
Treatment :
Jika di dalam atau di sekeliling makula ditemukan pertumbuhan pembuluh darah baru, dilakukan
fotokoagulasi laser untuk menghancurkannya. Tidak ada pengobatan khusus untuk degenerasi
makula. Pemberian seng bisa memperlambat perkembangan penyakit. Pada stadium awal, bisa
dilakukan pembedahan laser untuk membekukan pembuluh darah koroid yang merembes ke
retina. Pilihan pengobatan lainnya adalah terapi fotodinamik, dimana pengobatan laser dilakukan
setelah penyuntikan zat warna untuk menambah kepekaan pembuluh darah yang merembes
terhadap sinar laser.

Pencegahan :
Jika ada anggota keluarga yang menderita degenerasi makula, sebaiknya para perokok segera
berhenti merokok.
2.7 Neuritis Retrobular

Neuritis optikus merupakan salah satu penyebab umum kehilangan penglihatan


unilateral pada orang dewasa. Berdasarkan kategori klinik dan pemeriksaan
opthalmoskopis terbagi menjadi papilitis dan neuritis retrobulbar. Papilitis adalah
inflamasi yang mengenai serabut retina nervus optikus yang masuk pada papil nervus
optikus di dalam bola mata, dengan pemeriksaan opthalmoskopis di diskus optikus akan
tampak kelainannya sedangkan pada neuritis retrobulbar inflamasinya mengenai nervus
yang terletak di belakang bola mata dan terletak jauh dari diskus optikus sehingga
perubahan-perubahan dini di diskus optikus tidak tampak dengan pemeriksaan
opthamoskopis, ketajaman penglihatan dapat menurun. (1)

Kerusakkan saraf terjadi pada bagian saraf optik yang letaknya di belakang bola mata
dan disebut juga neuritis retrobulbar serta sering dikaitkan dengan penyakit sklerosis
multipel. Peradangan saraf optik dan edema (pembengkakan) terjadi akibat tekanan
intrakranial pada tempat dimana saraf masuk ke dalam bola mata. Peradangan di tempat
tersebut disebut papilitis.(2)

Insidensi neuritis optikus dalam populasi per tahun diperkirakan 5 per 100.000
sedangkan prevalensinya 115 per 100.000. Sebagian besar mengenai usia 20 sampai
dengan 40 tahun. Wanita lebih umum terkena daripada pria. Berdasarkan data The Optic
Neuritis Treatment Trial (ONTT) 77% adalah wanita, 85% kulit putih dan usia rata-rata 32
± 7 tahun. Sebagian besar kasus patogenesisnya disebabkan inflamasi demielinisasi dengan
atau tanpa sklerosis multipel. Pada sebagian besar kasus neuritis optikus monosimptomatik
merupakan manifestasi awal sklerosis multipel.(1)
ANATOMI

Gambar 1: Anatomi mata(3

Saraf terdiri atas 3 lapisan, yaitu :lapisan neuroepithel retina, lapisan ganglion retina
dan lapisan ganglion pada saraf optik yang merupakan lapisan saraf multipolar. Akson
membentuk saraf optik. Dengan demikian, sel-sel sensorik retina tidak menghadapi cahaya
yang masuk dengan reseptor sel sensorik retina , tetapi terlindungi oleh neuron dan serat
saraf. Hal ini dikenal sebagai inversi retina.(4)
Gambar 2: (A) Nervus optik, (B) axon pada potongan frontal(5)
.
Permukaan bagian dalam retina dipisahkan dari korpus vitreus oleh membran basal
internal.Sebuah membran glial, membatasi membran eksternal , dan memisahkan bagian
reseptor sel sensorik dari epitel saraf. Kedua membran memanjang dengan bantuan sel
Müller.(4)

Lapisan neuroepithelial : neural epitelium mempunyai dua jenis sel fotoreseptor,


yaitu sel batang dan sel kerucut.Sel-sel batang adalah untuk terang-gelap persepsi dalam
cahaya redup (night vision), sedangkan sel-sel kerucut yang berfungsi untuk persepsi warna
dalam cahaya terang (visi warna) dan visual ketajaman (teori duplicity). Fotoreseptor
merupakan neuron pertama pada jalur penglihatan.(4)

Gambar 3 : Bagian kepala nervus optik(5)

