Anda di halaman 1dari 25

Audit Siklus Produksi dan Personalia

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di dalam zaman yang semakin modern ini, semakin banyak pula perusahaan yang ingin
terus berkembang dan maju tak terkecuali perusahaan manufaktur yang semakin banyak dan
meluas kali ini. Dalam perusahaan manufaktur maupun perusahaan lain, aspek keuangan
menjadi hal yang sangat penting guna menjaga eksistensinya dalam dunia bisnis.
Demi menjaga keuangan perusahaan yang sehat dan terkendali perlu adanya suatu
tindakan untuk mencapainya, yakni bisa dilakukan melalui proses audit. Adapun siklus-siklus
yang terjadi di dalam perusahaan itu beragam macamnya. Namun secara garis besar sama.
Khusus dalam perusahaan manufaktur, siklus maupun transaksi pabrikasi menjadi hal
yang sangat penting karena siklus ini menjadi pemeran penting dalam tolok ukur keberhasilan
perusahaan manufaktur. Keberhasilan dalam mengendalikan maupun mengelola siklus-siklus
yang terkait dalam transaksi pabrikasi bukanlah hal yang mudah.
Oleh karena itu, sebagai bentuk pengendalian dalam transaksi perlu juga adanya
pengendalian atas siklus produksi dan juga siklus yang berhubungan, yakni siklus personalia
dalam bentuk audit atas siklus produksi dan personalia.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang digunakan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.2.1 Bagaimanakah perlakuan akuntansi pada siklus produksi dan personalia?
1.2.2 Apa tujuan dari proses audit atas siklus produksi dan personalia ?
1.2.3 Bagaimanakah prosedur dalam mengaudit siklus produksi dan personalia ?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.3.1 Mengetahui perlakuan akuntansi terhadap siklus produksi dan personalia sesuai dengan SAK.
1.3.2 Memahami tujuan audit atas siklus produksi dan personalia.
1.3.3 Mengetahui serta memahami prosedur di dalam audit atas siklus produksi dan personalia.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Perlakuan Akuntansi Siklus Produksi


Siklus produksi berhubungan dengan konversi bahan baku menjadi barang jadi. Siklus
ini meliputi perencanaan serta pengendalian produksi dari jenis-jenis dan kuantitas barang yang
akan diproduksi, tingkat persediaan yang akan dipertahankan, serta transasi dan peristiwa yang
berkaitan dengan proses pabrikasi. Transaksi yang terjadi di siklus ini dimulai pada saat bahan
baku diminta untk produksi, dan berakhir ketika barang yang diproduksi ditransfer ke barang
jadi. Transaksi yang terjadi dlaam siklus ini disebut trasaksi pabrikasi.
Siklus produksi saling berkaitan dengan 3 silus lain berikut ini; (1) siklus pengeluaran
dalam pembelian bahan baku dan pembayaran berbagai biaya overhead, (2) siklus jasa
personalia dalam pembayaran biaya tenaga kerja pabrik, (3) siklus pendapatan dalam penjualan
barang jadi. Adapun akun-akun utama yag dipengaruhi oleh transaksi pabrikasi adalah : (1)
bahan baku, (2) tenaga kerja langsung, (3) overhead pabrikasi, (4) barang dalam proses, (5)
barang jadi , (6) harga pokok penjualan.

2.1 Tujuan Audit atas siklus produksi


Tujuan audit atas kelompok
Kategori asersi Tujuan audit atas saldo akun
transaksi
Transaksi pabrikasi yang dicatat
Persediaan yang tercantum
menyajikan bahan, tenaga kerja,
dalam neraca secara fisik ada.
dan overhead yang ditransfer ke
Keberadaan atau Harga pokok penjualan
produksi serta pemindahan
keterjadian menunjukkan harga pokok
produksi yang sudah selesai ke
barang yang dijual selama
barang jadi selam periode
periode berjalan
berjalan
Persediaan mencakup semua
Semua transaksi pabrikasi yang bahan, produk, dan
Kelengkapan terjadi selama periode berjalan perlengkapan yang ada di
sudah dicatat tangan perusahaan pada tanggal
neraca.
Harga pokok penjualan
mencakup dampak semua
transaksi penjualan selama
periode berjalan.
Entitas memegang hak atas Entitas pelapor memegang hak
Hak dan
persediaan yang berasal dari milik atas persediaan pada
kewajiban
transaksi pabrikasi yang dicatat tangal neraca
Persediaan telah dinyatakan
dengan tepat pada harga yang
Transaksi pabrikasi telah terendah antara harga pokok dan
Penilaian atau dijurnal, di ikhtisarkan, dan harga pasar.
alokasi dibukukan atau diposting Harga pokok penjualan
dengan benar didasarkan pada penerapan
metode arus biaya yang berlaku
secara konsisten.
Persediaan dan harga pokok
penjualan telah di identifikasi
Rincian transaksi pabrikasi dan di klasifikasikan secara
mendukung penyajiannya tepat dalam laporan keuangan.
Penyajian dan
dalam laporan keuangan Pengungkapan yang
pengungkapan
termasuk klasifikasi dan berhubungan dengan dasar
pengungkapannya penilaian dan pengagunan atas
penjaminan persediaan sudah
memadai.
Namun secara sederhana tujuan audit atas persediaan yang berkaitan dengan siklus
produksi adalah sebagai berikut :
1. Semua persediaan yang dicatat memang benar-benar ada pada tanggal neraca (existence).
2. Semua persediaan yang telah ada dihitung dan dicantumkkan dalam ikhtisar persediaan
(completeness).
3. Semua persediaan milik perusahaan (ownership).
4. Persediaan dinilai sesuai dengan prinsip yang berlaku umum dan diterapkan secara konsisten
(valuation).
5. Pos-pos persediaan telah diklasifikasi dengan tepat (clasification).
6. Semua persediaan telah dicatat dengan pisah batas pembelian dan penjualan pada akhir tahun
(cut-off).
7. Jumlah rincian persediaan dalam kartu persediaan sesuai dengan buku besar (mechanical
accurary).
8. Semua persediaan yang dijadikan jaminan telah diungkapkan dengan lengkap dalam laporan
keuangan (disclosure).

