Anda di halaman 1dari 6

131

SKRINING FITOKIMIA EKSTRAK METANOL BIJI KALANGKALA (Litsea angulata)

THE PHYTOCHEMISTRY SCREENING OF METHANOL EXTRACT


FROM KALANGKALA (Litsea angulata) SEEDS

Kamilia Mustikasari, Dahlena Ariyani


Program Studi Kimia FMIPA Unlam Banjarbaru
Jl. Jenderal A. Yani Km. 35,8 Banjarbaru Kalimantan Selatan

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian tentang skrining fitokimia pada biji kalangkala (Litsea
angulata). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan kimia biji kalangkala.
Kandungan kimia yang diuji pada penelitian ini adalah alkaloid, triterpenoid, steroid,
flavonoid, tanin dan saponin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biji kalangkala
mengandung komponen kimia yakni alkaloid dan tanin.

Kata kunci : kalangkala (L. angulata), skrining fitokimia, alkaloid

ABSTRACT
A research of phytocemistry screening from seeds of kalangkala (L. angulata) has been
conducted. The aims this research is to know the chemical compound of kalangkala
seeds. The chemical compound be ing examined in this research are alkaloid,
triterpenoid, steroid, flavonoid, tannin and saponin. The result of this research showed
that the seeds of kalangkala contain chemical compounds, i.e, alkaloid and tannin.

Key words : kalangkala (L. angulata), phytochemistry screening, alkaloid

Skrining Fitokimia Ekstrak Metanol.. (Kamilia Mustikasari & Dahlena Ariyani)


132

PENDAHULUAN kalangkala sebagai antibakteri tersebut

Kalangkala (Litsea angulata) dapat ditelusuri melalui skrining

merupakan salah satu spesies dari fitokimia. Adapun komponen fitokimia

Genus Litsea yang termasuk ke dalam yang akan diuji meliputi kandungan

family Lauraceae. Kalangkala dapat alkaloid, triterpenoid, steroid, flavonoid,

hidup di daerah tropis dan subtropis tanin dan saponin.

hingga ketinggian 300 m. Tumbuhan

ini tersebar di Peninsular Malaysia METODE PENELITIAN

(Sarawak dan Sabah), Sumatra, Jawa, Persiapan Sampel

Kalimantan Selatan , Kalimantan Timur, Sampel yang digunakan adalah biji

Moluccas, dan New Guinea (Slik , kalangkala. Sampel dikumpulkan dan

2006). dikeringudarakan. Lalu dihaluskan.

Sebagian masyarakat Kalimantan

Selatan menggunakan biji buah Ekstraksi

kalangkala secara tradisional sebagai Serbuk biji kalangkala diekstraksi

obat bisul. Karena bisul diakibatkan dengan metanol 80%, disaring lalu

oleh bakteri, sehingga biji kalangkala filtratnya dipekatkan dengan rotary

diduga memiliki aktivitas biologi sebagai evaporator. Ekstrak metanol biji

antibakteri. Keaktifan ini kemungkinan kalangkala diuji komponen metabolit

disebabkan karena biji kalangkala sekundernya.

mengandung komponen metabolit


Uji Metabolit Sekunder
sekunder seperti alkaloid, terpenoid,
1. Identifikasi alkaloid dengan metode
flavonoid, dan lain-lain.
Culvenor-Fitzgerald (Harborne,
Namun, data empiris tersebut
1987)
belum diperkuat dengan data ilmiah.

Sebagai langkah awal, potensi biji

Sains dan Terapan Kimia, Vol.4, No. 2 (Juli 2010), 131-136


133

Sampel dicampur dengan 5 ml dan didiamkan selama 15 menit.

kloroform dan 5 ml amoniak Terbentuknya busa yang stabil

kemudian dipanaskan, dikocok dan berarti positif terdapat saponin.

disaring. Ditambahkan 5 tetes asam 4. Identifikasi Steroid (Harborne, 1987)

sulfat 2 N pada masing-masing Sampel diekstrak dengan etanol dan

filtrat, kemudian kocok dan ditambah 2 ml asam sulfat pekat dan

didiamkan. Bagian atas dari masing- 2 ml asam asetat anhidrat.

masing filtrat diambil dan diuji Perubahan warna dari ungu ke biru

dengan pereaksi Meyer, Wagner, atau hijau menunjukkan adanya

dan Dragendorf. Terbentuknya steroid.