Saraf optik yang keluar dari polus posterior bola mata membawa dua jenis serabut
saraf yaitu : saraf penglihatan dan serabut pupilomotor. Kelainan saraf optik yang
menggambarkan gangguan yang diakibatkan tekanan langsung atau tidak langsung
terhadap saraf optik perubahan toksik anoksik yang mempengaruhi penyaluran aliran
listrik.(6)

PATOFISIOLOGI

Neuritis retrobulbar adalah salah satu bentuk neuritis optikus dimana inflamasi
mengenai nervus yang terletak di belakang mata. Daerah inflamasi terletak di antara
belakang mata dan otak. Nervus optikus mengandung serabut-serabut syaraf yang
mengantarkan informasi visual dari sel-sel nervus retina ke dalam sel-sel nervus di otak.
Retina mengandung sel fotoreseptor, merupakan suatu sel yang diaktivasi oleh cahaya dan
menghubungkan ke sel-sel retina lain disebut sel ganglion. Kemudian mengirimkan sinyal
proyeksi yang disebut akson ke dalam otak. Melalui rute ini, nervus optikus mengirimkan
impuls visual ke otak. Sehingga ketika nervus tersebut inflamasi, sinyal visual yang
dihantarkan ke otak menjadi terganggu dan pandangan menjadi lemah.(1,2,6)
ETIOLOGI

1. Inflamasi lokal
a. Uveitis dan retinitis
b. Oftalmia simpatika
c. Meningitis
d. Penyakit sinus dan infeksi orbita.( 1)
2. Inflamasi umum.
a. Infeksi syaraf pusat

b. Multipel sklerosis
c. Acute disseminated encephalomyelitis
d. Neuromyelitis optic (Devic disease)
e. Encephalitis periaxial diffusa of Schilder
f. Herpes zoster
g. Encephalitis epidemic, poliomyelitis, inokulasi rabies
h. Syphilis
i. Tuberkulosis.(1)

3. Toksin endogen

a. Penyakit infeksi akut, seperti influenza, malaria, measles, mumps, pneumonia

b. Fokus septik pada gigi, tonsil, infeksi fokal

c. Penyakit metabolik: diabetes, anemia, kehamilan, avitaminosis(1)


4. Intoksikasi racun eksogen seperti tobacco,etil alcohol, metil alkohol. .( 1)

Faktor resiko neuritis optikus termasuk:

1.Usia
Neuritis optikus sering mengenai dewasa muda usia 20 sampai 40 tahun; usia rata-rata
terkena sekitar 30 tahun. Usia lebih tua atau anak-anak dapat terkena juga tetapi
frekuensinya lebih sedikit
2.Jeniskelamin
Wanita lebih mudah terkena neuritis optikus dua kali daripada laki-laki5.

3.Ras
Neuritis optikus lebih sering terjadi pada orang kulit putih daripada ras yang lain.(1,2)

DIAGNOSIS BANDING

a. Papilitis
Papilitis adalah inflamasi yang mengenai nervus optikus di dalam bola mata,
merupakan salah satu tipe neuritis optikus yang sering terjadi pada anak-anak, memiliki
gejala yang sama dengan neuritis retrobulbar tetapi pada pemeriksaan dengan
opthalmoskopis dapat ditemukan pembengkakan pada diskus optikus, hiperemi, tepi
kabur dan semua pembuluh darah dilatasi.(6)

b. Compressive optic neuropathy

Terdapat kehilangan penglihatan akut. Pola kehilangan lapang pandang menunjukkan


penyebabnya non inflamasi, misalnya ditemukan kehilangan penglihatan pada mata
lainnya. CT Scan atau MRI dapat mengidentifikasi lesi kompresif pada orbita dan khiasma.
Pada Compressive optic neuropathy tidak terdapat pemulihan penglihatan.(1)
c. Nonarteritic anterior ischemic optic neuropathy

Terdapatnya nyeri terutama pada pergerakan mata (meskipun tidak mutlak) secara
klinis dapat membedakan neuritis optikus dengan nonarteritic anterior ischemic optic
neuropathy.( 1)

PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan tergantung dari gangguan yang ditimbulkan, neuritis optik


retrobulbar yang mengakbatkan penurunan visus bisa diterapi dengan steroid dosis tinggi
1000 mg prednisolone oral selama 3 hari. Dan 1 mg/kgbb untuk oral prednisolone untuk
hari ke 4-14.(1)
Pada keadaan akut, apabila visus sama atau lebih baik dari 20/40 dilakukan
pengamatan saja. Dan apabila visus sama atau kurang dari 20/50 dilakukan pengamatan
dan metilprednison 250 mg intravena, disusul dengan prednison tablet. (6)

KOMPILKASI

1) penglihatan kabur
2) bintik/bercak buta, terutama pertengahan lapang pandang
3) nyeri saat pergerakkan bola mata
4) sakit kepala
5) buta warna mendadak
6) gangguan penglihatan pada malam hari
7) gangguan ketajaman penglihatan(2)

PROGNOSIS
Gangguan penglihatan yang disebabkan karena neuritis optik biasanya bersifat sementara.
Remisi (penyembuhan) spontan terjadi dalam dua hingga lima minggu. Saat masa pemulihan,
65% - 80% ketajaman penglihatan penderita menjadi lebih baik. Prognosis jangka panjang
tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Jika serangan ini ditimbulkan oleh infeksi virus
maka akan mengalami penyembuhan sendiri tanpa meninggalkan efek samping. Jika neuritis
optik dipicu oleh sklerosis multipel, maka serangan berikutnya harus dihindari. Tigapuluh tiga
persen penderita neuritis optik akan kambuh dalam lima tahun. Tiap kekambuhan menyebabkan
pemulihannya tidak sempurna bahkan memperburuk penglihatan seseorang. Ada hubungan yang
kuat antara neuritis optik dengan sklerosis multipel. Pada orang yang tidak mengalami sklerosis
multipel maka separuh dari mereka yang mengalami gangguan penglihatan akibat neuritis optik
akan menderita penyakit ini dalam 15 tahun(2)

2.8 Migren

Migrain adalah gangguan kronis yang ditandai dengan terjadinya sakit kepala ringan hingga
berat yang seringkali berhubungan dengan gejala-gejala sistem syaraf otonom.

Tandanya berupa sakit kepala unilateral (hanya pada separuh bagian kepala), berdenyut-
denyut, dan berlangsung selama 2 hingga 72 jam. Gejala-gejala yang turut menyertai antara
lain mual, muntah, fotofobia (semakin sensitif terhadap cahaya), fonofobia (semakin sensitif
terhadap suara) dan rasa sakitnya semakin hebat bila melakukan aktifitas fisik. [3] Sekitar-
sepertiga penderita sakit kepala migrain mengalami aura: yaitu semacam gangguan visual,
indra, bicara, atau gerak/motorik yang menjadi pertanda bahwa sakit kepala tersebut akan
segera muncul.
salah satu jenis sakit kepala yg justru menyebabkan gangguan penglihatan. Migrain okuler
namanya. Migrain okuler merupakan salah satu jenis migraine yg mengakibatkan gangguan
penglihatan yg berat saat migraine atau sesudah migraine tsb berlangsung. Gangguan
penglihatan yg terjadi berupa penurunan kemapuan penglihatan sampai kebutaan sementara
yg berlangsung selama

Gejala migraine pada migraine okuler biasanya berlangsung 4-72 jam, hanya terjadi di satu sisi
kepala, terasa seperti berdenyut-denyut dg intensitas nyeri sedang hingga berat dan diperburuk
dg aktifitas fisik, bias disertai mual muntah, dan peka terhadap cahaya atau suara.

Migrain okuler biasanya han ya melibatkan satu sisi mata saja, jika terjadi dikedua mata,maka
penyebabnya mungkin bukan migrain okuler. Mekanisme terjadinya migraine okuler dijelaskan
oleh para ahli sebagai akibat dari spasme/kram pembuluh darah pada retina mata sehingga
mengakibatkan gangguan di seluruh mata sisi yg terkena.