2.2 Fungsi, Dokumen Serta Pengendalian Yang Terkait Dalam Siklus Produksi
Pelaksanaan dan pencatatan traksaksi prabrikasi serta pengamanan persediaan melibatkan
fungsi-fungsi pabrikasi berikut ini:
 Fungsi penjualan
Di dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan dari pembeli, bagian order
penjualan berfungsi menerima order dari pelanggan dan meneruskan order tersebut ke
departemen produksi. Di dalam perusahaan yang berproduksi secara massa, order produksi
umumnya di tentukan bersama dalam rapat bulanan antara fungsi pemasaran, fungsi produksi
dan fungsi teknik. Fungsi penjualan melayani order dari pelanggan berdasarkan persediaan
produk jadi yang ada di gudang.
 Fungsi otorisasi produksi
Fungsi ini bertanggung jawab untuk membuat perintah produksi bagi bagian- bagian yang ada
di bawahnya yang akan terkait dalam pelaksanaan proses produksi guna memenuhi permintaan
produksi dari fungsi penjualan.
 Fungsi produksi
Fungsi ini bertanggung jawab untuk melaksanakan produksi sesuai dengan surat order produksi
yang diterima dari departemen produksi dan daftar kebutuhan bahan serta daftar kegiatan
produksi yang melampiri surat order produksi tersebut.
 Fungsi perencanaan dan pengawasan produksi
Fungsi ini bertanggung jawab untuk membantu departemen produksi dalam merencanakan dan
mengawasi kegiatan produksi. Fungsi ini bukan merupakan fungsi garis, melainkan fungsi staf.
 Fungsi gudang
Dalam siklus produksi ini, funsi gudang bertanggung jawab untuk melayani permintaan bahan
baku dan bahan atau barang yang lain atau barang yang di gudangkan. Fungsi ini juga berfungsi
untuk menerima produk jadi yang diserahkan oleh fungsi produksi.
 Fungsi akuntansi biaya
Dalam siklus produksi, fungsi akuntansi biaya bertanggung jawab untuk mencatat biaya
produksi langsung, biaya produksi tidak langsung, dan biaya non produksi ke dalam buku
pembantu biaya.
 Fungsi akuntansi umum
Dalam siklus produksi, fungsi akuntansi umum bertanggung jawab untuk mencatat transaksi
terjadinya biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya overhead pabrik, dan biaya nonproduksi
ke dalam jurnal pemakaian nahan baku dan jurnal.
 Dokumen terkait dalam siklus produksi adalah :
1. Perintah produksi
2. Laporan kebutuhan bahan
3. Slip pengeluaran bahan
4. Tiket waktu
5. Tiket perpindahaan
6. Laporan aktivitas produksi harian
7. Laporan produksi yang sudah selesai
8. Buku besar pembantu atau file induk persediaan (catatan persediaan perpetual)
9. File induk biaya standar
10. File induk persediaan bahan baku
11. File induk persediaan barang dalam proses
12. File induk persediaan barang jadi
 Pengedalian manajemen merupakan pengendalian terkait dengan siklus produksi
Pengendalian manajemen seringkali digunakan untuk memantau setiap fungsi-fungsi yang ada
dalam silus produksi ini. Apabila manajemen ditetapkan sebagai pihak yang bertanggung
jawab atas penggunaan sumber daya pada setiap tahapan produksi, maka kemungkinan
terjadinya kesalahan yang tidak disengaja akan diperkecil. Manajemen biasanya, akan dengan
cermat memantau perintah produksi, tenaga kerja, dan bahan yang digunakan, total akumulasi
biaya produksi, eksistensi persediaan, dan persetujuan terhadap biaya standar.

