Anda di halaman 1dari 5

KONSEP dan VARIABEL

1. Konsep
Secara umum konsep dapat diartikan sebagai ide, penggambaran atau deskripsi dari hal-
hal atau benda-benda atau gejala-gejala sosial, yang dinyatakan dalam kata atau istilah. Ide,
penggambaran, atau deskripsi benda-benda atau gejala-gejala sosial tersebut baru dapat dibuat
dalam bentuk konsep jika sudah melalui proses abstraksi dan generalisasi. Abstraksi adalah suatu
proses menarik intisari dari ide-ide, hal-hal, benda-benda, atau gejala-gejala sosial. Sedangkan
generalisasi adalah suatu aktivitas menarik kesimpulan umum dari sejumlah ide-ide, hal-hal,
benda-benda, atau gejala-gejala sosial yang khusus.
Karena konsep terbentuk dari abstraksi dan generalisasi, maka ciri suatu konsep adalah
bersifat umum. Salah satu keuntungan dari ciri konsep yang bersifat umum adalah adanya
kemungkinan bagi kita dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi pada penampilan
konkret dari ide-ide, hal-hal, benda-benda, atau gejala-gejala sosial tanpa harus membuat suatu
konsep baru.
Contoh, konsep handphone. Di pasar beredar banyak sekali merk, model, tipe, dan warna
yang sangat sering berubah-ubah. Meskipun ada beragam merk, model, tipe, warna, dan
teknologi yang digunakan, tetap saja semuanya bernama dan tidak keluar dari konsep
handphone. Kalau toh ada perubahan nama, paling-paling nama handphone berubah menjadi
mobilephone atau telepon seluler, yang semuanya tidak mengubah arti atau konsep handphone.
Konsep-konsep yang dipakai dalam Ilmu Sosial walaupun kadang-kadang istilahnya
sama dengan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, namum makna dan pengertiannya
dapat berbeda-beda. Pada umumnya, konsep yang dipakai dalam ilmu sosial tidak berdiri sendiri
tetapi berhubungan dengan konsep lain yang ada dalam suatu kerangka pemikiran atau
pendekatan tertentu. Selain itu, dalam ilmu sosial juga sering terjadi perbedaan makna dan
pengertian istilah yang dipergunakan oleh para ahli atau peneliti. Untuk menghindari
kebingungan mengenai makna dan pengertian suatu istilah atau konsep itulah maka semua
konsep itu harus didefinisikan. Jadi, definisi adalah pernyataan yang dapat mengartikan atau
memberi makna suatu istilah atau konsep tertentu, atau suatu penggambaran keseluruhan isi dan
arti yang dikandung oleh suatu konsep tertentu.
Mengingat definisi dibuat untuk menjelaskan suatu konsep agar dapat dimengerti secara
tepat, maka pembuatan definisi haruslah hati-hati. Untuk membuat suatu definisi yang baik, hal-
hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa definisi:
- Tidak mengandung istilah atau konsep yang didefinisikan, atau mengandung istilah yang
sinonim, atau istilah yang berhubungan erat dengan apa yang didefinisikan.
- Tidak dirumuskan dalam bentuk kalimat negatif.
- Dinyatakan dalam bahasa yang sederhana, jelas, dan rinci agar mudah dimengerti oleh orang
lain.

2. Variabel
Di dalam penelitian, konsep yang sudah didefinisikan tersebut harus dapat diamati dan
diukur. Agar konsep tersebut dapat diamati dan diukur, maka konsep tersebut harus diubah lebih
dahulu menjadi suatu konsep yang konkret yang dapat dioperasionalkan (sering disebut dengan
operasionalisasi konsep). Konsep yang sudah lebih konkret ini dikenal dengan nama variabel,
yaitu suatu konsep yang mempunyai variasi nilai.
Contoh, konsep ‘pendidikan formal’ sudah dapat dikatakan sebagai variabel karena
memiliki variasi nilai SD,SMP,SMA, dan seterusnya. Konsep ‘badan’ belum dapat dikatakan
sebagai variabel karena belum memiliki variasi nilai. Jika sudah diubah menjadi konsep ‘berat
badan’ atau ‘tinggi badan’, maka konsep ini sudah dapat dikatakan sebagai variabel.
Variabel memiliki simbol atau lambang yang kita lekatkan yang berbentuk bilangan atau
nilai. Misalnya, X adalah sebuah variabel. Jika X itu adalah variabel prestasi akademik misalnya,
maka variabel ini dapat memiliki sebarang himpunan nilai, misalnya dari 1 sampai 10 atau 10
sampai 100. Tetapi jika variabel X itu adalah jenis kelamin, maka variabel tersebut hanya
memiliki dua nilai, yaitu laki-laki dan perempuan. Nilai yang bisa dilekatkan misalnya 0 untuk
laki-laki dan 1 untuk perempuan (boleh juga 1 dan 2, atau angka lain). Jika X adalah variabel
tingkat penghasilan, maka variabel tersebut bisa memiliki tiga nilai yaitu tinggi, sedang, kurang.