Yg perlu diwasapadai adalah bagaimana mencegahnya terjadi, jangan sampai gangguan


penglihatan terjadi secara permanen. Biasanya setelah dokter menegakkan diagnose, maka
pendertia akan diresepkan obat aspirin, anti kejang atau antidepresan atau betabloker,
tujuannnya untuk mengurangi spasme pembuluh darah retina tersebut. Penyakit lainnya yg
mirip dengan migraine okuler ini adalah amaurosis fugax, spasme artery mata, Giant cell
Ateritis, Penyakit autoimun, penyalahgunaan obat-obatan, atau penyakit darah seperi
polisitemia/sicle cell anemia. Migrain okular menyebabkan hilangnya penglihatan atau
kebutaan yang berlangsung selama kurang dari satu jam, bersamaan dengan atau mengikuti
sakit kepala migrain. Para ahli kadang-kadang menyebut kejadian ini sebagai migrain “retinal”,
“ophthalmic”, atau “monocular” (artinya satu mata).

Masalah ini jarang terjadi, yang mempengaruhi sekitar satu dari setiap 200 orang yang
mengalami migrain. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dalam banyak kasus, gejala-
gejala migrain okular sebenarnya akibat masalah medis lain.

Dalam mendiagnosis migrain okular, dokter/unit pelayanan kesehatan perlu mengeliminasi


kondisi medis lain yang mempunyai gejala-gejala yang mirip. Sangat penting agar Anda mampu
menjelaskan gejala-gejala secara akurat untuk membantu dokter menentukan apakah Anda
menderita migrain okular atau tidak.
Gejala Migrain Okular

Menurut International Headache Society, definisi dari kondisi yang disebut migrain retinal,
gejala-gejalanya antara lain:

Masalah penglihatan yang mempengaruhi satu mata. Masalah ini meliputi:

 Cahaya berkedip-kedip
 Titik buta di dalam penglihatan Anda
 Kebutaan pada mata

Kehilangan penglihatan bisa menjadi komplikasi yang muncul bersama dengan migrain retinal.

Sakit kepala yang berlangsung dari empat sampai 72 jam. Sakit kepalanya cenderung:

 Mempengaruhi satu sisi kepala Anda.


 Merasa sakit atau sangat sakit.
 Intensitas yang berdenyut
 Merasa memburuk ketika Anda aktif secara fisik

Gejala-gejala lain termasuk :

 Mual
 Muntah
 Sensitivitas abnormal terhadap cahaya atau suara

Salah satu gejala yang penting adalah kehilangan penglihatan yang terjadi, hanya
mempengaruhi satu mata. Banyak orang mengalami kesulitan membedakan antara cahaya
berkedip atau kebutaan pada satu sisi bidang penglihatan yang terjadi pada satu dengan yang
terjadi melibatkan kedua mata.

Cahaya berkedip dan titik buta dalam penglihatan merupakan masalah yang lebih umum dan
mungkin terjadi pada migrain biasa dengan aura. Jenis migrain ini mempengaruhi sekitar 20 %
orang dengan migrain. Namun dalam kasus ini, gejala-gejala tersebut biasanya muncul di salah
satu sisi bidang penglihatan dan terjadi pada kedua mata Anda.

Coba tutup salah satu mata dan kemudian ganti dengan mata yang lain untuk membantu Anda
mengetahui apakah masalah tersebut mempengaruhi satu mata atau kedua mata.
Penyebab Migrain Okular

Para ahli belum tahu dengan pasti apa yang menyebabkan migrain okular. Sebagian dari
mereka merasa bahwa masalah tersebut terkait dengan:

 Kejang pada pembuluh darah di retina, yaitu lapisan halus di bagian belakang mata.
 Perubahan yang menyebar di seluruh sel-sel saraf di dalam retina .

Penderita migren okular mungkin memiliki risiko lebih tinggi terkena kehilangan penglihatan
permanen pada satu mata. Para ahli belum mengetahui apakah penggunaan obat preventif
untuk migrain, seperti antidepresan trisiklik atau obat anti kejang, dapat membantu mencegah
kehilangan penglihatan permanen. Namun, tetap disarankan untuk berkonsultasi dengan
dokter mengenai gejala-gejala yang Anda alami.