2.3 Pengujian substantif atas saldo persediaan


Bagian ini berhubungan dengan pengujian substantif atas persediaan barang dagang
yang dibeli dan disimpan oleh pedagang grosir serta eceran dan juga persediaan bahan baku,
barang dalam proses, serta barang jadi yang dimiliki oleh perusahaan. Audit atas saldo
persediaan memerlukan perencanaan yang cermat dan investasi waktu, biaya, dan upaya audit
yang sangat substansial. Guna memastikan bahwa pemeriksaan ini efisien dan efektif dalam
mendapatkan bukti kompeten yang mencukupi, harus dioertimbangkan secara cermat
penentuan tingkat resiko deteksi yang dapat diterima dan perancangan pengujian substanntif
yang sesuai untuk asersi-asersi persediaan.
Adapun langkah maupun tahap-tahap dalam pengujian pengendalian serta pengujian
substantif atas saldo persediaan adalah sebagai berikut :
1. Menentukan resiko deteksi untuk pengujian rincian.
2. Merancang pengujian substanntif
a. Prosedur awal
b. Prosedur analitis
c. Penngujian rincian transaksi
i. Pengujian ayat jurnal atas akun persediaan
ii. Pengujian pisah-batas transaksi pembelian, pabrikasi, dan
penjualan.
d. Pengujian rincian saldo
i. Mengamati perhitungan persediaan fisik klien
ii. Estimasi akuntansi
2.4 Kuisioner Pengendalian Internal atas Persediaan
Y = Ya T = Tidak
TR = Tidak Relevan
Y T TR
PENYIMPANAN dan PENGAWASAN FISIK
1) Apakah persediaan :
a) Dipisahkan atas kelompok :
 Bahan baku?
 Barang dalam proses?
 Barang jadi/dagang?
 Bahan pembantu dan suku cadang?
b) Diatur secara rapi dan tertib ?
c) Tercegah dari :
 Pencurian?
 Kerusakan?
 Kebakaran, banjir, dan resiko lain?
d) Secara berkala dicocokkan dengan kartu gudang?
2) Apakah persediaan dibawah pengawasan seorang
penjaga gudang atau orang tertentu lainnya?
3) Apakah kecuali petugas gudang dilarang masuk ke
gudang?
4) Apakah setiap pengeluaran barang jadi berdasarkan bukti
penjualan tertulis?
5) Apakah setiap pengeluaran barang jadi/barang dagang
harus berdasarkan surat jalan (DO-Delivery Order), atau
sejenisnya yang diotorisasi pejabat perusahaan yang
berwenang?
6) Apakah terdapat pos-pos penjagaan yang mengawasi arus
keluar masuk barang barang dengan efektif?
PEMBUKUAN PERSEDIAAN
7) Bila klien menggunakan sistem persediaan perpetual:
a) Apakah dibuat kartu persediaan untuk :
 Bahan baku
 Barang dalam proses
 Barang jadi/dagang
 Bahan pembantu dan suku cadang
b) Apakah kartu persediaan tersebut dipegang oleh staf yang
tidak menguasai persediaan secara fisik?
c) Apakah total jumlah menurut kartu persediaan tersebut
secara berkala dicocokkan dengan kartu akun kontrol
(buku besar) persediaan
d) Apakah saldo kartu persediaan dicocokkan dengan hasil
stock opname paling sedikit setahun sekali
e) Bila terdapat selisih, apakah diinvestigasi oleh orang yang
tidak menguasai persediaan secara fisik atau pemegang
kartu persediaan ?
f) Apakah penyesuaian atas selisih diotorisasi oleh petugas
berwenang
8) Bila digunakan sistem terbuka, sebutkan prosedur dan
pengawasan yang diperlukan
STOCK OPNAME
9) Apakah yang mengawasi/melakukan perhitungan atau
menyusun ikhtisar hasil perhitungan terlepas dari :
a) Penguasaan secara fisik atas barang (penjaga gudang dan
sebagainya)?
b) Pencatatan kartu persediaan?
10) Apakah dibuat instruksi tertulis untuk pelaksanaan stock
opname dan dijelaskan kepada pelaksana stock opname ?
11) Apakah dilakukan pisah batas atas penerimaan dan
pengeluaran barang selama stock opname ?
12) Apakah barangyang penjualan lambat, usang, atau rusak
telah dipisahkan?
13) Apakah hasil stock opname dicocokkan dengan buku
besar?
14) Apakah persediaan akhir dinilai secara konsisten dengan
tahun sebelumnya?
SISTEM PEMBIAYAAN
15) Bila terdapat sistem perhitungan biaya, apakah :
a) Sesuai dengan prinsip yang berlaku umum di indonesia?
b) Cocok dengan produk?
c) Terancang untuk mencegah pemborosan?
d) Dicocokkan dengan laporan keuangan ?
e) Menggunakan biaya standar/kalkulasi di muka untuk
disesuaikan dengan biaya sebenarnya ?
f) Varians yang timbul dibuat analisisnya?
16) Apakah hal-hal sebagai berikut dilaporkan segera kepada
manajemen (untuk perbaikan/diambil keputusan) :
a) Rencana kebutuhan ?
b) Barang-barang yang penjualannya lambat?
c) Barang yang usang?
d) Barang yang rusak?
e) Kelebihan persediaan?
f) Persediaan sisa?
17) Apakah untuk persediaan berikut dikendalikan dengan
baik dan dibukukan sebagaimana seharusnya?
a) Barang konsiyasi keluar (milik klien)?
b) Barang konsiyasi yang diterima (milik perusahaan lain
untuk dijualkan)?
c) Barang dalam customers bounded warehouse atau broker’s
warehouse?
d) Barang pada kontraktor/subkontraktor?
e) Barang kemasan perusahaan yang dapat dikembalikan?
f) Barang kemasan?
g) Per produk?
18) Apakah barang-barang tersebut pada butir 16 secara fisik
dipisahkan (bila mungkin dilakukan) ?
19) Apakah jumlah rata-rata persediaan cukup dapat diterima
untuk jenis usaha dan besarnya perusahaan?
20) Apakah produksi dilakukan berdasarkan :
a) Pesanan
b) Produksi massa
21) Jika pberdasarkan pesanan, apakah dibuat lembar
pesanan untuk setiap pesanan ?
22) Apakah metode penilaian persediaan berdasarkan:
a) Biaya :
 FIFO
 LIFO
 Rata-rata bergerak
 Rata-rata tertimbang
b) Biaya atau harga pasar yang lebih rendah