Nilai yang bisa dilekatkan kepada variabel tersebut misalnya (1) untuk tingkat penghasilan
tinggi, (2) untuk tingkat penghasilan sedang, dan (3) untuk tingkat penghasilan kurang. Anda
dapat mengembangkan contoh-contoh variabel yang lain.
Selain memiliki nilai, variabel dapat berbentuk variabel dikotomi , politomi, dan
kontinyu.
1. Variabel dikotomi, adalah variabel-variabel yang hanya memiliki 2 nilai. Contoh: variabel jenis
kelamin: laki-laki – perempuan; variabel pekerjaan: bekerja – tidak bekerja, variabel ukuran:
besar – kecil; variabel kelulusan: lulus – tidak lulus, dan sebagainya.
2. Variabel politomi, adalah variabel yang hanya memiliki satu sifat, misalnya variabel agama:
Islam, Katolik, Protestan, Budha, Hindu, Yahudi. Atau variabel kebangsaan: Indonesia,
Malaysia, Cina, Inggris, Arab Saudi, dan sebagainya.
3. Variabel kontinyu, adalah variabel yang memiliki nilai kontinyu, misalnya variabel kecerdasan
yang bisa dikelompokkan menjadi kecerdasan tinggi, sedang, rendah. Atau variabel tingkat
penghasilan yang bisa dikelompokkan menjadi tingkat penghasilan tinggi, sedang, rendah, dan
sebagainya. Variabel kontinyu dapat dikonversikan menjadi variabel dikotomi atau politomi,
tetapi variabel dikotomi tidak dapat dikonversikan menjadi variabel kontinyu.

3. Mengidentifiksi Variabel
Sebagaimana diuraikan dalam modul 3, variabel apa yang ada dalam suatu penelitian
ditentukan oleh landasan teoretiknya, dan ditegaskan oleh hipotesis penelitiannya. Karena itu
jika landasan teoretiknya berbeda, maka variabel-variabel penelitiannya juga akan berbeda.
Jumlah variabel penelitian yang dijadikan objek penelitian akan ditentukan oleh sofistikasi
desain penelitian; makin sederhana suatu desain penelitian makin sedikit jumlah variabel
penelitiannya, dan sebaliknya makin kompleks desain penelitiannya makin banyak pula variabel
penelitiannya. Misalnya suatu penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui perbedaan
pengaruh bentuk insentif terhadap motivasi kerja karyawan. Dalam penelitian ini hanya
melibatkan dua variabel utama yaitu variabel bentuk-bentuk insentif dan variabel motivasi kerja.
Jumlah variabel itu akan bertambah jika peneliti juga mempertimbangkan tingkat kebutuhan
(need) karyawan.
Kecakapan mengindetifikasi variabel penelitian adalah keterampilan yang berkembang
karena latihan dan pengalaman, sehingga makin sering melakukan penelitian diharapkan makin
tinggi keterampilan mengidentifikasi variabel penelitian. Keterampilan mengidentifikasi variabel
penelitian juga dapat dikembangkan melalui kegiatan seminar-seminar usulan penelitian, di
mana peneliti yang akan melakukan penelitian mempresentasikan lebih dulu usulan
penelitiannya untuk dibahas bersama dan memperoleh masukan-masukan untuk
penyempurnaannya.
4. Mengklasifikasi Variabel
Variabel-variabel penelitian yang sudah diidentifikasi perlu diklasifikasi. Ada beragam
cara untuk mengklasifikasi variabel, antara lain:
1. Klasifikasi Variabel Berdasarkan Jenis Data
Klasifikasi variabel berkaitan dengan jenis data yang akan dikumpulkan pada dasarnya berkaitan
dengan proses kuantifikasi. Dalam kaitannya dengan kuantifikasi, data biasa digolong-golongkan
menjadi empat jenis, yaitu: (1) data nominal, (b) data ordinal, (c) data interval, dan (d) data ratio.
Dengan demikian variabel penelitian dpat diklasifikasikan menjadi empat jenis, yaitu:
a. Variabel nominal, yaitu variabel yang ditetapkan berdasar atas proses pengklasifikasian.
Variabel ini bersifat deskrit dan saling pilah (mutually exclusive) antara kategori satu dengan
kategori lainnya. Contoh variabel: jenis kelamin, jenis pekerjaan, status perkawinan.
b. Variabel ordinal, yaitu variabel yang disusun berdasarkan atas jenjang dalam atribut tertentu.