Diagnosis Migrain Okular

Untuk mendiagnosa migrain okular, dokter akan bertanya mengenai gejala-gejala dan
memeriksa mata Anda. Kemudian dokter akan mencoba untuk menyingkirkan masalah lain
yang dapat menimbulkan gejala-gejala yang mirip, antara lain:

 Amaurosis fugax. Ini adalah kebutaan sementara akibat kurangnya aliran darah ke mata. Gejala-
gejala yang muncul dapat disebabkan oleh penyumbatan arteri yang menuju ke mata.
 Kejang pada arteri yang memasok darah ke retina.
 Giant Cell Arteritis. Hal ini mengakibatkan peradangan pembuluh darah, yang dapat
menyebabkan masalah penglihatan dan kebutaan.
 Masalah pembuluh darah lain, yang berkaitan dengan penyakit autoimun.
 Penyalahgunaan narkoba.
 Kondisi yang mendorong pembekuan darah abnormal, seperti: penyakit sickle cell dan
polisitemia .
Pengobatan Migrain Okular

Baru sedikit penelitian yang dilakukan untuk menentukan tindakan pengobatan terbaik dalam
mengobati atau mencegah migrain okular. Namun, dokter Anda mungkin merekomendasikan
satu atau lebih obat-obat berikut:

 Aspirin
 Obat yang digunakan untuk mengobati epilepsi, seperti Depakote (divalproex sodium) atau
Topamax (topiramate) .
 Antidepresan trisiklik, seperti Elavil ( amitriptyline ) atau Pamelor (nortriptyline) .
 Beta- blocker

2.9 Penyakit Kardiovaskuler

TEKANAN darah tinggi dan meningkatnya kadar kolesterol dalam darah ternyata tidak hanya
berbahaya bagi jantung. Dua indikasi ini juga dapat mengancam kesehatan mata Anda.

Seperti dilaporkan sebuah riset yang dimuat Jurnal Archives of Opthalmologyedisi Mei, dua
kondisi ini dapat memicu risiko seseorang mengalami gangguan mata yang disebut oklusi atau
penyumbatan pada pembuluh vena retina. Kondisi ini yang bisa berujung pada kebutaan
terjadi akibat satu atau beberapa pembuluh vena yang membawa darah dari mata ke jantung
tersumbat atau mengalami penumpukan cairan.

Riset yang dilakukan di Irlandia itu mengindikasikan seseorang yang mengidap darah tinggi
berisiko 3,5 kali lipat mengalami penyumbatan oklusi ini dibanding mereka yang tensinya
normal. Sementara itu, orang yang memiliki kolesterol tinggi tercatat mengalami peningkatan
risiko hingga 2,5 kali lipat.

Temuan ini merupakan hasil tinjauan terhadap 21 penelitian sebelumnya yang melibatkan total
2.916 pasien pengidap oklusi vena retina dan 28.646 orang yang tidak mengidapnya. Hasil
analisis mengindikasikan pula, 63,6 persen pasien pengidap oklusi retina juga mengalami
masalah tensi darah. Sedangkan pada mereka yang tidak mengalami problem mata,
persentasenya 36,2 persen. Kadar kolesterol tinggi mencapai dua kali lipat prosentasenya (35
persen) pada pengidap oklusi dibandingkan pasien yang tidak mengalaminya (16,7 persen).

Sementara itu bila dikaitkkan dengan penyakit diabetes, mereka yang mengidap oklusi juga
persentasenya sedikit lebih besar ketimbang yang tidak mengalami diabeter yakni 14,6
berbanding 11,1 persen.

Ada tiga bentuk penyakit kardiovaskular, yakni:

Penyakit jantung koroner adalah penyakit pembuluh darah yang mensuplai jantung.
Implikasinya meliputi infark miokard (serangan jantung), angina (nyeri dada), dan aritmia (irama
jantung abnormal).

Penyakit serebrovaskular adalah penyakit pembuluh darah yang mensuplai otak. Implikasinya
meliputi stroke (kerusakan sel otak karena kurangnya suplai darah) dan transient ischaemic
attack (kerusakan sementara pada penglihatan, kemampuan berbicara, rasa atau gerakan).

Penyakit vaskular perifer adalah penyakit pembuluh darah yang mensuplai tangan dan kaki
yang berakibat rasa sakit yang sebentar datang dan pergi, serta rasa sakit karena kram otot kaki
saat olah raga.
Dampak Nyata Penyakit Kardiovaskular

Penjabaran lengkap fakta yang telah disebutkan sebelumnya adalah sebagai berikut, terjadi
satu kematian akibat penyakit kardiovaskular setiap dua detik, serangan jantung setiap lima
detik dan akibat stroke setiap enam detik. Setiap tahunnya diperkirakan 17 juta orang
meninggal akibat penyakit kardiovaskular.