c) Harga jual
ORDER PEMBELIAN
1) Apakah pembelian dilakukan :
a Oleh pejabat/bagian khusus?
Bagian administrasi pembelian
b Yang terpisah dari bagian:
1 Akuntansi?
2 Pembayaran?
3 Penerimaan barang?
4 Penyimpanan?
5 Pencatatan persediaan?
c Dengan syarat yang menguntungkan ?
2) Apakah order pembelian :
a Dibuat untuk semua pembelian?
b Diotorisasi pejabat tertentu?
c Diberi nomer urut tercetak?
d Tersimpan lengkap, termasuk yang dibatalkan?
e Blanko tersimpan dengan baik?
f Tembusan dikirimkan kepada :
1 Bagian akuntansi untuk dicocokkan dengan laporan
penerimaan barang dan faktur?
2 Bagian penerimaan barang sebagai otorisasi untuk
menerima barang?
3) Apakah pembelian dikoordinasi dengan :
a Program produksi?
b Anggaran penjualan?
c Batas persediaan minimum atau maksimum?
4) Apakah kebijaksanaan pembelian tidak dilakukan dengan
memberikan keuntungan luar biasa kepada :
a Penjual tertentu?
b Relasi staf pembelian atau lainnya?
c Suatu perusahaan dimana seorang staf mempunyai
kepentingan?
d Perusahaan affiliasi?
5) Apakah harga penawaran penjual yang terdaftar ditinjau
secara berkalal, untuk memastikan bahwa selalu
merupakan harga bersaing?
PENERIMAAN BARANG
6) Apakah terdapat bagian penerimaan barang yang terpisah
dari :
a Bagian pembelian?
b Bagian akuntansi ?
c Bagian pembayaran?
d Bagian penyimpanan?
e Bagian pencatatan persediaan?
7) Apakah barang yang diterima disertai:
a Surat jalan atau faktur dari pemasok?
b Surat Keterangan Pengangkut?
8) Apakah barang yang diterima diperiksa mengenai:
a Kuantitas?
b Keadaan?
c Spesifikasi pembelian lainnya?
d Kecocokan dengan order pembelian?
9) Apakah laporan penerimaan barang:
a Dibuat untuk seluruh penerimaan barang?
b Mencatat jumlah yang diterima berdasarkan perhitungan
yang sebenarnya?
c Diberi nomor urut tercetak?
d Disimpan selengkapnya, termasuk yang dibatalkan?
e Blankonya disimpan dengan baik?
f Tembusannya dikirim kepada :
1 Bagian akuntansi, untuk diocokkan dengan order
pembelian dan faktur?
2 Bagian pembelian, sebagai informasi bahwa pesanan
telah diterima?
10) Jika barang ditolak oleh bagian peneriamaan :
a Apakah dibuat surat jalan?
b Apakah disimpan oleh bagian penyimpanan?
c Apakah retur pembelian cukup terkontrol untuk
mengurangi jumlah utang yang dibubukan?
FAKTUR PEMBELIAN
11) Apakah faktur-faktur dari pemasok diperiksa/dicocokkan
oleh staf bagian usaha dengan :
a Order pembelian ?
b Laporan penerimaan barang?
12) Apakah staf bagian utang usaha ini terpisah dari ?
a Bagian pemesanan pembelian?
b Bagian penerimaan barang?
13) Faktur ini secara berturut-turut harus menunjukkan bukti
persetujuan seperti :
a Harga benar?
b Perkalian dan pertambahan?
c Biaya pengangkutan?
d Beban-beban lain?
e Pengurangan-pengurangan potongan atau penyisihan
lainnya?
f Kode atau alokasi akun yang harus dibebankan?
PEMBELIAN-PEMBELIAN KHUSUS
14) Apakah pembelian antarperusahaan afiliasi harganya
layak?
15) Apakah pembelian antar departemen dalam suatu
perusahaan:
a Tidak diperhitungkan laba?
b Bila terdapat “laba antarperusahaan” , laba tersebut telah
dieleminasi kembali?
INFORMASI UMUM
16) Apakah sistem informasi termasuk :
a Anggaran pembelian?
b Anggaran biaya?
c Perbandingan antara anggaran dengan biaya sebenarnya?
d Penjelasan tertulis atas penyimpangan yang material?
17) Apakah perhitungan rasio yang berikut secara teratur
diperikasa dan dijelaskan secara cukup:
a Persentase laba kotor dengan penjualan?
b Presentase biaya penjualan dengan penjualan?
c Tingkat perputaran persediaan ?
18) Apakah ada proseddur yang cukup untuk menjamin
pertimbangan yang tepat dari:
a Pisah batas pembelian?
b Penyesuaian pendapatan dan biaya?
c Laba yang tidak direalisasi pada barang?
2.5 Perlakuan Akuntansi Siklus Penggajian dan Personalia
Siklus jasa personalia (personnel services cycle) suatu entitas menyangkut peristiwa
dan aktivitas yang berhubungan dengan kompensasi eksekutif serta karyawan. Jenis-jenis
kompensasi ini meliputi gaji, upah dan insentif, komisi, bonus, opsi saham, dan tunjangan
karyawan. Siklus jasa personalia saling berkaitan dengan dua siklus lainnya, yaitu siklus
pengeluaran dan siklus produksi. Pembayaran gaji dan upah serta pembayaran pajak gaji dan
upah berhubungan dengan transaksi pengeluaran kas dalam siklus pengeluaran. Sedangkan
untuk distribusi biaya tenaga kerja pabrik ke barang dalam proses berkaitan dengan siklus
produksi.
Siklus jasa personalia dalam perusahaan manufaktur melibatkan fungsi personalia,
fungsi keuangan, dan fungsi akuntansi. Fungsi personalia bertanggungjawab dalam
pengangkatan karyawan, penetapan jabatan, penetapan tarif gaji dan upah, promosi dan
penurunan pangkat, mutasi karyawan, penghentian karyawan, dan penetapan berbagai
tunjangan kesejahteraan karyawan serta penghitungan gaji dan upah karyawan. Fungsi
keuangan bertanggungjawab atas pelaksanaan pembayaran gaji dan upah serta berbagai
tunjangan kesejahteraan karyawan. Fungsi akuntansi bertanggungjawab atas pencatatan biaya
tenaga kerja dan distribusi biaya tenaga kerja untuk kepentingan perhitungan cost produk dan
penyediaan informsi guna pengawasan biaya tenaga kerja.
Gaji pokok + (lembur) + (tunjangan) + (bonus/insentif) – (potongan)