Jenjang tertinggi biasa diberi angka 1, jenjang di bawahnya angka 2, 3, dan seterusnya. Contoh:
hasil perlombaan, rating, ranking.
c. Variabel interval, variabel yang dihasilkan dari suatu pengukuran, yang didalam pengukuran itu
diasumsikan terdapat satuan (unit) pengukuran yang sama. Contoh: motivasi kerja, sikap
terhadap suatu kebijakan, penghasilan, dan semacamnya.
d. Variabel ratio, yaitu variabel yang di dalam kuantifikasinya mempunyai nilai nol mutlak. dalam
penelitian sosial, jarang sekali orang menggunakan variabel ratio.
2. Klasifikasi Variabel Berdasar Fungsinya dalam Penelitian
Menurut fungsinya di dalam penelitian, variabel dapat dibedakan dalam dua kelompok yaitu
variabel tergantung (dependent variable) dan variabel bebas (independent variables)., Pembedaan
ini didasarkan atas pola pemikiran sebab-akibat. Variabel tergantung dipikirkan sebagai akibat,
yang keadaannya tergantung pada variabel bebas, variabel moderator, variabel kendali , atau
variabel rambang. Variabel bebas dipikirkan sebagai sebab. Termasuk ke dalam kelompok
variabel bebas adalah variabel kendali (kontrol), variabel moderator, dan variabel rambang.
Dalam ilmu-ilmu sosial, hubungan antara kedua kelompok variabel (tergantung dan bebas) pada
subjek penelitian seringkali terlihat sebagai proses. Artinya tidak selalu variabel bebas (sebab)
secara langsung mengakibatkan munculnya variabel tergantung (akibat), tetapi seringkali
pemunculan variabel tergantung diantarai lebih dulu oleh variabel yang lain (variabel antara atau
intervening variable).
Pengklasifikasian variabel menurut peranannya dalam penelitian itu dimulai dengan
mengidentifikasi lebih dulu variabel tergantungnya. Hal ini dilakukan karena variabel tergantung
itulah yang menjadi titik pusat persoalan, yang karenanya seringpula disebut dengan kriterium.
Misalnya usaha pengobatan, pokok permasalahannya adalah kesembuhan, usaha pertanian pokok
permasalahannya adalah produksi pangan, usaha pendidikan pokok permasalahannya adalah
hasil belajar, dan sebagainya.
Keadaan variabel tergantung itu dipengaruhi banyak sekali variabel yang lain. Satu atau
lebih variabel-variabel yang lain itu mungkin dipilih sebagai variabel yang sengaja
(direncanakan) dan dipelajari pengaruhnya terhadap variabel yang lain. Variabel inilah yang
disebut variabel bebas. Misalnya variabel tergantungnya motivasi kerja, maka variabel bebasnya
bisa berupa: bentuk dan besaran insentif, pengarahan atasan, kondisi kerja, fasilitas kesehatan,
dan sebagainya. Di samping bentuk dan besaran insentif, pengarahan atasan, kondisi kerja, dan
fasilitas kesehatan, masih banyak variabel lain yang juga bisa berpengaruh terhadap motivasi
kerja. Misalnya tingkat pendidikan juga bisa berpengaruh terhadap motivasi kerja. Jika peneliti
juga memasukkan variabel tingkat pendidikan sebagai variabel yang mempengaruhi motivasi
kerja – tetapi tidak langsung – maka berarti peneliti meletakkan tingat pendidikan sebagai
variabel moderator. Masa kerja , juga bisa menjadi variabel yang berpengaruh terhadap motivasi
kerja. Tetapi misalnya peneliti ingin menetralisasi variabel ini – misalnya diambil kelompok
masa kerja tertentu saja – maka masa kerja di sini berperan sebagai variabel kendali.
Variabel-variabel lain yang jumlahnya masih banyak mungkin dianggap pengaruhnya
terhadap motivasi kerja tidak begitu signifikan, karena itu diabaikan. Variabel-variabel yang
diabaikan pengaruhnya itu berperanan sebagai variabel rambang
Sedangkan variabel-variabel lain yang ada dalam diri subjek yang dapat mempengaruhi
motivasi kerja – yang keberadaannya hanya dapat disimpulkan berdasarkan pada variabel
tergantung dan variabel-variabel bebas - maka variabel ini berperanan sebagai variabel antara
(intervening variable) .
3. Klasifikasi Variabel Berdasar Posisi Variabel dalam Penelitian
Pengklasifikasian variabel ini terutama dilakukan pada penelitian eksperimental. Ada 2
klasifikasi variabel, yaitu variabel aktif dan variabel atribut. Variabel aktif (active variables)
adalah variabel yang dimanipulasi. Sedangkan variabel atribut adalah variabel yang diukur.