endapan jingga, cokelat, dan putih


5. Identifikasi Triterpenoid (Harborne,
menunjukkan adanya alkaloid.
1987)
2. Identifikasi Flavonoid (Harborne,
Sampel dicampur dengan 2 ml
1987)
kloroform dan 3 ml asam sulfat
Sampel dicampur dengan 5 ml
pekat. Terbentuknya warna merah
etanol, dikocok, dipanaskan, dan
kecoklatan pada antar permukaan
dikocok lagi kemudian disaring.
menunjukkan adanya triterpenoid.
Kemudian ditambahkan Mg 0,2 g
6. Identifikasi Tanin (Edeoga et al.,
dan 3 tetes HCl pada masing-
2005)
masing filtrat. Terbentuknya warna
Sampel didihkan dengan 20 ml air
merah pada lapisan etanol
lalu disaring. Ditambahkan
menunjukkan adanya flavonoid.
beberapa tetes feriklorida 1% dan
3. Identifikasi Saponin (Harborne,
terbentuknya warna coklat kehijauan
1987)
atau biru kehitaman menunjukkan
Sampel dididihkan dengan 20 ml air
adanya tanin.
dalam penangas air. Filtrat dikocok

Skrining Fitokimia Ekstrak Metanol.. (Kamilia Mustikasari & Dahlena Ariyani)


134

HASIL DAN PEMBAHASAN (Harborne, 1987). Biji tumbuhan

tersebut kemudian dihaluskan dan


Biji kalangkala yang digunakan
diekstrak dengan metanol kemudian
dalam penelitian ini sebelumnya
dilakukan uji fitokimianya. Hasil uji
dikeringanginkan, hal ini bertujuan untuk
fitokimia ekstrak metanol biji kalangkala
mengurangi kadar air tumbuhan
seperti terlihat pada Tabel 1 :

Tabel 1. Kandungan Fitokimia Ekstrak Metanol Biji Kalangkala

Uji Fitokimia Pereaksi Hasil Kesimpulan


Mayer Terbentuk endapan Positif
putih
Wagner Terbentuk endapan Positif
Alkaloid
coklat
Dragendorf Terbentuk endapan Positif
jingga
Flavonoid Mg+HClp+etanol Tidak terbentuk warna Negatif
merah
Saponin Terbentuk busa yang Negatif
stabil
Steroid Liebermann- Tidak terbentuk warna Negatif
Burchad hijau kebiruan
Triterpenoid Liebermann- Tidak terbentuk warna Negatif
Burchad merah
Tanin FeCl3 1% Terbentuk warna hijau Positif
kebiruan

Tabel 1 menunjukkan bahwa 2008). Tumbuhan dari genus yang

ekstrak metanol biji kalangkala sama dalam hal ini Litsea secara umum

mengandung senyawa metabolit cenderung mempunyai senyawa kimia

sekunder golongan alkaloid dan tanin. dengan golongan yang sama. Spesies

Adanya kandungan alkaloid pada uji lain yang juga mengandung alkaloid

pendahuluan sejalan dengan penelitian adalah L. glutinosa yakni jenis alkaloid

terdahulu yakni adanya litebamin (1), aporfin dan fenantren (diduga alkaloida

suatu alkaloid fenantren yang ditemukan 1-N, N dimetilamin-N-oksida-7-hidroksi-

dari kayu L. cubeba (Huang et al., 3,3-metilendioksi-6-metoksi fenantren)

Sains dan Terapan Kimia, Vol.4, No. 2 (Juli 2010), 131-136


135

yang diisolasi dari kulit akar dan diisolasi dari L. cubeba ternyata aktif

rantingnya (Zamri, 1989), jenis alkaloid sebagai antibakteri. Alkaloid ternyata

boldin (Helmi, 1989) dan alkaloid aporfin dapat mempengaruhi penyusunan

(Suprihatna, 1989). Sedangkan L. dinding sel bakteri, yakni mengganggu

accedentoides diketahui mengandung pada saat pembentukan peptidoglikan

alkaloid dari jenis aporfin (Budiati, sehingga dinding sel tidak terbentuk

1989). Alkaloid jenis aporfin yakni secara utuh (Robinson, 1998). Tanpa

aktinodafnin (Hakim, 1989) dan alkaloid dinding sel, bakteri tidak dapat bertahan

fenolik benzilisokuinolin (Sophiata, terhadap pengaruh luar dan segera

1990) ditemukan dari kulit akar L. mengalami kematian (Wattimena et al.,

diversifolia. Alkaloid aktinodafnin juga 1991).


12 11 10 9
terdapat pada kulit kayu L. monopetala
13 1 8
MeN
(Anwar, 1989), selain itu spesies ini juga 7
14
OH
2
mengandung alkaloid non fenolik yakni 3 4 5
6

HO OMe OMe
proaporfin (Widarti, 1990).