Gaji (payroll) merupakan imbalan yang diberikan oleh pihak pemberi kerja kepada pihak
pekerja dalam hubungan yang relatif tetap, maupun dalam bentuk kontrak. Besarnya gaji
biasanya sudah ditentukan pada saat kesepakatan kerja dilakukan dan tidak akan berubah
sampai dengan adanya kesepakatan baru. Gaji terdiri dari beberapa elemen, diantaranya adalah
gaji pokok, lembur, tunjangan-tunjangan, bonus atau insentif dan potongan-potongan. Gaji
dihitung dengan menambahkan semua elemen-elemen gaji kecuali potongan yang merupakan
pengurang besarnya nilai gaji. Gaji dapat diformulasikan sebagai berikut:

2.3.1 Pengakuan atas gaji


Gaji yang dibayarkan dengan sistem transfer diakui pada saat transfer dilaksanakan,
gaji yang dibayarkan dengan menggunakan cek diakui pada saat cek tersebut dicairkan oleh
penerima gaji, sedangkan gaji yang dibayarkan dalam bentuk tunai (cash) diakui pada saat gaji
diserahkan kepada penerima gaji. Besarnya biaya gaji yang diakui adalah sebesar nilai hasil
dari formulasi di atas.
2.3.2 Jenis-jenis akun yang mempengaruhi siklus penggajian dan personalia
Jenis jenis akun yang mempengaruhi siklus penggajian dan personalia adalah :
a. Beban Gaji dan Upah
b. Pajak penghasilan ditanggung perusahaan dan tunjangan pegawai
c. Kewajiban berupa hutang gaji, hutang pajak penghasilan pegawai
d. Akun sejenis yang berhubungan dengan penggajian
2.3.3 Pencatatan (jurnal penggajian)
Gaji dicatat pada saat pengakuannya, yaitu sesuai tanggal yang tertera di slip transfer,
slip gaji, tanggal cek tergantung bentuk gaji yang diberikan.
Adapun jurnal atas gaji adalah sebagai berikut:
Pada saat penggajian:
Beban gaji xx
Kas xx
Utang PPh xx
Pada saat penyetoran PPh:
Utang PPh xx
Kas xx

2.3.4 Pelaporan gaji


Pada laporan Laba Rugi, gaji termasuk di dalam kelompok besar beban operasional dan
dinyatakan di dalam akun beban gaji. Akun ini mempengaruhi besa kecilnya laba atau rugi
perusahaan. Pernyataan laba rugi akan memberi kontribusi terhadap akun laba ditahan (retained
earning) pada neraca.

2.6 Tujuan Audit atas Siklus Penggajian dan Personalia


Tujuan audit terhadap siklus penggajian dan personalia antara lain:
a. Membuktikan keberadaan penggajian dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan
penggajian dan personalia yang dicantumkan di neraca.
Dalam hal ini pengujian ditujukan untuk membuktikan apakah beban gaji dan upah
serta beban pajak penghasilan yang tercatat di dalam neraca berhubungan dengan kompensasi
untuk jasa yang diberikan selama periode berjalan. Pengujian juga ditujukan untuk menguji
apakah saldo kewajiban gaji dan upah serta pajak penghasilan menunjukkan jumlah yang
terutang pada tanggal neraca.
b. Membuktikan kelengkapan transaksi yang dicatat dalam catatan akuntansi dan
kelengkapan saldo utang gaji dan upah serta utang pajak penghasilan yang disajikan dalan
neraca.
Audit atas siklus penggajian dan personalia dilakukan salah satunya adalah untuk
membuktikan apakah beban gaji dan upah serta beban pajak penghasilan yang tercatat
mencakup semua beban gaji dan upah serta beban pajak penghasilan yang terjadi untuk jasa
personalia selama tahun berjalan. Dalam hal saldo akun, audit ini bertujuan untuk
membuktikan saldo utang gaji dan upah serta pajak penghasilan telah mencakup semua jumlah
yang terutang kepada personel dan lembaga pemerintah pada tanggal neraca.
c. Membuktikan hak dan kewajiban atas utang gaji dan upah serta utang pajak penghasilan
yang dicantumkan di neraca.
Kewajiban (utang) gaji dan upah serta pajak penghasilan karyawan merupakan
kewajiban entitas yang melaporkan (perusahaan) pada tanggal neraca. Audit atas siklus
penggajian dan personalia memeriksa dan meyakinkan bahwa kewajiban tersebut telah
dipenuhi dan terlaporkan dalam neraca.
d. Membuktikan kewajaran penilaian atau alokasi beban gaji dan upah dan beban pajak
penghasilan serta utang gaji dan upah dan utang pajak penghasilan yang dicantumkan di
neraca.
Alokasi beban gaji dan upah dan beban pajak penghasilan serta utang gaji dan upah dan
utang pajak penghasilan telah dicatat secara akurat sesuai dengan transaksi dan alokasi ini
secara wajar telah tercantum dalam neraca sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan.
e. Membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan utang gaji dan upah serta utang
pajak penghasilan di neraca
Penyajian dan pengungkapan unsur-unsur laporan keuangan harus didasarkan pada
prinsip akuntansi berterima umum. Pengujian substantif terhadap siklus penggajian dan
personalia diarahkan untuk mencapai salah satu tujuan membuktikan apakah unsur utang gaji
dan upah serta utang pajak penghasilan telah disajikan dan diungkapkan oleh klien di neraca
sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum. Pengujian ini dilakukan dengan cara
membandingkan asersi penyajian dan pengungkapan utang gaji dan upah dan utang pajak
penghasilan di neraca yang diaudit dengan prinsip akuntansi berterima umum. Beban gaji dan
upah serta beban pajak penghasilan harus diidentifikasi serta diklasifikasikan dengan tepat
dalam laporan laba rugi. Sedangkan akun utang gaji dan upah serta pajak penghasilan harus
diidentifikasi dan diklasifikasikan dengan tepat dalam neraca. Laporan keuangan memuat
pengungkapan yang layak atas pensiun dan program tunjangan lainnya.