Manipulasi (manipulation) pada dasarnya adalah kegiatan memberikan perlakuan yang berbeda
kepada kelompok yang berbeda. Misalnya kepada kelompok A diberikan perlakuan X, kepada
kelompok B diberikan perlakuan Y, dan kepada kelompok C diberikan perlakuan Z, maka yang
disebut variabel aktif atau variabel manipulasi adalah X, Y, dan Z.
Sedangkan variabel atribut adalah variabel-variabel yang tidak dapat atau setidaknya sulit
dimanipulasi. Semua variabel karakteristik manusia,seperti kecerdasan, sikap, jenis kelamin,
status sosio ekonomik, kebutuhan berprestasi, dan semacamnya adalah contoh variabel yang
tidak dapat dimanipulasi. Variabel-variabel tersebut sudah ada pada diri subjek penelitian
sebelum dia kita libatkan dalam penelitian kita dan tidak bisa kita ubah.
4. Klasifikasi Variabel Berdasar Nilai yang Dilekatkan pada Variabel
Pengklasifikasian variabel ini penting terutama ketika peneliti merencanakan analisis
data. Klasifikasi tersebut adalah variabel kontinyu (continuous variables) dan variabel
kategorikal (categorical variables). Variabel kontinyu adalah variabel yang dapat dilekati nilai
yang tersusun berurutan. Sedangkan variabel – biasa juga disebut dengan variabel nominal –
adalah variabel yang dilekati kategori yang didasarkan pada definisi yang sudah dibuat atas
variabel tersebut. Kategori yang dilekatkan adalah ’ada atau memiliki’ dan ’tidak ada atau tidak
memiliki’ karakteristik yang didefinisikan tersebut. Misalnya variabel jenis kelamin: lelaki –
perempuan, ras: kulit putih – kulit berwarna, status kerja: bekerja – tidak bekerja, status
perkawinan: kawin – belum kawin, dan sebagainya.
Pengidentifikasian variabel bukanlah pekerjaan yang mudah dilakukan. Sering orang
susah membedakan mana variabel tergantung dan mana variabel bebas, mana variabel kendali
atau kontrol, mana variabel rambang, mana variabel moderator. Namun dengan latihan terus-
menerus kesulitan ini akan dapat diatasi. Jadi sekali lagi, banyak-banyaklah berlatih melakukan
penelitian (secara benar).
Sampai di sini Anda pasti sudah memahami secara lebih mendalam tentang variabel
penelitian. Sekarang kita lanjutkan dengan materi langkah-langkah penelitian.
Langkah-langkah penelitian.
Secara umum pokok-pokok langkah-langkah penelitian itu adalah sebagai berikut:
1. Identifikasi, pemilihan, dan perumusan masalah.
2. Penelaahan pustaka atau landasan teori
3. Penyusunan hipotesis
4. Identifikasi, klasifikasi, dan penentuan definisi operasional variabel-variabel.
5. Penyusunan desain penelitian
6. Pemilihan atau pengembangan alat pengambil data
7. Penentuan populasi dan sampel penelitian
8. Pengumpulan data
9. Pengolahan dan analisis data
10.Interpretasi hasil analisis data
11.Penyusunan laporan.
Selengkapnya, pelajari dari BMP ISIP4216 modul 3, Kb2.
Desain Penelitian
Setelah memahami variabel penelitian, marilah sekarang kita membahas tentang kegiatan
persiapan penelitian berikutnya, yaitu tentang metode dasar dan desain peneltian. Dalam
melakukan penelitian, orang dapat menggunakan berbagai macam metode, dan desain penelitian
yang digunakan juga dapat beragam. Keputusan mengenai desain apa yang dipakai akan
tergantung pada : tujuan penelitian, dan sifat masalah yang akan diteliti.
a. Tujuan Penelitian
Apabila tujuan penelitian sudah jelas dan spesifik, maka penelitian itu sudah memiliki ruang
lingkup dan arah yang jelas, sehingga perhatian dapat diarahkan kepada ‘target area’ yang pasti.
b. Sifat Masalah
Sifat masalah akan memainkan peranan utama dalam menentukan cara-cara pendekatan yang
cocok, dan akan menentukan desain penelitian yang akan digunakan. Saat ini bermacam-macam
desain penelitian berdasar sifat masalah telah dikembangkan oleh para ahli, dan telah pula dibuat
penggolongannya. Desain-desain penelitian yang disusun berdasar sifat-sifat masalah yang
diteliti adalah sebagai berikut:
- penelitian historis
- penelitian deskriptif
- penelitian perkembangan
- penelitian kasus dan penelitian lapangan
- penelitian korelasional
- penelitian kausal komparatif
- penelitian eksperimental sungguhan (true experimental research)
- penelitian ekesperimental semu (quasi experimental research)
- penelitian tindakan (action research).