Pada tahun 2005, angka kematian akibat penyakit kardiovaskular mencapai 17,5 juta. Sekitar
7,6 juta diantaranya terjadi karena penyakit jantung koroner dan 5,7 juta karena stroke.
Diperkirakan kematian global akibat penyakit kardiovaskular mencapai sekitar 25 juta pada
tahun 2020.

Sementara dari sekitar 10 juta orang di dunia yang selamat dari stroke setiap tahunnya, lebih
dari 5 juta diantaranya mengalami cacat permanen, sehingga menjadi beban tersendiri bagi
keluarga dan masyarakat. Pada tahun 2020, penyakit kardiovaskular diperkirakan menempati
posisi yang lebih tinggi di atas penyakit menular sebagai penyebab kecacatan terbesar di
seluruh dunia.

Kenali Penyebab Penyakit Kardiovaskular

Serangan jantung dan stroke terutama disebabkan oleh aterosklerosis (penumpukan lemak)
pada dinding arteri pembuluh darah yang mensuplai jantung dan otak. Deposit lemak yang
bertumpuk menyebabkan terbentuknya lesi yang lama kelamaan akan membesar dan menebal
sehingga mempersempit arteri dan menghambat aliran darah. Akhirnya pembuluh darah akan
mengeras dan bersifat kurang lentur.
Gangguan kardiovaskular yang disebabkan aterosklerosis dikaitkan dengan berkurangnya aliran
darah karena jantung dan otak tidak menerima suplai darah yang cukup. Hambatan aliran darah
selanjutnya dapat berakibat pada episode kardiovaskular yang lebih serius termasuk serangan
jantung dan stroke.

Adanya sumbatan darah juga dapat menyebabkan terjadinya robekan jaringan di arteri yang
kemudian akan membengkak dan dapat menghambat seluruh pembuluh darah sehingga
mengakibatkan serangan jantung atau stroke.

Waspadai Gejala dan Faktor Risiko Penyakit Kardiovaskular

Satu hal yang perlu diwaspadai, individu dengan penyakit kardiovaskular secara umum tidak
mengalami gejala. Tanda awalnya dapat berupa serangan jantung atau stroke. Gejala umum
serangan jantung meliputi sakit atau rasa tidak enak di dada, tangan, bahu kiri, siku, rahang
atau punggung. Gejala lain mencakup sesak napas, mual dan muntah, rasa melayang atau
pingsan, keringat dingin, dan terlihat pucat.

Gejala umum dari stroke adalah melemahnya wajah, tangan dan kaki, seringkali pada satu sisi
tubuh. Gejala lain mencakup episode mendadak seperti mati rasa di wajah, tangan atau kaki,
bingung, sulit berbicara dan memahami pembicaraan, sulit melihat dengan sebelah atau kedua
mata, sulit berjalan, pusing, hilang keseimbangan, sakit kepala parah tanpa sebab, dan pingsan.

Terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan seseorang berisiko terhadap penyakit


kardiovaskular. Faktor risiko ini dibagi menjadi dua kelompok, yang dapat dikendalikan dan
yang tidak dapat dikendalikan. 80 persen penyakit jantung koroner dan serebrovaskular
disebabkan oleh faktor risiko yang dapat dikendalikan.

Faktor risiko yang dapat dikendalikan:

 Kadar kolesterol darah yang tinggi


 Hipertensi
 Diabetes mellitus
 Obesitas
 Gaya hidup (kurang gerak, merokok, konsumsi alkohol berlebihan)
 Faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan
 Usia
 Jenis kelamin
 Riwayat penyakit kardiovaskular dalam keluarga
Hubungan penyakit kardiovaskuler dengan mata

Hal tersebut merupakan hasil penelitian yang dilakukan tim dari University of Copenhagen,
Denmark, dengan melibatkan lebih dari 12 ribu orang. Seseorang dengan kondisi yang juga
dikenal sebagai xanthelasmata ini, cenderung mendapat serangan jantung atau meninggal
dunia dalam waktu 10 tahun.

Bintik atau garis kuning merupakan endapan kolesterol, tidak menimbulkan rasa sakit ataupun
mengganggu penglihatan. Tetapi banyak orang ke dokter kulit untuk bisa menyamarkan atau
menghilangkannya. Menurut penelitian yang dipublikasi secara online di British Medical
Journal, orang denganxanthelasma harus memeriksakan ke dokter.