2.7 Fungsi di Dalam Siklus, Dokumen dan Catatan serta Internal Control atas Penggajian
dan Personalia
2.3.1 Fungsi-fungsi yang terkait dalam siklus penggajian dan personalia
Pemrosesan transaksi penggajian dalam siklus penggajian dan personalia melibatkan
fungsi-fungsi terkait yang berada dalam unit organisasi. Berikut ini merupakan fungsi-fungsi
yang terkait, antara lain:
a. Fungsi penerima pegawai
Fungsi ini bertanggungjawab untuk mencari karyawan baru, menyeleksi calon
karywan, memutuskan penempatan karyawan baru, membuat surat keputusan tarif gaji dan
upah karywan, kenaikan pangkat dan golongan gaji, mutasi karyawan, dan pemberhentian
karyawan. Semua pengangkatan karyawan dilakukan di departemen personalia dan harus
didokumentasikan dalam formulir otorisasi personalia. Formulir itu harus menunjukkan
klasifikasi pekerjaan, tarif upah awal, serta potongan gaji dan upah yang diotorisasi.
Pengendalian terhadap pengangkatan karyawan baru pada file induk data personalia akan
mengurangi resiko pembayaran gaji dan upah kepada karyawan fiktif. Deangan demikian
pengendalian itu berkaitan dengan asersi keberadaan atau keterjadian serta hak dan kewajiban
untuk transaksi pengggajian.
b. Fungsi pencatat waktu
Fungsi ini bertanggungjawab untuk menyelenggarakan catatan waktu hadir bagi semua
karyawan perusahaan. Pengendalian internal yang baik mensyaratkan fungsi pencatatan waktu
hadir karyawan tidak boleh dilaksanakan oleh penyelia (supervisors) atau oleh karyawan yang
bertanggngjawab atas pembuatan daftar gaji dan upah. Dalam banyak perusahaan, teradapat
departemen pencatat waktu yang bertanggungjawab atas fungsi ini. Dengan memastikan bahwa
data yang akurat telah diakumulasi untuk jumlah waktu kerja yang dilakukan, pengendalian
terhadap fungsi pencatatan waktu akan berkaitan dengan asersi keterjadian, kelengkapan, dan
penilan atau alokasi untuk transaksi penggajian.
c. Fungsi pembuat daftar gaji dan upah
Fungsi ini bertanggungjawab menghitung penghasilan setiap karyawan selama jangka
waktu pembayaran gaji dan upah. Hasil perhitungan ini dicantumkan dalam daftar gaji dan
upah untuk kemudian diserahkan kepada fungsi pembuat bukti kas keluar guna pembuatan
bukti kas keluar yang dipakai sebagai dasar untuk pembayaran gaji dan upah kepada karyawan.
d. Fungsi pembuat bukti kas keluar
Fungsi ini bertanggungjawab membuat perintah pengeluaran kas untuk pembayaran
gaju dan upah seperti yang tercantum dalam daftar gaji dan upah. Fungsi ini membuat bukti
kas keluar yang memberi otorisasi kepada fungsi keuangan untuk membayarkan gaji dan upah
kepada karyawan seperti yang tercantum pada daftar gaji dan upah tersebut.