Adanya kandungan alkaloid (1)

pada ekstrak metanol biji kalangkala KESIMPULAN DAN SARAN

menunjukkan bahwa biji kalangkala Kandungan metabolit sekunder

berpotensi sebagai antibakteri sehingga yang terdapat pada ekstrak metanol biji

efektif untuk menyembuhkan penyakit kalangkala (Litsea angulata) adalah

bisul. Hal ini sejalan dengan hasil alkaloid dan tanin.

review terhadap penelitian terdahulu, Perlu dilakukan pemisahan dan

yang dilaporkan oleh Feng et al. (2009) pemurnian terhadap alkaloid yang

yang menyatakan bahwa senyawa terkandung dalam ekstrak metanol biji

alkaloid isoquinolin (+)- N- kalangkala kemudian dilakukan uji

(methoxycarbonyl)-N-norboldine yang bioaktivitasnya sehingga dapat

Skrining Fitokimia Ekstrak Metanol.. (Kamilia Mustikasari & Dahlena Ariyani)


136

dimanfaatkan sebagai sumber senyawa Huang, C.H., W.J. Huang, S.J. Wang,
P.H. Wu, W.B. Wu. 2008.
kimia berpotensi obat. Litebamine, a phenanthrene
alkaloid from the wood of Litsea
cubeba, inhibits rat smooth
muscle cell adhesion and
DAFTAR PUSTAKA
migration on collagen. European
Anwar, F.H. 1989. Alkaloida dari Litsea Journal of Pharmacology. 596
monopetala (Roxb.) Pers. (1-3). pp 25-31
Penelitian Tanaman Obat di
Beberapa Perguruan Tinggi di Robinson. 1998. Kandungan Organik
Indonesia IV Tumbuhan Tinggi. Penerbit ITB.
Bandung.
Budiati, H. 1989. Isolasi alkaloida
aporfin dari Litsea accedentoides Slik J.W.F. 2006. Trees of Sungai
K. & V. Penelitian Tanaman Wain.
Obat di Beberapa Perguruan http://www.nationaalherbarium.nl
Tinggi di Indonesia IV /sungaiwain/main.htm. Diakses
tanggal 20 Januari 2008.
Edeoga, H.O., D.E. Okwu & B.O.
Mbaebie. 2005. Phytochemical Sophiata, V. 1990. Alkaloida dari Litsea
Constituents of Some Nigerian diversifolia Bl. Penelitian
Medicinal Plants. African Journal Tanaman Obat di Beberapa
of Biotechnology. 4 (7), pp 685- Perguruan Tinggi di Indonesia IV
688.
http://www.academicjournals.org Suprihatna, A.A. 1989. Isolasi senyawa
/AJB aporfin fraksi fenolik dari
tanaman Litsea glutinosa (Lour.)
Feng, T., Y. Xu, X.H Cai, Z.Z. Du, X.D. C. B. Rob. var. littoralis Blume.
Luo. 2009. Antimicrobially active Penelitian Tanaman Obat di
isoquinoline alkaloids from Litsea Beberapa Perguruan Tinggi di
cubeba. Planta Medica. 75(1), Indonesia IV
pp: 76-79
Wattimena, G. A., C. S., Nelly, M. B.,
Hakim, E.H.1989. Alkaloid dari kulit akar Widianti, B. E. Y., Sukandar,
Litsea diversifolia BL. Penelitian Soemardji, A. A., Setiadi, A. R.
Tanaman Obat di Beberapa 1991. Farmakodinamika dan
Perguruan Tinggi di Indonesia IV Terapi Antibiotik. Gajah Mada
University. Yogyakarta.
Harborne, J. B. 1987. Metode Fitokimia.
Penuntun Cara Modern Widarti, S. 1990. Senyawa alkaloida dan
Menganalisis Tumbuhan. non-alkaloida Litsea monopetala
Terjemahan K. Padmawinata & I. (Roxb.) Pers. Penelitian
Soediro, Penerbit ITB, Bandung. Tanaman Obat di Beberapa
Perguruan Tinggi di Indonesia IV
Helmi. 1989. Alkaloida dari fraksi fenolik
Litsea glutinosa (Lour.) C. B. Zamri, A. 1989. Alkaloida dari Litsea
Rob. var. littoralis-Blume. glutinosa (Lour.) C. B. Rob. var.
Penelitian Tanaman Obat di littoralis Blume. Penelitian
Beberapa Perguruan Tinggi di Tanaman Obat di Beberapa
Indonesia IV Perguruan Tinggi di Indonesia IV

Sains dan Terapan Kimia, Vol.4, No. 2 (Juli 2010), 131-136