Seseorang dengan xanthelasmata berisiko 12 persen lebih besar mengalami penyakit jantung
dibandingkan seseorang yang tidak mengalami kondisi ini. Bintik kuning di sekitar kelopak mata
ini lebih bisa diandalkan sebagai tanda penyakit jantung pada wanita.

"Prevelensi xanthelasmata tidak jauh berbeda antara pria dan wanita. Tetapi, pada wanita
tanda ini bisa jadi prediksi yang lebih baik dibandingkan pada pria," kata Profesor Anne
Tybjaerg-Hansen dari University of Copenhagen, seperti dikutip dari Daily Mail.

Hal ini, menurut Anne, dapat menjelaskan fakta bahwa pria dan wanita memiliki faktor risiko
yang sama dalam hal penyakit jantung. Tim peneliti mengungkap, temuan ini secara jelas
menemukan untuk pertama kalinya bahwa orang dengan xanthelasmata memiliki peningkatan
risiko penyakit kardiovaskular.

Studi ini juga menemukan garis warna putih atau abu-abu di sekitar kornea, yang dalam istilah
medis dikenal sebagai arcus corneae, tidak terkait dengan peningkatan risiko penyakit jantung.
Dalam penelitian ini, Profesor Anne mencatat riwayat kesehatan 12.745 responden dari 1976
hingga Mei 2009. Usia mereka antara 20 hingga 93 tahun dan tidak terkena penyakit jantung
pada awal proyek penelitian.

Jika kornea mata memiliki lingkaran abu-abu di sekitar mata, bisa jadi itu adalah arcus senilis,
yang sering dikaitkan dengan kadar kolesterol dan trigliserida yang tinggi, yang bisa
menyebabkan risiko penyakit jantung dan stroke.

Arcus senilis (atau Arcus senilis corneae) adalah sebuah cincin putih atau abu-abu buram di tepi
kornea yang hadir pada saat lahir atau muncul di kemudian hari dan menjadi cukup umum pada
mereka yang berusia lebih dari 50. Hal ini juga disebut A. adiposus, A. juvenilis (ketika itu terjadi
pada individu yang lebih muda), A. lipoides corneae, dan A. senilis.
Kondisi ini tidak mengganggu penglihatan sama sekali dan menurut Thomas Behrenbeck, M.D,
Ph.D tidak membutuhkan perawatan medis. Meski begitu karena ini menunjukkan tanda-tanda
penumpukan kolesterol di tubuh, maka sebaiknya orang-orang dengan kondisi ini mulai
menjaga asupan kolesterol dan tingkat trigliserida dalam tubuh.
DAFTAR PUSTAKA

http://www.tanyadokter.com/disease.asp?id=1001132

http://kamuskesehatan.com/arti/degenerasi-makula

http://www.scribd.com/doc/39173032/Ablasi-Retina-Perdarahan-Badan-Kaca-By-Fadil

http://www.scribd.com/doc/51441212/refrat-ablasio-retina

http://jec.co.id/services/retina-service/retina/ablasi-retina

http://www.artikelkesehatan99.com/18-tanda-anda-mengalami-migrain/

http://kampasiana.blogspot.com/2013/10/migren.html

Lang G. “Optic Nerve”, in Ophtalmology A Pocket Textbook Atlas Second Edition, p.386-8,
Stuttgart, New York, 2006.

Anonim. Neuritis Optik. Maret, 2010 [cited 2010 Nov 13].Available:


http://www.dokter/neuritisoptik.com
Anonim. The Online Atlas of Ophtalmologic. Feb 14, 2005 [cited 2010 Nov 13].Available:
http://www.eyeatlas.com
Kahle W. “The Eye”, in Color Atlas And Textbook of Human Anatomy , p.348, Stuttgart,
Germany, 2003.

Dunitz, M. Anatomy, Physiology, and Patophysiology : Handbook of Glaucoma. Second Edition.


Taylor and Francis: London; 2003.p.11-13
Sidarta I. Glaukoma. Ilmu Penyakit Mata Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI;
2007.p.10;181-2

G, Sunir J. Blockage of Central Retinal Arteries and Branches. Merck Manual. 2013.