e. Fungsi pembayar gaji dan upah


Fungsi ini bertannggungjawab mengisi cek guna pembayaran gaji dan upah dan
menguangkan cek tersebut ke bank. Cek gaji tersebut harus ditandatangani dan dibagikan oleh
personel bendahara yang berwenang dan tidak terlibat dalam penyusunan daftar atau pencatat
gaji dan upah. Cek yang telah diuangkan berupa uang tunai kemudian dimasukkan ke dalam
amplop gaji dan upah setiap karyawan, untuk selanjutnya dibagikan kepada karyawan yang
berhak. Gaji yang belum diambil harus disimpan di tempat yang aman di kantor bendahara.
Selain membayarkan gaji dan upah, SPT pajak gaji dan upah atau pajak penghasilan
harus diserahkan sebesar jumlah yng dipotong dari karyawan untuk pajak penghasilan. SPT ini
harus diserahkan secara tepat waktu untuk menghindari pembayaran denda.
f. Fungsi akuntansi biaya
Fungsi ini bertanggungjawab mencatat distribusi biaya ke dalam kartu kos produkdan
kartu biaya berdasarkan rekap daftar gaji dan upah dan kartu jam kerja (untuk tenaga kerja
langsung pabrik).
g. Fungsi akuntansi umum
Fungsi ini bertanggungjawab untuk mencatat gaji dan upah dalam jurnal umum.
2.3.2 Dokumen dan catatan
Dokumen yang digunakan dalam melaksanakan serta mencatat transaksi penggajian adalah
sebagai berikut:
a. Dokumen pendukung perubahan gaji dan upah
Dokumen-dokumen ini umumnya di keluarkan oleh fungsi kepegawaian berupa surat-surat
keputusan yang bersangkutan dengan karyawan. Miisalnya surat keputusan pengangkatan
karyawan baru, kenaikan pangkat, dan perubahan tarif upah.
b. Kartu jam hadir (kartu absen)
Dokumen ini digunakan oleh fungsi pencatat waktu untuk mencatat jam hadir setiap karyawan
perusahaan.
c. Kartu jam kerja (tiket waktu)
Dokumen ini digunakan untuk mencatat waktu yang dikonsumsi oleh tenaga kerja langsung
pabrik guna mengerjakan pekerjaan. Dokumen diisi oleh mandor pabrik dan diserahkan ke
fungsi pembuat daftar gaji dan upah yang kemudian dibandingkan dengan kartu jam hadir.
d. Daftar gaji dan daftar upah (register penggajian)
Dokumen yang berisi jumlah gaji dan upah bruto setiap karyawan, dikurangi potongan-
potongan PPh pasal 21, utang karyawan, uiran untuk organisasi karyawan.
e. Rekap daftar gaji dan rekap daftar upah
Dokumen ini merupakan hasil ringkasan dari gaji dan upah per departemen, yang dibuat
berdasarkan daftar gaji dan upah.
f. Surat pernyataan gaji dan upah
Dokumen ini dibuat sebagai catatan bagi setiap karyawan mengenai rincian gaji dan upah yang
diterima setiap karyawan beserta berbagai potongan yang menjadi beban setiap karyawan.
g. Amplop gaji dan upah
Di dalam amplom gaji dan upah isi bberisi gaji dan upah karyawan yang diserahkan kepada
karyawan. Halaman muka amplop gaji dan upah setiap karyawan ini berisi informasi mengenai
identitas karyawan.
h. Bukti kas keluar (cek gaji)
Merupakan perintah pengeluaran kas yang dibuat oleh fungsi pembuat bukti kas keluar kepada
fungsi pengeluaran kas, berdasarkan informasi dalam daftar gaji dan upah yang diterima dari
fungsi pembuat daftar gaji dan upah.
i. Rekening bank untuk penggajian imprest.
Rekening yang menampung setoran sebesar total gaji dan upah bersih yang dilakukan selama
periode pembayaran.
j. Ikhtisar distribusi biaya tenaga kerja
Laporan yang menunjukkan klasifikasi akun untuk pengghasilan pabrik kotor selama setiap
periode pembayaran.
k. SPT pajak gaji dan upah
Formulir yang ditetapkan oleh otoritas pajak untuk diserahkan bersama dengan pembayaran
pajak yang dipotong dari karyawan serta pajak gaji dan pemberi upah kerja untuk jaminan
sosial serta pengangguran federal dan negara bagian.
l. File personalia karyawan
File yang memuat data mengenai ikatan kerja setiap karyawan dan meuat semua otorisasi
personalia yang dikeluarkan untuk karyawan tersebut, evaluasi kerja, serta tindakan disipliner,
jika ada.
m. File induk data personalia
File computer yang berisi data terkini mengenai karyawan yang diperlukan untuk menghitung
gaji dan upah seperti klasifikasi pekerjaan, tarif upah dan potongan.
n. File induk penghasilan karyawan
File computer yang berisi penghasilan kotor, potongan gaji dan upah serta pembayaran bersih
setiap karyawan selama tahun berjalan hingga tanggal pada hari itu menurut periode
pembayaran.
2.8 Kuisioner Pengendalian Internal atas siklus penggajian dan personalia
Y = Ya T = Tidak
TR = Tidak Relevan
Y T TR
1. Bila terdapat departemen SDM (human resources
development-HRD :
a. Apakah semua penerimaan pegawai, perubahan gaji,
dan pemberhentian melalui bagian ini?
b. Apakah dibuat arsip karyawan dengan lengkap?
2. Bila tidak ada bagian HRD, uraikan secara singkat dan
jelas prosedur tersebut pada butir 1.a di atas :
..........................................................................................
..........................................................................................
..........................................................................................
3. Mutasi karyawan, apakah :
a. Diperlukan otorisasi dari pejabat tertentu atas :
1. Pengerjaan ?
2. Perubahan skala gaji ?
b. Mutasi segera diberitahukan ke bagian gaji/upah?
4. Catatan waktu, apakah :
a. Catatan waktu dilakukan dengan time clocks (jam)?
1. Bila “Ya”, apakah catatan time clocks cukup diawasi?
2. Bila “Tidak”, apakah catatan waktu cukup terbina
dengan baik?
Jelaskan:
b. Catatan waktu dilindungi untuk mencegah perubahan?
5. Bila terdapat pembayaran upah atas dasar hasil kerja,
apakah:
a. Terdapat catatan hasil kerja dan diawasi?
b. Dicocokkan hasil produksi sebenarnya sebelum
dibayar?
6. Persiapan gaji/upah, apakah :
a. Total jam kerja setiap pegawai disetujui oleh staf
tertentu?
b. Lembur pegawai terlebih dahulu harus disetujui
pejabat yang berwenang?
c. Pengumpulan data gaji/upah, perincian masing-masing
perhitungan, dan total gaji diperiksa kembali oleh
pegawai lain sebelum dibayar?
d. Atas gaji tersebut sudah diperhitungkan PPh 21 yang
sesuai dengan peraturan pemerintah ( UU Perpajakan)?
7. Pembayaran gaji/upah:
a. Bila dibayar berupa uang tunai, apakah:
1. Mereka diminta membuat tanda terima?
2. Tanda tangan kemudian dicocokkan dengan contoh
pada arsip kepegawaian oleh orang yang tidak
mempersiapkan atau membayar gaji/upah?
3. Pembayar gaji/upah digilir?
4. Pembayar gaji/upah terpisah dari yang
mempersiapkan perhitungannya?
b. Bila semua atau sebagian pegawai dibayar dengan cek,
apakah:
1. Setiap cek ditandatangani oleh orang-orang yang tidak
melakukan :
a. Persiapan gaji/upah?
b. Menyiapkan cek?
c. Membukukan gaji/upah?
2. Cek yang batal dirusak atau tetap disimpan?
3. Buku cek hanya dipegang oleh petugas bagian
keuangan yang menyiapkan cek?
4. Rekening bank untuk gaji direkonsilisasi setiap akhir
bulan?
5. Apakah rekonsiliasi dilakukan oleh orang lain yang
tidak menyiapkan dan membayar gaji/upah?
Bila “Ya”, apakah :
a. Rekening koran dikirimkan langsung kepadanya?
b. Bila paid check dikembalikan oleh bank kepada
perusahaan (dilakukan oleh beberapa bank asing)
apakah nama dan jumlah yang tertera pada cek
dicocokkan dengna gaji?
c. Diperhatikan tandan tangan pengambilan uang pada
paid check yang dikembalikan tersebut?
d. Bila pembayaran dilakukan dengan pemindahbukuan
ke rekening bank pegawai, apakah:
1. Perintah pemindahbukuan tersebut ditandatangani
oleh orang yang terpisah dari :
a. Yang mempersiapkan dafar gaji/upah?
b. Yang mempersiapkan cek gaji/upah?
c. Pembukuan gaji/upah?
2. Pegawai diberitahu mengenai pembayaran kepada
mereka?
8. Apakah prosedur cukup menjamin bahwa tidak adak
kelalaian atas pengurangan yang harus dilakukan atas
gaji/upah?
9. Apakah utang gaji/upah yang belum diambil dalam
waktu tertentu (minimal dalam waktu satu bulan)
disetor kembali dan dibukukan sebagai utang
gaji/upah?

2.9 Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif dalam Siklus Penggajian dan
Personalia
Setelah kita mengetahui fungsi-fungsi bisnis dan dokumen serta pencatatan terkait
dengan siklus penggajian dan personalia, selanjunya kita akan membahas mengenai pengujian
pengendalian dan pengujian substantif dalam siklus penggajian dan personalia. Namun sebelu
itu dibawah ini tergambar langkah-langkah dalam mendesain pengujian pengendalian dan
pengujian substantif atas transaksi untku siklus penggajian dan personalia.
2.1 Pelaksanaan Prosedur Analitis
Auditor biasanya akan melakukan prosedur analitis ketika memulai audit atas siklus jasa
personalia karena prosedur ini efektif dari segi biaya.
Berikut beberapa contoh prosedur analitis yang mungkin digunakan auditor:
Rasio
Rumus
SignifikansiAudit
Biaya gaji dan upahrata-rata per klasifikasi karyawan
Total biaya gaji dan upah untuksatu kelompok karyawan dibagi dengan jumlah karyawan dalam
kelompok tersebut
Pengujian atas kelayakan gajidan upah kotor untuk sekelompok karyawan. Banyak perusahaan
yang memilikilebih dari satu kelompok karyawan, dan penting untuk mengevaluasi kelayakangaji dan
upah berdasarkan kelompok karyawan.
Pendapatan per karyawan
Total pendapatan : jumlahkaryawan purnawaktu
Rasio ini dapat menjadi ukuranproduktivitas per karyawan. Rasio ini khususnya penting dalam
industri jasadan akan dibandingkan dengan statistik industri.
Total biaya gaji dan upahsebagai presesntase dari pendapatan
Total bebangaji dan upah : gaji dan upah kotor
Pengujian atas kelayakan biayagaji dan upah. Rasio ini seringkali dibandingkan dengan statistik
industri.
Beban pajak gaji dan upahsebagai presentase dari gaji dan upah kotor
Total beban pajak gaji dan upah: gaji dan upah kotor
Pengujian kelayakan pajak gajidan upah. Rasio ini seringkali bisa dibandingkan dengan tarif
pajak standar.

Selain itu, terdapat pula beberapa prosedur analitis yang berguna untuk mengetahui salah
saji yang mungkin terjadi atas asersi yang dikeluarkan oleh klien. Berikut tabel prosedur
analitis:
Proseduranalitis
Salahsaji yang mungkin terjadi
Membandingkan saldo bebanpenggajian dengan tahun-tahun sebelumnya (disesuaikan dengan
kenaikan gajidan pertambahan jumlah)
Salah saji atas akun bebanpenggajian
Membandingkan tenaga kerjalangsung sebagai presentase penjualan dengan tahun-tahun
sebelumnya
Salah saji atas tenaga kerjalangsung dan persediaan
Membandingkan beban komisisebagia presentase penjualan dengan tahun-tahun sebelumnya
Salah saji atas beban komisidan utang komisi
2.2 Metodologi dalam Merancang Pengujian Rincian atas Akun Terkait
dalam dua tahap audit, auditor menilai resiko pengendalian serta melalukan pengujian
pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi setelah melakukan pengujian tersebut dan
mengetahui kecenderungan salah saji dalam akun-akun laporan keuangan pada siklus
penggajian dan personalia, auditor menjalankan metodologi untuk mendesain pengujian
perincian saldo. Adapun bagan metodologi desain pengujian perincian saldo adalah sebagai
berikut :
Mendesainpengujian perincian akun utang penggajian untk memenuhi persyaratan
tujuanaudit terkait saldo.
Proseduraudit
Penetapanwaktu
Sampelyg dipilih
Jumlahsampel
Mengidentifikasi resiko bisnis klien yangmemengaruhi akun utang penggajian
Menentukan salah saji yang dapat diterima danmenilai resiko bawaan untuk akun utang
penggajian
Menilairesiko pengendalian siklus penggajian dan personalia
Mendesain dan melalukan pengujian pengendaliandan pengujian substantif untuk siklus
penggajian dan personalia
Mendesain dan melakukan prosedur analitisuntuk akun utang dan penggajian
BAB III
PENUTUP

1.1 Kesimpulan
Audit atas siklus produksi dan personalia dimaksudkan agar akun-akun yang tercantum
dalam laporan keuangan telah disajikan secara wajar dengan berpedoman pada Standar
Akuntansi Keuangan yang ada di Indonesia dan juga berprinsip pada PABU.
Selain itu, dalam siklus produksi, auditor memfokuskan perhatian pada transaksi
pabrikasi yang menyangkut alokasi biaya pabrikasi ke barang dalam proses dan pemindahan
biaya produksi yang sudah selesai ke barang jadi. Dalam mengaudit siklus ini, auditor menaruh
pada sistem akuntansi biaya dan sistem akuntansi keuangan klien. Audit atas persediaan
memerlukan perencanaan yang cermat dan investasi waktu, biaya, dan upaya audit yang sangat
ssubstansial.